ECOTON - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/ecoton/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 13 Apr 2026 06:34:41 +0000 id hourly 1 Riset Ecoton Ungkap Mikroplastik dalam Darah, Air Ketuban, dan Sperma https://www.greeners.co/berita/riset-ecoton-ungkap-mikroplastik-dalam-darah-air-ketuban-dan-sperma/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=riset-ecoton-ungkap-mikroplastik-dalam-darah-air-ketuban-dan-sperma https://www.greeners.co/berita/riset-ecoton-ungkap-mikroplastik-dalam-darah-air-ketuban-dan-sperma/#respond Mon, 13 Apr 2026 06:34:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=48350 Jakarta (Greeners) – Riset Ecoton mengungkap temuan terbaru mengenai keberadaan partikel nano dan mikroplastik (NMPs) di dalam sistem peredaran darah manusia. Penelitian terbaru ini melibatkan 30 subjek perempuan. Terdiri dari […]]]>

Jakarta (Greeners) – Riset Ecoton mengungkap temuan terbaru mengenai keberadaan partikel nano dan mikroplastik (NMPs) di dalam sistem peredaran darah manusia. Penelitian terbaru ini melibatkan 30 subjek perempuan. Terdiri dari 20 pekerja sampah dan 10 mahasiswa yang berdomisili di Blitar, Pacitan, Magetan, Lamongan, dan Malang. Peneliti menemukan rata-rata 9 partikel mikroplastik per 1 ml darah.

Menurut Ecoton, temuan ini menjadi sinyal merah bagi kesehatan publik. Jenis polimer yang paling mendominasi adalah polyester (28 persen), material yang menjadi tulang punggung industri pakaian dan tekstil modern.

Penelitian menunjukkan partikel yang peneliti temukan berukuran antara 0,40 hingga 10 mikron. Ukuran ini jauh di bawah diameter pembuluh rambut (kapiler) manusia yang berkisar 5–10 mikron dan pembuluh arteriol 8–100 mikron.

Artinya, partikel plastik ini memiliki kemampuan mekanis untuk menembus jaringan terdalam. Partikel itu juga mengalir tanpa hambatan di arteriol dan berinteraksi langsung dengan sel-sel vital di dalam tubuh.

Selain polyester (28 persen), polimer lain yang terdeteksi meliputi polyisobutylene (24 persen), polyethylene (PE, LDPE, dan HDPE total 32 persen), serta PET (16 persen). Paparan ini berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, mulai dari kerusakan sel hingga meningkatkan risiko stroke.

Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, mengatakan dominasi polyester dalam temuan ini mengarahkan sorotan tajam pada industri pakaian. Serat mikro yang terlepas dari pencucian baju sintetis dan limbah pabrik tekstil kini tidak hanya mencemari sungai. Serat itu juga berpindah ke dalam tubuh manusia.

“Fakta bahwa polimer tekstil menjadi penyumbang terbesar dalam darah subjek penelitian kami. Ini menunjukkan bahwa apa yang kita kenakan setiap hari, berpotensi menjadi racun yang mengalir di dalam nadi,” ungkap Rafika.

Air Ketuban dan Sperma Mengandung Mikroplastik

Keberadaan benda asing sintetis ini di dalam darah memicu rangkaian reaksi biologis yang berbahaya. NMPs berinteraksi langsung dengan membran sel darah merah. Kondisi ini dapat memicu penggumpalan sel yang berisiko menyumbat pembuluh darah, sehingga meningkatkan ancaman stroke dan penyakit kardiovaskular.

Selain itu, paparan mikroplastik juga berpotensi menyebabkan sistem imun kelelahan, gangguan pembekuan darah, hingga penuaan dini sel.

Ecoton juga telah melakukan studi awal dan mengidentifikasi mikroplastik dalam sperma serta air ketuban ibu hamil.

Dalam empat sampel sperma, ada kontaminasi 6–7 partikel mikroplastik jenis polyethylene, yang berpotensi memicu gangguan perkembangan sperma hingga menurunkan tingkat kesuburan.

Sementara itu, penelitian Ecoton yang bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya menemukan bahwa mikroplastik dalam air ketuban dapat memicu gangguan perkembangan janin, penurunan nutrisi, inflamasi, hingga meningkatkan risiko bayi lahir prematur.

Temuan tersebut didasarkan pada keberadaan 3–4 partikel mikroplastik jenis polyethylene dalam amnion ibu hamil, dari 45 sampel air ketuban di Gresik, Jawa Timur.

Peneliti mengimbau masyarakat untuk mengurangi konsumsi pakaian berbahan sintetis, karena serat mikro (microfibers) yang dilepaskan dari bahan tersebut berkontribusi signifikan terhadap pencemaran mikroplastik di lingkungan.

Selain itu, masyarakat juga didorong untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam aktivitas sehari-hari, terutama saat mengonsumsi makanan dan minuman serta ketika berbelanja.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/riset-ecoton-ungkap-mikroplastik-dalam-darah-air-ketuban-dan-sperma/feed/ 0
Instalasi Bayi Terlilit Mikroplastik Ingatkan Warga Surabaya akan Bahaya Plastik https://www.greeners.co/aksi/instalasi-bayi-terlilit-mikroplastik-ingatkan-warga-surabaya-akan-bahaya-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=instalasi-bayi-terlilit-mikroplastik-ingatkan-warga-surabaya-akan-bahaya-plastik https://www.greeners.co/aksi/instalasi-bayi-terlilit-mikroplastik-ingatkan-warga-surabaya-akan-bahaya-plastik/#respond Thu, 05 Mar 2026 12:05:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48190 Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menghadirkan instalasi seni bertajuk “Bayi Mikroplastik” dalam kegiatan Urban Market Kota Lama Surabaya. Instalasi bayi terlilit mikroplastik ini menjadi sarana edukasi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menghadirkan instalasi seni bertajuk “Bayi Mikroplastik” dalam kegiatan Urban Market Kota Lama Surabaya. Instalasi bayi terlilit mikroplastik ini menjadi sarana edukasi publik untuk mengenalkan dampak kesehatan dari penggunaan plastik sekali pakai yang mengkhawatirkan.

Instalasi bayi terlilit mikroplastik ini menggambarkan situasi darurat kesehatan akibat paparan mikroplastik yang kini tidak lagi hanya mencemari sungai dan laut, tetapi juga ada dalam tubuh manusia. Temuan terbaru Ecoton sepanjang 2025–2026 menunjukkan adanya kontaminasi mikroplastik dalam air ketuban, darah perempuan, dan air seni.

Menurut Ecoton, fakta tersebut menandai datangnya “era mikroplastik”, yaitu fase ketika peradaban yang selama hampir delapan dekade bergantung pada plastik sekali pakai mulai memanen konsekuensi kesehatannya.

“Di mana sebuah peradaban yang tergantung pada plastik sekali pakai sudah berlangsung hampir 8 dekade, manusia telah memetik segala kemudahan dan gaya hidup praktis nan instan. Kini, saatnya manusia memanen upahnya berupa kontaminasi mikroplastik dalam darah dan organ tubuh,” ungkap Koordinator JEJAK, Alaika Rahmatullah dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (28/2).

Ia menambahkan bahwa dampak mikroplastik terhadap kesehatan dapat menyebabkan gangguan hormon, peradangan, hingga potensi risiko kanker dan gangguan reproduksi. “Ini merupakan buah dari perilaku konsumtif dan budaya sekali pakai yang tidak terkendali,” katanya.

Sejumlah fakta krusial juga Ecoton sampaikan dalam pameran ini. Mereka mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi salah satu penyumbang sampah plastik terbesar ke laut di dunia. Selain itu, sekitar 57 persen penduduk masih membakar sampah, yang berisiko melepaskan zat beracun seperti dioksin dan furan ke udara.

Ecoton juga menyampaikan bahwa rata-rata konsumsi mikroplastik masyarakat Indonesia diperkirakan mencapai 15 gram per bulan per kapita. Angka ini menunjukkan tingginya paparan plastik dalam kehidupan sehari-hari.

Pameran ini bertujuan mengedukasi masyarakat tentang ancaman nyata plastik sekali pakai, sekaligus mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup minim sampah.

Imbauan Ecoton

Melalui pameran ini, Ecoton juga mengajak masyarakat dan pemerintah untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Ecoton mengimbau masyarakat membawa tas belanja guna ulang, botol minum isi ulang, serta wadah makan sendiri.

Mereka juga meminta pemerintah membuat peraturan pengurangan atau pembatasan plastik sekali pakai, serta menjadikan target pengurangan plastik sekali pakai sebagai prioritas nasional dan daerah. Langkah ini dinilai penting untuk mengendalikan perilaku konsumtif terhadap plastik sekali pakai.

Masyarakat juga perlu memilah sampah dari rumah dan tidak membakar sampah. Hal ini penting untuk menghindari paparan mikroplastik di udara serta menekan penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA).

Di sisi lain, produsen juga perlu membatasi dan meredesain kemasan menuju transformasi wadah dan sistem bisnis guna ulang. Dalam hal ini, masyarakat perlu mendorong pemerintah dan industri untuk menghentikan keran produksi plastik sekali pakai.

Koordinator Refillin Ecoton, Jofany Ahmad, menyampaikan bahwa skema guna ulang juga sangat efektif dalam mengurangi plastik sekali pakai. Solusi ini terbukti dalam penelitian perilaku konsumen dalam sistem guna ulang yang diterapkan oleh Ecoton melalui Refillin. Ketika konsumen menerapkan sistem guna ulang, mereka dapat mengurangi kemasan saset ukuran 40 ml sebanyak 180–200 sachet dalam satu bulan.

Menurutnya, jika masyarakat Surabaya yang saat ini berjumlah kurang lebih 2,5 juta orang menerapkan sistem guna ulang, maka gerakan ini tidak akan membebani fiskal daerah dalam pengelolaan sampah.

“Perubahan tidak cukup hanya dari konsumen. Industri harus bertanggung jawab dan pemerintah harus berani membatasi bahkan menghentikan produksi plastik sekali pakai. Tanpa itu, generasi mendatang akan terus mewarisi tubuh yang terkontaminasi,” tegas Jofany.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/instalasi-bayi-terlilit-mikroplastik-ingatkan-warga-surabaya-akan-bahaya-plastik/feed/ 0
HPSN 2026: Ecoton Temukan Mikroplastik dalam Darah dan Ketuban https://www.greeners.co/berita/hpsn-2026-ecoton-temukan-mikroplastik-dalam-darah-dan-ketuban/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hpsn-2026-ecoton-temukan-mikroplastik-dalam-darah-dan-ketuban https://www.greeners.co/berita/hpsn-2026-ecoton-temukan-mikroplastik-dalam-darah-dan-ketuban/#respond Wed, 25 Feb 2026 11:17:09 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=48178 Jakarta (Greeners) — Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada 21 Februari kembali menjadi refleksi serius atas krisis sampah plastik di Indonesia. Lembaga kajian lingkungan Ecological Observation and Wetlands Conservation […]]]>

Jakarta (Greeners) — Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada 21 Februari kembali menjadi refleksi serius atas krisis sampah plastik di Indonesia. Lembaga kajian lingkungan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) mengungkap temuan terbaru: mikroplastik terdeteksi dalam darah dan air ketuban.

Peneliti Ecoton, Sofi Azilan Aini, menyatakan bahwa sejak 2017 pihaknya telah mendeteksi keberadaan mikroplastik dalam feses, air susu ibu, air seni, ketuban, hingga darah perempuan.

“Ini seperti kutukan akibat kita menyia-nyiakan sampah plastik. Plastik sekali pakai yang terbuang tanpa pengolahan layak pada akhirnya kembali ke tubuh manusia,” ujarnya.

Indonesia dan Krisis Sampah Plastik

Ecoton mencatat Indonesia kini menjadi penyumbang sampah plastik laut terbesar ketiga di dunia setelah India dan Nigeria. Praktik membakar sampah dan membuangnya ke sungai memperparah pencemaran mikroplastik di udara, air sungai, bahkan air hujan.

Rata-rata konsumsi mikroplastik penduduk Indonesia mencapai 15 gram per bulan. Infiltrasi mikroplastik ke aliran darah menjadi ancaman serius karena partikel tersebut berpotensi menetap di organ vital dan memicu kerusakan sel.

Momentum HPSN sendiri merujuk pada tragedi longsoran sampah di TPA Leuwigajah pada 21 Februari 2005 yang menewaskan 157 jiwa. Peringatan ini ditetapkan melalui Keputusan Presiden RI Nomor 21 Tahun 2018.

Namun, lebih dari dua dekade berlalu, persoalan mendasar pengelolaan sampah tampak belum terselesaikan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan pada 2023 timbulan sampah nasional mencapai 31,9 juta ton. Sebanyak 11,3 juta ton di antaranya tidak terkelola, dengan lebih dari 7,8 juta ton berupa sampah plastik. Sebagian besar pengelolaan masih melalui pembakaran (57 persen), pembuangan sembarangan, atau penimbunan tanpa pengolahan memadai.

100 Persen Sampel Darah dan Ketuban Tercemar

Bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Ecoton melakukan uji pada perempuan di Gresik dan menemukan seluruh sampel darah (100 persen) mengandung mikroplastik dengan jumlah 2–18 partikel per mililiter.

Jenis partikel yang peneliti temukan berupa fiber dan fragmen dengan ukuran lebih dari 0,45 mikrometer. Analisis polimer menunjukkan kandungan polyethylene (PE) pada sebagian besar sampel, serta poly(n-butyl methacrylate) (PBMA). PE umum digunakan pada kemasan plastik, sementara PBMA banyak ditemukan pada pelapis dan perekat.

Selain itu, pengujian terhadap 42 sampel air ketuban (amnion) ibu melahirkan di Gresik juga menunjukkan 100 persen mengandung mikroplastik. Jenis polimer dominan adalah polyethylene yang lazim berasal dari botol plastik sekali pakai, kantong kresek, dan wadah makanan berbahan plastik.

Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, menyebut temuan ini mengkhawatirkan karena terdapat korelasi antara paparan mikroplastik dengan peningkatan kadar Malondialdehyde (MDA), penanda inflamasi dalam tubuh.

“Penemuan mikroplastik dalam ketuban dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan bayi,” ujarnya.

Mikroplastik di Otak Manusia

Temuan serupa juga menguatkan kekhawatiran global. Riset kolaboratif antara Greenpeace dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 2025 mengungkap adanya mikroplastik dalam jaringan otak manusia.

Penelitian tersebut merujuk kajian di New Mexico (2024) yang menemukan konsentrasi mikroplastik dan nanoplastik di otak 7–30 kali lebih tinggi dibandingkan hati dan ginjal. Konsentrasi plastik pada sampel otak 2024 bahkan meningkat 50 persen dibanding 2016.

Fenomena ini terjadi di tengah produksi plastik global yang telah melampaui 300 juta ton per tahun, dengan sekitar 2,5 juta ton di antaranya mencemari lautan.

Ecoton menegaskan plastik seharusnya tidak berada dalam tubuh manusia. Namun, realitas menunjukkan partikel plastik telah masuk hingga ke rahim—ruang yang selama ini dianggap paling aman bagi kehidupan.

Langkah pencegahan kian mendesak, mulai dari mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghindari pembakaran sampah, hingga membatasi paparan produk yang mengandung mikroplastik seperti kosmetik berbasis scrub plastik.

“Sebagai generasi muda, kita harus menghindari produk yang berpotensi mengandung mikroplastik karena partikel ini bisa masuk melalui pernapasan, makanan, maupun kulit,” tutur Sofi.

Penulis: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/hpsn-2026-ecoton-temukan-mikroplastik-dalam-darah-dan-ketuban/feed/ 0
Zero Waste Academy Beri Ruang Belajar Kelola Sampah Berbasis Sumber https://www.greeners.co/aksi/zero-waste-academy-beri-ruang-belajar-kelola-sampah-berbasis-sumber/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=zero-waste-academy-beri-ruang-belajar-kelola-sampah-berbasis-sumber https://www.greeners.co/aksi/zero-waste-academy-beri-ruang-belajar-kelola-sampah-berbasis-sumber/#respond Fri, 30 Jan 2026 09:13:05 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48064 Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton) resmi menggelar Zero Waste Academy. Kegiatan ini memberikan ruang pembelajaran intensif pengelolaan sampah berbasis sumber dan pengurangan emisi metana. Ada lebih […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton) resmi menggelar Zero Waste Academy. Kegiatan ini memberikan ruang pembelajaran intensif pengelolaan sampah berbasis sumber dan pengurangan emisi metana.

Ada lebih dari 50 peserta yang berasal dari lebih dari 12 kota dan kabupaten di Pulau Jawa yang mengikuti kegiatan ini. Ecoton juga menggandeng  BAPPEDA, dinas lingkungan hidup, pemerintah desa dan kelurahan, akademisi, serta organisasi lingkungan.

Saat pembukaan, Direktur Ecoton Daru Setyo Rini mengungkapkan bahwa krisis sampah tidak bisa selesai hanya dengan pendekatan hilir. Dengan demikian, Zero Waste Academy dapat menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk belajar pengelolaan sampah berbasis sumber.

“Kami ingin mempertemukan pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pengelola TPS 3R agar belajar langsung dari praktik nyata. Harapannya, peserta pulang tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga rencana aksi konkret yang bisa terintegrasi ke dalam kebijakan daerah,” kata Daru di Gresik, Rabu (28/1).

Usai pembukaan, peserta mengunjungi rumah-rumah warga di Desa Wringinanom yang telah menerapkan pemilahan sampah organik dan anorganik langsung dari sumber. Kunjungan ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari rumah dengan cara yang sederhana dan menguntungkan.

Setelah kunjungan ke rumah warga, peserta kembali ke TPST 3R Wringinanom untuk mempelajari secara langsung mekanisme pengelolaan sampah. Peserta belajar tentang pemilahan sampah spesifik, alur pengolahan, hingga pencatatan administrasi.

Peserta juga melihat teknologi pengomposan sederhana menggunakan lubang tanah yang dinilai murah, mudah diterapkan, dan efektif untuk mengolah sampah organik di tingkat desa maupun kawasan.

Diskusi Bersama

Pada kegiatan hari pertama ini, peserta lanjut berdiskusi bersama Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) TPST 3R Wringinanom. Diskusi tersebut membahas aspek kelembagaan, administrasi, dan pendanaan pengelolaan sampah.

Pada sesi selanjutnya, peserta mendapatkan pendalaman materi terkait Methane Reduce Action Plan oleh Amirudin Muttaqin dari Ecoton. Ke depannya, Ecoton akan mendampingi 3 kota dan kabupaten untuk menyusun rencana aksi pengurangan emisi gas metana dari sektor sampah, khususnya di TPA.

”Rencana aksi ini kami harap dapat terintegrasi ke dalam dokumen perencanaan daerah, seperti Musrenbang, RPJMD, serta ada dukungan melalui alokasi APBD. Mengingat sekitar 60% timbulan sampah merupakan sampah organik sisa makanan, maka pengelolaan sampah organik di sumber menjadi kunci agar tidak seluruhnya berakhir di TPA dan memicu emisi metana,” kata Amirudin.

Kegiatan hari pertama ditutup dengan tur ke kantor Ecoton. Peserta melihat bisnis Refillin untuk melihat langsung inovasi pengurangan plastik sekali pakai, serta kunjungan ke Laboratorium Mikroplastik Ecoton.

Dalam kesempatan tersebut, peserta mempelajari hasil riset mikroplastik. Selain itu, mereka juga melihat langsung sampel mikroplastik udara yang berasal dari praktik pengelolaan sampah yang salah, seperti pembakaran sampah terbuka.

Zero Waste Academy ini akan berlangsung selama tiga hari di Kabupaten Gresik dan Kota Kediri. Ecoton berharap kegiatan ini mampu mendorong lahirnya kebijakan dan praktik nyata menuju Indonesia bebas sampah 2030.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/zero-waste-academy-beri-ruang-belajar-kelola-sampah-berbasis-sumber/feed/ 0
Riset Ecoton Mengungkap Udara Jombang Tercemar Mikroplastik https://www.greeners.co/berita/riset-ecoton-mengungkap-udara-jombang-tercemar-mikroplastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=riset-ecoton-mengungkap-udara-jombang-tercemar-mikroplastik https://www.greeners.co/berita/riset-ecoton-mengungkap-udara-jombang-tercemar-mikroplastik/#respond Mon, 26 Jan 2026 07:30:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=48032 Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) mengambil sampel udara di sejumlah titik di wilayah Jombang. Hasil riset Ecoton, pengujian menunjukkan bahwa udara di Jombang terbukti mengandung mikroplastik. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) mengambil sampel udara di sejumlah titik di wilayah Jombang. Hasil riset Ecoton, pengujian menunjukkan bahwa udara di Jombang terbukti mengandung mikroplastik.

Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah fiber. Mikroplastik ini umumnya berasal dari serat tekstil sintetis, limbah hasil pencucian, dan aktivitas domestik masyarakat.

Pengambilan sampel udara berlangsung di lima lokasi, yakni di Polres Jombang, Lapas Jombang, dan Jatirejo, Cukir, Kedai Sufi Desa Sengon, dan Perempatan Desa Sengon Jombang. Hasilnya menunjukkan variasi jumlah dan jenis mikroplastik, dengan temuan tertinggi berada di Jatirejo, Cukir.

Peneliti Ecoton, Rafika Aprilianti, mengungkapkan bahwa dominasi fiber, fragmen, dan filamen di kelima lokasi menunjukkan kuatnya pengaruh aktivitas pembakaran sampah. Selain itu, timbunan sampah domestik juga berkontribusi besar terhadap pencemaran mikroplastik di udara.

“Tingginya jumlah fragmen di udara, khususnya di kawasan lalu lintas padat, mengindikasikan kontribusi dari abrasi plastik, aktivitas kendaraan, kemasan sekali pakai, serta debu jalanan yang tercemar plastik,” kata Rafika dalam keterangan tertulisnya, Senin (19/1).

Rafika menambahkan bahwa dominasi fiber hampir selalu muncul dalam riset mikroplastik di kawasan perkotaan dan permukiman padat. “Fiber paling banyak berasal dari aktivitas harian seperti mencuci pakaian. Serat sintetis yang lepas akan masuk ke saluran air, sungai, dan kini juga terdispersi di udara yang kita hirup setiap hari,” tambahnya.

Mikroplastik Ancam Kesehatan Masyarakat

Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, menegaskan bahwa temuan mikroplastik di udara memperbesar risiko kesehatan masyarakat. Mikroplastik tidak hanya mencemari air dan masuk ke rantai makanan melalui ikan, tetapi juga terhirup langsung oleh manusia.

“Ini menjadikan mikroplastik sebagai bagian dari polusi udara yang berisiko terhadap sistem pernapasan dan kesehatan jangka panjang,” ungkap Prigi.

Sementara itu, Peneliti Senior Ecoton, Amiruddin Muttaqin, menilai lemahnya pengelolaan sampah domestik dan plastik sekali pakai menjadi faktor utama tingginya paparan mikroplastik di lingkungan.

“Selama pengolahan air limbah rumah tangga tidak dibenahi dan konsumsi plastik sekali pakai terus dibiarkan, mikroplastik akan terus mengalir di air dan melayang di udara. Data Ecoton menunjukkan 55,5% mikroplastik di udara akibat aktivitas pembakaran sampah,” tegasnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/riset-ecoton-mengungkap-udara-jombang-tercemar-mikroplastik/feed/ 0
Ecoton Desak Pemerintah Tindak Industri Pembuang Limbah ke Sungai Kalimas https://www.greeners.co/aksi/ecoton-desak-pemerintah-tindak-industri-pembuang-limbah-ke-sungai-kalimas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ecoton-desak-pemerintah-tindak-industri-pembuang-limbah-ke-sungai-kalimas https://www.greeners.co/aksi/ecoton-desak-pemerintah-tindak-industri-pembuang-limbah-ke-sungai-kalimas/#respond Tue, 04 Nov 2025 12:31:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=47603 Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) melakukan aksi di bantaran Sungai Kalimas, Surabaya. Aksi ini sebagai bentuk protes terhadap Pemerintah Kota Surabaya dan Provinsi Jawa Tengah agar […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) melakukan aksi di bantaran Sungai Kalimas, Surabaya. Aksi ini sebagai bentuk protes terhadap Pemerintah Kota Surabaya dan Provinsi Jawa Tengah agar menegur dan menindak industri yang membuang limbah ke sungai, terutama saat musim hujan.

Kondisi Kalimas saat ini semakin tercemar dan berbau amis menyengat ketika curah hujan meningkat. Menurut pantauan tim Ecoton, banyak industri di sekitar aliran Sungai Surabaya, termasuk di wilayah Sidoarjo, Gresik, dan Surabaya yang memanfaatkan musim hujan untuk membuang limbah cair ke sungai. Alasannya, air sungai sedang tinggi sehingga pencemaran akan tercampur dan sulit dideteksi.

Juru Kampanye Ecoton, Prigi Arisandi menegaskan bahwa praktik ini sudah berlangsung lama. Hal ini juga menunjukkan lemahnya pengawasan dari pemerintah daerah.

“Setiap musim hujan, pola pencemaran air sungai selalu berulang. Industri memanfaatkan derasnya arus sungai untuk melepas limbahnya tanpa pengolahan. Padahal, keputusan Mahkamah Agung sudah jelas bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur wajib menegakkan hukum lingkungan dan menindak pelaku pencemar Kali Surabaya,” ujar Prigi dalam keterangan tertulisnya, Senin (3/11).

Ia juga mengingatkan bahwa bau amis dan warna keruh Kalimas merupakan indikator meningkatnya kandungan bahan organik dan kimia berbahaya di air. Kandungan tersebut dapat merusak ekosistem sungai dan membahayakan kesehatan warga.

Tuntutan Ecoton

Melihat permasalahan yang serius di Kalimas Surabaya, Ecoton pun menuntut gurbernur Jawa Timur untuk menindaklanjuti keputusan Mahkamah Agung terkait pemulihan kualitas air Sungai Surabaya. Mereka juga meminta Dinas Lingkungan Hidup Provinsi dan Kota Surabaya memperketat pengawasan industri di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS).

Selain itu, Ecoton mendesak pemerintah agar mempublikasikan data hasil pemantauan kualitas air secara transparan. Selain itu, juga melibatkan masyarakat dalam memantau pencemaran.

“Kami tidak ingin sungai hanya diurus saat ada lomba kebersihan atau peringatan hari air. Sungai adalah sumber kehidupan dan bagian dari hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan yang sehat,” tambah Prigi. Ecoton pun berharap pemerintah segera bertindak sebelum pencemaran semakin parah dan mengancam sumber air baku masyarakat Surabaya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ecoton-desak-pemerintah-tindak-industri-pembuang-limbah-ke-sungai-kalimas/feed/ 0
Ecoton Tuntut Pengakuan Hak-Hak Sungai Brantas https://www.greeners.co/aksi/ecoton-tuntut-pengakuan-hak-hak-sungai-brantas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ecoton-tuntut-pengakuan-hak-hak-sungai-brantas https://www.greeners.co/aksi/ecoton-tuntut-pengakuan-hak-hak-sungai-brantas/#respond Wed, 15 Oct 2025 07:41:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=47495 Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menuntut pengakuan hak-hak Sungai Brantas. Aksi ini merupakan respons terhadap kondisi Sungai Brantas yang semakin rusak dan mengkhawatirkan. Tuntutan tersebut mereka […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menuntut pengakuan hak-hak Sungai Brantas. Aksi ini merupakan respons terhadap kondisi Sungai Brantas yang semakin rusak dan mengkhawatirkan.

Tuntutan tersebut mereka deklarasikan bersama 10 lembaga dan komunitas pada Rabu (15/10) di Dusun Glagamalang, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik. Dalam kegiatan itu, para aktivis akan memasang papan larangan berisi informasi mengenai kondisi Sungai Brantas yang tercemar logam berat, E. coli, serta terkontaminasi mikroplastik.

Melalui papan tersebut, mereka mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan air Kali Surabaya (bagian hilir Sungai Brantas) untuk kebutuhan minum, mandi, atau berenang, mengingat tingginya tingkat pencemaran.

Selanjutnya, dengan menggunakan dua perahu karet dan empat kano, 12 orang aktivis Ecoton menyusuri Kali Surabaya. Mereka melakukan inventarisasi sumber pencemaran dan sosialisasi hak-hak Sungai Brantas kepada masyarakat yang tinggal di tepi Sungai Brantas.

Manajer Edukasi Ecoton, Alaika Rahmatullah, mengungkapkan bahwa kerusakan Sungai Brantas pada 10 tahun terakhir ini semakin mengkhawatirkan. Hal itu membuktikan bahwa pemerintah telah abai membiarkan Sungai Brantas tercemar dan rusak.

“Sungai Brantas yang menjadi sumber kehidupan bagi warga Jawa Timur harus segera pulih dan mendapatkan keadilan. Maka dari itu, perlu pengakuan negara atas hak-hak Sungai Brantas. Salah satunya mengakui Sungai Brantas sebagai makhluk hidup,” kata Alaika dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/10).

Sungai Brantas sebagai Makhluk Hidup

Sementara itu, Ecoton juga menyampaikan bahwa gagasan untuk memberikan hak-hak atas Sungai Brantas muncul sebagai bentuk kesadaran bahwa sungai ini adalah makhluk hidup sekaligus subjek hukum ekologis. Sebagai entitas hidup, Sungai Brantas memiliki hak-hak melekat yang tidak dapat dicabut oleh siapa pun.

“Kami mendorong tujuh hak-hak Sungai Brantas sebagai entitas hidup. Kesadaran kami bahwa Sungai Brantas adalah makhluk hidup berarti hak-haknya harus terpenuhi,” ujar Alaika, perwakilan Ecoton.

Ada pun hak-hak Sungai Brantas yang diperjuangkan Ecoton bersama komunitas dan berbagai lembaga meliputi hak untuk tetap utuh secara ekologis. Selain itu, sungai ini juga berhak bebas dari pencemaran, eksploitasi berlebihan, dan perusakan oleh manusia.

Sungai Brantas memiliki hak untuk pulih dari kerusakan. Sungai tersebut juga berhak mendapatkan pembelaan secara hukum maupun moral. Hal itu tidak terbatas pada pembelaan dalam setiap kebijakan pembangunan, tata ruang, dan kegiatan ekonomi. Kemudian, Sungai Brantas juga berhak untuk mengajarkan manusia agar hidup selaras dengannya.

“Kami sebagai bagian dari Sungai Brantas menyerukan kepada seluruh pemangku kepentingan, untuk mengakui Sungai Brantas sebagai subjek hukum ekologis, dan memasukkan prinsip hak-hak Sungai Brantas dalam kebijakan daerah dan nasional,” kata Alaika.

Menurut Ecoton, keadilan ekologis tidak akan terwujud tanpa adanya pengakuan terhadap hak-hak alam. Pengakuan ini menjadi fondasi untuk membangun tata kelola sungai yang berlandaskan cinta, penghormatan, dan tanggung jawab ekologis. Dengan demikian, advokasi ini menjadi dasar moral, sosial, dan politik bagi perlindungan Sungai Brantas serta seluruh kehidupan yang bergantung padanya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ecoton-tuntut-pengakuan-hak-hak-sungai-brantas/feed/ 0
Ecoton Gelar Aksi Bebaskan Mangrove dari Lilitan Sampah Plastik di Wonorejo https://www.greeners.co/aksi/ecoton-gelar-aksi-bebaskan-mangrove-dari-lilitan-sampah-plastik-di-wonorejo/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ecoton-gelar-aksi-bebaskan-mangrove-dari-lilitan-sampah-plastik-di-wonorejo https://www.greeners.co/aksi/ecoton-gelar-aksi-bebaskan-mangrove-dari-lilitan-sampah-plastik-di-wonorejo/#respond Tue, 12 Aug 2025 03:47:21 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=47120 Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) melakukan aksi bebaskan mangrove di Wonorejo, Jawa Timur melalui gerakan Make Mangrove Green Again (MAGER). Aksi ini bertujuan untuk membebaskan dan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) melakukan aksi bebaskan mangrove di Wonorejo, Jawa Timur melalui gerakan Make Mangrove Green Again (MAGER). Aksi ini bertujuan untuk membebaskan dan membersihkan akar-akar mangrove dari lilitan sampah plastik.

Sampah plastik yang menumpuk di pesisir Wonorejo menyebabkan sebagian pohon mangrove jenis api-api dan bakau jenis tinjang mati, karena akarnya terlilit plastik.

“Sampah plastik ini berasal dari Sungai Brantas, lalu nyantol di perakan mangrove, terjebak, dan akhirnya melilit akar-akar mangrove,” ungkap Koordinator Program Climate and Mangrove Ecoton, Thara Bening Sandrina dalam keterangan tertulisnya.

Aksi bebaskan mangrove ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Peneliti mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, menambahkan bahwa fenomena lilitan sampah plastik di mangrove mencerminkan buruknya sistem pengelolaan sampah di Jawa Timur. Hal ini menyebabkan banyak sungai, termasuk Sungai Brantas, tercemar sampah plastik dan terkontaminasi mikroplastik.

Ecoton Ajak Masyarakat Selamatkan Mangrove

Untuk mengampanyekan gerakan MAGER, Ecoton juga menggelar peluncuran program ini dalam acara car free day pada Minggu (10/8). Peluncuran ini bertepatan dengan Gebyar Hari Anak Nasional BK3S Jatim di depan kantor TV9, Jalan Darmo, Surabaya.

Dalam kegiatan tersebut, delapan relawan Ecoton membawa poster bertuliskan “Stop Plastic Pollution, Save Mangrove”. Mereka secara bergantian berorasi mengajak masyarakat Surabaya untuk berpartisipasi menyelamatkan mangrove Wonorejo.

“Mangrove berperan penting melindungi Kota Surabaya dari intrusi air laut, dan menjaga seafood di Pantai Timur dari kontaminasi logam berat serta polusi Sungai Brantas,” tambah Thara.

Kegiatan bersih-bersih ini juga akan dilakukan secara rutin setiap Sabtu dan Minggu. Salah satu kegiatan diikuti oleh satu keluarga asal Vancouver, Kanada.

Sharon Dodd, seorang dokter asal Kanada, menyampaikan bahwa upaya pembersihan sampah plastik di kawasan mangrove membutuhkan keterlibatan lebih banyak orang. Sebab, volume sampahnya sangat besar.

Selain itu, ia mengingatkan terkait ancaman sampah plastik yang akan mengurai menjadi mikroplastik bisa membahayakan kesehatan. Bersama tiga anak dan suaminya, Sharon antusias memunggut sampah plastik yang melilit di akar-akar pohon api-api.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ecoton-gelar-aksi-bebaskan-mangrove-dari-lilitan-sampah-plastik-di-wonorejo/feed/ 0
JAPRI Keluarga: Tanam Pohon, Tanam Harapan untuk Bumi https://www.greeners.co/aksi/japri-keluarga-tanam-pohon-tanam-harapan-untuk-bumi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=japri-keluarga-tanam-pohon-tanam-harapan-untuk-bumi https://www.greeners.co/aksi/japri-keluarga-tanam-pohon-tanam-harapan-untuk-bumi/#respond Mon, 21 Jul 2025 08:46:03 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=47016 Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) bersama UPT SDN 192 Gresik secara resmi meluncurkan program Jaga Pohon Rawat Indonesia (JAPRI) Keluarga. Hal itu sebagai upaya memperkuat peran […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) bersama UPT SDN 192 Gresik secara resmi meluncurkan program Jaga Pohon Rawat Indonesia (JAPRI) Keluarga. Hal itu sebagai upaya memperkuat peran anak dan orang tua dalam mitigasi perubahan iklim. Program ini mereka luncurkan bertepatan dengan penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), yang ditandai dengan pameran Adiwiyata bertema pendidikan lingkungan hidup.

Koordinator program JAPRI Keluarga, Tonis Afrianto mengatakan bahwa program ini bertujuan mendorong keterlibatan aktif keluarga, khususnya anak dan orang tua. Ia berharap mereka dapat merawat pohon sebagai aksi nyata menghadapi perubahan iklim.

BACA JUGA: Organ Tubuh Terpapar Mikroplastik, Seruan Darurat Krisis Plastik Menggema

“Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, kami tidak hanya mengajak siswa menanam pohon, tetapi juga memahami pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu, juga menjaga dari ancaman ekologis seperti pencemaran plastik yang dapat merusak ekosistem pohon dan tanah,” ungkap Tonis dalam keterangan tertulisnya, Jumat (18/7).

Dalam pameran tersebut, para siswa juga memamerkan berbagai kegiatan lingkungan hidup yang telah mereka lakukan di sekolah. Mulai dari edukasi tentang bahaya mikroplastik, pengelolaan sampah di lingkungan sekolah, serta aksi merawat pohon sebagai simbol komitmen mitigasi perubahan iklim.

Ecoton Dorong Tumbuh Kembang Anak

Sementara itu, Kepala Sekolah UPT SDN 192 Gresik, Wiwik Dwi Astutik, menyampaikan bahwa program JAPRI Keluarga sangat bermanfaat bagi siswa-siswi. Ia menilai, program ini dapat mendorong tumbuh kembang anak dalam mencintai dan peduli terhadap lingkungan hidup.

Para pelajar di sana juga menyambut program ini dengan antusias. Salah satu siswi kelas 4B SDN 192 Gresik, Elza Aurelie Stefanny, menyampaikan hal tersebut secara langsung.

BACA JUGA: Ecoton Uji Swab Mikroplastik di Expo dan Forum HLH 2025, Ini Hasilnya!

“Kegiatan ini sangat seru, ada pengalaman baru untuk bisa terlibat merawat pohon di lingkungan sekolah dan keluarga,” ungkap Elza.

Sementara itu, Elsandra Naura Fidella, juga dari kelas 4B, juga menyampaikan harapannya terhadap program ini. “Semoga pohonnya bisa tumbuh besar dan sehat. Nanti buahnya bisa kami manfaatkan. Saya tidak ingin semakin banyak sampah plastik yang merusak dan menjerat pohon,” ujarnya.

Tonis juga berharap pendekatan lingkungan hidup dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak di rumah dan sekolah. Ia mengungkapkan agar kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi kunci perubahan menuju masyarakat yang lebih sadar iklim dan ramah lingkungan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/japri-keluarga-tanam-pohon-tanam-harapan-untuk-bumi/feed/ 0
Ecoton Uji Swab Mikroplastik di Expo dan Forum HLH 2025, Ini Hasilnya! https://www.greeners.co/aksi/ecoton-uji-swab-mikroplastik-di-expo-dan-forum-hlh-2025-ini-hasilnya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ecoton-uji-swab-mikroplastik-di-expo-dan-forum-hlh-2025-ini-hasilnya https://www.greeners.co/aksi/ecoton-uji-swab-mikroplastik-di-expo-dan-forum-hlh-2025-ini-hasilnya/#respond Thu, 26 Jun 2025 08:51:14 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=46865 Jakarta (Greeners) — Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) melakukan uji swab mikroplastik kepada para pengunjung dalam acara Expo dan Forum Hari Lingkungan Hidup (HLH) 2025 di Jakarta Convention Center […]]]>

Jakarta (Greeners) — Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) melakukan uji swab mikroplastik kepada para pengunjung dalam acara Expo dan Forum Hari Lingkungan Hidup (HLH) 2025 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat. Hasilnya, sebanyak 200 pengunjung terdeteksi telah terkontaminasi mikroplastik di permukaan kulit mereka.

Uji swab mikroplastik berlangsung di booth Aliansi Zero Waste Indonesia yang ramai pengunjung. Ecoton menyediakan layanan bagi pengunjung yang ingin mengetahui apakah kulit mereka telah terpapar mikroplastik.

Peneliti Mikroplastik Ecoton, Alaika Rahmatullah, menjelaskan bahwa pengujian mereka lakukan dengan cara swab menggunakan tisu basah pada permukaan kulit. Sampel kemudian mereka amati melalui mikroskop binokuler dengan pembesaran 500 hingga 1000 kali. Hasilnya tampak di layar monitor agar pengunjung bisa melihat secara langsung.

“Hingga hari kedua, kami sudah melakukan uji swab mikroplastik kepada 200 orang, dan 100% di antaranya terkontaminasi mikroplastik. Jenis yang paling banyak kami temukan adalah fiber atau benang halus,” ungkap Alaika.

Salah satu warga Jakarta Selatan, Seno (37) melakukan swab di sini. Hasilnya, terdapat dua partikel mikroplastik jenis fiber di kulit wajahnya.

BACA JUGA: Ecoton Bongkar Fakta Bahaya Mikroplastik dalam Tubuh Manusia

“Setelah mengetahui ada mikroplastik di kulit, saya akan lebih hati-hati menggunakan plastik sekali pakai. Lalu, yang bisa saya lakukan adalah dengan menghentikan konsumsi air minum dalam kemasan botol plastik yang menjadi salah satu sumber mikroplastik dalam tubuh manusia,” kata Seno di Jakarta, Senin (23/6).

Kegiatan ini juga menarik perhatian Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Diaz Hendropriyono. Ia  menyempatkan diri mengunjungi mini laboratorium mikroplastik Ecoton. Ia menyaksikan langsung proses uji swab mikroplastik di kulit pengunjung.

“Saya mendukung penuh gerakan zero waste untuk menghindari paparan mikroplastik yang berpotensi membahayakan kesehatan,” ujar Diaz.

Kran Plastik untuk Sadarkan Bahaya Mikroplastik

Selain menghadirkan minilab uji mikroplastik, Ecoton juga menghadirkan instalasi edukatif “Kran Plastik” dan membawa sepeda roda tiga sebagai sarana penjualan personal care secara isi ulang atau refill.

Refill Keliling (Refillin) berkolaborasi dengan komunitas Bike to Work (B2W), untuk mengedukasi pengunjung tentang gaya hidup ramah lingkungan tanpa sachet melalui konsep refill.

“Perlu ada perubahan perilaku konsumsi dengan cara menghindari plastik sekali pakai, termasuk sachet. Untuk menghindari kebocoran sampah plastik ke lingkungan, terlebih jika sampahnya terfragmentasi mikroplastik yang dampaknya dapat memicu gangguan hormon, kanker, dan penyumbatan pembuluh darah jika masuk ke tubuh manusia,” ujar Alaika.

BACA JUGA: Terbangkan Drone, Peneliti Cilik Temukan Mikroplastik di Langit Kediri

Refillin juga berkeliling area pameran untuk memperkenalkan konsep refill dan mengajak pengunjung mengenal alternatif ramah lingkungan dari produk kemasan sachet.

Koordinator Refilin, Jofani Ahmad mengatakan bahwa dirinya sangat antusias mengikuti pameran ini. Sebab, bisa memberikan ruang bagi konsep Refillin dikenal lebih luas, khususnya di Jakarta.

“Jika masyarakat mulai menerapkan konsep refill, saya yakin penggunaan sachet akan menurun drastis, bahkan bisa mendorong produsen menghentikan produksinya,” ungkap Jofani.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ecoton-uji-swab-mikroplastik-di-expo-dan-forum-hlh-2025-ini-hasilnya/feed/ 0
Pemuda India Bersama Pelajar di Gresik Lakukan Aksi Pulihkan Tanah https://www.greeners.co/aksi/pemuda-india-bersama-pelajar-di-gresik-lakukan-aksi-pulihkan-tanah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemuda-india-bersama-pelajar-di-gresik-lakukan-aksi-pulihkan-tanah https://www.greeners.co/aksi/pemuda-india-bersama-pelajar-di-gresik-lakukan-aksi-pulihkan-tanah/#respond Sun, 15 Jun 2025 01:53:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=46788 Jakarta (Greeners) – Seorang pemuda berusia 19 tahun asal India, Sahil Jah tengah mengkampanyekan gerakan global bertajuk “Save Soil” atau “Selamatkan Tanah” dengan cara bersepeda keliling dunia. Setibanya di Indonesia, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Seorang pemuda berusia 19 tahun asal India, Sahil Jah tengah mengkampanyekan gerakan global bertajuk “Save Soil” atau “Selamatkan Tanah” dengan cara bersepeda keliling dunia. Setibanya di Indonesia, Sahil melakukan kegiatan bersama pelajar dari tiga Sekolah Dasar (SD) di Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dalam aksi penyelamatan tanah.

Sahil sebelumnya memulai perjalanan dari Australia, kemudian ia sampai di Indonesia dengan melintasi Pulau Bali dan Jawa. Saat ini, Sahil singgah di Kabupaten Gresik, Jawa Timur untuk bekerja sama dengan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), dalam melakukan aksi nyata penyelamatan tanah.

Pada Rabu, 11 Juni 2025, Sahil bersama 40 orang yang terdiri dari tim Ecoton, SDIT Ya Bunayya, SD Muhammadiyah 1 Wringinanom, dan UPT SDN 192 Gresik menaman pohon nangka di bantaran Kali Surabaya. Kegiatan ini berlanjut dengan deklarasi tiga aksi penyelamatan bumi pada Kamis, 12 Juni 2025.

BACA JUGA: Aksi Enviu 2024 Cegah Hampir Satu Juta Sampah Plastik Bocor ke Lingkungan

“Bumi kita saat ini sedang kekurangan nutrisi. Sehingga, akan mengancam ketersediaan pangan. Oleh karena itu, kita terpanggil untuk menghidupkan bumi dan memberi nutrisi untuk tanah,” ungkap Manajer Edukasi Ecoton, Alaika Rahmatullah dalam keterangan tertulisnya.

Aksi penanaman pohon ini bertujuan agar bumi semakin teduh dan kelembapan tanah meningkat. Selain itu, para peserta juga melakukan pengurangan penggunaan pupuk kimia dan pestisida pada tanaman.

Mereka juga meningkatkan nutrisi tanah dengan kompos, eco enzyme, dan rabuk atau pupuk kandang. Hal tersebut guna meningkatkan kesuburan dan menghidupkan mikroorganisme tanah.

Alaika menambahkan, kegiatan ini juga bertujuan mengajak generasi muda agar aktif melindungi tanah dari kerusakan akibat penurunan kualitas nutrisi. Ada beberapa sebab penurunan kualitas tanah ini. Di antaranya penggunaan pupuk kimia secara berlebihan, hilangnya praktik pertanian alami, dan berkurangnya kelembaban tanah. Selain itu, penurunan tanah juga terjadi akibat pembabatan pohon serta alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan pemukiman.

Pemuda India bersama pelajar di Gresik melakukan aksi pulihkan tanah. Foto: Ecoton

Pemuda India bersama pelajar di Gresik melakukan aksi pulihkan tanah. Foto: Ecoton

Pahami Kesehatan Tanah

Melalui kampanye yang ia jalankan ini, Sahil berharap semakin banyak orang, terutama generasi muda, memahami pentingnya menjaga kesehatan tanah. Menanam pohon menjadi salah satu aksi sederhana namun berdampak besar dalam menjaga masa depan pangan dan lingkungan.

Selain itu, Sahil juga mempelajari isu baru saat berada di Ecoton, yakni masuknya mikroplastik ke dalam tanah dan air. Menurutnya, plastik tidak hanya mencemari sungai dan laut, tetapi kini juga mengancam tanah dan rantai makanan manusia.

BACA JUGA: LEM Fakultas Kehutanan UGM Tanam Ratusan Bibit Pohon di Sleman

“Kami berharap anak-anak muda juga terlibat dalam menjaga tanah, apalagi dari kontaminasi mikroplastik. Aksi Sahil ini juga bisa menjadi contoh buat anak-anak muda lainnya untuk mendukung kampanye global yang dijalankannya,” ujar pendiri Ecoton, Prigi Arisandi.

Lebih lanjut, aksi Sahil menjadi contoh nyata bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil, namun berdampak besar jika dilakukan bersama-sama.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/pemuda-india-bersama-pelajar-di-gresik-lakukan-aksi-pulihkan-tanah/feed/ 0
Akumulasi Mikroplastik di Otak Manusia Akan Picu Autoimun https://www.greeners.co/berita/akumulasi-mikroplastik-di-otak-manusia-akan-picu-autoimun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=akumulasi-mikroplastik-di-otak-manusia-akan-picu-autoimun https://www.greeners.co/berita/akumulasi-mikroplastik-di-otak-manusia-akan-picu-autoimun/#respond Wed, 11 Jun 2025 02:24:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=46767 Jakarta (Greeners) – Permasalahan plastik yang tergedradasi menjadi mikroplastik kini semakin menunjukkan ancaman yang serius. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa akumulasi mikroplastik dalam otak manusia akan memicu gangguan neuroimflamasi dan autoimun. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Permasalahan plastik yang tergedradasi menjadi mikroplastik kini semakin menunjukkan ancaman yang serius. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa akumulasi mikroplastik dalam otak manusia akan memicu gangguan neuroimflamasi dan autoimun.

Fakta tersebut terungkap dalam laporan Bioaccumulation of microplastics in decedent human brains (Bioakumulasi mikroplastik di otak manusia yang telah meninggal) di Meksiko pada tahun 2025 oleh Alexander J. Nihart dkk.

Riset ini juga mengungkapkan bahwa jaringan otak mengandung proporsi polietilena yang lebih tinggi dibandingkan komposisi plastik di hati atau ginjal. Sifat mikroplastik otak yang terisolasi sebagian besar hadir sebagai fragmen seperti pecahan skala nano. Kemudian, mengendap di dinding serebrovaskular dan sel imun.

BACA JUGA: Ecoton Bongkar Fakta Bahaya Mikroplastik dalam Tubuh Manusia

Menurut Manajer Divisi Edukasi Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Alaika Rahmatullah, keberadaan polietilen dalam otak harus menjadi peringatan keras bagi masyarakat Indonesia.

“Sebab, selama ini penduduk Indonesia mengonsumsi mikroplastik 15 gram/bulan, temuan ini menempatkan penduduk Indonesia sebagai manusia dunia yang paling banyak mengonsumsi mikroplastik,” ungkap Alaika dalam keterangan tertulisnya.

Pada Februari 2025, Ecoton meneliti mikroplastik udara dengan memasang cawan petri di sembilan lokasi di tiga kecamatan yang berada di Gresik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat kadar mikroplastik 141 partikel per dua jam di Pasar Benjeng, Kecamatan Benjeng.

Alaika menambahkan, keberadaan mikroplastik di udara imbas 57 persen penduduk Jawa Timur yang masih membakar sampah plastik. “Proses pembakaran ini menghasilkan gas dan sebaran partikel mikroplastik ke udara,” tambah Alaika.

Selain itu, paparan mikroplastik juga disebabkan oleh sejumlah faktor lain. Di antaranya gesekan ban kendaraan bermotor dengan jalan dan gesekan alas kaki (sepatu dan sandal), sistem pembuangan sampah dengan sistem open dumping dan open burning.

Penggunaan produk rumah tangga serta personal care juga menjadi salah satu penyebab. Terakhir, masih ada sampah plastik yang tidak terkelola di lingkungan kemudian terpecah menjadi mikroplastik dan pakaian yang menggunakan bahan polyester.

Mikroplastik Cemari Sidoarjo

Sementara itu, Ecoton juga melaporkan bahwa udara di enam desa di Sidoarjo terkontaminasi mikroplastik. Pada Mei 2025 mereka melakukan uji mikroplastik di udara di enam desa tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa udara di sana positif mengandung mikroplastik dengan jenis fiber, fragmen, dan filamen.

“Total sebanyak 172 partikel mikroplastik kami temukan di keenam daerah tersebut. Pada area pabrik tahu Desa Tropodo terdapat 13 fiber dan 12 filamen. Sementara itu, kelimpahan tertinggi berada di Kecamatan Wonoayu yang berjarak kurang lebih tiga kilometer dari Desa Tropodo dengan jumlah 65 partikel per tiga jam,” ungkap Alaika.

BACA JUGA: Diet Mediterania untuk Atasi Autoimun, Tanpa Ribet dan Menyehatkan

Melihat adanya permasalahan mikroplastik yang bisa mengancam kesehatan manusia ini, Ecoton mendesak pemerintah untuk menegakkan hukum larangan pembakaran sampah plastik. Mereka juga meminta pemerintah untuk tidak menerapkan pengolahan sampah dengan menggunakan panas atau pembakaran.

Pemerintah juga perlu mengendalikan sumber-sumber mikroplastik di udara serta menetapkan baku mutu mikroplastik di lingkungan dan dalam aneka makanan laut.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/akumulasi-mikroplastik-di-otak-manusia-akan-picu-autoimun/feed/ 0
SDIT Al Huda Pulau Bawean Gelar Zero Waste Tour di Gresik https://www.greeners.co/aksi/sdit-al-huda-pulau-bawean-gelar-zero-waste-tour-di-gresik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sdit-al-huda-pulau-bawean-gelar-zero-waste-tour-di-gresik https://www.greeners.co/aksi/sdit-al-huda-pulau-bawean-gelar-zero-waste-tour-di-gresik/#respond Sun, 08 Jun 2025 03:00:21 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=46725 Jakarta (Greeners) – Dalam rangka meningkatkan kepedulian siswa terhadap permasalahan lingkungan hidup, SDIT Al Huda Pulau Bawean menggelar Zero Waste Tour di Kabupaten Gresik, Jawa Timur pada Sabtu (31/5). Sebanyak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam rangka meningkatkan kepedulian siswa terhadap permasalahan lingkungan hidup, SDIT Al Huda Pulau Bawean menggelar Zero Waste Tour di Kabupaten Gresik, Jawa Timur pada Sabtu (31/5). Sebanyak 40 siswa dan guru mengikuti kegiatan ini. Zero Waste Tour bertujuan untuk mengenal pengelolaan sampah hingga upaya pengurangan sampah plastik di Gresik.

Pada kunjungan pertamanya, mereka belajar tentang polusi mikroplastik di Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton). Siswa mendapatkan materi kelas tentang gerakan zero waste melalui program Sekolah Ekologis dan pentingnya menulis surat-surat untuk menyampaikan keresahannya soal sampah.

Tidak hanya itu, mereka juga melakukan kegiatan pengamatan di sungai. Menurut Manager Program Zero Waste Ecoton, Tonis Afrianto, siswa perlu diajak mengenal kondisi lingkungan.

BACA JUGA: ECOTON Bentuk Sakenah, Generasi Peduli Sampah

“Hal ini bertujuan supaya mendapatkan pengalaman yang menarik. Mereka kami ajak praktik mengamati mikroplastik. Lalu, mengetahui jenis-jenis plastik melalui kegiatan brand audit dan solusi refill system,” ujar Tonis dalam keterangan tertulisnya.

Setelah dari Ecoton, peserta bergegas menuju kampung zero waste proklim Kampung SIBA KLASIK di Kelurahan Sidokumpul, Gresik. Mereka belajar konsep pengelolaan sampah skala kawasan. Di kampung tersebut, sampah organik maupun anorganik sudah terkelola dengan baik.

Ketua RT Kampung SIBA KLASIK, Saifudin Efendi mengatakan sejak tahun 2022 kampungnya menjadi kampung percontohan. “Memang semenjak peresmian tahun 2022 kampung SIBA KLASIK jadi tempat edukasi zero waste oleh masyarakat, siswa sekolah, mahasiswa, dan pemerintah,” ungkapnya.

Selama di kampung SIBA KLASIK, peserta juga belajar tentang inovasi-inovasi penanganan sampah. Contohnya teknologi komposter, toko refill sabun tingkat RT, bengkel sampah, dan ATM Sampah.

Berkeliling Kota Gresik di Zero Waste Tour

Tidak berhenti di situ, setelah belajar dari kampung zero waste proklim, mereka melanjutkan tur menuju Pudak Galeri Gresik. Kemudian, para guru dan siswa menaiki bus wisata atap terbuka.

Dalam tur ini, mereka berkeliling Kota Gresik untuk belajar sejarah. Sepanjang perjalanan, mereka melihat bangunan-bangunan tua. Mulai dari kawasan pecinan, kampung arab, kawasan perdagangan Bandar Grissee, dan melewati Alun-alun Gresik dengan masjid tuanya.

BACA JUGA: Riset Ecoton : Masyarakat Anggap 94,9 % Sungai Tercemar

Kepala SDIT Al Huda Bawean, Rizky Wahyu Saputra mengatakan tujuan Zero Waste Tour ini juga sekaligus untuk meningkatkan literasi siswa-siswi.

“Melalui Zero Waste Tour ini, kami ingin meningkatkan pengetahuan dari siswa-siswi untuk belajar tentang lingkungan hidup dalam skala global dan yang berkembang di masyarakat. Ke depan, kami berencana membuat buku hasil tulisan siswa. Kemudian, akan kami terbitkan pada momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025,” ujarnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/sdit-al-huda-pulau-bawean-gelar-zero-waste-tour-di-gresik/feed/ 0
Selidiki Sungai, Pelajar Pulau Bawean Temukan Mikroplastik di Perut Ikan https://www.greeners.co/aksi/selidiki-sungai-pelajar-pulau-bawean-temukan-mikroplastik-di-perut-ikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=selidiki-sungai-pelajar-pulau-bawean-temukan-mikroplastik-di-perut-ikan https://www.greeners.co/aksi/selidiki-sungai-pelajar-pulau-bawean-temukan-mikroplastik-di-perut-ikan/#respond Wed, 23 Apr 2025 06:03:08 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=46424 Jakarta (Greeners) – Para pelajar SDIT Al Huda, Pulau Bawean, Jawa Timur, memperingati Hari Bumi 2025 dengan menyelidiki ekosistem sungai di sekitar sekolah mereka. Dalam penyelidikan ini, mereka menemukan mikroplastik […]]]>

Jakarta (Greeners) – Para pelajar SDIT Al Huda, Pulau Bawean, Jawa Timur, memperingati Hari Bumi 2025 dengan menyelidiki ekosistem sungai di sekitar sekolah mereka. Dalam penyelidikan ini, mereka menemukan mikroplastik di perut ikan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Ecokids, sebuah inisiatif sekolah ekologis yang dijalankan oleh SDIT Al Huda. Sebagai pendamping, Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menyediakan mikroskop untuk membantu para pelajar menyelidiki mikroplastik yang terdapat di tubuh ikan tersebut.

Dari hasil identifikasi oleh enam siswa Ecokids bersama guru pendamping, terdapat tujuh jenis fiber mikroplastik dalam tubuh ikan. Salah satunya termasuk di bagian lambung.

Sementara itu, di air sungai mereka juga menemukan 10 partikel mikroplastik, yang terdiri dari tujuh fiber dan tiga fragmen. Keberadaan mikroplastik ini diduga kuat berasal dari limbah tekstil yang mencemari area sungai.

Salah satu siswa Ecokids, Niki, mengungkapkan keprihatinannya, “Saya kaget saat lihat isi perut ikan ada plastiknya. Saya jadi lebih semangat untuk mengurangi plastik sekali pakai, agar ikan yang saya makan tidak ada mikroplastiknya,” ujarnya kepada tim Ecoton.

BACA JUGA: Hari Bumi: Yuk, Kenalan dengan 5 Masjid yang Sudah Pakai Panel Surya!

Banyaknya sampah plastik cup di sekitar pelabuhan juga turut memperkuat temuan ini. Sampah tersebut berasal dari menjamurnya kedai es teh yang menggunakan kemasan plastik sekali pakai.

Plastik cup tersebut umumnya dibuang sembarangan di tepi sungai hingga akhirnya menumpuk. Tak hanya itu, Pulau Bawean juga menerima kiriman sampah dari laut. Hal itu mencemari keindahan pantainya yang selama ini menjadi daya tarik utama.

Melihat urgensi pada situasi ini, SDIT Al Huda menggandeng Ecoton, untuk mengembangkan budaya reuse di lingkungan sekolah. Sebagai bagian dari inisiatif ini, program Ecokids merencanakan pembukaan toko refill. Langkah ini sebagai upaya mengurangi sampah plastik, mengingat Pulau Bawean kini berada dalam status darurat sampah plastik.

Pelajar Pulau Bawean menemukan mikroplastik di perut ikan. Foto: Ecoton

Pelajar Pulau Bawean menemukan mikroplastik di perut ikan. Foto: Ecoton

Pendidikan yang Membumi

Project Manager Zero Waste Ecoton, Tonis Afrianto, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan sekolah seperti SDIT Al Huda merupakan bentuk nyata dari pendidikan yang membumi. Menurutnya, gerakan zero waste harus berawal dari anak-anak karena merekalah yang akan membentuk pola konsumsi masa depan.

Refill station di sekolah adalah langkah strategis untuk mengurangi plastik sekali pakai secara sistemik,” ujar Tonis.

BACA JUGA: Kekuatan Kita, Planet Kita: Mengisi Masa Depan dengan Energi Bersih

Kini, Pulau Bawean juga sudah memiliki Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2021 tentang Pembatasan Plastik Sekali Pakai. Namun, temuan mikroplastik di lingkungan sungai ini menunjukkan bahwa implementasi kebijakan di lapangan, terutama di wilayah kepulauan, masih membutuhkan perhatian dan penguatan yang lebih serius.

Kepala SDIT Al Huda Bawean, Rissky Wahyu Saputra, turut menegaskan pentingnya momen Hari Bumi tahun ini sebagai titik balik dalam upaya pelestarian lingkungan.

“Peringatan Hari Bumi tahun ini, menjadi momentum penting bagi SDIT Al Huda dan masyarakat Bawean untuk memperkuat komitmen dalam menjaga bumi. Mulai dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan setiap hari,” katanya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/selidiki-sungai-pelajar-pulau-bawean-temukan-mikroplastik-di-perut-ikan/feed/ 0
Refilin, Solusi Ramah Lingkungan Kurangi Plastik Sachet di Wringinanom https://www.greeners.co/aksi/refilin-solusi-ramah-lingkungan-kurangi-plastik-sachet-di-wringinanom/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=refilin-solusi-ramah-lingkungan-kurangi-plastik-sachet-di-wringinanom https://www.greeners.co/aksi/refilin-solusi-ramah-lingkungan-kurangi-plastik-sachet-di-wringinanom/#respond Fri, 18 Apr 2025 06:04:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=46392 Jakarta (Greeners) — Refilin, sebuah inisiatif dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), menghadirkan alternatif ramah lingkungan bagi warga Desa Wringinanom, Kabupaten Gresik. Melalui sistem guna ulang dan isi ulang, […]]]>

Jakarta (Greeners) — Refilin, sebuah inisiatif dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), menghadirkan alternatif ramah lingkungan bagi warga Desa Wringinanom, Kabupaten Gresik. Melalui sistem guna ulang dan isi ulang, Refilin mengajak masyarakat untuk mulai berbelanja kebutuhan rumah tangga tanpa kemasan plastik sekali pakai.

Gerakan ini perlahan membangun kebiasaan baru di tengah warga. Sebelumnya, belanja kebutuhan rumah tangga identik dengan kemasan sachet yang sulit didaur ulang. Kini, warga mulai beralih ke sistem refill dan reuse.

Langkah ini menjadi upaya nyata dalam mengurangi sampah plastik rumah tangga. Sebab, sampah-sampah ini mendominasi tempat pembuangan akhir dan mencemari lingkungan.

BACA JUGA: Ajang Lari Jakarta Marathon Terapkan Konsep Ramah Lingkungan

Program Refilin ini mendapat sambutan antusias warga, khususnya pelanggan setianya di Wringinanom. Salah satunya adalah Siti Asiah, warga desa yang kini rutin membeli sabun mandi, sabun cuci baju, dan sabun cuci piring melalui sistem refill.

“Sebenarnya saya sangat suka kalau ada program seperti ini, karena kalau beli sachet, sampahnya tiba-tiba banyak dalam waktu seminggu. Saya sudah mulai risih kalau sampah sudah menumpuk, saya kira refill solusi yang bagus,” ujar Siti di Gresik.

Tak hanya warga Wringinanom, masyarakat dari desa-desa sekitar pun ikut ambil bagian dalam kegiatan edukasi dan praktik refill. Mereka mulai menyadari pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap kemasan sekali pakai.

Refilin mengajak warga Wringinanom belanja ramah lingkungan lewat sistem guna ulang dan isi ulang tanpa plastik. Foto: Ecoton

Refilin mengajak warga Wringinanom belanja ramah lingkungan lewat sistem guna ulang dan isi ulang tanpa plastik. Foto: Ecoton

Kurangi Plastik Sachet 

Koordinator Refilin, Jofan Ahmad, menegaskan bahwa refilisasi dapat menjadi gerakan nyata untuk mengurangi penggunaan plastik sachet yang merusak lingkungan. Refilin juga menyediakan berbagai produk kebutuhan rumah tangga dengan sistem isi ulang, seperti sabun dan produk kebersihan lainnya.

BACA JUGA: Cinta Laura: Sadari Hal Kecil untuk Hidup Ramah Lingkungan

“Dengan tidak lagi menggunakan kemasan sachet sekali pakai, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Saya sebagai perwakilan Refilin akan terus mendorong serta mengedukasi warga agar program Refilisasi dapat diterapkan secara luas dan merata,” ujarnya.

Melalui Refilin, Ecoton berharap program ini dapat menjadi solusi nyata dalam pengurangan sampah plastik. Mereka juga berharap inisiatif ini bisa meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sistem reuse dan refill dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, Refilin akan rutin hadir di masyarakat dalam berbagai kegiatan besar di kota-kota di Jawa Timur.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/refilin-solusi-ramah-lingkungan-kurangi-plastik-sachet-di-wringinanom/feed/ 0
Tiga Pulau di Kepulauan Seribu Tercemar Mikroplastik https://www.greeners.co/berita/tiga-pulau-di-kepulauan-seribu-tercemar-mikroplastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tiga-pulau-di-kepulauan-seribu-tercemar-mikroplastik https://www.greeners.co/berita/tiga-pulau-di-kepulauan-seribu-tercemar-mikroplastik/#respond Wed, 26 Feb 2025 06:05:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=46012 Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton) baru-baru ini menguji sampel mikroplastik di tiga pulau terdekat dari Jakarta. Di antaranya Pulau Untung Jawa, Pulau Onrust, dan Pulau Cipir […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton) baru-baru ini menguji sampel mikroplastik di tiga pulau terdekat dari Jakarta. Di antaranya Pulau Untung Jawa, Pulau Onrust, dan Pulau Cipir yang terletak di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Hasil pengujian menunjukkan bahwa mikroplastik tidak hanya ada di perairan sekitar pulau. Mikroplastik juga menempel pada permukaan daun tanaman hingga swab kulit masyarakat setempat.

Hasil penelitian di Untung Jawa menunjukkan adanya 72 partikel mikroplastik per 10 liter air. Kemudian, 21 partikel di kulit warga, 30 partikel di kulit petugas kebersihan, dan 13 partikel di permukaan daun. Di Pulau Onrust, jumlahnya lebih sedikit, yaitu 35 partikel di air, 19 partikel di kulit warga, dan 7 partikel di permukaan daun. Di Pulau Cipir, tercatat 44 partikel mikroplastik per 10 liter air, 25 partikel di kulit warga, dan 17 partikel di permukaan daun.

Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilianti, menyebutkan bahwa temuan di Kepulauan Seribu tersebut menunjukkan pencemaran plastik telah menyebar luas hingga ke lingkungan pesisir dan kehidupan manusia.

BACA JUGA: Presiden Lepas Empat Elang Bondol di Kepulauan Seribu

“Temuan mikroplastik dalam bentuk fiber dari kain, film dari plastik tipis lentur, fragmen dari plastik keras, serta foam dari styrofoam dan busa sintetis mengindikasikan berbagai sumber pencemaran, baik dari limbah domestik, aktivitas wisata, maupun pembakaran sampah,” kata Rafika di Jakarta, Sabtu (22/2).

Ia menambahkan, mikroplastik yang menempel pada kulit manusia menjadi bukti bahwa paparan terhadap polutan ini tidak hanya terjadi melalui makanan dan minuman, melainkan juga kontak langsung dengan lingkungan.

Keberadaan mikroplastik di ekosistem pesisir, kata Rafika, berisiko bagi kesehatan masyarakat dan kehidupan laut. Sebab, partikel-partikel kecil ini dapat masuk ke dalam rantai makanan dan berpotensi membawa bahan kimia berbahaya.

Pengambilan sampel mikroplastik di kulit warga Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Foto: Dini Jembar Wardani

Pengambilan sampel mikroplastik di kulit warga Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Foto: Dini Jembar Wardani

Mikroplastik Meningkat

Kepala Sub Kelompok Pemantauan Kualitas Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Rahmawati, mengungkapkan adanya peningkatan jumlah mikroplastik di perairan Jakarta setiap tahunnya.

Ia menjelaskan, pemantauan kelimpahan mikroplastik ini berlangsung sejak 2022. Hal itu berdasarkan Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 322 Tahun 2022 tentang Tim Penelitian, Pengawasan dan Penegakan Hukum Dalam Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air dan Mutu Laut.

“Penelitian ini berlangsung di dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan, dan memang terlihat ada peningkatan jumlah mikroplastik di tiap tahunnya,” ujar Rahmawati.

BACA JUGA: Sanofi Tanam 1.000 Mangrove di Kepulauan Seribu

Oleh karena itu, lanjutnya, saat ini perlu buku mutu mikroplastik. Sebab, partikel ini telah ditemukan di seluruh komponen ekosistem. Tanpa regulasi yang jelas, risiko pencemaran dan paparan mikroplastik akan terus meningkat.

Manajer Divisi Edukasi Ecoton, Alaika Rahmatullah, juga menekankan pentingnya tindakan segera dari pemerintah, industri, dan masyarakat. Upaya mitigasi yang dapat dilakukan antara lain mempercepat penerapan kebijakan pengurangan plastik dan memperluas larangan plastik sekali pakai. Kemudian, merancang kebijakan transisi ke sistem kemasan guna ulang sebagai solusi berkelanjutan.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/tiga-pulau-di-kepulauan-seribu-tercemar-mikroplastik/feed/ 0
Refilin Dorong Masyarakat Belanja Tanpa Plastik https://www.greeners.co/aksi/refilin-dorong-masyarakat-belanja-tanpa-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=refilin-dorong-masyarakat-belanja-tanpa-plastik https://www.greeners.co/aksi/refilin-dorong-masyarakat-belanja-tanpa-plastik/#respond Tue, 18 Feb 2025 05:00:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45945 Jakarta (Greeners) – Refilin (Refill Keliling) ikut meramaikan kegiatan Bersaling Silang oleh Lywithless di Surabaya pada 15-16 Februari 2025. Dalam kegiatan ini, Refilin mengajak pengunjung untuk belanja produk rumah tangga […]]]>

Jakarta (Greeners) – Refilin (Refill Keliling) ikut meramaikan kegiatan Bersaling Silang oleh Lywithless di Surabaya pada 15-16 Februari 2025. Dalam kegiatan ini, Refilin mengajak pengunjung untuk belanja produk rumah tangga dengan menggunakan wadah guna ulang.

Pengunjung bisa membeli produk rumah tangga seperti sabun secara refill di sana. Mereka juga menjual berbagai produk rumah tangga seperti sabun dalam kemasan jerigen, alat masak berbahan kayu, alat makan berbahan stainless steel, dan sabun organik. Kehadirannya telah menyediakan opsi kepada pengunjung untuk belanja produk rumah tangga tanpa kemasan plastik sachet guna mengurangi sampah plastik di lingkungan

Berdasarkan penelitian brand audit Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), sampah plastik sachet mendominasi lingkungan, terutama sungai-sungai di Indonesia, dengan komposisi hingga 50%. Sampah sachet yang terdiri dari 4-6 lapisan plastik dan aluminium ini sulit didaur ulang. Hal itu memperburuk pencemaran lingkungan.

BACA JUGA: Tekan Laju Sampah 2024, Perkuat Komitmen Guna Ulang

Selain itu, sampah sachet yang terdegradasi akan menghasilkan jutaan mikroplastik di lingkungan dan dapat masuk ke dalam rantai makanan manusia. Dengan demikian, Refilin hadir sebagai solusi praktis untuk mendorong masyarakat beralih ke sistem isi ulang produk tanpa kemasan sachet.

Koordinator Refilin, Jofan mengatakan bahwa Refilin juga ikut mendorong customer untuk membawa wadah guna ulang dari rumah.

“Mereka bebas membeli sabun dalam jumlah berapa pun dengan harga yang lebih terjangkau. Ini cara hemat sekaligus ramah lingkungan,” ujar Jofan dalam keterangan tertulisnya, Minggu (16/2).

Apabila setiap orang beralih ke sabun sistem refill ini, mereka dapa mengurangi 36 sachet per bulan. Konversi total penjualan Refilin ini sudah mampu mengurangi 4.500 sachet ukuran 10 ml. Ini menjadi langkah yang sederhana, namun berdampak besar untuk lingkungan.

Antusiasme Pengunjung

Salah satu pengunjung pameran, Debi dari Surabaya, mengungkapkan antusiasmenya. Ia mengatakan bahwa belanja di Refilin begitu praktis dan membuat dirinya merasa berkontribusi dalam menjaga lingkungan.

“Saya berharap semakin banyak orang beralih ke sistem ini,” ujar Debi.

Partisipasi Refilin dalam kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan edukasi Ecoton ntuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mendukung gaya hidup zero waste.

BACA JUGA: Isi dan Guna Ulang Solusi Tepat Kurangi Plastik

Lewat kegiatan seperti ini, Ecoton berharap masyarakat dapat lebih memahami dampak buruk sampah sachet terhadap lingkungan serta mengambil tindakan nyata untuk menguranginya.

Refilin juga terus mengembangkan inisiatif untuk memperluas jangkauan edukasi dan akses belanja ramah lingkungan ke berbagai kota lainnya. Dengan membawa pesan “Belanja Tanpa Kemasan Sachet,” Ecoton dan Refilin berharap bisa menginspirasi lebih banyak komunitas untuk beralih ke gaya hidup yang lebih berkelanjutan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/refilin-dorong-masyarakat-belanja-tanpa-plastik/feed/ 0
Ikan di Brantas Punah, KOPIPA Gelar Aksi Desak Pemerintah Restorasi Sungai https://www.greeners.co/aksi/ikan-di-brantas-punah-kopipa-gelar-aksi-desak-pemerintah-restorasi-sungai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ikan-di-brantas-punah-kopipa-gelar-aksi-desak-pemerintah-restorasi-sungai https://www.greeners.co/aksi/ikan-di-brantas-punah-kopipa-gelar-aksi-desak-pemerintah-restorasi-sungai/#respond Thu, 13 Feb 2025 04:52:46 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45912 Jakarta (Greeners) – Sebanyak 25 aktivis lingkungan dari Komunitas Penyayang Ikan Perairan Nusantara (KOPIPA) menggelar aksi di depan Kantor Gubernur Jawa Timur. Hal itu sebagai respons ikan di Brantas punah. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sebanyak 25 aktivis lingkungan dari Komunitas Penyayang Ikan Perairan Nusantara (KOPIPA) menggelar aksi di depan Kantor Gubernur Jawa Timur. Hal itu sebagai respons ikan di Brantas punah. Dalam aksi tersebut, mereka mendesak pemerintah untuk melakukan restorasi sungai dan menegakkan regulasi guna melindungi ekosistem perairan.

Sungai Brantas merupakan salah satu sungai strategis nasional dan terpenting di Jawa Timur. Namun, kini kondisinya kritis. Sungai tersebut mengalami ancaman terbesar akibat pencemaran limbah industri dan domestik.

Peneliti ikan Sungai Brantas, Prigi Arisandi mengatakan bahwa pihaknya telah menemukan ketidakseimbangan rasio jenis kelamin ikan di Sungai Brantas, dengan 32% jantan dan 68% betina. Ketimpangan ini mengindikasikan gangguan hormon akibat paparan limbah industri dan domestik yang mengandung bahan kimia tergolong EDC pemicu intersex pada ikan.

BACA JUGA: Perpres Penertiban Kawasan Hutan Tuai Kritik dari Aktivis Lingkungan

“Jika terus berlanjut, populasi ikan dapat terganggu dan mengancam ekosistem sungai secara keseluruhan” ujar Prigi dalam keterangan tertulisnya, Senin (10/2).

Berdasarkan laporan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tahun 2024, sebanyak 60% sungai di Indonesia tercemar berat. Ancaman ini meliputi 54% berasal dari limbah industri dan domestik yang dapat meracuni ikan dan ekosistem sungai. Kemudian, 39% dari pembangunan bendungan yang menghambat migrasi ikan dan mengganggu ekosistem di hilir. Sebanyak 37% dari perubahan tata guna lahan yang berubah menjadi kawasan industri dan pemukiman, serta 28% yang mengancam spesies asli melalui persaingan dan predasi.

Penelitian terbaru dari IUCN mengungkapkan, dari 23.000 spesies air air tawar, 24% terancam punah, termasuk ikan, amfibi, reptil dan invertebrata yang menjadi penopang ekosistem global.

Ikan di Brantas Punah Imbas Minim Pengawasan Pemerintah

Koordinator aksi, Jofan Ahmad, mengatakan pemerintah minim pengawasan terhadap pencemaran akibat limbah industri, sampah plastik, dan pemukiman di bantaran sungai. Hal itu mengancam keberadaan ikan-ikan domestik di Sungai Brantas. Selain itu, perubahan tata guna lahan juga turut berkontribusi pada permasalahan tersebut.

Tingkat pencemaran yang ada di Sungai Brantas juga tidak hanya berdampak pada ikan, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari sungai ini. Sebanyak 17 juta warga bergantung pada Sungai Brantas.

Temuan dari Ecoton, di hilir Sungai Brantas hanya terdapat tujuh jenis ikan lokal. Padahal, sepuluh tahun yang lalu jumlahnya mencapai 20 jenis. Penurunan ini mencatatkan hilangnya 13 jenis ikan lokal di sungai tersebut.

Dengan demikian, Jofan menegaskan bahwa aksi ini bagian dari gerakan jangka panjang untuk menyelematkan ekosistem Sungai Brantas. Ecoton pun mendesak agar pemerintah segera memperketat regulasi dan menerapkan sanksi tegas bagi pelaku pencemaran.

BACA JUGA: Sungai Brantas Makin Panas, Plankton Kali Brantas Punah

Mereka juga meminta pemerintah harus memasang kamera CCTV dan alat pemantau kualitas air yang bisa diakses secara “real time“, serta terbuka pada setiap outlet pembuangan limbah industri sepanjang Sungai Brantas.

Pembentukan tim satuan tugas (satgas) juga penting. Nantinya, satgas bisa memantau dan mengawasi pembuangan limbah cair di Jawa Timur. Selain itu, Gubernr Jawa Timur juga harus memiliki program pemulihan sungai. Program ini sebagai bagian dari upaya restorasi habitat ikan lokal di sungai.

Sungai Identitas Ekologi

Peneliti ikan dan kebudayaan, Kurnia Rahmawati mempertegas bahwa sungai juga mencerminkan identitas ekologi daerah melalui keberagaman ikan lokalnya. Seperti di Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri. Di sana ada ikan papar atau belida. Namun, sayangnya, saat ini ikan tersebut hampir tidak pernah ditemukan kembali di Sungai Brantas.

“Ini sangat disayangkan, karena secara tidak langsung daerah juga kehilangan jati diri atau identitias lokalnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Indonesia dikenal sebagai penghasil ikan terbesar kedua di Dunia setelah China. Namun, mirisnya Indonesia juga termasuk negara yang mengalami kepunahan ikan air tawar kedua terbesar di dunia setelah Filipina. Baginya, hal ini akan menjadi ancaman bagi masyarakat karena ikan air tawar juga menjadi sumber protein utama bagi sebagian masyarakat.

Sebagai informasi, di Indonesia, telah tercatat sebanyak 4.782 spesies ikan asli. Dari jumlah tersebut, 1.248 spesies merupakan ikan air tawar, sementara 3.534 spesies hidup di perairan laut. Selain itu, terdapat 130 spesies ikan endemik, 120 spesies ikan introduksi, serta 150 spesies yang berstatus terancam punah. Sementara itu, ikan invasif yang berpotensi mengganggu ekosistem perairan tercatat sebanyak 13 spesies.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ikan-di-brantas-punah-kopipa-gelar-aksi-desak-pemerintah-restorasi-sungai/feed/ 0
KOPIPA Dukung Penuntasan Kasus Ikan Mati di Brantas https://www.greeners.co/aksi/kopipa-dukung-penuntasan-kasus-ikan-mati-di-brantas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kopipa-dukung-penuntasan-kasus-ikan-mati-di-brantas https://www.greeners.co/aksi/kopipa-dukung-penuntasan-kasus-ikan-mati-di-brantas/#respond Wed, 05 Feb 2025 07:04:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45845 Jakarta (Greeners) – Komunitas Penyayang Ikan Perairan Nusantara (KOPIPA) menggelar aksi dengan menggotong dua replika ikan berukuran 2 meter di depan Pengadilan Negeri Surabaya, Jawa Timur. Aksi ini sebagai bentuk […]]]>

Jakarta (Greeners) – Komunitas Penyayang Ikan Perairan Nusantara (KOPIPA) menggelar aksi dengan menggotong dua replika ikan berukuran 2 meter di depan Pengadilan Negeri Surabaya, Jawa Timur. Aksi ini sebagai bentuk dukungan atas putusan Mahkamah Agung terkait kasus ikan mati di Sungai Brantas.

Dalam putusannya, MA menyatakan bahwa peristiwa ikan mati tersebut merupakan akibat dari perbuatan melawan hukum oleh gubernur Jawa Timur, menteri lingkungan hidup, dan menteri pekerjaan umum, yang abai terhadap terjadinya pencemaran di Sungai Brantas.

BACA JUGA: Sungai Brantas Makin Panas, Plankton Kali Brantas Punah

Aktivis lingkungan dari KOPIPA, Thara Bening Sandrina, menjelaskan bahwa saat ini sekitar 25 persen ikan air tawar mengalami kepunahan akibat kerusakan sungai. Hal ini terjadi karena kebijakan pemerintah yang belum mampu mengendalikan pencemaran sungai.

“Pembiaran pencemaran industri dan limbah domestik yang dibuang ke sungai tanpa diolah akan mempercepat kepunahan ikan,” ungkap Thara lewat ketarangan tertulisnya, Selasa (4/2).

Babak Baru

Tim kuasa hukum Ecoton baru-baru ini mengirimkan kontra Peninjauan Kembali (PK) ke Panitera PN Surabaya. Hal ini menandai babak baru dalam perkara gugatan ikan mati massal yang Ecoton ajukan.

Kuasa Hukum Peninjauan Kembali Ecoton dari RUMUS Law Firm, Rulli Mustika, menyampaikan bahwa gugatan melalui mekanisme Organisasi Lingkungan Hidup pada 2019 masih dalam proses peradilan di tingkat Mahkamah Agung.

Para tergugat terdiri dari beberapa kementerian. Di antaranya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Tergugat I), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Tergugat II). Kemudian, Gubernur Jawa Timur (Tergugat III) juga menjadi bagian dari para tergugat. Namun, mereka tidak menerima putusan majelis hakim yang mengabulkan gugatan Ecoton.

Putusan Majelis Hakim Tingkat Pertama menyatakan bahwa semua tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum. Hal ini disebabkan oleh kelalaian dalam menjalankan kewenangannya dalam pengelolaan Sungai Brantas, yang mengakibatkan peristiwa ikan mati massal setiap tahunnya.

BACA JUGA: Riset Ecoton : Masyarakat Anggap 94,9 % Sungai Tercemar

Proses PK pun berlangsung, dan pengajuan Peninjauan Kembali dianggap hanya untuk menunda pelaksanaan keputusan pengadilan yang sudah ditetapkan.

Menurut Ecoton, pengajuan PK ini hanya upaya untuk mengulur waktu dalam memenuhi kewajiban yang telah pengadilan tetapkan. Direktur Eksekutif Ecoton, Daru Sertyorini, menegaskan bahwa para tergugat seharusnya menerima hasil putusan pengadilan. Mereka juga harus segera menjalankannya untuk memperbaiki kualitas air Sungai Brantas, mengingat gugatan Ecoton hanya bertujuan untuk pemulihan sungai tersebut.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/kopipa-dukung-penuntasan-kasus-ikan-mati-di-brantas/feed/ 0
Ecoton Ungkap Temuan Mikroplastik dalam Teh Celup https://www.greeners.co/berita/ecoton-ungkap-temuan-mikroplastik-dalam-teh-celup/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ecoton-ungkap-temuan-mikroplastik-dalam-teh-celup https://www.greeners.co/berita/ecoton-ungkap-temuan-mikroplastik-dalam-teh-celup/#respond Mon, 03 Feb 2025 08:48:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=45828 Jakarta (Greeners) –  Sejumlah peneliti dari Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) mengungkapkan temuan penting mengenai mikroplastik dalam teh celup. Penelitian ini menunjukkan bahwa kantong teh celup dapat melepaskan mikroplastik […]]]>

Jakarta (Greeners) –  Sejumlah peneliti dari Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) mengungkapkan temuan penting mengenai mikroplastik dalam teh celup. Penelitian ini menunjukkan bahwa kantong teh celup dapat melepaskan mikroplastik setelah melalui proses pemanasan.

Ada lima merek yang mereka teliti, yaitu Sosro, Poci, Sarimurni, Sariwangi, dan Tong Tji. Dalam penelitian ini, setiap merek teh celup digunakan dengan air sebanyak 200 ml.

Tim peneliti Ecoton melakukan penelitian dengan dua perlakuan yang menggambarkan kebiasaan masyarakat dalam menyeduh teh celup. Perlakuan pertama, teh celup mereka letakkan dalam air saat proses pemanasan hingga suhu 95°C. Sedangkan perlakuan kedua, teh celup mereka masukkan setelah air mencapai suhu 95°C dan, kemudian diaduk selama lima menit.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masuknya kantong teh celup selama proses pemanasan air hingga suhu 95°C melepaskan mikroplastik dalam jumlah yang berbeda-beda. Di antaranya, teh celup Sosro melepaskan 1.093 mikroplastik fiber (partikel), Teh Poci 1.077, Sarimurni 1.059, Sariwangi 1.013, dan Tong Tji 1.009 mikroplastik fiber.

BACA JUGA: Ecoton Bongkar Fakta Bahaya Mikroplastik dalam Tubuh Manusia

Menurut peneliti mikroplastik, Rafika Aprilianti, pemanasan pada kantong teh celup menyebabkan plastik pada kantong teh melepaskan mikroplastik ke dalam teh. Proses pemanasan ini dipengaruhi oleh jenis plastik yang digunakan. Ketahanan plastik terhadap panas, cahaya UV, dan gesekan akan menentukan seberapa cepat plastik tersebut berubah menjadi mikroplastik.

“Mikroplastik merupakan partikel asing bagi tubuh. Ketika masuk ke dalam tubuh maka akan berdampak buruk bagi kesehatan, menyebabkan inflamasi, gangguan hormon, bahkan kanker,” ujar Rafika lewat keterangan tertulisnya Senin, (3/1).

Mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap di saluran pencernaan dan kemudian masuk ke dalam darah. Dari sana, partikel-partikel mikroplastik dapat menyebar ke berbagai organ tubuh seperti otot, hati, ginjal, jantung, dan bahkan otak. Karena sifatnya yang sulit terurai, mikroplastik dapat bertahan lama dalam tubuh dan menumpuk seiring waktu atau bioakumulatif.

Picu Dampak Negatif

Rafika Aprilianti menambahkan bahwa keberadaan mikroplastik dalam tubuh dapat memicu berbagai dampak negatif, seperti peradangan, stres oksidatif, dan kerusakan sel. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menyebabkan peradangan kronis yang dapat berujung pada kematian sel (apoptosis) dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang lebih serius.

Untuk menghindari paparan mikroplastik, salah satu solusi yang bisa masyarakat terapkan adalah dengan memilih teh daun asli tanpa kantong teh. Selain itu, sebaiknya menggunakan saringan stainless steel, teko, atau french press untuk menyeduh teh. Di masa lalu, masyarakat menyeduh teh dengan cara yang lebih sederhana dan alami. Caranya dengan menggunakan daun teh langsung dalam teko atau cangkir tanpa kantong teh berbahan plastik. Selain lebih alami, cara ini juga lebih ramah lingkungan.

BACA JUGA: Terbangkan Drone, Peneliti Cilik Temukan Mikroplastik di Langit Kediri

Di samping itu, sebuah jurnal penelitian yang terbit di Environmental Science & Technology pada tahun 2024 mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia, diperkirakan mengonsumsi mikroplastik sebanyak 15 gram per kapita per bulan. Jumlah itu setara dengan berat 3 kartu ATM.

Selain berasal dari kebiasaan menggunakan plastik sekali pakai untuk membungkus makanan dan minuman, salah satu sumber utama mikroplastik tersebut juga berasal dari kantong teh celup.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/ecoton-ungkap-temuan-mikroplastik-dalam-teh-celup/feed/ 0