ekonomi kreatif - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/ekonomi-kreatif/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 15 Oct 2018 11:17:14 +0000 id hourly 1 Limbah Pohon Kelapa Bisa Jadi Lampu Hias Secantik Ini https://www.greeners.co/ide-inovasi/limbah-pohon-kelapa-bisa-jadi-lampu-hias-secantik-ini/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=limbah-pohon-kelapa-bisa-jadi-lampu-hias-secantik-ini https://www.greeners.co/ide-inovasi/limbah-pohon-kelapa-bisa-jadi-lampu-hias-secantik-ini/#respond Mon, 15 Oct 2018 07:11:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=21490 Limbah pohon kelapa yang melimpah di desanya mendorong pria dari Pasuruan ini mencari cara untuk memanfaatkannya ketimbang hanya dibakar dan mengotori halaman. ]]>

Pasuruan (Greeners) – Nur Halim, pria asal Dusun Sudimoro, Desa Pucangsari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur berhasil memanfaatkan limbah kelapa dan palem menjadi aneka kerajinan cantik, seperti lampu hias, vas bunga hingga hiasan rumah. Hasil kerajinan dari limbah yang sebelumnya terbuang percuma itu bisa menjadi sumber penghasilan.

Halim yang sebelumnya bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan ini mulai bergelut dengan kerajinan limbah pohon kelapa dan palem sejak dua tahun lalu. Ide tersebut muncul karena banyaknya limbah pohon kelapa dan palem di desanya. Saking banyaknya, setiap hari para pemilik pohon membakarnya sehingga menimbulkan asap yang mengganggu aktivitas warga.

“Di desa ini sangat banyak pohon kelapa dan palem, hampir di semua pekarangan warga. Limbahnya itu enggak dimanfaatkan. Kalau dulu dipakai sebagai kayu bakar, sekarang kan pakai elpiji semua. Warga membakaranya daripada mengotori pekarangan. Suatu ketika saya berpikir, kenapa enggak dimanfaatkan?” kata Halim di galeri yang ada di samping rumahnya, Minggu (14/10/2018).

Meski memiliki keinginan yang kuat, namun Halim mengaku tidak menguasai teknik kerajinan khususnya pemanfaatan limbah pohon kelapa. Namun ia tidak putus asa. Ia belajar dan memperbanyak informasi dari berbagai sumber berkaitan dengan ilmu kerajinan tangan, terutama dari internet.

“Saya enggak mengerti sama sekali mau diapakan. Saya cari info di internet, buka-buka youtube. Dari situ saya belajar. Saya coba dan mencoba terus sampai berhasil,” terang ayah satu anak ini.

limbah pohon kelapa

Nur Halim berhasil memanfaatkan limbah kelapa dan palem menjadi aneka kerajinan cantik, seperti lampu hias, vas bunga hingga hiasan rumah. Foto: greeners.co/Muhajir Arifin

Pada awalnya ia hanya membuat kerajinan untuk dipakai sendiri. Namun lambat laun, setelah yakin dengan karyanya, Halim membuat aneka kerajinan dalam jumlah banyak. Ia pun membuat bengkel kerja dan galeri kecil untuk memamerkan produknya.

“Saya bersyukur banyak yang minat untuk membeli, para tetangga dan teman-teman kerja memesan. Saya juga beberapa kali ikut di beberapa pameran. Hasilnya semakin banyak yang kenal dan tahu,” terangnya.

Seiring dengan pesanan yang meningkat, Halim menggandeng anak-anak muda yang tergabung dalam Organisasi Remaja Sudimoro Meling (ORSIM), di mana dia juga anggotanya. Bersama ORSIM, usahanya semakin berkembang.

“Saya ajari mereka membuat kerajinan dan sekaligus memasarkan lewat media sosial. Dari media sosial, banyak pesanan dari Pasuruan sendiri, Malang hingga Surabaya,” terang Halim.

Sayangnya, saat ini usaha kerajinan milik Halim hanya melayani pesanan. Kerajinan tersebut belum bisa diproduksi dalam jumlah besar karena kendala permodalan.

“Saya hanya bisa melayani pesanan, belum bisa menyetok. Kalau bahan baku melimpah. Kendalanya keterbatasan peralatan, saat ini masih manual. Makanya saya sedang ajukan kredit untuk modal membeli peralatan,” ungkap Halim.

limbah pohon kelapa

Halim memberdayakan remaja di dusunnya untuk membuat kerajinan dari limbah kelapa. Foto: greeners.co/Muhajir Arifin

Greeners.co beruntung mendapat kesempatan melihat proses pembuatan lampu hias. Limbah mancung kelapa yang sudah dikumpulkan kemudian dibersihkan dan dikeringkan dengan terik matahari. “Ini yang sudah kering,” ujar Halim.

Mancung-mancung kelapa yang sudah kering itu kemudian dibentuk sesuai kebutuhan. Setelah bentuk didapat, lalu dihaluskan dan setelah itu dicat berulang-ulang untuk menghasilkan warna yang mengilap.

Setelah itu, Halim merangkainya menjadi lampu hias. Tahap akhir, dipasang kabel dan lampu sesuai keinginan. Lalu dipercantik dengan beberapa aksesoris. Hasilnya, sebuah lampu hias yang unik dan cantik.

Bentuk alami mancung kelapa membuat karyanya sangat khas. Lapisan pernis dan cat yang halus serta sentuhan beberapa aksesoris dari bahan alami membuat lampu hias karya Halim semakin artistik dan tampak mewah.

“Proses pembuatan jenis kerajinan lainnya sepeti vas dan hiasan rumah kurang lebih sama,” pungkas Halim.

Penulis: MA/G12

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/limbah-pohon-kelapa-bisa-jadi-lampu-hias-secantik-ini/feed/ 0
Yayasan Sekar Kawung Pamerkan Keindahan Kain Tenun Ikat Sumba Timur https://www.greeners.co/aksi/yayasan-sekar-kawung-pamerkan-keindahan-kain-tenun-ikat-sumba-timur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yayasan-sekar-kawung-pamerkan-keindahan-kain-tenun-ikat-sumba-timur https://www.greeners.co/aksi/yayasan-sekar-kawung-pamerkan-keindahan-kain-tenun-ikat-sumba-timur/#respond Tue, 03 Oct 2017 13:40:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=18866 Melalui pameran seni kain tenun ikat Sumba Timur, Yayasan Sekar Kawung ingin membuktikan bahwa keindahan tenun ikat juga dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Indonesia.]]>

Jakarta (Greeners) – Nusa Tenggara Timur tidak hanya memiliki hamparan sabana yang luas dan pemandangan bawah laut yang indah, namun juga kekayaan budaya berupa kain tenun ikat yang memikat. Untuk mengapresiasi keindahan kain tenun ikat, khususnya dari Sumba Timur, Yayasan Sekar Kawung menyelenggarakan pameran seni kain tenun ikat Sumba Timur pada tanggal 1-8 Oktober 2017 di kawasan Kota Tua Jakarta.

Pameran bertajuk “Karya Adiluhung Pendorong Ekonomi Lestari: Menguak Spiritualitas dan Simbolisme di Balik Seni Tenun Ikat Pewarna Alam Sumba Timur” ini merupakan kerja sama antara Yayasan Sekar Kawung dengan kelompok seniman tenun Paluanda Lama Hamu yang berasal dari Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Melalui pameran ini, Yayasan Sekar Kawung ingin membuktikan bahwa keindahan tenun ikat juga dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Indonesia.

“Tenun ikat Sumba dapat menjadi fondasi sekaligus pendorong pertumbuhan ekonomi lestari di Indonesia karena dari awal hingga akhir proses pembuatan tenun ikat menggunakan bahan-bahan alami dari alam. Selain ramah lingkungan, pembuatan tenun ikat Sumba juga melibatkan masyarakat lokal dan kelompok ekonomi masyarakat setempat,” papar Ketua Yayasan Sanggar Kawung, Chandra Kirana, saat ditemui oleh Greeners di lokasi pameran, Jakarta, Minggu (01/10).

kain tenun ikat sumba

Foto: greeners.co/Anggi Rizky Firdhani

Menurut Chandra, seperti halnya lukisan, setiap helai kain tenun mengekspresikan kreativitas, imajinasi, juga suasana jiwa sang seniman tenun. Ada cerita unik tersendiri dalam setiap helai kain tenun.

“Seluruh kain tenun ikat Sumba Timur dibuat berdasarkan suara hati dari para penenunnya. Maka tak heran jika di kain tenun tersebut terdapat begitu banyak simbol dan warna yang menceritakan sesuatu. Bagi masyarakat Sumba sendiri, kain tenun ikat berfungsi sebagai pencerita sejarah, penghantar doa, dan media untuk menyampaikan nilai-nilai filosofis kehidupan. Itulah yang membuat tenun ikat Sumba memiliki nilai seni tinggi dan bernilai jual tinggi pula,” ungkap Chandra.

Di tempat yang sama, Menteri Lingkungan Hidup era Kabinet Pembangunan III Profesor Emil Salim mengatakan bahwa seni tenun ikat Sumba Timur perlu terus dilestarikan. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak ingin melihat tenun ikat Sumba mati di rumah sendiri karena tergerus komersialisasi.

“Untuk melestarikan kain tenun ikat Sumba, alam dan kreativitas para penenun adalah dua hal yang perlu dijaga dengan baik. Mengapa demikian, karena alam telah memberikan tanaman kapas untuk diolah menjadi kain dan tanaman lainnya untuk dijadikan pewarna. Selain itu, kreativitas para penenun juga perlu dijaga karena mereka dapat menuangkan keindahan alam pada sehelai kain tenun ikat,” ujar Emil.

Ia pun berharap kain tenun tidak berubah menjadi benda komersial yang diproduksi secara massal yang pada akhirnya akan membuat para seniman tenun Sumba mengerjakan tenun ikat tidak dengan hati dan meninggalkan nilai-nilai seni dari leluhur.

Sebagai informasi, kain tenun ikat khas Sumba Timur sepenuhnya terbuat dari bahan-bahan alami dan dibuat dengan tangan. Mulai dari proses pengumpulan bahan, pewarnaan, hingga proses akhir, seluruhnya dilakukan secara manual oleh para penenun Sumba Timur.

Kain tenun ikat khas sumba terbuat dari serat kapas dan diwarnai oleh pewarna alami yang terbuat dari tumbuhan indigo, akar mengkudu, dan aneka tumbuhan lainnya. Satu helai kain tenun ini perlu dikerjakan oleh 3 hingga 10 orang, dan untuk satu kain tenun berukuran besar membutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk diselesaikan.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/aksi/yayasan-sekar-kawung-pamerkan-keindahan-kain-tenun-ikat-sumba-timur/feed/ 0
Sambut Ekonomi Digital, IESE 2016 Siap Digelar https://www.greeners.co/berita/sambut-ekonomi-digital-iese-2016-siap-digelar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sambut-ekonomi-digital-iese-2016-siap-digelar https://www.greeners.co/berita/sambut-ekonomi-digital-iese-2016-siap-digelar/#respond Tue, 01 Mar 2016 07:51:08 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13018 Berkembangnya industri dan ekonomi digital di Indonesia, termasuk belanja secara daring, mendorong diadakannya perhelatan Indonesia E-Commerce Summit & Expo (IESE) 2016.]]>

Jakarta (Greeners) – Berkembangnya industri dan ekonomi digital di Indonesia, termasuk belanja secara daring, mendorong diadakannya perhelatan Indonesia E-Commerce Summit & Expo (IESE) 2016. Forum yang diadakan untuk pertama kalinya di Indonesia ini akan digelar di Indonesian Convention Exhibition (ICE), BSD, Tangerang, pada tanggal 27-29 April 2016 mendatang.

IESE merupakan acara yang diprakarsai oleh Indonesia E-Commerce Association (IdEA) bersama Dyandra Promosindo dan didukung oleh Kementerian Perdagangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Badan Ekonomi Kreatif. Ketua Umum IdEA, Daniel Tumiwa, mengaku optimis dengan pertumbuhan e-commerce di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

“Mari kita gunakan IESE sebagai forum untuk merapatkan barisan, bergerak cepat mewujudkan mimpi bersama melalui program kerja yang ditentukan. Kami optimis bahwa visi menjadikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi digital dunia dapat dicapai,” ungkap Daniel dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (29/3).

Konferensi pers Indonesia E-Commerce Summit & Expo (IESE) 2016, Senin (29/3). Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Konferensi pers Indonesia E-Commerce Summit & Expo (IESE) 2016, Senin (29/3). Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Industri e-commerce di Indonesia sendiri tengah dan diprediksi akan terus tumbuh secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang, hingga mencapai USD 130 miliyar di tahun 2020. Sementara saat ini, terdapat 56 juta Usaha Kecil Menengah (UKM) dan berkontribusi 55,6 persen terhadap PDB nasional. “Kami berharap e-commerce bisa memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan nasional dan membantu para pelakunya untuk lebih mandiri secara ekonomi,” ujarnya.

Mengangkat tema “The New Digital Energy of Asia”, IESE akan menampilkan 72 pembicara dari dalam maupun luar negeri yang merupakan para pemangku kepentingan. Selain itu, IESE juga akan dihadiri oleh lebih dari 150 eksibitor.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan bahwa pertumbuhan e-commerce dapat terlaksana dengan kontribusi dari berbagai pihak, termasuk peran media massa. Menurutnya, ekonomi digital memiliki potensi yang besar bagi perekonomian tanah air. Meskipun demikian, sayangnya potensi yang besar ini belum tergarap secara menyeluruh.

Pada awal tahun 2016 ini, industri e-commerce memasuki babak baru setelah pemerintah mengeluarkan peta jalan yang akan menjadi landasan pembangunan industri e-commerce ke depan.

Di tempat yang sama, Associate Director Dyandra Promosindo, Michael Bayu, mengatakan bahwa sudah saatnya para pemangku kepentingan dan pelaku bisnis e-commerce bersatu padu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Menurutnya, IESE dapat mengembangkan bisnis para pelaku bisnis e-commerce. “IESE 2016 ini akan menjadi ajang yang tepat bagi para pemain industri e-commerce Indonesia untuk meningkatkan bisnis mereka,” katanya.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/berita/sambut-ekonomi-digital-iese-2016-siap-digelar/feed/ 0
Perluas Informasi Tentang Inggris, British Council Resmikan “myClass Centre” https://www.greeners.co/aksi/perluas-informasi-tentang-inggris-british-council-resmikan-myclass-centre/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perluas-informasi-tentang-inggris-british-council-resmikan-myclass-centre https://www.greeners.co/aksi/perluas-informasi-tentang-inggris-british-council-resmikan-myclass-centre/#respond Wed, 29 Apr 2015 07:39:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=8761 Jakarta (Greeners) – Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste, Moazzam Malik bersama dengan Ketua Dewan Pembina British Council, Sir Vernon Ellis serta Direktur British Council Indonesia, Sally […]]]>

Jakarta (Greeners) – Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste, Moazzam Malik bersama dengan Ketua Dewan Pembina British Council, Sir Vernon Ellis serta Direktur British Council Indonesia, Sally Goggin meresmikan berdirinya “myClass Centre”, pusat pembelajaran bahasa Inggris dan informasi seputar Inggris. Sebelumnya, “MyClass Centre” yang bernaung di bawah Yayasan Dewan Inggris Indonesia tersebut sudah berdiri di Medan dan Surabaya.

Dalam kunjungannya yang pertama kali ke Indonesia, Sir Vernon mengatakan hubungan erat antara Indonesia dan Inggris terus berkembang dan kemitraan di antara keduanya semakin meningkat dalam berbagai sektor, terutama di bidang riset dan pendidikan tinggi, kesenian dan ekonomi kreatif, serta pengembangan komunitas dan bahasa Inggris.

Senada dengan Sir Vernon, Moazzam Malik mengatakan bahwa Indonesia dapat turut mempengaruhi masa depan perekonomian dunia, selain Tiongkok. “Untuk bersaing dengan negara lain, Indonesia juga harus bisa berkomunikasi dengan baik dengan bahasa internasional , dalam hal ini bahasa Inggris,” katanya kepada wartawan di lokasi peresmian “myClass Centre”, Lotte Shopping Avenue, Jakarta, Selasa, (28/4).

(kiri ke kanan) Direktur British Council Indonesia, Sally Goggin; Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste, Moazzam Malik; Ketua Dewan Pembina British Council, Sir Vernon Ellis; serta Ketua Yayasan Dewan Inggris Indonesia, Imelda Usnadibrata. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

(kiri ke kanan) Direktur British Council Indonesia, Sally Goggin; Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste, Moazzam Malik; Ketua Dewan Pembina British Council, Sir Vernon Ellis; serta Ketua Yayasan Dewan Inggris Indonesia, Imelda Usnadibrata. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

British Council yang sudah berkiprah selama 67 tahun di Indonesia ingin membantu Indonesia dalam mengejar topik-topik terkini serta persaingan global. Salah satu topik yang dapat didiskusikan dengan mengikuti “myClass Centre” adalah isu terkait lingkungan hidup.

“Inggris merupakan negara yang peduli dengan green effort, oleh sebab itu ada hal-hal terkait dengan lingkungan hidup yang kami masukan dalam ‘myClass’. Hal ini untuk berbagi pengalaman bagaimana kesadaran tentang lingkungan di Inggris dapat diaplikasikan di Indonesia,” ujar Imelda Usnadibrata selaku Ketua Yayasan Dewan Inggris Indonesia (British Council Foundation Indonesia).

Menurut Imelda, bahasa bisa membawa perubahan bagi pola pikir seseorang terkait dengan kepeduliannya terhadap lingkungan. Isu-isu lingkungan ini banyak dibahas dalam berbagai literatur berbahasa Inggris. Seseorang dapat memahami apa yang dibaca jika ia mengerti arti dari bahasa yang digunakan.

Enviromental awareness merupakan salah satu yang kami pelajari, yaitu bagaimana pentingnya kita peduli tentang lingkungan karena apa yang kita lakukan di bumi ini akan berdampak pada kita di masa depan,” sambung Imelda.

Seperti diketahui, British Council merupakan organisasi internasional asal Inggris Raya yang bergerak dalam hubungan kebudayaan dan kesempatan pendidikan. Maret lalu, British Council menciptakan rekor dengan mendatangkan 69 universitas asal Inggris ke Indonesia untuk mengikuti pameran pendidikan tinggi.

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/aksi/perluas-informasi-tentang-inggris-british-council-resmikan-myclass-centre/feed/ 0
Sudah Saatnya Hutan Adat Dikelola Oleh Masyarakat Adat https://www.greeners.co/berita/sudah-saatnya-hutan-adat-dikelola-oleh-masyarakat-adat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sudah-saatnya-hutan-adat-dikelola-oleh-masyarakat-adat https://www.greeners.co/berita/sudah-saatnya-hutan-adat-dikelola-oleh-masyarakat-adat/#respond Thu, 02 Oct 2014 01:10:40 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6008 Jakarta (Greeners) – Ketua Badan Pengurus Perkumpulan HuMa Indonesia, Chalid Muhammad, mengatakan bahwa sudah saatnya hutan adat maupun pengelolaannya dikembalikan kepada kearifan lokal masyarakat adat. Menurut Chalid, hingga saat ini […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ketua Badan Pengurus Perkumpulan HuMa Indonesia, Chalid Muhammad, mengatakan bahwa sudah saatnya hutan adat maupun pengelolaannya dikembalikan kepada kearifan lokal masyarakat adat.

Menurut Chalid, hingga saat ini telah banyak bukti kalau pemerintah gagal dalam melakukan pengelolaan hutan dan bahkan banyak dari hutan di Indonesia dikuasai oleh segelintir korporasi.

“Negara telah gagal dalam pengelolaan hutan ini, sudah seharusnya masyarakat adat mengambil alih,” ujar Chalid, Jakarta, Rabu (01/10).

Selain telah gagal dalam upaya pengelolaan hutan, Jaringan Komunitas Masyarakat Aceh (JKMA), Zulfikar Arma, juga menyatakan kalau pemerintah masih belum siap untuk menyerahkan pengelolaan hutan adat kepada masyarakat hukum adat.

Arma menilai bahwa negara seperti tidak ikhlas melepaskan hutan adat dari hutan negara, apalagi kalau hutan tersebut adalah hutan nasional.

“Pemerintah tuh kayak enggak ikhlas. Mereka enggak mau hutan itu dikelola masyarakat adat,” kata Arma.

Padahal, lanjut Arma, jika hutan ada diserahkan kepada masyarakat adat, maka banyak hal baik yang akan terjadi pada pengelolaan hutan adat di Indonesia. Dia menyontohkan, dari aspek ekonomis, masyarakat adat banyak yang menggantungkan hidupnya dari hasil hutan. Pemerintah seharusnya bisa melihat hal tersebut sebagai celah untuk ekonomi kreatif masyarakat adat.

“Laju deforestasi akan turun dan masyarakat adat atau desa mampu memproduksi tujuh persen sesuai dengan percepatan pertumbuhan ekonomi Jokowi nanti. Kita bisa buktikan, bukan hanya industri yang banyak merusak alam saja yang bisa mencapai laju tujuh persen pertumbuhan ekonomi tersebut,” katanya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/sudah-saatnya-hutan-adat-dikelola-oleh-masyarakat-adat/feed/ 0