elang bondol - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/elang-bondol/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 09 Feb 2022 07:08:46 +0000 id hourly 1 Burung Elang Bondol, Maskot Jakarta yang Memesona https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-elang-bondol-maskot-jakarta-yang-memesona/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=burung-elang-bondol-maskot-jakarta-yang-memesona https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-elang-bondol-maskot-jakarta-yang-memesona/#respond Thu, 10 Feb 2022 03:00:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=35243 Sebagai Ibu Kota negara, tidak banyak yang mengetahui bahwa Jakarta menjadikan burung elang bondol sebagai maskot wilayah. Ini merupakan spesies elang yang sangat umum ditemui, sebab menyebar di berbagai daerah […]]]>

Sebagai Ibu Kota negara, tidak banyak yang mengetahui bahwa Jakarta menjadikan burung elang bondol sebagai maskot wilayah. Ini merupakan spesies elang yang sangat umum ditemui, sebab menyebar di berbagai daerah di Indonesia.

Brahminy kite atau burung elang bondol memiliki nama ilmiah Haliastur indus. Hewan ini tergolong sebagai burung pemangsa, yang berasal dari keluarga Accipitridae dan ordo Accipitriformes.

Seperti namanya, brahminy kite pakar gabungkan ke dalam genus Haliastur. Kelompoknya berkerabat dengan elang siul (H. sphenurus), bahkan memiliki morfologi yang cukup mirip.

Tubuh elang Haliastur biasanya berukuran sedang, yakni mulai dari 44-60 cm. Kepala elang ini juga tampak kecil, serta mempunyai warna cokelat kegelapan di bagian atas tubuhnya.

Morfologi dan Ciri-Ciri Burung Elang Bondol

Burung Elong bondol sendiri berbiak mulai dari 43-51 cm. Mereka memiliki sayap lebar dengan ekor pendek dan membulat ketika membentang. Kepala, leher dan dadanya berwarna putih.

Bulu-bulu lainnya berwarna merah bata pucat, dengan bagian ujung bulu primer berwarna hitam. Anakan didominasi oleh warna cokelat gelap, dengan corak garis berwarna putih.

Tungkai H. indus berwarna kuning, paruhnya melengkung tajam dengan warna keabuan. Ia berkembang biak sepanjang bulan Januari sampai Agustus, serta di bulan Mei sampai Juli.

Waktu pengeraman telur berlangsung selama 28-35 hari, sedangkan sang anak mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang umur 40-56 hari. Usia dewasa dicapai 2 bulan setelahnya.

Secara sifat, burung elang bondol sejatinya lebih mirip dengan burung bangkai. Mereka memakan hewan-hewan kecil seperti ikan, kepiting, kerang, katak, pengerat, reptil, bahkan serangga.

Pola Hidup dan Kebiasaan Burung Elang Bondol

Burung brahminy kite mencari makan di atas daratan maupun permukaan air. Ia mengintai mangsanya dengan terbang melayang di ketinggian 20-50 meter di atas permukaan tanah.

Meski memburu hewan air, burung elang bondol tidak memiliki kemampuan berenang. Ia biasanya memanfaatkan cakarnya yang runcing untuk mengait, lalu membawanya terbang ke udara.

Tidak cuma itu, spesies elang ini pakar ketahui memakan bangkai dan sisa-sisa makanan. Ia cukup mudah kita temukan di sekitar pelabuhan maupun pesisir tempat pengolahan ikan.

Walau suka memakan bangkai, H. indus bukan pemangsa yang pasif. Burung ini mendirus burung-burung di area pantai sambil terbang untuk mengidentifikasi kelemahan mangsa.

Bahkan dalam beberapa kasus, burung elang bondol ahli sinyalir mampu menyerang mangsa yang lebih besar. Ini mereka lakukan untuk mencuri makanan, misalnya dari spesies elang lain.

Habitat dan Distribusi Burung Elang Bondol

Area tepi laut seperti hutan mangrove, muara sungai, hingga pesisir pantai adalah habitat burung ini. Namun, mereka juga kerap ditemukan di lahan basah seperti sawah dan rawa.

Melansir berbagai sumber, burung elang bondol terdistribusi mulai dari India, China, Asia Tenggara, sampai Australia. Di Indonesia, ia dapat kita jumpai di Jawa, Bali, Sumatra, hingga Papua.

Di Kalimantan sendiri, spesies H. indus melimpah di daerah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Keberadaannya dilindungi karena dianggap berjasa bagi kelestarian ekosistem setempat.

Burung elang bondol memang cukup erat dengan beberapa kebudayaan dunia. Di India, hewan ini warga anggap suci karena representasi kontemporer Garuda, burung suci Dewa Wisnu.

Sedang di Pulau Bougainville, brahminy kite dikisahkan sebagai burung jelmaan dari bayi yang ditinggalkan oleh ibunya. Ia lalu melayang ke langit dan berubah menjadi burung.

Taksonomi Spesies Haliastur Indus

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-elang-bondol-maskot-jakarta-yang-memesona/feed/ 0
Dua Ekor Elang Disita dari Rumah Pegawai Pemda DKI Jakarta https://www.greeners.co/berita/dua-ekor-elang-disita-rumah-pegawai-pemda-dki-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dua-ekor-elang-disita-rumah-pegawai-pemda-dki-jakarta https://www.greeners.co/berita/dua-ekor-elang-disita-rumah-pegawai-pemda-dki-jakarta/#respond Sat, 22 Oct 2016 12:00:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15021 Dua ekor burung dilindungi, yakni jenis elang bondol (Haliastur indus) dan elang brontok (Spizaetus cirrhatus) berhasil disita dari rumah pegawai harian lepas (PHL) Pemda DKI Jakarta.]]>

Jakarta (Greeners) – Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara dibantu LSM Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group dan tokoh masyarakat berhasil mengamankan dua ekor burung dilindungi, yakni jenis elang bondol (Haliastur indus) dan elang brontok (Spizaetus cirrhatus) dari rumah pegawai harian lepas (PHL) Pemda DKI Jakarta.

Kedua burung elang ini diamankan pada Kamis (20/10) dari rumah PHL Pemda DKI bernama Dullah yang berlokasi di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, tepatnya disebelah Taman Flamboyan yang dikelola Dinas Pertamanan DKI Jakarta.

Salah seorang petugas penegakan hukum KLHK Saptawi Sunarya yang memimpin upaya penyitaan menjelaskan kepada Dullah mengenai status burung dilindungi tersebut hingga akhirnya yang bersangkutan bersedia menyerahkan burung peliharaannya secara sukarela, meskipun pada awalnya bersikeras mempertahankan burung peliharaannya tersebut.

BACA JUGA: Nasib Elang Bondol di Tengah Polemik Reklamasi Teluk Jakarta

Menurut Saptawi, berdasarkan UU Nomor 5 tahun 1990 pasal 1 ayat 2 menyatakan barang siapa yang dengan sengaja memiliki, meniagakan, dan memperjualbelikan hewan dilindungi terjerat dengan hukuman ancaman 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

Seperti diketahui, elang bondol (Haliastur indus) merupakan maskot Provinsi DKI Jakarta dan keberadaannya di alam sudah sangat langka. Diperkirakan burung elang bondol dan elang brontok yang disita tersebut berumur kurang dari 1 tahun. Selanjutnya kedua burung tersebut diserahkan ke Pusat Penyelamatan Satwa Tegal Alur Jakarta Barat.

BACA JUGA: BKSDA Sita Elang Bondol dari Tarekot Malang

Sementara itu, investigator senior Scorpion Marison Guciano yang ikut mendampingi petugas dalam proses penyitaan mengungkapkan bahwa saat ditemukan dua ekor elang tersebut dalam kondisi yang mengenaskan dikurung dalam kandang kecil dan sempit. Selain itu mata elang brontok terlihat buta.

Scorpion kemudian melaporkan temuan tersebut kepada petugas SPORC Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Marison berharap agar masyarakat tidak lagi memelihara secara ilegal jenis satwa dilindungi. Ia juga mengimbau kepada masyarakat yang saat ini memelihara satwa dilindungi agar segera menyerahkan satwa tersebut kepada petugas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Penulis: (*)

]]>
https://www.greeners.co/berita/dua-ekor-elang-disita-rumah-pegawai-pemda-dki-jakarta/feed/ 0
BKSDA Sita Elang Bondol dari Tarekot Malang https://www.greeners.co/berita/bksda-sita-elang-bondol-tarekot-malang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bksda-sita-elang-bondol-tarekot-malang https://www.greeners.co/berita/bksda-sita-elang-bondol-tarekot-malang/#respond Tue, 21 Jun 2016 05:06:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=14045 Seekor elang bondol disita petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Malang dari Taman Rekreasi Kota (Tarekot) Kota Malang karena tidak memiliki izin konservasi.]]>

Malang (Greeners) – Seekor elang bondol (Haliastur indus) disita petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Malang, Jawa Timur, dari Taman Rekreasi Kota (Tarekot) yang terletak di Jalan Simpang Majapahit, Kota Malang. Penyitaan dilakukan karena izin konservasi Tarekot sudah dicabut oleh Kementerian Kehutanan pada 2013.

Polisi Hutan BKSDA Resort Malang Imam Pujiono menyatakan, penyitaan dilakukan setelah mendapat informasi dari masyarakat adanya satwa dilindungi di kawasan Tarekot. Elang bondol, kata dia, termasuk satwa dilindungi sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati.

“Burung elang yang ada di sini hasil titipan dari warga, oleh petugas Tarekot dirawat dan dikandangkan. Tapi karena tidak ada izin konservasi, satwa tersebut kami amankan. Dalam waktu dekat akan kami titipkan di lembaga konservasi (Jawa Timur Park),” kata Imam, di kantor UPT Tarekot, Senin (20/6/2016).

Imam menyatakan selama satwa yang ada di Tarekot bukan termasuk hewan dilindungi, pihaknya tidak akan melakukan penyitaan. Hal ini, jelas dia, semata-mata menegakkan aturan yang sudah ada.

BACA JUGA: KLHK Akan Bentuk Sistem Pendataan Terhadap Satwa Liar Dilindungi

Lebih lanjut Imam mengatakan bahwa pihaknya berhasil mengamankan empat burung elang berbagai jenis selama tiga minggu terakhir. Pertama, elang brontok milik warga, kedua elang ular bido yang hampir diperdagangkan, elang ular milik warga Pagak, dan terakhir elang bondol di Tarekot.

Imam hanya memberi peringatan bagi pengelola Tarekot agar ke depannya tidak menerima titipan satwa dilindungi dari masyarakat. Kalaupun ada, sebaiknya dikoordinasikan dengan pihaknya.

“Semua jenis elang di Indonesia sudah dilindungi, mengingat keberadaannya mulai langka. Di sisi lain perdagangan dan perburuan elang masih tinggi, terutama di Jawa Timur,” jelasnya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tarekot, Sri Mariyani, mengaku tidak tahu-menahu keberadaan elang bondol di kawasan Tarekot. Pihaknya baru paham saat petugas dari BKSDA dan awak media datang ke kantornya.

“Baru tahu jika ada satwa dilindungi dipelihara di Tarekot. Staf saya tidak memberitahu jika ada warga yang menitipkan elang ke sini,” katanya.

BACA JUGA: Sistem Pengawasan Lemah, Kematian dan Perdagangan Satwa Dilindungi Terus Terjadi

Dari penuturan stafnya, elang bondol tersebut sudah satu minggu berada di kandang Tarekot. Setiap hari dirawat oleh keeper yang menerima satwa tersebut. Sri menyatakan pihaknya sudah menyerahkan satwa tersebut kepada petugas BKSDA untuk selanjutnya dititipkan di lembaga konservasi resmi.

Semenjak dicabut izin konservasi, pihaknya tidak lagi menerima penitipan satwa dari masyarakat. Saat ini di Tarekot hanya terdapat satwa-satwa yang tidak termasuk hewan dilindungi. Di antaranya landak dan ayam mutiara, serta jenis burung lainnya.

“Di Tarekot, kandang dan tempatnya tidak memadai, belum lagi keepernya kurang untuk mengurusi semua satwa di sini. Kami hanya pelihara hewan-hewan yang tak termasuk dilindungi,” ungkapnya.

Izin konservasi Tarekot disetujui oleh Kementerian Kehutanan Tahun 2007. Semula, taman tersebut merupakan ruang terbuka dan arena bermain anak. Kemudian masyarakat menitipkan aneka jenis satwa langka namun pengelolaannya tidak berjalan maksimal.

Selain pengunjung tidak dipungut biaya apa pun, termasuk karcis masuk, Pemkot Malang juga tak sanggup membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Padahal, sesuai peraturan Menteri Kehutanan tentang Lembaga Konservasi, lima tahun setelah memperoleh izin, konservasi wajib membentuk BUMD sebagai pengelola Tarekot yang merupakan lembaga konservasi.

BACA JUGA: Narsis Bersama Satwa Dilindungi, Bukti Ketidakpastian Hukum Perlindungan Satwa

Izin konservasi Taman Rekreasi Kota (Tarekot) dicabut oleh Kementerian Kehutanan pada 2013, lalu. Kemudian pada 15 Januari 2014, pengelola mengajukan permohonan untuk dialihkan menjadi taman burung kepada balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa timur.

Satwa yang terdapat di Tarekot kemudian diserahkan kepada BKSDA. Di antaranya lima kijang, satu Siamang, satu kera Sulawesi, satu elang Jawa, dan satu kasuari. Satwa-satwa tersebut lantas dititipkan di Jatim Park 2, Kota Batu. Sementara, burung kasuari dititipkan di PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII di Lawang, Kabupaten Malang.

Tarekot memiliki koleksi 103 jenis satwa yang terdiri atas 33 spesies, seperti enam mamalia, dua primate, dan 24 aves atau burung. Di tahun 2010, lima satwa terdiri atas satu kijang dan empat elang jawa mati.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/bksda-sita-elang-bondol-tarekot-malang/feed/ 0
Presiden Akan Lepas Empat Elang Bondol di Kepulauan Seribu https://www.greeners.co/berita/presiden-akan-lepas-empat-elang-bondol-di-kepulauan-seribu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=presiden-akan-lepas-empat-elang-bondol-di-kepulauan-seribu https://www.greeners.co/berita/presiden-akan-lepas-empat-elang-bondol-di-kepulauan-seribu/#respond Mon, 11 Apr 2016 10:56:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13425 Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan melepas empat burung elang jenis bondol. Satwa yang menjadi maskot DKI Jakarta ini populasinya mulai terancam akibat perdagangan satwa ilegal dan terganggunya habitat burung laut tersebut.]]>

Jakarta (Greeners) – Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan melepas empat burung elang jenis bondol. Satwa yang menjadi maskot DKI Jakarta ini populasinya mulai terancam akibat perdagangan satwa ilegal dan terganggunya habitat burung laut tersebut.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengatakan, elang bondol tersebut akan dilepas di Taman Nasional Kepulauan Seribu pada tanggal 14 April 2016 mendatang. Selain itu, Presiden juga dijadwalkan akan mendatangi Pulau Pramuka dan Pulau Karya. Kegiatan ini dilakukan Presiden untuk memperingati Hari Hutan Internasional, Hari Air, dan Hari Rimbawan.

“Di Pulau Pramuka, Presiden Jokowi akan melepaskan ratusan penyu yang berhasil ditangkarkan oleh Taman Nasional Kepulauan Seribu di pulau itu. Presiden juga akan menanam pohon mangrove untuk menambah populasi pohon mangrove di kawasan itu,” kata Siti, Jakarta, Senin (11/04).

Menteri Siti menyatakan ingin memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan. Apalagi, lanjutnya, warga Kepulauan Seribu menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai nelayan dan di sektor wisata laut.

“Selain masyarakat, ada juga komunitas pecinta satwa dan lingkungan yang akan hadir,” katanya.

Sebagai informasi, saat ini burung elang bondol yang berada di tempat penangkaran dan penampungan di Pulau Kotok, Kepulauan Seribu hanya berjumlah 39 ekor. Menteri Siti menyatakan pihaknya akan meresmikan sanctuary atau penangkaran elang bondol yang sudah ada di Pulau Kotok agar keberlangsungan ekosistemnya tetap terjaga.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/presiden-akan-lepas-empat-elang-bondol-di-kepulauan-seribu/feed/ 0
Nasib Elang Bondol di Tengah Polemik Reklamasi Teluk Jakarta https://www.greeners.co/berita/nasib-elang-bondol-di-tengah-polemik-reklamasi-teluk-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nasib-elang-bondol-di-tengah-polemik-reklamasi-teluk-jakarta https://www.greeners.co/berita/nasib-elang-bondol-di-tengah-polemik-reklamasi-teluk-jakarta/#respond Sun, 10 Apr 2016 11:21:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13419 Proyek reklamasi 17 pulau di teluk Jakarta dikhawatirkan akan mengganggu habitat elang bondol. Saat ini satwa yang menjadi maskot DKI Jakarta tersebut hanya berjumlah 39 ekor.]]>

Jakarta (Greeners) – Proyek reklamasi 17 pulau di teluk Jakarta dikhawatirkan akan mengganggu habitat elang bondol. Saat ini satwa yang menjadi maskot DKI Jakarta tersebut hanya berjumlah 39 ekor.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Tachrir Fathoni mengatakan bahwa reklamasi teluk Jakarta pasti akan berdampak terhadap banyak hal, termasuk keberlangsungan ekosistem elang bondol.

“Makanya Analisis Dampak Lingkungannya (Amdal) harus jelas apa saja dampak-dampak yang akan terjadi pada proyek tersebut,” kata Tachrir saat ditemui di Pulau Pramuka, Jakarta, Minggu (10/04).

Oleh karena itu, lanjutnya, program penangkaran dan pemeliharaan satwa sangat penting untuk dilakukan. Apalagi, elang bondol adalah satwa khas di Kepulauan Seribu yang menjadi maskot Ibukota.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar melakukan kunjungan ke beberapa pulau di Kepulauan Seribu. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar melakukan kunjungan ke beberapa pulau di Kepulauan Seribu. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Menurut Founder Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Femke Den Haas, seharusnya Amdal reklamasi 17 pulau di teluk Jakarta memperhatikan keberlangsungan segala ekosistem yang ada di wilayah tersebut.

Saat ini wilayah konservasi elang bondol hanya berada di Pulau Kotok, Kepulauan Seribu. Di pulau ini terdapat kandang-kandang besar untuk melindungi 26 ekor elang bondol, 10 ekor elang laut, dan satu ekor elang ikan kepala abu.

“Pembangunan reklamasi teluk Jakarta jelas akan mengganggu habitat satwa-satwa ini,” tambahnya.

Dampak lain dari reklamasi tersebut antara lain perubahan arus laut, kehilangan ekosistem penting, kenaikan muka air laut yang memungkinkan terjadinya banjir yang semakin parah di wilayah tempat bahan timbunan, sedimentasi, perubahan hidrodinamika yang semuanya harus tertuang dalam analisis dampak lingkungan.

Hal ini terjadi karena kegiatan reklamasi dengan pengurukan tanah akan mengubah kondisi ekologi lingkungan khususnya mangrove dan satwa sekitar yang menghendaki syarat-syarat tertentu terhadap kadar garam, pasang surut air laut dan pelumpuran.

Proyek reklamasi pantai utara Jakarta ini akan menimbun laut Teluk Jakarta seluas 2700 hektare. Batas wilayah reklamasi yaitu dari batas wilayah Tangerang sampai dengan Bekasi yang dibagi menjadi 3 kawasan yaitu west zone (zona barat), central zone (zona tengah), east zone (zona timur).

“Dampak langsungnya terhadap populasi elang bondol ini ya mereka jadi hilang ekosistem dan habitatnya,” jelasnya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyatakan bahwa dampak langsung reklamasi 17 pulau di teluk Jakarta memang ada, khususnya untuk populasi elang bondol. Oleh sebab itu, pihaknya akan meresmikan sanctuary atau penangkaran elang bondol yang sudah ada di Pulau Kotok agar keberlangsungan ekosistemnya tetap terjaga.

“Saat ini sudah ada tempat perawatan elang bondol dan beberapa jenis burung lain di Pulau Kotok. Itu nanti akan diresmikan dan dikuatkan kewenangannya. Apalagi dengan bantuan banyak komunitas pecinta burung juga yang membantu kita,” tutupnya.

Sebagai informasi, Kunjungan Menteri LHK Siti Nurbaya ke beberapa pulau di Kepulauan Seribu adalah untuk meninjau kesiapan lokasi tersebut dalam menyambut kedatangan Presiden Joko Widodo tanggal 14 April 2016 mendatang.

Nantinya, dalam rangka memperingati Hari Rimbawan dan Hari Hutan Internasional, Joko Widodo akan melepaskan beberapa satwa seperti burung dan penyu. Selain itu, bersama masyarakat, ia juga akan melakukan penanaman mangrove dan koral.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/nasib-elang-bondol-di-tengah-polemik-reklamasi-teluk-jakarta/feed/ 0