Endemik - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/endemik/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 13 Dec 2024 08:11:40 +0000 id hourly 1 Tarsius Supriatna, Primata Kecil yang Berekor Sangat Panjang https://www.greeners.co/flora-fauna/tarsius-supriatna-primata-kecil-yang-berekor-sangat-panjang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tarsius-supriatna-primata-kecil-yang-berekor-sangat-panjang https://www.greeners.co/flora-fauna/tarsius-supriatna-primata-kecil-yang-berekor-sangat-panjang/#respond Tue, 17 Dec 2024 05:00:07 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=45425 Mari berkenalan dengan primata kecil dan endemik dari Pulau Sulawesi, yakni Tarsius supriatnai (tarsius supriatna) yang memiliki nama lain Bumbulan atau Mimito. Primata endemik ini peneliti temukan dan terdeskripsikan dalam […]]]>

Mari berkenalan dengan primata kecil dan endemik dari Pulau Sulawesi, yakni Tarsius supriatnai (tarsius supriatna) yang memiliki nama lain Bumbulan atau Mimito. Primata endemik ini peneliti temukan dan terdeskripsikan dalam artikel “Two New Tarsier Species (Tarsiidae, Primates) and the Biogeography of Sulawesi, Indonesia” oleh Myron Shekelle dan peneliti lainnya di tahun 2017.

Nama ilmiah T. supriatnai untuk menghargai jasa Dr. Jatna Supriatna yang telah mendedikasikan sebagian besar kehidupan profesionalnya dalam konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. Selain itu, ia juga telah banyak mensponsori sebagian besar penelitian kolaboratif asing pada tarsius.  IUCN Red List melansir bahwa status konservasi tarsius supriatna adalah rawan (vulnerable) dengan tren populasi yang menurun.

Memiliki Ekor dan Jari Tengah yang Panjang

Secara morfologi, T. supriatnai terlihat sangat mirip dengan T. spectrumgurskyae. Analisis genetik pada spesis ini memperkirakan telah terjadi pemisahan spesies antara T. supriatnai dan T. spectrumgurskyae sejak 0,3 juta tahun yang lalu.

Secara umum, ciri khas dari tarsius supriatna adalah memiliki bintik yang terlihat lebih besar di pangkal telinganya. Kaki belakangnya tidak terlalu pendek, jari tengah yang lebih panjang dibandingkan dengan spesies tarsius lainnya. Selain itu, tarsius ini juga memiliki ekor yang sangat panjang. Berat tubuh betina sekitar 104-114 gram, sedangkan jantan sekitar 135 gram. Panjang ekor betina sekitar 232-243 mm dan ekor jantan 246 mm.

Di samping itu, tarsius supriatna juga melakukan vokalisasi duet yang ditandai dengan frasa betina sepanjang 2-5 nada yang diiringi oleh panggilan jantan, yang sangat berbeda dengan spesies tarsius lainnya.

Taksonomi Tarsius supriatnai. Foto: Greeners

Taksonomi Tarsius supriatna. Foto: Greeners

Tarsius Supriatna Endemik dari Sulawesi

Primata endemik yang satu ini tersebar di wilayah Sulawesi Utara. Mulai dari Tanah Genting Gorontalo ke arah barat hingga Sejoli, dan mungkin mencapai Ogatemuku. Di bagian barat, spesies ini berbatasan dengan T. wallacei dan di bagian timur dengan T. spectrumgurskyae.

Di Mana Bisa Melihatnya Secara Langsung?

Jika kamu ingin melihat secara langsung primata ini di habitat aslinya, Kawasan Lindung Nantu adalah tempatnya. Di sana, terdapat stasiun penelitian yang terletak dekat dengan distrik Paguyaman. Untuk dapat ke sana, kamu harus terbang dari Jakarta ke Gorontalo sekitar 3 jam. Kemudian, naik bus dari kota Gorontalo ke Paguyaman. Selanjutnya, kamu harus menyewa mobil ke stasiun penelitian yang mungkin akan memakan waktu sekitar 3 sampai 4 jam.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/tarsius-supriatna-primata-kecil-yang-berekor-sangat-panjang/feed/ 0
Black Rain Frog, Si “Alpukat Pemarah” Endemik Afrika Selatan https://www.greeners.co/flora-fauna/black-rain-frog-si-alpukat-pemarah-endemik-afrika-selatan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=black-rain-frog-si-alpukat-pemarah-endemik-afrika-selatan https://www.greeners.co/flora-fauna/black-rain-frog-si-alpukat-pemarah-endemik-afrika-selatan/#respond Mon, 24 Jul 2023 03:14:03 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=40926 Black rain frog atau katak hujan hitam (Breviceps fuscus) dikenal juga dengan nama Plain Rain Frog atau Brown Short-headed Frog. Katak yang berasal dari famili Brevicipitidae ini dapat menggali lubang […]]]>

Black rain frog atau katak hujan hitam (Breviceps fuscus) dikenal juga dengan nama Plain Rain Frog atau Brown Short-headed Frog. Katak yang berasal dari famili Brevicipitidae ini dapat menggali lubang hingga kedalaman 15 cm. Berkerabat dengan Bale Mountains tree frog (Balebreviceps hillmani), Callulina kreffti, Probreviceps rhodesianus, dan lainnya.

Selama musim kawin, katak jantan akan berada di dalam lubangnya untuk menjaga telur-telur mereka. Bahkan katak jantan tersebut akan mengeluarkan suara-suara kecil untuk memanggil betinanya.

Dijuluki Sebagai Katak Alpukat Marah

B. fuscus memiliki moncong yang panjangnya sekitar 40 hingga 51 mm. Tubuhnya bulat dan dilengkapi dengan tungkai dan jari kaki yang pendek. Jari keempatnya memiliki panjang sekitar 3 mm, sedangkan jari kaki kedua berukuran jauh lebih panjang dari jari kaki pertama.

Katak ini umumnya berwarna cokelat tua hampir hitam dengan permukaan ventral yang sedikit lebih terang. Tubuhnya ditutupi oleh butiran seperti bintil-bintil kecil dengan jarak yang lebar dan berlubang-lubang, terutama pada permukaan dorsal dan area sekitar wajah. Sekilas, wajah katak ini terlihat seperti sedang marah atau cemberut. Tekstur kulit dan tampilan wajah katak ini membuatnya dijuluki “Alpukat Pemarah”.

Black rain frog adalah spesies katak penggali, oleh sebab itu mereka tidak membutuhkan air di lahan terbuka untuk bertahan hidup. Mereka menggali tanah untuk menemukan kelembapan di dalamnya. Di samping itu, ketika musim kawin, katak betina akan mengeluarkan lendir lengket dari punggungnya agar sang katak jantan tak jatuh ketika berada di atasnya.

Black Rain Frog Satwa Endemik Afrika Selatan

Katak penggali yang melimpah secara lokal ini dapat kita temukan di dalam lubang-lubang di antara tumbuhan di dasar hutan, padang rumput, hingga lereng gunung.

Mereka merupakan satwa endemik di Pegunungan Cape Fold di ujung selatan Afrika Selatan yang dapat ditemukan hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Masih Kurang Diperhatikan

Di habitat aslinya, babi hutan dan ular kerap memangsa katak ini, terutama ular bibir merah (Crotaphopeltis hotamboeia). Sementara itu, hilangnya habitat dan kebakaran hutan turut menjadi ancaman bagi populasi katak ini.

Meskipun begitu IUCN masih mengategorikan katak ini ke dalam status konservasi kurang diperhatikan (least concern) sejak 2013 dan belum diperbarui hingga kini. Selain itu, informasi terbaru mengenai eksistensi satwa ini di habitat aslinya masing sangat kurang dipublikasikan.

Walaupun begitu, kita tetap memiliki kewajiban untuk menjaga habitatnya tetap terjaga agar katak ini tidak menghadapi kepunahan di waktu dekat.

Taksonomi Black Rain Frog

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/black-rain-frog-si-alpukat-pemarah-endemik-afrika-selatan/feed/ 0
Dipterocarpus cinereus “Penghuni” Baru Kebun Raya Cibinong https://www.greeners.co/aksi/dipterocarpus-cinereus-penghuni-baru-kebun-raya-cibinong/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dipterocarpus-cinereus-penghuni-baru-kebun-raya-cibinong https://www.greeners.co/aksi/dipterocarpus-cinereus-penghuni-baru-kebun-raya-cibinong/#respond Tue, 23 May 2023 04:00:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=40158 Cibinong (Greeners) – Dipterocarpus cinereus kini tak lagi berstatus punah di alam liar (extinct in the wild). Tumbuhan endemik asal Pulau Mursala, Sumatra Utara ini kini resmi menjadi salah satu “penghuni” Kebun […]]]>

Cibinong (Greeners) – Dipterocarpus cinereus kini tak lagi berstatus punah di alam liar (extinct in the wild). Tumbuhan endemik asal Pulau Mursala, Sumatra Utara ini kini resmi menjadi salah satu “penghuni” Kebun Raya Cibinong, Bogor.

Berkat kegigihan tim peneliti Kebun Raya Bogor, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Komatsu, tanaman ini kini berhasil dikonservasi. 

Di tahun 2019, IUCN pun mengategorikan tumbuhan ini critically endangered (kritis). Status ini membawa angin segar. Setelah dua kali ekspedisi ke pulau tersebut, tim peneliti berhasil melakukan pembesaran bibit di nursery di Gunung Batu, Bogor. Selain itu juga sudah ada penanaman di Gunung Dahu, Panorama Pabangbon, Bogor.

Peneliti Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Henti Hendalastuti Rachmat mengatakan, masyarakat mengenal tumbuhan jenis meranti ini dengan sebutan keruing. Bahkan jika kita bandingkan dengan meranti lainnya ada banyak perbedaan. 

Jika meranti lain butuh tiga bulan untuk pembesaran bibit. Keruing ini butuh dua tahun. “Kami butuh dua kali ekspedisi ke lokasi untuk mengambil bibit yang lebih banyak untuk pembesaran,” katanya di kawasan Kebun Raya Cibinong, Bogor, Senin (22/5).

Rumah Bagi Ekosistem Lain

Henti dan timnya memulai ekspedisi tahun 2013. Akses pulau sulit tim jangkau, berpenduduk kurang dari 20 kepala keluarga dan minim fasilitas, beberapa personel tim pun terjangkit malaria.

Namun hal itu tidak menyurutkan tim. Hingga saat ini, mereka berhasil melakukan pembesaran. Harapannya, tanaman ini bisa mereka perbanyak dan kembalikan lagi ke habitatnya.

Ancaman antroprogenik pun tinggi di sana. Sehingga tumbuhan potensial ini juga kerap menjadi sasaran illegal logging

Butuh 30-40 tahun kayu pohon ini berdiameter optimal dan bisa bernilai potensial. Apalagi pohon ini adalah penghuni hutan hujan tropis

“Mereka pun menjadi rumah bagi ekosistem lain seperti flora, fauna, fungi (jamur) yang punya manfaat luar biasa seperti anti-inflamasi dan banyak lagi yang mungkin belum diketahui,” tuturnya.

Peneliti Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN Henti Hendalastuti Rachmat salah satu tim peneliti tumbuhan endemik ini. Foto: Greeners/Ari Rikin

Kepala BRIN Tanam di Kebun Raya Cibinong

Kepala Pusat Riset Konservasi Tumbuhan, Kebun Raya dan Kehutanan BRIN Andes Hamuraby Rozak mengungkapkan, regenerasi tanaman butuh bantuan tangan manusia. 

Meranti misalnya, adalah kayu dengan nilai keekonomian tinggi. Di samping itu, nilai ekosistem, jasa lingkungannya juga tinggi. “Penghasil oksigen, konservasi air, habitat fauna lain dan tumbuhan merambat lainnya,” tuturnya.

Dalam peringatan hari keanekaragaman hayati pada 22 Mei 2023, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko juga menanam Dipterocarpus cinereus di kawasan Kebun Raya Cibinong, Bogor. 

“Untuk recovery kita tanam lagi tumbuhan yang punah, sehingga masyarakat tergerak mengonservasi,” imbuhnya.

Penulis/Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/dipterocarpus-cinereus-penghuni-baru-kebun-raya-cibinong/feed/ 0
Katak Panah Racun Stroberi, Tubuhnya Menarik tapi Beracun https://www.greeners.co/flora-fauna/katak-panah-racun-stroberi-tubuhnya-menarik-tapi-beracun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=katak-panah-racun-stroberi-tubuhnya-menarik-tapi-beracun https://www.greeners.co/flora-fauna/katak-panah-racun-stroberi-tubuhnya-menarik-tapi-beracun/#respond Sat, 04 Mar 2023 03:11:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39194 Katak panah racun stroberi (Oophaga pumilio) merupakan endemik di hutan hujan Karibia Amerika Tengah. Famili Dendrobatidae ini dikenal memiliki beragam pola dan warna tubuh. Mulai dari polos hingga terdapat berbagai […]]]>

Katak panah racun stroberi (Oophaga pumilio) merupakan endemik di hutan hujan Karibia Amerika Tengah. Famili Dendrobatidae ini dikenal memiliki beragam pola dan warna tubuh. Mulai dari polos hingga terdapat berbagai bercak atau titik dengan warna biru, hijau, kuning, hitam, cokelat, merah hingga putih.

Seperti halnya katak panah beracun pada umumnya, warnanya yang cerah sebenarnya tanda peringatan bahwa mereka beracun dan tak boleh kita makan (pewarnaan aposematik). Karena warnanya ini pula mereka kerap dimanfaatkan untuk kegiatan ekowisata.

Morf paling terkenal dari spesies ini yakni memiliki warna dasar merah dengan kaki belakang biru atau hitam dengan bintik-bintik hitam kecil di punggungnya atau morf “jeans biru”.

Saat mereka stres, kelenjar di kulitnya mengeluarkan racun dan mengakibatkan kulitnya tertutup racun. Di penangkaran mereka akan kehilangan sifat beracunnya dan bisa diturunkan pada generasi berikutnya.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum 

Spesies ini memiliki polimorfisme warna dan corak yang kaya. Mulai dari polos hingga terdapat berbagai bercak atau titik dengan warna biru, hijau, kuning, hitam, cokelat, merah hingga putih.

Jumlah variasi terbesar ada di Kepulauan Bocas Del Toro, di lepas pantai Panama. Penyebutan beberapa morf katak panah ini sesuai lokasinya. Misalnya, Almirante (Panama), warna dasar merah hingga jingga dengan kaki biru tua atau abu-abu.

Katak dewasa memiliki panjang total 1,7 hingga 2,5 sentimeter. Perbedaan antara jantan dan betina hanya tipis, kecuali suara jantan yang lebih memperlihatkan kantung vokalnya.

Saat istirahat, kantung vokal terkadang terlihat sebagai lipatan kulit. Sementara pada jantan dewasa seringkali sedikit lebih ramping.

Katak ini memiliki mata gelap yang cukup besar di sisi kepala. Kulit katak panah beracun sangat lembab dan membuatnya tampak agak mengkilap dalam cahaya terang.

Habitat dan Distribusi Penyebaran

Biasanya mereka hidup di habitat hutan hujan dan di kebun kakao. Tak seperti famili Dendrobate lain yang hidup di dekat pantai hutan di serasah daun, spesies ini ada di sekitaran tanaman merambat dan pepohonan.

Katak ini membutuhkan habitat terestrial yang lembab dengan banyak tanaman berisi air agar reproduksinya berhasil.

Di Nikaragua, spesies ini hidup antara 0 hingga 940 meter di atas permukaan laut. Sedangkan di Panama antara 0 hingga 495 meter.

Perilaku Katak Panah Racun Stroberi

Pejantan sangat terkenal karena perilaku teritorialnya yang agresif. Jika penyusup ketahuan berada di wilayahnya, mereka akan mengajak bergulat untuk diusir.

Katak ini menggunakan sebagian besar energinya untuk memberi makan, kawin, merawat keturunan dan mempertahankan wilayah mereka.

Fakta menarik lain, jika seekor jantan menemukan cengkraman telur katak panah stroberi lain maka ia akan memakan telurnya.

Katak ini bersifat diurnal dan sering terlihat di dekat dasar hutan. Mereka aktif di pagi hari. Individu sebagian besar menyendiri dan tetapi berkumpul untuk berkembangbiak atau bersaing memperebutkan wilayah.

Taksonomi Katak Panah Racun Stroberi (Oophaga pumilio)

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/katak-panah-racun-stroberi-tubuhnya-menarik-tapi-beracun/feed/ 0
Codot Dayak, Unik karena Pejantan Miliki Kelenjar Susu https://www.greeners.co/flora-fauna/codot-dayak-hewan-serba-bisa-pejantan-menyusui-anak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=codot-dayak-hewan-serba-bisa-pejantan-menyusui-anak https://www.greeners.co/flora-fauna/codot-dayak-hewan-serba-bisa-pejantan-menyusui-anak/#respond Wed, 22 Feb 2023 03:00:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39080 Kelelawar buah Dayak atau codot Dayak (Dyacopterus spadiceus) merupakan endemik di paparan Sunda dan di Asia Tenggara, termasuk semenanjung Malaysia, Kalimantan, Indonesia bagian barat dan Filipina. Spesies ini banyak bersarang […]]]>

Kelelawar buah Dayak atau codot Dayak (Dyacopterus spadiceus) merupakan endemik di paparan Sunda dan di Asia Tenggara, termasuk semenanjung Malaysia, Kalimantan, Indonesia bagian barat dan Filipina.

Spesies ini banyak bersarang di dekat gua kapur, sungai, dan di dekat pohon berbuah. Codot Dayak merupakan spesies terkecil dari Dyacopterus dan dianggap berukuran kecil hingga sedang sebagai kelelawar buah.

Menariknya, codot Dayak jantan memiliki kelenjar susu yang membesar sehingga menghasilkan sedikit susu. Saat ini masih diperdebatkan apakah kelelawar jantan dewasa mengasuh anaknya. Jika memang pejantan dewasa benar-benar merawat anaknya maka spesies ini dianggap monogami.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum Codot Dayak

Codot Dayak merupakan spesies terkecil dari Dyacopterus. Sebagai kelelawar buah, mereka memiliki tubuh berukuran kecil hingga sedang. Spesies dewasa memiliki berat 85 hingga 95 gram.

Sisi punggung mereka berbulu gelap, pendek berwarna cokelat keabu-abuan. Sisi perut mereka seringkali berwarna lebih terang. Bagian selaput sayap menempel pada jari kaki kedua. Ekornya kecil dan memiliki mata yang besar.

Spesies ini memiliki moncong yang lebar dan rahang yang dalam. Mereka memiliki formula gigi 2.1.1.2 di sisi dorsal dan 2.1.2.3 di rahang ventral. Ukuran giginya khusus sebagai hewan pemakan buah meski tak terlihat seperti pemakan buah yang keras dan besar.

Tidak ada dimorfisme seksual pada spesies ini. Sebab, spesies jantan memiliki kelenjar susu seperti halnya spesies betina yang membesar sehingga dapat menghasilkan sedikit susu.

Habitat dan Distribusi Penyebaran

Banyak tumbuh di hutan hujan tropis, khususnya di hutan yang penuh dengan berbagai buah-buahan.  Selain itu juga ada di pohon berlubang, pohon Ficus besar dan sekitar pohon buah-buahan yang mereka makan.

Makanan pokok mereka berasal dari buah pohon Ficus dan buah-buahan berbagai warna. Namun, hewan ini juga bisa memakan daun tertentu dengan kandungan estrogen yang tinggi. 

Reproduksi Codot Dayak

Hewan ini mencapai kematangan seksual saat memiliki massa 70 gram. Sang ibu biasanya melahirkan satu hingga dua anak.

Dalam hal pengasuhan anaknya, spesies ini sangat mirip dengan famili Pteropodidae. Individu jantan maupun betina tidak menyusui pada bulan September. Namun, kedua jenis kelamin ini menyusui pada bulan Juli dan Agustus.

Manfaat Codot Dayak

Sebagai pemakan buah, hewan ini berperan besar dalam penyebaran biji. Benih yang terlalu besar dibuang begitu saja ke hutan dan memiliki persentase perkecambahan yang tinggi.

Ladibocarpellus selangorensis, spesies tungau merupakan parasit kelelawar buah Dayak. Selain itu, kelelawar Leptocyclopodia brachythrinax memanfaatkan kelelawar buah Dayak sebagai inang.

Populasi Codot Dayak

Spesies ini masuk dalam daftar merah IUCN dengan status “hampir terancam” seiring populasinya yang semakin menurun. Ini kemungkinan akibat dari penggundulan hutan di habitat aslinya.

Dari tahun 1990-an hingga 2005, Malaysia telah kehilangan sekitar 1.486.000 ha lahan alami, termasuk sejumlah besar hutan tua, tempat tinggal kelelawar buah Dayak.

Taksonomi Codot Dayak (Dyacopterus spadiceus)

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/codot-dayak-hewan-serba-bisa-pejantan-menyusui-anak/feed/ 0
Anggrek Tien Soeharto, Penghargaan Khusus pada Ibu Tien https://www.greeners.co/flora-fauna/anggrek-tien-soeharto-penghargaan-khusus-pada-ibu-tien/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=anggrek-tien-soeharto-penghargaan-khusus-pada-ibu-tien https://www.greeners.co/flora-fauna/anggrek-tien-soeharto-penghargaan-khusus-pada-ibu-tien/#respond Mon, 09 Jan 2023 03:07:46 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38548 Seperti halnya namanya, Anggrek Hartinah atau Tien Soeharto (Cymbidium hartinahianum) berasal dari nama istri Presiden Soeharto, Hartinah Soeharto atau Ibu Tien. Anggrek ini merupakan endemik dan populer dari Sumatra Utara. […]]]>

Seperti halnya namanya, Anggrek Hartinah atau Tien Soeharto (Cymbidium hartinahianum) berasal dari nama istri Presiden Soeharto, Hartinah Soeharto atau Ibu Tien. Anggrek ini merupakan endemik dan populer dari Sumatra Utara.

Penemuan pertama kali anggrek ini pada tahun 1976 di Desa Baniara, Sumut. Penamaan nama latin yang merujuk pada istri Presiden RI kedua ini tak lain karena penemu pertama ingin memberikan penghargaan pada Ibu Tien. James Boughtwood Comber dan Nasution pada tahun 1977 menemukannya di Desa Baniaratele, Kecamatan Harian, Kabupaten Tobasamosir, Sumatra Utara.

Morfologi dan Ciri-Ciri Anggrek Tien Soeharto

Anggrek Tin Soeharto memiliki tampilan yang khas. Pada bagian bibir bunga berwarna putih dengan corak totol merah, berwarna violet gelap panjang 1,2 sentimeter. Kelopak serta daun mahkotanya sama besar, permukaan atasnya berwarna kecokelatan dengan warna kuning pada bagian tepinya. Bagian diameter tangkai pembungaan yaitu 6 milimeter dan diameter bungai 3,5 sentimeter.

Anggrek terestrial ini berdaun seperti pita, lebar daun 9-5 milimeter. Berbentuk pita dengan ujung runcing tapi tidak kaku. Bibir putih menjulur ke depan, terdiri atas tiga celah. Bagian depan ke bawah dengan tepi bergelombang, celah samping lurus ke atas. Tugu bersayap sempit, kuning kecokelatan.

Adapun panjang tangkai bunga 35-60 sentimeter, petal dan sepal hampir sama lebarnya.

Habitat dan Distribusi 

Anggrek Tien Soeharto merupakan anggrek yang tumbuh di permukaan tanah dan akarnya menyerap unsur hara langsung dari dalam tanah. Kelebihan spesies ini yaitu sangat toleran terhadap tanah yang miskin hara.

Termasuk dalam salah satu anggrek tanah dengan pertumbuhan merumpun, spesies ini menyukai tempat terbuka di antara rerumputan serta tanaman lain pada ketinggian 1.700 mdpl.

Anggrek bercorak indah ini tersebar di daerah Siborong-Borong hingga Sidikalang pada ketinggian 1680 m di atas permukaan laut (dpl) dan juga pegunungan Leuser Aceh ketinggian 2600 mdpl. Dan hanya ada di dataran tinggi dan kering di Sumatra bagian Utara.

Pada tahun 2017, pendaki bernama Yusron Efendi Ritonga menemukan anggrek Tien Soeharto secara tidak sengaja di sepanjang jalur pendakian Gunung Sibuatan, Sumatra Utara.

Eksistensi anggrek terestrial ini semakin minim di alam. Habitatnya tergusur oleh tanaman sayuran. Yang memprihatinkan, populasinya semakin sedikit. Ketersediaan biji sebagai bahan perbanyakan tanaman pun minim. Menurut World Conservation Monitoring Centre status konservasi anggrek hartinah adalah endangered dan kategori A untuk spesies prioritas konservasi tumbuhan Indonesia.

Kegunaan dan Manfaat 

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, spesies anggrek ini masuk dalam kategori tanaman dilindungi.

Anggrek Tien Soeharto merupakan salah satu tanaman hias yang mempunyai potensi komersial sebagai induk silangan karena mempunyai warna bunga yang menarik. Selain sebagai tanaman hias yang bernilai tinggi, anggrek ini dapat menghasilkan buah dan biji untuk perkecambahan in vitro.

Taksonomi Anggrek Tien Soeharto (Cymbidium hartinahianum

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/anggrek-tien-soeharto-penghargaan-khusus-pada-ibu-tien/feed/ 0
‘Hutan Kita Sultan’ Pesan Pelestarian di Perayaan Hari Hutan Indonesia https://www.greeners.co/aksi/hutan-kita-sultan-pesan-pelestarian-di-perayaan-hari-hutan-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hutan-kita-sultan-pesan-pelestarian-di-perayaan-hari-hutan-indonesia https://www.greeners.co/aksi/hutan-kita-sultan-pesan-pelestarian-di-perayaan-hari-hutan-indonesia/#respond Mon, 08 Aug 2022 04:53:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=36962 Jakarta (Greeners) – Tahun ini Konsorsium Hari Hutan Indonesia menggaungkan tema ‘Hutan Kita Sultan’ dalam peringatan hari hutan Indonesia setiap 7 Agustus. Tema ini mendorong peningkatan kepedulian dan kesadaran masyarakat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tahun ini Konsorsium Hari Hutan Indonesia menggaungkan tema ‘Hutan Kita Sultan’ dalam peringatan hari hutan Indonesia setiap 7 Agustus. Tema ini mendorong peningkatan kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian hutan Indonesia.

Mereka pun berharap peringatan ini bisa Pemerintah Indonesia resmikan. Apalagi Indonesia adalah negara yang memiliki luas hutan hujan tropis peringkat ketiga di dunia. Yang sebarannya ada di Sumatra hingga Papua.

Koordinator Konsorsium Hari Hutan Indonesia 2022 Miftachur Ben Robani mengatakan, hutan Indonesia kaya dan menjadi tempat beragam flora dan fauna. Selain itu Indonesia berada di daerah tropis dengan curah hujan yang tinggi dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi.

“Selain itu, hutan kita juga menjadi sumber pangan dan obat-obatan, sumber air, sumber udara bersih. Serta menjadi tempat tinggal dan akar budaya berbagai suku bangsa dan masyarakat adat di Indonesia, hingga menjadi penyerap karbon,” katanya baru-baru ini.

Dalam keterangannya, ia menyebut, pelestarian hutan wajib semua elemen masyarakat lakukan karena perannya memberikan banyak manfaat. Baik bagi masyarakat sekitar hutan maupun yang letaknya jauh dari hutan.

“Hari Hutan Indonesia juga merupakan momen refleksi tentang sejauh mana kita sudah berhasil melindungi hutan-hutan kita,” imbuhnya.

Kawal Pelestarian Hutan di Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang Yayasan Madani Berkelanjutan olah, hutan alam Indonesia menyusut 4 juta hektare (ha) dari tahun 2011 sampai 2019.

Namun, pembukaan hutan dari tahun ke tahun tampak terus menurun. Hal ini perlu masyarakat rayakan dan awasi agar tren penurunan perubahan tutupan hutan terus berlanjut.

“Harapannya bisa mencapai target iklim Indonesia dalam Nationally Determined Contribution (NDC) dan kebijakan FoLU Net Sink 2030 bisa tercapai,” ungkap Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan, Nadia Hadad.

Direktur Komunikasi PT Rimba Makmur Utama Maria Dwianto berpandangan senada. Pihaknya mendukung perayaan hari hutan Indonesia untuk membangun kecintaan anak muda khususnya kaum urban terhadap hutan.

“Karena merekalah yang kelak akan menjadi pengambil keputusan di negara kita. Restorasi dan konservasi hutan Indonesia merupakan agenda penting untuk memerangi perubahan iklim,” ucapnya.

Masyarakat Papua menyebut hutan sebagai “mama”. Mereka menjaga dan melindungi hutan tempatnya menggantungkan kehidupan. Foto: Shutterstock

Dukungan Berbagai Lintas Organisasi untuk Hutan Indonesia

Dukungan perayaan hari hutan Indonesia juga datang dari kelompok urban, terutama dari para penggemar K-Pop di Indonesia.

Juru kampanye KPOP4PLANET Nurul Sarifah menyebut, penggemar K-Pop datang dari generasi Z dan milenial. Penggemar K-Pop sendiri telah melakukan berbagai upaya dalam pelestarian hutan seperti adopsi hewan terlindungi, penanaman pohon, adopsi pohon, hingga penandatanganan petisi perlindungan hutan di Papua.

“Solidaritas penggemar K-Pop dalam perlindungan dan pelestarian hutan merupakan bentuk aksi iklim kami dalam mencegah krisis iklim semakin memburuk,” imbuhnya.

Dukungan serupa juga datang dari Bentara Papua. Direktur Bentara Papua Yanuarius Anouw mengungkapkan, komitmen pemerintah untuk menjaga hutan dan biodiversitas tanah Papua akan membantu menyelamatkan flora dan fauna endemik.

Selain itu juga menghormati hak-hak masyarakat hukum adat. Bagi masyarakat hukum adat di tanah Papua, hutan ibarat ‘Mama’. Semua sumber penghidupan ada di dalam ekosistem hutan, mulai dari kebutuhan obat-obatan tradisional, flora dan fauna dan ritual adat.

Hari hutan Indonesia merupakan inisiatif Konsorsium Hari Hutan Indonesia. Sebuah forum kolaborasi yang terdiri dari 27 anggota dari lintas organisasi dengan visi dan misi yang sama.

Penulis : Ari Rikin

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/hutan-kita-sultan-pesan-pelestarian-di-perayaan-hari-hutan-indonesia/feed/ 0
BRIN Temukan Dua Spesies Baru Begonia di Kepulauan Maluku https://www.greeners.co/aksi/brin-temukan-dua-spesies-baru-begonia-di-kepulauan-maluku/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-temukan-dua-spesies-baru-begonia-di-kepulauan-maluku https://www.greeners.co/aksi/brin-temukan-dua-spesies-baru-begonia-di-kepulauan-maluku/#respond Mon, 25 Jul 2022 04:25:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=36835 Jakarta (Greeners) – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan dua spesies baru begonia yang berasal dari Maluku Utara, Kepulauan Maluku. Dua spesies tersebut yaitu Begonia fairchildii dan Begonia […]]]>

Jakarta (Greeners) – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan dua spesies baru begonia yang berasal dari Maluku Utara, Kepulauan Maluku. Dua spesies tersebut yaitu Begonia fairchildii dan Begonia Molucca.

Dalam keterangannya, peneliti di Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Wisnu Handoyo Ardi mengatakan, temuan dua spesies baru tersebut merupakan jenis endemik di Kepulauan Maluku.

Begonia fairchildii saat ini hanya dapat ditemukan di Pulau Halmahera dan Kahatola. Sedangkan Begonia moluccana hanya di Halmahera saja,” katanya.

Begonia fairchildii merupakan jenis yang unik pada kelompok begonia seksi Petermannia yang ada di wilayah Indonesia. Karakter spesifik pembeda dari jenis ini dengan jenis lainnya yaitu pada perhiasan bunga betinanya.

Pada Begonia fairchildii, perhiasan bunga betinanya berjumlah dua helai dan adanya bintil-bintil pada bagian pertemuan antara pangkal daun dengan ujung tangkai daunnya.

Sementara Begonia molucca dapat dibedakan dari beberapa kombinasi karakter, seperti pada tangkai daunnya yang lebih panjang dan tangkai buah (infructescence) yang lebih pendek.

Wisnu menyatakan, kedua jenis begonia tersebut memiliki buah bersayap tiga. Pada saat buah matang, tangkai buahnya akan tetap lurus dan tidak melengkung. Walaupun jenis ini mirip dengan Begonia glabricaulis yang berasal dari Papua.

Spesimen kedua jenis ini dikoleksi tahun 2011, pada kegiatan eksplorasi kerja sama antara Kebun Raya Bogor dan Fairchild Tropical Botanic Garden (USA). Kegiatan eksplorasi tersebut dilakukan sebagai salah satu bentuk napak tilas eksplorasi David Fairchild ke Maluku.

Adapun nama Begonia fairchildii digunakan sebagai bentuk apresiasi kepada botanis Amerika, David G. Fairchild, sebagai kolektor spesimen tipe dan juga botanis yang melakukan ekspedisi botani di wilayah Maluku pada tahun 1940-an. Sedangkan nama Begonia moluccana sendiri diambil dari nama kepulauan di mana jenis ini peneliti temukan.

BRIN Gali Potensi Obat dari Begonia

Wisnu mengatakan, secara umum begonia lebih banyak awam manfaatkan sebagai tanaman hias karena keunikannya, baik corak serta bentuk daunnya.

Tak hanya itu, beberapa jenis begonia juga memiliki potensi obat yang cukup prospektif. Misalnya, di antaranya salah satu jenis endemik dari Sulawesi (Begonia medicinalis). Bahkan penduduk lokal telah memanfaatkannya sebagai obat berbagai macam penyakit termasuk kanker.

Ia juga menjelaskan, di dunia terdapat 2.070 spesies begonia. Sedangkan di Indonesia perkiraannya terdapat kurang lebih 400 jenis. Namun, sampai saat ini baru 70 begonia yang telah terkonservasi di Kebun Raya Bogor.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/brin-temukan-dua-spesies-baru-begonia-di-kepulauan-maluku/feed/ 0
BRIN Temukan Enam Begonia Jenis Baru dan Endemik dari Sumatra https://www.greeners.co/aksi/brin-temukan-enam-begonia-jenis-baru-dan-endemik-dari-sumatra/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-temukan-enam-begonia-jenis-baru-dan-endemik-dari-sumatra https://www.greeners.co/aksi/brin-temukan-enam-begonia-jenis-baru-dan-endemik-dari-sumatra/#respond Thu, 20 Jan 2022 04:40:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=35054 Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan enam Begonia jenis baru dari Sumatra. Pulau Sumatra memiliki keragaman jenis Begonia yang tinggi. Terdapat lebih dari 70 jenis […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan enam Begonia jenis baru dari Sumatra. Pulau Sumatra memiliki keragaman jenis Begonia yang tinggi. Terdapat lebih dari 70 jenis Begonia dan lebih dari 20 jenis baru Begonia sudah peneliti temukan dan terbit di jurnal-jurnal internasional.

Bersama timnya, Peneliti Pusat Riset dan Biologi BRIN Deden Firmansyah berhasil mendeskripsikan sebanyak enam jenis Begonia dari Sumatra tersebut. Temuan Begonia tersebut masuk dalam seksi Jackia dengan ciri khas tumbuhannya yang menjalar.

Begonia, sambung dia hingga saat ini memang sudah dibudidayakan. Namun, masih banyak pula jenis Begonia yang masih hidup liar di alam bebas. Sebanyak lebih dari 2.000 jenis Begonia tersebar di kawasan tropik dan subtropik kecuali kawasan tropik Australia.

Menurutnya, hampir di seluruh wilayah Indonesia sebagai salah satu kawasan tropis sangat berpotensi sebagai habitat Begonia liar. “Jenis-jenis Begonia liar di Indonesia, pada umumnya ditemukan di dataran tinggi dan pada batuan karst. Hanya beberapa jenis di dataran rendah,” katanya dalam keterangan resmi BRIN di Jakarta, Kamis (19/1).

Begonia Tanaman Hias dan Sekaligus Tanaman Obat

Begonia merupakan salah satu jenis tumbuhan berguna. Pemanfaatannya antara lain sebagai tanaman hias dan tanaman obat. Sebagai tanaman hias, Begonia sudah melalui proses budi daya. Begonia melalui proses ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang baru.

Enam jenis Begonia tersebut adalah Begonia araneumoides, Begonia batuphila, Begonia panjangfolia, Begonia hijauvenea, Begonia perunggufolia dan Begonia mursalaensis. Seluruh jenis baru tersebut berpotensi sebagai tanaman hias.

Selain itu, jenis-jenis Begonia yang menjadi tanaman hias sudah banyak yang dikawin silangkan, sehingga menghasilkan kultivar yang cantik dan menarik. Terutama pada pola warna dan bentuk daunnya yang unik.

Kepala Pusat Riset Biologi BRIN Anang mengatakan, penemuan tersebut dapat menambah daftar kekayaan hayati Indonesia dan mengokohkan posisi Indonesia sebagai negara peringkat pertama megabiodiversitas di dunia.

Begonia Sumatra yang Menarik dan Endemik

Dalam penjelasannya, pesona Begonia jenis baru yang tim BRIN temukan di Sumatra memiliki keelokan dan ciri khas tersendiri. Deskripsi Begonia araneumoides sangat terlihat dari corak warna daun perpaduan dengan pertulangan daun menjadi berwarna putih.

Jenis lain, yakni Begonia batuphila tumbuh di dinding bebatuan yang tegak, dengan akar-akar tumbuhan menempel pada dinding bebatuan. Begonia ini memiliki variasi pada warna daun yaitu hijau sampai kecoklatan dengan tulang daun hijau muda. Jenis ini juga merupakan jenis endemik Sumatra.

Kemudian Begonia panjangfolia merupakan jenis Begonia seksi Jackia yang memiliki bentuk daun agak berbeda dengan jenis lainnya. Jika pada seksi Jackia biasanya berbentuk bulat telur dan membulat, bentuk daun jenis ini justru memanjang. Bunga jantan berwarna putih, bertenda bunga empat buah berwarna putih. Jenis ini juga endemik Sumatra.

Selanjutnya yaitu Begonia hijauvenea. Corak warna daun jenis ini sangat mencolok dengan warna kecoklatan serta peruratan daun berwarna hijau. Nama hijauvenea diambil dari warna urat-urat daun yang berwarna hijau, baik urat daun primer maupun sekunder. Daun berbentuk bulat telur dengan pangkal daun tumpang tindih. Pinggir daun berlobus dalam di bagian atas daunnya. Tangkai daun berbulu putih panjang.

Ada pula Begonia perunggufolia merupakan jenis Begonia yang memiliki warna daun seperti warna perunggu dengan urat daun hijau kekuningan. Nama jenis ini dari warna daun yang seperti perunggu.

Terakhir yaitu Begonia mursalaensis dan jenis endemik dari pulau Mursala, Sumatra. Jenis ini merupakan Begonia dari pulau Mursala pada sebuah ekspedisi yang Kebun Raya Bogor lakukan. Sekilas, Begonia mursalaensis mirip dengan jenis di daratan Sumatra tapi ia memiliki ciri khas pada tangkai daun bagian atas dengan bulu-bulu merah yang tegak dan kaku.

Penulis : Ramadani Wahyu

]]>
https://www.greeners.co/aksi/brin-temukan-enam-begonia-jenis-baru-dan-endemik-dari-sumatra/feed/ 0
Temuan Tujuh Jenis Tumbuhan Baru Tambah Koleksi Kehati Indonesia https://www.greeners.co/berita/temuan-tujuh-jenis-tumbuhan-baru-tambah-koleksi-kehati-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=temuan-tujuh-jenis-tumbuhan-baru-tambah-koleksi-kehati-indonesia https://www.greeners.co/berita/temuan-tujuh-jenis-tumbuhan-baru-tambah-koleksi-kehati-indonesia/#respond Mon, 03 Jan 2022 05:00:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34885 Jakarta (Greeners) – Peneliti Pusat Riset Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan tujuh jenis baru tumbuhan. Jenis ini mayoritas tergolong sebagai tanaman hias. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Peneliti Pusat Riset Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan tujuh jenis baru tumbuhan. Jenis ini mayoritas tergolong sebagai tanaman hias. Ketujuh jenis baru tersebut yaitu Hoya batutikarensis, Hoya buntokensis, Dendrobium dedeksantosoi, Rigiolepis argentii, Begonia robii, Begonia willemii dan Etlingera comosa.

Kepala Pusat Riset Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Sukma Surya Kusumah mengatakan, Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati (OR IPH) melalui Pusat Riset Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya terus berupaya mengeksplorasi dan identifikasi jenis-jenis tumbuhan dari habitat alaminya. Hal ini sejalan dengan program OR IPH terkait dengan konservasi tumbuhan terancam kepunahan.

“Dengan ditemukannya jenis baru ini, keanekaragaman hayati (kehati) Indonesia bertambah. Penemuan ini juga memberikan informasi terkait kekayaan biodiversitas Indonesia. Selain itu juga mendukung penelitian lebih lanjut terkait pemanfaatannya secara berkelanjutan,” kata Sukma dalam keterangannya, di Jakarta, baru-baru ini.

Peneliti Pusat Riset Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Wisnu Handoyo Ardi mengatakan, Begonia merupakan salah satu marga tumbuhan berbunga yang terbesar. Saat ini ahli ketahui terdapat 2.052 jenis Begonia yang tersebar di kawasan pantropis dunia.

Ahli memperkirakan Indonesia sebagai salah satu wilayah pusat kekayaan Begonia khususnya di kawasan Asia Tenggara. Perkiraannya memiliki 243 jenis Begonia. Namun jumlah tersebut akan terus bertambah seiring semakin terjelajahnya kawasan-kawasan hutan di berbagai wilayah di Indonesia.

“Upaya konservasi dan pengungkapan jenis-jenis baru Begonia yang BRIN lakukan telah berhasil mengonservasi lebih dari 100 jenis Begonia yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia,” jelas Wisnu.

Jenis Baru Tumbuhan Endemik Indonesia

Dari temuan hasil eksplorasi peneliti BRIN di penghujung tahun 2021 lalu, beberapa di antaranya jenis endemik di Pulau Sumatra dan Sulawesi.

Jenis tersebut antara lain Begonia robii yang merupakan endemik dari Pulau Sumatra. Begonia robii memiliki corak warna daun yang sangat atraktif dan sangat berpotensi sebagai tanaman hias. Jenis ini memiliki karakter batang yang menyerupai rimpang. Lalu daunnya sangat asimetris, dengan kombinasi antara warna hijau sebagai dasarnya dan merah keunguan pada bagian tengah, tepatnya di antara pertulangan daun sekundernya.

Sementara itu Begonia willemii adalah endemik Pulau Sulawesi. Jenis ini peneliti temukan pada habitat perbukitan kapur dataran rendah. Jenis ini tumbuh merayap pada bongkahan batu kapur atau menempel secara vertikal pada dinding-dinding batu karst (kapur).

Peneliti mendapati koleksi ini dari wilayah hutan di Kabupaten Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah. Penemuan jenis baru Begonia tersebut merupakan hasil kolaborasi antara peneliti BRIN dengan peneliti Singapore Botanic Gardens Daniel C. Thomas.

Ada pula Rigiolepis argentii yang merupakan tumbuhan semak berkayu. Jenis ini termasuk ke dalam anggota suku Ericaceae. Jenis ini peneliti temukan dan koleksi pada saat kegiatan eksplorasi Begonia Sulawesi pada tahun 2018-2019 di wilayah Kabupaten Enrekang dan Toraja Utara. Tepatnya di perbukitan Eran Batu dan Gunung Sesean. Sebelumnya, Sulawesi ahli ketahui hanya memiliki satu jenis saja, yaitu Rigiolepis Henrici.

Jenis baru bernama Begonia willemii yang BRIN temukan ini endemik dari Pulau Sulawesi. Foto: BRIN

Berbagai Karakter Uniknya

Kemudian pada tahun 2021 peneliti temukan jenis baru kedua, yaitu Rigilepis argentii sebagaimana peneliti dan staf Pengajar Universitas Samudra Langsa Aceh (Wendi A. Mustaqim) dan peneliti dari Pusat Riset Konservasi Tanaman dan Kebun Raya (Wisnu Handoyo Ardi) deskripsikan.

Selanjutnya Rigiolepis argentii juga ahli nyatakan sebagai jenis baru karena memiliki kombinasi karakter morfologi yang berbeda dari seluruh jenis Rigiolepis di Indonesia. Khususnya dengan jenis yang paling mirip yakni Rigiolepos moultonii. Karakter tersebut adalah adanya rambut-rambut persisten pada permukaan atas daun.

Daun bunga terdapat pada bagian bawah tangkai bunganya, tabung kelopak yang berbentuk cawan, tangkai sari yang lebih panjang dan buah yang berbentuk copular.

Jenis berikutnya Etlingera comosa merupakan endemik Sulawesi yang merupakan hasil eksplorasi di pegunungan Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Karakter pembedanya adalah Etlibngera comosa memiliki rambut berumbai pada pelepahnya. Ligula daun yang asimetris dan bercangap. Daun pelindung bunga berambut lebat. Tangkai sari yang panjang dan kotak sari yang berukuran lebih pendek dibandingkan jenis terdekatnya yaitu Etlibgera sublimate.

Penulis : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/temuan-tujuh-jenis-tumbuhan-baru-tambah-koleksi-kehati-indonesia/feed/ 0
Buah Kemang, Varietas Mangga Lokal yang Semakin Langka https://www.greeners.co/flora-fauna/buah-kemang-varietas-mangga-lokal-yang-semakin-langka/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=buah-kemang-varietas-mangga-lokal-yang-semakin-langka https://www.greeners.co/flora-fauna/buah-kemang-varietas-mangga-lokal-yang-semakin-langka/#respond Wed, 12 May 2021 03:00:52 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=32679 Terkenal sebagai salah satu kawasan elit di Jakarta Selatan, kata ‘Kemang’ sejatinya diambil dari nama buah endemik asal Indonesia. Secara bentuk buah kemang (Magnifera kemanga) memang cukup mirip dengan mangga, […]]]>

Terkenal sebagai salah satu kawasan elit di Jakarta Selatan, kata ‘Kemang’ sejatinya diambil dari nama buah endemik asal Indonesia. Secara bentuk buah kemang (Magnifera kemanga) memang cukup mirip dengan mangga, cita rasanya masam serta berkhasiat bagi kesehatan.

Kemang adalah sejenis pohon buah yang tergabung dalam famili Anacardiaceae (mangga-manggaan). Ia berkerabatan dengan tanaman Binjai (Mangifera caesia), bahkan sering awam anggap sama.

Di Tanah Air, distribusi pohon Palong (kemang dalam dialek Kutai) memang cukup luas. Mereka tersebar mulai dari Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan hingga Semenanjung Malaya.

Usut punya usut, dahulu kala pohon buah kemang banyak ditemukan di kawasan Jakarta Selatan. Atas dasar itulah nama flora tersebut pemerintah jadikan sebagai salah satu nama jalan di sana.

Ciri-Ciri dan Morfologi Buah Kemang

Jika kita perhatikan secara seksama, morfologi atau ciri fisik pohon buah kemang dan binjai memang sangat mirip. Hanya ada beberapa perbedaan yang dimiliki oleh kedua tanaman tersebut.

Umumnya, tanaman kemang dapat tumbuh setinggi 20 – 40 m. Pertumbuhan pohon ini tegak dan berbatang bulat dengan diameter 80 – 100 cm. Kulit batang pecah-pecah dan berwarna abu-abu

Bentuk daunnya sendiri lanset atau lengkung lancip dengan panjang rerata mencapai 10 – 15 cm. Lebar daun kemang antara 3 – 15 cm, tangkainya bulat, tebal serta memiliki panjang 1 – 5 cm.

Berbeda dengan buah binjai, tulang daun palong dapat tumbuh sebanyak 18 – 30 pasang. Permukaan daun atas tampak berwarna hijau tua dengan tampilan buah yang berbentuk elips.

Panjang buah kemang rerata mencapai 12 – 16 cm dengan lebar antara 6 – 10 cm. Saat musim panen, tanaman ini mampu menghasilkan dua jenis buah yaitu kemang manis dan masam.

Kemang manis biasanya memiliki ciri fisik lebih kecil dan berwarna kehijauan, sedang kemang masam mempunyai ukuran lebih besar dengan warna kulit kuning pekat.

Berdasarkan deskripsi di atas, tidak salah rasanya jika pohon kemang publik sebut mirip dengan binjai. Keduanya memiliki aroma yang khas, tidak menyengat dengan daging buah berserat kasar.

Habitat dan Penyebab Langkanya Buah Kemang

Sangat disayangkan, pada saat ini kita hanya bisa mengenal buah kemang sebagai salah satu nama daerah saja. Pasalnya, eksistensi tanaman tersebut pakar ketahui semakin menipis di habitatnya.

Magnifera kemanga kini tergolong sebagai tanaman langka. Pada dahulu kala, ia sering masyarakat tanam di sekitar area pekarangan rumah serta dibudidayakan sebagai komoditi komersial.

Banyak faktor yang menyebabkan tergerusnya pohon kemang di Nusantara. Melansir jurnal Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati, salah satu penyebabnya ialah alih fungsi lahan.

Aktivitas deforestasi untuk pembukaan lahan pemukiman dan perindustrian begitu masif di Indonesia. Hal ini menyebabkan habitat buah kemang menjadi rusak dan semakin langka.

Secara garis besar, pohon palong tumbuh subur di sekitar dataran rendah antara 400 – 800 mdpl. Mangga jenis ini cukup kuat terhadap penggenangan, serta kerap dijumpai di dekat tepian sungai.

Meski sulit kita temukan di Jakarta, nyatanya pohon buah ini masih banyak publik budidayakan di sekitar Kabupaten Bogor. Ia cukup digemari bahkan menjadi flora identitas bagi daerah tersebut.

Manfaat Buah Kemang bagi Kesehatan

Buah kemang memiliki aroma yang khas dan menggugah selera, sehingga tidak heran jika jenis buah ini kerap masyarakat manfaatkan sebagai olahan pangan seperti jus, sirup, asinan dan sebagainya.

Menurut pakar, buah dari pohon tersebut juga kaya kandungan vitamin C dan B1. Karena itu mengonsumsi buah ini sangat ahli anjurkan karena memiliki khasiat, seperti:

  • Menyehatkan pencernaan;
  • Meningkatkan stamina dan energi;
  • Meningkatkan fungsi ginjal;
  • Memperbaiki kesehatan tulang;
  • Menambah asupran protein;
  • Memperbaiki sel dalam tubuh; dan
  • Meningkatkan fungsi otak manusia.

Perlu Anda ketahui, daun kemang cukup populer sebagai lalapan di daerah Jawa Barat. Batang pohonnya yang kuat juga kerap awam manfaatkan sebagai kayu mebel dan industri properti.

Taksonomi Magnifera Kemanga

Penulis : Yuhan Al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/buah-kemang-varietas-mangga-lokal-yang-semakin-langka/feed/ 0
Pohon Meranti, Penghasil Kayu Berkualitas dan Berbuah Unik https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-meranti-penghasil-kayu-berkualitas-dan-berbuah-unik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pohon-meranti-penghasil-kayu-berkualitas-dan-berbuah-unik https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-meranti-penghasil-kayu-berkualitas-dan-berbuah-unik/#respond Sat, 03 Apr 2021 05:42:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=32271 Kayu meranti atau pohon meranti merupakan salah satu komoditi unggulan yang berasal dari tumbuhan bersuku Dipterocarpaceaer.]]>

Kayu meranti merupakan salah satu komoditi unggulan yang berasal dari tumbuhan bersuku Dipterocarpaceae. Di Tanah Air, flora dari kelompok ini dikenal dengan sebutan Pohon Meranti. Mereka banyak dijumpai di Pulau Kalimantan, bahkan 91 spesies di antaranya bersifat endemik.

Dilihat dari persebarannya, flora bergenus Shorea ini bisa kita temukan di sebagian kawasan Asia. Mereka menyebar mulai dari barat Srilanka, utara India, timur Filipina sampai ke Pulau Maluku.

Hingga saat ini, ditemukan sebanyak 163 spesies shorea di kawasan Malesia. Tanaman ini umumnya tumbuh di sekitar hutan hujan tropika, serta menjadi flora dominan yang ada di area tersebut.

Perlu diketahui, pohon meranti tertinggi yang sempat ahli dokumentasi adalah Shorea faguetiana. Flora berordo Malvales ini tumbuh hingga 88,3 m, serta tertanam di Nasional Perbukitan Tawau.

Pohon Meranti, Penghasil Kayu Berkualitas dan Berbuah Unik

Foto: shutterstock

Morfologi dan Ciri-Ciri Pohon Meranti

Secara taksonomi, pohon meranti tergolong sebagai tanaman berkayu keras. Sehingga sebagian besar dari jenisnya biasanya tumbuh sangat lambat dengan kecambah yang menyukai naungan.

Dibanding jenis kayu lain, meranti juga termasuk kelompok kayu berat. Mereka dapat dicirikan dari habitusnya yang berupa pohon, terdapat saluran resin pada empulur, kayu, dan kulit batangnya.

Saluran musilase terkadang bisa kita temukan pada korteks dan empulur meranti. Selain itu, sebagian spesies juga mengandung zat tanin, serta memiliki daun yang tunggal.

Duduk daun berseling sebanyak dua deret, serta mempunyai tepian rata dan pertulangan yang menyirip. Bunga pohon meranti tergolong bunga biseksual, miliki simetri radial tanpa epikaliks.

Biasanya, daun mahkota dipterocarpaceae berjumlah lima helai. Buahnya berisi satu biji dan tidak memiliki endosperm. Salah satu keunikan suku meranti terletak dari buahnya yang bersayap dua.

Apabila tertiup angin, buah tersebut biasanya akan melayang-layang dan berputar seperti baling-baling. Meski begitu, buah ini umumnya tidak akan mendarat jauh dari induk pohonnya.

Pohon Meranti, Penghasil Kayu Berkualitas dan Berbuah Unik

Foto: shutterstock

Jenis-Jenis Kayu Meranti di Pasaran

Berbicara soal pohon meranti, tentu tak bisa dilepaskan dari kayunya. Namun, tahukah Anda bahwa ada tiga jenis kayu meranti yang paling terkenal di pasaran? Agar tidak salah, berikut selengkapnya.

  1. Pohon Meranti Merah
    Secara umum, pohon atau kayu meranti merah berasal dari 22 spesies dipterocarpaceae. Sebagian besar dari pohon tersebut biasanya banyak ditemukan di daerah Sumatera, Kalimantan, dan Maluku.Mereka tumbuh hingga setinggi 5 m dengan diameter batang mencapai 100 cm. Cabang batangnya bebas, serta mampu berbiak sekitar 30 m. Kulit pohon ini berwarna kelabu cokelat setebal 0,5 cm.
  2. Pohon Meranti Putih
    Mirip seperti kayu meranti merah, meranti putih juga banyak ditemukan di kawasan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Ia miliki batang yang lurus, silindris dan berbanit setinggi 3,5 m.Pohonnya sendiri dapat berbiak hingga 12 – 55 m, dengan diameter batang berkisar 180 cm. Cabang dari pohon ini juga tumbuh secara bebas, ia mampu berkembang biak antara 8 – 37 m.
  3. Pohon Meranti Kuning
    Sebagian besar spesies pohon meranti kuning tertanam di wilayah Pulau Sumatera, seperti Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara hingga Jambi, tapi ada pula yang ditemukan di Pulau Kalimantan.Jenis pohon ini dapat tumbuh berkisar 20 – 60 m, dengan diameter batang yang mencapai 150 cm. Cabang batang sendiri bebas, tumbuh antara 10 – 45 m. Bentuknya silindris lurus berbinar 3 – 6 m.

Status Konservasi dan Manfaat Pohon Meranti

Seperti yang kita ketahui, sebagian besar keluarga pohon meranti mampu menghasilkan kayu berkualitas dengan karakteristik yang kokoh, keras namun cukup ringan.

Misalnya saja seperti Pohon Merawan (Hopea odorata Roxb.), kayunya memiliki kualitas tinggi sehingga sering dipakai untuk konstruksi berat dan ringan, mebel, vinir dan lain-lain.

Selain itu, ia juga banyak digunakan sebagai bantalan kereta api, tanaman hias dan penaung. Walau demikian, tak bisa dipungkiri jika populasinya terus mengalami penurunan setiap tahunnya.

Aktivitas illegal logging dan kebakaran hutan membuat beberapa anggota penting suku ini masuk ke dalam International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Redlist.

Seperti pada jenis Dryobalanops camphora Colebr atau tumbuhan kapur, status konservasi tanaman ini menurut IUCN berada di level Critically Endangered atau nyaris punah.

Di samping aktivitas pembalakan liar dan kebakaran hutan, beberapa faktor internal yang mungkin menjadi penyebab merosotnya populasi tanaman ini di antaranya:

  • Struktur sayap di buah yang tidak efektif untuk disebarkan oleh angin, sehingga sebarannya tidak jauh dari induknya;
  • Sistem pembungaan yang relatif cukup lama, sehingga proses kelangsungan regenerasi berlangsung sangat lambat;
  • Jenis serangga yang membantu proses penyerbukan marga ini tidak mampu terbang jauh, karena itu anakan yang tumbuh tidak jauh dari induknya; serta
  • Sistem pembuahan mast fruiting menyebabkan sedikit anakan yang mampu berbiak.
Taksonomi Pohon Meranti

Taksonomi Pohon Meranti

Referensi:

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-meranti-penghasil-kayu-berkualitas-dan-berbuah-unik/feed/ 0
Kemenkes: Indonesia Masih Aman Dari Virus Ebola https://www.greeners.co/berita/indonesia-masih-aman-dari-virus-ebola/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-masih-aman-dari-virus-ebola https://www.greeners.co/berita/indonesia-masih-aman-dari-virus-ebola/#respond Wed, 06 Aug 2014 06:52:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5385 Jakarta (Greeners) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia yakin hingga saat ini penduduk Indonesia masih tetap aman dari ancaman virus ebola. Keyakinan tersebut dikarenakan tidak adanya jalur penerbangan langsung dari […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia yakin hingga saat ini penduduk Indonesia masih tetap aman dari ancaman virus ebola. Keyakinan tersebut dikarenakan tidak adanya jalur penerbangan langsung dari Indonesia menuju keempat negara di kawasan Afrika Barat yang menjadi negara endemik virus ebola tersebut.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama menjelaskan bahwa sangat sedikit orang Indonesia yang melakukan perjalanan menuju empat negara tersebut.

“Hingga saat ini kita memang masih terus waspada meskipun sebenarnya kita masih cukup aman karena kita tidak memiliki jalur penerbangan ke Liberia, Sierra Leone, Nigeria, Guinea dan beberapa negara endemik di Afrika itu,” jelas Tjandra, Jakarta, Rabu (06/08).

Kementrian Kesehatan juga menghimbau pada seluruh rakyat Indonesia yang jika memang akan bepergian kenegara-negara endemik tersebut untuk lebih berhati-hati terhadap penularan virus Ebola.

“Kita berikan pemberitahuan yang mau ke sana kalau penularannya itu melalui cairan tubuh, sehingga diharapkan lebih berhati-hati,” tambahnya.

Namun, meski merasa aman, Kemenkes juga tetap melakukan tindakan antisipasi jikalau nanti virus ebola masuk ke Indonesia. Prof. Tjandra mengatakan bahwa Kementrian Kesehatan telah mempersiapkan Laboratorium guna memeriksa virus yang telah menewaskan lebih dari 700 orang tersebut.

“Kita sudah siagakan laboratoriumnya, jadi jika nanti ada yang memiliki gejala bisa langsung kita periksa,” tutup Prof. Tjandra.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-masih-aman-dari-virus-ebola/feed/ 0
Elang Jawa, Sang Garuda Tanah Jawa https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-jawa-sang-garuda-tanah-jawa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=elang-jawa-sang-garuda-tanah-jawa https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-jawa-sang-garuda-tanah-jawa/#comments Wed, 10 Jul 2013 08:16:05 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_kehati&p=3769 “Ik ben Garuda, Vishnoe’s voegel, die zijn vleugels uitslaat hoog hoven uw einlanden”. Itulah kalimat yang diucapkan Soekarno, bapak pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia, ketika diminta memberikan nama bagi maskapai […]]]>

“Ik ben Garuda, Vishnoe’s voegel, die zijn vleugels uitslaat hoog hoven uw einlanden”. Itulah kalimat yang diucapkan Soekarno, bapak pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia, ketika diminta memberikan nama bagi maskapai penerbangan negara yang baru saja lahir. Kalimat yang dalam bahasa Indonesia berarti “Aku adalah Garuda, burung milik Sang Wishnu yang membentangkan sayapnya menjulang tinggi di atas kepulauanmu”. Kalimat itu sendiri dikutip Sang Proklamator dari satu baris sajak berbahasa Belanda, Wayang-liederen karya Raden Mas Noto Soeroto.

Oleh Hariyawan Agung Wahyudi*

 

Sosok Garuda berasal dari tokoh imajiner dalam kitab Mahabarata, putra dari Begawan Kasyapa dan Sang Winata. Tokoh ini sering diwujudkan menjadi kendaraan Dewa Wishnu. Namun, dalam kehidupan nyata banyak orang meyakini bahwa Garuda adalah sosok nyata yang berwujud burung Elang. Di Pulau Jawa sendiri, di berbagai tempat orang meyakini bahwa Elang Jawa adalah sang Garuda itu sendiri.

Pemerintah sendiri menetapkan Elang Jawa sebagai simbol resmi negara pada 1950, dan menetapkan sebagai satwa nasional karena kemiripannya dengan Garuda dengan Keppres No.4/1993.

Burung pemangsa endemik Pulau Jawa ini memiliki nama ilmiah Nisaetus bartelsi. Panjang tubuh dari paruh sampai ekor berkisar antara 60 – 70 cm. Tubuhnya didominasi oleh warna kuning kecoklatan pucat dengan coret-coret hitam menyebar di atasnya. Kepala berwarna coklat kemerahan dengan jambul tinggi menonjol. Jambul yang terdiri atas 2 – 4 helai bulu ini menjadi ciri khas utama yang membedakan elang jawa dengan kerabat terdekatnya. Bulu pada kaki menutupi tungkai hingga dekat pangkal jari, yang merupakan ciri pembeda marga Nisaetus dengan marga lainnya. Elang Jawa betina berukuran relatif lebih besar dengan elang jawa jantan.

Sebagai burung endemik Pulau Jawa, ini berarti bahwa kelestariannya bergantung pada habitat alami hutan di pulau terpadat di Indonesia ini. Elang Jawa hidup di habitat hutan hujan tropis dari ketinggian 0 – 2000 m dpl. Namun dalam dasawarsa terakhir, catatan perjumpaan dengan satwa kharismatik ini paling sering terjadi pada ketinggian 500 – 1000 m dpl. Dalam penelitian Syartinilia dan kawan-kawan pada tahun 2010, diperkirakan hanya tersisa 325 pasang saja Elang Jawa yang tersisa.

Zaini Rakhman dalam bukunya yang berjudul “Garuda Mitos dan Faktanya di Indonesia”, menyebutkan bahwa keberadaan Elang Jawa hanya tersisa di puncak-puncak gunung atau dataran tinggi saja. Hal ini dinilainya sangat beresiko tinggi karena di daerah tersebut keberadaan pakan atau mangsanya sangat terbatas.

ha.wahyudi@biodiversitysociety.orgMangsa utama Elang Jawa sendiri adalah tikus lokal yang hidup di Pulau Jawa yaitu jenis Sundamys maxy. Tragisnya, status tikus yang juga dikenal dengan Bartels’ rat anak dari penemu Elang Jawa, dinyatakan terancam punah oleh IUCN. Selain tikus sebagai makanan utama, Elang Jawa juga memburu mamalia kecil seperti tupai, musang sampai dengan anakan monyet ekor panjang. Dari jenis santapannya tersebut membuat Elang Jawa menjadi top predator dalam rantai makanan alami. Maka menjadi penting keberadaaan burung pemangsa tersebut karena mempunyai fungsi ekologis sebagai penjaga agar populasi tikus dan ular tidak meledak di alam.

Jenis mangsa Elang Jawa di atas lebih banyak menempati kawasan hutan dengan pepohonan tinggi yang selalu hijau. Rata-rata ketinggian pohon antara 40-50 meter. Elang Jawa memilih pohon-pohon tinggi diduga karena untuk pemeliharaan dan perlindungan anaknya dari pemangsa lain. Ketergantungan semacam inilah yang membuat Elang Jawa sulit dijumpai di habitat hutan yang terbuka. Fragmentasi hutan juga membuat Elang ini sulit bertahan hidup. Jarang sekali ditemui Elang Jawa berburu di daerah terbuka untuk memangsa ular atau jenis reptil lainnya.

Keadaan ini semakin mengkhawatirkan dengan tingginya perburuan dan perdagangan ilegal yang semakin meningkat. Padahal, sepasang elang jawa hanya bertelur satu butir saja dalam periode 2-3 tahun. Tentu saja, tanpa ada tindakan hukum yang tegas terhadap perburuan dan perdagangan satwa dilindungi ini, kepunahan garuda dari tanah Jawa merupakan hal yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.***

Penulis adalah penggiat konservasi spesies dan pendiri komunitas Biodiversity Society di Banyumas, Jawa Tengah.

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-jawa-sang-garuda-tanah-jawa/feed/ 3
Perubahan Suhu Udara Pengaruhi Produktifitas Apel Batu https://www.greeners.co/berita/perubahan-suhu-udara-pengaruhi-produktifitas-apel-batu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perubahan-suhu-udara-pengaruhi-produktifitas-apel-batu https://www.greeners.co/berita/perubahan-suhu-udara-pengaruhi-produktifitas-apel-batu/#respond Wed, 14 Mar 2012 03:00:33 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2330 Malang (Greeners) – Mentari pagi mulai beranjak naik. Abdul Jalil terlihat sibuk di kebunnya. Di  sekitarnya terlihat tanaman sayur seperti wortel, brokoli, dan sawi. Ia menjadi petani sayur sejak lima […]]]>
Malang (Greeners) – Mentari pagi mulai beranjak naik. Abdul Jalil terlihat sibuk di kebunnya. Di  sekitarnya terlihat tanaman sayur seperti wortel, brokoli, dan sawi. Ia menjadi petani sayur sejak lima tahun lalu setelah bertani apel tak lagi menguntungkan. Selain karena banyak tanaman apel miliknya mati, harga apel juga anjlok.
Menurutnya, menanam sayur saat ini lebih menjanjikan karena harganya relatif stabil. Bahkan ia selalu memperoleh keuntungan dari hasil bertani sayur. “Kalau menanam Apel biaya dengan pendapatan tak seimbang,” ujarnya Selasa (13/03).
Pernyataan senada juga diungkapkan Yulianto, petani apel asal Dusun Binangun Desa Bumiaji Kota Batu. Menurutnya, sejak tahun 2009 banyak tanaman apel gagal berbunga karena cuaca tak menentu. Imbasnya, banyak petani gagal panen.
Yulianto menuturkan, dalam setahun untuk merawat tanaman apel dengan luas lahan sekitar 1 hektare yang terdiri dari 1.000 pohon dibutuhkan biaya antara Rp 25 – Rp 35 juta. Biaya itu untuk ongkos buruh tani, obat, dan lain-lain.
Namun, kata Yulianto, hasil yang diperoleh tak mampu menutupi modal. Sebab, harga apel lokal per kilogram saat ini berkisar antara Rp 3.000 – Rp 3.500 saja. Dan dalam masa panen hanya memperoleh 2 ton Apel saja. “Setahun panen dua kali, kami hanya mendapatkan Rp 14 juta saja,” katanya seraya mengenang masa kejayaan Apel pada tahun 1990-an yang harga dan produktivitas apel masih tinggi.

Greeners mengamati memang masih banyak tanaman Apel di Desa Bumiaji. Namun, sebagian sudah tak lagi dirawat dan diganti dengan tanaman sayur oleh pemiliknya. Selain karena faktor suhu yang kian panas, harga Apel yang cenderung anjlok membuat petani Apel di kawasan Bumiaji beralih ke sayur.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Karangploso, Malang, Jawa Timur, suhu udara di Kota Batu yang berada di ketinggian 680 -1.200 meter diatas permukaan laut (mdpl) ini memang menunjukkan kecenderungan meningkat dalam kurun 20 tahun terakhir.
Kepala Seksi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Karangploso, Rahmatullah Aji, menyebutkan data BMKG Karangploso mencatat, Pada tahun 2000, suhu maksimum mencapai 24,5 – 27,3 derajat Celsius, namun naik kembali menjadi 25,2 – 27,8 derajat Celsius pada 2011. “Tutupan lahan berubah, vegetasi juga berubah dari semula hutan menjadi lahan pertanian,” katanya saat ditemui di kantornya, Selasa (13/03).
Pakar pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang, Didik Suprayogo, mengatakan tanaman apel bisa tumbuh dengan baik pada suhu 16-27 derajat Celsius dengan ketinggian ideal untuk tanaman apel pada 700-1.200 mdpl.
Menurut Didik, hanya di daerah yang lebih tinggi yang berada di Kecamatan Bumiaji yang masih baik untuk tanaman apel. Menurutnya, kondisi perubahan suhu udara di Kota batu yang kian panas berdampak pada penurunan produktivitas apel. “Para petani harus bisa beradaptasi terhadap perubahan ini,” katanya.
Data Dinas Pertanian dan Kehutanan Pemerintah Kota Batu mencatat total luas lahan tanaman apel di Kota Batu pada 2005 terdapat 2.604.829 pohon apel. Dan hanya 2.204.800 pohon yang masih produktif yang menghasilkan 1.235.569,92 kuintal apel dengan tingkat produktivitas sebanyak 28,02 kg per pohon.
Jumlah tersebut merosot tajam Pada tahun 2010. Jumlah pohon apel tinggal 2.574.852 pohon dengan jumlah tanaman yang masih produktif hanya sebanyak 1.974.366 pohon. Sedangkan tingkat produktifitasnya sebanyak 842.799,00 kuintal saja dengan produktivitas 17,00 kg per pohon.
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Pemerintah Kota Batu, Sugeng Pramono mengatakan, pemerintah saat ini berupaya melakukan perbaikan budidaya pertanian apel karena di beberapa tempat sudah tak cocok lagi ditanami apel. “Salah satunya dibutuhkan pupuk organik untuk meningkatkan produktivitas pertanian apel,” kata Sugeng. (G17)
]]>
https://www.greeners.co/berita/perubahan-suhu-udara-pengaruhi-produktifitas-apel-batu/feed/ 0
Populasi Kerbau Rawa Kalsel Makin Menurun https://www.greeners.co/berita/populasi-kerbau-rawa-kalsel-makin-menurun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=populasi-kerbau-rawa-kalsel-makin-menurun https://www.greeners.co/berita/populasi-kerbau-rawa-kalsel-makin-menurun/#respond Tue, 13 Mar 2012 03:00:25 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2321 Banjarmasin (Greeners) – Populasi salah satu hewan khas Kalimantan Selatan (Kalsel) yaitu Kerbau Rawa terus menurun dan terancam punah karena rentan beragam jenis penyakit dan rendahnya tingkat hidup anakan kerbau. […]]]>
Banjarmasin (Greeners) – Populasi salah satu hewan khas Kalimantan Selatan (Kalsel) yaitu Kerbau Rawa terus menurun dan terancam punah karena rentan beragam jenis penyakit dan rendahnya tingkat hidup anakan kerbau.
Kepala Dinas Peternakan Provinsi Kalsel, Maskamian Andjam mengungkapkan, beberapa penyakit saat ini mengancam populasi Kerbau Rawa, salah satunya cacing hati. Penyakit tersebut banyak menjangkit Kerbau Rawa karena habitatnya yang kurang bersih. “Tapi penyakit ini tidak mematikan dan sebenarnya mudah diatasi dengan pengobatan intensif,” ungkapnya di Banjarmasin.
Berdasarkan catatan Maskamian, beberapa kasus kematian Kerbau Rawa juga terjadi karena demam yang akan menyebabkan kematian apabila tidak ditangani.“Ini yang mengkhawatirkan kalau Kerbau Rawa mengalami demam bisa menyebabkan kematian. Solusinya adalah dengan vaksinasi,” katanya.
Populasi Kerbau Rawa sendiri tersebar di beberapa kabupaten antara lain Hulu Sungai Utara, Barito Kuala, Tapin, dan Tanah Laut. Belum ada jumlah pasti populasi Kerbau Rawa, namun diperkirakan jumlah populasi kerbau secara keseluruhan di Kalsel mencapai 25 ribu ekor. Kerbau darat di Kalsel juga banyak dikembangkan di Kotabaru.
Ancaman populasi Kerbau Rawa juga karena rendahnya tingkat kelahiran hewan yang hidup di darat dan di permukaan rawa ini. Maskamian mengatakan, tiap tahunnya, populasi Kerbau Rawa hanya meningkat dibawah 1 persen, dikarenakan tingginya angka kematian anak Kerbau Rawa yang baru lahir.
Banyak anakan kerbau yang baru lahir mati tenggelam karena induknya melahirkan di rawa. “Kematian sering terjadi pada anak, mereka kan baru lahir tidak bisa berenang. Induk biasanya juga tidak bisa berbuat apa-apa saat melahirkan anaknya langsung jatuh ke air. Kematian dewasa jarang kecuali ada demam. Ini yang mempengaruhi populasi kerbau rawa, populasi tidak turun, tapi kenaikan yang menurun, naiknya dibawah 1 persen. Kita harus pacu, peternak jangan hanya mengambil dan menjual tapi harus ada budidaya,” tambah Maskamian.
Sementara itu, berdasarkan data Dinas Peternakan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, populasi Kerbau Rawa juga mengalami penurunan. Hasil sensus oleh petugas peternakan yaitu dari 3.250 ekor, jumlahnya terus menurun menjadi 1.190 ekor kerbau dalam beberapa tahun terakhir.
Jumlah tersebut berada di dua kecamatan yakni Daha Barat sebanyak 577 ekor dan Daha Utara sebanyak 613 ekor. Ada sekitar 15 Dengan jumlah kalang (kandang, Red) dari 15 kelompok peternak, dimana dalam satu kalang terdapat minimal 40 ekor dan maksimal 100 ekor kerbau rawa. Sedangkan satu kelompok peternak terdiri dari 5 hingga 10 orang pemilik. (G16)
]]>
https://www.greeners.co/berita/populasi-kerbau-rawa-kalsel-makin-menurun/feed/ 0