energi alternatif - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/energi-alternatif/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 16 Jul 2026 04:12:33 +0000 id hourly 1 Peneliti BRIN Manfaatkan Limbah Jahe Menjadi Energi Alternatif https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-brin-manfaatkan-limbah-jahe-menjadi-energi-alternatif/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-brin-manfaatkan-limbah-jahe-menjadi-energi-alternatif https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-brin-manfaatkan-limbah-jahe-menjadi-energi-alternatif/#respond Thu, 16 Jul 2026 04:12:33 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48713 Jahe atau Zingiber officinale mungkin seringkali kita manfaatkan sebagai minuman herbal. Namun, ternyata tanaman ini memiliki manfaat lain. Salah satunya limbah padat hasil dari proses hidrodistilasri rimpang jahe berpotensi menjadi […]]]>

Jahe atau Zingiber officinale mungkin seringkali kita manfaatkan sebagai minuman herbal. Namun, ternyata tanaman ini memiliki manfaat lain. Salah satunya limbah padat hasil dari proses hidrodistilasri rimpang jahe berpotensi menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.

Peneliti dari Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Anny Sulaswatty dan tim berhasil mengembangkan teknologi pemanfaatan limbah biomassa rimpang jahe menjadi biobriket berkualitas. Inovasi ini sebagai bagian dari upaya mendukung transisi menuju energi bersih dan ekonomi sirkular.

“Peningkatan produksi minyak atsiri seperti Akar wangi, sereh wangi, kulit kayu manis, cengkeh, jahe, juga minyak atsiri dari kayu-kayuan (cendana, gaharu, masoia), menghasilkan limbah padat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biobriket untuk mendukung energi alternatif berbasis biomassa,” kata Anny melansir Berita BRIN, Rabu (15/7).

Menurut Anny, banyak limbah biomassa dapat dimanfaatkan menjadi biobriket. Namun, hal yang menjadi utama adalah bahan tersebut harus memiliki nilai karbon minimal 40 persen.

Selain itu, pemanfaatan limbah rimpang jahe sebagai bahan baku biobriket dinilai menjanjikan. Sebab, masih mengandung komponen lignoselulosa. Bahan baku tersebut dapat dikonversi menjadi bahan bakar padat melalui proses karbonisasi dan pencetakan menggunakan berbagai jenis perekat.

“Limbah padat rimpang jahe memiliki kandungan lignin yang tinggi, yaitu 45,98% sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biobriket. Melalui proses pirolisis, limbah ini dapat ditingkatkan kualitasnya,” tambahnya.

Landasan Ilmiah

Penelitian ini masih berfokus pada pengembangan biobriket berbasis biochar limbah penyulingan limbah jahe. Hal itu melalui evaluasi berbagai jenis perekat untuk memperoleh karakteristik produk yang optimal.

Anny mengatakan, penggunaan perekat yang berbeda akan memengaruhi sifat fisik, mekanik, dan termal biobriket. Hal ini meliputi kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, karbon tetap, densitas, kuat tekan, laju pembakaran, dan nilai kalor.

“Melalui optimasi jenis perekat, penelitian ini bertujuan menghasilkan biobriket yang memenuhi standar mutu bahan bakar padat. Memiliki performa pembakaran yang stabil, serta berpotensi sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan bernilai tambah,” ujarnya.

Dalam penelitian ini, kata dia, limbah penyulingan jahe terlebih dahulu dikeringkan, kemudian dikarbonisasi untuk menghasilkan biochar. Biochar yang diperoleh selanjutnya dicampurkan dengan berbagai jenis perekat, dicetak menjadi biobriket, dan diuji karakteristiknya.

Menurutnya, penelitian ini memberikan solusi meningkat akumulasi limbah penyulingan jahe dari industri minyak atsiri dan herbal. Limbah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan dapat dikonversi menjadi bahan bakar padat terbarukan dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Maka dari itu, inovasi ini bisa mendukung konsep ekonomi sirkular dan pemanfaatan biomassa secara berkelanjutan.

Ia berharap, hasil penelitian ini bisa menjadi landasan ilmiah bagi pengembangan teknologi pemanfaatan limbah biomassa pada skala industri maupun masyarakat. Teknologi ini juga berpotensi diterapkan di sentra produksi minyak atsiri, industri herbal, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menghasilkan limbah rimpang jahe dalam jumlah besar.

Selain itu, Anny juga ingin limbah biomassa tidak lagi dipandang sebagai residu hasil produk yang harus dibuang. Namun bisa menjadi sumber daya terbarukan yang dapat dikonversi menjadi bahan bakar padat bernilai ekonomi tinggi.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-brin-manfaatkan-limbah-jahe-menjadi-energi-alternatif/feed/ 0
Ilmuwan Texas Produksi Hidrogen Hemat Biaya https://www.greeners.co/ide-inovasi/ilmuwan-texas-produksi-hidrogen-hemat-biaya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ilmuwan-texas-produksi-hidrogen-hemat-biaya https://www.greeners.co/ide-inovasi/ilmuwan-texas-produksi-hidrogen-hemat-biaya/#respond Thu, 11 May 2023 04:14:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=40012 Lebih dari 100 tahun yang lalu, para ilmuwan menemukan cara mengubah air menjadi gas hidrogen energi hijau yang dikenal sebagai “bahan bakar masa depan”. Insinyur di The University of Texas […]]]>

Lebih dari 100 tahun yang lalu, para ilmuwan menemukan cara mengubah air menjadi gas hidrogen energi hijau yang dikenal sebagai “bahan bakar masa depan”.

Insinyur di The University of Texas di El Paso telah menemukan bahan berbasis nikel berbiaya rendah untuk membantu memisahkan air agar lebih murah dan efisien.

Tim mengeksplorasi nikel sebagai alternatif katalitik platinum, logam yang melimpah di Bumi dan 1.000 kali lebih murah daripada platinum.

Navid Attarzadeh melihat kaktus pir berduri untuk pertama kalinya saat berjalan ke laboratorium Center for Advanced Materials Research UTEP. Saat itulah Attarzadeh memiliki ide untuk merancang katalis berbasis nikel 3D dalam bentuk kaktus pir berduri.

Menurut Profesor Teknik Mesin UTEP, Ramana Chintapalle, ini adalah desain yang terinspirasi alam di laboratorium.

“Anda memiliki tanaman ini dengan permukaan luas yang dapat menyerap kelembapan dan bertahan di lingkungan ekstrem,” katanya.

Lalu area permukaan yang lebih besar dapat menampung lebih banyak. Reaksi elektrokimia menghasilkan lebih banyak hidrogen daripada nikel yang biasanya dihasilkan.

Terlepas dari terobosan ini, hidrogen belum menjadi sumber bahan bakar utama. Memisahkan air menjadi hidrogen dapat menjadi tidak efisien dan mahal. Proses transformasi, yang disebut elektrolisis pun tetap tidak sempurna.

Masalah pada Hidrogen

Elektrolisis adalah proses pemisahan air dengan listrik dan bahan yang mempercepat reaksi kimia apa pun. Teknik pemisahan air saat ini sangat bergantung pada platinum sebagai katalis, yang memiliki kelemahan.

Platinum adalah bahan utama yang digunakan untuk membantu memisahkan air. Tetapi harganya sangat mahal. Lebih mahal daripada emas dan tidak layak untuk digunakan dalam skala besar karena harganya yang mahal.

Tim dengan cepat merancang dan menguji struktur skala nano yang tidak terlihat oleh mata manusia. Para peneliti juga menguji kemampuan katalis untuk memisahkan air berulang kali dengan hasil yang menjanjikan.

Ini adalah penemuan mendasar dan prosesnya perlu penyempurnaan lebih lanjut, tetapi ini adalah langkah ke arah yang benar. Gas hidrogen dapat mengubah teknologi energi untuk negara tanpa menghasilkan emisi gas rumah kaca. Jejak karbon juga bisa dihilangkan.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Sumber : techxplore

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/ilmuwan-texas-produksi-hidrogen-hemat-biaya/feed/ 0
Transisi Energi Terbarukan tak Semata Turunkan Emisi Karbon https://www.greeners.co/aksi/transisi-energi-terbarukan-tak-semata-turunkan-emisi-karbon/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=transisi-energi-terbarukan-tak-semata-turunkan-emisi-karbon https://www.greeners.co/aksi/transisi-energi-terbarukan-tak-semata-turunkan-emisi-karbon/#respond Wed, 26 Apr 2023 04:45:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=39607 Jakarta (Greeners) – Dalam mendukung transisi energi yang adil dan berkelanjutan, tidak hanya berdasarkan target penurunan emisi semata. Indonesia perlu menggenjot bauran energi terbarukan dan memikirkan dampak sosial dan ekonominya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam mendukung transisi energi yang adil dan berkelanjutan, tidak hanya berdasarkan target penurunan emisi semata. Indonesia perlu menggenjot bauran energi terbarukan dan memikirkan dampak sosial dan ekonominya terhadap lingkungan dan masyarakat.

Transisi energi yang adil (just energy transition) penting untuk mengurangi upaya emisi gas rumah Kaca (GRK) untuk memenuhi target 31,89 % yang dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) tetapkan.

Namun faktanya, saat ini pemahaman dan penerapan prinsip keadilan dalam proses transisi energi menyimpang dari pemahaman yang benar.

Direktur Eksekutif Yayasan PIKUL Indonesia Torry Kuswardono mengatakan, transisi energi saat ini adalah salah logical fallacy. Sebab transisi energi tetap menggunakan logika pertumbuhan ekonomi yang tetap mengandalkan eksploitasi.

Menurutnya, langkah mitigasi krisis iklim dalam transisi energi harus adil dan menjamin terjadinya integrasi ekosistem, lingkungan, dan sosial. Torry menilai transisi energi tidak hanya berdasarkan target penurunan emisi semata.

Tetapi harus mempertimbangkan keseluruhan siklus dari sektor energi dan membuat penilaian untuk memahami kemampuan beradaptasi dan dampak dari berbagai faktor di daerah yang mengalami transisi energi tersebut.

Optimalisasi Energi Terbarukan

Lembaga Trend Asia juga berpandangan, dalam mengoptimalkan energi terbarukan di Indonesia harus menjunjung akuntabilitas, transparansi, dan partisipatif. Selanjutnya penghormatan, pemenuhan, dan perlindungan hak asasi manusia, keadilan ekologis dan ekonomi serta transformatif.

Empat langkah strategis yang dapat dilakukan adalah mempercepat pensiun dini PLTU dan mengakhiri pertambangan batu bara. Selain itu meninggalkan solusi-solusi palsu transisi energi, reformasi PLN dan kebijakan energi.

Harus pula ada perancangan dan implementasi transisi energi untuk memastikan transisi berjalan secara berkelanjutan dengan menekankan partisipasi publik dan proses yang bottom-up.

Solusi Transisi Energi yang Adil

Indonesia mempunyai target 23 % untuk bauran energi terbarukan pada tahun 2025. Namun, sejauh ini presentase tersebut pencapaiannya masih rendah sekitar 11 hingga 12 persen. Pasalnya, masih banyak kebijakan pemerintah yang bertantangan dan masih berpihak pada industri fosil.

Kini masih ada 13,8 Giga Watt PLTU yang dipertahankan pemerintah untuk terus dibangun tanpa tenggat waktu. Tujuannya untuk menghentikan pembangunan pembangkit batu bara baru, dan masih banyak insentif bagi industri batu bara.

Sebagai upaya menemukan solusi untuk transisi energi yang adil, Traction Energy Asia sendiri telah melakukan riset perbandingan. Riset ini untuk membandingkan dampak lingkungan sosial dan ekonomi dari PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Jawa 7 untuk pasokan listrik Jawa Bali yang berbahan bakar batu bara dengan PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) Sidrap 1 di Sulawesi Selatan.

Perbandingan ini menunjukkan, polusi pencemaran dari PLTU Jawa 7 berdampak negatif bagi nelayan. Alasannya mereka tidak dapat dapat mencari ikan akibat pencemaran air yang cukup tinggi. Sedangkan PLTB Sidrap 1 justru tidak menimbulkan polusi udara, sehingga masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/transisi-energi-terbarukan-tak-semata-turunkan-emisi-karbon/feed/ 0
Mahasiswa FTUI Manfaatkan Limbah Plastik Jadi Panel Surya Roll https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ftui-manfaatkan-limbah-plastik-jadi-panel-surya-roll/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ftui-manfaatkan-limbah-plastik-jadi-panel-surya-roll https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ftui-manfaatkan-limbah-plastik-jadi-panel-surya-roll/#respond Mon, 21 Nov 2022 04:36:39 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=38034 Jakarta (Greeners) – Tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) menggagas panel surya roll dengan memanfaatkan limbah plastik sebagai salah satu komponennya. Mereka adalah Afra Moedya Abadi, Tiffany Liuvinia dan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) menggagas panel surya roll dengan memanfaatkan limbah plastik sebagai salah satu komponennya.

Mereka adalah Afra Moedya Abadi, Tiffany Liuvinia dan Yosep Dhimas Sinaga dari Departemen Teknik Kimia FTUI angkatan 2020. Panel surya roll itu mereka beri nama Printable Alternative Solar Roll (PARASOL).

Yosep Dhimas menyatakan, ada beberapa hal yang menjadi latar belakang di balik hadirnya PARASOL.

“Pertama, Indonesia menjadi penyumbang limbah plastik terbesar di dunia. Kedua, berkaitan dengan krisis energi terutama dengan panel surya silikon yang beredar di Indonesia masih ada kekurangan,” katanya dalam keterangannya.

Dari kedua latar belakang tersebut, akhirnya mereka tergerak untuk membuat PARASOL. Inovasi panel surya alternatif ini mereka rancang dalam bentuk plastik rol yang praktis, fleksibel, dan semi transparan.

“PARASOL memanfaatkan prinsip perovskite solar cell dengan nilai efisiensi yang mampu bersaing dengan panel surya konvensional,” imbuhnya.

Pemilihan sampah plastik PET (polyethylene terephthalate) mereka lakukan sebab plastik jenis ini paling mudah ditemukan serta didaur ulang dengan biaya yang tidak terlalu tinggi. Hal ini juga selaras dengan prinsip PARASOL yang fleksibel.

“Selain itu, sampah PET pun merupakan sumber pencemaran tertinggi dari semua jenis sampah plastik. Maka, potensi untuk dimanfaatkan kembali menjadi lebih besar,” ucapnya.

Tim mahasiswa FTUI pencipta PARASOL. Foto: UI

Panel Surya Ramah Lingkungan 

PARASOL memiliki cara kerja yang mirip seperti panel surya silikon pada umumnya. Perangkat ini bekerja dengan memanfaatkan sinar matahari. PARASOL memiliki bentuk yang praktis dan dapat bekerja pada kondisi minim cahaya matahari.

Manufakturnya yang lebih sederhana membuat PARASOL memiliki harga jauh lebih terjangkau dibandingkan panel surya konvensional. Selain itu, PARASOL ini lebih ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah plastik PET sebagai salah satu komponennya.

Dekan FT UI Heri Hermansyah menilai, PARASOL mampu menghasilkan efisiensi konversi listrik 15-20 %, masa pakai sekitar 20 tahun, dan temperatur kerja maksimum lebih dari 100℃. Hal ini membuktikan PARASOL memiliki performa yang mampu bersaing dengan panel surya silikon.

“Saat ini tim tengah mengembangkan prototipe PARASOL dengan tujuan komersialisasi. Semoga ke depannya, PARASOL dapat menjadi salah satu inovasi yang tepat untuk memberikan kesetaraan bagi seluruh warga negara di Indonesia dalam menyediakan akses energi bersih dan terjangkau,” ungkapnya.

Berkat desain PARASOL, tim UI berhasil menjuarai kompetisi ESG Symposium 2022 “Hacks to Heal Our Planet: ESG Idea Pitching” Regional Competition yang PT Siam Cement Group (SCG) selenggarakan.

Di tingkat nasional, tim UI terlebih dahulu mengalahkan 230 tim dari Indonesia sebelum melaju ke tingkat regional. Pada kompetisi ESG 2022 di tingkat regional, Tim UI kembali berjaya setelah mengalahkan lima tim lain dari beberapa negara Asia Tenggara yang mewakili negaranya masing-masing.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ftui-manfaatkan-limbah-plastik-jadi-panel-surya-roll/feed/ 0
Indonesia Dinilai Belum Mampu Kelola Limbah Radioaktif PLTN https://www.greeners.co/berita/indonesia-dinilai-belum-mampu-kelola-limbah-radioaktif-pltn/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-dinilai-belum-mampu-kelola-limbah-radioaktif-pltn https://www.greeners.co/berita/indonesia-dinilai-belum-mampu-kelola-limbah-radioaktif-pltn/#respond Wed, 26 Oct 2022 05:45:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37777 Jakarta (Greeners) – Manajer Kampanye Energi dan Perkotaan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Dwi Sawung mengungkap, ketidaksiapan teknis dalam pengelolaan limbah radioaktif masih menjadi tantangan pengembangan energi nuklir di Indonesia. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Manajer Kampanye Energi dan Perkotaan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Dwi Sawung mengungkap, ketidaksiapan teknis dalam pengelolaan limbah radioaktif masih menjadi tantangan pengembangan energi nuklir di Indonesia. Risiko kebocoran nuklir dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) juga sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Masih jauh dari kesiapan. Kasus pembuangan limbah radioaktif di Komplek Batan Indah Serpong misalnya menunjukkan ketidaksiapan soal disiplin dan ketaatan mengelola limbah radioaktif,” katanya kepada Greeners, Selasa (25/10).

Permasalahan kebocoran reaktor nuklir tak hanya harus Indonesia perhatikan. Hal ini juga menjadi permasalahan negara-negara lain di dunia.

“Sampai sekarang tidak jelas prosedur apa yang dilewatkan dan upaya apa untuk mencegah tindakan serupa tidak berulang,” ucap Sawung.

Hal ini, harus menjadi isu penting sebelum akhirnya Indonesia mengembangkan transisi energi baru terbarukan melalui PLTN. Ia menilai, transisi EBT yang pemerintah wacanakan merupakan solusi palsu.

“Solusi palsu merupakan sumber-sumber energi serta pemanfaatannya yang menciptakan dampak sosial baru, berisiko tinggi. Selain itu juga tidak regeneratif, tidak signifikan mengurangi emisi, tak distributif dan tak inklusif,” tuturnya.

Negara pengguna PLTN mendorong ketahanan energi listriknya sambil menekan emisi. Foto: Shutterstock

PLTN Turunkan Emisi

Sebelumnya, PLTN digadang-gadang mampu mendukung pencapaian net zero emission pada tahun 2060 nanti. Dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC), Indonesia menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89 %. Lalu dengan bantuan internasional sebesar 43,2 % pada tahun 2030.

Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Andriah Faby Misna menyatakan, sektor energi berkontribusi besar terhadap emisi. Pemerintah telah menentukan target penurunan emisi karbon pada sektor ini sebesar 385 juta ton CO2 pada tahun 2030 nanti.

Ia menekankan pentingnya memensiunkan secara masif pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara secara bertahap diikuti dengan pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

“Oleh karenanya butuh keseriusan untuk menurunkan emisi yakni melalui percepatan pengembangan energi terbarukan yang dalam transisinya membutuhkan energi nuklir,” katanya dalam acara Kesiapan Energi Terbarukan dan Nuklir dalam Mendukung Pencapaian Net Zero Emission (NZE) di Jakarta baru-baru ini.

Menurutnya, potensi EBT di Indonesia sangat besar. Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 Tentang Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan hingga RUU EBT yang akan segera terbit hadir memperkuat kebijakan itu.

Ia menekankan pentingnya penelitian dan pengembangan lebih lanjut untuk pengembangan nuklir. “Mulai dari keamanan nuklir hingga masalah teknis lainnya. Peran litbang sangat penting untuk mendukung transisi energi ini,” kata dia.

Reaktor riset GA Siwabessy mendukung penerapan teknologi nuklir di bidang kesehatan, pangan dan pertanian. Foto: Batan (BRIN)

Indonesia Masih Menimbang-Nimbang

Anggota Dewan Energi Nasional Agus Puji Prasetyo mengatakan, Indonesia berhadapan dengan anomali antara mengejar target pengurangan emisi dan pertumbuhan ekonomi.

“Di satu sisi dengan mematikan pembangkit yang mengirimkan CO2 ke udara, itu sudah selesai. Tapi pada saat mematikan energi yang berbasis fosil, di saat yang sama kita harus menumbuhkan ekonomi,” ujarnya.

Agus optimistis Indonesia mampu mengembangkan PLTN meski berada di ring of fire. “Melalui teknologi generasi ketiga dan keempat kita optimis baik gempa, angin hingga perubahan iklim tak akan berdampak pada PLTN. Seperti halnya Jepang, mereka di ring of fire tapi bisa diantisipasi juga,” ungkapnya.

Senada dengannya, Pengembang Teknologi Nuklir Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Suparman menyatakan, kondisi geografis Indonesia dalam garis cincin gunung berapi tak berarti menghambat pembangunan PLTN.

Melalui kajiannya, beberapa lokasi alias tapak PLTN di Indonesia yaitu Banten, Jepara, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

Lebih jauh, ia mengungkap setidaknya terdapat tiga tahapan menuju pembangunan PLTN. Indonesia masih dalam tahap pertama yakni dalam posisi mempertimbangkan.

“Belum berlanjut ke tahap kedua yakni persiapan. Saat ini belum ada keputusan pasti apakah membangun PLTN atau tidak. Statusnya masih nunggu keputusan pemerintah,” ucapnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-dinilai-belum-mampu-kelola-limbah-radioaktif-pltn/feed/ 0
Kaliandra Merah, Sumber Energi Alternatif dari Guatemala https://www.greeners.co/flora-fauna/kaliandra-merah-sumber-energi-alternatif-dari-guatemala/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kaliandra-merah-sumber-energi-alternatif-dari-guatemala https://www.greeners.co/flora-fauna/kaliandra-merah-sumber-energi-alternatif-dari-guatemala/#respond Wed, 02 Mar 2022 03:16:47 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=35446 Kaliandra merah adalah spesies tumbuhan semak berbunga yang jamak publik manfaatkan sebagai tanaman hias. Flora ini sejatinya berasal dari Guatemala, Amerika Tengah, namun kini ramai dibudidayakan terutama di daerah tropis. […]]]>

Kaliandra merah adalah spesies tumbuhan semak berbunga yang jamak publik manfaatkan sebagai tanaman hias. Flora ini sejatinya berasal dari Guatemala, Amerika Tengah, namun kini ramai dibudidayakan terutama di daerah tropis.

Indonesia merupakan salah satu negara pembudidaya tanaman kaliandra. Di sini kita dapat menemukan setidaknya dua varietas tumbuhan tersebut, yakni kaliandra putih dan merah.

Dibandingkan saudaranya, kaliandra merah atau Calliandra calothyrsus memang terhitung lebih populer. Tanaman ini bisa beradaptasi dengan baik, sehingga lebih mudah dibiakkan.

Selain itu, kelompok kaliandra juga memiliki segudang manfaat. Tidak cuma penghias, flora ini bisa kita gunakan untuk pakan ternak, pengontrol erosi, hingga sumber energi alternatif.

Morfologi dan Ciri-Ciri Kaliandra Merah

Pertumbuhan kaliandra merah terbilang sangat cepat dengan tinggi maksimal mencapai 12 meter. Diameter batangnya rerata berkisar 20 cm, dengan warna kulit merah atau abu-abu.

Sistem perakaran terdiri atas akar tunjang dan beberapa akar halus yang berbiak sampai ke luar permukaan tanah. Ukuran daun relatif kecil, bertekstur lunak serta berwarna hijau tua.

Panjang daun tersebut mencapai 20 cm dengan lebar 15 cm. Seperti tanaman Leguminosae pada umumnya, daun-daun kaliandra merah akan melipat ke arah batang saat malam hari.

Tandan bunga berkembang dalam posisi terpusat dan bergerombol di ujung batang. Mekar dalam waktu semalam, bunga ini memiliki benang putih serta merah pada bagian ujungnya.

C. calothyrsus berbunga sepanjang tahun pada bulan Maret dan Juli. Karena memiliki sifat andromonecious, ia mampu menghasilkan bunga jantan, betina ataupun berkelamin ganda.

Habitat dan Distribusi Kaliandra Merah

Selain Guatemala, kaliandra dapat kita jumpai di Meksiko, Suriname, serta seluruh wilayah Karibia. Mereka berbiak di area tepian sungai, yang biasanya ternaungi oleh sedikit pohon.

Di Meksiko dan Amerika Tengah, tanaman ini tumbuh di daerah rendah sampai ketinggian 1.860 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan curah hujan berkisar 1.000-4.000 mm.

Suhu yang mereka kehendaki berkisar 18-22 Celsius. Tipe tanahnya bisa bermacan-macam, bahkan ada pula jenis kaliandra yang bisa berkembang pada tanah masam dengan pH 4,5.

Di Pulau Jawa, pertumbuhan kaliandra merah ditemukan pada daerah berketinggian lebih dari 250 mdpl. Ia tidak menyukai drainase yang buruk atau tanah yang selalu tergenang air.

Perlu Anda ketahui, budi daya kaliandra merah dapat dilakukan dengan menyemai bijinya. Biji tersebut berbentuk oval dengan permukaan berbintik serta berwarna hitam-cokelat.

Budi Daya dan Manfaat Kaliandra Merah

Di tempat asalnya, waktu berbiji tanaman tersebut terjadi antara bulan November dan April. Sedangkan di Indonesia, fase ini umumnya berlangsung pada bulan Juli sampai November.

Setelah disemai, biji kaliandra merah dapat diskarifikasi pada kedalaman 1-3 cm. Jika tidak, Anda bisa memindahkan bibit yang telah mencapai tinggi 20-50 cm dari tempat pembibitan.

Bibit tersebut dapat Anda tanam berbaris dengan jarak 3-4 meter. Bila akan dimanfaatkan sebagai sumber pakan, tanam bibit kaliandra dengan jarak 0,5-1 meter secara menyebar.

Penggunaan inokulasi mungkin bermanfaat pada daerah yang baru ditanami. Pertumbuhan awalnya memang lambat, tetapi cenderung lebih cepat jika tanaman mencapai usia remaja.

Menurut penelitian, kaliandra merah berpotensi besar sebagai sumber energi alternatif. Ini diperoleh dari pellet kayunya, yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar kualitas tinggi.

Taksonomi Spesies Calliandra Calothyrsus

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kaliandra-merah-sumber-energi-alternatif-dari-guatemala/feed/ 0
G20 Kesempatan Dorong Percepatan Transisi Energi Terbarukan https://www.greeners.co/berita/g20-kesempatan-dorong-percepatan-transisi-energi-terbarukan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=g20-kesempatan-dorong-percepatan-transisi-energi-terbarukan https://www.greeners.co/berita/g20-kesempatan-dorong-percepatan-transisi-energi-terbarukan/#respond Mon, 28 Feb 2022 09:57:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35436 Jakarta (Greeners) – Pemerintah Indonesia didorong untuk mampu mamanfaatkan peluang Presidensi KTT G20 untuk melakukan percepatan transformasi energi bersih. Indonesia harus mampu membuktikan best practice agar bisa bersaing hingga penetrasi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintah Indonesia didorong untuk mampu mamanfaatkan peluang Presidensi KTT G20 untuk melakukan percepatan transformasi energi bersih. Indonesia harus mampu membuktikan best practice agar bisa bersaing hingga penetrasi ke pasar ekspor khususnya dalam energi baru terbarukan (EBT).

Dalam ajang Konferensi Tingkat Tinggi Climate Change Conference (KTT COP-26), pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mencanangkan target penurunan emisi atau net zero emission pada tahun 2060. Sementara pengurangan emisi sebesar 29 % targetnya pada tahun 2030 dengan tanpa bantuan internasional tertuang dalam dokumen national determined contribution (NDC).

Pengamat energi Eko Adhi Setiawan menyatakan, target tersebut bisa terwujud melalui percepatan transisi energi bersih. Percepatan ini tak hanya mengandalkan dukungan dan pasar dalam negeri, tapi luar negeri.

“Ini merupakan salah satu strategi menjadikan kita berada di level yang lebih tinggi, yaitu mampu bersaing untuk ekspor listrik energi terbarukan, misalnya PLTS untuk diekspor ke negara lain,” katanya kepada Greeners, Senin (28/2).

Direktur Tropical Renewable Energy Center Fakultas Teknik Universitas Indonesia ini menilai kepercayaan dunia internasional akan bertambah seiring dengan keaktifan ekspor EBT. Salah satunya berupa pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang sangat berpotensi besar.

Indonesia, sambungnya memiliki ketersediaan lahan yang sangat luas yang tak negara lain miliki negara seperti misalnya Singapura. “Selain itu kita juga bisa mendatangkan devisa,” ucapnya.

Ia menyebut, percepatan ekspor PLTS ke negara lain merupakan langkah prioritas sebelum menerapkan di pasar dalam negeri. Persoalannya, transisi di dalam negeri menghadapi berbagai rintangan.

Transisi Energi Terbarukan Butuh Proses Panjang

Saat ini Indonesia masih sangat bergantung pada energi fosil batu bara. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dari total pembangkit listrik di Indonesia dengan kapasitas sekitar 73.627,6 megawatt, sekitar 50,1 % atau 36.916,4 megawatt masih berbahan bakar batu bara. Sementara total pembangkit yang berbahan fosil mencapai 85 % atau 62.822,3 megawatt.

Mengacu peta jalan transisi energi menuju karbon netral tahun 2060, penghentian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) akan terlaksana secara bertahap. Yakni mulai tahun 2031-2035. Sebanyak 6 gigawatt bakal PLTU akan pensiun.

Sementara pada tahun 2036-2040 rencananya 3 gigawatt kapasitas PLTU batu bara bakal berhenti. Selanjutnya, tahun 2041-2050 total kapasitas 31 gigawatt berhenti. Terakhir, pada tahun 2051-2060 PLTU batu bara dengan kapasitas 8 gigawatt ditutup.

Penutupan PLTU ini berlangsung bertahap. Selain memakan waktu lama juga membutuhkan komitmen yang kuat. Transisi energi ke pembangkit listrik EBT, sambung Eko juga membutuhkan biaya yang tak sedikit.

Negara-negara maju sebelumnya telah berkomitmen untuk memastikan pendanaan bagi negara berkembang terkait dengan penanganan perubahan iklim dan mitigasi dengan dana sebesar US$ 100 miliar.

“Oleh karenanya bagaimana agar momen G20 ini menjadi ajang Indonesia untuk bisa menggalang bantuan Internasional,” imbuhnya.

BRIN Kebut Riset EBT

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menargetkan adanya kerja sama riset dalam perhelatan G20, termasuk di antaranya dalam sektor EBT. Beberapa pengembangan itu di antaranya riset Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP), Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), bioetanol, teknologi fuel cell dan hidrogen.

Mengacu data Kementerian ESDM, potensi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) nasional mencapai 23,9 giga watt (GW). Angka ini menyumbang 40 % potensi PLTP di dunia. Namun hingga saat ini, di Indonesia, potensi yang baru termanfaatkan sebesar 2.276 MW atau sekitar 9,5 %, sebagian besar komponen PLTP pun masih impor.

“Lokasi panas bumi kebanyakan di daerah terpencil yang beban listriknya tidak terlalu tinggi,” ungkap Plh Kepala Balai Besar Teknologi Konversi BRIN Cahyadi.

PLTP termasuk teknologi ramah lingkungan dengan emisi CO2 rendah. Jejak karbon pun rendah. Alasannya karena sumber energi tersedia di lokasi dan tidak membutuhkan sumber bahan bakar yang yang menghasilkan karbon.

Selanjutnya, untuk perencanaan pembangunan PLTN sebenarnya sudah digaungkan sejak tahun 1970an. Kawasan Nuklir Serpong merupakan kawasan pusat litbangyasa iptek nuklir yang dibangun dengan tujuan untuk mendukung usaha pengembangan industri nuklir. Lokasi ini juga sebagai persiapan pembangunan serta pengoperasian PLTN di Indonesia.

Selanjutnya, pada sektor transportasi, pemerintah juga mempersiapkan alternatif bahan bakar ramah lingkungan. Langkahnya berupa penelitian dan pengembangan bioetanol dan hidrogen sebagai bahan bakar alternatif ramah lingkungan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/g20-kesempatan-dorong-percepatan-transisi-energi-terbarukan/feed/ 0
Australia Sulap Bir Basi Menjadi Biogas https://www.greeners.co/ide-inovasi/australia-sulap-bir-basi-menjadi-biogas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=australia-sulap-bir-basi-menjadi-biogas https://www.greeners.co/ide-inovasi/australia-sulap-bir-basi-menjadi-biogas/#respond Wed, 25 Aug 2021 07:36:08 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=33619 Pandemi COVID-19 telah mengakibatkan jutaan liter bir di Australia menjadi basi. Namun alih-alih membiarkan bir basi terbuang sia-sia, Pabrik Pengolahan Air Limbah SA Water Australia berinisiatif untuk mengolah bir tersebut […]]]>

Pandemi COVID-19 telah mengakibatkan jutaan liter bir di Australia menjadi basi. Namun alih-alih membiarkan bir basi terbuang sia-sia, Pabrik Pengolahan Air Limbah SA Water Australia berinisiatif untuk mengolah bir tersebut menjadi sumber energi terbarukan. Mereka “menyulap” limbah bir menjadi biogas yang dapat memberi daya listrik pada pabrik mereka.

“Mengolah bir basi menjadi biogas merupakan salah satu contoh langkah adaptif yang dapat kita ambil dalam menghadapi pandemi COVID-19. Pandemi telah menghasilkan begitu banyak timbunan limbah makanan dan minuman, dan kami berupaya untuk mengurangi limbah tersebut. Inovasi ini juga memberikan hasil yang baik bagi lingkungan,” ujar Manajer Senior dari SA Water, Lisa Hannant, dalam Euronews.

SA Water mengolah jutaan liter bir basi yang mereka kumpulkan dari berbagai pub dan kafe di Australia. Menurut Lisa, mengolah limbah bir menjadi biogas tidak memerlukan proses yang rumit. Mereka hanya perlu mencampurkan bir tersebut dengan jenis limbah lain seperti limbah lumpur, lalu campuran tersebut akan melewati proses pengolahan dalam tangki digester.

“Dalam tangki tersebut, bir basi akan terurai dalam suhu yang tinggi, dan bakteri alami dalam bir tersebut akan melepaskan biogas. Biogas tersebut nantinya akan kami manfaatkan menjadi energi listrik,” papar Lisa.

Biogas dari Bir Basi: Berikan Daya pada 1.200 Rumah

Lisa menjelaskan bahwa bir basi yang mereka olah mampu menghasilkan daya listrik dalam kapasitas yang cukup besar. Setiap minggunya, SA Water mengolah 150.000 liter bir basi menjadi biogas, dan biogas tersebut dapat memberi daya pada 1.200 rumah secara total. Setiap bulannya, mereka dapat menghasilkan energi listrik alternatif sebesar 654 megawatt jam.

“Limbah bir ini dapat kita katakan sebagai ‘emas cair’, karena ia memiliki manfaat dan daya guna yang tinggi. Kami bangga karena telah menciptakan energi terbarukan yang berkelanjutan dari limbah yang sebelumnya jarang dimanfaatkan,” tutur Lisa.

Sebagai informasi, SA Water bukanlah satu-satunya perusahaan yang memanfaatkan limbah bir menjadi sumber energi alternatif. Perusahaan bir asal Inggris, Heineken, juga berinisiatif untuk mengolah 87 juta liter limbah bir menjadi biogas. Mereka berhasil menciptakan biogas dari limbah bir yang dapat memberi daya pada 28.000 rumah dalam sehari.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Euronews

Independent

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/australia-sulap-bir-basi-menjadi-biogas/feed/ 0
Dari Rumput Laut hingga Urin, Inilah 6 Sumber Energi Alternatif yang Tidak Biasa https://www.greeners.co/ide-inovasi/dari-rumput-laut-hingga-urin-inilah-6-sumber-energi-alternatif-yang-tidak-biasa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dari-rumput-laut-hingga-urin-inilah-6-sumber-energi-alternatif-yang-tidak-biasa https://www.greeners.co/ide-inovasi/dari-rumput-laut-hingga-urin-inilah-6-sumber-energi-alternatif-yang-tidak-biasa/#respond Wed, 18 Aug 2021 03:26:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=33562 Para ilmuwan percaya bahwa beralih ke penggunaan sumber energi alternatif dari sumber energi konvensional dapat menyelesaikan permasalahan iklim yang terjadi. Kini, para ilmuwan terus melakukan uji coba terhadap material-material tak […]]]>

Para ilmuwan percaya bahwa beralih ke penggunaan sumber energi alternatif dari sumber energi konvensional dapat menyelesaikan permasalahan iklim yang terjadi. Kini, para ilmuwan terus melakukan uji coba terhadap material-material tak biasa yang sekiranya berpotensi untuk dijadikan sumber energi alternatif pengganti minyak dan gas bumi.

“Mengatasi perubahan iklim memerlukan tindakan yang tegas, inovatif, dan pola pikir out of the box. Menciptakan energi alternatif dari sumber yang tidak biasa adalah salah satunya,” tulis pakar energi asal London, Ben Gallizzi, seperti dikutip dalam Money.

Lantas, apa sajakah sumber energi alternatif yang tidak biasa tersebut? Daripada penasaran, yuk simak penjelasannya di bawah ini!

1. Energi Alternatif dari Rumput Laut

Rumput laut rupanya memiliki kegunaan lain yang tidak biasa. Para peneliti yang tergabung dalam proyek MacroFuels Eropa berhasil mengubah rumput laut menjadi sumber energi alternatif yang bermanfaat. Untuk membuat biofuel berbahan dasar rumput laut, para peneliti menggunakan rumput laut dan ganggang yang berasal dari laut Skotlandia.

Sejak tahun 2016, para peneliti dari Inggris, Belanda, dan empat negara Uni Eropa lainnya berhasil mengonversi rumput laut menjadi biofuel ramah lingkungan. Sebuah mobil dapat menyelesaikan perjalanan hingga 80 kilometer dengan menggunakan biofuel rumput laut tersebut.

2. Energi Listrik dari Buah Jeruk

Badan pengolahan air asal Spanyol bernama Emasesa berinisiatif untuk menciptakan energi alternatif yang berasal dari buah jeruk. Mereka mengubah kulit dan sari dari buah tersebut menjadi energi listrik yang dapat memberi daya pada 73 ribu rumah. Sejauh ini, Emasesa telah mengolah sebanyak 35 ton buah jeruk untuk menghasilkan energi listrik yang bersih.

Untuk mengolah buah jeruk menjadi sumber energi alternatif, Emasesa akan melakukan proses fermentasi terlebih dahulu pada buah tersebut. Jeruk yang sudah terfermentasi akan menghasilkan gas metana, dan gas tersebut nantinya akan mereka kumpulkan menjadi sumber energi listrik.

3. Listrik dari Lantai Kinetik

Sustainable Dance Floor merupakan lantai kinetik yang dapat mengubah langkah kaki kita menjadi sumber energi alternatif.  Sebuah klub malam di Rotterdam, Belanda, telah menggunakan lantai “ajaib” tersebut sebagai sumber listrik mereka. Lantai tersebut mampu mengubah pijakan kaki kita menjadi tenaga listrik yang dapat menghidupkan lampu jalan dan fasilitas lainnya.

4. Bioenergi dari Kakao

Para peneliti dari Pantai Gading berhasil menemukan inovasi yang mampu mengubah limbah kakao menjadi sumber bioenergi. Mereka memanfaatkan limbah kakao berupa polong, kulit biji, serta ampas dari buah tersebut untuk dijadikan sumber energi alternatif. Para peneliti memperkirakan bahwa limbah kakao dapat menghasilkan listrik antara 40 hingga 70 megawatt per tahun, dan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 4,5 juta ton.

5. Buah Semangka, Sumber Energi Alternatif di Masa Depan

Sebuah studi yang terbit dalam jurnal Biotechnology for Biofuels pada tahun 2009 menunjukkan bahwa limbah semangka dapat kita manfaatkan menjadi sumber energi alternatif. Limbah dari buah tersebut dapat menghasilkan bio-etanol yang bisa kita manfaatkan sebagai sumber energi terbarukan pengganti bahan bakar fosil. Semangka merupakan bahan baku yang bagus untuk membuat bio-etanol, karena buah tersebut kaya akan kandungan asam amino dan gula.

6. Listrik dari Urin

Para ilmuwan dari Universitas Bristol, Inggris, tengah mengembangkan teknologi yang mampu mengubah urin menjadi energi alternatif berupa listrik. Teknologi inovatif bernama Pee Power tersebut mampu “menyulap” urin menjadi listrik yang cukup untuk menyalakan lampu di rumah atau mengisi daya ponsel. Selain itu, saat ini para peneliti juga sedang mengembangkan teknologi yang dapat mengubah urin menjadi pupuk tanaman yang bermanfaat.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Euronews

 
]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/dari-rumput-laut-hingga-urin-inilah-6-sumber-energi-alternatif-yang-tidak-biasa/feed/ 0
WaterLight, Lampu Senter Bertenaga Asinnya Air Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/waterlight-lampu-senter-bertenaga-asinnya-air-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waterlight-lampu-senter-bertenaga-asinnya-air-laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/waterlight-lampu-senter-bertenaga-asinnya-air-laut/#respond Tue, 11 May 2021 01:30:47 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=32591 Perusahaan start-up asal Kolombia, E-Dina, telah mengembangkan lampu senter yang tidak biasa. Berkolaborasi dengan agensi kreatif Wunderman Thompson, E-Dina menciptakan lampu senter bertenaga asinnya air laut! WaterLight adalah nama dari […]]]>

Perusahaan start-up asal Kolombia, E-Dina, telah mengembangkan lampu senter yang tidak biasa. Berkolaborasi dengan agensi kreatif Wunderman Thompson, E-Dina menciptakan lampu senter bertenaga asinnya air laut! WaterLight adalah nama dari lampu senter tersebut. Mereka secara khusus merancang lampu senter WaterLight untuk orang Wayúu, suku asli yang tinggal di ujung paling utara Amerika Selatan.

“Kami memilih komunitas Wayúu karena mereka selama berabad-abad telah bertempat tinggal di lokasi yang terpencil di semenanjung Guajira. Tidak ada akses listrik di sana, tapi, lokasi tersebut dikelilingi oleh Laut Karibia,” papar Pipe Ruiz Pineda, direktur kreatif eksekutif Wunderman Thompson, pada Dezeen.

“Maka dari itu, kami berupaya untuk menciptakan lampu nirkabel yang dapat menyala tanpa harus menggunakan listrik. Kami memutuskan untuk menggunakan air laut sebagai sumber energi dari lampu yang kami ciptakan,” tambahnya.

WaterLight: Dapat Menyala Selama 5.600 Jam

Mengutip dari situs Dezeen, diperlukan 500 mililiter air laut untuk mengisi daya lampu senter WaterLight. Bahkan dalam kondisi darurat, kita juga bisa menggunakan urin sebagai sumber tenaga dari lampu senter ini! Tiap satu kali pengisian air laut, lampu Waterlight dapat menyala selama 45 hari. E-Dina dan Wunderman Thompson menyatakan bahwa lampu ini dapat menyala selama 5.600 jam atau sekitar dua hingga tiga tahun pemakaian.

Foto : dezeen.com

Selain memiliki usia pakai yang panjang, lampu senter WaterLight juga lebih efisien jika kita bandingkan dengan lampu senter non-listrik lainnya. Lampu ini hanya memerlukan waktu beberapa detik untuk mengonversi air laut menjadi tenaga listrik.

“Setelah WaterLight terisi oleh air laut, air laut tersebut secara langsung akan berubah menjadi energi cahaya. WaterLight lebih efisien daripada lampu senter bertenaga surya, karena lampu ini dapat meregenerasi energi secara instan,” ujar Pipe.

Menurut Pipe, untuk mengubah air laut menjadi energi cahaya, perlu ada suatu proses bernama ionisasi. Proses ini terjadi ketika kandungan elektrolit dalam cairan garam air laut bereaksi dengan magnesium dan pelat tembaga yang sudah tertanam di bagian dalam WaterLight.

“Proses ionisasi inilah yang membuat lampu senter WaterLight dapat bertahan lebih lama jika dibandingkan dengan lampu lainnya,” tutur Pipe.

Sebagai informasi, selain memiliki fungsi sebagai lampu senter, WaterLight juga bisa bekerja sebagai generator listrik mini. Perangkat ini juga dapat kita gunakan untuk mengisi daya ponsel atau perangkat kecil lainnya melalui port USB terintegrasi

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Dezeen

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/waterlight-lampu-senter-bertenaga-asinnya-air-laut/feed/ 0
LIPI Tawarkan Teknologi Biorefeneri untuk Alternatif Bahan Bakar Fosil https://www.greeners.co/berita/lipi-tawarkan-teknologi-biorefeneri-untuk-alternatif-bahan-bakar-fosil/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lipi-tawarkan-teknologi-biorefeneri-untuk-alternatif-bahan-bakar-fosil https://www.greeners.co/berita/lipi-tawarkan-teknologi-biorefeneri-untuk-alternatif-bahan-bakar-fosil/#respond Thu, 11 Oct 2018 05:07:26 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=21487 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) telah mengembangkan teknologi biorefineri berbasis biomasa non-pati untuk menggantikan bahan bakar fosil.]]>

Bogor (Greeners) – Pemerintah Republik Indonesia telah mengeluarkan kebijakan optimalisasi penggunaan biofuel untuk sarana transportasi yang mewajibkan penggunaan bahan bakar minyak jenis solar dicampur 20 persen komponen biofuel berbahan dasar minyak nabati (B20). Kebijakan ini membutuhkan pasokan biofuel yang stabil. Untuk itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) telah mengembangkan teknologi biorefineri berbasis biomasa non-pati untuk menggantikan bahan bakar fosil.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati mengatakan, pengembangan teknologi biorefineri untuk mengubah biomasa menjadi biofuel dan produk kimia lainnya menuntut adanya perhatian pada tiga komponen penting. Pertama, pengembangan teknologi pretreatment biomasa untuk menghilangkan bagian yang tidak diperlukan. Kedua, pengembangan teknologi produksi enzim sebagai komponen katalisator (biokatalis). Sedangkan komponen ketiga adalah teknologi fermentasi dan reaksi terpadu.

“Dari ketiga komponen tersebut, sampai saat ini enzim yang diperlukan masih merupakan produk impor sehingga berpengaruh pada biaya produksi. Jika komponen tadi dapat dipadukan dengan komposisi sumber daya lokal, maka proses produksi akan berjalan lebih efisien sehingga menurunkan biaya produksi. Terlebih lagi saat ini pemerintah telah mengeluarkan kebijakan B20 yang mendukung sektor energi alternatif,” ujar Enny di acara 5th International Symposium on Innovative Bioproduction Indonesia (ISIBio 2018) di IPB International Convention Center, Bogor, Rabu (10/10/2018).

BACA JUGA: Inpres Moratorium Perkebunan Sawit Dorong Penyerapan CPO 

Enny mengungkapkan bahwa dukungan pemerintah untuk biorefineri ini sangat penting, karena jika produksinya sudah ada, maka kebutuhan di industri juga harus diseimbangkan. Dirinya meminta dukungan pemerintah bisa lewat kebijakan untuk para industri dan terutama sosialisasi kepada masyarakat untuk memakai bahan bakar biomassa ini.

“Saat ini kami mencoba menyiapkan suplai untuk biomassa ini tetapi kalau dari industri atau permintaannya tidak ada, pasti akan terjadi ketidakseimbangan dan akan berdampak pada harga yang mahal. Penyadaran kepada masyarakat terkait pengunaan biomassa ini juga diperlukan, bahwa kita mau murah terus tapi lama-lama lingkungan kita rusak dan tercemar dibandingkan dengan kita mau mengeluarkan uang lebih banyak dan lingkungan berkelanjutan. Kalau large scale harga pasti lebih turun,” kata Enny.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi seharusnya pemerintah bisa memaksa industri dan masyarakat untuk bisa memakai bahan bakar biomassa ini. Menurut Enny, teknologi pemanfaatan biomasa non-pati tersebut memiliki keunggulan nilai efisiensi ekonomi.

BACA JUGA: Tanaman Sorgum Berpeluang Dijadikan Energi Alternatif Biomassa

Sementara itu, Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI sekaligus Manajer Proyek Biorefineri, Yopi, menjelaskan, untuk mewujudkan produksi energi alternatif dari biomasa yang lebih murah dan efisien, peneliti LIPI telah bekerjasama dalam konsorsium melaksanakan riset biorefineri terpadu.

“Konsorsium ini terdiri dari LIPI yakni Pusat Penelitian Bioteknologi, Pusat Penelitian Biologi, Pusat Penelitian Biomaterial, dan Pusat Penelitian Kimia dengan dukungan dari program JST-JICA SATREPS Project,” kata Yopi.

Saat ini salah satu fokus riset yang sedang dikerjakan adalah pengembangan biorefineri terpadu dengan dasar pemanfaatan biomassa dari industri kelapa sawit dan tebu untuk produksi bioetanol dan bioplastik dengan menggunakan mikroba lokal. Yopi menungkapkan, melalui hasil riset terpadu konsorsium ini Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI mendapatkan sertifikat sebagai Pusat Unggulan Iptek Biorefineri Terpadu dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

“Kami berharap teknologi biorefineri terus dikembangkan melalui jalinan kerja sama riset yang lebih luas. Selain itu, kami berharap mampu meningkatkan kerja sama dan berbagi pengetahuan terkait bidang bioproses biorefineri antara sesama peneliti Indonesia maupun peneliti luar negeri serta sektor industri,” pungkas Yopi.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/lipi-tawarkan-teknologi-biorefeneri-untuk-alternatif-bahan-bakar-fosil/feed/ 0
Tanaman Sorgum Berpeluang Dijadikan Energi Alternatif Biomassa https://www.greeners.co/berita/tanaman-sorgum-berpeluang-dijadikan-energi-alternatif-biomassa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tanaman-sorgum-berpeluang-dijadikan-energi-alternatif-biomassa https://www.greeners.co/berita/tanaman-sorgum-berpeluang-dijadikan-energi-alternatif-biomassa/#respond Wed, 21 Mar 2018 10:45:50 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20232 LIPI bekerjasama dengan Jepang membentuk SATREPS (Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development) untuk mengembangkan tanaman sorgum menjadi energi alternatif biomassa.]]>

Jakarta (Greeners) – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Jepang membentuk SATREPS (Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development). Program penelitian ini untuk mengembangkan tanaman sorgum menjadi energi alternatif biomassa dan digadang-gadang bisa menggantikan minyak bumi yang semakin berkurang jumlahnya.

I Made Sudiana, Peneliti Utama Pusat Biologi LIPI, mengatakan, saat ini ada 20 juta hektar lahan marjinal dimana sebagian besar adalah padang alang-alang yang belum bisa dimanfaatkan dengan baik. Maka dari itu, LIPI bekerjasama dengan Kyoto University memilih sorgum untuk dikembangkan menjadi energi biomassa karena tanaman ini mampu tumbuh pada lahan kering marjinal.

“Salah satunya dan yang paling mungkin adalah menggunakan atau menanam tanaman sorgum karena sorgum dapat tumbuh cepat, tahan terhadap kekeringan, dan dapat tumbuh di lahan kritis. Sorgum juga dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan seperti pangan, kesehatan, partikel bahan bangunan, dan menjadi biopelet energi biomasa yang energinya sangat tinggi karena memiliki linen 20 persen hingga 30 persen,” ujar Made pada konferensi pers Equipment Handover Ceremony di Laboratorium Treub, Kebun Raya LIPI, Bogor, Rabu (21/03/2018).

BACA JUGA: Alih Fungsi Lahan Ancam Ketahanan Pangan Sektor Perikanan dan Pertanian

Selain itu, pengembangan tanaman sorgum ini bisa mengembalikan keragaman pangan masyarakat tempo dulu yang sering mengkonsumsi sorgum sebagai makanan pokok terutama di daerah Nusa Tenggara Timur. Saat ini sorgum sudah sedikit ditanam masyarakat dan sulit ditemukan.

tanaman sorgum

Sorgum (Sorghum spp.). Foto: greeners.co/Dewi Purningsih

“Pemanfaatan sorgum untuk biomassa hanya diambil pada batang sorgum yang diperas mirip seperti tebu, lalu niranya diambil. Di NTT saya sudah menemukan satu koperasi yang bisa membuat bioetanol menggunakan sorgum yang dijadikan alkohol dan distribusikan ke apotek-apotek. Setelah itu ampas dari perasan itu bisa dijadikan biomaterial,” kata Arief Noor, Peneliti Nutrisi Tanaman LIPI.

Made menambahkan, proses tanaman sorgum untuk dijadikan biomasa ini masih panjang karena fase pertama baru akan selesai pada tahun 2021. LIPI sendiri sudah mengerjakan proses penelitian sejak tahun 2010 dan baru tahun 2018 ini dikembangkan kedalam teknologi. Proyek ini diharapkan menghasilkan model rektifikasi yang berkelanjutan.

BACA JUGA: Mengubah Pangan dapat Mengantisipasi Perubahan Iklim

Kepala PKT Kebun Raya LIPI, Dr. Didik Widyatmoko menambahkan bahwa selain penelitian, pada proyek SATREPS ini juga dilakukan kegiatan peningkatan kapasitas peneliti melalui studi lanjut, pelatihan, penyelenggaraan konferensi baik di Indonesia maupun di Jepang, penyediaan bahan-bahan penelitian, serta sumbangan alat laboratorium dari Pemerintah Jepang kepada Institusi di Indonesia melalui skema pendanaan JICA.

“Tujuan lain kegiatan SATREPS ini adalah melakukan revitalisasi laboratorium Treub, dimana dalam sejarah panjangnya sejak didirikan pada 30 Mei 1868 telah menghasilkan berbagai penemuan-penemuan yang signifikan bagi ilmu pengetahuan botani,” tutur Didik.

Didik melanjutkan, hingga tahun 2018 telah disumbangkan 53 alat-alat laboratorium untuk kegiatan SATREPS yang secara resmi akan diserahterimakan kepada LIPI. Alat-alat tersebut diantaranya adalah PCR machine, Photosynthetic Ratemeter, Atomic Absorption Spectrometer, Microplate Reader, serta Hydraulic Compression Molding Machine. Alat-alat tersebut telah diinstal di beberapa laboratorium di LIPI khususnya di Kedeputian Ilmu Pengetahuan Hayati.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/tanaman-sorgum-berpeluang-dijadikan-energi-alternatif-biomassa/feed/ 0
Energi Alternatif dari Baterai Laptop https://www.greeners.co/ide-inovasi/energi-alternatif-baterai-laptop/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=energi-alternatif-baterai-laptop https://www.greeners.co/ide-inovasi/energi-alternatif-baterai-laptop/#respond Thu, 31 Aug 2017 10:43:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=18422 Bagi sebagian orang, Tesla Powerwall masih terlalu mahal untuk dijangkau. Hal tersebut membuat banyak orang berkreasi dengan menciptakan Powerwall buatan mereka sendiri; menggunakan baterai laptop bekas.]]>

Dua tahun lalu, perusahaan Tesla telah meluncurkan Tesla Powerwall, ruang penyimpanan baterai berkapasitas tinggi yang bisa digunakan untuk mengaliri listrik dalam satu rumah. CEO Tesla Elon Musk mengatakan jika teknologi Powerwall ini bisa digunakan untuk mengubah cara dunia dalam mengonsumsi energi.

Sayangnya bagi sebagian orang, Tesla Powerwall masih terlalu mahal untuk dijangkau. Hal tersebut membuat banyak orang berkreasi dengan menciptakan Powerwall buatan mereka sendiri; menggunakan baterai laptop bekas.

Dipertemukan dalam forum diypowerwalls.com juga media sosial, masyarakat bisa belajar cara membuat Powerwall versi mereka dengan aman dan tentu saja, lebih murah dari Powerwall buatan Elon Musk.

Dilansir Inhabitat, Jehu Garcia selaku salah satu pembuat Powerwall mengatakan, “ini adalah masa depan, ini sederhana, bersih, efisien, dan sangat kuat.” Beberapa Powerwall DIY (do-it-yourself) yang diciptakan mampu menyimpan energi lebih besar dari Tesla Powerwall.

energi alternatif

Foto: Inhabitat.com

Bahkan pengguna bernama Glubux didalam forum mengklaim, Powerwall-nya bisa menyimpan 28 kWh energi. “Aku menjalankan listrik rumah menggunakan itu, faktanya bahkan aku membeli oven elektrik, dan alat masak induksi untuk menghabiskan energi yang tersisa pada musim panas,” tulis Glubux seperti dikutip Vice.

Mayoritas pehobi Powerwall menyarankan untuk menggunakan baterai lithium-ion 18650 untuk memulai proyek DIY. Baterai tersebut biasanya dibungkus dengan plastik warna-warni dan bisa ditemukan didalam berbagai macam elektronik, seperti laptop atau komputer jinjing misalnya.

Efek positif dari tren membuat Powerwall adalah mengurangi limbah. Menurut CEO Call2Recycle Carl E. Smith, sekiranya 95% dari baterai konsumer yang dijual di AS tidak didaur ulang dan hanya dibuang saja.

“Semua baterai seharusnya bisa didaur ulang menjadi produk sekunder yang berharga dan ini menjadi alasan mengapa kita tidak boleh membuang baterai,” tutup Smith.

Penulis: MFA/G41

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/energi-alternatif-baterai-laptop/feed/ 0
Dari Mayones Menjadi Energi https://www.greeners.co/ide-inovasi/mayones-menjadi-energi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mayones-menjadi-energi https://www.greeners.co/ide-inovasi/mayones-menjadi-energi/#respond Mon, 26 Jun 2017 10:10:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=17469 Universitas Michigan mengahadapi masalah pelik pada akhir 2016 lalu, sekitar 500 botol mayones berukuran 2,5 galon, yang ada di dapur kampus tidak dapat dikonsumsi. Untuk dibuang saja jumlahnya terlalu banyak.]]>

Universitas Michigan dihadapkan pada masalah pelik di akhir tahun 2016. Temperatur dingin merusak penyimpanan mayones di dapur universitas dan merusak isinya. Sekitar 500 botol berukuran 2,5 galon, tidak dapat dikonsumsi.

Lazimnya pihak universitas akan mendonasikan makanan yang kondisinya sudah tidak begitu segar pada bank makanan lokal. Namun karena kali itu kualitasnya sangat jelek dan dalam jumlah yang begitu banyak, mereka harus mencari solusi lain. Untuk dibuang saja pun jumlahnya sudah terlalu banyak.

Untungnya sekolah tersebut memiliki pegawai-pegawai yang bertugas di bidang keberlanjutan. Mereka mengutarakan ide brilian sehubungan dengan sampah tersebut. Universitas Michigan memiliki sebuah digester anaerob yang berfungsi memberikan energi untuk kebun mereka dan beberapa bangunan di selatan kampus. Kandungan gula dan lemak di dalam mayones tersebut merupakan bahan yang sempurna untuk digester yang memproses ribuan ton sampah makanan tiap tahunnya.

mayones

Foto: Michigan State University via Treehugger.com

Menurut pejabat Culinary Services Sustainability di Universitas Michingan, Cole Gude, keputusan untuk menggunakan mayones sebagai energi merupakan langkah relatif mudah. “Situasi yang sempurna yang bisa mengubah bencana menjadi sesuatu hal yang positif bagi kampus,” katanya.

Dalam satu hari, tim yang terdiri dari 12 orang menghabiskan waktu sebanyak 8 jam membuang isi botol ke dalam tempat pengumpulan sampah digester. Setelah menuangkan semua mayones tersebut, tim tersebut harus membawa kembali botolnya ke dalam sebuah dapur untuk membersihkan semua sisa mayones sehingga botol-botol plastik tersebut bisa diserahkan ke tempat daur ulang.

Carla Lansiti, pegawai Residential and Hospitality Service Sustainability, menuturkan, “mayones ada di mana-mana, di karpet dan di semua baju para pekerja. Hal tersebut adalah satu hal yang belum bisa kami antisipasi.”

Walaupun memakan banyak waktu dan tenaga, tim itu bernafas lega karena hasil kerja mereka telah memberikan sumbangsih yang positif bagi kampus. Untuk beberapa saat, kampus tersebut dijalankan dengan menggunakan energi dari mayones.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mayones-menjadi-energi/feed/ 0
“Bunga Matahari” Penghasil Listrik dan Panas https://www.greeners.co/ide-inovasi/bunga-matahari-penghasil-listrik-dan-panas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bunga-matahari-penghasil-listrik-dan-panas https://www.greeners.co/ide-inovasi/bunga-matahari-penghasil-listrik-dan-panas/#respond Fri, 01 Jul 2016 08:34:56 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=14144 Selayaknya bunga matahari, Solar Sunflower bergerak mengikuti sinar matahari dan mendinginkan dirinya sendiri dengan memompa air melalui saluran yang ada di dalamnya.]]>

Inovasi terbaru yang berhubungan dengan tenaga surya datang dari para peneliti Swiss yang bekerja untuk Airlight Energy dan IBM Research di Zurich. Hasil temuan mereka disebut Solar Sunflower. Seperti namanya (sunflower berarti bunga matahari), alat ini dapat bergerak mengikuti sinar matahari dan mendinginkan dirinya sendiri dengan memompa air melalui saluran yang ada di dalamnya, seperti tumbuhan.

Terlepas dari bentuknya yang indah, Solar Sunflower menggunakan beberapa teknologi inovatif lainnya. Salah satunya adalah HCPVT (sel surya dengan efisiensi yang tinggi) yang berfungsi menghasilkan listrik dan air panas. Pada dasarnya, metode ini memanfaatkan reflektor untuk memusatkan cahaya matahari dan mengubahnya menjadi listrik.

Kemampuan alat ini memusatkan energi matahari hanya mengandalkan reflektor yang diatur sudutnya sehingga menghasilkan “5.000 matahari”. Pengujian pernah dilakukan untuk memusatkan cahaya matahari dengan alat ini, hasilnya panas yang dihasilkan bisa membuat lubang pada logam. Kemampuan Solar Sunflower mengatasi panas yang sangat tinggi inilah yang membedakannya dengan produk-produk sejenis.

Sel foto yang digunakan oleh Sunflower memiliki tempatur maksimal sebesar 105 derajat Celcius, yang sebenarnya jauh daripada temperatur yang diperlukan untuk membuat lubang pada logam. Untuk mengatasinya, Sunflower menggunakan sistem pendingin berbasis air yang dipompa ke bagian belakang sel surya tersebut sehingga meredam panas.

Yang menarik dan inovatif dari alat ini adalah air panas yang dihasilkan kemudian diubah juga menjadi sumber daya untuk menghangatkan rumah atau dialirkan pada sistem industri lainnya. Hasilnya adalah sebuah alat yang bisa memproduksi 12 kilowatt energi listrik dan 21 kilowatt energi panas.

Walaupun energi sebesar itu hanya cukup untuk dipakai beberapa rumah saja, namun teknologi ini sangat efisien. Satu-satunya kendala adalah biayanya yang sangat tinggi. Sel surya dari galiium-arsenida yang digunakan pada alat ini walaupun sangat efisien namun tidaklah murah.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/bunga-matahari-penghasil-listrik-dan-panas/feed/ 0
Bahan Bakar Kendaraan dari Kotoran Manusia https://www.greeners.co/ide-inovasi/bahan-bakar-kendaraan-dari-kotoran-manusia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bahan-bakar-kendaraan-dari-kotoran-manusia https://www.greeners.co/ide-inovasi/bahan-bakar-kendaraan-dari-kotoran-manusia/#respond Wed, 27 Jan 2016 08:35:09 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=12657 Salah satu kota di Amerika mulai unjuk gigi perihal penerapan biogas. Kota Grand Junction di Kolorado telah mengkonversikan kotoran manusia menjadi bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan energi 40 kendaraan di kotanya.]]>

Berbicara tentang energi terbarukan sebenarnya tidak serumit yang kita bayangnya. Materinya ada di sekeliling kita. Kita mengenal biogas, energi yang berasal dari gas alam yang keluar dari kotoran binatang dan manusia.

Sudah banyak usaha dari pemerintah maupun pihak swasta yang menggunakan peralatan pengurai anaerobik untuk mengubah limbah menjadi biogas. Namun biasanya hanya digunakan sebagai bahan bakar seperti kompor, yang selama ini dianggap sebagai metode rendah emisi untuk menghilangkan gas metana dan gas-gas lain yang dihasilkan dari limbah. Tapi pada dasarnya, gas alam ini merupakan solusi yang baik untuk bahan bakar kendaraan dan semua alat-alat listrik yang kita pakai sehari-hari, bukan hanya kompor.

Salah satu kota di Amerika mulai unjuk gigi perihal penerapan biogas. Kota Grand Junction di Kolorado telah mengkonversikan kotoran manusia menjadi bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan energi 40 kendaraan di kotanya. Proses untuk mengolah limbah menjadi bahan bakar untuk kendaraan truk tersebut jauh lebih canggih dan harus melalui beberapa langkah tambahan.

Setelah pengurai anaerobik memecahkan unsur-unsur organik di dalam limbah, biogas hasil penguraian bisa ditingkatkan lagi menjadi biometana. Dengan cara ini, gas yang dihasilkan bisa dipakai untuk berbagai aplikasi energi.

Stasiun pengisian bahan bakar biometana di kota Grand Junction, Kolorado, Amerika. Foto: inhabitat.com via gjcity.org

Stasiun pengisian bahan bakar biometana di kota Grand Junction, Kolorado, Amerika. Foto: inhabitat.com via gjcity.org

Dengan menangkap dan membersihkan biogas yang masih mentah menjadi energi yang bisa digunakan, IPAL Persigo di kota Grand Junction mampu menangkap kesempatan yang selama ini terlupakan. Mereka bahkan mengklaim bahwa mereka yang pertama kali melakukannya di Amerika.

“Setahu kami, kami lah satu-satunya pemerintahan kota yang mempunyai pengolahan limbah dengan hasil produksi biogas yang dijadikan bahan bakar untuk kendaraan,” ungkap Dan Tonello, manajer layanan pengolahan limbah di Persigo seperti dikutip dari laman Inhabitat yang dilansir dalam situs The Guardian.

Saat ini, bahan bakar kotoran manusia tersebut digunakan untuk menjalankan truk sampah, mobil penyapu jalan dan bis-bis transit.

Menurut Bret Guillory, ahli utilitas di kota Grand Junction, mengkonversikan kotoran manusia menjadi bahan bakar telah mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 80 persen. Proyek yang menghabiskan biaya sebanyak 2,8 juta dollar selama 10 tahun ini, bukan saja sebuah kemenangan terhadap perjuangan lingkungan tapi juga bertujuan untuk mengurangi pengeluaran kota.

Suatu saat proyek ini akan membayar sendiri pengeluarannya dalam tujuh tahun ke depan dan ini menunjukkan angka investasi yang baik.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/bahan-bakar-kendaraan-dari-kotoran-manusia/feed/ 0
Memanfaatkan Energi Matahari https://www.greeners.co/ide-inovasi/memanfaatkan-energi-matahari/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=memanfaatkan-energi-matahari https://www.greeners.co/ide-inovasi/memanfaatkan-energi-matahari/#respond Mon, 18 Jan 2016 11:04:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=12559 Sinar matahari merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang sangat melimpah, khususnya di daerah tropis. Ada banyak cara untuk memanfaatkan sinar matahari. Ini diantaranya.]]>

Sinar matahari merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang sangat melimpah, khususnya di daerah tropis. Ada banyak cara untuk memanfaatkan sinar matahari. Situs greenlivingonline.com melansir beberapa ide menarik seputar pemanfaatan sinar matahari. Simak ulasannya berikut ini.

Ilustrasi: pixabay.com

Ilustrasi: pixabay.com

1. Mengolah Air

Program SolarBC memanfaatkan tabung atau plat datar untuk mengumpulkan panas matahari. Dengan investasi sebesar 6,800 dolar, mekanisme ini akan menyediakan 100 persen kebutuhan air panas di musim panas dan sekitar 40 persen di musim dingin.

Di negara tropis, dimana suplai air tidak aman untuk langsung diminum, sinar matahari juga dapat dimanfaatkan sebagai disinfektan. Metode SODIS menawarkan cara yang sederhana dengan menyimpan air ke dalam botol plastik dan menjemurnya paling tidak selama 6 jam. Sinar ultraviolet dari matahari akan membunuh bakteri dan organisme dalam air.

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/memanfaatkan-energi-matahari/feed/ 0
Bus Sekolah Bertransformasi Menjadi Rumah Mungil Bertenaga Surya https://www.greeners.co/ide-inovasi/bus-sekolah-bertransformasi-menjadi-rumah-mungil-bertenaga-surya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bus-sekolah-bertransformasi-menjadi-rumah-mungil-bertenaga-surya https://www.greeners.co/ide-inovasi/bus-sekolah-bertransformasi-menjadi-rumah-mungil-bertenaga-surya/#respond Wed, 06 Jan 2016 10:40:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=12454 Patrick Schmidt membeli sebuah bus sekolah tua dan mengubahnya menjadi sebuah rumah kecil berjalan yang ramah lingkungan.]]>

Ayah dan anak yang kompak ini baru saja mengubah sebuah bus sekolah menjadi rumah mungil ramah lingkungan. Bagaimana ceritanya? Seperti dirilis dalam Inhabitots, Patrick Schmidt membeli sebuah bus sekolah tua dan mengubahnya menjadi sebuah rumah kecil berjalan. Dalam bis tersebut terdapat kamar tidur, ruang keluarga, dapur dan kamar mandi. Patrick mewujudkan proyek ini bersama ayahnya dan memberi nama rumah barunya: Skoolielove.

Pada awalnya, Patrick yang berasal dari Kalifornia, Amerika, tersebut bertualang menjelajah negaranya dengan mengendarai International School Bus keluaran tahun 1990. Ia berkelana ke lebih dari 30 negara bagian di Amerika dan berhasil menempuh jarak 16.000 kilometer.

Kondisi di dalam bus sebelum direnovasi (kiri) dan sesudah di renovasi (kanan). Foto: inhabitots.com

Kondisi di dalam bus sebelum direnovasi (kiri) dan sesudah di renovasi (kanan). Foto: inhabitots.com

Dihadapkan pada kemungkinan tidak mendapat pekerjaan, Schmidt kemudian memutuskan untuk mengubah keberuntungannya saat bis sekolah tua ini dilelang dengan harga 4500 dolar. Kemudian selama tiga bulan berikutnya, ayah dan anak ini mendesain ulang bis tersebut dan mengubahnya menjadi rumah impian yang ramah lingkungan.

Biaya renovasi bus ini menghabiskan dana hampir 9.000 dolar namun dengan fitur-fitur seperti pencahayaan dari lampu LED dan panel surya di bagian atap, rumah kecil ini bisa menghemat uang dan energi selama perjalanannya.

Bus yang kini menjadi rumah Patrick Schmidt dilengkapi panel surya, konverter dan baterai. Foto: inhabitots.com

Bus yang kini menjadi rumah Patrick Schmidt dilengkapi panel surya, konverter dan baterai. Foto: inhabitots.com

Langkah pertama yang mereka lakukan adalah membuang semua tempat duduk penumpang untuk memberikan tempat bagi ruang-ruang yang akan dibuat. Atap bis yang melengkung kemudian diberikan insulasi penahan panas agar temperatur di dalam bis tetap nyaman sepanjang tahun.

Ruangan kemudian dibagi-bagi berdasarkan denah yang mereka buat; kamar mandi, kamar tidur dan dapur yang merangkap tempat makan. Lampu LED berwarna ditambahkan untuk memberikan suasana yang nyaman, begitu juga jamban dan pancuran kecil serta tempat cuci piring di dapur.

Konsep ramah lingkungan menjadi ide yang ditonjolkan. Maka dari itu, atap bus diubah menjadi panel surya, termasuk di dalamnya disiapkan konverter dan baterai sehingga rumah kecil ini bisa terbebas dari jaringan listrik. Skoolielove bisa ditemukan menjelajah Amerika dan memberikan Patrick Schmidt kebebasan yang dikombinasikan dengan kenyamanan sebuah rumah.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/bus-sekolah-bertransformasi-menjadi-rumah-mungil-bertenaga-surya/feed/ 0
Persepsi yang Keliru Hambat Perkembangan Proyek Energi Terbarukan https://www.greeners.co/berita/persepsi-yang-keliru-hambat-perkembangan-proyek-energi-terbarukan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=persepsi-yang-keliru-hambat-perkembangan-proyek-energi-terbarukan https://www.greeners.co/berita/persepsi-yang-keliru-hambat-perkembangan-proyek-energi-terbarukan/#respond Mon, 28 Dec 2015 04:12:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12372 Kemen ESDM menyatakan, persepsi masyarakat yang menganggap energi terbarukan adalah barang mahal dan masyarakat yang sudah nyaman terhadap penggunaan subsidi BBM membuat pengerjaan energi terbarukan di Indonesia menjadi sulit untuk berkembang.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kemen ESDM) menyatakan, persepsi masyarakat yang menganggap energi terbarukan adalah barang mahal dan kondisi masyarakat yang sudah nyaman terhadap penggunaan subsidi dari Bahan Bakar Minyak (BBM) membuat pengerjaan energi terbarukan di Indonesia menjadi sulit untuk berkembang.

Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM Maritje Hutapea menyatakan, dari persepsi yang keliru ini, banyak masyarakat yang akhirnya membandingkan antara penggunaan energi terbarukan dan energi fosil. Rasa nyaman akibat subsidi dari energi fosil membuat masyarakat merasa penggunaan energi kotor tersebut jauh lebih murah.

“Padahal, jika dijabarkan antara energi terbarukan dan energi fosil yang disubsidi, energi terbarukan sebenarnya jauh lebih murah,” ujarnya saat menjadi pembicara di acara “Workshop Jurnalistik Energi Terbarukan dan Pembangunan Berkelanjutan” di Sentul, Rabu (23/12).

Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM, Maritje Hutapea. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM, Maritje Hutapea. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Selain itu, kendala utama lain yang menyebabkan pemanfaatan energi terbarukan berjalan lamban juga dipengaruhi oleh sikap Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang berperan sebagai single off taker terkesan enggan membeli listrik dari pembangkit panas bumi dengan alasan tarif yang masih tinggi.

Dalam negosiasi yang masih berjalan alot antara pengembang energi terbarukan, PLN selalu menawar di bawah harga keekonomian perusahaan energi terbarukan karena berpatokan pada harga batubara yang saat ini sedang melemah.

“Karena itulah kami memberlakukan skema feed-in-tariff dan ceiling price di mana dalam skema ini telah dihitung penentuan tarif berdasarkan kapasitas, sehingga PLN dan pengusaha bisa menerimanya,” tambah Maritje.

Selain itu, skema ini diharapkan dapat menjadikan target 7,1 Gigawatt pembangkit panas bumi yang telah digagas bisa tercapai pada tahun 2025 mendatang. PLN, imbuhnya, harus menerima skema feed-in-tariff ini karena merupakan penugasan negara dan sebagai jalan keluar dari alotnya negosiasi harga yang sedang berlangsung.

Menurut Maritje, selama ini PLN sulit membeli listrik dari produksi panas bumi dengan harga baik karena alasan regulasi UU BUMN yang mengharuskan PLN melakukan sejumlah efisiensi. Akan menjadi pertanyaan jika membeli listrik di atas harga jual rata-rata Rp 1.200/kwh.

Pada kesempatan yang sama, Anggota Dewan Energi Nasional yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Geothermal, Abadi Purnama mengatakan bahwa sasaran kebijakan dalam Rencana Umum Energi Nasional juga termasuk dalam mengubah paradigma energi yang selama ini melekat di masyarakat.

Ditambah lagi, dari sisi penerimaan negara, sektor energi dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Ia memberikan contoh, hingga saat ini, pemanfaatan panas bumi di Indonesia hanya sebesar 2.000 MW atau lima persen dari 40 persen cadangan energi yang ada.

“Sudah seyogiyanya keberadaan energi nasional diperuntukkan untuk kemakmuran rakyat. Karena untuk menjalankan program kemandirian energi, sektor energi baru terbarukanlah jawabannya,” tandasnya.

Sebagai informasi, sebelumnya, Menteri ESDM Sudirman Said dalam konferensi pers menyatakan bahwa pemerintah bersungguh-sungguh akan menempatkan energi baru-terbarukan sebagai kekuatan sumber energi nasional dan menargetkan penggunaannya sebesar 23 persen pada 2025.

Menurut Sudirman, Kementerian PPN/Bappenas juga telah memasukkan dana energi ke dalam perencanaan. Ia menambahkan bahwa seluruh wakil pemerintah dan kepentingan juga akan mempercepat pembangunan energi terbarukan dan serius dalam mengurus permintaan energi.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/persepsi-yang-keliru-hambat-perkembangan-proyek-energi-terbarukan/feed/ 0
Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya Tercepat di Afrika https://www.greeners.co/ide-inovasi/proyek-pembangkit-listrik-tenaga-surya-tercepat-di-afrika/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=proyek-pembangkit-listrik-tenaga-surya-tercepat-di-afrika https://www.greeners.co/ide-inovasi/proyek-pembangkit-listrik-tenaga-surya-tercepat-di-afrika/#respond Tue, 22 Dec 2015 09:38:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=12334 Saat ini Rwanda menjadi perhatian karena keberhasilannya menjadi negara yang mampu membangun pembangkit listrik tenaga surya tercepat di benua Afrika.]]>

Rwanda mungkin lebih dikenal sebagai negara di Afrika yang pernah dikoyak perang saudara. Namun, saat ini Rwanda menjadi perhatian karena keberhasilannya menjadi negara yang mampu membangun pembangkit listrik tenaga surya tercepat di benua tersebut.

Seperti dikutip dari inhabitat.com, pembangkit tersebut terletak di bukit hijau yang terkenal, sekitar 90 kilometer sebelah timur ibukota Rwanda, Kigali. Dengan kapasitas 8,5 Megawatt, pembangkit ini memenuhi kebutuhan listrik untuk 1.400 rumah di Amerika Serikat.

Untuk daerah pedesaan seperti di Rwanda, jumlah energi yang sama bisa menghasilkan dampak yang jauh lebih luas. Namun bukan ukuran proyeknya yang membuat kritikus tercengang, tapi kecepatan konstruksinyalah yang membuat mereka terkesima. Keseluruhan proyek pembangkit listrik senilai US$24 juta dikerjakan mulai dari kontrak sampai penyambungan listrik hanya dalam satu tahun saja.

Proyek pembangkit listrik tenaga surya di Rwanda. Foto: Sameer Halai/SunFunder/Gigawatt Global

Proyek pembangkit listrik tenaga surya di Rwanda. Foto: Sameer Halai/SunFunder/Gigawatt Global

Panel surya ini dirancang dengan bentuk benua Afrika, sebuah simbol yang mengindikasikan bahwa gerakan menuju energi bersih ini tidak hanya untuk keuntungan rakyat Rwanda saja tapi juga sebagai masa depan semua orang di Afrika.

Berlawanan dengan pembangkit surya pada umumnya, dimana panel surya diam tidak bergerak, panel surya di Rwanda menggunakan komputer untuk mengontrol pergerakannya dan menempatkan panel surya tersebut pada sudut yang tepat dan dapat mengikuti pergerakan matahari. Model panel surya ini juga menghasilkan 20 persen energi lebih banyak dibanding panel surya biasa.

Rwanda merupakan negara berkembang yang bergantung pada dukungan internasional untuk membuat proyek ini menjadi kenyataan. Pemerintah Rwanda telah bekerjasama dengan Gigawatt Global, Norfund dan Scatec Solar, yang didukung oleh inisiatif Presiden Barrack Obama sebagai bagian dari program Power Africa. Konstruksi dimulai pada bulan Februari 2014 dan hanya membutuhkan waktu 5 bulan untuk penyelesaiannya. Pembangkit ini mulai beroperasi pada bulan Juli 2014.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/proyek-pembangkit-listrik-tenaga-surya-tercepat-di-afrika/feed/ 0