fashion ramah lingkungan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/fashion-ramah-lingkungan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 14 May 2019 06:09:21 +0000 id hourly 1 Kooshoo Ciptakan Ikat Rambut Bebas Plastik Pertama di Dunia https://www.greeners.co/gaya-hidup/kooshoo-ciptakan-ikat-rambut-bebas-plastik-pertama-di-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kooshoo-ciptakan-ikat-rambut-bebas-plastik-pertama-di-dunia https://www.greeners.co/gaya-hidup/kooshoo-ciptakan-ikat-rambut-bebas-plastik-pertama-di-dunia/#respond Sun, 12 May 2019 07:37:16 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=23312 Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan limbah plastik di seluruh dunia, ternyata lebih dari 20.000 pon (sekitar 9 kilogram) produk terkait rambut yang terbuat dari plastik seringkali berakhir di tempat sampah setiap harinya.]]>

Penggunaan benda seperti ikat rambut seringkali dianggap remeh karena ukurannya yang kecil. Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan limbah plastik di seluruh dunia, ternyata lebih dari 20.000 pon (sekitar 9 kilogram) produk terkait rambut yang terbuat dari plastik seringkali berakhir di tempat sampah setiap harinya. Menjawab permasalahan ini, sepasang suami istri dan guru yoga asal Kanada terinspirasi untuk menciptakan ikat rambut organik yang terbuat dari bahan kapas dan karet.

Dilansir dari Inhabitat, Jesse dan Rachel berhasil menciptakan ikat rambut bebas plastik dan ramah lingkungan pertama di dunia yang sepenuhnya dapat terurai secara hayati. Mereka kemudian mendirikan Kooshoo pada 19 April 2011 di Victoria, Kanada.

Melalui Kooshoo, Jesse dan Rachel menciptakan produk organik untuk mencapai tujuan keberlanjutan. Tujuan mereka adalah menciptakan model bisnis dengan pemikiran berkelanjutan. Melalui ikat rambut organik buatannya, mereka berharap dapat memimpin perubahan dalam industri fashion yang bebas plastik.

kooshoo

Foto: Koshoo via inhabitat.com

Tali ikat rambut Kooshoo terdiri dari bahan karet alam dan kapas organik yang telah disertifikasi oleh GOTS (Global Organic Textile Standard). Sertifikasi ini merupakan standar dunia tekstil terkemuka untuk pengolahan serat organik, termasuk kriteria ekologi dan sosial, dan didukung oleh sertifikasi independen dari keseluruhan rantai pasokan tekstil.

Dalam proses pembuatannya Kooshoo mempertimbangkan kelestarian produknya agar lebih baik bagi lingkungan. Setiap ikat rambut buatan mereka terdiri dari 25 persen karet alam dan kapas yang ditanam tanpa menggunakan pestisida beracun. Dibandingkan dengan ikat rambut konvensional yang mengandung plastik, ikat rambut buatan Kooshoo jauh lebih berkelanjutan. Ikat rambut ini cukup aman dikenakan oleh orang yang memiliki rambut tebal dan tetap lembut di kepala.

Ikat rambut Kooshoo dapat dibiodegradasi karena terbuat dari bahan organik. Jika ikat rambutnya diletakkan di tumpukan kompos, sekitar 75 persen bahan organik yang terdapat pada produk akan mulai terurai dalam waktu kurang dari satu tahun. Mikroorganisme akan memakan bahan organik yang terdapat pada ikat rambut ini sampai tidak ada yang tersisa.

Menurut sebuah artikel baru-baru ini yang diterbitkan oleh Kooshoo, jika ikat rambut ini hilang di dalam air dibutuhkan waktu dua kali lipat agar ikat rambutnya terurai sepenuhnya. Para ilmuwan memperkirakan bahwa ikat rambut berkelanjutan ini membutuhkan waktu sekitar 14 tahun untuk terurai dalam air dan tanpa meninggalkan jejak sama sekali.

kooshoo

Foto: Koshoo via inhabitat.com

Ikat rambut Kooshoo dibuat oleh pengrajin yang terlatih secara khusus di California, namun untuk pembuatan desain dan pengujiannya dilakukan di Kanada. Bahan-bahan ikat rambut ini dikirim ke toko-toko lokal di Los Angeles, tempat dimana para pekerja memotong, menenun, menjahit dan mewarnai ikatan sebelum mendistribusikannya di seluruh dunia.

Kooshoo menawarkan bermacam-macam ikat rambut bebas plastik dengan berbagai skema warna per paknya dengan harga jual mulai dari 15 dolar. Selain ikat rambut, Kooshoo juga menjual headband organik model twist untuk pria dan wanita dan celana untuk anak-anak.

Setiap produk Kooshoo yang dijual dikemas dalam wadah dan tas pengiriman yang dapat digunakan kembali. Tujuannya untuk membantu mengurangi emisi karbon dan jumlah limbah plastik yang berada di tempat pembuangan akhir dan lautan di seluruh dunia.

Komitmen Kooshoo dalam berkelanjutan juga terlihat fasilitas rumah pewarna produknya yang sepenuhnya menggunakan energi matahari. Selain itu, perusahaan ini mendonasikan sebagian dari keuntungannya dan beberapa produknya kepada organisasi amal. Adapun bentuk donasinya seperti menyediakan tempat layanan kebugaran dan kesejahteraan bagi orang-orang di komunitas terpinggirkan. Sejauh ini, lebih dari 1.000 orang di komunitas ini diberikan akses untuk mengikuti kursus meditasi dan kelas yoga.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/kooshoo-ciptakan-ikat-rambut-bebas-plastik-pertama-di-dunia/feed/ 0
Sandal Jepit dari Manisnya Tebu https://www.greeners.co/gaya-hidup/sandal-jepit-dari-manisnya-tebu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sandal-jepit-dari-manisnya-tebu https://www.greeners.co/gaya-hidup/sandal-jepit-dari-manisnya-tebu/#respond Thu, 13 Sep 2018 09:24:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=21057 Sandal jepit umumnya terbuat dari bahan karet atau karet sintetis, namun berbeda dengan sandal Sugar Zeffer. Bahan baru yang terdapat pada sandal ini merupakan bahan non karbon pertama tanpa busa EVA (Ethylene-vinyl aceatet).]]>

Sandal jepit menjadi andalan bagi orang yang menyukai gaya berpakaian santai, simpel dan praktis. Alas kaki satu ini pun lebih praktis dikenakan ketika berlibur ke pantai atau saat berjalan-jalan.

Umumnya sandal jepit terbuat dari bahan karet atau karet sintetis namun sandal produksi Allbirds berbeda. Perusahaan asal Amerika yang memproduksi alas kaki ini ini fokus menciptakan alas kaki ramah lingkungan, salah satunya Sugar Zeffer. 

Sugar Zeffer adalah sandal dengan alas yang terbuat dari olahan tanaman tebu. Dalam situs resminya, Allbirds menyatakan bahwa tebu yang mereka gunakan berasal dari selatan Brasil dimana tebu-tebu tersebut tumbuh mengandalkan air hujan, bukan sistem irigasi. 

“Ini adalah sumber terbarukan yang dapat tumbuh dengan cepat dan menghilangkan karbon dari atmosfer dalam proses tumbuhnya,” tulis Allbirds. Material pada alas sandal ini juga diklaim sebagai bahan non karbon pertama tanpa busa EVA (Ethylene-vinyl aceatet).

Dalam proses pembuatannya, sandal tebu ini melewati beberapa tahapan. Tebu yang siap panen dipilih, dipotong, dan diperas menggunakan mesin peras tebu. Sari tebu yang dihasilkan dari perasan ini kemudian dicampur dengan ragi hingga menjadi larutan etanol. Tahapan selanjutnya adalah pemanasan, pencetakan, hingga akhirnya sandal dengan sol bertekstur empuk ini siap dipakai. 

Tebu

Foto: Allbirds

Dalam proses pembuatannya pun biomassa yang dihasilkan diekstraksi menjadi sumber energi untuk menggerakkan mesin penggiling dan untuk menyuburkan tanaman yang akan dipanen tahun berikutnya.

Tidak mengherankan jika keunggulan sandal ramah lingkungan ini menarik banyak investor, salah satunya adalah aktor dan aktivis lingkungan terkemuka Leonardo DiCaprio. Seperti yang dilansir economictimes.indiatimes.com, aktor berusia 43 tahun ini melalui akun Twitternya menulis, “bangga menjadi investor di @Allbirds, perusahaan yang berdedikasi untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan dengan mengembangkan bahan-bahan baru dan menjadi contoh bagi industri alas kaki”.

Dilansir dari laman Forbes dan Businessinsider.com, Allbirds telah mengungguli persaingan pasar mode berdasarkan kategori permintaan konsumen, mulai dari gaya, kenyamanan hingga harga. Allbirds membuktikan jika produk ramah lingkungan dan berkelanjutan ini mampu berkembang di pasaran dengan harga yang terjangkau.

Tebu

Foto: Allbirds

Desain sandal ini sederhana namun hadir dalam warna-warna cerah seperti biru, kuning, oranye, dan hitam. Sandal Sugar Zeffer dibanderol dengan harga $35. 

Berangkat dari inovasi Sugar Zeffers tersebut, Allbirds berencana akan melebarkan sayapnya di luar produksi alas kaki. Ia ingin mengembangkan teknologi ramah lingkungan dalam bidang industri lain, salah satunya adalah industri panel surya.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/sandal-jepit-dari-manisnya-tebu/feed/ 0
Kiniho, Rumah Fesyen Beretika dari Timur Laut India https://www.greeners.co/gaya-hidup/kiniho-rumah-fesyen-beretika-timur-laut-india/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kiniho-rumah-fesyen-beretika-timur-laut-india https://www.greeners.co/gaya-hidup/kiniho-rumah-fesyen-beretika-timur-laut-india/#respond Wed, 02 Aug 2017 05:09:13 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17957 Kiniho didirikan oleh Iba Mallai pada tahun 2016 di India Timur Laut. Dalam mendirikan rumah fesyennya, Iba berprinsip untuk menciptakan fesyen yang trendi namun tetap ramah terhadap kehidupan sosial dan lingkungan.]]>

Terlahir dari keluarga yang sederhana bukan menjadi penghalang bagi Iba Mallai, seseorang perancang busana asal India, untuk mengembangkan kreativitas. Meski hidup berkecukupan, Iba tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan budaya, tradisi, dan seni yang indah. India memang terkenal sebagai negara yang ‘meriah’ dalam hal fesyen, dan hal inilah yang menjadikan Iba selalu up to date akan tren mode dan gaya terbaru. Semakin hari, ketertarikan Iba terhadap dunia fesyen semakin meningkat dan pada akhirnya ia pun mendirikan label fesyen yang bernama Kiniho.

Kiniho didirikan oleh Iba pada tahun 2016 di India Timur Laut. Dalam mendirikan rumah fesyennya, Iba berprinsip untuk menciptakan fesyen yang trendi namun tetap ramah terhadap kehidupan sosial dan lingkungan.

“Bagi saya, fesyen bukan hanya tentang mengenakan pakaian yang trendi dan indah dipandang, tapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial,” ungkap Iba seperti dilansir dari Electicnortheast.com.

kiniho

Foto: Kiniho via Facebook

Dalam menciptakan produknya, Iba berkomitmen untuk menghasilkan limbah seminimal mungkin. Iba menginginkan rumah fesyennya dikenal sebagai rumah fesyen yang menjunjung prinsip eco fashion. Demi mewujudkan komitmen tersebut, Iba menciptakan semua koleksi pakaiannya secara hand made alias buatan tangan untuk meminimalisir produksi limbah pabrik yang beracun. Selain itu, Iba juga memilih pewarna kain yang alami supaya lebih ramah terhadap lingkungan.

Tak hanya ramah pada lingkungan, Iba juga ingin memajukan dan menyejahterakan kehidupan penduduk lokal India Timur Laut melalui Kiniho. Penduduk yang tinggal di Timur Laut India terkenal dengan keahliannya dalam membuat kain tenun yang terbuat dari Sutra Eri. Melalui Kiniho, Iba menginginkan kain tenun khas India Timur Laut semakin dikenal oleh khalayak luas. Maka dari itu, Iba menggunakan kain tenun khas India Timur Laut sebagai bahan baku dari pakaian yang diproduksi Kiniho.

“Kain tenun dari India Timur Laut memiliki potensi untuk berkembang di pasaran karena memiliki tampilan yang kaya dan unik. Mempromosikan kain tenun kepada khalayak luas, selain dapat mempertahankan budaya dan kearifan lokal, juga dapat meningkatkan kesempatan kerja dan dapat menopang kehidupan warga lokal di wilayah India Timur Laut,” tutur Iba.

kiniho

Foto: Kiniho via Facebook

Kiniho menghadirkan koleksi pakaian wanita yang terbuat dari kain tenun khas India Timur Laut. Terbuat dari Sutra Eri, koleksi pakaian dari Kiniho terlihat begitu mewah dan eksklusif. Kiniho memiliki koleksi pakaian wanita yang beragam, seperti blouse, celana, rok, dan one piece dress alias gaun. Dari segi desain dan motif, Kiniho memiliki pakaian yang berdesain simpel dan tidak bermotif rumit. Pakaian dari Kiniho didominasi oleh warna teduh seperti coklat, krem, putih, biru tua, dan lain sebagainya. Selain itu, Kiniho juga sering memasukkan motif garis dan kotak dalam koleksinya.

Saat ini Kiniho masih berfokus untuk membuat pakaian wanita saja, namun Iba berencana untuk membuat produk lain seperti aksesoris, tas, dan selendang dalam jangka waktu yang dekat. Bagi Iba, mendirikan Kiniho merupakan awal dari perjuangan Iba untuk menciptakan fesyen yang tetap mendukung kearifan lokal, ramah lingkungan, dan mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/kiniho-rumah-fesyen-beretika-timur-laut-india/feed/ 0
Eco-Fashion Versi Anne Hathaway https://www.greeners.co/gaya-hidup/eco-fashion-versi-anne-hathaway/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eco-fashion-versi-anne-hathaway https://www.greeners.co/gaya-hidup/eco-fashion-versi-anne-hathaway/#respond Sat, 08 Apr 2017 10:35:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16645 Konsep fesyen berkelanjutan nampaknya mulai banyak diadopsi di kalangan selebriti Hollywood. Setelah Emma Watson, kini giliran Anne Hathaway yang menjadi sorotan atas pilihan busananya yang diklaim eco-fashion.]]>

Konsep fesyen berkelanjutan nampaknya mulai banyak diadopsi di kalangan selebriti Hollywood. Selain Olivia Wilde, Gwyneth Paltrow, dan Emma Watson, kini aktris Anne Hathaway (34) juga mulai disorot atas pilihan busananya yang diklaim eco-fashion.

Pada premiere film terbarunya, Colossal, Selasa lalu (28/3), Anne Hathaway tampil mengenakan gaun hitam vintage koleksi Armani Prive musim semi tahun 2006. Gaun berwarna gelap tersebut dihiasi tulle lipit berbordir pada bagian strap. Ia melengkapi penampilannya dengan dompet tangan hitam Jean Solid dari Eddie Parker.

Pada kesempatan lainnya, Anne juga memilih mengenakan mini dress berwarna hitam yang dibeli dari pasar loak. Gaun seharga 20 dolar itu ia pamerkan pada akun instagram miliknya @annehathaway.

anne hathaway

Anne Hathaway dalam balutan gaun vintage koleksi Armani Prive musim semi tahun 2006. Foto: Ist.

Aktris pemenang penghargaan Oscar ini berkomitmen untuk mengenakan busana ramah lingungan selama tur promosi film Colossal. Namun, sebenarnya hidup dengan prinsip ramah lingkungan sudah dilakukan Anne sejak lama.

Saat menikah dengan Adam Shulman tahun 2012, Anne menginginkan pernikahan dengan konsep ‘hijau’. Keduanya menikah di Big Sur, California, yang merupakan tebing berbatu dengan pemandangan laut yang menawan. Dalam resepsi pernikahannya tersebut, Anne dan Adam menghidangkan menu vegetarian yang terbuat dari bahan lokal.

Masih di tahun yang sama, Anne terlibat dalam pembuatan film Les Miserables. Sebagai aktivis yang menentang kekejaman terhadap hewan, Anne memastikan bahwa sepatu yang digunakan dalam set film tersebut tidak terbuat dari produk hewan. Perancang kostum film berlatar Perancis tersebut, Paco Delgado, menyatakan bahwa ia harus menemukan produsen sepatu khusus untuk membuat masing-masing sepatu sesuai dengan permintaan Anne.

Setahun setelah film tersebut rilis, Anne meraih penghargaan Oscar sebagai Aktris Pendukung Terbaik melalui perannya sebagai Fantine. Pada acara tersebut, aktris ini tampak memadukan gaun Prada merah muda dengan stiletto dari Guiseppe Zanotti.

Pada tahun 2014, Anne mendeklarasikan bahwa ia tidak lagi menjalani gaya hidup sebagai vegetarian. Namun kepeduliannya terhadap lingkungan masih terus berlanjut hingga kini.

Penulis: Ayu Ratna Mutia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/eco-fashion-versi-anne-hathaway/feed/ 0
Promo Film, Emma Watson Kenakan Eco-Friendly Fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/promo-film-emma-watson-kenakan-eco-friendly-fashion/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=promo-film-emma-watson-kenakan-eco-friendly-fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/promo-film-emma-watson-kenakan-eco-friendly-fashion/#respond Mon, 13 Mar 2017 13:00:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16195 Emma Watson kembali menunjukkan dukungannya pada produk-produk fesyen "hijau". Sepanjang tur promosi film terbarunya "Beauty and The Beast", ia tampil chic dan fashionable dalam balutan busana yang diklaim ramah lingkungan.]]>

Setelah menjawab tantangan #GreenCarpetChallenge dalam acara MET Gala 2016 lalu, Emma Watson kembali menunjukkan dukungannya pada produk-produk fesyen “hijau”. Sepanjang tur promosi film terbarunya “Beauty and The Beast”, Emma tampil chic dan fashionable dalam balutan busana yang diklaim ramah lingkungan.

Untuk berbagi pengalaman selama tur kepada para penggemarnya, aktris berusia 26 tahun ini membuat akun Instagram khusus, @the_press_tour. Di kanal media sosialnya itu, ia tidak hanya mengisahkan tentang agenda promosinya, namun juga memperkenalkan eco-fashion karya beberapa desainer ternama.

Berikut ini eco-friendly fashion ala Emma Watson selama tur:

emma watson

Foto: The Press Tour/Instagram

Kota Paris, Perancis, menjadi kota pertama yang disinggahi oleh para pemain film Beauty and The Beast. Di kota yang dijuluki sebagai pusat mode dunia itu, Emma tampak mengenakan setelan monokrom dengan jas yang dipadu dengan sweter, jins dan sneakers. Baju bergaya santai yang dipakai Emma saat itu adalah kombinasi dari karya beberapa perancang.

Sebagai luaran, jas kebesaran Emma dibuat oleh Stella McCartney (@stellamccartney). Stella merupakan desainer yang berkomitmen untuk membuat produk fesyen tanpa menggunakan kulit ataupun bulu hewan. Untuk menepati janjinya itu, Stella menghabiskan beberapa tahun untuk mendaur ulang kain perca, memperbaiki bahan kasmir rusak, membuat katun dari kapas organik hingga mengembangkan bahan tekstil yang forest-friendly.

Di balik luaran hitam putih, Emma mengenakan sweter putih karya Filippa K (@filippa_k). Di Swedia, Filippa K dikenal sebagai perancang baju yang menerapkan prinsip 4R (reduce, reuse, recycle, repair) dalam setiap desainnya. Perancangan ini juga menyediakan jasa penyewaan baju dan mengumpulkan produk dari labelnya yang sudah tidak lagi digunakan. Produk bekas ini nantinya akan dijual ke toko barang bekas atau disumbangkan ke beberapa organisasi sosial.

Dibalik sweternya, Emma mengenakan kaus putih produksi Boody North America (@boodywear). Sebagai bahan dasar, Boodywear tidak menggunakan benang dari kapas, melainkan tanaman bambu yang dibudidayakan secara organik. Tanaman bambu yang memenuhi kriteria dipanen, dipintal menjadi untaian benang, kemudian dirajut menjadi potongan baju dengan teknologi 3D.

Sneakers putih yang melengkapi penampilan Emma merupakan karya Good Guys(@goodguysdontwearleather). Memiliki prinsip yang sama dengan Stella, Good Guys tidak menggunakan kulit hewan pada produknya. Label eco-fashion ini memproduksi busana kulitnya dari vegan leather, yaitu bahan kulit buatan pabrik yang disusun dari beberapa material penyusun garmen.

(berikutnya)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/promo-film-emma-watson-kenakan-eco-friendly-fashion/feed/ 0
5 Referensi Fashion Items Lokal dan Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-referensi-fashion-items-lokal-dan-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=5-referensi-fashion-items-lokal-dan-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-referensi-fashion-items-lokal-dan-ramah-lingkungan/#respond Sun, 26 Jun 2016 05:05:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=14083 Menjelang Hari Raya Lebaran, bersilaturahmi dalam busana yang ramah lingkungan akan menghadirkan nuansa yang berbeda. Bukan hanya sekadar gaya, tapi kita juga turut mendukung upaya pelestarian lingkungan.]]>

Menjelang Hari Raya Lebaran, bersilaturahmi dalam busana yang ramah lingkungan akan menghadirkan nuansa yang berbeda. Bukan hanya sekadar gaya, tapi kita juga turut mendukung upaya pelestarian lingkungan. Berikut ini lima referensi fashion items lokal sekaligus ramah lingkungan dari Greeners:

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-referensi-fashion-items-lokal-dan-ramah-lingkungan/feed/ 0
Mai-Lei Pecorari, Sentuhan ‘Artsy’ Pada Baju Lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/#respond Wed, 23 Dec 2015 09:20:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12348 Mengubah barang lama menjadi sesuatu yang dapat digunakan kembali sekaligus bernilai seni, membutuhkan lebih dari sekadar kreatifitas. Mai-Lei Pecorari menjadi salah satu desainer yang memiliki kemampuan ini. ]]>

Mengubah barang lama menjadi sesuatu yang dapat digunakan kembali sekaligus bernilai seni, membutuhkan lebih dari sekadar kreatifitas. Mai-Lei Pecorari, stylist yang kini mengubah imej menjadi desainer ini nampaknya tidak hanya kreatifitas, melainkan juga bakat. Lewat tangan wanita keturunan Jepang ini, terciptalah koleksi-koleksi “artsy” (bernilai seni) yang terangkum pada brand Kin-tsugi Goods.

Kin-tsugi Goods terinspirasi dari seni Jepang kuno yang muncul sekitar akhir abad ke 15. Saat itu, seniman istana memperbaiki keramik menjadi lebih bernilai dari sebelumnya. Inspirasi ini membuat Pecorari mengubah baju-baju lama menjadi pakaian yang dapat digunakan kembali. Ia pun ingin mengolaborasikan keterlibatan dengan dunia ramah lingkungan dan seni yang indah.

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

“Saya ingin menggabungkan antara desain estetik yang saya buat dengan keinginan saya untuk melawan cepatnya pergerakan industri fesyen,” ujar Pecorari, seperti yang dilansir dari Ecouterre.

Pecorari melihat bahwa banyak pakaian yang terbuang. Ia terobsesi untuk mencari pakaian bekas yang berkualitas bagus dan klasik di toko pakaian loak, kemudian memperbaharuinya menjadi barang fashionable-but-artsy ala Kin-tsugi.

“Saya ingin mempunyai surga ideal menurut saya, dimana konsumen hanya akan mendapatkan produk yang well-made,” tambah Pecorari.

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Kecintaannya terhadap kualitas barang-barang lama pun membuat Pecorari ingin konsumen dapat menggunakan koleksinya yang kekinian, namun berkualitas dan tahan lama selayaknya barang-barang lama yang masih bertahan bahkan hingga lebih dari 10 tahun tersebut. Semua yang dilakukannya dengan koleksi ini hanyalah dengan melakukan 100 persen mengolah baju-baju lama tersebut.

Secara desain, Pecorari memberikan aksen khas berupa corak cipratan cat pada permukaan koleksi pakaian pakaiannya. Corak tersebut menambah nilai seni pada desain-desain pakaiannya yang chic dan kasual. Pemilihan potongan yang berlayer juga dijadikan andalan oleh Percorari yang menambah kesan artsy pada setiap detail rancangannya.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/feed/ 0
Industri Fesyen Ikut “Beraksi” di Konferensi Perubahan Iklim Paris https://www.greeners.co/gaya-hidup/industri-fesyen-ikut-beraksi-konferensi-perubahan-iklim-paris/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=industri-fesyen-ikut-beraksi-konferensi-perubahan-iklim-paris https://www.greeners.co/gaya-hidup/industri-fesyen-ikut-beraksi-konferensi-perubahan-iklim-paris/#respond Tue, 08 Dec 2015 10:12:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12169 Sejumlah brand fesyen internasional menandatangani sebuah deklarasi yang mendukung pengurangan emisi dalam konferensi perubahan iklim COP 21 UNFCCC di Paris, Perancis.]]>

Kenaikan emisi gas di dunia mengakibatkan perubahan iklim tak menentu, bukan hanya di belahan Indonesia saja, tapi berdampak bagi negara lainnya. Sekitar 190 kepala negara, termasuk Indonesia, turut menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim atau Forum COP 21 UNFCCC di Paris, Perancis. Dengan bahu-membahu, diharapkan konferensi yang diselenggarakan sejak tanggal 30 November hingga 11 Desember 2015 ini, menghasilkan tindakan nyata untuk menanggulangi pemanasan global yang meningkat sebesar dua derajat Celsius.

Dilansir dari situs ecouterre.com, sejumlah brand fesyen internasional, di antaranya, Adidas, Eilen Fisher, Gap, H&M, Levi Strauss hingga VF Corp pun menandatangani sebuah deklarasi yang disampaikan melalui grup advokasi bernama Ceres untuk disampaikan dalam Forum COP21.

Eric Wiseman, CEO dari VF Company (The North Face, Timberland, Vans, dan Wrangler) mengatakan, “Perusahan kami mendukung pengurangan karbon serta efisiensi penggunaan energi untuk dampak ekonomi ke depan. Kami melakukan bagian kami sebagai bentuk kontribusi terhadap perlawanan perubahan iklim yang terjadi belakangan”.

Dalam deklarasi ini, para petinggi perusahaan fesyen ternama berjanji untuk melakukan efisiensi energi dalam kegiatan operasional mereka. Mereka menyatakan bahwa mitigasi perubahan iklim dan inovasi teknologi sangat vital untuk kesehatan dan kesejahteraan bagi pembuat maupun pemakai produk fesyen, termasuk suplai material yang dibutuhkan untuk membuat produk fesyen di masa yang akan datang.

“Kami harus melihat sisi lain dari bisnis sebagai bentuk akan perubahan. Kami punya kesempatan yang kuat untuk sama-sama membangun industri fesyen. Kesuksesan tidak semata dihitung dari segi dollar saja, tapi juga dari sisi kemanusiaan dan lingkungan,” tutur Eileen Fisher.

Selain petinggi brand fesyen ternama yang bersuara, ribuan aktivis di Perancis juga melakukan aksi demonstrasi pada Minggu (29/11) lalu. Namun aksi ini diredam oleh pemerintah Perancis mengingat kondisi darurat pasca pembomban.

Ribuan demonstran yang sebelumnya berniat bergandeng tangan dan membentuk long march, berakhir dengan menjajarkan sepatu mereka. Seperti dilansir situs The Guardian, sekitar 200 ribu pasang sepatu dijajarkan di kota Paris. Aksi ini juga dilakukan di kota-kota lain di beberapa negara, seperti Hongkong, Seoul, dan Sydney.

Penulis: DJ/G38

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/industri-fesyen-ikut-beraksi-konferensi-perubahan-iklim-paris/feed/ 0
BARE Hadirkan Koleksi Tas dari Karung Biji Kopi https://www.greeners.co/gaya-hidup/bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi https://www.greeners.co/gaya-hidup/bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi/#respond Fri, 27 Nov 2015 08:09:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12050 Memanfaatkan barang yang tidak terpakai menjadi barang lain yang lebih bermanfaat merupakan salah satu bagian dari konsep ramah lingkungan yang dapat diadopsi dalam dunia fesyen. Dekade ini, mulai banyak bermunculan […]]]>

Memanfaatkan barang yang tidak terpakai menjadi barang lain yang lebih bermanfaat merupakan salah satu bagian dari konsep ramah lingkungan yang dapat diadopsi dalam dunia fesyen. Dekade ini, mulai banyak bermunculan karya fesyen yang diciptakan dari bahan-bahan yang tidak biasa dengan penampilan yang unik dan berkelas.

Misalnya saja, karung kopi. Ditangan Justin Biel dan Grason Ratowsky, karung yang semula digunakan menyimpan biji kopi diubah menjadi tote bag, duffle bag dan pouch berpenampilan unik. Keduanya memproduksi tas unik ini dengan label mereka, BARE.

Pendiri BARE, Justin Biel dan Grason Ratowsky. Foto: BARE/www.vogue.com

Pendiri BARE, Justin Biel dan Grason Ratowsky. Foto: BARE/www.vogue.com

BARE merupakan label aksesoris handmade yang berbasis di Colorado. Mengolah karung kopi menjadi tote bag merupakan produk awal yang dihasilkan label ini. Bahan karung yang kuat menjadikan umur pakai tas lebih lama. Handle tas yang digunakan pun menghilangkan aksen kumuh dari karung sehingga membuat tas ini menjadi satu kesatuan yang menarik secara desain.

Desain tas yang dibuat bersifat unisex sehingga dapat digunakan oleh pria maupun wanita. Uniknya, antara tas yang satu dengan tas lainnya akan berbeda satu sama lain secara motif dan corak. Hal itu terjadi karena karung yang digunakan merupakan karung bekas dan tidak dapat dibuat mirip dalam jumlah banyak.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi/feed/ 0
7 Cara Membuat Koleksi Pakaian Lebih Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/7-cara-membuat-koleksi-pakaian-lebih-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=7-cara-membuat-koleksi-pakaian-lebih-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/7-cara-membuat-koleksi-pakaian-lebih-ramah-lingkungan/#respond Tue, 03 Nov 2015 08:38:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11757 Industri fesyen bergerak dengan cepat, selalu ada yang baru dari industri ini. Namun, belum banyak yang memahami bahwa industri fesyen juga memberikan dampak bagi lingkungan. Penggunaan pestisida, bahan kimia, hingga […]]]>

Industri fesyen bergerak dengan cepat, selalu ada yang baru dari industri ini. Namun, belum banyak yang memahami bahwa industri fesyen juga memberikan dampak bagi lingkungan. Penggunaan pestisida, bahan kimia, hingga transportasi dalam proses distribusi, semuanya memengaruhi lingkungan. Belum lagi perilaku boros dan lekas bosan konsumen fesyen turut menambah jumlah sampah.

Meski demikian, ada banyak cara untuk menjadi konsumen fesyen yang peduli lingkungan. Semuanya bisa dimulai dengan langkah sederhana. Apa saja langkahnya?

Ilustrasi: Ist.

Ilustrasi: Ist.

1. Ketahui seluk beluk isi lemari
Langkah ini merupakan hal mendasar untuk mengubah pola pikir Anda sebagai seorang konsumen. Mulailah mengedukasi diri Anda sendiri dengan melihat apa yang ada dalam isi lemari pakaian Anda dan mencari tahu seluk beluk dari setiap pakaian yang dimiliki.

Cari tahu dan bedakan mana pakaian yang terbuat dari bahan organik, daur ulang maupun produk yang bebas bahan kimia. Dengan cara ini, Anda tidak hanya tahu tentang apa yang akan dibeli, tapi juga di mana dan kepada siapa Anda akan membeli barang.

2. Cintai apa yang sudah dimiliki
Anda memiliki setumpuk pakaian di lemari namun baru sekali atau bahkan tidak pernah Anda pakai? Untuk membuat koleksi pakaian Anda lebih ramah lingkungan, cobalah berkreasi pada koleksi pakaian Anda. Teknik memadupadankan pakaian dapat membuat penampilan Anda berbeda tanpa harus membeli pakaian baru.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/7-cara-membuat-koleksi-pakaian-lebih-ramah-lingkungan/feed/ 0
United Airlines Ubah Banner Bekas Jadi Travel Bag https://www.greeners.co/gaya-hidup/united-airlines-ubah-banner-bekas-jadi-travel-bag/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=united-airlines-ubah-banner-bekas-jadi-travel-bag https://www.greeners.co/gaya-hidup/united-airlines-ubah-banner-bekas-jadi-travel-bag/#respond Wed, 21 Oct 2015 07:48:50 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11595 Banner bisa menjadi salah satu alat publikasi yang bermanfaat bagi sebuah perusahaan. Namun, bila diakumulasi, banner-banner yang sudah tidak terpakai dapat menjadi sampah yang cukup besar. Hal itulah yang membuat […]]]>

Banner bisa menjadi salah satu alat publikasi yang bermanfaat bagi sebuah perusahaan. Namun, bila diakumulasi, banner-banner yang sudah tidak terpakai dapat menjadi sampah yang cukup besar. Hal itulah yang membuat United Airlines, sebuah perusahaan penerbangan ternama yang juga memanfaatkan banner untuk publikasi, merasa bertanggung jawab atas bentuk pembuangan tersebut.

Dengan menggandeng Re:New dan Columbia College Chicago Department of Fashion Studies, United Airlines mengubah banner-banner bekas publikasi mereka menjadi sebuah travel bag yang unik dan cantik. Mereka mengumpulkan 20 banner raksasa milik United Airlines dari Chicago O’Hare Airport dan mengubah banner tersebut hanya menjadi 100 sustainable travel bag yang siap digunakan.

Maskapai penerbangan United Airlines menggunakan kembali banner bekas mereka menjadi travel bag unik. Foto: www.prnewswire.com

Maskapai penerbangan United Airlines menggunakan kembali banner bekas mereka menjadi travel bag unik. Foto: www.prnewswire.com

“United berkomitmen untuk beroperasi secara berkelanjutan dan bertanggungjawab dan itu berarti kami harus menemukan cara kreatif untuk menurunkan pengaruh penerbangan kami pada lingkungan,” ungkap Angela Foster-Rice selaku Managing Director of Environmental Affairs and Sustainability United Airline, pada release yang dikeluarkan oleh PRNewsWire.com.

Travel bag yang diciptakan sengaja didesain agar cocok ditempatkan di bawah bangku pesawat, wearable dan tahan lama. Seluruh tas tersebut dijahit khusus dengan menggunakan tangan dan setiap tas memiliki corak yang berbeda satu sama lain. Banner-banner tersebut disulap menjadi beberapa jenis tas, seperti travel duffel bag, backpack dan over shoulder bag tempat menaruh paspor, uang dan lain-lain.

Maskapai penerbangan United Airlines menggunakan kembali banner bekas mereka menjadi travel bag unik. Foto: www.prnewswire.com

Maskapai penerbangan United Airlines menggunakan kembali banner bekas mereka menjadi travel bag unik. Foto: www.prnewswire.com

“Sebagai bagian dari komitmen kami, kami senang bisa memberikan banner-banner tersebut kehidupan kedua, dan terutama untuk para pelanggan dapat menikmati bagian dari keindahan langit yang mereka bawa pulang,” lanjut Angela.

Travel bag tersebut dibandrol dengan harga US$150 atau sekitar dua juta rupiah. Travel bag ini telah resmi dijual pada Jumat (16/10) lalu di situs United Shop dan hingga berita ini dinaikan, untuk duffel bag telah ludes terjual hingga tinggal menyisakan beberapa unit backpack.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/united-airlines-ubah-banner-bekas-jadi-travel-bag/feed/ 0
Sneaker Warna-Warni Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/sneaker-warna-warni-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sneaker-warna-warni-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/sneaker-warna-warni-ramah-lingkungan/#respond Wed, 22 Jul 2015 11:27:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10428 Seperti halnya dengan busana, sepatu juga terus berkembang dari zaman ke zaman. Proses pembuatan sepatu pun tidak kalah dengan proses merancang busana, semua unsur pembuatnya dipikirkan dengan detail. Seperti halnya […]]]>

Seperti halnya dengan busana, sepatu juga terus berkembang dari zaman ke zaman. Proses pembuatan sepatu pun tidak kalah dengan proses merancang busana, semua unsur pembuatnya dipikirkan dengan detail. Seperti halnya dengan Pleats Please Issey Miyake dan Native Shoes yang mengeluarkan produk sepatu sneaker untuk musim panas. Sepatu ini dibuat 100 persen bebas unsur hewani dan didesain dalam model klasik mokasin dengan sentuhan kontemporer.

Sneaker warna-warni ramah lingkungan hasil kolaborasi antara Issey Miyake dengan Native Shoes. Foto: ecouterre.com

Sneaker warna-warni ramah lingkungan hasil kolaborasi antara Issey Miyake dengan Native Shoes. Foto: ecouterre.com

Native Shoes menciptakan produk alas kaki mereka dengan menggunakan kombinasi antara pencetakan dengan injeksi busa dan pencetakan tiga dimensi. Kedua cara ini menghasilkan sedikit limbah dan rendah emisi. Menurut label ini, sepatu yang dihasilkan menjadi ringan, anti bau, tahan air, serta dapat dicuci. Sementara, Miyake memuji produk ini karena potongannya yang sederhana dan menggunakan bahan yang kuat. Sepatu ini juga beradaptasi dengan gerakan kaki.

Seperti “marshmallow yang tidak pernah mencair”, sepatu ini terdiri dari bahan-bahan seperti etilena-vinil asetat. Selain menghindari penggunaan bahan kimia yang berbahaya seperti bisphenol A, phthalates, formaldehyde, mereka juga menghindari produk-produk yang menggunakan hewan dalam produksinya. “Kami berteman dengan binatang, Anda juga kan?” ujar Native seperti dilansir dari ecouterre.com.

Sneaker warna-warni ramah lingkungan hasil kolaborasi antara Issey Miyake dengan Native Shoes. Foto: ecouterre.com

Sneaker warna-warni ramah lingkungan hasil kolaborasi antara Issey Miyake dengan Native Shoes. Foto: ecouterre.com

Direktur Pemasaran Global untuk Native Shoes, Dominiq Morriset mengaku merasa senang atas kerjasama yang terjalin dengan Pleats Please Issey Miyake. “Produk ini merupakan perpaduan antara kecintaan kami pada warna dan teknologi masa depan,” ujarnya.

Sepatu sneaker ini sudah tersedia di toko-toko Issey Miyake di New York, Paris, Zurich, London, dan Jepang.

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/sneaker-warna-warni-ramah-lingkungan/feed/ 0
Pewarna Alami, Dukung atau Tinggalkan? https://www.greeners.co/gaya-hidup/pewarna-alami-dukung-atau-tinggalkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pewarna-alami-dukung-atau-tinggalkan https://www.greeners.co/gaya-hidup/pewarna-alami-dukung-atau-tinggalkan/#respond Mon, 20 Jul 2015 10:01:05 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10401 Banyak hal yang menyusun sebuah fashion item. Selain bahan dan desain, teknik pewarnaan juga ambil bagian dalam proses kreasinya. Teknik pewarnaan pun banyak ragamnya, begitu pula dengan bahan pewarnanya, ada […]]]>

Banyak hal yang menyusun sebuah fashion item. Selain bahan dan desain, teknik pewarnaan juga ambil bagian dalam proses kreasinya. Teknik pewarnaan pun banyak ragamnya, begitu pula dengan bahan pewarnanya, ada yang alami dan ada yang kimia.

Saat ini, perubahan iklim dan munculnya kesadaran untuk lebih memperhatikan keberlangsungan alam turut mengubah pola produksi industri fesyen. Untuk pewarna misalnya, menggunakan pewarna alami kini kembali dilirik karena lebih ramah lingkungan.

“Rentetan dari pewarna alami dan kimia sangat panjang. Karena pewarna kimia banyak menggunakan air dan berbahaya bagi lingkungan, kenapa kita enggak mencoba untuk menggunakan pewarna alami yang sebenarnya mudah didapat dan aman bagi lingkungan dan si pembuatnya,” ujar Sancaya Rini, perajin batik yang menggunakan pewarna alami dalam produksi batiknya.

Masalah pewarna tekstil, khususnya pewarna kimia, mulai dikhawatirkan karena sangat berkaitan dengan perusakan lingkungan. Di sisi lain, lanjut Rini, pewarna alami bisa dihasilkan tidak hanya dari tanaman segar dan lebih ramah lingkungan.

“Tidak hanya tanaman, tapi sampahnya pun bisa kita gunakan. Contohnya, ketika menyapu halaman rumah, daun-daun kering yang berserakan dapat kita gunakan untuk pewarna alami dengan direbus dan air rebusannya menghasilkan warna,” katanya menjelaskan.

Ia juga menambahkan bahwa semua tanaman dapat digunakan sebagai pewarna alami. Daun pisang dan sisa-sisa pemotongan kayu pun dapat diolah sebagai sumber pewarna alami. Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati yang besar membuat pilihan warna menjadi sangat beragam. Selain itu, lanjut Rini, jika kita menginginkan pewarna yang lebih banyak, kita bisa menanam sendiri tumbuh-tumbuhan yang diperlukan agar tidak merusak dan menjaga keberlanjutan alam.

“Pesan yang didapat dengan menggunakan pewarna alami ini, kita dapat melakukan gerakan menanam tumbuhan terlebih untuk warna-warna yang kita butuhkan,” imbuhnya.

Meski banyak keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan pewarna alami, namun tetap tidak luput dari kekurangan. Pasalnya, dengan proses yang masih manual dalam pengolahan pewarna alami hingga layak diproduksi menyebabkan pewarna ini lebih mahal saat dijual. Selain itu, pewarna alami hanya dapat digunakan untuk bahan-bahan yang berserat organik.

“Pewarna alami sangat eco-friendly karena dalam penggunaannya pun kita membutuhkan bahan-bahan yang berserat dari alam juga. Oleh karena itu, kalau saya boleh berpesan, marilah untuk orang-orang di industri fashion mulai sedikit demi sedikit untuk merancang dengan bahan alami serta pewarna alami. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan merawat bumi yang sudah tua ini?” tutupnya.

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/pewarna-alami-dukung-atau-tinggalkan/feed/ 0
Re/Done Luncurkan Sustainable Jeans https://www.greeners.co/gaya-hidup/redone-luncurkan-sustainable-jeans/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=redone-luncurkan-sustainable-jeans https://www.greeners.co/gaya-hidup/redone-luncurkan-sustainable-jeans/#respond Sat, 11 Jul 2015 08:56:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10288 Tampilan celana jins yang usang dengan robekan di lutut dan warna biru yang telah pudar memang dicintai sejak dulu. Dengan mengusung vintage jeans, Re/Done tetap memiliki gaya yang dipastikan dapat […]]]>

Tampilan celana jins yang usang dengan robekan di lutut dan warna biru yang telah pudar memang dicintai sejak dulu. Dengan mengusung vintage jeans, Re/Done tetap memiliki gaya yang dipastikan dapat bertahan dalam waktu cukup lama. Meski mengambil mode kekinian seperti skinny dan boyfriends jeans tapi Re/Done tetap mempertahankan karakter mereka.

Re/Done bukan hanya label namun telah menjadi satu gerakan untuk menciptakan jins berkelanjutan yang tidak kalah trendi dengan label denim ternama lainnya. Denim ini menggunakan proses berkelanjutan dan tidak menggunakan bahan kimia berbahaya dalam proses pembuatannya. Bahkan, dari setiap jins berkelanjutan ini, Re/Done menanamkan filosofi kesadaran pada lingkungan.

Koleksi Re/Done. Foto: www.ecouterre.com

Koleksi Re/Done. Foto: www.ecouterre.com

Departemen Pemasaran Re/Done, Mia Zee mengatakan bahwa jins ini sudah melalui proses modernisasi dengan melihat dan memperhatikan keadaan lingkungan namun tetap mengikuti tren mode saat ini. Tidak hanya itu, Re/Done pun ingin menjadi salah satu label yang mewah dan mencetak sejarah dalam dunia fashion.

“Kami termotivasi untuk membuat merek warisan seperti Levi yang relevan dalam kemewahan fashion. Tujuannya adalah untuk memberikan produk mewah yang berkelanjutan dan menjadi merek bersejarah di Amerika,” ujar Mia Zee seperti dikutip dari situs ecouterre.com.

Dengan penjualan secara online, Re/Done ingin memudahkan konsumen agar dapat memilih jins yang mereka sukai tanpa perlu membuang-buang waktu di jalan. Selain itu, label ini menggabungkan fashion kontemporer dengan jins usang yang cantik yang bertujuan untuk membuat konsumen menjadi diri sendiri tanpa harus mengikuti perubahan fashion yang begitu cepat.

Koleksi Re/Done. Foto: www.ecouterre.com

Koleksi Re/Done. Foto: www.ecouterre.com

Melihat kebutuhan fashion tidak hanya untuk wanita, Re/Done pun akan mengeluarkan jins berkelanjutan yang ditujukan untuk pria. Selain itu, dapat dilihat juga bahwa kepedulian terhadap lingkungan ditujukan untuk semua masyarakat, tidak hanya kaum wanita. Oleh karena itulah, dengan bermodal keyakinan yang tinggi, merek ini akan meluncurkan koleksinya dalam beberapa bulan ke depan.

“Kami berencana mengeluarkan koleksi pria dalam beberapa bulan ke depan dan telah berkolaborasi dengan Leandra Medine dari Man Repeller dan model dari merek Victoria’s Secret, Elsa Hosk,” ungkap Mia.

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/redone-luncurkan-sustainable-jeans/feed/ 0
Hugo Boss Adopsi Kebijakan Bebas Bulu Hewan https://www.greeners.co/gaya-hidup/hugo-boss-adopsi-kebijakan-bebas-bulu-hewan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hugo-boss-adopsi-kebijakan-bebas-bulu-hewan https://www.greeners.co/gaya-hidup/hugo-boss-adopsi-kebijakan-bebas-bulu-hewan/#respond Wed, 08 Jul 2015 12:53:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10219 Hugo Boss mengambil keputusan besar untuk memproduksi rancangan busananya dengan tidak menggunakan bulu binatang. Bekerjasama dengan Humane Society Of The United States dan The Fur–Free Alliance, merek busana mewah asal […]]]>

Hugo Boss mengambil keputusan besar untuk memproduksi rancangan busananya dengan tidak menggunakan bulu binatang. Bekerjasama dengan Humane Society Of The United States dan The Fur–Free Alliance, merek busana mewah asal Jerman ini telah mengumumkan untuk mengadopsi kebijakan 100 persen bebas bulu hewan yang akan berlaku untuk koleksi musim dingin tahun 2016.

“Kami telah memutuskan untuk menjalankan rute yang berbeda dari biasanya. Oleh karena itu, kami mengutamakan strategi perusahaan berkelanjutan, dalam hal ini perlindungan terhadap hewan, di atas rute ‘cepat’ dan ‘sederhana’ untuk meraih sukses,” ujar Direktur Label dan Kreatif Busana Olahraga dari Hugo Boss, Bernd Keller seperti dikutip dari situs  ecouterre.com.

Di samping itu, Keller menambahkan bahwa keputusan ini dapat menginspirasi generasi sekarang bahkan generasi yang akan datang dengan kemewahan model baru. Kemewahan yang mempromosikan alternatif buatan yang manusiawi tanpa mengorbankan hewan.

Hugo Boss mendapat apresiasi dari keberaniannya dalam mengambil keputusan. Tidak hanya dari aktivis kesejahteraan hewan, namun Presiden serta CEO dari Humane Society pun memuji perusahaan yang ingin menyelamatkan ribuan hewan dari penyiksaan untuk dijadikan ke dalam rancangan busana.

“Mengganti kekejaman dengan inovasi yang berkelanjutan adalah masa depan dari industri fashion. Tidak hanya Hugo Boss, bahkan merek fashion ternama lainnya seperti Calvin Klein dan Tommy Hilfiger hingga Stella McCartney dan Ralph Lauren semakin tidak ingin ada busananya menggunakan bulu,” ujar Pacelle dalam blog humanesociety.org.

Saat ini, Hugo Boss memilih penyedia wool yang tidak melakukan praktik “mulesing“. Mulesing adalah operasi pembedahan yang menyakitkan untuk mengambil kulit pada bagian belakang hingga ekor pada domba, biasanya tanpa obat anestesi, untuk mencegah infeksi parasit flystrike. Dalam keputusan besarnya ini, Hugo Boss berharap 90 persen produksi busananya bebas dari praktik mulesing pada tahun 2020.

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/hugo-boss-adopsi-kebijakan-bebas-bulu-hewan/feed/ 0
PACT Luncurkan Gaun Kasual dengan Konsep Fair Trade https://www.greeners.co/gaya-hidup/pact-luncurkan-gaun-kasual-dengan-konsep-fair-trade/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pact-luncurkan-gaun-kasual-dengan-konsep-fair-trade https://www.greeners.co/gaya-hidup/pact-luncurkan-gaun-kasual-dengan-konsep-fair-trade/#respond Mon, 29 Jun 2015 12:10:18 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10047 Memasuki musim panas, tak heran banyak wanita yang mencari pakaian kasual yang nyaman dikenakan agar tubuh tidak kepanasan. PACT salah satu label yang menggunakan katun organik, merancang gaun santai yang cocok dikenakan […]]]>

Memasuki musim panas, tak heran banyak wanita yang mencari pakaian kasual yang nyaman dikenakan agar tubuh tidak kepanasan. PACT salah satu label yang menggunakan katun organik, merancang gaun santai yang cocok dikenakan pada musim panas dengan harga yang bersahabat.

Tidak hanya menggunakan bahan yang terbuat dari kapas organik dari benih yang tidak dimodifikasi, gaun ini juga menggunakan warna-warna lembut yang enak dipandang mata. Meski potongannya sederhana, gaun kasual ini tetap menampilkan sisi elegan bagi pemakainya.

“Gaun kasual dengan kualitas terbaik adalah hal penting yang harus berada di lemari setiap perempuan,” ujar Jeff Denby selaku pendiri PACT seperti dilansir dari ecouterre.com.

Koleksi dress berbahan katun organik dari PACT. Foto: www.ecouterre.com

Koleksi dress berbahan katun organik dari PACT. Foto: www.ecouterre.com

PACT tidak hanya menciptakan gaun kasual untuk musim panas dengan bahan katun organik. Sebelumnya, ia telah eksis dengan rancangan pakaian, kaus kaki dan T-shirt yang tetap menggunakan bahan-bahan organik.

PACT sebagai salah satu pemasok terbesar dengan sistem perdagangan yang adil serta menggunakan bahan organik, memproduksi barang-barangnya di India dan Turki. Fasilitas yang disediakan perusahaan ini bahkan dideskripsikan sebagai “pemimpin dalam produksi pakaian yang bertanggung jawab terhadap sosial dan lingkungan.”

Selain itu, PACT juga ikut berkontribusi menyumbangkan beberapa persen dari setiap penjualannya untuk para pekerja garmen. Para pekerja pun diberikan kebebasan untuk menentukan cara terbaik untuk memanfaatkan dana tersebut. Menurut perusahaan, biasanya dana tersebut digunakan sebagai bantuan bencana, perbaikan infrastruktur di komunitas lokal, atau beasiswa bagi anak-anak para pekerja.

Koleksi dress berbahan katun organik dari PACT. Foto: www.ecouterre.com

Koleksi dress berbahan katun organik dari PACT. Foto: www.ecouterre.com

“Ini bukanlah gaun biasa. Gaun ini bersertifikat fair-trade dan dibuat dengan katun organik yang sangat lembut.Kami ingin para pelanggan kami tidak hanya merasa nyaman menggunakan PACT, tetapi juga merasa nyaman tentang dari mana produk PACT berasal,” ujar Denby.

Koleksi dari PACT sudah mendapat sertifikasi dari Control Union sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Fair Trade Amerika Serikat, sebuah lembaga pihak ketiga nirlaba yang mengesahkan produk-produk yang menerapkan sistem perdagangan yang adil (fair-trade) di Amerika.

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/pact-luncurkan-gaun-kasual-dengan-konsep-fair-trade/feed/ 0
Trash to Trend Ciptakan Mode dari Barang Tak Terpakai https://www.greeners.co/gaya-hidup/trash-to-trend-ciptakan-mode-dari-barang-tak-terpakai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=trash-to-trend-ciptakan-mode-dari-barang-tak-terpakai https://www.greeners.co/gaya-hidup/trash-to-trend-ciptakan-mode-dari-barang-tak-terpakai/#respond Sat, 27 Jun 2015 09:14:03 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10023 Jangan terpaku oleh keadaan. Begitulah ungkapan yang tepat untuk para desainer saat ini. Kreatifitas dan kesenian dapat dituangkan dengan menggunakan bahan apapun, salah satunya adalah mengolah barang yang tidak terpakai […]]]>

Jangan terpaku oleh keadaan. Begitulah ungkapan yang tepat untuk para desainer saat ini. Kreatifitas dan kesenian dapat dituangkan dengan menggunakan bahan apapun, salah satunya adalah mengolah barang yang tidak terpakai menjadi bernilai (upcycled).

Sayangnya, tidak banyak desainer yang melakukan terobosan dengan menggunakan barang yang tidak terpakai sebagai bahan untuk membuat busana, aksesoris dan berbagai macam alat kebutuhan rumah tangga lainnya. Padahal dengan melakukan tindakan ini, desainer ikut berperan dalam memperbaiki bumi yang sedang dilanda kerusakan.

Pemanfaatan barang yang tidak terpakai ini telah diterapkan oleh sebuah organisasi bernama “Trash to Trend”. Reet-Aus, desainer pendiri “Trash to Trend”, menghabiskan waktunya bereksperimen dengan upcycling sejak tahun 2005. Produk upcycled buatannya tidak hanya busana untuk perempuan, namun juga busana untuk laki-laki dan anak-anak.

Foto: www.ecofashionworld.com

Foto: www.ecofashionworld.com

Selain itu, terdapat juga aksesoris berupa ikat pinggang, gelang, anting, kalung, tas dan dompet yang dijual dalam jaringan atau daring (online) dalam situs mereka, trashtotrend.com. Tak ketinggalan, furnitur pun menjadi salah satu yang dijual dalam situs ini, yakni berupa bingkai cermin, rak buku dan meja. Semuanya ini merupakan karya dari desainer yang berbeda-beda.

Organisasi non-profit ini memang didedikasikan untuk mendidik desainer dan masyarakat di seluruh dunia tentang kemungkinan dan keuntungan dari upcycling tersebut. Caranya sangat mudah, hanya dengan mengambil sesuatu dari tumpukan sampah lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang indah dan bernilai.

Namun sangat disayangkan, banyak desainer yang beranggapan bahwa berkarya dengan upcycling tidak bisa dilakukan untuk skala besar. Padahal, sebenarnya hal ini mungkin untuk dilakukan. “Trash to Trend” membuka toko online untuk mendukung para desainer yang berdedikasi untuk berkarya dengan bahan sampah ini dan menyebarluaskan hasil karya mereka ke seluruh dunia.

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/trash-to-trend-ciptakan-mode-dari-barang-tak-terpakai/feed/ 0