fauna - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/fauna/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 13 Dec 2024 08:11:40 +0000 id hourly 1 Tarsius Supriatna, Primata Kecil yang Berekor Sangat Panjang https://www.greeners.co/flora-fauna/tarsius-supriatna-primata-kecil-yang-berekor-sangat-panjang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tarsius-supriatna-primata-kecil-yang-berekor-sangat-panjang https://www.greeners.co/flora-fauna/tarsius-supriatna-primata-kecil-yang-berekor-sangat-panjang/#respond Tue, 17 Dec 2024 05:00:07 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=45425 Mari berkenalan dengan primata kecil dan endemik dari Pulau Sulawesi, yakni Tarsius supriatnai (tarsius supriatna) yang memiliki nama lain Bumbulan atau Mimito. Primata endemik ini peneliti temukan dan terdeskripsikan dalam […]]]>

Mari berkenalan dengan primata kecil dan endemik dari Pulau Sulawesi, yakni Tarsius supriatnai (tarsius supriatna) yang memiliki nama lain Bumbulan atau Mimito. Primata endemik ini peneliti temukan dan terdeskripsikan dalam artikel “Two New Tarsier Species (Tarsiidae, Primates) and the Biogeography of Sulawesi, Indonesia” oleh Myron Shekelle dan peneliti lainnya di tahun 2017.

Nama ilmiah T. supriatnai untuk menghargai jasa Dr. Jatna Supriatna yang telah mendedikasikan sebagian besar kehidupan profesionalnya dalam konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. Selain itu, ia juga telah banyak mensponsori sebagian besar penelitian kolaboratif asing pada tarsius.  IUCN Red List melansir bahwa status konservasi tarsius supriatna adalah rawan (vulnerable) dengan tren populasi yang menurun.

Memiliki Ekor dan Jari Tengah yang Panjang

Secara morfologi, T. supriatnai terlihat sangat mirip dengan T. spectrumgurskyae. Analisis genetik pada spesis ini memperkirakan telah terjadi pemisahan spesies antara T. supriatnai dan T. spectrumgurskyae sejak 0,3 juta tahun yang lalu.

Secara umum, ciri khas dari tarsius supriatna adalah memiliki bintik yang terlihat lebih besar di pangkal telinganya. Kaki belakangnya tidak terlalu pendek, jari tengah yang lebih panjang dibandingkan dengan spesies tarsius lainnya. Selain itu, tarsius ini juga memiliki ekor yang sangat panjang. Berat tubuh betina sekitar 104-114 gram, sedangkan jantan sekitar 135 gram. Panjang ekor betina sekitar 232-243 mm dan ekor jantan 246 mm.

Di samping itu, tarsius supriatna juga melakukan vokalisasi duet yang ditandai dengan frasa betina sepanjang 2-5 nada yang diiringi oleh panggilan jantan, yang sangat berbeda dengan spesies tarsius lainnya.

Taksonomi Tarsius supriatnai. Foto: Greeners

Taksonomi Tarsius supriatna. Foto: Greeners

Tarsius Supriatna Endemik dari Sulawesi

Primata endemik yang satu ini tersebar di wilayah Sulawesi Utara. Mulai dari Tanah Genting Gorontalo ke arah barat hingga Sejoli, dan mungkin mencapai Ogatemuku. Di bagian barat, spesies ini berbatasan dengan T. wallacei dan di bagian timur dengan T. spectrumgurskyae.

Di Mana Bisa Melihatnya Secara Langsung?

Jika kamu ingin melihat secara langsung primata ini di habitat aslinya, Kawasan Lindung Nantu adalah tempatnya. Di sana, terdapat stasiun penelitian yang terletak dekat dengan distrik Paguyaman. Untuk dapat ke sana, kamu harus terbang dari Jakarta ke Gorontalo sekitar 3 jam. Kemudian, naik bus dari kota Gorontalo ke Paguyaman. Selanjutnya, kamu harus menyewa mobil ke stasiun penelitian yang mungkin akan memakan waktu sekitar 3 sampai 4 jam.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/tarsius-supriatna-primata-kecil-yang-berekor-sangat-panjang/feed/ 0
Sanca Bodo, Ular Besar Tak Berbisa dari Asia Tenggara https://www.greeners.co/flora-fauna/sanca-bodo-ular-besar-tak-berbisa-dari-asia-tenggara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sanca-bodo-ular-besar-tak-berbisa-dari-asia-tenggara https://www.greeners.co/flora-fauna/sanca-bodo-ular-besar-tak-berbisa-dari-asia-tenggara/#respond Mon, 19 Feb 2024 05:28:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=43066 Ular piton atau sanca merupakan sekelompok ular besar yang tak berbisa, salah satunya sanca bodo (Python bivittatus). Ular yang berasal dari famili Pythonidae ini memiliki nama lain piton burma. Spesies […]]]>

Ular piton atau sanca merupakan sekelompok ular besar yang tak berbisa, salah satunya sanca bodo (Python bivittatus). Ular yang berasal dari famili Pythonidae ini memiliki nama lain piton burma. Spesies ini memiliki nama ilmiah sinonim, di antaranya Python molurus bivittatus, Python bivittatus hainannus, dan Python bivittatus progschai.

BACA JUGA: Kucing Emas Asia, Bertubuh Kekar dan Pandai Memanjat Pohon

Reptil besar ini berasal dari rawa-rawa berumput dan hutan di Asia Tenggara. Di Amerika Serikat, ular ini awalnya diimpor untuk perdagangan satwa peliharaan. Seiring berjalannya waktu, ular yang melarikan diri atau sengaja dilepaskan membentuk populasinya sendiri di alam liar hingga kini. Melansir publikasi The Institute of Food and Agricultural Sciences, populasi sanca bodo pertama kali terlaporkan pada tahun 2000 di US.

Di Indonesia, ular sanca bodo dapat kita temukan di Pulau Jawa, Sulawesi Selatan, Bali, dan Sumbawa. Selain di Asia Tenggara, ular ini juga tersebar hingga Asia Selatan.

Taksonomi sanca bodo (Python bivittatus). Foto: Greeners

Taksonomi sanca bodo (Python bivittatus). Foto: Greeners

Betina Sanca Bodo Berukuran Lebih Besar dan Lebih Berat

Sanca bodo termasuk salah satu ular terbesar di dunia. Memiliki corak bercak-bercak berwarna cokelat yang dibatasi warna hitam. Umumnya, ular ini berukuran 5 meter, tapi ada juga yang berukuran 7 meter, bahkan lebih. Selain itu, terdapat dimorfisme seksual antar jantan dan betinanya. Biasanya, para betina berukuran sedikit lebih panjang, tapi cenderung lebih besar dan lebih berat dari jantan.

BACA JUGA: Acerodon jubatus, Kelelawar Raksasa Mahkota Emas dari Filipina

Ular ini memiliki pertumbuhan yang cepat. Dalam sekali sesi bertelur, betinanya dapat menghasilkan hingga 100 butir telur. Mereka akan mengerami telurnya selama 2 minggu hingga 3 bulan lamanya.

Ketika masih muda, ular ini sering berada di atas pohon. Namun, ketika sudah dewasa dan bertubuh besar, mereka akan lebih sering menghabiskan waktunya di atas tanah. Di samping itu, ular ini juga merupakan perenang yang baik. Mereka dapat menahan napas selama 30 menit di dalam air.

Memiliki Penglihatan Buruk dan Tak Berbisa

Sanca bodo merupakan golongan karnivora yang biasa memangsa mamalia kecil dan burung. Ular ini memiliki penglihatan yang buruk. Oleh sebab itu, mereka berburu menggunakan sensor panas di sepanjang rahangnya dan reseptor kimiawi di lidahnya. Karena tak memiliki bisa, mereka akan membunuh mangsanya dengan cara melilitnya hingga lemas dan tulang-tulangnya hancur.

 

 

Penulis: Anisa Putri

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/sanca-bodo-ular-besar-tak-berbisa-dari-asia-tenggara/feed/ 0
Carettochelys insculpta, Satwa Dilindungi yang Berperilaku Agresif https://www.greeners.co/flora-fauna/carettochelys-insculpta-satwa-dilindungi-yang-berperilaku-agresif/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=carettochelys-insculpta-satwa-dilindungi-yang-berperilaku-agresif https://www.greeners.co/flora-fauna/carettochelys-insculpta-satwa-dilindungi-yang-berperilaku-agresif/#respond Mon, 12 Feb 2024 06:00:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=43032 Labi-labi moncong babi atau carettochelys insculpta merupakan reptil yang berasal dari famili Carettochelyidae. Di Indonesia, satwa ini termasuk dalam kategori satwa terlindungi berdasarkan Permen LHK No.106 tahun 2018. Selain itu, […]]]>

Labi-labi moncong babi atau carettochelys insculpta merupakan reptil yang berasal dari famili Carettochelyidae. Di Indonesia, satwa ini termasuk dalam kategori satwa terlindungi berdasarkan Permen LHK No.106 tahun 2018. Selain itu, status konservasinya menurut IUCN adalah terancam bahaya (endangered).

C. insculpta yang berada dalam penangkaran dapat hidup hingga 38 tahun. Namun, belum ada informasi mengenai lama hidup mereka di habitat aslinya.

Betina Berukuran Lebih Besar dari Jantan

Labi-labi moncong babi dewasa dapat berukuran panjang mencapai setengah meter. Bobot rata-ratanya mencapai 22,5 kg dan panjang tempurung rata-rata 46 cm. Umumnya, betina berukuran tubuh lebih besar daripada jantan. Namun, para jantan biasanya memiliki ekor yang tebal dan lebih panjang.

BACA JUGA: Kucing Emas Asia, Bertubuh Kekar dan Pandai Memanjat Pohon

Penyebutan moncong babi karena bentuk hidung mereka yang mirip dengan babi. Bagian bawah tempurungnya berwarna krem, sedangkan bagian atasnya (karapas) berwarna cokelat hingga abu-abu gelap. Ukuran tubuh individunya tergantung pada habitat mereka, seperti individu yang berada di dekat pantai berukuran tubuh lebih besar daripada yang berada di dekat sungai.

Taksonomi Carettochelys insculpta. Foto: Greeners

Taksonomi Carettochelys insculpta. Foto: Greeners

Mendiami habitat air tawar dan muara

Satwa ini mendiami habitat perairan tawar dan muara, biasa ada di sungai, danau, air payau, atau dasar kolam. Uniknya, para jantan umumnya menyukai mikrohabitat berupa batang kayu, sedangkan para betina menyukai mikrohabitat berupa batu berpasir. Labi-labi moncong babi dapat kita temukan di bagian utara Australia, dataran rendah bagian selatan Papua Nugini, dan Indonesia (Papua).

Carettochelys insculpta adalah Satwa Omnivora

Betina C. insculpta akan mencapai kematangan seksual pada usia 18 tahun atau lebih, dan jantan pada usia 16 tahun. Saat akhir musim kemarau, mereka akan mulai bertelur di tepi sungai yang berpasir. Mereka adalah golongan omnivora atau pemakan segala, mulai dari tumbuhan seperti bunga, buah, daun hingga hewan-hewan kecil seperti krustasea, moluska, dan serangga.

BACA JUGA: Acerodon jubatus, Kelelawar Raksasa Mahkota Emas dari Filipina

Satwa ini dianggap sangat agresif jika bertemu kura-kura spesies lain. Di Australia, mereka berkumpul dalam kelompok besar di sungai-sungai saat musim kemarau (ketika air sangat surut). Selama musim hujan, mereka berada di air yang dalam dan keruh.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/carettochelys-insculpta-satwa-dilindungi-yang-berperilaku-agresif/feed/ 0
Kucing Emas Asia, Bertubuh Kekar dan Pandai Memanjat Pohon https://www.greeners.co/flora-fauna/kucing-emas-asia-bertubuh-kekar-dan-pandai-memanjat-pohon/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kucing-emas-asia-bertubuh-kekar-dan-pandai-memanjat-pohon https://www.greeners.co/flora-fauna/kucing-emas-asia-bertubuh-kekar-dan-pandai-memanjat-pohon/#respond Sun, 04 Feb 2024 03:00:26 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=42951 Terdapat dua spesies kucing emas dalam famili Felidae, yakni kucing emas asia (Catopuma temminckii) dan kucing emas afrika (Profelis aurata). Nama lain kucing emas asia adalah kucing Temminck. Satwa ini […]]]>

Terdapat dua spesies kucing emas dalam famili Felidae, yakni kucing emas asia (Catopuma temminckii) dan kucing emas afrika (Profelis aurata). Nama lain kucing emas asia adalah kucing Temminck. Satwa ini termasuk dalan famili Felidae dan berkerabat dengan kucing batu (Pardofelis marmorata), kucing pallas (Felis manul), harimau (Panthera tigris), puma (Puma concolor), dan lainnya.

Ahli zoologi Belanda, Coenraad Jacob Temminck pertama kali mendiskripsikan satwa ini pada tahun 1827. Oleh karena itu, penggunaan nama spesies temminckii untuk menghormati jasanya.

BACA JUGA: Acerodon jubatus, Kelelawar Raksasa Mahkota Emas dari Filipina

Terdapat dua subspesies kucing emas asia, yaitu Catopuma temminckii temminckii (Sumatra dan Semenanjung Malaya), berukuran lebih kecil dan berwarna kemerahan. Kemudian, ada Catopuma temminckii moormensis (Nepal, Burma utara, Cina, Tibet, dan Asia Tenggara) yang berukuran lebih besar, memiliki warna dan pola yang beragam.

Memiliki Tubuh Kekar dan Kaki Panjang

Kucing emas asia berukuran tubuh sedang, panjang tubuhnya berkisar antara 116 hingga 161 cm. Panjang ekornya setengah hingga sepertiga dari panjang tubuhnya. Umumnya memiliki bobot tubuh sekitar 12 kg hingga 15 kg. Rambutnya berwarna cokelat tua kemerahan dan berwarna lebih pucat di bagian bawahnya. Namun, warna rambutnya juga memiliki berbagai variasi, seperti cokelat, keabu-abuan, cokelat emas, merah, hingga kehitaman. Mereka juga memiliki pola garis-garis hitam dan putih yang membentang secara vertikal dari bagian atas kepala hingga ke bawah lehernya.

Meskipun satwa ini sering berada di atas tanah, mereka juga mampu memanjat pohon dengan baik. Sebab, mereka memiliki tubuh berotot dan kaki yang panjang. Umumnya, kucing emas asia jantan berukuran tubuh lebih besar dari betina.

Taksonomi kucing emas asia. Foto: Greeners

Taksonomi kucing emas asia. Foto: Greeners

Kucing Emas Asia Mendiami Habitat Hutan

Kucing ini dapat kita temukan di hutan cemara tropis dan subtropis, hutan gugur campuran, hingga hutan hujan pada ketinggian 1.100 hingga 3.738 mdpl. Mereka seringkali ada di habitat hutan berbatu, terkadang juga di area yang terbuka seperti padang rumput.

Bersifat Krepuskular dan Oportunis

Satwa ini aktif pada siang hari dan bersifat krepuskular. Seperti kucing lainnya, mereka juga cenderung menyendiri kecuali saat kawin. Satwa ini juga oportunis, mereka sering memangsa tupai, ular kecil, tikus, burung, kelinci, hingga hewan ternak (sapi, kambing, domba).

BACA JUGA: Kucing Pallas, Satwa Berambut Panjang dari Asia Selatan

International Union for Conservation of Nature and Natural Resources melansir bahwa status konservasi Catopuma temminckii adalah hampir terancam (near threatened) dengan tren populasi yang terus menurun. Di samping itu, di Indonesia satwa ini termasuk yang dilindungi oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

 

Penulis: Anisa Putri

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kucing-emas-asia-bertubuh-kekar-dan-pandai-memanjat-pohon/feed/ 0
Kucing Pallas, Satwa Berambut Panjang dari Asia Selatan https://www.greeners.co/flora-fauna/kucing-pallas-satwa-berambut-panjang-dari-asia-selatan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kucing-pallas-satwa-berambut-panjang-dari-asia-selatan https://www.greeners.co/flora-fauna/kucing-pallas-satwa-berambut-panjang-dari-asia-selatan/#respond Sun, 07 Jan 2024 03:00:46 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=42664 Salah satu hewan yang sudah akrab bagi manusia adalah kucing. Namun, kucing yang satu ini tidak bisa kita jadikan satwa peliharaan, yakni kucing pallas (Felis manul). Kucing yang berambut tebal […]]]>

Salah satu hewan yang sudah akrab bagi manusia adalah kucing. Namun, kucing yang satu ini tidak bisa kita jadikan satwa peliharaan, yakni kucing pallas (Felis manul). Kucing yang berambut tebal ini berasal dari famili Felidae. Penamaannya disesuaikan dengan nama seorang naturalis German, Peter Simon Pallas yang pertama kali mendeskripsikan kucing pallas.

Kucing Pallas Memiliki Rambut yang Panjang dan Tebal

Kucingg pallas memiliki rambut yang cukup panjang dan cukup tebal berwarna abu-abu keperakan agak pucat atau cokelat muda. Terdapat berbagai variasi warna rambut antarindividu dan sub-spesies dari kucing ini. Ujung ekornya bercincin dan berwarna hitam, dengan beberapa individu memiliki tanda gelap yang samar pada tubuhnya.

Kucing ini bertubuh cukup kecil, seukuran dengan kucing domestik. Namun, tampak terlihat lebih berat karena rambutnya yang panjang dan tebal. Panjang tubuhnya sekitar 50-62 cm, panjang ekornya 23-31 cm, dengan berat tubuh berkisar antara 2,5 kg hingga 5 kg. Mereka tidak menunjukkan dimorfisme seksual, tapi jantan umumnya lebih berat dari para betina.

BACA JUGA: Gorila, Kera Besar Bertubuh Kekar dari Afrika

Selain itu, kucing ini memiliki kepala yang kecil serta kaki yang pendek. Mereka juga memiliki moncong yang pendek dan bagian dahi yang cukup lebar. Pada bagian punggungnya kerap ada tujuh garis melintang berwarna hitam yang memanjang hingga ke bagian sampingnya. Di samping itu, tidak terdapat perbedaan struktural yang berhubungan dengan jenis kelamin pada tengkorak kucing pallas selain dari betinanya yang agak kecil.

Uniknya, betina kucing pallas memiliki masa estrus hanya selama 26 hingga 42 jam saja. Periode ini yang paling pendek di antara kucing lainnya. Umumnya, mereka kawin pada bulan Februari dan Maret dengan betina yang melahirkan sebanyak 2 hingga 6 ekor pada bulan April dan Mei.

Taksonomi kucing Pallas (Felis manul). Foto: Greeners

Taksonomi kucing Pallas (Felis manul). Foto: Greeners

Menghuni Dataran Tinggi di Asia Tengah

Kucing menggemaskan ini berasal dari garis keturunan macan tutul dan paling banyak ada di Dataran Tinggi Tibet dan Mongolia. Meskipun begitu, kucing pallas memiliki distribusi yang cukup luas, namun tidak merata di seluruh Asia Tengah.

BACA JUGA: Maned wolf, Canidae yang Air Seninya Berbau Menyengat

Mereka mendiami padang rumput beriklim sedang hingga padang rumput pegunungan. Area-area ini terdiri dari tanah datar terbuka, perbukitan, padang rumput dataran tinggi, singkapan berbatu, hingga habitat jurang. Kucing pallas dapat kita temukan hingga ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut di Mongolia.

Di samping itu, kucing ini tidak memiliki adaptasi yang baik untuk bergerak ketika musim dingin bersalju, sehingga mereka terbatas pada area dengan lapisan salju kurang dari 10 cm saja.

 

Penulis: Anisa Putri

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kucing-pallas-satwa-berambut-panjang-dari-asia-selatan/feed/ 0
Nesiophasma sobesonbaii, Spesies Baru Endemik Indonesia Timur https://www.greeners.co/flora-fauna/nesiophasma-sobesonbaii-spesies-baru-endemik-indonesia-timur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nesiophasma-sobesonbaii-spesies-baru-endemik-indonesia-timur https://www.greeners.co/flora-fauna/nesiophasma-sobesonbaii-spesies-baru-endemik-indonesia-timur/#respond Sat, 06 Jan 2024 03:00:43 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=42665 Baru-baru ini Indonesia menemukan kembali salah satu spesies serangga baru, yakni Nesiophasma sobesonbaii. Informasi terkait serangga ini telah terpublikasi pada jurnal Faunitaxys dengan judul Nesiophasma sobesonbaii n. sp. – a […]]]>

Baru-baru ini Indonesia menemukan kembali salah satu spesies serangga baru, yakni Nesiophasma sobesonbaii. Informasi terkait serangga ini telah terpublikasi pada jurnal Faunitaxys dengan judul Nesiophasma sobesonbaii n. sp. – a new giant stick insect from the island of Timor, Indonesia (Insecta: Phasmatodea). Ini merupakan spesies pertama dari genus Nesiophasma Günther, 1934 yang pertama kali tercatat dari Timor.

Selain itu, serangga ini juga merupakan spesies kedua dari Ordo Phasmatodea yang ditemukan di pulau ini. Genus Nesiophasma adalah serangga tongkat berukuran sedang hingga besar dan merupakan yang terpanjang dari semua serangga yang diketahui di Wallacea.

BACA JUGA: Mino Muka Kuning, Beo Papua yang Mendiami Dataran Rendah

Penggunaan nama sobesonbaii untuk menghormati Raja Sonbai III, seorang raja dari Pulau Timor yang ditangkap pada tahun 1907 karena menentang pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Tubuh Nesiophasma sobesonbaii Betina Lebih Panjang dari Jantan

Terdapat dimorfisme seksual pada serangga tongkat besar ini. Betinanya berukuran lebih panjang, yakni sekitar 18 hingga 21 cm. Sementara, jantan berukuran sedang, yakni 10–11 cm dengan tubuh ramping, halus, dan berkilau. Selain itu, betina umumnya berwarna hijau, terkadang ada juga yang memiliki belang-belang cokelat. Sementara, jantan berwarna krem muda hingga kecokelatan.

Secara umum, antara jantan dan betina hanya menunjukkan sedikit adanya variasi pada ukuran serta perkembangan dan jumlah gerigi pada alat geraknya. Serangga N. sobesonbaii jantan tidak menunjukkan adanya variasi warna, tapi pada betina terdapat variasi warna cokelat dan hijau.

BACA JUGA: Chitala lopis, Maskot Kota Palembang yang Bernilai Penting

Nimfa serangga ini berukuran 1,8 cm berwarna kuning hingga kehijauan dan bagian kepalanya berwarna cokelat. Kaki depannya sebagian besar berwarna cokelat dengan bintik-bintik kecil berwarna kuning. Sementara, kaki tengah dan belakang agak terang dengan tiga garis melintang berwarna cokelat pada setiap tulang paha dan tibia. Selain itu, bagian matanya berwarna cokelat tua, antena berwarna cokelat dengan beberapa annuli yang lebih terang.

Di samping itu, telur serangga tongkat besar ini umumnya berwarna abu-abu hingga cokelat. Berbentuk bulat telur memanjang dengan ukuran 2x lebih panjang dari lebarnya. Permukaan kapsul sangat halus dan tertutupi jaringan dengan tonjolan tumpul yang lebar dan tak beraturan.

Taksonomi Nesiophasma sobesonbaii. Foto: Greeners

Taksonomi Nesiophasma sobesonbaii. Foto: Greeners

Serangga Endemik dari Pulau Timor

Merupakan serangga endemik dari Pulau Timor dan tampaknya tersebar di seluruh pulau. Hingga kini, keberadaanya tercatat di tiga wilayah, yakni sebagai berikut:

1. Timor Barat Daya, Prov. Nusa Tenggara Timur, Kecamatan Nekamese, Oemasi, Desa Oemasi SE Kupang, 400 m.
2. Timor Leste NE-Timor, Kab Malahara, Mainina, 500 m.
3. NE-Timor, Timor Leste, Distrik Oecussi-Ambeno, Nibesi, 500 m.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/nesiophasma-sobesonbaii-spesies-baru-endemik-indonesia-timur/feed/ 0
Burung Anis Merah, Maskot Para Penghobi Burung Kicau https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-anis-merah-maskot-para-penghobi-burung-kicau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=burung-anis-merah-maskot-para-penghobi-burung-kicau https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-anis-merah-maskot-para-penghobi-burung-kicau/#respond Wed, 13 Nov 2019 04:08:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=24629 Burung Anis Merah atau Punglor Bata menjadi maskot para penghobi burung berkicau karena keunggulan suaranya yang indah dan merdu.]]>

Ada berbagai alasan dan latar belakang yang mendasari orang memelihara burung. Ada yang dipelihara karena keindahan warna bulu dan suaranya, ada juga yang dipelihara untuk dilombakan dan mendapatkan penghargaan dari komunitas burung, ada yang dikarenakan aspek budaya, hiburan dan aspek ekonomi (Burung Indonesia, 2007).

Umumnya, masyarakat di Indonesia banyak yang gemar memelihara burung berkicau untuk dilombakan, salah satunya adalah Zoothera citrina atau yang familiar dikenal dengan nama Anis Merah. Dalam penamaan bahasa Inggris burung ini disebut Orange-headed Ground Thrushes.

Burung ini berasal dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Daerah penyebaran burung ini diantaranya Jawa Barat, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Cina, India. Habitat asli burung Anis Merah berada di hutan dan padang belantara.

Anis Merah Zoothera citrina

Anis Merah (Zoothera citrina). Foto: Shutterstock

Anis Merah menjadi burung favorit para pecinta burung kicau karena memiliki suara yang indah dan merdu. Berdasarkan berbagai sumber, burung yang juga kerap disebut dengan nama Punglor Merah atau Punglor Bata ini sering diikutsertakan dalam lomba atau kontes suara burung. Keunggulan suaranya membuat burung Anis Merah menjadi maskot para penghobi burung berkicau.

Dikutip dari berbagai sumber, Anis merah berukuran sedang dengan rata-rata panjang tubuh sekitar 20 hingga 23 cm dengan berat tubuh antara 47–67 g. Burung Anis Merah jantan dan betina dikatakan memiliki visual yang hampir sama. Pada umumnya, Anis Merah memiliki bulu yang cerah yaitu berwarna merah sedikit orange di bagian kepala turun ke dada, dan bagian dubur. Untuk bagian punggung, sayap, dan ekor Anis Merah berwarna abu-abu dan kehitaman. Perbedaan yang paling mencolok adalah pada ukuran tubuh dan bagaimana kedua jenis burung ini bertingkah.

Untuk makannya, burung ini menyukai buah-buahan yang segar seperti pepaya, pisang, apel, dan pir. Adapun pakan tambahannya seperti jangkrik, kroto, cacing, ulat hongkong, ulat bambu, kelabang, dan belalang.

Tingginya permintaan burung ini dari masyarakat menjadi suatu peluang pasar, khususnya bagi pedagang dan penangkap burung untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Pedagang mendapatkan burung hasil tangkapan liar dari penangkap burung langsung. Menurut berbagai sumber, dalam membeli burung Anis Merah ini dibutuhkan kejelian dan ketelitian, karena bukan hanya rentan terhadap salah pilih tetapi juga karena harganya yang mahal.

Meskipun terlihat saling menguntungkan baik antara pembeli dan pedagang, namun burung ini dikhawatirkan mengalami penurunan populasi. Berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN), burung Anis Merah berstatus Least Concern atau dalam risiko rendah. Meskipun berstatus risiko rendah, namun populasi burung bersuara indah ini kapanpun bisa saja berubah menjadi lebih bekurang populasinya atau bahkan terancam punah.  Hal ini disebabkan oleh penangkapan liar burung ini yang terus terjadi di alam (Jurnal Biotropika, 2015).

Klasifikasi Burung Anis Merah

Penulis: Sarah R. Megumi

 

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-anis-merah-maskot-para-penghobi-burung-kicau/feed/ 0
Serak Jawa, Si Wajah Hati dengan Pendengaran Tajam https://www.greeners.co/flora-fauna/serak-jawa-si-wajah-hati-dengan-pendengaran-tajam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=serak-jawa-si-wajah-hati-dengan-pendengaran-tajam https://www.greeners.co/flora-fauna/serak-jawa-si-wajah-hati-dengan-pendengaran-tajam/#respond Sun, 03 Nov 2019 00:14:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=24581 Bagi teman-teman penyuka film Harry Potter pastinya tahu betul binatang yang hampir selalu muncul di tiap adegan film bertemakan penyihir ini. Bahkan binatang inipun diceritakan menjadi sahabat dari si pemeran […]]]>

Bagi teman-teman penyuka film Harry Potter pastinya tahu betul binatang yang hampir selalu muncul di tiap adegan film bertemakan penyihir ini. Bahkan binatang inipun diceritakan menjadi sahabat dari si pemeran utama. Ada yang bisa menebak? Bukan yang tikus loh. Yak, binatang yang dimaksud adalah burung hantu. Burung hantu identik sebagai burung yang aktif di malam hari (nokturnal). Nah, apakah keberadaan burung unik ini juga terdapat di Indonesia? Mari cari tahu!

Burung hantu merupakan burung menetap, burung yang setia dengan rumah dan lingkungannya. Burung hantu juga tidak akan berpindah selama dirasa aman dan selama makanan di wilayah tersebut masih tersedia. Apabila sulit mendapatkan tikus burung hantu akan bermigrasi atau pindah mencari makan ke daerah yang masih ada tikus namun sifatnya hanya sementara dan akan kembali ke tempat semula.

Secara umum, burung hantu memiliki peranan penting dalam keseimbangan lingkungan disekitarnya. Burung hantu termasuk kedalam jenis burung pemangsa atau raptor dimana diantaranya dapat mengendalikan jumlah populasi hewan yang dimangsa seperti ular, tikus, ataupun serangga. Penurunan populasi burung hantu di alam diakibatkan oleh beberapa faktor, seperti adanya pola deforestasi hutan dan kurangnya informasi terkait hewan tersebut yang kurang diketahui oleh masyarakat secara baik, sehingga banyak yang memanfaatkannya sebagai hewan peliharaan (Yayasan Margasatwa).

Berdasarkan berbagai sumber, burung hantu tersebar hampir di seluruh dunia. Jumlah jenisnya diperkirakan mencapai 141 spesies atau lebih. Di Indonesia saja, sedikitnya terdapat 54 spesies burung hantu asli atau endemik, seperti Beluk Jampuk, Beluk-watu Gunung, Beluk Ketupa, Pungguk Kokodok, Celepuk Rajah, Celepuk Siau, Serak Jawa, dan lain-lain. Salah satu jenis burung hantu yang berstatus Least Concern (berdasarkan IUCN) atau belum ditemukan ancaman secara langsung terhadap spesiesnya di alam adalah Serak Jawa.

Burung Hantu Serak Jawa atau Tyto alba dikenal juga dengan nama Barn Owl. ‘Tyto alba’ sendiri sebenarnya adalah nama latin dari burung hantu berukuran besar ini. Serak Jawa sebenarnya sudah lama dikenal di dunia ini, tetapi baru dideskripsikan oleh seorang naturalis berkebangsaan Italia yang bernama Giovanni Scopoli pada tahun 1769.

Serak Jawa, Si Wajah Hati dengan Pendengaran yang Tajam

Foto : Shutterstock

Burung ini tidak membuat sarang seperti burung berkicau. Serak Jawa biasanya menggunakan sarang yang sudah ada atau mengambil alih sarang yang ditinggalkan. Burung hantu ini juga bersarang pada bangunan, gedung yang tinggi, serta lubang pohon.

Ciri-ciri khusus Serak Jawa (Setiawan, 2004) seperti kepala besar dan membulat, wajah berbentuk hati berwarna putih dengan tepi kecoklatan, mata menghadap ke depan sehingga mudah dikenali, iris mata berwarna hitam, paruh tajam menghadap kebawah dan warna keputihan. Pada sayap dan punggung terdapat tanda mengkilap. Sayapnya didominasi warna kelabu, sawo matang dan berwarna putih. Kakinya panjang dan sangat kokoh serta mempunyai daya cengkeram yang kuat untuk mencengkram mangsanya.

Serak Jawa yang sudah dewasa memiliki panjang tubuh sekitar 34 cm. Burung betinanya cenderung memiliki ukuran tubuh yang lebih besar (lebih besar sekitar 25%) dibandingkan dengan jenis jantan.  Bulunya yang dominan putih membuat Serak Jawa menjadi spesies burung hantu yang paling mudah dikenali diantara burung jenis lainnya. Terlebih lagi bentuk wajahnya yang putih bersih dan menyerupai bentuk hati terlihat begitu khas.

Strategi perburuan Serak Jawa sangat berbeda dengan jenis-jenis burung predator yang lain. Burung-burung predator lain, umumnya mengandalkan kecepatan dan kejutan untuk mendatangi dan menangkap mangsa. Sedangkan perburuan mangsa, Serak Jawa sangat bergantung pada cara terbangnya yang tanpa suara dan pada pendengarannya yang sangat tajam.

Suara yang timbul akibat pergerakan sayap, diredam oleh semacam lapisan yang tampak seperti beludru pada permukaan bulu-bulu sayapnya. Selain itu, tepi sayap Serak Jawa memiliki jumbai-jumbai yang sangat halus yang juga berfungsi untuk meredam bunyi kepakan sayap. Cara terbang yang tanpa suara ini menyebabkan mangsa tidak mampu mendengar pergerakan Serak Jawa dan juga membantu pendengaran burung hantu ini sendiri.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/serak-jawa-si-wajah-hati-dengan-pendengaran-tajam/feed/ 0
Cendrawasih Kuning Kecil, Burung Surga yang Tersesat di Ibukota https://www.greeners.co/flora-fauna/cendrawasih-kuning-kecil-burung-surga-tersesat-ibukota/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cendrawasih-kuning-kecil-burung-surga-tersesat-ibukota https://www.greeners.co/flora-fauna/cendrawasih-kuning-kecil-burung-surga-tersesat-ibukota/#respond Mon, 18 Jul 2016 04:30:06 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=14256 Burung cendrawasih kuning-kecil (Paradisaea minor) bisa kita temukan di provinsi Papua & Papua Barat, Indonesia serta di Papua Nugini. Namun, burung "surga" ini sempat terlihat terbang bebas di salah satu hutan kota Jakarta.]]>

Burung cendrawasih kuning-kecil (Paradisaea minor) merupakan burung yang berasal dari genus Paradisaea yang mempunyai bentuk dan warna bulu yang sangat indah. Jenis ini merupakan salah satu burung yang termasuk kedalam kategori super cantik sehingga disebut sebagai burung surga dan bisa kita temukan di provinsi Papua & Papua Barat, Indonesia serta di Papua Nugini.

Burung cendrawasih kuning kecil hidup berpoligami. Ketika musim berbiak, setiap pagi hari individu jantan akan memamerkan bulu melalui tarian yang unik dan di pamerkan kepada beberapa individu betina. Salah satu individu betina yang tertarik akan dikawini oleh sang jantan, dan dalam beberapa minggu betina akan bertelur dan mengerami telur hingga menetas. Serangga dan buah-buahan adalah pakan dari jenis burung ini.

Burung ini merupakan salah satu jenis perburuan favorit oleh manusia karena burung cendrawasih ini dikenal memiliki bulu yang indah yaitu perpaduan warna coklat tua, kuning dan putih pada individu jantan dan pada individu betina, punggung berwarna coklat dan berdada putih dengan ukuran tubuh yang besar hingga 30 cm. Paruh berwarna abu-abu kebiruan, panjang dan tipis.

Burung ini diburu untuk di pelihara atau dijadikan hewan pajangan (opsetan) secara diam-diam dan diperjual belikan secara ilegal. Burung ini berstatus Least Concern/LC (Beresiko Rendah) dalam daftar IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) dan masuk dalam katerogi CITIES Appendix II.

Saat ini burung cendrawasih kuning kecil jarang ditemukan karena populasinya yang semakin menurun. Namun yang menarik, burung yang berasal dari wilayah Indonesia bagian barat ini sempat ditemukan di Hutan Kridaloka Senayan, Jakarta. Kemungkinan burung ini berpindah akibat perburuan atau burung ini dahulu merupakan burung yang di pelihara kemudian terlepas atau dilepas oleh pemiliknya. Di satu sisi, kondisi ini mengganggu keseimbangan ekosistem, karena jika burung ini dapat hidup kemungkinan ada jenis burung asli Jakarta yang akan tersingkir akibat persaingan jenis makanan.

Melihat status burung cendrawasih, maka harus ada upaya pelestarian. Diharapkan semua lembaga pemerintah dan non pemerintah serta masyarakat turut melestarikan dan membuat upaya perlindungan satwa ini dan meningkatkan pengawasan populasi burung cendrawasih di habitat aslinya.

Fauna Cendrawasih Kuning Kecil, Burung Surga yang Tersesat di Ibukota_02

Penulis : Panji B. Surata Azis/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/cendrawasih-kuning-kecil-burung-surga-tersesat-ibukota/feed/ 0
Tikusan Kerdil, Pengembara Musim Dingin yang Pemalu https://www.greeners.co/flora-fauna/tikusan-kerdil-pengembara-musim-dingin-pemalu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tikusan-kerdil-pengembara-musim-dingin-pemalu https://www.greeners.co/flora-fauna/tikusan-kerdil-pengembara-musim-dingin-pemalu/#respond Tue, 24 May 2016 10:55:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=13758 Tikusan kerdil (Porzana pusilla) merupakan burung pengembara yang berasal dari Siberia dan Asia timur. Burung pemalu ini lebih suka berjalan walaupun termasuk pelari yang baik.]]>

Tikusan kerdil termasuk dalam suku Rallidae yang merupakan kelompok ayam-ayaman berukuran sedang dan tersebar luas di dunia yang hidup di daerah rawa. Nama lain tikusan kerdil adalah baillon’s crake (Inggris).

Burung ini berukuran kecil, yaitu 18 cm dan memiliki paruh yang pendek berwarna kuning. Iris mata berwarna merah, mahkota dan tubuh bagian atas berwarna cokelat, bercoret hitam dan putih. Dagu berwarna putih, dada dan muka berwarna abu-abu dengan garis mata gelap. Tubuh berwarna cokelat keabu-abuan dengan coretan putih pada punggung. Pada sisi bagian bawah tubuh dan ekornya terdapat garis putih halus dengan tungkai berwarna kuning kehijauan.

Tikusan kerdil termasuk burung pemalu yang suka menyusup untuk berlindung dan bersembunyi di daerah rawa yang lebat daripada mencoba lari dari pemangsa.

Burung pemalu ini lebih suka berjalan walaupun termasuk pelari yang baik. Ia menghuni rawa-rawa dipinggir danau dan paya berumput. Jika terancam, satwa ini akan berjalan dengan cepat, tetapi secara halus dan masuk ke rumpun buluh.

Tikusan kerdil merupakan burung pengembara yang berasal dari Siberia dan Asia timur, ke selatan sampai Iran dan India utara, kadang di Sumatera dan Sulawesi. Pada musim dingin, bermigrasi ke India, Sri Lanka dan Myanmar, dan dari China selatan sampai Indonesia dan Filipina.

Faktor cuaca yang sangat ekstrim di negara asalnya membuat burung tikusan kerdil bermigrasi ke daerah yang memiliki suhu yang mendukung dan menyediakan sumber pakan. Kebanyakan merupakan pengunjung musim dingin yang jarang ke daerah dataran rendah dan berbukit. Di Pulau Jawa, burung migrasi ini dapat dijumpai di Bandung dan Jakarta.

Di Jakarta sendiri, tikusan kerdil teramati di Suaka Margasatwa Muara Angke, Jakarta Utara. Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) merupakan salah satu kawasan konservasi alami yang masih tersisa di Ibu Kota dan merupakan hutan mangrove terakhir di Jakarta. SMMA memiliki luas 25,02 hektare.

Belum banyak masyarakat yang mengetahui kawasan ini karena memang areal kawasan ini dikelilingi perumahan mewah. Padahal, kawasan ini sebenarnya memiliki peran penting untuk menjaga laut Jakarta tetap terjaga dan mencegah terjadinya banjir pasang surut air laut.

Kehadiran burung migrasi di Jakarta tidak semulus perjalanan dari negara asalnya, keberadaan makhluk bersayap ini tidak luput dari perburuan, baik untuk diperdagangkan maupun menjadi santapan di meja makan. Perburuan satwa liar, terutama burung migrasi, di Indonesia masih kerap terjadi. Perlu kerjasama berbagai pihak untuk menekan angka perburuan tersebut, salah satunya melalui sosialisasi peran ekologis satwa liar di alam.

FAUNA Tikusan Kerdil, Pengembara Musim Dingin yang Pemalu_02

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/tikusan-kerdil-pengembara-musim-dingin-pemalu/feed/ 0
Pecuk-Ular Asia, Si Leher Panjang yang Mampu Menyelam https://www.greeners.co/flora-fauna/pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam https://www.greeners.co/flora-fauna/pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam/#respond Mon, 25 Jan 2016 09:44:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=12638 Pecuk-ular Asia (Anhinga melanogaster) memiliki leher yang panjang serupa ular. Burung yang masuk dalam kategori hampir terancam punah ini mampu menyelam dalam waktu lama untuk mencari ikan.]]>

Pecuk-ular Asia (Anhinga melanogaster) atau oriental darter atau snakebird merupakan salah satu jenis burung air yang mudah dikenali. Dinamakan Pecuk-ular Asia karena memiliki leher yang panjang dan ramping menyerupai ular.

Pecuk-ular Asia memiliki kepala dan leher berwarna coklat, terdapat strip berwarna putih pada bagian dagu sampai leher. Bagian tubuh, sayap dan ekor berwarna hitam, bagian paruh runcing berwarna kuning kecoklatan. Pada bagian kakinya terdapat selaput dan berwarna hitam.

Pecuk-ular Asia mampu menyelam dan tinggal dibawah air dalam waktu yang lama serta mampu mereduksi daya apung sehingga hanya bagian kepalanya yang terlihat pada saat berenang dan mencari makan.

Pecuk-ular Asia dapat dijumpai di hutan mangrove, danau, sungai besar, daerah tambak, rawa dan muara. Pecuk-ular Asia menghabiskan waktu yang lama untuk mengeringkan bulu di tempat ia bertengger. Burung ini berkumpul dalam kelompok kecil (2-5 individu) maupun dalam kelompok besar di atas pohon tinggi yang gundul.

Burung yang lehernya menyerupai ular ini tersebar luas di India, Asia Tenggara, Sulawesi, Sumbawa, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Di Jakarta, tercatat satwa ini berkembang biak di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Kepulauan Seribu pada Bulan Desember – Juni. Mencari makan di pesisir Jakarta seperti di Suaka Margasatwa Muara Angke dan Hutan Lindung Angke Kapuk.

Berdasarkan IUCN ((International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) Pecuk-ular Asia masuk dalam kategori hampir terancam (near threatened). Hal ini dikarenakan semakin menyempit dan menurunnya kualitas habitat burung air ini akibat alih fungsi lahan. Selain itu, perburuan untuk jenis burung ini juga cukup tinggi.

Pecuk-ular Asia termasuk dalam burung yang dilindungi oleh Undang-Undang Republik Indonesia, yaitu UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Terdapat hukuman bagi yang melanggar peraturan tersebut yaitu tindak pidana penjara selama 5 tahun dan denda sebesar Rp 100.000.000,- (Seratus Juta Rupiah).

Pengamatan burung air ini biasanya dilakukan setiap bulan Januari di seluruh belahan dunia. Di Jakarta, pengamatan burung air ini biasa dilakukan di daerah pesisir Jakarta seperti Suaka Margasatwa Muara Angke dan Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara. Cukup banyak burung air yang teramati di kawasan tersebut, salah satunya burung Pecuk-ular Asia. Kehadiran Pecuk-ular Asia di suatu kawasan mengindikasikan bahwa kualitas perairan pada kawasan tersebut masih terbilang baik.

Mari bersama-sama menjaga dan melestarikan lingkungan agar seluruh keanekaragaman hayati didalamnya tetap lestari.

Fauna_Pecuk_Ular_Asia_Si_Leher_Panjang_yang_Mampu_Menyelam_02

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam/feed/ 0
Gajah Sumatera, Mamalia Darat Raksasa yang Terancam Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/gajah-sumatera-mamalia-darat-raksasa-yang-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gajah-sumatera-mamalia-darat-raksasa-yang-terancam-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/gajah-sumatera-mamalia-darat-raksasa-yang-terancam-punah/#respond Sat, 09 Jan 2016 12:15:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=12486 Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) atau sumatran elephant merupakan mamalia darat terbesar di Indonesia.]]>

Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) atau sumatran elephant merupakan mamalia darat terbesar di Indonesia. Gajah sumatera termasuk ke dalam subspesies gajah Asia, penyebarannya di alam bebas hanya ada di Pulau Sumatera.

Saat ini, kondisi hutan di Pulau Sumatera sedang mengalami penyusutan drastis sehingga menyebabkan hilangnya sebagian habitat gajah sumatera yang mengancam kelangsungan hidup mamalia besar ini.

Gajah sumatera memiliki bobot sekitar 3-5 ton dengan tinggi 2-3 meter. Kulitnya terlihat lebih terang dibandingkan dengan gajah Asia lain dan dibagian kupingnya sering terlihat depigmentasi, yaitu terlihat seperti flek putih kemerahan. Kuping gajah sumatera berukuran kecil dan berbentuk segitiga. Gajah sumatera memiliki 5 kuku di kaki bagian depan dan 4 kuku di kaki belakang.

Hanya individu jantan yang memiliki gading yang panjang sedangkan pada individu betina, memiliki gading yang sangat pendek bahkan hampir tidak terlihat.

Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus). Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife Photography)

Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus). Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife Photography)

Gajah sumatera merupakan umbrella species (spesies “payung”) bagi habitatnya dan mewakili keragaman hayati di dalam ekosistem yang kompleks tempatnya hidup. Artinya, konservasi mamalia besar ini akan membantu mempertahankan keragaman hayati dan integritas ekologi dalam ekosistemnya, sehingga akhirnya ikut menyelamatkan berbagai spesies kecil lainnya.

Dalam satu hari, gajah mengonsumsi sekitar 150 kilogram makanan dan 180 liter air dan membutuhkan areal jelajah hingga 20 kilometer persegi per hari. Biji tanaman dalam kotoran gajah akan tersebar ke seluruh areal hutan yang dilewatinya dan akhirnya membantu proses regenerasi hutan.

Gajah sumatera terutama seluruh gajah Asia dan sub-spesiesnya, termasuk satwa terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam punah yang dikeluarkan oleh Lembaga Konservasi Dunia –IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources).

Di Indonesia, gajah sumatera juga masuk dalam satwa dilindungi menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan diatur dalam peraturan pemerintah yaitu Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Masuknya gajah sumatera dalam daftar tersebut disebabkan oleh aktivitas pembalakan liar, penyusutan dan fragmentasi habitat, serta pembunuhan akibat konflik dan perburuan. Perburuan biasanya hanya diambil gadingnya saja, sedangkan sisa tubuhnya dibiarkan membusuk di lokasi.

Sangat disayangkan apabila satwa besar ini punah, maka akan semakin berkurang hewan yang membantu pelestarian alam. Mari bersama-sama melestarikan keaneakaragaman hayati Indonesia.

Fauna-Gajah-Sumatra

 

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/gajah-sumatera-mamalia-darat-raksasa-yang-terancam-punah/feed/ 0
Ngengat Atlas, Kupu-Kupu Malam Terbesar di Dunia https://www.greeners.co/flora-fauna/ngengat-atlas-kupu-kupu-malam-terbesar-di-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ngengat-atlas-kupu-kupu-malam-terbesar-di-dunia https://www.greeners.co/flora-fauna/ngengat-atlas-kupu-kupu-malam-terbesar-di-dunia/#respond Mon, 28 Dec 2015 06:54:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=12379 Ngengat atlas (Attacus atlas) kerap dianggap sebagai ngengat terbesar di dunia karena luas permukaan sayapnya yang mencapai 400 cm². Rentang sayapnya pun termasuk salah satu yang terlebar, yaitu berkisar antara 25-30 cm.]]>

Ngengat atlas (Attacus atlas) atau Atlas moth umumnya berwarna dominan coklat kekuningan hingga merah marun, namun sebagian ada yang berwarna abu-abu atau jingga.

Ciri khas ngengat atlas adalah terdapat pola “mata” berwarna putih berbentuk segitiga berbatas garis hitam yang terletak pada sayap atas dan sayap bawah serta ujung sayap bagian atas memiliki pola mirip kepala ular kobra.

Nama “atlas” berasal dari pola-pola di sayapnya yang menyerupai peta dunia. Dengan bentuk ujung sayap seperti ular kobra dan ukuran sayap yang besar, nama lokal ngengat atlas di beberapa daerah mengacu kepada kondisi tersebut, antara lain: papillon cobra (Perancis), atlasvlinder (Belanda), mariposa atlas (Spanyol), kupu-kupu gajah (Jawa), kupu-kupu barong (Bali), dan rama-rama (Sunda).

Ngengat atlas kerap dianggap sebagai ngengat terbesar di dunia karena luas permukaan sayapnya yang mencapai 400 cm². Rentang sayapnya pun termasuk salah satu yang terlebar, yaitu berkisar antara 25-30 cm. Tubuh ngengat atlas berukuran relatif kecil jika dibandingkan sayapnya dan lebih banyak aktif pada malam hari (nocturnal).

Walaupun berukuran besar dan memiliki warna cerah, ngengat atlas sulit dilihat di alam bebas, karena warna dan pola sayapnya membuat mereka tersamar diantara kulit kayu, batuan dan tanah.

Dalam keadaan terancam, ngengat atlas akan hinggap di atas tanah dan mengembangkan sayapnya, sehingga membuat bagian atas sayap terlihat bergerak-gerak, hal tersebut dapat menyebabkan pemangsanya mengira sedang melihat ular dan pergi meninggalkannya.

Kupu-kupu malam ini memiliki penyebaran paling luas diantara genus Attacus lainnya. Ngengat atlas banyak ditemukan di wilayah dengan iklim tropis atau subtropis.

Di Asia, ngengat atlas ditemukan di Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, India, Sri Lanka, Cina bagian barat, dan Taiwan, sedangkan di Amerika Selatan, ngengat atlas ditemukan di Peru, Costa Rica, Guyana dan Brazil.

Siklus hidup ngengat atlas berlangsung selama tiga – empat bulan (90-115 hari). Ngengat atlas merupakan serangga polyvoltin, yaitu serangga yang dapat hidup lebih dari 2 generasi dalam setahun, sehingga serangga ini dapat ditemukan sepanjang tahun. Ngengat atlas dapat ditemukan dengan jumlah yang banyak antara bulan November hingga Januari.

Di Ibu Kota, ngengat atlas dapat dijumpai di Ruang Terbuka Hijau Jakarta seperti di taman dan hutan kota serta perkebunan. Walaupun dibeberapa tempat dianggap sebagai hama, ngengat atlas merupakan serangga yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Kepompong ngengat atlas dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan serat sutra. Kelebihan dari serat sutra ngengat atlas dibandingkan serat sutra pada umumnya adalah ukuran serat yang cukup panjang (mencapai 2.500 meter per kepompong), kuat, lembut, tidak mudah kusut, tahan panas, tidak menimbulkan alergi, dan memiliki warna alami yang bervariasi, mulai dari coklat muda, coklat tua, dan keabu-abuan.

Mari mengenal dan melestarikan keanekaragaman hayati sekitar kita. Dengan menjaga dan peduli lingkungan sekitar, keanekaragaman hayati yang berada di dalamnya juga akan lestari.

Fauna_Ngengat_Atlas_Kupu_Kupu_Malam_Terbesar_di_Dunia_03

 

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ngengat-atlas-kupu-kupu-malam-terbesar-di-dunia/feed/ 0
Kerak Ungu, Burung Alien Invasif Terburuk di Dunia https://www.greeners.co/flora-fauna/kerak-ungu-burung-alien-invasif-terburuk-di-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kerak-ungu-burung-alien-invasif-terburuk-di-dunia https://www.greeners.co/flora-fauna/kerak-ungu-burung-alien-invasif-terburuk-di-dunia/#respond Tue, 15 Dec 2015 09:13:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=12238 Kerak ungu (Acridotheres tristis) persebaran alaminya di Sumatera dan Kalimantan. Namun burung ini sekarang sudah banyak tersebar di wilayah Jakarta bahkan di beberapa wilayah di Jawa.]]>

Kerak ungu (Acridotheres tristis) memiliki bulu berwarna kecoklatan dengan kepala lebih gelap. Bagian iris burung kerak ungu berwarna kemerahan dan paruhnya berwarna kuning. Ciri khas yang membedakan kerak ungu dengan jenis kerak yang lain adalah adanya kulit tanpa bulu di sekitar mata yang berwarna kuning dan tidak memiliki jambul. Saat terbang, terlihat kilapan berwarna putih di sayapnya.

Burung kerak ungu menghuni habitat terbuka, lapangan, pekarangan, pemukiman dan perkotaan. Biasanya hidup dalam kelompok. Kerak ungu merupakan burung omnivora, mencari makan sendirian atau berpasangan, biasanya diatas tanah. Burung ini bergabung membentuk koloni sarang di pepohonan, kadang anggota koloni mencapai ribuan individu.

Kerak ungu persebaran alaminya di Sumatera dan Kalimantan. Keberadaan burung ini di ruang terbuka hijau di DKI Jakarta merupakan burung peliharaan warga yang lepas atau sengaja dilepas oleh pemiliknya karena sudah tidak sanggup untuk memeliharanya. Burung ini sekarang sudah banyak tersebar di wilayah Jakarta bahkan di beberapa wilayah di Jawa. Kerak ungu merupakan jenis alien yang bersifat invasif.

Adanya penghalang (barier) seperti penghalang geografi, yaitu sungai, laut dan pegunungan, menjadikan beberapa jenis burung tidak dapat ditemukan di daerah lain atau biasa disebut endemik. Namun untuk burung jenis alien invasif, keberadaan dan persebarannya di alam mampu tersebar luas.

Terdapat beberapa jenis burung yang tersebar secara global karena kemampuan penyebarannya yang lebih baik dan dapat menyesuaikan diri pada berbagai kondisi lingkungan bahkan pada kondisi yang tidak menguntungkan. Dan, jenis burung kerak ungu termasuk kategori 100 jenis avifauna alien invasif terburuk di dunia.

Disadari atau tidak, seiring dengan kemajuan teknologi, beberapa perilaku masyarakat dapat menghadirkan jenis-jenis burung asing (alien species) di suatu kawasan seperti burung kerak ungu. Burung asing adalah burung yang dibawa atau terbawa masuk ke dalam kawasan secara tidak alami.

Jenis burung alien dapat memasuki kawasan baru dengan beberapa cara, antara lain melalui perdagangan untuk dijadikan peliharaan lalu terlepas ke alam atau terbawa oleh alat transportasi jarak jauh.

Keberadaan kerak ungu dapat mengancam keberadaan burung lokal yang sudah ada di habitat alaminya. Hal ini dikarenakan burung alien invasif lebih unggul dalam kompetisi mencari makan dan membuat sarang.

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kerak-ungu-burung-alien-invasif-terburuk-di-dunia/feed/ 0
Cekakak Batu, Si Lincah Penuh Warna https://www.greeners.co/flora-fauna/cekakak-batu-si-lincah-penuh-warna/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cekakak-batu-si-lincah-penuh-warna https://www.greeners.co/flora-fauna/cekakak-batu-si-lincah-penuh-warna/#respond Mon, 23 Nov 2015 07:19:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=11998 Sebagai salah satu komponen ekosistem, avifauna memiliki hubungan timbal balik dan saling ketergantungan dengan lingkungannya. Sampai saat ini, Indonesia diketahui memiliki sekitar 1.598 jenis avifauna yang pernah tercatat atau sekitar […]]]>

Sebagai salah satu komponen ekosistem, avifauna memiliki hubungan timbal balik dan saling ketergantungan dengan lingkungannya. Sampai saat ini, Indonesia diketahui memiliki sekitar 1.598 jenis avifauna yang pernah tercatat atau sekitar 17 persen dari yang ada di dunia.

Jumlah jenis avifauna tersebut dapat berkurang jika ada perubahan lingkungan yang semakin memburuk. Salah satu jenis avifauna yang terancam keberadaannya akibat rusaknya hutan sebagai rumah mereka adalah jenis avifauna yang masuk ke dalam keluarga raja udang (Alcedinidae).

Di seluruh dunia, terdapat 90 jenis burung raja udang yang tersebar di daerah tropis di Afrika, Asia, dan Australasia, dimana 45 jenis diantaranya dapat dijumpai di Indonesia. Kelompok burung raja udang terdiri atas raja udang, pekaka, dan cekakak. Salah satunya adalah jenis cekakak batu.

Cekakak batu (Lacedo pulchella) memiliki ukuran tubuh sekitar 20 sentimeter, bagian iris mata berwarna abu keunguan dan bagian paruh berwarna merah. Tubuh bergaris-garis mencolok. Pada individu jantan, bagian mahkota dan tubuh bagian atas berwarna biru dengan garis-garis hitam putih, tubuh bagian bawah keputih-putihan dan sisi dada kemerahan.

Pada individu betina, tubuh bagian atas berwarna merah karat bergaris hitam dan tubuh bagian bawah berwarna putih. Terdapat garis hitam pada bagian dada dan sisi tubuh serta bagian kaki berwarna hijau pucat.

Burung ini tersebar luas di Asia tenggara, Kalimantan, pulau-pulau di sebelah timur Sumatera, dan Jawa. Satwa ini umum dijumpai pada ketinggian 1.000 m di Sumatera, tidak umum di hulu sungai sampai ketinggian 1.300 meter di Kalimantan, dan agak jarang ditemukan di Jawa.

Cekakak batu hidup di hutan dan hutan perbukitan, bahkan di hutan submontan. Lebih sering terdengar daripada terlihat. Burung ini berburu dari tenggeran tinggi dan rendah, memangsa ikan, udang, serangga besar dan sesekali memakan kadal kecil.

Gerakan burung cekakak batu sangat lincah dengan akselerasi tinggi saat menukik untuk menyambar ikan di bawah permukaan air. Hal itu dikarenakan paruh cekakak batu memiliki bentuk yang mendukung seluruh gerakan berburu dan akselerasinya. Bentuk paruh cekakak batu inilah yang menjadi inspirasi insinyur Jepang dalam membuat kereta peluru cepat yang diberi nama Shinkansen, yang kecepatannya mencapai lebih dari 300km/jam.

Semua jenis burung yang masuk ke dalam keluarga raja udang merupakan jenis burung yang dilindungi oleh Peraturan Indonesia, yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Bagi oknum yang melanggar peraturan tersebut akan dikenakan tindak pidana penjara 5 tahun dan denda sebesar Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah).

Maka dari itu, keberadaan cekakak batu di alam harus dilestarikan agar anak cucu mendatang dapat menikmati keindahannya di habitat alaminya.

Fauna_Cekakak_Batu_Si_Lincah_Penuh_Warna_02

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/cekakak-batu-si-lincah-penuh-warna/feed/ 0
Nugie: Warga Kota Juga Butuh Alam https://www.greeners.co/gaya-hidup/nugie-warga-kota-juga-butuh-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nugie-warga-kota-juga-butuh-alam https://www.greeners.co/gaya-hidup/nugie-warga-kota-juga-butuh-alam/#respond Sat, 14 Nov 2015 15:00:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11899 Jakarta (Greeners) – Mencuat dengan album trilogi bertemakan lingkungan pada 90-an, membuat Agustinus Gusti Nugroho (44), atau Nugie, tidak lagi asing dengan isu lingkungan. Penyanyi yang aktif menyuarakan isu lingkungan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Mencuat dengan album trilogi bertemakan lingkungan pada 90-an, membuat Agustinus Gusti Nugroho (44), atau Nugie, tidak lagi asing dengan isu lingkungan. Penyanyi yang aktif menyuarakan isu lingkungan dan perlindungan satwa bersama organisasi lingkungan ini mengaku miris dengan perdagangan satwa liar yang masih marak terjadi, khususnya di Indonesia.

Nugie berpendapat bahwa di era digital seperti sekarang ini seharusnya membuat masyarakat semakin mengerti akan dampak buruk yang terjadi akibat perdagangan satwa liar.

“Enggak pernah terpikirkan sama gue ini masih terjadi di Indonesia. Jelas itu kayak enggak masuk akal aja menurut gue kalau masih ada yang memburu,” ungkap pelantun “Burung Gereja” ini kepada Greeners.

Maraknya perdagangan satwa liar, lanjutnya, akan membuat jenis-jenis hewan tertentu semakin langka dan punah. Keadaan tersebut pada akhirnya hanya akan merusak alam dan membuat keadaan lingkungan alam Indonesia semakin terpuruk.

“Walaupun itu gajah, walaupun itu badak, kalau mereka semua hilang berarti ada tanda-tanda degradasi kualitas hidup kita yang ada di Indonesia,” jelas pria yang mendukung kampanye #BeliYangBaik ini.

Kerusakan alam, sebut Nugie, akan terjadi jika terdapat satu jenis makhluk hidup yang punah. Pasalnya, dengan hilangnya satu jenis makhluk hidup dalam suatu lingkungan akan memengaruhi makhluk hidup yang lain.

Padahal, lanjutnya, kehidupan manusia khususnya masyarakat perkotaan pun masih sangat membutuhkan alam. Beberapa hal yang dikonsumsi manusia seperti air, listrik dan bahan-bahan makanan, semuanya berasal dari alam. “Menurut gue, semua yang ada di Jakarta, semua yang untuk pembangunan itu enggak akan dapat kalau alam lu rusak!” tegasnya.

Nugie yang telah mengunjungi beberapa taman nasional di Indonesia ini kembali mengingatkan bahwa keberadaan flora dan fauna sangat penting bagi kehidupan manusia. Ia berharap agar perdagangan satwa liar dapat dihentikan guna menjaga kelestarian alam serta menghindari kepunahan hewan maupun tumbuhan yang hidup di alam.

“Menurunnya kualitas kita sekarang ini sangat bersentuhan langsung dengan menurunnya kualitas konservasi lingkungan,” pungkasnya.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/nugie-warga-kota-juga-butuh-alam/feed/ 0
Beo Nias, Satwa Langka yang Pandai Meniru https://www.greeners.co/flora-fauna/beo-nias-satwa-langka-yang-pandai-meniru/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=beo-nias-satwa-langka-yang-pandai-meniru https://www.greeners.co/flora-fauna/beo-nias-satwa-langka-yang-pandai-meniru/#respond Sat, 14 Nov 2015 08:26:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=11885 Avifauna atau burung adalah satwa bertulang belakang (vertebrata) yang berkembang biak dengan cara bertelur. Hampir seluruh tubuhnya berbulu dan tubuhnya berdarah panas. Avifauna sebagai salah satu kekayaan alam Indonesia, banyak […]]]>

Avifauna atau burung adalah satwa bertulang belakang (vertebrata) yang berkembang biak dengan cara bertelur. Hampir seluruh tubuhnya berbulu dan tubuhnya berdarah panas. Avifauna sebagai salah satu kekayaan alam Indonesia, banyak dijumpai hampir di setiap tempat, baik sebagai avifauna yang menetap maupun pendatang.

Selain itu, avifauna merupakan sumber daya alam yang memiliki nilai tinggi, baik dari segi ekologi, ilmu pengetahuan, seni dan rekreasi, serta ekonomi. Sebagai salah satu komponen ekosistem, avifauna memiliki hubungan timbal balik dan saling ketergantungan dengan lingkungannya salah satunya burung beo nias.

Beo nias (Gracula robusta) termasuk burung pengicau berukuran sekitar 32 sentimeter. Bagian iris mata berwarna coklat dan memiliki paruh yang kokoh, bentuknya sedikit melengkung dan berwarna oranye hingga kemerahan.

Bulu satwa unik ini berwarna hitam mengkilap, bersemu ungu sampai perunggu. Terdapat pial kuning yang khas dibawah mata, pial lainnya memanjang dari mata kebelakang melingkari leher, melebar membentuk dua gelambir di leher belakang. Bersayap hitam dan terdapat bercak putih pada bulu primermya.

Ciri yang membedakan burung beo nias dengan jenis beo lainnya adalah ukuran tubuhnya yang lebih besar serta sepasang gelambir cuping telinga berwarna kuning pada beo nias yang menyatu, sedangkan burung beo lainnya terpisah.

Burung pengicau ini termasuk burung penetap, menghuni kawasan hutan hujan, hutan meranggas, tepi hutan dan tegalan berpohon besar. Burung ini dapat dijumpai dari dataran rendah sampai perbukitan.

Beo nias hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil. Makanan utamanya buah dan nektar, terkadang juga memakan serangga dan binatang kecil lainnya.

Populasi beo nias lebih banyak terdapat di dalam sangkar dibandingkan dengan di habitat alaminya. Hal ini dikarenakan beo nias memiliki kemampuan yang dapat meniru suara manusia sehingga banyak orang yang menangkap untuk memeliharanya.

Burung peniru ini termasuk satwa yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Jika ada oknum yang melanggar dapat dikenakan tindak pidana penjara selama 5 tahun dan denda sebesar Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah).

Semakin sulitnya menemukan beo nias (Gracula robusta) di alam membuat burung ini dijadikan maskot Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2015 bersama dengan suweg (Amorphophallus paeoniifolius). Hal ini bertujuan untuk mengajak masyarakat luas untuk melestarikan puspa dan satwa nasional khususnya beo nias. Semoga keberadaaan beo nias di alam dapat bertahan di habitat alaminya karena satwa ini akan lebih indah jika hidup di alam.

Fauna_Beo_Nias_Satwa_Langka_yang_Pandai_Meniru_02

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/beo-nias-satwa-langka-yang-pandai-meniru/feed/ 0
Keanekaragaman Hayati Jakarta Menanti untuk Diungkap https://www.greeners.co/berita/keanekaragaman-hayati-jakarta-menanti-untuk-diungkap/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=keanekaragaman-hayati-jakarta-menanti-untuk-diungkap https://www.greeners.co/berita/keanekaragaman-hayati-jakarta-menanti-untuk-diungkap/#respond Fri, 06 Nov 2015 12:06:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11806 Jakarta (Greeners) – Kurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dimiliki oleh DKI Jakarta ternyata tidak menghilangkan keberadaan biodiversitas (keanekaragaman hayati) baik flora maupun fauna yang dimiliki oleh Ibukota. Terbukti dari […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dimiliki oleh DKI Jakarta ternyata tidak menghilangkan keberadaan biodiversitas (keanekaragaman hayati) baik flora maupun fauna yang dimiliki oleh Ibukota. Terbukti dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa, kelompok pecinta alam, siswa SMA, dan masyarakat umum, menunjukkan potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Jakarta masih cukup banyak.

Ahmad Baihaqi, lulusan Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta yang juga Koordinator dari kegiatan pengamatan keanekaragaman hayati di Jakarta ini mengatakan bahwa dari hasil pemantauan yang dilakukan di 28 titik RTH di DKI Jakarta selama empat bulan dari bulan April hingga Juli 2015, telah dijumpai 58 jenis burung, 28 jenis capung, 29 jenis kupu-kupu, 17 jenis herpetofauna dan 8 jenis mamalia.

Pemuda yang akrab disapa Abay ini menyatakan kemungkinan besar masih terdapat banyak keanekaragaman hayati lainnya yang belum teramati dan jumlah jenisnya kemungkinan dapat bertambah.

“Keanekaragaman hayati yang diamati itu meliputi burung, capung, kupu-kupu, herpetofauna (amfibi, dan reptil) serta mamalia,” jelas Abay saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Jumat (06/11).

Peserta kegiatan Cap(na)ture Jakarta. Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife Photography)

Peserta kegiatan Cap(na)ture Jakarta. Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife Photography)

Sebagai informasi, kegiatan pengamatan keanekaragaman hayati yang dikoordinir oleh Abay ini bertajuk Cap(na)ture Jakarta telah dituangkan dalam bentuk buku “Geledah Jakarta, Menguak Potensi Keanekaragaman Hayati Ibu Kota” lengkap dengan foto-foto dan keterangan yang sangat membantu untuk melakukan identifikasi.

Kegiatan ini juga diinisiasi oleh Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI bekerja sama dengan Fakultas Biologi Universitas Nasional dan Komunitas Peta Hijau Jakarta, serta komunitas peduli lingkungan lainnya seperti Biological Science Club (BScC), Indonesia Wildlife Photography (IWP) dan Jakarta Birdwatcher Society (JBS). Buku ini diakui Abay belum memuat seluruh biodiversitas di RTH Jakarta karena pengamatan belum difokuskan untuk seluruh biota di seluruh kawasan RTH.

Meski demikian, Rosyid Nurul Hakim, Officer Edukasi dan Outrech Yayasan KEHATI, menyatakan bahwa buku ini tetap dapat dijadikan sebagai referensi awal tentang biodiversitas RTH Jakarta. Buku ini juga mampu menjadi bukti bahwa meski terkadang anak muda terkesan kurang serius, tetapi mereka dapat menghasilkan karya ilmiah yang serius.

“Kesimpulannya kami menemukan ada banyak potensi keanekaragaman hayati yang menarik di setiap RTH di Jakarta, oleh karena itu sangat penting untuk menjaga atau menambah RTH di jakarta,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/keanekaragaman-hayati-jakarta-menanti-untuk-diungkap/feed/ 0
Jamur Tudung Pengantin, Kecantikan Alam Yang Mulai Langka https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-tudung-pengantin-kecantikan-alam-yang-mulai-langka/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jamur-tudung-pengantin-kecantikan-alam-yang-mulai-langka https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-tudung-pengantin-kecantikan-alam-yang-mulai-langka/#respond Mon, 02 Nov 2015 03:29:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=11740 Jamur termasuk ke dalam golongan fungi, tidak memiliki zat hijau daun sehingga bersifat heterotrof yaitu organisme hidup yang tidak memiliki kapasitas untuk memproduksi makanan sendiri. Salah satu ciri khas heterotrof […]]]>

Jamur termasuk ke dalam golongan fungi, tidak memiliki zat hijau daun sehingga bersifat heterotrof yaitu organisme hidup yang tidak memiliki kapasitas untuk memproduksi makanan sendiri. Salah satu ciri khas heterotrof adalah hidup pada hancuran tumbuhan yang sudah berupa humus. Jumlah jenis jamur di dunia sangat banyak. Di Indonesia, beberapa jenis jamur sudah dimanfaatkan, misalnya jamur merang, jamur kuping dan sebagainya. Namun, Salah satu jamur yang unik dan mulai langka adalah jamur tudung pengantin.

Jamur tudung pengantin (Phallus indusiatus) atau The Bridal Veil Mushroom berbeda dengan jamur pada umumnya. Jamur ini memiliki jaring-jaring halus sehingga bentuknya menyerupai tudung pengantin mempelai wanita yang sedang duduk termenung di pelaminan. Sejauh ini jaring-jaring halus yang ditemukan memiliki variasi warna, yaitu warna putih dan oranye.

Tudung pengantin adalah bagian dari tubuh jamur yang tumbuh pada saat jamur sudah berusia matang. Jaring ini tumbuh dari bagian atas kepala jamur dan akan terus bertambah panjang. Semakin ke bawah, lubang pada jaring akan semakin kecil. Panjang tudung atau jaringnya dapat mencapai 12 cm, sedangkan jamurnya sendiri tingginya mencapai 20 cm. Waktu hidup jamur yang mulai langka ini cukup singkat, yaitu hanya sampai 30 hari.

Pada bagian kepala mirip kerucut terdapat lendir berwarna coklat kehijauan yang merupakan sumber pakan bagi lalat. Lendir tersebut memiliki bau yang sangat disukai oleh lalat sehingga lalat sering hinggap di kepala jamur untuk memakan lendir tersebut serta membantu perkembangbiakan pada jamur. Setelah itu, lalat tersebut akan terbang dengan membawa spora jamur tudung pengantin. Jika lalat tersebut membuang kotoran di suatu tempat, maka spora dalam kotoran lalat ikut tersebar dan menjadi jamur tudung pengantin yang baru.

Jamur tudung pengantin tersebar diseluruh pelosok benua. Di daerah padat seperti kota Jakarta jamur cantik ini pun sudah mulai langka dijumpai. Di Jakarta, jamur tudung pengantin dapat dijumpai di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan.

Jamur tudung pengantin dapat hidup pada suhu berkisar 25 Celcius hingga 30 Celcius. Jenis jamur ini juga dapat tumbuh di tempat yang lembab seperti di semak-semak pohon bambu. Di beberapa negara, jamur tudung pengantin sudah dimanfaatkan sebagai obat-obatan, sayang di Indonesia belum ada perhatian khusus dan upaya serius untuk mempelajari jamur sebagai obat-obatan.

jamur-01

Penulis : Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-tudung-pengantin-kecantikan-alam-yang-mulai-langka/feed/ 0
Owa Jawa, Si Primata Setia yang Terancam Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/owa-jawa-si-primata-setia-yang-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=owa-jawa-si-primata-setia-yang-terancam-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/owa-jawa-si-primata-setia-yang-terancam-punah/#respond Sat, 24 Oct 2015 02:00:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=11617 Owa jawa atau Javan gibbon (Hylobates moloch) merupakan salah satu jenis primata endemik yang terdapat di pulau Jawa dengan wilayah penyebarannya meliputi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Berdasarkan kategori International […]]]>

Owa jawa atau Javan gibbon (Hylobates moloch) merupakan salah satu jenis primata endemik yang terdapat di pulau Jawa dengan wilayah penyebarannya meliputi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Berdasarkan kategori International Union for the Conservation of Nature dan Natural Resources (IUCN) tahun 2000, owa jawa masuk ke dalam kategori satwa yang terancam punah dengan kategori kritis (critically endangered), artinya menghadapi resiko kepunahan sangat tinggi di alam. Hal ini terjadi karena populasi owa jawa di alam mengalami tekanan akibat degradasi habitatnya, perburuan dan penangkapan untuk diperjualbelikan serta dipelihara.

Owa jawa memiliki tubuh yang ditutupi rambut berwarna kecoklatan sampai keperakan atau kelabu. Bagian atas kepalanya berwarna hitam. Bagian muka seluruhnya juga berwarna hitam dengan alis berwarna abu-abu yang menyerupai warna keseluruhan tubuh.

Berdasarkan peraturan Republik Indonesia, owa jawa termasuk satwa yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Bagi oknum yang melanggar akan mendapatkan hukuman tindak pidana 5 tahun penjara dan denda sebesar Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah).

Habitat alami owa jawa berupa hutan lebat dengan pohon-pohon yang memiliki biji-bijian, owa jawa juga termasuk jenis primata arboreal, yaitu primata yang lebih banyak beraktivitas di atas pohon. Owa jawa hidup monogami sehingga populasinya juga sangat kecil yaitu dalam setiap kelompok maksimal hanya terdiri dari enam individu. Hal ini dikarenakan jika salah satu pasangan owa jawa baik individu jantan atau betina mati, mereka tidak akan mencari pasangan lagi. Itulah sebabnya owa jawa mendapatkan julukan si primata yang setia.

Saat ini habitat owa jawa tengah terancam oleh penebangan dan perambahan liar yang disebabkan oleh kurang maksimalnya penegakan hukum dan perlindungan bagi owa jawa di habitatnya. Salah satu upaya konservasi yang ditempuh dapat berupa restorasi ekosistem habitat owa jawa, pendidikan dan penyadaran konservasi, serta pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Semoga lebih banyak pihak yang mau terlibat dan menyuarakan akan pentingnya pelestarian habitat owa jawa ini.

Owa-Jawa

Penulis : Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/owa-jawa-si-primata-setia-yang-terancam-punah/feed/ 0