film non fiksi - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/film-non-fiksi/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 06 Sep 2015 08:58:58 +0000 id hourly 1 Runaway, Lari dari Zombie Sungai Cikapundung https://www.greeners.co/gaya-hidup/runaway-lari-dari-zombie-sungai-cikapundung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=runaway-lari-dari-zombie-sungai-cikapundung https://www.greeners.co/gaya-hidup/runaway-lari-dari-zombie-sungai-cikapundung/#respond Sun, 06 Sep 2015 08:53:44 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11030 Judul Film : Runaway Sutradara : Prama Yodha dan Muhammad Rizky Pemain : M. Rizky, Muhammad Hikmat, Intan Marissa, Acop, Raden Ari, M Faizal Produksi : Over Crazy Arts, Indonesia, […]]]>

Judul Film : Runaway
Sutradara : Prama Yodha dan Muhammad Rizky
Pemain : M. Rizky, Muhammad Hikmat, Intan Marissa, Acop, Raden Ari, M Faizal
Produksi : Over Crazy Arts, Indonesia, 2012
Genre : Thriller
Durasi : 86 menit

Film indie ini mengambil isu tercemarnya Sungai Cikapundung, yang dicemari secara tidak sengaja oleh suatu badan penelitian rahasia. Pencemaran tersebut menyebabkan keracunan ketika orang meminum dari air yang bersumber dari sungai tersebut hingga berujung kematian.

Ketegangan semakin tinggi saat mereka hidup kembali menjadi zombie dan kehilangan akal sehatnya, liar, ganas, dan kelaparan. Kelaparan akan daging segar. Ketidaktahuan masyarakat mengenai peristiwa tersebut menyebabkan wabah ini menyebar dengan cepat.

Banyak korban berjatuhan terutama di daerah yang dekat dengan aliran Sungai Cikapundung. Kekacauan terjadi dimana-mana termasuk di pusat Kota Bandung, akibat lalainya pemerintah dalam mengatasi.

Tiga bulan setelah peristiwa tersebut, kota Bandung lumpuh. Wabah mulai menyebar ke kota lain. Hanya ada lima orang yang masih selamat, bertemu secara tidak sengaja di tengah kekacauan. Mereka mendengar kabar bahwa Gedung Sate adalah satu-satunya tempat yang masih aman di pusat Kota Bandung, namun besok pagi kota Bandung akan dihancurkan. Hal tersebut mendorong mereka, untuk bersama-sama pergi ke Gedung Sate untuk mencari bantuan dan menyelamatkan diri.

Mereka yang masih selamat dan tidak terinfeksi harus memilih, melawannya atau melarikan diri sebelum kota tersebut di hancurkan.

Film karya sineas muda dari Over Crazy Arts dibuat bukan hanya untuk mengangkat kualitas perfilman horor Indonesia saja, namun film ini juga mempunyai sisi moral untuk menyadarkan betapa pentingnya Sungai Cikapundung dan harus dijaga dari berbagai pencemaran seperti saat ini.

IZOC Chapter Bandung dalam penampilan zombie yang menyeramkan pada film ini, tak kalah dengan film Hollywood dengan tema serupa, Resident Evil dan Silent Hill. Selain Runaway, film horor lokal Bandung berjudul The Last Report juga mengambil tema cerita yang kurang lebih sama, yaitu tentang pencemaran Sungai Cikapundung hanya berbeda setting lokasi.

Film ini seakan menyampaikan pesan apa yang manusia berikan pada alam, alam akan memberikan kembali sesuai yang diberi kepadanya.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/runaway-lari-dari-zombie-sungai-cikapundung/feed/ 0
Bears https://www.greeners.co/gaya-hidup/bears/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bears https://www.greeners.co/gaya-hidup/bears/#respond Mon, 20 Oct 2014 05:26:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=6196 Judul film: Bears Sutradara: Alastair Fothergill, Keith Scholey Penulis naskah: Alastair Fothergill, Adam Chapman Narasi: John C. Reilly Produksi : Disneynature, 18 April 2014 (tayang perdana) Durasi : 77 menit, […]]]>

Judul film: Bears
Sutradara: Alastair Fothergill, Keith Scholey
Penulis naskah: Alastair Fothergill, Adam Chapman
Narasi: John C. Reilly
Produksi : Disneynature, 18 April 2014 (tayang perdana)
Durasi : 77 menit, dokumenter

Disneynature, sebuah label film independen dari studio Walt Disney kembali merilis sebuah film dokumenter apik yang menyentuh hati. “Bears”, sebuah kisah tentang bagaimana seekor beruang yang berada pada jajaran hewan paling ditakuti oleh manusia, mampu bertahan hidup dan menjaga keselamatan bayinya yang baru lahir dari ganasnya perubahan iklim yang menyerang habitat mereka.

Film ini dibuka dengan adegan Sky, seekor ibu beruang grizzly yang tinggal di pegunungan Alaska, salah satu negara bagian di Amerika Serikat dan sedang melahirkan dua ekor anaknya yang bernama Scout dan Amber.

Sky menyadari bahwa menjadi orang tua adalah hal yang sulit. Terlebih, dia tahu betul kalau pada tahun pertamanya, anak beruang seringkali tidak bisa bertahan hidup. Keadaan alam dan ancaman hewan buas lainnya membuat Sky harus lebih waspada dan menjalankan perannya sebagai seorang Ibu.

Saat musim dingin berlalu dan mulai memasuki musim panas, Sky harus segera membawa anaknya ke tepi pantai untuk mengisi kembali perutnya yang tertahan lapar dengan beberapa ekor ikan salem kesukaan para beruang. Karena jika tidak, maka susunya akan kering dan anak-anaknya akan sangat kelaparan.

Namun musim panas adalah musim yang kejam. Musim yang jahat bagi bayi-bayi beruang. Namun, bahaya atau tidak, Sky harus bisa menghadapi ancaman tanah longsor maupun serangan hewan liar agar Scout dan Amber kecil bisa berada di tepi pantai. Karena, sebagai Ibu dia tahu betul, keberlangsungan anak-anaknya bergantung pada ikan salem itu. Untungnya beruang memiliki insting untuk menghindari bencana.

“Bears” adalah film dokumenter terbaru dari Disneynature, label yang sebelumnya juga pernah merilis film non-fiksi yang ditujukan kepada keluarga setiap tahunnya menjelang Hari Bumi, seperti “Earth” (2009) dan “Oceans” (2010).

Film yang digarap untuk menyambut Hari Bumi setiap tanggal 22 April ini mulai dirilis secara komersial pada tanggal 18 April 2014 lalu. Dengan tangan hangat Alastair Fothergill dan Keith Scholey sebagai sutradara, film ini akhirnya mampu membuat anak-anak maupun orang dewasa yang menontonnya terhenyak dan sadar bahwa manusia tidak tinggal sendirian di Bumi. Dan, selalu ada yang menjadi korban atas rusaknya bumi oleh tangan-tangan manusia.

Ceritanya yang ringan dan menyentuh hati, serta diiringi oleh narasi apik dari John C. Reilly yang juga pernah menjadi pengisi suara di film animasi Disney “Wreck-It Ralph”, membuat siapapun yang menyaksikan “Bears” seakan ikut merasakan hidup bersama Sky dan Scout serta Amber saat menjelajahi Alaska.

Tidak lupa juga keindahan dan keeksotisan daratan-daratan Alaska ditampilkan bersama momen-momen terbaik pada beberapa adegan yang ditampilkan oleh Alastair mampu memesona mata dan membayangkan indahnya dunia yang nun jauh di sana.

Film ini mengajari kita bagaimana indahnya sebuah keluarga dan begitu besarnya pengorbanan serta kasih sayang Ibu dalam menjaga anak-anaknya. Serta tidak lupa mengingatkan seluruh umat manusia bahwa hewan-hewan liar di luar sana akan selalu merasakan dampak sekaligus menjadi korban atas kerusakan apapun yang dilakukan oleh manusia pada alam.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bears/feed/ 0