film - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/film/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 29 Apr 2023 03:43:09 +0000 id hourly 1 4 Film Dokumenter Alam Terbaik untuk Memperingati Hari Bumi https://www.greeners.co/gaya-hidup/4-film-dokumenter-alam-terbaik-untuk-memperingati-hari-bumi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=4-film-dokumenter-alam-terbaik-untuk-memperingati-hari-bumi https://www.greeners.co/gaya-hidup/4-film-dokumenter-alam-terbaik-untuk-memperingati-hari-bumi/#respond Sat, 29 Apr 2023 04:00:21 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=39858 Bulan April adalah bulan untuk merayakan hari Bumi. Setiap 22 April adalah peringatan hari Bumi atau earth day. Sudahkan kamu merayakannya Sobat Greeners? Dalam memperingatinya, kamu juga bisa membiasakan diri […]]]>

Bulan April adalah bulan untuk merayakan hari Bumi. Setiap 22 April adalah peringatan hari Bumi atau earth day. Sudahkan kamu merayakannya Sobat Greeners? Dalam memperingatinya, kamu juga bisa membiasakan diri merawat bumi dengan selalu menjaga lingkungan di sekitarmu!

Tak hanya itu, kamu juga bisa merayakannya dengan melihat keindahan Bumi bahkan peristiwa yang merusaknya. Sobat Greeners, penasaran? Tenang saja, kamu bisa menontonnya melalui film dokumenter. Yuk kita intip rekomendasi empat film dokumenter terbaik di bawah ini!

1. My Octopus Teacher

My Octopus Teacher, film ini menceritakan Craig Foster yang lelah dan menemukan makna dalam “persahabatan” yang dia kembangkan dengan gurita saat menyelam.

Film dokumenter ini juga menceritakan satwa liar yang indah dan kisah mengharukan tentang seorang pria. Ia sedang dalam krisis menemukan kegembiraan dan tujuan melalui penyelaman di alam dan hubungan yang luar biasa dengan gurita.

Selama satu kali penyelaman, dia menemukan seekor gurita betina. Kemudian selama 11 bulan berikutnya, dia mengabdikan hidupnya untuk berteman dan mempelajari segala sesuatu tentang dia. Terlepas dari perbedaan spesies mereka yang besar, mereka juga membentuk ikatan khusus.

2. March of The Penguins

Tahukah kamu Sobat Greeners? Film dokumenter March of The Penguins ini telah meraih penghargaan Oscar 2006 sebagai film dokumenter terbaik. Dokumenter ini mendokumentasikan migrasi penguin kaisar melintasi es pada akhir musim dingin.

Penonton juga dapat menikmati visual penguin kaisar dari Kutub Selatan yang melakukan perjalanan ke tempat berkembang biak tradisional mereka. Selain itu, terdapat juga ritual kawin yang menakjubkan.

Setelah menontonnya, kita mendapat pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya manusia memanjakan makhluk-makhluk kecil yang lucu ini.

3. Fire of Love

Dokumenter Fire of Love merupakan jenis dokumenter alam yang berbeda. Film ini tentang gunung berapi, bukan hewan atau lautan. Cerita yang diangkat berdasarkan rekaman Katia dan Maurice Krafft, ahli vulkanologi yang akhirnya tewas dalam letusan tersebut.

Subjeknya sangat menarik, obsesi dan hubungan mereka menambah gambaran pada rekaman yang telah mereka tangkap. Fire of Love yang bercerita tentang dua kekasih Prancis ini telah mengungkap misteri planet kita.

Menariknya, film tersebut sekaligus mengabadikan gambar gunung berapi paling eksplosif yang pernah tercatat. Sepanjang perjalanan, mereka mengubah pemahaman kita tentang alam dan menyelamatkan puluhan ribu nyawa.

4. Chasing Coral

Chasing Coral karya Jeff Orlowski sangat wajib untuk ditonton. Film dokumenter ini memperlihatkan bagaimana perubahan iklim dan dampak akibat ulah manusia terhadap lingkungan yang menghancurkan bumi dan area yang tidak dapat kita lihat.

Film ini juga mengeksplorasi mengapa terumbu karang di seluruh dunia mati karena pemutihan karang. Hal tersebut indah dan menyedihkan, tetapi juga penuh harapan.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Sumber : Shortlist

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/4-film-dokumenter-alam-terbaik-untuk-memperingati-hari-bumi/feed/ 0
Kaoem Telapak Ungkap Kejahatan Pembalakan Hutan Lewat Film https://www.greeners.co/aksi/kaoem-telapak-ungkap-kejahatan-pembalakan-hutan-lewat-film/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kaoem-telapak-ungkap-kejahatan-pembalakan-hutan-lewat-film https://www.greeners.co/aksi/kaoem-telapak-ungkap-kejahatan-pembalakan-hutan-lewat-film/#respond Tue, 23 Nov 2021 04:46:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=34485 Jakarta (Greeners) – Organisasi penggiat lingkungan Kaoem Telapak punya cara tersendiri mengungkap kejahatan pembalakan hutan untuk sekaligus mengajak masyarakat peduli terhadap hutan yakni lewat film. Bahkan film berjudul “Indonesia Berjuang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Organisasi penggiat lingkungan Kaoem Telapak punya cara tersendiri mengungkap kejahatan pembalakan hutan untuk sekaligus mengajak masyarakat peduli terhadap hutan yakni lewat film. Bahkan film berjudul “Indonesia Berjuang Untuk Hutan Yang Tersisa” sempat diputar selama 25 menit dalam Konferensi Tingkat Tinggi (COP-26) di Glasgow, Skotlandia baru-baru ini.

Film yang berdurasi selama dua jam ini bertujuan merefleksikan kembali perjuangan Kaoem Telapak menyelamatkan hutan yang masih tersisa.

“Film ini memberikan gambaran potret Kaoem Telapak dan Environmental Investigation Agency (EIA) dalam melindungi hutan Indonesia serta menghentikan kejahatan hutan dan mereformasi kebijakan yang ada saat ini,” kata Presiden Kaoem Telapak dan Senior Juru Kampanye Hutan Environmental Investigation Agency (EIA) Mardi Minangsari di Jakarta, baru-baru ini.

Dalam film tersebut tergambar bagaimana proses memperjuangkan, menghentikan kejahatan terhadap hutan. Terlihat pemilik perusahaan-perusahaan besar memiliki kekuasaan terhadap aparat. Ketika masyarakat tidak tunduk atau tidak mengikuti apa yang mereka mau, berujung ancaman.

Misi Ungkap Kejahatan Hutan

Film dengan latar alam ini memperlihatkan cara hutan digunduli terus menerus tanpa rasa bersalah. Lalu sejarah berdiri Kaoem Telapak juga tergambar dalam film tersebut. Telapak berdiri di Bogor pertengahan tahun 90-an oleh sekelompok mahasiswa yang mengambil jurusan kuliah terkait lingkungan. Kata Telapak dalam bahasa Indonesia berarti jejak kaki.

Organisasi ini memiliki misi mengadvokasi pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang adil dan berkelanjutan untuk menciptakan serta mempertahankan jaringan nasional para aktivis lingkungan.

Menurut Direktur Kampanye Environmental Investigation Agency (EIA) Julian Newman, Telapak memiliki beberapa informasi terkini situasi di Kalimantan tengah, di Taman Nasional Tanjung Puting.

“Kami dengar telah ditebang habis-habisan. Itulah alasan kami tertarik pada Tanjung Puting karena cagar alam yang terkenal di dunia dan memiliki populasi orangutan yang sangat terkenal. Jika pembalakan terus terjadi di tempat seperti itu, maka akan membuat hutan Indonesia hilang,” ungkapnya.

Pembalakan hutan mengancam hutan Indonesia yang tersisa. Foto: Shutterstock

Penelusuran Jejak Pembalakan Hutan

Dari Kalimantan hingga ke Sumatra tim investigasi EIA dan Kaoem Telapak melakukan rekaman terhadap orang-orang yang melakukan pembalakan hutan. Para pembalak mendapat upah harian sekadarnya. Pembalak mendapat bekal gergaji mesin dan pinjaman uang yang membuat mereka menjadi terikat pada para bisnis kuat ini.

Dalam mengumpulkan bukti pembalakan liar dari video yang sedang berlangsung di taman nasional, EIA dan Kaoem Telapak melakukan sejumlah hal. Mereka mengirimkan tim penyamar dalam berbagai kunjungan ke Sumatra dan Kalimantan untuk melakukan pengumpulan bukti video.

Satu tim penyamar telah kembali ke Tanjung Puting untuk melihat pembalakan hutan hal tak terduga terjadi. Tim penyamar ini bahkan sempat mendapat jalan untuk bertemu dengan bos pembalak. Bahkan transaksi jual beli dari fakta pembalakan hutan ini akan terjadi.

Namun nahas, penyamaran tim berhasil terbongkar. Salah satu anggota tim bahkan sempat mendapat kekerasan fisik pascaterbongkarnya status penyamaran mereka. Pihak pembalak mengetahui bahwa penyamar adalah aktivis lingkungan.

“Anggota tim dipukuli dan barang-barang dirampas, bahkan ditodong,” Ungkap Ambrosius Ruwidrijarto dari Samdhana Institute dan juga anggota Kaoem Telapak.

Sementara itu, dari fakta lainnya di lapangan tim menemukan kesaksian dari para pembalak. Mereka merasa bersalah terus membabat pohon, hidupnya tak tenang dan menyadari betapa pentingnya hutan bagi kehidupan mereka. Akhirnya ada yang memutuskan berhenti dan kembali menghijaukan hutan. Kesadaran itu kembali muncul, mereka menyadari hutan menjadi tempat makanan hewan.

Hingga saat ini EIA dan Kaoem Telapak, masih dalam pertarungan, perjuangan dalam menyelamatkan hutan Indonesia yang tersisa. EIA dan Kaoem Telapak telah menyelamatkan hutan, dua organisasi kecil ini telah mengubah banyak hal di luar jangkauan.

“Hutan adalah garis terakhir, begitu hilang yang akan anda temukan adalah perusahaan individu, penjahat, orang yang tidak bermoral akan masuk ke sana. Mereka akan menggali, menebang dan melakukan kegiatan ekstraksi. Menggusur orang-orang dari tanah mereka dan itulah mengapa sangat penting bagi kita untuk melindungi hutan,” tegas Pemimpin Tim Hutan EIA Faith Doherty.

Penulis: Ihya Afayat

 

]]>
https://www.greeners.co/aksi/kaoem-telapak-ungkap-kejahatan-pembalakan-hutan-lewat-film/feed/ 0
My Octopus Teacher, Kisah Ajaib antara Manusia dan Gurita https://www.greeners.co/gaya-hidup/my-octopus-teacher-kisah-ajaib-antara-manusia-dan-gurita/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=my-octopus-teacher-kisah-ajaib-antara-manusia-dan-gurita https://www.greeners.co/gaya-hidup/my-octopus-teacher-kisah-ajaib-antara-manusia-dan-gurita/#respond Sun, 25 Apr 2021 04:31:25 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=32535 Judul: My Octopus Teacher Tahun Rilis: 2020 Genre: Dokumenter Durasi: 1 jam 25 menit Tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Craig Foster, seorang penyelam sekaligus pembuat film asal Afrika Selatan, untuk […]]]>

Judul: My Octopus Teacher

Tahun Rilis: 2020

Genre: Dokumenter

Durasi: 1 jam 25 menit

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Craig Foster, seorang penyelam sekaligus pembuat film asal Afrika Selatan, untuk bisa bersahabat dengan seekor gurita. Ya, setelah melakukan observasi selama berbulan-bulan, Craig pada akhirnya berhasil menjalin persahabatan dengan makhluk berkaki delapan tersebut. Seluruh kisah ajaib yang terjadi antara Craig dan si gurita dirangkum dengan apik dalam film dokumenter berjudul My Octopus Teacher.

Film My Octopus Teacher sendiri merupakan film dokumenter yang diproduseri oleh Craig Foster, serta disutradarai oleh Pippa Ehrlich dan James Reed. Untuk membuat film ini, Craig beserta kru lainnya bekerja sama dengan organisasi non profit Sea Change Project dan Netflix.  Menurut situs Sea Change Project, proses pembuatan film ini ternyata memakan waktu hingga 10 tahun!

My Octopus Teacher: Manusia Bisa Bersahabat dengan Gurita

Kisah dari My Octopus Teacher bermula pada tahun 2010, tahun di mana Craig Foster merasa jenuh dan depresi akan hidupnya. Untuk mengatasi kondisi tersebut, ia pun mulai melakukan penyelaman bebas di kawasan laut False Bay, Afrika Selatan. Craig berpikiran bahwa dengan menyelamlah ia bisa merasa “hidup” kembali.

Saat Craig melakukan penyelaman bebas, tiba-tiba ia bertemu dengan seekor gurita kecil yang menarik perhatian. Rosetta adalah nama yang Craig berikan pada gurita tersebut. Merasa penasaran akan hidup Rosetta, Craig pun memutuskan terus mengunjunginya dan mengamatinya setiap hari, selama setahun penuh. Ia terus mengamati bagaimana cara Rosetta dapat bertahan hidup di lautan lepas. Setiap hari, Craig selalu dibuat kagum oleh kecerdasan Rosetta dalam menghalau predator.

Butuh waktu berbulan-bulan lamanya bagi Craig berusaha untuk bisa mendapatkan kepercayaan dari hewan moluska tersebut. Pada akhirnya, ia pun bisa menjalin ikatan persahabatan dengan Rosetta. Gurita tersebut sudah menganggap bahwa Craig adalah bagian dari kehidupannya sehari-hari. Setiap hari, Rosetta selalu mengajak Craig untuk mengeksplorasi tempat-tempat baru di bawah laut sana.

Setelah setahun penuh mempelajari hidup Rosetta, Craig pun berkesimpulan bahwa gurita merupakan makhluk yang sangat cerdas dan adaptif. Craig juga tidak menyangka bahwa manusia rupanya bisa bersahabat dengan gurita. Dari Rosetta, Craig mendapatkan pelajaran bahwa manusia dan alam rupanya memiliki hubungan yang benar-benar kuat.

Kisah persahabatan antara Craig dan Rosetta si gurita tentu saja tidak sepenuhnya berisikan hal-hal yang indah. Untuk mengetahui kisah lengkap film My Octopus Teacher, Sobat Greeners dapat menonton film ini melalui layanan Netflix.  

Penulis: Anggi R. Firdhani

BACA JUGA : Seaspiracy, Menguak Sisi Kelam Industri Perikanan Dunia

BACA JUGA : 5 Cara Merayakan Hari Bumi saat Pandemi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/my-octopus-teacher-kisah-ajaib-antara-manusia-dan-gurita/feed/ 0
Nicholas Saputra: Manusia Tak Dapat Dipisahkan dari Alam https://www.greeners.co/gaya-hidup/nicholas-saputra-manusia-tak-dapat-dipisahkan-dari-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nicholas-saputra-manusia-tak-dapat-dipisahkan-dari-alam https://www.greeners.co/gaya-hidup/nicholas-saputra-manusia-tak-dapat-dipisahkan-dari-alam/#respond Sun, 26 Jul 2020 00:00:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=27985 Menurut Nico film memiliki makna yang sangat magis dan memiliki tantangan tersendiri untuk menerjemahkan maksud yang ingin disampaikan.]]>

Keberadaan manusia di alam memiliki dua peran sisi ibarat mata uang. Di satu aspek manusia bertanggung jawab untuk melestarikan lingkungan, tetapi di sisi lain peran tersebut kerap terlupa hingga menyebabkan kerusakan lingkungan.

Berbagai kampanye pelestarian melalui medium film atau musik telah banyak dibuat oleh para produser maupun musisi. Salah satunya yang dilakukan Nicholas Saputra. Sebagai aktor sekaligus produser film, aktor berusia 36 tahun ini juga memiliki ketertarikan terhadap isu lingkungan.

Kontribusinya dalam dunia pelestarian lingkungan telah dijalankannya sejak 2005. Saat itu pria yang sering dipanggil Nico ini sangat menyukai traveling untuk menikmati keindahan alam di Indonesia dan ia pun mulai mengetahui isu-isu lingkungan dari sana.

Baca juga: Ridho Slank: Melestarikan Alam Melalui Adat Budaya

Ketika melakukan perjalanan ke suatu tempat, Nico melihat potensi kerusakan alam di suatu destinasi wisata alam akibat dampak eksploitasi. Menurutnya manusia sangat berperan dengan terjadinya kerusakan lingkungan.

Sebagai seorang individu ia mengatakan merasa bertanggung jawab untuk menjaga alam dan menularkan kepedulian yang sama kepada masyarakat. Melalui medium film, salah satunya yang baru ia garap dengan tajuk Semes7a, menurutnya hal tersebut akan dengan cepat menggugah seluruh golongan.

Ia mengatakan film memiliki makna yang sangat magis dan memiliki tantangan tersendiri untuk menerjemahkan maksud yang ingin disampaikan. “Tetapi mampu dengan kuat memengaruhui tindakan dan pikiran,” ucapnya dalam acara “Kuasa Film Atas Renungan Alam”, Jumat, 17 Juli 2020.

Nicholas Saputra

Nicholas Saputra dalam dokumenter “Save Our Forest Giants” Foto: Youtube EU in Indonesia

Selain menghibur, kata dia, film juga dapat memuaskan perasaan dan bisa memberikan sesuatu yang tidak ada menjadi ideal. Ia menambahkan dokumenter Semes7a merupakan bukti sekaligus gambaran bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta yang tidak dapat dipisahkan.

Di dalamnya memperlihatkan bagaimana tokoh-tokoh di tujuh provinsi di Indonesia menghormati alam melalui pendekatan agama, kepercayaan, dan budaya masing-masing. Tujuannya agar alam dapat memberikan yang terbaik untuk manusia. “Manusia juga harus melakukan sesuatu untuk alam,” ujarnya.

Baca juga: Giring Ganesha: Berkebun untuk Hilangkan Stres

Namun, menurutnya tren film dokumenter secara tidak langsung akan memberikan informasi mengenai suatu destinasi wisata yang sebelumnya belum terjamah manusia. Hal tersebut, kata dia, berpotensi menimbulkan kerusakan seiring dengan timbulnya wisatawan.

“Oleh karena itu harus ada penyeimbang seperti kegiatan konservasi sebagai cara untuk mensejahterakan masyarakat dan  menjaga lingkungan secara ekologis,” ujar Nico.

Melalui film dokumenter juga, kata dia, kesadaran akan lingkungan tidak hanya menyasar kepada satu golongan tertentu tetapi semua lapisan.

Penulis: Ridho Pambudi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/nicholas-saputra-manusia-tak-dapat-dipisahkan-dari-alam/feed/ 0
Film Semesta Sampaikan Keragaman untuk Cegah Krisis Iklim https://www.greeners.co/gaya-hidup/film-semesta-sampaikan-keragaman-untuk-cegah-krisis-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=film-semesta-sampaikan-keragaman-untuk-cegah-krisis-iklim https://www.greeners.co/gaya-hidup/film-semesta-sampaikan-keragaman-untuk-cegah-krisis-iklim/#respond Fri, 31 Jan 2020 06:16:16 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=25981 Semesta berkisah tentang sosok yang bergerak melambatkan dampak krisis iklim dengan merawat alam atas dorongan agama, kepercayaan, dan budaya masing-masing.]]>
Judul Film : Semesta
Sutradara : Chairun Nissa
Pemain : Tjokorda Raka Kerthyasa, Agustinus Pius Inam, Romo Marselus Hasan, Almina Kacili, Muhammad Yusuf, Iskandar Waworuntu, dan Soraya Cassandra
Rilis : 30 Januari 2020
Durasi : 90 menit

Film Semesta berkisah tentang tujuh sosok dari tujuh provinsi di Indonesia yang bergerak menekan dampak krisis iklim dengan cara merawat alam atas dorongan agama, kepercayaan, dan budaya masing-masing.

Melalui rangkaian kisah tujuh sosok inspiratif ini, film Semesta mengajak penonton berkeliling sembari menikmati kekayaan alam di Tanah Air. Mulai dari titik ujung barat, yakni Desa Pameu, Aceh, hingga menuju bagian ujung timur Indonesia di Kampung Kapatcol, Papua.

Sejak awal penggarapan, Mandy Marahimin dan Nicholas Saputra yang merupakan pendiri Tanakhir Films merangkap produser mempersiapkan film ini menjadi tayangan dokumenter berbeda. “Jadi, memang kami ingin memfokuskan film ini kepada langkah-langkah yang positif. Makanya di film ini kita tidak membahas hal-hal negatif yang terjadi pada alam, tapi kami fokus kepada memberikan inspirasi. Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu memelankan dampak climate change?” tutur Mandy Marahimin, produser film Semesta, di Jakarta, Rabu, 22 Januari 2020.

Melibatkan Tokoh dari Beragam Provinsi

Mereka yang menjadi sosok protagonis dalam film dipilih setelah melalui proses riset. Pertama, Tjokorda Raka Kerthyasa, tokoh budaya di Ubud, Bali. Segenap umat Hindu menjadikan momentum Hari Raya Nyepi sebagai hari istirahat alam semesta. Sebab, posisi Indonesia saat ini tercatat sebagai salah satu negara penghasil emisi gas rumah kaca yang berkontribusi tinggi terhadap pemanasan global.

Lalu, tokoh di Kalimantan Barat, Agustinus Pius Inam, Kepala Dusun Sungai Utik, yang memastikan pentingnya penduduk desa memahami dan mengikuti tata cara adat serta melindungi maupun melestarikan hutan. Sedangkan Romo Marselus Hasan, Pemimpin Katolik di Bea Muring, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menyampaikan pesan kepada para jemaatnya untuk berdamai dan melestarikan alam terutama sumber mata air.

Film Semesta

Agustinus Pius Inam, Kepala Dusun Sungai Utik, Kalimantan Barat memastikan penduduk desa memahami tata cara adat di kampungnya. Foto: Youtube Tanakhir Films

Walaupun fokus utama film tentang perubahan iklim, unsur pemberdayaan perempuan dan pengembangan komunitas juga menjadi kisah yang diangkat. Ini tercermin lewat pemilihan Almina Kacili, kepala kelompok wanita gereja di Kapatcol, di Papua Barat.

Sementara di wilayah paling barat Indonesia, dipilih seorang tokoh bernama Muhammad Yusuf. Sehari-hari ia menjadi imam di Desa Pameu, Aceh. Dalam setiap kesempatan, Yusuf gencar memperingatkan penduduk untuk berdamai dengan alam melalui khotbah di masjid.

Penonton akan diperkenalkan dengan figur Iskandar Waworuntu yang bertahun-tahun lalu memutuskan hijrah. Kini, ia hidup dengan memanfaatkan sebidang tanah kering yang diberi nama Bumi Langit.

Film diakhiri dengan kehadiran Soraya Cassandra, petani kota dan pendiri Kebun Kumara, Jakarta. Melalui sebuah kebun yang ia kelola di pinggiran ibu kota, Sandra mengampanyekan prinsip-prinsip belajar dari alam. Ia secara kreatif memanfaatkan tanah di kota menjadi hijau kembali.

Tayang Terbatas

Film yang tayang di mulai 30 Januari 2020 ini, diharapkan tak hanya menjadi pengingat sementara. Namun, juga memantik gerakan menjaga dan memelihara alam secara berkesinambungan.

Distribusi yang cukup besar menjadi alasan mengapa film ini ditayangkan terbatas. “Sejarah perfilman dokumenter Indonesia itu penggemarnya tidak terlalu banyak. Dengan menayangkannya secara serentak itu berarti biaya distribusi akan naik dan kami tidak mempunyai biaya distribusi sebesar itu,” tutur Chairun Nissa, sutradara film Semesta.

Ilun, panggilan akrab Chairun Nissa, juga tidak menutup kemungkinan film ditayangkan di kota-kota lain. “Dengan memfokuskan di tempat-tempat tertentu, harapannya orang-orang akan datang ke tempat yang ada film itu. Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk siapapun bisa menonton film itu.  Kalau ingin menonton film itu dan di kotanya tidak ditayangkan bisa hubungi kami,  kita bisa atur di kota tersebut,” ucapnya.

Semesta adalah debut Tanakhir Films yang memproduksi dokumenter berdurasi panjang. Sebelumnya film ini berhasil menjadi nominasi dalam kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia 2018. Film ini juga terseleksi untuk diputar di Suncine International Environmental Film Festival yang berlangsung di Barcelona, Spanyol pada 6-14 November 2019.

Penulis: Krisda Tiofani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/film-semesta-sampaikan-keragaman-untuk-cegah-krisis-iklim/feed/ 0
“Masa Depan Kami Diambang Kehancuran” https://www.greeners.co/gaya-hidup/masa-depan-kami-diambang-kehancuran/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=masa-depan-kami-diambang-kehancuran https://www.greeners.co/gaya-hidup/masa-depan-kami-diambang-kehancuran/#respond Sat, 21 Dec 2019 01:54:53 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=25088 Walhi mengampanyekan penyelamatan bumi melalui film “Kita Masih di Planet Bumi” yang menceritakan kerusakan alam akibat kebakaran hutan hingga sampah.]]>

Judul Film: Kita Masih di Planet Bumi

Sutradara: Erick EST

Pemain: Chika, Agnes, Mada, Bobby Kool

Rilis: 19 Desember 2019

Durasi: 2 Menit 2 Detik

Jakarta (Greeners) – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengampanyekan penyelamatan bumi melalui film pendek “Kita Masih di Planet Bumi”, di kantor Walhi, Jakarta Selatan, Kamis, (19/12). Video tersebut digarap oleh Erick EST, sineas asal Bali yang terlibat dalam gerakan sosial maupun lingkungan seperti Bali Tolak Reklamasi.

Tema krisis iklim dipilih untuk merespons keterlibatan Indonesia dalam Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim (COP25), di Madrid, Spanyol, awal Desember lalu. Menurut Walhi, Indonesia hanya mengambil posisi aman dalam kesepakatan tersebut. Padahal, bencana akibat krisis iklim paling berdampak ke wilayah di negara ini sehingga diperlukan komitmen yang serius dalam menegosiasi emisi global. Krisis iklim juga menjadi tanggung jawab seluruh seperti pemerintah dan korporasi, bukan hanya individu.

Kita Masih di Planet Bumi menceritakan bagaimana Chika, seorang anak perempuan yang mempertanyakan masa depannya. Sebab, lingkungan semakin hancur karena sungai dan laut dipenuhi sampah plastik maupun limbah industri, kebakaran hutan, polusi udara, emisi industri, hingga perubahan cuaca ekstrem dan pemanasan global. “Masa depan kami sudah diambang kehancuran.”

Walhi mendesak agar kebijakan pemerintah dapat beradaptasi sesuai krisis iklim yang terjadi. “Komitmen pemerintah mengenai wacana  penurunan emisi karbon tidak nyambung dengan perilaku. Misalnya, hutan masih dihabisi untuk kepentingan industri, laut dijadikan reklamasi, hutan bakau di sejumlah daerah dihancurkan, dan penggunaan batu bara makin massif,” ujar produser film “Kita Masih di Planet Bumi”, I Wayan Gendo Suardana.

Gendo mengatakan film ini merupakan gugatan kepada pemerintah dan korporasi termasuk di negara-negara maju. Masyarakat sipil juga diajak bergerak untuk mendesak para pemangku kepentingan agar tidak hanya berkomitmen, tetapi juga melakukan tindakan konkrit dalam menurunkan emisi karbon yang signifikan.

Pemain: Mada, Bobby Kool, Agnes, Chika. Foto: Youtube Walhi Nasional

Film berdurasi dua menit ini juga melibatkan musisi Superman Is Dead, Bobby Kool. Ia dipilih karena merupakan sosok yang peduli dan bergerak langsung dalam aksi penyelamatan lingkungan maupun krisis iklim. Di dalam film juga disinggung masalah pencemaran laut akibat sampah plastik. Akibatnya, biota laut khususnya ikan mengonsumsi plastik yang terbawa arus. Siklus tersebut semakin membahayakan sebab dampaknya berpotensi sampai kepada manusia.

“Ketika orang memakan ikan, secara tidak sadar mereka telah mengonsumsi ikan yang sudah terpapar. Itu nasib manusia di kemudian hari yang dipadatkan dalam film ini,” kata Gendo.

Dalam proses pembuatannya, produsen Estmovie melakukan riset melalui data Walhi. Hasilnya kemudian diolah menjadi potongan gambar tanpa menunjukkan angka. “Proses syuting selama seminggu untuk pengambilan footage, kemudian mengumpulkan data. Termasuk cepat karena semua talent yang terlibat sangat antusias.”

Walhi akan terus mengampanyekan masalah lingkungan dengan memanfaatkan media sosial agar dapat diakses oleh siapapun. “Ini akan berlanjut, karena kita harus memanfaatkan momentum dan platform teknologi yang tersedia. Tentunya kita akan memproduksi lagi banyak hasil riset strategis di Walhi yang butuh penyederhanaan dalam menyampaikan pesan,” ucap Gendo.

Penulis: Ridho Pambudi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/masa-depan-kami-diambang-kehancuran/feed/ 0
Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot https://www.greeners.co/gaya-hidup/gundala-negeri-ini-butuh-patriot/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gundala-negeri-ini-butuh-patriot https://www.greeners.co/gaya-hidup/gundala-negeri-ini-butuh-patriot/#respond Wed, 25 Sep 2019 01:12:22 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=24282 Judul Film : Gundala Sutradara : Joko Anwar Pemain : Abimana Aryasatya, Tara Basro, Bront Palarae, Ario Bayu, Rio Dewanto Rilis : 29 Agustus 2019 Durasi : 123 menit “Musuh […]]]>
Judul Film : Gundala
Sutradara : Joko Anwar
Pemain : Abimana Aryasatya, Tara Basro, Bront Palarae, Ario Bayu, Rio Dewanto
Rilis : 29 Agustus 2019
Durasi : 123 menit

“Musuh umat manusia yang paling berbahaya adalah kebenaran yang disembunyikan”
-Ghazul

Sancaka kecil (Muzaki Ramdhan) harus melewati masa kecilnya dengan banyak perjuangan, ayahnya (Rio Dewanto) seorang buruh pabrik yang meninggal dihadapan Sancaka saat sedang memperjuangkan hak-haknya. Setelah ayahnya meninggal, Ibu Sancaka (Marissa Anita) harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan pergi ke kota lain setelah mendapat tawaran pekerjaan dari temannya. Namun, sejak saat itu Ibu Sancaka tidak pernah kembali. Sancaka kecil yang takut dengan petir mengalami penderitaan setelah ditinggal oleh orangtuanya dan harus berjuang hidup sendiri.

Pergi meninggalkan rumah dan hidup di jalanan menjadikannya pribadi yang kuat, mengalami masa kecil yang berat untuk bertahan hidup, Sancaka kecil sempat di tolong oleh Awang (Faris Fadjar) saat dikejar oleh sekelompok preman. Tidak lama tinggal bersama Awang, Sancaka harus berpisah dan kembali hidup sendirian.

Saat dewasa Sancaka bekerja sebagai security di sebuah pabrik percetakan dan tinggal di rumah susun. Berawal saat Sancaka menolong tetangganya, Wulan (Tara Basro) yang sedang bertengkar dengan preman pasar, menjadikan Sancaka harus berurusan dengan preman pasar tersebut. Sancaka saat itu berhasil dikalahkan dan dilempar dari atap gedung. Setelah itu hujan turun dan petir menyambar Sancaka dan memberikan kekuatan super padanya.

Suatu hari pasar terbakar, hal ini membuat Sancaka harus mengambil tindakan. Kemudian ia membuat kostum dengan tujuan agar Wulan, Tedy (Adik Wulan), dan Pak Agus (Pritt Timothy) yang membantunya tidak tersetrum saat menyentuhnya.

Di sisi lain terjadi perselisihan di legislatif, Pengkor (Bront Palarae) atau biasa di panggil “Bapak” oleh anak yatim asuhannya merupakan orang yang mengendalikan legislatif yang korupsi dan mafia kejam yang tidak akan segan membunuh orang-orang yang tidak sejalan dan tidak menghormatinya. Pengkor mendapat perlawanan dari Ridwan Bahri (Lukman Sardi) dan rekan-rekannya.

Semua kekacauan yang terjadi merupakan ulah Pengkor yang ingin membuat generasi yang akan datang menjadi seperti dirinya. Dengan kejadian ini Ridwan meminta bantuan dari Sancaka untuk menghentikan pendistribusian. Sancaka segera mengambil tindakan untuk menghentikan segala kekacauan yang terjadi.

Di lain tempat Ghazul (Ario Bayu) membongkar makam kuno dan menyatukan kepala dan badan dari Ki Wilawuk (Sujiwo Tejo) dengan darah Sancaka yang diambil saat Sancaka melawan preman pasar. Ghazul memberitahu Ki Klawuk bahwa musuh sudah datang dan ia menyebut musuh tersebut sebagai Gundala (Guntur/petir dalam bahasa Jawa kuno). Ki Klawuk memerintahkan Ghazul untuk mengumpulkan pasukannya.

Pahlawan Super Indonesia

Film yang diproduksi oleh Bumilangit Studios ini mengisahkan tentang salah satu pahlawan super Indonesia yakni Gundala. Di film ini diceritakan tentang awal kisah dari Gundala. Alur cerita campuran dan bagaimana film ini memperkenalkan karakter-karakter yang akan muncul di film selanjutnya berhasil membuat penonton penasaran dan jatuh cinta dengan kisah pahlawan super dari seri Jagat Sinema Bumilangit ini.

Penulis: Mega Anisa

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/gundala-negeri-ini-butuh-patriot/feed/ 0
A Plastic Ocean: “Plastik Itu Mengerikan Karena Tahan Lama” https://www.greeners.co/gaya-hidup/a-plastic-ocean-plastik-itu-mengerikan-karena-tahan-lama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=a-plastic-ocean-plastik-itu-mengerikan-karena-tahan-lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/a-plastic-ocean-plastik-itu-mengerikan-karena-tahan-lama/#respond Thu, 12 Sep 2019 00:11:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=24197 Judul Film : A Plastic Ocean Director : Craig Leeson Pemain : Craig Leeson, Tanya Streeter Genre : Dokumenter Durasi : 100 menit “Maafkan saya, saya menyesal atas nama umat […]]]>
Judul Film : A Plastic Ocean
Director : Craig Leeson
Pemain : Craig Leeson, Tanya Streeter
Genre : Dokumenter
Durasi : 100 menit

“Maafkan saya, saya menyesal atas nama umat manusia, untuk memasukkan plastik ke rumahmu,” ungkap Craig Leeson pada detik-detik akhir film dokumenter A Plastic Ocean.

A Plastic Ocean, film dokumenter yang menampilkan realitas bahwa begitu banyak sampah plastik yang masuk ke dalam lautan, merusak rumah bagi para penghuni laut, mengubah rantai makanan, hingga menyebabkan kematian binatang laut.

Berawal dari seorang jurnalis bernama Craig Leeson yang ingin mencari paus biru yang sulit ditangkap namun bukan hanya paus biru yang ia temukan melainkan sampah plastik yang mengambang di tengah indahnya lautan yang seharusnya masih asli.

Di Samudera Hindia, lepas pantai Srilanka di pantai yang telah ditutup selama 30 tahun ini seharusnya masih bersih dan asli, namun pada kenyataannya lautan ini dipenuhi oleh sampah plastik dan mengandung minyak. Sampah plastik yang berada dilautan ini berasal dari sampah-sampah yang dibuang ke sungai lalu mengalir sampai kelautan.

Permasalahan Sampah Plastik

Pada film dokumenter ini Craig Leeson bersama penyelam bebas Tanya Streeter bekerjasama dengan ilmuwan dan para peneliti menjelajahi dua puluh tempat dalam kurun waktu empat tahun untuk mengungkap penyebab dan konsekuensi serta memberikan solusi dari sampah plastik tersebut.

Dalam perjalanannya Craig Leeson dan Tanya Streeter menemukan berbagai permasalahan yang timbul akibat sampah plastik. Mulai dari paus yang mati akibat menelan plastik dengan lebar 6 meter persegi hingga tidak bisa makan dan mengalami kekurangan gizi, burung laut yang juga turut menjadi korban akibat sampah plastik yang mengambang di lautan, serta kura-kura tempayan yang tidak bisa menyelam akibat ada sejumlah plastik di perutnya yang menghasilkan gas.

Kejadian ini diakibatkan oleh sampah plastik yang masuk ke lautan sehingga disalahpahami oleh ikan, kura-kura, dan binatang laut lainnya sebagai ubur-ubur atau makhluk hidup lain yang bisa dimakan. Hal ini mengakibatkan berubahnya rantai makanan di laut.

A Plastic Ocean

A Plastic Ocean

Plastik menyerap berbagai bahan kimia yang bebas mengapung di lautan dan ketika plastik termakan oleh binatang di laut, racun yang menempel pada plastik masuk ke aliran darah, mengakumulasi di jaringan lemak dan sekitar organ vital hingga menyebabkan terganggunya reproduksi, metabolisme, pertumbuhan, ginjal, dan hati.

Tidak hanya ikan dan makhluk hidup yang ada di dalam laut tetapi juga makhluk hidup lainnya seperti burung laut turut menjadi korban. Dalam film dokumenter ini ditunjukkan seekor burung laut yang mati dan ditemukan ada sekitar 276 plastik di dalam perut burung yang baru berumur 90 hari. Saat ditimbang plastik yang ada di dalam perut burung menyumbang 15% dari massa tubuh burung tersebut dan ini merupakan statistik yang menakutkan, fakta paling mengejutkan adalah jika diterjemahkan dalam istilah manusia ini akan lebih buruk karena memiliki sekitar 6-8 kilo dalam perut yang setara dengan 12 pizza.

Penggunaan Plastik Berlebih

Banyaknya sampah plastik di laut disebabkan oleh penggunaan plastik yang berlebih seperti penggunaan sedotan, kemasan makanan, dan peralatan rumah tangga yang terbuat dari bahan plastik, sampah yang dibuang ke sungai lalu mengalir ke lautan, hingga microbeads yaitu bahan yang biasa digunakan pada sabun cuci muka, pasta gigi, dan alat kosmetik lainnya.

Penyebab yang lebih parah lagi adalah sinar ultraviolet, gelombang laut, dan garam yang menjadikan plastik pecah dan menjadi potongan-potongan kecil atau disebut “microplastics” yang jauh lebih berbahaya.

Tidak hanya membahayakan bagi hewan tentunya akibat dari sampah plastik ini juga membahayakan manusia. Dalam film ini menunjukkan pembakaran sampah plastik yang dapat menimbulkan beberapa penyakit seperti pulmonial, tuberkulosis, emfisima, kanker, hingga menyebabkan kemandulan.

Penyebab dan dampak dari sampah plastik ini menjadi perhatian dunia. Pada tahun 1991 Jerman menjadi negara pertama di dunia yang menyampaikan Undang-Undang Pengemasan yang mewajibkan produsen plastik bertanggung jawab untuk daur ulang dari setiap kemasan yang mereka jual.

Angkatan Laut Amerika Serikat mencari jalan untuk menangani limbah kapal tanpa harus masuk pelabuhan, Pyrogenesis dari Montred dikontrak untuk mengembangkan teknologi hijau yang mampu mengolah limbah yang dihasilkan oleh para pelaut. Pada perut kapal induk dilengkapi dengan labirin pipa baja yang berkilau untuk melahap limbah kapal.

Inti dari teknologi ini adalah obor plasma yang mengubah struktur molekul apapun yang dimasukan ke dalamnya dan mengubah kembali untuk elemen intinya lebih baik dan tidak merugikan lingkungan.

“Plastik itu indah sekali karena tahan lama dan plastik itu mengerikan karena tahan lama”
– Craig Leeson

Penulis : Mega Anisa

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/a-plastic-ocean-plastik-itu-mengerikan-karena-tahan-lama/feed/ 0
Bawa Isu Lingkungan, 10 Film Hits ini Wajib Kita Tonton! https://www.greeners.co/gaya-hidup/bawa-isu-lingkungan-10-film-hits-ini-wajib-kita-tonton/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bawa-isu-lingkungan-10-film-hits-ini-wajib-kita-tonton https://www.greeners.co/gaya-hidup/bawa-isu-lingkungan-10-film-hits-ini-wajib-kita-tonton/#respond Sat, 22 Jun 2019 00:30:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=23579 Menonton film merupakan salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan. Ada banyak sekali pilihan film yang bisa kita tonton saat ini, tapi tidak semua film bisa memberikan pesan yang baik untuk […]]]>

Menonton film merupakan salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan. Ada banyak sekali pilihan film yang bisa kita tonton saat ini, tapi tidak semua film bisa memberikan pesan yang baik untuk para penontonnya.

Meskipun demikian, jangan khawatir dulu! Masih banyak sutradara yang berhasil menciptakan film dengan pesan yang sangat bagus, termasuk film yang membawa pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup kita.

Sebenarnya, ada banyak lho film yang secara langsung ataupun tidak langsung telah mengajak para penontonnya untuk “melek” terhadap isu lingkungan. Ingin tahu apa saja judul filmnya? Yuk kita lihat satu per satu!

Foto : imdb.com

1. The Day After Tomorrow (2004)

Film fiksi ilmiah yang disutradai oleh Rolland Emmerich ini layak untuk ditonton berulang kali, karena film ini berhasil mengangkat isu mengenai betapa mengerikannya efek yang dihasilkan oleh pemanasan global.

Dalam film ini digambarkan bahwa Bumi mengalami kekacauan iklim dan bencana alam terjadi di mana-mana. The Day After Tomorrow mengajak kita untuk selalu bersikap ramah terhadap lingkungan, dan apabila kita lalai, Bumi yang kita tinggali bisa mengalami kekacauan seperti yang digambarkan di dalam film ini.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bawa-isu-lingkungan-10-film-hits-ini-wajib-kita-tonton/feed/ 0
The Space Between Us https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-space-between-us/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=the-space-between-us https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-space-between-us/#respond Thu, 27 Apr 2017 05:08:08 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16848 Mungkin suatu hari nanti, manusia akan membentuk koloni di Mars. Tapi, ketika hal itu terjadi, akankah manusia yang dilahirkan di Planet Merah ini mencari tahu asal-usul mereka?]]>

Judul Film: The Space Between Us
Sutradara: Peter Chelsom
Aktor: Gary Oldman, Asa Butterfield, Britt Robertson, Carla Gugino, Janet Montgomery
Genre: Petualangan, Drama, Percintaan
Produksi: STX Entertainment
Durasi: 120 menit

“‘Aku ingin pergi ke Mars’, saya menuliskannya saat saya berusia 12 tahun. Sekarang, Mars telah siap untuk dihuni! Dalam 20 jam ke depan, 6 astronot akan dikirim bukan untuk berkunjung, tetapi untuk tinggal di sana!” ujar Nathaniel Shepard (Gary Oldman), CEO Genesis saat meluncurkan misi pertamanya untuk menjajahi Mars.

Misi tersebut merupakan yang pertama dari Genesis. Namun, setelah beberapa saat mendarat di Mars, Sarah Elliot (Janet Montgomery), astronot utama, baru mengetahui bahwa dirinya tengah hamil. Sayangnya, setelah melahirkan seorang anak laki-laki, ia meninggal dunia. Sejak saat itu, kehidupan Gardner Elliot (Asa Butterfield), anak Bumi pertama yang dilahirkan di planet merah tersebut dimulai.

the space between us

Sumber: imdb.com

Setelah 16 tahun dibesarkan oleh para ilmuwan di Mars, Gardner tumbuh menjadi anak dengan kepintaran tingkat tinggi. Ia mulai mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Hal yang pertama ia lakukan adalah memperoleh akses informasi mengenai ibunya. Dari hasil pencariannya tersebut, Gardner menemukan sebuah USB yang terikat dengan sebuah cincin kawin di dalam unit penyimpanan barang milik Sarah. Di dalamnya, Gardner menemukan informasi tentang ayahnya.

Untuk memulai pencarian tentang identitas sang Ayah, Gardner memanfaatkan waktu senggangnya untuk mengumpulkan informasi mengenai Bumi melalui internet. Selain itu, ia juga memasuki situs percakapan online. Dari sana, ia berkenalan dengan seorang gadis pintar asal Colorado, Tulsa (Britt Robertson), dan mengetahui segala yang ada tentang Bumi. Mengetahui hal tersebut, Kendra Wyndham (Carla Gugino), seorang astronot dengan figur seorang Ibu bagi Gardner, membujuk CEO untuk membawa pulang Gardner ke Bumi.

the space between us

Sumber: imdb.com

Perjalanan Gardner mencari ayahnya di Bumi tidak semudah yang dibayangkan. Para ilmuwan mengkhawatirkan kondisi kesehatan Gardner yang belum pernah terekspos atmosfer Bumi. Oleh karena harus tinggal di laboratorium untuk menjalani serangkaian tes, Gardner melarikan diri. Dari pelariannya tersebut, ia mencari tahu keberadaan satu-satunya orang yang ia kenal di Bumi, Tulsa.

Kisah ini menceritakan bagaimana Gardner memperjuangkan kebebasannya untuk menentukan kehidupannya sendiri. Lingkungan Mars yang terisolasi dirasakan sebagai sebuah penjara, meskipun dilengkapi dengan fasilitas berteknologi canggih. Dan setelah melewati banyak hal bersama Tulsa, Gardner merasa menjadi manusia seutuhnya.

Film yang juga mengisahkan tentang romansa ini dapat menjadi rekomendasi tontonan bagi remaja penikmat fiksi ilmiah. Meski film berdurasi 120 menit ini sudah dirilis di Amerika pada bulan Februari lalu, namun belum ada informasi kapan film ini akan tayang di bioskop Indonesia.

Penulis: Ayu Ratna Mutia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-space-between-us/feed/ 0
The Last Report, Serangan Zombie Sungai Cikapundung https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-last-report-serangan-zombie-sungai-cikapundung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=the-last-report-serangan-zombie-sungai-cikapundung https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-last-report-serangan-zombie-sungai-cikapundung/#respond Sat, 15 Aug 2015 09:24:44 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10789 Judul Film : The Last Report (part 1) Sutradara : Prama Yodha Pemain : M.Rizky, Intan Marissa, M. Hikmat, Acop , M. Faizal, Raden Ari, Franky, Ridwan, Awil Wildan, Syarif, […]]]>

Judul Film : The Last Report (part 1)
Sutradara : Prama Yodha
Pemain : M.Rizky, Intan Marissa, M. Hikmat, Acop , M. Faizal, Raden Ari, Franky, Ridwan, Awil Wildan, Syarif, Ojan, Agustian Mulki and friends special from IZOC regional Bandung
Produksi : Over Crazy Arts, Indonesia, 2012
Genre : Thriller
Durasi : 25 menit

Film thriller dengan aksi kejar-kejaran yang menakutkan ini mengisahkan tentang lima orang mahasiswa yang sedang menjalani magang di sebuah media massa cetak di Kota Bandung. Mereka ditugaskan untuk menginvestigasi sebuah laporan di sebuah desa terpencil di kawasan Lembang.

Desa tersebut mengalami wabah penyakit aneh yang menghinggapi warganya dengan cepat. Warga yang terinfeksi mati secara tiba-tiba akibat air dari Sungai Cikapundung serta menjadi gila dan mengarah kanibalisme. Dengan modal iming-iming bonus yang besar, akhirnya ke-5 mahasiswa itu berangkat dengan penuh penasaran.

Ketegangan muncul saat mereka tiba di desa tersebut. Warga berlarian keluar desa termasuk koordinator mereka dari tempatnya magang. Serangan zombie datang dan menangkap salah satu di antara mereka saat berlari menyelamatkan diri.

Saat berusaha menyelamatkan diri, petaka mulai muncul ketika salah saeorang dari mereka membersihkan wajahnya dengan air sungai Cikapundung. Apa yang terjadi selanjutnya ? Mampukah mereka menyelamatkan diri dari kejaran zombie?

Film ini menjadi medium edukasi selain tentunya menghibur. Film indie yang disutradarai Prama Yodha ini, turut menggandeng organisasi Greenpeace untuk menyadarkan masyarakat akan kondisi Sungai Cikapundung yang merupakan wilayah Daerah Aliran Sungai Citarum. Dengan mengambil subjek zombie, film ini diharapkan mendorong masyarakat agar waspada terhadap dampak pencemaran DAS Citarum yang semakin merajalela dan berbahaya.

Film The Last Report ini mengambil lokasi syuting di kawasan hutan Jayagiri, Lembang dan kota Bandung. Aksi zombie yang menakutkan merupakan hasil kolaborasi pembuat film dengan komunitas IZOC (Indonesia Zombie Club) untuk “menghidupkan” dampak negatif pencemaran Sungai Cikapundung.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-last-report-serangan-zombie-sungai-cikapundung/feed/ 0
The Croods, Makhluk Prasejarah pun Butuh Pengetahuan https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-croods-makhluk-prasejarah-pun-butuh-pengetahuan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=the-croods-makhluk-prasejarah-pun-butuh-pengetahuan https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-croods-makhluk-prasejarah-pun-butuh-pengetahuan/#respond Sun, 07 Jun 2015 11:16:03 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9510 Judul film: The Croods Sutradara: Kirk DeMicco, Chris Sanders Pemain: Nicolas Cage, Emma Stone, Ryan Reynolds, Catherine Keener, Clark Duke, Cloris Leachman Produksi: DreamWorks Animation (2013) Durasi: 98 menit Film […]]]>

Judul film: The Croods
Sutradara: Kirk DeMicco, Chris Sanders
Pemain: Nicolas Cage, Emma Stone, Ryan Reynolds, Catherine Keener, Clark Duke, Cloris Leachman
Produksi: DreamWorks Animation (2013)
Durasi: 98 menit

Film “The Croods” mengambil latar sebuah zaman prasejarah fiksi Pliocene, yang dikenal dengan The Croodaceous. Di jaman ini, periode kehidupan diwarnai dengan makhluk-makhluk fantasi dan manusia berada dalam posisi sebagai “Pemimpin Perburuan”.

Eep (Emma Stone), seorang gadis remaja yang ingin menikmati indahnya alam di luar goa tempat ia dan keluarganya tinggal. Namun, sang Ayah, Grug (Nicolas Cage) selalu melarangnya karena menganggap dunia luar penuh dengan kejahatan.

Hingga pada suatu malam, Eep keluar dari goa secara diam-diam. Tanpa disangka, ia bertemu dengan Guy (Ryan Reynolds) yang sedang membuat api. Eep kaget dan kagum akan kehebatan Guy yang bisa membuat api.

Dalam pertemuan itu, Guy memberitahu Eep perihal teori pribadinya bahwa dunia sedang menuju ‘akhir’ dan meminta Eep agar bergabung untuk bersama-sama menyelamatkan diri, namun Eep menolak ajakan tersebut. Sebelum pergi, Guy memberikan Eep sebuah kerang yang bisa ditiup jika membutuhkan bantuan darinya.

Dalam keadaan yang tidak pernah melihat ‘benda baru’, Eep menunjukkan kerang pemberian Guy kepadakeluarganya. Sayang, dalam sekejap kerang tersebut dihancurkan oleh keluarganya yang merasa terancam. Tiba-tiba saja gempa bumi terjadi dan menghancurkan goa tempat mereka tinggal. Keluarga ini terpaksa keluar dari lingkungan mereka tinggal dan mencari tempat tinggal baru.

Setelah berdebat dengan Grug, Eep yang keras kepala akhirnya berhasil memanggil Guy. Grug mau tidak mau menerima Guy meski penuh rasa curiga dan penolakan.

Seiring berjalannya waktu, banyak hal dan pengetahuan yang di dapat dari Guy, namun Grug terus menolak hal baru tersebut. Grug merasa terancam dengan kehadiran Guy karena ia merasa dilupakan oleh keluarganya terutama oleh Eep. Namun, sekeras apapun Grug menolak Guy, akhirnya ia mau membuka pikirannya untuk menerima penemuan-penemuan baru.

Saat ia mau menerima itu semua, tiba-tiba saja terjadi gempa yang begitu dahsyat. Grug menyelamatkan keluarganya dengan melemparkan mereka satu persatu ke seberang tebing. Namun, belum sempat Grug menyelamatkan diri, gempa kembali mengguncang. Dapatkah Grug menyelamatkan diri untuk berkumpul kembali dengan keluarganya?

Berbagai petualangan dan gambar-gambar menarik memenuhi film “The Croods”, termasuk humor dan adegan lucu para karakternya. “The Croods” pun masuk sebagai salah satu nominator kategori Film Animasi Terbaik dalam ajang penghargaan film bergengsi Academy Awards (Oscar) tahun 2014. Film animasi yang dirilis tahun 2013 ini diperuntukan untuk seluruh keluarga, jadi tidak ada salahnya menonton film ini bersama orang-orang yang Anda cintai. Selamat menonton!

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-croods-makhluk-prasejarah-pun-butuh-pengetahuan/feed/ 0
Gempa Bumi Maha Dahsyat di San Andreas https://www.greeners.co/gaya-hidup/gempa-bumi-maha-dahsyat-di-san-andreas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gempa-bumi-maha-dahsyat-di-san-andreas https://www.greeners.co/gaya-hidup/gempa-bumi-maha-dahsyat-di-san-andreas/#respond Sat, 30 May 2015 12:45:06 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9348 Judul Film: San Andreas Sutradara: Brad Peyton Pemain: Dwayne Johnson, Carla Gugino, Alexandra Daddario, Paul Giamatti, Archie Panjabi Produksi: Warner Bros., Village Roadshow Pictures (2015) Durasi: 114 menit Gempa bumi […]]]>

Judul Film: San Andreas
Sutradara: Brad Peyton
Pemain: Dwayne Johnson, Carla Gugino, Alexandra Daddario, Paul Giamatti, Archie Panjabi
Produksi: Warner Bros., Village Roadshow Pictures (2015)
Durasi: 114 menit

Gempa bumi hebat melanda California. Tidak tanggung-tanggung kerusakan yang ditimbulkannya, mulai dari dam yang hancur, jembatan Golden Gate di San Fransisco rusak parah, hingga ratusan (atau mungkin ribuan) gedung-gedung pencakar langit runtuh ke tanah. Tak ketinggalan, tulisan “Hollywood” lepas dari tempatnya.

Semua itu ada dalam film fiksi penuh aksi berjudul “San Andreas”. Film yang dibintangi oleh mantan pegulat profesional Hollywood, Dwayne “The Rock” Johnson ini penuh dengan ketegangan yang menggambarkan kerusakan maha dahsyat akibat terjadinya gempa bumi berkekuatan 9,6 skala Richter yang mengguncang California.

Ray Gains (Dwayne Johnson), seorang pilot helikopter dari Departemen Pemadam Kebakaran Los Angeles, sangat berdedikasi dengan pekerjaannya. Namun, hubungan dengan istrinya, Emma (Carla Gugino) tidak berjalan dengan baik dan akan bercerai. Hanya anak perempuannya, Blake (Alexandra Daddario) yang masih rajin menghubunginya untuk menanyakan kabar.

Suatu hari, gempa bumi menghancurkan Hoover Dam dan merenggut banyak korban. Atas kejadian ini, Ray turun tangan untuk menyelamatkan para korban. Namun tak disangka, gempa tersebut mengaktifkan lempengan bumi lainnya dan menimbulkan gempa susulan di berbagai tempat dan dalam skala yang lebih besar.

Emma dan Blake turut menjadi korban dalam musibah itu namun mereka berada di tempat yang berbeda. Rasa kemanusiaan dan cintanya terhadap keluarga, membuat Ray nekat mencari istri dan anaknya. Ia pun rela menghadapi tsunami dan reruntuhan bangunan. Mampukah ia menemukan mereka dan berdamai dengan kenangan buruk yang ia simpan dalam hatinya?

Salah satu plot dalam film San Andreas yang menggambarkan bencana tsunami tengah mengancam penduduk kota dan bersiap menghancurkan jembatan Golden Gate di San Fransisco. Poster: Warner Bros

Salah satu plot dalam film San Andreas yang menggambarkan bencana tsunami tengah mengancam penduduk kota dan bersiap menghancurkan jembatan Golden Gate di San Fransisco. Poster: Warner Bros

Sepanjang film San Andreas, ada banyak hal yang bisa kita pelajari sehubungan dengan bencana gempa bumi. Tidak panik, mencari tempat berlindung terdekat (termasuk sembunyi di bawah meja yang kokoh), dan mencari tempat yang lebih tinggi jika berada di tepi pantai (untuk mengantisipasi terjadinya tsunami) adalah beberapa diantaranya. Namun, penonton juga harus ingat bahwa film ini adalah film fiksi yang melebih-lebihkan secuil fakta.

Dalam kehidupan nyata, patahan San Andreas (San Andreas fault) yang berada di California terlihat memanjang sekitar 800 mill dengan kedalaman 10-12 mill. Patahan ini terbentuk akibat pergesaran dari lempeng Pasifik dan lempeng Amerika Utara. Patahan San Andreas pertama kali diidentifikasi tahun 1895 oleh profesor Andrew Lawson dari University of California, Berkeley. Lawson pula yang mengambil kesimpulan bahwa patahan tersebut bergerak ke arah selatan California setelah terjadi gempa San Fransisco pada tahun 1906.

Film San Andreas ditayangkan di bioskop Indonesia mulai tanggal 29 Mei 2015. Jika Anda mengajak anak-anak untuk menonton film ini, berikan pengertian dan informasi yang benar seputar bencana alam kepada mereka. Selamat menonton!

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/gempa-bumi-maha-dahsyat-di-san-andreas/feed/ 0
Into The Wild, Belajar Arti Hidup Pada Alam https://www.greeners.co/gaya-hidup/into-the-wild-belajar-arti-hidup-pada-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=into-the-wild-belajar-arti-hidup-pada-alam https://www.greeners.co/gaya-hidup/into-the-wild-belajar-arti-hidup-pada-alam/#respond Sat, 23 May 2015 14:37:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9213 Judul film : Into The Wild Sutradara : Sean Penn Pemain : Emile Hirsch, Marcia Gay Harden, William Hurt, Jena Malone, Brian Dierker, Catherine Keener, Vince Vayghn, Zach Galifianakis, Kristen […]]]>

Judul film : Into The Wild
Sutradara : Sean Penn
Pemain : Emile Hirsch, Marcia Gay Harden, William Hurt, Jena Malone, Brian Dierker, Catherine Keener, Vince Vayghn, Zach Galifianakis, Kristen Stewart, Hal Holbrook
Produksi: Paramount Vantage, River Road Entertainment, Art Linson Productions (2007)
Durasi : 148 menit

Keinginan untuk mencari arti hidup yang jauh dari kepalsuan, membuatnya melepaskan segala sesuatu yang telah diraihnya. Ia meninggalkan uang, gelar pendidikan dan keluarganya untuk menemukan jati diri.

Diusung dari kisah nyata, Into The Wild menyajikan cerita yang menyentuh tentang pencarian arti hidup yang jauh dari kepalsuan. Christopher Mc Candless (Emile Hirsch), seorang mahasiswa yang baru saja dinyatakan lulus memilih untuk melakukan sebuah perjalanan dengan membawa semua harta miliknya. Dengan mobil Datsun B210, berangkatlah ia ke arah Barat Atlanta menuju alam liar.

Tanpa memberitahu seorangpun mengenai perjalanannya, ditambah keinginan untuk menghilangkan jejak dari kedua orang tuanya, Mc Candless mengubah pola hidup serta mengganti nama aslinya menjadi Alexander Si Petualang Super. Tak tanggung-tanggung, Mc Candless menyumbangkan seluruh tabungannya untuk amal, membakar sisa uangnya, dan meninggalkan mobil demi merasakan pengalaman yang murni dan transendental.

Dalam perjalanannya, Mc Candless berjumpa dengan banyak orang yang mau memberikan tumpangan, pekerjaan, atau penginapan untuk satu atau dua malam. Ia pun selalu berjanji untuk mengirimkan kartu pos setelah misinya selesai dijalankan.

Pada April 1992, McCandless tiba di Fairbanks dan pada tanggal 1 Mei 1992 ia menemukan bus nomor 142 terdampar di sebelah barat Healy. Bus yang hanya tinggal kerangka tersebut dimanfaatkan sebagai rumah barunya di alam liar. Ia hidup dengan berburu landak, rusa, bebek dan memakan umbi-umbian dan buah raspberry. Kehidupan alam liar itu membuat obsesinya untuk menjauhkan diri dari kehidupan modern tercapai. Namun, dapatkah ia bertahan menjalani impiannya?

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/into-the-wild-belajar-arti-hidup-pada-alam/feed/ 0
Pemprov DKI Berdayakan Kota Tua Jadi Pusat Kesenian https://www.greeners.co/berita/pemprov-dki-berdayakan-kota-tua-jadi-pusat-kesenian/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemprov-dki-berdayakan-kota-tua-jadi-pusat-kesenian https://www.greeners.co/berita/pemprov-dki-berdayakan-kota-tua-jadi-pusat-kesenian/#respond Thu, 30 Apr 2015 10:28:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8775 Jakarta (Greeners) – Pemprov DKI bersama Jakarta Endowment For Art and Heritage menggandeng komunitas film, musik dan teater untuk memberdayakan Kota Tua melalui kegiatan seni. Adapun keterlibatan komunits diberi kesempatan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemprov DKI bersama Jakarta Endowment For Art and Heritage menggandeng komunitas film, musik dan teater untuk memberdayakan Kota Tua melalui kegiatan seni. Adapun keterlibatan komunits diberi kesempatan untuk mengelola bangunan tua di Jalan Roa Malaka 7 dan 9 menjadi gedung eksternal yang nantinya akan menjadi wadah bagi komunitas film, musik dan teater Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Rencana tersebut selain untuk meningkatkan kegiatan perekonomian Kota Tua sebagai tempat destinasi turis lokal dan mancanegara. Selain itu, untuk membangkitkan kreatifitas seniman-seniman muda yang berfokus pada film, musik dan teater di Kota Tua yang telah ditetapkan sebagai destinasi wisata utama di Indonesia oleh Menteri Pariwisata beberapa waktu yang lalu.

“Perlu di kota besar seperti Jakarta terdapat wadah seperti ini agar anak-anak muda tidak hanya menghabiskan waktu di mall-mall dan terus-menerus memakan junk food, dan melanjutkan kegiatannya dengan menonton sinetron secara terus menerus merupakan suatu pembodohan,”ujar Goenawan Mohamad selaku budayawan dan Ketua Dewan Penasihat PT Pembangunan Kota Tua Jakarta (JOTRC) dalam acara Pencanangan Pendidikan dan Komunitas Musik, Teater, Film di Kota Tua, Jakarta, Rabu (29/4).

Foto: greeners.co/Gloria Safira

Foto: greeners.co/Gloria Safira

Ia menambahkan, meskipun sebuah pementasan musik, teater dan film hanya berlangsung tiga hari, diperlukan persiapan untuk melatih diri yang membutuhkan waktu lama bahkan bisa terhitung bulanan. Oleh karena itu, ia sangat mendukung adanya kesadaran dan perhatian pemerintah terhadap seniman-seniman muda yang nantinya bisa memajukan bangsa Indonesia.

Dukungan juga datang dari Shelvy Arifin selaku Direktur Utama Produksi Film Negara. “Bagaimana kita (PFN dan Pemprov DKI serta JOTRC) bisa bekerja sama agar tidak terjadi tumpang tindih,” ujarnya.

Pengintegrasian pendidikan, seni dan pembentukan komunitas merupakan fenomena baru di Jakarta maupun di Indonesia. Diharapkan, gerakan ini dapat mengembalikan pengembangan budaya dan pendidikan sebagai kunci utama revitalisasi.

Sesuai dengan slogan Kota Tua Jakarta (To Work, To Live, To Play), Pemprov DKI dan JOTRC akan terus memberikan insensif dan mendorong seniman, pemusik, insan film, siswa untuk hidup, bekerja dan berkiprah di sini.

“Gedung ini adalah distrik pendidikan untuk kegiatan ekstrakulikuler atau laboratorium Institut Kesenian Jakarta (IKJ) untuk musik, teater dan film,” imbuh Lin Che Wie, CEO JOTRC.

Kota Tua Jakarta sangat potensial guna dijadikan destinasi wisata. Selain bersejarah, juga karena Kota Tua dapat menjadi tempat untuk menimba pengetahuan. Selain itu, guna mensukseskan kegiatan ini, Pemprov DKI akan melakukan kerjasama dengan JOTRC, Institut Kesenian Jakarta, PT PPI (Persero) dan Perum Produksi Film Negara (PPFN).

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/berita/pemprov-dki-berdayakan-kota-tua-jadi-pusat-kesenian/feed/ 0
Unbroken, Semangat Tak Terpadamkan https://www.greeners.co/gaya-hidup/unbroken-semangat-tak-terpadamkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=unbroken-semangat-tak-terpadamkan https://www.greeners.co/gaya-hidup/unbroken-semangat-tak-terpadamkan/#respond Wed, 18 Feb 2015 02:00:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=7451 Judul film: Unbroken Sutradara: Angelina Jolie Pemain: Jack O’Connell, Domnhall Gleeson, Garrett Hedlund, Miyavi, Fin Wittrock, Alex Russell Produksi: Universal Pictures Durasi: 137 menit Film dibuka dengan adegan Louis “Louie” […]]]>

Judul film: Unbroken
Sutradara: Angelina Jolie
Pemain: Jack O’Connell, Domnhall Gleeson, Garrett Hedlund, Miyavi, Fin Wittrock, Alex Russell
Produksi: Universal Pictures
Durasi: 137 menit

Film dibuka dengan adegan Louis “Louie” Zamperini (Jack O’Connell) terbang melintasi Jepang. Ia menjadi juru bom dari pesawat milik pertahanan udara Amerika Serikat B-24 Liberator. Nahas, pesawat yang ia tumpangi rusak parah terkena tembakan musuh sehingga harus mendarat darurat di sebuah pulau. Beruntung, ia dan sebagian besar rekan-rekannya berhasil selamat.

Cerita kemudian berjalan mundur ke masa dimana Louie kecil dikenal sebagai warga Amerika keturunan Italia yang gemar mencari masalah. Suatu hari, Louie ketahuan mengintip rok perempuan dari bawah bangku penonton. Ia pun lari menyelamatkan diri. Saat itulah Pete, kakak Louie, menyadari adiknya memiliki bakat lari dan memutuskan untuk mengasah Louie menjadi pelari hingga mendapat julukan “The Torrance Tornado” (Si Tornado dari Torrance).

Louie akhirnya mendapat kesempatan bertanding dalam Olimpiade di Berlin, Jerman. Meski ia hanya masuk dalam urutan ke delapan, ia berhasil mencetak rekor pada lap terakhir dengan waktu 56 detik. Ia pun berniat untuk menang pada Olimpiade berikutnya yang rencananya diselenggarakan di Jepang.

Namun, Perang Dunia II meletus. Louie menjadi tentara dan bergabung dalam Angkatan Udara Amerika. Tanpa diduga, pesawat yang membawanya rusak dan jatuh di laut lepas. Louie dan dua orang rekannya selamat. Terombang ambing di lautan tanpa makanan dan minuman yang layak dalam waktu lama membuat kondisi mereka sangat memprihatinkan. Salah seorang rekan Louie pun akhirnya meninggal karena tak sanggup lagi menunggu bantuan yang tak kunjung datang.

Selama 47 hari Louie dan Phil (Domnhall Gleeson) tidak menginjak daratan hingga perahu milik tentara Jepang menemukan mereka. Impian Louie untuk pergi ke Jepang menjadi kenyataan namun dengan status tahanan perang Jepang.

Hidup sebagai tahanan perang sangat tidak mudah bagi Louie. Berbagai siksaan fisik dan mental menderanya. Pesan bijak sang kakak teringat dalam benaknya, “If you can take it, you can make it”. Louie pun mendorong dirinya untuk bertahan hidup hingga batas kemampuannya.

Film ini dibuat berdasarkan buku yang ditulis Laura Hillenbrand berjudul “Unbroken: A World War II Story of Survival, Resilience and Redemption”. Meski begitu, Angelina Jolie yang duduk sebagai sutradara dan juga produser film “Unbroken”, berhasil membuat film bergenre drama perang biografi ini dapat dicerna dengan mudah. Pesan moral tentang semangat dan pantang menyerah juga tersampaikan dengan baik.

Film ini diputar di Indonesia mulai tanggal 13 Februari 2015 di jaringan bioskop Cinema XXI.

(G08)

[See image gallery at www.greeners.co]

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/unbroken-semangat-tak-terpadamkan/feed/ 0
Mahasiswa, Tentara dan Pegawai Istana Di Balik 98 https://www.greeners.co/gaya-hidup/mahasiswa-tentara-dan-pegawai-istana-di-balik-98/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-tentara-dan-pegawai-istana-di-balik-98 https://www.greeners.co/gaya-hidup/mahasiswa-tentara-dan-pegawai-istana-di-balik-98/#respond Sun, 11 Jan 2015 13:28:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=7051 Judul film: Di Balik 98 Sutradara: Lukman Sardi Pemain: Chelsea Islan, Boy William, Donny Alamsyah, Alya Rohali, Ririn Ekawati, Teuku Rifnu Wikana Produksi: MNC Pictures Durasi: 106 menit Kerusuhan yang […]]]>

Judul film: Di Balik 98
Sutradara: Lukman Sardi
Pemain: Chelsea Islan, Boy William, Donny Alamsyah, Alya Rohali, Ririn Ekawati, Teuku Rifnu Wikana
Produksi: MNC Pictures
Durasi: 106 menit

Kerusuhan yang terjadi di tahun 1998 menjadi salah satu catatan sejarah kelam bangsa Indonesia. Demonstrasi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa bersama dengan rakyat untuk menurunkan Presiden Soeharto berbuntut pada tragedi penembakan mahasiswa dan eksodus etnis Tionghoa dari Indonesia ke luar negeri.

Seorang mahasiswi idealis bernama Diana (Chelsea Islan) bergabung dengan gerakan mahasiswa kampusnya. Ia dan teman-temannya merencanakan untuk melakukan aksi demonstrasi besar-besaran menuntut adanya reformasi di negara ini. Daniel (Boy William), pacar Diana, ikut terlibat dalam gerakan tersebut, namun Daniel menyatakan bahwa dirinya sebenarnya tidak suka konfrontasi.

Pada Mei 1998, demonstrasi yang direncanakan akhirnya dijalankan. Namun, aksi yang semula berjalan damai berubah anarkis. Adanya provokator yang menyusup diantara para demonstran membuat militer mengambil tindakan melampaui batas, mereka menggunakan peluru tajam dan melakukan penyisiran hingga ke dalam kampus.

Diana yang sempat bertemu dengan kakak iparnya, Bagus (Donny Alamsyah), di lokasi demonstrasi, sempat bersitegang. Ia menuduh Bagus lebih mementingkan karirnya sebagai Letnan Dua di kemiliteran daripada kakak perempuan sekaligus istri Bagus, Salma (Ririn Ekawati), yang tengah hamil besar.

Sementara itu, Salma yang merupakan pegawai Istana Negara, mencemaskan keselamatan Diana. Ia menyusup keluar istana untuk mencari adiknya. Namun di tengah jalan, ia terjebak di tengah-tengah massa yang riuh menjarah pusat perbelanjaan dan membakar kendaraan. Tak kuat, Salma pun pingsan.

Selama beberapa hari setelah demonstrasi besar, suasana berubah mencekam, terlebih bagi Daniel. Ia yang keturunan Tionghoa, tidak kuasa menahan sedih ketika mendapati rumahnya hancur berantakan dan ayah serta adik perempuannya tidak ada di sana. Sembunyi-sembunyi, ia berusaha mencari keluarganya. Di salah satu lorong jalan, kumpulan preman yang tengah berjaga menyadari kehadiran Daniel dan lari mengejarnya.

Meski film “Di balik 98” berlatar belakang kerusuhan yang terjadi pada tahun 1998 dan memasukan beberapa penggalan gambar dokumentasi saat terjadinya kerusuhan tersebut, namun Lukman Sardi selaku sutradara menyatakan film ini bukanlah film sejarah.

“(Di Balik) 98 ini menguatkan karakter keluarga yang gue buat. Jadi, gue berusaha menampilkan sesuatu yang dimasyarakat juga sudah familiar dengan karakter utamanya yang fiksi. Disitu terjadi konflik antara mereka bertiga, dari sisi mahasiswa, sisi tentara, sisi pegawai istana. Semua punya sudut pandang yang berbeda-beda,” ujar Lukman saat dijumpai usai pemutaran film “Di balik 98” untuk media di Djakarta Theater XXI, Jakarta, Rabu (7/01) lalu. Film ini direncanakan akan tayang serentak di bioskop mulai tanggal 15 Januari 2015.

(G08)

[See image gallery at www.greeners.co]

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/mahasiswa-tentara-dan-pegawai-istana-di-balik-98/feed/ 0
The Hobbit: The Battle of the Five Armies https://www.greeners.co/gaya-hidup/hobbit-battle-five-armies/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hobbit-battle-five-armies https://www.greeners.co/gaya-hidup/hobbit-battle-five-armies/#respond Wed, 24 Dec 2014 09:14:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=6887 Judul film: The Hobbit: The Battle of the Five Armies Sutradara: Peter Jackson Pemain: Martin Freeman (Bilbo Baggins), Ian McKellen (Gandalf), Richard Armitage (Thorin), Orlando Bloom (Legolas), Evangeline Lilly (Tauriel), […]]]>

Judul film: The Hobbit: The Battle of the Five Armies
Sutradara: Peter Jackson
Pemain: Martin Freeman (Bilbo Baggins), Ian McKellen (Gandalf), Richard Armitage (Thorin), Orlando Bloom (Legolas), Evangeline Lilly (Tauriel), Lee Pace (Thranduil), Luke Evans (Bard)
Produksi: Warner Bros Pictures, Desember 2014
Durasi: 144 menit

Dalam “The Hobbit: The Battle of the Five Armies”, Bilbo Baggins (Martin Freeman) dan para ksatria terbaik kaum Hobbit dan raja mereka, Thorin (Richard Armitage) berusaha mempertahankan gunung Lonely Mountain. Di gunung ini, emas berlimpah yang dijaga oleh naga Smaug tersimpan. Tidak hanya itu, benda pusaka milik kaum peri berikut batu bertuah Arkenstone juga ada didalamnya.

Kaum Hobbit, manusia, peri, Orc, dan kurcaci, semuanya memiliki kepentingan atas Lonely Mountain. Peperangan kelima kaum ini pun tidak dapat dihindarkan. Mendekati bagian akhir, burung elang raksasa dan Beorn yang berwujud beruang, serta pepohonan bergabung ke medan pertempuran. Siapakah yang bertahan hingga akhir?

Film yang diadaptasi dari novel “The Hobbit” karya J.R.R. Tolkien ini merupakan bagian akhir dari trilogi film The Hobbit. Sebagaimana kisah sebelumnya, Peter Jackson yang menyutradarai film ini berhasil menggambarkan peperangan yang sarat pertumpahan darah, kehilangan orang yang dikasihi, pengorbanan, dan tipu daya lebur dalam kisah epik yang mengharu biru. Tidak ketinggalan, penggunaan format High Frame Rate 3D (HFR 3D) yang meningkatkan ketajaman gambar serta efek visual yang sangat halus membuat film berdurasi 144 menit ini layak ditonton hingga akhir.

“The Hobbit: The Battle of the Five Armies” sudah dapat disaksikan di jaringan bioskop Cinema XXI dalam format 3D dan HFR 3D. Selamat menonton!

(G08)

[See image gallery at www.greeners.co]

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/hobbit-battle-five-armies/feed/ 0
SUPERNOVA: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh https://www.greeners.co/gaya-hidup/supernova-ksatria-putri-dan-bintang-jatuh/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=supernova-ksatria-putri-dan-bintang-jatuh https://www.greeners.co/gaya-hidup/supernova-ksatria-putri-dan-bintang-jatuh/#respond Fri, 12 Dec 2014 07:28:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=6725 Judul film: SUPERNOVA: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh Sutradara: Rizal Mantovani Pemain: Herjunot Ali, Raline Shah, Paula Verhoeven, Fedi Nuril, Arifin Putra, Hamish Daud Produksi: PT Soraya Intercine Films, Desember […]]]>

Judul film: SUPERNOVA: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh
Sutradara: Rizal Mantovani
Pemain: Herjunot Ali, Raline Shah, Paula Verhoeven, Fedi Nuril, Arifin Putra, Hamish Daud
Produksi: PT Soraya Intercine Films, Desember 2014
Durasi: 136 menit

Hidup penuh dengan pilihan. Banyak orang berusaha memaknai hidup namun hanya sedikit yang benar-benar memilih menikmati proses hidup itu sendiri. Dewi ‘Dee’ Lestari bahkan menawarkan pilihan bahwa bukan melulu “aku berpikir maka aku ada” atau cogito ergo sum, melainkan opto ergo sum yang berarti “aku memilih maka aku ada”.

Film yang diangkat dari novel karangan Dewi Lestari dengan judul yang sama ini mengajak penonton untuk merenungkan atau setidaknya berpikir kembali bahwa ada begitu banyak pilihan dalam hidup. Berikut dengan konsekuensinya.

Adalah Rana (Raline Shah) yang memilih menikah dengan Arwin (Fedi Nuril) dengan harapan hidupnya akan bahagia. Pertimbangan bibit, bebet, bobot nampaknya menjadi standar Rana saat memilih Arwin. Namun, kebahagiaan dan perasaan dicintai justru muncul setelah ia bertemu dengan Fere (Herjunot Ali), seorang pengusaha muda sukses yang menjadi nara sumber tulisannya.

Di lain cerita, Dimas (Hamish Daud) dan Reuben (Arifin Putra) adalah dua orang yang menciptakan kisah cinta segitiga Rana, Arwin, dan Fere. Mereka pun memasukan seorang cyber avatar bernama Diva (Paula Verhoeven). Siapa sangka, dipenghujung cerita, keadaan justru diluar kendali keduanya.

Sebagaimana bukunya, film ini penuh dengan dialog-dialog yang bercampur dengan istilah ilmiah. Namun, Rizal Mantovani yang bertindak sebagai sutradara mengaku tidak ingin terjebak dalam detail buku yang masuk dalam jajaran “Best Seller” tidak lama setelah diterbitkan pada tahun 2001 lalu itu.

“Dalam adaptasi ini saya mencoba bagaimana caranya mengambil bukan detailnya, tapi spirit dan soul-nya,” ujarnya di Plaza Senayan beberapa waktu lalu.

Jika merasa pusing dengan dialog yang dilontarkan oleh keenam tokoh cerita tersebut, mungkin mencermati keindahan kota Bali, Jakarta, Medan, Madura, Banyuwangi, Labuan Bajo dan Washington yang menjadi setting film ini dapat meringankan pikiran Anda. Film berdurasi 136 menit ini tayang serentak di bioskop pada tanggal 11 Desember 2014.

(G08)

[See image gallery at www.greeners.co]

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/supernova-ksatria-putri-dan-bintang-jatuh/feed/ 0
Bears https://www.greeners.co/gaya-hidup/bears/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bears https://www.greeners.co/gaya-hidup/bears/#respond Mon, 20 Oct 2014 05:26:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=6196 Judul film: Bears Sutradara: Alastair Fothergill, Keith Scholey Penulis naskah: Alastair Fothergill, Adam Chapman Narasi: John C. Reilly Produksi : Disneynature, 18 April 2014 (tayang perdana) Durasi : 77 menit, […]]]>

Judul film: Bears
Sutradara: Alastair Fothergill, Keith Scholey
Penulis naskah: Alastair Fothergill, Adam Chapman
Narasi: John C. Reilly
Produksi : Disneynature, 18 April 2014 (tayang perdana)
Durasi : 77 menit, dokumenter

Disneynature, sebuah label film independen dari studio Walt Disney kembali merilis sebuah film dokumenter apik yang menyentuh hati. “Bears”, sebuah kisah tentang bagaimana seekor beruang yang berada pada jajaran hewan paling ditakuti oleh manusia, mampu bertahan hidup dan menjaga keselamatan bayinya yang baru lahir dari ganasnya perubahan iklim yang menyerang habitat mereka.

Film ini dibuka dengan adegan Sky, seekor ibu beruang grizzly yang tinggal di pegunungan Alaska, salah satu negara bagian di Amerika Serikat dan sedang melahirkan dua ekor anaknya yang bernama Scout dan Amber.

Sky menyadari bahwa menjadi orang tua adalah hal yang sulit. Terlebih, dia tahu betul kalau pada tahun pertamanya, anak beruang seringkali tidak bisa bertahan hidup. Keadaan alam dan ancaman hewan buas lainnya membuat Sky harus lebih waspada dan menjalankan perannya sebagai seorang Ibu.

Saat musim dingin berlalu dan mulai memasuki musim panas, Sky harus segera membawa anaknya ke tepi pantai untuk mengisi kembali perutnya yang tertahan lapar dengan beberapa ekor ikan salem kesukaan para beruang. Karena jika tidak, maka susunya akan kering dan anak-anaknya akan sangat kelaparan.

Namun musim panas adalah musim yang kejam. Musim yang jahat bagi bayi-bayi beruang. Namun, bahaya atau tidak, Sky harus bisa menghadapi ancaman tanah longsor maupun serangan hewan liar agar Scout dan Amber kecil bisa berada di tepi pantai. Karena, sebagai Ibu dia tahu betul, keberlangsungan anak-anaknya bergantung pada ikan salem itu. Untungnya beruang memiliki insting untuk menghindari bencana.

“Bears” adalah film dokumenter terbaru dari Disneynature, label yang sebelumnya juga pernah merilis film non-fiksi yang ditujukan kepada keluarga setiap tahunnya menjelang Hari Bumi, seperti “Earth” (2009) dan “Oceans” (2010).

Film yang digarap untuk menyambut Hari Bumi setiap tanggal 22 April ini mulai dirilis secara komersial pada tanggal 18 April 2014 lalu. Dengan tangan hangat Alastair Fothergill dan Keith Scholey sebagai sutradara, film ini akhirnya mampu membuat anak-anak maupun orang dewasa yang menontonnya terhenyak dan sadar bahwa manusia tidak tinggal sendirian di Bumi. Dan, selalu ada yang menjadi korban atas rusaknya bumi oleh tangan-tangan manusia.

Ceritanya yang ringan dan menyentuh hati, serta diiringi oleh narasi apik dari John C. Reilly yang juga pernah menjadi pengisi suara di film animasi Disney “Wreck-It Ralph”, membuat siapapun yang menyaksikan “Bears” seakan ikut merasakan hidup bersama Sky dan Scout serta Amber saat menjelajahi Alaska.

Tidak lupa juga keindahan dan keeksotisan daratan-daratan Alaska ditampilkan bersama momen-momen terbaik pada beberapa adegan yang ditampilkan oleh Alastair mampu memesona mata dan membayangkan indahnya dunia yang nun jauh di sana.

Film ini mengajari kita bagaimana indahnya sebuah keluarga dan begitu besarnya pengorbanan serta kasih sayang Ibu dalam menjaga anak-anaknya. Serta tidak lupa mengingatkan seluruh umat manusia bahwa hewan-hewan liar di luar sana akan selalu merasakan dampak sekaligus menjadi korban atas kerusakan apapun yang dilakukan oleh manusia pada alam.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bears/feed/ 0