gejala hantavirus - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/gejala-hantavirus/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 13 May 2026 10:20:42 +0000 id hourly 1 Waspadai Hantavirus, Pahami Gejala dan Langkah Pencegahannya https://www.greeners.co/berita/waspadai-hantavirus-pahami-gejala-dan-langkah-pencegahannya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waspadai-hantavirus-pahami-gejala-dan-langkah-pencegahannya https://www.greeners.co/berita/waspadai-hantavirus-pahami-gejala-dan-langkah-pencegahannya/#respond Wed, 13 May 2026 10:20:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=48473 Jakarta (Greeners) – Informasi mengenai hantavirus kini menjadi perhatian publik. Masyarakat perlu memahami virus ini, mulai dari gejala hingga langkah pencegahannya. Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset […]]]>

Jakarta (Greeners) – Informasi mengenai hantavirus kini menjadi perhatian publik. Masyarakat perlu memahami virus ini, mulai dari gejala hingga langkah pencegahannya.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ristiyanto mengatakan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik. Penularannya melalui rodensia atau hewan pengerat, terutama tikus liar.

Beberapa jenis tikus yang dapat menjadi reservoir hantavirus antara lain tikus rumah (Rattus rattus), tikus got (Rattus norvegicus), tikus ladang, hingga mencit liar. Tikus-tikus tersebut hidup di area permukiman, pertanian, maupun hutan.

Salah satu jenis hantavirus yang banyak dibahas adalah Andes virus, ditemukan pada tikus liar (Oligoryzomys longicaudatus). Spesies ini umum ditemukan di kawasan Patagonia, Argentina dan Chile. Virus ini dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu infeksi paru berat yang berpotensi menimbulkan gagal napas akut.

“Reservoir utama Andes virus adalah tikus liar. Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel halus dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi,” jelas Ristiyanto, Minggu (10/5).

Ia menambahkan penelitian mengenai hantavirus di Indonesia telah berlangsung sejak 1991. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Kementerian Kesehatan, khususnya di wilayah Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur, melakukan penelitian tersebut. Hal ini merupakan upaya pemantauan penyakit zoonosis dan identifikasi rodensia yang berpotensi menjadi reservoir virus di Indonesia.

Kenali Gejala Awal

Ristiyanto mengungkapkan gejala awal infeksi hantavirus sering menyerupai influenza, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, lemas, hingga gangguan pencernaan. Karena gejalanya tidak spesifik, diagnosis dini kerap terlambat dilakukan.

“Pada kondisi berat, infeksi dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan serius yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit,” kata Ristiyanto.

Ia menyebutkan bahwa tingkat kematian akibat HPS tergolong tinggi, yakni berkisar 20–35 persen. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap paparan rodensia dan deteksi dini menjadi faktor penting dalam pencegahan penyakit ini.

Sampai saat ini, Indonesia belum pernah melaporkan kasus Andes virus. Hasil riset vektor dan reservoir penyakit di Indonesia 2015–2018, Andes virus juga tidak ditemukan pada kelompok tikus domestik, peridomestik, maupun silvatik.

Meski demikian, kata dia, masyarakat perlu waspada. Sebab, Indonesia memiliki keanekaragaman rodensia yang tinggi, kepadatan penduduk besar, serta kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan populasi tikus.

Penyebaran Berbeda

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Arief Mulyono menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami informasi mengenai Andes virus secara proporsional. Meski terdapat laporan ilmiah mengenai kemungkinan penularan antarmanusia, karakteristik penyebarannya sangat berbeda dengan penyakit yang mudah menular seperti influenza, campak, maupun COVID-19.

“Penularan antarmanusia pada Andes virus sangat jarang terjadi dan umumnya hanya berlangsung melalui kontak erat dan intensif dalam waktu lama. Penyakit ini tidak menyebar cepat melalui udara di lingkungan masyarakat,” ujar Arief.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa temuan kasus pada pasangan intim tidak otomatis menjadikan Andes virus sebagai penyakit menular seksual. Penularan lebih mungkin terjadi akibat kedekatan fisik yang sangat intens. Ini termasuk paparan air liur atau sekret pernapasan pada fase akut penyakit.

Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar hantavirus antara lain pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, penghuni wilayah pedesaan, serta masyarakat yang membersihkan gudang atau bangunan tertutup. Risiko penularan meningkat pada ruangan dengan ventilasi buruk yang terkontaminasi kotoran tikus.

Untuk mencegah infeksi hantavirus, masyarakat dapat menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, dan menyimpan makanan dalam wadah tertutup. Masyarakat juga mesti menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi. Area tersebut sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu dan tidak langsung disapu agar partikel debu tidak beterbangan di udara.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/waspadai-hantavirus-pahami-gejala-dan-langkah-pencegahannya/feed/ 0