gelombang panas - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/gelombang-panas/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 24 Feb 2026 11:41:52 +0000 id hourly 1 Harga Kopi Naik 15% Akibat Krisis Iklim, Gelombang Panas Pangkas Produksi Global https://www.greeners.co/berita/harga-kopi-naik-15-akibat-krisis-iklim-gelombang-panas-pangkas-produksi-global/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=harga-kopi-naik-15-akibat-krisis-iklim-gelombang-panas-pangkas-produksi-global https://www.greeners.co/berita/harga-kopi-naik-15-akibat-krisis-iklim-gelombang-panas-pangkas-produksi-global/#respond Tue, 24 Feb 2026 11:41:52 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=48174 Jakarta (Greeners) — Krisis iklim tak hanya berdampak pada cuaca ekstrem dan kenaikan muka air laut. Gelombang panas yang kian intens memicu penurunan produksi dan mendorong kenaikan harga biji kopi, […]]]>

Jakarta (Greeners) — Krisis iklim tak hanya berdampak pada cuaca ekstrem dan kenaikan muka air laut. Gelombang panas yang kian intens memicu penurunan produksi dan mendorong kenaikan harga biji kopi, termasuk di Indonesia.

Secara global, harga kopi melonjak 45,89 persen dalam dua tahun terakhir. Lonjakan harga dari US$2,63 per kilogram pada 2023 menjadi US$4,86 per kilogram pada 2025. Di Indonesia, harga biji kopi robusta tercatat naik sekitar 15 persen akibat gangguan produksi imbas suhu ekstrem.

Gelombang Panas Tambah 57 Hari di Negara Penghasil Kopi

Analisis lembaga riset iklim Climate Central dalam laporan “More Coffee-Harming Heat Due to Carbon Pollution” mengungkapkan bahwa krisis iklim telah menambahkan rata-rata 57 hari gelombang panas di lima negara pemasok kopi terbesar dunia, yakni Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia, dan Indonesia. Kelima negara tersebut menyumbang sekitar 75 persen pasokan kopi global.

“Hampir setiap negara penghasil kopi utama kini mengalami lebih banyak hari dengan suhu panas ekstrem yang dapat merusak tanaman kopi, mengurangi hasil panen, dan memengaruhi kualitas,” ujar Wakil Presiden Sains Climate Central, Kristina Dahl.

Di Indonesia, yang berkontribusi sekitar 6 persen terhadap suplai kopi dunia, tercatat rata-rata 129 hari bersuhu merusak tanaman pada 2025. Dari jumlah tersebut, 73 hari di antaranya merupakan tambahan akibat perubahan iklim. Kondisi ini menekan produksi dan memicu inflasi harga kopi hingga 15 persen.

Kopi tumbuh optimal di wilayah yang terkenal sebagai coffee belt atau sabuk kopi, yakni daerah sekitar garis khatulistiwa dengan suhu stabil di bawah 30 derajat Celsius dan curah hujan tinggi. Namun, krisis iklim mengancam ketersediaan lahan ideal untuk budidaya kopi. Tanpa adaptasi yang memadai, luas lahan yang layak untuk pertanian kopi dapat menyusut hingga 50 persen pada 2050.

Ketika suhu melampaui ambang 30 derajat Celsius, tanaman kopi—baik robusta maupun arabika—mengalami stres panas. Dampaknya meliputi penurunan hasil panen, turunnya kualitas biji, hingga meningkatnya kerentanan terhadap hama dan penyakit. Kopi arabika bahkan lebih sensitif terhadap kenaikan suhu dibanding robusta, sehingga lebih rentan terdampak perubahan iklim.

Petani Kecil Paling Rentan

Dampak krisis iklim paling dirasakan oleh petani kecil yang mencakup sekitar 80 persen produsen kopi global dan menyumbang 60 persen pasokan dunia. Ironisnya, pada 2021 mereka hanya menerima sekitar 0,36 persen dari total pendanaan adaptasi iklim.

Rata-rata dukungan yang petani kecil terima setara dengan US$2,19 per hari untuk satu hektar lahan—bahkan lebih rendah dari harga secangkir kopi di banyak negara. Sebagian besar petani kecil mengelola lahan kurang dari 12 hektar dengan akses terbatas pada pembiayaan, informasi iklim, hingga pasar yang adil.

Lead Program Iklim dan Ekosistem MADANI Berkelanjutan, Yosi Amelia, menilai pendekatan agroforestri dapat menjadi solusi adaptasi yang efektif. Sistem kopi dengan pohon naungan mampu menciptakan iklim mikro yang lebih stabil, menjaga kelembapan tanah, serta mengurangi dampak suhu ekstrem dan variabilitas curah hujan.

“Agroforestri memperkuat ketahanan tanaman sekaligus menjaga keanekaragaman hayati dan penyimpanan karbon. Tantangan terbesar justru ada pada tata kelola perkebunan kopi. Tanpa sistem yang kuat, upaya adaptasi akan berjalan sporadis dan sulit mencapai skala yang dibutuhkan,” ujar Yosi.

Penulis: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/harga-kopi-naik-15-akibat-krisis-iklim-gelombang-panas-pangkas-produksi-global/feed/ 0
Indonesia Alami Lonjakan Hari Panas Tertinggi di Asia Sejak Perjanjian Paris https://www.greeners.co/berita/indonesia-alami-lonjakan-hari-panas-tertinggi-di-asia-sejak-perjanjian-paris/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-alami-lonjakan-hari-panas-tertinggi-di-asia-sejak-perjanjian-paris https://www.greeners.co/berita/indonesia-alami-lonjakan-hari-panas-tertinggi-di-asia-sejak-perjanjian-paris/#respond Thu, 23 Oct 2025 10:47:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=47545 Jakarta (Greeners) – Sejak Perjanjian Paris, Indonesia mengalami kenaikan hari panas tertinggi di Asia, yaitu bertambah 18 hari panas setiap tahunnya. Temuan ini datang dari laporan Climate Central dan World […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sejak Perjanjian Paris, Indonesia mengalami kenaikan hari panas tertinggi di Asia, yaitu bertambah 18 hari panas setiap tahunnya. Temuan ini datang dari laporan Climate Central dan World Weather Attribution (WWA) berjudul “Ten Years of the Paris Agreement: The Present and Future of Extreme Heat.”

Saat ini, Indonesia tak hanya menjadi negara dengan jumlah hari panas terbanyak di Asia, tetapi juga menempati urutan ketiga di dunia. Rata-rata hari panas di Indonesia naik dari 45 hari pada 2005–2014 menjadi 77 hari pada 2015–2024. Artinya, ada tambahan 18 hari panas setiap tahun.

Laporan tersebut juga menjelaskan bahwa sebelum Perjanjian Paris, pemanasan global menyentuh 4°C. Kenaikan suhu ini berdampak pada meningkatnya hari panas hingga rata-rata 114 hari per tahun. Meskipun negara-negara di dunia kini memenuhi rencana pengurangan emisi sesuai Perjanjian Paris, pemanasan global tetap akan mencapai 2.6°C dengan hari panas hanya berkurang 57 hari.

Semakin seringnya hari dengan suhu ekstrem seperti saat ini dapat menimbulkan berbagai dampak berbahaya. Dampak yang akan terjadi mulai dari krisis kesehatan, kekeringan, serta penurunan produktivitas di berbagai sektor.

Wakil Presiden Bidang Sains di Climate Central, Kristina Dahl mengungkapkan bahwa dampak gelombang panas baru-baru ini menunjukkan bahwa banyak negara belum siap menghadapi kondisi dengan pemanasan 1,3°C, apalagi 2,6°C, seperti yang diperkirakan.

“Perlu pemotongan emisi yang lebih cepat, lebih besar, dan lebih ambisius agar generasi mendatang dapat hidup dalam iklim yang aman,” ujar Kristina dalam keterangan tertulisnya, Rabu (22/10).

Hari Panas Dunia Meningkat

Tak hanya Indonesia yang mengalami jumlah hari panas. Dari Meksiko, Asia Selatan, hingga Eropa Selatan juga mengalami peningkatan hari panas.

Wilayah tropis seperti Amazon dan Asia Selatan juga menunjukkan peningkatan signifikan dalam frekuensi hari panas ekstrem. Ini memperlihatkan bahwa negara-negara beriklim tropis menghadapi risiko tertinggi terhadap gelombang panas.

Laporan tersebut juga menegaskan, gelombang panas ekstrem sering kali diabaikan sebagai bencana. Sehingga, banyak komunitas tetap berada dalam risiko akibat kurangnya definisi, kerangka hukum, dan data dampak yang jelas.

Kristina menambahkan, untuk mengatasi suhu panas, perlu penghijauan di kawasan perkotaan. Namun, langkah yang paling efektif untuk menghadapi permasalahan ini adalah bertransisi dari penggunaan minyak, gas, dan batu bara. Sebab, penggunaan energi fosil tersebut merupakan penyebab utama krisis iklim.

Transisi dari Fosil

Saat ini, meskipun negara-negara sudah menyepakati Perjanjian Paris untuk mengatasi dampak perubahan iklim, ada hal yang sebenarnya lebih penting. Menurut Profesor Ilmu Iklim di Centre for Environmental Policy, Imperial College London, Friederike Otto, negara-negara masih tetap harus berpindah dari minyak, gas, dan batu bara.

“Kita memiliki semua pengetahuan dan teknologi untuk bertransisi dari bahan bakar fosil. Namun, perlu kebijakan yang lebih kuat dan adil untuk bergerak lebih cepat,” kata Friederike.

Ia menegaskan bahwa para pemimpin politik perlu memahami tujuan utama dari Perjanjian Paris dengan lebih serius. Hal ini penting untuk melindungi hak asasi manusia di dunia.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-alami-lonjakan-hari-panas-tertinggi-di-asia-sejak-perjanjian-paris/feed/ 0
Studi: Gelombang Panas dapat Menyebabkan Udara Lebih Tercemar https://www.greeners.co/berita/studi-gelombang-panas-dapat-menyebabkan-udara-lebih-tercemar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=studi-gelombang-panas-dapat-menyebabkan-udara-lebih-tercemar https://www.greeners.co/berita/studi-gelombang-panas-dapat-menyebabkan-udara-lebih-tercemar/#respond Tue, 19 Aug 2025 10:18:09 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=47165 Jakarta (Greeners) – Gelombang panas semakin sering melanda berbagai negara, salah satunya di Texas, Amerika Serikat. Tak hanya berbahaya bagi kesehatan manusia, penelitian terbaru menunjukkan suhu ekstrem juga membuat udara […]]]>

Jakarta (Greeners) – Gelombang panas semakin sering melanda berbagai negara, salah satunya di Texas, Amerika Serikat. Tak hanya berbahaya bagi kesehatan manusia, penelitian terbaru menunjukkan suhu ekstrem juga membuat udara jadi lebih tercemar.

Pada 2023, lebih dari 300 orang di Texas meninggal akibat panas ekstrem, menurut Texas Department of State Health Services. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak awal pencatatan pada 1989.

Phys melansir, tim peneliti dari Texas A&M University menemukan bahwa saat suhu meningkat, konsentrasi ozon, senyawa organik volatil (VOC) teroksigenasi, dan nanopartikel kaya asam ikut melonjak. Polutan ini terbentuk dari reaksi kimia di udara yang dipicu sinar matahari.

“Yang mengejutkan, pepohonan pun melepaskan lebih banyak emisi VOC alami selama gelombang panas, termasuk isoprena, prekursor ozon,” jelas mahasiswa pascasarjana kimia atmosfer di Texas A&M University, Bianca Pamela Aridjis-Olivos.

Fenomena itu terlihat jelas di wilayah berhutan seperti College Station, Texas. Di sana, emisi alami dari pepohonan justru berinteraksi dengan polusi udara dan memperburuk kualitas udara.

Pada Agustus 2024, tim peneliti yang tergabung dalam Center for Atmospheric Chemistry and the Environment (CACE) melakukan studi lapangan di Texas. Mereka mengumpulkan sampel udara siang dan malam selama hampir sebulan, dengan suhu harian mencapai 32–41 derajat Celsius. Kondisi ini dipilih saat tidak ada kebakaran hutan, sehingga data murni mencerminkan dampak gelombang panas.

Hasil pengukuran menunjukkan peningkatan polutan berbahaya, seperti nitrogen oksida, ozon, hingga partikel nano. Analisis dilakukan menggunakan instrumen sensitif, termasuk spektrometer massa yang mampu mendeteksi jejak gas dan sifat aerosol.

Lindungi Diri dari Polusi Udara

Meski riset masih berlanjut, tim peneliti sudah membagikan sejumlah tips untuk melindungi diri dari polusi udara saat gelombang panas. Pertama, penting untuk menghindari aktivitas luar ruangan pada jam puncak panas (12.00-16.00). Kemudian jangan berolahraga di dekat jalan raya atau kawasan padat saat cuaca ekstrem.

Memantau indeks kualitas udara dan menyesuaikan aktivitas harian juga penting, dan tutuplah jendela rumah untuk mengurangi masuknya polutan dari luar.

Namun, para peneliti menekankan bahwa langkah-langkah ini hanya solusi jangka pendek. Tantangan yang lebih besar adalah memahami bagaimana perubahan iklim memengaruhi kimia atmosfer, sehingga upaya mitigasi dapat lebih efektif dalam melindungi kesehatan masyarakat di masa depan.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/studi-gelombang-panas-dapat-menyebabkan-udara-lebih-tercemar/feed/ 0
BMKG Sebut Indonesia Tidak Alami Gelombang Panas https://www.greeners.co/berita/bmkg-sebut-indonesia-tidak-alami-gelombang-panas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-sebut-indonesia-tidak-alami-gelombang-panas https://www.greeners.co/berita/bmkg-sebut-indonesia-tidak-alami-gelombang-panas/#respond Sat, 04 May 2024 05:05:18 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=43711 Jakarta (Greeners) – Sejak bulan lalu, sejumlah negara di Asia dilanda gelombang panas atau heatwave. Indonesia juga akhir-akhir ini mengalami cuaca terik. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sejak bulan lalu, sejumlah negara di Asia dilanda gelombang panas atau heatwave. Indonesia juga akhir-akhir ini mengalami cuaca terik. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Indonesia tidak mengalami gelombang panas.

Menurut BMKG, heatwave umumnya terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah dan tinggi, tepatnya di belahan bumi bagian utara maupun di belahan bumi bagian selatan. Lalu, wilayah geografisnya memiliki atau berdekatan dengan massa daratan dengan luasan yang besar atau wilayah kontinental atau sub-kontinental.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto mengatakan, secara karakteristik fenomena dan data indikator statistik suhu, kemungkinan terjadinya heatwave di Indonesia sangat kecil. Apalagi, Indonesia merupakan negara yang kondisi geografisnya merupakan negara kepulauan.

Menurut Guswanto, kondisi panas saat ini terjadi karena adanya sebuah panas terik suhu harian, bukan gelombang panas seperti di negara-negara Asia lainnya.

BACA JUGA: Tips Menghadapi Cuaca Panas Ekstrem di Indonesia

Sebab, yang terjadi di Indonesia lebih cenderung disebabkan oleh faktor gerak semu matahari. Setelah dari ekuator, bergerak ke belahan bumi bagian utara dan ini rutin berlangsung setiap tahun,” ungkap Guswanto kepada Greeners, Kamis (2/5). 

Selain itu, gelombang panas atau heatwave merupakan suatu periode cuaca dengan suhu tinggi yang tidak normal selama lima hari atau lebih secara berturut-turut. Selama gelombang panas, suhu akan naik melebihi suhu maksimum harian. Misalnya, suhu di suatu lokasi akan lebih panas lima derajat dari suhu maksimum.

Berdasarkan tinjauan BMKG, Indonesia belum memenuhi indikator tersebut sehingga dapat BMKG pastikan Indonesia tidak masuk dalam kategori gelombang panas.

BMKG memastikan Indonesia tidak mengalami gelombang panas. Foto: Freepik

BMKG memastikan Indonesia tidak mengalami gelombang panas. Foto: Freepik

Heat Wave Melanda Asia

Kini, fenomena gelombang panas ekstrem tengah melanda negara-negara Asia. Suhu di Thailand mencapai lebih dari 52 derajat Celsius, Filipina 38,8 derajat Celsius, Myanmar 46 derajat Celsius, dan India 42 derajat Celsius.

Penyebab gelombang panas adalah terbentuknya pusat pusaran tinggi di atmosfer. Menurut Guswanto, diameternya yang lebih dari lima kilo membuat udara panas bisa bertahan di satu tempat dalam jangka waktu cukup lama.

Sementara di Indonesia, suhu udara maksimum 35,6 derajat Celsius berada di Jayapura, Papua. Laporan itu tercatat pada tanggal 26 April 2024. Namun, kemungkinan besar saat ini suhu sudah menurun.

Guswanto menambahkan, peningkatan suhu tersebut terjadi karena posisi semu matahari pada bulan April berada dekat sekitar khatulistiwa. Hal itu menyebabkan suhu udara di sebagian wilayah Indonesia menjadi relatif cukup terik saat siang hari.

Masyarakat Antisipasi Panas

Meskipun tidak mengalami gelombang panas, Indonesia mengalami suhu panas terik harian. Pada kondisi ini, tingkat perawanan akan cukup rendah pada siang hari.

Maka dari itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi panas ini dengan meningkatkan daya tahan tubuh dengan memenuhi kebutuhan cairan. Kemudian, bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan sebaiknya menggunakan sunblock dan hindari penggunaan pakaian berwarna terang.

BACA JUGA: Cuaca Panas Ekstrem, Pertanda Dampak Perubahan Iklim

“Masyarakat bisa memantau informasi cuaca dan suhu di media sosial atau website BMKG supaya terhindar dari hoaks,” tegas Guswanto.

BMKG memperkirakan Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau pada bulan Juli dan Agustus. Selama periode ini, suhu kemungkinan akan meningkat.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-sebut-indonesia-tidak-alami-gelombang-panas/feed/ 0
BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem Sepekan ke Depan https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspada-potensi-cuaca-ekstrem-sepekan-ke-depan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-waspada-potensi-cuaca-ekstrem-sepekan-ke-depan https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspada-potensi-cuaca-ekstrem-sepekan-ke-depan/#respond Mon, 29 Apr 2024 06:33:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=43667 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat waspada terhadap cuaca ekstrem saat peralihan musim dalam sepekan depan. BMKG meyakini masih ada potensi peningkatan curah hujan yang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat waspada terhadap cuaca ekstrem saat peralihan musim dalam sepekan depan. BMKG meyakini masih ada potensi peningkatan curah hujan yang signifikan.

BMKG memonitor masih ada hujan intensitas sangat lebat hingga ekstrem sejak 22 April 2024 di beberapa wilayah di Indonesia. Di antaranya Luwu Utara (Sulawesi Selatan), Banjarbaru (Kalimantan Selatan), Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), dan Tanjung Perak Surabaya (Jawa Timur).

Kondisi tersebut turut memicu terjadinya bencana hidrometeorologi di beberapa wilayah. Berdasarkan informasi perkembangan musim BMKG, sekitar 63% wilayah Zona Musim diprediksi mengalami awal musim kemarau pada bulan Mei hingga Agustus 2024. Kemudian, pada periode pertengahan April beberapa wilayah masih cukup basah dan terjadi hujan.

BACA JUGA: Hadapi Perubahan Iklim, BMKG Tekankan Pentingnya Data Kelautan

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto menyatakan, masih ada potensi peningkatan curah hujan secara signifikan di sejumlah daerah. Di antaranya sebagian besar Sumatra, Jawa bagian barat dan tengah, sebagian Kalimantan dan Sulawesi. Selanjutnya, curah hujan wilayah Maluku dan sebagian besar Papua juga berpotensi meningkat.

“Potensi hujan signifikan terjadi karena kontribusi dari aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial, serta kondisi suhu muka laut yang hangat pada perairan wilayah sekitar Indonesia,” ujar Guswanto di Jakarta, Sabtu (27/4).

Gelombang Panas Melanda Negara Asia

Selain potensi hujan, awal pekan ini terpantau gelombang panas (heat wave) melanda berbagai negara Asia dan Asia Tenggara. Misalnya, Thailand yang berada dekat dengan Indonesia dengan suhu maksimum mencapai 52°C.

Bagi Indonesia, suhu udara maksimum diatas 36,5°C tercatat di beberapa wilayah, yaitu pada tanggal 21 April di Medan, Sumatra Utara mencapai suhu maksimum 37,0°C. Kemudian, di Saumlaki, Maluku mencapai suhu maksimum sebesar 37,8°C. Pada 23 April di Palu, Sulawesi Tenggah mencapai 36,8°C.

Guswanto menambahkan, tersebut terjadi karena posisi semu matahari pada bulan April berada dekat sekitar khatulistiwa. Hal itu menyebabkan suhu udara di sebagian wilayah Indonesia menjadi relatif cukup terik saat siang hari.

“Fenomena suhu panas di Indonesia bukan merupakan heat wave (gelombang panas). Sebab, memiliki karakteristik fenomena yang berbeda, hanya dipicu oleh faktor pemanasan permukaan sebagai dampak dari siklus gerak semu matahari. Sehingga, dapat terjadi berulang dalam setiap tahun,” tambahnya.

Ilustrasi cuaca ekstrem. Foto: Freepik

Ilustrasi cuaca ekstrem. Foto: Freepik

Masyarakat Perlu Waspada Potensi Cuaca Ekstrem

Kepala Pusat Meteorologi Publik Andri Ramdhani menerangkan, bulan April merupakan periode peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau di sebagian besar wilayah di Indonesia. Sehingga, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem.

“Seperti hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang, angin puting beliung, dan fenomena hujan es,” ungkapnya.

Salah satu ciri masa peralihan musim adalah pola hujan yang biasa terjadi pada sore hingga menjelang malam hari. Pola hujan juga dengan didahului oleh adanya udara hangat dan terik pada pagi hingga siang hari.

Menurut Andri, hal ini terjadi karena radiasi matahari pada pagi hingga siang hari cukup besar. Kemudian, memicu proses konveksi (pengangkatan massa udara) dari permukaan bumi ke atmosfer, sehingga memicu terbentuknya awan.

BACA JUGA: COP28, BMKG Tunjukkan Antisipasi Bencana di Pesisir

Di samping itu, karakteristik hujan pada periode peralihan cenderung tidak merata dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi singkat. Apabila kondisi atmosfer menjadi labil atau tidak stabil, maka potensi pembentukan awan konvektif seperti awan Cumulonimbus (CB) akan meningkat.

“Awan CB inilah yang erat kaitannya dengan potensi kilat atau petir, angin kencang, puting beliung, bahkan hujan es. Dalam dua hingga tiga hari ke depan, potensi labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal terdapat di hampir sebagian besar wilayah Indonesia,” imbuh Andri.

Andri mengimbau masyarakat agar tetap tenang, meski perlu tetap waspada terhadap potensi bencana. Terutama, banjir yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Ia juga meminta masyarakat untuk mengenali potensi bencana di lingkungan masing-masing.

Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana perlu melakukan langkah sederhana. Salah satunya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Masyarakat perlu bergotong royong menjaga kebersihan dan menata lingkungan sekitarnya.

“Pantau terus informasi peringatan dini cuaca melalui aplikasi info BMKG untuk mendapatkan informasi yang lebih detail,” tambah Andri.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspada-potensi-cuaca-ekstrem-sepekan-ke-depan/feed/ 0
Cuaca Ekstrem, Korsel Banjir dan Gelombang Panas Hantam Eropa https://www.greeners.co/berita/cuaca-ekstrem-korsel-banjir-dan-gelombang-panas-hantam-eropa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cuaca-ekstrem-korsel-banjir-dan-gelombang-panas-hantam-eropa https://www.greeners.co/berita/cuaca-ekstrem-korsel-banjir-dan-gelombang-panas-hantam-eropa/#respond Sat, 22 Jul 2023 05:05:39 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40894 Jakarta (Greeners) – Anomali iklim terus terjadi. Benua Asia maupun Eropa merasakan dampaknya secara bersamaan meski berbeda fenomena. Bencana terjadi bahkan cenderung lebih ekstrem. Sepekan lalu, banjir dahsyat melanda Korea […]]]>

Jakarta (Greeners) – Anomali iklim terus terjadi. Benua Asia maupun Eropa merasakan dampaknya secara bersamaan meski berbeda fenomena. Bencana terjadi bahkan cenderung lebih ekstrem.

Sepekan lalu, banjir dahsyat melanda Korea Selatan. Sementara itu, belahan dunia lainnya yakni kawasan Eropa dilanda gelombang panas. Italia adalah salah satu negara yang suhunya mencapai 40-45 derajat Celcius. Fenomena tersebut juga menyebar ke negara-negara lain di Eropa selatan dan timur, termasuk Prancis, Spanyol, Polandia, dan Yunani.

Sebelumnya, gelombang panas melanda beberapa kota di Asia pada April 2023 lalu. Kota Kumarkhali, Kusthia, Bangladesh bersuhu 51,2 derajat Celcius, Kota Chauk, Myanmar bersuhu 45,5 derajat Celcius. Selanjutnya, Kota Bundi, India bersuhu 45,2 derajat Celcius. Kondisi panas ekstrem itu pun menyebabkan korban jiwa.

Pemerhati Lingkungan Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa mengungkapkan, peristiwa yang Korea Selatan dan beberapa negara Eropa alami merupakan bukti nyata adanya perubahan iklim.

“Jadi ini memang bukti nyata dari perubahan iklim. Dampak perubahan iklim itu antara lain cuaca yang ekstrem. Oleh karena itu pada saat kering dia ekstrem, pada saat basah dia juga esktrem,” kata Mahawan kepada Greeners, Jumat, (21/7).

Efek perubahan iklim, seperti banjir bandang dan kenaikan suhu, terkait erat dengan faktor lokal yang mendorong peristiwa di wilayah tersebut. Misalnya, selain perubahan iklim, kenaikan suhu di Eropa disebabkan juga oleh El Nino dan antisiklon.

Sedangkan di Korea Selatan, hujan yang disebabkan monsun, dikombinasikan dengan efek perubahan iklim, menyebabkan cuaca yang lebih ekstrem. Oleh karena itu, faktor alam di berbagai daerah juga dipengaruhi oleh perubahan iklim ini telah memperparah terjadinya bencana alam.

Gas Rumah Kaca Penyebab Utama

Pemicu utama perubahan iklim di beberapa negara sebagian besar masih berasal dari gas rumah kaca (GRK). Menurut Mahawan, penggunaan bahan bakar fosil masih menjadi penyumbang utama untuk perubahan iklim.

“Secara global pun lebih dari 60 persen itu faktor utamanya adalah penggunaan fosil atau emisi dari fosil. Jadi di situ emisi terjadinya perubahan iklim,” tambah Mahawan.

Secara historis, sumber emisi utama di Indonesia sebelum tahun 2020 tercatat masih berupa penebangan hutan dan penggunaan lahan. Hal inilah yang mengurangi biomassa dan vegetasi sehingga lahan menjadi terbuka. Namun dari tahun 2020 hingga 2030, sumber emisi utama Indonesia telah beralih dan menjadi serupa seperti negara lain yakni bersumber dari bahan bakar fosil.

Sejumlah negara di Asia Selatan pernah pula dilanda gelombang panas. Foto: Shutterstock

Indonesia Perlu Waspada

Dampak peristiwa perubahan iklim di Korea Selatan dan banyak negara Eropa mengingatkan Indonesia untuk tetap waspada. Terutama pada tiga jenis bencana (banjir, tanah longsor, dan angin ekstrem) yang berlipat ganda dalam dua dekade terakhir.

Pembangunan infrastruktur yang tangguh bencana jadi kunci di wilayah rawan bencana. Prediksi terjadinya El Nino juga menjadi sorotan. Sebab, fenomena ini akan menimbulkan banyak risiko yang perlu kita antisipasi.

Khususnya, kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan yang mengancam ketahanan pangan. Seluruh sektor harus segera mengambil langkah serius untuk mengurangi risiko yang akan El Nino timbulkan.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/cuaca-ekstrem-korsel-banjir-dan-gelombang-panas-hantam-eropa/feed/ 0
Cuaca Panas Ekstrem, Pertanda Dampak Perubahan Iklim https://www.greeners.co/berita/cuaca-panas-ekstrem-pertanda-dampak-perubahan-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cuaca-panas-ekstrem-pertanda-dampak-perubahan-iklim https://www.greeners.co/berita/cuaca-panas-ekstrem-pertanda-dampak-perubahan-iklim/#respond Sun, 07 May 2023 06:23:09 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39970 Jakarta (Greeners) – Panggung KTT ASEAN yang belum rampung dan beratap ijuk di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur terbakar. Pihak penyelenggara menyebut, hal itu terjadi karena cuaca panas ekstrem. Meski […]]]>

Jakarta (Greeners) – Panggung KTT ASEAN yang belum rampung dan beratap ijuk di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur terbakar. Pihak penyelenggara menyebut, hal itu terjadi karena cuaca panas ekstrem. Meski penyebab kebakarannya masih spekulatif, namun pihak event organizer pada acara itu menyatakan suhu di lokasi panas terik. 

Menurut Pakar Lingkungan Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, suhu panas yang tidak normal mengingatkan masyarakat bahwa kejadian ini tidak terlepas dari perubahan iklim.

“Tentu saja ini merupakan peringatan. Para ahli mengatakan serta merta panasnya di atas rata-rata, tapi sebagian besar itu memecahkan rekor panas tertinggi di setiap negara. Oleh karena, ini tidak terlepas dari perubahan iklim,” kata Mahawan kepada Greeners, Minggu (7/5).

Selain itu, kebakaran juga bisa terjadi dengan tiga sebab yaitu bahan bakar, panas, dan oksigen. Mulai dari kertas, kayu, benda kering termasuk ijuk. Dengan demikian, para pihak yang melakukan acara juga harus penuh kehati-hatian dan memperhatikan material yang ada.

Dampak Perubahan Iklim

Gelombang panas yang telah melanda di beberapa negara menjadi bukti nyata bahwa kejadian ini merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim. Para ahli juga menyatakan, panas yang meningkat tidak akan terjadi jika tanpa adanya perubahan iklim.

Mahawan juga menambahkan, belakangan ini suhu permukaan laut mencapai rekornya tertinggi. Dengan demikian, ini semua tidak terlepas dari adanya perubahan iklim yang terjadi dan mengingatkan masyarakat untuk kembali berupaya keras menghadapi perubahan iklim.

Melihat akan hal ini, masyarakat juga perlu hati-hati untuk menjaga kesehatan. Selain itu juga mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan.

Di sisi lain, Muhawan menegaskan upaya memitigasi gas rumah kaca harus kita upayakan lebih maksimal. Salah satunya dengan efesiensi energi seperti energi ramah lingkungan dan pengelolaan lahan.

Karhutla

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. Foto: Shutterstock

Panas Ekstrem Ancam Lingkungan dan Manusia

Belakang cuaca panas yang sangat terik melanda Indonesia. Bahkan gelombang panas melanda sejumlah negara di Asia Selatan hingga menelan korban jiwa.

India merupakan salah satu negara yang telah terdampak dari gelombang panas suhunya menembus lebih dari 45 derajat Celcius. Tercatat 13 orang meninggal dunia akibat kondisi tersebut. Tak hanya merenggut nyawa manusia, aspal di jalanan ikut meleleh.

Penjuru dunia lainnya juga merasakan hal yang sama, baru-baru ini balita di Malaysia tewas akibat heatstroke. Balita tersebut berusia 19 bulan terkena serangan panas akibat cuaca yang menyengat.

Setelah di autopsi, di dalam tubuh anak tersebut mengalami dehidrasi dengan paru-paru yang sudah menyusut. Hal ini menjadi bukti nyata panas ekstrem bisa menyebabkan kerusakan pada organ tubuh.

Panas ekstrem tidak hanya mengancam manusia, tapi juga lingkungan. Melansir National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), suhu laut selama April 2023 mencapai rekor terpanas yakni 21,1 derajat Celcius.

Lalu Kota di Valencia, Spanyol cuaca ekstrem memicu kebakaran yang menghanguskan lebih dari 4.000 hektare hutan pada Maret lalu.

Menurut Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, hal ini menjadi darurat iklim yang umat manusia alami. Secara khusus juga akan merusak banyak negara.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/cuaca-panas-ekstrem-pertanda-dampak-perubahan-iklim/feed/ 0
Gelombang Panas di Negara Asia, Indonesia harus Tetap Waspada https://www.greeners.co/berita/gelombang-panas-di-negara-asia-indonesia-harus-tetap-waspada/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gelombang-panas-di-negara-asia-indonesia-harus-tetap-waspada https://www.greeners.co/berita/gelombang-panas-di-negara-asia-indonesia-harus-tetap-waspada/#respond Fri, 28 Apr 2023 06:09:07 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39865 Jakarta (Greeners) – Beberapa hari belakangan ini, Lina (28) mengeluhkan tentang cuaca terik yang terjadi. Rina yang bermukim di sekitar Jl W.R Supratman, Ciputat, Tangerang Selatan merasakan suhu yang tak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Beberapa hari belakangan ini, Lina (28) mengeluhkan tentang cuaca terik yang terjadi. Rina yang bermukim di sekitar Jl W.R Supratman, Ciputat, Tangerang Selatan merasakan suhu yang tak biasa daripada biasanya.

“Padahal bulan-bulan lalu sepertinya tidak sepanas ini. Tapi memang sih saat ini mau kemarau,” ujar dia kepada Greeners, Kamis (27/4).

Lina yang sebelumnya menggunakan kipas angin kini harus beralih ke air cooler. Terutama di siang hari, air cooler-nya itu harus selalu menyala. Perempuan yang bekerja sebagai ASN ini menyebut bahwa puncak panas sangat terasa pada bulan Ramadan lalu.

“Seminggu sebelum Lebaran itu panasnya luar biasa. Belum lagi saat itu kita lagi puasa. Lemas, panas jadi satu,” imbuh dia.

Gelombang Panas di Asia

Saat ini, masyarakat global terutama sebagian besar Asia juga tengah mengalami lonjakan suhu akibat gelombang panas. BMKG mencatat, dalam periode 11-20 April 2023, beberapa kota di Asia mengalami suhu panas ekstrem.

Beberapa kota di antaranya, Kota Kumarkhali, Kusthia, Bangladesh pada 17 April 2023 bersuhu 51,2 derajat Celcius, Kota Chauk, Myanmar pada 20 April bersuhu 45,5 derajat Celcius, sebelumnya pada 18 April kota ini telah bersuhu 45,3 derajat Celcius. Selanjutnya, Kota Bundi, India pada 18 April bersuhu 45,2 derajat Celcius, serta Kota Chauk, Myanmar pada 19 April lalu bersuhu 45 derajat Celcius.

Melansir Phys, Bangladesh mengalami suhu tertinggi selama hampir 60 tahun. Media lokal setempat menyebut, setidaknya 13 orang meninggal di India dan dua orang meninggal di Thailand karena suhu ekstrem tersebut.

Para ilmuwan menyatakan, pemanasan global turut memperburuk cuaca. Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim PBB menyatakan, setiap peningkatan pemanasan global akan mengintensifkan bahaya ganda secara bersamaan.

Gelombang panas

Gelombang panas tidak melanda Indonesia. Foto: Shutterstock

Dampak Gerak Semu Matahari dan Bukan Gelombang Panas

Sementara itu, BMKG memastikan bahwa suhu panas yang melanda di Indonesia bukan karena gelombang panas. Suhu panas ini karena fenomena akibat gerak semu matahari dan merupakan siklus biasa terjadi setiap tahun.

Catatan BMKG sejak tahun 1981 hingga 2022 menyebut, seluruh stasiun pengamatan BMKG di Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Adapun peningkatan tertinggi di stasiun Klimatologi Tangerang Selatan dan Stasiun Meteorologi Temindung dengan nilai sekitar 0,4 derajat Celcius dalam 10 tahun.

Sementara berdasarkan rata-rata suhu bulanan tahun 1991-2020 (30 tahun), umumnya di Indonesia (hasil pengamatan 118 stasiun BMKG) mengalami suhu rata-rata bulanan terpanas pada bulan Mei.

“Pada bulan Maret 2023 tercatat anomali suhu bulanannya bernilai positif sebesar 0,05 derajat Celsius daripada rata-rata suhu bulan Maret 1991-2020,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Dodo Gunawan kepada Greeners.

Ia menambahkan, gerak semu matahari menyebabkan pada bulan-bulan tertentu posisi matahari dekat dengan wilayah khatulistiwa. Salah satu dampaknya pada bulan-bulan itu di Indonesia mengalami suhu yang lebih panas daripada bulan lain.

Tren Suhu di Indonesia Sejak Tahun 1991 hingga 2020

Pengamatan BMKG menunjukkan secara umum, anomali suhu udara dan suhu udara rata-rata tahunan di Indonesia sejak tahun 2012 terus mengalami peningkatan daripada rentang tahun 1991-2020.

Ia menambahkan, sejak tahun 1850 terjadi kenaikan suhu udara secara signifikan. “Tren kenaikan suhu udara di Jakarta sejak tahun 1866 sampai saat ini menunujukkan kenaikan 1,6 derajat Celcius per 100 tahun,” ungkap Dodo.

Menurutnya, potensi gelombang panas sangat kecil terjadi di Indonesia karena wilayah geografis Indonesia berupa kepulauan. “Indonesia berbentuk kepulauan di tengah lautan sebagai pendingin. Oleh karena itu, suhu panas tak terserap langsung ke darat,” imbuhnya.

Meski bukan gelombang panas, ia memprediksi bahwa musim kemarau ini akan berlangsung cukup lama. Ini menyusul adanya El Nino pada semester kedua.

Kepala Pusat Layanan Iklim Terapan BMKG Ardhasena Sopaheluwakan juga menyatakan suhu panas yang dirasakan Indonesia saat ini merupakan imbas dari gerak semu matahari. Kondisi ini berlangsung pada April dan Mei setiap tahun.

“Saat matahari melintas mendekati khatulistiwa pada akhir Maret maka dua bulan selanjutnya, April dan Mei suhunya akan naik dan lebih panas,” tuturnya.

Efek Fenomena Suhu Panas, Musim Hujan Alami Kemunduran Hingga Bulan November

Ilustrasi kondisi cuaca panas. Foto : Shutterstock

Waspada Perubahan Iklim

Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Adila Isfandiari menyatakan, fenomena gelombang panas imbas perubahan iklim harus menjadi perhatian semua masyarakat global, termasuk Indonesia. “Kita tetap harus melakukan aksi mitigasi melawan perubahan iklim,” tegasnya.

Ia menambahkan aksi mitigasi ini harus dilakukan secara masif agar berdampak signifikan. Komitmen Indonesia dalam pengurangan emisi dengan menaikkan target enhanced nationally determined contributions (NDC) menjadi 32 % atau setara dengan 912 juta ton CO2 pada tahun 2030.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/gelombang-panas-di-negara-asia-indonesia-harus-tetap-waspada/feed/ 0
Asia Alami Gelombang Panas, BMKG: di Indonesia Tidak Terjadi https://www.greeners.co/berita/asia-alami-gelombang-panas-bmkg-di-indonesia-tidak-terjadi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=asia-alami-gelombang-panas-bmkg-di-indonesia-tidak-terjadi https://www.greeners.co/berita/asia-alami-gelombang-panas-bmkg-di-indonesia-tidak-terjadi/#respond Tue, 25 Apr 2023 05:59:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39824 Jakarta (Greeners) – Sejak pekan lalu, hampir sebagian besar negara-negara di Asia Selatan masih terdampak gelombang panas atau heatwave. Kendati Indonesia mengalami cuaca panas terik beberapa waktu belakangan ini, tapi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sejak pekan lalu, hampir sebagian besar negara-negara di Asia Selatan masih terdampak gelombang panas atau heatwave. Kendati Indonesia mengalami cuaca panas terik beberapa waktu belakangan ini, tapi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan Indonesia tak mengalami gelombang panas seperti di negara Asia lainnya.

Menurut BMKG, gelombang panas umumnya terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah dan tinggi. Tepatnya di belahan Bumi Bagian Utara maupun di belahan Bumi Bagian Selatan. Lalu wilayah geografisnya memiliki atau berdekatan dengan massa daratan dengan luasan yang besar, atau wilayah kontinental atau sub-kontinental.

Sementara Indonesia terletak di wilayah ekuator, kondisinya geografis kepulauan yang di kelilingi perairan yang luas. 

Indikator lainnya, gelombang panas dalam ilmu cuaca dan iklim didefinisikan sebagai periode cuaca dengan kenaikan suhu panas yang tidak biasa. Kondisi ini berlangsung setidaknya lima hari berturut-turut atau lebih sesuai batasan Badan Meteorologi Dunia (WMO).

Tak hanya itu, saat gelombang panas, kenaikan suhu di suatu lokasi melebihi suhu maksimum harian, misalnya 5 derajat lebih panas dari rata-rata klimatologis suhu maksimum.

Bukan Gelombang Panas

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, fenomena udara panas yang terjadi belakangan di Indonesia jika ditinjau secara mendalam dengan sejumlah penjelasan di atas tidak termasuk dalam kategori gelombang panas.

Sementara itu, Badan Meteorologi di negara-negara Asia seperti Myanmar, Bangladesh, India, China, Thailand, hingga Laos telah melaporkan suhu panas lebih dari 40 derajat Celcius.

Badan Meteorologi China melaporkan lebih dari 100 stasiun cuaca di China mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah di bulan April ini. Senada, di Jepang suhu juga melonjak sangat panas. Demikian juga di Kumarkhali, kota di Distrik Kusthia, Bangladesh tercatat suhu maksimum harian mencapai 51,2 derajat Celcius pada 17 April 2023.

“Suhu panas bulan April di wilayah Asia secara klimatologis dipengaruhi oleh gerak semu matahari. Namun, lonjakan panas di wilayah sub-kontinen Asia Selatan, kawasan Indochina dan Asia Timur pada tahun 2023 ini termasuk yang paling signifikan lonjakannya,” kata Dwikorita dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (25/4).

Perubahan Iklim Pemicu Gelombang Panas

Para pakar iklim menyimpulkan, tren pemanasan global dan perubahan iklim yang terus terjadi hingga saat ini berkontribusi menjadikan gelombang panas semakin berpeluang terjadi lebih sering.

Cuaca terik juga terjadi di Indonesia dengan suhu maksimum harian mencapai 37,2 derajat Celcius. Suhu tertinggi juga tercatat di beberapa lokasi dengan kisaran suhu 34 hingga 36 derajat Celcius.

Suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya gerak semu matahari yang merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun.

“Sehingga potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya,” ucap Dwikorita.

Secara indikator statistik suhu kejadian, lonjakan suhu maksimum mencapai 37,2 derajat Celcius melalui pengamatan stasiun BMKG di Ciputat hanya terjadi satu hari di tanggal 17 April 2023.

Sementara suhu tinggi tersebut sudah turun dan kini suhu maksimum teramati berada dalam kisaran 34 hingga 36°C di beberapa lokasi.

Variasi suhu maksimum 34 hingga 36 derajat Celcius untuk wilayah Indonesia masih dalam kisaran normal klimatologi daripada tahun-tahun sebelumnya. Secara klimatologis untuk Jakarta mengalami puncak suhu maksimum di bulan April, Mei, Juni.

Saat beraktivitas di luar ruang dan cuaca terik, gunakan tabir surya untuk lindungi kulit. Foto: Shutterstock

Musim Kemarau hingga Oktober

Prakirawan BMKG Iqbal Fathoni juga menyatakan suhu maksimum harian relatif cukup tinggi terjadi hingga musim kemarau berakhir (sekitar Oktober).

Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki awal musim kemarau di mana tingkat perawanan akan cukup rendah pada siang hari. “Sehingga masyarakat diimbau tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas siang hari,” kata dia kepada Greeners, Selasa (25/4).

Kondisi suhu udara yang terik kerap kali dikaitkan dengan fluktuasi radiasi ultraviolet (UV) dari sinar matahari. “Perlu menjadi perhatian bahwa indeks UV ekstrem akan berbeda dalam tiap jam. Biasanya yang berbahaya berada pada kisaran pukul 12.00 hingga 13.00 waktu setempat,” ungkapnya.

Faktor cuaca lainnya seperti berkurangnya tutupan awan dan kelembapan udara dapat memberikan kontribusi lebih terhadap nilai indeks UV. Cuaca cerah-berawan pagi hingga siang hari berpotensi menyebabkan indeks UV pada kategori “very high” dan “extreme” di siang hari.

BMKG mengimbau masyarakat agar tak perlu panik menyikapi informasi UV harian tersebut. Masyarakat agar selalu memakai pelindung atau tabir surya saat melakukan aktivitas di luar ruangan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/asia-alami-gelombang-panas-bmkg-di-indonesia-tidak-terjadi/feed/ 0
BMKG : Gelombang Panas Tidak Terjadi di Indonesia https://www.greeners.co/berita/bmkg-gelombang-panas-tidak-terjadi-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-gelombang-panas-tidak-terjadi-di-indonesia https://www.greeners.co/berita/bmkg-gelombang-panas-tidak-terjadi-di-indonesia/#respond Sat, 16 Oct 2021 05:36:28 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34102 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan informasi terkait gelombang panas melanda Indonesia yang ramai beredar di berbagai media sosial tidak benar. Kondisi suhu panas dan terik […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan informasi terkait gelombang panas melanda Indonesia yang ramai beredar di berbagai media sosial tidak benar. Kondisi suhu panas dan terik saat ini tidak bisa bukan kategori gelombang panas.

Informasi yang menyebar di media sosial dan Whatapps menyebut kini cuaca sangat panas, suhu pada siang hari bisa mencapai 40 derajat Celcius. Masyarakat dalam pesan itu, harus menghindari minum es atau air dingin.

Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengatakan, gelombang panas terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah dan tinggi. Sementara wilayah Indonesia terletak di wilayah ekuator yang secara sistem dinamika cuaca tidak memungkinkan terjadinya gelombang panas.

“Gelombang panas dalam ilmu cuaca dan iklim didefinisikan sebagai periode cuaca (suhu) panas yang tidak biasa yang biasanya berlangsung setidaknya lima hari berturut-turut atau lebih,” kata Urip dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (16/10).

Hal tersebut mengacu pada kriteria Badan Meteorologi Dunia (WMO). Selain itu kelembapan udara yang tinggi menyertai terjadinya gelombang panas. Lalu suatu lokasi yang mengalami gelombang panas harus mencatat suhu maksimum harian melebihi ambang batas statistik.

“Misalnya 5 derajat celcius lebih panas, dari rata-rata klimatologis suhu maksimum dan setidaknya telah berlangsung dalam lima hari berturut-turut,” imbuhnya.

Urip menambahkan, apabila suhu maksimum tersebut terjadi dalam rentang rata-ratanya dan tidak berlangsung lama maka tidak bukan sebagai gelombang panas.

Hidrasikan tubuh

Hidrasikan tubuh saat cuaca terik. Foto: Shutterstock

Hanya Gerak Semu Matahari

Lebih lanjut Urip menjelaskan, gelombang panas umumnya terjadi berkaitan dengan berkembangnya pola cuaca sistem tekanan atmosfer tinggi di suatu area secara persisten dalam beberapa hari.

Dalam sistem tekanan tinggi tersebut, terjadi pergerakan udara dari atmosfer bagian atas menuju permukaan (subsidensi) sehingga termampatkan dan suhunya meningkat. Pusat tekanan atmosfer tinggi ini menyulitkan aliran udara dari daerah lain masuk ke area tersebut. Semakin lama sistem tekanan tinggi ini berkembang di suatu area, semakin meningkat panas di area tersebut dan semakin sulit awan tumbuh di wilayah tersebut.

“Suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya gerak semu matahari,” tegasnya.

Fenomena ini merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun. Akibatnya potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

Saat ini, berdasarkan pantauan BMKG terhadap suhu maksimum di wilayah Indonesia, memang suhu tertinggi siang hari ini mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Tercatat suhu > 36 °C terjadi di Medan, Deli Serdang, Jatiwangi dan Semarang pada catatan meteorologis tanggal 14 Oktober 2021. Suhu tertinggi pada hari itu tercatat di Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah I, Medan yaitu 37,0 °C.

Namun kata Urip, catatan suhu ini bukan merupakan penyimpangan besar dari rata-rata iklim suhu maksimum pada wilayah ini. Atau masih berada dalam rentang variabilitasnya di bulan Oktober. Setidaknya suhu maksimum yang meningkat dalam beberapa hari ini dapat disebabkan oleh beberapa hal.

Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Tak Alami Gelombang Panas

BMKG melihat pada bulan Oktober, kedudukan semu gerak matahari tepat di atas Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Gerakan ini dalam perjalanan menuju posisi 23 lintang selatan setelah meninggalkan ekuator.

Posisi semu matahari di atas Pulau Jawa akan terjadi 2 kali yaitu di bulan September atau Oktober serta Februari atau Maret. Oleh sebab itu, puncak suhu maksimum terasa di wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara Timur akan terjadi di seputar bulan-bulan tersebut.

Di samping itu, cuaca cerah juga menyebabkan penyinaran langsung sinar matahari ke permukaan lebih optimal sehingga terjadi pemanasan suhu permukaan. Kondisi tersebut berkaitan dengan adanya siklon tropis KOMPASU di Laut Cina Selatan bagian utara yang menarik masa udara dan pertumbuhan awan-awan hujan serta menjauhi wilayah Indonesia. Akibatnya cuaca di wilayah Jawa cenderung menjadi lebih cerah, berawan dalam beberapa hari terakhir.

Penulis : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-gelombang-panas-tidak-terjadi-di-indonesia/feed/ 0
El Nino Diprediksi Kembali Menguat pada Februari 2016 https://www.greeners.co/berita/el-nino-diprediksi-kembali-menguat-pada-februari-2016/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=el-nino-diprediksi-kembali-menguat-pada-februari-2016 https://www.greeners.co/berita/el-nino-diprediksi-kembali-menguat-pada-februari-2016/#respond Sat, 07 Nov 2015 12:11:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11817 Jakarta (Greeners) – Guna mengantisipasi El Nino yang diprediksi akan kembali menguat pada bulan Februari 2016 mendatang, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan akan membuat petunjuk pelaksanaan (Juklak). Juklak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Guna mengantisipasi El Nino yang diprediksi akan kembali menguat pada bulan Februari 2016 mendatang, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan akan membuat petunjuk pelaksanaan (Juklak). Juklak ini terkait regulasi dan tata kelola gambut sebagai bentuk antisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar mengatakan bahwa resiko tertinggi dari El Nino pada bulan Februari mendatang adalah terjadinya kebakaran lahan dan hutan kembali. Apalagi tingkat kekuatannya mencapai 2,8 derajat di atas rata-rata normal.

“Kalau dilihat dari perilaku alamnya, di minggu ketiga Februari cukup rawan. Kita akan terus lakukan antisipasi, kalau ada keluar api segera kita matikan,” kata Menteri Siti pada Kamis (05/11).

Dihubungi secara terpisah, Kepala Seksi Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kukuh Rubidianto menyebutkan bahwa El Nino yang akan terjadi nanti diprediksi berlangsung pada bulan Februari hingga April 2016. El Nino ini merupakan lanjutan dari El Nino sebelumnya. “Jadi bukan El Nino baru, tapi lanjutan dari El Nino saat ini,” ujarnya.

Berdasarkan pengamatan BMKG, pada November 2015 hingga Januari 2016, masih terjadi anomali gelombang panas di Samudera Pasifik tengah dan timur. Hal tersebut diperkirakan masih berdampak pada Indonesia, tapi tidak terlalu kuat karena sudah masuk musim hujan dan banyak penguapan. Kondisi ini disebabkan karena letak matahari berada di selatan khatulistiwa.

Sekretaris Jenderal KLHK Bambang Hendroyono menyebutkan bahwa salah satu intrumen yang akan menjadi fokus antisipasi kebakaran hutan dan lahan adalah revisi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pemerintah bersama pejabat daerah, katanya, akan merumuskan petunjuk pelaksanaan dalam pembukaan lahan dengan cara membakar dan tata kelola gambut sebagaimana disebutkan dalam bagian penjelasan pasal 69 ayat (2).

“Poin tambahan terbaru juga dirumuskan tentang moratorium pada lahan gambut, bukan hanya di lahan gambut primer tapi juga di lahan nonprimer. Ada juga usulan pelarangan membuat saluran drainase kanal pada lahan gambut. Siapapun kalau sudah itu namanya gambut tidak boleh dibakar,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/el-nino-diprediksi-kembali-menguat-pada-februari-2016/feed/ 0
Ini Alasan Suhu Panas Pakistan Tidak Terjadi di Indonesia https://www.greeners.co/berita/ini-alasan-suhu-panas-pakistan-tidak-terjadi-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ini-alasan-suhu-panas-pakistan-tidak-terjadi-di-indonesia https://www.greeners.co/berita/ini-alasan-suhu-panas-pakistan-tidak-terjadi-di-indonesia/#respond Mon, 29 Jun 2015 04:36:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=10039 Jakarta (Greeners) – Setelah India, diketahui kini cuaca ekstrim dengan suhu panas yang mencapai 47 derajat Celcius melanda Pakistan. Hingga saat ini diketahui sebanyak 1.011 orang tewas dari total 40.000 […]]]>

Jakarta (Greeners) – Setelah India, diketahui kini cuaca ekstrim dengan suhu panas yang mencapai 47 derajat Celcius melanda Pakistan. Hingga saat ini diketahui sebanyak 1.011 orang tewas dari total 40.000 korban suhu panas yang melanda Pakistan, terutama di kawasan selatan, Provinsi Sindh. Dari total korban tewas itu, sedikitnya 229 orang dilaporkan tewas sepanjang Rabu (24/6) lalu saat berada dalam perawatan di rumah sakit.

Mengenai fenomena cuaca ekstrim ini, Kepala Balitbang Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian mengatakan bahwa suhu panas yang saat ini perlahan mulai membaik di Pakistan tidak akan berdampak apa-apa terhadap Indonesia. Pasalnya, Indonesia adalah negara tropis yang dikelilingi oleh laut sehingga memiliki uap air yang cukup tinggi. Uap air ini sendiri berfungsi sebagai bantalan penyerap panas.

“Saat siang hari saja uap air kita bisa mencapai 70 persen dan uap air tersebut mampu menyerap panas sehingga di kota-kota besar saja suhu panas tertinggi paling mencapai 36 atau 37 derajat. Itu saja sudah maksimal,” jelasnya kepada Greeners,” Jakarta, Senin (29/06/2015).

Selain itu, sirkulasi udara di Indonesia berbeda antara negara tropis seperti Indonesia dengan negara sub-tropis seperti Pakistan. Ditambah Pakistan mengalami gelombang Rossby yang tidak terjadi di Indonesia. Apalagi, negara seperti Pakistan bisa mengalami udara yang sangat kering sehingga menyebabkan suhu panas yang naik tinggi sekali.

“Jadi alasannya dua itu: banyak uap air yang menjadi bantalan di Indonesia dan sirkulasi udaranya berbeda,” tambahnya.

Terkait aktifitas gunung Sinabung di Sumatera yang juga diklaim sebagai pulau terpanas di Indonesia, Edvin mengungkapkan bahwa aktifitas gunung api tersebut masih belum berdampak apa-apa terhadap cuaca di pulau Sumatera karena radius letusan gunung tersebut tidak terlalu jauh.

“Gunung Sinabung tidak berpengaruh apa-apa dengan suhu di Sumatera, itu kan hanya radius berapa kilo saja,” ungkapnya.

Sebagai informasi, seperti dikutip dari surat kabar berbahasa Inggris, Dawn, Kamis (25/06) lalu, korban tewas terbanyak terjadi di Karachi, yaitu berjumlah 950 orang. Dari total korban tewas di Karachi, 729 orang tewas saat dirawat di rumah sakit pemerintah dan 221 orang di rumah sakit swasta. Selain di Karachi, korban tewas di wilayah Hyderabad, Naushahro Feroze, dan Badin yang merupakan kawasan setingkat kabupaten di Provinsi Sindh, bagian selatan Pakistan.

Lebih lanjut, kantor Meteorologi Pakistan menyebutkan, temperatur udara maksimum sepanjang Kamis diharapkan antara 38 derajat Celsius dan 40 derajat Celsius. Sepanjang Rabu (24/06), kawasan Hyderabad tercatat mengalami suhu tertinggi hingga 42 derajat Celsius.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/ini-alasan-suhu-panas-pakistan-tidak-terjadi-di-indonesia/feed/ 0
Udara Panas di India Kecil Kemungkinan Menjalar ke Indonesia https://www.greeners.co/berita/udara-panas-di-india-kecil-kemungkinan-menjalar-ke-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=udara-panas-di-india-kecil-kemungkinan-menjalar-ke-indonesia https://www.greeners.co/berita/udara-panas-di-india-kecil-kemungkinan-menjalar-ke-indonesia/#respond Mon, 01 Jun 2015 08:54:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=9376 Jakarta (Greeners) – Seminggu belakangan, masyarakat dunia dikejutkan dengan fenomena aliran udara panas yang melanda India. Diperkirakan sekitar 1.100 orang meninggal dunia di wilayah Andhra Pradesh dan Telanggana akibat udara […]]]>

Jakarta (Greeners) – Seminggu belakangan, masyarakat dunia dikejutkan dengan fenomena aliran udara panas yang melanda India. Diperkirakan sekitar 1.100 orang meninggal dunia di wilayah Andhra Pradesh dan Telanggana akibat udara panas ini. Badan Meteorogi India pun mencatat suhu udara pada siang hari pada 26 Mei 2015 lalu mencapai 48° Celcius. Hingga malam hari pun dilaporkan suhu udara masih tetap panas.

Namun, Kepala Bidang Informasi Meteorologi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), A. Fachri Radjab dalam keterangan resmi yang diterima oleh Greeners mengatakan, aliran udara panas yang terjadi di India tersebut kecil kemungkinannya dapat terjadi di Indonesia. Hal ini dilihat dari tidak terlihatnya indikator dinamika atmosfer yang dapat memicu menjalarnya aliran udara panas tersebut ke wilayah Indonesia.

Meski begitu, kata Fachri, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan mengingat saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Fenomena bencana terkait cuaca musim kemarau seperti kebakaran, kekeringan, dan gagal panen agar dapat diantisipasi baik oleh masyarakat maupun pemerintah.

“Meski tidak ada indikasi, namun kita harus tetap waspada karena saat ini musim kemarau sudah mulai mencapai puncaknya,” jelas Fachri, Jakarta, Senin (01/06).

Pada dasarnya, lanjut Fachri, aliran udara panas adalah sebuah pola cuaca musim panas yang meluas (extended summer) yang diindikasikan dengan suhu udara sekitar 5°C di atas rata-rata suhu maksimumnya. Ketika aliran udara panas tersebut melewati permukaan daratan yang luas, akan terjadi interaksi (dengan daratan kering) yang pada akhirnya memperkuat aliran udara panas ini seperti yang terjadi di India.

“Berdasarkan analisa BMKG, aliran udara panas tersebut diperkirakan masih akan bertahan dalam 5 hari kedepan di sekitar wilayah (India utara dan timur laut). Jadi, bagi warga Indonesia yang sedang berada di wilayah terdampak agar mewaspadai fenomena tersebut,” tukasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/udara-panas-di-india-kecil-kemungkinan-menjalar-ke-indonesia/feed/ 0