gempa megathrust - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/gempa-megathrust/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 15 Aug 2024 07:30:19 +0000 id hourly 1 BMKG: Potensi Gempa Megathrust di Selat Sunda Bukan Peringatan Dini https://www.greeners.co/berita/bmkg-potensi-gempa-megathrust-di-selat-sunda-bukan-peringatan-dini/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-potensi-gempa-megathrust-di-selat-sunda-bukan-peringatan-dini https://www.greeners.co/berita/bmkg-potensi-gempa-megathrust-di-selat-sunda-bukan-peringatan-dini/#respond Thu, 15 Aug 2024 07:14:33 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=44495 Jakarta (Greeners) – Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono, mengatakan munculnya kembali pembahasan mengenai potensi gempa di zona megathrust bukanlah bentuk prediksi atau peringatan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono, mengatakan munculnya kembali pembahasan mengenai potensi gempa di zona megathrust bukanlah bentuk prediksi atau peringatan dini yang mengindikasikan gempa besar akan segera terjadi.

“Sehingga, jangan dimaknai secara keliru, seolah akan terjadi dalam waktu dekat. Tidak demikian,” ungkap Daryono melalui keterangan resminya, Kamis (15/8).

BMKG mengingatkan kembali mengenai keberadaan Zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sebagai potensi gempa. Sebab, para ahli menduga wilayah ini merupakan zona kekosongan gempa besar (seismic gap) yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Seismic gap ini memang perlu masyarakat waspadai karena dapat melepaskan energi gempa signifikan sewaktu-waktu.

Daryono mengklarifikasi rilis sebelumnya mengenai gempa di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut yang dikatakan ‘tinggal menunggu waktu’. Hal ini BMKG sampaikan karena kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum mengalami gempa besar. Namun, ini tidak berarti bahwa gempa besar akan terjadi dalam waktu dekat.

BACA JUGA: Siaga Potensi Gempa Bumi dari 295 Sesar Aktif di Indonesia

“Dikatakan ‘tinggal menunggu waktu’ karena segmen-segmen sumber gempa di sekitarnya sudah rilis gempa besar semua. Sementara, Selat Sunda dan Mentawai-Siberut belum mengalami gempa besar hingga saat ini,” ujar Daryono.

Saat ini, belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat memprediksi dengan tepat kapan, di mana, dan seberapa kuat gempa akan terjadi. Oleh karena itu, tidak ada kepastian kapan gempa akan terjadi meskipun potensinya diketahui.

“Untuk itu, kami mengimau masyarakat untuk tetap tenang dan beraktivitas normal seperti biasa, seperti melaut, berdagang, dan berwisata di pantai. BMKG selalu siap memberikan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami dengan cepat dan akurat,” ungkapnya.

Potensi Gempa Megathrust Tidak Berkaitan dengan Gempa Jepang

Sementara itu, munculnya kembali pembahasan potensi gempa di zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut tidak berkaitan langsung dengan peristiwa gempa kuat M7,1 yang berpusat di Tunjaman Nankai dan mengguncang Prefektur Miyazaki, Jepang.

“Menariknya, gempa yang memicu tsunami kecil pada 8 Agustus 2024 beberapa hari lalu mampu menciptakan kekhawatiran bagi para ilmuwan, pejabat negara, dan publik di Jepang akan potensi gempa dahsyat di Megathrust Nankai. Peristiwa semacam ini merupakan momen yang tepat untuk mengingatkan kita di Indonesia akan potensi gempa di zona seismic gap Selat Sunda dan Mentawai-Siberut,” tambah Daryono.

BACA JUGA: 9 Gempa Merusak Selat Sunda, Siaga Potensi Gempa di Zona Megathrust

Sejarah mencatat, gempa besar terakhir di Tunjaman Nankai terjadi pada 1946 (usia seismic gap 78 tahun). Sementara itu, gempa besar terakhir di Selat Sunda terjadi pada 1757 (usia seismic gap 267 tahun). Kemudian, gempa besar terakhir di Mentawai-Siberut terjadi pada 1797 (usia seismic gap 227 tahun).

“Artinya, kedua seismic gap kita periodisitasnya jauh lebih lama jika dibandingkan dengan seismic gap Nankai. Sehingga, mestinya kita jauh lebih serius dalam menyiapkan upaya-upaya mitigasinya,” ujarnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-potensi-gempa-megathrust-di-selat-sunda-bukan-peringatan-dini/feed/ 0
Siaga Potensi Gempa Bumi dari 295 Sesar Aktif di Indonesia https://www.greeners.co/berita/siaga-potensi-gempa-bumi-dari-295-sesar-aktif-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=siaga-potensi-gempa-bumi-dari-295-sesar-aktif-di-indonesia https://www.greeners.co/berita/siaga-potensi-gempa-bumi-dari-295-sesar-aktif-di-indonesia/#respond Mon, 12 Dec 2022 06:18:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=38265 Jakarta (Greeners) – Sebagai negara yang terletak di cincin api Pasifik atau ring of fire, Indonesia memiliki banyak sesar aktif yang tersebar di sejumlah wilayah. Kondisi ini harus Indonesia waspadai, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sebagai negara yang terletak di cincin api Pasifik atau ring of fire, Indonesia memiliki banyak sesar aktif yang tersebar di sejumlah wilayah. Kondisi ini harus Indonesia waspadai, sebab potensi sesar aktif dapat pemicu gempa bumi.

Hingga saat ini diketahui ada 295 sesar aktif di Indonesia. Sebanyak 45 kali gempa bumi mematikan di Indonesia penyebabnya adalah sesar aktif.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono menyatakan, ada sebanyak 13 zona megathrust dan 295 sesar aktif yang harus diwaspadai.

“Sebenarnya gempa yang bersumber dari sesar aktif tidak kalah potensinya dibanding dengan zona penunjaman. Saat ini sudah ada 45 kali gempa mematikan dipicu sesar aktif,” katanya kepada Greeners, Minggu (11/12).

Patahan atau biasa disebut sesar aktif merupakan patahan lapisan kulit bumi atau kerak bumi yang mengalami pergerakan atau pergeseran. Sesar ini menjadi pemicu guncangan atau gempa bumi bila bergerak cepat dan melepas energi.

Daryono menyatakan, 45 kejadian gempa mematikan tersebut tercatat BMKG mulai tahun 1674 hingga 21 November 2022 di Indonesia.

Terbaru, sesar aktif memicu gempa bumi di Cianjur berkekuatan magnitudo 5,6 dengan pusat gempa di darat kedalaman 10 kilometer. BMKG memastikan bahwa pemicu gempa Cianjur yaitu sesar Cugenang.

Ancaman Sesar Aktif Sangat Tinggi

Senada dengan itu, Peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Mudrik Rahmawan Daryono menyatakan, ancaman sesar aktif sangat tinggi. Utamanya hampir di seluruh kawasan Pulau Jawa sehingga memicu gempa besar.

“Terlebih di Jawa dengan jumlah permukiman yang padat. Ancaman ini harus kita waspadai,” kata dia.

Ia juga menyebut, bahwa kejadian gempa bumi memiliki pola dan periode ulang yang sama. Misalnya, gempa bumi yang terjadi di Cianjur telah terjadi sejak 1842 dengan sumber dan lokasi yang sama. “Kalau kita tarik maka memiliki periode ulang 180 tahun,” imbuhnya.

Mudrik menambahkan, setelah periode perulangan maka sesar lepas energi dan akan memulai fasenya lagi dari nol. Yakni dari fase menghimpun energi selama 180 tahun. Kemudian, juga ditransfer pada daerah kanan dan kirinya.

Penyelidik Bumi Madya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Supartoyo mengungkapkan, persebaran sesar aktif tersebar dari Sabang hingga Merauke harus menjadi perhatian.

Sesar aktif di wilayah Sumatra, misalnya zona sesar Sumatra, zona subduksi Sumatra Megathrust melewati kawasan padat penduduk. “Kita masih ingat gempa megathrust akibat sesar ini menimbulkan gempa Aceh pada tahun 2004 lalu dengan magnitudo 9,5,” kata Supartoyo.

Sementara sesar aktif di Jawa, misalnya Sesar Lembang, lalu Sesar Opak sempat memicu gempa di Yogyakarta pada tahun 2006. Selanjutnya, sesar aktif juga ada di wilayah Sulawesi yaitu sebanyak 48, dan Maluku serta Papua sebanyak 79 sesar aktif.

Supartoyo merekomendasikan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap gempa-gempa karena sesar aktif. Pemerintah daerah juga harus segera tanggap dengan memastikan mitigasi kebencanaan gempa bumi.

“Pemda harus aktif, bahkan kami mendorong agar mitigasi kebencanaan ini menjadi regulasi. Misalnya di kawasan rentan seperti Cianjur. Pemda harus memastikan pembangunan permukiman di kawasan gempa,” ungkapnya.

Ia juga meminta agar pemerintah daerah aktif melakukan sosialisasi dan simulasi gempa bumi agar masyarakat tetap waspada.

Gempa rusak infrastruktur jalan. Foto: Freepik

Fenomena Gempa Bumi

Sementara itu, gempa mengguncang beberapa wilayah Pulau Jawa seperti Cianjur, Garut, Sukabumi dan Probolinggo akhir-akhir ini. Supartoyo menyatakan, sumber gempa di daerah-daerah tersebut berbeda dan tak ada saling keterkaitan.

Gempa di Cianjur dan Garut misalnya pemicunya adalah sesar aktif. Sementara gempa yang terjadi di Garut dan Probolinggo sebabnya adalah zona penujaman.

Namun, secara umum gempa yang terjadi belakangan ini pemicunya adalah gerakan tektonik yang muncul bersamaan. “Kemungkinan ini merupakan saatnya melepas energi dan zona intraslab sedang aktif. Jadi itulah kenapa sekarang lebih aktif,” ungkapnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/siaga-potensi-gempa-bumi-dari-295-sesar-aktif-di-indonesia/feed/ 0
9 Gempa Merusak Selat Sunda, Siaga Potensi Gempa di Zona Megathrust https://www.greeners.co/berita/9-gempa-merusak-selat-sunda-siaga-potensi-gempa-di-zona-megathrust/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=9-gempa-merusak-selat-sunda-siaga-potensi-gempa-di-zona-megathrust https://www.greeners.co/berita/9-gempa-merusak-selat-sunda-siaga-potensi-gempa-di-zona-megathrust/#respond Sat, 15 Jan 2022 08:17:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35002 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 8 kali gempa merusak sejak tahun 1851 hingga tahun 2019 di Selat Sunda. Yang terbaru gempa merusak magnitude […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 8 kali gempa merusak sejak tahun 1851 hingga tahun 2019 di Selat Sunda. Yang terbaru gempa merusak magnitude (M) 6,6 pada Jumat (14/1) sore. Sehingga total ada 9 gempa merusak yang telah terjadi.

Dalam tiga menit pertama, BMKG memonitor gempa bumi tersebut M 6,7 kedalaman 10 km dan berpotensi tsunami. Namun pada menit ke empat setelah banyak data terkumpul, ada pembaruan data yakni gempa M 6,6 kedalaman 40 km. Episenter gempa di laut pada jarak 132 km arah barat daya Kota Pandeglang, Banten.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, gempa yang terjadi di selatan Banten ini adalah gempa dengan mekanisme pergerakan naik. Hal ini terjadi akibat patahan naik.

“Gempa yang terjadi dangkal akibat subduksi lempeng Samudra Indo Australia menghujam ke bawah lempeng Benua Eurasia. Ke bawah Pulau Jawa yang menerus ke Nusa Tenggara,” katanya dalam konferensi pers virtual, Jumat (14/1) sore.

Goncangan gempa ini dirasakan di sejumlah wilayah di luar Banten, seperti Bogor, Jakarta, Bekasi hingga Tangerang Selatan. 

Gempa Merusak di Selat Sunda

Dwikorita mengungkapkan, dari sejarah kegempaan di Selat Sunda, pada Mei 1851 di Teluk Betung dan Selat Sunda pascagempa kuat teramati tsunami setinggi 1,5 meter (m). Lalu pada 9 Januari 1852 terjadi gempa kuat dan terjadi tsunami kecil.

Setelah itu, pada 27 Agustus 1883 terjadi tsunami dahsyat di atas 30 meter akibat erupsi Krakatau. Kemudian pada 23 Februari 1903 terjadi gempa M 7,9 yang berpusat di selatan Selat Sunda. Lalu 26 Maret 1928 terjadi tsunami kecil yang teramati di Selat Sunda pascagempa kuat.

Rentetan berikutnya pada 22 April 1958, terjadi gempa kuat dan kenaikan permukaan air laut. Yang terbaru pada 22 Desember 2018, kala itu tsunami menerjang Selat Sunda akibat longsoran anak Krakatau. Berikutnya, pada 2 Agustus 2019 terjadi gempa M 7,4 yang merusak di Banten dan berpotensi tsunami.

Dari rentetan gempa yang terjadi sejak tahun 1851 hingga yang terbaru di 2022, Dwikorita mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan. BMKG memonitor dalam 30 hari terakhir ada peningkatan aktivitas kegempaan dengan magnitude di bawah 5 di Jawa Barat dan Banten.

“Ada yang masyarakat rasakan lemah. Namun perlu ada kesiapan kondisi rumah tahan gempa. Perabotan yang labil dan mudah roboh jangan berada di atas tempat tidur atau tempat bekerja,” ungkap Dwikorita.

Selain itu di setiap bangunan entah itu rumah, mal, perkantoran dan hotel harus memiliki tempat perlindungan yang aman apabila terjadi goncangan gempa.

“Meja yang kokoh bisa menjadi tempat perlindungan. Jangan malah di bawahnya ada tumpukan kardus,” imbuhnya.

Hal penting lainnya, jalur evakuasi harus tanpa halangan apapun. Berlatih peningkatan evakuasi mandiri di gedung bertingkat juga sangat penting.

Gempa merusak sebanyak 9 kali di Selat Sunda sejak tahun 1851 hingga 2022 menyebabkan tsunami dan kerusakan bangunan. Foto: Shutterstock

Waspadai dan Siaga Potensi Gempa Merusak yang Lebih Besar

Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono mengungkapkan, gempa Jumat (14/1) ini bersifat merusak (desktruktif). Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pandeglang menyebut, 113 kelurahan dari 13 kecamatan terdampak gempa. Sebanyak 700 rumah dan lebih dari 300 fasilitas umum rusak.

“Gempa Ujung Kulon ini jenisnya mirip dengan gempa selatan Jawa Timur M 6,1 pada 10 April 2021 lalu yang bersifat destruktif. Sama-sama intraslab yaitu gempa dengan sumber di dalam Lempeng Indo Australia,” kata Daryono di Jakarta, Sabtu (15/1)

Hingga Sabtu (15/1) lanjutnya, sudah terjadi 33 kali gempa susulan dengan magnitude terbesar 5,7 dan terkecil 2,5.

Ia menegaskan, gempa Ujung Kulon ini sebenarnya bukan ancaman sesungguhnya karena segmen megathrust Selat Sunda mampu memicu gempa tertarget mencapai M 8,7.

“Dan ini dapat terjadi sewaktu-waktu. Kapan saja dapat terjadi karena Selat Sunda ini merupakan salah satu zona seismic gap di Indonesia yang selama ratusan tahun belum terjadi gempa besar,” paparnya.

Sehingga tambahnya, patut patut diwaspadai karena berada di antara dua lokasi gempa besar yang merusak dan dapat memicu tsunami yaitu gempa Pangandaran M 7,7 (2006) dan gempa Bengkulu M 8,5 (2007).

Penulis : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/9-gempa-merusak-selat-sunda-siaga-potensi-gempa-di-zona-megathrust/feed/ 0
Pakar: Perlu Jamak Riset untuk Ketahui Struktur Zona Megathrust https://www.greeners.co/berita/pakar-perlu-jamak-riset-untuk-ketahui-struktur-zona-megathrust/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pakar-perlu-jamak-riset-untuk-ketahui-struktur-zona-megathrust https://www.greeners.co/berita/pakar-perlu-jamak-riset-untuk-ketahui-struktur-zona-megathrust/#respond Sun, 04 Oct 2020 04:42:05 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=29110 Topik potensi gempa megathrust dan tsunami di Pantai Selatan Jawa tengah menjadi perhatian publik. Perhatian ini berawal dari tulisan Ron Harris dan Jonathan Major dalam "Waves of Destruction in the East Indies: the Wichmann Catalogue of Earthquakes and Tsunami in the Indonesian Region from 1538 to 1877".]]>

Jakarta (Greeners) – Topik potensi gempa megathrust dan tsunami di Pantai Selatan Jawa sedang menjadi sorotan publik. Perhatian ini berawal dari tulisan Ron Harris dan Jonathan Major dalam “Waves of Destruction in the East Indies: the Wichmann Catalogue of Earthquakes and Tsunami in the Indonesian Region from 1538 to 1877”.

Dalam penelitiannya, Harris dan Major mengaji temuan Arthur Wichmann. Wichmann mencatat 61 gempa regional dan 35 tsunami berlangsung di antara 1538 hingga 1877 di kawasan Hindia Belanda. Wichmann menemukan mayoritas kejadian ini menyebabkan kerusakan wilayah yang luas serta menciptakan kluster gempa bumi sementara. Selain itu, Wichmann mengklaim beberapa tsunami mencapai ketinggian hingga 15meter dan menyapu desa pesisir.

Dari penelitian ini, poin yang menjadi pembicaraan masyarakat adalah catatan Harris dan Major yang berisi dokumentasi endapan tsunami di Pangandaran. Harris dan Major menulis endapan tsunami ini bisa jadi akibat gempa bumi megathrust sepanjang Palung Jawa.

Baca juga: KLHK Pangkas Izin Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut

Temuan Harris dan Major memantik penelitian pakar mulitdisiplin Institut Teknologi Bandung (ITB). Riset yang dipimpin oleh Prof. Sri Widiyantoro ini berjudul Implications for Megathrust Earthquakes and Tsunamis from Seismic Gaps South of Java Indonesia. Pada penelitian yang diterbitkan Nature Scientific Report (17/9/2020), para peneliti membuat model tsunami dengan beberapa skenario. Skenario terburuk menggambarkan dua segmen megathrust yang terletak di antara Jawa pecah. Dari skenario terburuk ini, ketinggan tsunami mencapai kurang-lebih 20meter pada pesisir barat Jawa dan sekitar 12meter pada pesisir timur Jawa.

“Hal ini yang sebenarnya menjadi pemberitaan belakangan ini. Sebenarnya riset yang dilakukan sangat multidisiplin namun ujungnya adalah suatu skenario jika megathrust itu terjadi. Tim kami banyak melakukan skenario lain, puluhan mungkin seratus skenario. Tapi sekali lagi tentu untuk keperluan mitigasi ditampilkan worst case scenario seperti ini,” jelas Prof. Sri Widiyantoro.

Pakar: Perlu Jamak Riset untuk Ketahui Strutktur Gempa Megathrust

Tiga anak perempuan berjalan di tengah reruntuhan tsunami Banda Aceh, Aceh. (Foto: Shutterstock).

LIPI: Penelitian ITB Harus Ditindaklanjuti dengan Detail 

Menanggapi ramainya pembicaraan mengenai zona megathrust, Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Nugroho Dwi Hananto, mengatakan potensi gempa dan tsunami di Samudera Hindia Selatan Jawa telah beberapa kali disampaikan dan dipublikasikan oleh peneliti internasional. Peneliti, lanjut Dr. Nugroho, menggunakan data rekaman sejarah, seismologi dan geodetik.

Disamping itu, Dr. Nugroho mengingatkan, sejarah gempa dan tsunami di Pangandaran tahun 2006 dan di Jawa Timur pada tahun 1994. Kedua gempa penyebab tsunami ini bukanlah gempa besar dengan magnitudo kurang dari 8.

Baca juga: LSM: Co-firing PLTU Solusi Semu Emisi Gas Rumah Kaca

“Berdasarkan data seismologi, GPS dan pemodelan tsunami dengan menggunakan rekaman data yang komprehensif, Tim ITB menyimpulkan apabila seluruh segmen dari megathrust di selatan Jawa mengalami gempa, maka berpotensi menghasilkan tsunami setinggi 20meter di Jawa Barat,” ujar Dr. Nugroho saat dihubungi Greeners, Sabtu (3/10).

Dr. Nugroho mengatakan, hasil penelitian ini perlu ditindaklanjuti dengan riset yang lebih detail agar lebih akurat. Riset diperlukan untuk mengungkap struktur zona megathrust, segmentasi, keheterogenan struktur bawah permukaan, asperiti dan struktur morfologi dasar laut (batimetri).

Riset Struktur Zona Gempa Megathrust Diperlukan sebagai Landasan Strategi Mitigasi

Menurut Dr. Nugroho, riset Tim ITB berguna sebagai landasan ilmiah dalam menyusun strategi mitigasi dan pendidikan masyarakat di daerah pesisir selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Penelitian dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI mengungkap tsunami masa lampau terjadi di lokasi tersebut berdasarkan data endapan tsunami yang dijumpai di daerah pesisir selatan Jawa.

“Penelitian geosains kelautan dengan melibatkan metoda seismik refleksi, pengamatan detil mikroseismisitas dengan seismometer dasar laut, seismik refraksi, dan pengukuran heatflow telah dilakukan LIPI secara sistematis bekerjasama dengan mitra asing dan nasional. Hasilnya, antara lain struktur megathrust penyebab gempa besar Aceh 2004; patahan kerah samudera di Samudera Hindia penyebab gempa besar tahun 2012; struktur penyebab tsunami Mentawai tahun 2010; dan pengaruh gunung bawah laut yang tersubduksi terhadap aktivitas gempa di Mentawai,” ujarnya.

Dr. Nugroho melanjutkan, metode riset samudera yang sama rencananya dilakukan di zona subduksi dan palung Indonesia menggunakan Armada Kapal Riset Nasional. Riset ini untuk mengungkap detail dinamika zona subduksi di Indonesia dan rekomendasi mitigasi yang dapat dilakukan.

Pakar: Perlu Jamak Riset untuk Ketahui Strutktur Gempa Megathrust

Pantai Selatan Jawa. (Foto: Shutterstock).

Menrsitek: Belum Ada Metode untuk Prediksi Gempa

Hal yang sama juga disampaikan oleh Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro. Menteri Bambang menyatakan riset penelitian terkait risiko tsunami penting untuk mengetahui skenario terburuk dan langkah antisipasi, yakni peningkatan kesiapsiagaan dan usaha mitigasi.

“Dari segi keilmuan, sampai hari ini belum ada metode atau teori yang bisa memprediksi apakah suatu gempa akan terjadi. Kapan, di mana, dan berapa kedalaman serta besarnya. Sehingga riset yang dilakukan Prof. Sri Widiyantoro bersama tim adalah agar kita lebih waspada dan antisipatif terhadap kemungkinan bencana tersebut,” ujar Bambang pada agenda Keterangan Publik Risiko Tsunami di Pantai Selatan Pulau Jawa melalui telekonferensi, Rabu, (30/9).

Bambang menambahkan, kajian tersebut tidak bertujuan menimbulkan kepanikan di masyarakat. Alih-alih kepanikan, riset ini ditujukan untuk mengendepankan upaya mitigasi terhadap potensi risiko bencana di Indonesia.

Bambang mengklaim pihaknya terus berupaya mendukung manajemen mitigasi dengan membangun kapasitas sains dan teknologi kebencanaan. Upaya ini dia lakukan melalui penyiapan sumber daya manusia, penyediaan sarana dan prasarana riset, serta penyelenggaraan riset bidang kebencanaan demi menghasilkan dan mengelola pengetahuan riset kebencanaan.

“Pemerintah sudah membuat sistem yang disebut sebagai Indonesia Tsunami Early Warning System (INA-TEWS) yang dikembangkan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dan beberapa institusi lainnya ada yang dalam bentuk buoy system. Buoy system mampu mendeteksi potensi tsunami dalam hitungan detik sehingga informasi bisa langsung didapatkan sebagai upaya mitigasi bencana sedini mungkin. Kedua, sistem cable yang salah satunya sudah disiapkan di selatan Pulau Jawa khususnya di Selat Sunda,” tambahnya.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/berita/pakar-perlu-jamak-riset-untuk-ketahui-struktur-zona-megathrust/feed/ 0