Geoteknologi LIPI - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/geoteknologi-lipi/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 20 Apr 2019 11:15:15 +0000 id hourly 1 Paleoclimate, Memahami Fenomena Iklim di Masa Lampau https://www.greeners.co/berita/paleoclimate-memahami-fenomena-iklim-di-masa-lampau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=paleoclimate-memahami-fenomena-iklim-di-masa-lampau https://www.greeners.co/berita/paleoclimate-memahami-fenomena-iklim-di-masa-lampau/#respond Fri, 19 Apr 2019 05:20:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=23122 Salah satu metode yang digunakan untuk memahami fenomena iklim adalah paleoclimate. Sayang, metode ini belum mendapatkan perhatian dari pemerintah karena isu iklim masih dianggap isu kelas bawah.]]>

Bogor (Greeners) – Untuk memahami fenomena iklim diperlukan berbagai data yang dikumpulkan tidak hanya pada saat ini namun juga arsip dari masa lampau. Salah satu yang peneliti Indonesia yang melakukan penelitian terkait fenomena iklim adalah peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Sri Yudawati Cahyarini. Ia menerapkan metode paleoclimate menggunakan media koral. Sayang, metode ini belum mendapatkan perhatian dari pemerintah karena isu iklim masih dianggap isu kelas bawah.

“Studi paleoclimate bertujuan membuat modal prediksi iklim lebih akurat, semakin bagus data akan semakin bagus langkah mitigasinya. Untuk memahami dan memprediksi fenomena iklim membutuhkan data yang akurat dengan tidak menggunakan pengukuran alat-alat saja, tapi salah satunya dengan ilmu paleoclimate ini,” ujar Yuda saat mengisi diskusi publik Hari Kartini di Bogor, Kamis (18/04/2019).

BACA JUGA: Perubahan Iklim Pengaruhi Ketersediaan Pakan dan Populasi Burung 

Paleoclimate atau paleoklimatologi merupakan ilmu mengenai pemahaman fenomena iklim melalui pengetahuan kondisi iklim di masa lampau lewat data parameter iklim dalam waktu yang panjang dan tidak terjangkau oleh data pengukuran.

Yuda mengatakan jika ingin mendapatkan data yang sempurna terkait prediksi iklim dengan ilmu paleoclimate maka harus didukung dan dikerjakan bersama-sama dengan para ahli, seperti ahli klimatologi dan meteorologi untuk mendapatkan data masa kini, serta ahli pemodelan yang bisa memverifikasi hasil data lebih akurat.

“Untuk memprediksi iklim harus melihat variabel suhu panas, suhu dingin, curah hujan rendah, dan curah hujan tinggi ketika seratus hingga satu juta tahun yang lalu, apakah kondisinya sama atau tidak, pastinya kan tidak. Kalau saya untuk melihat itu menggunakan media karang, namun teman-teman peneliti yang lain ada yang menggunakan sedimen laut dan danau,” ujarnya.

paleoclimate

Peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Sri Yudawati Cahyarini menerapkan metode paleoclimate menggunakan media koral. Foto: greeners.co/Dewi Purningsih

Dari media karang ini, Yuda mengatakan bahwa dirinya bisa merekonstruksi variasi temperatur air laut sampai resolusi bulanan dengan rincian rekonstruksi curah hujan. Dari data tersebut bisa dilihat pengaruh fenomena iklim El Nino – Osilasi Selatan (ENSO) terhadap curah hujan di masa lampau.

“Saya mendata karang yang berumur 6.000 tahun yang lalu dan hasilnya variabelitas temperaturnya lebih rendah dibandingkan sekarang. Artinya, ada kenaikan variabelitas dari panas bumi yang menandakan perubahan iklim itu ada,” katanya.

Yuda mengatakan bahwa ilmu paleoclimate belum terlalu dihargai dan digunakan di Indonesia dan baru digunakan sebagai kolaborasi individu. “Kalau sekarang kerjasamanya dengan BMKG, itu juga kolaborasi individu. Di Indonesia sendiri paleoclimate belum “eksotik” dan isu perubahan iklim belum terangkat,” katanya.

BACA JUGA: LIPI Dorong Kebijakan Inklusif Perubahan Iklim untuk Masyarakat Pesisir 

Kepala Bidang Perubahan Iklim BMKG Kadarsah juga mengakui kalau penerapan paleoclimate masih sedikit dan biayanya mahal. Menurut Kadarsah, BMKG juga menggunakan metode ini dengan media es stalagmit dan stalaktit di Puncak Jaya, Papua karena mampu merekam kondisi iklim di masa lampau.

“Es mampu merekam CO2 dan polutan namun mahal karena banyak biaya yang harus dikeluarkan, seperti biaya ke Jaya Wijaya, Papua lalu alat ukur esnya,” ujarnya.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/paleoclimate-memahami-fenomena-iklim-di-masa-lampau/feed/ 0
Eco-Innovative Technology untuk Mitigasi Bencana di GCGE 2017 https://www.greeners.co/aksi/eco-innovative-technology-mitigasi-bencana-gcge-2017/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eco-innovative-technology-mitigasi-bencana-gcge-2017 https://www.greeners.co/aksi/eco-innovative-technology-mitigasi-bencana-gcge-2017/#respond Fri, 20 Oct 2017 12:27:09 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19063 Dalam rangka menyambut ulang tahun LIPI ke-50, Pusat penelitian Geoteknologi-LIPI menyelenggarakan Global Colloquium on Geosciences and Engineering (GCGE) 2017 pada tanggal 18-19 Oktober 2017 di Bandung.]]>

Bandung (Greeners) – Dalam rangka menyambut ulang tahun LIPI ke-50, Pusat Penelitian Geoteknologi-LIPI menyelenggarakan Global Colloquium on Geosciences and Engineering (GCGE) 2017 pada tanggal 18-19 Oktober 2017 di Bandung. Kegiatan bertema “Memahami Kompleksitas Bumi untuk Mendukung Lingkungan Peradaban yang Berkelanjutan” ini dirancang sebagai upaya untuk meningkatkan dan mendorong kualitas sumber daya manusia LIPI pada khususnya, dan peneliti lainnya dari berbagai instansi serta perguruan tinggi dalam bidang kajian ilmu kebumian meliputi geology & geophysics, resources engineering, oceanography, ecohydrology & limnology.

Kepala Pusat Penelitan Geoteknologi LIPI Dr. Eko Yulianto mengungkapkan bahwa pusat penelitian Geoteknologi LIPI memiliki tiga kajian utama berbasis Eco-Innovative Technology meliputi Urban Resillience (kemampuan beradaptasi perkotaan menghadapi perubahan iklim), Functional Material (penggunaan mineral yang digabungkan dengan bakteri tertentu untuk menghancurkan limbah) dan Tourism Destination.

“Perubahan iklim itu terkait dengan urban resillience. Seperti yang kita tahu perubahan iklim mengancam, misalnya ketersedian suplai air, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Disamping itu lingkungan secara keseluruhan juga berubah, longsor menjadi lebih sering dan ancaman menjadi lebih tinggi,” kata Eko di sela-sela kegiatan GCGE 2017, Bandung, Rabu (18/10).

Eco-Innovative Technology terkait penanggulangan dan mitigasi bencana, Eko menjelaskan bahwa Geoteknologi LIPI juga sedang mengembangkan aplikasi di gadget untuk memberikan peringatan dini terkait dengan gempa, tsunami dan longsor. Geoteknologi LIPI juga mengembangkan metode untuk memantau dan memitigasi longsor. Sayangnya, menurut Eko, untuk di Indonesia sendiri, teknologi tersebut masih terbilang mahal sehingga sulit untuk diimplementasikan dan banyak yang tidak dapat disebar secara luas.

“Selain teknologi tersebut, kami juga melakukan penelitian untuk pengurangan risiko khususnya yang terkait perubahan iklim tapi basisnya itu adalah kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan oleh masyarakat,” tuturnya.

Eko berpendapat bahwa untuk melakukan penanggulangan risiko bencana tidak melulu hanya berdasarkan teknologi tinggi (high-tech) saja. Penelitian terkait dengan identifikasi tanaman yang memiliki sifat dapat mengurangi risiko bencana juga penting untuk dilakukan.

“Misalnya saja, kami melakukan penelitian tentang jenis tumbuhan apa yang ketika ditanam, maka tumbuhan itu secara natural mempunyai kekuatan untuk mencegah longsor terjadi. Kemudian jenis tumbuhan apa yang jika kita tanam dia memiliki kemampuan untuk mengumpulkan air, karena ada tumbuhan yang bisa mengumpulkan air, contohnya beringin dan lowa, dan ada juga yang jenis menyerap atau memakan air sangat banyak seperti eukaliptus, akasia, pinus,” paparnya.

Eko memaparkan, pada tahun 80-an program penghijauan lahan yang dilakukan pemerintah di Gunung Kudul dianggap berhasil. Namun, jika dilihat dari sumber daya air, penghijauan tersebut justru mengurangi ketersediaan air karena jenis tumbuhan akasia rakus air.

“Hal ini kita teliti sehingga nanti harapannya ke depan kami bisa menyediakan suatu daftar kepada masyarakat. Kalau anda tinggal di daerah longsor sementara anda membutuhkan penelitian ekonomi jangan menanam akasia, karena akasia cenderung meninggikan risiko/kerentanannya. Jika anda tinggal di daerah cenderung kering maka tanamlah tanaman ini agar anda mempunyai kesediaan air,” pungkasnya.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/aksi/eco-innovative-technology-mitigasi-bencana-gcge-2017/feed/ 0