gerakan sedekah sampah - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/gerakan-sedekah-sampah/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 17 Apr 2026 12:00:55 +0000 id hourly 1 Sedekah Sampah, Ikhtiar Ananto Isworo Ajak Umat Peduli Lingkungan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sedekah-sampah-ikhtiar-ananto-isworo-ajak-umat-peduli-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sedekah-sampah-ikhtiar-ananto-isworo-ajak-umat-peduli-lingkungan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sedekah-sampah-ikhtiar-ananto-isworo-ajak-umat-peduli-lingkungan/#respond Fri, 17 Apr 2026 12:00:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=48363 Jakarta (Greeners) – Lahirnya pengetahuan hingga aksi pemulihan lingkungan tidak memiliki ruang yang terbatas untuk bertumbuh. Upaya tersebut dapat lahir dari mana saja, mulai dari masjid hingga ruang-ruang dakwah. Seorang pendakwah, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Lahirnya pengetahuan hingga aksi pemulihan lingkungan tidak memiliki ruang yang terbatas untuk bertumbuh. Upaya tersebut dapat lahir dari mana saja, mulai dari masjid hingga ruang-ruang dakwah. Seorang pendakwah, Ananto Isworo, menghidupkan semangat ini dengan berikhtiar mengajak umat untuk peduli terhadap lingkungan melalui berbagai kiprahnya.

Pria kelahiran Banyuwangi berusia 49 tahun ini telah menetap di Daerah Istimewa Yogyakarta sejak 1995 dan tinggal di Kampung Brajan sejak 2005. Keprihatinannya terhadap persoalan lingkungan mulai tumbuh pada 2013. Ia tergerak menciptakan aksi lingkungan setelah melihat kondisi kemiskinan yang melingkupi warga Kampung Brajan.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, Ananto berupaya membantu masyarakat keluar dari lingkaran kemiskinan dengan melihat potensi di sekitar, salah satunya timbulan sampah. Dari situ, ia mulai memanfaatkan sampah sebagai sumber nilai ekonomi.

“Awalnya berangkat dari keprihatinan saat saya menjadi ketua takmir Masjid Al-Muharram. Banyak warga sekitar hidup di bawah garis kemiskinan, kesulitan biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok. Di sisi lain, lingkungan juga kotor dan sampah tidak terkelola,” kata Ananto kepada Greeners, Selasa (7/4).

Ia kemudian mencari cara agar masyarakat tetap bisa bersedekah tanpa harus menggunakan uang. Dari situlah lahir “Gerakan Sedekah Sampah” yang hingga kini terus memberikan manfaat, baik secara sosial maupun lingkungan.

“Mengacu pada Surah Ali Imrah ayat 134, kami tafsirkan bahwa semua orang bisa bersedekah, bahkan dengan sampah. Orang mungkin tidak punya uang, tapi pasti punya sampah. Dari situ masyarakat mulai mengumpulkan bungkus plastik, kardus, barang rusak, dan lainnya untuk disedekahkan ke masjid,” ujarnya.

Sosok Ananto menunjukkan bahwa sedekah tidak hanya berbentuk uang, tetapi juga bisa melalui sampah yang memberi manfaat bagi sesama. Sampah yang semula dianggap tidak bernilai dikumpulkan, dijual, lalu hasilnya digunakan untuk membantu warga yang membutuhkan.

Dijuluki Ustaz Sampah

Gerakan yang ia gagas terus berkembang dan menarik perhatian pemerintah. Pada 2021, Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) menjadikannya sebagai program nasional dengan nama Gerakan Sedekah Sampah Indonesia.

Seiring perjalanannya, Ananto juga semakin dikenal, tidak hanya sebagai pendakwah, tetapi juga sebagai sosok yang membawa perspektif baru tentang lingkungan dari rumah ke rumah dan dari masjid ke masjid. Ia kerap dijuluki “Ustaz Sampah” karena konsisten mengajak jamaah untuk bersedekah melalui sampah.

“Setiap selesai pengajian, mobil saya selalu penuh dengan sampah dari jamaah. Bahkan, pernah membawa kulkas, sepeda motor, hingga harus memilah sampah di kandang ayam. Dari situlah istilah itu muncul,” katanya.

Sejak awal ia menjadi ketua takmir, Ananto memiliki mimpi untuk menciptakan masjid ramah lingkungan. Tidak hanya mengelola sampah, ia juga berkeinginan masjid yang ia pimpin menggunakan energi bersih.

Berkat kerja kerasnya, mimpi itu terwujud. Kini, Masjid Al-Muharam dikenal sebagai eco-masjid dengan berbagai program. Masjid ini memiliki tujuh program utama. Di antaranya bangunan ramah lingkungan, penghijauan sekitar masjid, memanen air hujan atau wudu, dan gerakan sedekah sampah berbasis masjid. Kemudian, masjid ramah difabel, masjid ramah anak, dan masjid dengan tenaga terbarukan melalui panel surya yang akhirnya terpasang pada 2023.

Dari situlah, ia mendapat julukan “The Crazy Ustaz” dari media internasional seperti The New York Times karena gagasan-gagasannya yang dianggap tidak biasa, termasuk mendorong inisiatif lingkungan di masjid.

Sementara itu, Ananto juga mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah Indonesia. Penghargaan ini diberikan kepada perorangan atau kelompok atas jasa luar biasa dalam melestarikan lingkungan hidup.

Pada 2022 ia meraih Kalpataru tingkat I Kabupaten Bantul, kemudian pada 2023 ia kembali meraih Kalpataru Provinsi DIY dalam kategori perintis lingkungan. Terakhir, pada 2024  Ananto meraih Kalpataru Provinsi DIY dalam kategori pembina lingkungan.

Ngaji Ekologi

Perjalanan lebih dari satu dekade membangun program eco-masjid membuat Ananto terus memperluas upayanya dalam dakwah lingkungan. Ia tidak hanya menyampaikan ceramah, tetapi juga menekankan aksi nyata.

Dalam dakwahnya, ia mengembangkan konsep “ngaji ekologi”, yang mengaitkan ajaran agama dengan isu lingkungan. Materi yang ia sampaikan mencakup ekoteologi, pengelolaan sampah, hingga konsep amal jariyah yang terhubung dengan praktik menjaga lingkungan seperti menanam pohon dan mengelola air.

“Pendekatan saya sederhana, tidak harus ceramah panjang. Kadang satu aksi nyata lebih kuat daripada seribu kata. Bahkan preman di kampung pun bisa berubah karena melihat praktik nyata, bukan karena ceramah,” ujarnya.

Bagi Ananto, peran tokoh agama dalam isu lingkungan sangat penting. Ia menilai masih banyak yang berfokus pada kesalehan individu, sementara aspek sosial dan lingkungan belum banyak disentuh. Padahal, menurutnya, terdapat ratusan ayat dalam Al-Qur’an yang membahas lingkungan.

“Dakwah tidak harus selalu lewat mimbar. Bisa lewat aksi nyata yang langsung masyarakat rasakan. Pada akhirnya, satu tindakan konkret jauh lebih bermakna daripada sekadar kata-kata,” kata Ananto.

Ia berharap para tokoh agama mulai membuka kembali kitab suci masing-masing dan menyampaikan pesan-pesan lingkungan, tidak hanya dalam bentuk teori, tetapi juga praktik nyata. Menurutnya, krisis lingkungan merupakan persoalan nyata yang membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk tokoh agama.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sedekah-sampah-ikhtiar-ananto-isworo-ajak-umat-peduli-lingkungan/feed/ 0