greener.co - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/greener-co/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 19 Dec 2015 17:04:32 +0000 id hourly 1 KLHK Luncurkan Hasil Evaluasi Kualitas Udara Perkotaan https://www.greeners.co/berita/klhk-luncurkan-hasil-evaluasi-kualitas-udara-perkotaan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klhk-luncurkan-hasil-evaluasi-kualitas-udara-perkotaan https://www.greeners.co/berita/klhk-luncurkan-hasil-evaluasi-kualitas-udara-perkotaan/#respond Sat, 19 Dec 2015 12:00:39 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12291 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengumumkan hasil Program Langit Biru 2015 berupa hasil evaluasi kualitas udara perkotaan di 45 kota di 33 Provinsi.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengumumkan hasil Program Langit Biru 2015 berupa hasil evaluasi kualitas udara perkotaan di 45 kota di 33 Provinsi. Program ini sebagai upaya menurunkan pencemaran udara dari sektor transportasi untuk mendorong peningkatan kualitas udara perkotaan.

Pelaksanaan evaluasi kualitas udara perkotaan dilakukan dengan mengisi formulir data kota di samping kegiatan fisik yang meliputi uji emisi “spotcheck” kendaraan bermotor yang dilakukan terhadap lima ratus kendaraan pribadi per hari selama tiga hari. Kegiatan lain adalah pemantauan kualitas udara jalan raya (roadside monitoring) dan penghitungan kinerja lalu lintas (kecepatan lalu lintas dan kerapatan kendaraan di jalan raya) yang dilakukan secara serentak di tiap kota di tiga ruas jalan arteri yang dipilih bersama dan dianggap mewakili kota tersebut.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK M.R Karliansyah menyatakan bahwa evaluasi kualitas udara perkotaan di 45 kota dari 33 provinsi di Indonesia ini dilakukan antara bulan Juli sampai dengan November 2015.

Dari 45 kota tersebut, 14 kota metropolitan (lima wilayah), Semarang, Surabaya, Medan, Bandung, Tangerang, Makassar, Depok, Palembang, Bekasi. Sedangkan untuk 15 kota besar, yaitu Tangerang Selatan, Surakarta, Batam, Bogor, Malang, Balikpapan, Yogyakarta, Bandar Lampung, Denpasar, Samarinda, Banjarmasin, Padang, Pekanbaru, Manado dan Pontianak,

“Lalu untuk 16 kota sedang atau kecil yaitu Serang, Mataram, Kota Ternate, Kendari, Palangkaraya, Tanjung Pinang, Bengkulu, Mamuju, Jambi, Banda Aceh, Pangkal Pinang, Kupang, Gorontalo, Palu, Jayapura dan Ambon yang merupakan Ibu kota Propinsi,” terangnya saat menyampaikan paparan dihadapan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta, Kamis (17/12).

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (tengah) dalam acara Public Expose Evaluasi Kualitas Udara Perkotaan Hasil Sementara Indeks Kualitas Udara 2015 di Jakarta (17/12). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (tengah) dalam acara Public Expose Evaluasi Kualitas Udara Perkotaan Hasil Sementara Indeks Kualitas Udara 2015 di Jakarta (17/12). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Dari hasil evaluasi Langit Biru tersebut, lanjutnya, diperoleh tiga Kota Langit Biru terbaik untuk kategori Kota Metropolitan, yaitu Kota Bandung, Surabaya dan Jakarta Pusat. Lalu untuk tiga Kota Langit Biru terbaik kategori Kota Besar adalah Yogyakarta, Tangerang Selatan, dan Denpasar. Selanjutnya, untuk Tiga Kota Langit Biru terbaik kategori Kota Sedang atau Kecil yaitu Ambon, Bengkulu dan Banda Aceh.

Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar dalam kesempatan yang sama memberikan ucapan selamat kepada para wali kota yang berhasil masuk dalam kategori “kota dengan kualitas udara terbaik”. Masalah pencemaran udara ini, katanya, bukanlah hal yang sederhana karena semua elemen harus memahami bahwa pencemaran yang paling tinggi berasal dari sektor rumah tangga, industri, pemukiman dan benda bergerak seperti kendaraan bermotor.

“Jadi, masalah pencemaran udara dari sektor transportasi yang kita hadapi sekarang ini adalah penurunan kualitas udara, terutama di kota-kota besar. Kalau kita lihat perkembangan pemerintahan sekarang ini, maka kekuatan pemerintah daerah tidak lain lain adalah di database. Maka, saya sangat menghargai 120 kota yang diteliti yang database-nya sudah lengkap,” ujarnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/klhk-luncurkan-hasil-evaluasi-kualitas-udara-perkotaan/feed/ 0
Perkenalkan, Tujuh Eco-Fashion Label https://www.greeners.co/gaya-hidup/perkenalkan-tujuh-eco-fashion-label/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perkenalkan-tujuh-eco-fashion-label https://www.greeners.co/gaya-hidup/perkenalkan-tujuh-eco-fashion-label/#respond Sat, 04 Jul 2015 09:58:29 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10156 Gerakan eco-fashion sedikit demi-sedikit mulai merasuki industri mode yang terus bergerak dinamis. Di tengah gempuran fast fashion, muncul perancang dan label yang mau mengalahkan keegoisan mereka untuk kembali menghargai alam […]]]>

Gerakan eco-fashion sedikit demi-sedikit mulai merasuki industri mode yang terus bergerak dinamis. Di tengah gempuran fast fashion, muncul perancang dan label yang mau mengalahkan keegoisan mereka untuk kembali menghargai alam dan manusia. Seperti dilansir dari situs elle.com, berikut ini sejumlah label yang mengambil jalur eco-fashion:

1. SVILU
SVILU memiliki konsep busana santai dengan bahan yang nyaman, warna yang romantis dan detail yang cantik. Penggagas SVILU, Britt Cosgrove dan Marina Polo memiliki keseriusan untuk berkontribusi pada estetika fesyen di masa depan.

Dalam menjalankan perannya di dunia fesyen, SVILU menggunakan bahan organik dan diproduksi secara lokal. Selain itu, label ini pernah masuk dalam kategori CFDA/Lexus Eco Fashion Challenge di tahun 2013, sebuah acara yang cukup berpengaruh bagi label busana yang mengusung keberlanjutan.

2. KOWTOW
Bagi perempuan yang menyukai potongan busana yang sederhana, KOWTOW bisa jadi jawabannya. Tampilan yang sederhana dengan beragam warna dan kain yang mudah diatur tidak hanya menjadi kekuatannya pada trend musim ini. KOWTOW menggunakan 100% bahan organik dan mengedepankan fair trade dalam proses pembuatannya.

KOWTOW pun membuka secara jelas proses pembuatan barang-barang produksinya yang disebut dengan “benih untuk garmen” dalam situs resmi mereka.

3. Freedom of Animals
Freedom of Animals salah satu label aksesori yang menggunakan bahan kulit sintetis dengan memanfaatkan bahan-bahan yang didaur ulang seperti botol air kemasan. Selain itu, label ini menggunakan katun organik yang dalam prosesnya dipercaya dapat mengurangi 70% penggunaan energi. Namun, hasilnya tak kalah menarik dari aksesori dengan kulit asli.

Tidak hanya menghasilkan tas jinjing wanita yang cantik, namun juga tas ransel yang kuat untuk digunakan dalam kegiatan sehari-hari.

4. H&M Conscious Collection
Belum lama ini, H&M mengajukan diri menjadi label yang peduli terhadap lingkungan hidup. Label yang sudah eksis dengan fast fashion ini pun mengubah haluannya untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap bumi. Meski demikian, retailer busana asal Swedia ini tetap berkomitmen untuk menghasilkan produk busana yang nyaman dan terjangkau.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/perkenalkan-tujuh-eco-fashion-label/feed/ 0
Hari Bumi, Isu Privatisasi Air Diharapkan Dibahas di KAA https://www.greeners.co/berita/hari-bumi-isu-privatisasi-air-diharapkan-dibahas-di-kaa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hari-bumi-isu-privatisasi-air-diharapkan-dibahas-di-kaa https://www.greeners.co/berita/hari-bumi-isu-privatisasi-air-diharapkan-dibahas-di-kaa/#respond Thu, 23 Apr 2015 04:00:23 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8678 Bandung (Greeners) – Keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air merupakan kemenangan besar bangsa Indonesia dalam melawan imperialisme dan penguasaan hak […]]]>

Bandung (Greeners) – Keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air merupakan kemenangan besar bangsa Indonesia dalam melawan imperialisme dan penguasaan hak atas air di bumi Nusantara.

Pada perayaan Hari Bumi 2015 dan bertepatan dengan pelaksanaan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) mengungkapkan bahwa kemenangan bangsa ini harus menjadi pijakan untuk memastikan air sebagai hak asasi manusia dan pemerintah harus bisa membangun sistem tata kelola air yang lebih adil dan memihak kepada rakyat.

Taufan Suranto, Ketua Panitia pelaksanaan Hari Bumi “Keep Water Public” yang juga anggota DPKLTS, menyatakan, privatisasi air seharusnya menjadi isu penting dalam pembahasan KAA karena bagi Asia dan Afrika, peristiwa yang terjadi di Indonesia setidaknya bisa menjadi inspirasi dalam melawan penjajahan air oleh korporat.

“Pesan ini patut untuk disebarluaskan ke seluruh dunia termasuk negara peserta Konferensi Asia Afrika,” ujar Taufan saat berbincang ringan dengan Greeners di Hutan Kota Babakan Siliwangi, Bandung, Rabu (22/04).

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat pun memiliki pandangan serupa. Menurut Dwi Sawung, perwakilan dari Walhi Jawa Barat, momentum Hari Bumi dan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika Ke-60 di Kota Bandung sudah seharusnya menjadi ruang strategis bagi publik untuk menyuarakan semangat bumi kepada dunia, agar gelora perjuangan bangsa Asia-Afrika khususnya dalam memperjuangkan hak atas air bisa terdengar dan menjadi inspirasi dalam melawan imperialisme pengelolaan sumber daya air.

Sebagai informasi, dalam perayaan Hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April di seluruh dunia, Koalisi Masyarakat Bandung atau Bandung People Forum melakukan orasi dan testimoni dari tokoh masyarakat dan warga yang terlibat dengan permasalahan air bersih.

Selain itu, mereka juga menggelar aksi budaya, seperti melukis 200 kendi oleh Rahmat Jabaril dan Gerbong Bawah Tanah, melakukan prosesi kearifan lokal, dan diakhiri dengan arak-arakan Hari Bumi dari hutan kota Babakan Siliwangi menuju kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan Balaikota Bandung.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/hari-bumi-isu-privatisasi-air-diharapkan-dibahas-di-kaa/feed/ 0