hijau - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/hijau/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 20 Mar 2016 06:30:28 +0000 id hourly 1 Pesan Berantai Fenomena Equinox Tidak Benar https://www.greeners.co/berita/pesan-berantai-fenomena-equinox-tidak-benar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pesan-berantai-fenomena-equinox-tidak-benar https://www.greeners.co/berita/pesan-berantai-fenomena-equinox-tidak-benar/#respond Sun, 20 Mar 2016 06:30:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13230 Jakarta (Greeners) – Beberapa hari lalu, netizen dihebohkan dengan pesan berantai berisi tentang kabar hadirnya fenomena Equinox yang menyebabkan suhu ekstrim berfluktuasi hingga 40 derajat Celsius yang akan melanda wilayah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Beberapa hari lalu, netizen dihebohkan dengan pesan berantai berisi tentang kabar hadirnya fenomena Equinox yang menyebabkan suhu ekstrim berfluktuasi hingga 40 derajat Celsius yang akan melanda wilayah Indonesia pada 21 Maret 2016 mendatang.

Menanggapi isu tersebut, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) melalui pernyataan resminya mengimbau masyakarat untuk tidak perlu mengkhawatirkan dampak dari Equinox. Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya, fenomena Equinox merupakan kejadian biasa yang terjadi setiap tahun dan bukanlah fenomena yang perlu dikhawatirkan.

“Fenomena Equinox tidak perlu ditakuti karena setiap tahun itu terjadi dan sebenarnya juga itu peristiwa yang biasa saja,” ungkapnya kepada Greeners, Jakarta, Sabtu (19/03).

Sesekali, lanjutnya, memang udara terasa panas ketika Equinox terjadi. Namun, suhu panas itu muncul tidak berbarengan dengan lintasan matahari ketika tepat di atas khatulistiwa dan udara panas pun tak semata karena intensitas cahaya matahari.

“Bahkan berita di Strait times itu bilang semua baik-baik saja kok. National Environment Singapore juga sudah membantahnya, tetapi pesan berantai itu saja yang terlalu berlebihan,” tambah Eka.

Sebagai informasi, sebelumnya, kabar tentang akan hadirnya fenomena Equinox di Indonesia, Malaysia, dan Singapura dalam lima hari mendatang menjadi viral melalui pesan berantai di banyak aplikasi berbagi pesan. Dalam pesan berantai tersebut disarankan agar masyarakat tetap tinggal di dalam rumah, khususnya mulai pukul 12.00-15.00 setiap hari dikarenakan suhu udara akan berfluktuasi hingga 40 derajat Celcius.

Kabar peringatan datangnya cuaca panas itu sendiri berasal dari pengumuman oleh Badan Lingkungan Hidup Singapura (NEA). Namun, tak lama setelah pesan berantai tersebut menyebar, NEA pun mengklarifikasi bahwa berita itu tidak benar yang akhirnya ditindaklanjuti olh klarifikasi dari BMKG Indonesia.

“NEA mengatakan menurut laporan Badan Layanan Meteorologi Singapura (MSS), memang dua minggu akhir Maret ini suhu dipekirakan lebih kering dan panas. Namun, tidak mencapi 40 derajat celcius,” tutupnya.

Penulis Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pesan-berantai-fenomena-equinox-tidak-benar/feed/ 0
#AyokeTaman : Hilangkan Pandangan Negatif Taman Kota https://www.greeners.co/berita/ayoketaman-ajak-masyarakat-hilangkan-pandangan-negatif-taman-kota/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ayoketaman-ajak-masyarakat-hilangkan-pandangan-negatif-taman-kota https://www.greeners.co/berita/ayoketaman-ajak-masyarakat-hilangkan-pandangan-negatif-taman-kota/#respond Sun, 04 Oct 2015 12:02:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11374 Jakarta (Greeners) – Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan komponen penting yang harus tersedia pada sebuah kota. Oleh karena itu, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, setiap […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan komponen penting yang harus tersedia pada sebuah kota. Oleh karena itu, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, setiap kota diwajibkan memiliki RTH paling tidak 30% dari jumlah luasan kota tersebut.

Taman kota, sebagai bagian dari RTH, merupakan komponen yang paling dekat bagi masayarakat. Namun sayangnya, masih banyak masyarakat yang enggan untuk pergi ke taman dikarenakan berbagai hal.

Pengamat Tata Kota Hijau dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga pada penyelenggaraan kampanye #AyokeTaman mengatakan bahwa taman telah terlanjur mendapatkan pandangan negatif dari masayarakat. Mulai dari taman-taman kecil yang lebih sering dipakai untuk muda-mudi berpacaran hingga kondisi taman yang kotor dan tidak diperhatikan.

Padahal, menurutnya, tanggung jawab masyarakat yang tinggal di sekitar taman menjadi penting apabila mereka (masyarakat) mau menganggap taman sebagai bagian dari kehidupan mereka.

“Image (pandangan) buruk taman itu kan hadir karena masyarakatnya sendiri enggan menjaga keindahan taman. Coba kalau taman itu dijaga dan diperhatikan, mungkin tidak akan ada kegiatan negatif di sana,” jelasnya saat ditemui dikegiatan #AyokeTaman di Taman Ayodia, Jakarta, Minggu (04/10).

Kampanye yang digagas oleh Kemitraan Kota Hijau ini sendiri bermaksud untuk mengajak masyarakat untuk kembali ke taman dengan segala macam kebaikan dan manfaat yang bisa didapatkan oleh masyarakat.

Joga berharap dengan adanya kegiatan ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, masyarakat, pedagang atau siapapun yang terlibat di dalam pengembangan sebuah taman dapat kembali menghidupkan taman-taman yang hampir “mati” di Jakarta.

Pengamat Tata Kota Hijau dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Pengamat Tata Kota Hijau dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Ditemui di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Ratna Diah Kurniati, menjelaskan bahwa ada sekitar 20 persen taman yang tidak aktif di Jakarta. Sedangkan, untuk jumlah RTH yang telah ada masih kurang dari 10 persen.

“Tahun 2015 ini target kita itu 10 persennya bisa tercapai. Sedangkan untuk mencapai target 13,95 persen yang dicanangkan DKI itu masih sangat sulit. Makanya kita juga mengajak swasta untuk membangun taman karena cukup sulit kalau harus pemprov sendiri,” tambahnya.

Untuk menarik minat masyarakat, Diah menyatakan akan menambah beberapa fasilitas seperti outdoor fitnes, lapangan olah raga dan jalur jogging di beberapa taman seperti yang telah ada di taman Situ Lembang, Suropati dan Taman Menteng. Ia juga menyatakan akan menghidupkan taman-taman yang ada di daerah pinggiran jakarta seperti taman-taman yang ada di tengah kota.

Toto Sugito, Ketua Umum Bike2Work Indonesia yang ditemui di kesempatan yang sama juga mengakui bahwa saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bagaimana nikmatnya berkumpul dan berbincang di taman.

“Fasilitas seperti parkir sepeda itu kan belum ada. Saya minta ke dinas (pertamanan) untuk ada penambahan itu. Kalau sudah ada kan enak. Para pesepeda juga seperti diajak untuk pergi ke taman,” katanya.

Sebagai informasi, gerakan #AyokeTaman sendiri adalah gerakan mengajak masyarakat untuk kembali mengunjungi taman-taman kota yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Habitat Sedunia yang ke 29. Jakarta sendiri memiliki 1173 taman kecil dan besar. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Hanya saja, karena budaya bertaman masih sangat minim, akhirnya keberadaan taman-taman di Jakarta seperti hilang dan tidak diketahui oleh masyarakat.

Padahal, akibat buruk dari tidak diperhatikannya keberadaan taman-taman ini, akan menarik para investor untuk mengambil alih lokasi-lokasi taman tersebut. Menurut Nirono Joga, dari 1173 taman di Jakarta, hampir 50 persennya telah mati. Hal tersebut jauh lebih banyak dari perkiraan yang diutarakan oleh Dinas Pertamanan yaitu 20 persen. Pada tahun 1985 Jakarta masih memiliki 25,85 persen RTH. Namun, pada tahun 2000 menyusut menjadi sembilan persen.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/ayoketaman-ajak-masyarakat-hilangkan-pandangan-negatif-taman-kota/feed/ 0
Polisi Bersepeda Akan Amankan Malam Tahun Baru 2015 https://www.greeners.co/berita/polisi-bersepeda-akan-amankan-malam-tahun-baru-2015/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=polisi-bersepeda-akan-amankan-malam-tahun-baru-2015 https://www.greeners.co/berita/polisi-bersepeda-akan-amankan-malam-tahun-baru-2015/#respond Wed, 31 Dec 2014 10:00:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6971 Jakarta (Greeners) – Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya akan mengerahkan polisi bersepeda untuk mengamankan malam Tahun Baru 2015. Kepala Divisi (Kadiv) Hubungan masyarakat (Humas) Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya akan mengerahkan polisi bersepeda untuk mengamankan malam Tahun Baru 2015. Kepala Divisi (Kadiv) Hubungan masyarakat (Humas) Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Rikwanto mengatakan ada enam lokasi yang akan dijaga oleh polisi bersepeda tersebut.

Rikwanto menerangkan keenam titik tersebut adalah Bunderan Hotel Indonesia, Monumen Nasional, Taman Mini Indonesia Indah, Pantai Ancol, Kawasan Kota Tua, dan beberapa pulau di Kepulauan Seribu.

“Patroli menggunakan sepeda juga membuat badan lebih sehat,” ujar Rikwanto, Jakarta, Rabu (31/12).

Ia melanjutkan bahwa Polisi bersepeda yang akan dikerahkan di setiap posnya tersebut juga akan berpatroli untuk menjaga gelaran Jakarta Night Festival yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada Rabu malam, 31 Desember 2014. Sebanyak 13 panggung hiburan disiapkan di sepanjang Jalan M.H. Thamrin dan panggung utama di lapangan Monas.

Nantinya, tambah Rikwanto, jalur Trans Jakarta atau busway di sepanjang jalan MH. Thamrin pun akan disterilkan dari kerumunan massa dan akan digunakan untuk polisi patroli yang menggunakan sepeda. Sedangkan untuk setiap posnya akan disiagakan personil berjumlah 156 orang dari tiga fungsi satuan yaitu Sabhara, Brimbob, dan Lalu lintas.

“Sedangkan untuk pengamanan malam tahun baru di Kepulauan Seribu pihak kepolisian akan menyiagakan kapal patroli di Pulau Tidung, Untung Jawa, Pari, dan Pramuka,” pungkasnya.

 

]]>
https://www.greeners.co/berita/polisi-bersepeda-akan-amankan-malam-tahun-baru-2015/feed/ 0
Duta Kampus Gelar “Plant Tree, Plan Life” Untuk RTH Jakarta https://www.greeners.co/aksi/young-top-campus-ambassadors-gelar-plant-tree-plan-life-untuk-rth-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=young-top-campus-ambassadors-gelar-plant-tree-plan-life-untuk-rth-jakarta https://www.greeners.co/aksi/young-top-campus-ambassadors-gelar-plant-tree-plan-life-untuk-rth-jakarta/#respond Mon, 01 Dec 2014 04:19:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_community_act&p=6600 Jakarta (Greeners) – Perkembangan zaman dan pertumbuhan penduduk yang tinggi menuntut adanya pemanfaatan lahan untuk pembangunan hunian, akibatnya semakin sedikit lahan yang dimanfaatkan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH). Saat ini, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Perkembangan zaman dan pertumbuhan penduduk yang tinggi menuntut adanya pemanfaatan lahan untuk pembangunan hunian, akibatnya semakin sedikit lahan yang dimanfaatkan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH). Saat ini, kota DKI Jakarta hanya memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 9,8 %, padahal batas minimal yang ditetapkan Undang‐Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyebutkan bahwa ruang terbuka hijau harus memiliki luas minimal sebesar 30% dari luas wilayah kota.

Para duta kampus yang tergabung dalam Young On Top Campus Ambassadors melalui Divisi Green, mencoba memberikan solusi atas masalah tersebut melalui Kampanye “Plant Tree, Plant Life” yang diharapkan mampu mendorong masyarakat, khususnya generasi muda agar ikut berpartisipasi meningkatkan jumlah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di DKI Jakarta dengan memanfaatkan lahan yang ada untuk ditanami tanaman hijau.

Vice Project Officer dari kegiatan Plant Tree, Plant Life, Erwin Setiawan mengungkapkan bahwa keberadaan RTH yang minim di Kota Jakarta sudah sangat terasa. Terlebih jumlah pohon-pohon hidup yang ada semakin lama seperti tidak diperhatikan oleh masyarakat. Padahal keberadaan Ruang Terbuka Hijau sangat berperan penting sebagai paru‐paru kota.

“Melalui kampanye ini kami ingin membantu menambah jumlah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di lingkungan DKI Jakarta serta turut menjalin kolaborasi yang baik dengan berbagai pihak, khususnya komunitas lingkungan hidup dan komunitas anak muda agar terus konsisten mengampanyekan gaya hidup hijau serta ramah lingkungan,” jelas Erwin saat dijumpai oleh Greeners di Jakarta, Minggu (30/11).

Turut hadir dalam kampanye tersebut Miss Earth Indonesia Water 2014, Fallentina Cotton,  yang mengapresiasi aksi Plant Tree, Plant Life ini bersama dengan puluhan komunitas lainnya. Menurut Fallen, kampanye yang dilakukan oleh Young On Top Green tersebut sangat bermanfaat untuk meningkatkan perhatian anak muda terhadap lingkungan. Terlebih ketika kampanye ini dilakukan langsung oleh anak-anak muda.

Selain itu, ia juga berpendapat bahwa pembagian bibit pohon yang dilakukan pada saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor kali ini sangat membantu dalam meningkatkan perhatian masyarakat. Menurutnya, dengan membagikan bibit pohon, sama saja seperti memberikan sedikit pancingan untuk masyarakat agar mulai melakukan kegiatan penanaman pohon dengan dimulai dari lingkungan tempat tinggal sendiri.

Berbagai Komunitas yang turut serta dalam Plant Tree, Plan Life Untuk RTH Jakarta. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Berbagai Komunitas yang turut serta dalam Plant Tree, Plan Life Untuk RTH Jakarta. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Kampanye Plant Tree, Plant Life juga melibatkan puluhan komunitas lingkungan hidup yang ada di Jabodetabek dengan membagikan 200 bibit pohon seperti, rambutan, pohon tanjung, salam, mahoni, matoa, sirsak dan alpukat.

Selain pembagian bibit tanaman, kampanye ini diisi dengan diskusi melingkar yang dilakukan bersama beberapa komunitas lingkungan hidup dengan tema ‘Memaksimalkan kolaborasi komunitas hijau dalam mewujudkan gaya hidup yang ramah lingkungan”, Instagram competition serta Deklarasi Hijau untuk mengamalkan eco living dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

(G09)

 

]]>
https://www.greeners.co/aksi/young-top-campus-ambassadors-gelar-plant-tree-plan-life-untuk-rth-jakarta/feed/ 0
2017, RTH Jakarta Ditargetkan Capai 11 Persen https://www.greeners.co/berita/2017-rth-jakarta-ditargetkan-capai-11-persen/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=2017-rth-jakarta-ditargetkan-capai-11-persen https://www.greeners.co/berita/2017-rth-jakarta-ditargetkan-capai-11-persen/#comments Wed, 06 Feb 2013 02:30:54 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3290 Minimnya ruang terbuka hijau (RTH) yang dimiliki Kota Jakarta, membuat Pemprov DKI Jakarta berencana menambah luasan RTH di ibu kota. Ditargetkan pada tahun 2017, Kota Jakarta sudah memiliki RTH seluas […]]]>

Minimnya ruang terbuka hijau (RTH) yang dimiliki Kota Jakarta, membuat Pemprov DKI Jakarta berencana menambah luasan RTH di ibu kota. Ditargetkan pada tahun 2017, Kota Jakarta sudah memiliki RTH seluas 11 persen dari total luas wilayah DKI Jakarta yang mencapai 650 kilometer persegi.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DKI 2013-2017, salah satu misinya adalah menjamin ketersedian hunian dan ruang publik yang layak serta terjangka warga kota.

Dari misi tersebut, didalamnya terdapat langkah untuk meningkatkan luasan dan kualitas RTH publik dan privat di Jakarta. Direncanakan luas RTH akan berada diatas 11 persen di tahun 2017 dari awalnya yang masih mencapai 9,9 persen.

Lalu jumlah taman yang digunakan sebagai taman kreativitas publik juga harus bertambah dari 10 menjadi 50 taman interaktif.

“Ini kita lakukan agar Kota Jakarta menjadi kota yang lebih manusiawi, lebih hijau, lebih sehat dan lebih indah,” kata Joko Widodo usai Rapat Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) RPJMD DKI 2013-2017 di Balaikota DKI, Jakarta, Selasa (5/2).

Untuk merealisasikan target tersebut, ada tiga program yang telah dimasukkan dalam RPJMD DKI 2013-2017. Yaitu program pengembangan RTH oleh masyarakat, program pengembangan hutan kota privat dan program penyediaan lahan RTH pertamanan dan pemakaman.

Untuk program pengembangan RTH oleh masyarakat, paparnya, Pemprov DKI akan menambahan RTH publik dengan penyediaan dan pembelian lahan batu melalui pembebasan lahan. Hal ini dilakukan dengan penggalangan peran swasta dalam penyediaan RTH Publik.

“Sudah saatnya, pihak swasta diajak untuk terlibat dalam pembangunan Jakarta. Mereka telah menikmati menjalankan usahanya di ibu kota, maka mereka harus peduli untuk menghijaukan Jakarta,” ujarnya.

Lalu, dalam program pengembangan hutan kota privat, Jokowi merencanakan akan melakukan pengembangan RTH privat di kawasan perkantoran, perdagangan dan jasa serta kawasan industry pergudangan. Melalui penerapan regulasi untuk penambahan RTH privat pada kawasan perkantoran, perdagangan dan jasa, industri dan perdagangan.

Kemudian dalam program penyediaan lahan RTH pertamanan dan pemakaman, lanjutnya, pihaknya akan membangun taman-taman interaktif, hutan kota, taman pemakaman di seluruh wilayah. “Melalui pembangunan atau pengembangan taman-taman kota sebagai ruang publik yang dapat dijadikan sarana penyaluran  kreatifitas masyarakat,” tuturnya.

Dalam waktu dekat ini, Pemprov DKI merencanakan membangun tiga RTH dengan lahan yang cukup besar. RTH tersebut adalah Waduk Riario seluas 15 hektar, Taman BMW yang akan dijadikan stadion sepakbola bertaraf internasional plus RTH seluas 30 hektar dan Kawasan Pesanggrahan dengan luas delapan hektar.

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan keberadaan RTH dapat meminimalisir polusi udara dan tetap menjaga udara di Jakarta menjadi bersih. Dia mendukung program Gubernur DKI mewujudkan Jakarta memiliki 30 persen ruang terbuka hijau. Ruang terbuka hijau bisa mencegah polusi sekaligus menjadikan Jakarta hutan kota.

“Lebih bagus bertambah hingga mencapai target 30 persen. Selain itu, kita bisa lakukan penghijauan di RTH dengan mengganti pagar tembok dengan pagar tanaman hias. Jadi tidak hanya hijau, tetapi indah dipandang,” kata Zulkifli. (G06)

]]>
https://www.greeners.co/berita/2017-rth-jakarta-ditargetkan-capai-11-persen/feed/ 1
Yogya Upayakan Ruang Terbuka Hijau Tingkat Kelurahan https://www.greeners.co/berita/yogya-upayakan-ruang-terbuka-hijau-tingkat-kelurahan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yogya-upayakan-ruang-terbuka-hijau-tingkat-kelurahan https://www.greeners.co/berita/yogya-upayakan-ruang-terbuka-hijau-tingkat-kelurahan/#respond Mon, 15 Oct 2012 03:00:52 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3098 Yogya (Greenersmagz) – Sesuai dengan program pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, Pemerintah Kota Yogyakarta tahun ini menarget penambahan dua ruang terbuka hijau (RTH). Sesuai perencanaan program, RTH diselenggarakan di dua […]]]>

Yogya (Greenersmagz) – Sesuai dengan program pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, Pemerintah Kota Yogyakarta tahun ini menarget penambahan dua ruang terbuka hijau (RTH). Sesuai perencanaan program, RTH diselenggarakan di dua wilayah kelurahan.

Dua kelurahan di wilayah Kota Yogyakarta yang pada tahun ini diupayakan maksimal yakni Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman dan Kelurahan Purwokinanti, Kecamatan Pakualaman.

Pengadaan RTH di wilayah Kota Jogja sudah direncanakan Pemkot dengan penganggaran khusus. Lahan untuk RTH diupayakan mampu menjadi ruang yang dipergunakan warga setempat untuk berkegiatan sekaligus penyelenggaraan pelestarian lingkungan.

Pelaksana Tugas Harian (Plh) Kepala Bagian Tata Pemerintahan Kota Yogyakarta, Udi Harsono menyampaikan, pengadaan RTH tidak serentak dilaksanakan di 45 kelurahan yang ada di kota Yogyakarta. “Masing-masing wilayah mengajukan lahan, lalu Pemkot memfasilitasi anggaran pembelian, namun sifatnya berurutan menyesuaikan anggaran daerah,” katanya dikonfirmasi, Minggu (14/10).

Dua RTH di Klitren dan Purwokinanti itu, lanjutnya, telah menambah jumlah RTH yang sudah ada di Kota Yogyakarta. Dari 45 kelurahan yang ada, Pemkot telah mengupayakan pemanfaatan di 29 RTH di 29 kelurahan. “Tambahan dua menjadi 31 RTH, namun yang dua terakhir sedang dalam proses pengurusan tanah,” ujar Udi.

Menggunakan dana APBD 2012, Pemkot akan mengupayakan pembelian lahan seluas 700 meter persegi untuk kelurahan Klitren dan 307 meter persegi untuk wilayah kelurahan Purwokinanti.

Sementara, mendukung pengadaan RTH, DPRD Kota Yogyakarta telah mengesahkan peraturan daerah (Perda) mengenai Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK). “Setiap pembangunan kewilayahan termasuk RTH, wajib memerhatikan Rencana Detail Tata Ruang Kota,” ujar Ketua Panitia Khusus RDTRK, Sabtu (13/10).

Menurut Suwarto, sesuai RDTRK kawasan di Kota Yogyakarta kedepan akan lebih tertata dengan disain pembangunan yang jelas. Ditekankan pula, setiap wilayah perlu mengupayakan RTH yang didukung kelancaran perizinan dalam praktik pembangunannya.

Adapun, data dari Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Kota Yogyakarta, Edy Muhammad, diketahui bahwa keberadaan RTH privat di Kota Yogyakarta sudah melebihi target nasional, yakni 14,4 persen dari target 12 persen. “Untuk RTH publik targetnya 20 persen tetapi baru tersedia 17,7 persen,” jelasnya.

Terkait pembangunan kewilayahan, Lurah Sosromenduran kecamatan Gedongtengen, Mandrawa menyampaikan, upaya Pemkot dalam memfasilitasi pengadaan RTH mendapat tanggapan baik masyarakat. “Hanya memang kendalanya masalah anggaran karena harga tanah di wilayah Yogyakarta berbeda” ujar dia.

Mandrawa mengatakan, harga tanah di wilayahnya tergolong tinggi karena berada di kawasan wisata dekat dengan pusat kota dan wisata, Malioboro. “Kami tetap mengusulkan adanya RTH meski harga tanah sudah mencapai lebih dari Rp10 juta per meter, harapannya Pemkot tetap memiliki anggaran untuk pengadaan,” pungkasnya. (G18)

]]>
https://www.greeners.co/berita/yogya-upayakan-ruang-terbuka-hijau-tingkat-kelurahan/feed/ 0
Footprints of Hope; Jejak Langkah Sebuah Harapan https://www.greeners.co/berita/footprints-of-hope-jejak-langkah-sebuah-harapan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=footprints-of-hope-jejak-langkah-sebuah-harapan https://www.greeners.co/berita/footprints-of-hope-jejak-langkah-sebuah-harapan/#respond Sun, 18 Mar 2012 17:22:59 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_feature&p=2447 Berbagai pesta telah digelar, miliaran rupiah telah dihabiskan, ribuan bahkan ratusan juta pohon telah ditanam, demi sebuah harapan untuk lingkungan hidup yang lebih baik. Akankah harapan itu terwujud? Apakah pestanya […]]]>

Berbagai pesta telah digelar, miliaran rupiah telah dihabiskan, ribuan bahkan ratusan juta pohon telah ditanam, demi sebuah harapan untuk lingkungan hidup yang lebih baik. Akankah harapan itu terwujud? Apakah pestanya berakhir seiring tahun dan tren berganti?

Oleh : Syaiful Rochman | Artikel ini diterbitkan pada edisi 04 Vol. 4 Tahun 2010

 

Sejak genderang perang melawan perubahan iklim ditabuh, gayung bersambut dari berbagai kalangan untuk turut serta menjadi pejuang lingkungan. Lahirnya berbagai komunitas ”hijau” menandai dimulainya sebuah era baru. Sebagian dari komunitas ini lahir atas perhatian yang mendalam akan kondisi lingkungan hidup yang semakin menukik tajam, sebagian lagi lahir karena mendeteksi potensi ”bisnis” dari sebuah pertumbuhan tren baru. Tren Go Green.

Terlepas apapun maksud dan latar belakangnya, sebuah gerakan dengan tema lingkungan pastinya mempuyai efek positif bagi masyarakat. Selain menyiratkan harapan, semarak kegiatan “hijau” senantiasa mengingatkan masyarakat untuk selalu ingat dan peduli terhadap lingkungan.

Pada akhir tahun 2008, tepatnya pada 30 Desember, Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI meluncurkan sebuah kampanye dengan nama Cita Hijau 2009. Sebuah sinergi kampanye yang diselenggarakan bersama stakeholders lingkungan hidup sepanjang tahun 2009 untuk upaya-upaya perbaikan lingkungan hidup. Salah satu harapan utamanya bertumpu pada Pemilu 2009.

Pemilihan pemerintah dan para wakil rakyat yang baru diharapkan bisa melahirkan kebijakan pembangunan Indonesia yang berwawasan lingkungan dan berpihak pada masyarakat banyak. Kini kabinet baru tengah menjalani seratus hari pertama masa baktinya. Kita hanya bisa berharap perhatian terkait isu lingkungan hidup masuk dalam agenda kerja segenap pejabat baru pemerintah pusat.

2009 sebagai Tahun Perubahan Iklim

Sekjen PBB, Ban Ki-Moon, bersama Presiden AS, Barrack Obama, sepakat untuk mengisi tahun 2009 dengan menekankan pada isu perubahan iklim. Mereka menjadikan tahun 2009 sebagai tahun perubahan iklim. Semangat tersebut tertulis dalam sebuah siaran pers yang dilansir pusat informasi PBB Maret lalu. Akan tetapi, bukan hanya atas kesepakatan kedua tokoh tersebut tahun 2009 ditetapkan sebagai tahun perubahan iklim, melainkan juga dari banyaknya respons masyarakat dalam bermacam bentuk apresiasi terkait isu perubahan iklim.

Tidak hanya dalam kegiatan bertemakan lingkungan, tetapi juga mulai dari seminar gaya hidup hingga festival musik besar di tahun 2009 terbuka untuk sosialisasi perubahan iklim. Java Jazz Festival 2009 yang merupakan perhelatan tahunan musik jazz tingkat dunia memberikan ruang bagi sosialisasi perubahan iklim melalui program Zero Waste Event. Penyelenggara berharap melalui edukasi pemilahan sampah yang benar, sampah menuju Tempat Pengumpulan Akhir dari kegiatan bisa dikurangi sehingga berkontribusi terhadap menggunungnya sampah Jakarta.

Pada Februari lalu (21/2) di Surabaya dilaksanakan peresmian Hari Peduli Sampah. Ratusan siswa-siswi SD Santa Theresia Surabaya berderet sepanjang Jalan Sudirman dengan membawa poster Plastic Bag Free Day. Anak-anak ini mengajak warga untuk mulai mengurangi sampah plastik demi masa depan Kota Surabaya yang berkelanjutan dengan bebas sampah plastik.

Bicara soal anak-anak, satu dekade lalu ada bocah cilik yang juga menyuarakan perhatiannya pada lingkungan di depan delegasi PBB. Severn Cullis-Suzuki, yang saat itu berusia 12 tahun, berkata dia hanya anak kecil yang takut memandang lingkungan masa depan yang hancur (Greeners, November 2009).

Di sisi lain, hutan Indonesia yang menjabat sebagai paru-paru dunia pun mendapatkan porsi perhatian. Departemen Kehutanan melalui siaran pers yang dirilis pada 14 Mei 2009 menyebutkan bahwa Pemerintah menargetkan bangsa Indonesia pada 2009 mampu menanam sebanyak 230 juta batang pohon melalui program ONE MAN ONE TREE (OMOT). Dengan perhitungan orang per orang, maka secara individu, secara keluarga, kelompok, RT, RW, desa, kelurahan, kecamatan, wilayah, hingga pemerintah daerah harus diupayakan keterlibatannya dalam melakukan penanaman pohon. Bahkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, tersedia fasilitas Ring Back Tone (RBT), di mana setiap pengaktifan RBT tersebut hasilnya akan disumbangkan oleh content provider dalam bentuk 1 (satu) bibit yang akan ditanam melalui Departemen Kehutanan.

Perkembangan bisnis properti pun tidak mau kalah berpesta hijau. Maraknya strategi penjualan properti dengan embel-embel green serta hunian yang ramah lingkungan silih berganti menempati posisi iklan berbagai media baik cetak maupun elektronik. Gelombang ini disambut kritik para ahli properti yang mengharapkan para pengembang jangan hanya menjual Green Property dari indikator banyaknya jumlah tanaman, tapi juga menerapkan pemanfaatan energi terbarukan dan menerapkan pengelolaan sampah yang mandiri sejak awal.

Di level dunia, seiring dengan berakhir masa berlaku Protokol Kyoto pada tahun 2012, kampanye lingkungan hidup kian gencar digelar para aktivis lingkungan. Salah satu yang cukup mengesankan adalah peluncuran film The Age of Stupid. Sebuah film berdurasi 90 menit mengenai dampak perubahan iklim terhadap peradaban manusia. Peluncuran yang secara international dilaksanakan di New York dengan konsep eco-cinema ini diklaim sebagai peluncuran film “terhijau” yang pernah disaksikan oleh masyarakat dunia.

“Kini kabinet baru tengah menjalani 100 hari pertama masa baktinya, kita hanya bisa berharap perhatian terkait isu lingkungan hidup masuk dalam agenda kerja segenap pejabat baru pemerintah pusat.”

]]>
https://www.greeners.co/berita/footprints-of-hope-jejak-langkah-sebuah-harapan/feed/ 0
Green Is The New Black https://www.greeners.co/berita/green-is-the-new-black/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=green-is-the-new-black https://www.greeners.co/berita/green-is-the-new-black/#respond Sun, 18 Mar 2012 16:55:31 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_feature&p=2435 Al Gore pasti senang dengan pesatnya perhatian pada isu lingkungan yang terjadi secara global sekarang ini. Mungkin dia tidak menyangka atau mungkin juga dia berkata bahwa hal itu memang sudah […]]]>

Al Gore pasti senang dengan pesatnya perhatian pada isu lingkungan yang terjadi secara global sekarang ini. Mungkin dia tidak menyangka atau mungkin juga dia berkata bahwa hal itu memang sudah seharusnya. Yang jelas, sejak kemunculan film dokumenter yang dibawakannya tentang pemanasan global bertajuk An Incovenient Truth, mata dunia seolah langsung menoleh secara serempak pada kondisi Bumi yang semakin memprihatinkan.

Oleh: Dewi Irma | Artikel ini diterbitkan pada edisi 02 Vol. 4 Tahun 2009

 

Al Gore menuai cerahnya lampu sorot, meski dia bukan orang pertama yang bicara hal tersebut. Jauh-jauh hari telah banyak pakar lingkungan berteriak tentang kondisi lingkungan yang semakin lama semakin rusak. Terlepas dari anggapan bahwa mantan wapres Amerika itu tak lebih dari bermanuver politik, tetapi patut diakui bahwa Al Gore sukses mengangkat isu pemanasan global menjadi tren di dunia. Isu pemanasan global semakin dipandang serius sehingga sejumlah pemimpin dunia pun menyikapinya bersama pada konferensi perubahan iklim sejagat (UNFCCC) di Bali pada Desember 2007 lalu. Booom! Sejak itu, resmilah topik pemanasan global menjadi buah bibir di mana-mana.

Siapa yang peduli dengan organic food pada masa lalu? Namun, kini sejumlah retail berlomba-lomba menjualnya. Coba tengok sejumlah majalah, mulai majalah politik hingga majalah fesyen kini menyediakan rubrik khusus tentang lingkungan. Event-event sekarang ini pun ramai mengangkat slogan menjaga lingkungan, misalnya berupa aksi menanam pohon bersama, pembagian bibit, hingga penerapan konsep zero waste event.

Dari mulai politisi hingga artis urun partisipasi mengenai isu yang satu ini. Di luar negeri ada Bono U2 yang terkenal dengan aktivitas kepedulian lingkungannya. Di tingkat lokal, kita punya musisi Glenn Fredly yang membuat lagu tentang ajakan penyelamatan Bumi hingga menggagas konser besar bertema Soul for Indonesian Earth pada 2007 lalu.

Dari perspektif bisnis, “hijau” seolah menjadi kata kunci sebuah ceruk bisnis baru yang potensial. Para penggila fesyen pun kini punya lebih banyak pilihan dengan adanya eco-fashion. Sekadar contoh, ada desainer Anya Hindmarch dengan tas “I’m Not a Plastic Bag” yang fenomenal. Ada Adidas yang mengeluarkan koleksi sepatu, jaket, dan kaus yang terbuat dari material ramah lingkungan seperti tali rami, bambu, dan gabus. Levi’s pun berkiprah serupa pada produk jinnya. Di dalam negeri, sejumlah desainer ternama menggelar Fashion First di Senayan City, Jakarta, yang menerapkan mode ramah lingkungan.

“Booom! Sejak itu, resmilah topik pemanasan global menjadi buah bibir di mana-mana.”

]]>
https://www.greeners.co/berita/green-is-the-new-black/feed/ 0