hiu paus - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/hiu-paus/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 18 Jan 2021 19:06:17 +0000 id hourly 1 Hiu Paus, Raksasa Lembut yang Rentan Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/hiu-paus-raksasa-lembut-yang-rentan-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hiu-paus-raksasa-lembut-yang-rentan-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/hiu-paus-raksasa-lembut-yang-rentan-punah/#respond Fri, 31 Aug 2018 11:34:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=21253 Kebanyakan orang awam menganggap hiu adalah satwa karnivora yang buas dan ganas, namun spesies hiu satu ini berbeda.]]>

Kebanyakan orang awam menganggap hiu adalah satwa karnivora yang buas dan ganas, namun spesies hiu satu ini berbeda. Hiu paus (Rhincodon typus) dikenal sebagai ‘Raksasa Lembut’ karena tubuhnya yang paling besar dibandingkan hiu lainnya. Meski bertubuh besar, satwa ini memiliki sifat yang bersahabat termasuk kepada manusia.

Berdasarkan buku “Pedoman Umum Monitoring Hiu Paus di Indonesia” (2015), pada tahun 2000, hiu yang disebut whale shark ini masuk dalam Daftar Merah untuk Spesies Terancam oleh IUCN dengan status rentan (vulnerable). Artinya populasi satwa ini diperkirakan sudah mengalami penurunan sebanyak 20-50% dalam kurun waktu 10 tahun atau tiga generasi. Pada tahun 2016, IUCN telah menaikkan status ancaman hiu paus menjadi terancam (endangered).

Hiu paus dikategorikan sebagai hewan yang bermigrasi atau memiliki jangkauan wilayah yang luas, dan Indonesia menjadi salah satu jalur migrasi hiu paus. Hiu ini sering ditemui di beberapa perairan Indonesia seperti Sabang, Situbondo, Bali, Nusa Tenggara, Alor, Flores, Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku, dan Papua. Di Indonesia hiu paus memiliki beberapa nama lokal tergantung dari daerahnya. Berdasarkan KEPMEN-KP/2013, nama lokal hiu ini antara lain hiu bodoh, hiu geger lintang, hiu totol, hiu bintang, dan hiu bingkoh.

Seperti yang telah disebut sebelumnya, hiu paus terkenal dengan tubuhnya yang sangat besar. Tubuh hiu dewasa dapat mencapai ukuran panjang hingga 33 meter dan beratnya bisa mencapai 181 ton atau lebih. Kepalanya lebar dan datar, memiliki mata yang kecil, dan mempunyai lima celah insang sangat besar. Satwa ini memiliki bukaan mulut yang lebar dengan posisi mulut di depan kepala (terminal). Pangkal ekornya pipih dengan keel (tonjolan pada bagian belakang awal sirip ekor/caudal penduncle) di kedua sisinya.

Disamping itu, ikan ini memiliki dua sirip punggung dan dua sirip dada. Cuping sirip ekor bagian atas lebih besar dari cuping sirip ekor bagian bawah. Tubuhnya berwarna abu-abu dengan corak bulatan (totol) dan garis-garis yang berwarna putih/kuning serta memiliki kulit yang tebal. Pada bagian atas sisi tubuhnya terdapat guratan-guratan yang menonjol.

hiu paus

Foto: wikimedia commons

Secara biologi hiu paus termasuk jenis ikan ovovivivar. Hiu paus betina berukuran besar dapat menghasilkan sekitar tiga ratus embrio dan melahirkan sekitar dua belas anakan. Pada saat dilahirkan, anakan ikan hiu paus berukuran sekitar 55 cm – 64 cm. Umumnya jenis betina berukuran lebih besar dari pada jenis jantan. Hiu paus menyukai plankton dan ikan berukuran kecil sebagai makanannya.

Peran hiu paus di perairan sangatlah penting. Selain menjaga keseimbangan ekosistem atau rantai makanan perairan laut, mereka memberikan manfaat ekonomi masyarakat melalui pengembangan pariwisata bahari berbasis hiu. Kegiatan wisata hiu paus di Indonesia bisa ditemukan di Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan Pantai Bentar, Probolinggo.

Sayangnya, saat ini banyak sekali pemberitaan mengenai eksploitasi hiu paus di Indonesia. Dalam bulan Agustus ini saja, sudah terjadi dua kasus eksploitasi hiu paus oleh beberapa oknum yang tidak bertanggungjawab.

Seperti pada kasus di Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua. Beberapa penyelam domestik yang berwisata ke tempat itu memegang sirip, buntut, dan mulut satwa ini bahkan menungganginya saat berada di dalam laut.

Tidak lama dari kejadian tersebut, eksploitasi hiu paus kembali terjadi dan kali ini dilakukan oleh aparat keamanan. Diketahui tiga orang aparat keamanan berfoto di atas kepala dan badan bangkai hiu paus yang ditemukan mati terdampar di Pantai Parangkusumo, Yogyakarta.

Sangat disayangkan penegakkan hukum di negeri ini masih tumpul terutama untuk penanganan satwa laut. Sampai saat ini sanksi sosial khususnya dari warga internet (netizen) masih menjadi cara yang efektif untuk memberikan efek jera bagi pelaku eksploitasi satwa liar, baik di darat maupun laut.

hiu paus

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/hiu-paus-raksasa-lembut-yang-rentan-punah/feed/ 0
Penangkapan Berlebihan Ancam Populasi Hiu dan Pari di Indonesia https://www.greeners.co/berita/penangkapan-berlebihan-ancam-populasi-hiu-dan-pari-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penangkapan-berlebihan-ancam-populasi-hiu-dan-pari-di-indonesia https://www.greeners.co/berita/penangkapan-berlebihan-ancam-populasi-hiu-dan-pari-di-indonesia/#respond Thu, 29 Mar 2018 05:26:56 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20283 Penangkapan berlebihan terhadap hiu dan pari di Indonesia telah menyebabkan terjadinya penurunan populasi kedua spesies tersebut. ]]>

Jakarta (Greeners) – Penangkapan berlebihan terhadap hiu dan pari di Indonesia telah menyebabkan terjadinya penurunan populasi kedua spesies tersebut. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengungkapkan, ikan hiu semakin banyak diperdagangkan karena memiliki nilai jual tinggi.

“Saya waktu kecil kalau hiu bintang (hiu paus/whale shark) datang, itu pertanda bahwa ikan-ikan pada datang, jadi disambut suka cita. Apabila ia di pinggir tapi tidak mati, biasanya oleh masyarakat didorong ke laut. Namun semakin ke sini, whale shark menjadi komoditi yang bisa dijual,” kata Menteri Susi di sela-sela pembukaan Simposium Nasional Hiu dan Pari di Indonesia Ke-2, Jakarta, Rabu (28/03/2018).

BACA JUGA: Pemerintah Tidak Akan Mencabut Larangan Cantrang, Tapi…

Pendekatan pengelolaan yang lestari merupakan pilihan yang direkomendasikan, dengan melakukan upaya konservasi dalam rangka menjaga kelestarian sumber daya sehingga dapat memberikan manfaat secara berkesinambungan. Pasalnya, karakteristik biologi ikan hiu dan pari memiliki laju reproduksi relatif rendah, usia matang seksual lama dan pertumbuhannya yang lambat. Menteri Susui pun meminta kepada pemda untuk mengadakan komunikasi dengan masyarakat maupun penyuluh perikanan agar melarang penangkapan hiu dan pari manta.

“Sebaiknya kita juga mengadakan aksi dan mendatangi restoran-restoran seafood untuk memberhentikan penjualan shark fin soup dengan cara membagikan kaos atau membagikan sticker, jadi melakukan pendekatan langsung ke pengguna,” imbuh Susi.

Terkait perdagangan hiu dan pari, Kepala Pusat Riset Perikanan KKP Toni Ruchimat mengatakan bahwa KKP juga mempunyai rencana aksi nasional untuk hiu dan pari dari tahun 2018 sampai tahun 2022. Rencana lima tahun ke depan tersebut, yaitu memperkuat basis data, menyusun regulasi perlindungan, mengatur posisi Indonesia dalam Appendix Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) karena hiu dan pari sudah masuk Appendix II, dan pengendalian pemanfaatan mekanisme.

BACA JUGA: Pengurangan Tangkapan Ikan Berpotensi Meningkatkan Ketahanan Pangan Global

Sebagai informasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menerbitkan beberapa peraturan perundang-undangan terkait hiu dan pari. Pertama, Kepmen KP No.18/KEPMEN-KP/2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Ikan Hiu Paus, kedua Kepmen KP No.4/KEPMEN-KP/2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Ikan Pari Manta, dan PermenKP No.59/Permen-KP/2014 yang diperbarui dengan PermenKP No.34/Permen-KP/2015 diperbarui lagi dengan PermenKP No.48/Permen-KP/2016 tentang Larangan Pengeluaran Hiu Martil dan Hiu Koboi Keluar Wilayah Indonesia.

“Semua regulasi tersebut diharapkan mampu memperbaiki populasi hiu dan pari agar meningkat dan terus meningkat sehingga nelayan-nelayan kita dapat terus memanfaatkannya. Untuk itu saya juga berharap para penegak hukum terus bekerja untuk mengamankan kebijakan pengelolaan sumber daya hiu dan pari di Indonesia,” pungkas Susi.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/penangkapan-berlebihan-ancam-populasi-hiu-dan-pari-di-indonesia/feed/ 0
Kawanan Hiu Paus Berkeliaran Bebas di Sekitar Pantai Wisata Probolinggo https://www.greeners.co/berita/kawanan-hiu-paus-berkeliaran-bebas-sekitar-pantai-wisata-probolinggo/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kawanan-hiu-paus-berkeliaran-bebas-sekitar-pantai-wisata-probolinggo https://www.greeners.co/berita/kawanan-hiu-paus-berkeliaran-bebas-sekitar-pantai-wisata-probolinggo/#respond Sat, 14 Jan 2017 12:31:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15678 Puluhan Hiu Paus (Rhincodon typus) berkeliaran bebas di pesisir Pantai Wisata Bentar, Gending, Probolinggo, Jawa Timur. Satwa laut ini bahkan tidak terganggu dengan kehadiran manusia di dekat mereka.]]>

Probolinggo (Greeners) – Puluhan Hiu Paus (Rhincodon typus) berkeliaran bebas di pesisir Pantai Wisata Bentar, Gending, Probolinggo, Jawa Timur. Kawanan ikan penjelajah samudra tropis dan lautan beriklim hangat ini kembali mendatangi perairan Bentar sejak akhir Desember tahun lalu dan sampai saat ini masih bisa dilihat oleh nelayan dan wisatawan dari jarak sangat dekat.

“Mereka sudah datang ke sini sejak akhir Desember. Seperti tahun sebelumnya, mereka biasanya pergi sekitar April – Maret,” kata pengelola Pantai Bentar, Muradi, kepada Greeners, Kamis (12/01/2017).

Sejak empat tahun terakhir, kawanan ikan pemakan plankton ini selalu datang ke perairan Probolinggo pada akhir Desember atau awal Januari dan kembali mengembara pada April atau Maret. Selain ke perairan Probolinggo, spesies ikan besar yang juga disebut whale shark ini juga terlihat perairan Pasuruan di bulan-bulan yang sama.

BACA JUGA: Lima Spesies Hiu Berjalan Tinggal di Indonesia

Kawanan Hiu Paus yang terlihat oleh Greeners berukuran empat hingga enam meter. Meski tubuhnya sangat besar, keberadaan mereka tidak mengganggu nelayan dan wisatawan. Muradi mengatakan, ikan yang dalam bahasa Jawa disebut Geger Lintang ini tidak agresif kepada manusia. Satwa laut ini bahkan tidak terganggu saat perahu nelayan yang membawa wisatawan mendekati mereka.

“Beberapa kali ada nelayan dan wisatawan yang masuk ke laut berenang bersama hiu. Ikan ini pemakan plankton, tidak menyerang manusia,” ujar Muradi.

hiu paus

Hiu Paus (Rhincodon typus) berkeliaran bebas di pesisir Pantai Wisata Bentar, Gending, Probolinggo, Jawa Timur. Foto: greeners.co/Muhajir Arifin

Kemunculan kawanan Hiu Paus di Pantai Bentar sudah diketahui banyak orang. Banyak wisatawan yang sengaja datang ke Pantai Bentar untuk melihatnya langsung dari dekat. Para wisatawan menyewa perahu motor nelayan untuk menuju perairan lepas lokasi hiu berkeliaran. Cukup dengan Rp10 ribu, setiap wisatawan bisa menikmati tingkah pola Hiu Paus dari jarak sangat dekat. Mereka juga bisa mengabadikan perilaku ikan besar ini.

“Karena setiap tahun ikan-ikan ini datang ke sini, banyak warga sudah hafal waktunya, yakni sekitar Desember sampai Maret. Adanya hiu-hiu ini meningkatkan kunjungan pantai, pengunjung naik dua hingga tiga kali lipat. Rata-rata 800 orang per hari, kalau tidak ada hiu sekitar 400 orang per hari,” jelas pengelola tiket Pantai Bentar, Zahar.

BACA JUGA: Indonesia Tidak Memiliki Data Pasti Keanekaragaman Hayati Laut

Pengunjung yang datang bukan hanya dari dalam kota, tapi juga dari luar kota. Salah satu pengunjung asal Jember, Retno Sulanjari mengatakan ia sengaja datang ke Pantai Bentar ingin melihat hiu.

“Sebenarnya sudah tahun lalu ingin ke sini, tapi tahun ini baru sempat. Pengalaman luar biasa bisa berdekatan dengan hiu. Saya sempat foto-foto,” kata Retno saat turun dari perahu motor yang membawanya sekitar 30 menit melihat kawanan hiu dari dekat.

Tidak sebelumnya, tahun ini belum terlihat kawanan Hiu Paus di perairan Pasuruan. Padahal biasanya puluhan hiu sudah tampak di Pasuruan lebih dulu dari Probolinggo. “Sementara belum terlihat di perairan Pasuruan, biasanya sudah bermunculan,” kata seorang perwira di Kesatuan Polisi Air Pasuruan, Bripka Laswanto.

Sama seperti di Pantai Bentar Probolinggo, kemunculan Hiu Paus di Pasuruan juga selalu ditunggu warga. Meski bukan berada di kawasan wisata, namun para nelayan setempat dengan senang hati menyewakan perahu mereka untuk mengantarkan warga yang ingin melihat hiu dari dekat.

“Belum ada hiu di laut. Padahal biasanya lumayan kalau tidak sedang melaut bisa mencari penghasilan tambahan dari pengunjung yang menyewa perahu,” kata Sukarji, seorang nelayan di Kraton, Pasuruan.

Penulis: MA/G12

]]>
https://www.greeners.co/berita/kawanan-hiu-paus-berkeliaran-bebas-sekitar-pantai-wisata-probolinggo/feed/ 0
Hiu Paus Boleh Dimanfaatkan Sebagai Potensi Wisata, Asalkan… https://www.greeners.co/berita/hiu-paus-boleh-dimanfaatkan-sebagai-potensi-wisata-asalkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hiu-paus-boleh-dimanfaatkan-sebagai-potensi-wisata-asalkan https://www.greeners.co/berita/hiu-paus-boleh-dimanfaatkan-sebagai-potensi-wisata-asalkan/#respond Sun, 15 May 2016 12:01:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13668 Meskipun dilindungi, pemanfaatan potensi ekonomi hiu paus secara non-ekstraktif masih diperbolehkan, seperti pemanfaatan keberadaan hiu paus sebagai target destinasi wisata.]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menetapkan hiu paus (Rhincodon typus) menjadi ikan yang dilindungi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 18 tahun 2013. Permen ini diputuskan untuk menjaga kelestarian dan menghindari kepunahan mamalia tersebut.

Namun, meskipun dilindungi, pemanfaatan potensi ekonomi hiu paus secara non-ekstraktif masih diperbolehkan, seperti pemanfaatan keberadaan hiu paus sebagai target destinasi wisata. Hal tersebut sesuai dengan paradigma konservasi yang menerapkan upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan berkelanjutan.

“Wisata hiu paus di sini harus dikelola secara bijaksana dan dilakukan sesuai dengan pedoman yang sudah diterbitkan oleh KKP sehingga aktivitas wisata tersebut dapat dilakukan secara lestari dengan tetap memperhatikan aspek konservasi,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Minggu (15/05).

Susi menyampaikan bahwa KKP akan terus mendukung potensi wisata hiu paus di Provinsi Gorontalo, yaitu dengan pemberian beberapa bantuan ke kelompok masyarakat di Kabupaten Bone Bolango. Salah satunya melalui pemberian paket bantuan alat snorkling dan buku pedoman wisata hiu paus kepada kelompok masyarakat sadar wisata.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL), Brahmantya Satyamurti. Ia menyatakan dukungannya terhadap potensi wisata hiu paus di Gorontalo. Menurutnya, masyarakat Gorontalo khususnya di Kabupaten Bone Bolango merupakan pihak yang sangat penting dalam menjaga dan memajukan potensi wisata hiu paus ini.

“Wisata hiu paus juga perlu dipantau oleh masyarakat sekitar. Bagaimanapun, kita tetap dapat mengembangkan wisata ini tanpa harus mengganggu kenyamanan hiu paus di habitatnya. Jangan sampai jumlah kapal pengunjung di lokasi wisata membludak dan memicu stres pada hiu paus,” ujar Brahmantya.

Hiu paus merupakan jenis ikan terbesar di dunia dengan rata-rata panjang total sekitar 12 meter hingga 18 meter. Hiu paus merupakan jenis ikan yang dapat mencapai usia 60 tahun, bahkan 100 tahun. Ikan hiu paus baru mencapai matang kelamin pertama kali pada usia sekitar 25 tahun dengan jumlah anakan 1 ekor untuk setiap periode reproduksi.

Spesies ini biasanya melakukan migrasi sementara di perairan sekitar Gorontalo. Begitu pula dengan masyarakat yang hobi memancing ikan, mereka sering melihat hiu paus di Teluk Tomini. Dari hasil pengamatan hingga bulan Mei 2016, terdapat 13 – 14 individu hiu paus yang terpantau di perairan Botubarani.

Sedangkan sejak tahun 2006, Pemda Kabupaten Bonebolango telah mencanangkan kawasan perairan Desa Ulele sebagai kawasan konservasi perairan daerah. Sejak tanggal 11-14 Mei, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan (BPSPL) Makassar, Ditjen PRL KKP melaksanakan bimbingan teknis pemandu wisata selam dan sosialisasi pengenalan Sistem Informasi Database Ikan Dilindungi (SI DIDI).

Bimbingan teknis ini bertujuan untuk memberikan pemahaman bagi para pemandu selam agar kegiatan wisata hiu paus dapat dilakukan secara bertanggungjkawab. Selain itu para pemandu juga dikenalkan dengan tata cara monitoring hiu paus yang selanjutnya dapat di masukkan ke dalam sistem database SI DIDI.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/hiu-paus-boleh-dimanfaatkan-sebagai-potensi-wisata-asalkan/feed/ 0
Hiu dan Pari Masih Diburu Sebagai Tangkapan Utama https://www.greeners.co/flora-fauna/hiu-dan-pari-masih-diburu-sebagai-tangkapan-utama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hiu-dan-pari-masih-diburu-sebagai-tangkapan-utama https://www.greeners.co/flora-fauna/hiu-dan-pari-masih-diburu-sebagai-tangkapan-utama/#respond Sun, 14 Jun 2015 02:30:13 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=9659 Jakarta (Greeners) – Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang besar dalam menjaga bumi dan isinya, termasuk hiu dan pari. Hingga saat ini, hiu dan pari masih banyak diburu sebagai tangkapan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang besar dalam menjaga bumi dan isinya, termasuk hiu dan pari. Hingga saat ini, hiu dan pari masih banyak diburu sebagai tangkapan utama maupun tangkapan sampingan (bycatch) di beberapa lokasi di Indonesia seperti Laut Jawa Selat Karimata, Selat Makassar, serta dekat Samudera Hindia, Laut Tiongkok Selatan dan Samudera Pasifik.

Direktur Kawasan Konservasi dan Jenis Ikan (KKJI) KKP, Agus Dermawan mengatakan, kedua ikan bertulang rawan tersebut ditangkap dan dijadikan komoditi berkeuntungan besar. Hiu diburu untuk sirip, daging, kulit, minyak hati, dan tulang rawannya, sementara pari diambil insangnya untuk dimanfaatkan sebagai bahan tonik kesehatan di Tiongkok.

“Untuk menanggulangi permasalahan ini, perlu ditetapkannya sebuah kebijakan sebagai dasar implementasi Rencana Aksi Nasional (National Plan of Action/NPOA) untuk pengelolaan hiu dan pari di Indonesia secara berkelanjutan,” ujarnya saat dihubungi oleh Greeners melalui sambungan telepon, Jakarta, Jumat (12/06).

Senada dengan Agus, Direktur Program Coral Triangle WWF-Indonesia, Wawan Ridwan pun mengungkapkan kalau upaya pengelolaan hiu dan pari memang harus dijalankan secara berkelanjutan demi menjaga produktivitas laut dalam menyediakan sumber pangan dari sektor perikanan. Namun untuk menunjang aksi tersebut, dibutuhkan data lengkap mengenai populasi, biologi, dan ekologi kedua jenis ikan tersebut, yang mana hingga saat ini masih sangat minim dan tersebar diberbagai pihak.

“Kami (WWF-Indonesia) siap untuk bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli dalam meningkatkan upaya pengelolaan hiu dan pari di Indonesia,” tambahnya.

Sebagai informasi, Indonesia merupakan habitat bagi lima jenis hiu dan dua jenis pari manta yang tercantum dalam daftar Appendix II Konvensi Perdagangan Internasional Terhadap Satwa dan Tumbuhan yang Terancam Punah (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna/ CITES).

Jenis hiu dan pari manta tersebut adalah hiu paus (whale shark), hiu koboi (oceanic whitetip shark), tiga jenis hiu martil (scalloped hammerhead, smooth hammerhead dan great hammerhead sharks), oceanic manta, dan reef manta.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/hiu-dan-pari-masih-diburu-sebagai-tangkapan-utama/feed/ 0
Terjebak dan Terluka, Hiu Paus Akhirnya Mati Dalam Kanal PLTU Paiton https://www.greeners.co/flora-fauna/terjebak-dan-terluka-hiu-paus-akhirnya-mati-dalam-kanal-pltu-paiton/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=terjebak-dan-terluka-hiu-paus-akhirnya-mati-dalam-kanal-pltu-paiton https://www.greeners.co/flora-fauna/terjebak-dan-terluka-hiu-paus-akhirnya-mati-dalam-kanal-pltu-paiton/#respond Mon, 16 Feb 2015 06:14:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_kehati&p=7432 Probolinggo (Greeners) – Seekor hiu paus (Rhyncodon typus) diketahui terperangkap di dalam kanal PLTU Paiton Probolinggo, Jawa Timur, pada tanggal 31 Januari 2015 lalu. Ikan sepanjang 6 meter dan memiliki […]]]>

Probolinggo (Greeners) – Seekor hiu paus (Rhyncodon typus) diketahui terperangkap di dalam kanal PLTU Paiton Probolinggo, Jawa Timur, pada tanggal 31 Januari 2015 lalu. Ikan sepanjang 6 meter dan memiliki berat 6 ton itu ditemukan mati sebelum berhasil dievakuasi.

Hiu paus yang statusnya telah dilindungi oleh Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (Kepmen KP) Nomor 18 Tahun 2013, ditemukan mati dan bangkainya tertambat di bagian hilir intake kanal pada tanggal 10 Februari 2015. Bangkai ikan raksasa tersebut kemudian dievakuasi keluar kanal dengan crane dan diobservasi medis oleh dokter hewan. Selanjutnya bangkai ikan yang masih remaja itu dikubur di areal PLTU Paiton.

Dalam pemeriksaan yang dilakukan tim dokter hewan dan World Wildlife Fund (WWF) yang disaksikan pihak PLTU dan beberapa pihak terkait, diketahui terdapat luka akibat benda tajam di tubuh hiu paus tersebut. “Ada luka cukup parah diakibatkan oleh benda tajam, luka sayatan berukuran 4 sentimeter dan sepanjang 29 sentimeter berkedalaman 27 senti meter,” kata salah satu anggota tim dokter, Dwi Suprapti, dalam keterangan pers yang diterima Greeners, Kamis (12/02).

Meski demikian, tidak dirinci jenis atau sumber benda tajam yang menyebabkan luka itu. Menurut Dwi, hiu tersebut terjebak dalam waktu lama sehingga mengalami stres dan menurunkan tingkat kekebalan tubuh. Selain itu, di bagian tubuh ikan itu juga ditemukan jamur. “Jadi otomatis hiu itu tidak mungkin bertahan lama hidup di intake kanal PLTU Paiton. Diperkirakan hiu sudah mati selama 8 jam sebelum ditemukan,” imbuhnya.

Foto: Jakarta Animal Aid Network (JAAN)

Luka sayatan yang terdapat di bagian belakang kepala hiu paus. Belum diketahui dengan pasti penyebab kematian dari hiu paus yang terjebak selama 11 hari di dalam kanal PLTU Paiton, Probolinggo. Foto: Jakarta Animal Aid Network (JAAN)

Pihak PLTU Paiton sendiri menyatakan sudah berusaha maksimal untuk mengevakuasi hiu tersebut dan menampik lamban melakukan evakuasi sehingga menyebabkan hiu tersebut tidak tertolong. Pihak PLTU Paiton pun mengaku sudah melibatkan berbagai pihak berwenang untuk operasi penyelamatan dan evakuasi hiu.

Sebelumnya, Tim jejaring penanganan terpadu juga telah dibentuk. Tim tersebut terdiri dari BPSPL Denpasar- Ditjen KP3K KKP, DKP Jatim, DKP Probolinggo, dokter hewan, Universitas Brawijaya dan tim rescue dari PLTU Paiton yang didukung LIPI, Balitbang KP, WWF, JAAN.

“Upaya penyelamatan sudah dilakukan semaksimal mungkin. Tidak hanya mengusahakan melalui perairan dengan cara menggiring, tapi juga melalui darat. Semua itu kan harus diskenariokan dan perlu perhitungan teknis yang komprehensif,” kata General Manager PT PJB UP Paiton selaku koodinator PLTU Paiton, Rachmanoe Indarto. Menurut dia, kanal yang dimasuki hiu tersebut dimiliki tiga perusahaan pembangkit listrik sekaligus.

Foto: Jakarta Animal Aid Network (JAAN)

Bangkai hiu paus tengah di evakuasi. Foto: Jakarta Animal Aid Network (JAAN)

Upaya penyelamatan, lanjutnya, sudah mulai dilakukan sejak tanggal 6 – 8 Februari dengan memanfaatkan perubahan pasang surut air laut. Hiu paus sempat berpindah dari posisi kanal 7-8 ke posisi kanal 3-4 yang berjarak 600 meter. Namun akhirnya ikan besar itu bergerak kembali ke posisi semula.

Penggiringan hiu secara langsung tidak dimungkinkan karena area tersebut merupakan objek vital nasional dan memiliki resiko yang besar dengan kecepatan arus 12,6 km/jam per 1 intake dimana terdapat 7 intake dalam kanal tersebut. Kapasitas sedot air juga sangat besar dan berada di lokasi aliran listrik ekstra tinggi.

“Atas dasar itu tim sepakat merencanakan evakuasi jalur darat dengan crane. Skenarionya menjaring ikan lalu memasukkan ke dalam truk berisi air laut dan melepasnya ke laut. Namun, hiu sudah mati sebelum operasi dilakukan. Tim kemudian mengevakuasinya ke luar kanal,” terang Indarto.

Untuk mencegah kejadian terulang, pihak PLTU Paiton akan melakukan evaluasi dan melakukan mitigasi dengan melakukan review terhadap desain screen di mulut intake kanal. Perairan Probolinggo memang menjadi salah satu tujuan migrasi kawanan hiu paus untuk mencari makan dan suhu yang hangat.

(G12)

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/terjebak-dan-terluka-hiu-paus-akhirnya-mati-dalam-kanal-pltu-paiton/feed/ 0