hivos - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/hivos/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 16 Oct 2015 12:57:37 +0000 id hourly 1 #Gerakan2020 untuk Pulau Sumba Resmi Diluncurkan https://www.greeners.co/berita/gerakan-2020-untuk-pulau-sumba-resmi-diluncurkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gerakan-2020-untuk-pulau-sumba-resmi-diluncurkan https://www.greeners.co/berita/gerakan-2020-untuk-pulau-sumba-resmi-diluncurkan/#respond Sat, 17 Oct 2015 00:00:38 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11538 Jakarta (Greeners) – #Gerakan2020 yang diinisiasi oleh para peserta Ekspedisi Sumba 2015 telah resmi diluncurkan. Bertempat di Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta Selatan, keempat peserta yang telah melakukan […]]]>

Jakarta (Greeners) – #Gerakan2020 yang diinisiasi oleh para peserta Ekspedisi Sumba 2015 telah resmi diluncurkan. Bertempat di Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta Selatan, keempat peserta yang telah melakukan perjalanan ke Pulau Sumba akhirnya mulai melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai apa yang mereka pelajari di Sumba.

Selama sepuluh hari, keempat peserta Ekspedisi Sumba tersebut mempelajari dan mengkampanyekan pemanfaatan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional.

Dea Sihotang, salah satu peserta asal Jakarta, menjelaskan bahwa #Gerakan2020 adalah gerakan mandiri yang dilakukan oleh para peserta Ekspedisi Sumba dengan cara menggalang dukungan publik untuk penyediaan fasilitas energi terbarukan bagi masyarakat Sumba.

“#Gerakan2020 energi terbarukan untuk Sumba ini adalah misi kami untuk mengajak masyarakat untuk turut berpartisipasi langsung mewujudkan Sumba Iconic Island, 100 persen energi terbarukan untuk Pulau Sumba di tahun 2020 nanti,” jelasnya saat peluncuran #gerakan2020 di Erasmus Huis, Jakarta, Kamis (15/10) malam.

Saepul Hamdi, salah satu peserta dari Bandung, menerangkan bahwa penggalangan dukungan berupa dana yang diberikan oleh masyarakat, nantinya akan digunakan untuk pembangunan panel surya. Panel surya ini untuk menyuplai aliran listrik yang akan membantu kegiatan belajar mengajar di Sekolah Dasar Inpres (SDI) Prailangina di Dusun Prailangina, Desa Kadahang, Sumba Timur.

“Saya selalu tersentuh dengan semangat adik-adik di Sumba. Kemauan mereka untuk belajar sangat tinggi sekali. Dengan dibangunnya panel surya ini diharapkan dapat mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah. Selain itu, panel surya ini juga dapat membantu penerangan di rumah murid-murid dengan menggunakan lampu isi ulang. Karena, penerangan di malam hari sungguh merupakan hal yang sangat mewah bagi masyarakat Sumba,” terang pemuda yang akrab disapa Epul ini.

Peluncuran #Gerakan2020. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Peluncuran #Gerakan2020. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Griksa Gunadharma, salah satu peserta dari Jakarta, menyatakan bahwa #Gerakan2020 akan dilakukan dalam beberapa cara, seperti sosialisasi dengan konsep “Normal” (nonton bareng sambil beramal) yang akan dilakukan di Jakarta dan Bandung, dan konsep Run for Sumba yang akan dilakukan di Jakarta dan Belanda.

“Target kami, hingga 30 November 2015, sudah terkumpul seluruh dananya,” tambah Griksa.

Senada dengan Griksa, Novianus Efrat, salah satu peserta asal Bogor, juga memberitahukan bahwa seluruh informasi terkait #Gerakan2020 sudah dapat dilihat di kanal kitabisa.com/gerakan2020. Di dalam kanal tersebut, kata pria yang akrab disapa Efrat ini, masyarakat bisa melihat latar belakang, rencana penggunaan, dan kegiatan yang akan dilakukan dalam melakukan kampanye ini.

Sandra Winarsa selaku Project Manager Green Energy (Sumba), Hivos Southeast Asia menyatakan dipilihnya Pulau Sumba sebagai percontohan karena pulau ini memiliki tingkat kemiskinan yang cukup tinggi. Dengan adanya energi terbarukan, diharapkan dapat memperkecil tingkat kemiskinan tersebut dan mampu mendorong terjadinya pembangunan yang berkelanjutan.

“Pulau Sumba memiliki kondisi alam yang menyediakan segala kebutuhan energi terbarukan. Ironisnya, energi yang melimpah itu masih belum bisa dimaksimalkan sehingga berpengaruh terhadap kualitas kesehatan, pendidikan dan produktivitas masayarkat,” tutur Sandra.

Sebagai informasi, Ekspedisi Sumba 2015 adalah ekspedisi untuk mengkampanyekan perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos. Selain keempat peserta dari Indonesia, ada juga empat peserta dari Belanda yang tergabung dalam tim ekspedisi ini. Mereka adalah Guido, Franka, Joyce dan Sylvia.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/gerakan-2020-untuk-pulau-sumba-resmi-diluncurkan/feed/ 0
Penerapan Energi Terbarukan Pulau Sumba Perlu Perhatian dari Banyak Pihak https://www.greeners.co/berita/penerapan-energi-terbarukan-pulau-sumba-perlu-perhatian-dari-banyak-pihak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penerapan-energi-terbarukan-pulau-sumba-perlu-perhatian-dari-banyak-pihak https://www.greeners.co/berita/penerapan-energi-terbarukan-pulau-sumba-perlu-perhatian-dari-banyak-pihak/#respond Tue, 15 Sep 2015 04:53:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11106 Jakarta (Greeners) – Bulan September masih menjadi momok bagi masyarakat Pulau Sumba. Di bulan tanpa air hujan ini, fenomena kekeringan yang berkepanjangan kerap terjadi. Sawah mengering, ladang pun tandus dan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Bulan September masih menjadi momok bagi masyarakat Pulau Sumba. Di bulan tanpa air hujan ini, fenomena kekeringan yang berkepanjangan kerap terjadi. Sawah mengering, ladang pun tandus dan terbengkalai tak terurus.

Namun, di sebagian wilayah, situasi seperti itu masih bisa diselamatkan. Seperti yang terjadi di Desa Dikira, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya. Keberadaan Solar Water Pump (Pompa Air Tenaga Surya) yang baru beberapa bulan dibangun di desa ini diakui cukup membantu masyarakat saat mengelola ladang dan sawah mereka di musim kemarau.

Solar Water Pump sendiri merupakan proyek energi terbarukan yang digagas oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional yang bekerjasama dengan Yayasan Sosial Donders untuk pendampingan ke masyarakat, baik dari sisi sosial, ekonomi maupun agama.

Cara kerja Solar Water Pump berdaya 1.500 Watt ini dilakukan dengan memompa air sungai untuk kepentingan irigasi dengan memakai tenaga sinar matahari. Pompa air ini mampu memberikan debit air sebesar 50 meter kubik per hari yang cukup memenuhi kebutuhan pengairan bagi lahan tanaman warga.

Field Coordinator Sumba Iconic Island dari Hivos, Adi Lagur pada satu kesempatan mengatakan bahwa apa yang terjadi di Desa Dikira hanyalah sebagian kecil dari apa yang menjadi rencana besar dari proyek Sumba Iconic Island, 100% Energi Terbarukan yang digagas oleh Hivos.

Menurutnya, sudah banyak wilayah yang telah menjadi objek penggunaan energi terbarukan di Sumba. Namun, masih banyak pula yang belum tersentuh sama sekali karena masih membutuhkan pendekatan ke masyarakat.

“Pendekatan ini bukan pekerjaan mudah. Mereka punya kebiasaan adat yang sudah dijalani turun temurun. Apalagi, jika mereka tidak benar-benar memahami manfaat dari energi terbarukan yang kita pasang, nantinya akan sulit bagi mereka untuk menjaganya,” tegas Adi ketika diwawancara di Kota Waingapu, Sumba Timur, Selasa (08/09) lalu.

Sedangkan untuk program Sumba Iconic Island, 100% Energi Terbarukan, Adi menyatakan masih dibutuhkan bantuan dana, teknologi dan investasi dari banyak pihak agar program ini mampu terwujud. Menurutnya, ada integrasi yang sesuai antara akses energi bagi masyarakat dengan pengentasan kemiskinan yang masih merajalela di Pulau Sumba. Apalagi, lanjutnya, Nusa Tenggara Timur termasuk Pulau Sumba masih masuk dalam kategori penduduk dengan kemiskinan terbanyak di Indonesia.

“Jadi, selain penggunaan 100% energi terbarukan, ada misi penting juga yang kita emban yaitu pengentasan kemiskinan masyarakat Sumba,” lanjut Adi.

]]>
https://www.greeners.co/berita/penerapan-energi-terbarukan-pulau-sumba-perlu-perhatian-dari-banyak-pihak/feed/ 0
Ekspedisi Sumba 2015: Perhatian Lebih untuk SD Prailangina dari Sylvia https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-perhatian-lebih-untuk-sd-prailangina-dari-sylvia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ekspedisi-sumba-2015-perhatian-lebih-untuk-sd-prailangina-dari-sylvia https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-perhatian-lebih-untuk-sd-prailangina-dari-sylvia/#respond Mon, 14 Sep 2015 02:00:12 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11100 Kadahang (Greeners) – Sekolah Dasar Prailangina adalah sekolah yang menjadi tujuan utama dari kunjungan tim Ekspedisi Sumba 2015. Tentunya sekolah ini harus mendapat perhatian lebih dibandingkan tempat-tempat lain yang didatangi […]]]>

Kadahang (Greeners) – Sekolah Dasar Prailangina adalah sekolah yang menjadi tujuan utama dari kunjungan tim Ekspedisi Sumba 2015. Tentunya sekolah ini harus mendapat perhatian lebih dibandingkan tempat-tempat lain yang didatangi oleh tim ekspedisi. Setidaknya begitulah yang dirasakan oleh Sylvia Melzer.

Ibu dari tiga anak ini mengaku ada perasaan tersendiri saat tiba dan berinteraksi dengan seluruh perangkat sekolah di SD Prailangina, khususnya saat ia menyaksikan fasilitas sekolah yang begitu minim dan tidak memiliki akses listrik serta air bersih.

Sylvia, salah satu peserta yang tergabung dalam tim Ekspedisi Sumba 2015 ini menyatakan bahwa perlu dilakukan pembinaan yang cukup dan memastikan seluruh perangkat sekolah menjaga panel surya yang direncanakan akan dipasang di sekolah tersebut.

“Setelah melihat keadaannya dan berinteraksi dengan perangkat sekolah, saya merasa SD Prailangina ini agak sulit untuk berkembang jika tidak ada bimbingan yang rutin dilakukan sebelumnya,” tutur Sylvia, Kamanggih, Selasa (08/09).

Sylvia Melzer, salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Sylvia Melzer, salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Perasaan pesimis tersebut, dikatakan oleh Sylvia, datang setelah sebelumnya ia melihat langsung pengunaan panel surya yang tidak maksimal di SD Binawero. Meski demikian, ia tetap berharap dimanapun dan jenis apapun teknologi yang diberikan tentu diberikan dengan maksud mempermudah akses masyarakat terhadap listrik.

Sylvia sendiri mengaku sangat mencintai Indonesia. Bahkan ia mengaku saat masih kecil ia selalu bermimpi untuk bisa tinggal dan hidup di Indonesia. Namun ia menyadari hal itu tidak akan mungkin terjadi karena saat ini ia sudah memiliki keluarga. Ia hanya bisa berdoa dan berharap kalau Sumba, bagian dari begitu banyaknya pulau di Indonesia ini, mampu meningkatkan taraf hidup masyarakatnya melalui proyek Sumba Sebagai Pulau Percontohan untuk energi terbarukan pada 2020 mendatang.

Sebagai informasi, Sylvia adalah salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal kota Oegstgeest, Belanda. Bersama tujuh orang peserta lainnya, Sylvia melakukan perjalanan untuk mempelajari dan merasakan bagaimana suasana dan keadaan hidup masyarakat Sumba sembari mengkampanyekan perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional.

Ketujuh peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 lainnya adalah Dea Sihotang dari Cibubur, Novianus Efrat dari Jakarta, Saepul Hamdi dari Sukabumi dan Griksa Gunadarma dari Jakarta. Sedangkan tim dari Belanda selain Sylvia yaitu Guido, Franka, dan Joyce.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-perhatian-lebih-untuk-sd-prailangina-dari-sylvia/feed/ 0
Ekspedisi Sumba 2015: Guido Pertanyakan Penerapan Energi Terbarukan https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-guido-pertanyakan-penerapan-energi-terbarukan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ekspedisi-sumba-2015-guido-pertanyakan-penerapan-energi-terbarukan https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-guido-pertanyakan-penerapan-energi-terbarukan/#respond Sun, 13 Sep 2015 01:53:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11096 Kamanggih (Greeners) – Keberadaan teknologi energi terbarukan di beberapa desa yang didatangi oleh tim Ekspedisi Sumba 2015, diakui oleh Guido van Zurk masih kurang dimaksimalkan penggunaannya oleh masyarakat. Ayah dari […]]]>

Kamanggih (Greeners) – Keberadaan teknologi energi terbarukan di beberapa desa yang didatangi oleh tim Ekspedisi Sumba 2015, diakui oleh Guido van Zurk masih kurang dimaksimalkan penggunaannya oleh masyarakat. Ayah dari dua orang anak ini memberi contoh seperti keberadaan Solar Water Pump (Pompa Air Tenaga Surya) yang ada di Desa Dikira.

Menurutnya, meskipun Solar Water Pump tersebut dianggap cukup membantu masyarakat Desa Dikira untuk mendapatkan akses air bersih, namun dalam pelaksanaannya masyarakat masih harus mengambil air tersebut dari kolam tampungan yang jaraknya cukup jauh dari ladang masyarakat.

“Seharusnya selain membuat irigasi, masyarakat bisa menggunakan pipa-pipa panjang untuk mengaliri air dari Solar Water Pump itu. Sehingga masyarakat tidak perlu lagi mengambil air dengan ember-ember besar. Itu jelas akan mempermudah karena kami di Belanda melakukan hal itu,” jelas Guido menceritakan pengalamannya, Kamanggih, Selasa (08/09).

Selain agar lebih efisien, kata Guido, pengenalan beberapa teknologi sederhana seperti penggunaan springkle (keran air memutar yang digunakan untuk menyiram tanaman) juga bisa diterapkan di beberapa ladang yang memang memiliki akses air bersih cukup jauh dari penampungan.

Sedangkan untuk mengubah kebiasaan, diakui pria 45 tahun ini, juga tidaklah mudah. Masyarakat desa telah memiliki tradisi tersendiri yang telah dilakukan secara turun-temurun. Oleh karena itu, ia merasa masih perlu dilakukan pendekatan secara persuasif agar pendidikan dan pengembangan kemampuan diri masyarakt bisa berjalan dengan baik.

Seperti misalnya penggunaan teknologi biogas. Alih-alih kagum pada penggunaan biogas untuk memasak, Guido malah merasa bingung karena masyarakat masih saja menggunakan kayu yang diambil dari hutan untuk memasak kebutuhan sehari-hari.

Guido van Zurk, salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Guido van Zurk, salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Padahal, keberadaan biogas yang sudah dibangun bukanlah hal yang mudah dan pasti memberikan dampak yang baik secara efisiensi. Namun ternyata, masyarakat masih tunduk pada kebiasaan adat yang mengharuskan mereka untuk memasak dengan kayu bakar.

“Hal-hal seperti ini tentu akan menjadi sulit karena percuma jika alat sudah terpasang tapi tidak dimanfaatkan dengan baik,” katanya lagi.

Oleh karena itu, menurutnya, masyarakat masih butuh waktu yang cukup panjang untuk bisa memahami dan mempelajari betapa bermanfaatnya teknologi dari energi terbarukan yang telah memiliki. Hal itu dibutuhkan agar mereka benar-benar merasa memiliki teknologi tersebut dan setelah ada rasa memiliki, tentunya mereka akan menjaga, merawat dan memanfaatkan teknologi dengan baik.

Sebagai informasi, Guido adalah salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal kota Dordrecht, Belanda. Bersama tujuh orang peserta lainnya, Guido melakukan perjalanan untuk mempelajari dan merasakan bagaimana suasana dan keadaan hidup masyarakat Sumba sembari mengkampanyekan perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional.

Tujuh peserta yang dimaksud adalah Dea Sihotang dari Cibubur, Novianus Efrat dari Jakarta, Saepul Hamdi dari Sukabumi dan Griksa Gunadarma dari Jakarta. Selain Guido, tim dari Belanda yaitu Franka, Joyce dan Sylvia.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-guido-pertanyakan-penerapan-energi-terbarukan/feed/ 0
Ekspedisi Sumba 2015: “Lompatan” Kebiasaan Franka di Desa Dikira https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-lompatan-kebiasaan-franka-di-desa-dikira/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ekspedisi-sumba-2015-lompatan-kebiasaan-franka-di-desa-dikira https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-lompatan-kebiasaan-franka-di-desa-dikira/#respond Sun, 06 Sep 2015 07:57:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11026 Dikira (Greeners) – Bercocok tanam di tengah terik matahari, mengolah kotoran hewan menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti pupuk kompos dan bahan bakar biogas, serta hidup tanpa aliran listrik dan terasing […]]]>

Dikira (Greeners) – Bercocok tanam di tengah terik matahari, mengolah kotoran hewan menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti pupuk kompos dan bahan bakar biogas, serta hidup tanpa aliran listrik dan terasing dari dunia luar tentu tidaklah mudah.

Setidaknya begitulah yang dirasakan oleh Franka Maria Bertien Kerklaan (25), salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal Utrecht, Belanda. Perempuan yang baru saja menyelesaikan pendidikan Ilmu Sains dan Komunikasi dengan fokus Pendidikan Keberlanjutan ini mengaku seperti mengalami lompatan kebiasaan yang sangat jauh berbeda dengan apa yang ia jalani sehari-hari di kota asalnya.

“Saya punya banyak teman dan keluarga di negara asal saya. Namun, kami tidak pernah bertemu setiap hari karena harus bekerja dan melakukan aktifitas. Di sini, semuanya berbeda. Semua melakukan sesuatu bersama-sama. Bahkan saya hampir tidak memiliki wilayah pribadi untuk melakukan hal yang pribadi untuk diri saya,” tuturnya, Dikira, Kamis (03/09).

Selain itu, ia juga merasakan sulitnya hidup dalam kondisi yang benar-benar tertinggal dibandingkan dengan hidup di tempat di mana ia dibesarkan. Jika, di Utrech ia bisa membeli kebutuhan untuk makan pada siang hari dengan mudah, sehingga setelah sampai di rumah ia bisa langsung memasak dan mengkonsumsinya.

“Sedangkan di sini, untuk makan saja harus masak dengan waktu yang cukup lama tanpa listrik dan kompor gas yang mempermudah hidup mereka,” lanjutnya.

Oleh karena itu, Franka sangat senang dengan adanya Solar Water Pump (Pompa Air Tenaga Surya) dan teknologi biogas yang diterapkan di Desa Dikira oleh Hivos yang bekerjasama dengan beberapa mitra lokalnya. Karena, katanya lagi, dengan adanya teknologi tersebut sungguh sangat membantu kehidupan masyarakat khususnya dalam hal pertanian serta beberapa hal lainnya.

Franka Maria Bertien Kerklaan (25), salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal Utrecht, Belanda. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Franka Maria Bertien Kerklaan (25), salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal Utrecht, Belanda. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Khusus untuk biogas, Franka mengaku baru pertama kali melihat dan mempelajari secara langsung mekanisme dan cara kerjanya di Desa Dikira. Karena selama ini ia hanya melihat dari foto dan video yang ia miliki.

Sebelum berangkat ke Sumba, Frangka telah membuat sebuah museum berjalan dari sepeda yang berisi berbagai foto terkait lokasi, keadaan, suasana dan kondisi di Sumba agar orang-orang bisa melihat dan tergerak dan mencari tahu mengenai Sumba.

Kini, setelah ia merasakan sendiri kehidupan di Sumba, khususnya Desa Dikira, ia merasa harus mempublikasikan dan menginformasikan kondisi sebenarnya melalui hasil jepretan yang ia alami sendiri.

Sebagai informasi, Desa Dikira adalah salah satu desa yang menjadi tujuan tim Ekspedisi Sumba 2015. Desa ini berada di Sumba Barat Daya dengan 325 Kepala Keluarga yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani sayur dan peternak.

Franka adalah salah satu peserta asal Kota Utrech, Belanda, yang tergabung dalam Ekspedisi Sumba 2015. Bersama tujuh orang peserta lainnya, Franka melakukan perjalanan untuk mempelajari dan merasakan bagaimana suasana dan keadaan hidup masyarakat Sumba sembari mengkampanyekan perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional.

Selain Franka, tujuh peserta lainnya adalah Dea Sihotang dari Cibubur, Novianus Efrat dari Jakarta, Saepul Hamdi dari Sukabumi dan Griksa Gunadarma dari Jakarta. Sedangkan tim dari Belanda yaitu Guido, Joyce dan Sylvia.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-lompatan-kebiasaan-franka-di-desa-dikira/feed/ 0
Tim Ekspedisi Sumba Disambut Hangat dengan Tarian Adat Desa Dikira https://www.greeners.co/aksi/tim-ekspedisi-sumba-disambut-hangat-dengan-tarian-adat-desa-dikira/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tim-ekspedisi-sumba-disambut-hangat-dengan-tarian-adat-desa-dikira https://www.greeners.co/aksi/tim-ekspedisi-sumba-disambut-hangat-dengan-tarian-adat-desa-dikira/#respond Fri, 04 Sep 2015 06:09:44 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11006 Dikira (Greeners) – Pengembangan proyek energi terbarukan sebagai pemasok energi utama di Pulau Sumba yang digagas oleh Hivos, LSM internasional yang salah satu fokusnya terkait pemanfaatan energi terbarukan telah membawa […]]]>

Dikira (Greeners) – Pengembangan proyek energi terbarukan sebagai pemasok energi utama di Pulau Sumba yang digagas oleh Hivos, LSM internasional yang salah satu fokusnya terkait pemanfaatan energi terbarukan telah membawa delapan orang yang tergabung ke dalam tim Ekspedisi Sumba 2015 tiba di Desa Dikira, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Kedatangan tim yang terdiri dari empat orang asal Jakarta dan empat orang dari Belanda ini disambut baik oleh masyarakat setempat dengan beberapa tarian penyambutan, yaitu tarian adat Woleka, tarian adat Kataga dan Saiso. Direktur Yayasan Sosial Donders (yayasan lokal yang bermitra dengan Hivos), Pater Mikael Keraf, CSSR (47), menyatakan bahwa kehadiran Hivos di Desa Dikira telah banyak membawa manfaat bagi penduduk desa, khususnya dari sisi ekonomi dan kemandirian pangan.

“Kegiatan bantuan dengan konsep ekspedisi seperti ini menurut saya baru Hivos yang punya di seluruh Sumba. Dari hasil evaluasi kami sebelumnya, pola seperti inilah yang dibutuhkan masyarakat karena langsung menyentuh hati nurani masyarakat,” ujarnya, Dikira, Selasa (01/09).

Kedatangan tim Ekspedisi Sumba 2015, lanjut Pater Mikael, diharapkan dapat mengambil pelajaran dari proyek Solar Water Pump yang telah membantu mengairi persawahan masyarakat desa. Menurut Pater Mikael, sebelumnya, tanah di desa ini merupakan tanah kering dan telah hancur akibat penggunaan pupuk serta pestisida kimia secara berlebihan. Ditambah aliran air yang berada di bawah desa cukup jauh dari lahan persawahan.

Solar Water Pump sendiri adalah proyek energi terbarukan yang digagas oleh Hivos yang bekerjasama dengan Yayasan Sosial Donders untuk pendampingan ke masyarakat, baik dari sisi sosial, ekonomi maupun agama.

Cara kerja Solar Water Pump berdaya 1500 Watt ini dilakukan dengan memompa air sungai untuk kepentingan irigasi dengan memakai tenaga sinar matahari yang mampu memberikan debit air 50 meter kubik/hari yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pengairan bagi lahan tanaman warga. Berkat pendidikan dan pendampingan dari Donders, kegiatan pertanian dilakukan secara organik dengan memanfaatkan pupuk alami dari kompos tanaman maupun ampas biogas.

Perubahan Perilaku dan Kebiasaan

Menurut Pater Mikael, setelah tim Ekspedisi kembali ke tempat asal mereka masing-masing, warga desa akan mengambil banyak pelajaran dari kedatangan tim tersebut.

“Dalam prediksi saya, biasanya setelah tim ini pulang, masyarakat akan mengalami yang namanya lompatan energi yang artinya ada semangat baru dalam pikiran mereka. Mereka akan kumpul dan mulai bertanya kenapa orang Belanda dan Jakarta mau datang jauh-jauh mengunjungi kita. Di sana lah nanti kita mulai masuk untuk mendampingi pikiran-pikiran positif membangun yang datang dalam semangat mereka. Tim ini sangat berguna sebagai jembatan antara kita dan mereka,” tambah Pastor Mikael.

]]>
https://www.greeners.co/aksi/tim-ekspedisi-sumba-disambut-hangat-dengan-tarian-adat-desa-dikira/feed/ 0
Perjalanan Tim Ekspedisi Sumba 2015 Dimulai https://www.greeners.co/aksi/perjalanan-tim-ekspedisi-sumba-2015-dimulai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perjalanan-tim-ekspedisi-sumba-2015-dimulai https://www.greeners.co/aksi/perjalanan-tim-ekspedisi-sumba-2015-dimulai/#respond Tue, 01 Sep 2015 08:40:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=10975 Bali (Greeners) – Delapan orang yang tergabung dalam Ekspedisi Sumba 2015 baru saja memulai perjalanan menuju Pulau Sumba yang menjadi bagian dari kampanye perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan […]]]>

Bali (Greeners) – Delapan orang yang tergabung dalam Ekspedisi Sumba 2015 baru saja memulai perjalanan menuju Pulau Sumba yang menjadi bagian dari kampanye perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional.

Pada Senin (31/08), ke delapan peserta ekspedisi tiba di Bali untuk saling bertemu. Delapan orang ini terdiri atas empat orang tim Indonesia dan empat orang tim dari Belanda. Mereka bertemu guna menyusun perencanaan tentang apa saja yang akan mereka lakukan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur selama sembilan hari ekspedisi yang dijadwalkan.

Salah satu peserta dari Indonesia, Novianus Efrat (28), atau yang akrab disapa Efrat, mengungkapkan antusiasmenya terhadap rencana proyek percontohan Pulau Sumba sebagai pulau ikonik untuk energi terbarukan tersebut.

Secara fisik, ia mengaku membutuhkan banyak istirahat karena aktifitas yang padat. Namun, baginya hal tersebut tidak menjadi masalah mengingat ekspedisi yang mereka lakukan adalah untuk menjadikan Sumba sebagai pulau percontohan. “Untuk mental, saya sudah sangat siap sejak awal dimulainya pendaftaran ya,” katanya.

Senada dengan Efrat, Guido (45), salah satu peserta dari Belanda, menuturkan hal serupa. Bahkan, ia mengaku senang karena akhirnya bisa bertemu dengan tim Indonesia yang selama ini hanya ia ketahui lewat sosial media.

“Sangat senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan tim Indonesia. Mereka sangat ramah dan terbuka. Kami sungguh tidak sabar untuk memulai ekspedisi ini,” ujar Guido.

Tim Ekspedisi Sumba mempersiapkan alat tulis, buku, dan tas sekolah sumbangan dari para donatur untuk anak-anak sekolah di Sumba. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Tim Ekspedisi Sumba mempersiapkan alat tulis, buku, dan tas sekolah sumbangan dari para donatur untuk anak-anak sekolah di Sumba. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Sebagai informasi, Ekspedisi Sumba 2015 direncanakan akan memakan waktu selama sembilan hari. Delapan orang peserta tim ekspedisi yang terdiri dari empat orang dari Indonesia dan empat orang dari Belanda, akan mengunjungi tiga desa di Pulau Sumba. Desa ini akan diteliti oleh para peserta sebagai wilayah yang berpotensi untuk membuat proyek energi terbarukan.

Tim ekspedisi akan menjelajahi Pulau Sumba sekaligus berinteraksi dan bekerjasama dengan masyarakat setempat untuk mencari solusi penerapan energi terbarukan di pulau dengan jumlah populasi kurang dari 700 ribu orang ini.

Kedelapan peserta tersebut adalah Dea Sihotang dari Cibubur, Novianus Efrat dari Jakarta, Saepul Hamdi dari Sukabumi dan Griksa Gunadarma dari Jakarta. Sedangkan tim dari Belanda, yaitu Guido, Franka, Joyce dan Sylvia.

Sandra Winarsa selaku Project Manager Green Energy (Sumba), Hivos Southeast Asia, pada konferensi persnya beberapa waktu lalu menyatakan pada Ekspedisi Sumba tahun 2015 ini, Hivos bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Sumba, PLN Sumba, komunitas dan LSM setempat untuk bersama-sama dengan merealisasikan energi terbarukan di Sumba.

“Walaupun awalnya pemerintah setempat skeptis dengan apa yang akan kita lakukan, namun seiring berjalannya waktu dan pembuktian nyata, mereka mendukung dan membantu program ini,” katanya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/perjalanan-tim-ekspedisi-sumba-2015-dimulai/feed/ 0
Hivos Kembali Adakan Ekspedisi Sumba 2015 https://www.greeners.co/aksi/hivos-kembali-adakan-ekspedisi-sumba-2015/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hivos-kembali-adakan-ekspedisi-sumba-2015 https://www.greeners.co/aksi/hivos-kembali-adakan-ekspedisi-sumba-2015/#comments Mon, 29 Jun 2015 07:16:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=10042 Jakarta (Greeners) – Organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah, Hivos, kembali mengadakan “Ekspedisi Sumba” pada tanggal 29 Agustus hingga 12 September 2015 mendatang. Ekspedisi yang diadakan untuk keempat kalinya ini merupakan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah, Hivos, kembali mengadakan “Ekspedisi Sumba” pada tanggal 29 Agustus hingga 12 September 2015 mendatang. Ekspedisi yang diadakan untuk keempat kalinya ini merupakan bagian dari kampanye perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos. Empat orang perwakilan dari Indonesia dan empat orang perwakilan dari Belanda akan mengikuti kegiatan yang berlangsung selama dua minggu tersebut.

Programme Manager for Indonesia Biogas Programme dari Hivos, Robert De Groot, mengatakan, melalui kegiatan Ekspedisi Sumba ini warga lokal mendapatkan pendapatan lebih karena memanfaatkan energi terbarukan yang belum tersentuh. Menurut De Groot, Sumba merupakan iconic island untuk energi terbarukan.

“Kami memilih Sumba sebagai iconic island dan kami berani mengklaim bahwa energi terbarukan seratus persen dapat berhasil,” ujarnya saat konferensi pers di gedung Jakarta Design Center, Minggu (28/6).

Pada Ekspedisi Sumba tahun 2015 ini, Hivos bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Sumba, PLN Sumba, komunitas dan LSM setempat untuk bersama-sama dengan merealisasikan energi terbarukan di Sumba.

“Walaupun awalnya pemerintah setempat skeptis dengan apa yang akan kita lakukan, namun seiring berjalannya waktu dan pembuktian nyata, mereka mendukung dan membantu program ini,” ujarnya.

Sandra Winarsa selaku Project Manager Green Energy (Sumba) Hivos Southeast Asia menekankan bahwa kegiatan ini bukanlah sekadar mencari anak muda untuk jalan-jalan gratis melainkan mencari anak muda yang berkomitmen untuk membantu masyarakat Sumba dalam pemanfaatan energi terbarukan ini.

“Para peserta akan tinggal bersama masyarakat Sumba selama satu minggu untuk menyelami permasalahan lokal dan bersama-sama mencari solusi,” imbuhnya.

Sheila Kartika peserta Ekspedisi Sumba tahun 2013 dan Adra peserta Ekspedisi Sumba di tahun 2014 yang turut hadir dalam acara ini juga turut berbagi cerita tentang pengalaman mereka saat mengikuti ekspedisi. Mereka juga mengajak kaum muda yang senang traveling untuk tidak sekadar memotret pemandangan dan mengunggahnya di media sosial, melainkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal.

Pendaftaran program Ekspedisi Sumba 2015 sudah dibuka tanggal 1-31 Juli 2015. Informasi lengkap mengenai kegiatan ini dapat mengakses situs www.supportsumba.org.

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/aksi/hivos-kembali-adakan-ekspedisi-sumba-2015/feed/ 2
Menghargai Perbedaan Sebagai Semangat Baru Sumpah Pemuda https://www.greeners.co/berita/menghargai-perbedaan-sebagai-semangat-baru-sumpah-pemuda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menghargai-perbedaan-sebagai-semangat-baru-sumpah-pemuda https://www.greeners.co/berita/menghargai-perbedaan-sebagai-semangat-baru-sumpah-pemuda/#respond Mon, 27 Oct 2014 05:21:10 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6259 Jakarta (Greeners) – Banyak cara untuk memperingati semangat Sumpah Pemuda. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Seperlima, sebuah gugus kerja yang terdiri dari Pamflet, Pusat Keluarga Berencana Indonesia, Rahima, Pusat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Banyak cara untuk memperingati semangat Sumpah Pemuda. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Seperlima, sebuah gugus kerja yang terdiri dari Pamflet, Pusat Keluarga Berencana Indonesia, Rahima, Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia, dan Hivos yang bekerjasama dengan promotor konser G Production untuk mengadakan Festival Seperlima 2014 bertemakan “Beda Itu Biasa”.

Koordinator Seperlima, Dyana Savina Hutajulu, menerangkan, bahwa Festival Seperlima diadakan sebagai peringatan akan semangat Sumpah Pemuda sebagai salah satu peristiwa bersejarah bagi pergerakan anak muda di Indonesia. Momen ini kerap diperingati dalam konteksnya untuk “memelihara persatuan” ketimbang “merayakan perbedaan”.

Padahal, lanjutnya, penghargaan terhadap perbedaan dan keberagaman makin terasa penting dan relevan bagi kehidupan anak muda di Indonesia saat ini, terutama dalam menghadapi berbagai permasalahan di lingkup anak muda, seperti kekerasan (termasuk kekerasan seksual), perkelahian pelajar, bullying, dan diskriminasi antar kelompok yang kian marak akhir-akhir ini.

“Melalui ‘Beda itu Biasa’, kami ingin memberitahu bahwa saat ini sudah semakin marak tindak kekerasan di lingkup anak muda. Hal ini berawal dari kurangnya penghormatan terhadap bentuk-bentuk keberagaman berekspresi, penghargaan terhadap perbedaan latar belakang dan semakin sempitnya ruang bagi anak-anak muda untuk bertemu, berdialog dan bertukar gagasan dan ide-ide kreatif,” terang wanita yang akrab dipanggil Vina ini saat ditemui oleh Greeners di Taman Menteng, Jakarta, Minggu (26/10).

Catatan dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak), tambah Vina, mencatat ada 229 kasus tawuran pelajar sepanjang Januari-Oktober tahun 2013, sementara Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan mencatat adanya 279.760 kasus kekerasan terhadap perempuan pada tahun yang sama. Menurutnya, hal tersebut akan semakin besar menimpa anak muda jika ruang ekspresi dan kesempatan untuk menonjolkan ide kreatif tidak difasilitasi dengan baik.

“Ruang untuk ekspresi dan kesempatan untuk menunjukkan kreatifitas adalah salah satu faktor yang bisa menekan tingkat intoleransi dan kekerasan terhadap anak muda,” katanya.

Vina juga menambahkan bahwa penyelenggaraan Pendidikan Kesehatan Seksual dan Reproduksi (PKRS) di sekolah juga penting. PKRS sangat berguna bagi jiwa remaja yang sedang mengalami masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pendidikan kesehatan reproduksi atau seks yang komprehensif tidak hanya soal menjaga kesehatan saja, tetapi juga aspek psikologis, pemberdayaan, kecakapan hidup, dan prinsip anti-kekerasan.

“Acara ‘Beda Itu Biasa’ diadakan untuk merajut kembali semangat menghargai perbedaan anak muda serta memberi ruang bagi anak muda untuk mengeluarkan gagasan-gagasan kreatif yang selama ini terpendam,” katanya.

Pada kegiatan ini diselenggarakan juga kompetisi poster infografik untuk menjaring aspirasi anak muda terkait masalah-masalah di sekitar mereka. “Festival Seperlima 2014: Beda Itu Biasa” juga dimeriahkan oleh pemutaran film dari beberapa sineas muda, antara lain Bernadette karya Paul Agusta, Silent karya Sidi Saleh, Masa Sih karya Chairun Nissa, serta Mencintai Nisan karya Dmaz Brodjonegoro.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/menghargai-perbedaan-sebagai-semangat-baru-sumpah-pemuda/feed/ 0
Cerita Dari Tim Ekspedisi Sumba 2014 https://www.greeners.co/aksi/cerita-dari-tim-ekspedisi-sumba-2014-2/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cerita-dari-tim-ekspedisi-sumba-2014-2 https://www.greeners.co/aksi/cerita-dari-tim-ekspedisi-sumba-2014-2/#respond Thu, 11 Sep 2014 04:24:02 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_event&p=5772 Jakarta (Greeners) – Pada tanggal 31 Agustus – 6 September 2014 lalu, Hivos-Indonesia, sebuah organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah mengadakan “Ekspedisi Sumba The Iconic Island for Renewable Energy” sebagai salah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pada tanggal 31 Agustus – 6 September 2014 lalu, Hivos-Indonesia, sebuah organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah mengadakan “Ekspedisi Sumba The Iconic Island for Renewable Energy” sebagai salah satu bentuk kampanye mencarikan solusi atas ketersediaan energi terbarukan bagi masyarakat Indonesia.

Dewi Suciati selaku Communications Officer Hivos menjelaskan, bahwa Sumba, Nusa Tenggara Timur, adalah daerah dengan penduduk termiskin ke tiga di Indonesia dan juga termiskin nomor satu di Indonesia Timur.

“Sebagian besar masyarakat Pulau Sumba itu belum mendapatkan akses terhadap listrik. Nah, bersama dengan masyarakat Sumba, Hivos berupaya untuk mengubah kondisi tersebut,” ujar Dewi.

Foto: greeners.co/Hermitianta Prasetya

Pembuatan fasilitas biogas dilakukan bersama dengan volunteer dari Indonesia dan Belanda serta warga setempat. Foto: greeners.co/Hermitianta Prasetya

Tim Ekspedisi Sumba yang terdiri dari empat orang volunteer dari Indonesia dan empat orang volunteer dari Belanda ini, jelas Dewi, telah berkeliling, tinggal, berinteraksi, bekerjasama, dan mencari solusi untuk ketersediaan energi terbarukan bersama masyarakat Sumba.

Salah satu peserta dari Indonesia bernama Shally Pristine, mengaku, bahwa setelah melihat minat dan keinginan dari masyarakat Sumba untuk berubah, dirinya pun merasa optimis dengan masa depan energi terbarukan di Indonesia.

Foto: greeners.co/Hermintia

Volunteer dan warga berfoto bersama sambil menunjukan hasil ladang. Dengan memanfaatkan energi terbarukan, sawah dan ladang warga Lewa, Sumba Timur, dapat di aliri air. Foto: greeners.co/Hermitianta Prasetya

Shally juga menceritakan bahwa dirinya bertemu dengan banyak tokoh lokal yang sangat berpengaruh selama ekspedisi berlangsung. Di antaranya, Pater Mike, seorang pendeta di Sumba Barat Daya, dan Pak Made, seorang petani teladan di Sumba Timur, yang dapat memberdayakan masyarakat di sekitarnya untuk menggunakan energi terbarukan.

Tidak hanya itu, kedua tokoh lokal ini juga mampu mengelola dan merawat fasilitas, seperti biogas maupun micro-hydro, yang telah dibangun bersama masyarakat di desa-desa. Sehingga, masyarakat Sumba mampu memiliki kualitas hidup yang lebih baik karena mendapatkan akses energi yang telah diperoleh.

“Adanya orang-orang seperti mereka membuat saya percaya bahwa teknologi yang kami tinggalkan di Sumba dapat dijaga dan dirawat, sehingga masyarakat Sumba mampu memperbaiki kualitas hidupnya,” tutur Shally.

Foto: greeners.co/Hermitianta Prasetya

Panel surya yang sudah terpasang di Sumba. Foto: greeners.co/Hermitianta Prasetya

Setelah melakukan Ekspedisi Sumba ini, tugas para peserta selanjutnya adalah melakukan kampanye tentang pentingnya energi terbarukan dan melakukan penggalangan dana untuk membantu menyediakan listrik melalui teknologi energi terbarukan bagi masyarakat Sumba.

“Tim ekpedisi berencana membangun 10 unit instalasi biogas di Sumba dengan mengajak masyarakat Indonesia untuk ikut berpartisipasi melalui mekanisme crowd funding secara terbuka,” kata Dewi.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/cerita-dari-tim-ekspedisi-sumba-2014-2/feed/ 0
Hivos Indonesia Jadikan Sumba Sebagai Pulau Percontohan Energi Terbarukan https://www.greeners.co/aksi/sumba-sebagai-pulau-percontohan-energi-terbarukan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sumba-sebagai-pulau-percontohan-energi-terbarukan https://www.greeners.co/aksi/sumba-sebagai-pulau-percontohan-energi-terbarukan/#respond Tue, 09 Sep 2014 11:58:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_event&p=5754 Jakarta (Greeners) – Ketergantungan penduduk Indonesia akan bahan bakar fosil semakin hari terbukti semakin meningkat. Hal tersebut dapat terlihat dari selalu ramainya antrian Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ketergantungan penduduk Indonesia akan bahan bakar fosil semakin hari terbukti semakin meningkat. Hal tersebut dapat terlihat dari selalu ramainya antrian Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di banyak daerah. Terlebih, setiap kali pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), masyarakat seketika panik dan menuntut pemerintah agar tidak menaikkan harga BBM tersebut.

Di beberapa daerah di Indonesia, ketergantungan akan energi fosil juga mengakibatkan banyak wilayah Indonesia yang belum teraliri listrik. Salah satu permasalahannya adalah kurang tersedianya bahan bakar fosil untuk menghidupkan pembangkit listrik.

Atas dasar kebutuhan akan listrik di beberapa daerah yang masih belum teraliri listrik itulah, Hivos-Indonesia, sebuah organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah, berupaya membantu mencarikan solusi ketersediaan energi terbarukan bagi masyarakat.

Pada tanggal 31 Agustus hingga 6 September 2014 lalu, Hivos menyelenggarakan Ekspedisi Sumba untuk mendorong tercapainya akses 100% energi terbarukan di Sumba. Lebih dari 500 pendaftar diseleksi dan terpilih 4 orang volunteer dari Indonesia dan 4 orang dari Belanda yang menjadi peserta ekspedisi ini.

Communications Officer Hivos, Dewi Suciati, menjelaskan bahwa Hivos memang memiliki visi tersedianya akses pada 100% energi terbarukan bagi warga Sumba dan ingin menjadikan Sumba sebagai pulau percontohan bagi seluruh dunia. Untuk itulah ekspedisi ini diadakan.

“Kita mau kasih lihat ke dunia bahwa energi terbarukan dapat menurunkan tingkat kemiskinan dan mendorong terjadinya pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Dewi saat menjadi pembicara pada konferensi pers ‘Ekspedisi Sumba The Iconic Island for Renewable Energy‘ di hotel Grand Kemang, Jakarta, Selasa (09/09).

Dewi juga menjelaskan, bahwa kampanye publik “Ekspedisi Sumba” ini merupakan bagian dari kampanye iklim dan energi dengan tujuan untuk mengalihkan konsumsi energi menjadi 100% energi terbarukan di seluruh dunia.

“Tujuan utama kampanye ini untuk menggalang dukungan publik di Indonesia dan Belanda untuk mendukung akses terhadap energi terbarukan di negara-negara berkembang,” katanya.

Dengan adanya ekspedisi ini, Dewi mengharapkan kampanye tentang pentingnya energi terbarukan mampu membuka mata masyarakat, yang secara kebutuhan sebenarnya sangat mampu untuk mengakses bahan bakar fosil. Dan, menyadarkan semua orang bahwa sudah saatnya energi terbarukan menjadi energi utama untuk kebutuhan masyarakat Indonesia.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/sumba-sebagai-pulau-percontohan-energi-terbarukan/feed/ 0