Hujan Deras - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/hujan-deras/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 22 Feb 2017 10:28:18 +0000 id hourly 1 Pertumbuhan Awan Hujan Sebabkan Hujan Deras di Jabodetabek https://www.greeners.co/berita/pertumbuhan-awan-hujan-sebabkan-hujan-deras-jabodetabek/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pertumbuhan-awan-hujan-sebabkan-hujan-deras-jabodetabek https://www.greeners.co/berita/pertumbuhan-awan-hujan-sebabkan-hujan-deras-jabodetabek/#respond Wed, 22 Feb 2017 10:13:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15982 Hujan deras yang mengguyur wilayah Jabodetabek sejak Selasa (21/02), disebabkan oleh adanya area konvergensi tepat di sekitar wilayah Jakarta yang membuat pertumbuhan awan hujan menjadi sangat kuat.]]>

Jakarta (Greeners) – Hujan deras yang mengguyur wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek) sejak Selasa (21/02) dini hari, disebabkan oleh adanya area konvergensi atau pertemuan angin tepat di sekitar wilayah Jakarta khususnya bagian utara. Hal ini membuat pertumbuhan awan hujan menjadi sangat kuat yang ditandai dengan banyaknya awan Cumulonimbus.

Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yunus S. Suwarinoto mengatakan, dari pantauan kondisi atmosfer global dan regional, pengaruh gelombang tropis memicu munculnya area tekanan rendah serta monsun Asia yang masih cukup kuat. Secara tidak langsung, kondisi ini memengaruhi fenomena cuaca regional dan lokal seperti munculnya daerah konvergensi kuat di pesisir barat Sumatera hingga wilayah Jawa bagian barat.

“Melihat dari potensi perkembangan awan hujan pagi ini, diperkirakan hujan ringan hingga sedang masih akan bertahan di wilayah Jabodetabek. Masyarakat diimbau tetap waspada dan berhati-hati khususnya ketika beraktifitas di luar rumah mengingat sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam puncak musim hujan sehingga peningkatan intensitas curah hujan masih akan terjadi,” kata Yunus, Jakarta, Selasa (21/02).

BACA JUGA: 14 Perumahan di Kota Bekasi Terendam Banjir

Sementara itu, pos pengamatan BMKG mencatat untuk curah hujan selama 24 Jam hingga pukul 07.00 WIB pada Rabu (22/02) sebagai berikut: Lebak bulus 71.7 mm, Pakubuwono 106 mm, Beji 65 mm, Depok 83 mm, Gunung Mas 39 mm, Pasar Minggu 106.5 mm, Tangerang 92.5 mm, Pondok Betung 67.4mm, Cengkareng 72 mm, Tanjung Priok 115.9 mm, Kemayoran 180 mm, Dramaga 75 mm, Curug 37.5 mm, Kepala Gading 145.4 mm, TMII 48.8 mm, Parung 21.8 mm, Jagorawi 72.5 mm, Mekarsari 60.8 mm, Leuwiliang 89.7 mm, Katulampa 35.8 mm, dan Bekasi 65 mm.

Curah hujan tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan hujan yang menyebabkan banjir di Jakarta pada tahun 2007, 2013 dan 2014 yang saat itu mencapai 200-350 mm. Peluang hujan ekstrem saat ini makin sering terjadi. Artinya, risiko terjadinya banjir di wilayah Jabodetabek juga makin tinggi jika tidak dilakukan upaya pengendalian banjir yang komprehensif dan berkelanjutan.

“Sebagai catatan, hujan memiliki kisaran lebih dari 50 mm selama 24 jam, sehingga hampir sebagian besar wilayah Jabodetabek masih akan terjadi hujan sedang hingga lebat,” jelasnya.

Hujan deras yang terjadi pun menyebabkan banjir yang mengepung wilayah Jakarta, Bekasi dan Tangerang. Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, kalau kepungan banjir tersebut menunjukkan bahwa wilayah Jabodetabek masih rentan terhadap banjir.

BACA JUGA: Antisipasi Banjir, BNPB dan MIT Luncurkan PetaBencana.id

Dari citra satelit Landsat tahun 1990 hingga 2016 menunjukkan permukiman dan perkotaan berkembang luar biasa. Permukiman nyaris menyatu antara wilayah hulu, tengah dan hilir dari daerah aliran sungai yang ada di Jabodetabek. Sangat minim ruang terbuka hijau atau kawasan resapan air, sehingga suatu keniscayaan air hujan yang jatuh sekitar 80 persennya berubah menjadi aliran permukaan. Bahkan di wilayah perkotaan sekitar 90 persen menjadi aliran permukaan.

“Kapasitas sungai-sungai dan drainase perkotaan untuk mengalirkan aliran permukaan masih terbatas. Okupasi bantaran sungai menjadi permukiman padat menyebabkan sungai sempit dan dangkal. Sungai yang harusnya lebar 30 meter, saat ini hanya sekitar 10 meter. Bahkan ada sungai yang 5 meter. Sudah pasti kondisi tersebut menyebabkan banjir. Relokasi permukiman di bantaran sungai adalah keniscayaan jika ingin memperlebar kemampuan debit aliran. Tapi seringkali relokasi sulit dilakukan karena kendala politik, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat,” ujar Sutopo menerangkan.

Sutopo menyatakan penataan ruang perlu dikendalikan. Daerah-daerah sempadan sungai, kawasan resapan air dan kawasan lindung harus dikembalikan ke fungsinya. Menurutnya, tidak mungkin Pemda Jakarta sendirian mengatasi banjir.

“Harus kerjasama dengan pemerintah pusat dan pemda lain. Studi banjir dan masterplan pengendalian banjir sudah ada sejak lama. Tinggal komitmen bersama,” katanya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pertumbuhan-awan-hujan-sebabkan-hujan-deras-jabodetabek/feed/ 0
Dampak Meluapnya Sungai Citarum, Dua Warga Tewas https://www.greeners.co/berita/dampak-meluapnya-sungai-citarum-dua-warga-tewas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dampak-meluapnya-sungai-citarum-dua-warga-tewas https://www.greeners.co/berita/dampak-meluapnya-sungai-citarum-dua-warga-tewas/#respond Mon, 14 Mar 2016 12:52:35 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13179 Hujan deras yang berlangsung sejak Selasa (08/03) hingga Senin (14/03) dini hari tadi membuat Sungai Citarum di daerah Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, meluap dan sebanyak 15 daerah di Kabupaten Bandung terendam banjir.]]>

Jakarta (Greeners) – Sungai Citarum di daerah Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, untuk kesekian kalinya meluap dan menimbulkan banjir tahunan. Hujan deras yang berlangsung sejak Selasa (08/03) hingga Senin (14/03) dini hari tadi telah menyebabkan banjir yang cukup luas. Sebanyak 15 daerah di Kabupaten Bandung terendam banjir yang meliputi Kecamatan Cicalengka, Rancaekek, Cileunyi, Solokan Jeruk, Majalaya, Ciparay, Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Pameungpeuk, Banjaran, Arjasri, Cangkuang, Katapang dan Kutawaringin.

Berdasarkan data sementara hasil kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, sebanyak 5.900 KK (24.000 jiwa) terdampak banjir dan lebih dari 3.000 jiwa mengungsi. Tinggi banjir sekitar 80 sampai 300 sentimeter. Daerah di sekitar bantaran Sungai Citarum dan cekungan tinggi juga mengalami banjir hingga mencapai tiga meter.

“Banjir telah menyebabkan dua orang meninggal dunia dan tiga orang hilang. Korban meninggal adalah Risa (13 tahun) akibat tersengat listrik saat banjir dengan alamat Kampung Ciburuy, Desa Citeureup, Kecamatam Dayeuhkolot dan Ibu Ela (40 tahun) warga Kampung Sawahluhur, RW 10 Desa Sukasari, Kecamatan Pameungpeuk akibat terseret arus,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Senin (14/03).

Sedangkan tiga orang yang hilang, kata Sutopo, adalah suami Ela dan dua anak perempuannya. Saat banjir, ketiganya mengungsi ke bangunan di tepi sungai yang kemudian roboh. Saat ini tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan SAR Nasional (Basarnas) masih melakukan pencarian.

BPBD Kabupaten Bandung, BPBD Provinsi Jawa Barat, TRC BNPB bersama TNI, Polri, Basarnas, Tagana, PMI, SKPD, beberapa komunitas penggiat kebencanaan seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Tabara, Unit Cegah Siaga, relawan dan masyarakat juga saling membantu melakukan penanganan darurat.

“Saat ini pengungsi berada di Kantor Kelurahan Baleendah, Gedung Inkanas, GOR SKB, Gedung Juang dan lainnya,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/dampak-meluapnya-sungai-citarum-dua-warga-tewas/feed/ 0
Diguyur Hujan Deras, Jakarta Siaga https://www.greeners.co/berita/diguyur-hujan-deras-jakarta-siaga/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=diguyur-hujan-deras-jakarta-siaga https://www.greeners.co/berita/diguyur-hujan-deras-jakarta-siaga/#respond Sat, 21 Mar 2015 08:31:45 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8265 Jakarta (Greeners) – Pusat Kendali Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalob), Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta menyatakan Pintu Air Karet berstatus siaga dengan ketinggian air 570 cm, pada Sabtu pagi, 21 […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pusat Kendali Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalob), Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta menyatakan Pintu Air Karet berstatus siaga dengan ketinggian air 570 cm, pada Sabtu pagi, 21 Maret 2015.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho kepada Greeners mengatakan bahwa akibat hujan deras yang turun tanpa henti pada Jumat, 20/03 malam hingga Sabtu, 21/03 pagi mengakibatkan beberapa pintu air mengalami peninggian.

“Selain Karet, lima pintu air lainnya juga  berstatus siaga 3, seperti Manggarai dengan ketinggian air 800 cm, Krukut Hulu dengan ketinggian 175 cm, Pesanggrahan dengan ketinggian 210 cm, Sunter Hulu 150 cm, dan Pulo Gadung 550 cm,” jelasnya, Sabtu (21/03).

Sedangkan menurut laporan dari Pusdalop yang diterima oleh Greeners, empat pintu air lainnya seperti Katulampa, Depok, Angke Hulu, Cipinang Hulu dan Waduk Pulit masih dinyatakan dalam keadaan aman.

Sebagai informasi, Pintu Air Karet adalah pintu air pengatur aliran air Banjir Kanal Barat yang berfungsi untuk membersihkan Kali Krukut Lama, Kali Cideng Bawah dan Muara Baru. Pintu air ini juga mengendalikan aliran sungai yang melintasi daerah Jakarta Pusat seperti kawasan Sudirman-Thamrin hingga Istana Negara.

]]>
https://www.greeners.co/berita/diguyur-hujan-deras-jakarta-siaga/feed/ 0