hutan indonesia - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/hutan-indonesia/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 11 Jul 2024 04:05:38 +0000 id hourly 1 700.000 Hektare Hutan di Indonesia Ditebang untuk Pertambangan https://www.greeners.co/berita/riset-700-000-ha-hutan-indonesia-dibabat-untuk-pertambangan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=riset-700-000-ha-hutan-indonesia-dibabat-untuk-pertambangan https://www.greeners.co/berita/riset-700-000-ha-hutan-indonesia-dibabat-untuk-pertambangan/#respond Thu, 11 Jul 2024 04:05:38 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=44207 Jakarta (Greeners) – Riset oleh TreeMap mengungkapkan sejak tahun 2001 hingga 2023, 721.000 hektare (ha) hutan di Indonesia telah ditebang untuk pertambangan. Luas hutan tersebut termasuk 150.000 hektare hutan primer. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Riset oleh TreeMap mengungkapkan sejak tahun 2001 hingga 2023, 721.000 hektare (ha) hutan di Indonesia telah ditebang untuk pertambangan. Luas hutan tersebut termasuk 150.000 hektare hutan primer.

Dalam mengungkap fakta ini, peneliti menggunakan citra satelit resolusi tinggi dari Sentinel-2 dan Planet/NICFI serta citra Landsat historis selama dua dekade.

Namun, deforestasi untuk pertambangan tersebut jauh lebih sedikit daripada deforestasi akibat perluasan perkebunan kelapa sawit dan pulp kayu. Kedua perkebunan itu masing-masing telah mengubah lahan seluas 3 juta hektare dan 1 juta hektare hutan primer.

Namun, data oleh TreeMap menunjukkan bahwa deforestasi yang terkait dengan pertambangan telah meningkat. Bahkan, hal itu terjadi di daerah-daerah yang sebelumnya tidak tersentuh di pulau-pulau terpencil di Indonesia timur.

Rata-rata, terjadi penebangan 6.500 hektare hutan primer setiap tahun. Puncak penebangan terlihat pada tahun 2013. Kemudian, peneliti melihat peningkatan penebangan hutan yang disebabkan oleh pertambangan menjelang tahun 2023. Pada tahun 2023, aktivitas pertambangan berkaitan dengan hilangnya 10.000 hektare hutan primer setiap tahunnya. Angka ini hampir tiga kali lipat dari kerugian pada awal milenium.

BACA JUGA: Telapak Jatim dan Ecoton Tolak Penebangan Hutan di Jombang

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik mengatakan bahwa laju deforestasi akibat pertambangan ini begitu tinggi. Salah satu penyebabnya adalah pemerintah masih mendorong ekonomi ekstraktif.

“Industri pertambangan sebenarnya lebih bahaya. Bahkan, di hutan lindung pun memungkinkan adanya aktivitas pertambangan,” kata Iqbal kepada Greeners melalui sambungan telepon, Rabu (10/7).

Iqbal menambahkan, apabila deforestasi ini terus berlanjut, Indonesia akan kehilangan biodiversitas hingga memperparah krisis iklim. Selain itu, bencana alam di wilayah penambangan juga dapat lebih parah daripada wilayah yang bukan area penambangan.

“Apabila pemerintah terus bertumpu pada ekonomi ekstraktif ini, Indonesia akan mengalami bencana alam atau hidrometeorologi yang lebih parah,” tambah Iqbal.

Penebangan hutan di Indonesia. Foto: Nusantara Atlas

Penebangan hutan di Indonesia. Foto: Nusantara Atlas

Pertambangan Batu Bara Paling Luas

Dengan menggunakan data konsesi yang diperoleh dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), peneliti mendapati bahwa pertambangan batu bara merupakan pertambangan dengan dampak pertambangan terbesar.

Berdasarkan luas wilayah (2001 hingga 2023), pertambangan batu bara meliputi sekitar 322.000. Kemudian, pertambangan emas seluas 149.000 hektare, timah seluas 87.000 hektare, dan pertambangan nikel seluas 56.000 hektare. Selanjutnya pertambangan bauksit 16.000 hektare dan bentuk pertambangan lainnya 91.000 hektare seperti pertambangan pasir dan batu (andesit).

Sejumlah pihak masih terus memanfaatkan sumber daya alam Indonesia yang melimpah untuk pertambangan. Upaya pemetaan komprehensif ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan praktik penambangan berkelanjutan. Hal itu penting semua pihak lakukan untuk melindungi warisan alam sekaligus mendukung pembangunan ekonomi.

Tunjukkan Lokasi Tambang Seluruh Nusantara

Peta yang diunggah pada laman nusantara-atlas.org tersebut telah memberikan penggambaran resolusi spasial 10 meter pertama, dari jejak lahan pertambangan Indonesia per Desember 2023, yang menunjukkan lokasi tambang di seluruh nusantara.

Peta ini telah menunjukkan total area hutan yang berubah menjadi infrastruktur pertambangan sejak tahun 2001 hingga Desember 2023. Dalam peta tersebut, terdapat lubang tambang dan tempat bahan baku.

Selain itu, peta juga telah menyoroti fasilitas pengolahan yang menunjukkan lokasi dan ukuran pabrik yang mengubah bahan baku menjadi produk olahan.

Dampak Buruk Pertambangan

Deforestasi yang terjadi pada hutan Indonesia bisa memicu berbagai dampak negatif. Apalagi, hutan tersebut dijadikan pertambangan yang berkontribusi terhadap peningkatan emisi karbon, mengganggu ekosistem, dan mengancam banyak spesies yang terancam punah. Pertambangan skala besar ini juga telah menggusur tempat tinggal masyarakat setempat.

BACA JUGA: Walhi Jabar: Hutan Gundul Sebabkan Longsor di Pengalengan

Contohnya Hongana Manyawa, salah satu suku pemburu-pengumpul nomaden terakhir di Indonesia. Suku tersebut terkena dampak perambahan operasi pertambangan ke tanah leluhur mereka di Pulau Halmahera di Indonesia Timur.

Di sisi lain, operasi penambangan juga telah mencemari sumber air penting bagi masyarakat setempat. Bahkan, mengganggu ekosistem perikanan yang berpengaruh terhadap mata pencaharian masyarajat. Contohnya, di Pulau Obi, penambangan nikel di Indonesia Timur telah mengubah perairan pesisir menjadi merah akibat adanya kontaminasi logam berat dalam kadar tinggi.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/riset-700-000-ha-hutan-indonesia-dibabat-untuk-pertambangan/feed/ 0
Tata Kelola Hutan Indonesia Tunjukkan Progres Membanggakan https://www.greeners.co/aksi/tata-kelola-hutan-indonesia-tunjukkan-progres-membanggakan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tata-kelola-hutan-indonesia-tunjukkan-progres-membanggakan https://www.greeners.co/aksi/tata-kelola-hutan-indonesia-tunjukkan-progres-membanggakan/#respond Wed, 11 Jan 2023 04:01:45 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=38569 Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut, tata kelola hutan Indonesia semakin baik dan progresif. Data tersebut mereka ungkap baru-baru ini. Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut, tata kelola hutan Indonesia semakin baik dan progresif. Data tersebut mereka ungkap baru-baru ini.

Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PKTL) Ruandha Agung Sugardiman memaparkan capaian percepatan pengukuhan kawasan hutan. Pengembangan sistem informasi hingga kontribusi kehutanan Indonesia di tingkat global.

Dari total 125,79 juta hektare (ha) kawasan hutan Indonesia, PKTL telah menyelesaikan penetapan kawasan hutan seluas 91,3 juta ha atau 73 % pada akhir Desember 2022 lalu.

Ruandha menerangkan, target percepatan pengukuhan kawasan hutan selaras dengan peraturan Undang-Undang Cipta Kerja.

“Progres ini memberikan dorongan optimisme pencapaian target akan terpenuhi sebanyak 100 % di tahun mendatang,” ungkap Ruandha dalam keterangannya.

Program pengukuhan kawasan hutan juga sesuai dengan fokus dari lima cakupan areal lingkungan hidup yang PKTL tetapkan. Fokus tersebut meliputi udara, air, laut, lahan prima yang produktif serta keanekaragaman hayati.

Pasalnya, keberadaan kawasan hutan akan memengaruhi keberlanjutan berbagai areal lingkungan hidup sekitarnya. Sehingga penting untuk melindungi dan mengelola kawasan hutan secara lestari.

Direktur Jenderal Perubahan Iklim KLHK

Direktur Jenderal PKTL KLHK Ruandha Agung Sugardiman. Foto: KLHK

Kontribusi Hutan Indonesia 

Tidak hanya lima cakupan tersebut, kawasan hutan Indonesia juga turut berkontribusi global dalam penurunan emisi gas rumah kaca. Berdasarkan data, kontribusi sektor kehutanan dalam pencapaian FoLU Net Sink menyentuh 60 % dan menjadi proporsi terbesar dalam penyerapan karbon.

“Indonesia FoLU Net Sink telah kami tuangkan ke dalam rencana operasional hingga tingkat tapak. Kami mengajak seluruh pemerintah pusat dan daerah serta berbagai elemen masyarakat untuk meningkatkan kerja sama yang telah tercipta dengan baik di tahun mendatang,” paparnya.

Selain pengukuhan kawasan hutan, Ruandha juga mengurai berbagai proses pengembangan sistem informasi yang telah KLHK bangun. Salah satunya yakni dokumen lingkungan hidup AMDALNET. Pembangunan sistem ini bertujuan untuk mempermudah proses pelayanan, penyusunan, proses penilaian dan pemeriksaan dokumen lingkungan hidup.

Grand desain pengembangan AMDALNET telah kami rancang sebanyak 7 modul. Dalam 2 tahun ini telah selesai 5 modul dan diharapkan pada tahun 2023 dan 2024 mendatang sistem AMDALNET dapat berjalan dengan sempurna,” tuturnya.

Berdasarkan inovasi sistem tersebut, KLHK meraih penghargaan Bhumandala Award Kanaka dengan kategori tertinggi. AMDALNET dinilai telah memaksimalkan informasi geospasial tematik yang terintegrasi dan berkesinambungan.

Penulis: Zahra Shafira

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/tata-kelola-hutan-indonesia-tunjukkan-progres-membanggakan/feed/ 0
Alain Compost, Temukan Tantangan di Hutan Indonesia https://www.greeners.co/sosok-komunitas/alain-compost-temukan-tantangan-di-hutan-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=alain-compost-temukan-tantangan-di-hutan-indonesia https://www.greeners.co/sosok-komunitas/alain-compost-temukan-tantangan-di-hutan-indonesia/#respond Thu, 03 Dec 2015 12:52:07 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=12114 Sempat tinggal di Malaysia, Alain Compost baru menemukan tantangan di hutan Indonesia. Ia pun tidak sekadar menjadi fotografer hidupan alam liar, namun juga terlibat dalam kegiatan konservasi.]]>

Jakarta (Greeners) – Berbagai macam tanaman terlihat indah pada sebuah kebun mini yang ditata apik di pekarangan sebuah rumah. Di tengah kebun itu, tampak seekor kambing kecil berlari mencari tuannya. Tak lama, sang empunya rumah dan juga tuan dari kambing itu muncul sambil memegang botol susu. Ia berjalan menghampiri kambing kecil itu.

“Dia harus enam kali minum susu dalam sehari karena lahir prematur,” kata pria berkepala plontos itu kepada Greeners seraya memasukkan air susu ke dalam mulut si kambing.

Pria itu adalah Alain Compost. Ia adalah fotografer hidupan liar kelahiran Perancis yang telah lama tinggal di Indonesia. National Geographic, International Wildlife, BBC Wildlife, Science and Nature, dan Paris Match adalah beberapa media skala internasional yang pernah memuat karya fotonya.

Alain menetap di Indonesia sejak tahun 1975. Sejak memutuskan untuk meninggalkan negaranya, ia mengaku tidak pernah terpikir untuk tetap berkecimpung di dunia lingkungan.

“Awalnya hanya ingin bikin foto yang indah-indah tentang satwa, tapi akhirnya memang harus terlibat dalam kegiatan lainnya seperti konservasi,” kisah pria yang sempat aktif di Yayasan Indonesia Hijau pada era 70-an ini.

Meski telah 40 tahun menetap di Indonesia, Alain menyatakan bahwa bukan Indonesia yang menjadi target sebagai laboratorium fotografinya, melainkan Malaysia. Negara itu menjadi negara pertama yang ia tinggali ketika keluar dari Perancis.

Ia bercerita, kepergiannya ke Malaysia kala itu tidak dipersiapkan dengan matang. Baginya saat itu, tidak penting negara mana yang ia tuju. Ia hanya ingin hidup di bagian dunia lain untuk mendapatkan pengalaman dan tantangan baru.

“Persiapan logistik masih betul-betul minim lah, jadi adventurer, yang penting berangkat dulu bawa baju. Banyak hal yang saya enggak tahu dan lihat di brosur waktu itu ada informasi kalau Malaysia bagus,” kenang Alain dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih.

Di Malaysia, Alain sempat tinggal beberapa bulan. Alih-alih mendapatkan foto, ia justru menghabiskan waktunya untuk beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali baru baginya. “Cuma dapat foto sedikit sekali karena memang enggak ada pengalaman. Alatnya juga sedikit sekali,” katanya.

Merasa hasil yang didapat tidak sesuai dengan ekspetasi, Alain memutuskan untuk mencari tantangan baru. Keputusannya pergi ke Indonesia ia buat setelah ia mendapat rekomendasi dari rekan senegaranya yang ia temui di Kuala Lumpur. Menurut sang kawan, Indonesia lebih kaya akan satwa dan ini akan memudahkan Alain sebagai fotografer hidupan liar.

“Dia bilang lebih bagus di Sumatera karena ada orangutannya. Dia juga bilang banyak pemburu di sana, jadi binatang pasti banyak,” ujar Alain diiringi tawa.

Medan menjadi kota pertama yang disinggahi Alain di Indonesia. “Wah berantakan, kurang ini itu, nyasar jalan. Ini baru saya betah. Kenapa dari kemarin saya enggak ke sini, ya? Baru saya rasakan negara tropis yang memang seperti di film-film,” kelakar Alain.

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/alain-compost-temukan-tantangan-di-hutan-indonesia/feed/ 0
Adjis “Doa Ibu”, Kalimantan Tidak Layak Disebut Paru-Paru Dunia https://www.greeners.co/gaya-hidup/adjis-doa-ibu-kalimantan-tidak-layak-disebut-paru-paru-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=adjis-doa-ibu-kalimantan-tidak-layak-disebut-paru-paru-dunia https://www.greeners.co/gaya-hidup/adjis-doa-ibu-kalimantan-tidak-layak-disebut-paru-paru-dunia/#respond Wed, 24 Jun 2015 07:55:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9930 Jakarta (Greeners) – Keindahan Indonesia memang membuat banyak insan berdecak kagum. Tidak hanya mengagumi lewat suara, namun banyak yang rela untuk mengeluarkan tabungannya untuk mengelilingi tempat-tempat indah di Indonesia. Abdul […]]]>

Jakarta (Greeners) – Keindahan Indonesia memang membuat banyak insan berdecak kagum. Tidak hanya mengagumi lewat suara, namun banyak yang rela untuk mengeluarkan tabungannya untuk mengelilingi tempat-tempat indah di Indonesia.

Abdul Aziz atau yang biasa disapa dengan nama Adjis “Doa Ibu” mengemukakan pendapatnya akan kerusakan negeri ini yang tidak terlihat oleh mata sebagian masyarakat. Pria yang tenar dari cuap-cuap komedinya dalam “Stand Up Comedy” ini mengaku bahwa kesedihannya terhadap alam Indonesia terjadi saat mengunjungi wilayah Kalimantan.

“Kalau Kalimantan dibilang sebagai paru-paru dunia, sebenarnya itu enggak layak. Sudah banyak pohon di hutan yang ditebang dan dialihfungsikan untuk dijadikan sebagai lahan kosong yang nantinya akan dikeruk hasil buminya,” ujarnya.

Terdapat kekecewaan mendalam untuk Adjis, apalagi saat Ibukota Kalimantan Timur, Samarinda mengalami kebanjiran mengingat Kalimantan mempunyai hutan yang banyak ditumbuhi oleh pepohonan. Namun kenyataannya, hutan di Kalimantan sudah menghilang.

“Pernah terdengar kabar bahwa banjir itu disebabkan karena Samarinda terletak di dataran rendah, padahal hal itu disebabkan karena hutan-hutan di Kalimantan sudah enggak ada. Itu yang menyebabkan air langsung masuk ke dalam kota,” tambahnya.

Tidak hanya kasus banjir, beberapa waktu lalu pun pernah terjadi Pekan Baru tertutup oleh kabut asap. Yang membuat dirinya heran yaitu melihat bagaimana reaksi pemerintah yang terlalu santai. “Sebenarnya, dari informasi yang saya dapat, pemerintah kota tersebut sudah mengetahui jika tragedi akan terjadi namun memang tidak bisa menyalahkan dia juga karena terdapat sejumlah mafia dari balik tragedi ini,” jelasnya kemudian.

Adjis juga melihat bagaimana kemudahan membuat suatu acara di Kalimantan. Menurutnya, hal ini merupakan suatu taktik yang digunakan oleh pemerintah untuk menutupi kerusakan lingkungan Kalimantan yang semakin membesar. Dengan memberi akses hiburan yang bisa dinikmati oleh masyarakat kota, maka secara sendirinya masyarakat tidak lagi menghiraukan fenomena-fenomena yang terjadi di hutan Kalimantan.

“Pesan saya untuk anak-anak muda terutama di Kalimantan, jangan terlalu senang dengan kemudahan yang terjadi dalam membuat suatu acara. Lebih baik cari tahu dulu kenapa bisa semudah itu dalam membuat acara, lebih kritis dalam menanggapi segala sesuatunya. Saat ini, kita bukan dibungkam dengan senjata tapi dibungkam dengan kebebasan itu sendiri,” ujarnya.

Tak ketinggalan ia juga menambahkan, tidak perlu bagi masyarakat untuk mengikuti kata pemerintah karena terlalu banyak yang ditutupi. “Lebih baik bergeraklah sendiri untuk kebaikan lingkungan,” pungkasnya.

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/adjis-doa-ibu-kalimantan-tidak-layak-disebut-paru-paru-dunia/feed/ 0
KLHK Dukung Reforestasi Desa Sarongge https://www.greeners.co/berita/klhk-dukung-reforestasi-desa-sarongge/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klhk-dukung-reforestasi-desa-sarongge https://www.greeners.co/berita/klhk-dukung-reforestasi-desa-sarongge/#respond Wed, 29 Apr 2015 12:36:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8768 Cianjur (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial (BPDASPS) mengapresiasi semangat menanam pohon yang dilakukan oleh masyarakat di Desa […]]]>

Cianjur (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial (BPDASPS) mengapresiasi semangat menanam pohon yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Sarongge, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Direktur Jendral BPDASPS KLHK, Hilman Nugroho saat ditemui oleh Greeners di Sarongge mengatakan bahwa upaya pengembalian wilayah hutan (reforestasi) di desa yang menjadi penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini memang sangat dibutuhkan. Hal ini karena Desa Sarongge sempat mengalami degradasi lahan akibat kegiatan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat lokal.

“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung penuh bagi siapapun yang ingin melakukan penanaman pohon di sini (Sarongge). Apalagi, sekarang ini ada 24 juta hektar lahan kritis dari 190 juta hektar hutan yang ada di Indonesia, makanya perlu ada partisipasi dari masyarakat setempat maupun pihak luar untuk kembali menghijaukan hutan,” ungkapnya, Cianjur, Rabu (29/04).

Direktur Jendral BPDASPS KLHK, Hilman Nugroho memberikan tumpeng kepada salah satu petani Desa Sarongge. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Direktur Jendral BPDASPS KLHK, Hilman Nugroho memberikan tumpeng kepada salah satu petani Desa Sarongge. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Kepala Divisi Regional Jawa barat dan Banten, Perum Perhutani, Ellan Barlian pun menyampaikan hal yang serupa. Menurutnya, kawasan yang baru-baru ini dijadikan sebagai model desa konservasi, dulunya sempat mengalami degradasi. Beberapa bagian areal yang mengalami perluasan oleh Perum Perhutani dijadikan lahan pertanian oleh warga lokal.

“Nah, yang jadi masalah juga, hutan di sekitar Desa Sarongge adalah habitat satwa yang hampir terancam punah dan akhirnya jadi ikut terkena imbasnya,” terangnya.

Maka dari itu, lanjut Ellan, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango KLHK bekerjasama dengan Green Radio berusaha melakukan pendekatan dan pemberdayaan kepada masyarakat setempat untuk menyadarkan akan pentingnya menanam dan merawat hutan yang ada.

“Pada awalnya visi ini mengalami benturan tersendiri dari masyarakat. Namun akhirnya program reforestasi ini berhasil mengajak 155 petani untuk bersedia turun gunung dan mulai mengelola Desa Sarongge sebagai Desa Ekowisata,” jelasnya.

Masih di tempat yang sama, Kepala Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Herry Subgiadi juga menuturkan bahwa setidaknya 155 Kepala Keluarga yang bercocok tanam di dalam taman nasional umumnya merambah areal yang berada di lereng gunung dengan kemiringan lebih dari 30 derajat. Wilayah tersebut, katanya lagi, sangat rawan terjadinya tanah longsor dan erosi.

“Sekarang, masyarakat berangsur-angsur sudah meninggalkan lahan taman nasional setelah dibina oleh Perum Perhutani dan melakukan kemitraan dengan berbagai pihak,” tukasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/klhk-dukung-reforestasi-desa-sarongge/feed/ 0
Oxymob LSPR Ajak Masyarakat Peduli Hutan Indonesia https://www.greeners.co/aksi/oxymob-lspr-ajak-masyarakat-peduli-hutan-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=oxymob-lspr-ajak-masyarakat-peduli-hutan-indonesia https://www.greeners.co/aksi/oxymob-lspr-ajak-masyarakat-peduli-hutan-indonesia/#respond Sun, 15 Mar 2015 10:47:35 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=8160 Jakarta (Greeners) – Menjaga kelestarian hutan tentunya menjadi tanggung jawab semua pihak. Namun kenyataan yang terjadi, masih ada saja orang ataupun kelompok yang seperti acuh akan fungsi dan manfaat hutan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Menjaga kelestarian hutan tentunya menjadi tanggung jawab semua pihak. Namun kenyataan yang terjadi, masih ada saja orang ataupun kelompok yang seperti acuh akan fungsi dan manfaat hutan di bumi ini.

Kondisi hutan Indonesia yang semakin terkikis membuat para mahasiswa London School of Public Relation (LSPR), Jakarta turut mengampanyekan kepedulian terhadap hutan. Kampanye “OXYGEN, The only thing better than the NextGen is Oxygen,” dilakukan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) LSPR Climate Change Championship Club (LSPR 4C).

Mahasiswa London School of Public Relation (LSPR) yang tergabung dalam Climate Change Championship Club (LSPR 4C) menggelar Oxymob di Bunderan HI, Jakarta, Minggu (15/03). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Mahasiswa London School of Public Relation (LSPR) yang tergabung dalam Climate Change Championship Club (LSPR 4C) menggelar Oxymob di Bunderan HI, Jakarta, Minggu (15/03). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Reynold Antony, President LSPR 4C 2014–2015, menyatakan, melalui rangkaian kegiatan yang ketiga kalinya ini, LSPR 4C melakukan flashmob pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) dengan melibatkan puluhan mahasiswa LSPR. Flashmob ini bertujuan menarik perhatian masyarakat dan mengajak mereka untuk lebih peduli terhadap hutan Indonesia.

“Indonesia ini kan paru-parunya bumi dengan begitu luasnya hutan yang dipunya. Ayolah kita jaga bersama-sama,” katanya saat ditemui oleh Greeners di Jakarta, Minggu (15/03).

Kampanye dengan Oxymob yang dilakukan oleh mahasiswa LSPR 4C bertema “OXYGEN, The only thing better than the NextGen is Oxygen." Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Kampanye dengan Oxymob yang dilakukan oleh mahasiswa LSPR 4C bertema “OXYGEN, The only thing better than the NextGen is Oxygen.” Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Sebagai informasi, Oxymob merupakan rangkaian ketiga dari lima rangkaian kegiatan LSPR 4C pada bulan Maret yang selalu diperingati sebagai bulan lingkungan atau “Environment Month”.

Menurut Reynold, seluruh kegiatan “Environment Month” tersebut ditujukan untuk pelestarian lingkungan dan membangkitkan semangat mahasiswa dan masyarakat Indonesia, khususnya warga Jakarta, untuk mengurangi dampak pemanasan global yang dimulai dari diri sendiri.

Sebelumnya, Gardening Class telah dilaksanakan pada tanggal 7 Maret, dan Tumbler Day pada tanggal 12 Maret. Hari ini (15/03), LSPR 4C melakukan aksi Oxymob yang dilakukan di Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di Bunderan HI, Jakarta. Selanjutnya, akan ada OXYEAN Plant, serta acara puncak, yaitu OXYBIKE yang akan melibatkan beberapa komunitas sepeda di Jakarta.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/oxymob-lspr-ajak-masyarakat-peduli-hutan-indonesia/feed/ 0
Visi Misi Capres Belum Sentuh Krisis Ekologi https://www.greeners.co/berita/visi-misi-capres-belum-menjawab-masalah-krisis-ekologi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=visi-misi-capres-belum-menjawab-masalah-krisis-ekologi https://www.greeners.co/berita/visi-misi-capres-belum-menjawab-masalah-krisis-ekologi/#respond Fri, 04 Jul 2014 02:00:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5088 Jakarta (Greeners) – Hiruk pikuk ramainya pesta demokrasi empat tahunan yang akan digelar pada 9 Juli 2014 mendatang membuat sejumlah lembaga pelestari lingkungan hidup menggelar diskusi bertemakan ‘Pasca Pilpres 2014 […]]]>

Jakarta (Greeners) – Hiruk pikuk ramainya pesta demokrasi empat tahunan yang akan digelar pada 9 Juli 2014 mendatang membuat sejumlah lembaga pelestari lingkungan hidup menggelar diskusi bertemakan ‘Pasca Pilpres 2014 : Masa Depan Lingkungan Hidup Indonesia’.

Diskusi yang dihadiri oleh Greenpeace Indonesia, Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ), dan perwakilan tim sukses dari kedua pasang calon presiden dan wakil presiden ini, membahas tentang posisi kelestarian lingkungan hidup Indonesia dari pandangan kedua capres sesuai dengan visi dan misi yang telah dicanangkan.

“Saya senang bisa hadir di sini karena kami dari kubu pak Jokowi-JK sangat peduli terhadap isu lingkungan dan telah lama melakukan penelitian bersama para praktisi lingkungan hidup,” ujar Wahyu Widodo, perwakilan tim sukses Joko Widodo -Jusuf Kalla saat membuka acara diskusi yang diselenggarakan di Gallery Cafe Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (03/07).

Wahyu mengatakan bahwa kelestarian lingkungan hidup di Indonesia banyak juga dipengaruhi oleh tindakan-tindakan tidak terpuji oleh penghuninya. Seperti korupsi yang dilakukan oleh lapisan pemerintahnya dan mental buruk yang harus direvolusi demi kelestarian lingkungan hidup Indonesia.

Di lain sisi, Syamsul Bahri selaku tim sukses dari Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, mengatakan permasalahan lingkungan yang ada di Indonesia lebih dikarenakan terjadinya degradasi lahan, punahnya plasma nutfah serta kepedulian masyarakat yang semakin menurun terhadap lingkungan.

Syamsul juga menyatakan bahwa pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhaan ekonomi saja cenderung bersifat eksploitatif dan konsekuensi yang dihasilkan pada alam akan berdampak negatif terhadap kualitas sumber daya alam itu sendiri.

“Solusi dari kami, yaitu akan melakukan perbaikan pada 77 hektar hutan Indonesia dan melakukan negosiasi di dalam dan luar negri untuk kepentingan hutan Indonesia,” jelas Syamsul.

Menanggapi pemaparan dari kedua tim sukses tersebut, Kepala Greenpeace Indonesia, Longgena Ginting malah mengaku khawatir karena perlindungan lingkungan nampaknya masih belum menjadi prioritas penting dalam kebijakan pemerintah yang akan datang.

“Kita bisa melihat dengan jelas program dari visi-misi kedua pasangan capres masih akan mengandalkan pengembangan industri ekstraktif dan sumber daya alam untuk menopang pertumbuhan ekonomi kita. Namun, sayang sekali keduanya tidak menyebut-nyebut masalah krisis ekologi yang kita hadapi saat ini,” terang Longgena.

Longgena menjelaskan prinsip-prinsip keberlanjutan dan keadilan lingkungan yang vital dalam strategi pemanfaatan sumber daya alam juga tidak tergambar dengan jelas, baik dari pemaparan kedua tim sukses tersebut maupun dari visi misi kedua capres dan cawapres.

“Dengan kondisi dan kecepatan kerusakan lingkungan hidup kita saat ini, melanjutkan praktek eksploitasi sumberdaya seperti biasa akan membawa kita pada krisis lingkungan yang lebih berat lagi pada masa-masa yang akan datang, dan kita perlu khawatir soal ini,” tutupnya.

(Danny Kosasih)

]]>
https://www.greeners.co/berita/visi-misi-capres-belum-menjawab-masalah-krisis-ekologi/feed/ 0