hutan mangrove - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/hutan-mangrove/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 13 Oct 2023 17:39:22 +0000 id hourly 1 AIS Forum Ajak Nelayan Lokal Suarakan Pentingnya Preservasi Sektor Biru https://www.greeners.co/aksi/ais-forum-ajak-nelayan-lokal-suarakan-pentingnya-preservasi-sektor-biru/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ais-forum-ajak-nelayan-lokal-suarakan-pentingnya-preservasi-sektor-biru https://www.greeners.co/aksi/ais-forum-ajak-nelayan-lokal-suarakan-pentingnya-preservasi-sektor-biru/#respond Fri, 13 Oct 2023 02:00:47 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=41971 Bali (Greeners) – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Archipelagic and Island States (AIS) Forum mengajak nelayan lokal dalam aksi Mangrove Clean Up and Planting di Kawasan Dam Suwung Batu Lumbang, Bali. […]]]>

Bali (Greeners) – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Archipelagic and Island States (AIS) Forum mengajak nelayan lokal dalam aksi Mangrove Clean Up and Planting di Kawasan Dam Suwung Batu Lumbang, Bali. Aksi tersebut dalam rangka menyemarakkan perhelatan KTT AIS Forum.

Para nelayan yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Mina Werdhi Batu Lumbang menggandeng para generasi muda pencinta lingkungan untuk melakukan gerakan ‘Mangrove Clean Up Kayak Party’.

BACA JUGA: Sambut KTT AIS Forum, Ratusan Siswa Gelar Aksi “Claim The Future”

Pada gerakan tersebut, setidaknya 50 partisipan mengendarai kayak menyusuri hutan mangrove untuk menanam 500 bibit mangrove dengan jenis Rizophora mucronata. Selain itu, mereka juga membersihkan sampah-sampah yang tersangkut di sepanjang area hutan mangrove.

“Tujuan utamanya adalah mempertahankan dan menambah luasan kawasan hutan mangrove serta mengurangi sampah plastik yang berdampak buruk bagi ekosistem hutan mangrove,” ujar Ketua KUB Nelayan Segara Guna Batu Lumbang, I Wayan Kona Antara.

AIS Forum mengajak nelayan lokal dalam aksi Mangrove Clean Up and Planting di Kawasan Dam Suwung Batu Lumbang, Bali. Foto: AIS Forum

AIS Forum mengajak nelayan lokal dalam aksi Mangrove Clean Up and Planting di Kawasan Dam Suwung Batu Lumbang, Bali. Foto: AIS Forum

Ekosistem Hutan Mangrove Berpengaruh ke Perekonomian Nelayan

I Wayan Kona Antara juga menyoroti pentingnya keberadaan ekosistem hutan mangrove bagi perekonomian nelayan lokal. Apalagi, wilayah kerja dari para nelayan di Batu Lumbang memiliki teluk yang ada mangrove-nya. Menurut dia, ada potensi ekonomi dari mangrove tersebut.

“Dari mangrove bisa kita dapatkan daun yang bisa diolah jadi aneka makanan dan juga minuman. Selain itu, potensi dari hutan mangrove ini juga bisa berkembang jadi ekowisata. Jadi, kami jauh lebih punya varian ekonomi dari nelayan-nelayan yang berhadapan langsung dengan laut lepas,” ungkapnya.

BACA JUGA: Menggali Keunggulan Kehadiran Mangrove di Indonesia

Ia juga menyampaikan sumber daya perikanan di kawasan hutan mangrove memiliki potensi yang cukup besar. Dengan memastikaan kebersihan lokasi mangrove, sumber daya yang ada bisa menopang kehidupan masyarakat.

“Kami bertekad menjaga lingkungan ini, sehingga sumber perikanan itu tumbuh dan kami rasakan sekarang. Di samping itu, kami juga merawat hutan mangrove ini,” ujarnya.

Para partisipan menyusuri hutan mangrove dengan menggunakan kayak dan membersihkan sampah-sampah yang berserakan di sepanjang rutenya. Di akhir sesi, mereka menanam 150 bibit mangrove.

 

Penulis: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ais-forum-ajak-nelayan-lokal-suarakan-pentingnya-preservasi-sektor-biru/feed/ 0
Xylocarpus Granatum, Spesies Bakau yang Kaya Manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/xylocarpus-granatum-spesies-bakau-yang-kaya-manfaat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=xylocarpus-granatum-spesies-bakau-yang-kaya-manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/xylocarpus-granatum-spesies-bakau-yang-kaya-manfaat/#respond Thu, 07 Oct 2021 03:00:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=33667 Xylocarpus granatum (Cannonball Mangrove) adalah sejenis bakau yang paling umum pakar temukan di dunia. Peta persebarannya terbilang sangat luas karena dapat kita jumpai mulai dari benua Afrika, Asia, Australasia sampai […]]]>

Xylocarpus granatum (Cannonball Mangrove) adalah sejenis bakau yang paling umum pakar temukan di dunia. Peta persebarannya terbilang sangat luas karena dapat kita jumpai mulai dari benua Afrika, Asia, Australasia sampai Kepulauan Pasifik.

Sebagian besar kawasan pantai Indonesia memang didominasi oleh hutan mangrove. Area tersebut biasanya terdiri dari berbagai jenis flora, salah satunya cannonball mangrove.

Hampir semua tanaman mangrove sejatinya ahli temukan di nusantara. Selain Xylocarpus granatum, spesies X. moluccensis dan X. rumphii juga pakar jumpai di berbagai daerah.

Ketiganya merupakan tanaman asli wilayah tropis dan subtropis. Mereka tergabung dalam kelas Magnoliopsida dan famili Meliaceae, dengan klasifikasi ordo tumbuhan Sapindales.

Karakterisitik dan Ciri-Ciri Xylocarpus Granatum

Tanaman bakau Xylocarpus granatum dapat tumbuh setinggi 10-20 cm. Ia memiliki akar papan yang melebar ke samping, meliuk-liuk hingga membentuk rongga atau celahan.

Saat usia tua, batang pohon ini terlihat memiliki sejumlah lubang. Kulit kayunya berwarna cokelat muda kekukingan, mempunyai permukaan yang tipis hingga rentan mengelupas.

Daunnya tebal dan tampak berpasangan dengan ujung membundar. Ukuran daun berkisar 4,5-17 cm x 2,5-9 cm, serta memiliki bentuk elip hingga bulat telur yang terbalik.

Tidak cuma itu, Xylocarpus granatum juga mempunyai tandan daun sepanjang 2-7 cm. Munculnya dari ketiak tangkai daun dan tangkai bunga, yang memiliki panjang 4-8 mm.

Bunga pohon tersebut terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. Dalam satu tangkai umumnya terdapat 8-20 helai bunga dengan formasi bergerombol atau agak acak.

Buah cannonball mangrove disebut sebagai Puzzle Fruit. Bentuknya bulat seberat 1-2 kg, berkulit hijau kecokelatan, serta tergantung pada bagian dahan di dekat permukaan tanah.

Baca juga: Pedada Merah, Mangrove yang Tahan Hidup di Air Tawar

Distribusi dan Habitat Bakau Xylocarpus Granatum

Di Tanah Air, ekosistem bakau Xylocarpus granatum menyebar ke hampir seluruh wilayah, meliputi Pulau Jawa, Madura, Bali, Kepulauan Karimun Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi.

Pohon buah berbiji acak tersebut juga bisa kita temukan di Kalimantan, Maluku, Sumba dan Papua. Karena itu, jangan heran jika julukannya terhitung beragam di sejumlah daerah.

Banang-Banang, Nyirih, Siri, Nilyh, Nyirih Bunga, Nyuru, Jombok Gading, Buli, Buli Hitam, Inggili, Kira-Kira, Nipa, Niumeri Kara, Mokmof, Kabau, dan Niri adalah nama lokal spesies ini.

Selain cannonball mangrove, masyarakat dunia bahkan menyebut jenis bakau Xylocarpus granatum sebagai Cedar Mangrove atau Puzzlenut Tree – merujuk pada bijinya yang acak.

Secara ekologi bakau berbiak di tepi sungai pasang surut, serta daerah bersalinitas rendah agak pedalaman. Ia juga ahli temukan tumbuh di lingkungan payau yang tidak terlalu asin.

Menurut IUCN Red List, status konservasi puzzlenut tree sendiri berisiko rendah atau Least Concern. Meski begitu, tren populasinya makin menurun akibat masifnya alih fungsi lahan.

Kandungan dan Manfaat Xylocarpus Granatum

Kulit kayu, buah dan biji Xylocarpus granatum tenyata memiliki segudang manfaat. Flora ini menyimpan beragam nutrisi, sehingga sering masyarakat gunakan sebagai obat tradisional.

Kandungan protein niri bahkan lebih besar dibandingkan sebagian spesies bakau. Sedangkan zat asam askorbatnya, ahli ketahui lebih tinggi daripada tumbuhan Lenggadai atau Sundari.

Melansir berbagai sumber, kulit kayu tersebut pakar sinyalir kaya akan zat tanin. Material ini jamak publik manfaatkan dalam kebutuhan industri, seperti penguat tali dan kain pengering.

Pada dasarnya kayu Xylocarpus granatum tergolong kuat dan tahan lama. Namun pohonnya sendiri cenderung membengkok dan berlubang, sehingga hanya dijual dalam potongan kecil.

Kayu-kayu tersebut khlayak olah sebagai gagang perkakas atau kerajinan. Ini juga bisa kita manfaatkan sebagai kayu bakar, meski relatif lebih cepat hangus daripada kayu lainnya.

Itu dia beberapa manfaat cannonball mangrove bagi kehidupan manusia. Walau berstatus risiko rendah, kelestarian flora penjaga ekosistem perairan ini penting untuk kita jaga.

Baca juga: Menggali Keunggulan Kehadiran Mangrove di Indonesia

Taksonomi atau Klasifikasi Tanaman Bakau Niri

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/xylocarpus-granatum-spesies-bakau-yang-kaya-manfaat/feed/ 0
Pertambahan Populasi Penduduk Ancam Ekosistem Mangrove https://www.greeners.co/berita/populasi-penduduk-ancam-ekosistem-mangrove/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=populasi-penduduk-ancam-ekosistem-mangrove https://www.greeners.co/berita/populasi-penduduk-ancam-ekosistem-mangrove/#respond Wed, 06 Jan 2021 03:15:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=30887 Indonesia merupakan salah satu negara dengan luas hutan mangrove terbesar di dunia. Namun Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sejak tahun 1980 hingga 2020 luar hutan mangrove di Indonesia telah berkurang hingga 6 juta hektar dari 9,36 juta hektar (1980) menjadi 3,31 hektar (2020). Dari jumlah yang ada saat ini, 80,74 persennya berstatus baik dan 19,26 persen berstatus kritis.]]>

Indonesia merupakan salah satu negara dengan luas hutan mangrove terbesar di dunia. Namun, berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sejak tahun 1980 hingga 2020 luas hutan mangrove telah berkurang hingga 6 juta hektar. Dari 9,36 juta hektar (1980) menjadi 3,31 hektar (2020). Menilik jumlah yang ada saat ini, 80,74 persen berstatus baik dan 19,26 persen kritis.

Jakarta (Greeners) – Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Rehabilitasi Hutan, KLHK, Hudoyo, menyebut penurunan luas hutan mangrove merupakan keniscayaan.

Menurutnya, pertambahan populasi penduduk di Indonesia mau tidak mau mengurangi luas lahan bakau yang sifat ruangnya tetap.

Pertambahan populasi, lanjut dia, melahirkan aktivitas yang mengancam ekosistem lahan mangrove. Aktivitas tersebut antara lain alih fungsi lahan menjadi pemukiman dan pabrik.

“Sebab ruang kita sama, lahan (mangrove) kita tetap. Pertambahan penduduk sejak tahun 90-an sampai sekarang naik dua kali lipat. Jumlah tersebut harus ditampung dengan ruang yang sama. Salah satunya yang paling mudah adalah kawasan hutan,” ujar Hudoyo dalam acara Green Talk: Menyelamatkan Hutan Mangrove, Senin, (4/1/2021).

Pemerintah Ajak Semua Pihak Jaga Hutan Mangrove

Hudoyo menilai, pemerintah berkomitmen mencegah berkurangnya luas hutan mangrove di Bumi Pertiwi, meski populasi penduduk terus bertambah.

Salah satu program yang pemerintah tawarkan, lanjut Hudoyo, antara lain memaksimalkan hutan mangrove yang ada saat ini sebagai destinasi ekowisata.

Selain itu, pihaknya juga akan menambah kawasan hutan mangrove melalui penanaman pohon serta restorasi hutan mangrove yang rusak.

Dia menyadari, perlu kolaborasi semua pihak untuk menyelamatkan ekosistem mangrove di Indonesia. Hudoyo mengklaim pemerintah telah menggandeng pegiat lingkungan untuk terlibat dalam program restorasi maupun penanaman mangrove. Adapun metodenya menyesuaikan dengan kondisi spesifik di lapangan.

“Untuk 2020, ada dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara Rp 436 miliar untuk seluruh Indonesia. Target penanaman 16.000 hektar dengan realisasi lebih dari 16.300 hektar,” jelasnya.

mangrove

Perlu kolaborasi semua pihak untuk menyelamatkan ekosistem mangrove di Indonesia. Foto: Shutterstock.

Sinergi Semua Pihak Percepat Restorasi Lahan Mangrove

Sementara itu, pada acara yang sama, Direktur Program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Muhammad Ilman, menilai upaya untuk merestorasi lahan mangove masih lebih lamban dari laju kerusakannya.

Meski begitu, lanjutnya, kepedulian masyarakat terhadap kelestarian hutan mangrove semakin meningkat. Menurutnya, hal tersebut bisa menjadi modal agar program restorasi mangrove semakin baik lagi.

Dia juga mengakui tantangan merestorasi mangrove tidak bisa selesai oleh satu lembaga saja. Untuk itu, pihaknya menginisiasi pembentukan Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) sebagai wadah kolaborasi semua pihak mulai dari pemerintah, swasta, hingga masyarakat.

Ilham menuturkan, aliansi ini merestorasi ekosistem hutan bakau di daerah tertentu sebagai percontohan program restorasi mangrove di Indonesia.

“Selama ini banyak pihak swasta berminat di mangove. Mereka bergerak sendiri-sendiri dengan jangka waktu yang pendek. Jadi, kenapa kita tidak bersama-bersama?” ujar Ilham.

Pakar: Hutan Bakau Mengandung Potensi Ekonomi Berskala Besar

Lebih jauh, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Daniel Murdiyarso, mengingatkan bahwa mangrove merupakan bagian penting dalam adaptasi perubahan iklim.

Dalam kesempatan yang sama, Daniel mereken hutan bakau bisa menjadi sumber ekonomi dengan skala besar.

Menurutnya, investasi di sektor mangrove saat ini bisa mendatangkan keuntungan delapan kali lipat dalam kurun waktu satu dekade.

Daniel menyebutkan beberapa dampak positif dari kelestarian lahan mangrove dalam bidang ekonomi dan geografi.

  • Ekonomi

Dari sektor perikanan, mangrove bisa menambah produksi ikan. Hutan bakau melindungi telur-telur ikan, menjaga mereka hingga menetas.

  • Geografi

Mangrove merupakan pengembang lahan melalui proses sedimentasi. Laju sedimentasi mangrove yaitu 5-7 milimeter per tahun. Angka ini lebih cepat dari laju peningkatan permukaan laut yaitu 2-3 milimeter per tahun.

“Ekonomi terbesar ketika berbicara tentang penghidupan masyarakat. Dengan kembalinya fungsi ekosistem ini, masyarakat yang terlibat dalam restorasi akan kembali pulih penghidupannya,” ujar Daniel.

Penulis: Muhamad Marup

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/berita/populasi-penduduk-ancam-ekosistem-mangrove/feed/ 0
Konsultasi Publik Tahura Ngurah Rai Bali Tidak Berjalan Mulus https://www.greeners.co/berita/konsultasi-publik-tahura-ngurah-rai-bali-tidak-berjalan-mulus/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=konsultasi-publik-tahura-ngurah-rai-bali-tidak-berjalan-mulus https://www.greeners.co/berita/konsultasi-publik-tahura-ngurah-rai-bali-tidak-berjalan-mulus/#respond Fri, 18 Sep 2015 05:42:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11148 Jakarta (Greeners) – Dinas Kehutanan (Dishut) Bali akhirnya menggelar konsultasi publik tentang evaluasi Rencana Pengelolaan Tahura Ngurah Rai terkait revisi penataan blok di Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah I. Namun […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dinas Kehutanan (Dishut) Bali akhirnya menggelar konsultasi publik tentang evaluasi Rencana Pengelolaan Tahura Ngurah Rai terkait revisi penataan blok di Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah I. Namun sayangnya, konsultasi tersebut tidak berjalan mulus karena terkesan dilakukan secara terburu-buru.

Suriadi Darmoko, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali, menduga bahwa rencana perubahan blok di kawasan tahura berpotensi ditunggangi oleh “penumpang gelap”. Hal ini ia nyatakan setelah melihat pemaparan presentasi dari tim evaluasi yang mendukung pemanfaatan jasa lingkungan, pengembangan pariwisata alam, dan rekreasi.

“Saya sepakat jika Kuta ingin mencegah banjir, tapi jangan sampai kemudian keinginan warga Kuta ini ditunggangi oleh pemerintah bahkan investor. Artinya, saya tidak melihat bahwa perubahan kawasan pemanfaatan blok ini tujuannya hanya murni untuk normalisasi, tapi saya menduga ada penumpang gelap,” paparnya saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Kamis (17/09).

Sebelum menyampaikan pandangannya pada konsultasi publik tersebut, Suriadi juga menegaskan bahwa kehadiran Walhi Bali semata-mata hanya untuk menghormati undangan dari Dinas Kehutanan tetapi tidak datang untuk menyepakati apapun di dalam konsultasi publik tersebut.

Menurutnya, Walhi Bali justru menyayangkan undangan konsultasi publik ini yang terkesan sengaja dibuat mendadak karena Walhi Bali baru menerima undangan satu hari sebelum pertemuan berlangsung. Walhi Bali juga menyesalkan proses konsultasi publik ini yang tidak terbuka sejak awal.

“Konsultasi publik ini menurut dugaan saya dimanipulasi karena Prof. Merit (anggota tim evaluasi, red.) menyampaikan dia tidak pernah membahas yang tukar guling dengan Area Penggunaan Lain (APL). Tapi kemudian dikesimpulannya dia menyampaikan agar Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan segera memproses. Jadi ini konsultasi apa? Apakah ini untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat Kuta yang ingin normalisasi Tukad Mati atau proses ini digunakan secara terselubung untuk melegitimasi proses perubahan APL?” katanya.

Suriadi menduga, tukar guling kawasan Tahura akan digunakan untuk mengakomodir rencana reklamasi Teluk Benoa. Pasalnya, rencana tersebut tumpang tindih dengan kawasan hutan. Artinya, Menteri Kelautan dan Perikanan di era SBY mengeluarkan izin reklamasi, tapi berada di kawasan hutan yang bukan kewenangannya.

Sebagai informasi, penataan blok ini sendiri mencuat setelah Dishut Bali menghentikan proyek long storage untuk penanggulangan banjir di Tukad Mati. Proyek itu disebut melanggar blok perlindungan Tahura, sehingga untuk melanjutkan perlu adanya revisi blok dari perlindungan menjadi pemanfaatan.

Sayangnya konsultasi publik justru tidak mengerucut membahas soal Tukad Mati. Anggota Tim Evaluasi Prof. I Nyoman Merit justru lebih banyak menyinggung masalah tukar-menukar kawasan tahura.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/konsultasi-publik-tahura-ngurah-rai-bali-tidak-berjalan-mulus/feed/ 0
Pusat Studi Mangrove, Harapan Pelestarian Lingkungan di Kawasan Pesisir https://www.greeners.co/berita/pusat-studi-mangrove-harapan-pelestarian-lingkungan-di-kawasan-pesisir/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pusat-studi-mangrove-harapan-pelestarian-lingkungan-di-kawasan-pesisir https://www.greeners.co/berita/pusat-studi-mangrove-harapan-pelestarian-lingkungan-di-kawasan-pesisir/#respond Mon, 05 Jan 2015 07:30:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6989 Pasuruan (Greeners) – Secercah harapan muncul ketika berkunjung ke Pusat Studi Mangrove yang dibangun Kementerian Kelautan dan Perikanan di pesisir Desa Pulokerto, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Pusat studi tanaman bakau […]]]>

Pasuruan (Greeners) – Secercah harapan muncul ketika berkunjung ke Pusat Studi Mangrove yang dibangun Kementerian Kelautan dan Perikanan di pesisir Desa Pulokerto, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Pusat studi tanaman bakau pertama di dunia ini dirancang menjadi pusat penyadaran masyarakat betapa pentingnya menjaga ekosistem pantai. Lahan seluas 22,5 hektare tersebut dijadikan pelatihan bagi masyarakat bagaimana bertambak dengan mengutamakan pelestarian lingkungan.

“Pasuruan memiliki potensi luar biasa di sektor pesisir. Daerah ini memiliki garis pantai yang panjang dan kualitas tanah yang baik untuk hutan bakau. Atas dasar itu, Pasuruan dipilih sebagai lokasi Pusat Studi Mangrove. Ini persembahan dari Desa Pulokerto bagi dunia karena pusat studi ini yang pertama ada di dunia,” kata Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Suseno Sukoyono, Rabu (31/12/2014) lalu.

Menurut Suseno, pusat studi ini juga dijadikan stasiun praktek lapangan Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo. “Pusat studi ini digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam upaya mendukung pengelolaan sumber daya pesisir dan laut secara terpadu dan berkelanjutan. Pengelolaan sumber daya pesisir harus memperhatikan keseimbangan habitat atau ekosistem tempat hidup ikan serta interaksi dengan organisme akuatik lainnya. Ini yang pertama di dunia,” terang Suseno.

Pusat Studi Mangrove di Pasuruan yang dirintis sejak tahun 2006 menjadi pusat studi mangrove pertama di dunia. Kawasan ini memadukan budidaya mangrove dan tambak sebagai upaya melatih masyarakat bertambak dengan mengutamakan pelestarian lingkungan. Foto: greeners.co

Pusat Studi Mangrove di Pasuruan yang dirintis sejak tahun 2006 menjadi pusat studi mangrove pertama di dunia. Kawasan ini memadukan budidaya mangrove dan tambak sebagai upaya melatih masyarakat bertambak dengan mengutamakan pelestarian lingkungan. Foto: greeners.co

Pusat studi yang sudah dirintis sejak tahun 2006 dan diresmikan pada Juli 2014 ini memiliki luas 22,5 hektare, meliputi kawasan budidaya mangrove, 24 petak tambak alas, serta kawasan penyangga yang ditanami mangrove. Di areal ini pula tertanam 100.000 pohon mangrove berusia 3-7 tahun meliputi 8 jenis dominan dan 10 jenis minor dengan ketinggian 2-6 meter.

“24 petak tambak itu yang menjadi lokasi uji coba. Mulai dari tambak yang tak ditanami mangrove, tambak yang ditanami mangrove tapi jumlahnya sedikit, hingga tambak yang ditanami mangrove dalam jumlah besar. Kemudian kita bandingkan hasil produksinya,” terang dia.

Dengan ditanami mangrove, lanjut dia, tambak akan semakin produktif. Semakin banyak mangrove yang ditanam di tambak, kualitas air dan udara akan semakin baik untuk ikan. Selain jadi tempat bertelur, mangrove juga menyediakan makanan alami.

“Dari sisi ekonomi ini akan membantu petambak,” katanya.

Selain nilai ekonomis, penanaman mangrove akan menjaga kelestarian ekosistem laut dan mencegah bencana karena memiliki akar yang kuat dan bisa memecah ombak besar yang datang. Sementara dari sisi sosial, kawasan hutan mangrove akan menjadi identitas yang bisa dibanggakan, termasuk bisa jadi lokasi ekowisata dan eduwisata.

Direktur Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, Endang Suhaedy, mengatakan, pusat studi mangrove tersebut sudah berhasil mengembangkan tambak dengan pola 50 banding 50. “Maksudnya, 50 persen mangrove dan 50 persen tambak. Hasilnya sangat menggembirakan,” kata dia.

Selama ini, kata Endang, tambak warga masih menggunakan pola 10 persen mangrove dan 90 persen tambak. Sedangkan pihak perhutani memakai pola 20 persen mangrove dan 80 persen tambak. “Dengan tenaga penyuluh, pola 50 banding 50 ini akan kita sampaikan ke warga lainnya. Bagaimanapun, itu butuh kerja keras,” terangnya.

Endang menerangkan, selain keuntungan ekomoni pada hasil produksi tambak, keuntungan ekologi dan keuntungan sosial, mangrove juga punya nilai ekonomi lainnya melalui produk olahan, diantaranya berbagai macam sirup, jajanan basah, kripik, hingga batik dengan pewarna mangrove.

(G12)

]]>
https://www.greeners.co/berita/pusat-studi-mangrove-harapan-pelestarian-lingkungan-di-kawasan-pesisir/feed/ 0