ICCEFE 2016 - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/iccefe-2016/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 05 Jul 2016 05:07:50 +0000 id hourly 1 Reza Rahadian, Akses Air Bersih Bagi Warga Napu https://www.greeners.co/gaya-hidup/reza-rahadian-akses-air-bersih-bagi-warga-napu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=reza-rahadian-akses-air-bersih-bagi-warga-napu https://www.greeners.co/gaya-hidup/reza-rahadian-akses-air-bersih-bagi-warga-napu/#respond Sun, 17 Apr 2016 07:41:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=13473 Reza Rahadian didaulat menjadi Spoke Person untuk program “Bring Water for Life” yang diselenggarakan oleh Badan Dunia untuk Program Pembangunan (UNDP) di Indonesia.]]>

Jakarta (Greeners) – Reza Rahadian memiliki kesibukan baru. Ia, bersama aktris Eva Celia, didaulat menjadi Spoke Person untuk program “Bring Water For Life” yang diselenggarakan oleh Badan Dunia untuk Program Pembangunan (UNDP) di Indonesia. Ia pun tak segan tampil dalam satu sesi di acara Indonesia Climate Change Education Forum & Expo (ICCEFE) 2016 yang berlangsung di JCC Senayan, untuk menjelaskan program penyediaan air bersih yang dipercayakan kepadanya itu.

“Saya bantu UNDP baru sekitar satu minggu lalu. Mereka menghubungi saya,” ujar aktor yang pernah meraih Piala Citra sebagai Aktor Terbaik ini, Jakarta, Sabtu (16/04).

Dalam program penyediaan air bersih tersebut, Reza diminta untuk turut membantu pengadaan pompa air bertenaga surya atau solar system water pump di Sumba Timur. Karena, warga di sana harus menggali tanah sedalam 70 meter untuk mendapatkan air bersih.

Oleh karena itu, Reza mengajak agar setiap orang turut membantu warga yang berada di daerah Napu, Sumba Timur yang mengalami krisis air bersih. Caranya, lanjutnya, dengan turut memberikan donasi melalui laman https://kitabisa.com/bringwaterforlife.

Tampilan laman "Bring Water For Life" di situs kitabisa.com. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Tampilan laman “Bring Water For Life” di situs kitabisa.com. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Untuk menyediakan akses air bersih bagi sekitar 500 warga yang berada di daerah Napu, diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp 350 juta. Namun hingga Sabtu (16/04), dana yang terkumpul baru terpenuhi Rp 59.253.663 atau sekitar 17 persen dari total yang dibutuhkan.

Reza yang pernah tinggal di Sumba selama tiga bulan untuk syuting film Pendekar Tongkat Emas, juga turut berupaya menggalang dana melalui teman, sahabat dan rekan sesama pekerja seni. Dalam waktu empat hari, ia mengaku telah mengumpulkan dana sekitar Rp 43 juta untuk ditambahkan dalam dana donasi.

Sebagai campaigner, Reza tidak hanya bertugas menggalang dana dalam satu tahun masa kontraknya dengan UNDP Indonesia. Ia juga mensosialisasikan program dan berkunjung langsung ke daerah-daerah yang menjadi target dalam program UNDP. Ada 17 fokus yang menjadi perhatian program tersebut, diantaranya air bersih, lingkungan hidup dan pendidikan.

Reza mengaku bahwa tahun 2012 menjadi turning point atau titik balik kesadaran baginya tentang air. Mengenai hal ini, ia mengaku bahwa sebelumnya dirinya sama seperti orang lain yang kerap menyia-nyiakan air, seperti membiarkan keran menyala saat menyikat gigi maupun memakai air dalam jumlah banyak ketika mandi.

“Saya tinggal di Jakarta dimana untuk mendapatkan air mudah, sementara di daerah lain susah air,” imbuhnya.

Sebelumnya, satu perjalan untuk keperluan film bersama Sutradara Garin Nugroho juga menjadi pengalaman yang membekas diingatannya. Di daerah itu, suplai listrik hanya tiga jam dalam satu hari dan tidak ada air bersih. Ia pun terpaksa mencuci bajunya dengan air laut.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/reza-rahadian-akses-air-bersih-bagi-warga-napu/feed/ 0
Tas “Laminating” krésékA https://www.greeners.co/gaya-hidup/tas-laminating-kreseka/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tas-laminating-kreseka https://www.greeners.co/gaya-hidup/tas-laminating-kreseka/#respond Sat, 16 Apr 2016 12:57:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=13468 Selalu ada cara untuk memanfaatkan sampah plastik. Kira-kira prinsip ini yang diterapkan oleh Robertus Junaedi. Karya kerajinan tangannya tidak hanya ia pamerkan di Ibukota Jakarta, melainkan hingga ke Bremen, Jerman.]]>

Jakarta (Greeners) – Selalu ada cara untuk memanfaatkan sampah plastik. Kira-kira prinsip ini yang diterapkan oleh Robertus Junaedi dalam menjalankan usaha kerajinan tangan miliknya yang berlokasi di Bantul, Yogyakarta. Pria yang akrab disapa Junaedi ini terpikir untuk mengolah limbah plastik menjadi berbagai bentuk pelengkap fesyen seperti tas, topi, rompi dan dompet. Karyanya tidak hanya ia pamerkan di Ibukota Jakarta, melainkan hingga ke Bremen, Jerman.

Junaedi memulai usahanya pada tahun 1998. Ia bersama istrinya, Rita Margareta, membentuk CV Mekar Abadi dengan keyakinan bahwa sampah memiliki nilai ekonomi. Dengan mengusung label “krésékA”, pria berusia 53 tahun ini menciptakan berbagai produk tas tangan wanita dengan desain simpel namun terlihat elegan.

“Masalah ide, kami semua adalah penggiat lingkungan. Untuk memberikan ajakan kepada masyarakat, kita harus mencari inovasi-inovasi terkait pemanfaatan sampah itu sendiri. Kita bisa menggali dari manapun juga dan di sisi lain kita juga bisa berkreasi dengan bahan-bahan di sekitar kita,” ujarnya kepada Greeners saat ditemui di acara Indonesia Climate Change Education Forum & Expo (ICCEFE) 2016 pada Jumat (15/04). Ia menjadi salah satu peserta yang memamerkan karya dari pengolahan limbah plastik.

Beberapa produk tas krésékA (atas dan kanan bawah) dan beberapa kerajinan tangan dari limbah plastik (kiri bawah) yang dipamerkan Junaedi dalam acara ICCEFE 2016 yang berlangsung pada 14-17 April 2016 di JCC Senayan, Jakarta. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Beberapa produk tas krésékA (atas dan kanan bawah) dan beberapa kerajinan tangan dari limbah plastik (kiri bawah) yang dipamerkan Junaedi dalam acara ICCEFE 2016 yang berlangsung pada 14-17 April 2016 di JCC Senayan, Jakarta. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Apabila kebanyakan sampah plastik kemasan diolah secara utuh menjadi berbagai produk sandang, tidak demikian dengan tas krésékA. Tas krésékA diproduksi dalam beberapa tahapan untuk mendapatkan material dan warna tertentu sebelum diolah menjadi produk jadi. Junaedi menyatakan bahwa proses laminating menjadi inspirasi awal pembuatan tas tangan tersebut.

“Saya otodidak mempelajari ini. Untuk pembuatan tas plastik kresek, saya terinspirasi dari laminating ijazah atau apapun. Laminating itu bahan dasarnya plastik dan melalui proses pemanasan. Untuk membuat tas, lapisannya tergantung model tas yang dibuat,” katanya.

Lapisan yang dimaksud Junaedi adalah lembaran plastik yang dihasilkan dari beberapa kantong plastik kresek bekas yang ditumpuk menjadi satu dan di pres dengan suhu tertentu hingga menyatu (seperti dalam proses laminating).

Menurut Junaedi, untuk membuat satu tas tangan diperlukan delapan lapis atau sekitar 60 lembar kantong kresek. Sementara untuk dompet, diperlukan sekitar 4-6 lapis kresek yang sudah di pres.

Junaedi bekerjasama dengan bank sampah yang ada di daerah Yogyakarta untuk mendapatkan bahan baku. “Kebetulan kami mempunyai jejaring pengelola sampah mandiri se-DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) dimana masing-masing kabupaten/kota juga ada jejaringnya. Plastik kresek di jual di pengepul kan murah sekali, itu kita beli,” ujarnya.

Robertus Junaedi, pendiri label krésékA. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Robertus Junaedi, pendiri label krésékA. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Tas tangan krésékA tidak menggunakan pewarna tambahan. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan, Junaedi hanya mengepres beberapa plastik kresek menjadi satu. Hasilnya, ia bisa mendapatkan lembaran warna biru, merah, oranye, hitam, bahkan hijau terang.

Untuk mengerjakan satu tas tangan yang berkualitas, Junaedi tidak menyerahkannya pada satu orang karena diperlukan beberapa tahapan seperti pengepressan, pemotongan, hingga menjahit lembaran plastik menjadi sebuah tas. “Selain lebih mudah untuk memonitor dan mengevaluasi, untuk “menggeber” kalau ada pesanan banyak jadi lebih mudah,” katanya menjelaskan.

Tas tangan krésékA dibanderol dengan harga sekitar Rp 150.000 hingga Rp 270.000, namun kualitas bahan yang tahan lama dan upaya turut melestarikan lingkungan menjadi nilai lebih dari tas tangan ini. Junaedi bahkan mengeluarkan sertifikat pada setiap tas produksinya dan menerima layanan purna jual, seperti perbaikan lapisan tas dan jahitan. Layanan purna jual ini bisa didapat apabila pelanggan mendatangi workshop sekaligus kantornya yang berada di PERUM Taman Sedayu I Blok B No.7 RT 45 Metes, Argorejo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tas-laminating-kreseka/feed/ 0