industri fesyen - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/industri-fesyen/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 14 Dec 2023 04:07:49 +0000 id hourly 1 Stella McCartney Memamerkan Fesyen Berkelanjutan di COP28 https://www.greeners.co/gaya-hidup/stella-mccartney-memamerkan-fesyen-berkelanjutan-di-cop28/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=stella-mccartney-memamerkan-fesyen-berkelanjutan-di-cop28 https://www.greeners.co/gaya-hidup/stella-mccartney-memamerkan-fesyen-berkelanjutan-di-cop28/#respond Thu, 14 Dec 2023 04:07:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=42528 Desainer asal Inggris Stella McCartney tengah memamerkan sejumlah aksesoris dan pakaian ramah lingkungan atau berkelanjutan di Konferensi Perubahan Iklim (COP28). Hal itu untuk mendorong industri fesyen bisa lebih memperhatikan aspek […]]]>

Desainer asal Inggris Stella McCartney tengah memamerkan sejumlah aksesoris dan pakaian ramah lingkungan atau berkelanjutan di Konferensi Perubahan Iklim (COP28). Hal itu untuk mendorong industri fesyen bisa lebih memperhatikan aspek lingkungan dalam proses produksinya.

Melalui kemitraan dengan LVMH, perusahaan Stella McCartney mengusung pasar berkelanjutan dengan melibatkan beberapa perusahaan fesyen. Dalam pameran ini terdapat 15 inovator yang terpilih untuk memamerkan hasil produksinya yang menerapkan prinsip berkelanjutan.

Melansir Dezeen, seluruh inovator yang terpilih, mereka terdiri dari merek-merek baru hingga mapan telah menggunakan material yang ramah lingkungan. Misalnya, perusahaan Natural Fiber Welding menghadirkan produk alternatif kulit nabati pada tas Falabella dan Frayme milik Stella McCartney.

BACA JUGA: Stella McCartney Hadirkan Busana Musim Semi Ramah Lingkungan

Pameran yang dibentuk seperti pasar keberlanjutan juga memamerkan contoh produk jadi, termasuk gaun dan tas rajutan karya Stella McCartney. Produk tersebut menggunakan benang Kelsun berbahan dasar rumput laut.

“Industri fesyen menyumbang delapan persen emisi gas rumah kaca secara global. Jika kita dapat bekerja secara kolaboratif untuk mencapai tujuan-tujuan ini, kita sebenarnya dapat mulai melakukan bisnis dengan cara yang meregenerasi planet kita. Bukan hanya mengambil keuntungan darinya,” ujar McCartney.

Stella McCartney tengah memamerkan sejumlah aksesoris dan pakaian ramah lingkungan atau berkelanjutan di COP28. Foto: Dezeen

Stella McCartney tengah memamerkan sejumlah aksesoris dan pakaian ramah lingkungan atau berkelanjutan di COP28. Foto: Dezeen

Pameran Fesyen Berkelanjutan Menginovasi Solusi Masa Depan

Pameran tersebut telah menampikan masa depan inovasi material yang ramah lingkungan. Sebab, ada terobosan baru dalam menggunakan alternatif berbahan dasar bio dan tumbuhan sebagai pengganti plastik, kulit dan bulu hewan, serta serat tradisional.

Pameran juga tampak menarik karena setiap ruangannya bergaya 3D dengan bahan penyerap karbon dari Pure Tech. Bahan tersebut secara aktif menghilangkan partikel berbahaya dari udara.

BACA JUGA: Reclypse, Sepatu Kets dari Limbah Jaring Ikan

Selain itu, salah satu inovasi yang mereka presentasikan pada COP28 adalah alternatif berbahan dasar anggur dari Veuve Clicquot. Perusahaan tersebut menggunakan produk sampingan dari kebun anggur bersejarah milik Champagne Maison di Reims, Prancis. Anggur itu ditanam secara regeneratif di lahan yang dibeli oleh Madame Clicquot sendiri, lebih dari 200 tahun yang lalu.

Selain itu, Stella McCartney juga berkolaborasi dengan Protein Evolution, perusahaan garmen pertama di dunia yang terbuat dari poliester, kemudian mereka daur ulang secara biologis dan tanpa batas.

Stella McCartney Mewakili Industri Fesyen di COP28

Delegasi Stella akan fokus pada tiga tujuan utama. Pertama, mengadvokasi perubahan kebijakan dan peraturan untuk memberi insentif pada bisnis berkelanjutan. Kemudian, Stella menekankan soal dekarbonisasi industri dan para pemimpin bisnis perlu mendukung serta meningkatkan investasi dalam berbagai inovasi material dan proses.

Menurutnya, tanggung jawab untuk menurunkan gas rumah kaca juga ada pada merek fesyen. Mereka perlu bekerja sama dengan para pemimpin swasta dan publik untuk meningkatkan kecepatan dekarbonisasi.

Sementara itu, Stella telah menjadi pionir dalam bidang keberlanjutan dan mode sadar lingkungan selama lebih dari dua dekade. Dirinya telah mengadopsi prinsip-prinsip keberlanjutan yang luas.

Stella pun berhasil memimpin kesadaran fesyen melalui berbagai upaya. Misalnya, berinvestasi pada alternatif yang bebas dari kekejaman, inovasi material dan proses, kemitraan strategis antarindustri. Bahkan, praktik regeneratif dan restorasi alam, ambisi sirkular, transparansi seputar dampak dan komunitas.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/stella-mccartney-memamerkan-fesyen-berkelanjutan-di-cop28/feed/ 0
COP28: Fans K-Pop Minta Merek Fesyen Stop Greenwashing https://www.greeners.co/aksi/cop28-fans-k-pop-minta-merek-fesyen-stop-greenwashing/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cop28-fans-k-pop-minta-merek-fesyen-stop-greenwashing https://www.greeners.co/aksi/cop28-fans-k-pop-minta-merek-fesyen-stop-greenwashing/#respond Thu, 07 Dec 2023 07:05:38 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=42460 Jakarta (Greeners) – Penggemar K-pop meminta merek fesyen mewah berhenti greenwashing, lewat aksi daring dalam momen Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim COP28 di Dubai. Mereka meminta para industeri fesyen berhenti […]]]>

Jakarta (Greeners) – Penggemar K-pop meminta merek fesyen mewah berhenti greenwashing, lewat aksi daring dalam momen Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim COP28 di Dubai. Mereka meminta para industeri fesyen berhenti menggunakan bahan bakar fosil. Kemudian, lebih meningkatkan penggunaan energi terbarukan dalam rantai pasoknya.

Aksi daring global di media sosial ini berlangsung beberapa hari sebelum pertemuan Piagam Industri Fesyen PBB untuk aksi iklim (UN Fashion Industry Charter for Climate Action) yang terjadwal di COP. Kemudian, aksi pun akan dihadiri oleh para penandatangan piagam serta perwakilan merek fesyen utama, terutama grup industri mewah Prancis LVMH.

Piagam ini dirancang agar industri fesyen bersatu. Selain itu, menciptakan rencana yang jelas untuk mencapai emisi nol bersih (net-zero emission) pada tahun 2050. Namun, menurut Vougue Business, piagam tersebut belum berbuat banyak dalam menunjukkan aksi nyata.

BACA JUGA: Aktivis Lingkungan K-Pop Lee Dayeon Terpilih BBC 100 Women

Sementara itu, industri fesyen mewah seperti Chanel dan Dior memilih bintang K-pop untuk menjangkau pasar anak muda, terutama di Asia. Namun, di saat adanya ancaman nyata pendidihan global, para penggemar  menginginkan industri fesyen berhenti menyembunyikan komitmen iklim lemah mereka di balik para bintang.

“Sebagai penggemar yang berbasis di UEA–di mana COP28 akan berlangsung–kami berharap dengan menyebarkan kesadaran tentang aksi iklim. Kami juga dapat berkontribusi secara positif dan menginspirasi Carat (pengggemar Seventeen) lainnya dan penggemar K-pop untuk membicarakan isu iklim,” ujar Pengurus Fanbase Seventeen UEA, Shia.

Dengan demikian, penggemar K-pop global melakukan aksi daring di Instagram, Twitter, dan TikTok. Di media sosialnya, mereka menandai (tag/mention) perwakilan industri fesyen dan pemimpin dunia yang bersatu melalui Piagam Industri Fesyen PBB untuk Aksi Iklim. Harapannya, para pemangku kepentingan bisa mendengarkan suara generasi masa depan.

Penggemar K-pop meminta merek fesyen mewah berhenti greenwashing. Foto: Kpop4Planet

Penggemar K-pop meminta merek fesyen mewah berhenti greenwashing. Foto: Kpop4Planet

Penggemar K-Pop Terinspirasi Idol yang Peduli Lingkungan

Penggemar K-pop terinspirasi idol mereka yang peduli akan lingkungan. Misalnya, pidato Seventeen di UNESCO Youth Forum dan terpilihnya Blackpink sebagai duta COP26 di tahun 2021.

Grup K-pop tersebut juga menerima penghargaan Anggota Orde Kerajaan Inggris, atau Member of the Order of the British Empire (MBE) dari Raja Charles III. Sebab, mereka telah menyebarkan pesan lingkungan kepada audiens secara global.

Oleh karena itu, timbul aksi daring inisiasi Kpop4Planet. Kampanye tersebut ialah ‘Unboxed: High Fashion, High Carbon’. Tujuannya untuk meminta rumah fesyen mewah seperti Chanel, Celine, Dior, dan Saint Laurent menetapkan target ambisius dan mengambil aksi iklim nyata. Salah satunya dengan beralih ke energi terbarukan sepenuhnya di 2030, termasuk di rantai pasok mereka.

“Penggemar K-pop tidak hanya peduli dengan aktivitas idola mereka sebagai duta merek mewah, melainkan juga peduli masa depan bumi yang akan mereka wariskan. Ini saatnya bagi rumah fesyen mewah untuk berhenti melakukan greenwashing,” kata Juru Kampanye Kpop4Planet di Korea Selatan, Dayeon Lee.

Penggemar K-pop meminta merek fesyen mewah berhenti greenwashing. Foto: Kpop4Planet

Penggemar K-pop meminta merek fesyen mewah berhenti greenwashing. Foto: Kpop4Planet

Produsen Industri Fesyen Perlu Tunjukkan Komitmen Iklim

Berlangsungnya COP28 akan menandai lima tahun sejak merek dan produsen bergabung dengan Piagam Industri Fesyen PBB untuk aksi iklim. Meskipun terdapat peningkatan sebesar 16% dalam melaporkan dampak iklim sejak tahun 2020, hanya 45% penandatangan yang telah menetapkan target iklim publik. Hal itu diperlukan untuk menjaga pemanasan global di bawah 1,5°C.

BACA JUGA: Peduli Lingkungan, Ribuan K-popers Tolak K-Washing

Kemudian, hanya 42% penandatangan yang telah menetapkan target 100% energi terbarukan dalam operasi mereka pada tahun 2030. Inilah sebabnya, pada COP28, para penandatangan harus menunjukkan komitmen iklim yang lebih ambisius dan kolaboratif untuk mencapai target piagam.

“COP28 adalah tempat yang tepat untuk mereka menunjukkan posisinya, sebagai pemimpin industri fesyen dengan mengambil aksi untuk lingkungan. Kami tidak akan berhenti sampai kami mendengar target pengurangan emisi absolut. Khususnya, dari merek tersebut serta rencana untuk beralih ke energi terbarukan,” ujar Lee.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/cop28-fans-k-pop-minta-merek-fesyen-stop-greenwashing/feed/ 0
Ayo Mengenal Bahan Pakaian dengan Dampak Terburuk! https://www.greeners.co/gaya-hidup/bahan-pakaian-dengan-dampak-terburuk/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bahan-pakaian-dengan-dampak-terburuk https://www.greeners.co/gaya-hidup/bahan-pakaian-dengan-dampak-terburuk/#respond Fri, 19 Mar 2021 12:00:33 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=32044 Alice Wilby, konsultan mode berkelanjutan dan juru bicara Extinction Rebellion - sebuah kelompok kampanye yang menuntut pemerintah mengambil tindakan segera terhadap perubahan iklim - mengatakan kepada The Independent; sampah pakaian perlahan-lahan meracuni bumi dan mencemari saluran air dengan serat mikronya, serta berkontribusi pada emisi metana. Jadi, apa yang bisa kita (sebagai konsumen) lakukan untuk mengubahnya?]]>

Sobat Greeners, kali ini Greeners mengajak Anda untuk melihat isi lemari dan merefleksikan bahan pakaian yang ada di dalamnya. Dari jajaran busana yang Anda miliki, pakah Anda tahu bahan pakaian apa yang memiliki dampak terburuk? Simak artikel berikut ini.

Apakah Anda tahu seberapa besar pengaruh sampah busana bagi lingkungan?

Alice Wilby, konsultan mode berkelanjutan dan juru bicara Extinction Rebellion – sebuah kelompok kampanye yang menuntut pemerintah mengambil tindakan segera terhadap perubahan iklim – mengatakan kepada The Independent; sampah pakaian perlahan-lahan meracuni bumi dan mencemari saluran air dengan serat mikronya, serta berkontribusi pada emisi metana. Jadi, apa yang bisa kita (sebagai konsumen) lakukan untuk mengubahnya?

Salah satu cara paling efektif untuk peduli terhadap planet ini adalah dengan memilih bahan pakaian yang berkelanjutan. Namun, mengingat bahwa semua serat konvensional memiliki dampak lingkungan dan sosial yang berbeda-beda; kita jadi kesulitan untuk mengetahui bahan mana yang harus kita pakai. Sementara kita harus mengenal bahan sandang dengan dampak terburuk untuk menghindari pemakaian bahan tersebut.

Wilby menjelaskan bahwa ada banyak faktor yang memengaruhi kredensial keberlanjutan suatu kain, termasuk keperluan akan berapa banyak air atau energi untuk menghasilkan pakaian tersebut, di mana produksinya, dan bagaimana produksinya memengaruhi keanekaragaman hayati.

nilon

Bahan yang paling umum di sektor industri adalah poliester (55 persen), diikuti nilon (lima persen), dan akrilik (dua persen). Foto: Pexels.

Mengenal Bahan Pakaian dengan Dampak Terburuk lewat Five Goods Cradle to Cradle

Untuk membuat keputusan yang lebih tepat, Fashion For Good – platform global untuk inovasi mode berkelanjutan – merekomendasikan cara menilai dampak bahan berdasarkan konsep “Five Goods Cradle-to-Cradle” yang melihat bagaimana keberlanjutan terintegrasi di seluruh bagian rantai pasokan barang atau produk. Mulai dari:

  • Good Materials: aman, sehat, dan rancangannya memang untuk digunakan kembali dan dapat mendaur ulang bahannya. Bahan dapat kembali ke biosfer dalam bentuk kompos atau nutrisi lain, yang menunjang pembuatan bahan baru berikutnya.
  • Good Economy – bisnis yang bertumbuh, sirkular, dan bermanfaat bagi semua orang.
  • Good Energy – menggunakan sumber energi bersih dan terbarukan. Pengurangan emisi CO2 dalam proses pra, produksi, dan pasca produksi.
  • Good Water – pengurangan konsumsi H2O atau air, bersih dan tersedia untuk semua.
  • Good Lives – kondisi hidup dan kerja yang aman, adil, dan bermartabat. Memberikan upah yang layak dan pelatihan pemberdayaan bagi pekerjanya.

Untuk membantu Anda mengurangi dampak fesyen terhadap lingkungan, tentu Anda harus mengenal bahan sandang dengan dampak terburuk, bukan? Ini dia penjelasan mengenai berbagai macam kain dengan bantuan sejumlah pakar industri.

Mengenal Bahan Pakaian dengan Dampak Terburuk bagi lingkungan: Kapas, sintetis, dan bahan turunan hewani

Bahan pakaian dengan dampak terburuk: Kapas

Meskipun kapas adalah serat alami yang dapat terurai di akhir masa pakainya, kapas juga merupakan salah satu tanaman yang paling ‘banyak menuntut’.

Wilby menjelaskan bahwa kapas sangat boros air untuk budidaya dan prosesnya. Ia menghabiskan antara 10.000 sampai 20.000 galon air untuk membuat satu celana jeans dan menambah 3.000 galon air lagi untuk membuat sebuah kaus.

Konsultan mode menambahkan bahwa pertanian kapas juga menggunakan pestisida tingkat tinggi dan bahan kimia beracun yang meresap ke dalam tanah dan pasokan air.

“Kapas menjadi tanaman yang mendatangkan malapetaka bagi manusia dan planet; bahkan sebelum menjadi pakaian,” kata Wilby.

Menurut Fashion For Good, produksi kapas konvensional menyumbang seperenam dari semua pestisida yang terpakai secara global; berdampak pada petani dan komunitas lokal dengan bahan kimia berbahaya. Klaim ini didukung dengan data dari Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organisation (WHO), yang menunjukkan bahwa di negara berkembang; sekitar 20.000 orang meninggal karena kanker dan mengalami keguguran akibat semprotan bahan kimia pada kapas konvensional.

kapas

Budi daya kertas menggunakan banyak air. Foto: Pexels.

Bahan pakaian dengan dampak terburuk: Sintetis (Poliester, Nilon, dan Akrilik)

Laura Balmond, project manager Make Fashion Circular di badan amal lingkungan Ellen MacArthur Foundation (EMF), menyatakan bahwa kain sintetis biasanya diproduksi dari minyak dan menyumbang 63 persen dari input material untuk produksi tekstil.

Bahan yang paling umum di sektor ini adalah poliester (55 persen), diikuti nilon (lima persen), dan akrilik (dua persen).

Meskipun serat berbasis plastik tidak membutuhkan lahan pertanian dan menggunakan sedikit air dalam produksi dan pemrosesannya, serat tersebut tetap berdampak negatif terhadap lingkungan.

Tidak hanya sintetis yang tidak dapat terurai secara hayati; bahan-bahan ini juga bergantung pada industri petrokimia untuk bahan bakunya. Ini berarti bahan pokok industri fesyen sintetis bergantung pada ekstraksi bahan bakar fosil.

Tak hanya memberi pengaruh buruk selama ekstraksi, pembuatan dan pengiriman pakaian berbahan sintetis; “penggunaan bahan bakar fosil membawa serta masalah dan kerugian lainnya; termasuk tumpahan minyak, emisi metana dan gangguan satwa liar serta hilangnya keanekaragaman hayati,” kata Wilby.

polyester

Kain sintetis biasanya diproduksi dari minyak dan menyumbang 63 persen dari input material untuk produksi tekstil. Foto: Pexels.

Bahan pakaian dengan dampak terburuk: Bahan turunan hewan (Wol, kulit dan bulu)

Menurut Balmond, serat berbasis protein seperti wol menyumbang kurang dari dua persen dari semua serat yang digunakan. Jika produksinya tidak menggunakan atau mempertahankan zat yang menjadi perhatian, serat tersebut dapat terurai dengan aman.

Namun, bahan seperti kulit bertanggung jawab atas keluaran metana yang sangat besar yang menurut Wilby jarang tercatat ketika membahas pembuatan kain yang berkelanjutan.

Metana setidaknya 20 kali lebih kuat dari gas rumah kaca sebagai CO2 dan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations’ Food and Agriculture Organisation (FAO) memperkirakan bahwa peternakan bertanggung jawab atas sekitar 14,5 persen dari emisi gas rumah kaca dunia.

Selain jejak karbon yang terkait dengan pemeliharaan ternak dan pengangkutan material, dampak pada ternak dan pekerja di industri kulit sangat besar.

Extinction Rebellion menyatakan bahwa satu miliar hewan dibunuh untuk diambil kulitnya setiap tahun, sementara 85 persen kulit untuk pembuatan produk di dunia disamak dengan kromium, zat yang sangat beracun dan sering membuat pekerja penyamakan kulit hewan menderita kanker dan memengaruhi kondisi kulit.

Balmond menambahkan bahwa bahan kimia beracun sering digunakan untuk mengawetkan wol dan bulu; yang jika tidak dikelola dengan baik atau dibuang begitu saja, dapat mencemari saluran air. Sehingga menyebabkan polusi yang merusak dan memengaruhi kesehatan masyarakat yang tinggal di sepanjang tepian sungai.

wol

Selain jejak karbon yang terkait dengan pemeliharaan ternak dan pengangkutan material, dampak pada ternak dan pekerja di industri kulit sangat besar. Foto: Pexels.

Kain terbaik untuk lingkungan: bahan daur ulang, selulosa buatan manusia dan serat kulit kayu

Kain daur ulang

Agar benar-benar ramah lingkungan, Extinction Rebellion percaya bahwa industri fesyen perlu berhenti menggunakan sumber daya murni atau virgin untuk membuat bahan baru dan sebaliknya menggunakan dan melakukan upcycling dari apa yang kita miliki.

Saat ini, sudah ada gerakan untuk memanfaatkan wol, kapas, dan kain sintetis daur ulang untuk berbagai desain fesyen. Misalnya, poliester daur ulang – alternatif yang lebih ramah lingkungan dari poliester murni – menggunakan hanya setengah energi daripada bahan murninya untuk mengurangi plastik dari timbunan sampah.

Namun, perlu dicatat bahwa poliester daur ulang masih bisa mencemari lingkungan dengan serat mikro. Jadi Wilby menyarankan untuk menggunakan washing bag yang dapat mencegah polusi mikroplastik ketika mencuci bahan sintetis daur ulang. Ini bisa mengurangi pelepasan serat dan dapat menyaringnya.

Serat selulosa buatan manusia

Serat berbasis selulosa mengacu pada yang diperoleh dari bahan nabati, kata Balmond.

Bahan ini dapat diekstraksi langsung dari tumbuhan, seperti kapas, atau diolah secara kimiawi untuk mengekstraksi dan memproses selulosa. Jika diproduksi tanpa menggunakan atau mempertahankan zat yang menjadi perhatian, serat berbasis selulosa dapat terurai dengan aman.

Merek fesyen Mother of Pearl menggunakan Tencel – serat yang berasal dari bahan baku kayu terbarukan dan dibuat dengan fotosintesis.

Extinction Rebellion juga memuji alternatif biodegradable seperti Pinatex yang merupakan produk sampingan dari industri nanas.

Serat kulit kayu

Serat kulit kayu adalah serat yang bersumber dari tumbuhan dengan batang yang terdiri dari inti berkayu dan kulit kayu berserat, seperti rami atau jelatang.

Fashion For Good mengatakan bahan-bahan ini sangat menarik karena meninggalkan jejak yang kecil daripada serat alami lainnya, konsumsi air yang rendah, dan tahan banting terhadap hama dan penyakit.

Extinction Rebellion mengklaim bahwa rami adalah salah satu alternatif terbaik untuk kapas karena menggunakan lebih sedikit air, dapat ditanam di banyak lingkungan berbeda di seluruh dunia, tumbuh subur tanpa perlu pestisida dan berkontribusi sekitar setengah dari jejak karbon kapas.

Salire Studio: Mode Daur Ulang Sampah Tekstil

Industri fesyen perlu berhenti menggunakan sumber daya murni atau virgin untuk membuat bahan baru. Foto: Instagram Salire Studio.

Meningkatkan Keberlanjutan dari Lemari Anda

Selain berinvestasi pada kain yang tepat, ada banyak cara agar kita semua dapat meningkatkan peringkat keberlanjutan lemari kita. Berikut lima kiat teratas dari para ahli:

  • Pakai lebih banyak, membuang lebih sedikit: Lain kali jika ingin membeli sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: “berapa kali Saya akan memakai ini?” Menurut Fashion For Good, dengan mengenakan pakaian Anda selama lebih dari sembilan bulan, Anda dapat mengurangi penggunaan limbah dan air hingga 20-30 persen.
  • Pencucian cepat dan dingin: Mencuci pakaian dengan air dingin dan putaran yang cepat menggunakan setengah energi dari mencuci dengan air hangat. Dengan cara ini pula Anda dapat menghemat karbon yang setara dengan mengemudi sejauh 123 km selama setahun.
  • Merawat pakaian Anda akan membuatnya bertahan lebih lama, dan mengurangi dampak lingkungan yang timbul karenanya.
  • Daur ulang: Anda tidak boleh membuang pakaian yang tidak lagi Anda inginkan ke tempat sampah. Tidak peduli seberapa usang dan tipis pakaian Anda, atau tidak lagi Anda suka. Semua tekstil dapat berguna kembali dengan mendaur ulangnya supaya ia memiliki potensi kehidupan kedua.

Jika Anda tidak lagi menggunakan pakaian Anda, selalu masukkan ke dalam pengumpulan barang daur ulang.

  • Berhenti berbelanja: Extinction Rebellion mengatakan bahwa mendorong lebih banyak konsumsi hanya akan memperburuk jejak lingkungan dari industri mode. Jadi hal pertama yang perlu Anda lakukan untuk meningkatkan keberlanjutan adalah berhenti berbelanja dan ‘akur’ dengan pakaian yang sudah Anda miliki.

Baca juga: Belajar dari Kota Prato, Pusat Daur Ulang Pakaian di Italia

Anda dapat melihat kampanye WRAP’s Love Your Clothes untuk mendapatkan lebih banyak tip, termasuk cara memperbaiki kesalahan umum yang sering muncul seiring bertambahnya usia pakaian Anda; seperti mengganti ritsleting di jaket favorit Anda.

Penulis: Agnes Marpaung.

Sumber:

Independent

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bahan-pakaian-dengan-dampak-terburuk/feed/ 0