inovasi mode - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/inovasi-mode/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 20 Jan 2021 14:43:01 +0000 id hourly 1 Tampil Gaya dengan Kaus dari Alga https://www.greeners.co/gaya-hidup/tampil-gaya-dengan-kaus-dari-alga/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tampil-gaya-dengan-kaus-dari-alga https://www.greeners.co/gaya-hidup/tampil-gaya-dengan-kaus-dari-alga/#respond Sat, 31 Oct 2020 10:00:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=29701 Merek pakaian Vollebak menciptakan pakaian yang berbeda dari biasanya. Duo kembar pendiri perusahaan, Nick dan Steve Tidball menawarkan inovasi baru bagi bidang fesyen dengan menciptakan kaus berbahan dasar alga.]]>

Pakaian umumnya terbuat dari serat kapas atau dari sutra, namun apakah Anda sudah pernah mendengar pakaian yang terbuat dari alga? Merek pakaian Vollebak menciptakan pakaian yang berbeda dari biasanya. Duo kembar pendiri perusahaan, Nick dan Steve Tidball menawarkan inovasi baru bagi bidang fesyen dengan menciptakan kaus berbahan dasar alga.

Kaus ini pun tidak menggunakan pewarna buatan. Kaus dengan warna dasar putih pucat dengan gambar kotak hijau ini menggunakan warna-warni alami. Warna putih pucat berasal dari warna bubur kayu, sedangkan warna hijau berasal dari alga hijau.

“Kaus terbuat dari bubur kayu dari hutan yang kami kelola secara berkelanjutan dengan alga yang tumbuh di bioreaktor. Karena terbuat dari alam, ia tidak mengakhiri hidupnya seperti pakaian lainnya,” ungkap Nike dan Steve dalam laman perusahaannya.

Vollebak mengubah alga menjadi tinta yang dapat tercetak. Desainer menanam alga di bioreaktor melalui filter yang dapat memisahkan alga dan meninggalkan pasta alga yang pekat. Mereka lalu memanaskan pasta ini di bawah sinar matahari, pasta pun berubah menjadi bubuk. Nantinya, bubuk ini dicampur dengan pengikat untuk membuat tinta alga.

Lebih jauh, pengusaha dari Inggris ini menggunakan kayu yang telah terpotong dan menjadi bubur. Bubur ini lantas berubah menjadi serat, kemudian menjelma menjadi benang, dan terakhir beranjak menjadi kain. Nike dan Steve mengambil kayu dari perkebunan kehutanan berkelanjutan yang telah bersetifikat Forestry Sustainability Council (FSC) dan Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC).

Kaus Alga Dapat Terurai Menjadi Kompos dalam Tiga Bulan

Seiring dengan berjalannya waktu dan setelah terkena udara alga mulai teroksidasi, pigmen alami pada alga yang semula berwarna hijau akan mulai berubah dan kaus akan terlihat berbeda dari minggu-minggu sebelumnya.

Meskipun terbuat dari alga, kaus ini sama dengan kaus lainnya yang berbeda adalah cara kaus untuk memulai dan mengakhiri hidupnya. Ketika kaus sudah tidak ingin digunakan, kaus dapat dibuat untuk kompos ataupun dikubur dan akan terurai dalam 12 minggu dan alam akan melakukan tugasnya dengan memecah dan mengubahnya menjadi santapan cacing.

Kecepatan proses biodegredasi bergantung pada lingkungan tempat tinggal, semakin panas kondisinya maka semakin banyak bakteri dan jamur yang terpapar hingga semakin cepat pakaian terurai.

“Yang perlu dilakukan adalah mengingat untuk membuat kompos di akhir masa pakainya. Di sini ia akan terurai bersama mereka, berubah menjadi tanah, dan membantu tanaman baru untuk tumbuh,” ujar para desainer yang juga atlet ini.

Penulis: Mega Anisa

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tampil-gaya-dengan-kaus-dari-alga/feed/ 0
Seniman Tekstil Ciptakan Adibusana dari Rumput Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/seniman-tekstil-ciptakan-adibusana-dari-rumput-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=seniman-tekstil-ciptakan-adibusana-dari-rumput-laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/seniman-tekstil-ciptakan-adibusana-dari-rumput-laut/#respond Thu, 01 Oct 2020 08:34:28 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=28995 Jasmine Linington, desainer dan seniman tekstil, terinspirasi menggunakan rumput laut dalam proyeknya. Inspirasinya menelurkan koleksi adibusana dari rumput laut bernama Proyek Seaweed Girl.]]>

Gaya hidup ramah lingkungan semakin diminati. Industri fesyen pun masuk dalam arus gaya hidup berkelanjutan. Mulai dari pemanfaatan plastik daur ulang hingga penggunaan serat tanaman menandakan inovasi ramah lingkungan industri fesyen.

Satu lagi inovasi bahan untuk fesyen ramah lingkungan: rumput laut. Jasmine Linington, desainer dan seniman tekstil, terinspirasi menggunakan rumput laut dalam proyeknya. Inspirasi ini dia dapatkan ketika menempuh Pendidikan Master of Fine Arts di Edinburgh College of Arts. Inspirasinya menelurkan koleksi adibusana dari rumput laut bernama Proyek Seaweed Girl.

Baca juga: Kreasi Tas Pesta dari Limbah Kain Satin

“Bagi saya, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu di tepi laut. Rumput laut merupakan bagian dari garis pantai yang sering diabaikan. Namun, beberapa tahun belakangan saya mulai melihatnya secara baru. Saya menemukan warna, tekstur dan material yang menarik dan indah,” tulis Jasmine dalam websitenya.

Lebih jauh, Proyek Seaweed Girl adalah koleksi tekstil adibusana yang menunjukkan keserbagunaan rumput laut sebagai inspirasi visual serta bahan dalam industri tekstil. Proyek Seaweed Girl dia sebut sebagai karya seni yang dapat dikenakan (wearable art).

Seniman Tekstil Ciptakan Proyek Adibusana dari Rumput Laut

Seniman Tekstil Ciptakan Proyek Adibusana dari Rumput Laut. (jasminelinington.com).

Panen Rumput Laut dengan Bertanggung Jawab

Saat menempuh gelar Masternya, Jasmine mengetahui rumput laut dan mikroalga merupakan organisme yang tumbuh paling cepat di bumi. Jasmine pun termotivasi menemukan cara inovatif untuk menggunakan sumber daya berkelanjutan ini dalam dunia mode.

“Saya dengan cepat jatuh cinta dengan serat dan benang rumput laut karena kualitas alaminya dan penampilan dan rasanya seperti sutera,” tutur seniman yang berbasis di Edinburgh, Inggris ini.

Baca juga: Anak Negeri Tawarkan Rancangan Sepatu dari Kertas Kraft

Jasmine terus mengeksplorasi cara untuk memasukkan bahan alternatif dan berkelanjutan ke dalam proyeknya. Dia ingin karyanya tidak hanya indah melainkan juga bermanfaat bagi lingkungan.

Jasmine tidak berhenti pada satu desain. Dia juga mengembangkan rumput laut menjadi manik-manik. Dia membuat manik-manik dengan menggunakan resin yang dibuat dari produk sampingan proses penen. Sebagai seniman tekstil, dia juga menjelajahi alternatif bebas plastik dengan menciptakan payet rumput laut yang lentur.

Lebih jauh, Jasmine sangat berhati-hati dalam memanen rumput laut. Dia hanya mau memanen rumput laut dengan benar dan berkelanjutan. Jasmine pun telah memperoleh izin untuk panen skala kecil melalui Scottish Natural Heritage dan East Lothian Council.

Penulis: Mega Anisa

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/seniman-tekstil-ciptakan-adibusana-dari-rumput-laut/feed/ 0
Anak Negeri Tawarkan Rancangan Sepatu dari Kertas Kraft https://www.greeners.co/ide-inovasi/anak-negeri-tawarkan-rancangan-sepatu-dari-kertas-kraft/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=anak-negeri-tawarkan-rancangan-sepatu-dari-kertas-kraft https://www.greeners.co/ide-inovasi/anak-negeri-tawarkan-rancangan-sepatu-dari-kertas-kraft/#respond Fri, 25 Sep 2020 23:56:07 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=28856 Data Kementerian Perindustrian 2018 menunjukkan Indonesia berada di posisi ke-empat produsen sepatu dunia. Produksi alas kaki di Indonesia mencapai 1,41 miliar pasang. Jumlah ini setara dengan 4,6 persen total produksi […]]]>

Data Kementerian Perindustrian 2018 menunjukkan Indonesia berada di posisi ke-empat produsen sepatu dunia. Produksi alas kaki di Indonesia mencapai 1,41 miliar pasang. Jumlah ini setara dengan 4,6 persen total produksi dunia. Mengingat masifnya produksi sepatu, tidak heran bila produsen selalu menggali ide baru.

Inovasi sepatu juga acapkali datang dari dalam negeri. Oskar Judianto dan Puti Aqila dari Universitas Esa Unggul, ikut serta menawarkan rancangan inovasi sepatu. Alih-alih menggunakan kulit hewan, kulit sintesis, kanvas atau karet, duo Oskar dan Puti merancang sepatu model d’Orsay berbahan kertas kraft.

“Kertas kraft merupakan jenis kertas olahan melalui proses kraft, yang menghasilkan kertas dengan kekuatan yang tahan akan sobekan,” ungkap Oskar dan Puti dalam Jurnal Desain Idea Universitas Esa Unggul.

Lebih jauh, Oskar dan Puti menjelaskan kertas kraft diproduksi dari chemical pulp. Bahan ini memiliki elastisitas tinggi sehingga tahan terhadap sobekan. Kertas ini pun sering ditemukan sebagai bahan sisa pabrik.

Baca juga: Lemari Pendingin dan Penyimpan Makanan Fleksibel

Kertas kraft

Kertas kraft yang digunakan sebagai bahan pembuat sepatu direndam dengan air garam agar lebih tebal dan lentur. Ilustrasi: shutterstock

Sepatu Kertas Kraft: Upaya Pengembangan Produk Berkelanjutan

Oskar dan Puti memilih kertas kraft sebagai upaya pengembangan produk berkelanjutan. Rancangan mereka menggunakan material yang bersahabat dengan alam.  Teknologi yang dipilih pun minim penggunaan zat kimia.

Dalam proses pembuatan sepatu, lanjutnya duo penulis, kertas kraft direndam dengan air garam agar lebih tebal dan lentur. Setelah itu, kertas dapat dengan mudah dibentuk menjadi sepatu. Selain kertas kraft, material pendukung yang digunakan antara lain paperboard untuk sol, pelapis sepatu, dan pelapis luar sepatu tahan air.

Pada tahap desain, sepatu ini mengusung konsep clean design, desain bersih. Desain ini mereka pilih untuk mewujudkan kesan minimalis. Oskar dan Puti pun mengakui sepatu rancangannya masuk ke dalam kategori slip-on, bagian belakang sepatu berpotongan rendah agar mempermudah pemakaian. Sepatu rancangan mereka setinggi bawah mata kaki, tanpa jahitan pemisah antara komponen (plain toe).

Baca juga: Limbah Kulit Jeruk Ubah Baterai Litium-Ion Bekas Jadi Baru

“Terdapat teknik khusus agar material ini dapat dibentuk menjadi sebuah alas kaki. Konsep desain yang akan diterapkan yakni clean minimalist dengan menampilkan tekstur asli dari kertas dan menggunakan bentuk yang tidak rumit,” tulis kedua peneliti.

Model d’Orsay merupakan model sepatu yang dapat dipadukan dengan banyak model busana. Desain ini tidak terkesan terlalu mewah, namun masih cukup formal. Sepatu dengan model ini dapat digunakan untuk berbagai kesempatan dan menjaga penggunanya untuk tetap modis dan elegan.

Penulis: Mega Anisa

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/anak-negeri-tawarkan-rancangan-sepatu-dari-kertas-kraft/feed/ 0
VEJA Luncurkan Sneaker Modis dari Limbah Jagung https://www.greeners.co/gaya-hidup/veja-luncurkan-sneaker-modis-dari-limbah-jagung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=veja-luncurkan-sneaker-modis-dari-limbah-jagung https://www.greeners.co/gaya-hidup/veja-luncurkan-sneaker-modis-dari-limbah-jagung/#respond Tue, 19 Mar 2019 09:28:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=22838 Ditangan VEJA, kini limbah jagung memiliki manfaat lain yang berkelanjutan: sneaker modis. Perusahaan yang didirikan sejak 2004 ini berhasil mengolah limbah jagung menjadi sepatu yang berkualitas dengan label Campo.]]>

Sebagai bahan makanan, jagung mungkin hanya dimanfaatkan bijinya saja untuk dikonsumsi. Sampah jagung biasanya dibuang begitu saja, kalau pun dimanfaatkan biasanya dijadikan bahan bakar pengganti kayu bakar. Ditangan VEJA, kini limbah jagung memiliki manfaat lain yang berkelanjutan: sneaker modis.

VEJA merupakan perusahaan sepatu dan aksesori asal Paris, Perancis yang sudah lama bergelut di industri ramah lingkungan. Perusahaan yang didirikan sejak 2004 oleh Sébastien Kopp dan François-Ghislain Morillion ini berhasil mengolah limbah jagung menjadi sepatu yang berkualitas dengan label Campo.

sneaker

Foto: VEJA/Mario Simon Lafleur via Inhabitat

Campo dibuat menggunakan kain vegan baru dan ramah lingkungan. Bahan revolusioner yang disebut C.W.L. ini berasal dari kanvas berlilin yang terdiri dari 50 persen limbah jagung dari industri makanan. Campo menjadi produk pertama yang menggunakan bahan C.W.L. dalam industri fesyen.

Dilansir dalam Inhabitat, VEJA menggunakan bahan C.W.L. yang telah dikembangkan oleh sebuah perusahaan Italia. Bahan C.W.L. ini berupa kapas organik yang dilapisi PU dan resin dari industri limbah jagung. Melalui sentuhan VEJA, bahan ini memilki tampilan yang sebanding dengan bahan kulit yang umumnya digunakan untuk membuat sepatu. Dengan kata lain, bahan C.W.L. ini bisa digunakan sebagai bahan pengganti kulit yang ekologis.

“Sejak kami mulai meluncurkan produk VEJA pada tahun 2005, kami selalu mencari bahan baku baru yang berkelanjutan dan lebih ekologis,” tulis VEJA dalam siaran pers mereka. Dalam menemukan pengganti bahan ekologis untuk kulit sepatu, perusahaan ini mengalami banyak kegagalan. Namun setelah lima tahun melakukan riset dan pengembangan, VEJA akhirnya menemukan bahan C.W.L. yang revolusioner.

sneaker

Foto: VEJA/Mario Simon Lafleur via Inhabitat

Bahan C.W.L. pada sepatu ini digunakan untuk bagian atas dan panel sepatu. Adapun bahan lainnya terbuat dari bahan polyester daur ulang, kain B-Mesh yang berasal dari botol plastik daur ulang yang digunakan pada bagian dalam sepatu Campo. Sedangkan sol dalam dan sol luar terbuat dari karet alam yang tumbuh secara berkelanjutan di hutan Amazon. Sama halnya dengan semua jenis sepatu buatan VEJA, sepatu sneaker Campo ini dibuat secara etis di Brasil di wilayah Porto Alegre.

Sejak diluncurkan awal tahun ini, sepatu sneaker Campo kini menjadi model sepatu kulit alternatif keluaran VEJA. Empat puluh persen dari model sepatu VEJA termasuk dalam koleksi vegan musim semi dan musim panas 2019, termasuk juga sepatu kulit-alternatif model Rio Branco dan Nova. Sepatu sneaker Campo sekarang sudah tersedia untuk dibeli secara online dalam enam varian yang berbeda dan mulai dijual seharga 125 euro.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/veja-luncurkan-sneaker-modis-dari-limbah-jagung/feed/ 0
Tas Miselium, Saatnya Jamur ‘Naik Pangkat’ https://www.greeners.co/gaya-hidup/tas-miselium-saatnya-jamur-naik-pangkat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tas-miselium-saatnya-jamur-naik-pangkat https://www.greeners.co/gaya-hidup/tas-miselium-saatnya-jamur-naik-pangkat/#respond Mon, 08 Oct 2018 07:06:33 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=21454 Sebuah perusahaan mode, Bolt Threads, meluncurkan tas ramah lingkungan bernama Mylo Driver Bag. Persis seperti kulit asli, tas ini terbuat dari material mycelium (miselium).]]>

Kepedulian terhadap bumi menjadi dasar terbentuknya sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan bagi pegiat industri mode. Utusan Khusus Presiden RI untuk Pengendalian Perubahan Iklim, Prof. Rachmat Witoelar mengatakan bahwa industri mode global menghasilkan 1,2 miliar ton emisi gas rumah kaca per tahunnya.

Sebuah perusahaan mode, Bolt Threads, meluncurkan tas ramah lingkungan bernama Mylo Driver Bag. Persis seperti kulit asli, tas ini terbuat dari material mycelium (miselium). Bolt Threads menyatakan bahwa tas ini memakai material yang berasal dari struktur akar jamur. Struktur tersebut berasal dari miliaran sel kecil jamur yang membentuk jaringan skala mikro tiga dimensi (3D). Struktur ini juga berperan sebagai sistem daur ulang alam.

miselium

Bolt Threads memanfaatkan miselium untuk membuat produk Mylo Driver Bag. Foto: yankodesign.com

Sekilas material tas ini terlihat layaknya kulit binatang. “Kulit binatang biasanya terbuat dari kolagen, sedangkan Mylo 100% berbahan miselium dan tidak menggunakan kolagen. Tas ini diproduksi dalam hitungan minggu, berbeda dengan kulit hewan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diproduksi,” tulis Bolt Threads dalam situs resminya. Dibandingkan dengan kulit sintetis yang terbuat dari poliuretan (polimer yang mengandung senyawa NHCOO, biasa dipakai dalam resin), Mylo terasa alami dan memiliki kelembaban yang lebih baik.

Bolt Threads mengklaim tas jamur ini memiliki potensi lebih ramah lingkungan daripada kulit binatang dan pengganti kulit lainnya. Tas ini mempunyai tekstur lembut, empuk, kuat dan tahan lama. Model tas ini simpel, di dalamnya terdapat dua kantong internal dan tiga kantong eksternal. Tas jinjing ini dapat digunakan baik perempuan maupun laki-laki.

Proses pembuatan tas ini memakai batang jagung sebagai media pengembangan miselium jamur yang dicampur dengan nutrisi khusus. Nutrisi tersebut berfungsi sebagai makanan miselium agar dapat berkembang. Miselium tumbuh ke atas dan merakit diri menjadi sel-sel yang saling berhubungan. Dari proses tersebut akan menghasilkan sel-sel yang membentuk material yang kuat.

miselium

Foto: yankodesign.com

Mylo tidak hanya memproduksi tas jinjing, tetapi juga tas tangan, tempat pensil dan gantungan kunci. Desain tas ini bekerja sama dengan Chester Wallace, desainer mode asal Portland. Tas ini di banderol $400 dan tersedia dalam jumlah yang sangat terbatas.

Desainer kenamaan Stella McCartney ikut juga membantu dalam membuat prototipe tas Mylo. Sebagai informasi, prototipe tas Mylo diperkenalkan pertama kali dalam pameran Fashioned from Nature yang di selenggarakan di Museum Victoria dan Albert, London. Kerjasama yang dilakukan antara Stella dan Bolt Threads merupakan kali kedua. Sebelumnya mereka pernah membuat inovasi mode berkelanjutan lewat produk Microsilk.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tas-miselium-saatnya-jamur-naik-pangkat/feed/ 0
Wave of Waste, Gaun dari Sampah Lautan https://www.greeners.co/gaya-hidup/wave-of-waste-gaun-sampah-lautan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=wave-of-waste-gaun-sampah-lautan https://www.greeners.co/gaya-hidup/wave-of-waste-gaun-sampah-lautan/#respond Wed, 25 Oct 2017 10:33:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=19105 Gaya yang memadukan busana dengan sampah, seperti plastik dan kertas, sudah banyak dilakukan. Kini, desainer Linda Thomas, memprakarsai gaun dari limbah lapisan polystyrene papan seluncur.]]>

Trashion bukanlah barang baru dalam tren fashion dunia. Gaya yang memadukan busana dengan sampah, seperti plastik dan kertas, sudah banyak dilakukan. Kini, desainer Linda Thomas, memprakarsai gaun dari limbah lapisan polystyrene papan seluncur. Gaun ini bertajuk Wave of Waste.

wave of waste

Foto: eluxemagazine.com

“Aku terkejut dengan foto 2016 silam yang menunjukkan gundukan besar sampah bodyboard dan berbagai macam permasalahannya,” ujar Linda seperti dikutip Eluxe Magazine. “Aku ingin membuat sesuatu yang mampu menarik seseorang dengan tetap menggarisbawahi permasalahan ini.”

wave of waste

Foto: eluxemagazine.com

Bersama Keep Britain Tidy, Linda mengkreasikan gaun sepanjang 22 meter yang terbuat dari papan seluncur rusak yang ditinggalkan di pantai Devon and Cornwall, Inggris. Gaun #WaveofWaste membutuhkan waktu pengerjaan dua bulan, menggunakan 100 papan, bahkan BeachCare mampu mengumpulkan 560 sampah papan seluncur dari tong sampah, terkubur pasir, atau ditinggalkan begitu saja di pantai!

Neil Hembrow, petugas BeachCare mengatakan, “kami hanya menyentuh permukaannya saja. Dampak dari masuknya plastik ke dalam biota laut sangat menghancurkan. Lalu bayangkan 14.000 papan seperti ini menuju tempat pembuangan setiap musim panas, hanya menghabiskan uang pajak.”

Penulis: MFA/G41

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/wave-of-waste-gaun-sampah-lautan/feed/ 0
Salvatore Ferragamo Hadirkan Koleksi Pakaian dari Limbah Kulit Jeruk https://www.greeners.co/gaya-hidup/salvatore-ferragamo-hadirkan-koleksi-pakaian-limbah-kulit-jeruk/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=salvatore-ferragamo-hadirkan-koleksi-pakaian-limbah-kulit-jeruk https://www.greeners.co/gaya-hidup/salvatore-ferragamo-hadirkan-koleksi-pakaian-limbah-kulit-jeruk/#respond Thu, 01 Jun 2017 07:24:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17150 Kain ramah lingkungan nampaknya terus berkembang dari material yang tidak disangka-sangka. Kali ini, apa yang dilakukan oleh desainer Adriana Santanocito, pemilik merek Salvatore Ferragamo, bagi dunia mode harus diapresiasi.]]>

Kain ramah lingkungan nampaknya terus berkembang dari material yang tidak disangka-sangka. Kali ini, apa yang dilakukan oleh desainer Adriana Santanocito bagi dunia mode harus diapresiasi. Adriana berhasil mengembangkan kain dari limbah kulit jeruk dan mengubahnya menjadi koleksi pakaian yang indah.

Adriana Santanocito merupakan desainer asal Italia yang memiliki brand fesyen bernama Salvatore Ferragamo. Pada awalnya, Salvatore Ferragamo didirikan hanya untuk memenuhi tugas kuliah Adriana yang studi di jurusan fashion design. Namun, saat ini Salvatore Ferragamo telah berkembang luas dan memiliki cabang di berbagai negara.

Kisah Adriana mengolah limbah kulit jeruk menjadi pakaian modis dimulai pada tahun 2016. Di Italia, saat membuat jus jeruk, kurang lebih 700.000 ton kulit jeruk terbuang sia-sia per tahun. Di Italia sendiri, biaya untuk mendaur ulang limbah kulit jeruk cukup tinggi. Kondisi ini memunculkan ide Adriana untuk mengubah limbah kulit jeruk menjadi sesuatu yang lebih berguna yaitu mengubah limbah tersebut menjadi kain.

salvatore ferragamo

Foto: Salvatore Ferragamo via eluxemagazine.com

Untuk membuat kain dari limbah kulit jeruk, Adriana bekerja sama dengan Polytechnic University of Milan. Bersama mereka, Adriana memulai proyeknya dan menamainya dengan “Orange Fiber Fabric”. Hasilnya, kain yangbertekstur halus dan mengilap seperti kain sutra. Kain-kain tersebut dirancang sedemikian rupa menjadi pakaian yang menarik, lalu dipasarkan dengan merek Salvatore Ferragamo.

Kain yang terbuat dari limbah kulit jeruk tersebut dirancang menjadi blouse, gaun, celana panjang, dan juga syal. Koleksi pakaian ini memiliki potongan yang simpel dan bertekstur ringan sehingga cocok untuk digunakan saat musim panas. Meskipun terbuat dari limbah kulit jeruk, pakaian-pakaian tersebut tidak terlihat aneh sama sekali dan tidak terlihat unwearable.

Adriana memilih warna dominan monokrom seperti hitam dan putih dalam koleksi pakaian ini. Motif dalam pakaian ini didesain secara khusus oleh Mario Trimarchi, seorang arsitek dan seniman asal Italia. Ia terinspirasi dari pemandangan di Pantai Mediterranean. Motif-motif seperti bunga, dedaunan, dan buah-buahan digambarkan Mario dalam bentuk sketsa abstrak yang cantik.

Dengan menciptakan pakaian yang terbuat dari limbah kulit jeruk ini, Adriana membuktikan bahwa di bumi ini tidak ada “sampah yang sia-sia”. Ia berharap bahwa Salvatore Ferragamo dapat memicu perusahaan fesyen lainnya untuk kreatif dalam mengolah “sampah yang sia-sia” menjadi produk yang berguna.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/salvatore-ferragamo-hadirkan-koleksi-pakaian-limbah-kulit-jeruk/feed/ 0
Teknologi 3D dan Huruf Braille dalam Busana Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/teknologi-3d-dan-huruf-braille-busana-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=teknologi-3d-dan-huruf-braille-busana-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/teknologi-3d-dan-huruf-braille-busana-ramah-lingkungan/#respond Thu, 09 Feb 2017 09:05:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=15877 Babette Sperling, mahasiswa desain mode dari University of Zwickau, Jerman, membuat produk fesyen melalui printer 3D yang dibuat menggunakan material ramah lingkungan. Lebih dari itu, terdapat pesan khusus dibalik karyanya.]]>

Teknologi printer 3D sedang berkembang dan mulai dimanfaatkan pada berbagai bidang industi dan kesenian, termasuk dalam dunia fesyen, mulai banyak disainer pakaian yang memanfaatkan printer 3D untuk membuat karyanya. Namun apa yang dilakukan Babette Sperling lebih dari sekadar memanfaatkan teknologi.

Sperling, mahasiswa desain mode dari University of Zwickau, Jerman, membuat beragam produk fesyen melalui printer 3D yang memiliki pesan khusus yang dibuat menggunakan material ramah lingkungan. Pesan khusus yang ditampilkan berupa detail berbentuk susunan huruf braille pada bagian depan gaun maupun samping celana rancangannya.

“Bahan-bahan yang saya gunakan sesuai dengan konsep saya mengenai desain produk yang berkelanjutan secara utuh, yaitu memungkinkan busana dapat kembali ke alam setelah masa pakai mereka selesai,” ujar Sperling seperti dilansir dari 3Ders.org.

teknologi 3d

Foto: Steven Tail/3ders.org

Konsep berkelanjutan yang diusung Sperling melalui penggunaan material pembuatan hiasan braille merupakan filamen cetak 3D fleksibel yang terbuat dari bahan baku kompos bernama WillowFlex. Material ini dibuat khusus oleh perusahaan startup asal Jerman, Bioinspiration.

Pemilihan WillowFlex setelah beberapa kali melakukan uji coba material lainya bukan tanpa alasan. Setelah pengujian filamen, Sperling melihat bahwa material ini juga dapat dengan baik menyatu dengan kain yang juga berbahan alami, seperti katun atau sutera. Ia juga menggunakan WillowFlex ini bukan hanya sebagai hiasan braille namun juga sebagai material pembuat kancing pada gaun dan celana rancangannya.

teknologi 3d

Foto: 3ders.org

Sperling menjelaskan, sertifikasi WillowFlex juga telah sesuai dengan standar AS dan Uni Eropa (EN 13423) dan cocok dengan konsep produk yang berkelanjutan yang memungkinkan pakaian dapat kembali ke alam dengan baik setelah sudah tidak terpakai lagi. “WillowFlex juga membuktikan diri sebagai material yang kompatibel untuk digunakan di semua printer 3D yang kita gunakan dalam proses pengujian kami (Ultimaker, Flashforge, dan Makerbot),” jelasnya.

Apa yang dibuat Sperling merupakan upaya mewujudkan sebuah produk fesyen hasil printer 3D yang bisa digunakan sehari-hari bukan hanya konseptual yang dipamerkan pada pegelaran busana. Karyanya juga memiliki akses ke semua kalangan temasuk dengan keterbatasan penglihatan, dan yang terpenting adalah bahwa produknya begitu memperhatikan keberlanjutan alam dan dampak ekologi setelahnya. Tiga hal tersebut yang dilihatnya belum pernah ada selama ini dalam dunia fesyen berbasis printer 3D.

Tidak mengherankan jika apa yang dibuat oleh Sperling mendapatkan begitu banyak respon positif, termasuk penghargaan Audience Choice Award pada peluncuran pertamanya di ajang Mercedes Fashion Night 2006 lalu.

Penulis: AT/G39

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/teknologi-3d-dan-huruf-braille-busana-ramah-lingkungan/feed/ 0
“Menolak” Noda dan Ramah Lingkungan, Ably Gunakan Kain Filium https://www.greeners.co/gaya-hidup/menolak-noda-dan-ramah-lingkungan-ably-gunakan-kain-filium/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menolak-noda-dan-ramah-lingkungan-ably-gunakan-kain-filium https://www.greeners.co/gaya-hidup/menolak-noda-dan-ramah-lingkungan-ably-gunakan-kain-filium/#respond Tue, 07 Feb 2017 04:42:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=15850 Pada pertengahan 2016 lalu, Ably, perusahaan pakaian yang berbasis di Seattle, meluncurkan kaus dan jaket yang tahan air dan menolak bau tak sedap. Pakaian tersebut menggunakan bahan yang disebut Filium.]]>

Buat kamu yang mau bebas beraktivitas tanpa takut baju kotor, terkena noda ataupun bau tak sedap, kini ada pakaian dari material khusus untuk kebutuhan ini. Pada pertengahan 2016 lalu, Ably, perusahaan pakaian yang berbasis di Seattle, meluncurkan kaus dan jaket yang tahan air dan menolak bau tak sedap. Bukan hanya itu, Ably menjamin bahwa material ini terbuat dari bahan alami.

Menggunakan bahan yang mereka sebut Filium yang dikembangkan oleh Raj Shah, Akhil Shah dan mantan direktur kreatif Nike, Stanley Hainsworth. Filium adalah kain dari bahan alami yang dibuat dengan teknologi patent-pending.

Filium digambarkan sebagai proses yang membuat bahan alami tersebut mampu menahan cairan sehingga keringat, tumpahan noda dan bau tidak bisa menyerap kedalamnya. Meski begitu, kaus ini tetap baik untuk digunakan berolah raga.

filium

Gambar: Ably via Techtimes.com

Tidak seperti bahan sejenis, yang terbuat dari material sintetis yang dapat menjadi tidak nyaman dan terlalu basah ketika bekerja di luar ruangan, filium yang dibuat dengan kapas alami membuatnya tetap memiliki sirkulasi udara yang bagus, tahan air dan mampu mengering hingga 40 persen lebih cepat dari katun biasa. Bahan ini juga menjaga berbau segar bahkan jika konsumen memakainya ke pusat kebugaran setiap hari selama satu bulan.

“Disaat sebagian besar pakaian lainnya mengaku sebagai anti air dan noda dibuat dengan bahan sintetis berbasis minyak bumi (nilon, polyester, dll), Ably seratus persen terbuat dari katun premium alami, tanpa kandungan sintetis dan nanopartikel,” kata Raj Shah, co-pendiri Ably yang juga pencipta teknologi Filium, seperti dilansir Tech Times.

Terbuat dari bahan ramah lingkungan memang menjadi salah satu nilai lebih dari produk Ably, tanpa penggunaan nanoteknologi yang biasa digunakan pada pakaian bebas keringat dan bau lainnya, membuat Ably akan lebih mudah terurai dalam tanah saat sudah tidak digunakan. Dalam pembuatannya telah sesuai dengan standar bluesign untuk berkelanjutan yang ramah lingkungan. Lebih jauh juga mengurangi konsumsi air dan diterjen dalam pencucian.

“Pada akhirnya, kami sangat senang dengan keberlanjutan jangka panjang bagi bumi ini. Kami tidak menggunakan nanopartikel atau bahan kimia berbahaya yang menyerap dan larut ke dalam kulit atau lingkungan. Mengurangi pencucian, sampah kemasan, dan penggunaan yang lebih lama,” kata Shah.

Penulis: AT/G39

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/menolak-noda-dan-ramah-lingkungan-ably-gunakan-kain-filium/feed/ 0
Helm Lipat untuk Pesepeda https://www.greeners.co/ide-inovasi/helm-lipat-pesepeda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=helm-lipat-pesepeda https://www.greeners.co/ide-inovasi/helm-lipat-pesepeda/#respond Mon, 19 Dec 2016 08:36:02 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=15462 Dalam berkendara, terutama motor dan sepeda, helm merupakan benda mutlak yang harus digunakan untuk melindungi kepala kita. Namun helm yang satu ini berbeda dengan helm biasanya karena bentuknya dapat dilipat.]]>

Helm merupakan benda kecil yang terkadang merepotkan bila harus kita bawa bepergian. Dalam berkendara, terutama motor dan sepeda, helm merupakan benda mutlak yang harus digunakan untuk melindungi kepala kita. Namun helm yang satu ini berbeda dengan helm biasanya karena bentuknya dapat dilipat.

Seperti dilansir Inhabitat, helm lipat ini telah mendapatkan penghargaan untuk desainnya yang unik dan kemampuannya untuk melindungi kepala pemakai yang luar biasa. EcoHelmet namanya. Dibuat dari kertas tebal yang dibentuk dengan pola seperti sarang lebah, EcoHelmet yang dirancang oleh Isis Shiffer memudahkan para pesepeda untuk membawa helmnya kemanapun dia pergi, terutama di daerah perkotaan atau saat kita memakai sepeda sewaan.

helm lipat

Foto: Dyson/Inhabitat.com

Isis Shiffer menciptakan helm yang dapat dibuat dengan biaya rendah ini setelah menyadari betapa sulit dan mahalnya membeli atau menyewa helm sepeda saat kita bertualang di luar kota atau luar negeri. Tempat penyewaan sepeda mungkin mulai menjamur di berbagai kota, namun tidak halnya dengan penyewaan helm sepeda.

Perancang berusia 28 tahun dari New York ini menciptakan helm lipat untuk mengatasi permasalahan yang timbul di tempat yang menyediakan program berbagi sepeda. Daripada bersepeda tanpa helm dan beresiko cedera kepala di saat terjadi kecelakaan, Isis merancang EcoHelmet sebagai solusi yang mudah dibawa kemana-mana. Helm ini sudah memenangkan James Dyson Award sebagai pemenang internasional setelah sebelumnya menjadi pemenang di Amerika.

helm lipat

Foto: Dyson/Inhabitat.com

Perancang EcoHelmet adalah seorang lulusan Pratt Design Institute di New York dan sudah mengerjakan ide pembuatan helm ini untuk beberapa lama. EcoHelmet adalah produk terbarunya dan untuk memastikan desainnya berfungsi dengan baik, Isis melakukan pengujian tabrakan saat dia bersekolah dalam waktu singkat di Royal College of Art and Imperial College, London. Dia berencana untuk terus memperbaiki rancangannya dan mungkin menambahkan bahan yang dapat didaur ulang namun cukup tahan air sebelum masuk ke tahap produksi.

Idealnya, Isis membayangkan bahwa produk ini bisa dibeli di mesin otomatis yang terpasang di sebelah tempat penyewaan sepeda. Dengan harga yang murah, para penyewa sepeda bisa mendapatkan akses untuk peralatan pelindung diri yang aman dan bisa digunakan berkali-kali.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/helm-lipat-pesepeda/feed/ 0
Pewarna Alami dari Limbah Kapas https://www.greeners.co/gaya-hidup/pewarna-alami-limbah-kapas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pewarna-alami-limbah-kapas https://www.greeners.co/gaya-hidup/pewarna-alami-limbah-kapas/#respond Wed, 21 Sep 2016 11:43:49 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=14771 Cotton Incorporated bekerjasama dengan Archroma baru-baru ini menciptakan terobosan baru dengan memproduksi pewarna tekstil dari residu kapas. ]]>

Pengunaan pewarna alami pada produk tekstil sudah sejak lama kita temui di banyak masyarakat tradisional yang ada diseluruh dunia meski sebagian besar produsen tekstil lebih memilih menggunakan pewarna kimia. Dewasa ini, beberapa produsen fesyen mulai kembali melirik pewarna alami untuk produk yang mereka produksi. Beragam jenis dedaunan, bunga, buah sampai beberapa jenis akar dan kulit kayu bisa menjadi perwarna dengan ragam pilihan warna yang terhitung lengkap.

Cotton Incorporated bekerjasama dengan Archroma baru-baru ini menciptakan terobosan baru dengan memproduksi pewarna tekstil dari residu kapas. Pewarna tersebut bisa digunakan pada kain katun yang juga terbuat dari bahan dasar kapas. Perusahaan yang bergerak pada penelitian dan promosi kapas tersebut percaya apa yang mereka ciptakan merupakan penemuan baru dalam sejarah modern bahwa sebuah produk tekstil diproduksi dari bahan dan pewarna yang besumber dari hanya satu jenis tanaman.

Menghasilkan berbagai pilihan warna coklat, pewarna dari residu kapas ini sejatinya merupakan hasil dari teknologi yang dipatenkan Archroma dengan sebutan “EarthColors”. Dengan menggunakan teknologi tersebut, perusahaan yang berbasis di Swiss ini berupaya menciptakan berbagai pewarna alternatif menggunakan limbah dari hasil alam dan pertanian.

“Segera setelah kami mendengar tentang teknologi EarthColors, kami ingin mengeksplorasi kemungkinan kapas sebagai sumber pewarna alami,” kata Maria Ankeny, senior director of textile chemistry research dari Cotton Incorporated seperti dilansir Ecouterre.com.

limbah kapas

Foto: ecouterre.com

Maria Ankeny menambahkan bahwa selama ini produk turunan dari kapas sudah banyak digunakan pada industri makanan dan konstruksi, untuk itu pihaknya tertarik pada kemungkinan menggunakan material tersebut pada industri tekstil.

“Kami sangat berterima kasih kepada Cotton Incorporated yang telah memberikan tantangan ini. Archroma juga merupakan upaya kita untuk menantang status quo, dan teknologi EarthColors juga menunjukkan dedikasi kami untuk mendukung dan menginspirasi dunia fesyen yang berkelanjutan dengan warna-warna hangat yang dapat ditelusuri sumber bahan pembuatnya, mulai dari pekebunan sampai ke toko,” ujar Nuria Estape, Head of Textile Specialties Global Marketing & Promotion Archroma.

Selain menawarkan produk yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, EarthColor juga menawarkan teknologi tinggi mengenai penelusuran proses pembuatan pewarna dan sumber bahan bakunya.

Penelusuran informasi ini dimungkinkan dengan adanya chip khusus yang diletakan pada hangtag atau label di setiap produk. Data pada chip dapat diakses oleh konsumen dengan menggunakan ponsel.

Sejatinya hal tersebut juga serupa dengan apa yang diterapkan pada industri kapas di Amerika Serikat. Setiap bal kapas yang ditanam di AS menerima tag identifikasi. Tag memungkinkan pembeli kapas untuk melacak perjalanan produksi dari setiap bal kapas yang dibelinya. Tag ini juga mencakup informasi tentang karakteristik serat kapas yang terkandung disetiap balnya.

Penulis: AT/G39

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/pewarna-alami-limbah-kapas/feed/ 0
Pesan Lingkungan dalam Gaun Red Carpet Emma Watson https://www.greeners.co/gaya-hidup/pesan-lingkungan-gaun-red-carpet-emma-watson/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pesan-lingkungan-gaun-red-carpet-emma-watson https://www.greeners.co/gaya-hidup/pesan-lingkungan-gaun-red-carpet-emma-watson/#respond Mon, 11 Jul 2016 10:06:35 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=14204 Industri fesyen yang terus berkembang tidak hanya menciptakan inovasi mode namun juga standar yang semakin tinggi, termasuk dalam hal mode yang beretika dan berkelanjutan.]]>

Industri fesyen yang terus berkembang tidak hanya menciptakan inovasi mode namun juga standar yang semakin tinggi, termasuk dalam hal mode yang beretika dan berkelanjutan. Nampaknya, perkembangan ini perlahan menjadi tren hingga ke kalangan selebriti dan pesohor papan atas.

Salah satu yang menarik perhatian dunia mode dan para fashionista adalah gerakan #GreenCarpetChallenge. Dalam gerakan ini, para selebriti dan pesohor ditantang untuk tampil di hamparan red carpet dalam busana yang tidak hanya “berkelas” dan indah dipandang mata, namun juga ramah lingkungan. Salah satu yang menerima tantangan ini adalah aktris muda Emma Watson.

BACA JUGA: Eco-Fashion Ala Desainer Dalam Green Carpet Challenge

Pada MET Gala 2016 yang berlangsung di New York bulan Mei lalu, Emma tampil memukau dalam balutan gaun dengan palet warna hitam dan putih. Gaun ini dirancang khusus oleh Calvin Klein bekerjasama dengan Eco-Age dan Emma sendiri.

Gaun ini terdiri dari lima bagian, yaitu atasan berpotongan sabrina, bustier, rok pendek, celana panjang, dan rok panjang menjuntai. Dengan kelima bagian ini, banyak variasi gaya yang bisa ditampilkan dan dapat dipadupadankan dengan busana lainnya.

Gaun ini juga terdiri atas tiga bahan yang berbeda namun semuanya terbuat dari botol plastik bekas yang didaur ulang menjadi benang. Gaun ini menambahkan bahan sutra dan katun yang semuanya organik, serta ritsleting dari material daur ulang.

Foto kiri: Emma Watson saat menghadiri MET Gala 2016 di New York. Foto kanan: sketsa dan detail gaun. Sumber: facebook Emma Watson

Foto kiri: Emma Watson saat menghadiri MET Gala 2016 di New York. Foto kanan: sketsa dan detail gaun. Sumber: facebook Emma Watson

Menurut Emma, plastik merupakan salah satu polutan terbesar di bumi. Dapat mengubah limbah plastik dan memadukannya menjadi sebuah gaun membuktikan kekuatan dari kolaborasi antara kreativitas, teknologi dan fesyen.

“Terimakasih Calvin Klein & Eco Age untuk bekerjasama dengan saya dan menciptakan gaun yang luar biasa. Saya sangat bangga mengatakan bahwa (gaun) ini benar-benar berkelanjutan dan menghadirkan keterhubungan antara diri saya dan semua orang dalam jaringan rantai produksi yang turut berperan dalam pembuatannya,” tulis Emma pada halaman facebooknya, Emma Watson.

BACA JUGA: Livia Firth Kenakan Gaun Dari Plastik Daur Ulang

Saat berumur 19 tahun, aktris yang dikenal atas perannya sebagai Hermione dalam film serial “Harry Potter” ini berkunjung ke Banglades dan bertemu dengan seorang buruh yang umurnya tak jauh berbeda dengannya namun memiliki kualitas hidup yang sangat berbeda. Pengalaman tersebut menjadi titik balik baginya untuk mulai peduli dan menyuarakan isu-isu lingkungan dan sosial.

Meski gaun yang dipakainya tidak serta-merta mengurangi sampah yang telah terlanjur mencemari lingkungan, namun dalam wawancaranya dengan CNN, Emma optimis bahwa langkahnya akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. “Mengubah dunia dengan satu busana pada satu waktu,” katanya.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/pesan-lingkungan-gaun-red-carpet-emma-watson/feed/ 0
3 Limbah Makanan Dalam Green Fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/3-limbah-makanan-green-fashion/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=3-limbah-makanan-green-fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/3-limbah-makanan-green-fashion/#respond Sun, 03 Jul 2016 05:33:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=14155 Dunia fesyen yang ramah lingkungan telah mencapai tingkatan baru dalam perannya mengurangi sampah makanan melalui berbagai inovasi baru. Berikut ini beberapa limbah makanan yang dimanfaatkan menjadi produk green fashion.]]>

Dunia fesyen yang ramah lingkungan telah mencapai tingkatan baru dalam perannya mengurangi sampah makanan melalui berbagai inovasi baru. Para perancang berusaha keras memasukkan sisa makanan dan hasil sampingan yang berkaitan dengan makanan ke dalam kain, yang kemudian diubah menjadi produk-produk stylish mulai dari jaket, sabuk, dompet hingga sepatu.

Saat ini PBB memperkirakan ada 1,3 miliar ton makanan yang menjadi sampah tiap tahunnya. Angka ini menyamai seperempat dari jumlah total kalori yang dikonsumsi manusia. Mencari cara untuk memecahkan masalah ini adalah sebuah keniscayaan meskipun mengubah makanan menjadi produk fesyen tidak akan menyelesaikan masalah ini secara keseluruhan.

Meski demikian, dampak yang dihasilkan bukan berarti tidak baik. Paling tidak salah satunya edukasi masyarakat terhadap pentingnya 3R: Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycling (mengolah kembali) dapat tercapai. Seperti dilansir dalam Treehugger.com, berikut ini beberapa limbah makanan yang dimanfaatkan menjadi produk green fashion:

1. Ampas kopi
Rata-rata tiap orang meminum 3 cangkir kopi per hari. Hal ini berarti ampas kopi cukup banyak jumlahnya hingga sebuah perusahaan dari Spanyol bernama Ecoalf menciptakan cara untuk mengubah ampas tersebut menjadi benang. Ampas kopi dikumpulkan dari restoran-restoran, dikeringkan, dan minyak diekstrak dari ampas tersebut.

Ampas kemudian dihaluskan sampai menjadi tepung halus. Tepung halus inilah yang kemudian dicampurkan dengan poliester daur ulang untuk membuat benang. Hasilnya adalah benang yang lembut, ringan, fleksibel dan bisa “bernapas” namun bagian luarnya tahan air.

2. Kulit Salmon
Mungkin tidak banyak diantara kita yang makan ikan, namun hal ini tidak mengubah fakta bahwa miliaran kilogram ikan dan kepiting menghasilkan produk sampingan yang biasanya dibuang ke laut tiap tahunnya. Perikanan berkelanjutan pada akhirnya bukan hanya masalah menangkap ikan saja namun meningkatkan pemanfaatannya.

Perusahaan baru dari Kasberg bernama Tidal Vision, berjuang memanfaatkan setiap bagian dari ikan dan menciptakan bahan kulit dari ikan laut dan chitosan, sejenis polimer yang diekstrak dari kulit kerang. Tidal Vision memproduksi sabuk, dompet dan tas tangan sementara pabrik tekstilnya tidak lama lagi akan meluncurkan produk kaos, kaus kaki dan produk-produk lain yang menggabungkan chitosan dengan serat alami lainnya.

3. Sabut Kelapa
Perusahaan bernama Nau telah mengembangkan pelapis khusus untuk jaket musim dingin yang dibuat dari kelapa, sebagai bagian dari usaha mengurangi pemakaian bulu angsa. Prosesnya yaitu dengan cara membakar sabut kelapa yang selama ini dibuang dan mencampurkan abu sisa pembakarannya dengan poliester daur ulang yang kemudian menghasilkan benang yang mampu menjadi insulasi.

Produk yang semula bernama Cocona ini, sekarang diberi nama 37.5 Technology dan sekarang digunakan oleh perusahaan-perusahaan peralatan olahraga terkemuka seperti Adidas, Under Armor, Eddie Bauer dan North Face.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/3-limbah-makanan-green-fashion/feed/ 0
Tas dengan Misi Mengurangi Sampah Plastik https://www.greeners.co/gaya-hidup/tas-dengan-misi-mengurangi-sampah-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tas-dengan-misi-mengurangi-sampah-plastik https://www.greeners.co/gaya-hidup/tas-dengan-misi-mengurangi-sampah-plastik/#comments Wed, 09 Mar 2016 14:00:08 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=13116 Dikala pemerintah mengampanyekan “Indonesia bebas sampah 2020”, Elba mengkreasikan banner bekas menjadi sebuah tas yang unik sekaligus untuk membantu mengurangi penggunaan kantong plastik.]]>

Jakarta (Greeners) – Mengubah barang yang sudah tidak terpakai menjadi ide Elba untuk bersikap go green. Dikala pemerintah mengampanyekan “Indonesia bebas sampah 2020” dan mulai memberlakukan kantong plastik berbayar di toko ritel terhitung sejak 21 Februari 2016 lalu, ide cemerlang Elba menjadi salah satu bentuk dukungan pada upaya pelestarian lingkungan.

Perempuan bernama lengkap Elba Wilandri Naraheda ini mengkreasikan banner bekas menjadi sebuah tas yang unik. Awalnya, ia membuat tas dari banner bekas ini untuk digunakan sendiri. Namun setelah banyak yang tertarik dengan tas buatannya, Elba berniat untuk memproduksi tas tersebut secara massal. Ia pun memulainya pada awal Februari lalu.

Elba mendapatkan banner atau spanduk bekas dari gudang di daerah Jakarta Selatan. Untuk bahan tas produksinya, ia memilih banner dari bahan tahan air berjenis “ripstop”. Selain kuat, bahan ini mudah dilipat hingga berukuran kecil. Dari spanduk bekas dengan ukuran lima meter kali tujuh meter, ia bisa membuat tiga puluh tas punggung dan dua puluh tote bag.

Dari spanduk bekas dengan ukuran lima meter kali tujuh meter, Elba bisa membuat tiga puluh tas punggung dan dua puluh tote bag. Foto: dok. Elba

Dari spanduk bekas dengan ukuran lima meter kali tujuh meter, Elba bisa membuat tiga puluh tas punggung dan dua puluh tote bag. Foto: dok. Elba

Elba mendesain tas ini dengan model unisex agar bisa dipakai oleh pria maupun wanita. Tas punggung dan totebag ini juga dilengkapi dengan kantong khusus untuk menyimpan tas tersebut. Untuk membuat tas-tas tersebut, ia bekerjasama dengan temannya mulai dari proses mencari banner bekas, mendesain hingga menjahit banner bekas menjadi tas.

Gaya hidup ramah lingkungan menjadi bagian dari keseharian Elba sejak dirinya aktif dalam sebuah organisasi non profit di bidang lingkungan. Ia juga salah satu aktifis dan sukarelawan yang sering menyuarakan tentang kerusakan lingkungan di Indonesia. Aksi memanfaatkan banner bekas yang dilakukan olehnya menjadi salah satu cara untuk mendukung pengurangan penggunaan kantong kresek yang juga sedang digalakan oleh pemerintah.

“Daripada beli kantong plastik terus-menerus, lebih baik menggunakan tas ini karena dapat digunakan berulang kali,” ujarnya sedikit berpromosi.

Sebagai informasi, kampanye kantong plastik berbayar sudah dilaksanakan di 23 kota di Indonesia. Pemerintah dan Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo) memberlakukan harga minimum Rp200 per kantong plastik agar konsumen beralih menggunakan kantong belanja yang lebih ramah lingkungan sekaligus untuk mengurangi timbulan sampah plastik. Dengan adanya kampanye ini, usaha kreatif untuk mengurangi timbunan sampah seperti yang dilakukan Elba patut diapresiasi demi kebaikan lingkungan kita.

Penulis: Rayi Fahmi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tas-dengan-misi-mengurangi-sampah-plastik/feed/ 2
Mai-Lei Pecorari, Sentuhan ‘Artsy’ Pada Baju Lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/#respond Wed, 23 Dec 2015 09:20:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12348 Mengubah barang lama menjadi sesuatu yang dapat digunakan kembali sekaligus bernilai seni, membutuhkan lebih dari sekadar kreatifitas. Mai-Lei Pecorari menjadi salah satu desainer yang memiliki kemampuan ini. ]]>

Mengubah barang lama menjadi sesuatu yang dapat digunakan kembali sekaligus bernilai seni, membutuhkan lebih dari sekadar kreatifitas. Mai-Lei Pecorari, stylist yang kini mengubah imej menjadi desainer ini nampaknya tidak hanya kreatifitas, melainkan juga bakat. Lewat tangan wanita keturunan Jepang ini, terciptalah koleksi-koleksi “artsy” (bernilai seni) yang terangkum pada brand Kin-tsugi Goods.

Kin-tsugi Goods terinspirasi dari seni Jepang kuno yang muncul sekitar akhir abad ke 15. Saat itu, seniman istana memperbaiki keramik menjadi lebih bernilai dari sebelumnya. Inspirasi ini membuat Pecorari mengubah baju-baju lama menjadi pakaian yang dapat digunakan kembali. Ia pun ingin mengolaborasikan keterlibatan dengan dunia ramah lingkungan dan seni yang indah.

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

“Saya ingin menggabungkan antara desain estetik yang saya buat dengan keinginan saya untuk melawan cepatnya pergerakan industri fesyen,” ujar Pecorari, seperti yang dilansir dari Ecouterre.

Pecorari melihat bahwa banyak pakaian yang terbuang. Ia terobsesi untuk mencari pakaian bekas yang berkualitas bagus dan klasik di toko pakaian loak, kemudian memperbaharuinya menjadi barang fashionable-but-artsy ala Kin-tsugi.

“Saya ingin mempunyai surga ideal menurut saya, dimana konsumen hanya akan mendapatkan produk yang well-made,” tambah Pecorari.

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Kecintaannya terhadap kualitas barang-barang lama pun membuat Pecorari ingin konsumen dapat menggunakan koleksinya yang kekinian, namun berkualitas dan tahan lama selayaknya barang-barang lama yang masih bertahan bahkan hingga lebih dari 10 tahun tersebut. Semua yang dilakukannya dengan koleksi ini hanyalah dengan melakukan 100 persen mengolah baju-baju lama tersebut.

Secara desain, Pecorari memberikan aksen khas berupa corak cipratan cat pada permukaan koleksi pakaian pakaiannya. Corak tersebut menambah nilai seni pada desain-desain pakaiannya yang chic dan kasual. Pemilihan potongan yang berlayer juga dijadikan andalan oleh Percorari yang menambah kesan artsy pada setiap detail rancangannya.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/feed/ 0
Koleksi Tas Ramah Lingkungan dari Kulit Kursi Pesawat https://www.greeners.co/gaya-hidup/koleksi-tas-ramah-lingkungan-kulit-kursi-pesawat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=koleksi-tas-ramah-lingkungan-kulit-kursi-pesawat https://www.greeners.co/gaya-hidup/koleksi-tas-ramah-lingkungan-kulit-kursi-pesawat/#respond Fri, 18 Dec 2015 13:03:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12284 Alaska Airlines bekerjasama dengan Looptworks menggunakan kembali kulit kursi penumpang yang sudah lama menjadi berbagai tas berkualitas tinggi.]]>

Setelah sebelumnya United Airlines meluncurkan koleksi tas yang dibuat dari banner publikasi milik maskapai mereka yang sudah tidak terpakai, kali ini maskapai Alaska Airlines mengikuti jejak yang sama. Maskapai satu ini mengolah kembali bagian dari kursi penumpang pesawat yang telah usang menjadi berbagai produk tas yang unik.

Alaska Airlines bekerjasama dengan Looptworks menggunakan kembali kulit kursi penumpang yang sudah lama dari pesawat Horizon Air, anak perusahaan Alaska Airlines, menjadi berbagai tas berkualitas tinggi. Looptworks sendiri merupakan brand asal Portland yang sudah piawai mengolah barang-barang bekas menjadi produk baru. Siapa sangka, dari kulit kursi pesawat yang sudah tidak terpakai, dapat tercipta koleksi seri dompet, tas laptop, tote bag hingga tas selempang.

Produk tas "Carry On Collection" hasil kerjasama Alaska Airlines dan Looptworks. Foto: www.ecouterre.com

Produk tas “Carry On Collection” hasil kerjasama Alaska Airlines dan Looptworks. Foto: www.ecouterre.com

Banyak hal yang membuat tas tersebut menjadi spesial. Koleksi tas yang diberi label “Carry On Collection” ini dibuat eksklusif dan sesuai pesanan, sehingga tas ini tergolong terbatas dan tidak dibuat dalam jumlah banyak. Selain itu, tas ini pun diproduksi non-profit dan mempekerjakan para penyandang disabilitas di Oregon, serta diproduksi secara handmade dan bergaransi seumur hidup.

“Misi kami adalah untuk menginspirasi perubahan, baik para pembeli dan model dalam industri manufaktur, karena masih mudah untuk membuat produk dari bahan baru, berbeda dengan mengolah ulang bahan yang ada,” ujar Scott Hamlin, pendiri dari Looptworks seperti dikutip dari ecouterre.com.

Produk tas "Carry On Collection" hasil kerjasama Alaska Airlines dan Looptworks. Foto: www.ecouterre.com

Produk tas “Carry On Collection” hasil kerjasama Alaska Airlines dan Looptworks. Foto: www.ecouterre.com

Ide ini pun memangkas kebutuhan produksi kulit dengan jumlah banyak dan mengurangi penggunaan air hingga 1.500 galon air per produk. Sebuah produk upcycling yang diharapkan tidak hanya berpengaruh terhadap lingkungan dan alam, namun juga berguna untuk masa depan dunia fesyen. Sekaligus, memberikan kehidupan kedua bagi barang-barang bekas tersebut untuk bisa menjadi produk yang lebih dihargai.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/koleksi-tas-ramah-lingkungan-kulit-kursi-pesawat/feed/ 0
Sumber Alternatif Serat Alami Selain Katun https://www.greeners.co/gaya-hidup/sumber-alternatif-serat-alami-selain-katun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sumber-alternatif-serat-alami-selain-katun https://www.greeners.co/gaya-hidup/sumber-alternatif-serat-alami-selain-katun/#respond Sat, 21 Nov 2015 12:37:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11971 Katun merupakan salah satu bahan terbesar yang digunakan dalam industri tekstil global. Namun sayangnya, penggunaan katun yang massif ini diiringi dengan pemborosan tenaga, bahan kimia dan penggunaan air. Berbagai cara […]]]>

Katun merupakan salah satu bahan terbesar yang digunakan dalam industri tekstil global. Namun sayangnya, penggunaan katun yang massif ini diiringi dengan pemborosan tenaga, bahan kimia dan penggunaan air.

Berbagai cara dilakukan untuk mengurangi dampak negatif tersebut, salah satunya dengan beralih menggunakan bahan-bahan natural yang lebih ramah lingkungan dalam proses produksinya. Seperti dilansir dalam laman theguradian.com, ada beberapa sumber alam yang berpotensi menghasilkan serat yang tidak kalah kualitasnya dari katun.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/sumber-alternatif-serat-alami-selain-katun/feed/ 0
Bikini Handmade Ramah Lingkungan Koleksi Priscilla Lynch https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch/#respond Thu, 12 Nov 2015 10:18:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11874 Suatu yang baru kembali hadir ke industri fesyen baju renang. Kali ini giliran desainer Priscilla Lynch Hugo yang meluncurkan koleksi bikini bertajuk ‘Into the Water‘ pada Oktober 2015 lalu. Untuk […]]]>

Suatu yang baru kembali hadir ke industri fesyen baju renang. Kali ini giliran desainer Priscilla Lynch Hugo yang meluncurkan koleksi bikini bertajuk ‘Into the Water‘ pada Oktober 2015 lalu. Untuk koleksinya kali ini, Lynch menciptakan enam bikini yang terbuat dari material ramah lingkungan.

Lynch menggunakan kain berbahan dasar botol air plastik daur ulang untuk pembuatan bikini yang dibuat handmade ini. Bikini ini menjadi eksklusif karena koleksi ini dibuat dengan jumlah terbatas dan ditawarkan melalui website resminya. Desain yang ditampilkan pun terlihat elegan dan terinspirasi dari para wanita yang modern, klasik dan berseni.

“Saya suka cara saya menggambarkan bagaimana para perempuan itu hidup dan saya tahu saya menginginkannya dengan cara demikian,” ujar Lynch seperti dilansir situs Observer.com.

Bikin dalam koleksi "Into the Water" ini diluncurkan dalam 6 item. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Bikin dalam koleksi “Into the Water” ini diluncurkan dalam 6 item. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Lynch menciptakan enam macam bikini untuk koleksinya ini. Keenamnya adalah La Maja, Olympia, Sheba, The Picnic, Madam X dan Leda. Keenamnya memiliki desain yang berbeda dan unik. La Maja didesain menjadi bikini silhouette dan dilengkapi dengan removable cup yang dapat digunakan sesuai keinginan dan kebutuhan. Olympia pun tak kalah menarik. Bagian atas bikini dibuat lebih tertutup dengan aksen menyilang di bagian depan.

Untuk The Picnic dan Sheba dibuat dengan motif renda yang cantik dengan tali mengikat bagian atas bikini, sedangkan untuk Anda yang tidak percaya diri dengan bentuk pundak, bisa mencoba Madam X yang dapat menyamarkan kekurangan pada pundak Anda lewat desain atasan bikini yang memiliki tali lebar dan lurus. Last but not least, Leda yang mampu membuat Anda tampil lebih seksi dengan maksimal lewat aksen tali melintang dibagian depan.

Bikini handmade ramah lingkungan karya Priscilla Lynch Hugo. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Bikini handmade ramah lingkungan karya Priscilla Lynch Hugo. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Keenam bikini tersebut dibanderol dengan harga 200 hingga 300 dollar Amerika atau setara dengan kisaran 2,7 jutaan per bikini. Harga yang cukup mahal namun sepadan dengan desain elegan dan upayanya untuk mengurangi sampah plastik.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch/feed/ 0
Clothing Line Ini Buat Produk dari Sampah Botol Plastik https://www.greeners.co/gaya-hidup/clothing-line-ini-buat-produk-dari-sampah-botol-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=clothing-line-ini-buat-produk-dari-sampah-botol-plastik https://www.greeners.co/gaya-hidup/clothing-line-ini-buat-produk-dari-sampah-botol-plastik/#respond Thu, 15 Oct 2015 05:49:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11505 Sampah plastik botol merupakan salah satu gangguan lingkungan terbesar, terutama bagi laut. Di pantai contohnya, sampah botol plastik merupakan sampah terbanyak, salah satunya di pantai Fair Harbor, Long Island, New […]]]>

Sampah plastik botol merupakan salah satu gangguan lingkungan terbesar, terutama bagi laut. Di pantai contohnya, sampah botol plastik merupakan sampah terbanyak, salah satunya di pantai Fair Harbor, Long Island, New York. Bahkan di Amerika, sampah botol plastik dapat mencapai angka 50 milyar botol plastik dalam setahun. Jumlah yang cukup mencengangkan dan menjadi alasan yang kuat bagi para anak muda ini untuk membuat sebuah bisnis yang juga dapat menanggulangi masalah besar tersebut.

Fair Harbor Clothing Line merupakan proyek yang dicetuskan oleh Jake Danehy, Caroline dan Sam Jacobson. Proyek ini terbentuk atas keprihatinan mereka terhadap keberlangsungan pantai tercinta mereka, Fair Harbor. Pantai yang menghiasi kenangan masa kecil mereka tersebut, kini telah berubah dan sudah tidak sebersih, serta sedamai dulu.

Salah satu masalah terbesarnya apalagi kalau bukan sampah botol plastik. Anak-anak muda tersebut akhirnya terinspirasi menciptakan beberapa produk seperti kaos, topi, bahkan board short dari sampah-sampah botol plastik yang menggunung setiap harinya.

Fair Harbor Clothing Line membuat board short dari 11 botol plastik dengan serat polyester daur ulang. Foto: www.fairharborclothing.com

Fair Harbor Clothing Line membuat board short dari 11 botol plastik dengan serat polyester daur ulang. Foto: www.fairharborclothing.com

Board short ini terbuat dari botol minum plastik yang didaur ulang dan dikolaborasi dengan bahan katun dan serat polyester daur ulang. Jake dan teman-teman beranggapan bahwa dalam menciptakan sebuah eco fashion, tidak hanya dibutuhkan material-material yang di daur ulang untuk mengurangi dampak lingkungan. Karena itu, mereka mendonasikan 5 persen dari keuntungan penjualan mereka kepada Surfrider Foundation untuk membantu membersihkan sampah dari pantai dan laut.

Dibutuhkan 11 botol minum plastik untuk menciptakan sepasang board short pria. Awalnya botol-botol tersebut dikumpulkan dan diklasifikasikan sesuai dengan ketebalan plastik. Lalu, botol-botol tersebut diproses menjadi partikel filament kecil, sebelum akhirnya dipanaskan dan dianyam pada serat polyester daur ulang.

“Kami membuat celana tersebut dengan cermat dan penuh pemikiran untuk mengatasi masalah sampah plastik dari lingkungan dan juga membuatnya menjadi cukup tahan lama untuk segala kondisi dan tantangan alam,” ujar mereka, seperti yang dilansir dari situs resmi Fair Harbor Clothing Line.

Desain yang dibuat pun tidak terlalu rumit mengingat material dan proses pembuatan yang berbeda dengan celana lainnya, namun celana ini tetap dibuat dengan nyaman, tidak panas, tahan lama dan membuat penggunanya bebas bergerak.

Mereka pun akan meluncurkan koleksi busana terbaru, seperti T-Shirt dengan bermacam pilihan gaya, sweater, dan board short bercorak. Board short yang ditawarkan dibandrol dengan harga US$ 65 atau setara dengan hampir satu juta rupiah, serta topi dan T-Shirt seharga US$ 20 atau kisaran 300 ribu rupiah.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/clothing-line-ini-buat-produk-dari-sampah-botol-plastik/feed/ 0
Bra untuk Pejuang Kanker Payudara https://www.greeners.co/gaya-hidup/bra-untuk-pejuang-kanker-payudara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bra-untuk-pejuang-kanker-payudara https://www.greeners.co/gaya-hidup/bra-untuk-pejuang-kanker-payudara/#respond Sat, 10 Oct 2015 16:04:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11441 Tampil menarik merupakan hak semua orang. Termasuk bagi para penderita kanker payudara. Selain tentang kesehatan, masalah lain yang dihadapi para wanita penderita kanker payudara tidak lain adalah masalah penampilan. Perubahan […]]]>

Tampil menarik merupakan hak semua orang. Termasuk bagi para penderita kanker payudara. Selain tentang kesehatan, masalah lain yang dihadapi para wanita penderita kanker payudara tidak lain adalah masalah penampilan. Perubahan fisik pasca operasi, terutama pada payudara, membuat mereka kehilangan rasa percaya diri dan merasa tidak bisa tampil menarik dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebutlah yang membuat Balora Inc., sebuah perusahaan bra wanita ini menciptakan sebuah sport bra yang didesain khusus untuk para survivor kanker payudara dan juga untuk wanita lainnya yang ingin tetap percaya diri setelah masa-masa sulit yang menyebabkan perubahan fisik pada dirinya.

Bra for Life dapat menjadi solusi bagi penampilan wanita yang mengalami masalah dengan payudara pasca operasi, pengaruh kanker payudara, masalah dengan pergerakan, ketidakseimbangan proporsi badan atau bagi mereka yang hamil dan menyusui. Sebuah sport bra yang amat multi fungsi dan dapat digunakan dalam segala keadaan.

“Bra of Life dari Barola ini dibuat sebagai penghormatan bagi Ibu saya atas perjuangannya melawan kanker payudara dan untuk mendukung para wanita lainnya dalam menjalani perjuangan dan hidup mereka,” ujar Kristen Airhart, pendiri Barola Inc., seperti dilansir dari rilis yang dikeluarkan PRNewsWire.com.

Kristen pun mengungkapkan bahwa dirinya dan Barola memiliki misi untuk memberikan kenyamanan bagi para wanita untuk tetap kuat, sehat dan aktif selama menjalani perawatan kanker payudara.

Bra for Life didesain khusus untuk survivor kanker payudara. Foto: barolainc.com

Bra for Life didesain khusus untuk survivor kanker payudara. Foto: barolainc.com

Sport bra ini didesain amat stylish, nyaman dan sangat fashionable. Bra ini dilengkapi dengan penyangga payudara yang didesain sedemikian rupa agar para penggunanya dapat menggunakannya tanpa takut bergeser atau jatuh saat beraktifitas, terutama saat berolahraga. Bra tersebut pun terbuat dari material yang ramah lingkungan, tidak sesak, anti bakteri dan tahan bau tak sedap.

Bra of Life memberikan dua tawaran desain dalam koleksinya, yakni Tabby dan Mellisa. Kedua nama tersebut diambil dari dua wanita pejuang kanker, yakni Melissa Wyatt dan Tabitha Vona. Tabby menawarkan bra dengan resleting di depan cup bra yang membuat penggunanya dapat dengan mudah memasang penyangga payudara bagi para pejuang kanker payudara dan bra ini dapat berguna bagi ibu menyusui. Series ini dibanderol dengan harga sekitar US$ 115 atau setara dengan Rp 1,6 juta.

Sedangkan Melissa didesain dengan pengait ganda dan dapat menyesuaikan dengan ukuran payudara yang berubah-ubah akibat hasil kenaikan berat badan karena kemoterapi. Untuk series satu ini, harga yang ditawarkan yaitu US$ 120 atau setara dengan Rp 1,7 juta.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bra-untuk-pejuang-kanker-payudara/feed/ 0