intensitas curah hujan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/intensitas-curah-hujan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 23 Dec 2024 04:31:56 +0000 id hourly 1 BMKG: La Nina Lemah Picu Peningkatan Curah Hujan di Indonesia https://www.greeners.co/berita/bmkg-la-nina-lemah-picu-peningkatan-curah-hujan-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-la-nina-lemah-picu-peningkatan-curah-hujan-di-indonesia https://www.greeners.co/berita/bmkg-la-nina-lemah-picu-peningkatan-curah-hujan-di-indonesia/#respond Mon, 23 Dec 2024 04:31:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=45525 Jakarta (Greeners) – Pada akhir tahun ini, bencana hidrometeorologi melanda banyak wilayah Indonesia. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengungkapkan bahwa musim hujan tahun ini berbeda dengan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pada akhir tahun ini, bencana hidrometeorologi melanda banyak wilayah Indonesia. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengungkapkan bahwa musim hujan tahun ini berbeda dengan sebelumnya. Sebab, Indonesia tengah mengalami fenomena La Nina lemah.

La Nina adalah fenomena iklim global akibat anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang menjadi lebih dingin daripada biasanya.

“Tahun lalu El Nino dan bersifat kering, sementara tahun ini adalah La Nina lemah. Hal inilah yang menjadi booster pertumbuhan awan hujan sehingga intensitas dan volume hujan meningkat,” ungkap Dwikorita dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Tahun 2024 di Surabaya, Sabtu (21/12).

Bagi Indonesia, fenomena ini menyebabkan peningkatan curah hujan di hampir sebagian besar wilayah yang berkisar 20–40 persen.

BACA JUGA: La Nina Sebabkan Musim Kemarau 2022 Mundur

Karena terletak di antara dua benua dan dua samudra, lanjut Dwikorita, saat ini di Indonesia juga terjadi bibit siklon yang mengakibatkan angin kencang, gelombang tinggi, dan cuaca ekstrem.

Selain itu, terdapat dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) dan potensi Cold Surge (seruak udara dingin) yang bergerak dari daratan Asia (Siberia) menuju wilayah barat Indonesia. BMKG memproyeksikan hal itu akan aktif selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru).

“Saat ini, Indonesia tengah berada di puncak musim penghujan. Kondisi ini ditambah La Nina serta kombinasi aktif Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby, gelombang Kelvin, serta konvektif lokal di wilayah barat, selatan, dan tengah Indonesia. Ini memperkuat dinamika atmosfer yang mendukung terjadinya hujan lebat di berbagai daerah,” tambahnya.

Indonesia tengah mengalami fenomena La Nina lemah. Foto: Freepik

Indonesia tengah mengalami fenomena La Nina lemah. Foto: Freepik

Keluarkan Peringatan Dini

Sejak bulan November, BMKG terus mengeluarkan peringatan dini terkait potensi bencana hidrometeorologi. Mereka terus mengimbau masyarakat di wilayah rawan bencana.

BMKG juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait dan juga pemerintah daerah. Hal itu untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiap-siagaan akan potensi bencana hidrometeorologi. Sebab, bencana tersebut bisa datang sewaktu-waktu.

Terkait kondisi di Jawa Timur, Dwikorita menerangkan bahwa seluruh wilayah di Jawa Timur telah memasuki musim hujan. Perkiraan puncak musim hujan terjadi di bulan Februari 2025.

Prakiraan curah hujan sepanjang Desember 2024 – Januari 2025, wilayah Jawa Timur umumnya berada pada kategori menengah hingga sangat tinggi (201- >500mm). Sementara, sifat hujan normal hingga atas normal. Selain menghadapi potensi banjir, sejumlah wilayah juga berpotensi mengalami tanah bencana longsor, gelombang tinggi, serta banjir rob.

Di samping itu, Pj Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono menyampaikan bahwa rakor ini merupakan bentuk upaya meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana hidrometeorologi. Terutama, pada musim penghujan dan momen libur Natal serta Tahun Baru (Nataru) 2025.

BACA JUGA: BMKG : Waspada Cuaca Ekstrem saat Pancaroba

“Pemprov Jatim telah menyiapkan langkah antisipasi bencana hidrometeorologi, antara lain rakor bencana hidrometeorologi, surat imbauan Gubernur ke kabupaten dan kota se-Jatim menetapkan status siaga darurat bencana meteorologi dengan SK Gubernur,” katanya.

Pemprov juga membuat keposkoan siaga bencana hidrometeorologi, apel siaga, dan gelar peralatan serta pengecekan Early Warning System (EWS). Kemudian, dukungan logistik dan peralatan yang mereka serahkan kabupaten dan kota.

Mitigasi bencana di Jatim terbagi menjadi delapan klaster. Di antaranya Metropolitan, Madura, Ijen, Probomajang, Malang Raya, Wilis Selatan, Wilis Utara, dan Labanegoro.

Kemudian, terdapat juga pengelempokan Daerah Aliran Sungai (DAS). Di antaranya wilayah Sungai Bengawan Solo, WS Brantas, WS Madura-Bawean, dan WS Welirang Rejoso yang mengakibatkan banjir di beberapa wilayah.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-la-nina-lemah-picu-peningkatan-curah-hujan-di-indonesia/feed/ 0
BMKG: Waspadai Curah Hujan Ekstrem https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspadai-curah-hujan-ekstrem/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-waspadai-curah-hujan-ekstrem https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspadai-curah-hujan-ekstrem/#respond Tue, 11 Dec 2018 05:43:47 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=22028 Hasil pantauan dan analisa BMKG menunjukkan bahwa sejumlah daerah di Indonesia telah diguyur hujan selama beberapa hari terakhir dan berdampak pada timbulnya bencana hidrometeorologi.]]>

Jakarta (Greeners) – Hasil pantauan dan analisa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa sejumlah daerah di Indonesia telah diguyur hujan selama beberapa hari terakhir dan berdampak pada timbulnya bencana hidrometeorologi seperti genangan, banjir, dan longsor. Perubahan iklim diperkirakan turut mempengaruhi peningkatan curah hujan.

“Beberapa hari terakhir menunjukkan mulai tampak adanya aktivitas aliran massa udara dingin dari Asia (Monsun Dingin Asia) yang signifikan sehingga dampaknya mempengaruhi peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia. Disamping itu, seminggu ke depan diprediksi akan adanya aliran massa udara basah yang menjalar dari Barat Samudera Hindia menuju ke wilayah Indonesia bagian Barat yang dikenal dengan fenomena Madden Julian Oscillation (MJO),” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R. Prabowo, Senin (10/12/2018).

BACA JUGA: BMKG Akan Merilis Informasi Peringatan Dini DBD Berbasis Iklim Awal Tahun 2019 

Mulyono mengatakan, interaksi kedua fenomena tersebut ditambah dengan tingginya aktifitas gangguan tropis berupa sirkulasi dan pertemuan angin dapat menyebabkan dan meningkatkan potensi terjadinya hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, khususnya di Sumatera dan Jawa.

“Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang di beberapa wilayah Indonesia dalam periode seminggu ke depan (10 – 16 Desember 2018), antara lain di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur,” ujar Mulyono. Provinsi Bali, Kalimantan Barat dan Tengah serta wilayah Maluku juga akan berpotensi terjadi hujan lebat pada periode ini.

BACA JUGA: BMKG: Waspadai Peningkatan Curah Hujan 

Selain itu potensi gelombang tinggi 2,5 hingga 4 meter diperkirakan terjadi di Perairan Utara Kep. Natuna, perairan barat Kep. Simeulue hingga Mentawai, perairan Bengkulu – Enggano, perairan barat Lampung, Samudera Hindia Selatan Jawa hingga Lombok.

Lebih lanjut, Mulyono mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak lanjutan yang dapat timbul dari kondisi cuaca tersebut, seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang dan jalan licin.

Perubahan Iklim Mempengaruhi Curah Hujan

Kepala Bidang Analisis Perubahan Iklim BMKG Kadarsah mengatakan bahwa perubahan iklim yang semakin parah turut mempengaruhi hujan lebat yang mengakibatkan banjir ini. “Perubahan iklim salah satu indikasinya meningkatnya peristiwa ekstrem berupa temperatur dan curah hujan yang ekstrem. Curah hujan yang ekstrem berpotensi menyebabkan bencana lainnya, seperti banjir, longsor, puting beliung, dan lainnya,” ujar Kadarsah saat dihubungi Greeners pada Selasa (11/12/2018).

Menurut Kadarsah indikasi perubahan iklim pada curah hujan ini bisa diukur melalui rata-rata curah hujan selama 30 tahun tergantung lokasi yang berbeda-beda. Seperti informasi data iklim bulan November lalu di Tasikmalaya curah hujan terakumulasi sebulan tertinggi 1.325 milimeter terjadi di Karang Nunggal, kecepatan angin sesaat tertinggi 43 kilometer per jam terjadi di Aceh, kelembapan udara rerata harian terendah 41,8% terjadi di Jatiwangi, Jawa Barat, hari kering terpanjang 149 hari terjadi di Bendungan Kelara, Sulawesi Selatan.

“Kalau dibuat kesimpulan rata-rata kuantitas setiap daerah tidak bisa karena setiap daerah di Indonesia memiliki kadar cuaca yang berbeda. Tapi bisa disimpulkan bahwa curah hujan yang terjadi saat ini intensitas dan akumulasinya dipengaruhi oleh perubahan iklim,” kata Kadarsah.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspadai-curah-hujan-ekstrem/feed/ 0
BMKG: Waspadai Peningkatan Curah Hujan https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspadai-peningkatan-curah-hujan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-waspadai-peningkatan-curah-hujan https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspadai-peningkatan-curah-hujan/#respond Thu, 08 Nov 2018 05:27:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=21690 Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat untuk mewaspadai curah hujan yang meningkat pada musim penghujan ini. Musim hujan diperkirakan dimulai pada November tahun ini hingga bulan Maret 2019.]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat untuk mewaspadai curah hujan yang meningkat pada musim penghujan ini. Musim hujan diperkirakan dimulai pada November tahun ini hingga bulan Maret 2019.

Deputi Bidang Meteorologi Mulyono R. Prabowo mengatakan bahwa memasuki musim penghujan kondisi curah hujan akan meningkat di beberapa bagian wilayah Indonesia. “Memang dalam beberapa hari ke depan aktivitas kondisi cuaca mengindikasikan ada potensi pertumbuhan awan dan curah hujan mungkin satu sampai dua minggu ke depan. Kondisi curah hujannya pun akan meningkat dibandingkan kemarin,” ujar Mulyono saat dihubungi Greeners melalui telepon, Rabu (07/11/2018).

Persebaran musim hujan di wilayah Indonesia berbeda-beda dan awal musim hujan tidak seragam. BMKG memprediksi khususnya untuk wilayah Indonesia bagian Selatan ekuator musim hujan dimulai pada akhir Oktober hingga awal November. Di Sumatera bagian tengah, Sumatera Utara, dan Aceh musim hujan dimulai pada awal November, sedangkan untuk wilayah Jawa, seperti Jawa Tengah ke arah Timur, belum semua bagiannya turun hujan bahkan NTT tidak hujan berturut-turur lebih dari 30-60 hari.

“Memang tergantung wilayahnya, tidak berarti kita berbicara musim hujan semua wilayah Indonesia masuk musim penghujan. Bahkan ada beberapa wilayah seperti wilayah Indonesia bagian barat hujan tapi di wilayah Maluku bagian tengah musim kemarau, jadi terbalik,” kata Mulyono.

Menurut Mulyono intensitas hujan dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti kondisi geografis Indonesia yang berbeda-beda, posisi suatu wilayah terhadap ekuator atau garis khatulistwa dan pengaruh kondisi atmosfer global yang tidak merata.

Mulyono menyampaikan bahwa dengan melemahnya aktivitas aliran massa udara kering dari Australia, terbentuknya area pertemuan angin di wilayah Jawa dan masih adanya pola sirkulasi siklonik di sekitar wilayah perairan Barat Sumatera, Kalimantan dan perairan Kepulauan Natuna membuat curah hujan intensitas tinggi di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Hujan yang memiliki kisaran lebih dari 20 mm/hari masih terjadi di wilayah Sumatera, Kalimantan serta Papua.

Potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang diprediksi terjadi di sekitar wilayah Indonesia dalam periode beberapa hari ke depan, antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Sementara itu potensi gelombang tinggi air laut diperkirakan terjadi di perairan Enggano-Bengkulu, perairan barat Lampung, Samudera Hindia Barat Lampung, Selat Sunda bagian Selatan, perairan selatan Jawa hingga Lombok, Selat Bali dan Selat Lombok bagian Selatan, Samudera Hindia Selatan Jawa hingga Lombok akan terjadi gelombang tinggi mencapai 2,5 hingga 4 meter.

“Saya mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin,” kata Mulyono.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspadai-peningkatan-curah-hujan/feed/ 0
Pertumbuhan Awan Hujan Sebabkan Hujan Deras di Jabodetabek https://www.greeners.co/berita/pertumbuhan-awan-hujan-sebabkan-hujan-deras-jabodetabek/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pertumbuhan-awan-hujan-sebabkan-hujan-deras-jabodetabek https://www.greeners.co/berita/pertumbuhan-awan-hujan-sebabkan-hujan-deras-jabodetabek/#respond Wed, 22 Feb 2017 10:13:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15982 Hujan deras yang mengguyur wilayah Jabodetabek sejak Selasa (21/02), disebabkan oleh adanya area konvergensi tepat di sekitar wilayah Jakarta yang membuat pertumbuhan awan hujan menjadi sangat kuat.]]>

Jakarta (Greeners) – Hujan deras yang mengguyur wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek) sejak Selasa (21/02) dini hari, disebabkan oleh adanya area konvergensi atau pertemuan angin tepat di sekitar wilayah Jakarta khususnya bagian utara. Hal ini membuat pertumbuhan awan hujan menjadi sangat kuat yang ditandai dengan banyaknya awan Cumulonimbus.

Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yunus S. Suwarinoto mengatakan, dari pantauan kondisi atmosfer global dan regional, pengaruh gelombang tropis memicu munculnya area tekanan rendah serta monsun Asia yang masih cukup kuat. Secara tidak langsung, kondisi ini memengaruhi fenomena cuaca regional dan lokal seperti munculnya daerah konvergensi kuat di pesisir barat Sumatera hingga wilayah Jawa bagian barat.

“Melihat dari potensi perkembangan awan hujan pagi ini, diperkirakan hujan ringan hingga sedang masih akan bertahan di wilayah Jabodetabek. Masyarakat diimbau tetap waspada dan berhati-hati khususnya ketika beraktifitas di luar rumah mengingat sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam puncak musim hujan sehingga peningkatan intensitas curah hujan masih akan terjadi,” kata Yunus, Jakarta, Selasa (21/02).

BACA JUGA: 14 Perumahan di Kota Bekasi Terendam Banjir

Sementara itu, pos pengamatan BMKG mencatat untuk curah hujan selama 24 Jam hingga pukul 07.00 WIB pada Rabu (22/02) sebagai berikut: Lebak bulus 71.7 mm, Pakubuwono 106 mm, Beji 65 mm, Depok 83 mm, Gunung Mas 39 mm, Pasar Minggu 106.5 mm, Tangerang 92.5 mm, Pondok Betung 67.4mm, Cengkareng 72 mm, Tanjung Priok 115.9 mm, Kemayoran 180 mm, Dramaga 75 mm, Curug 37.5 mm, Kepala Gading 145.4 mm, TMII 48.8 mm, Parung 21.8 mm, Jagorawi 72.5 mm, Mekarsari 60.8 mm, Leuwiliang 89.7 mm, Katulampa 35.8 mm, dan Bekasi 65 mm.

Curah hujan tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan hujan yang menyebabkan banjir di Jakarta pada tahun 2007, 2013 dan 2014 yang saat itu mencapai 200-350 mm. Peluang hujan ekstrem saat ini makin sering terjadi. Artinya, risiko terjadinya banjir di wilayah Jabodetabek juga makin tinggi jika tidak dilakukan upaya pengendalian banjir yang komprehensif dan berkelanjutan.

“Sebagai catatan, hujan memiliki kisaran lebih dari 50 mm selama 24 jam, sehingga hampir sebagian besar wilayah Jabodetabek masih akan terjadi hujan sedang hingga lebat,” jelasnya.

Hujan deras yang terjadi pun menyebabkan banjir yang mengepung wilayah Jakarta, Bekasi dan Tangerang. Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, kalau kepungan banjir tersebut menunjukkan bahwa wilayah Jabodetabek masih rentan terhadap banjir.

BACA JUGA: Antisipasi Banjir, BNPB dan MIT Luncurkan PetaBencana.id

Dari citra satelit Landsat tahun 1990 hingga 2016 menunjukkan permukiman dan perkotaan berkembang luar biasa. Permukiman nyaris menyatu antara wilayah hulu, tengah dan hilir dari daerah aliran sungai yang ada di Jabodetabek. Sangat minim ruang terbuka hijau atau kawasan resapan air, sehingga suatu keniscayaan air hujan yang jatuh sekitar 80 persennya berubah menjadi aliran permukaan. Bahkan di wilayah perkotaan sekitar 90 persen menjadi aliran permukaan.

“Kapasitas sungai-sungai dan drainase perkotaan untuk mengalirkan aliran permukaan masih terbatas. Okupasi bantaran sungai menjadi permukiman padat menyebabkan sungai sempit dan dangkal. Sungai yang harusnya lebar 30 meter, saat ini hanya sekitar 10 meter. Bahkan ada sungai yang 5 meter. Sudah pasti kondisi tersebut menyebabkan banjir. Relokasi permukiman di bantaran sungai adalah keniscayaan jika ingin memperlebar kemampuan debit aliran. Tapi seringkali relokasi sulit dilakukan karena kendala politik, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat,” ujar Sutopo menerangkan.

Sutopo menyatakan penataan ruang perlu dikendalikan. Daerah-daerah sempadan sungai, kawasan resapan air dan kawasan lindung harus dikembalikan ke fungsinya. Menurutnya, tidak mungkin Pemda Jakarta sendirian mengatasi banjir.

“Harus kerjasama dengan pemerintah pusat dan pemda lain. Studi banjir dan masterplan pengendalian banjir sudah ada sejak lama. Tinggal komitmen bersama,” katanya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pertumbuhan-awan-hujan-sebabkan-hujan-deras-jabodetabek/feed/ 0
BMKG: Curah Hujan Meningkat Pada Tiga Bulan Mendatang https://www.greeners.co/berita/bmkg-curah-hujan-meningkat-tiga-bulan-mendatang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-curah-hujan-meningkat-tiga-bulan-mendatang https://www.greeners.co/berita/bmkg-curah-hujan-meningkat-tiga-bulan-mendatang/#respond Thu, 13 Oct 2016 13:54:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=14954 Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan curah hujan di Indonesia diperkirakan akan semakin meningkat pada tiga bulan terakhir menjelang akhir tahun 2016.]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan curah hujan di Indonesia diperkirakan akan semakin meningkat pada tiga bulan terakhir menjelang akhir tahun 2016.

Kepala BMKG Andi Eka Sakya menjelaskan, sesuai dengan pengamatan BMKG, musim penghujan 2016 mulai terjadi di wilayah selatan Indonesia. Saat ini, hal tersebut dapat diamati dari tingginya curah hujan di wilayah Jawa Barat bagian selatan dan bagian selatan Banten. Curah hujan di kedua daerah tersebut bahkan telah terpantau cukup tinggi sejak September lalu.

BACA JUGA: Fenomena La Nina, Masyarakat Diminta Waspadai Banjir dan Longsor

Selain wilayah Jawa Barat, lanjutnya, hampir seluruh wilayah di Tanah Air pun bakal diguyur hujan. Seperti di sebagian Sumatera, Sulawesi Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah berpotensi mengalami hujan petir. Sementara potensi gelombang tinggi bakal terjadi di Mentawai dan Bengkulu.

“Pada tiga bulan mendatang, curah hujan di bagian selatan Jawa Barat diperkirakan mengalami peningkatan signifikan. Potensi serupa juga diperkirakan terjadi di hampir seluruh wilayah Jawa bagian Selatan,” jelasnya, Jakarta, Kamis (13/10).

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Mulyono Rahadi Prabowo menambahkan, BMKG masih terus mengingatkan masyarakat yang tinggal di bagian selatan Jawa Barat, kawasan pegunungan, daerah aliran sungai dan dataran rendah untuk berhati-hati terhadap bahaya bencana banjir, banjir bandang, puting beliung dan tanah longsor.

BACA JUGA: Peta Rawan Banjir dan Longsor Baru Mencakup 100 Kabupaten

Selain itu, bagi pengguna dan operator jasa transportasi laut, nelayan dan masyarakat yang berlibur ke wilayah pesisir, terusnya, diimbau untuk mewaspadai potensi gelombang tinggi dengan ketinggian antara 2,5 meter – 4 meter yang akan terjadi.

“Proses transisi ini banyak ditandai dengan angin kencang serta hujan deras yang turun dalam waktu singkat,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-curah-hujan-meningkat-tiga-bulan-mendatang/feed/ 0
Fenomena La Nina, Masyarakat Diminta Waspadai Banjir dan Longsor https://www.greeners.co/berita/fenomena-la-nina-masyarakat-diminta-waspadai-banjir-dan-longsor/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=fenomena-la-nina-masyarakat-diminta-waspadai-banjir-dan-longsor https://www.greeners.co/berita/fenomena-la-nina-masyarakat-diminta-waspadai-banjir-dan-longsor/#respond Sun, 04 Sep 2016 05:05:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=14662 Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) beberapa waktu lalu telah mendeteksi munculnya fenomena La Nina meskipun masih lemah dan diprediksi akan bertahan hingga awal 2017.]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) beberapa waktu lalu telah mendeteksi munculnya fenomena La Nina meskipun masih lemah dan diprediksi akan bertahan hingga awal 2017. Bersamaan dengan La Nina, terjadi juga fenomena Dipole Mode Negatif sejak Mei 2016 yang diprediksi akan bertahan hingga November 2016, dan kondisi anomali suhu muka laut yang hangat di sekitar perairan Indonesia. Dengan kondisi demikian, maka dipastikan akan menyebabkan tingginya curah hujan di Sumatera dan Jawa bagian Barat.

Kepala BMKG Andi Eka Sakya menjelaskan, fenomena La Nina adalah gejala alam yang diindikasikan mendinginnya suhu muka laut di lautan Pasifik Tengah dan Timur. Dampak dari gejala tersebut mengakibatkan jumlah curah hujan yang makin tinggi di suatu daerah. Dampak yang paling nyata salah satunya adalah periode musim kemarau tahun 2016 lebih singkat dan awal musim hujan menjadi lebih awal setidaknya pada 70% wilayah Indonesia.

“Fenomena La Nina yang dapat menyebabkan curah hujan tinggi ini juga harus dapat diantisipasi karena cukup berpotensi mengakibatkan bencana alam seperti banjir dan longsor dibeberapa daerah yang memang rawan. Selain itu, masyarakat juga perlu diimbau untuk tidak membuang sampah di sungai, drainase diperbaiki dan dibersihkan serta diperbanyak sumur resapan,” ujarnya kepada Greeners, Jakarta, Sabtu (03/09).

BACA JUGA: BMKG Minta Masyarakat Pesisir Waspadai Gelombang Tinggi

BMKG juga memperkirakan musim “kemarau basah” akan berlangsung sampai dengan September di sebagian besar wilayah Indonesia. Pulau Jawa, Sulawesi bagian Timur, Papua bagian Tengah dan Kalimantan serta Sumatera bagian Selatan diprediksi akan mengalamai kenaikan curah hujan hingga 200 persen.

Kepala Badan Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan, kombinasi antara La Nina, Dipole Mode Negatif, dan anomali suhu muka air laut yang hangat telah memberikan dampak signifikan meningkatnya bencana di Indonesia saat ini. Pada periode 1 Januari hingga 1 September 2016, terdapat 1.495 kejadian bencana di Indonesia yang menyebabkan 257 orang meninggal dunia, 2,86 juta orang menderita dan mengungsi, dan ribuan rumah rusak. Lebih dari 95 persen dari bencana tersebut adalah bencana hidrometeorologi yang dipengaruhi oleh cuaca.

Longsor, katanya, adalah jenis bencana yang paling mematikan hingga saat ini. Hingga awal September 2016 saja, terdapat 323 kejadian longsor yang menyebabkan 126 orang meninggal dan 18.655 jiwa menderita dan mengungsi. Selain itu, terdapat 535 kejadian banjir dengan dampak 70 orang meninggal dan 1,94 juta jiwa menderita dan mengungsi akibat banjir.

BACA JUGA: KLHK: Indonesia Mulai Masuki Musim Krusial Kebakaran Hutan dan Lahan

Hal ini juga terjadi pada periode La Nina sebelumnya seperti tahun 2010 dan 2011, Indonesia mengalami curah hujan di atas normal, terutama di Pulau Jawa, Maluku, Sulawesi, Sumatera bagian Selatan, Kalimantan dan Papua sehingga meningkatkan risiko bencana banjir dan longsor.

“Dibandingkan dengan kejadian bencana pada tahun 2015, jumlah korban meninggal dan hilang pada tahun 2016 mengalami peningkatan 54 persen, dari 167 jiwa pada tahun 2015 menjadi 257 jiwa pada 2016. Secara keseluruhan jumlah kerusakan pada tahun 2016 mengalami peningkatan dibandingkan 2015. Diprediksi dampak bencana pada 2016 pun akan terus meningkat hingga akhir tahun selanjutnya,” katanya.

Meski demikian, Sutopo menyatakan bahwa meningkatnya curah hujan juga memberikan dampak positif yaitu menurunnya jumlah kebakaran hutan dan lahan, dan kekeringan. Daerah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera bagian Selatan dan sebagian Kalimantan yang biasanya kekeringan saat ini intensitas kekeringan terjadi sangat kecil. Tidak banyak lahan pertanian yang puso.

Meningkatnya curah hujan selama musim kemarau dan upaya pemerintah yang lebih baik dibandingkan sebelumnya dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan telah menyebabkan luas kebakaran hutan dan lahan menurun, baik jumlah mapun sebarannya. Satelit Modis menampakkan terdapat penurunan 61 persen titik api hingga periode akhir Agustus.

“Kami meminta kepada masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaannya dari ancaman banjir dan longsor terkait adanya peningkatan curah hujan. BMKG melaporkan prakiraan awal musim hujan 2016/2017 di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi pada Agustus – November 2016 (92,7%), dengan sifat hujan pada periode musim hujan 2016/2017 secara umum diprakirakan 51% normal, 48% di atas normal, dan hanya 1% yang berada di bawah normal,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/fenomena-la-nina-masyarakat-diminta-waspadai-banjir-dan-longsor/feed/ 0
BMKG: Hujan Lebat Berpotensi Terjadi di Berbagai Wilayah Indonesia https://www.greeners.co/berita/bmkg-hujan-lebat-berpotensi-terjadi-di-berbagai-wilayah-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-hujan-lebat-berpotensi-terjadi-di-berbagai-wilayah-indonesia https://www.greeners.co/berita/bmkg-hujan-lebat-berpotensi-terjadi-di-berbagai-wilayah-indonesia/#respond Sat, 27 Feb 2016 03:00:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12985 Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat agar terus waspada terhadap potensi hujan lebat yang akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat agar terus waspada terhadap potensi hujan lebat yang akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Dr. Yunus S. Swarinoto, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, mengatakan, saat ini perkembangan kondisi dinamika atmosfer wilayah Indonesia menunjukkan adanya indikasi potensi kejadian hujan lebat dalam beberapa hari ke depan, terutama di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek).

“Ini sudah terpantau mulai Rabu sore (24/02/2016) di wilayah utara Jabodetabek intensitas hujan relatif mulai meningkat, sehingga perlu diantisipasi dalam beberapa hari ke depan akumulasi curah hujan juga akan tinggi,” katanya, Jakarta, Jumat (26/02).

Potensi terjadinya hujan lebat ini, lanjut Yunus, dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain masih aktifnya monsoon dingin Asia dan adanya tekanan rendah di utara Austalia yang mengakibatkan terbentuknya daerah pertemuan massa udara dan belokan angin di beberapa lokasi di Indonesia termasuk wilayah utara Jakarta.

Selain wilayah Jabodetabek, ia juga mengatakan kalau ada beberapa daerah lain yang juga berpotensi mengalami hujan lebat dalam tiga hari ke depan setelah tanggal 26 Februari 2016. Daerah-daerah tersebut antara lain Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah bagian Selatan, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan.

“Dengan masih tingginya potensi curah hujan di Indonesia, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan siaga terutama di daerah dataran tinggi atau pegunungan untuk mengantisipasi kejadian banjir bandang, lahar dingin, dan tanah longsor serta daerah dataran yang relatif mudah terjadi potensi bencana banjir agar dapat menyiapkan lingkungannya untuk mengurangi dampak bencana yang mungkin terjadi,” himbau Yunus.

Menanggapi imbauan dari BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat agar tetap waspada terhadap ancaman banjir, longsor, dan puting beliung mengingat Februari diprediksi menjadi puncak musim hujan 2015/2016.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, peluang hujan dengan intensitas tinggi dan sangat tinggi tersebut masih dapat terjadi, khususnya di sebagian Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, seluruh Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Papua, dan Papua Barat.

“Potensi ancaman banjir, longsor, dan puting beliung di daerah-daerah tersebut cukup tinggi. Namun bukan berarti daerah lain aman dari ancaman bencana hidrometerologi, meski hujan lokal akan lebih berperan yang menyebabkan bencana di sana,” katanya.

Ia mengatakan hujan merupakan pemicu terjadinya banjir dan longsor. Namun faktor yang paling berperan menyebabkan banjir dan longsor adalah faktor antropogenik atau pengaruh ulah manusia.

Sebagai informasi, Sutopo menjelaskan, hingga 12 Februari 2016 telah terjadi bencana banjir, longsor, dan puting beliung di 290 kabupaten/kota di Indonesia. Bencana ini menyebabkan 45 orang meninggal dunia, 48 orang luka-luka, hampir satu juta jiwa mengungsi, dan ribuan rumah rusak.

Dalam periode yang sama, yaitu tanggal 1 Januari hingga 12 Februari 2016, terdata 122 kejadian banjir melanda di 23 provinsi yang menimbulkan 14 orang tewas, lebih dari 946.000 jiwa mengungsi, 1.767 rumah rusak, puluhan ribu rumah terendam banjir, dan 281 fasilitas umum rusak.

Begitu pula longsor yang terjadi 65 kali di 12 provinsi yang menyebabkan 29 orang meninggal, 11 orang luka, 1.319 orang mengungsi dan 387 rumah rusak. Puting beliung terjadi 103 kali di 17 provinsi yang menyebabkan dua orang meninggal dunia, 34 orang luka, 779 jiwa mengungsi, dan 1.660 rumah mengalami rusak.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-hujan-lebat-berpotensi-terjadi-di-berbagai-wilayah-indonesia/feed/ 0
Sempat Siaga Tiga, Debit Air di Katulampa Kembali Normal https://www.greeners.co/berita/sempat-siaga-tiga-debit-air-di-katulampa-kembali-normal/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sempat-siaga-tiga-debit-air-di-katulampa-kembali-normal https://www.greeners.co/berita/sempat-siaga-tiga-debit-air-di-katulampa-kembali-normal/#respond Tue, 10 Nov 2015 02:00:34 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11839 Jakarta (Greeners) – Intensitas curah hujan yang mulai tinggi mengakibatkan status debit air di Bendungan Katulampa, Bogor, Jawa Barat mulai meningkat. Tercatat hingga pukul 19.30 WIB, Minggu (08/11) malam, debit […]]]>

Jakarta (Greeners) – Intensitas curah hujan yang mulai tinggi mengakibatkan status debit air di Bendungan Katulampa, Bogor, Jawa Barat mulai meningkat. Tercatat hingga pukul 19.30 WIB, Minggu (08/11) malam, debit air di Bendungan Katulampa mencapai angka ketinggian hingga 120 cm yang artinya memasuki status Siaga Tiga.

Namun, Kepala Teknis Bendung Katulampa Bogor Andi Sudirman saat dihubungi oleh Greeners mengatakan bahwa debit air tersebut telah turun dan mencapai batas normal hingga pukul 17.00 WIB, Senin (09/11) sore. Menurutnya, hujan yang berhenti pada Minggu malam di wilayah Bogor menyebabkan debit air dibendungan tersebut menyusut.

“Tadi siang sekitar pukul 13.00 WIB debit airnya sudah 10 sentimeter. Sekarang pukul 17.00 WIB debit air masih diangka 40 sentimeter yang artinya masih berada dibatas normal. Nanti kalau sudah naik sampai angka di atas 50 sentimeter baru statusnya jadi siaga empat,” terang Andi, Jakarta, Senin (09/11).

Andi menambahkan, hingga Senin sore, kondisi cuaca di Kota Bogor masih dalam keadaan gerimis. Diperkirakan debit air di Bendungan Katulampa masih berada dalam batas normal mengingat curah hujan yang masih fluktuatif. Namun, Andi juga mengimbau kepada masyarakat Jakarta agar selalu waspada terhadap banjir kiriman dari Bogor yang bisa datang sewaktu-waktu.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/sempat-siaga-tiga-debit-air-di-katulampa-kembali-normal/feed/ 0
BMKG Prediksi Hujan Masih Akan Terjadi Hingga April https://www.greeners.co/berita/bmkg-prediksi-hujan-masih-akan-terjadi-hingga-april/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-prediksi-hujan-masih-akan-terjadi-hingga-april https://www.greeners.co/berita/bmkg-prediksi-hujan-masih-akan-terjadi-hingga-april/#respond Tue, 31 Mar 2015 06:36:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8370 Jakarta (Greeners) – Hujan yang turun beberapa waktu belakangan diprediksi masih akan terus terjadi hingga pertengahan April mendatang. Hal tersebut diperkirakan berdasarkan analisis dan prediksi dinamika atmosfer dan laut yang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Hujan yang turun beberapa waktu belakangan diprediksi masih akan terus terjadi hingga pertengahan April mendatang. Hal tersebut diperkirakan berdasarkan analisis dan prediksi dinamika atmosfer dan laut yang dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) BMKG, Edvin Aldrian, mengatakan, curah hujan di beberapa daerah termasuk DKI Jakarta masih akan tinggi hingga pertengah bulan April mendatang. Sedangkan untuk intensitas hujan, diperkirakan masih akan sedang cenderung tinggi seperti yang terjadi beberapa hari belakangan.

“Masih akan hujan sampai April nanti dengan intensitas sedang. Seperti beberapa hari lalu, hujan turun sejak pagi hingga malam hari,” jelasnya kepada Greeners, Jakarta, Selasa (31/03).

BMKG juga memperkirakan bahwa awal musim kemarau akan terjadi pada pertengahan bulan April hingga Juni 2015. Dalam ringkasan prakiraan musim kemarau di 342 zona musim (ZOM), lanjutnya, terlihat sebanyak 102 ZOM akan mengalami awal musim kemarau di bulan April, diantaranya di Jawa (53 ZOM), Nusa Tenggara Barat (16 ZOM), dan Nusa Tenggara Timur (15 ZOM).

Edvin juga menyatakan, di bulan Juli 2015 sebanyak 85 persen wilayah dari 342 ZOM akan masuk musim kemarau dengan curah hujan kurang dari 150 mm per bulan.

“Untuk pulau Sumatera pada bulan Maret sudah mulai kemarau, seperti di Pekanbaru, Bengkalis dan sebagian Aceh. Lalu di Pulau Jawa, bulan Mei sudah masuk musim kemarau. Pada bulan Juni, musim kemarau meluas di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara,” katanya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-prediksi-hujan-masih-akan-terjadi-hingga-april/feed/ 0
BMKG Jelaskan Penyebab Perubahan Cuaca Ekstrem https://www.greeners.co/berita/bmkg-jelaskan-penyebab-perubahan-cuaca-ekstrim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-jelaskan-penyebab-perubahan-cuaca-ekstrim https://www.greeners.co/berita/bmkg-jelaskan-penyebab-perubahan-cuaca-ekstrim/#respond Tue, 20 Jan 2015 05:57:40 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=7112 Jakarta (Greeners) – Meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah menyatakan bahwa secara umum wilayah Indonesia pada bulan Januari hingga Februari 2015 berada pada puncak musim hujan, namun kenyataannya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah menyatakan bahwa secara umum wilayah Indonesia pada bulan Januari hingga Februari 2015 berada pada puncak musim hujan, namun kenyataannya warga Jakarta dan sekitarnya malah merasakan kondisi cuaca yang yang berganti-ganti, antara hujan yang turun sepanjang hari menjadi panas terik secara tiba-tiba.

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Mulyono R Prabowo, mengungkapkan, perubahan cuaca ekstrem ini disebabkan oleh angin dari belahan bumi selatan yang dominan kering dan mendesak angin dari belahan bumi utara yang basah.

Menurutnya, angin dari belahan bumi selatan lebih kuat sehingga mendesak angin dari belahan bumi utara untuk bergeser lebih ke utara di garis pertemuan dua massa udara (intertropical convergence zone), sedangkan angin belahan bumi selatan berembus dari barat ke timur.

“Seperti hari ini misalnya, cuaca cerah dan tidak ada hujan di wilayah Jakarta. Namun, kemarin (Senin) hujan turun beberapa kali dengan berbagai intensitas sepanjang hari,” terangnya saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Selasa (20/01).

Lebih lanjut Mulyono menjelaskan, bahwa pemicu perubahan cuaca ekstrem yang sering terjadi belakangan hari ini adalah karena terdapat pusat tekanan tinggi di lautan sebelah barat Australia dan pusat tekanan rendah di Darwin, Australia. Akibatnya, angin dari barat Australia bergerak secara kuat ke arah pusat tekanan rendah dan menimbulkan angin yang mencapai Jawa hingga Nusa Tenggara.

Selain itu, kecepatan angin yang mencapai 25 hingga 30 knot yang melebihi rata-rata kecepatan angin 15 knot, juga menjadi penyebab terjadinya perubahan cuaca ekstrem tersebut. Bahkan, lanjut Mulyono, kondisi cuaca panas sempat terjadi seminggu lamanya di Nusa Tenggara karena begitu kuatnya embusan angin dari belahan bumi selatan.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-jelaskan-penyebab-perubahan-cuaca-ekstrim/feed/ 0
Jabodetabek Akan Diguyur Hujan Satu Minggu Ke Depan https://www.greeners.co/berita/jabodetabek-akan-diguyur-hujan-satu-minggu-ke-depan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jabodetabek-akan-diguyur-hujan-satu-minggu-ke-depan https://www.greeners.co/berita/jabodetabek-akan-diguyur-hujan-satu-minggu-ke-depan/#respond Tue, 09 Dec 2014 08:34:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6691 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) akan diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada siang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) akan diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada siang hingga malam hari selama seminggu ke depan.

Menurut Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Mulyono R Prabowo, menerangkan, untuk wilayah Kepulauan Seribu, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang akan terjadi pada siang sampai dengan malam hari. Sementara di Jakarta Utara, hujan akan turun dengan intensitas ringan pada siang hingga malam harinya.

“Di Jakarta Pusat, Selatan dan Timur juga akan mengalami hal yang sama, yaitu hujan dengan intensitas ringan pada siang hingga malam,” katanya, Selasa (09/12).

Wilayah Depok, Tanggerang, Bekasi dan Bogor juga mengalami hal yang sama dengan wilayah Jakarta. Keempat kota satelit tersebut akan mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada siang sampai malam hari.

“Wilayah Jabodetabek akan hujan merata pada siang hingga malam nanti. Diharapkan masyarakat untuk berhati-hati saat mengendarai kendaraannya,” kata Mulyono mengingatkan.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/jabodetabek-akan-diguyur-hujan-satu-minggu-ke-depan/feed/ 0
SDN 03 Pagi Manggarai Pilot Project Modul Pembelajaran Tanggap Banjir https://www.greeners.co/berita/sdn-03-pagi-manggarai-pilot-project-modul-pembelajaran-tanggap-banjir/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sdn-03-pagi-manggarai-pilot-project-modul-pembelajaran-tanggap-banjir https://www.greeners.co/berita/sdn-03-pagi-manggarai-pilot-project-modul-pembelajaran-tanggap-banjir/#respond Mon, 10 Nov 2014 06:49:08 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6376 Jakarta (Greeners) – Bencana banjir yang kerap terjadi di beberapa daerah di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya, seperti perubahan iklim, intensitas curah hujan yang meningkat, maupun karena penyumbatan saluran […]]]>

Jakarta (Greeners) – Bencana banjir yang kerap terjadi di beberapa daerah di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya, seperti perubahan iklim, intensitas curah hujan yang meningkat, maupun karena penyumbatan saluran air atau pendangkalan sungai akibat sampah yang dibuang sembarangan.

Perilaku masyarakat juga dapat menyebabkan banjir. Sikap tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan serta pengelolaan sampah rumah tangga yang belum maksimal membuat banjir dengan mudah merendam kawasan permukiman, kantor, juga sekolah.

Sekolah Dasar Negeri (SDN) 03 Pagi Manggarai di Jakarta Selatan contohnya. Pada tahun 2007, Sekolah Dasar ini mengalami banjir hebat yang menenggelamkan hampir seluruh aset sekolah. Banjir yang juga melanda di sebagian besar wilayah Manggarai hingga Kampung Melayu tersebut mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Beruntung, pemerintah daerah saat itu cukup membantu dalam mengatasi masalah kerugian tersebut.

Meski dilarang, sebagian warga tetap memaksa mendirikan rumah di sempadan sungai. Selain mengganggu aliran air, kebiasaan membuang sampah langsung ke aliran sungai membuat daerah ini rawan banjir. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Meski dilarang, sebagian warga tetap memaksa mendirikan rumah di sempadan sungai. Selain mengganggu aliran air, kebiasaan membuang sampah langsung ke aliran sungai membuat daerah ini rawan banjir. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Dari bencana tersebut, PT AIG Insurance Indonesia bersama dengan Greeneration Indonesia dan Komunitas Ciliwung menjadikan SDN 03 Pagi Manggarai sebagai pilot project atau sekolah percontohan yang merupakan bagian dari program AIG bersama mitra dalam mengembangkan modul pembelajaran tanggap banjir yang dituangkan melalui sebuah video.

Presiden Direktur dan CEO AIG Indonesia, Jon Paul Jones, mengatakan, bahwa modul tersebut akan digunakan oleh para guru sekolah dasar dalam memberikan pengenalan dini bagi murid-muridnya mengenai siklus air hingga pencegahan banjir dan tanggap banjir.

“Kami (AIG) melihat bahwa pentingnya edukasi yang berkelanjutan mengenai pencegahan serta tanggap bencana khususnya pada banjir ini,” terang Jon saat ditemui oleh Greeners di Jakarta, Senin (10/11).

Mujiyatun, Kepala Sekolah SDN 03 Pagi Manggarai juga menyambut baik apa yang dilakukan pada sekolahnya. Ia berharap dengan dijadikannya SDN 03 Pagi Manggarai sebagai Sekolah Percontohan mampu meningkatkan kesadaran anak didiknya akan sampah dan menjaga kebersihan sungai.

Mujiyatun, Kepala Sekolah SDN 03 Pagi Manggarai, Jakarta Selatan. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Mujiyatun, Kepala Sekolah SDN 03 Pagi Manggarai, Jakarta Selatan. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Ia mengaku, dirinya dan para guru di SDN 03 Pagi Manggarai selalu bekerja ekstra keras untuk memberikan pembelajaran akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Meskipun dukungan dari lingkungan tempat tinggal anak-anak didiknya tersebut sangat kotor dan terbiasa membuang sampah di sungai, namun dirinya dan para guru pantang menyerah untuk mendidik dan mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan kepada murid-muridnya.

“Mereka ini (anak-anak) berasal dari kalangan bawah yang tinggalnya hanya 2 meter di atas kali. Setiap hari selalu melihat orang tuanya membuang sampah di kali, jadi kami perlu bekerja ekstra untuk mendidik mereka,” ujarnya.

Eka Soeriyansyah dari Komunitas Ciliwung Bojong Gede mengungkapkan kalau momentum Hari Ciliwung yang sudah ketiga kalinya diadakan juga masih terus berusaha untuk mengumpulkan masyarakat sempadan sungai untuk bersama bergerak ke hilir untuk melawan masyarakat yang apatis terhadap masalah sungai.

“Kami menyebutnya konservasi tanpa batas dengan diawali dari perubahan gaya hidup dalam membuang sampah,” tutupnya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/sdn-03-pagi-manggarai-pilot-project-modul-pembelajaran-tanggap-banjir/feed/ 0