IPCC - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/ipcc/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 13 Apr 2023 06:09:49 +0000 id hourly 1 Libatkan Masyarakat Adat untuk Kelola Biodiversitas Indonesia https://www.greeners.co/berita/libatkan-masyarakat-adat-untuk-kelola-biodiversitas-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=libatkan-masyarakat-adat-untuk-kelola-biodiversitas-indonesia https://www.greeners.co/berita/libatkan-masyarakat-adat-untuk-kelola-biodiversitas-indonesia/#respond Thu, 13 Apr 2023 06:09:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39692 Jakarta (Greeners) – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyorot pentingnya pelibatan masyarakat adat dalam pengelolaan keanekaragaman hayati atau biodiversitas. Salah satunya terwujud dalam penyusunan dokumen kebijakan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyorot pentingnya pelibatan masyarakat adat dalam pengelolaan keanekaragaman hayati atau biodiversitas.

Salah satunya terwujud dalam penyusunan dokumen kebijakan Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP).

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Medrilzam mengatakan, penyusunan dokumen kebijakan IBSAP harus partisipatif. Ini berdasarkan amanat dalam Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB ke-15 atau CBD COP15 di Montreal bahwa secara eksplisit mengakui peran penting masyarakat adat untuk menjaga keanekaragaman hayati.

“Tidak bisa top down seperti dulu tapi separtisipatif mungkin. Ini tidak mudah karena masyarakat adat kita tersebar bahkan sampai masyarakat pelosok,” katanya dalam Kick-Off Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia Pasca COP15 CBD, di Jakarta, Rabu (12/4).

Ia menambahkan COP15 CBD menghasilkan adopsi Kunming-Montreal Global Biodiversitas Framework (GBF). Tujuan GBF 2030 ini yakni mengatasi hilangnya keanekaragaman hayati, melindungi ekosistem hingga hak-hak masyarakat adat.

IBSAP merupakan strategi nasional serta rencana aksi pengelolaan keanekaragaman hayati Indonesia yang meliputi aspek-aspek yang relevan, serta agenda prioritas pembangunan nasional dalam beberapa tahun ke depan. Pengelolaan keanekaragaman hayati bertujuan untuk mencapai manfaat optimal dan lestari fungsinya.

Tantangan Ketersediaan Pendanaan Pengelolaan Kehati

Medrilzam juga menyatakan ketersediaan pendanaan untuk pengelolaan keanekaragaman hayati Indonesia hanya sekitar Rp 9 hingga 10 triliun per tahun. Padahal, kebutuhan pendanaan lima tahun belakangan sekitar Rp 33,6 triliun per tahun. Sementara bantuan pendanaan global, seperti dari Global Environment Facility (GEF) hanya kisaran Rp 0,21 triliun.

“Ini menjadi tantangan berat terutama kita adalah negara berkembang dengan megabiodiversity country. Negara maju harus bertanggungjawab lebih besar atas kerusakan global,” ucapnya.

Ia menambahkan kesenjangan pendanaan yang ada sekitar 74 % dari kebutuhan. Kontribusi global ke Indonesia hanya sekitar 0,6 %, sedangkan kontribusi Indonesia ke global sekitar 25,4 %.

Perempuan Adat Tuntut Inklusivitas dalam Penerapan Nilai Ekonomi Karbon

Perempuan adat menuntut pengakuan dan pelibatan dalam penerapan Nilai Ekonomi Karbon. Foto: Shutterstock.

Triple Planetary Crisis 

Hilangnya keanekaragaman hayati tak hanya populasinya saja. Dalam Stockholm +50 Conference menyorot triple planetary crisis yakni perubahan iklim, polusi dan biodiversity loss yang ketiganya saling berhubungan disebabkan faktor antropogenik.

“Laporan IPCC terbaru menyatakan bahwa kita akan sulit menahan laju suhu global rata-rata. Ini memicu banyak hal, termasuk kehati kita,” tegasnya.

Mengingat ruang lingkup IBSAP yang sangat luas dan kompleks, Medrilzam menyorot pentingnya batasan dan ruang lingkup kesepakatan seluruh pihak. Selain itu, ia menyebut agar perumusan IBSAP sepaham maka harus diikuti definisi operasional, indikator hingga lokasi target pelestarian keanekaragaman hayati.

Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Firdaus Agung menyatakan, terdapat empat visi dalam Kunming -Montreal GBF.

Sejumlah visi itu yakni perlindungan dan pelestarian ekosistem, pengelolaan dan pemanfaatan berkelanjutan, pembagian manfaat yang adil, setara dan mengatasi kesenjangan.

Target Realistis Pengelolaan Kehati

Ia menyebut, COP15 CBD telah menyepakati melindungi setidaknya 30 persen daratan dan 30 persen lautan pada 2030. Namun, Indonesia harus realistis menyikapinya. “Resource-nya juga harus besar, terlebih kita masih dalam masa pandemi. Kita harus ingat harus tetap realistis kita sesuaikan dengan apa yang kita punya,” kata Firdaus.

KKP memiliki berbagai target pada tahun 2045 nanti. Mulai dari penambahan luas kawasan konservasi laut, penangkapan ikan terukur berbasis kuota, pengembangan budi daya laut, pesisir dan darat yang berkelanjutan. Kemudian pengelolaan dan pengawasan kawasan pesisir dan pengelolaan sampah plastik di laut melalui gerakan partisipasi nelayan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/libatkan-masyarakat-adat-untuk-kelola-biodiversitas-indonesia/feed/ 0
Sorben Hibrida Efisien Tangkap Karbon untuk Kendalikan Emisi https://www.greeners.co/ide-inovasi/sorben-hibrida-efisien-tangkap-karbon-untuk-kendalikan-emisi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sorben-hibrida-efisien-tangkap-karbon-untuk-kendalikan-emisi https://www.greeners.co/ide-inovasi/sorben-hibrida-efisien-tangkap-karbon-untuk-kendalikan-emisi/#respond Fri, 17 Mar 2023 04:03:28 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=39314 Para peneliti di Universitas Lehigh telah menemukan solusi yang efisien untuk menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer. Temuan yang terbit dalam Science Advances ini sekaligus berpotensi untuk target net zero pada […]]]>

Para peneliti di Universitas Lehigh telah menemukan solusi yang efisien untuk menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer. Temuan yang terbit dalam Science Advances ini sekaligus berpotensi untuk target net zero pada tahun 2050 nanti.

Sama halnya dengan perusahaan Climeworks, mereka juga memanfaatkan mesin direct air capture (DAC) standar. Mesin ini mampu menyedot udara sebelum melalui filter dan penyerap yang mengekstraksi CO2. Namun, dalam kasus ini para peneliti memperkenalkan tipe baru sorben hibrida yang mengandung tembaga.

Mereka menemukan, sorben tersebut memiliki kapasitas penangkap karbon hampir dua hingga tiga kali lebih besar daripada sorben lain.

Lebih Efisien dan Hemat Energi Kendalikan Karbon

Dengan menggunakan sorben hibrida ini, mereka mengklaim membuat DAC lebih hemat baik dari segi waktu dan biaya. Bahkan, para peneliti memperkirakan berpotensi menurunkan hingga US$ 500 per ton, dari US$600 per ton menjadi hanya US$ 100 per ton.

Tak hanya itu, tembaga untuk mengekstraksi CO2 ini juga tak perlu dalam keadaan panas 100 derajat Celcius. Itu artinya, langkah ini sekaligus menghemat energi. Penghematan energi sangat penting sebagaimana mengejar target net zero.

Industri harus menaikkan targetnya, dari yang hanya 0,01 megaton menjadi hampir 60 megaton per tahun pada akhir dekade ini. Ini sekaligus untuk menjaga ambang batas suhu bumi tidak lebih dari 1,5 derajat.

Sejauh ini, kendala untuk mengejar target tersebut yaitu adanya fakta DAC membutuhkan energi dalam jumlah besar dan berdampak pada pemanasan global. Sebab, karbon dioksida relatif terdilusi di atmosfer sekitar 400 bagian per juta (ppm).

“Prospek penghapusan CO2 oleh DAC diartikulasikan hampir dua dekade lalu. Namun, kemajuannya lambat dan tak memadai,” ungkap laporan di Science Advances.

Lebih jauh, laporan itu mengungkap penangkapan CO2 berkapasitas tinggi sangat penting dalam sistem DAC guna memenuhi target IPCC pada tahun 2050.

Peran Sorben Hibrida dalam Laut 

Dengan mengintegrasikan penyerap hibrida ke proses penangkapan udara langsung maka kita dapat menyimpan karbon setelah hilang dari atmosfer.

Saat ini, perusahaan seperti Climeworks harus memberi tekanan dan mencairkan CO2 agar dapat tersuntikkan ke dalam tanah hingga menjadi batuan kalsit. Tapi sorben hibrida yang kaya akan tembaga hanya perlu kita ekspos ke air laut untuk mengubah karbon menjadi natrium bikarbonat.

Namun, sejauh ini belum ada pengujian untuk melihat dampak dari pembuangan natrium bikarbonat dalam jumlah besar ke laut terhadap ekosistem di dalamnya.

Tetapi penulis utama Profesor Arup SenGupta mengklaim, natrium bikarbonat bersifat basa. Itu artinya berpotensi membantu mengurangi pengasaman laut yang merupakan efek lanjutan dari kelebihan CO2 di atmosfer.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Sumber: Dezeen

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/sorben-hibrida-efisien-tangkap-karbon-untuk-kendalikan-emisi/feed/ 0