islam - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/islam/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 29 Aug 2025 10:19:55 +0000 id hourly 1 Islam Punya Landasan Kuat untuk Ajarkan Manusia Merawat Bumi https://www.greeners.co/berita/islam-punya-landasan-kuat-untuk-ajarkan-manusia-merawat-bumi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=islam-punya-landasan-kuat-untuk-ajarkan-manusia-merawat-bumi https://www.greeners.co/berita/islam-punya-landasan-kuat-untuk-ajarkan-manusia-merawat-bumi/#respond Fri, 29 Aug 2025 10:18:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=47232 Jakarta (Greeners) – Isu lingkungan hidup belakangan semakin sering dikaitkan dengan ajaran agama. Dalam hal ini, Islam dalam ajarannya juga memiliki landasan kuat untuk mengajarkan manusia menyelamatkan lingkungan dan merawat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Isu lingkungan hidup belakangan semakin sering dikaitkan dengan ajaran agama. Dalam hal ini, Islam dalam ajarannya juga memiliki landasan kuat untuk mengajarkan manusia menyelamatkan lingkungan dan merawat bumi.

Pendakwah Indonesia, Husein Ja’far Al Hadar menyebut Islam memiliki ajaran yang sangat kaya terkait bagaimana manusia harus memperlakukan alam. Menurutnya, ada setidaknya empat hal penting yang bisa menjadi dasar umat Islam dalam merawat lingkungan.

Habib Ja’far menyebut hal pertama yang perlu dibenahi adalah cara pandang manusia terhadap lingkungan. Modernisme, katanya, membuat manusia melihat alam hanya sebagai objek yang bisa mereka eksploitasi. Padahal, Islam mengajarkan sebaliknya.

BACA JUGA: Ponpes Jalaluddin Ar-Rumy Jember Ajak Santri Peduli Lingkungan

Bagi Habib Ja’far, lingkungan harus mendapatkan perlakuan sebagai subjek, sama seperti manusia yang memperlakukan diri sendiri. “Jangan lakukan sesuatu pada lingkungan yang kita sendiri tidak mau mengalaminya,” tambahnya.

Habib Ja’far juga memperkenalkan istilah Eco-sufisme. Ia merujuk pada ajaran Islam bahwa seluruh ciptaan Allah, termasuk benda mati, bertasbih kepada-Nya. Artinya, semua ciptaan memiliki jiwa.

“Nabi Muhammad SAW bahkan memberi nama pada benda-benda yang beliau miliki, bukan hanya pada hewan. Itu bentuk penghormatan kepada benda mati,” kata Habib Ja’far.

Dengan cara pandang ini, manusia harus dapat memperlakukan lingkungan dengan penghormatan, seolah-olah ia juga merasakan sakit ketika dirusak.

Tokoh Agama Berperan Besar

Selain itu, Habib Ja’far juga menjelaskan tentang konsep ekoteologi. Dalam konsep ini, semesta bukan sekadar ciptaan Tuhan, tetapi juga pertanda keberadaan-Nya.

“Saintis yang meneliti manusia atau lingkungan itu sebenarnya sedang ngaji. Mereka juga ulama, karena meneliti ayat-ayat Allah yang terhampar di alam,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, merusak lingkungan berarti merusak segala milik Allah di bumi. Dalam konteks keislaman, hal ini bukan hanya kesalahan sosial, tetapi juga menimbulkan dosa.

Melihat permasalaan lingkungan yang kian kompleks, Habib Ja’far juga mengajak para pendakwah muslim untuk menjadikan isu lingkungan sebagai bagian dari materi dakwah. Salah satu ruang yang sangat potensial adalah khutbah Jumat.

“Bayangkan kalau setiap bulan sekali khutbah Jumat di masjid-masjid besar membahas tentang kesadaran lingkungan. Kalau nasihat datang dari tokoh agama, biasanya lebih kuat dan jamaah lebih menghayati,” jelasnya.

Pelestarian Lingkungan Tercermin dalam Pendidikan Islam

Pembelajaran pelestarian lingkungan kini juga tercermin dalam program pendidikan Islam di sejumlah pesantren. Salah satunya Pesantren Al-Ittifaq di Ciwidey, Bandung. Pesantren ini tidak hanya mengajarkan nilai agama, tetapi juga memadukannya dengan praktik ramah lingkungan.

“Banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan pentingnya menjaga alam, dan posisi manusia sebagai khalifah (pemimpin),” ujar Manager Agribisnis Pangan Ramah Lingkungan Pesantren Al-Ittifaq, Silvie Fauziah .

Pesantren yang berdiri sejak 1934 ini awalnya menghadapi tantangan besar. Pada 1970-an, masyarakat sekitar enggan bertani dan lebih memilih merantau. Melihat kondisi itu, pesantren memberi teladan dengan mengolah lahan sendiri. Santri mulai menanam buncis yang kemudian mereka tukar dengan beras untuk kebutuhan pangan.

Namun, bertani di lereng Gunung Patuha tidak mudah. Pemasaran hasil panen terasa sulit karena akses jalan terbatas. Para santri pun bergotong royong membuka jalan sepanjang satu kilometer dengan peralatan seadanya.

BACA JUGA: Jakarta Osoji Club, Ajak Masyarakat Indonesia Terapkan Budaya Bersih Negeri Sakura

“Tugas santri waktu itu ada tiga yaitu mengaji, bertani, dan membuat jalan. Setelah jalan rampung, masyarakat kembali tertarik bertani. Produk pesantren bahkan berhasil masuk supermarket pada 1993,” tambah Silvie.

Tantangan lain muncul ketika semangat bertani mendorong penebangan hutan besar-besaran. Kawasan Kawah Putih sempat gundul dan rawan longsor. Menyadari dampaknya, pesantren memulai gerakan penghijauan dengan menanam 100 ribu pohon kayu putih, mahoni, dan jati di kawasan Rancabali. Santri telah menjadi pelopor dalam gerakan ini, sehingga petani pun ikut terlibat.

“Alhamdulillah, akhirnya masyarakat sadar pentingnya menanam. Dari situ, kesadaran menjaga lingkungan tumbuh kembali,” ujarnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/islam-punya-landasan-kuat-untuk-ajarkan-manusia-merawat-bumi/feed/ 0
Konservasi Keanekaragaman Hayati Dalam Perspektif Agama Islam https://www.greeners.co/berita/konservasi-keanekaragaman-hayati-dalam-persektif-agama-islam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=konservasi-keanekaragaman-hayati-dalam-persektif-agama-islam https://www.greeners.co/berita/konservasi-keanekaragaman-hayati-dalam-persektif-agama-islam/#respond Tue, 23 Jul 2019 11:22:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=23846 Kuala Lumpur (Greeners) – Menjaga kelestarian alam selayaknya memang merupakan tanggung jawab semua elemen masyarakat, suku, budaya, dan agama. Pada salah satu sesi dalam International Congress for Conservation Biology (ICCB) […]]]>

Kuala Lumpur (Greeners) – Menjaga kelestarian alam selayaknya memang merupakan tanggung jawab semua elemen masyarakat, suku, budaya, dan agama. Pada salah satu sesi dalam International Congress for Conservation Biology (ICCB) 2019 di Kuala Lumpur, dibahas tentang upaya kelompok agama Islam dalam mendorong konservasi keanekaragaman hayati.

Hadir sebagai pembicara, Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (PLH & SDA MUI), Dr. Hayu Susilo Prabowo, mengatakan bahwa saat ini MUI memiliki enam hukum fatwa MUI untuk melindungi lingkungan, yakni fatwa satwa langka, karhutla, pengelolaan sampah, daur ulang air, air sanitasi, dan penambangan ramah lingkungan.

“Untuk masalah konservasi, permasalahannya berada di moral, bukan masalah teknis atau ilmu hayati. Namun, moral ini lah yang harus diperbaiki caranya dengan moral juga pendekatannya. Salah satunya dengan moral keagamaan dengan bahasa kemanusiaan,” ujar Hayu saat ditemui usai sesi pembukaan ICCB, Kuala Lumpur, Senin (22/07/2019).

BACA JUGA : Seruan Greenpeace dan Nahdlatul Ulama Agar Masyarakat Pantang Sampah Plastik

Hayu mengatakan bahwa dakwah yang menyinggung tentang lingkungan ini dinilai efektif untuk memberikan edukasi bagaimana cara menjaga kelestarian alam pada para jamaah. Oleh karenanya, dakwah lingkungan ini sangat di dorong MUI untuk terus dilakukan.

Untuk menjaga keseimbangan ekosistem, MUI mengeluarkan Fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Pelestarian Satwa Langka Untuk Menjaga Keseimbangan Ekosistem. Mengingat bahwa firman Allah SWT memerintahkan untuk berbuat kebajikan (ihsan) antar sesama makhluk hidup termasuk di dalamnya dalam masalah satwa langka.

Dr. Hayu Susilo Prabowo Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam MUI. Foto : www.greeners.co/Dewi Purningsih

“Dijelaskan bahwa berbahaya jika kita membunuh seekor harimau yang nantinya akan berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem dan bisa membuat mudharat (rugi) kita sendiri. Membunuh pun juga merupakan perlakuan dosa. Jika hukum negara tidak bisa ditegakkan, hukum agama akan ditegakkan di akhir hayat,” ujarnya.

Hayu mengatakan bahwa fatwa dan dalil memiliki dua akar pemikiran yakni naqal dan akal. Fatwa ada karena dicipatakan dan dibuat karena adanya permintaan dan isu di masyarakat. Pembentukan fatwa lingkungan ini pun melibatkan masyarakat, pemerintah, dan ahli.

Hal senada disampaikan Dr. Fachruddin Mangunjaya, Ketua Pusat Pengajian Islam PPI Universitas Nasional ini menyampaikan bahwa fatwa basisnya dari Al-Quran, Hadist serta pendapat Ulama (ijtihad).

BACA JUGA : Eco Masjid Diharapkan Mampu Menghadapi Ancaman Krisis Air

“Jadi 3 faktor itu merupakan satu pararel, dan tidak bisa dipisahkan antara lingkungan dan kehidupan manusia begitu dalam Islam. Semuanya saling berkesinambungan,” ujar Fachruddin.

Fachruddin melanjutkan bahwa hukum islam dan hukum positif (sesuai Undang-Undang) harus dibedakan. Karena hukum fatwa yang dikeluarkan oleh MUI ini digunakan sebagai penguatan hukum pemerintah yang sudah ada.

“Karena memang MUI bagian entitas negara untuk memperkuat sesuatu yang sudah ada karena prinsip negara kita ini kolaboratif,” ujar Fachruddin.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/konservasi-keanekaragaman-hayati-dalam-persektif-agama-islam/feed/ 0