isu energi terbarukan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/isu-energi-terbarukan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 10 Sep 2017 16:31:25 +0000 id hourly 1 Perempuan Ambil Alih Revolusi Tenaga Surya https://www.greeners.co/berita/perempuan-ambil-alih-revolusi-tenaga-surya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perempuan-ambil-alih-revolusi-tenaga-surya https://www.greeners.co/berita/perempuan-ambil-alih-revolusi-tenaga-surya/#respond Sun, 10 Sep 2017 10:30:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=18535 Revolusi tenaga surya kini mengubah hidup perempuan di daerah terpencil di Asia. Mereka tidak lagi harus menunggu lama untuk bisa terkoneksi dengan energi namun bisa mengambil potensi dari matahari.]]>

LONDON, 1 Agustus 2017 – Revolusi tenaga surya kini mengubah hidup perempuan di daerah terpencil di Asia. Mereka tidak lagi harus menunggu lama untuk bisa terkoneksi dengan energi namun bisa mengambil potensi dari matahari.

Pada komunitas di mana perempuan biasanya memerankan peran patuh dan menghabiskan waktu mereka untuk pekerjaan kasar, bisnis matahari menciptakan barisan pebisnis perempuan yang membawa listrik ke desa-desa mereka.

Pada dua tahun terakhir, dua skema dirancang untuk membuat perempuan melakukan revolusi matahari di daerah pedesaan di India dan Nepal telah memenangkan Ashden Awards.

Pemenang Ashden Award 2017 untuk energi bersih untuk perempuan dan anak perempuan, jatuh kepada Empower Generation, telah berhasil membuat 23 perempuan di Nepal untuk membangun bisnis energi bersih dan mengelola jaringan 259 penjual. Mereka sebagai imbalan mendapatkan komisi dari penjualan panel surya, lampu, kompor bersih, dan saringan air.

Di negara di mana 12 persen bekerja di peternakan, staf Empower Generation kini dapat memimpin komunitas mereka keluar dari kemiskinan energi. Menghadapi tantangan keluarga dan budaya, mereka membangun kemampuan kepemimpinan dan membangun bisnis yang mempekerjakan perempuan dan laki-laki sebagai agen.

Untuk pelanggan yang tidak punya kesempatan terkoneksi, lentera surya dan sistem tenaga surya di rumah dapat membawa lampu yang lebih bersih dan charger telepon untuk pertama kalinya. Bahkan bagi mereka yang sudah terkoneksi bisa menggunakan produk tersebut sebagai cadangan apabila mati lampu atau sedang di ladang dan kebun saat malam.

Para pelanggan termasuk keluarga dan NGOs, banyak yang bekerja pada program yang diinisiasi sebagai reaksi terhadap gempa bumi pada tahun 2015.

Skema ini didesain untuk membangun kepercayaan diri perempuan akan diri mereka sendiri dan kemampuan mereka untuk mengatur kehidupan dan keuangan mereka sendiri. Hal ini juga mengurangi penggunaan bensin dan polusi udara.

Salah satu pebisnis, Mina Mahato, mengatakan, “Saya kini bisa menyeimbangkan melakukan kebaikan untuk komunitas saya dan menjalankan usaha yang sukses. Saya sangat bangga dengan tanda di luar toko saya yang menyebutkan nama saya sendiri.”

Pebisnis lainnya, Basanti Chaudhary, mengatakan, “Sebelum Empower Generation, saya bekerja di pabrik pengepakan makanan, bekerja lembur dan mendapatkan hasil yang sangat sedikit. Saya merasa seperti berenang di sumur yang sempit. Sekarang, saya berenang di laut. Saya punya ambisi dan ada kemungkinan untuk saya.”

Ilustrasi. Foto: www.empowergeneration.org

Meraih pasar yang jauh

Beberapa pebisnis menjadi sangat sukses di mana CEO mereka kini menjual barang-barang rumah tangga lainnya. Kesusksesan ini telah menginspirasi Empower Generation untuk ekspansi melebih Nepal dan kini sudah mencapai Myanmar.

Pemenang Ashden Award 2016 untuk energi bersih bagi perempuan dan anak perempuan, Frontier Markets, mengelola sebuah organisasi bernama Solar Sahelis di negara bagian Rajasthan dan Andhra Pradesh di India.

Sahelis (yang berarti teman perempuan surya) sudah menyediakan lampu yang bersih, bisa diandalkan dan energi bagi 630.000 orang saat menerima penghargaan tersebut. Sistem yang dijalankan juga dirancang untuk menggantikan bensin, hingga bisa mempunyai uang untuk makanan dan keperluan lainnya.

Sistem tenaga surya membuat memasak dan belajar lebih mudah, menyediakan lampu yang lebih terang dan tidak berasap seperti lampu bensin. Obor popular di kalangan perempuan untuk bisa berjalan di kegelapan dan memeriksa ternak.

Obor surya lebih terang dan bisa diandalkan ketimbang menggunakan baterai dan membuat penggunanya tidak kehabisan baterai telepon karena digunakan untuk menerangi jalan.

Perempuan yang menentukan

Saat Frontier Markets menerima penghargaan, sebanyak 70000 obor, 45000 lampu dan 12000 sistem tenaga surya di rumah berhasil dijual. Hal tersebut mengestimasikan bahwa, sekitar 70 persen dari total penjualan dilakukan oleh perempuan atau yang membuat keputusan untuk membeli.

Biaya untuk satu produk lampu dapat kembali dalam waktu tiga hingga enam bulan, melalui tabungan sebesar 3 dolar setiap bulan untuk bensin dan batere. Memotong penggunaan bensin mengurangi emisi gas rumah kaca hingga sebesar 12000 ton per tahun /CO2e, sama halnya dengan mengurangi polusi air dalam ruangan dan risiko kebakaran dalam rumah.

Membuat orang meninggalkan bensin, program pilot Frontier Markets memberikan diskon bagi produk surya bagi siapa saja yang menyerahkan lampu bensin. Sekitar 50000 pelanggan menjawab tawaran ini.

Produk dijual dengan jaminan tertulis. Harga berkisar dari 7,5 dolar untuk lampu terkecil hingga 17 dolar untuk obor dan 100 dolar untuk sistem tenaga surya di rumah dengan dua lampu LED, kipas angin , dan charger hp.

Mereka merupakan seri terbaru dari Ashden Awards yang bertujuan membantu perempuan dan anak perempuan. Sejak dibentuk pada tahun 2001, Ashden sudah menolong lebih dari 200 pebisnis di seluruh dunia, yang sudah membantu meningkatkan kehidupan 80 juta orang, menyerap lebih dari 10 juta ton CO2e setiap tahunnya. – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/perempuan-ambil-alih-revolusi-tenaga-surya/feed/ 0
Pemerintah Dinilai Belum Maksimal Kembangkan Energi Terbarukan https://www.greeners.co/berita/pemerintah-dinilai-belum-maksimal-kembangkan-energi-terbarukan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemerintah-dinilai-belum-maksimal-kembangkan-energi-terbarukan https://www.greeners.co/berita/pemerintah-dinilai-belum-maksimal-kembangkan-energi-terbarukan/#respond Thu, 31 Mar 2016 07:06:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13320 Greenpeace Indonesia menyatakan, hingga saat ini, pemerintah masih belum memberikan sinyal positif terkait pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia.]]>

Jakarta (Greeners) – Dampak buruk tambang batubara bagi lingkungan dan masyarakat sekitar wilayah tambang, seharusnya menjadi perhatian serius oleh pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Selain berdampak pada bentang alam, tambang batubara juga sangat berdampak terhadap limpasan air (runoff) sehingga menyebabkan krisis air bagi warga yang tinggal di sekitar tambang batubara.

Cadangan batubara Indonesia sendiri telah banyak diprediksi tidak akan bertahan lama. Namun, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang memasukkan proyek energi 35.000 Megawat (MW) dan menjadi andalan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla di sektor energi masih sangat mengandalkan penggunaan batubara.

Pengkampanye dari Jaringan Advokasi Tambang Nasional (Jatam) Ki Bagus Hadikusuma mengatakan, 20.000 dari 35.000 rencana pengembangan proyek energi tersebut menggunakan batubara. Padahal, telah banyak peringatan yang dikeluarkan oleh berbagai pihak kalau cadangan batubara Indonesia tidak akan bertahan lebih dari 30 tahun ke depan.

“Ini seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah Indonesia terkait proyek 35.000 megawat. Dengan asumsi produktifitas PLTU bekerja hanya 15 sampai 20 tahun, artinya batubara sangat tidak efektif sebagai cadangan ketahanan energi,” katanya kepada Greeners, Jakarta, Rabu (30/03).

Selain itu, Arifiyanto, Juru Kampanye iklim dan energi Greenpeace Indonesia mengatakan, hingga saat ini, pemerintah pun masih belum memberikan sinyal positif terkait pengembangan energi baru terbarukan. Saat ini, lanjutnya, berbagai misi energi terbarukan hanya terlihat sebagai ajang pamer belaka seperti melakukan pembangunan banyak solar panel di beberapa daerah terpencil.

Menurut Arif, seharusnya dua pulau besar yang harus menjadi perhatian pemerintah terlebih dahulu adalah Pulau Jawa dan Bali. Ia menyatakan, hingga saat ini masih belum ada langkah serius yang dilakukan pemerintah terkait penggunaan energi terbarukan khususnya di dua pulau besar ini. Alasannya, dua pulau ini adalah pulau yang banyak sekali mengonsumsi energi listrik.

“Jadi belum kita lihat ada komitmen Joko Widodo yang disampaikan pada COP 21 Paris itu diimplementasikan. Regulasi pengembangan energi terbarukan juga masih belum terlihat. Panas bumi, misalnya, masih bermasalah terhadap kepastian dan jaminan usaha. Kalau pemerintah masih melakukan proyek-proyek pamer seperti itu, maka pengembangan energi terbarukan kita akan terus tertinggal,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pemerintah-dinilai-belum-maksimal-kembangkan-energi-terbarukan/feed/ 0
Persepsi yang Keliru Hambat Perkembangan Proyek Energi Terbarukan https://www.greeners.co/berita/persepsi-yang-keliru-hambat-perkembangan-proyek-energi-terbarukan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=persepsi-yang-keliru-hambat-perkembangan-proyek-energi-terbarukan https://www.greeners.co/berita/persepsi-yang-keliru-hambat-perkembangan-proyek-energi-terbarukan/#respond Mon, 28 Dec 2015 04:12:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12372 Kemen ESDM menyatakan, persepsi masyarakat yang menganggap energi terbarukan adalah barang mahal dan masyarakat yang sudah nyaman terhadap penggunaan subsidi BBM membuat pengerjaan energi terbarukan di Indonesia menjadi sulit untuk berkembang.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kemen ESDM) menyatakan, persepsi masyarakat yang menganggap energi terbarukan adalah barang mahal dan kondisi masyarakat yang sudah nyaman terhadap penggunaan subsidi dari Bahan Bakar Minyak (BBM) membuat pengerjaan energi terbarukan di Indonesia menjadi sulit untuk berkembang.

Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM Maritje Hutapea menyatakan, dari persepsi yang keliru ini, banyak masyarakat yang akhirnya membandingkan antara penggunaan energi terbarukan dan energi fosil. Rasa nyaman akibat subsidi dari energi fosil membuat masyarakat merasa penggunaan energi kotor tersebut jauh lebih murah.

“Padahal, jika dijabarkan antara energi terbarukan dan energi fosil yang disubsidi, energi terbarukan sebenarnya jauh lebih murah,” ujarnya saat menjadi pembicara di acara “Workshop Jurnalistik Energi Terbarukan dan Pembangunan Berkelanjutan” di Sentul, Rabu (23/12).

Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM, Maritje Hutapea. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM, Maritje Hutapea. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Selain itu, kendala utama lain yang menyebabkan pemanfaatan energi terbarukan berjalan lamban juga dipengaruhi oleh sikap Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang berperan sebagai single off taker terkesan enggan membeli listrik dari pembangkit panas bumi dengan alasan tarif yang masih tinggi.

Dalam negosiasi yang masih berjalan alot antara pengembang energi terbarukan, PLN selalu menawar di bawah harga keekonomian perusahaan energi terbarukan karena berpatokan pada harga batubara yang saat ini sedang melemah.

“Karena itulah kami memberlakukan skema feed-in-tariff dan ceiling price di mana dalam skema ini telah dihitung penentuan tarif berdasarkan kapasitas, sehingga PLN dan pengusaha bisa menerimanya,” tambah Maritje.

Selain itu, skema ini diharapkan dapat menjadikan target 7,1 Gigawatt pembangkit panas bumi yang telah digagas bisa tercapai pada tahun 2025 mendatang. PLN, imbuhnya, harus menerima skema feed-in-tariff ini karena merupakan penugasan negara dan sebagai jalan keluar dari alotnya negosiasi harga yang sedang berlangsung.

Menurut Maritje, selama ini PLN sulit membeli listrik dari produksi panas bumi dengan harga baik karena alasan regulasi UU BUMN yang mengharuskan PLN melakukan sejumlah efisiensi. Akan menjadi pertanyaan jika membeli listrik di atas harga jual rata-rata Rp 1.200/kwh.

Pada kesempatan yang sama, Anggota Dewan Energi Nasional yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Geothermal, Abadi Purnama mengatakan bahwa sasaran kebijakan dalam Rencana Umum Energi Nasional juga termasuk dalam mengubah paradigma energi yang selama ini melekat di masyarakat.

Ditambah lagi, dari sisi penerimaan negara, sektor energi dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Ia memberikan contoh, hingga saat ini, pemanfaatan panas bumi di Indonesia hanya sebesar 2.000 MW atau lima persen dari 40 persen cadangan energi yang ada.

“Sudah seyogiyanya keberadaan energi nasional diperuntukkan untuk kemakmuran rakyat. Karena untuk menjalankan program kemandirian energi, sektor energi baru terbarukanlah jawabannya,” tandasnya.

Sebagai informasi, sebelumnya, Menteri ESDM Sudirman Said dalam konferensi pers menyatakan bahwa pemerintah bersungguh-sungguh akan menempatkan energi baru-terbarukan sebagai kekuatan sumber energi nasional dan menargetkan penggunaannya sebesar 23 persen pada 2025.

Menurut Sudirman, Kementerian PPN/Bappenas juga telah memasukkan dana energi ke dalam perencanaan. Ia menambahkan bahwa seluruh wakil pemerintah dan kepentingan juga akan mempercepat pembangunan energi terbarukan dan serius dalam mengurus permintaan energi.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/persepsi-yang-keliru-hambat-perkembangan-proyek-energi-terbarukan/feed/ 0
Penggunaan Energi Terbarukan Harus Mulai Diterapkan di Indonesia https://www.greeners.co/berita/penggunaan-energi-terbarukan-harus-mulai-diterapkan-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penggunaan-energi-terbarukan-harus-mulai-diterapkan-indonesia https://www.greeners.co/berita/penggunaan-energi-terbarukan-harus-mulai-diterapkan-indonesia/#respond Mon, 07 Dec 2015 07:31:11 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12161 Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik menyarankan pada pemerintah Indonesia untuk segera mengalihkan penggunaan energi utama negara dengan memanfaat energi terbarukan.]]>

Jakarta (Greeners) – Komitmen Indonesia seperti yang tertera di dalam Intended Nationally Determined Contribution (INDC) pada pelaksanaan Conference of the Parties (COP) 21 UNFCCC di Paris, Perancis dikatakan oleh Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik, sudah cukup maju dengan menerapkan target penurunan emisi karbon sebesar 29 persen pada tahun 2030.

Namun, masih banyak agenda penting yang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk implementasi dari INDC tersebut. Salah satunya terkait agenda penerapan pencegahan kebakaran hutan. Moazzam mengatakan, kasus kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 2015 telah menyumbang emisi karbon terbesar di dunia.

“Kebakaran hutan dan kabut asap tahun ini telah membuat Indonesia menjadi penyumbang emisi terbesar di dunia. Jadi Indonesia sudah harus berpikir dan belajar melindungi hutan dan lahan gambutnya,” kata Moazzam saat ditemui oleh Greeners pada acara konser perubahan iklim di Rumah Kaca, Taman Menteng, Jakarta, Minggu (06/12).

(kiri ke kanan) Duta Besar Uni Eropa (UE) untuk Indonesia Vincent Guerend dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik saat menghadiri konser perubahan iklim di Rumah Kaca, Taman Menteng, Jakarta, Minggu (06/12). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

(kiri ke kanan) Duta Besar Uni Eropa (UE) untuk Indonesia Vincent Guerend dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik saat menghadiri konser perubahan iklim di Rumah Kaca, Taman Menteng, Jakarta, Minggu (06/12). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Terkait masih banyaknya penggunaan energi fosil pada proyek energi di Indonesia, Moazzam menyarankan pada pemerintah Indonesia untuk segera mengalihkan penggunaan energi utama negara dengan memanfaat energi terbarukan. Ia mengingatkan bahwa penggunaan energi fosil seperti batu bara diprediksi akan mulai berkurang pada tahun 2025 dan untuk seterusnya.

Moazzam mengatakan bahwa Inggris sudah mulai mendekatkan diri pada pemerintah Indonesia untuk membantu mengalihkan penggunaan energinya pada energi terbarukan. Negara lain seperti Cina dan India pun telah berkomitmen untuk mengurangi penggunaan energi dari batubara. “Kita berharap Indonesia juga mengikuti tren ini kalau Indonesia benar-benar mau mengurangi dampak perubahan iklim pada dunia dan untuk Indonesia juga pada khususnya,” tuturnya.

Sebagai informasi, dalam rangka mendukung aksi pengendalian perubahan iklim, Delegasi Uni Eropa dan Kedutaan Inggris, dengan dukungan dari Kedutaan Jerman, memobilisasi kaum pemuda dan musisi Indonesia dan internasional dalam konser perubahan iklim yang diadakan di Taman Menteng, Jakarta.

Duta Besar Uni Eropa (UE) untuk Indonesia Vincent Guerend mengatakan konser perubahan iklim ini untuk mempromosikan aksi-aksi praktis yang dapat dilakukan untuk mitigasi perubahan iklim dan menikmati alunan musik dari artis-artis Indonesia.

“Konser ini merupakan bagian dari RRREC Fest #5 dan menghadirkan pertunjukan musik-musik indie seperti Indische Party dan Frau dengan paduan suara dari Dialita. Melalui konser ini, anak-anak muda kami ajak bergabung dengan niatan sama-sama memperbaiki dunia dari dampak perubahan iklim melalui berbagai kegiatan kecil maupun besar,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/penggunaan-energi-terbarukan-harus-mulai-diterapkan-indonesia/feed/ 0
#Gerakan2020 untuk Pulau Sumba Resmi Diluncurkan https://www.greeners.co/berita/gerakan-2020-untuk-pulau-sumba-resmi-diluncurkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gerakan-2020-untuk-pulau-sumba-resmi-diluncurkan https://www.greeners.co/berita/gerakan-2020-untuk-pulau-sumba-resmi-diluncurkan/#respond Sat, 17 Oct 2015 00:00:38 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11538 Jakarta (Greeners) – #Gerakan2020 yang diinisiasi oleh para peserta Ekspedisi Sumba 2015 telah resmi diluncurkan. Bertempat di Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta Selatan, keempat peserta yang telah melakukan […]]]>

Jakarta (Greeners) – #Gerakan2020 yang diinisiasi oleh para peserta Ekspedisi Sumba 2015 telah resmi diluncurkan. Bertempat di Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta Selatan, keempat peserta yang telah melakukan perjalanan ke Pulau Sumba akhirnya mulai melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai apa yang mereka pelajari di Sumba.

Selama sepuluh hari, keempat peserta Ekspedisi Sumba tersebut mempelajari dan mengkampanyekan pemanfaatan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional.

Dea Sihotang, salah satu peserta asal Jakarta, menjelaskan bahwa #Gerakan2020 adalah gerakan mandiri yang dilakukan oleh para peserta Ekspedisi Sumba dengan cara menggalang dukungan publik untuk penyediaan fasilitas energi terbarukan bagi masyarakat Sumba.

“#Gerakan2020 energi terbarukan untuk Sumba ini adalah misi kami untuk mengajak masyarakat untuk turut berpartisipasi langsung mewujudkan Sumba Iconic Island, 100 persen energi terbarukan untuk Pulau Sumba di tahun 2020 nanti,” jelasnya saat peluncuran #gerakan2020 di Erasmus Huis, Jakarta, Kamis (15/10) malam.

Saepul Hamdi, salah satu peserta dari Bandung, menerangkan bahwa penggalangan dukungan berupa dana yang diberikan oleh masyarakat, nantinya akan digunakan untuk pembangunan panel surya. Panel surya ini untuk menyuplai aliran listrik yang akan membantu kegiatan belajar mengajar di Sekolah Dasar Inpres (SDI) Prailangina di Dusun Prailangina, Desa Kadahang, Sumba Timur.

“Saya selalu tersentuh dengan semangat adik-adik di Sumba. Kemauan mereka untuk belajar sangat tinggi sekali. Dengan dibangunnya panel surya ini diharapkan dapat mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah. Selain itu, panel surya ini juga dapat membantu penerangan di rumah murid-murid dengan menggunakan lampu isi ulang. Karena, penerangan di malam hari sungguh merupakan hal yang sangat mewah bagi masyarakat Sumba,” terang pemuda yang akrab disapa Epul ini.

Peluncuran #Gerakan2020. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Peluncuran #Gerakan2020. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Griksa Gunadharma, salah satu peserta dari Jakarta, menyatakan bahwa #Gerakan2020 akan dilakukan dalam beberapa cara, seperti sosialisasi dengan konsep “Normal” (nonton bareng sambil beramal) yang akan dilakukan di Jakarta dan Bandung, dan konsep Run for Sumba yang akan dilakukan di Jakarta dan Belanda.

“Target kami, hingga 30 November 2015, sudah terkumpul seluruh dananya,” tambah Griksa.

Senada dengan Griksa, Novianus Efrat, salah satu peserta asal Bogor, juga memberitahukan bahwa seluruh informasi terkait #Gerakan2020 sudah dapat dilihat di kanal kitabisa.com/gerakan2020. Di dalam kanal tersebut, kata pria yang akrab disapa Efrat ini, masyarakat bisa melihat latar belakang, rencana penggunaan, dan kegiatan yang akan dilakukan dalam melakukan kampanye ini.

Sandra Winarsa selaku Project Manager Green Energy (Sumba), Hivos Southeast Asia menyatakan dipilihnya Pulau Sumba sebagai percontohan karena pulau ini memiliki tingkat kemiskinan yang cukup tinggi. Dengan adanya energi terbarukan, diharapkan dapat memperkecil tingkat kemiskinan tersebut dan mampu mendorong terjadinya pembangunan yang berkelanjutan.

“Pulau Sumba memiliki kondisi alam yang menyediakan segala kebutuhan energi terbarukan. Ironisnya, energi yang melimpah itu masih belum bisa dimaksimalkan sehingga berpengaruh terhadap kualitas kesehatan, pendidikan dan produktivitas masayarkat,” tutur Sandra.

Sebagai informasi, Ekspedisi Sumba 2015 adalah ekspedisi untuk mengkampanyekan perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos. Selain keempat peserta dari Indonesia, ada juga empat peserta dari Belanda yang tergabung dalam tim ekspedisi ini. Mereka adalah Guido, Franka, Joyce dan Sylvia.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/gerakan-2020-untuk-pulau-sumba-resmi-diluncurkan/feed/ 0
“Petualangan Banyu” Ajak Anak-Anak Lebih Hemat Energi https://www.greeners.co/aksi/petualangan-banyu-ajak-anak-anak-lebih-hemat-energi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=petualangan-banyu-ajak-anak-anak-lebih-hemat-energi https://www.greeners.co/aksi/petualangan-banyu-ajak-anak-anak-lebih-hemat-energi/#respond Wed, 25 Mar 2015 11:54:56 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=8300 Jakarta (Greeners) – Kegiatan bisnis dewasa ini sudah mulai memperlihatkan perhatiannya pada keberlangsungan lingkungan hidup, selain memenuhi kebutuhan masyarakat. Melalui program Corporate Social Responsibility bertajuk “Banyu Berpetualang Bersama Bank Ekonomi,” […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kegiatan bisnis dewasa ini sudah mulai memperlihatkan perhatiannya pada keberlangsungan lingkungan hidup, selain memenuhi kebutuhan masyarakat. Melalui program Corporate Social Responsibility bertajuk “Banyu Berpetualang Bersama Bank Ekonomi,” Greeneration Foundation sebagai mitra kerjasama Bank Ekonomi kembali berkampanye dengan mengangkat isu energi.

Pembina Greeneration Foundation, Mufti Alem mengatakan bahwa program edukasi lingkungan yang telah berjalan selama Februari sampai dengan Maret 2015 di tiga sekolah, seperti SDN Tanjung Barat 05, SDN Manggarai 03, dan SDN Kembangan Utara 09 Jakarta ini juga melibatkan karyawan Bank Ekonomi sebagai relawan. Mereka turun langsung mendampingi siswa-siswi SDN tersebut dalam menjalankan rangkaian kegiatan dengan metode edukasi yang interaktif.

Program ini, lanjut Mufti, juga ditandai dengan peluncuran situs www.petualanganbanyu.com yang berupa portal informasi dan dapat diakses oleh masyarakat luas sebagai media Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), baik di sekolah maupun di berbagai komunitas luar sekolah.

“Kami berharap situs ini dapat memberikan manfaat bagi anak-anak Indonesia sebagai metode alternatif untuk bermain dan belajar serta mendorong perilaku ramah lingkungan dalam keseharian anak-anak,” jelasnya pada peluncuran situs petualanganbanyu.com di Jakarta, Rabu (25/03).

Tampilan laman petualanganbanyu.com. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Tampilan laman petualanganbanyu.com. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Head of Corporate Communication Bank Ekonomi, Wahyu Adiguna, menyatakan bahwa inisiatif ramah lingkungan ini juga diterapkan melalui sisi kebijakan sustainability risk dan sisi operasional sehari-hari dalam payung program BEgreen atau Bank Ekonomi goes green. Program ini menunjukkan upaya pelestarian lingkungan sudah seharusnya menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat.

Sebagi informasi, “Petualangan Banyu” adalah paket modul edukasi lingkungan tematik untuk anak-anak 8-12 tahun. Salah satunya serial film animasi berdurasi pendek (4 – 7 menit) dan permainan.

Dimulai dari satu inisiatif yang sederhana pada tahun 2009 lalu, Greeneration Indonesia (GI) yang menjadi tuan rumah Berbuka Sambil Ingat Lingkungan (BERSALING) berinisiatif membuat edukasi untuk mengajar anak-anak yatim-piatu tentang air dan banjir. GI kemudian mengajak Komunitas Sahabat Kota (KSK) untuk menjalankan inisiatif tersebut. Hasilnya, mucullah ide untuk membuat film animasi Banyu.

Nama Banyu terbentuk, sesederhana ide film animasi Petualangan Banyu seri pertama yang bertema air. Setelah film Banyu bertema air ini dibuat, KSK mengembangkan modul edukasi tentang air berbasis film Banyu.

Tahun 2011, muncullah film Banyu yang kedua bertema sampah yang sudah didesain beserta dengan modulnya. Tahun berikutnya GI membuat lagi serial Banyu yang ketiga bertema energi yang sudah di rebranding dan dibenahi konsepnya. Terbentuklah “Petualangan Banyu” dimana Banyu bukan sekedar film animasi, tetapi sebuah modul edukasi dengan film animasi yang bertujuan agar anak-anak mempunyai seorang tokoh sebagai panutan untuk ramah lingkungan.

Petualangan Banyu seri ketiga ini memakai sistem crowdfunding (mengumpulkan dana dengan bantuan publik). Petualangan Banyu seri ketiga ini didukung oleh World Wildlife Fund (WWF).

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/petualangan-banyu-ajak-anak-anak-lebih-hemat-energi/feed/ 0
Jatam Dorong Penggunaan Energi Terbarukan Pada Pawai Dan Aksi Massal 350 https://www.greeners.co/berita/jatam-dorong-penggunaan-energi-terbarukan-pada-pawai-dan-aksi-massal-350/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jatam-dorong-penggunaan-energi-terbarukan-pada-pawai-dan-aksi-massal-350 https://www.greeners.co/berita/jatam-dorong-penggunaan-energi-terbarukan-pada-pawai-dan-aksi-massal-350/#respond Mon, 15 Sep 2014 09:01:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5814 Jakarta (Greeners) – Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menyatakan akan fokus pada isu peningkatan penggunaan energi terbarukan pada pawai dan aksi massal untuk perubahan iklim bersama dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia […]]]>

Jakarta (Greeners) – Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menyatakan akan fokus pada isu peningkatan penggunaan energi terbarukan pada pawai dan aksi massal untuk perubahan iklim bersama dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) dan komunitas 350 Indonesia pada tanggal 21 September mendatang.

Koordinator Jatam, Hendrik Siregar mengatakan, bahwa fokus untuk membawa isu pemanfaatan energi terbarukan saat ini sudah harus dikencangkan mengingat semakin ketergantungannya masyarakat akan energi fosil.

“Energi fosil harusnya sudah dikurangi pemakaiannya,” ujar Hendrik saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Senin (15/09).

Ilustrasi: climatemarch.org

Ajakan untuk turut aktif dalam pawai dan aksi massal untuk perubahan iklim yang disampaikan oleh climatemarch.org. Ilustrasi: climatemarch.org

Hendrik mengatakan, pada pawai dan aksi masal nanti, Jatam akan mengajak masyarakat untuk mulai menjadikan energi terbarukan sebagai sumber energi utama dalam pemenuhan kebutuhan energi sehari-hari.

“Di beberapa wilayah percontohan saja (pemenuhan sumber energi dari energi terbarukan) bisa kok. Energi fosil ini memang sudah harus diminimalkan,” katanya.

Sebagai informasi, pada bulan ini, beberapa pemimpin negara dunia akan menghadiri sebuah konferensi mengenai perubahan iklim di New York. Beberapa pawai dan aksi dikoordinasikan secara massif oleh 350.org untuk mengawal konferensi ini.

Pawai dan aksi massal juga akan melibatkan dan memobilisasi komunitas lokal di negara-negara, seperti Filipina, China, Vietnam, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura untuk mengingatkan pada pemimpin dunia bahwa perubahan iklim bukan hanya kata-kata.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/jatam-dorong-penggunaan-energi-terbarukan-pada-pawai-dan-aksi-massal-350/feed/ 0