iucn - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/iucn/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 05 May 2025 05:09:53 +0000 id hourly 1 Studi Global Ungkap Status Populasi Penyu Laut Membaik https://www.greeners.co/berita/studi-global-ungkap-status-populasi-penyu-laut-membaik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=studi-global-ungkap-status-populasi-penyu-laut-membaik https://www.greeners.co/berita/studi-global-ungkap-status-populasi-penyu-laut-membaik/#respond Sat, 19 Apr 2025 03:10:21 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=46394 Jakarta (Greeners) – Upaya konservasi penyu laut selama beberapa dekade menunjukkan hasil menggembirakan. Sebuah studi global terbaru mengungkapkan peningkatan status populasi di berbagai belahan dunia. Studi ini dilakukan oleh IUCN Species […]]]>

Jakarta (Greeners) – Upaya konservasi penyu laut selama beberapa dekade menunjukkan hasil menggembirakan. Sebuah studi global terbaru mengungkapkan peningkatan status populasi di berbagai belahan dunia.

Studi ini dilakukan oleh IUCN Species Survival Commission (SSC) Marine Turtle Specialist Group (MTSG) dan terpublikasi dalam jurnal Endangered Species Research dengan judul Updated Global Conservation Status and Priority for Marine Turtles. Penelitian multi-tahun tersebut mengevaluasi 48 populasi penyu laut dari enam spesies yang tersebar secara global.

Dalam prosesnya, hampir 150 pakar dari MTSG yang berasal dari 50 negara turut berkontribusi. Mereka menilai risiko, ancaman, serta kapasitas konservasi untuk tiap populasi spesies tersebut.

BACA JUGA: Perubahan Iklim Bakal Punahkan 37 % Spesies di Tahun 2050

Hasil studi menunjukkan bahwa ancaman terhadap penyu laut telah menurun pada sebagian besar populasi. Lebih dari 40 persen populasi kini terkategori sebagai risiko rendah (low risk)–ancaman rendah (low threat), meningkat signifikan dibandingkan hanya 23 persen pada tahun 2011.

“Karya ini menunjukkan dampak mendalam dari upaya konservasi lokal di seluruh dunia. Ini mencerminkan dedikasi banyak individu dan organisasi yang telah bekerja di darat dan di air untuk melindungi pelaut kuno dan ikonik ini,”  kata penulis utama studi tersebut, Bryan Wallace.

Meski begitu, studi ini juga menegaskan bahwa tantangan masih tetap ada. Tangkapan sampingan dari aktivitas perikanan menjadi ancaman paling mendesak bagi penyu laut saat ini.

Selain itu, faktor lain seperti pembangunan pesisir, polusi laut (terutama sampah plastik), perubahan iklim, serta pengambilan langsung terhadap penyu dan telurnya juga menjadi risiko yang serius. Oleh karena itu, masih butuh aksi konservasi yang konsisten dan berkelanjutan.

Populasi Rentan

Dalam kesimpulannya, penulis penelitian mengidentifikasi bahwa sembilan populasi penyu laut, terutama di Samudra Pasifik, termasuk dalam kategori high risk low threat menurut peringkat dari MTSG. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi yang lebih terfokus dan mendesak, dibutuhkan di wilayah Pasifik untuk melindungi spesies-spesies ini.

Di sisi lain, banyak populasi spesies tersebut di Samudra Atlantik sebagai low risk-low threat. Ini mecerminkan situasi yang lebih stabil di kawasan tersebut.

Penelitian ini juga menyoroti penyu belimbing, spesies terbesar dan dengan distribusi terluas di antara tujuh spesies penyu laut. Ternyata, penyu ini menonjol sebagai yang paling terancam. Penyu belimbing memiliki skor risiko dan ancaman gabungan tertinggi di antara semua populasi yang diteliti.

BACA JUGA: Ini Strategi BRIN Ungkap Biodiversitas Nusantara di Tahun 2024

Co-chair of the MTSG and president of Oceanic Society, Roderic Mast mengatakan ini adalah berita yang sangat bagus. Menurut dia, konservasi penyu laut selama puluhan tahun telah membuahkan hasil .

“Namun, pada saat yang sama, ini adalah panggilan untuk bertindak dan pengingat bahwa kita harus terus melanjutkan pekerjaan yang telah kita lakukan, dan melipatgandakan upaya kita untuk populasi yang paling terancam. Kita membutuhkan lebih banyak pendanaan, kolaborasi yang lebih kuat, dan peningkatan kapasitas konservasi. Terutama di area yang penting bagi penyu laut dan juga menghadapi tantangan sosial-ekonomi,” ujarnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/studi-global-ungkap-status-populasi-penyu-laut-membaik/feed/ 0
World Aquatic Animal Day, Manfaatkan Hewan Air Secara Berkelanjutan https://www.greeners.co/berita/world-aquatic-animal-day-manfaatkan-hewan-air-secara-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=world-aquatic-animal-day-manfaatkan-hewan-air-secara-berkelanjutan https://www.greeners.co/berita/world-aquatic-animal-day-manfaatkan-hewan-air-secara-berkelanjutan/#respond Mon, 03 Apr 2023 05:57:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39563 Jakarta (Greeners) – World Aquatic Animal Day atau Hari Hewan Air Sedunia yang jatuh pada 3 April 2023 didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran global tentang pentingnya keberadaan hewan air. Bertajuk “Alternatif […]]]>

Jakarta (Greeners) – World Aquatic Animal Day atau Hari Hewan Air Sedunia yang jatuh pada 3 April 2023 didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran global tentang pentingnya keberadaan hewan air. Bertajuk “Alternatif Pemanfaatan Hewan Air”, harapannya ada pemanfaatan secara berkelanjutan sehingga tak memengaruhi populasi hewan air.

Hewan air hidup di berbagai tempat, seperti laut, samudera, sungai, danau hingga kolam. Jenisnya berbagai macam mulai dari amfibi, mamalia, reptil, moluska, burung air, krustasea, hingga serangga. Jika salah satu spesies punah, tentu akan memengaruhi seluruh sistem biologis yang ada.

World Aquatic Animal Day Tekankan Pemanfaatan Berkelanjutan

Berdasarkan laporan IUCN, lebih dari 1.550 dari 17.903 hewan dan tumbuhan laut berisiko punah. Selain faktor antropogenik, perubahan iklim memicu setidaknya 41 % spesies laut terancam.

Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN Ocky Karna Radjasa menyatakan salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) yakni Life Below Water.

Ia menyebut, sudah menjadi rahasia umum banyak kegiatan manusia yang mengancam pelestarian hewan air, baik penyu, paus hingga avertebrata dan terumbu karang. “Padahal kita harusnya memanfaatkan mereka secara berkelanjutan,” katanya kepada Greeners, Senin (3/4).

Kehidupan penyu tak luput dari ancaman di alam. Foto: Freepik

Ancaman Pencemaran Plastik di Laut

Lebih jauh, berbagai faktor antropogenik dapat mengancam baik secara langsung maupun tak langsung pada keberlanjutan hewan air. Misalnya, marine debris yang sejatinya bersumber dari darat lalu mengalir melalui sungai hingga ke laut. Pencemaran sampah plastik ini mengancam hewan-hewan di laut.

Laporan Forum Ekonomi Dunia pada tahun 2020 menyebut, sebanyak 400 juta ton plastik global diproduksi tiap tahunnya. Namun, sebagian besar plastik tersebut akan berakhir menjadi sampah dan berisiko merusak lingkungan, termasuk perairan.

Studi Lourens J. J. Meijer, dkk bertajuk More than 1000 rivers account for 80% of global riverine plastic emissions into the ocean tahun 2021 menyebut, Indonesia menempati peringkat ke-5 dalam daftar negara dengan polusi sampah plastik di laut terbesar di dunia.

Berdasarkan data, sampah plastik dari Indonesia yang bermuara di laut mencapai 56.333 metrik ton per tahunnya. Ironisnya temuan World Wild Fund (WWF) sekitar 25 % spesies ikan laut telah mengandung bahan mikroplastik yang bersumber dari plastik di lautan.

Selain itu, Ocky juga menyatakan ancaman hewan laut secara langsung seperti penangkapan paus, overfishing atau penangkapan hiu berlebihan hingga pembantaian penyu yang menurunkan populasi hewan laut secara drastis.

Mengacu pada data statistik Badan Pangan Dunia (FAO), Indonesia berkontribusi lebih dari 10 % terhadap tangkapan hiu dunia. Ocky menyebut, jika hiu di laut berkurang maka ekosistem di laut tak seimbang.

Pemanfaatan Hewan Air dalam Bidang Riset Berkelanjutan

Potensi keanekaragaman hayati di air, termasuk laut sangat kaya. Meski demikian, Ocky menekankan agar pemanfaatannya harus secara berkelanjutan.

Dalam bidang riset misalnya, terkait bahan farmasi laut seperti antikanker dari spons laut. Agar tak menurunkan populasinya, peneliti tengah mencari alternatif sumbernya dari mikroba simbion yang berasosiasi dengan spons laut tersebut.

“Jadi sedianya ancamannya bisa berton-ton spons laut kita ambil kini cukup beberapa gram tisu spons laut sebagai sumber mikroba simbion yang kita isolasi dari spons laut,” ungkapnya.

Demikian pula pendekatan berbasis molekuler seperti metagenomik yang mengekstrak langsung DNA dari air laut. Kemudian melalui sekuensing dan pencarian klaster gen penghasil bioproduk. Ini berperan penting dalam industri dan kesehatan bersama dengan ilmu synthetic biology bisa menjadi alternatif.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/world-aquatic-animal-day-manfaatkan-hewan-air-secara-berkelanjutan/feed/ 0
Kucing Pasir, Hewan Bertelinga Lebar Ahli Memburu https://www.greeners.co/flora-fauna/kucing-pasir-hewan-bertelinga-lebar-ahli-memburu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kucing-pasir-hewan-bertelinga-lebar-ahli-memburu https://www.greeners.co/flora-fauna/kucing-pasir-hewan-bertelinga-lebar-ahli-memburu/#respond Tue, 17 Jan 2023 03:00:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38639 Tergolong dalam famili Felidae, kucing pasir atau Felis margarita hanya ada di kawasan padang pasir. IUCN menyatakan kucing kecil ini berstatus near threatened atau hampir terancam sejak tahun 2002 karena […]]]>

Tergolong dalam famili Felidae, kucing pasir atau Felis margarita hanya ada di kawasan padang pasir. IUCN menyatakan kucing kecil ini berstatus near threatened atau hampir terancam sejak tahun 2002 karena populasinya menurun. Kemudian pada tahun 2016 statusnya berubah menjadi least concern atau risiko rendah.

Victor Loche merupakan orang Eropa pertama yang menggambarkan kucing pasir pada tahun 1858. Ia menamai spesies Felis margarita dari nama Jean Auguste Margueritte, pemimpin ekspedisi yang menemukan hewan ini.

Morfologi dan Ciri-Ciri Umum

Kucing pasir mempunyai tubuh yang relatif kecil gempal dengan kaki pendek, ekor panjang dan besar serta bertelinga lebar. Kucing ini memiliki ukuran panjang sekitar antara 39-57 sentimeter, dan 23-31 sentimeter bagian ekor serta berat mencapai 3,4 kilogram.

Berbeda dengan kepala kucing biasanya yang lebih kecil, kepala kucing pasir lebih luas. Menariknya bagian telinga lebih lebar bahkan menunjuk ke bawah. Ini membantunya dalam berburu. Pendengaran mereka luar biasa hingga dapat menangkap getaran di pasir. Adaptasi serupa juga terdapat pada rubah fennec.

Warna pucat kuning-pasir dengan warna putih di bagian dagu ke bawah mendominasi warna bulu kucing pasir. Spesies ini juga memiliki warna hitam berbentuk gelang pada bagian kaki dan ekor, dan garis-garis kemerahan di pipi. Matanya kuning besar dan kehijauan, sedangkan hidung berwarna hitam.

Hal unik lain yang bahkan tidak kucing Asia miliki yakni kucing pasir memiliki bulu panjang yang tumbuh di antara jari kakinya. Ini membantu melindungi mereka saat bergerak di atas pasir panas.

Pada bagian cakar kaki belakang lebih kecil dan tumpul. Kombinasi antara bulu yang panjang dan cakar yang tumpul ini dapat menyembunyikan jejak.

Habitat dan Distribusi Persebaran

Kucing pasir menyukai wilayah berpasir, dan gurun berbatu. Persebarannya luas meliputi padang pasir Afrika Utara dan barat daya dan Asia Tengah.

Selain itu, spesies ini hidup di daerah kering yang terlalu panas dan kering bahkan untuk kucing liar Afrika, seperti Gurun Sahara, gurun di Arab hingga padang pasir di Iran dan Pakistan.

Mereka lebih memilih daerah datar atau bergelombang dengan vegetasi jarang, menghindari bukit pasir telanjang dengan makanan yang relatif sedikit.

Mereka dapat bertahan hidup pada suhu berkisar antara -5 °C (23 °F) sampai 52 °C (126 °F), menarik diri ke lubang selama kondisi ekstrem. Meskipun mereka minum ketika air tersedia, mereka dapat bertahan hidup selama berbulan-bulan tanpa air.

Perilaku dan Kebiasaan Kucing Pasir

Kucing ini hidup soliter di luar musim kawin. Mereka menghuni liang, biasanya menggunakan baik bekas liang rubah atau landak atau memperbesar galian gerbil atau binatang pengerat lainnya.

Komunikasinya cukup unik, yakni menggunakan aroma dan tanda cakar pada objek dalam jangkauan mereka, dengan penyemprotan urin. Mereka membuat vokalisasi mirip dengan kucing domestik, tetapi juga bersuara keras hingga bernada tinggi, terutama saat mencari jodoh.

Setelah senja, kucing ini keluar untuk berburu tikus, kadal, burung, dan serangga. Mereka tercatat bergerak dengan jarak jauh dari 5–10 kilometer dalam satu malam. Telemetri radio studi di Israel menunjukkan jangkauan penyebaran rumah mereka yang besar, dengan satu laki-laki menggunakan area seluas 16 kilometer persegi.

Rata-rata tiga anak kucing lahir setelah 59-66 hari, biasanya sekitar April atau Mei. Meski demikian, di beberapa daerah, kucing ini dapat melahirkan dua anak per tahun. Anak-anak kucing beratnya 39-80 gram.

Degradasi habitat adalah ancaman utama bagi kucing ini. Ekosistem bisa terdegradasi dengan cepat  oleh permukiman manusia dan aktivitas, penggembalaan ternak khususnya. Sementara kucing pasir kecil sangat bergantung dengan wilayah bervegetasi memadai.

Taksonomi Kucing Pasir (Felis margarita)

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kucing-pasir-hewan-bertelinga-lebar-ahli-memburu/feed/ 0
Elang Flores, Raptor Langka dari NTT yang Semakin Terancam https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-flores-raptor-langka-dari-ntt-yang-semakin-terancam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=elang-flores-raptor-langka-dari-ntt-yang-semakin-terancam https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-flores-raptor-langka-dari-ntt-yang-semakin-terancam/#respond Wed, 14 Apr 2021 01:00:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=32393 Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu provinsi dengan keanekaragaman hayati sangat kaya di Indonesia. Kawasan tersebut banyak menjadi habitat flora dan fauna endemik khas Indonesia seperti Elang Flores. Nisaetus […]]]>

Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu provinsi dengan keanekaragaman hayati sangat kaya di Indonesia. Kawasan tersebut banyak menjadi habitat flora dan fauna endemik khas Indonesia seperti Elang Flores.

Nisaetus floris atau elang Flores adalah jenis burung pemangsa yang berasal dari famili Accipitridae. Ia dianggap sebagai “key species” berkat perannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekitar.

Hewan bergenus Nisaetus ini sempat ahli anggap berkerabat dengan ras Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus). Meski selanjutnya diketahui, bahwa keduanya memiliki morfologi yang cukup berbeda.

Melansir IUCN Red List, status konservasi elang ini disebut sangat terancam (Critically Endangered). Populasi mereka pakar nilai semakin menipis, akibat tingginya aktivitas perburuan di alam liar.

Karakterisitik dan Ciri-Ciri Burung Elang Flores

Spesies N. floris tergolong sebagai burung berukuran besar. Mereka dapat tumbuh sepanjang 71 – 82 cm dengan ciri khas kepala berwarna putih, serta garis-garis cokelat di bagian mahkotanya.

Tubuh bagian atas elang Flores biasanya berwarna cokelat kehitaman. Dada dan perut mereka tampak berwarna putih, dengan corak garis tipis (seperti palang) berwarna cokelat kemerahan.

Bagian ekornya memiliki enam garis gelap berwarna cokelat, sedang bagian kakinya berwarna putih terang. Saat usia remaja, kepala burung ini terlihat lebih pucat daripada individu dewasa.

Kendati demikian, tidak ada perbedaan signifikan antara jenis burung jantan dan juga betina. Jika kita telaah lebih jauh, keduanya justru tampak cukup mirip dengan elang brontok muda.

Elang Flores memakan kawanan burung, kadal, ular dan mamalia kecil lainnya. Sebab habitatnya semakin tergerus, ia juga kerap memangsa hewan peliharaan warga sehingga dianggap hama.

BACA JUGA : Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, Dr. Amir Hamidy Soroti Tren Pelihara Reptil

Persebaran, Habitat dan Kebiasaan Nisaetus floris

Melihat peta persebarannya, Nisaetus floris hanya bisa kita temukan di sebagian wilayah timur Indonesia. Mereka menyebar mulai dari Pulau Flores, Pulau Sumbawa hingga Pulau Lombok.

Menurut beberapa sumber, burung elang Flores juga sempat ditemukan di wilayah Palu dan Pulau Komodo. Namun, kebenaran atas informasi tersebut belum dapat ahli validasi sampai saat ini.

Pada dasarnya, pakar percaya bahwa habitat asli mereka berada di hutan hujan dataran rendah. Walau pada penelitian lainnya, dijumpai pula spesies N. Floris di area hutan dekat kaki gunung.

Habitat pegunungan burung ini dipercaya hingga 1.000 m di atas permukaan laut. Ia terbang di dekat area hutan utuh atau semi utuh, serta di sepanjang sisi lereng gunung dan di atas kanopi hutan.

Fauna berordo Accipitriformes ini lebih sering terlihat sendirian atau berpasangan. Mereka bertengger di ranting pohon untuk beristirahat, sambil memamerkan keindahan mahkotanya.

BACA JUGA : Pohon Trembesi, Flora Peneduh yang Handal Menyerap CO2

Mengapa Elang Flores Terancam Punah?

Merujuk laman Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), populasi elang Flores saat ini diprediksi berkisar 100 – 200 individu atau kurang dari 100 pasang saja.

Sedang berdasarkan ekstrapolasi dari kisaran wilayah jelajahnya (sekitar 38,5 km2), kemungkinan ada 10 pasang N. floris di Pulau Lombok, 38 pasang di Sumbawa, dan 27 pasang di Pulau Flores.

Perlu diketahui, secara nasional elang berjenis ini sejatinya termasuk dalam satwa dilindungi oleh negara. Hal itu sudah sesuai dengan PP No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Terancamnya populasi elang Flores sebenarnya tak jauh dari ulah manusia. Selain diburu karena dianggap hama, masifnya aktivitas perambahan hutan membuat habitat mereka kian tergerus.

Padahal bagi sebagian warga lokal, burung yang dikenal dengan nama Ntangis, Toem atau Empo ini dinilai suci karena berhubungan erat dengan kebudayaan serta adat-istiadat setempat.

Bagi masyarakat Suku Manggarai di bagian barat Flores misalnya, toem diperlakukan secara layak, tidak boleh ditangkap, dibunuh atau disiksa, sebab dianggap sebagai leluhurnya manusia.

Penulis : Yuhan Al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-flores-raptor-langka-dari-ntt-yang-semakin-terancam/feed/ 0
Pohon Cendana, Kayu Wangi Asli NTT yang Rentan Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-cendana-kayu-wangi-asli-ntt-yang-rentan-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pohon-cendana-kayu-wangi-asli-ntt-yang-rentan-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-cendana-kayu-wangi-asli-ntt-yang-rentan-punah/#respond Thu, 08 Apr 2021 03:24:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=32341 Dikenal sebagai Sandalwood di dunia perdagangan, Pohon Cendana (Santalum album L.) merupakan salah satu tumbuhan asli asal Nusantara. Mereka tergolong sebagai flora endemik karena hanya bisa kita temukan di kawasan […]]]>

Dikenal sebagai Sandalwood di dunia perdagangan, Pohon Cendana (Santalum album L.) merupakan salah satu tumbuhan asli asal Nusantara. Mereka tergolong sebagai flora endemik karena hanya bisa kita temukan di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku Tenggara Barat.

Secara umum terdapat dua jenis cendana yang paling populer di dunia; Cendana Merah dan Putih. Cendana merah tertanam di daerah Funan dan India, sedang varietas putih berasal dari Indonesia.

Meski tumbuh subur di sekitar Pulau Flores, Alor, Sumba, Solor, Adonara, Lomblen, Timor, Rote hingga Sabu, nyatanya pohon cendana putih sudah bisa kita jumpai di Pulau Jawa dan Sumatera.

Namun berkat karakteristiknya yang sukar dibiakkan, tumbuhan penghasil kayu berkualitas ini ahli nilai semakin langka. Hal tersebut diperparah dengan aktivitas eksploitasi cendana di habitatnya.

Habitat dan Karakteristik Pohon Cendana

Pohon cendana dapat tumbuh secara optimal pada kawasan bercurah hujan 850 – 1.350 mm per tahun. Mereka hidup di area bermusim kering lama, dengan periode musim hujan yang pendek.

Spesies Santalum album L. sendiri tidak menyukai daerah yang tergenang air. Mereka memerlukan asupan sinar matahari cukup, serta tumbuh di area yang terbuka sekitar kawasan pinggiran hutan.

Sehingga jangan heran jika cendana tumbuh subur di lahan yang cenderung kering. Asal drainasenya baik, mereka dapat berbiak pada tanah bertekstur lempung dari bahan induk batu gamping.

Pada tanah dangkal, berbatu-batu dan kurang subur, pohon cendana masih dapat tumbuh bahkan menghasilkan kayu berkualitas. Karena itu, kayu cendana tergolong istimewa serta berharga mahal.

Perlu diketahui dari 29 spesies Santalaceae di dunia, tercatat hanya ada 8 varietas yang sering publik manfaatkan. Kedelapan varietas ini dieksploitasi untuk diambil minyak serta dijadikan kayu olahan.

Morfologi dan Ciri-Ciri Pohon Cendana

Salah satu ciri pohon cendana dapat kita lihat dari kebiasaannya dalam menggugurkan daun. Mereka tumbuh hingga ketinggian 20 m, memiliki diameter berkisar 40 cm dengan tajuk ramping dan lebar.

Akar pohon ini tidak berbanir, batangnya tampak bulat serta berlekuk-lekuk. Daun cendana sendiri tergolong daun tunggal, ukurannya berkisar 4 – 8 cm x 2 – 4 cm dengan dominasi warna hijau.

Bentuknya bulat seperti pasak, dengan pinggiran daun bergelombang serta tangkai berwarna kekuningan sepanjang 1 – 1,5 cm. Bagian daun ini tidaklah rimbun, bahkan cenderung agak jarang.

Bunga pohon cendana berbentuk seperti payung menggarpu atau malai, dengan hiasan bunga seperti tabung dan berbentuk lonceng sepanjang kurang lebih 1 mm.

Mulanya, bagian tersebut akan tampak bercorak kekuningan, lalu warna berubah menjadi merah gelap kecoklat-coklatan saat mulai dewasa. Buah cendana memiliki ukuran diameter 1 x 0,75 cm.

Buah ini bentuk batu (drupe), jorong, kecil, berwarna merah kehitam-hitaman, mempunyai lapisan eksokarp, mesokarp berdaging, endokarp keras dengan ciri khas garis dari ujung ke pangkalnya.

Saat sudah matang daging buah berubah menjadi kehitaman. Periode berbuahnya dimulai saat usia pohon mencapai lima tahun, lalu mereka berbuah dan berbunga sebanyak dua kali tiap tahunnya.

Kandungan Zat dan Manfaat Pohon Cendana

Pohon cendana sejatinya sudah masyarakat manfaatkan sejak 400 tahun silam. Para pemeluk agama Hindu dan Buddha bahkan menggunakan serbuk kayu ini sebagai bahan baku pembuat dupa.

Bagi masyarakat Bali, kayu cendana diolah menjadi bahan baku pembuatan bangunan suci, arca dan cinderamata. Agar tahu lebih banyak potensi tanaman ini, berikut Greeners rangkum untuk Anda.

  1. Penghasil Minyak Atsiri
    Menurut penelitian, kayu akar cendana mengandung minyak atsiri sebesar 10%. Pada bagian kayu batang, kandungan minyak tersebut disinyalir sebesar 4 – 8 %, sedang rantingnya berkisar 2 – 4%.
    Berkat aromanya yang semerbak, minyak atsiri dikenal luas sebagai bahan campuran parfum. Ia juga bermanfaat sebagai essential oil yang mampu meredakan stres, sakit kepala hingga peradangan.
  2. Dijadikan Furnitur Ruangan
    Berkat karakterisitiknya yang kokoh dan halus, kayu cendana bisa kita manfaatkan sebagai bahan baku pembuat mebel. Sebab sangat wangi, kayu ini juga tergolong sebagai furnitur yang mewah.
  3. Penting bagi Ritual Keagamaan
    Seperti yang telah disebutkan, jenis kayu pohon cendana cukup penting bagi masyarakat Hindu dan Buddha. Konon, di Sri Lanka kayu ini digunakan untuk membalsam jenazah putri raja sejak abad ke-9.

Melansir IUCN, status Santalum album L. di Tanah Air diketahui termasuk dalam kategori vulnerable (rentan punah). Hal ini disebabkan oleh eksploitasi kayu secara besar-besaran sejak tahun 1980-an.

Selain itu, menurunnya populasi cendana juga disebabkan oleh kebakaran dan penggembalaan ternak. Upaya pelestarian sendiri masih terus digalakkan dengan cara reboisasi di beberapa daerah.

Referensi:

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-cendana-kayu-wangi-asli-ntt-yang-rentan-punah/feed/ 0
Pergeseran Nilai Adat Dinilai Pengaruhi Populasi Burung Rangkong https://www.greeners.co/berita/pergeseran-nilai-adat-dinilai-pengaruhi-populasi-burung-rangkong/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pergeseran-nilai-adat-dinilai-pengaruhi-populasi-burung-rangkong https://www.greeners.co/berita/pergeseran-nilai-adat-dinilai-pengaruhi-populasi-burung-rangkong/#respond Thu, 25 Jun 2020 06:00:16 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=27656 Oleh masyarakat dayak, burung rangkong dipercaya sebagai simbol keberanian, pelindung, dan jembatan antara roh leluhur dengan masyarakat.]]>

Jakarta (Greeners) – Pergeseran nilai adat di masyarakat dayak, Kalimantan, dinilai turut memengaruhi populasi burung rangkong gading di alam. Bernama ilmiah Rhinoplax vigil, burung enggang ini dipercaya sebagai simbol keberanian, pelindung, dan jembatan antara roh leluhur dengan masyarakat adat. Namun, modernisasi dan globalisasi dianggap menimbulkan pergeseran nilai kesakralan sehingga mengancam keberadaan spesies tersebut.

Yokyok “Yoki” Hadiprakasa, pendiri Lembaga Rangkong Indonesia menyampaikan, pergeseran nilai budaya tersebut dilihat dari penggunaan bulu hingga paruh burung rangkong gading secara leluasa. “Dulu yang memakai ornamen rangkong gading ini tidak sembarang orang, hanya orang tertentu seperti dukun. Tapi karena ada pergeseran pada akhirnya menjadi komersial yang membuat rangkong gading semakin terancam,” ujar Yoki, dalam acara daring “Upaya Konservasi Rangkong Gading di Kapuas Hulu”, Rabu, (24/06/2020).

Baca juga: Menjaga Benteng Terakhir Hutan Indonesia

Ancaman perburuan dan perdagangan burung rangkong juga masih terjadi sampai saat ini. Perburuan umumnya mengincar cula atau balung untuk dijadikan berbagai bentuk hiasan. Investigasi Rangkong Indonesia dan Yayasan Titian mencatat, selama 2013 sekitar 6.000 burung rangkong gading dewasa dibunuh di Kalimantan Barat untuk diambil kepalanya. Selanjutnya pada 2015, sebanyak 2.343 paruh burung telah disita dari perdagangan gelap. Permintaan terbesar diketahui berasal dari China.

Bersama timnya, Yoki juga melakukan survei terhadap 513 orang di 10 desa di Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Riset tersebut untuk mengetahui pengetahuan dan persepsi masyarakat mengenai burung rangkong gading.

Hasil survei mencatat bahwa 52 persen responden pernah berburu rangkong. Pelaku perburuan didominasi oleh penduduk setempat dengan persentase 57 persen. Sedangkan 25 persen di antaranya dilakukan oleh orang luar atau pendatang, 11 persen pelaku adalah individu dari kampung tetangga, dan 7 persen sisanya tidak diketahui.

Paruh Burung Rangkong Gading

Paruh Burung Rangkong Gading yang kerap diperjualbelikan. Foto: shutterstock.com

“Maraknya perdagangan dan perburuan diawali oleh pedagang kelontong keliling yang datang ke kampung untuk menanyakan rangkong gading,” ujarnya.

Menurut Yoki, nilai-nilai adat semestinya menjadi pembangkit untuk menjaga relasi antara manusia dan alam agar tetap seimbang. Apalagi paradigma hutan adat, kata dia, secara nasional sudah menjadi agenda di segala kebijakan nasional maupun internasional.

Ancaman Karhutla Bagi Rangkong Gading

Selain minimnya upaya konservasi dan maraknya perburuan, burung rangkong gading juga sangat terancam oleh hilangnya hutan sebagai habitat utama. Kebakaran hutan dan lahan yang sering melanda tempat tinggal para satwa juga harus menjadi perhatian pemerintah maupun lembaga konservasi.

Ani Mardiastuti, Guru Besar Bidang Konservasi IPB University menyampaikan kebakaran hutan dan lahan sering kali menimpa pohon-pohon besar yang sudah tua, kering, dan rapuh. Hal tersebut berimbas terhadap sumber pakan makhluk hidup seperti burung rangkong. Padahal menanam dan menghasilkan pohon besar tersebut memerlukan waktu yang sangat lama

Di alam, makanan utama burung rangkong gading sangat spesifik, yakni  berupa buah beringin (Ficus sp.) berukuran besar. Hanya hutan sehat yang dapat menyediakan pakan ini dalam jumlah banyak sepanjang tahun. “Pohon-pohon besar tersebut pasti sering kali ikut terbakar duluan. Akhirnya satwa kehilangan pakan dan mencari sumber di ladang-ladang masyarakat dan ada konflik,” ujarnya.

Baca juga: 29 Kawasan Pariwisata Konservasi Siap Dibuka

Di akhir 2015, International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) menaikkan status burung rangkong gading dari hampir terancam (near threatened) menjadi terancam punah (critically endangered) atau satu tahap menuju kepunahan. Sementara Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) mencatat burung ini dalam daftar Appendiks I atau terancam dari segala bentuk perdagangan.

Dari total 32 jenis burung enggang di Asia, hampir setengahnya berada di Indonesia dan tiga jenis di antaranya bersifat endemis. Untuk itu, Indonesia menjadi negara terpenting dalam perlindungan populasi rangkong di Asia.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/pergeseran-nilai-adat-dinilai-pengaruhi-populasi-burung-rangkong/feed/ 0
Katak Tanpa Paru-paru yang Hanya Ada di Kalimantan https://www.greeners.co/flora-fauna/katak-tanpa-paru-paru-yang-hanya-ada-di-kalimantan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=katak-tanpa-paru-paru-yang-hanya-ada-di-kalimantan https://www.greeners.co/flora-fauna/katak-tanpa-paru-paru-yang-hanya-ada-di-kalimantan/#respond Mon, 09 Mar 2020 04:26:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=26384 Barbourula kalimantanensis adalah satu-satunya jenis katak yang tidak memiliki paru-paru dan hanya dapat ditemukan di pulau Kalimantan.  ]]>

Katak memiliki nilai penting bagi ekosistem karena habitatnya yang spesifik. Namun, populasi katak memiliki ancaman yang lebih besar dibandingkan jenis satwa lain. Hewan ini juga dinilai sebagai indikator lingkungan yang baik atau barometer kesehatan lingkungan.

Barbourula kalimantanensis adalah satu-satunya jenis katak yang tidak memiliki paru-paru. Untuk bernapas, ia menggunakan kulitnya sebagai alat pernapasan. Spesies ini disebut juga katak kepala pipih Kalimantan dan hanya dapat ditemukan di pulau borneo.

Penemuan katak jenis ini tercatat hanya ada di tiga lokasi di Kalimantan, yaitu di Pinoh, Sungai Kelawit di Daerah Aliran Sungai Melawi, dan Sungai Tengkalap di DAS Belantikan. Saat ini keberadaan Barbourula kalimantanensis sulit ditemukan karena banyak terjadi perubahan alam yang mengganggu habitat katak tersebut.

Baca juga: Katak Pohon Coklat

Habitat Barbourula kalimantanensis berada pada kisaran suhu dingin, yaitu 14-17 derajat celcius di sungai beraliran deras. Lebih khususnya, ia dapat ditemukan pada hutan hujan primer. Katak ini diduga tidak memerlukan paru-paru karena beradaptasi di lingkungan dengan kandungan oksigen yang tinggi pada aliran sungai deras (Bickford, 2007).

Sebagai spesies tanpa paru-paru, katak ini membutuhkan tingkat oksigen bebas yang lebih tinggi dan hanya tersedia di aliran yang dangkal, jernih, dingin maupun mengalir cepat. Barbourula kalimantanensis tidak ditemukan di antara batu-batu dengan sampah dedaunan dan kayu mati. Sebab untuk menghindari kandungan oksigen yang lebih sedikit akibat bahan-bahan organik yang membusuk.

Katak Kepala Pipih Klimantan-2

Katak Kepala Pipih Kalimantan. Foto: www.iucnredlist.org

Umumnya, katak ini memiliki panjang 66 mm untuk jantan dan 77,7 mm untuk betina. Bagian tubuhnya terdiri dari kepala yang lebar, sangat rata, moncong bundar, dan kekar. Pada lengan dan kaki diselimuti selaput pada bagian telapak yang berfungsi untuk mendayung saat berada di perairan.

Katak ini pertama kali ditemukan pada tahun 1978 di perairan sungai Kapuas, Kalimantan Barat oleh Djoko Tjahjono Iskandar seorang peneliti kodok. Sebagai penemu, Djoko berhak untuk memuat nama dirinya pada spesies temuannya. Pada kesempatan tersebut, Djoko memberi nama ‘Iskandar’ pada jenis katak yang berhasil ia temukan.

Baca juga: Katak Serasah Hidung Panjang

Sayangnya, pada tahun 2017 lalu,  International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan bahwa Barbourula kalimantanensis berada pada status terancam punah. Meskipun berada pada status tersebut, masih ada peluang bagi spesies ini untuk tetap ada. Populasinya dapat dipertahankan jika dikelola dengan baik dalam  kawasan lindung.

Katak ini menjadi salah satu yang ikut diburu oleh masyarakat untuk dikonsumsi. Perusakan lingkungan sekitar dan aktivitas berladang maupun penebangan liar di hulu atau di sekitar lokasi juga dapat mengganggu ekistensi katak.

Upaya menjaga sungai tetap bersih dan bebas dari perburuan ikan membuat sungai menjadi ekosistem yang layak bagi Barbourula kalimantanensis. Ikan kecil yang hidup di sungai menjadi sumber makanan bagi katak ini. Untuk menjaga populasinya, dibutuhkan komitmen menjaga kondisi sungai yang bebas dari racun dan tambang emas agar air dapat dikonsumsi. Selain itu sungai yang sehat dapat menjadi habitat yang layak bagi katak berkepala pipih ini maupun satwa lainnya.

Taksonomi Katak

Penulis: Krisda Tiofani

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/katak-tanpa-paru-paru-yang-hanya-ada-di-kalimantan/feed/ 0
Lacoste Mengganti Logo Buaya dengan Spesies yang Terancam Punah https://www.greeners.co/gaya-hidup/lacoste-mengganti-logo-buaya-dengan-spesies-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lacoste-mengganti-logo-buaya-dengan-spesies-terancam-punah https://www.greeners.co/gaya-hidup/lacoste-mengganti-logo-buaya-dengan-spesies-terancam-punah/#respond Wed, 04 Mar 2020 00:30:07 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=26272 Lacoste dan IUCN bekerja sama untuk meningkatkan kesadaran mengenai spesies yang terancam punah dengan membuat koleksi terbatas Save Our Species.]]>

Merek mode asal Perancis Lacoste dan Serikat Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) bekerja sama selama tiga tahun untuk meningkatkan kesadaran mengenai spesies yang terancam punah. Inisiatif pertama ini disebut ‘Save Our Species’ dan merupakan koleksi edisi terbatas Lacoste. Logo buaya yang ikonik digantikan oleh sepuluh logo binatang terancam punah.

Ini pertama kalinya dalam 85 tahun Lacoste memilih untuk mengganti logo bersejarah yang disimpan oleh pendirinya, Rene Lacoste. Untuk koleksinya, logo-logo tersebut memiliki warna dan sulaman yang sama dengan tanda sebelumnya. Lacoste meluncurkan koleksinya pada 22 Mei 2019, bertepatan dengan Hari Internasional untuk Keanekaragaman Hayati.

Baca juga: Babi Berjanggut, Penjelajah Hutan yang Hampir Punah

Kaos polo berwarna putih edisi terbatas ini menampilkan sepuluh hewan yang terancam. Menurut Lacoste, 3.520 kaos polo dibuat dan disebar di seluruh dunia serta dijual di toko-toko seperti di Amerika Serikat, Eropa, Asia, serta secara daring.

 

Lacoste

Lacoste. Foto: global.lacoste.com

Setiap desain diproduksi dalam sesuai dengan jumlah populasi spesies yang tersisa. Kelompok terkecil adalah lumba-lumba California. Mereka terancam punah karena penangkapan yang berlebihan. Sementara, 350 simbol lain yang dibuat mewakili Harimau Sumatera. Hewan ini terancam punah karena faktor utama seperti perburuan dan penggundulan hutan.

Spesies lainnya yang terdapat pada kaos polo Lacoste termasuk kura-kura Burma, maki musang utara, badak Jawa, owa jambul hitam timur, kakapo, condor California, saola, dan iguana Anegada.

Baca juga: Kekah Natuna, Primata Endemik Pulau Natuna yang Terancam Punah

Setiap koleksi kaos polo Save Our Species dijual dengan harga sekitar 185 dolar Amerika Serikat. Masing-masing dari 10 logo desain polo akan dijual ke berbagai toko di seluruh dunia. Total koleksi sekitar 1.775 habis terjual. Karena antusiasme publik yang tinggi, semua kemeha langka ini sudah terjual habis.

Keuntungan dari setiap penjualan disumbangkan untuk organisasi konservasi IUCN khususnya program Save Our Species (SOS). IUCN adalah organisasi yang sangat besar dan berdiri sejak lama. Mereka merayakan ulang tahun ke-70 pada 2018. Serikat ini merupakan kombinasi dari lembaga pemerintah maupun masyarakat sipil dengan 1.300 anggota organisasi.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/lacoste-mengganti-logo-buaya-dengan-spesies-terancam-punah/feed/ 0
Pertambahan Spesies Burung Berbanding Lurus dengan Ancaman Kepunahan https://www.greeners.co/berita/pertambahan-spesies-burung-berbanding-lurus-dengan-ancaman-kepunahan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pertambahan-spesies-burung-berbanding-lurus-dengan-ancaman-kepunahan https://www.greeners.co/berita/pertambahan-spesies-burung-berbanding-lurus-dengan-ancaman-kepunahan/#respond Wed, 19 Feb 2020 04:49:26 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=26187 IUCN menyebut terjadi peningkatan risiko kepunahan pada delapan spesies burung dengan kategori keterancaman lebih tinggi (up listed).]]>

Jakarta (Greeners) – Hingga awal 2020, terdapat 21 spesies burung barung di Indonesia. Jumlahnya sampai saat ini mencapai 1.794 spesies. Namun, Serikat Internasional untuk Pelestarian Alam (IUCN) menyebut terjadi peningkatan risiko kepunahan pada delapan spesies burung Indonesia. Dalam Daftar Merah Spesies yang Terancam Punah 2019, kategori keterancaman tersebut termasuk lebih tinggi (up listed).

Burung Indonesia mencatat 21 spesies baru terdiri dari tujuh spesies burung yang baru dideskripsikan (newly described species). Jenis tersebut termasuk Myzomela alor (Myzomela prawiradilagae) dan cabai kacamata (Dicaeum dayakorum). Sementara, lima spesies burung lainnya yang termasuk baru bagi sains, yaitu kipasan peleng, ceret taliabu, myzomela taliabu, cikrak peleng, dan cikrak taliabu. Tiga spesies berasal dari Pulau Peleng, Sulawesi Tengah dan dua lainnya dari Pulau Taliabu, Maluku Utara).

Penambahan jumlah spesies secara signifikan terjadi akibat perkembangan ilmu pengetahuan ornitologi dan taksonomi. Atas dasar perbedaan tersebut, beberapa subspesies kemudian diakui sebagai jenis yang berbeda dan menjadi spesies tersendiri. Secara spesifik split species terdiri dari tiga spesies burung uncal atau merpati, tiga spesies nuri, satu spesies merbah atau cucak, tiga spesies sikatan, dan empat spesies burung kacamata.

Baca juga: Burung Migran Dalam Ancaman Polusi Sampah Plastik

Achmad Ridha Junaid, Staf Riset dan Komunikasi Burung Indonesia mengatakan empat spesies tersendiri diketahui masih merupakan subspesies yang telah dikenal sebelumnya. “Sebagai contoh sikatan tanajampea (Cyornis djampeanus) yang sebelumnya dikenal sebagai spesies endemis di Pulau Tanajampea, ternyata masih memiliki kemiripan dengan sikatan sulawesi (Cyornis omissus). Sehingga sikatan tanajampea dikelompokkan sebagai subspesies sikatan Sulawesi,” ujar Ridha pada Greeners, Selasa, (18/02/2020).

Penemuan spesies baru juga diikuti dengan penambahan jumlah spesies yang semakin terancam punah. Kedelapan spesies burung yang mengalami peningkatan status keterancaman di antaranya kerak kerbau (Acridotheres cinereus), empuloh janggut (Alophoixus bres), cica-daun jawa (Chloropsis cochinchinensis), cica-daun dahi-emas (Chloropsis media), cica-daun besar (Chloropsis sonnerati), nuri telinga-biru (Eos semilarvata), gosong tanimbar (Megapodius tenimberensis), dan kacamata jawa (Zosterops flavus).

“Peningkatan status keterancaman bagi spesies tersebut tentu menjadi tantangan baru bagi upaya pelestarian burung di Indonesia. Sebab penurunan populasi dan ancaman masih berkaitan dengan perburuan tak berkelanjutan yang diikuti hilangnya habitat akibat degradasi dan alih fungsi lahan,” ucap Ridha.

Cucak Rawa

Cucak Rawa (Pycnonotus zeylanicus). Foto: Burung Indonesia.

Ia menuturkan ancaman kepunahan disebabkan karena masih terdapat permintaan untuk memelihara burung. Penjualan burung yang dilindungi atau ilegal juga masih beragam dan makin banyak persebarannya. Tingginya biaya penangkaran burung dan administrasi legal, kata Ridha, mengakibatkan burung yang dijual di pasar belum tentu hasil dari penangkaran. Melainkan berasal dari alam yang jumlah lebih banyak.

Ridha menyebut anggapan bahwa burung harus dikandangkan dan dipelihara merupakan pemahaman yang keliru. Penafsiran yang menilai bahwa memelihara burung di kandang berarti turut membantu pelestarian spesies burung juga kurang tepat.

Ia mengatakan jika penangkapan burung langsung dari alam tidak berubah dan penegakan hokum terhadap pelaku tidak tegas, akan semakin banyak spesies yang terancam punah. Bahkan jenis burung yang terancam sekarang akan punah di tahun berikutnya.

Baca juga: Perubahan Iklim Pengaruhi Ketersediaan Pakan dan Populasi Burung

“Burung yang paling berdampak dari kegiatan pemeliharaan itu adalah burung-burung pekicau, biasanya dari Ordo Passeriformes. Paling sering kita temui seperti burung cucak-cucakan, cica daun, kucica hutan (kacer), anis-anisan, dll,” ujarnya.

Ketua Umum Pelestari Burung Indonesia (PBI), Bagya Rahmadi juga menilai sebagian besar tren pemeliharaan burung berjenis burung kicau. Ia mengimbau pemerintah agar segera membuat peraturan dan tata tertib tentang lomba burung.  “Sejak akhir 2018-2019 kita sudah bahas aturan tersebut dengan BKSDA, tapi belum dikeluarkan juga. Karena dengan adanya aturan itu lomba-lomba burung ilegal bisa tersingkirkan secara otomatis,” ujar Bagya.

Menurut Bagya, PBI hanya menerima burung yang dilombakan dari hasil penangkaran (breeding) dan tidak menganggu habitat di alam bebas. Untuk mengantisipasi kepunahan burung di alam, ia mengajak para penangkar bergabung dengan PBI.“Saat ini kami hanya menerima 6 jenis burung untuk diperlombakan, yakni cucak rawa, anis kembang, murai batu, branjangan, kacer, jalak suren,” kata Bagya.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/pertambahan-spesies-burung-berbanding-lurus-dengan-ancaman-kepunahan/feed/ 0
Celepuk Rinjani Burung Hantu Endemik Pulau Lombok https://www.greeners.co/flora-fauna/celepuk-rinjani-burung-hantu-endemik-pulau-lombok/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=celepuk-rinjani-burung-hantu-endemik-pulau-lombok https://www.greeners.co/flora-fauna/celepuk-rinjani-burung-hantu-endemik-pulau-lombok/#respond Sun, 26 Jan 2020 10:30:22 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=25563 Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat memiliki jenis burung endemik salah satunya burung hantu Celepuk Rinjani (Otus jolandae).]]>

Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat terkenal sebagai destinasi wisata dengan lanskap alam pantai hingga gunung. Lombok juga memiliki jenis burung endemik, salah satunya burung hantu Celepuk Rinjani (Otus jolandae).

Sampai saat ini burung hantu dari genus Otus mewakili 51 spesies yang diakui. Celepuk Rinjani ditemukan oleh George Sangster. Ia melakukan analisis komparasi morfologi burung hantu dengan spesimen di Indonesia yang sudah teridentifikasi.

Baca juga: Myzomela irianawidodoae Burung Penyerbuk dari Pulau Rote

Penemuannya dituliskan dalam jurnal ilmiah berjudul “A New Owl Species of The Genus Otus (Aves: Strigidae) from Lombok, Indonesia” tahun 2013. Sangster membandingkan rekaman suara burung hantu yang berasal dari Jawa, Sulawesi, kepulauan Maluku, dan kepulaun Sunda. Ia berasumsi, burung hantu tersebut kemungkinan memiliki kekerabatan karena wilayah kepulauan yang berdekatan.

Celepuk Rinjani mendiami habitat hutan di sekitar kaki gunung Rinjani. Tepatnya pada ketinggian sekitar 25 hingga 1.350 meter di atas permukaan laut (mdpl) di area seluas 413 km2 (Sangster et al, 2013). Namun, burung ini juga terlihat di wilayah hutan-hutan sekunder yang mengalami degradasi di sekitar wilayah Senggigi, Sapit, dan Sesaot.

Celepuk Rinjani

Celepuk Rinjani (Otusjolandae) burung hantu endemik khas Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Foto: wikipedia.com

Dalam jurnal tersebut tertulis bahwa Otus jolandae memiliki kemiripan dengan Otus albiventris yang merupakan burung endemik di sekitar Pulau Sumbawa dan kepulaun Nusa Tenggara Timur. Namun, terdapat beberapa perbedaan pada bagian atas tubuh. Pada Otus jolandae tampak jelas motif garis-garis kecokelatan yang lebih tipis dengan mahkota lebih gelap. Sedangkan Otus albiventris berwarna abu dingin dan bulu pada bagian perutnya tampak lebih gelap dengan bercak kecokelatan.

Secara ekologi, burung hantu memiliki peran penting dalam rantai makanan sebagai predator. Mereka menempati taraf tropik III atau organisme dari golongan karnivora (konsumen sekunder). Celepuk Rinjani juga menjadi burung pemburu yang mengamati mangsa pada tempat lebih tinggi

Baca juga: Burung Weris, Burung Cantik Khas Minahasa

Berdasarkan Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) 2016, Celepuk Rinjani termasuk kategori Near Threatened. Meski jenis tersebut baru ditemukan beberapa tahun lalu, mereka sudah masuk ke dalam status hampir terancam. Salah satu faktor ancaman utama berasal dari degradasi hutan yang berimbas ke populasinya.

Kerusakan habitat dapat menurunkan keanekaragamn jenis burung bahkan menyebabkan kepunahan. Celepuk Rinjani yang ditemukan di Taman Wisata Alam Kerandangan, Desa Senggigi, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat berada di hutan primer dan sekunder yang berbatasan dengan daerah terbuka seperti, kebun kelapa, padang rumput, dan pepohonan.

Taksonomi Celepuk Rinjani

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/celepuk-rinjani-burung-hantu-endemik-pulau-lombok/feed/ 0
Bilou, Owa Terkecil Di Dunia Yang Terancam Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/bilou-owa-terkecil-di-dunia-yang-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bilou-owa-terkecil-di-dunia-yang-terancam-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/bilou-owa-terkecil-di-dunia-yang-terancam-punah/#respond Thu, 25 Jul 2019 02:57:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=23859 International Congress For Conservation Biology (ICCB) 2019, yang berlangsung di Kuala Lumpur, membahas terkait upaya penyelamatan dan konservasi keanekaragaman hayati secara global. Dalam salah satu sesi Oral Presentation (21/7/2019) terdapat […]]]>

International Congress For Conservation Biology (ICCB) 2019, yang berlangsung di Kuala Lumpur, membahas terkait upaya penyelamatan dan konservasi keanekaragaman hayati secara global. Dalam salah satu sesi Oral Presentation (21/7/2019) terdapat pembahasan mengenai Bilou, primata endemik di Taman Nasional Siberut, Mentawai.

Berdasarkan informasi kajian ilmiah, terdapat empat primata endemik di Mentawai yang dilindungi antara lain: 1) primata berhidung pesek atau Simakobu (Simias concolor) dengan dua jenis subspesies S. c. concolor dan S. c. siberu; 2) Lutung atau Joja (Presbytis potenziani) dengan dua subspesies P. p. potenziani dan P. p. siberu; 3) Beruk Mentawai atau Bokkoi (Macaca pagensis) dengan dua subspesies M. p. pagensis dan M. p. siberu; dan 4) Kloss Gibbon atau Bilou (Hylobates klossii).

Dalam sesi tersebut, Biswajit Guha, Kepala Kelompok Ilmu Hayati Taman Safari Indonesia, menyampaikan presentasi dengan judul “Field Conservation Research On Endemic Primates in Siberut National Park on Mentawai Islands, West Sumatra, Indonesia”.

Biswajit menjelaskan bahwa masih terdapat ancaman terhadap primate-primata endemik Mentawai. Ia menerangkan bahwa ancaman datang dari aktivitas manusia dan perburuan liar, salah satunya di area hutan Bojakan.

Kloss Gibbon menjadi salah satu dari primata endemik Mentawai yang populasinya terancam (endangered) berdasarkan daftar merah IUCN. Ia dikenal dengan beberapa penamaan lokal seperti Bilou, Owa Mentawai, dan Siamang Kerdil ini merupakan owa terkecil di dunia.

Secara sebarannya, Bilou tersebar hampir dibeberapa negara kawasan Asia Tenggara, antara lain Brunei, Kamboja, Tiongkok, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, dan Thailand. Tidak seperti primata mentawai lainnya, ia sangat tergantung kepada pohon untuk bertahan hidup. Primata ini jarang untuk turun ke tanah.

Foto : gibbons.de

Secara morfologi, primata ini memiliki lengan yang panjang, dan berambut hitam. Memiliki kantung tenggorokan yang terletak di bawah dagu yang berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan panggilan apabila ada binatang lain yang masuk ke dalam wilayah teritorial mereka.

Seperti semua spesies owa, Bilou hidup berpasangan. Berat tubuh betina lebih berat dibandingkan jantan. Jantan dewasa beratnya sekitar 5,6 kg, dan untuk betina sekitar 5,9 kg. Mereka mengonsumsi utamanya buah-buahan, namun terkadang juga mereka mengonsumsi makanan yang berbeda, seperti telur burung, serangga dan vertebrata kecil.

Sebagai informasi, Kepulauan Mentawai memiliki kekayaan spesies flora maupun fauna endemik yang tinggi. Telah tercatat lebih dari 65% dari mamalia dan 15% spesies fauna di Pulau Siberut adalah endemik atau tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia (CII, 2002; Wilting dkk, 2012; Sargis dkk, 2014).

Keanekaragaman dan keendemikan flora dan fauna di Kepulauan Mentawai, menyebabkan kepulauan tersebut tepatnya di Pulau Siberut dijadikan sebagai cagar biosfer oleh UNESCO.

Pada tahun 1993, berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 407/Kpts-II/1993 didirikanlah Taman Nasional Siberut yang tujuannya untuk melindungi hutan di Mentawai khususnya satwa endemik yang mulai langka termasuk primata endemik di dalamnya.

Penulis : Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bilou-owa-terkecil-di-dunia-yang-terancam-punah/feed/ 0
71.820 Orangutan Masih Tersisa di Pulau Sumatera dan Kalimantan https://www.greeners.co/berita/71-820-orangutan-masih-tersisa-pulau-sumatera-dan-kalimantan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=71-820-orangutan-masih-tersisa-pulau-sumatera-dan-kalimantan https://www.greeners.co/berita/71-820-orangutan-masih-tersisa-pulau-sumatera-dan-kalimantan/#respond Thu, 24 Aug 2017 05:53:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=18354 Saat ini diperkirakan terdapat 71.820 individu orangutan yang tersisa di Pulau Sumatera dan Borneo (Kalimatan, Sabah dan Serawak) di habitat seluas 17.460.600 hektar. ]]>

Jakarta (Greeners) – Berdasarkan hasiI analisis kelangsungan hidup populasi dan habitat (Population and Habitat Viability Analysis/PHVA) Orangutan 2016, saat ini diperkirakan terdapat 71.820 individu orangutan yang tersisa di Pulau Sumatera dan Borneo (Kalimatan, Sabah dan Serawak) di habitat seluas 17.460.600 hektar. Populasi tersebut tersebar ke dalam 52 meta populasi dan hanya 38% di antaranya diprediksi akan lestari (viable) dalam 100 sampai 500 tahun ke depan.

Ketua Tim Penyusun PHVA yang juga peneliti Forum Orangutan Indonesia (Forina), Suci Utami Atmoko menjelaskan sejak dikaji pada PHVA 2004 yang Ialu, kajian populasi dan distribusi orangutan Sumatera (Pongo abelii) semakin berkembang dan dilakukan lebih rinci. Dari yang semula diprediksi terdapat 6.667 individu dan tersebar di habitat seluas 703.100 hektar dengan batasan ketinggian di bawah 800 m dpl, maka saat ini populasinya diperkirakan terdapat 14.470 individu di habitat seluas 2.155.692 hektar.

BACA JUGA: Upaya Konservasi Orangutan Masih Terus Dilakukan

Saat ini orangutan Sumatera dapat ditemukan di habitat sampai dengan ketinggian 1.500 m dpl serta tersebar di 10 meta populasi dan hanya dua populasi di antaranya yang diprediksi akan lestari dalam waktu 100-500 tahun kedepan. Itupun adalah lokasi pelepasliaran di Jantho Aceh Tenggara dan Bukit Tigapuluh di Jambi.

“Namun demikian, fakta tersebut sama sekali tidak mengindikasikan terjadinya peningkatan populasi. Sebab, apabila dilihat dari kepadatan populasi, justru berkurang dari 0.95 individu/Km menjadi 0.67 individu/Km persegi,” katanya kepada Greeners, Jakarta, Selasa (22/08).

orangutan

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Status konservasi orangutan berubah

Hasil analisis PHVA yang dilakukan oleh lintas organisasi seperti Forina, Orangutan Foundation-United Kingdom, International Union for Conservation of Nature (IUCN) SSC Primate Specialist Group, IUCN SSC Conservation Breeding Specialist Group dan didukung oleh Iembaga-lembaga dan para praktisi-pemerhati konservasi orangutan ini juga memuat hasil penelitian PHVA Orangutan Kalimantan (Borneo).

Walaupun sama-sama mengalami perkembangan wilayah cakupan kajian yang lebih Iuas dan rinci, namun tidak demikian dalam hal estimasi populasi. Saat ini orangutan borneo (Pongo pygmaeus) diperkirakan terdapat 57.350 individu di habitat seluas 16.013.600 hektar yang tersebar di 42 kantong popuIasi. Sebanyak 18 di antaranya diprediksi akan lestari dalam waktu 100-500 tahun ke depan.

Kondisi tersebut memperbaharui fakta 10 tahun yang Ialu yang menyebutkan bahwa populasinya diprediksi terdapat 54.817 individu pada habitat seluas 8.195.000 hektar yang dilakukan di area kajian yang terbatas. Jika membandingkan kepadatan populasi, maka terjadi kecenderungan penurunan individu dari 0.45-0.76 individu/Km menjadi 0.13-0.47 individu/Km persegi.

BACA JUGA: Kebakaran Hutan Ubah Pola Perilaku Orangutan Tuanan

Selain itu, terdapat juga populasi orangutan borneo yang hidup di satu bentang alam yang menghubungkan habitatnya di wilayah Indonesia dan Malaysia, yaitu populasi dari sub-jenis Pongo pygmaeus di meta populasi Taman Nasional Betung Kerihun dan Batang Ai-Lanjak Entimau, Taman Nasional Klingkang Range-Sintang Utara serta Taman Nasional Bungoh dan Hutan Lindung Penrisen. Untuk itu, perlu adanya kerjasama konservasi orangutan dan habitatnya antara Indonesia dan Malaysia untuk melindungi populasi dan habitat yang saling terhubung.

“Walaupun populasi orangutan Kalimantan menurun namun penurunan ini tidak terjadi dengan sangat cepat yang bisa merubah status konservasi orangutan Kalimantan pada daftar merah IUCN. Setidaknya terdapat 43% dari meta populasinya yang memiliki tingkat viabilitas yang baik. Jika dibandingkan Orangutan Sumatera yang hanya 20%.

Sehingga penurunan status konservasi Orangutan Kalimantan yang dilakukan oleh ahli primata IUCN pada tahun 2016 yang menurnkan status Orangutan Kalimantan dari status spesies terancam punah (endangered) menjadi kritis (critical endangered) tidak sesuai dengan fakta saat ini,” ujar Steering Committee PHVA Jito Sugardjito.

Nantinya, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wiratno berharap bahwa hasil dari PHVA Orangutan 2016 ini, dalam waktu dekat akan dijadikan acuan utama dalam pembuatan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan (SRAK) 2017-2027 menggantikan SRAK 2007-2017 yang akan berakhir Desember tahun ini. “Dengan data yang lebih baik dan lengkap ini diharapkan dalam perencanaan SRAK berikutnya akan dapat menghasilkan suatu strategi yang nyata, terukur dan dapat diimplementasikan,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/71-820-orangutan-masih-tersisa-pulau-sumatera-dan-kalimantan/feed/ 0
Tujuh Orangutan Hasil Repatriasi Akan Direhabilitasi di Pulau Asalnya https://www.greeners.co/berita/tujuh-orangutan-hasil-repatriasi-akan-direhabilitasi-di-pulau-asalnya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tujuh-orangutan-hasil-repatriasi-akan-direhabilitasi-di-pulau-asalnya https://www.greeners.co/berita/tujuh-orangutan-hasil-repatriasi-akan-direhabilitasi-di-pulau-asalnya/#respond Wed, 10 Feb 2016 06:04:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12795 Orangutan yang berhasil dipulangkan kembali (repatriasi) akhirnya akan direhabilitasi ke pulau-pulau asal mereka di Sumatera dan Kalimantan.]]>

Jakarta (Greeners) – Orangutan yang berhasil dipulangkan kembali (repatriasi) akhirnya akan direhabilitasi ke pulau-pulau asal mereka di Sumatera dan Kalimantan. Orangutan tersebut dua ekor direpatriasi dari Kuwait, empat dari Thailand dan satu hasil sitaan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Berdasarkan tes DNA yang dilakukan, satu orangutan betina bernama Puspa yang direpatriasi dari Kuwait telah dinyatakan memiliki DNA orangutan Sumatera (Pongo abelii), sementara hasil tes DNA keenam orangutan lainnya berasal dari Kalimantan Tengah (Pongo pygmaeus wurmbii).

Direktur Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Tachrir Fathoni, mengatakan, pemilihan orangutan sebagai hewan yang menjalani proses rehabilitasi sebelum akhirnya nanti dilepasliarkan ini didasarkan pada kesepakatan tim ahli yang dibentuk oleh KLHK berdasarkan tes DNA, usia, perilaku serta hasil pemeriksaan kesehatan.

“Itu juga hanya orangutan-orangutan yang masih menunjukkan harapan untuk menjalani proses rehabilitasi yang kemudian akan dilepasliarkan. Orangutan ini akan direhabilitasi di pusat-pusat pengenalan kembali (reintroduksi) orangutan yang ada di Sumatera dan Kalimantan,” katanya di Jakarta, Selasa (09/02).

Puspa akan diserahterimakan kepada Program Konservasi Orangutan Sumatera atau Sumatran Orangutan Conservation Program (SOCP) yang berpusat di dekat kota Medan, Sumatera Utara. Sementara enam orangutan lainnya bernama Moza, Junior, serta dua pasang orangutan ibu dan anak yang dikembalikan dari Thailand akan dibawa ke Pusat Reintroduksi Orangutan Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah.

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Direktur Jendral Penegakan Hukum Lingkungan KLHK Rasio Ridho Sani mengatakan bahwa orangutan merupakan satwa terancam punah prioritas yang menjadi target KLHK untuk ditingkatkan populasinya sebesar 10 persen selama lima tahun ke depan. Orangutan sendiri diketahui adalah spesies payung yang berperan penting dalam regenerasi hutan dan menjadi satwa kebanggaan Indonesia.

Saat ini, katanya, diperkirakan hanya ada sekitar 6.600 orangutan yang tersisa di Sumatera dan sekitar 54.500 di Kalimantan. Oleh karena itu, orangutan Sumatera terdaftar sebagai Critically Endangered atau sangat terancam punah dan terdaftar sebagai salah satu primata yang paling terancam punah tahun 2014-2016 berdasarkan Worlds Top 25 Most Endangered Primates, oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Sedangkan orangutan Kalimantan dikategorikan oleh IUCN sebagai Endangered atau terancam punah di dalam daftar merah spesies terancam lainnya.

“Tahun 2015 kemarin, ada sekitar 190 kasus Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) ilegal yang kita tangani. Untuk mengatasi perdagangan internasional, kita akan bekerjasama dengan Interpol dan negara-negara Asean untuk mengatasi kejahatan luar biasa ini,” tandas pria yang akrab disapa Roy ini.

Sebagai informasi, tujuh orangutan yang akan direhabilitasi tersebut merupakan bagian dari 17 orangutan yang berhasil diselamatkan dari perdagangan ilegal sejak tahun 2015. Sementraa itu, 14 orangutan hasil repatriasi dari Thailand yang pada tanggal 13 November 2015 lalu telah mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, baru tujuh yang siap dilepasliarkan.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/tujuh-orangutan-hasil-repatriasi-akan-direhabilitasi-di-pulau-asalnya/feed/ 0
Pecuk-Ular Asia, Si Leher Panjang yang Mampu Menyelam https://www.greeners.co/flora-fauna/pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam https://www.greeners.co/flora-fauna/pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam/#respond Mon, 25 Jan 2016 09:44:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=12638 Pecuk-ular Asia (Anhinga melanogaster) memiliki leher yang panjang serupa ular. Burung yang masuk dalam kategori hampir terancam punah ini mampu menyelam dalam waktu lama untuk mencari ikan.]]>

Pecuk-ular Asia (Anhinga melanogaster) atau oriental darter atau snakebird merupakan salah satu jenis burung air yang mudah dikenali. Dinamakan Pecuk-ular Asia karena memiliki leher yang panjang dan ramping menyerupai ular.

Pecuk-ular Asia memiliki kepala dan leher berwarna coklat, terdapat strip berwarna putih pada bagian dagu sampai leher. Bagian tubuh, sayap dan ekor berwarna hitam, bagian paruh runcing berwarna kuning kecoklatan. Pada bagian kakinya terdapat selaput dan berwarna hitam.

Pecuk-ular Asia mampu menyelam dan tinggal dibawah air dalam waktu yang lama serta mampu mereduksi daya apung sehingga hanya bagian kepalanya yang terlihat pada saat berenang dan mencari makan.

Pecuk-ular Asia dapat dijumpai di hutan mangrove, danau, sungai besar, daerah tambak, rawa dan muara. Pecuk-ular Asia menghabiskan waktu yang lama untuk mengeringkan bulu di tempat ia bertengger. Burung ini berkumpul dalam kelompok kecil (2-5 individu) maupun dalam kelompok besar di atas pohon tinggi yang gundul.

Burung yang lehernya menyerupai ular ini tersebar luas di India, Asia Tenggara, Sulawesi, Sumbawa, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Di Jakarta, tercatat satwa ini berkembang biak di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Kepulauan Seribu pada Bulan Desember – Juni. Mencari makan di pesisir Jakarta seperti di Suaka Margasatwa Muara Angke dan Hutan Lindung Angke Kapuk.

Berdasarkan IUCN ((International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) Pecuk-ular Asia masuk dalam kategori hampir terancam (near threatened). Hal ini dikarenakan semakin menyempit dan menurunnya kualitas habitat burung air ini akibat alih fungsi lahan. Selain itu, perburuan untuk jenis burung ini juga cukup tinggi.

Pecuk-ular Asia termasuk dalam burung yang dilindungi oleh Undang-Undang Republik Indonesia, yaitu UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Terdapat hukuman bagi yang melanggar peraturan tersebut yaitu tindak pidana penjara selama 5 tahun dan denda sebesar Rp 100.000.000,- (Seratus Juta Rupiah).

Pengamatan burung air ini biasanya dilakukan setiap bulan Januari di seluruh belahan dunia. Di Jakarta, pengamatan burung air ini biasa dilakukan di daerah pesisir Jakarta seperti Suaka Margasatwa Muara Angke dan Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara. Cukup banyak burung air yang teramati di kawasan tersebut, salah satunya burung Pecuk-ular Asia. Kehadiran Pecuk-ular Asia di suatu kawasan mengindikasikan bahwa kualitas perairan pada kawasan tersebut masih terbilang baik.

Mari bersama-sama menjaga dan melestarikan lingkungan agar seluruh keanekaragaman hayati didalamnya tetap lestari.

Fauna_Pecuk_Ular_Asia_Si_Leher_Panjang_yang_Mampu_Menyelam_02

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam/feed/ 0
Rafflesia Arnoldii, Bunga Terbesar di Dunia Asal Sumatera https://www.greeners.co/flora-fauna/rafflesia-arnoldii-bunga-terbesar-di-dunia-asal-sumatera/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rafflesia-arnoldii-bunga-terbesar-di-dunia-asal-sumatera https://www.greeners.co/flora-fauna/rafflesia-arnoldii-bunga-terbesar-di-dunia-asal-sumatera/#respond Sat, 16 Jan 2016 05:59:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=12507 Padma raksasa (Rafflesia arnoldii) terkenal karena memiliki bunga yang sangat besar, bahkan terbesar di dunia.]]>

Padma raksasa (Rafflesia arnoldii) merupakan tumbuhan parasit obligat yang tumbuh di dalam batang tumbuhan merambat dari genus Tetrastigma. Rafflesia arnoldii terkenal karena memiliki bunga yang sangat besar, bahkan terbesar di dunia.

Rafflesia arnoldii tidak memiliki daun sehingga tidak mampu berfotosintesis. Nutrisi yang dibutuhkan bunga ini diambil dari pohon inangnya. Bunga yang ditetapkan sebagai flora identitas provinsi Bengkulu ini juga tidak memiliki batang maupun akar sehingga yang tampak hanyalah bunganya saja yang berkembang dalam kurun waktu tertentu.

Penamaan Rafflesia arnoldii tidak terlepas oleh sejarah penemuannya pertama kali pada tahun 1818 di hutan tropis Sumatera. Seorang pemandu yang bekerja pada Dr. Joseph Arnold yang menemukan bunga raksasa ini pertama kali. Dr. Joseph Arnold sendiri saat itu tengah mengikuti ekspedisi yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles sehingga penamaan bunga Rafflesia arnoldii atas dasar dari gabungan nama Thomas Stamford Raffles sebagai pemimpin ekspedisi dan Dr. Joseph Arnold sebagai penemu bunga raksasa berbau busuk tersebut.

Rafflesia arnoldii memiliki bunga yang melebar dengan 5 mahkota bunga. Saat mekar, diameter bunga ini dapat mencapai 70-110 cm dan tingginya mencapai 50 cm dengan berat mencapai 11 kg. Masa pertumbuhan bunga ini memakan waktu sampai 9 bulan, akan tetapi masa mekarnya hanya 5-7 hari. Setelah itu Rafflesia arnoldii akan layu lalu mati.

Di dasar bunga Rafflesia di bagian tengah berbentuk seperti mulut gentong terdapat benang sari atau putik, tergantung jenis kelamin bunga. keberadaan putik dan benang sari yang tidak dalam satu rumah membuat presentase keberhasilan pembuahan dibantu oleh lalat sangat kecil, karena belum tentu dua bunga berbeda kelamin tumbuh dalam waktu bersamaan di tempat yang berdekatan.

Rafflesia arnoldi meskipun berbau busuk, namun bukan termasuk bunga bangkai. Bunga bangkai sendiri adalah Amorphpophallus titanium (Titan Arum). Rafflesia arnoldii merupakan jenis Rafflesia terbesar, bahkan memegang rekor sebagai bunga terbesar di dunia yang tumbuh endemik di Sumatera, Indonesia.

Rafflesia arnoldii dapat dijumpai di beberapa lokasi, antara lain di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Seblat di Kabupaten Bengkulu Utara, dan Padang Guci Kabupaten Kaur. TNBBS sendiri telah ditetapkan sebagai pusat konservasi bunga raksasa ini.

Rafflesia arnoldii memang tanaman langka, sulit ditemukan, dan endemik. Namun ternyata berbagai lembaga konservasi Internasional tidak memasukkannya sebagai salah satu tumbuhan langka yang terancam punah. IUCN Redlist pun tidak memasukkan Rafflesia arnoldii dalam status terancam.

Meskipun demikian, kebakaran hutan, laju deforestasi, dan semakin menurunnya luas hutan Sumatera menjadi ancaman serius bagi kelestarian bunga raksasa ini. Terlebih dengan sikap kurang bertanggung jawab dari sebagian masyarakat yang merusak dan mengambil bunga ini.

Mari bersama-sama menjaga kecantikan alam yang langka ini agar anak cucu mendatang tidak hanya kenal hanya sebatas nama saja namun dapat menikmati keindahannya langsung di alam.

Flora_Rafflesia_Arnoldii_Bunga_Terbesar_di_Dunia_Asal_Sumatera_02

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/rafflesia-arnoldii-bunga-terbesar-di-dunia-asal-sumatera/feed/ 0
Owa Jawa, Si Primata Setia yang Terancam Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/owa-jawa-si-primata-setia-yang-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=owa-jawa-si-primata-setia-yang-terancam-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/owa-jawa-si-primata-setia-yang-terancam-punah/#respond Sat, 24 Oct 2015 02:00:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=11617 Owa jawa atau Javan gibbon (Hylobates moloch) merupakan salah satu jenis primata endemik yang terdapat di pulau Jawa dengan wilayah penyebarannya meliputi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Berdasarkan kategori International […]]]>

Owa jawa atau Javan gibbon (Hylobates moloch) merupakan salah satu jenis primata endemik yang terdapat di pulau Jawa dengan wilayah penyebarannya meliputi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Berdasarkan kategori International Union for the Conservation of Nature dan Natural Resources (IUCN) tahun 2000, owa jawa masuk ke dalam kategori satwa yang terancam punah dengan kategori kritis (critically endangered), artinya menghadapi resiko kepunahan sangat tinggi di alam. Hal ini terjadi karena populasi owa jawa di alam mengalami tekanan akibat degradasi habitatnya, perburuan dan penangkapan untuk diperjualbelikan serta dipelihara.

Owa jawa memiliki tubuh yang ditutupi rambut berwarna kecoklatan sampai keperakan atau kelabu. Bagian atas kepalanya berwarna hitam. Bagian muka seluruhnya juga berwarna hitam dengan alis berwarna abu-abu yang menyerupai warna keseluruhan tubuh.

Berdasarkan peraturan Republik Indonesia, owa jawa termasuk satwa yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Bagi oknum yang melanggar akan mendapatkan hukuman tindak pidana 5 tahun penjara dan denda sebesar Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah).

Habitat alami owa jawa berupa hutan lebat dengan pohon-pohon yang memiliki biji-bijian, owa jawa juga termasuk jenis primata arboreal, yaitu primata yang lebih banyak beraktivitas di atas pohon. Owa jawa hidup monogami sehingga populasinya juga sangat kecil yaitu dalam setiap kelompok maksimal hanya terdiri dari enam individu. Hal ini dikarenakan jika salah satu pasangan owa jawa baik individu jantan atau betina mati, mereka tidak akan mencari pasangan lagi. Itulah sebabnya owa jawa mendapatkan julukan si primata yang setia.

Saat ini habitat owa jawa tengah terancam oleh penebangan dan perambahan liar yang disebabkan oleh kurang maksimalnya penegakan hukum dan perlindungan bagi owa jawa di habitatnya. Salah satu upaya konservasi yang ditempuh dapat berupa restorasi ekosistem habitat owa jawa, pendidikan dan penyadaran konservasi, serta pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Semoga lebih banyak pihak yang mau terlibat dan menyuarakan akan pentingnya pelestarian habitat owa jawa ini.

Owa-Jawa

Penulis : Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/owa-jawa-si-primata-setia-yang-terancam-punah/feed/ 0
Merpati Mindanao, Burung yang Pemalu https://www.greeners.co/flora-fauna/merpati-mindanao-burung-yang-pemalu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=merpati-mindanao-burung-yang-pemalu https://www.greeners.co/flora-fauna/merpati-mindanao-burung-yang-pemalu/#respond Thu, 10 Sep 2015 10:18:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=11079 Merpati mindanao atau mindanao bleeding-heart (Gallicolumba crinigera) adalah salah satu spesies endemik dari Pulau Mindanao di selatan Kepulauan Filipina. Merpati dari genus Gallicolumba ini merupakan salah satu yang terunik di […]]]>

Merpati mindanao atau mindanao bleeding-heart (Gallicolumba crinigera) adalah salah satu spesies endemik dari Pulau Mindanao di selatan Kepulauan Filipina. Merpati dari genus Gallicolumba ini merupakan salah satu yang terunik di antara 11 spesies ‘bleeding-heart’ lainnya. Pasalnya, di area dada satwa ini terdapat bentuk dan warna merah darah yang bervariasi.

Warna utama pada burung ini adalah cokelat gelap dengan warna kehijauan dan perak di area kepala dan leher. Untuk membedakan burung jantan dengan betina, dapat dilihat dari iris matanya. Iris mata merpati mindanao dewasa berwarna biru keunguan, sedangkan merpati muda berwarna cokelat kemerahan.

Nama ilmiah merpati mindanao sendiri merupakan “petunjuk” akan perilaku dari burung ini, yaitu ‘galli’ yang berarti perilaku ayam dan ‘columba’ yang berarti perilaku merpati. Hal ini karena merpati mindanao menghabiskan banyak waktunya di tanah untuk mencari makanan dan beraktivitas seperti ayam. Hewan ini hanya berada di pohon untuk bertengger atau untuk membuat sarang.

Merpati mindanao adalah burung yang sangat pemalu. Kecenderungan untuk menyembunyikan diri secepat mungkin membuatnya jarang ditemui. Saat terancam, merpati ini lebih memilih berjalan dengan cepat daripada terbang seperti burung pada umumnya.

Belum banyak informasi mengenai cara pengembangbiakan spesies ini, tetapi diperkirakan terjadi selama musim hujan tiba, antara Maret dan Juni. Di alam liar, sarang telur burung ini berada di pepohonan semacam bambu.

Habitat merpati mindanao hanya dapat ditemukan di hutan primer dan hutan sekunder dataran rendah di bawah 750 mdpl di Filipina, dimana tiga subspesies dari merpati mindanao tersebar di enam pulau di sekitar Mindanao. Gallicolumba crinigera leytensis yang berada di pulau Samar, Leyte, dan Bohol. Gallicolumba crinigera criniger yang dapat ditemukan di pulau Dinagat dan Mindanao, dan Gallicolumba crinigera bartletti di pulau Basilan.

Merpati mindanao diklasifikasikan oleh lembaga konservasi satwa internasional IUCN dalam status Vulnerable atau rentan yang dirilis pada tahun 2007. Hal ini akibat perburuan liar untuk menjadikan burung mindanao burung hias peliharaan serta perambahan hutan.

Langkah konservasi untuk menyelamatkan satwa ini dari ancaman kepunahan, salah satunya adalah konservasi hutan di beberapa wilayah yang dilindungi pemerintah Filipina seperti di Taman Nasional King Sikatuna, Bohol. Selain itu, pemerintah setempat membuat undang-undang untuk membatasi perburuan merpati mindanao di alam liar.

Selain itu, program perlindungan merpati mindanao juga dijalankan di Bristol, Inggris sejak 1998 dengan membuat tempat berkembang biak. Program ini bertujuan untuk memberikan perawatan dan perlindungan dengan teknik yang sama seperti di habitat aslinya.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/merpati-mindanao-burung-yang-pemalu/feed/ 0
Indonesia Tuan Rumah Kolokium Internasional Hukum Lingkungan https://www.greeners.co/aksi/indonesia-tuan-rumah-kolokium-internasional-hukum-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-tuan-rumah-kolokium-internasional-hukum-lingkungan https://www.greeners.co/aksi/indonesia-tuan-rumah-kolokium-internasional-hukum-lingkungan/#respond Thu, 10 Sep 2015 08:45:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11076 Jakarta (Greeners) – Indonesia dipilih menjadi tuan rumah dalam kolokium tahunan berskala internasional untuk konservasi alam dengan tema “Keanekaragaman Hayati Hutan dan Laut” pada 7-12 September 2015. Kolokium tahunan ini […]]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia dipilih menjadi tuan rumah dalam kolokium tahunan berskala internasional untuk konservasi alam dengan tema “Keanekaragaman Hayati Hutan dan Laut” pada 7-12 September 2015. Kolokium tahunan ini merupakan acara rutin yang diadakan oleh International Union for Corservation of Nature Academy of Environment Law (IUCNAEL), yaitu satu badan pengkaji hukum lingkungan yang bernaung pada Badan Internasional Konservasi Alam atau IUCN.

Pihak yang mewakili IUCN, Jamie Benedickson menyatakan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman hayati hutan dan laut yang sangat beragam. Oleh karena itu, dipilihnya Indonesia sebagai tuan rumah sangat cocok dengan tema kolokium tahun ini.

Benedickson menyatakan bahwa dengan keterlibatan 50 negara, ia yakin akan ada banyak ide baru tentang pengembangan penting yang berkelanjutan dalam hukum lingkungan. “Konservasi hutan dan laut yang dilakukan Indonesia dapat menjadi model bagi negara-negara yang lain,” kata Jamie, yang juga menjadi pengajar di Universitas Ottowa ini.

Acara ini sendiri bertempat di Universitas Indonesia Katolik Atmajaya Jakarta. Dekan Fakultas Hukum Unika Atmajaya, Yanti Frastikawati, mengaku kaget sekaligus bangga ketika mengetahui kampusnya dipilih menjadi tuan rumah kolokium ini. Ia berharap bahwa kolokium ini akan memberikan sumbangsih besar bagi dunia ilmiah Indonesia, khususnya mengenai hukum lingkungan.

“Saya harap mahasiswa dan para dosen dapat mengambil banyak pelajaran pada kolokium ini,” ujarnya.

Yanti juga menyatakan bahwa pemerintah harus lebih serius dalam menanggapi isu-isu lingkungan. “Negara harus fokus pada isu keanekaragaman hayati hutan dan laut karena pentingnya hal tersebut bagi kehidupan di bumi,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Atmajaya Jakarta menyatakan keyakinannya bahwa sudah menjadi kewajiban para akademisi untuk menolong lingkungan yang telah sekarat. Oleh karenanya, ia mengharapkan bahwa kolokium ini memberikan arahan dan hasil yang dapat menjadi rujukan para pembuat kebijakan.

“Kami percaya bahwa kita butuh tindakan dan solusi cepat dan segera menerobos untuk mengurus lingkungan kita hari ini,” ujar Rektor Universitas Indonesia Katolik Atmajaya, Lanny Panjaitan.

Kolokium berkesinambungan yang diikuti oleh akademisi hukum lingkungan dari seluruh dunia ini, diharapkan menjadi ajang pertukaran ide dan keahlian dalam membahas beberapa tantangan terbesar mengenai lingkungan. “Hasil dari kolokium ini akan memberikan sumbangsih yang penting bagi penelitian ilmiah dan arah kepada sesama peneliti serta para pembuat kebijakan,” sebut Ketua IUCNAEL, Nilufer Oral, dalam siaran persnya.

Kolokium ke-13 IUCNAEL konsisten pada tiga pilar, yaitu kolokium itu sendiri, workshop penelitian dan workshop pengajaran. Dengan pendengar yang berbeda latar belakang dari seluruh dunia, acara ini diharapkan berkontribusi bagi pengembangan hukum lingkungan.

Penulis: TW

]]>
https://www.greeners.co/aksi/indonesia-tuan-rumah-kolokium-internasional-hukum-lingkungan/feed/ 0
Nyaringnya Suara Paus Biru https://www.greeners.co/flora-fauna/nyaringnya-suara-paus-biru/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nyaringnya-suara-paus-biru https://www.greeners.co/flora-fauna/nyaringnya-suara-paus-biru/#respond Tue, 04 Aug 2015 07:52:12 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=10599 Seperti halnya manusia, hewan juga bisa berkomunikasi. Meski tak dapat berbicara seperti manusia, hewan juga mengeluarkan suara untuk berkomunikasi dengan kawanannya. Begitu pula dengan paus biru. Meskipun hidup di dalam […]]]>

Seperti halnya manusia, hewan juga bisa berkomunikasi. Meski tak dapat berbicara seperti manusia, hewan juga mengeluarkan suara untuk berkomunikasi dengan kawanannya. Begitu pula dengan paus biru. Meskipun hidup di dalam lautan, paus dapat mengeluarkan suara untuk berkomunikasi.

Paus Biru yang memiliki nama latin Balaenoptera musculus ini panjang tubuhnya bisa mencapai 33 meter. Bobot tubuhnya bisa mencapai 181 ton lebih atau hampir menyamai berat mesin ekskavator.

Menurut beberapa sumber, selain dianggap sebagai hewan terbesar dan paling berkuasa di lautan, paus biru juga merupakan hewan yang memiliki suara paling nyaring di bumi. Bahkan, suara dari paus biru konon bisa mencapai 188 desibel. Dengan angka ini, suara seekor paus biru dapat mengalahkan suara deru mesin motor Harley Davidson, bisingnya konser music rock, hingga suara ledakan bom. Itu sebabnya tak heran kalau suara paus biru dapat terdengar hingga ratusan kilometer di bawah laut.

Suara atau panggilan paus biru ini dapat berlangsung antara 10 hingga 30 detik. Terbayang jika paus biru hidup di daratan dan mengeluarkan suara, pasti akan berisik sekali.

Seorang ilmuwan di LGL Limited asal Amerika Serikat, W. John Richardson dalam bukunya berjudul Marine Mammals and Noise menyatakan ada beberapa kemungkinan mengenai suara-suara yang digunakan paus biru ketika berkomunikasi. Richardson memperkirakan suara tersebut diantaranya adalah untuk menjaga jarak antar individu paus, mengenali spesies dan individu paus, serta ungkapan ketika menemukan makanan ataupun mengenali suatu kawasan di sekitarnya.

Pada awal abad ke-20, keberadaan mamalia laut ini masih sangat berlimpah di samudera yang ada di dunia. Sayangnya, meski tidak mudah ditangkap karena kekuatan, kecepatan dalam bergerak dan ukuran tubuhnya, selama lebih dari satu abad terakhir paus yang berwarna dominan biru keabuan ini telah banyak diburu dan dinyatakan hampir punah.

Hingga akhirnya, pada tahun 2008, lembaga konservasi internasional IUCN mengkategorikan paus biru dalam status terancam punah (Endangered) dan dinyatakan sebagai hewan laut yang dilindungi.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/nyaringnya-suara-paus-biru/feed/ 0
Pohon Natal Pulau Chatham, Keindahan yang Rentan https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-natal-pulau-chatham-keindahan-yang-rentan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pohon-natal-pulau-chatham-keindahan-yang-rentan https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-natal-pulau-chatham-keindahan-yang-rentan/#respond Mon, 27 Jul 2015 09:14:44 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=10493 Negara Selandia Baru mungkin dikenal dengan burung kiwi, wol, dan peternakan sapi perahnya. Namun, negara persemakmuran Inggris Raya ini memiliki ragam flora yang juga mengagumkan. Satu diantaranya adalah pohon natal […]]]>

Negara Selandia Baru mungkin dikenal dengan burung kiwi, wol, dan peternakan sapi perahnya. Namun, negara persemakmuran Inggris Raya ini memiliki ragam flora yang juga mengagumkan. Satu diantaranya adalah pohon natal Pulau Chatham (Brachyglottis huntii). Seperti namanya, tumbuhan ini merupakan tumbuhan endemik Pulau Chatham dan Pulau Pitt, Selandia Baru.

Warga setempat, khususnya suku Maori menyebut pohon ini dengan pohon ‘rautini’. Pohon ini merupakan spesies yang termasuk pada suku Senecioneae dari keluarga Asteraceae, memiliki hubungan kekerabatan dengan pohon cemara.

Pohon natal Pulau Chatham memiliki ukuran hingga 6 x 6 meter. Daunnya memanjang berwarna hijau keabu-abuan dengan panjang daun 5-10 sentimeter. Ciri utama dari pohon ini memiliki kulit bergelombang dan menganga seperti keripik dan daun yang padat dibalut dengan bulu halus.

Habitat pohon natal Pulau Chatham berada di kawasan hutan, semak, rawa dan di sepanjang puncak bukit. Pohon ini biasanya tumbuh pada lahan gambut yang lembab.

Dalam habitatnya, pohon natal Pulau Chatham merupakan tanaman oportunistik yang mudah untuk beradaptasi kala terganggu peristiwa alam seperti erosi, kebakaran, dan banjir. Dalam kondisi ideal, spesies ini dapat tumbuh dan akan berbunga dalam waktu satu sampai dua tahun dari biji.

Selama musim panas austral dari bulan November sampai Februari, bunga-bunga kuning yang indah dan harum bermekaran dari tumbuhan ini. Sementara, di akhir musim panas dan musim gugur awal biji pohon natal Pulau Chatham matang.

Menurut laman resmi IUCN yang dirilis tahun 1998, pohon ini terdaftar sebagai flora yang rentan atau vulnerable. Pemerintah Selandia Baru pun memasukan spesies pohon natal Pulau Chatham ke dalam kategori rentan nasional (NZ TCS Nationally Vulnerable) pada tahun 2012 lalu.

Berbagai faktor diperkirakan telah menyebabkan populasi Pohon Natal Chatham ini menurun. Salah satu ancaman yang utama terhadap kelangsungan hidupnya adalah pembabatan habitat dengan skala besar untuk pembukaan lahan pertanian dan peternakan domestik, seperti domba dan babi.

Selain itu, kematian pohon secara mendadak sering terjadi akibat terindikasi berbagai penyakit seperti verticillium layu dan phytophora. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami kematian pohon secara mendadak sebelum langkah-langkah konservasi dapat dilakukan untuk melindungi pohon ikonis dari Pulau Chatham.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-natal-pulau-chatham-keindahan-yang-rentan/feed/ 0