IYMDS 2017 - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/iymds-2017/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 19 Jan 2021 13:07:07 +0000 id hourly 1 Hamish Daud, Patah Hati karena Sampah Plastik https://www.greeners.co/gaya-hidup/hamish-daud-patah-hati-sampah-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hamish-daud-patah-hati-sampah-plastik https://www.greeners.co/gaya-hidup/hamish-daud-patah-hati-sampah-plastik/#respond Thu, 09 Nov 2017 10:16:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=19310 Laut seakan menjadi rumah kedua bagi Hamish Daud. Kedekatannya dengan laut pula lah yang membuat ia menyadari bahwa kondisi laut semakin hari semakin memburuk. Salah satu penyebabnya adalah sampah plastik.]]>

Jakarta (Greeners) – Laut seakan menjadi rumah kedua bagi Hamish Daud. Betapa tidak, pria kelahiran Gosford, Australia ini, tumbuh besar di Bali. Berselancar menjadi salah satu hobi pria yang dikenal sebagai aktor dan presenter ini. Kedekatannya dengan laut pula lah yang membuat ia menyadari bahwa kondisi laut semakin hari semakin memburuk. Salah satu penyebabnya adalah sampah plastik.

Dalam acara presentasi rencana aksi untuk penanganan masalah sampah laut Indonesian Youth Marine Debris Summit (IYMDS) 2017 yang diselenggarakan di Pusat Kebudayaan Amerika beberapa waktu lalu, Hamish turut membagikan pengalamannya tentang kondisi laut. Ia menunjukkan sebuah foto yang diambil sekitar empat tahun lalu di salah satu lokasi penyelaman di Papua. Dalam foto tersebut nampak Hamish berada sangat dekat dengan seekor pari manta di dalam laut yang berair sangat jernih. Namun di foto berikutnya, di lokasi yang sama, nampak air laut sudah bercampur dengan sampah plastik dan sampah lainnya. Foto ke dua itu ia ambil sekitar empat bulan yang lalu.

“Itu cuma satu spot. Banyak sekali tempat-tempat di Indonesia yang sudah menjadi korban dari waste management yang kurang benar,” ujarnya kepada Greeners saat ditemui usai acara.

Sampah plastik juga kerap membuat Hamish patah hati. Saat menceritakan pengalaman ketika memandu sebuah acara petualangan yang tayang di salah satu stasiun televisi swasta, Hamish dan timnya tidak jarang harus menempuh perjalanan jauh dan melelahkan untuk tiba di lokasi tujuan. Namun, di tempat yang bahkan hanya sedikit orang yang mampu mencapai lokasi tersebut, sampah plastik sudah ada di sana.

Traveling dua hari sampai benar-benar capek akhirnya nyampe cuma ketemu sampah. Of course it’s heart breaking. Tapi itu mau salah siapa? Aku lebih memilih untuk terlibat dan memberi contoh dan semoga bisa memberi inspirasi kenapa kita harus segitu sayangnya dengan laut dan bumi kita. Because it’s the best place in the world dan harus kita jaga,” ujarnya tegas.

Menurut Hamish, dalam lima tahun belakangan banyak orang senang bepergian dan melakukan petualangan ke berbagai tempat. Kini, upaya pelestarian atau konservasi dan pendidikan menjadi tren baru. Organisasi yang aktif melakukan upaya konservasi, khususnya bagi ekosistem laut dan spesies terancam punah juga sudah mulai banyak bermunculan.

“Sekarang orang lebih sadar. We’re in a code red, kita butuh bantuan. Dalam artian, kita butuh bantuan untuk alam kita,” katanya.

Tidak ingin berpangku tangan, Hamish mengaku dirinya sedang merintis sebuah gerakan bernama #IndonesianOceanPride. Hamish menginisiasi gerakan ini bersama dengan Shawn Heinrichs, seorang sinematografer peraih penghargaan Emmy; Sarah Lewis dari Indonesian Manta Project; dan peneliti dari Conservation International. Ia juga bekerjasama dengan para peneliti dari universitas di luar negeri dan Misool Foundation.

“Gerakan ini lebih ke (alasan) kenapa kita harus bangga dengan lautan kita, kenapa kita harus jaga laut kita. Makanya saya pengin semua bisa engage ke media sosial untuk berbagi momen-momen spesial. Ini suatu gerakan dimana semua orang bisa terlibat dan mengajak orang lain agar termotivasi untuk menjaga,” ujar suami dari penyanyi Raisa ini.

Ia pun salut dengan antusiasme dan berbagai gerakan yang sudah dirintis oleh kaum muda dalam mencari solusi terhadap permasalahan sampah laut. Hamish berharap upaya-upaya tersebut lebih disebarluaskan.

The freedom of speech now is very different to what it used to be. Semua orang sekarang ada akses ke semua orang melalui media sosial, semua orang bisa terlibat (melakukan hal-hal positif). Saya sendiri tidak ingin masuk di generasi yang merusak semuanya. Saya pengin cucuku bisa melihat apa yang saya pernah saya lihat,” katanya menutup pembicaraan.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/hamish-daud-patah-hati-sampah-plastik/feed/ 0
70 Agents of Change to Face Marine Waste Issues by IYMDS 2017 https://www.greeners.co/english/70-agents-of-change-to-face-marine-waste-issues-by-iymds-2017/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=70-agents-of-change-to-face-marine-waste-issues-by-iymds-2017 https://www.greeners.co/english/70-agents-of-change-to-face-marine-waste-issues-by-iymds-2017/#respond Mon, 30 Oct 2017 13:12:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19147 As much as 70 young people were selected to participate in the Youth Marine Debris Summit (IYMDS) in Ancol, Jakarta, which aim was to tackle marine waste issue.]]>

Jakarta (Greeners) – As much as 70 young people were selected to participate in the Youth Marine Debris Summit (IYMDS) in Ancol, Jakarta, which aim was to tackle marine waste issue.

The event initiated by Divers Clean Action started on October 24 to 29 carried out a theme ‘Comes With Ideas, Home With Actions’ for the agents of change.

Director general of Pollution Control and Environment Damage, MR Karliansyah, said the event would bring positive outcomes in relation to waste issues, especially marine issues.

“Of course, we really appreciate [the initiative], [they are still] young and concerned about waste issues. We really appreciate the spirit for choosing the issue of waste management. I hope these new groups of young friends can come up with ‘waste hunting’ movement, slowly we can finalized [the waste issue]. If young people have stand up, we hope that the goals can be achieved because they have the network, ” said Karliansyah, in Jakarta, on Tuesday (24/10).

He said there were three things can be done to reduce waste. First, chanve the attitude. Second, limit plastic consumption. Lastly, make use of plastic waste.

The plastic waste, he said, can be changed as a mixture for asphalt, energy source and recycle materials as being initiated by Coordinating Minister of Maritime Issues, Luhut Pandjaitan.

“Waste is 80 percent coming from terrestrial. So, as long we can solve waste from the lands, it would reduce them,” he added.

Meanwhile, Agus Dermawan, secretary of Marine Spatial Planning, Ministry of Fisheries and Marine Affairs, said it would be difficult to get rid of current plastic waste.

Based on a research by University of Hasanuddin in 2015, 76 fishes out of 11 fish species in Makassar waters have 0.1-1.6 mm of plastics in their bodies.

“Microplastics have entered the food chain and will harm humans,” said Dermawan.

Swietenia Puspa Lestari, Executive Director of Divers Clean Action (DCA), said that plastic waste was non-degradable and would require all stakeholders cooperation to tackle the issue.

She cited plastic straws which often rejected by collectors as they have no value.

“However, after DCA cooperate with one of the biggest fast food chain to reduce plastic straws, it worked. This year, we will increase it to national level,” she said adding that they have also helped mineral bottle producers by collecting plastic bottles from Seribu Islands and cooperate with a foundation to establish a management site in Harapan Island.

She expected the cleaning would also produce data to be used by government agencies, companies/industries and communities.

IYMDS 2017, held on October 24-29, were attended by experts from government agencies, institutions, academicians, and other organizations with the concerns on marine waste.

The event also invited vloggers and social media influencers as sources on how to optimize social media campaigns.

The selected 70 out 1,600 applicants were expected to become agents of change in their respective areas to fight marine issues. These young agents will be given knowledge, training and funding to implement real action on their regions’ waste system and facilities for a year.

These actions will be monitored by practitioners and presented at Our Ocean Conference on Bali, on October 2018.

Reports by Sarah R. Megumi/Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/english/70-agents-of-change-to-face-marine-waste-issues-by-iymds-2017/feed/ 0
Sampah Laut Menghambat Nawacita https://www.greeners.co/berita/sampah-laut-menghambat-nawacita/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sampah-laut-menghambat-nawacita https://www.greeners.co/berita/sampah-laut-menghambat-nawacita/#respond Thu, 26 Oct 2017 14:22:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19137 Urusan sampah dapat memengaruhi mulai dari sektor kesehatan hingga citra suatu bangsa. Permasalahan sampah ini juga dapat menghambat prioritas nasional dalam Nawacita yang digagas Presiden Joko Widodo.]]>

Jakarta (Greeners) – Hasil penelitian Dr. Jenna Jambeck yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara ke dua terbesar di dunia penghasil sampah laut menjadi perhatian banyak pihak, tidak hanya pemerintah Indonesia melainkan juga seluruh elemen masyarakat. Pasalnya, urusan sampah dapat memengaruhi mulai dari sektor kesehatan hingga citra suatu bangsa.

Dalam acara Indonesian Youth Marine Debris Summit (IYMDS) yang berlangsung di Ancol, Jakarta, Staf Khusus Presiden Republik Indonesia, Diaz Hendropriyono, menyatakan bahwa permasalahan sampah laut dapat menghambat daya saing bangsa. Jika hal ini tidak ditangani dengan baik, dapat menghambat prioritas nasional yang mana Presiden Joko Widodo telah menuangkannya dalam Nawacita.

“Penanganan sampah itu bersifat strategis. Sampah yang tidak dikelola dimana mencapai 64,2 juta ton ini menghambat cita-cita pemerintah seperti yang tertuang dalam nawacita ke lima dan enam. Permasalahan sampah tentunya akan menghambat apa yang sudah di amanatkan presiden bahwa kita sebagai negara Indonesia harus cepat berubah untuk berkompetisi di dunia. Siapa yang tidak cepat berubah maka tentunya akan ketinggalan. Oleh karena itu, manajemen sampah ini harus ditangani dengan serius,” ujar Diaz kepada Greeners saat ditemui pada pelaksanaan IYMDS hari ke dua, Jakarta, Rabu (25/10).

BACA JUGA: Penyelesaian Sampah di Laut Diharapkan Fokus pada Pencegahan

Nawacita ke lima sendiri merupakan upaya meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, sementara nawacita ke enam adalah upaya mengingkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional.

Diaz menambahkan, pengurangan limbah dari hulu, yaitu rumah tangga, akan berpengaruh besar terhadap jumlah sampah di laut karena penanganan limbah rumah tangga yang tidak diolah dengan baik, bukan tidak mungkin akan bermuara ke laut.

Di jumpai dalam acara yang sama, dr. Amaranila Lalita Drijono Sp.KK yang juga founder gerakan ‘Bersih Nyok’ dan ‘Gemass Indonesia’, menyatakan bahwa sumber pangan dan obat dunia paling banyak berasal dari laut. Jika laut tercemar oleh sampah rumah tangga dan limbah pabrik, hal ini akan berdampak serius pada kesehatan manusia.

“Jika ditinjau dari segi fisik kesehatan, maka (sampah) akan mengakibatkan gangguan kesehatan pernafasan, gangguan kesehatan kulit dan lainnya. Sedangkan jika ditinjau dari segi kesehatan jiwa, maka akan mengakibatkan rasa aman bagi warga setempat dan pemulung. Mereka ‘mati rasa’ akan nilai keindahan dan kelembutan karena hidup lama di antara sampah. Lalu jika ditinjau dari kesehatan sosial, maka yang terjadi adalah masyarakat bisa tumpul rasa dan hilang kecerdasan sosialnya,” papar Amaranila.

BACA JUGA: Penanganan Masalah Sampah di Laut Perlu Keterlibatan Pemuda

Berdasarkan data hasil survei komunitas Gemass Indonesia dan Bersih Nyok di Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, pada Mei 2017, adanya sampah di laut mengakibatkan jumlah stok ikan berkurang dan kekurangan gizi terselubung pada masyarakat di Pulau Harapan.

Menurut Amaranila, kekurangan gizi terselubung ini diakibatkan oleh sifat masyarakat Pulau Harapan yang cenderung mulai membeli makanan kemasan atau instan dari Jakarta dengan anggapan bahwa ‘makan itu asal kenyang’. “Paradigma seperti itu tentunya akan memicu kerentanan kesehatan masyarakat setempat. Sehat itu masalah penting,” katanya tegas.

Sebagai informasi, Indonesian Youth Marine Debris Summit (IYMDS) 2017 diikuti oleh 70 pemuda terpilih dari seluruh Nusantara untuk mencari solusi penanganan masalah sampah laut. Pemuda-pemudi ini mendapatkan pengarahan dari narasumber ahli, baik dari pemerintahan, lembaga, akademisi, serta organisasi yang bergerak aktif dalam menangani masalah sampah laut. Acara ini dilangsungkan pada 24-29 Oktober 2017 di Ancol, Jakarta.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/berita/sampah-laut-menghambat-nawacita/feed/ 0
IYMDS 2017 Siapkan 70 Agen Perubahan untuk Hadapi Masalah Sampah Laut https://www.greeners.co/aksi/iymds-2017-siapkan-70-agen-perubahan-hadapi-masalah-sampah-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=iymds-2017-siapkan-70-agen-perubahan-hadapi-masalah-sampah-laut https://www.greeners.co/aksi/iymds-2017-siapkan-70-agen-perubahan-hadapi-masalah-sampah-laut/#respond Wed, 25 Oct 2017 08:01:56 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=19098 Sebanyak 70 pemuda terpilih dari seluruh Nusantara mengikuti pelatihan untuk menangani permasalahan sampah laut dalam acara bertajuk Indonesian Youth Marine Debris Summit (IYMDS) di Ancol, Jakarta.]]>

Jakarta (Greeners) – Sebanyak 70 pemuda terpilih dari seluruh Nusantara mengikuti pelatihan untuk menangani permasalahan sampah laut dalam acara bertajuk Indonesian Youth Marine Debris Summit (IYMDS) di Ancol, Jakarta. Acara yang diinisiasi oleh komunitas Divers Clean Action ini dimulai pada 24 Oktober dan akan berakhir pada 29 Oktober 2017. “Datang dengan Ide, Pulang dengan Aksi” menjadi jargon untuk menyemangati setiap peserta yang diproyeksikan dapat menjadi agen perubahan ini.

Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan M R Karliansyah yang hadir membuka acara tersebut menyatakan bahwa dirinya sangat mendukung kegiatan ini. Ia pun optimis bahwa kegiatan ini akan membuahkan hasil yang positif terkait penanganan isu sampah, khususnya sampah laut.

“Tentu kami sangat mengapresiasi ya, masih muda dan concern akan masalah sampah. Kami sangat apresiasi semangatnya karena memilih upaya penanganan sampah. Saya berharap kumpulan teman-teman ini bisa membuat gerakan “berburu sampah”, pelan-pelan kita selesaikan. Kalau anak muda sudah bergerak, diharapkan tujuan ini bisa diwujudkan karena mereka punya jaringan,” ujarnya kepada Greeners, Jakarta, Selasa (24/10).

Menurut Karliansyah, ada tiga hal yang dapat dilakukan dalam upaya mengurangi sampah. Pertama, mengubah perilaku. Kedua, membatasi konsumsi plastik. Terakhir, memanfaatkan sampah plastik. Pemanfaatan plastik ini, lanjutnya, sudah dicontohkan sebelumnya oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Pandjaitan, dengan penggunaan sampah plastik sebagai campuran aspal, sumber energi, dan untuk bahan baku daur ulang.

“Sampah itu 80 persen dari darat. Jadi, sepanjang kita bisa menyelesaikan sampah di darat, (jumlah sampah) itu sudah jauh berkurang,” ujarnya menambahkan.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Ditjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan, Agus Dermawan, mengaku sulit memusnahkan sampah plastik yang sudah ada. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tahun 2015, salah satunya dari Universitas Hasanudin, dipaparkan bahwa ada 76 ikan dari 11 jenis ikan yang berbeda di perairan Makassar yang diteliti kandungan mikroplastiknya. Ukuran dari mikroplastik sendiri yaitu antara 0.1-1.6 mm. Penelitian ini, lanjutnya, membuktikan bahwa mikroplastik ada dalam tubuh ikan-ikan itu.

“Mikroplastik ini sudah masuk ke dalam rantai makanan yang dikhawatirkan ujungnya membahayakan kehidupan manusia,” ujar Agus.

Pendapat yang serupa diungkapkan oleh Swietenia Puspa Lestari selaku Executive Director Divers Clean Action (DCA). Perempuan yang akrab disapa Tenia ini mengatakan bahwa umumnya sampah plastik adalah material yang paling susah untuk diuraikan. Oleh karena itu, butuh kerjasama dengan berbagai pihak untuk menangani masalah ini.

Ia menyontohkan sedotan plastik. Menurutnya, pengepul tidak ada yang mau menerima sampah sedotan karena tidak punya nilai jual. “Tapi setelah kami (DCA) bekerjasama dengan salah satu fast food chain besar untuk mengurangi sampah sedotan, ini berhasil. Tahun ini akan kami tingkatkan ke skala nasional,” ujarnya. Selain itu, mereka juga melakukan upaya pengurangan sampah plastik dengan membantu salah satu produsen air mineral untuk mengambil sampah botol plastik dari Kepulauan Seribu, dan bekerjasama dengan sebuah yayasan dan sebuah bank untuk membuat tourism management site di Pulau Harapan.

Ia berharap kegiatan bersih sampah juga menghasilkan data yang dapat digunakan oleh banyak pihak, mulai dari pemerintah, perusahaan/industri, dan komunitas.

Sebagai informasi, IYMDS 2017 diselenggarakan pada tanggal 24-29 Oktober 2017. Acara ini mendatangkan narasumber ahli, baik dari instansi pemerintahan, lembaga-lembaga, akademisi, serta organisasi-organisasi yang bergerak secara aktif dalam menangani permasalahan sampah laut. Beberapa vlogger dan social media influencer juga diminta memandu peserta agar memanfaatkan media sosial dengan efektif.

Diharapkan 70 peserta terpilih dari 1.600 pendaftar dari seluruh Indonesia ini dapat menjadi agen perubahan di daerah asalnya dalam memerangi masalah sampah laut. Para peserta ini akan dibekali dengan pengetahuan, pelatihan dan nantinya pendanaan untuk melakukan aksi nyata pada sistem dan fasilitas persampahan di daerah asal mereka selama satu tahun. Aksi tersebut dimonitor oleh praktisi langsung agar capaian tiap aksi dapat dipresentasikan pada Our Ocean Conference di Bali, pada Oktober 2018 mendatang.

Penulis: Sarah R. Megumi/Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/aksi/iymds-2017-siapkan-70-agen-perubahan-hadapi-masalah-sampah-laut/feed/ 0
Penanganan Masalah Sampah di Laut Perlu Keterlibatan Pemuda https://www.greeners.co/berita/penanganan-masalah-sampah-laut-perlu-keterlibatan-pemuda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penanganan-masalah-sampah-laut-perlu-keterlibatan-pemuda https://www.greeners.co/berita/penanganan-masalah-sampah-laut-perlu-keterlibatan-pemuda/#respond Fri, 06 Oct 2017 09:49:21 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=18920 Permasalahan penanganan dan pengelolaan sampah telah menjadi isu bersama. Keterlibatan generasi muda pada isu ini pun dianggap sangat penting guna menyukseskan program pengelolaan sampah di Indonesia.]]>

Jakarta (Greeners) – Permasalahan penanganan dan pengelolaan sampah telah menjadi isu bersama dan tidak bisa diserahkan pada satu institusi saja. Keterlibatan generasi muda pada isu pengelolaan sampah pun dianggap sangat penting guna menyukseskan program pengelolaan sampah di Indonesia. Bagi founder Divers Clean Action (DCA), Swietenia Puspa Lestari, kolaborasi semua pihak termasuk keterlibatan generasi muda adalah hal yang penting karena generasi muda mampu mengaktualisasikan mental bersih untuk tidak lagi membuang sampah ke laut.

Pemuda sebagai agent of change, baik dalam keluarga maupun di masyarakat, serta kemampuan mereka menyebarkan informasi secara viral pula melalui media sosial, diakui Tenia menjadi pilar yang sangat penting dalam menyebarkan pemahaman dan menjadi contoh baik untuk tidak membuang sampah sembarangan yang pada akhirnya sampah tersebut akan berakhir di lautan.

Penyebaran informasi dan perubahan ini penting untuk memberikan contoh nyata terkait solusi agar tidak membuang sampah ke laut dan memanfaatkan sampah menjadi berkah dengan caranya masing-masing. Cara ini diharapkan menjadi solusi yang dapat diduplikasi di pulau-pulau kecil, dimana sistem kebersihan atau persampahan yang baik masih jarang ditemukan.

“Peran generasi muda ini penting untuk bisa menyebarluaskan isu pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir di seluruh kepulauan negeri sebelum seluruh pulau-pulau kecil dan lautan di Indonesia penuh dengan sampah,” tutur perempuan yang juga Ketua Steering Committee Indonesian Youth Marine Debris Summits (IYMDS) kepada Greeners, Jakarta, Jumat (06/10).

BACA JUGA: Penyelesaian Sampah di Laut Diharapkan Fokus pada Pencegahan

Terkait fenomena gerakan terkait masalah sampah laut yang seringkali timbul tenggelam, Tenia, begitu ia akrab disapa, menganggap bahwa hal tersebut bukan hal yang perlu dikhawatirkan mengingat permasalahan sampah di Indonesia baik di darat, di pantai maupun lautan di Indonesia masih sangat sulit untuk diatasi. Ia justru menganggap baik apabila semakin banyak generasi yang melakukan gerakan bagi lingkungan.

“Semua yang kita gunakan itu bisa berakhir di lautan. Makanya kita sudah mulai harus belajar untuk tanggung jawab dengan sampah kita masing-masing di manapun kita berada dan mengurangi produksi sampah itu sendiri,” tambahnya.

Menurut Tenia, setiap gerakan yang mencapai grassroot community di seluruh area di Indonesia seharusnya bisa saja mempublikasikan data hasil bersih-bersih sampah yang dilakukan. Sampah yang dikumpulkan tersebut bisa dikuantifikasikan secara ilmiah dengan menimbang sampah sesuai jenis dan brand mengikuti standar tertentu. Dari data-data ini, jika dilakukan secara konstan dapat membawa perubahan yang signifikan untuk terus mendorong solusi atas sampah yang sering ditemukan di pantai dan pulau kecil dari sumbernya langsung (perusahaan/masyarakat setempat).

“Jadi yang tidak kalah penting adalah aksi setelah bersih-bersih itu sendiri dengan memanfaatkan isu-isu atau data-data. Contohnya, karena di pantai banyak ditemukan sampah sedotan sekali pakai, maka di buat peraturan tidak ada sedotan di pantai atau pulau tersebut secara lokal sedangkan secara nasional bisa saja membuat gerakan-gerakan tanpa sedotan sekali pakai dan menawarkan solusi inovatif sebagai pengganti permasalahan tersebut,” ujar Tenia.

BACA JUGA: LIPI: Tidak Mudah Meneliti Sumber Sampah di Laut

Untuk memastikan keberlanjutan gerakan-gerakan tersebut, ia menyarankan perlu ditekankan pentingnya aspek ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di mana pemuda sebagai inisiator aksi mendapatkan manfaat dari turut membantu mencegah sampah masuk ke laut. Manfaat ini dapat datang dari menjadikan sampah yang sudah ada menjadi nilai ekonomi, membuat solusi bisnis inovatif yang juga mencegah sampah masuk ke lautan, dan memastikan circular economy dan zero waste tetap dilakukan di wilayah-wilayah binaan gerakan tersebut.

“Dari sini pastinya gerakan tersebut akan mampu mendapatkan keuntungan secara langsung dan bisa bersifat mandiri dan berkelanjutan. Diharapkan IYMDS dapat membuat pemuda di Indonesia dapat menduplikasi solusi-solusi ini juga agar solusi untuk masalah ini tidak berhenti dengan aksi bersih-bersih sekali saja,” katanya.

Sarwono Kusumaatmadja, Menteri Negara Lingkungan Hidup pada Kabinet Pembangunan VI periode 1993-1998, mengatakan, saat ini permasalahan penanganan dan pengelolaan sampah telah menjadi isu bersama dan tidak bisa diserahkan pada satu lembaga saja. Menurutnya, keterlibatan generasi muda jauh terlihat lebih serius pada saat-saat ini. Hal ini bisa dilihat dari semakin banyaknya keterlibatan generasi muda dalam mengatasi permasalahan sampah di laut.

“Tentu Indonesian Youth Marine Debris Summit perlu disambut baik karena bisa menjadi pembuka jalan bagi Indonesia meraih posisi di depan dalam mengatasi sampah laut. Saya yakin gerakan ini akan hidup terus karena sudah jadi bagian dari budaya generasi muda,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/penanganan-masalah-sampah-laut-perlu-keterlibatan-pemuda/feed/ 0
Penyelesaian Sampah di Laut Diharapkan Fokus pada Pencegahan https://www.greeners.co/berita/penyelesaian-sampah-laut-diharapkan-fokus-pencegahan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penyelesaian-sampah-laut-diharapkan-fokus-pencegahan https://www.greeners.co/berita/penyelesaian-sampah-laut-diharapkan-fokus-pencegahan/#respond Thu, 05 Oct 2017 07:51:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=18909 Peneliti pada Divisi Pencemaran dari Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Fajri Fadhillah, mengatakan bahwa upaya menyelesaikan permasalahan sampah di laut harus tetap terpusat pada sisi pencegahan.]]>

Jakarta (Greeners) – Telah diketahui oleh semua pihak bahwa lautan Indonesia sedang menghadapi permasalahan yang serius karena menjadi negara terbesar ke-2 di dunia yang berkontribusi pada sampah plastik laut di dunia dengan perkiraan yang mencapai 1,3 juta ton per tahun. Hal ini membuat sampah laut menjadi isu penting karena berdampak pada industri pariwisata, perkapalan, dan perikanan di negara ini.

Hanya saja, permasalahan sampah di laut dianggap tidak akan bisa selesai jika permasalahan sampah di hulu tidak dibenahi. Peneliti pada Divisi Pencemaran dari Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Fajri Fadhillah, mengatakan bahwa upaya menyelesaikan permasalahan sampah di laut harus tetap terpusat pada sisi pencegahan.

“Fokusnya tetap mencegah terjadinya sampah masuk ke laut dari darat, yang mana aturan pengurangan sampah itu sudah ada di Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Persampahan,” ujarnya kepada Greeners, Jakarta, Rabu (04/10).

BACA JUGA: Kemenko Maritim Targetkan Penanganan Sampah Plastik di Lima Destinasi Wisata Prioritas

Menurutnya, upaya pengurangan sampah di hulu masih belum diperhatikan oleh pembuat regulasi. Saat ini, katanya, pemerintah masih fokus kepada penyelesaian masalah sampah di hilir. Padahal, pemerintah bisa saja mendorong masyarakat untuk melakukan pengurangan dan pengelolaan sampah dari sumbernya sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga.

Selain itu, pemerintah masih belum membuat kebijakan dan regulasi terkait jenis-jenis plastik yang harus digunakan oleh industri dan bagaimana cara industri bertanggung jawab terhadap sampah atau residu dari kemasan produknya. “Di sini konsep Extended Produsen Responsibility (EPR) sangat diperlukan. Pemerintah sudah harus mulai membuat kebijakan untuk mempersempit keran sampah dari sumbernya,” tambahnya.

Terkait aturan dan regulasi, Fajri pun berharap agar UU Nomor 18 Tahun 2008 mampu dikaji lebih dalam agar muncul aturan-aturan turunan yang lebih menyentuh sisi teknis dari pengelolaan sampah. “Sekarang kan turunannya itu hanya PP 81 saja. Jadi banyak juga yang tertuang di amanat undang-undang tapi belum ternaungi di dalam aturan turunan,” ujarnya.

BACA JUGA: LIPI: Tidak Mudah Meneliti Sumber Sampah di Laut

Sebagai informasi, karena begitu kompleksnya permasalahan sampah di laut, maka keterlibatan semua pihak merupakan hal yang penting agar regulasi masalah sampah bisa berjalan dengan baik. Untuk itu pada tanggal 24 hingga 29 Oktober 2017 mendatang, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda sekaligus untuk membuktikan dunia bahwa Indonesia tidak diam dalam menghadapi masalah sampah laut, Komunitas Divers Clean Action (DCA) berinisiatif untuk menyelenggarakan Indonesian Youth Marine Debris Summits (IYMDS) di Jakarta.

IYMDS merupakan program pelatihan bagi 70 pemuda terpilih dari seluruh Indonesia. Mereka akan dipertemukan dengan para ahli serta praktisi untuk mencari solusi terkait permasalahan sampah laut agar dapat dipublikasikan di berbagai pesisir, khususnya di pulau-pulau kecil asal daerah peserta. Nantinya mereka akan menyiapkan action plan untuk menghadapi sampah laut yang akan dijalankan selama satu tahun.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/penyelesaian-sampah-laut-diharapkan-fokus-pencegahan/feed/ 0
Perangi Sampah Laut, Indonesian Youth Marine Debris Summits Siap Digelar https://www.greeners.co/aksi/perangi-sampah-laut-indonesian-youth-marine-debris-summits-siap-digelar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perangi-sampah-laut-indonesian-youth-marine-debris-summits-siap-digelar https://www.greeners.co/aksi/perangi-sampah-laut-indonesian-youth-marine-debris-summits-siap-digelar/#respond Fri, 22 Sep 2017 12:51:07 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=18771 Saat ini, lautan Indonesia sedang menghadapi permasalahan yang serius. Indonesia menjadi negara terbesar ke-2 di dunia yang berkontribusi pada sampah plastik laut di dunia dimana sampah di Indonesia mencapai 1,3 juta ton per tahun.]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang dikelilingi oleh lautan luas. Namun saat ini, lautan Indonesia sedang menghadapi permasalahan yang serius. Indonesia menjadi negara terbesar ke-2 di dunia yang berkontribusi pada sampah plastik laut di dunia. Sampah di Indonesia mencapai 1,3 juta ton per tahun. Hal ini membuat sampah laut menjadi isu penting karena berdampak pada industri pariwisata, perkapalan, dan perikanan di negara ini.

Untuk membuktikan dunia bahwa Indonesia tidak diam dalam menghadapi masalah sampah laut, Komunitas Divers Clean Action (DCA) berinisiatif untuk menyelenggarakan Indonesian Youth Marine Debris Summits (IYMDS) pada tanggal 24 – 29 Oktober mendatang di Jakarta. Guna menginformasikan masyarakat mengenai pertemuan tersebut, DCA menyelenggarakan talk show mengenai IYMDS yang digelar di area Baywalk Mall Pluit, Jakarta, Kamis (21/09).

“Sampah laut adalah masalah yang sangat kompleks. Kita harus menggandeng banyak pihak untuk mengatasi permasalahan tersebut. Maka dari itu, pada tanggal 24 hingga 29 Oktober nanti, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, kita akan mengadakan kegiatan Indonesian Youth Marine Debris Summit atau IYMDS. Kita akan mengumpulkan 70 pemuda dari seluruh penjuru pesisir nusantara dan memberikan mereka pelatihan secara mendalam mengenai sampah laut,” tutur founder Divers Clean Action yang juga Ketua Steering Committee IYMDS, Swietenia Puspa Lestari atau akrab disapa Tenia, saat membuka acara talk show tersebut.

Tenia juga menyatakan bahwa kegiatan IYMDS ini dapat menjadi kesempatan emas bagi generasi muda untuk memberikan kontribusi positif terhadap keselamatan laut Indonesia. “Selain untuk menggaungkan dan memberi perubahan yang besar terhadap masalah sampah laut, pertemuan ini adalah momentum yang tepat dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda,” katanya.

Dalam acara talk show tersebut, hadir sebagai pembicara Menteri Eksplorasi Kelautan 1999-2001 dan Menteri Lingkungan Hidup 1993-1998 Ir. Sarwono Kusumaatmadja, Ketua Masyarakat Selam Indonesia Ricky Soerapoetra, Pendiri Greeneration Mohamad Bijaksana Junerosano, dan Ketua Dharma Wanita Persatuan Kemenko Maritim Ara Machmud Saffri.

“Sampah plastik di laut itu berbahaya sekali lho, karena sampah itu biasanya akan dimakan oleh ikan-ikan. Kalau ikan yang makan plastik tersebut kita makan, nanti kita sendiri yang terkena dampaknya. Makanya, masalah sampah laut ini harus benar-benar diselesaikan,” kata Ara.

Lebih lanjut mengenai IYMDS Tenia menjelaskan, pendaftaran untuk menjadi peserta IYMDS sendiri telah ditutup pada tanggal 18 September lalu. Sebanyak 1.600 orang berusia 18 hingga 25 tahun telah mendaftar untuk mengikuti IYMDS, namun hanya 70 orang yang lulus seleksi dan dinyatakan sebagai peserta.

Para peserta ini akan dipertemukan dengan para ahli serta praktisi solusi terkait permasalahan sampah laut agar dapat diduplikasi di berbagai pesisir, khususnya di pulau-pulau kecil asal daerah peserta. Selain itu, peserta juga akan diberikan materi mengenai project management dan social media engagement.

Selama melakukan kegiatan IYMDS 2017, para peserta akan mengikuti berbagai aktifitas seperti workshop, field trip, dan action plan. Seluruh peserta akan dibagi menjadi 14 kelompok yang secara geografis domisilinya berdekatan untuk merancang dan menerapkan action plan. Rencananya, action plan tersebut akan dilakukan selama satu tahun penuh oleh para peserta. Selama satu tahun, mereka akan “berperang” melawan sampah laut.

“Nantinya, setiap kelompok akan didanai untuk melakukan aksi pada sistem dan fasilitas persampahan di daerah pesisir asal mereka. Aksi tersebut akan dimonitor oleh mentor yang membimbing mereka. Kelompok dengan action plan terbaik akan berkesempatan untuk menjadi perwakilan Indonesia di acara Our Ocean Conference di Bali, tahun 2018 mendatang,” pungkasnya.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/aksi/perangi-sampah-laut-indonesian-youth-marine-debris-summits-siap-digelar/feed/ 0
5 Lokasi Diving Favorit di Indonesia https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-lokasi-diving-favorit-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=5-lokasi-diving-favorit-indonesia https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-lokasi-diving-favorit-indonesia/#respond Wed, 20 Sep 2017 05:01:03 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=18728 Lokasi menyelam di Indonesia menawarkan berbagai keistimewaan tersendiri, mulai dari arus laut yang menantang hingga keindahan biota laut yang menakjubkan. Ini lima lokasi diantaranya yang menjadi favorit para penyelam.]]>

Ulasan Wisata (Greeners) – Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Banyak lokasi menyelam (diving) yang bisa ditemukan disini. Lokasi menyelam ini menawarkan berbagai keistimewaan tersendiri, mulai dari arus laut yang menantang hingga keindahan biota laut yang menakjubkan.

Keindahan bawah laut ini juga telah dirasakan oleh para penyelam yang tergabung dalam Divers Clean Action (DCA), organisasi yang aktif melakukan diving sambil membersihkan sampah yang ada di laut. Dari berbagai lokasi penyelaman yang ada di Indonesia, berikut ini ulasan singkat lima lokasi diving di Indonesia yang menjadi favorit mereka:

lokasi diving

Ilustrasi. Foto: wikemedia commons

1. Raja Ampat

Sebagai tempat diving terpopuler di Indonesia, Raja Ampat menjadi surga dunia yang dapat dinikmati dari segala sisi. Raja Ampat dikagumi karena memiliki sistem terumbu karang yang paling beragam dengan ratusan karang dan spesies ikan di satu situs.

Penelitian di tahun 2001 dan 2002 oleh Lembaga Conservation International (CI) yang bekerja sama dengan Lembaga Oseanografi Nasional (LON) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan bahwa Raja Ampat memiliki hampir 75 persen terumbu karang yang ada di seluruh dunia. Pada musim tertentu, hewan laut raksasa seperti pari manta (manta ray) dan hiu paus (whale shark) juga dapat dijumpai di Raja Ampat.

(Selanjutnya..)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-lokasi-diving-favorit-indonesia/feed/ 0
LIPI: It is Difficult to Determine Origin of Waste in the Oceans https://www.greeners.co/english/lipi-it-is-difficult-to-determine-origin-of-waste-in-the-oceans/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lipi-it-is-difficult-to-determine-origin-of-waste-in-the-oceans https://www.greeners.co/english/lipi-it-is-difficult-to-determine-origin-of-waste-in-the-oceans/#respond Sat, 16 Sep 2017 13:15:23 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=18623 Zainal Arifin, an ocean researcher of Oceanography Research Center, Indonesian Institute for Sciences, said that it would not be easy to study the current which had brought the waste to the country.]]>

Jakarta (Greeners) – In a recent publication in Science journal, Dr. Jenna Jambeck of University of Georgia, listed Indonesian as the top five contributor of ocean waste, with China as number one, and the Philippines, Vietnam, and Srilanka following as third, fourth and fifth, respectively.

Their data included the state’s economic growth, waste volumes in average, waste management, and population within 50 kilometers radius of coastal areas. However, the origins of those wastes have yet to be determined.

Zainal Arifin, an ocean researcher of Oceanography Research Center, Indonesian Institute for Sciences, said that it would not be easy to study the current which had brought the waste to the country.

READ ALSO: Minister Luhut: Marine Waste and Illegal Fishing, Major Marine Issue in Indonesia

However, based on information and current phenomena, waste plastic brought by sea currents heavily depending on the season. In Indonesia, Arifin said, dominant current is Indonesian Throughflow (arlindo) flows from West Pacific Ocean to Indian Ocean. The current is strong, especially 100 meters deep. Based on arlindo, he suggested wastes from Pacific Ocean were brought by the flow to Indian Ocean.

“From Indonesian Throughflow, those wastes in Pacific Ocean could be brought to Indian Ocean,” he said to Greeners.co, in Jakarta on Wednesday (16/8).

Furthermore, he said that those wastes coming to Indonesia could also from other neighboring countries, especially from traditional boats or ships from Southeast Asia or East Asia nations which have disregarded regulations from International Maritime Organization (IMO).

“Those traditional boats are not only from Indonesia, but also from other countries. Those ships threw their wastes in the seas,” he said. “The wastes could also come from East Asia when the wind moves through Pacific Ocean. This is only hypothetically, it is not easy to determine the origin of the wastes, unless they have it written in the packing.”

READ ALSO: Indonesia and Denmark Cooperate To Tackle Waste and Water Issues

On ocean plastic waste, ocean researchers of LIPI through Widya Nusantara Expedition have conducted several studies on microplastic or degradable plastic with smallest size, less than 5mm, in the last two years.

Research collected samples of sediment between May 7-18, 2015 during the 2015 Expedition, which was a part of Indonesian researchers’ contribution for the 2nd International Indian Ocean Expedition, on 66.8 to 2,182 meters below sea level.

Microplastic analysis of the sediment was done through flotation method. Researchers discovered microplastic in eight out of ten sampling locations, with 41 particles of microplastic with beads (35 particles) and fiber (6 particles).

Most of the microplastic particles found in the depth less than 500 meters with 20 particles.

The discovery of microplastic with sediment from western part of Sumatran sea on the 2,000 meters deep, revealed that plastic which was considered as new developed material (as early as 19th century), had invaded oceans territory, including intact areas.

“This justifies the statement that plastic waste had spread out to other oceans and seas, including remote areas and most parts of unknown seas. Besides consume by fishes, microplastic most often is covered or tied with other toxic substance, such as oil spill waste,” he said.

Report by Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/english/lipi-it-is-difficult-to-determine-origin-of-waste-in-the-oceans/feed/ 0
Kemenko Maritim Targetkan Penanganan Sampah Plastik di Lima Destinasi Wisata Prioritas https://www.greeners.co/berita/kemenko-maritim-targetkan-penanganan-sampah-plastik-lima-destinasi-wisata-prioritas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kemenko-maritim-targetkan-penanganan-sampah-plastik-lima-destinasi-wisata-prioritas https://www.greeners.co/berita/kemenko-maritim-targetkan-penanganan-sampah-plastik-lima-destinasi-wisata-prioritas/#respond Thu, 07 Sep 2017 10:56:07 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=18505 Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Maritim) berencana targetkan penanganan sampah plastik laut di lima destinasi wisata pada tahun 2018 mendatang.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Maritim) berencana targetkan penanganan sampah plastik laut di lima destinasi wisata pada tahun 2018. Lima lokasi prioritas tersebut adalah Danau Toba, Tanjung Kelayang, Mandalika, Labuhan Bajo, Borobudur dan Toraja.

Mengutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Manusia, Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Budaya Maritim Kemenko Maritim Safri Burhanuddin mengatakan, peningkatan kesadaran lingkungan melalui pendidikan sekaligus memperbaiki fasilitas pengelolaan sampah di pulau-pulau kecil dan daerah pesisir akan menjadi bagian besar dari upaya pengelolaan ini.

BACA JUGA: Atasi Masalah Sampah, Pemerintah Daerah Diminta Kreatif dan Inovatif

“Kami memiliki target Quick Win untuk memerangi sampah plastik laut di lima destinasi wisata tersebut pada tahun 2018,” terangnya saat memberikan pidato kunci dalam Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) High-Level Meeting on Accelerating Waste Management Solutions to Reduce Marine Litter, di Bali, Rabu (06/09).

Safri menegaskan bahwa ancaman utama keanekaragaman hayati laut dan pesisir saat ini adalah sampah plastik laut dan mikro plastik. Para pakar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menyatakan 83 persen sampah yang mengapung di laut dan pantai adalah sampah plastik. Penanganan masalah sampah ini pun diakuinya harus ditangani secara terintegrasi, baik dari tataran kebijakan hingga pengawasan implementasi kebijakan penanganan sampah plastik, khususnya sampah plastik laut.

BACA JUGA: Menko Maritim Sebut Sampah Laut Indonesia Tertinggi Setelah Cina

Indonesia, lanjutnya, telah mengembangkan Rencana Aksi Nasional untuk memerangi Sampah Plastik Laut yang terdiri dari empat pilar utama, yaitu Pertama, perubahan perilaku; Kedua, mengurangi sampah plastik yang berasal dari daratan; Ketiga, mengurangi sampah plastik di daerah pesisir dan laut; Keempat, penegakan hukum, mekanisme pendanaan, penelitian-pengembangan (inovasi teknologi) dan penguatan institusi.

“Sejalan dengan penyusunan rencana aksi ini, kolaborasi bilateral dan regional juga kerja sama pemerintah dan swasta harus terus digalang untuk mengendalikan sampah plastik laut. Upaya pengendalian mutlak dilakukan melalui pemantauan dan pengumpulan sampah plastik dari laut dengan menggunakan teknologi yang relevan untuk menjamin hasilnya,” kata Safri.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/kemenko-maritim-targetkan-penanganan-sampah-plastik-lima-destinasi-wisata-prioritas/feed/ 0
Divers Clean Action Ajak Penyelam Bebaskan Laut dari Sampah https://www.greeners.co/sosok-komunitas/divers-clean-action-ajak-penyelam-bebaskan-laut-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=divers-clean-action-ajak-penyelam-bebaskan-laut-sampah https://www.greeners.co/sosok-komunitas/divers-clean-action-ajak-penyelam-bebaskan-laut-sampah/#respond Tue, 29 Aug 2017 07:08:40 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=18388 Bila tidak ditangani lebih lanjut, pada tahun 2050 jumlah sampah laut akan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah ikan. Hal ini menjadi pemicu bagi Swietenia Puspa Lestari atau Tenia untuk membentuk gerakan Divers Clean Action.]]>

(Greeners) – Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikelilingi oleh wilayah lautan luas. Namun sayang, luasnya lautan Indonesia tidak diimbangi dengan luasnya kepedulian masyarakat mengenai keberadaan sampah di laut. Miris, Indonesia merupakan negara dengan predikat kedua di dunia sebagai negara penghasil sampah laut terbanyak. Tak hanya mencemari bagian permukaan laut, sampah juga mencemari lautan Indonesia hingga ke bagian dasar. Bila tidak ditangani lebih lanjut, pada tahun 2050 jumlah sampah laut akan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah ikan di laut.

Hal tersebut menjadi pemicu bagi Swietenia Puspa Lestari atau Tenia untuk membentuk gerakan bernama Divers Clean Action. Berawal dari kegemarannya akan diving atau menyelam, Tenia menjadi tahu bahwa kondisi di bawah laut Indonesia ternyata tidak sebersih yang dibayangkan. Ia kemudian rutin untuk mengambil sampah-sampah di laut ketika menyelam bersama rekan-rekannya. Namun lama kelamaan, ia sadar bahwa aksinya tersebut butuh dukungan dari rekan-rekan penyelam lainnya. Maka dari itu, ia membentuk Divers Clean Action.

“Mulai kepikiran untuk mendirikan Divers Clean Action itu sejak bulan November 2015, namun Divers Clean Action sendiri mulai resmi dibentuk pada bulan Februari 2016. Ide awal dibentuknya DCA bermula pada saat saya dan teman-teman saya rutin mengambil sampah laut ketika menyelam. Kami melakukan kegiatan tersebut secara sendiri-sendiri dan atas dasar kesadaran masing-masing saja,” ujar Tenia saat ditemui oleh Greeners di Jakarta, Selasa (15/08) lalu.

divers clean action

Foto: dok. Divers Clean Action

“Lalu lama-kelamaan saya sadar, kalau kita bergerak sendiri saja mungkin tidak akan ada perubahan yang berarti terhadap jumlah sampah di laut. Maka dari itu, saya dan teman penyelam yang lain memutuskan untuk membentuk Divers Clean Action yang berfokus untuk ‘menolong’ pantai dan pulau-pulau kecil di Indonesia, khususnya wilayah yang dijadikan kawasan wisata menyelam, dalam menangani masalah sampah laut,” katanya menambahkan.

Saat ini DCA memiliki anggota inti sebanyak 10 orang yang berasal dari wilayah Jabodetabek dan Bandung, namun jumlah volunteer atau sukarelawan DCA mencapai sekitar 600 orang. Para sukarelawan tersebut terdiri dari para penyelam yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka di-training terlebih dahulu sebelum menyelam untuk membersihkan lautan dari sampah.

Dalam menjalankan aksinya, DCA bekerja sama dengan banyak pihak, diantaranya adalah Asosiasi Usaha Wisata Selam Indonesia (AUWSI), Masyarakat Selam Indonesia (MASI), dan Forum Penyelam Mahasiswa Indonesia (FOPMI).

divers clean action

Foto: dok. Divers Clean Action

Sudah banyak kegiatan yang dilakukan oleh DCA dalam upaya untuk membebaskan lautan dari sampah. Belum lama ini, mereka berhasil mengangkat sebanyak 64 kilogram sampah dari perairan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

“Kami biasanya membersihkan sampah laut dari kedalaman 5 hingga 15 meter. Sampah yang kami temukan saat itu jenisnya beraneka ragam, mulai dari plastik sachet, botol plastik, popok, hingga sepatu dan kulkas. Setelah sampah tersebut kami kumpulkan, sampat tersebut kami pilah berdasarkan jenisnya, lalu kami jemur, setelah itu kami berikan kepada bank sampah dan petugas kebersihan. Kami tidak ingin sampah-sampah tersebut kembali mencemari laut,” ujar Tenia.

Ia menambahkan bahwa dalam waktu dekat DCA akan mengadakan aksi “bersih-bersih laut” di kawasan Ancol, Jakarta. Ia mengatakan bahwa rencananya kegiatan membebaskan laut dari sampah akan dilaksanakan sekitar dua tahun sekali. Dengan adanya Divers Clean Action, Tenia berharap bahwa kepedulian masyarakat, khususnya penyelam, terhadap kebersihan laut semakin meningkat.

Komunitas DCA juga berinisiatif untuk menyelenggarakan Indonesian Youth Marine Debris Summit (IYMDS) pada tanggal 24 – 29 Oktober 2017 di Jakarta. Dalam kegiatan ini, sebanyak 70 calon pemimpin dari berbagai penjuru nusantara berusia antara 18-25 tahun akan dikumpulkan untuk diberikan pemahaman dan pengayaan secara mendalam mengenai sampah laut.

Kegiatan IYMDS 2017 ini merupakan tindak lanjut DCA dari Marine Plastic Debris Summit pada November 2016 di Jakarta dan Rencana Aksi Nasional yang sudah dipresentasikan saat World Ocean Summit pada Februari 2017 di
Bali.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/divers-clean-action-ajak-penyelam-bebaskan-laut-sampah/feed/ 0
LIPI: Tidak Mudah Meneliti Sumber Sampah di Laut https://www.greeners.co/berita/lipi-tidak-mudah-meneliti-sumber-sampah-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lipi-tidak-mudah-meneliti-sumber-sampah-laut https://www.greeners.co/berita/lipi-tidak-mudah-meneliti-sumber-sampah-laut/#respond Tue, 22 Aug 2017 05:07:09 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=18336 Peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Zainal Arifin mengatakan bahwa tidak mudah untuk melakukan penelitian tentang arus laut yang berkontribusi membawa sampah ke Indonesia.]]>

Jakarta (Greeners) – Pada awal tahun 2015, profesor teknik lingkungan dari University of Georgia, Amerika Serikat, Dr. Jenna Jambeck bersama timnya mempublikasikan hasil penelitian di jurnal Science yang menyebutkan bahwa Indonesia masuk dalam daftar 5 teratas negara penyumbang sampah plastik terbesar ke lautan dengan urutan Tiongkok, Indonesia, Filipina, Vietnam dan Srilanka.

Data tersebut diperoleh melalui pemodelan dengan memasukkan faktor skala pembangunan ekonomi negara, jumlah rata-rata sampah yang diproduksi, cara pengolahan sampah, serta jumlah populasi yang bermukim di radius 50 km dari garis pantai. Sedangkan dari mana asal sampah-sampah tersebut masih sulit untuk diketahui. Menurut peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Zainal Arifin mengatakan bahwa tidak mudah untuk melakukan penelitian tentang arus laut yang berkontribusi membawa sampah ke Indonesia.

BACA JUGA: Sampah Plastik dan Illegal Fishing Masalah Paling Besar di Laut Indonesia

Namun, menurut hipotesis yang dihimpun dari informasi dan fenomena yang terjadi, sampah plastik yang masuk melalui arus laut sangat tergantung pada musim. Di Indonesia sendiri, terangnya, arus yang paling dominan adalah arus lintas Indonesia (arlindo) yang bergerak dari Samudera Pasifik Barat ke Samudera Hindia. Arus tersebut cukup kuat terutama pada kedalaman 100 meter ke bawah. Dari arlindo tersebut, ia menduga bisa saja sampah-sampah yang ada di Samudera Pasifik terbawa hingga ke Samudera Hindia.

“Dari arus lintas Indonesia ini bisa saja itu sampah-sampah yang ada di Samudera Pasifik terbawa ke Samudera Hindia,” ujarnya kepada Greeners, Jakarta, Rabu (16/08).

Menurut Zainal, kemungkinan sampah-sampah yang masuk ke Indonesia berasal dari negara-negara tetangga pun bisa dipahami. Apalagi, kalau sampah-sampah tersebut dibuang dari atas perahu atau kapal-kapal yang tidak mengikuti aturan International Maritim Organization (IMO), terutama pada kapal-kapal tradisional yang ada di negara-negara Asia Tenggara atau Asia Timur.

“Kan banyak kapal-kapal tradisional itu bukan hanya ada di Indonesia; beberapa negara ada. Nah kapal-kapal itu kadang membuang sampahnya asal saja di laut. Bisa juga sampahnya dari negara Asia Timur kalau anginnya bergerak lewat Samudera Pasifik. Ini baru hipotesis, kan enggak mudah menentukan ini sampah dari mana, kecuali kalau betul-betul kelihatan sampahnya, ada tulisan bahasa dari negara mana,” tambahnya.

BACA JUGA: 11 Kementerian Susun Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Sampah Plastik di Laut

Terkait sampah plastik di laut ini, melalui Ekspedisi Widya Nusantara (EWIN), peneliti Oseanografi LIPI pun telah melakukan beberapa penelitian tentang mikroplastik atau plastik yang terdegradasi dengan ukuran kecil (<5 mm) di laut dalam dua tahun terakhir. Peneliti mengambil sampel sedimen pada tanggal 07 sampai 18 Mei 2015 di pelayaran EWIN 2015, yang merupakan bagian dari kontribusi peneliti Indonesia untuk program Ekspedisi Samudera Hindia Internasional-2, pada 66,8 sampai 2.182 m di bawah permukaan laut.

Analisis mikroplastik dari sedimen dilakukan dengan metode flotasi. Peneliti menemukan mikroplastik di 8 lokasi dari 10 lokasi sampling, sebanyak 41 partikel mikroplastik dengan bentuk butiran (35 partikel) dan serat (6 partikel). Sebagian besar partikel mikroplastik ditemukan pada kedalaman kurang dari 500 m dengan 20 partikel. Penemuan mikroplastik dalam sedimen dari lautan Sumatera bagian barat pada kedalaman lebih dari 2.000 m, menunjukkan bahwa plastik yang dianggap bahan baru dikembangkan (awal abad ke-19 dibuat), telah menyerang wilayah laut, termasuk daerah yang masih asli.

“Ini menegaskan pernyataan bahwa limbah plastik telah menyebar luas ke berbagai wilayah laut dan samudera, termasuk daerah terpencil dan sebagian besar tidak diketahui seperti laut dalam. Selain termakan oleh ikan, yang bahaya lagi mikroplastik itu kadang-kadang terselimuti atau terikat dengan bahan bahan pencemar lainnya seperti limbah tumpahan minyak,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/lipi-tidak-mudah-meneliti-sumber-sampah-laut/feed/ 0