jajan bebas plastik - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/jajan-bebas-plastik/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 14 Apr 2025 05:19:36 +0000 id hourly 1 Pelajar Jelajahi Pasar dan Belanja Minim Plastik di Pasar Jebres Surakarta https://www.greeners.co/aksi/pelajar-jelajahi-pasar-dan-belanja-minim-plastik-di-pasar-jebres-surakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pelajar-jelajahi-pasar-dan-belanja-minim-plastik-di-pasar-jebres-surakarta https://www.greeners.co/aksi/pelajar-jelajahi-pasar-dan-belanja-minim-plastik-di-pasar-jebres-surakarta/#respond Mon, 14 Apr 2025 05:19:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=46363 Jakarta (Greeners) – Gita Pertiwi menggelar kegiatan bertajuk “Jelajah Pasar dan Belanja Minim Plastik” di Pasar Jebres, Kota Surakarta, pada Jumat (21/3). Kegiatan ini melibatkan para pelajar dan guru dengan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Gita Pertiwi menggelar kegiatan bertajuk “Jelajah Pasar dan Belanja Minim Plastik” di Pasar Jebres, Kota Surakarta, pada Jumat (21/3). Kegiatan ini melibatkan para pelajar dan guru dengan tujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai serta memperkenalkan pangan lokal.

Pasar Jebres terkenal sebagai salah satu pasar tradisional terbesar di Surakarta. Pasar ini menawarkan berbagai kebutuhan sehari-hari, termasuk ragam jajanan dan pangan lokal yang menjadi ciri khas Kota Surakarta dan Jawa Tengah. Mulai dari sayuran segar hasil petani sekitar, buah-buahan musiman, hingga berbagai makanan olahan tradisional tersedia di pasar ini.

Dalam kegiatan tersebut, peserta terbagi menjadi empat kelompok, yakni dua kelompok siswa dan dua kelompok guru. Mereka ditantang untuk menjelajahi pasar dan berbelanja dengan minim plastik.

Hasil pengamatan menunjukkan sebagian besar peserta memilih membeli sayuran dan makanan tradisional seperti tahu, tempe, dan serabi. Pegiat Lingkungan dari Yayasan Gita Pertiwi, Alfian Khamal Mustafa mengatakan temuan ini menunjukkan adanya pemahaman dan internalisasi terhadap nilai-nilai pangan lokal yang perlu terus dijaga dan dilestarikan.

BACA JUGA: Gita Pertiwi dan Petani Sedekahkan Sayur Segar Tanpa Plastik Sekali Pakai

“Namun, masih ada satu kelompok siswa yang membeli kue pukis dalam kemasan plastik dan mika,” ungkap Alfian dalam keterangan tertulisnya.

Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap jajanan berkemasan plastik, masih menjadi tantangan dalam upaya mengurangi sampah plastik di masyarakat.

Di samping itu, Pasar Jebres bersama Gita Pertiwi juga menjalankan program pasar minim sampah. Pengurus Pasar Jebres, Ari Khrisna, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya fokus pada pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, khususnya pada jajanan kuliner. Namun, juga mencakup upaya penyelamatan bahan pangan yang tidak laku, namun masih layak konsumsi.

“Sayur-sayur itu daripada menumpuk kita donasikan kepada panti,” ujar Ari.

Para pelajar berbelanja minim plastik di Pasar Jebres Surakarta. Foto: Gita Pertiwi

Para pelajar berbelanja minim plastik di Pasar Jebres Surakarta. Foto: Gita Pertiwi

Biasakan Anak Kurangi Plastik Sekali Pakai

Setelah kegiatan berbelanja, acara berlanjut dengan sesi diskusi bersama yang melibatkan Gita Pertiwi, para peserta, serta perwakilan dari Pasar Jebres. Diskusi ini menekankan pentingnya membiasakan anak-anak untuk berbelanja sambil mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Ajakan ini mendapat sambutan baik dari para siswa dan guru. Mereka berkomitmen untuk mulai mengimplementasikannya di lingkungan sekolah masing-masing.

Salah satu langkah konkret yang akan mereka lakukan adalah membiasakan pembelian jajanan di kantin dengan menggunakan gelas atau wadah guna ulang. Selain itu, muncul juga inisiatif untuk melakukan sosialisasi mengenai pengurangan sampah plastik di lingkungan sekolah.

BACA JUGA: Gita Pertiwi Dorong Pemanfaatan Sisa Pangan Berlebih di Pasar Jebres

Kegiatan kemudian berlanjut dengan forum Sekolah Ekologis yang membahas rencana program untuk tahun 2025. Masing-masing sekolah yang tergabung telah melakukan diskusi internal antara guru dan siswa. Mereka juga telah menghasilkan berbagai rencana kerja yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing sekolah.

Dengan adanya rencana program Sekolah Ekologis yang lebih terstruktur, Gita Pertiwi berharap akan lahir generasi muda yang lebih peduli terhadap lingkungan. Salah satunya menerapkan gaya hidup minim plastik dalam kehidupan sehari-hari.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/pelajar-jelajahi-pasar-dan-belanja-minim-plastik-di-pasar-jebres-surakarta/feed/ 0
Anak Muda Jabodetabek Eksplorasi Kuliner Jakarta Tanpa Plastik https://www.greeners.co/aksi/anak-muda-jabodetabek-eksplorasi-kuliner-jakarta-tanpa-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=anak-muda-jabodetabek-eksplorasi-kuliner-jakarta-tanpa-plastik https://www.greeners.co/aksi/anak-muda-jabodetabek-eksplorasi-kuliner-jakarta-tanpa-plastik/#respond Tue, 23 Jul 2024 05:28:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=44333 Jakarta (Greeners) – Eksplorasi kuliner Jakarta kini bukan sekadar untuk mengenyangkan perut, melainkan menjadi bagian dari gaya hidup anak muda. Kali ini, dalam memperingati Plastic Free July, Greenpeace Indonesia menantang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Eksplorasi kuliner Jakarta kini bukan sekadar untuk mengenyangkan perut, melainkan menjadi bagian dari gaya hidup anak muda. Kali ini, dalam memperingati Plastic Free July, Greenpeace Indonesia menantang anak muda di Jabodetabek untuk berkuliner tanpa plastik dan rendah emisi dengan transportasi umum di Jakarta.

Challenge “Jajan Bebas Plastik” merupakan bagian dari kegiatan utama Peta Kuliner Jakarta (PKJ) 2024, yang sejalan dengan kampanye plastik Greenpeace Indonesia. Kegiatan ini juga akan menjadi bagian dari acara tahunan ‘Pawai Bebas Plastik’.

Plastics Project Leader Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar mengatakan bahwa berkuliner tidak pernah terlepas dari penggunaan kemasan plastik sekali pakai. Kendati demikian, Greenpeace ingin mengajak konsumen untuk mengurangi kemasan plastik sekali dengan mempraktikkan konsep guna ulang.

“Jadi, kalau bicara soal kuliner pasti membutuhkan kemasan. Apabila dine in atau makan di tempat, juga butuh wadah seperti mangkok piring. Tetapi, yang menjadi permasalahan kalau kita sedang di perjalanan pasti butuh untuk membungkus makanan itu. Nah, yang jadi masalah adalah bungkus yang kita pakai merupakan kemasan sekali pakai seperti plastik dan sebagainya,” ujar Ibar kepada Greeners di Jakarta, Sabtu (20/7).

BACA JUGA: Praktik Guna Ulang Solusi Kurangi Sampah Plastik dan Krisis Iklim

Menyasar generasi muda, Greenpeace juga ingin menghidupkan kembali praktik guna ulang yang kini sudah mulai memudar. Padahal, praktik guna ulang ini sudah masyarakat terapkan sejak lama, seperti kebiasaan membawa rantang dan sebagainya.

“Namun, anak muda masih minim untuk menyadari praktik ini. Kalau misalnya sekarang bawa rantang kemana-mana itu cukup ribet, ya. Maka dari itu, melalui kegiatan ini, Greenpeace juga sekaligus mengenalkan alat-alat guna ulang yang praktis untuk bisa mereka pakai saat berkuliner,” ungkap Ibar.

Sebanyak 20 peserta ikut terlibat pada acara jajan bebas plastik ini. Secara total, peserta dibagi menjadi empat kelompok dengan rute perjalanan berbeda.

Eksplorasi kuliner Jakarta tanpa plastik. Foto: Instagram demibumi.id

Eksplorasi kuliner Jakarta tanpa plastik. Foto: Instagram demibumi.id

Perkuat Kebijakan dan Fasilitas

Kegiatan jajan tanpa plastik menjadi momentum untuk membuktikan kepada semua pihak bahwa praktik guna ulang bisa masyarakat terapkan secara mudah. Praktik ini juga dapat menekan laju sampah plastik sekali pakai.

Namun, lanjut Ibar, praktik guna ulang ini penting mendapatkan dukungan dari pemerintah dan produsen. Kedua pihak tersebut harus menciptkan sesuai perannya masing-masing seperti penguatan kebijakan dan penyediaan fasilitas.

Kebijakan dan fasilitas menjadi landasan yang penting untuk mendorong penerapan guna ulang di kalangan masyarakat. Apabila keduanya telah terbangun, tentu masyarakat akan mudah dan memiliki pilihan untuk melakukan praktik guna ulang. Sehingga, mereka akan terbiasa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadi, konsumen atau masyarakat ini bisa kok untuk menerapkan guna ulang. Tinggal menunggu pemerintah dan produsen saja, apakah mereka mau mendukung gerakan ini? Misalnya dari sisi pemerintah bisa merancang peraturannya. Lalu, produsen bisa ikut membentuk infrastrukturnya,” tambah Ibar.

BACA JUGA: Saatnya Terapkan Green Ramadan dengan Praktik Guna Ulang!

Ibar menjelaskan beberapa contoh fasilitas yang dapat mengubah kebiasaan masyarakat untuk mendukung hidup lebih ramah lingkungan. Ia mencontohkan, saat ini terdapat banyak pilihan transportasi umum sehingga memudahkan masyarakat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Hasilnya, masyarakat dapat dengan mudah menggunakan transportasi umum, yang juga dapat mendorong pengurangan emisi secara signifikan.

Contoh lainnya, supermarket telah melarang penggunaan plastik sekali pakai juga telah mendorong kebiasaan masyarakat untuk menggunakan tas belanja guna ulang. Ketika aturan ini diterapkan, otomatis masyarakat akan memilih membawa tas belanja agar lebih berhemat.

“Dengan adanya peraturan dan fasilitas yang memadai, masyarakat perlahan-lahan akan mengubah kebiasaannya untuk bisa mengurangi sampah plastik sekali pakai,” kata Ibar.

Mudahnya Eksplorasi Kuliner Jakarta Tanpa Plastik

Salah satu peserta kegiatan Jajan Bebas Plastik, Jessica Martha (20) yang akrab disapa Chika mengungkapkan pengalamannya saat mengikuti tantangan berkuliner tanpa plastik. Bagi Chika, eksplorasi kuliner tanpa plastik ini mudah untuk ia lakukan.

“Ternyata pakai wadah guna ulang enggak ribet sama sekali. Enggak khawatir akan bocor juga, karena kalau pakai plastik sekali pakai suka khawatir bocor,” ungkap Chika.

Perempuan asal Tangerang Selatan itu juga kini telah mengurangi sampah plastik sekali pakai dalam kesehariannya hingga 80%. Usai mengikuti tantangan jajanan bebas plastik, ia semakin diingatkan untuk menerapkan kebiasaan jajanan tanpa plastik secara lebih konsisten. 

“Isu plastik sekali pakai ini perlu menjadi perhatian semua pihak. Aku menjadi semakin sadar kalau penggunaan plastik itu menjadi tanggung jawab pribadi kita masing-masing, bukan sepenuhnya kesalahan pedagang yang hanya menyediakan wadah sekali pakai,” tambah Chika.

Chika menambahkan, apabila konsumen membawa wadah sendiri, pedagang pun akan sangat menghargainya. Konsumen sekaligus dapat menginformasikan pedagang atau orang sekitar dengan cara tidak mengintimidasi untuk terlibat mendukung gerakan bebas plastik.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/anak-muda-jabodetabek-eksplorasi-kuliner-jakarta-tanpa-plastik/feed/ 0