jambore sapu gunung 2016 - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/jambore-sapu-gunung-2016/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 23 Aug 2016 07:45:28 +0000 id hourly 1 Jambore Sapu Gunung 2016, Kampanyekan Bebas Sampah di Kawasan Wisata Gunung https://www.greeners.co/aksi/jambore-sapu-gunung-2016-kampanyekan-bebas-sampah-di-kawasan-wisata-gunung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jambore-sapu-gunung-2016-kampanyekan-bebas-sampah-di-kawasan-wisata-gunung https://www.greeners.co/aksi/jambore-sapu-gunung-2016-kampanyekan-bebas-sampah-di-kawasan-wisata-gunung/#respond Sat, 30 Apr 2016 15:24:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=13586 Jambore Sapu Gunung 2016 akhirnya diresmikan hari ini oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang diwakilkan oleh Direktur Jendral Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (B3) Tuti Hendrawati Mintarsih di Desa Ranu Pane, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Lumajang, Jawa Timur.]]>

Lumajang (Greeners) – Jambore Sapu Gunung 2016 akhirnya diresmikan hari ini oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang diwakilkan oleh Direktur Jendral Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (B3) Tuti Hendrawati Mintarsih di Desa Ranu Pane, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Lumajang, Jawa Timur.

Menteri KLHK menyampaikan bahwa permasalahan sampah di kawasan wisata gunung dan Taman Nasional masih menjadi permasalahan yang sulit diatasi. Oleh karena itu, Jambore Sapu Gunung 2016 diharapkan mampu menjadi kampanye untuk menjaga kebersihan di kawasan wisata gunung dan Taman Nasional dari timbunan sampah agar pelestarian alam serta flora dan fauna endemik yang ada di dalamnya tetap terjaga.

“Dalam rangakaian kegiatan Jambore Sapu gunung ini, kami (KLHK) juga bekerjasama dengan komunitas Sapu Gunung dan para mahasiswa pecinta alam telah melakukan perhitungan jumlah timbunan sampah di 15 Taman Nasional dan kawasan wisata gunung di Indonesia. Hasilnya cukup mengejutkan kita semua,” kata Menteri Siti seperti disampaikan oleh Tuti Hendrawati Mintarsih, Desa Ranupani, Lumajang, Sabtu (30/04).

Sampai saat ini, lanjutnya, delapan dari 15 kawasan wisata gunung dan Taman Nasional yang telah disurvei, terdapat sekitar 453 ton sampah dihasilkan oleh sekitar 150.688 pendaki setiap tahunnya atau sekitar tiga kilogram perorang sampah yang mereka hasilkan. Sedangkan, dari 453 ton sampah tersebut, 250 tonnya adalah sampah plastik yang tidak bisa terurai.

Bupati Kabupaten Lumajang As'at Malik (tidak terlihat dalam gambar), Koordinator Sapu Gunung, Syaiful Rochman (ke dua dari kiri) dan Tuti Hendrawati Mintarsih (ketiga dari kiri) bersama perwakilan komunitas Savers sedang melihat kondisi Danau Ranu Pani. Foto: greeners.co

Bupati Kabupaten Lumajang As’at Malik (tidak terlihat dalam gambar), Koordinator Sapu Gunung, Syaiful Rochman (ke dua dari kiri) dan Tuti Hendrawati Mintarsih (ketiga dari kiri) bersama perwakilan komunitas Savers sedang melihat kondisi Danau Ranu Pani. Foto: greeners.co

Koordinator Sapu Gunung, Syaiful Rochman, dalam kesempatan yang sama mengatakan, dalam periode lima tahun ke belakang, lonjakan wisatawan yang mengunjungi kawasan wisata gunung meningkat tajam. Akibatnya, minim edukasi yang didapatkan oleh wisatawan tentang bagaimana menjadi pecinta alam yang semestinya, membuat para wisatawan penikmat gunung atau alam ini seringkali lupa menjaga kebersihan kawasan dan membawa kembali turun sampah-sampahnya.

Gunung Semeru sendiri, terusnya, dipilih sebagai lokasi pilot project pertama karena memang telah memiliki jaringan relawan yang sangat kuat dan masyarakat yang sangat peduli terhadap alamnya. Begitu pun dengan dukungan dari Pemerintah Daerahnya yang memberikan dukungan penuh terhadap aksi bersih sampah di gunung ini.

“Dengan banyak dukungan seperti ini, kami juga tidak ingin program ini hanya berakhir sampai di sini. Rencananya, kami akan memberikan pendampingan konsep pengelolaan sampah di Semeru, edukasi kepada pendaki agar membawa turun lagi sampahnya dan beserta komunitas Savers yang ada di wilayah Gunung Semeru kami mungkin akan mengedukasi warga bersama komunitas hingga akhir tahun 2016,” tambahnya.

As’at Malik, Bupati Kabupaten Lumajang pun mengaku menyambut baik atas dijadikannya Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sebagai pilot project pengelolaan sampah di kawasan wisata gunung dan Taman Nasional ini. Ia bahkan menegaskan bahwa posisi Desa Ranu Pane, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru adalah di Lumajang, bukan di Malang, Probolinggo maupun Pasuruan, oleh sebabnya harus dijaga kebersihan dan kelestariannya.

“Oleh karena itu orang Ranu Pane harus cinta pada lingkungan. Cinta pada Lumajang. Makanya siapapun itu harus membawa sampahnya kembali ketika berada di gunung-gunung dan bukit yang ada di sekitar sini.” jelas As’at.

Selain itu, ia juga menjanjikan akan memperbaiki jalan rusak yang mejadi akses ke Desa Ranu Pane setidaknya pada akhir tahun 2016 mendatang. Rencana tersebut, dikatakannya sebagai bentuk promosi dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

“Tapi kalau jalannya sudah bagus, pengunjung sudah banyak, sampahnya dijaga ya,” tutupnya.

Sebagai informasi, selain peresmian aksi Jambore Sapu Gunung ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) beserta Bupati Lumajang, pejabat daerah setempat serta komunitas dan masyarakat juga melakukan peresmian Bank Sampah di Desa Ranu Pane, pembacaan bersama kode etik pecinta alam, melakukan aksi bersih danau Ranu Pane dan aksi bersih gunung semeru serta membuka jalur pendakian Semeru yang sebelumnya sempat ditutup.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/jambore-sapu-gunung-2016-kampanyekan-bebas-sampah-di-kawasan-wisata-gunung/feed/ 0
Masalah Sampah di Gunung, Penikmat Alam Belum Peduli https://www.greeners.co/berita/masalah-sampah-gunung-penikmat-alam-belum-peduli/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=masalah-sampah-gunung-penikmat-alam-belum-peduli https://www.greeners.co/berita/masalah-sampah-gunung-penikmat-alam-belum-peduli/#respond Thu, 28 Apr 2016 14:55:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13566 Permasalahan sampah di gunung, baik yang di dalam kawasan taman nasional maupun yang di luar kawasan, sedikit banyak disebabkan oleh perilaku para pendaki gunung yang belum memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan kawasan wisata gunung.]]>

Jakarta (Greeners) – Permasalahan sampah di gunung, baik yang di dalam kawasan taman nasional maupun yang di luar kawasan, sedikit banyak disebabkan oleh perilaku para pendaki gunung yang belum memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan kawasan wisata gunung dan juga karena tersedianya sarana pembuangan sampah di dalam kawasan wisata gunung.

Hal ini disampaikan oleh Koordinator Gerakan Jambore Sapu Gunung, Syaiful Rochman berdasarkan survei jumlah timbulan sampah di 10 Taman Nasional Gunung dan lima gunung di Indonesia yang dilakukan sejak tanggal 11 hingga 24 April 2016. Survei ini dilakukan oleh Komunitas Sapu Gunung bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan mahasiswa pecinta alam.

Perilaku para pendaki yang biasa disebut sebagai penikmat alam ini, kata Syaiful, biasanya dikarenakan tidak adanya bekal bagaimana seharusnya berperilaku di alam bebas. Para penikmat alam ini, terusnya, biasanya juga tidak terikat pada sebuah organisasi resmi. Kebanyakan dari para penikmat alam ini adalah para wisatawan yang melakukan wisata alam namun tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam menjaga kelestarian alam saat berwisata.

“Para penikmat alam ini tidak dibekali bagaimana berperilaku di alam bebas. Kawan-kawan pecinta alam akhirnya menilai kalau kerusakan yang terjadi di gunung-gunung, baik Taman Nasional maupun yang bukan, banyak dimulai dari para penikmat alam yang tidak tergabung dalam organisasi resmi,” terang Syaiful saat memaparkan hasil survei komunitas Sapu Gunung terhadap timbunan sampah di 10 Taman Nasional Gunung dan lima Gunung di Indonesia, Jakarta, Rabu (27/04).

Koordinator Gerakan Jambore Sapu Gunung, Syaiful Rochman. Foto: Humas KLHK

Koordinator Gerakan Jambore Sapu Gunung, Syaiful Rochman. Foto: Humas KLHK

Tersedianya wadah atau tempat sampah di kawasan Taman Nasional dan gunung pun, dikatakan oleh Syaiful, berakibat pada kebiasaan pendaki yang akhirnya membuang sampah di wadah yang telah tersedia itu. Akibatnya, para pendaki merasa tidak perlu membawa sampahnya turun.

“Apalagi kalau jarak dari wadah sampah tersebut sekitar 5 kilometer dari pos-pos pendakian, pengelola taman nasional sendiri akan kewalahan. Pasti dibutuhkan banyak orang dan tenaga serta biaya untuk membawa sampah tersebut. Oleh karena itu, jangan sediakan wadah sampah di dalam kawasan,” tegasnya.

Oneng Setyaharini, Asisten deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata pun mengakui, permasalahan sampah di lokasi wisata termasuk taman nasional memang masih membutuhkan banyak perhatian. Sesuai dengan indeks daya saing pariwisata tahun 2014, terang Oneng, Indonesia bahkan berada di peringkat 135 dari 141 negara dalam hal keberlanjutan lingkungannya.

Oneng menyatakan bahwa saat ini destinasi wisata Indonesia masih terkenal dengan kesan kumuhnya akibat ketidakmampuan dinas setempat dalam mengatasi permasalahan sampahnya. Oleh karena itu survei yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Jambore Sapu Gunung Indonesia ini diharapkan dapat menjadi evaluasi bersama.

“Program ini sangat kami tunggu. Destinasi pariwisata yang sekarang ada konotasinya kotor dan banyak sampah. Masih banyak destinasi wisata yang terkesan kumuh karena banyaknya sampah,” tuturnya.

Kementerian Pariwisata sendiri memiliki gerakan Sadar Wisata dan Sapta Pesona yang dibagi menjadi tujuh komponen dasar pembangunan pariwisata. Di antaranya, destinasi wisata harus bersih, kondusif dari keamanan, kesejukan, dan masyarakat lokalnya ramah pada wisatawan.

“Kami sudah kumpulkan 400 masyarakat di daerah destinasi dan ada sosialisasi tentang apa itu Sapta Pesona. Dengan adanya program Jambore Sapu Gunung ini bisa menjadi kekuatan bagi kami di destinasi pariwisata, dimana pemerintah sedang konsentrasi mengembangkan 10 destinasi, salah satunya Bromo,” tambahnya.

Direktur Jendral Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (B3) Kementerian LHK Tuti Hendrawati Mintarsih juga mengakui bahwa saat ini, masih cukup sulit mengendalikan timbunan sampah di kawasan wisata gunung maupun Taman Nasional gunung. Sejak digabungnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, ujarnya, memang telah banyak permintaan dari Taman Nasional untuk diadakan edukasi dan pelatihan tentang bagaimana mengelola sampah di Taman Nasional.

Sebagai informasi, sebanyak 10 Taman Nasional Gunung dan lima gunung di Indonesia telah disurvei oleh komunitas Sapu Gunung bersama dengan KLHK dan mahasiswa pecinta alam. Dari 15 lokasi tersebut, ada delapan lokasi yang hasil surveinya telah keluar. Kedelapan lokasi tersebut yaitu Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Gunung Rinjani, Taman Nasional Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Merbabu, Taman Nasional Gunung Merapi, Gunung Sindoro, Gunung Argopuro dan Gunung Prau.

Survei timbulan sampah di 10 Taman Nasional Gunung dan lima gunung di Indonesia merupakan rangkaian kegiatan dari Jambore Sapu Gunung Indonesia. Kegiatan ini diinisiasi oleh media lingkungan hidup Greeners.co bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Ditjen PSLB3 dan Ditjen KSDAE serta komunitas Sapu Gunung dan mahasiswa pecinta alam.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/masalah-sampah-gunung-penikmat-alam-belum-peduli/feed/ 0
Jalur Pendakian Gunung Semeru Akan Dibuka Kembali Pada 1 Mei 2016 https://www.greeners.co/berita/jalur-pendakian-gunung-semeru-akan-dibuka-kembali-pada-1-mei-2016/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jalur-pendakian-gunung-semeru-akan-dibuka-kembali-pada-1-mei-2016 https://www.greeners.co/berita/jalur-pendakian-gunung-semeru-akan-dibuka-kembali-pada-1-mei-2016/#respond Thu, 28 Apr 2016 06:00:52 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13563 Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menyampaikan bahwa jalur pendakian Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dengan Malang, Jawa Timur akan dibuka pada 1 Mei 2016.]]>

Jakarta (Greeners) – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menyampaikan bahwa jalur pendakian Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dengan Malang, Jawa Timur akan dibuka pada 1 Mei 2016. Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) John Kennedie mengatakan keputusan tersebut didapat sesuai hasil rapat koordinasi dengan sejumlah pihak terkait.

“Sesuai hasil rapat, maka pendakian Gunung Semeru akan resmi dibuka untuk umum pada Minggu, tanggal 1 Mei,” katanya saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Kamis (28/04).

Meski demikian, terusnya, jalur pendakian Gunung Semeru dibatasi hanya sampai Kalimati. Para pendaki dilarang naik ke puncak Semeru (Mahameru) karena berbahaya sesuai dengan rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Saat ini, terang John, status Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut itu berada pada level II (waspada), sehingga pendaki tidak boleh melakukan aktivitas dalam radius empat kilometer dari puncak Jonggring Saloko karena dirasa masih terlalu berbahaya.

“Jumlah pendaki yang melakukan pendakian ke Gunung Semeru baik wisatawan domestik maupun mancanegara akan dibatasi sebanyak 500 orang setiap harinya dan para pendaki bisa mendaftar dengan datang langsung ke Pos Ranu Pani atau melalui pendaftaran online,” tambahnya.

Menurut John, petugas sudah melakukan survei untuk membersihkan jalur pendakian dari tanah longsor dan pohon tumbang saat gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut ditutup selama empat bulan. Saat ini, lanjutnya, jalur pendakian dipastikan aman untuk dilalui para pendaki.

“Saya imbau para pendaki yang hendak melakukan pendakian harus mempersiapkan diri dengan membawa surat keterangan dokter dan membawa perlengkapan yang lengkap, serta logistik yang memadai,” ujarnya.

Dibukanya jalur pendakian ini juga akan dilakukan setelah pelaksanaan Jambore Sapu Gunung pada tanggal 30 April 2016. Dalam kegiatan tersebut akan dilakukan pembacaan Deklarasi Gunung Lestari dan Kode Etik Pecinta alam yang dipusatkan di area perkemahan Ranu Pani, Gunung Semeru, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Sebagai informasi, jalur pendakian Gunung Semeru ditutup sejak 4 Januari 2015 karena terjadinya cuaca buruk dan pemulihan ekosistem, sehingga hampir empat bulan tidak ada aktivitas pendakian di gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut.

Kegiatan Jambore Sapu Gunung Indonesia sendiri diinisiasi oleh media lingkungan hidup Greeners.co bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Ditjen PSLB3 dan Ditjen KSDAE serta komunitas Sapu Gunung dan mahasiswa pecinta alam. Diperkirakan kegiatan Jambore Sapu Gunung akan dihadiri 1.000 orang dari sekitar 300 komunitas pecinta alam dan komunitas outdoor Indonesia.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/jalur-pendakian-gunung-semeru-akan-dibuka-kembali-pada-1-mei-2016/feed/ 0
53 Persen Sampah di Gunung Merupakan Sampah Plastik https://www.greeners.co/berita/53-persen-sampah-di-gunung-merupakan-sampah-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=53-persen-sampah-di-gunung-merupakan-sampah-plastik https://www.greeners.co/berita/53-persen-sampah-di-gunung-merupakan-sampah-plastik/#respond Wed, 27 Apr 2016 12:15:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13557 Komunitas Sapu Gunung bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan mahasiswa pecinta alam melakukan survei jumah timbulan sampah di 10 Taman Nasional Gunung dan lima gunung di Indonesia.]]>

Jakarta (Greeners) – Komunitas Sapu Gunung bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan mahasiswa pecinta alam melakukan survei jumah timbulan sampah di 10 Taman Nasional Gunung dan lima gunung di Indonesia sejak tanggal 11 hingga 24 April 2016.

Dari 15 titik tersebut, delapan titik yang telah disurvei menunjukkan terdapat 453 ton sampah yang dihasilkan oleh 150.688 orang pendaki per gunung setiap tahunnya atau sama dengan sekitar tiga kilogram sampah per pengunjung.

Direktur Jendral Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (B3) Kementerian LHK Tuti Hendrawati Mintarsih mengatakan, dari jumlah survei tersebut, sebanyak 53 persen atau setara dengan 250 ton sampah merupakan sampah plastik yang sulit terurai dan secara permanen berpotensi mencemari ekosistem taman nasional.

“Hasil survei ini menggambarkan kalau permasalahan sampah adalah hal yang perlu diwaspadai. Ini berkaitan dengan salah satu fungsi taman nasional sebagai destinasi wisata yang harus bersih dari sampah dan pemeliharaan serta pelestarian flora fauna endemiknya,” kata Tuti di Jakarta, Rabu (27/04).

Sebagai contoh, Taman Nasional Gunung Rinjani didatangi 36.500 pendaki per tahun. Setiap tahunnya, sekitar 160,24 ton sampah dihasilkan di taman nasional ini dan jumlah ini merupakan jumlah timbunan sampah terbanyak di antara delapan lokasi yang sudah disurvei.

Oneng Setyaharini, Asisten deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata pun mengakui, permasalahan sampah di lokasi wisata termasuk taman nasional memang masih membutuhkan banyak perhatian. Sesuai dengan indeks daya saing pariwisata tahun 2014, terang Oneng, Indonesia berada di peringkat 135 dari 141 negara dalam hal keberlanjutan lingkungannya.

Menurut Oneng, indeks lingkungan di taman nasional masih sangat rendah. Diperlukan tanggung jawab bersama untuk membenahi permasalahan ini karena, menurutnya, Kementerian Pariwisata sangat berkepentingan dalam menjaga kebersihan di destinasi wisata Indonesia, termasuk juga kawasan taman nasional.

“Bahkan ada program tata kelola destinasi pariwisata di tempat kita. Di Rinjani sudah ada lima tahun program ini tapi masih saja kita belum bisa menyelesaikan masalah sampah. Mungkin memang karena koordinasi dan sinergi antar kementerian masih sangat kurang,” terangnya.

Koordinator gerakan Sapu Gunung yang juga Pimpinan Redaksi Greeners.co, Syaiful rochman, mengatakan, saat ini masih belum banyak upaya pengurangan dan pengelolaan sampah yang dilakukan di destinasi wisata gunung. Untuk itu diperlukan adanya inventarisir dan monitoring timbulan sampah serta pengelolaan sampah di taman nasional.

Fakta yang menarik dari hasil survei tersebut, katanya, adalah tersedianya wadah atau tempat sampah di kawasan Taman Nasional dan gunung. Akibat dari disediakannya wadah sampah ini, membuat para pendaki membuang sampahnya di wadah sampah tersebut dan tidak membawanya turun.

“Kalau jarak dari wadah sampah tersebut sekitar 5 kilometer dari pos-pos pendakian, pengelola taman nasional sendiri akan kewalahan. Pasti dibutuhkan banyak orang dan tenaga serta biaya untuk membawa sampah tersebut. Oleh karena itu, jangan sediakan wadah sampah di dalam kawasan,” tegasnya.

Sebagai informasi, sebanyak 10 Taman Nasional Gunung dan lima gunung di Indonesia telah disurvei oleh komunitas Sapu Gunung bersama dengan KLHK dan mahasiswa pecinta alam.

Ke 15 lokasi tersebut yaitu Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Gunung Rinjani, Taman Nasional Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Merbabu, Taman Nasional Gunung Merapi, Gunung Sindoro, Gunung Argopuro, Gunung Prau, Taman Nasional Gunung Ciremai, Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Halimun Salak, Gunung Sumbing, Gunung Papandayan, Gunung Bawakaraeng dan Gunung Halau Halau.

Dari 15 lokasi tersebut, ada delapan lokasi yang hasil surveinya telah keluar. Kedelapan lokasi tersebut yaitu Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Gunung Rinjani, Taman Nasional Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Merbabu, Taman Nasional Gunung Merapi, Gunung Sindoro, Gunung Argopuro dan Gunung Prau.

Survei timbulan sampah di 10 Taman Nasional Gunung dan lima gunung di Indonesia merupakan rangkaian kegiatan dari Jambore Sapu Gunung Indonesia. Kegiatan ini diinisiasi oleh media lingkungan hidup Greeners.co bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Ditjen PSLB3 dan Ditjen KSDAE serta komunitas Sapu Gunung dan mahasiswa pecinta alam.

Diperkirakan kegiatan Jambore Sapu Gunung ini akan dihadiri 1.000 orang dari sekitar 300 komunitas pecinta alam dan komunitas outdoor Indonesia. Jambore Sapu Gunung Indonesia akan diresmikan pada tanggal 30 April 2016. Dalam acara tersebut akan dilakukan pembacaan Deklarasi Gunung Lestari dan Kode Etik Pecinta alam yang dipusatkan di area perkemahan Ranu Pani, Gunung Semeru, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Kode etik ini merupakan hasil pertemuan dari forum mahasiswa pecinta alam (Mapala), siswa pecinta alam (Sispala) dan beberapa grup pecinta alam lainnya. Kode etik ini dicetuskan pertama kali dalam pertemuan akbar pecinta alam se-Indonesia, Gladian Nasional Pecinta Alam IV, pada tahun 1974.

“Mereka merumuskan bahwa harus adanya etika bagi para pecinta alam. Maka diciptakanlah kode etik itu di Ujung Pandang pada tahun 1974. Nanti kami ingin membacakannya kembali agar menggugah para pendaki muda untuk menjadi pendaki yang cinta dan peduli pada alam,” tutup Syaiful.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/53-persen-sampah-di-gunung-merupakan-sampah-plastik/feed/ 0