jamur endofit - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/jamur-endofit/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 21 Oct 2021 03:55:58 +0000 id hourly 1 Lentinus Squarrosulus, Kerabat Jamur Shitake yang Berkhasiat https://www.greeners.co/flora-fauna/lentinus-squarrosulus-kerabat-jamur-shitake-yang-berkhasiat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lentinus-squarrosulus-kerabat-jamur-shitake-yang-berkhasiat https://www.greeners.co/flora-fauna/lentinus-squarrosulus-kerabat-jamur-shitake-yang-berkhasiat/#respond Thu, 21 Oct 2021 03:55:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=34144 Lentinus squarrosulus adalah salah satu spesies jamur dari famili Polyporaceae. Sebelum ahli pisahkan menjadi individu berbeda, fungi ini berkerabat dekat dengan jamur shitake. Keduanya sama-sama bisa kita konsumsi, serta memiliki […]]]>

Lentinus squarrosulus adalah salah satu spesies jamur dari famili Polyporaceae. Sebelum ahli pisahkan menjadi individu berbeda, fungi ini berkerabat dekat dengan jamur shitake. Keduanya sama-sama bisa kita konsumsi, serta memiliki khasiat penting bagi kesehatan.

L. squarrosulus tergabung dalam ordo Poliporal berkelas Agaricomycetes. Berbeda dengan shitake, jamur ini ahli kelompokkan dalam ordo Agaricales berkelas Homobasidiomycetes.

Jamur L. squarrosulus sendiri kini tergabung dalam suku yang sama dengan jenis L. tigrinus. Mereka berasal dari genus Lentinus, yang sebagian besar pakar jumpai di daerah subtropis.

Perlu Anda ketahui, genus Lentinus setidaknya memiliki 120 anggota spesies. Mayoritasnya merupakan fungi edible, mereka dapat kita temukan di berbagai kawasan kecuali Antartika.

Morfologi dan Ciri-Ciri Lentinus Squarrosulus

Nama ‘Lentinus’ sendiri berasal dari bahasa Latin ‘lent’ yang berarti ‘lentur,’ serta ‘inus’ yang bermakna ‘menyerupai.’ Penamaan ini sejatinya terinspirasi dari morfologi jamur tersebut.

Seperti yang terlihat, tubuh Lentinus squarrosulus memang cenderung lebih lentur daripada jamur bertopi lainnya. Topi mereka terlihat cembung, namun dengan permukaan yang rata.

Apabila kita perhatikan, penampilan jamur tersebut tampak seperti corong ataupun payung. Warnanya putih atau krem pucat saat muda, lalu berubah jadi cokelat tua saat usia dewasa.

Tidak cuma itu, L. squarrosulus muda biasanya memiliki sisik kecil pada permukaan topinya. Sedangkan saat dewasa, bagian tengah fungi tersebut tampak mengecil namun lebih padat.

Permukaan topi mereka tampak tipis dengan tepian bergelombang. Warna lamelanya krem atau krem gelap, padat dan tidak beraturan. Stipe-nya berwarna putih serta memiliki serat.

Uniknya, Lentinus squarrosulus memiliki daging berwarna putih yang liat. Mereka biasanya pakar temukan pada pokok kayu yang telah mati, tepatnya di hutan atau area-area terbuka.

Baca juga: Jamur Amanita Jacksonii, Si Topi Merah yang Boleh Dimakan

Kandungan dan Manfaat Lentinus Squarrosulus

Merujuk esai Henny Sulistiany, dkk dari Institut Pertanian Bogor, dapat kita ketahui bahwa spesies jamur Lentinus mengandung nutrisi baik seperti karbohidrat, protein serta lemak.

Mereka juga menyimpan sejumlah nutrisi penting seperti mineral mikro dan makro, vitamin serta serat, yang cocok kita manfaatkan sebagai obat-obatan atau kebutuhan medis lainnya.

Dalam litelatur berbeda, dapat kita ketahui pula bahwa jamur Lentinus berpotensi sebagai antibakterial. Karena itu, mereka pakar kembangkan sebagai obat antikanker dan antivirus.

Pemanfaatan jamur Lentinus sejatinya telah berlangsung cukup lama. Di Nigeria misalnya, Lentinus squarrosulus jamak warga gunakan sebagai bahan masakan atau olahan pangan.

Di negara lain, budi daya jamur L. squarrosulus belum berlangsung cukup masif. Potensinya masih tertutup oleh jenis jamur pangan lain seperti shitake, jamur kancing dan sebagainya.

Bagi masyarakat Melayu, spesies Lentinus squarrosulus dikenal dengan julukan kulat putih. Mereka juga memiliki sejumlah sinonim nama, salah satunya adalah Lentinus curreyanus.

Mengenal Kelompok Jamur Bergenus Lentinus

Jamur Lentinus masyarakat kenal sebagai fungi pelapuk. Kelompok fungi ini lazim ilmuwan temukan di negara-negara Asia seperti Cina, Jepang, Korea, Vietnam, sampai ke Indonesia.

Seperti yang telah kami jelaskan, walau sebagian besar tumbuh di wilayah subtropis, jamur Lentinus squarrosulus justru ilmuwan konfirmasi berasal dari negara tropis, yakni Kamerun.

Karena itu, potensi budi daya jamur tersebut dapat kita katakan cukup besar. Asia Tenggara misalnya, wilayah satu ini ahli prediksi sangat cocok sebagai sentral pembiakkan kulat putih.

Sebagai mana shitake, jamur Lentinus umumnya berbiak pada pokok pohon berdaun lebar. Mereka menyukai flora berordo Fagales, yang banyak tertanam di kawasan Asia Tenggara.

Di Indonesia sendiri, spesies Lentinus yang paling sering pakar jumpai adalah L. tuberregium dan L. badius. Keduanya tumbuh di berbagai daerah, namun paling populer di Papua Barat.

Sebagai informasi, genus Lentinus sendiri mempunyai beberapa sinonim binomial. Sukunya ilmuwan sebut juga sebagai Pocillaria, Digitellus, Lentodium, hingga jamur Lentodiellum.

Baca juga: Amanita Phalloides Alias Death Cap, Jamur Beracun yang Mematikan

Taksonomi Spesies Lentinus Squarrosulus

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/lentinus-squarrosulus-kerabat-jamur-shitake-yang-berkhasiat/feed/ 0
Dacryopinax Spathularia, Jamur Jelly Unik Berbentuk Spatula https://www.greeners.co/flora-fauna/dacryopinax-spathularia-jamur-jelly-unik-berbentuk-spatula/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dacryopinax-spathularia-jamur-jelly-unik-berbentuk-spatula https://www.greeners.co/flora-fauna/dacryopinax-spathularia-jamur-jelly-unik-berbentuk-spatula/#respond Tue, 05 Oct 2021 03:00:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=33899 Jamur jelly atau jelly fungi adalah kelompok Basidiomycota yang tergabung dalam kelas Heterobasidiomycetes. Grup ini sejatinya terdiri dari empat famili besar yaitu Tremellales, Auriculariales, Sebacinales, serta jamur Dacrymycetales. Keluarga fungi […]]]>

Jamur jelly atau jelly fungi adalah kelompok Basidiomycota yang tergabung dalam kelas Heterobasidiomycetes. Grup ini sejatinya terdiri dari empat famili besar yaitu Tremellales, Auriculariales, Sebacinales, serta jamur Dacrymycetales.

Keluarga fungi Dacrymycetales terbilang cukup populer di masyarakat. Sebagian spesiesnya awam kenal sebagai fungi edible, sehingga sering dibudidayakan sebagai komoditas pasar.

Dalam kebudayaan Cina dan Buddha, jamur dengan julukan Guìhuā’ěr ini terhitung cukup penting. Ia termasuk sebagai bahan masakan vegetarian yang digemari oleh warga lokal.

Dacryopinax spathularia adalah salah satu spesies jamur jelly bernilai tinggi. Ia ahli sinyalir menyimpan segudang potensi kesehatan, sehingga sangat baik dikonsumsi oleh manusia.

Morfologi dan Ciri-Ciri Jamur Jelly Dacryopinax

Spesies jamur D. spathularia atau ilmuwan sebut juga sebagai D. elegans, merupakan jeli saprotrofit berukuran kecil yang berbentuk seperti kipas pipih, spatula atau garpu tala.

Berkat tampilannya yang unik, fungi tersebut cukup mudah awam kenali jika tumbuh di sekitar pekarangan. Seperti namanya, tubuh jamur jelly sangat mirip dengan agar-agar.

Mereka umumnya berwarna oranye kuning cerah saat masih muda, namun berangsur-angsur berubah menjadi oranye kemerah-merahan ketika mencapai usia dewasa (matang).

Berbeda dengan jelly fungus lainnya, D. spathularia biasanya memiliki bagian tangkai buah. Tangkainya ini berbentuk bulat dan gelap, dengan tekstur permukaan halus dan kenyal.

Jika kita ukur secara seksama, ukuran jamur jelly ini hanya berkisar 1-1,5 cm. Permukaan tubuh buahnya mempunyai papila kecil, serta pada beberapa bagiannya berserabut putih.

Saat sudah terlalu tua, tekstur fungi D. spathularia umumnya sangat mudah rusak. Bila kita tekan dengan tangan, permukaan jamur cenderung mudah hancur menjadi bagian kecil.

Baca juga: Jamur Kuping Merah, Jelly Fungi yang Berguna bagi Kesehatan

Habitat dan Distribusi Jamur Jelly Dacryopinax

Distribusi D. spathularia sejatinya sangat luas. Pemanfaatannya sebagai bahan baku pangan populer di Cina dan Asia Tenggara, namun sudah tersebar luas hampir ke seluruh dunia.

Kelompok jamur ini dapat kita temukan di kawasan Hawaii, Eropa, Amerika Selatan, hingga Afrika Timur. Ia bahkan sempat ahli jumpai di kawasan hutan Amerika Utara dan juga Texas.

Jamur jelly Dacryopinax berbiak dalam kelompok besar. Mereka tumbuh pada permukaan kayu yang sudah lapuk atau mati, serta sangat bergantung pada kondisi lingkungan kering.

Suhu dan kondisi lingkungan adalah faktor penentu pembiakkan D. spathularia. Jika tidak sesuai dengan habitat asli mereka, pertumbuhannya akan terhambat dan berpotensi mati.

Di Tanah Air, populasi fungi berkelas Dacrymycetes ini terbilang cukup banyak. Mereka ahli jumpai di sejumlah daerah mulai dari Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan sebagainya.

Perlu diketahui pula, jamur jelly ini juga memiliki sinonim nama yaitu Guepinia spathularia, Merulius spathularius, Cantharellus spathularius, serta Guepiniopsis spathularia.

Karakter dan Manfaat Jamur Jelly Dacryopinax

Secara komersial budi daya jamur jelly sangat menguntungkan. Hal ini dapat kita lihat dari tingkat produksi jamur di Cina yang ditaksir mencapai 130.000 ton pada tahun 1997.

Di Cina sendiri, sistem budi daya fungi jelly para petani lakukan dengan dua cara, berbahan baku gelondongan atau menggunakan serbuk gergaji sebagai media tanam dalam baglog.

Biasanya, olahan jamur D. spathularia khalayak manfaatkan sebagai bahan dasar minuman, jus dan es krim. Ia juga awam campur ke dalam bubur, sup serta hidangan pencuci mulut.

Secara klinis manfaat jamur jelly sebenarnya belum bisa ahli pastikan. Kendati demikian, banyak yang berasumsi jika jenis fungi tersebut berguna sebagai obat dan juga suplemen.

Untuk kesehatan, ia publik percaya ampuh sebagai antiinfeksi, antitumor, menurunkan kadar kolesterol dalam darah, serta meningkatkan kadar antioksidan pada otak dan hati.

Karena itu seiring meningkatnya permintaan jamur di masyarakat, menjadikan spesies D. spathularia sebagai komoditi pasar agaknya cukup menguntungkan dan layak kita coba.

Baca juga: Flammulina Velutipes Alias Enoki, Jamur Pangan yang Berkhasiat

Taksonomi Spesies Fungi Jelly Dacryopinax

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/dacryopinax-spathularia-jamur-jelly-unik-berbentuk-spatula/feed/ 0
Jamur Amanita Jacksonii, Si Topi Merah yang Boleh Dimakan https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-amanita-jacksonii-si-topi-merah-yang-boleh-dimakan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jamur-amanita-jacksonii-si-topi-merah-yang-boleh-dimakan https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-amanita-jacksonii-si-topi-merah-yang-boleh-dimakan/#respond Fri, 24 Sep 2021 08:57:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=33813 Jamur Amanita adalah salah satu genus terbesar dalam ordo Agaricales. Kelompok ini terdiri dari 600 spesies dengan karakteristik yang beragam. Mulai dari jamur beracun seperti Amanita phalloides, hingga fungi edible […]]]>

Jamur Amanita adalah salah satu genus terbesar dalam ordo Agaricales. Kelompok ini terdiri dari 600 spesies dengan karakteristik yang beragam. Mulai dari jamur beracun seperti Amanita phalloides, hingga fungi edible dari benua Amerika layaknya Amanita jacksonii.

Jackson’s Slender Amanita merupakan nama lain spesies A. jacksonii. Fungi ini tergabung dalam famili Amanitaceae, sehingga berkerabat dekat dengan death cap dan jamur caesar.

Secara morfologi, ketiga jamur Amanita ini juga mempunyai tampilan yang mirip. Mereka bisa kita tandai dari warna oranye kemerahan, serta bentuknya yang mirip seperti payung.

Nama fungi A. jacksonii sendiri dikemukakan oleh ahli mikologi Kanada, René Pomerleau, pada tahun 1984. Spesies ini jamak pakar temukan di wilayah Meksiko sampai Kanada.

Morfologi dan Ciri-Ciri Jamur Amanita Jacksonii

Sebagian orang menyebut jackson’s slender amanita sebagai American Slender Caesar atau Eastern Caesar’s Amanita. Ia memiliki batang kuning dengan bentuk menyerupai tabung.

Payung atau topinya yang berwarna oranye mempunyai garis tepi, lebarnya mencapai 8 – 12 cm dengan bentuk oval, namun akan berubah menjadi cembung seiring bertambahnya usia.

Apabila kita sentuh, permukaan topi jamur Amanita ini terasa agak lengket. Sama seperti bentuknya, warna topinya pun cenderung berubah kekuningan saat mencapai usia dewasa.

Berbeda dengan death cap, payung A. jacksonii tidak ditumbuhi bintik-bintik kecil. Mereka mempunyai volva berwarna putih, dengan ukuran spora 7,8 – 9,8 x 5,8 – 7,5 mikrometer.

Pertumbuhan batang atau stipe A. jacksonii antara 90 – 140 x 9 – 16 mm. Daging buahnya berwarna keputihan, serta tidak menimbulkan bercak noda saat terpapar sinar matahari.

Mengonsumsi american slender caesar sejatinya sah-sah saja. Namun tindakan itu tidak ahli anjurkan, apalagi jika Anda tidak mempunyai pengetahuan lebih terkait jamur Amanita.

Baca juga: Galerina Marginata, Jamur Beracun yang Tumbuh di Kayu

Karakteristik dan Habitat Jamur Amanita Jacksonii

Secara umum, varietas jamur Amanita tidak melakukan proses fotosintesis. Mereka pakar golongkan sebagai organisme heterotrof karena tidak memiliki pigmen hijau atau klorofil.

Untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, A. jacksonii hidup secara endofit pada tumbuhan lain. Flora yang sering mereka jadikan sebagai inang adalah pohon ek dan juga pohon pinus.

Pertumbuhan spesies ini terjadi pada musim panas dan gugur. Mereka umumnya bersifat amotil dengan pola perkembangbiakkan melalui dua cara, yakni seksual atau aseksual.

Dinding sel eastern caesar’s amanita mengandung kitin dan selulosa. Mereka mempunyai inti sel berupa eukariot, dengan pola pengaliran sitoplasma yang terjadi lewat miselium.

Walaupun memiliki warna yang mencolok seperti jamur beracun, spesies A. jacksonii tidak mengeluarkan bau yang semerbak. Rasanya cenderung manis dengan tekstur agak kenyal.

Penelitian terhadap jamur Amanita ini memang masih sangat jarang. Status konservasinya belum ahli ketahui secara pasti, sehingga sulit menghitung populasi mereka di alam liar.

Klasifikasi dan Anggota Spesies Genus Amanita

Anggota genus Amanita tak ubahnya ‘pisau bermata dua’. Sebagian spesiesnya merupakan fungi edible, sedang yang lainnya pakar golongkan sebagai jamur beracun yang berbahaya.

Merujuk berbagai sumber, genus ini bertanggung jawab atas 95% kasus kematian akibat konsumsi fungi. Sekitar 50% kasus ahli klaim disebabkan oleh keracunan jamur death cap.

Karena itu, ilmuwan lantas mengelompokkan genus ini menjadi beberapa golongan. Agar tidak keliru, berikut spesifikasi jamur Amanita berdasarkan tingkat edibility-nya:

  • Boleh masyarakat konsumsi, meliputi A. fulva, A. vaginata, A. calyptrata, A. crocea, A. rubescens, A. jacksonii, dan A. citrina.
  • Tidak boleh manusia konsumsi, meliputi albocreata, A. atkinsoniana, A. daucipes, A. excelsa, A. flavoconia, A. franchetii, A. longipes, A. magniverrucata, A. onusta, A. rhopalopus, A. silvicola, A. sinicoflava, A. spreta, dan A. volvata.
  • Spesies jamur beracun, di antaranya brunnescens, A. ceciliae, A. cokeri, A. crenulata, A. farinose, A. flavorubescens, A. frostiana, A. muscaria, A. pantherina, dan A. porfiria.
  • Jamur beracun dan mematikan, mencakup abrupta, A. arocheae, A. bisporigera, A. exitialis, A. magnivelaris, A. ocreata, A. phalloides, A. smithiana, A. subjunquillea, A. verna, dan A. virosa.

Perlu Anda ketahui, manfaat mengonsumsi fungi A. jacksonii masih perlu ahli selidiki lebih lanjut. Karena itu, spesies jamur Amanita tidak pakar sarankan awam konsumsi secara luas.

Baca juga: Mengenal Agaricus Campestris, Kerabat Terdekat Jamur Kancing

Taksonomi Spesies Jamur Amanita Jacksonii

Taksonomi Amanita Jacksonii

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-amanita-jacksonii-si-topi-merah-yang-boleh-dimakan/feed/ 0
Senyawa Episitoskirin A dari Jamur Endofit Dikembangkan untuk Antibiotik https://www.greeners.co/berita/senyawa-episitoskirin-a-dari-jamur-endofit-dikembangkan-untuk-antibiotik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=senyawa-episitoskirin-a-dari-jamur-endofit-dikembangkan-untuk-antibiotik https://www.greeners.co/berita/senyawa-episitoskirin-a-dari-jamur-endofit-dikembangkan-untuk-antibiotik/#respond Thu, 13 Dec 2018 05:22:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=22047 Peneliti Utama dari Pusat Penelitian Biologi LIPI Dr. Andria Agusta meneliti senyawa kimia (+)-2.2’-Episitoskirin A dari jamur endofit. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendukung pengembangan antibiotik asli Indonesia.]]>

Jakarta (Greeners) – Peneliti Utama dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Andria Agusta dikukuhkan sebagai profesor riset dengan membawa penelitian “Pengembangan Senyawa Kimia (+)-2.2’-Episitoskirin A Dari Jamur Endofit Untuk Mendukung Antibiotik Indonesia”. Dalam orasinya, Andria menyampaikan pentingnya pengembangan jamur endofit untuk mendukung kemandirian antibiotika di Indonesia.

Indonesia telah dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman jenis tumbuhan yang tinggi. Tidak kurang 40.000 jenis tumbuhan hidup tersebar dari Sabang hingga Merauke. Diperkirakan sekitar 1,5 juta jenis mikrob hidup tersebar di berbagai belahan dunia dan baru sekitar 10% di antaranya yang sudah dikenal dan diidentifikasi.

“Dengan kondisi alam yang ideal untuk tempat tumbuh dan berkembangnya mikrob, menjadi ironi sampai saat ini belum satupun antibiotika yang secara resmi dihasilkan oleh mikrob yang berasal dari Indonesia. Bahkan sampai saat ini Indonesia masih dihadapkan masalah pelik di bidang kesehatan, yaitu ketergantungan yang nyaris secara total terhadap bahan baku obat impor,” jelas Andria pada acara Orasi Pengukuhan Profesor Riset di Ruang Auditorium LIPI, Jakarta, Rabu (12/12/2018).

BACA JUGA: LIPI: Faktor Alam dan Antropogenik Menyebabkan Kondisi Terumbu Karang Jelek 

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, diperkirakan lebih dari 95% bahan baku obat yang beredar di Indonesia adalah barang impor dengan nilai total Rp11,66 triliun di tahun 2016. Dari nilai tersebut, impor antibiotik menduduki porsi yang terbesar dengan nilai total mencapai US$ 91,3 juta atau setara dengan Rp1,37 triliun pada tahun 2014.

“Kita bangsa Indonesia dalam hal ini dapat diibaratkan seperti ayam mati kelaparan di lumbung padi. Untuk itu, mulai dari tahun 2001 Laboratorium Kimia Bahan Alam, Pusat Penelitian Biologi LIPI Cibinong, secara intensif telah melakukan pencarian dan pengembangan bahan obat, terutama antibiotik yang diproduksi oleh mikrob, khususnya jamur endofit yang berasosiasi dengan tumbuhan obat di Indonesia,” ujar Andria.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa jamur endofit memiliki keunikan dan kekhasan dalam memproduksi senyawa-senyawa yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, seperti antibiotik. Dari tahun 2001 sampai dengan 2018 sebanyak 1.000 lebih isolat jamur endofit telah dikoleksi dan ditapis (disaring) kemampuannya untuk memproduksi senyawa dengan aktivitas biologi, baik sebagai anti-bakteri, antifungal, dan antioksidan.

“Jadi antibiotik penelitian yang saya kembangkan itu senyawa kimia (+)-2.2’-Episitoskirin A dari Jamur Endofit. Senyawa ini nantinya akan dimanfaatkan sebagai obat antibiotik infeksi berbentuk krim untuk mengobati luka luar seperti abses (bisul), koreng, maupun borok,” ujarnya.

BACA JUGA: Tingkatkan Kualitas Peneliti, LIPI dan Wageningen University Gelar WISE 2018 

Andria menegaskan bahwa senyawa (+)-2.2’-Episitoskirin A merupakan kandidat antibiotik yang penelitian dan pengembangannya 100% dilakukan di Indonesia dan tanpa melibatkan peneliti asing. Hal ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia sebagai suatu bangsa yang besar juga bisa menggali potensi sumber daya hayatinya sendiri menjadi bahan baku obat.

Di samping itu Andria berharap bahwa pemerintah Indonesia bisa terus mendukung penelitian yang dilakukan olehnya. Pasalnya banyak perusahaan dalam negeri yang bangkrut akibat kalah bersaing dengan produk-produk dari luar negeri. Tidak adanya regulasi atau kebijakan untuk mengatur impor obat memperparah keadaan tersebut.

“Kendala saat ini pasar kita sangat bebas, tidak ada proteksi untuk produk-produk obat dalam negeri dan regulasi produk obat impor yang bebas. Contoh ada pabrik amoxicillin itu sudah beroperasi dengan kualitas yang bagus kemudian dihantam produk murah dari Cina yang kualitasnya di bawah. Diperparah masyarakat yang masih melihat dari murahnya produk sehingga hanya dua tahun berjalan pabrik tersebut karena rugi,” kata Andria.

Dengan keberhasilan yang sudah dicapai sejauh ini, Andria berharap kandidat antibiotik (+)-2.2’-Episitoskirin A ini dapat menjadi pemicu ditemukannya antibiotik asli Indonesia yang akan menjadi pengganti atau subtitusi bagi impor antibiotik yang nilainya mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/senyawa-episitoskirin-a-dari-jamur-endofit-dikembangkan-untuk-antibiotik/feed/ 0