jawa - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/jawa/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 18 Jan 2021 18:56:49 +0000 id hourly 1 Perkebunan Sawit Mulai Rambah Lahan Pangan di Pulau Jawa https://www.greeners.co/berita/perkebunan-sawit-mulai-rambah-lahan-pangan-di-pulau-jawa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perkebunan-sawit-mulai-rambah-lahan-pangan-di-pulau-jawa https://www.greeners.co/berita/perkebunan-sawit-mulai-rambah-lahan-pangan-di-pulau-jawa/#respond Sun, 19 Jan 2020 02:12:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=25444 Konversi lahan pangan menjadi perkebunan sawit di Pulau Jawa semakin luas. Perambahan itu pun sudah mulai memasuki wilayah Jawa Timur.]]>

Jakarta (Greeners) – Konversi lahan pangan menjadi perkebunan sawit di Pulau Jawa makin meluas. Menurut Keputusan Menteri Pertanian tentang Penetapan Luas Tutupan Kelapa Sawit Indonesia Tahun 2019 luasnya mencapai 14.997 hektar (ha) di Jawa Barat. Perambahan itu pun mulai memasuki wilayah Jawa Timur.

Peneliti Sawit Watch Indonesia Achmad Surambo mengatakan ekspansi sawit tidak hanya terjadi di luar Jawa, tetapi sudah mennyebar ke Pulau Jawa. Ia sangat menyayangkan lahan pangan seperti sawah dan kebun berubah menjadi perkebunan monokultur semacam kelapa sawit.

“Saya kira di Pulau Jawa tanahnya subur, terlalu mewah kalau dibangun sawit. Penyebaran sawit di Jawa Barat terjadi di Pandeglang, Rangkas, Sukabumi, Bogor, Garut. Di Jawa Timur di Blitar, Lalang Jaya, dan Malang bagian selatan,” kata Rambo di Jakarta, Rabu (15/01/2020).

Baca juga: Kebakaran Lahan Gambut dan Sawit Picu Krisis Iklim

Rambo menyebut perubahan fungsi lahan lantaran adanya peluang pasar yang banyak menggunakan sawit. Menurutnya, pemerintah daerah harus turut mengawasi peralihan ini agar tidak meluas ke Pulau Jawa dan mengancam kedaulatan pangan.

“Ada Undang-undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang seharusnya bisa dipakai pemda setempat untuk program merek. Sehingga lahan pangan tidak beralih fungsi lagi dan amanat undang-undang tersebut bisa terimplementasikan dengan baik,” ujarnya.

Lahan Pangan Menjadi Kebun Sawit

Koordinator Nasional Organisasi Indonesia Berseru Tejo Wahyu Jatmiko (kiri) dan Peneliti Sawit Watch Indonesia Achmad Surambo. Foto: www.greeners.co/Dewi Purningsih

Sementara, tokoh lingkungan hidup, ahli ekonomi, dan cendekiawan, Profesor Emil Salim, mengatakan penyelamatan tata ruang perlu dilakukan di tingkat kabupaten. Ia menuturkan pemerintah harus menegaskan bahwa lahan diperuntukkan sebagai pertanian bukan permukiman atau perkebunan sawit. “Selamatkan tata ruang untuk pengamanan pertanian Indonesia yang dikomandoi oleh Menteri Pertanian,” ucap Emil.

Sikronisasi Urusan Pangan

Emil juga menyampaikan perlu sinkronisasi antara Kementerian Perdagangan, Badan Urusan Logistik (Bulog), dan Kementerian Pertanian dalam urusan pangan. Kementerian Pertanian, kata Emil, harus mengutamakan produksi dengan mendorong kekuatan ekonomi dalam negeri. Dengan cara ini sektor pertanian Indonesia bisa lebih kompetitif dan tidak bergantung kepada impor.

“Kenaikan impor pangan terjadi karena tiga lembaga tersebut tidak sinkron. Terlebih jika impor naik, stok dari Bulog juga naik. Ini menjadi sulit. Jadi, seharusnya (kementerian) pertanian mengatur produksi, Bulog mengatur distribusi, dan (kementerian) perdagangan mengatur masalah impor,” ujar Emil, di Jakarta, Kamis (16/01/2019).

Baca juga: RUU Perkelapasawitan Dinilai Melanggar Hak Asasi Manusia atas Petani Sawit

Pada 2018, Badan Pusat Statistik mencatat, impor pangan naik kurang lebih dua kali lipat dibandingkan tahun 2014 untuk berbagai jenis pangan. Angka impor beras, misalnya, sebesar 2.253.824.465 kilogram, daging 210.280.174 kilogram, kedelai 2.585.809.099 kilogram, dan krustasea 149.138.749 kilogram.

Adapun Koordinator Nasional Organisasi Indonesia Berseru Tejo Wahyu Jatmiko mengatakan keadaan pangan Indonesia dalam situasi berbahaya. Karena komoditas pangan termasuk kecil bahkan yang dihasilkan oleh petani Indonesia tidak mencapai 10 persen. “Presiden Jokowi saat ini hanya fokus kepada bagaimana mencukupi konsumsi tapi dari sisi produksi tidak disentuh,” kata Tejo.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/perkebunan-sawit-mulai-rambah-lahan-pangan-di-pulau-jawa/feed/ 0
Populasi Lutung Jawa Turun 30 Persen Dalam Tiga Generasi https://www.greeners.co/flora-fauna/populasi-lutung-jawa-turun-30-persen-dalam-tiga-generasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=populasi-lutung-jawa-turun-30-persen-dalam-tiga-generasi https://www.greeners.co/flora-fauna/populasi-lutung-jawa-turun-30-persen-dalam-tiga-generasi/#respond Thu, 30 Oct 2014 11:39:10 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_kehati&p=6307 Batu (Greeners) – Populasi lutung Jawa (Trachypithecus auratus auratus) terus menurun sejak 36 tahun terakhir di kawasan hutan-hutan di pegunungan di Jawa. Selama tiga generasi (panjang satu generasi 12 tahun) […]]]>

Batu (Greeners) – Populasi lutung Jawa (Trachypithecus auratus auratus) terus menurun sejak 36 tahun terakhir di kawasan hutan-hutan di pegunungan di Jawa. Selama tiga generasi (panjang satu generasi 12 tahun) populasinya menurun hingga lebih dari 30 persen akibat penangkapan untuk perdagangan satwa peliharaan secara ilegal, perburuan, dan hilangnya habitat.

Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa atau Javan Langur Center (JLC), The Aspinall Foundation Indonesia Program, bersama Balai Besar KSDA Jawa timur telah melepasliarkan lutung Jawa dengan total 73 individu yang tersebar di beberapa lokasi. Di antaranya di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Hyang, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, serta di kawasan Taman Hutan Raya R. Soerjo.

“Sejumlah lutung yang dilepasliarkan mampu bertahan hidup dan berkembang biak serta bergabung dengan populasi liar di habitat barunya,” kata Project Manager JLC, Iwan Kurniawan, Selasa (28/10/2014).

Menurut Iwan, ancaman umum yang menyebabkan penurunan populasi lutung Jawa di alam antara lain disebabkan degradasi dan hilangnya habitat akibat perluasan lahan pertanian serta pemukiman manusia. Perburuan untuk konsumsi makanan dan bertambahnya perdagangan untuk peliharaan juga menjadi sebab penurunan populasi.

Iwan mengungkapkan, pada kisaran 2003 – 2012 di kawasan Banyuwangi, Jember, Malang, dan Mojokerto, Jawa Timur, banyak lutung yang diburu untuk diambil dagingnya sebagai campuran bakso, serta makanan pendamping minuman keras. “Organ dalam lutung juga diambil guna obat sesak nafas, obat gatal, dan obat kuat,” kata Iwan.

Sejak 1999, lutung Jawa dimasukkan sebagai satwa yang dilindungi negara berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 733/Kpts-11/1999 tentang penetapan lutung Jawa sebagai satwa dilindungi. Spesies ini masuk kategori konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar (CITES) dalam Appendix II kategori Vulnerable (rentan).

Foto: greeners.co/H. Istiawan

Foto: greeners.co/H. Istiawan

Untuk mencegah kepunahan, JLC juga kerap menerima lutung Jawa sitaan dari masyarakat untuk direhabilitasi. Sudah lebih dari 30 individu yang dilepas di kawasan hutan Coban Talun, yang berada di kawasan hutan lindung Perhutani dan Tahura R Soerjo.

Menurut Iwan, semua lutung yang diterima JLC sebelum dilepasliarkan akan melalui tiga tahap adaptasi, yakni adaptasi lingkungan yang meliputi penyesuaian suhu, kelembapan udara, cuaca, dan lain-lain. Mereka juga harus beradaptasi dengan makanannya. Sebab, umumnya hasil sitaan biasanya tidak terbiasa dengan makanan di alam berupa dedaunan. Apalagi, lutung yang berasal dari kebun binatang Inggris yang diberi makan umbi-umbian sehingga tidak terbiasa dengan daun.

“Secara perlahan, mereka diberi dedaunan sampai benar-benar lupa terhadap makanan yang biasa dimakannya,” ujar Iwan.

Proses selanjutnya yang paling susah, kata Iwan, adalah adaptasi sosial. Sebab, adaptasi kelompok ini biasanya sering tidak cocok satu sama lain dan bertengkar antar individu. Biasanya butuh waktu 6 bulan hingga satu tahun lebih untuk membentuk satu kelompok yang solid dan bisa berkembang biak sehingga siap dilepas di hutan liar.

Kepala Resort KSDA Malang dan Batu, K Gunawan, mengatakan, pihaknya selalu mengirimkan lutung Jawa hasil sitaan dari masyarakat ke JLC agar bisa direhabilitasi dan selanjutnya dilepasliarkan di hutan. “Rata-rata dari peliharaan masyarakat,” ujar Gunawan.

Pihaknya juga secara berkala melakukan patroli guna mencegah upaya perburuan liar dan menekan perdagangan bebas satwa dilindungi yang dilakukan secara sembunyi. Sejauh ini, kata Gunawan, pihaknya masih konsentrasi memantau perdagangan satwa di pasar Splendid di Kota Malang. “Temuan terbaru yaitu perdagangan Jalak Bali yang penjualnya belum memiliki izin,” kata Gunawan.

(G17)

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/populasi-lutung-jawa-turun-30-persen-dalam-tiga-generasi/feed/ 0
Empat Ekor Lutung Jawa Dibebaskan Di Rimba Coban Talun https://www.greeners.co/berita/empat-ekor-lutung-jawa-dibebaskan-di-rimba-coban-talun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=empat-ekor-lutung-jawa-dibebaskan-di-rimba-coban-talun https://www.greeners.co/berita/empat-ekor-lutung-jawa-dibebaskan-di-rimba-coban-talun/#respond Wed, 29 Oct 2014 04:53:45 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6288 Malang (Greeners) – Empat ekor lutung Jawa Linseed, Diamond, Rus dan Bobby dilepas ke alam bebas pada Senin 27 Oktober setelah 1,5 tahun menjalani proses karantina dan rehabilitasi di Javan […]]]>

Malang (Greeners) – Empat ekor lutung Jawa Linseed, Diamond, Rus dan Bobby dilepas ke alam bebas pada Senin 27 Oktober setelah 1,5 tahun menjalani proses karantina dan rehabilitasi di Javan Langur Center (JLC) atau pusat rehabilitasi lutung jawa, Coban Talun, Kota Batu, Jawa Timur.

Linseed dan Diamond adalah lutung Jawa kelahiran kebun binatang Howletts, Inggris. Sedangkan Rus dan Bobby adalah dua dari tiga lutung sitaan yang masih survive, satu di antaranya mati karena tidak bisa diselamatkan.

Empat ekor lutung jawa yang dikepalai Booby sebagai pejantan ini akhirnya dilepas Balai Besar KSDA Jawa Timur dan JLC di kawasan hutan Gunung Biru, Coban Talun. Kawasan Gunung Biru berada di batas wilayah pengelolaan Tahura R. Soerjo dan Hutan Lindung Perhutani KPH Malang. Tipe habitat di kawasan tersebut merupakan hutan hujan pegunungan dengan vegetasi yang beragam.

Project Manager JLC, Iwan Kurniawan mengatakan, ada 65 jenis tumbuhan tingkat pohon dan 58 jenis di antaranya merupakan jenis tumbuhan pakan lutung jawa, seperti Quercus sondaicus (pasang), Slonea sigun (rambutan hutan), Engelhardia spicata (sapen), dan lain-lain.

Keluarga Bobby yang beranggotakan tiga lutung betina ini dilepas di kandang habituasi dulu yang berada di dalam hutan. Kandang hanya dibatasi jarring dengan luas sekira 5×5 meter persegi dengan tinggi juga sekitar 5 meter. Satu per satu keluarga Bobby mulai dilepas dari boks yang dipanggul empat relawan JLC yang sebelumnya harus berjalan sekira 1 jam dari tempat rehabilitasi.

Daily News Tiga Generasi Lutung Jawa 01 (1)

Mereka ditempatkan di kandang habituasi antara 3 sampai 4 hari sebelum kandang itu dibuka dan benar-benar bebas di alam liar. Tiga petugas monitoring juga akan melakukan monitoring selama tiga bulan penuh dan memantau pergerakan keluarga ini. Mereka setiap hari mencatat dan mendokumentasikan apa saja yang dimakan dan bergerak ke wilayah mana untuk pemantauan dan pendataan.

Kepala Resort KSDA Malang dan Batu, K. Gunawan, yang turut mengawal pelepasan lutung jawa ini mengaku peredaran perdagangan satwa dilindungi termasuk lutung jawa di wilayah malang Raya sudah menurun. Hampir seminggu tiga kali dirinya memantau pusat-pusat penjualan satwa seeprti di Pasar Splendid Kota Malang yang disinyalir sebagai tempat jual beli satwa liar dilindungi. “Sudah menurundi banding tahun sebelumnya,” kata Gunawan.

Selain itu, kesadaran masyarakat sekitar Coban Talun dan sekitarnya selama tiga tahun terakhir juga sudah tidak lagi seneaknya memanggul senjata untuk berburu satwa liar di hutan. Ini karena JLC juga kerap memberikan edukasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar hutan agar tidak melakukan perburuan lutung jawa. (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/empat-ekor-lutung-jawa-dibebaskan-di-rimba-coban-talun/feed/ 0
Akulturasi Kearifan Lokal Hingga Pembagian Bibit Tanaman di “Wayang Rokenrol” https://www.greeners.co/aksi/akulturasi-kearifan-lokal-hingga-pembagian-bibit-tanaman-di-wayang-rokenrol/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=akulturasi-kearifan-lokal-hingga-pembagian-bibit-tanaman-di-wayang-rokenrol https://www.greeners.co/aksi/akulturasi-kearifan-lokal-hingga-pembagian-bibit-tanaman-di-wayang-rokenrol/#respond Sat, 25 Oct 2014 11:05:12 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_event&p=6245 Jakarta (Greeners) – Tanggal satu bulan Suro merupakan tahun baru dalam kalender Jawa dan bertepatan dengan satu Muharram dalam penanggalan Hijriah. Satu Suro sendiri memiliki banyak pandangan dalam masyarakat Jawa […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tanggal satu bulan Suro merupakan tahun baru dalam kalender Jawa dan bertepatan dengan satu Muharram dalam penanggalan Hijriah. Satu Suro sendiri memiliki banyak pandangan dalam masyarakat Jawa karena pada tanggal tersebut dianggap sebagai sebuah hari yang kramat, terlebih bila jatuh pada Jumat Legi.

Saat Malam Satu Suro tiba, masyarakat Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa). Selain itu, Malam Satu Suro juga menjadi sebuah momen khusus yang dalam kebudayaan Jawa tradisional selalu diisi dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang digelar di tempat lapang atau balai desa.

Lantas, bagaimana jika dalam menyambut Malam Satu Suro tersebut, pertunjukan wayang digelar di sebuah cafe bertema Rock ‘n Roll?

Konsep yang tidak biasa ini digarap Awanama Art Habitat dan Folks Mataraman Institute. Hasilnya, sebuah pagelaran “Wayang Rokenrol” yang menggabungkan seni visual dan musik yang dilebur dan dikomposisikan secara apik dalam sebuah seni pertunjukan.

Salah seorang dalang dan penggagas pagelaran ini, Samuel Indratmo, menjelaskan, bahwa “Wayang Rokenrol” adalah sebuah pertunjukan wayang kontemporer yang diadakan dalam rangka menyambut Malam Satu Suro. Tujuannya, untuk memaknai kembali kegiatan kebudayaan wayang kulit dalam semangat kekinian.

“Jadi, judulnya itu Hamenangi Jaman Mletho yang artinya kehidupan ini sudah semakin tidak karuan,” jelas pria yang akrab dipanggil Sam ini saat berbincang ringan dengan Greeners di Rolling Stone Cafe, Jakarta, Jumat (24/10).

Beberapa mahasiswa dari Sanata Dharma Yogyakarta yang turut terlibat dalam "Wayang Rokenrol". Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Beberapa mahasiswa dari Sanata Dharma Yogyakarta yang turut terlibat dalam “Wayang Rokenrol”. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Sam mengutarakan kalau semakin hari negara ini sudah sangat tidak jelas (mletho), maka masyarakatnya juga jangan terlalu serius. Menurutnya, ketika zaman sudah tidak karuan, masyarakatnya juga harus tidak karuan pula.

“Tapi tidak karuannya bukan sembarangan, tapi dalam konteks bagaimana mencapai sebuah refleksi yang membangun,” imbuhnya.

Selain pertunjukan wayang, dalam pagelaran ini juga dibagikan berbagai macam bibit pohon kepada pengunjung. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Peneliti Konservasi Pusat Studi Lingkungan Sanata Dharma, Setia Budiawan, menerangkan bahwa Sanata Dharma dalam pagelaran ini membawa sekitar 2000 bibit tanaman hasil dari pembibitan di Sanata Dharma Yogyakarta dengan tujuan untuk memberikan penghasil oksigen bagi Ibukota Jakarta.

“Ini hasil dari mahasiswa baru Sanata Dharma yang memunguti biji-bijian yang ada di seputar kampus kemudian dibibitkan. Ini ada bibit tunjung, saputangan dan meranti,” ungkap Setia.

Sebagai informasi, perhelatan “Wayang Rokenrol” ini juga diisi dengan live painting oleh seniman-seniman kontemporer serta disemarakkan mini bazaar produk-produk lokal. Di barisan seniman visual hadir nama-nama besar, seperti Nasirun, Djoko Pekik, Putu Sutawijaya, Samuel Indratma, Yuswantoro Adi, Bambang Herras, dan Ampun Sutrisno.

Tak ketinggalan, hadir pula musisi Endy Baroque, Hasnan Hasibuan, Bagus Mazasupa, Teguh Jos, Akbar Wicaksono, dan Be Ge, serta dilengkapi penampilan spesial dari Young de Brock, Danilla, Sri Krishna dan Red Dot.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/akulturasi-kearifan-lokal-hingga-pembagian-bibit-tanaman-di-wayang-rokenrol/feed/ 0
Elang Jawa, Sang Garuda Tanah Jawa https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-jawa-sang-garuda-tanah-jawa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=elang-jawa-sang-garuda-tanah-jawa https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-jawa-sang-garuda-tanah-jawa/#comments Wed, 10 Jul 2013 08:16:05 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_kehati&p=3769 “Ik ben Garuda, Vishnoe’s voegel, die zijn vleugels uitslaat hoog hoven uw einlanden”. Itulah kalimat yang diucapkan Soekarno, bapak pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia, ketika diminta memberikan nama bagi maskapai […]]]>

“Ik ben Garuda, Vishnoe’s voegel, die zijn vleugels uitslaat hoog hoven uw einlanden”. Itulah kalimat yang diucapkan Soekarno, bapak pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia, ketika diminta memberikan nama bagi maskapai penerbangan negara yang baru saja lahir. Kalimat yang dalam bahasa Indonesia berarti “Aku adalah Garuda, burung milik Sang Wishnu yang membentangkan sayapnya menjulang tinggi di atas kepulauanmu”. Kalimat itu sendiri dikutip Sang Proklamator dari satu baris sajak berbahasa Belanda, Wayang-liederen karya Raden Mas Noto Soeroto.

Oleh Hariyawan Agung Wahyudi*

 

Sosok Garuda berasal dari tokoh imajiner dalam kitab Mahabarata, putra dari Begawan Kasyapa dan Sang Winata. Tokoh ini sering diwujudkan menjadi kendaraan Dewa Wishnu. Namun, dalam kehidupan nyata banyak orang meyakini bahwa Garuda adalah sosok nyata yang berwujud burung Elang. Di Pulau Jawa sendiri, di berbagai tempat orang meyakini bahwa Elang Jawa adalah sang Garuda itu sendiri.

Pemerintah sendiri menetapkan Elang Jawa sebagai simbol resmi negara pada 1950, dan menetapkan sebagai satwa nasional karena kemiripannya dengan Garuda dengan Keppres No.4/1993.

Burung pemangsa endemik Pulau Jawa ini memiliki nama ilmiah Nisaetus bartelsi. Panjang tubuh dari paruh sampai ekor berkisar antara 60 – 70 cm. Tubuhnya didominasi oleh warna kuning kecoklatan pucat dengan coret-coret hitam menyebar di atasnya. Kepala berwarna coklat kemerahan dengan jambul tinggi menonjol. Jambul yang terdiri atas 2 – 4 helai bulu ini menjadi ciri khas utama yang membedakan elang jawa dengan kerabat terdekatnya. Bulu pada kaki menutupi tungkai hingga dekat pangkal jari, yang merupakan ciri pembeda marga Nisaetus dengan marga lainnya. Elang Jawa betina berukuran relatif lebih besar dengan elang jawa jantan.

Sebagai burung endemik Pulau Jawa, ini berarti bahwa kelestariannya bergantung pada habitat alami hutan di pulau terpadat di Indonesia ini. Elang Jawa hidup di habitat hutan hujan tropis dari ketinggian 0 – 2000 m dpl. Namun dalam dasawarsa terakhir, catatan perjumpaan dengan satwa kharismatik ini paling sering terjadi pada ketinggian 500 – 1000 m dpl. Dalam penelitian Syartinilia dan kawan-kawan pada tahun 2010, diperkirakan hanya tersisa 325 pasang saja Elang Jawa yang tersisa.

Zaini Rakhman dalam bukunya yang berjudul “Garuda Mitos dan Faktanya di Indonesia”, menyebutkan bahwa keberadaan Elang Jawa hanya tersisa di puncak-puncak gunung atau dataran tinggi saja. Hal ini dinilainya sangat beresiko tinggi karena di daerah tersebut keberadaan pakan atau mangsanya sangat terbatas.

ha.wahyudi@biodiversitysociety.orgMangsa utama Elang Jawa sendiri adalah tikus lokal yang hidup di Pulau Jawa yaitu jenis Sundamys maxy. Tragisnya, status tikus yang juga dikenal dengan Bartels’ rat anak dari penemu Elang Jawa, dinyatakan terancam punah oleh IUCN. Selain tikus sebagai makanan utama, Elang Jawa juga memburu mamalia kecil seperti tupai, musang sampai dengan anakan monyet ekor panjang. Dari jenis santapannya tersebut membuat Elang Jawa menjadi top predator dalam rantai makanan alami. Maka menjadi penting keberadaaan burung pemangsa tersebut karena mempunyai fungsi ekologis sebagai penjaga agar populasi tikus dan ular tidak meledak di alam.

Jenis mangsa Elang Jawa di atas lebih banyak menempati kawasan hutan dengan pepohonan tinggi yang selalu hijau. Rata-rata ketinggian pohon antara 40-50 meter. Elang Jawa memilih pohon-pohon tinggi diduga karena untuk pemeliharaan dan perlindungan anaknya dari pemangsa lain. Ketergantungan semacam inilah yang membuat Elang Jawa sulit dijumpai di habitat hutan yang terbuka. Fragmentasi hutan juga membuat Elang ini sulit bertahan hidup. Jarang sekali ditemui Elang Jawa berburu di daerah terbuka untuk memangsa ular atau jenis reptil lainnya.

Keadaan ini semakin mengkhawatirkan dengan tingginya perburuan dan perdagangan ilegal yang semakin meningkat. Padahal, sepasang elang jawa hanya bertelur satu butir saja dalam periode 2-3 tahun. Tentu saja, tanpa ada tindakan hukum yang tegas terhadap perburuan dan perdagangan satwa dilindungi ini, kepunahan garuda dari tanah Jawa merupakan hal yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.***

Penulis adalah penggiat konservasi spesies dan pendiri komunitas Biodiversity Society di Banyumas, Jawa Tengah.

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-jawa-sang-garuda-tanah-jawa/feed/ 3
Desa Kalisari Targetkan Seluruh Limbah Tahu Jadi Biogasari https://www.greeners.co/berita/desa-kalistargetkan-seluruh-limbah-tahu-jadi-biogasari/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=desa-kalistargetkan-seluruh-limbah-tahu-jadi-biogasari https://www.greeners.co/berita/desa-kalistargetkan-seluruh-limbah-tahu-jadi-biogasari/#respond Thu, 28 Mar 2013 04:35:17 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3503 Banyumas (Greeners) -Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) menargetkan seluruh limbah industri tahu di daerah setempat diolah menjadi biogas pada 2014 mendatang. Jika tercapai, maka ada 300 rumah […]]]>

Banyumas (Greeners) -Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) menargetkan seluruh limbah industri tahu di daerah setempat diolah menjadi biogas pada 2014 mendatang. Jika tercapai, maka ada 300 rumah yang bakal teraliri biogas yang digunakan untuk bahan bakar kompor.

Kepala Desa Kalisari H Wibowo mengungkapkan hingga kini desanya telah mampu mencukupi kebutuhan gas untuk 100 rumah lebih. “Biogas tersebut merupakan hasil dari pengolahan limbah tahu. Kebetulan di Desa Kalisari merupakan sentra pembuatan tahu. Karena dari dari seribu keluarga lebih, ada 300 lebih rumah yang menjadi UKM tahu,”jelas Wibowo, Rabu (27/3).

Dikatakan oleh Wibowo, tahun 2013 hingga 2014 mendatang, pihaknya mendapat dana sekitar Rp3,5 miliar untuk pengembangan biogas. “Dana tersebut berasal dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jateng yang dikucurkan secara bertahap selama dua tahun berturut-turut. Tahun ini baru Rp1,5 miliar, sisanya tahun berikutnya,”kata Wibowo.

Menurutnya, dana tersebut untuk pembuatan reaktor atau digester dan infrastruktur teknologi lainnya. “Nantinya, reaktor tersebut bakal mengolah limbah tahu sebanyak 4,5 ton per hari yang berasal dari 148 perajin tahu. Dari hasil tersebut, setidaknya ada 200-an rumah yang bakal dilayani biogas,”tambahnya.

Sebelumnya, pada 2012 lalu, BLH Jateng telah membantu instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang menghasilkan biogas.

“Kapasitasnya mencapai 1,4 ton dengan limbah cair sebanyak 9.800 liter yang berasal dari 45 UKM tahu. Saat sekarang biogas telah melayani 42 keluarga. Tetapi sebetulnya, kapasitasnya masih bisa melayani sampai 71 keluarga. Itu berdasarkan penelitian dari ahli BPPT dan Kementrian Ristek,”ujar Wibowo.

Menurut dia, teknologi biogas di Desa Kalisari pertama kali digarap oleh BPPT dan Kementerian Ristek. “Sebelum teknologi biogas, diawali dengan pembangunan IPAL yang dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang kemudian dilanjutkan oleh BPPT dan Kementerian Ristek dengan membuat instalasi biogas percobaan. Ternyata hasilnya sangat bagus,”kata Wibowo.

Dikatakannya, biogas mampu mencukupi kebutuhan gas 27 keluarga yang dihasilkan dari 5 ribu liter limbah tahu 19 UKM. “Itu merupakan tonggak pemanfaatkan biogas berbahan baku limbah tahu di Desa Kalisari. Selain menghasilkan biogas, limbahnya juga aman bagi lingkungan. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan limbah dari UKM tanpa diolah. Misalnya pH yang sebelumnya 4,5 kini menjadi 6,9 atau hampir netral,”ujarnya.

Dengan optimalnya fungsi instalasi yang menghasilkan biogas tersebut, lanjut Wibowo, maka dirinya optimis tujuan Kalisari sebagai desa mandiri akan terwujud. “Yang terpenting adalah menjaga konsistensi dari masyarakat untuk mengelola. Sebab, pengelolaannya diserahkan kepada masing-masing kelompok di sekitar IPAL,”kata Wibowo.

Pemanfaatan biogas mampu menghemat konsumsi elpiji. “Misalnya dalam satu keluarga, setiap bulan konsumsi elpiji 3 kg antara 3-4 tabung. Pemanfaatan biogas tidak hanya warga yang memiliki UKM tahu, tetapi juga keluarga tidak mampu,”tambahnya.

Kepala Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Banyumas Anton Adi Wahyono mengungkapkan bahwa Kalisari menjadi contoh desa mandiri energi. “Di Banyumas, pemanfaatan energi terbarukan paling bagus di Desa Kalisari. Di desa setempat, merupakan sampel industri kecil berwawasan lingkungan dan mampu menghasilkan energi terbarukan.” (G12)

]]>
https://www.greeners.co/berita/desa-kalistargetkan-seluruh-limbah-tahu-jadi-biogasari/feed/ 0
DKI Anggarkan Rp200 Miliar Untuk Sumur Resapan https://www.greeners.co/berita/dki-anggarkan-rp200-miliar-untuk-sumur-resapan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dki-anggarkan-rp200-miliar-untuk-sumur-resapan https://www.greeners.co/berita/dki-anggarkan-rp200-miliar-untuk-sumur-resapan/#respond Wed, 13 Feb 2013 04:01:50 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3363 Jakarta (Greeners) –  Pemprov DKI menargetkan pembuatan 20 ribu sumur resapan dapat dilakukan tahun ini. Anggaran sebanyak Rp200 miliar telah dialokasikan dalam APBD DKI 2013. Sejumlah sumur resapan itu dibuat […]]]>

Jakarta (Greeners) –  Pemprov DKI menargetkan pembuatan 20 ribu sumur resapan dapat dilakukan tahun ini. Anggaran sebanyak Rp200 miliar telah dialokasikan dalam APBD DKI 2013. Sejumlah sumur resapan itu dibuat di seluruh wilayah DKI untuk mengantisipasi banjir dan mengisi air di lapisan tanah dalam.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan pembuatan sumur resapan di seluruh wilayah DKI Jakarta sudah sangat mendesak. Karena itu, Pemprov DKI telah memasukkan program pembuatan sumur resapan sebanyak 20 ribu unit dengan anggaran Rp200 miliar.

“Alokasi anggaran itu untuk pembuatan sumur resapan di ruang publik, kampung-kampung, trotoar di jalan-jalan yang sering tergenang. Juga untuk kantor-kantor Pemda DKI di wilayah. Untuk (pembuatan sumur resapan di) pemukiman masyarakat juga (anggarannya) dari situ,” kata Joko Widodo (Jokowi) di Balaikota DKI, Selasa (12/2).

Supaya mudah dilakukan oleh masyarakat, khususnya gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan, Pemprov akan menyusun standar pembuatan sumur resapan. Kedepannya, ada sumur resapan dengan kedalaman 4 meter, 100 meter hingga 120 meter. Standar pembuatan sumur resapan akan dituangkan dalam Peraturan Gubernur (Pergub). Setelah itu diimplementasikan dengan menyusun instruksi gubernur (Ingub).

“Ini baru dibuat untuk Pergubnya. Bulan-bulan ini langsung kita buat. Nanti penyusunan pergub dibarengi dengan Ingub,” ujarnya.

Isi Pergub dan Ingub mengatur kewajiban pengelola atau pemilik gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan harus membuat sumur resapan. Bila tidak dilaksanakan, akan dikenakan sanksi hingga pencabutan izin usaha atau izin mendirikan bangunan (IMB).

Menurutnya, pemeliharaan sumur resapan yang dibuat sangat mudah karena didalamnya sudah terproteksi dengan saringan.  Beda dengan sumur resapan yang lama, menggunakan ijuk dan batu untuk menyaring air.

“Sumur resapan yang sekarang sudah terproteksi dengan saringan. Kalau yang dulu-dulu kan diberi ijuk dan batu kayak septic tank jaman kuno. Kalau yang ini sudah bagus. Ini saya suruh coba, dan sudah benar bagus. Pipanya sudah ada yang bagus. Saya hanya ingin melihat itu. Kalau yang dulu kan harus diberikan dari lumpur dan endapan,” paparnya.

Seperti yang diketahui, Jokowi telah membuat sebanyak 9 sumur resapan di wilayah Balaikota DKI Jakarta. Sumur resapan tersebut dibuat setelah halaman Balaikota DKI tergenang banjir beberapa waktu lalu. (G06)

]]>
https://www.greeners.co/berita/dki-anggarkan-rp200-miliar-untuk-sumur-resapan/feed/ 0
Alam, Kearifan Suku Tengger dan Tahun Baru https://www.greeners.co/sosok-komunitas/alam-kearifan-suku-tengger-dan-tahun-baru/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=alam-kearifan-suku-tengger-dan-tahun-baru https://www.greeners.co/sosok-komunitas/alam-kearifan-suku-tengger-dan-tahun-baru/#respond Tue, 01 Jan 2013 06:38:33 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_community_act&p=3268 MALANG (Greenersmagz) – Dukun Ngatrulin mengucapkan mantra-mantra di depan aneka persembahan di Sanggar Pamujan, Desa Ngadas, Poncokusumo, Malang, Jawa Timur, Minggu (30/12/2012). Itu adalah prosesi puncak upacara adat Unan-unan bagi […]]]>

MALANG (Greenersmagz) – Dukun Ngatrulin mengucapkan mantra-mantra di depan aneka persembahan di Sanggar Pamujan, Desa Ngadas, Poncokusumo, Malang, Jawa Timur, Minggu (30/12/2012). Itu adalah prosesi puncak upacara adat Unan-unan bagi masyarakat tengger. Ribuan masyarakat Tengger pun diam, terhanyut dengan mantra sang dukun yang memimpin upacara Unan-unan. Sesekali mereka mengucap kata “Nggeh” atau “Iya” dalam bahasa Indonesia saat bacaan mantra Mbah Ngatrulin berhenti sementara.

Kabut putih yang datang menambah suasana magis prosesi upacara adat Unan-unan yang diselenggarakan sewindu sekali atau lima tahun sekali (sewindu menurut kalender tengger adalah lima tahun) ini. Aneka persembahan seperti kepala kerbau yang ditaruh di ancak dengan ubo rampe 100 tumpeng yang dilengkapi beragam hasil bumi dan dibungkus daun tlotok pun dibacakan mantra oleh Mbah Ngatrulin. Satu-persatu persembahan dimantrai. Di sela-sela membaca mantra, persembahan atau simbol-simbol di dalam upacara Unan-unan seperti beras, tali putih dibagikan kepada masyarakat setelah dibacakan mantra sebelumnya. Tali putih tersebut diikatkan di tangan kanan mereka dan tidak boleh dilepas kecuali lepas sendiri.

Sedangkan persembahan kepala kerbau yang dibelakangnya terdapat 100 tumpeng yang dibungkus daun tlotok menjadi rebutan masyarakat selesai prosesi upacara adat. Selesai berebut tumpeng, mereka pun berbondong-bondong menuju rumah Kepala Desa untuk melaksanakan kauman atau makan-makan bersama. Suasana akrab dan guyub sangat terasa di antara mereka. Raut muka lega dan senang terlihat di wajah mereka. Sebab, telah melaksanakan upacara adat lima tahun sekali yang dipersiapkan sejak jauh-jauh hari dengan dana sukarela yang berasal dari iuran masyarakat Desa Ngadas sendiri.

Menurut Dukun Ngatrulin, upacara Unan-unan merupakan salah satu upacara adat masyarakat Tengger sebagai bentuk penghormatan kepada alam semesta untuk menghindari malapetaka. Selain itu, juga bertujuan untuk memberikan sedekah kepada penjaga sumber mata air yang telah memberikan manfaat bagi kehidupan serta menjaganya. “Warga tengger tidak akan berani menebang pohon-pohon besar yang di bawahnya terdapat sumber mata air,” kata Dukun Ngatrulin saat diwawancarai Greenersmagz.

greeners_communityact_kearifan_tengger_3

Ngatrulin yang sudah ditunjuk sebagai dukun atau pemimpin upacara adat di Desa Ngadas, Poncokusumo, Malang, sejak tahun 1955 menjelaskan masyarakat suku Tengger sangat menghormati sekali terhadap alam seperti hutan, sumber mata air, tanah pertanian. Sehingga, mereka mempunyai cara-cara tersendiri untuk memperlakukan alam dan merawatnya selama berpuluh-puluh tahun. Termasuk menjaga keseimbangan alam menurut cara mereka sendiri dengan melakukan upacara-upacara adat sebagai bentuk penghormatan kepada alam.

Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur (Walhi), Purnawan D Negara, yang juga sedang melakukan penelitian mengenai hukum adat suku Tengger di Desa Ngadas, menyatakan, masyarakat Ngadas atau Suku Tengger, kalau ditanya lebih takut mana  tidak ada dukun atau kepala desa, maka jawabnya adalah lebih takut tidak ada dukun. “Mereka lebih takut tidak ada dukun atau pemimpin upacara adat, ini membuktikan mereka patuh sekali terhadap hukum adat,” kata Purnawan.

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/alam-kearifan-suku-tengger-dan-tahun-baru/feed/ 0
Ranupane, Di Tengah Ancaman Erosi Kultural dan Erosi Ekologi https://www.greeners.co/berita/ranupane-di-tengah-ancaman-erosi-kultural-dan-erosi-ekologi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ranupane-di-tengah-ancaman-erosi-kultural-dan-erosi-ekologi https://www.greeners.co/berita/ranupane-di-tengah-ancaman-erosi-kultural-dan-erosi-ekologi/#respond Thu, 27 Dec 2012 04:29:02 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3259 MALANG (Greenersmagz) – Hujan baru saja mengguyur Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Air lumpur mengalir perlahan namun pasti turun dari atas bukit yang terlihat coklat. Melalui celah […]]]>

MALANG (Greenersmagz) – Hujan baru saja mengguyur Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Air lumpur mengalir perlahan namun pasti turun dari atas bukit yang terlihat coklat. Melalui celah selokan, dan kadang meluber ke jalan sehingga aspal jalan desa terlapisi air lumpur. Air lumpur terus mencari tempat yang lebih rendah hingga akhirnya bermuara ke Danau Ranupane. Danau eksotis yang berada di ketinggian 2.162 mdpl di kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Danau yang baru saja menjadi lokasi pengambilan gambar film 5cm ini kini menghadapi tantangan yang cukup serius.

Danau seluas kurang lebih 2,5 hektare ini memiliki kenangan tersendiri bagi para pendaki yang akan menuju Gunung Semeru. Bahkan penyanyi almarhum Gombloh pun menciptakan lirik salah satu lagunya yang terinspirasi dari Danau Ranupane. Danau ini berada di tepi Desa Ranupane yang luasnya sekitar 14 hektare. Namun, kondisi Danau Ranupane kini jauh berbeda dengan kondisi 10 tahun silam. Diperkirakan sudah lebih dari 30 persen danau ini mengalami penyempitan karena mengalami sedimentasi akibat lumpur dari perbukitan yang kian menipis. Tergerus air hujan dan mengalir ke danau.

Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur, Purnawan Dwikora Negara, menjelaskan, ancaman Danau Ranupane tinggal cerita hanya soal waktu saja, jika semua pihak terutama pemerintah tidak mengambil sikap yang strategis bersama warga lokal untuk menyelamatkan danau yang eksotis ini. “Bertahun-tahun tertutup tanaman salvinia, tapi bisa dibersihkan secara gotong royong dalam tempo 40 hari,” kata Purnawan D Negara, ditemui Greenersmagz, Rabu (26/12/2012).

Menurutnya, persoalan sedimentasi tidak semata-mata karena masalah kesalahan pengolahan lahan pertanian yang dilakukan warga dengan tidak melakukan system teras iring. Purnawan mengambil contoh bahwa sudah bertahun-tahun warga Tengger melakukan sistem pertanian seperti saat ini dan tidak ada persoalan. Kalau sekarang memunculkan erosi yang tinggi perlu diteliti apakah memang masalah teknis pengolahan lahan atau yang lain.
Ia menjelaskan, warga Suku Tengger mempunyai aturan-aturan tertentu dalam memperlakukan alam seperti mengolah lahan pertanian maupun mengambil batang pohon dan lain sebagainya. Saat ini, tidak semua warga di Desa Ranupane yang menggarap lahan merupakan orang Tengger. Sehingga ada nilai-nilai dan aturan-aturan warga Tengger yang tidak dilakukan sebagian besar warga. “Saya melihat ada erosi kultural yang berujung pada erosi ekologis di sana,” kata Purnawan.

Ditambahkan Purnawan, saat ini yang paling tepat dilakukan adalah melakukan moratorium dengan mengajak warga sekitar berembug untuk tidak menanam tanaman yang panen dalam hitungan bulan di lahan-lahan yang kritis. Ia yakin kalau ini dilakukan dengan pendekatan kultural bisa terlaksana, karena sebenarnya masyarakat sudah mempunyai kearifan lokal menganai masa tanam yang baik dan melarang mengganggu wilayah-wilayah tertentu.

Salah satu petani yang tinggal di Desa Ranupane, Budi Santoso, mengakui jika ketinggian bukit-bukit yang berada di sekitar Danau Ranupane memang mengalami penurunan akibat erosi. Ia mengaku jika lahan di perbukitan Danau Ranupane tidak bisa diolah dengan menggunakan sistem teras iring karena kontur tanahnya yang gembur. “Saya sudah pernah mencobanya namun tetap tidak bisa,” kata Budi yang tinggal di sana sejak tahun 90-an.

Pengendali Eksosistem Hutan, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Boiga, mengatakan, pihaknya sudah mengajak masyarakat setempat untuk membuat jebakan-jebakan lumpur untuk mengurangi derasnya lumpur yang masuk ke danau ketika musim hujan. Selain itu, Ia juga mengajak para petani di sana mengolah lahan dengan membuat system teras iring. “Tapi ya warga tetap bandel,” ujarnya.

Untuk upaya pengerukan, kata Boiga, sulit dilakukan karena mendatangkan alat berat ke sana sangat sulit dengan kondisi jalan yang sempit dan menanjak. Karena itu, saat ini yang dilakukan taman nasional adalah memberikan sosialiasi pentingnya menjaga dan menyelamatkan Danau Ranupane dengan melakukan pengolahan lahan yang benar untuk meminimalisir erosi.

Harapan warga sekitar untuk melihat Danau Ranupane bersih dan indah seperti dulu masih ada. Namun, kata Purnawan, mereka takut untuk bertindak karena beranggapan itu wilayah taman nasional sehingga semacam ada keterputusan komunikasi antara pemerintah dengan warga desa. “Yang pasti, Danau Ranupane akan menjadi cerita jika tidak diselamatkan,” Pungkas Purnawan. (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/ranupane-di-tengah-ancaman-erosi-kultural-dan-erosi-ekologi/feed/ 0
Seekor Elang Jawa Kembali Mengangkasa di Lereng Selatan Gunung Slamet https://www.greeners.co/berita/seekor-elang-jawa-kembali-mengangkasa-di-lereng-selatan-gunung-slamet/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=seekor-elang-jawa-kembali-mengangkasa-di-lereng-selatan-gunung-slamet https://www.greeners.co/berita/seekor-elang-jawa-kembali-mengangkasa-di-lereng-selatan-gunung-slamet/#respond Thu, 15 Nov 2012 04:47:54 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3179 Purwokerto (Greenermagz) – Seekor Elang Jawa (Spizaetus Bartelsi) yang merupakan spesies satwa langka, terancam punah dan dilindungi ini, dilepasliarkan kembali ke alam di Desa Melung, di Desa Melung Kecamatan Kedungbanteng […]]]>

Purwokerto (Greenermagz) – Seekor Elang Jawa (Spizaetus Bartelsi) yang merupakan spesies satwa langka, terancam punah dan dilindungi ini, dilepasliarkan kembali ke alam di Desa Melung, di Desa Melung Kecamatan Kedungbanteng Banyumas atau di kawasan Gunung Slamet bagian selatan.

Pelepasliaran Elang Jawa yang dilakukan oleh Wakil Bupati Banyumas Achmad Husein, merupakan kegiatan yang dilakukan bersama Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah dengan Biodiversity Society, Suaka Elang, Raptor Indonesia (Rain) , PT Indonesia Power dan masyarakat Desa Melung.

Elang Jawa atau yang identik dengan burung Garuda itu merupakan hasil sitaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat yang sempat dititipkan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Gadog, Bogor. Gunawan dari Suaka Elang mengatakan Elang Jawa itu kemudian direhabilitasi di Suaka Elang sebelum dilepasliarkan di Desa Melung pada Rabu (14/11) kemarin.

Sedangkan Zaini Rahman, Ketua Raptor Indonesia menjelaskan Desa Melung dipilih untuk pelepasliaran “Dokjali” karena memiliki kelayakan ekologis sebagai habitat Elang Jawa karena memiliki potensi habitat untuk Elang Jawa, dengan indikator ditemukannya satwa mangsa yang melimpah di kawasan tersebut.

“Kawasan Gunung Slamet merupakan benteng habitat terbagus untuk Elang Jawa di kawasan Jawa bagian tengah,” kata Zaini.
Sementara Hariyawan Agung Wahyudi, Pendiri komunitas Biodiversity Society menjelaskan berdasarkan hasil pengamatan mereka, Desa Melung merupakan jalur perlintasan migrasi burung pemangsa (raptor) dari Asia Timur menuju Indonesia melalui Sumatera, Jawa sampai ke Nusa Tenggara.

Elang Jawa yang diadopsi oleh PT Indonesia Power dan diberi nama “Dokjali” oleh Wakil Bupati Banyumas yang melepasliarkannya itu. Dokjali sendiri merupakan istilah yang digunakan masyarakat Banyumas untuk menyebut Elang Jawa. Dokjali ini mengalami masa adaptasi selama beberapa hari di Desa Melung. Dokjali tersebut ditempatkan di kandang habituasi dengan dinding jaring yang bakal diturunkan ketika pelepasliaran.

Sesaat sebelum dilepasliarkan kembali ke alam liarnya, Wakil Bupati Banyumas Achmad Husein mengatakan pihaknya sangat mendukung upaya pelestarian Elang Jawa. “Dengan melestarikan Elang Jawa, sama artinya dengan melestarikan Burung Garuda yang berarti melestarikan lambing negara,” katanya.

Sedangkan Timur Sumardiyanto, Koordinator Biodiversity Society mengatakan harapan pelepasliaran “Dokjali” adalah sebagai pernyataan politis dan edukasi konservasi yang kuat untuk nasib satwa dan mempromosikan nilai-nilai konservasi lokal. meningkatkan konservasi jangka panjang spesies atau populasi lokal Elang Jawa di kawasan tersebut, dan mengembalikan peran dan fungsi ekologi dan biologi satwa yang dilepasliarkan. (G02)

]]>
https://www.greeners.co/berita/seekor-elang-jawa-kembali-mengangkasa-di-lereng-selatan-gunung-slamet/feed/ 0
JLC Lepas 13 Ekor Lutung Jawa di Hutan Coban Talun https://www.greeners.co/berita/jlc-lepas-13-ekor-lutung-jawa-di-hutan-coban-talun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jlc-lepas-13-ekor-lutung-jawa-di-hutan-coban-talun https://www.greeners.co/berita/jlc-lepas-13-ekor-lutung-jawa-di-hutan-coban-talun/#respond Fri, 14 Sep 2012 04:05:19 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3044 MALANG (Greenersmagz) – Javan Langur Center atau pusat rehabilitasi Lutung Jawa sub spesies jawa bagian timur (trachypithecus auratus) melepas 13 ekor lutung jawa di hutan kawasan Coban Talun, Kota Batu, […]]]>

MALANG (Greenersmagz) – Javan Langur Center atau pusat rehabilitasi Lutung Jawa sub spesies jawa bagian timur (trachypithecus auratus) melepas 13 ekor lutung jawa di hutan kawasan Coban Talun, Kota Batu, Jawa Timur setelah menjalani rehabilitasi sejak tahun 2008 lalu.

Satu per satu lutung di kandang penangkaran dimasukkan ke dalam kotak kayu untuk dipindahkan ke kandang pelepasan di dalam hutan di kawasan Coban Talun. Lutung-lutung tersebut terbagi dalam dua kelompok, masing-masing kelompok enam ekor yang terdiri dari satu pejantan lima ekor betina. Sebelumnya, mereka telah menjalani bongkar pasang kelompok sebelum akhirnya terbentuk sebuah kelompok. “Proses pembentukan kelompok ini yang butuh waktu lama,” kata Manajer Project JLC Iwan Kurniawan, sebelum memindahkan kelompok lutung, Kamis (13/09/2012).

Menurutnya, dua kelompok lutung ini akan dilepas secara seremonial pada hari Sabtu (15/09/2012) lusa. Namun, hari ini dua kelompok lutung ini dipindahkan dulu di kandang pelepasan yang berada di dalam hutan.

Lokasi pelepasan dua kelompok lutung ini, kata Iwan, merupakan hutan primer yang merupakan habitat lutung jawa. Menurutnya, di Jawa Timur, terdapat sekitar 2.500 sampai 3.000 ekor lutung jawa yang terlihat di lapangan. Sayangnya jumlah itu tidak seimbang dengan luasan hutan yang ada karena banyak areal yang dulu merupakan habitat lutung kini beralih fungsi.

Di hutan kawasan Coban Talun ini terdapat 69 jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan makan lutung dan hampir 90 persen tumbuhan di hutan itu juga termasuk jenis makanan lutung.  Iwan menambahkan, sekitar tahun 1990-an, di hutan kawasan Coban Talun merupakan habitatnya lutung jawa, namun karena banyak perburuan dan pembalakan liar, saat ini hanya terdeteksi 2 kelompok saja. Itupun tempatnya di dalam hutan paling dalam.

Lokasi pelepasan dua kelompok lutung ini berada di kawasan pinggir hutan dan tidak berdekatan dengan lokasi kelompok lutung di hutan bagian dalam. Tujuannya, untuk memudahkan dalam pengawasan terhadap dua kelompok lutung ini. Sebab, meski sudah dilepas di alam bebas, namun pergerakan mereka tetap dipantau oleh petugas sejauh mana perkembangan mereka di alam.

JLC juga menggandeng pihak masyarakat sekitar hutan agar tidak melakukan perburuan liar di hutan itu serta mengajak mereka untuk turut menjaga kelestarian hutan dan habitat lutung. Petugas Perhutani, Sigit juga berharap agar setelah lutung tersebut dilepas, masyarakat sekitar hutan tidak memburunya. “Kami sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak memburu lutung,” katanya. (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/jlc-lepas-13-ekor-lutung-jawa-di-hutan-coban-talun/feed/ 0
Tareko Malang Tak Siap Jadi Lembaga Konservasi, 51 Satwa Langka Dikembalikan https://www.greeners.co/berita/tak-siap-jadi-lembaga-konservasi-51-satwa-langka-di-tareko-dikembalikan-ke-bksda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tak-siap-jadi-lembaga-konservasi-51-satwa-langka-di-tareko-dikembalikan-ke-bksda https://www.greeners.co/berita/tak-siap-jadi-lembaga-konservasi-51-satwa-langka-di-tareko-dikembalikan-ke-bksda/#respond Wed, 05 Sep 2012 03:00:44 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3001 MALANG (Greenersmagz) – Sebanyak 51 satwa langka yang dikelola taman rekreasi kota (Tareko) Malang bakal dikembalikan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur. Pengembalian satwa ini dilakukan karena […]]]>

MALANG (Greenersmagz) – Sebanyak 51 satwa langka yang dikelola taman rekreasi kota (Tareko) Malang bakal dikembalikan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur. Pengembalian satwa ini dilakukan karena Tareko tidak siap berubah menjadi lembaga konservasi yang salah satu persyaratannya harus membentuk perusahaan daerah dan memiliki lahan seluas 10 hektare untuk konservasi satwa.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Malang, Ida Ayu Wahyuni, mengatakan, lokasi kandang yang ada di tareko juga tidak layak sebagai tempat konservasi satwa. Bahkan, kata Ida, ada beberapa satwa yang mati karena tidak terawat. Ia mengaku akan mengembalikan satwa secara bertahap. Di antaranya adalah siamang, merak, ular, dan rajawali.

“Nanti semua satwa langka dan dilindungi akan akan kita kembalikan kepada BKSDA,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Malang, Ida Ayu Wahyuni, Selasa (04/09/2012).

Data satwa di Tareko Malang saat ini ada 51 ekor satwa di dalam Tareko ini yang terdiri dari 19 ekor mamalia, 3 ekor primata, 28 ekor aves, dan 1 ekor reptil. Selain itu, ada 49 ekor satwa yang tidak dilindungi yang dikoleksi lembaga ini.

Ijin penangkaran satwa di Tareko Malang ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan tahun 2007. Namun pihak Tareko Malang sulit merealisasikan penangkaran yang sesuai standar. Ida mengungkapkan banyak kendala untuk melakukan perubahan status badan hukum.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT)  Tareko Nur Asmi menambahkan, Tareko sulit diubah status badan hukumnya menjadi BUMD karena banyak kandang satwa yang belum layak. Selain itu, sumber daya manusia untuk pengelola juga tidak siap.

UPT dan Dispartabud mengusulkan penolakan perubahan status Tareko termasuk konsekuensi dicabutnya status badan Lembaga Konservasi dengan menyerahkan seluruh satwa langka ke lembaga konsevasi lainnya.

Perubahan status dari izin lembaga konservasi menjadi BUMD ini diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan (PMK) Nomor : P.01/Menhut-II/2007 Tentang Perubahan PMK Nomor P.53/Menhut-II/2006 tentang Lembaga Konservasi.

Salah satu pasal dalam peraturan itu menyebutkan, dalam jangka waktu  5 tahun sejak pendaftaran sebagai Lembaga Konservasi, Pemerintah Daerah harus membentuk BUMD untuk mengelola lembaga konservasi dimaksud, dan melaporkan pelaksanaannya kepada Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.

Ketua Pro Fauna Indonesia, Rosek Nursahid, mempertanyakan soal ijin Tareko sebagai sebuah lembaga konservasi. Ia juga mengkritisi Kementerian Kehutanan selaku institusi pemberi izin, yang tidak pernah melakukan evaluasi dan pembinaan kepada sebuah lembaga yang diberi izin konservasi.

Rosek berpendapat Tareko lebih baik ditutup total dari berbagai kegiatan konservasi karena tidak memenuhi standar sebuah lembaga konservasi.“Saya sangat setuju sekali jika satwa itu dikembalikan, karena Tareko tidak memenuhi syarat sebagai sebuah lembaga konservasi,” kata Rosek.

Menurutnya, Tareko harus lebih memerhatikan satwa yang tersisa nanti meskipun tidak dikembalikan semua. Perhatian mulai dari kesehatan hingga makanan sehari-hari agar satwa yang tetap berada di sana terjamin hidupnya. (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/tak-siap-jadi-lembaga-konservasi-51-satwa-langka-di-tareko-dikembalikan-ke-bksda/feed/ 0
13 Ekor Lutung Jawa Siap Dilepas Ke Hutan https://www.greeners.co/berita/13-ekor-lutung-jawa-siap-dilepas-ke-hutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=13-ekor-lutung-jawa-siap-dilepas-ke-hutan https://www.greeners.co/berita/13-ekor-lutung-jawa-siap-dilepas-ke-hutan/#respond Tue, 24 Jul 2012 03:00:19 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2921 MALANG (Greenermagz) –Tiga belas ekor Lutung Jawa yang direhabilitasi Javan Langur Center (JLC) atau tempat rehabilitasi lutung jawa sub spesies jawa bagian timur (trachypithecus auratus) siap dilepas di kawasan hutan […]]]>

MALANG (Greenermagz) –Tiga belas ekor Lutung Jawa yang direhabilitasi Javan Langur Center (JLC) atau tempat rehabilitasi lutung jawa sub spesies jawa bagian timur (trachypithecus auratus) siap dilepas di kawasan hutan di Coban Talun, Kota Batu, Jawa Timur. Sebelumnya, lutung jawa ini sudah menjalani rehabilitasi sejak tahun 2008.
Proses rehabilitasi ini membutuhkan waktu lama mulai dari masa karantina selama 6 bulan hingga dimasukkan ke kandang sosialisasi untuk pembentukan kelompok. Proses pembentukan kelompok ini yang membutuhkan waktu yang lama, karena harus bongkar pasang kelompok untuk membentuk pasangan yang cocok.

Manajer Project JLC Iwan Kurniawan mengatakan, pembentukan kelompok bisa membutuhkan waktu sampai dua tahun bahkan lebih. Tergantung masing-masing individu bisa menerima atau tidak. “Yang siap dilepas saat ini ada dua kelompok,” kata Iwan Kurniawan, saat ditemui di JLC, Minggu (22/07/2012).

Masing-masing kelompok ada enam ekor lutung dewasa ditambah satu ekor bayi lutung yang baru saja lahir pekan lalu. Setiap kelompok terdiri dari 1 ekor lutung jantan dan 5 ekor lutung betina. Adanya bayi lutung ini, kata Iwan, menambah nilai tambah bagi pejantan untuk mempertahankan kelompok sehingga tidak mudah bubar ketika dilepas.

Iwan menjelaskan, hutan primer merupakan habitat lutung jawa. Jika hutan primer seperti hutan hujan, hutan mangrove, dan lain-lain tidak ada, maka mereka tidak akan bisa hidup. Di Jawa Timur, berdasarkan riset yang dilakukan JLC, terdapat sekitar 2.500 sampai 3.000 ekor lutung jawa yang terlihat di lapangan. “Jumlah itu tidak seimbang dengan luasan hutan yang ada, banyak arela kosong yang dulu merupakan habitat lutung,” kata Iwan.

Karena itu, sebelum benar-benar di lepas di kawasan hutan Coban Talun, JLC bersama Perhutani, dan instansi terkait serta masyarakat desa hutan terus melakukan sosialisasi kepada warga agar tidak melakukan perburuan hewan dan penebangan pohon. Sebab, dari hasil survey di hutan tersebut, ada 69 jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk makanan lutung. “Hampir 90 persen tumbuhan di hutan tersebut adalah sumber makanannya lutung.” kata Iwan.

Sementara itu, petugas Perhutani yang mengelola kawasan tersebut, Sigit mengatakan pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan coordinator masyarakat sekitar hutan agar tidak melakukan perburuan liar dan turut menjaga kelestarian satwa dan habitat di dalamnya. “Kami tidak berharap setelah lutung dilepas, malah diburu,” kata Sigit.
Karena itu, sebelum dilepas, alangklah baiknya dilakukan penyadaran terlebih dulu kepada masyarakat agar tidak merusak tumbuh-tumbuhan yang menjadi makanan lutung tersebut.

Iwan menambahkan, sekitar tahun 1990-an, di hutan kawasan Coban Talun ini memang habitatnya lutung jawa, namun karena bnayak perburuan dan pembalakan liar, saat ini hanya terdeteksi 2 kelompok saja. Itupun tempatnya di dalam hutan paling dalam. “Karena itu, kami akan melepas dua kelompok lutung di pinggir hutan tersebut akhir bulan ini,” ujar Iwan. (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/13-ekor-lutung-jawa-siap-dilepas-ke-hutan/feed/ 0
Bukit Gundul, Banjir Bandang Menerjang https://www.greeners.co/berita/bukit-gundul-banjir-bandang-menerjang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bukit-gundul-banjir-bandang-menerjang https://www.greeners.co/berita/bukit-gundul-banjir-bandang-menerjang/#respond Fri, 09 Mar 2012 03:37:04 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2309 Malang (Greeners) – Banjir bandang menerjang Desa Tunpakrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (08/03). Sedikitnya 60 warga desa setempat terpaksa mengungsi ke tempat pengungsian maupun rumah saudara lainnya. […]]]>

Malang (Greeners) – Banjir bandang menerjang Desa Tunpakrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (08/03). Sedikitnya 60 warga desa setempat terpaksa mengungsi ke tempat pengungsian maupun rumah saudara lainnya. Banjir juga menggenangi pemukiman warga. Ketinggian air mencapai 2,5 meter dan diperkirakan surut dalam sepekan.

Banjir bandang terjadi setelah hujan terus mengguyur selama kurang lebih 15 jam. Selain factor intensitas hujan yang terjadi terus menerus, Desa Tumpakrejo yang lokasinya berada di lembah tidak dapat menampung semua air hujan yang turun di bukit sekitar desa mengalir ke bawah semuanya. Bukit di yang mengelilingi desa tersebut sudah berubah fungsi menjadi lahan pertanian warga.

Camat Kalipare, Ahmad Aziz mengatakan, banjir bandang di desa tersebut memang terjadi setiap tahun, namun baru kali ini yang terparah. Akibatnya, sebanyak 17 rumah yang dihuni 16 kepala keluarga (KK) atau 60 warga Desa tumpakrejo terpaksa mengungsi. “Mereka mengungsi ke tempat saudaranya yang terdekat,” kata Ahmad Aziz, saat berada di lokasi kejadian.

Selain mengakibatkan puluhan warga mengungsi, banjir juga merendam sektiar 10 hektare lahan pertanian ditanami tanaman Jagung, Tebu, dan Padi. Kerugian akibat kejadian ini diperkirakan mencapai Rp 60 juta.
Salah satu warga korban banjir bandang Sujono (60), mengatakan, Ia bersama lima anggota keluarganya saat ini mengungsi di rumah saudaranya. Semua perabotan rumah tangga dan barang berharga lainnya tak sempat diselamatkan karena air yang datang cukup cepat. “Semua barang-barang tidak sempat saya bawa mengungsi,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Malang berencana akan membangun slauran sudetan dari desa tersebut menuju aliran sungai terdekat untuk mencegah agar air dapat mengalir ke sungai. Hal ini untuk mencegah agar banjir bandang tidak terjadi lagi.

Asisten Kesejahteraan Pemkab Malang, saat berada di lokasi banjir mengatakan, Desa Tumpakrejo memang posisinya berada di lembah, sehingga semua air hujan yang turun mengalir ke bawah semua karena di bukit sudah beralih menjadi lahan pertanian. “Solusinya pemerintah akan membangun sudetan agar air yang mengalir dapat langsung menuju sungai,” katanya.

Banjir yang menerjang wilayah ini memang setiap tahun terjadi, namun di tahun-tahun sebelumnya air yang mengalir ke lembah dapat meresap ke dalam tanah karena ada semacam rekahan bumi, sehingga air cepat meresap. Namun, kondisi rekahan tersebut kini telah beralih menjadi lahan pertanian dan tersumbat batang-batang pohon sehingga air tak bias langsung meresap. (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/bukit-gundul-banjir-bandang-menerjang/feed/ 0
Monyet Wendit Kian Tergusur https://www.greeners.co/berita/monyet-wendit-kian-tergusur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=monyet-wendit-kian-tergusur https://www.greeners.co/berita/monyet-wendit-kian-tergusur/#respond Fri, 24 Feb 2012 03:00:12 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2234 Malang (Greeners) – Keberadaan monyet ekor panjang (macaca fascicularis) sebagai ikon pariwisata Wendit Water Park di Kecamatan Pakis, Malang, Jawa Timur kian tergusur dengan pembangunan tempat wisata tersebut sejak akhir […]]]>

Malang (Greeners) – Keberadaan monyet ekor panjang (macaca fascicularis) sebagai ikon pariwisata Wendit Water Park di Kecamatan Pakis, Malang, Jawa Timur kian tergusur dengan pembangunan tempat wisata tersebut sejak akhir tahun lalu. Perkembangbiakan monyet menjadi tak teratur karena pola makannya terbiasa diberi makanan manusia.

Ketua ProFauna Indonesia Rosek Nursahid mengatakan dalam satu tahun biasanya monyet melahirkan anak satu kali, namun berdasarkan pemantauan ProFauna, jumlah monyet di Wana Wisata Air Wendit sejak lima tahun terakhir tidak berkembang secara baik. “Dalam satu tahun ada yang tidak bunting,” kata Rosek, Rabu (22/02).

Rosek menambahkan, saat ini keberadaan monyet di tempat wisata itu lebih sulit ditemui dibandingkan sepuluh tahun lalu. Kalau dulu, kata Rosek, orang pergi ke Wendit pasti ingin melihat monyet, tapi sekarang keberadaan monyet tersebut kian berkurang sejak adanya pembangunan tempat wisata tersebut.

Berdasarkan data ProFauna Indonesia, hasil pemantauan tiga bulan terakhir jumlahnya sekitar 200 ekor Monyet. Jumlah itu tidak jauh berbeda dengan data beberapa tahun sebelumnya. ProFauna berharap pihak pengelola wisata melestarikan keberadaan monyet tersebut.

Saat ini, kata Rosek menjelaskan, pola hidup monyet di tempat wisata itu sudah bergeser dari yang bergantung terhadap alam sekarang sudah bergeser bergantung kepada makanan para pengunjung yang datang. Bahkan, sejak lahir monyet di Wendit sudah terbiasa dengan makanan manusia sehingga sulit mengubah kebiasaan itu.

Hal ini pernah terjadi ketika tempat ini ditutup untuk pembangunan, monyet-monyet yang terbiasa diberi makan oleh manusia menjadi kelaparan karena tidak ada pengunjung yang datang. Akibatnya, monyet-monyet tersebut menjadi kelaparan dan menjarah ke perkampungan di sekitar tempat wisata yang sudah terkenal dengan keberadaan monyet ini.

Karena itu, ProFauna berharap pihak pengelola tempat wisata ini tetap memperhatikan kelangsungan hidup monyet ini, sebab, keberadaan monyet di tempat wisata ini mempunyai nilai lebih karena Wisata Wendit sudah terkenal dengan adanya monyet-monyet yang selalu menyapa pengunjung.

Para pengunjung yang biasa datang ke tempat wisata tersebut juga mengaku kalau jumlah monyet di tempat itu tidak sebanyak dulu. Menurut Saiful, salah satu pengunjung yang berasal dari Pakisaji, Malang mengaku sewaktu dia kecil dulu kalau musim libur sekolah sering ke Wendit untuk melihat Monyet dan mandi di air sumber yang ada di sana. “Sekarang monyetnya tidak sebanyak dulu,” ujarnya saat menemani keluarganya berkunjung ke tempat wisata Wendit. (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/monyet-wendit-kian-tergusur/feed/ 0