kali tebu surabaya - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/kali-tebu-surabaya/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 26 Jun 2026 09:22:25 +0000 id hourly 1 Dalam Dua Bulan, 27 Ton Sampah Terangkut dari Kali Tebu Surabaya https://www.greeners.co/berita/dalam-dua-bulan-27-ton-sampah-terangkut-dari-kali-tebu-surabaya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dalam-dua-bulan-27-ton-sampah-terangkut-dari-kali-tebu-surabaya https://www.greeners.co/berita/dalam-dua-bulan-27-ton-sampah-terangkut-dari-kali-tebu-surabaya/#respond Fri, 26 Jun 2026 09:22:25 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=48641 Jakarta (Greeners) – Sebanyak 27 ton sampah berhasil diangkat dari Kali Tebu dalam operasi pembersihan yang berlangsung sepanjang Mei hingga Juni 2026. Jumlah sampah yang terangkut mencerminkan masih besarnya persoalan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sebanyak 27 ton sampah berhasil diangkat dari Kali Tebu dalam operasi pembersihan yang berlangsung sepanjang Mei hingga Juni 2026. Jumlah sampah yang terangkut mencerminkan masih besarnya persoalan pencemaran sampah di sungai.

Aksi pengangkutan sampah dari sungai ini, sebanyak 11,5 ton sampah diangkat oleh tim MOZAIK yang dibentuk oleh Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton). Sementara, sisanya sebanyak 16 ton diangkut melalui operasi gabungan yang melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, petugas kebersihan Kecamatan Kenjeran, dan tim MOZAIK.

Manager Program MOZAIK, Amiruddin Muttaqqin mengatakan bahwa pemulihan Kali Tebu tidak cukup hanya dengan mengangkat sampah dari permukaan. Perlu restorasi sungai secara menyeluruh melalui pengurangan sampah dari sumbernya. Kemudian, peningkatan pengelolaan limbah dosmetik, pengawasan pencemaran industri, rehabilitasi habitat perairan, serta edukasi masyarakat mengenai bahaya plastik sekali pakai.

“Keberhasilan memulihkan sungai bukan hanya penting bagi kelestarian ikan dan organisme perairan lainnya, tetapi juga bagi kesehatan masyarakat. Sungai yang sehat berfungsi sebagai penyangga ekosistem, pengendali banjir, penyimpan keanekaragaman hayati, serta bagian penting dari sejarah dan budaya kota,” kata Amiruddin dalam keterangan tertulisnya, Rabu (24/6).

Amiruddin menambahkan bahwa dulu Kali Tebu telah menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan lokal yang akrab dengan kehidupan warga. Namun, sayangnya hari ini sebagian jejak kehidupan semakin sulit ditemukan.

Ancaman Mikroplastik

Sementara itu, meski jumlah sampah yang berhasil diangkat sangat besar, para aktivits menilai persoalan sungai belum selesai. Ancaman yang lebih berbahaya justru berasal dari mikroplastik. Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil yang terbentuk dari pecahan sampah plastik dan sulit terdeteksi.

Peneliti lingkungan Ecoton, Alaika Rahmatullah mengatakan mikroplastik telah menjadi ancaman serius bagi ekosistem sungai perkotaan. “Mikroplastik tidak hanya mencemari air dan sedimen, tetapi juga masuk ke tubuh ikan melalui makanan yang mereka konsumsi. Dalam jangka panjang kondisi ini dapat mengganggu kesehatan organisme perairan dan menurunkan kualitas ekosistem sungai,” ujar Alaika.

Kedekatan Kali Tebu dengan kawasan tambak dan pesisir Kenjeran juga memungkinkan keberadaan ikan perairan payau seperti bandeng, mujair, dan belanak. Namun, tekanan akibat urbanisasi, limbah domestik, sedimentasi, serta masuknya sampah plastik dalam jumlah besar menyebabkan kualitas habitat sungai terus menurun.

Menurutnya, hilangnya berbagai spesies ikan lokal dari sungai perkotaan tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Namun, akumulasi berbagai tekanan lingkungan yang berlangsung selama bertahun-tahun. Alaika juga menyampaikan bahwa banyak warga yang tinggal di sekitar bantaran Kali Tebu sejak era 1970-an masih mengingat masa ketika sungai menjadi ruang bermain sekaligus sumber pangan bagi masyarakat.

“Dulu banyak ikan wader, bader, sama gabus. Anak-anak sering mandi di sungai dan mencari ikan pakai jaring kecil. Sekarang airnya keruh dan lebih sering terlihat sampah daripada ikan,” kata Alaika mengutip cerita warga yang ditemuinya.

Dalam merespons parahnya pencemaran sampah di sungai ini, sejumlah aktivis lingkungan melakukan aksi. Dalam aksinya, mereka melakukan kampanye dan edukasi lingkungan di Kali Tebu, Surabaya, Rabu (24/6). Melalui aksi bertajuk “Sampah Plastikmu Racuni Iwak Kali Tebu”, mereka mengingatkan masyarakat bahwa pencemaran plastik tidak hanya merusak sungai secara kasat mata. Namun, juga mengancam kehidupan ikan melalui kontaminasi mikroplastik.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/dalam-dua-bulan-27-ton-sampah-terangkut-dari-kali-tebu-surabaya/feed/ 0
Kali Tebu Surabaya Tercemar Mikroplastik https://www.greeners.co/berita/kali-tebu-surabaya-tercemar-mikroplastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kali-tebu-surabaya-tercemar-mikroplastik https://www.greeners.co/berita/kali-tebu-surabaya-tercemar-mikroplastik/#respond Wed, 20 May 2026 12:11:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=48497 Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) mengambil sampel air Kali Tebu sebanyak 10 liter. Sampel tersebut diteliti bersama kader lingkungan  di SMPN 58 Surabaya. Hasilnya membuktikan bahwa […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) mengambil sampel air Kali Tebu sebanyak 10 liter. Sampel tersebut diteliti bersama kader lingkungan  di SMPN 58 Surabaya. Hasilnya membuktikan bahwa Kali Tebu tercemar mikroplastik sebanyak 19 partikel yang terdiri dari 12 fiber, dua filamen, dan lima fragmen.

Keterlibatan anak-anak dalam menjaga sungai, terutama di Kali Tebu agar bebas dari kebocoran sampah plastik menjadi penting. Manajer Edukasi Ecoton, Alaika Rahmatullah mengatakan bahwa saat ini kondisi di Kali Tebu memprihatinkan. Masih banyak persoalan serius akibat pencemaran sampah plastik, popok sekali pakai, hingga pembakaran sampah di sekitar sungai.

“Setiap hari tim kami juga berpatroli sekaligus mengevakuasi sampah-sampah di badan air sungai, rata-rata per hari kami mendapatkan 1 ton sampah sungai, yang paling bermasalah adalah sampah plastik, popok, styrofoam,” kata Alaika.

Alaika mengingatkan bahwa sampah tersebut bisa terpecah menjadi partikel mikroplastik. Nantinya mikroplastik ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui air, udara, dan rantai makanan. Dampaknya sangat berbahaya dapat memicu gangguan hormon, peradangan, gangguan reproduksi, hingga risiko kanker.

“Kami ingin membangun kesadaran anak-anak untuk mengurangi plastik sekali pakai sejak dini. Sekolah juga bisa mengadopsi sungai untuk ikut menjaga agar sungai bebas dari sampah,” ungkap Alaika.

Melalui program MOZAIK (Mission on Zero Plastic Leakage), Ecoton juga mengadakan sesi sosialisasi tentang bahaya mikroplastik dan gaya hidup guna ulang kepada siswa. Kemudian, mereka membagikan reusable menstrual pads sebagai solusi pengurangan pembalut sekali pakai.

Uji Mikroplastik di Udara

Tak hanya mengambil sampel air, mereka juga mengambil sampel udara selama dua jam menggunakan metode passife sampling. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa partikel mikroplastik ada di hampir seluruh sampel yang diuji.

Pada pengambilan sampel udara di lingkungan sekolah ditemukan enam partikel fiber. Sementara, di udara sekitar Kali Tebu ditemukan total delapan partikel mikroplastik yang terdiri dari satu fragmen, enam fiber, dan satu granule.

Sementara itu, Ecoton bersama para pelajar juga meneliti sampel air kran sebanyak 10 liter. Hasilnya menunjukkan adanya dua partikel filamen dan dua partikel fiber. Tak hanya itu, pada daun mangga di lingkungan sekolah juga ada delapan partikel fiber yang menunjukkan mikroplatik menempel pada permukaan tumbuhan melalui paparan udara.

Guru SMPN 58, Ika Karyanti mengatakan bahwa kegiatan penelitian mikroplastik ini bisa memotivasi anak-anak lebih sadar terhadap dampak bahaya plastik sekali pakai.

“Sehingga bisa terbentuk kebiasaan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan sekolah, bahkan juga di rumah. Ini juga sejalan dengan visi sekolah,” kata Ika dalam keterangan tertulisnya, Selasa (19/5).

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/kali-tebu-surabaya-tercemar-mikroplastik/feed/ 0
Sampah Popok Sekali Pakai Cemari Kali Tebu Surabaya https://www.greeners.co/aksi/sampah-popok-sekali-pakai-cemari-kali-tebu-surabaya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sampah-popok-sekali-pakai-cemari-kali-tebu-surabaya https://www.greeners.co/aksi/sampah-popok-sekali-pakai-cemari-kali-tebu-surabaya/#respond Mon, 18 May 2026 11:19:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48483 Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama Komunitas Tretan Kali Tebu (Tekat) melakukan aksi bersih-bersih sampah di Kali Tebu, Surabaya, Jawa Timur pada Rabu (13/5). Dari aksi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama Komunitas Tretan Kali Tebu (Tekat) melakukan aksi bersih-bersih sampah di Kali Tebu, Surabaya, Jawa Timur pada Rabu (13/5). Dari aksi tersebut, tim relawan banyak menemukan sampah popok sekali pakai.

Direktur Ecoton, Daru Setyorini mengatakan bahwa sebanyak 45 persen dari 2,4 ton sampah dari Kali Tebu adalah jenis sampah popok sekali pakai. Tim ekskavasi sampah Kali Tebu ini melakukan aksi bersih sampah di kali tersebut selama tiga hari sejak Senin (11/5).

“Sebanyak 218 keping merupakan sampah popok. Selain mengangkut sampah, tim relawan Ecoton dan Tekat juga melakukan brand audit sampah popok,” kata Daru dalam keterangan tertulisnya.

Hasil audit menunjukkan bahwa sampah popok sekali pakai dari merek Sweety (PT Softex Indonesia) paling banyak tim temukan dengan persentase 31 persen. Posisi berikutnya adalah MamyPoko (PT Unicharm) sebesar 24 persen dan Momo (Momohouse) sebesar delapan persen. Selain itu, popok dari berbagai merek lain tercatat sebesar 14 persen. Sementara, 15 persen lainnya berasal dari merek yang tidak terlihat atau rusak.

Daru menambahkan bahwa kegiatan ekskavasi popok ini tim lakukan setelah program MOZAIK memasang trash barrier atau penghalang sampah bernama Barakuda di Kali Tebu pada Minggu (10/5).

MOZAIK (Mission for Zero Plastic Leakage) adalah program lingkungan gagasan Ecoton dan Pemerintah Kota Surabaya. Program ini mendapat dukungan dari United Nations Development Programme (UNDP) dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Tujuan dari program Mozaik ini untuk mengurangi kebocoran sampah plastik di sungai, khususnya Kali Tebu melalui pemasangan penghalang sampah. Program ini berfokus pada kolaborasi multipihak untuk sinergi penanganan sampah.

Tanggung Jawab Produsen

Menurut Daru, kini sampah popok menjadi masalah utama dalam penanganan sampah di Kali Tebu. Dengan demikian, butuh kolaborasi pemerintah melalui pengawasan, pengelolaan sampah di tempat pembuangan sementara (TPS), dan masyarakat agar tidak membuang sampah plastik ke Kali Tebu. Ia juga berharap agar industri bisa melaksanakan Extended Producer Responsibility (EPR). 

“EPR adalah kebijakan lingkungan yang mewajibkan produsen bertanggung jawab atas seluruh siklus hidup produk, terutama pengelolaan sampah pasca-konsumsi,” tambah Daru.

Daru menegaskan bahwa produsen mempunyai tanggung jawab mengumpulkan, mendaur ulang, atau memproses limbah produk/kemasannya. Hal ini penting untuk mengurangi volume sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) dan mendukung ekonomi sirkular. Maka, sampah popok yang ada di sungai juga menjadi tanggung jawab produsen.

Sebagai informasi, Kali Tebu merupakan sumber aliran sampah plastik yang bermuara ke Selat Madura, maka perlu pengendalian agar sampah plastik tidak masuk ke perairan laut. Kali Tebu juga menjadi saluran pembuangan dari enam kelurahan di antaranya Kelurahan Kapas Madya, Simokerto, Tanah Kali Kedinding, Sidotopo Wetan, Bulan Banteng, dan Tambak Wedi.

Salah satau upaya untuk mencegah sampah dari Kali Tebu agar tidak bocor ke laut, tim relawan akan melakukan proses penirisan sampah secara rutin. Penirisan tersebut berlangsung setiap dua hari sekali.

“Setelah penirisan, tim akan melakukan brand audit untuk mengidentifikasi sumber sampah plastik. Lokasi brand audit ini tim lakukan di TPS3R Kedung Cowek, Bulak,” kata Manager Program MOZAIK, Amiruddin Muttaqin.

Amiruddin mengajak masyarakat untuk menjaga Kali Tebu dan tidak membuang sampah sembarangan di kali tersebut. Ia meminta kepada seluruh masyarakat untuk mengembalikan kelestarian Kali Tebu.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/sampah-popok-sekali-pakai-cemari-kali-tebu-surabaya/feed/ 0
Ecoton Pasang Alat Penjaring Sampah di Kali Tebu Surabaya https://www.greeners.co/aksi/ecoton-pasang-alat-penjaring-sampah-di-kali-tebu-surabaya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ecoton-pasang-alat-penjaring-sampah-di-kali-tebu-surabaya https://www.greeners.co/aksi/ecoton-pasang-alat-penjaring-sampah-di-kali-tebu-surabaya/#respond Tue, 12 May 2026 08:30:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48465 Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama komunitas di Surabaya melakukan aksi pengangkutan sampah plastik di aliran Kali Tebu, Surabaya pada Senin (11/5). Dalam kegiatan ini, mereka […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama komunitas di Surabaya melakukan aksi pengangkutan sampah plastik di aliran Kali Tebu, Surabaya pada Senin (11/5). Dalam kegiatan ini, mereka juga memasang alat penjaring sampah “Barakuda” yang terpasang secara permanen.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, M Fikser menilai proses evakuasi ini menjadi penting. Sebab, persoalan sampah sungai telah berkembang menjadi struktural yang tidak bisa selesai hanya lewat aksi komunitas. Menurutnya, upaya penjaringan sampah menggunakan Barakuda juga mampu memperlihatkan secara nyata volume sampah plastik yang selama ini mengalir di sungai perkotaan.

“Pekerjaan yang Ecoton dan Pekat lakukan tentu ada batas waktunya. Namun, yang terpenting adalah bagaimana pemerintah kota dapat menindaklanjuti gerakan ini menjadi kebijakan dan kerja jangka panjang,” ujar Fikser dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Fikser, Pemerintah Kota Surabaya tengah menyiapkan langkah lanjutan, termasuk pemasangan penahan sampah di setiap RW yang dilintasi aliran Kali Tebu agar proses pengawasan dan pengendalian lebih mudah dilakukan.

“Selama ini yang terjadi warga di hilir merasa disalahkan karena sampah menumpuk. Kami akan mengambil langkah memasang penahan sampah di tiap RW yang dialiri Kali Tebu,” katanya.

Selain itu, Pemerintah Kota Surabaya juga mendorong penyusunan Peraturan Wali Kota (Perwali) terkait pengelolaan dan perlindungan Kali Tebu. Regulasi tersebut dapat menjadi dasar pengendalian pencemaran sungai sekaligus memperkuat tanggung jawab lintas wilayah dalam pengelolaan sampah.

Sarana Wisata

Ketua Komunitas Pemuda Kali Tebu (Pekat), Muhammad Isomudin mengatakan bahwa ia ingin Kali Tebu Moncer menjadi sungai yang bersih. Ia berharap sungai ini bisa menjadi sarana wisata.

“Sebagai warga Suroboyo kami terpanggil untuk ikut mewujudkan sungai-sungai di Surabaya bebas sampah plastik. Saya ingin aksi nyata membersihkan Kali Tebu,” kata Isomudin.

Tim Pekat mencatat, sampah yang terjaring paling banyak plastik sekali pakai. Di antaranya styrofoam, kemasan makanan, dan limbah rumah tangga lain yang terbawa arus dari kawasan permukiman padat. Temuan itu memperlihatkan masyarakat masih memperlakukan sungai sebagai saluran pembuangan terbuka. Selama bertahun-tahun, penanganan lebih banyak berfokus pada membersihkan timbunan sampah di hilir ketimbang memutus sumber pencemaran dari kawasan permukiman.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ecoton-pasang-alat-penjaring-sampah-di-kali-tebu-surabaya/feed/ 0