kampanye perubahan iklim - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/kampanye-perubahan-iklim/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 14 Sep 2022 04:51:47 +0000 id hourly 1 Generasi Muda Berperan Besar Kendalikan Perubahan Iklim https://www.greeners.co/aksi/generasi-muda-berperan-besar-kendalikan-perubahan-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=generasi-muda-berperan-besar-kendalikan-perubahan-iklim https://www.greeners.co/aksi/generasi-muda-berperan-besar-kendalikan-perubahan-iklim/#respond Wed, 14 Sep 2022 04:51:47 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=37331 Jakarta (Greeners) – Pelibatan generasi muda dalam perlindungan, pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam sangat penting untuk pengendalian perubahan iklim. Generasi muda Indonesia punya potensi besar untuk membangun dan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pelibatan generasi muda dalam perlindungan, pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam sangat penting untuk pengendalian perubahan iklim. Generasi muda Indonesia punya potensi besar untuk membangun dan menjaga lingkungan hidup negerinya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyampaikan hal itu dalam soft launching Green Leadership Indonesia (GLI) angkatan ke-2 Tahun 2022 pada Selasa (13/9).

“Kita membutuhkan generasi penerus dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam Indonesia ke depan. Mereka dibekali pendidikan, pengetahuan dan leadership (kepemimpinan). Ini adalah awal dari potensi untuk membangun dan menjaga lingkungan hidup, melalui generasi muda berwawasan lingkungan yang mencintai Indonesia,” katanya dalam keterangannya.

Ia menyebut inilah saatnya generasi muda Indonesia menunjukkan potensi besar yang mereka miliki, dan menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan. “Inilah saatnya bagi kita semua untuk melakukan aksi nyata dalam pengendalian perubahan iklim,” ujarnya.

Komitmen kepedulian generasi muda terhadap lingkungan ini, Menteri Siti sampaikan pada pertemuan Youth 20 (Y20) di Balikpapan pada sambutan Co-Chair Y20 tanggal 21 Mei lalu.

Menurutnya, generasi muda tidak hanya ingin menerima sumber daya alam dan lingkungan yang baik di masa datang. Mereka menyatakan bahwa sekarang, ikut dalam memikirkan, merencanakan dan mengembangkan kebijakan serta pengambilan keputusan tentang sumber daya alam dan lingkungan di Indonesia.

“Saya sangat menghargai itu dan terima kasih atas kemajuan dan kedewasaan dalam berpikir dan bersikap seperti itu. Sungguh luar biasa dan sangat membanggakan,” ujarnya.

Siti menegaskan, pentingnya langkah-langkah dan sistematika kerja menuju proses tersebut. Sebagaimana inisiatif dari Green Leadership Indonesia untuk terus mengembangkan diri generasi muda. Bersama generasi muda, perlu terus dikembangkan kerja-kerja lingkungan secara nyata di lapangan, di seluruh pelosok tanah air.

Generasi Muda Aspek Penting Dalam Kerja Sama Indonesia-Norwegia

Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia, Espen Barth Eide, yang juga hadir pada kesempatan tersebut mengatakan, generasi muda baginya sangat berarti. Peran generasi muda juga menjadi aspek penting dalam kerja sama Indonesia-Norwegia.

Lebih lanjut, Eide menyampaikan dunia tengah berupaya untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Yaitu pembangunan ekonomi dan sosial untuk kehidupan yang lebih baik, tanpa menghabiskan sumber daya alam secara berlebihan.

“Untuk mewujudkan hal tersebut, kita perlu bergerak secara sistematis dari penggunaan energi fosil ke energi baru dan terbarukan,” kata Eide.

Tidak hanya transisi energi juga bagaimana menggunakan energi tersebut secara efisien. Karena walau bagaimanapun manusia tetap memerlukan energi. Hanya saja bagaimana bisa menghasilkan dan menggunakan energi yang bersih.

Selain itu, kita juga harus mengubah dari gaya hidup linear menjadi sirkular. Ini merupakan tantangan besar dan saya yakin kita dapat melakukannya,” imbuhnya.

Acara talkshow Green Leadership Indonesia. Foto: KLHK

Pahami Keadilan Sosial dan Ekologis

Sementara itu, Steering Committee Green Leadership Indonesia, yang juga Rektor Institut Hijau Indonesia, Chalid Muhammad menyampaikan GLI adalah pendidikan kepemimpinan bagi generasi muda usia 18 hingga 27 tahun. Pesertanya merata dari seluruh provinsi di Indonesia. Pendidikan ini untuk memfasilitasi tumbuhnya pemimpin-pemimpin muda yang memiliki perspektif keadilan sosial dan keadilan ekologis.

“Pendidikannya secara daring dan luring, yang diakhiri dengan membuat proyek inovatif, baik individu maupun kelompok,” ucapnya.

Kemudian ada blok studi dengan menggunakan pendekatan landscape untuk melihat apa problematika dan apa solusi yang bisa generasi muda dorong ke pemangku kepentingan,” tuturnya.

Nantinya generasi muda juga mendapatkan pemahaman konteks di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Harapannya kaum muda Indonesia dapat bekerja sama menghadapi perubahan iklim dan ikut dalam upaya pemulihan lingkungan.

Dalam kesempatan itu Menteri Siti dan Menteri Lingkungan Norwegia Espen berdialog bersama generasi muda yang tergabung dalam Green Leadership Indonesia.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/generasi-muda-berperan-besar-kendalikan-perubahan-iklim/feed/ 0
Leonardo DiCaprio Suarakan Isu Perubahan Iklim di Ajang Oscar 2016 https://www.greeners.co/gaya-hidup/leonardo-dicaprio-suarakan-isu-perubahan-iklim-di-ajang-oscar-2016/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=leonardo-dicaprio-suarakan-isu-perubahan-iklim-di-ajang-oscar-2016 https://www.greeners.co/gaya-hidup/leonardo-dicaprio-suarakan-isu-perubahan-iklim-di-ajang-oscar-2016/#respond Fri, 04 Mar 2016 01:00:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=13042 Untuk pertama kalinya, Leonardo DiCaprio menerima penghargaan sebagai Aktor Terbaik ajang Academy Awards atau Oscar 2016. Ia juga jadi pembicaraan banyak orang karena pidato singkat yang ia sampaikan.]]>

Untuk pertama kalinya, Leonardo DiCaprio menerima penghargaan sebagai Aktor Terbaik pada ajang Academy Awards atau Oscar 2016. Leo, begitu ia biasa disapa, memenangkan piala tersebut atas perannya di film “The Revenant”. Namun, bukan hanya penghargaan tersebut yang membuat aktor asal Hollywood ini menjadi pembicaraan banyak orang, tapi juga pidato singkat yang ia sampaikan.

Dalam ajang penghargaan untuk insan perfilman di Amerika itu, Leo dengan gamblang mengingatkan kembali tentang isu perubahan iklim. Ia mengatakan hal ini tidak hanya bagi para pesohor dan tamu yang hadir di Dolby Theatre, tempat dimana Oscar ke-88 diselenggarakan, namun juga kepada seluruh dunia.

Climate change is real, it is happening right now (Perubahan iklim benar-benar terjadi dan sedang tejadi saat ini),” ujarnya di Hollywood, Minggu (28/02) malam waktu setempat atau Senin (29/02) siang waktu Indonesia.

Aktor yang juga aktif menyuarakan berbagai masalah lingkungan ini pun tidak ragu mewakili masyarakat adat dan masyarakat yang paling terkena dampak perubahan iklim. Ia mengajak semua orang untuk bahu membahu mengatasi masalah ini.

It is the most urgent threat facing our entire species and we need to work collectively together and stop procrastinating (Masalah perubahan iklim adalah ancaman yang paling mendesak yang harus dihadapi oleh seluruh makhluk dan kita perlu bekerja bersama-sama dan berhenti menunda-nunda),” katanya tegas.

Sudah sejak lama aktor kelahiran 1974 ini menunjukan ketertarikan dan kepeduliannya terhadap berbagai isu lingkungan. Tahun 2000 silam, ia pernah terlibat dalam perayaan Hari Bumi sebagai pembawa acara untuk sebuah acara televisi dan mewawancarai Bill Clinton, presiden terdahulu Amerika, terkait isu pemanasan global. Ia juga pernah menulis, menarasikan sekaligus memproduseri film berjudul “The 11th Hour”, sebuah film dokumenter tentang lingkungan yang dirilis tahun 2007.

Leonardo DiCaprio menyuarakan isu perubahan iklim dalam pidato keberhasilannya meraih penghargaan sebagai Aktor Terbaik dalam ajang Oscar 2016. Gambar: YouTube

Leonardo DiCaprio menyuarakan isu perubahan iklim dalam pidato keberhasilannya meraih penghargaan sebagai Aktor Terbaik dalam ajang Oscar 2016. Gambar: YouTube

Berikut terjemahan bebas pidato singkat yang disampaikan Leo sesaat setelah ia menerima piala Oscar:

“Film The Revenant merupakan film tentang hubungan manusia dengan alam. Sebuah dunia yang kita semua rasakan bersama pada tahun 2015 sebagai tahun terpanas yang pernah dicatat dalam sejarah. Tim produksi kami harus pergi ke ujung Selatan planet ini hanya untuk menemukan salju. Perubahan iklim benar-benar terjadi dan sedang terjadi saat ini. Masalah perubahan iklim adalah ancaman yang paling mendesak yang harus dihadapi oleh seluruh makhluk dan kita perlu untuk bekerja bersama-sama dan berhenti menunda-nunda. Kita perlu untuk mendukung pemimpin di seluruh dunia yang tidak bersuara untuk penghasil polusi terbesar namun bersuara untuk kemanusiaan.”

Sebagai informasi, masalah perubahan iklim kini telah menjadi isu global yang dibahas diberbagai forum. Salah satunya adalah Konferensi Perubahan Iklim Tingkat Tinggi (UNFCCC) yang diadakan di Paris, Perancis pada bulan Desember 2015 lalu. Dalam konferensi itu, para delegasi dan pemimpin di lebih dari 190 negara dunia berkumpul dan sepakat agar kenaikan suhu bumi tidak lebih dari dua derajat Celcius.

Meski membahas tentang perubahan iklim, konferensi ini tidak luput dari kritikan terutama dari para aktivis lingkungan. Para aktivis mempertanyakan kebijakan para pemimpin negara-negara maju yang enggan menanggung pembiayaan untuk upaya pelestarian alam dan lingkungan di negara-negara yang paling merasakan dampak perubahan iklim, termasuk masyarakat adat.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/leonardo-dicaprio-suarakan-isu-perubahan-iklim-di-ajang-oscar-2016/feed/ 0
KLHK Gelar Festival Iklim Sebagai Tindak Lanjut Kesepakatan Paris https://www.greeners.co/berita/klhk-gelar-festival-iklim-sebagai-tindak-lanjut-kesepakatan-paris/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klhk-gelar-festival-iklim-sebagai-tindak-lanjut-kesepakatan-paris https://www.greeners.co/berita/klhk-gelar-festival-iklim-sebagai-tindak-lanjut-kesepakatan-paris/#respond Thu, 28 Jan 2016 12:26:03 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12671 Menindaklanjuti hasil kesepakatan Konferensi Perubahan Iklim (COP) 21 di Paris beberapa waktu lalu, KLHK bekerjasama dengan pemerintah Kerajaan Norwegia dan UNDP Indonesia akan menyelenggarakan Festival Iklim.]]>

Jakarta (Greeners) – Menindaklanjuti hasil kesepakatan Konferensi Perubahan Iklim (COP) 21 di Paris beberapa waktu lalu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerjasama dengan pemerintah Kerajaan Norwegia dan United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia akan menyelenggarakan Festival Iklim yang akan digelar pada 1-4 Februari 2016 di Jakarta Convention Center.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Nur Masripatin, dalam jumpa persnya mengatakan bahwa setelah selesai dengan kesepakatan Paris, pemerintah Indonesia akan mulai menginternalisasi apa saja hasil kesepakatan tersebut. Selain itu, ia juga menyatakan tengah menyiapkan posisi Indonesia untuk menuju negosiasi berikutnya.

“Dalam tindaklanjutnya kita telah melakukan evaluasi pertemuan Paris pada 18 Desember lalu, setelah itu pada 7 Januari 2016, ada pertemuan antar negosiator dan minggu depan kita ada Festival Iklim,” ujarnya, Jakarta, Kamis (28/01).

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Nur Masripatin. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Nur Masripatin. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Langkah selanjutnya, kata Nur, pemerintah akan mulai menyusun strategi tingkat nasional menuju tingkat internasional nantinya. Selain itu, pemerintah juga sudah mulai harus mempersiapkan para negosiator lebih awal agar memiliki persiapan yang lebih matang. Serta mulai menyiapkan dokumen lampiran ke United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) pada tahun ini.

“Kita juga bikin yang namanya Kampung Iklim dengan target 2000 kampung melalui kemitraan dengan berbagai pihak,” imbuhnya.

Sebagai informasi, Festival Iklim digelar untuk menjadi wadah penyampaian poin-poin kesepakatan Paris kepada para pemangku kepentingan terkait perubahan iklim di Indonesia.

Festival Iklim akan memberikan informasi dan menyalurkan hasil-hasil penelitian dan penemuan terbaik yang terjadi di nasional dan sub nasional yang sejalan dengan komitmen kesepakatan Paris meliputi isu mitigasi, adaptasi, finance, transparency, capacity building dan technology transfer.

Acara yang diberi tajuk “Pengurangan Suhu 2 Derajat Celcius untuk Kesejahteraan Rakyat dan Generasi Mendatang” ini juga diisi dengan seminar, diskusi interaktif, pameran atau showcase good practice pengendalian perubahan iklim serta berbagai kegiatan pendukung yang melibatkan 75 lembaga. Acara ini terbuka untuk umum.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/klhk-gelar-festival-iklim-sebagai-tindak-lanjut-kesepakatan-paris/feed/ 0
Friends of the Earth: Negara Maju Memberikan Kesepakatan Palsu https://www.greeners.co/berita/friends-of-the-earth-negara-maju-memberikan-kesepakatan-palsu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=friends-of-the-earth-negara-maju-memberikan-kesepakatan-palsu https://www.greeners.co/berita/friends-of-the-earth-negara-maju-memberikan-kesepakatan-palsu/#respond Tue, 15 Dec 2015 07:43:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12235 Friends of the Earth International menyatakan negara-negara maju telah memberikan rakyat kesepakatan palsu mengenai penanganan perubahan iklim global.]]>

Jakarta (Greeners) – Konvensi Perubahan Iklim 2015 di Paris telah berakhir dengan lahirnya kesepakatan baru untuk penanganan perubahan iklim global. Konvensi akbar yang sejatinya usai pada tanggal 11 Desember 2015 ini mesti diperpanjang satu hari karena sulitnya menemukan kesepakatan.

Menurut Dipti Bathnagar, Koordinator Keadilan Iklim dan Energi, Friends of the Earth International, dalam keterangan resminya mengatakan, bagi politisi, ini adalah kesepakatan yang adil dan ambisius, padahal hal ini justru sebaliknya. Dipti justru menyatakan bahwa kesepakatan ini pasti akan gagal dan masyarakat sedang ditipu oleh kepentingan negara kaya.

“Masyarakat terdampak dan rentan terhadap perubahan iklim mestinya mendapat hal yang lebih baik dari kesepakatan ini. Mereka yang paling merasakan dampak terburuk dari kegagalan politisi dalam mengambil tindakan,” tegasnya seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Minggu (13/12).

Dipti juga menyatakan, negara-negara maju telah menggeser harapan sangat jauh dan memberikan rakyat kesepakatan palsu di Paris. Melalui janji-janji dan taktik intimidasi, negara-negara maju telah mendorong sebuah kesepakatan yang sangat buruk.

Menurut Dipti, negara maju, khususnya Amerika Serikat dan Uni Eropa, mestinya membagi tanggung jawab yang adil untuk menurunkan emisi, memberikan pendanaan dan dukungan alih tekhnologi bagi negara-negara berkembang untuk membantu mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Kesepakatan Paris sendiri, menurut Kurniawan Sabar, Manajer Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), akan memberikan dampak sangat signifikan bagi masyarakat dan keberlanjutan lingkungan di Indonesia. Karena kesepakatan iklim di Paris tidak memberikan jaminan perubahan sistem pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, dengan demikian lingkungan dan masyarakat Indonesia yang rentan dan terdampak perubahan iklim akan berada dalam kondisi yang semakin mengkhawatirkan.

“Sikap pemerintah Indonesia yang sangat pragmatis dan tidak memainkan peran strategis dalam negosiasi di Paris, sesungguhnya telah meletakkan Indonesia sebagai negara yang hanya mengikut pada kesepakatan dan kepentingan negara maju,” tambahnya.

Sebagai catatan kritis, ada beberapa masalah penting yang menjadi analisis grup Friends of the Earth terkait kesepakatan di Paris. Pertama, kesepakatan Paris menegaskan bahwa 2 derajat Celcius adalah tingkat maksimum kenaikan temperatur global, dan bahwa setiap negara harus meningkatkan upaya untuk membatasi peningkatan temperatur hingga batas 1,5 derajat Celcius.

Hal tersebut tidak akan berarti tanpa mensyaratkan negara-negara maju untuk memangkas emisi mereka secara drastis dan memberikan dukungan finansial sesuai tanggung jawab yang adil, serta tidak memberikan beban tambahan kepada negara-negara berkembang.

Kedua, tanpa kompensasi untuk memperbaiki kerusakan lingkungan, negara-negara yang rentan akan menanggung berbagai masalah dan beban dari krisis yang sebenarnya bukan diciptakan oleh mereka.

Ketiga, tanpa finansial yang memadai, negara-negara miskin akan dijadikan sebagai pihak yang harus menaggung beban dari krisis yang tidak berasal dari mereka. Pendanaan tersedia, namun kemauan politik (political will) tidak ada.

Keempat, satu-satunya kewajiban yang mengikat secara hukum (legally binding) bagi negara maju adalah mereka harus melaporkan seluruh pendanaan yang mereka sediakan.

Kelima, pintu sangat terbuka bagi pasar untuk mengeksploitasi krisis iklim tanpa pembatasan secara spesifik dalam teks. Hal ini menjadi kartu bebas bagi poluter terbesar dalam sejarah. Dalam kasus REDD+ misalnya, akan menjadikan negara-negara maju mendukung proyek perkebunan yang merusak di negara-negara berkembang dan bukannya berupaya mengurangi emisi dari bahan bakar fosil di negeri mereka sendiri.

“Kita tidak bisa berharap perbaikan sistem pengelolaan sumber daya alam di Indonesia yang lebih maju, jika pengelolaan hutan, pesisir dan laut, dan energi Indonesia masih menjadi bagian dari skema pasar khususnya hanya untuk memenuhi hasrat negara maju untuk mitigasi perubahan iklim,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/friends-of-the-earth-negara-maju-memberikan-kesepakatan-palsu/feed/ 0
#YukGowes Gowestory, Bersepeda Sambil Belajar Sejarah Museum https://www.greeners.co/aksi/yukgowes-gowestory-bersepeda-sambil-belajar-sejarah-museum/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yukgowes-gowestory-bersepeda-sambil-belajar-sejarah-museum https://www.greeners.co/aksi/yukgowes-gowestory-bersepeda-sambil-belajar-sejarah-museum/#respond Sat, 12 Dec 2015 12:24:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=12218 #YukGowes Eiger kali ini diadakan dalam rangka mendukung Konferensi Perubahan Iklim (COP 21) di Paris, Perancis. Para pesepeda juga singgah di beberapa museum untuk belajar sejarah.]]>

Bandung (Greeners) – Produsen perlengkapan outdoor Eiger dan Bike To Campus Bandung kembali mengadakan #YukGowes Eiger. Kali ini dengan tujuan menyambangi beberapa museum yang ada di kota Bandung, Sabtu, (5/12).

Kegiatan bersepeda dengan tema Gowestory ini diadakan dalam rangka mendukung Konferensi Perubahan Iklim (COP 21) di Paris, Perancis. Aksi ini mengajak seluruh pesepeda yang tergabung dalam berbagai komunitas seperti Earth Hour Bandung, Aleut, U-Green ITB, Ganesha Bicycler, dan Home Schooling Taman Sekar Bandung.

Sekitar 70 pesepeda yang mayoritas berusia muda berkumpul di dua titik berbeda, yakni halaman toko Eiger Setiabudi dan Shelter Bike.Bdg di Dago. Mereka kemudian berkeliling kota Bandung dan mengunjungi serta mempelajari sejarah beberapa museum yang ada di kota Bandung, yaitu Museum Geologi, Museum Pos Indonesia, dan Museum Konperensi Asia Afrika.

Dalam kegiatan ini, komunitas Aleut memandu para pesepeda dengan menjelaskan beberapa informasi dan pengetahuan mengenai sejarah museum hingga koleksi di setiap museum yang dikunjungi.

Kafin Sulthan, Duta Earth Hour Bandung yang juga merupakan musisi “Di Atas Rata-rata 2” besutan komposer Edwin Gutawa, turut meramaikan aksi bersama dalam mensosialisasikan bersepeda sebagai gaya hidup ramah lingkungan dan upaya pengurangan dampak emisi karbon.

Foto: Arman Chaniago dan Earth Hour Bandung

Foto: Arman Chaniago dan Earth Hour Bandung

Usai berkeliling kota, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama dan sharing kegiatan antar komunitas serta berfoto bersama sambil membentangkan beberapa poster dan spanduk sosialisasi bersepeda, hemat energi dan COP 21.

Rachmanda, wakil dari Earth Hour Bandung, mengaku tidak menyangka peserta yang hadir melebihi batas yang ditentukan. Sebagai penyedia sepeda sewa untuk peserta yang meminjam di shelter sepeda, ia mengaku kewalahan karena shelter Bike.Bdg Cikapayang dan Ganesha Bicycler hanya bisa menyediakan 40 sepeda. Sementara, pendaftar sudah mencapai 56 orang pada H-2 acara.

Meski demikian, Nindya, mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Padjajaran semester 7, salah satu peserta yang hadir mengaku senang telah mengikuti kegiatan ini. “Enggak terasa capek, soalnya seru sepedahan ramai-ramai sambil keliling museum di kota Bandung. Asiklah, bikin ketagihan,” ujar.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/aksi/yukgowes-gowestory-bersepeda-sambil-belajar-sejarah-museum/feed/ 0
Penggunaan Energi Terbarukan Harus Mulai Diterapkan di Indonesia https://www.greeners.co/berita/penggunaan-energi-terbarukan-harus-mulai-diterapkan-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penggunaan-energi-terbarukan-harus-mulai-diterapkan-indonesia https://www.greeners.co/berita/penggunaan-energi-terbarukan-harus-mulai-diterapkan-indonesia/#respond Mon, 07 Dec 2015 07:31:11 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12161 Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik menyarankan pada pemerintah Indonesia untuk segera mengalihkan penggunaan energi utama negara dengan memanfaat energi terbarukan.]]>

Jakarta (Greeners) – Komitmen Indonesia seperti yang tertera di dalam Intended Nationally Determined Contribution (INDC) pada pelaksanaan Conference of the Parties (COP) 21 UNFCCC di Paris, Perancis dikatakan oleh Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik, sudah cukup maju dengan menerapkan target penurunan emisi karbon sebesar 29 persen pada tahun 2030.

Namun, masih banyak agenda penting yang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk implementasi dari INDC tersebut. Salah satunya terkait agenda penerapan pencegahan kebakaran hutan. Moazzam mengatakan, kasus kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 2015 telah menyumbang emisi karbon terbesar di dunia.

“Kebakaran hutan dan kabut asap tahun ini telah membuat Indonesia menjadi penyumbang emisi terbesar di dunia. Jadi Indonesia sudah harus berpikir dan belajar melindungi hutan dan lahan gambutnya,” kata Moazzam saat ditemui oleh Greeners pada acara konser perubahan iklim di Rumah Kaca, Taman Menteng, Jakarta, Minggu (06/12).

(kiri ke kanan) Duta Besar Uni Eropa (UE) untuk Indonesia Vincent Guerend dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik saat menghadiri konser perubahan iklim di Rumah Kaca, Taman Menteng, Jakarta, Minggu (06/12). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

(kiri ke kanan) Duta Besar Uni Eropa (UE) untuk Indonesia Vincent Guerend dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik saat menghadiri konser perubahan iklim di Rumah Kaca, Taman Menteng, Jakarta, Minggu (06/12). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Terkait masih banyaknya penggunaan energi fosil pada proyek energi di Indonesia, Moazzam menyarankan pada pemerintah Indonesia untuk segera mengalihkan penggunaan energi utama negara dengan memanfaat energi terbarukan. Ia mengingatkan bahwa penggunaan energi fosil seperti batu bara diprediksi akan mulai berkurang pada tahun 2025 dan untuk seterusnya.

Moazzam mengatakan bahwa Inggris sudah mulai mendekatkan diri pada pemerintah Indonesia untuk membantu mengalihkan penggunaan energinya pada energi terbarukan. Negara lain seperti Cina dan India pun telah berkomitmen untuk mengurangi penggunaan energi dari batubara. “Kita berharap Indonesia juga mengikuti tren ini kalau Indonesia benar-benar mau mengurangi dampak perubahan iklim pada dunia dan untuk Indonesia juga pada khususnya,” tuturnya.

Sebagai informasi, dalam rangka mendukung aksi pengendalian perubahan iklim, Delegasi Uni Eropa dan Kedutaan Inggris, dengan dukungan dari Kedutaan Jerman, memobilisasi kaum pemuda dan musisi Indonesia dan internasional dalam konser perubahan iklim yang diadakan di Taman Menteng, Jakarta.

Duta Besar Uni Eropa (UE) untuk Indonesia Vincent Guerend mengatakan konser perubahan iklim ini untuk mempromosikan aksi-aksi praktis yang dapat dilakukan untuk mitigasi perubahan iklim dan menikmati alunan musik dari artis-artis Indonesia.

“Konser ini merupakan bagian dari RRREC Fest #5 dan menghadirkan pertunjukan musik-musik indie seperti Indische Party dan Frau dengan paduan suara dari Dialita. Melalui konser ini, anak-anak muda kami ajak bergabung dengan niatan sama-sama memperbaiki dunia dari dampak perubahan iklim melalui berbagai kegiatan kecil maupun besar,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/penggunaan-energi-terbarukan-harus-mulai-diterapkan-indonesia/feed/ 0
Alam Berbicara, Suara Alam Kepada Manusia https://www.greeners.co/aksi/alam-berbicara-suara-alam-kepada-manusia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=alam-berbicara-suara-alam-kepada-manusia https://www.greeners.co/aksi/alam-berbicara-suara-alam-kepada-manusia/#respond Sun, 15 Nov 2015 13:13:45 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11904 Jakarta (Greeners) – Lembaga nirlaba Conservation International atau CI Indonesia menayangkan film pendek berjudul “Alam Berbicara” pada perhelatan Hello Nature 2015. Film yang baru diluncurkan beberapa waktu lalu ini merupakan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Lembaga nirlaba Conservation International atau CI Indonesia menayangkan film pendek berjudul “Alam Berbicara” pada perhelatan Hello Nature 2015. Film yang baru diluncurkan beberapa waktu lalu ini merupakan film versi bahasa Indonesia dan bagian dari kampanye global untuk konservasi dan pembangunan berkelanjutan di Tanah Air.

Film ini memiliki pesan utama seperti mengajak masyarakat Indonesia untuk turut aktif dalam mempertahankan kelestarian alam dengan memproklamirkan bahwa alam tidak memerlukan manusia tapi sebaliknya, manusia memerlukan alam.

“Tentunya kita berharap kalau kampanye sosial ini dapat memberikan kesadaran bagi masyarakat luas karena betapa pentingnya alam yang ada telah semakin rusak akibat ulah manusia,” terang Cristine Hakim selaku pengisi suara untuk narasi “Ibu Pertiwi” dalam film “Alam Berbicara” seperti yang ditayangkan pada acara Hello Nature 2015, Jakarta, Sabtu (14/11) malam.

Regina nikijuluw, Communications Manager Suistainable Landscapes Partnership CI Indonesia menyatakan bahwa kampanye sosial ini dilakukan untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa alam tidak membutuhkan manusia melainkan manusialah yang membutuhkan alam. Begitu banyak kegiatan manusia yang merusak alam hanya untuk kepentingan ekonomi.

Oleh karena itu, kampanye sosial ini dilakukan untuk menggugah kesadaran publik tentang pentingnya mendengarkan alam dan mendorong aksi dari masyarakat luas, pemerintah, komunitas, institusi-institusi dan sektor swasta menuju pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

“Biasanyakan kampanye itu dilakukan oleh manusia dan dengan ajakan manusia. Kini, kita bikin alamnya yang bicara jadi cukup menarik perhatian panitia COP 21 Paris untuk memutarkan film ini,” tambahnya.

Sebagai informasi, kampanye sosial ini sudah diluncurkan CI menjelang COP 21 yang menurut rencana akan diselenggarakan di Paris, Perancis pada tanggal 30 November-11 Desember 2015. Sementara perhelatan COP 21 bertujuan untuk membentuk kesepakatan internasional tentang iklim yang mengikat secara hukum.

Kampanye “Alam Berbicara” pada tingkat internasional sendiri telah menampilkan delapan film pendek yang dinarasikan oleh selebriti internasional terkemuka seperti Harrison Ford, Julia Roberts, Penelope Cruise dan Edward Norton.

CI Indonesia menarasikan semua film dalam Bahasa Indonesia dan baru saja meluncurkan empat film yang disulihsuarakan oleh selebriti-selebriti Indonesia yaitu Christine Hakim, Lukman Sardi, Pandji Pragiwaksono dan Najwa Shihab. Mereka, secara berturutan, mengisi suara sebagai Ibu Pertiwi, Samudra, Hutan dan Air.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/alam-berbicara-suara-alam-kepada-manusia/feed/ 0
Menyampaikan Solusi Perubahan Iklim Melalui Foto https://www.greeners.co/aksi/menyampaikan-solusi-perubahan-iklim-melalui-foto/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menyampaikan-solusi-perubahan-iklim-melalui-foto https://www.greeners.co/aksi/menyampaikan-solusi-perubahan-iklim-melalui-foto/#respond Tue, 27 Oct 2015 13:02:06 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11677 Bandung (Greeners) – Institut Francais Indonesia dan Kedutaan Besar Perancis di Indonesia mengadakan pameran fotografi bertajuk “60 Solusi Menghadapi Perubahan Iklim” karya fotografer asal Perancis, Yann Arthus-Bertrand di Museum Geologi, […]]]>

Bandung (Greeners) – Institut Francais Indonesia dan Kedutaan Besar Perancis di Indonesia mengadakan pameran fotografi bertajuk “60 Solusi Menghadapi Perubahan Iklim” karya fotografer asal Perancis, Yann Arthus-Bertrand di Museum Geologi, Jl. Diponegoro no 57, Bandung, Sabtu (24/10). Pameran ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Fete Science (Pesta Sains) 2015 yang berlangsung pada tanggal 10-24 Oktober 2015 dengan tema ’’Iklim Berubah, dan Kita?’’

Pada foto-foto yang dipamerkan di lantai dua museum, objek figur manusia dan alam menjadi objek foto yang dominan dalam karya fotografi yang menggambarkan perubahan iklim tersebut. Sebanyak 60 foto yang dipamerkan tersebut diambil dari beberapa tempat di berbagai dunia. Selain Indonesia, Yann Arthus-Bertrand memotret berbagai persoalan dan perubahan iklim di Guadeloupe, Maroko, Brazil, Nigeria, Amerika Serikat, Kamboja, India dan Perancis.

Pameran foto karya Yann Arthus-Bertrand bertajuk "60 Solusi Menghadapi Perubahan Iklim" berlangsung di Museum Geologi, Bandung, Sabtu (24/10). Foto: greeners.co/Agia Nur Pratama

Pameran foto karya Yann Arthus-Bertrand bertajuk “60 Solusi Menghadapi Perubahan Iklim” berlangsung di Museum Geologi, Bandung, Sabtu (24/10). Foto: greeners.co/Agia Nur Pratama

Dalam masing-masing karya foto tersebut, Yann Arthus-Bertrand seakan menawarkan solusi dalam menghadapi perubahan iklim. Salah satu solusi yang diutarakannya antara lain pelibatan masyarakat, mengelola air minum dengan lebih baik, siap tanggap, menjaga penyerapan karbon di dalam laut, kereta bawah tanah untuk mengatasi urbanisasi, hingga memperbaiki lalu lintas di kota besar.

Nando, alumni Mikrobiologi ITB yang datang mengunjungi pameran ini mengaku tertarik dengan karya fotografi yang dipamerkan. Menurutnya, pengetahuan mengenai perubahan iklim saat ini tidak harus dilakukan dengan cara yang klasik seperti perkuliahan atau diskusi semata. Melalui jepretan foto yang baik, orang awam sekalipun dapat memahami isi gambar tersebut tanpa mengerutkan dahi dan mengerti akan kondisi perubahan iklim saat ini.

“Kualitas gambar yang baik ngasih gambaran secara nyata perubahan iklim yang terjadi di seluruh dunia,” katanya.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/aksi/menyampaikan-solusi-perubahan-iklim-melalui-foto/feed/ 0
Kritik Penanganan Perubahan Iklim Lewat Patung Kuda https://www.greeners.co/ide-inovasi/kritik-penanganan-perubahan-iklim-lewat-patung-kuda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kritik-penanganan-perubahan-iklim-lewat-patung-kuda https://www.greeners.co/ide-inovasi/kritik-penanganan-perubahan-iklim-lewat-patung-kuda/#respond Tue, 15 Sep 2015 07:20:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=11112 Jason deCaires Taylor memasang karya seni instalasi terbarunya berjudul Rising Tide atau (Gelombang Pasang). Karya seni berbentuk patung yang berada di pinggiran Sungai Thames di London tersebut menarik perhatian khalayak ramai. […]]]>

Jason deCaires Taylor memasang karya seni instalasi terbarunya berjudul Rising Tide atau (Gelombang Pasang). Karya seni berbentuk patung yang berada di pinggiran Sungai Thames di London tersebut menarik perhatian khalayak ramai.

Keunikan karya Taylor ini adalah patung dengan empat penunggang kuda tersebut muncul ke permukaan setiap air sungainya surut. Terinspirasi dari kitab Injil yang menyinggung tentang kelaparan dan lingkungan, Rising Tide diharapkan akan memicu diskusi mengenai kekuatan-kekuatan di dunia yang tidak memperhatikan usaha-usaha penyelamatan lingkungan.

Secara detail patung tersebut memperlihatkan empat pengendara kuda berpakaian resmi duduk di atas kuda dengan ekspresi seperti tidak peduli. Kepala kuda terbuat dari kepala pompa minyak dan menyimbolkan masa depan. Patung kudanya sendiri berukuran seperti aslinya dan menggambarkan masa awal dari zaman industrialisasi.

Taylor menjelaskan bahwa patung manusia berpakaian jas resmi merupakan gambaran terhadap perasaan yang bercampur aduk terhadap situasi yang ada saat ini. Citra yang ingin digambarkan adalah seorang politisi dari Rumah Parlemen yang tidak memedulikan dunia sekitarnya saat pemanasan global dan mengakibatkan naiknya tingkat permukaan air di seluruh dunia.

Karya seni instalasi berjudul Rising Tide atau (Gelombang Pasang) karya Jason deCaires Taylor. Foto: Jason deCaires Taylor/inhabitat.com

Karya seni instalasi berjudul Rising Tide atau (Gelombang Pasang) karya Jason deCaires Taylor. Foto: Jason deCaires Taylor/inhabitat.com

Bukan sebuah kebetulan bahwa Rising Tide lokasinya tidak sampai berjarak dua kilometer dari Rumah Parlemen Inggris. Taylor sengaja ingin menarik perhatian para anggota parlemen. Ia juga berharap karyanya dapat menginpirasi para pengambil keputusan untuk tidak lagi merugikan usaha penyelamatan lingkungan.

Rising Tide bukanlah karya Taylor yang pertama. Pria asal Inggris tersebut juga bukan pertama kalinya menggabungkan bakat seninya dengan hasratnya sebagai aktivis. Tahun lalu dia menciptakan museum bawah air pertama berjudul Silent Evolution di Cancun, Mexico. Sebuah karya yang dimaksudkan untuk menginspirasi para penyelam disana dan berfungsi sebagai tempat berkembangnya karang dan biota laut lainnya. Saat ini dia sedang mengerjakan sebuah museum bawah air lainnya di Lazarote, Kepulauan Canary dan berencana untuk membawa bakatnya ke Bali.

Taylor menjelaskan bahwa motivasinya untuk mengarahkan karya seninya menjadi sebuah gerakan adalah sebuah keniscayaan. “Saya menciptakan tidak hanya sebuah karya seni. Saya ingin menciptakan karya seni yang memberikan kebaikan,” ujarnya seperti dilansir dalam laman inhabitat.com.

Ia menambahkan, “Dengan Rising Tide terpajang di London selama lebih dari sebulan, semoga ada yang mulai memperhatikan dan mulai berbuat sesuatu untuk mengatasi perubahan iklim.”

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/kritik-penanganan-perubahan-iklim-lewat-patung-kuda/feed/ 0
Ekspedisi Sumba 2015: Perhatian Lebih untuk SD Prailangina dari Sylvia https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-perhatian-lebih-untuk-sd-prailangina-dari-sylvia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ekspedisi-sumba-2015-perhatian-lebih-untuk-sd-prailangina-dari-sylvia https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-perhatian-lebih-untuk-sd-prailangina-dari-sylvia/#respond Mon, 14 Sep 2015 02:00:12 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11100 Kadahang (Greeners) – Sekolah Dasar Prailangina adalah sekolah yang menjadi tujuan utama dari kunjungan tim Ekspedisi Sumba 2015. Tentunya sekolah ini harus mendapat perhatian lebih dibandingkan tempat-tempat lain yang didatangi […]]]>

Kadahang (Greeners) – Sekolah Dasar Prailangina adalah sekolah yang menjadi tujuan utama dari kunjungan tim Ekspedisi Sumba 2015. Tentunya sekolah ini harus mendapat perhatian lebih dibandingkan tempat-tempat lain yang didatangi oleh tim ekspedisi. Setidaknya begitulah yang dirasakan oleh Sylvia Melzer.

Ibu dari tiga anak ini mengaku ada perasaan tersendiri saat tiba dan berinteraksi dengan seluruh perangkat sekolah di SD Prailangina, khususnya saat ia menyaksikan fasilitas sekolah yang begitu minim dan tidak memiliki akses listrik serta air bersih.

Sylvia, salah satu peserta yang tergabung dalam tim Ekspedisi Sumba 2015 ini menyatakan bahwa perlu dilakukan pembinaan yang cukup dan memastikan seluruh perangkat sekolah menjaga panel surya yang direncanakan akan dipasang di sekolah tersebut.

“Setelah melihat keadaannya dan berinteraksi dengan perangkat sekolah, saya merasa SD Prailangina ini agak sulit untuk berkembang jika tidak ada bimbingan yang rutin dilakukan sebelumnya,” tutur Sylvia, Kamanggih, Selasa (08/09).

Sylvia Melzer, salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Sylvia Melzer, salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Perasaan pesimis tersebut, dikatakan oleh Sylvia, datang setelah sebelumnya ia melihat langsung pengunaan panel surya yang tidak maksimal di SD Binawero. Meski demikian, ia tetap berharap dimanapun dan jenis apapun teknologi yang diberikan tentu diberikan dengan maksud mempermudah akses masyarakat terhadap listrik.

Sylvia sendiri mengaku sangat mencintai Indonesia. Bahkan ia mengaku saat masih kecil ia selalu bermimpi untuk bisa tinggal dan hidup di Indonesia. Namun ia menyadari hal itu tidak akan mungkin terjadi karena saat ini ia sudah memiliki keluarga. Ia hanya bisa berdoa dan berharap kalau Sumba, bagian dari begitu banyaknya pulau di Indonesia ini, mampu meningkatkan taraf hidup masyarakatnya melalui proyek Sumba Sebagai Pulau Percontohan untuk energi terbarukan pada 2020 mendatang.

Sebagai informasi, Sylvia adalah salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal kota Oegstgeest, Belanda. Bersama tujuh orang peserta lainnya, Sylvia melakukan perjalanan untuk mempelajari dan merasakan bagaimana suasana dan keadaan hidup masyarakat Sumba sembari mengkampanyekan perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional.

Ketujuh peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 lainnya adalah Dea Sihotang dari Cibubur, Novianus Efrat dari Jakarta, Saepul Hamdi dari Sukabumi dan Griksa Gunadarma dari Jakarta. Sedangkan tim dari Belanda selain Sylvia yaitu Guido, Franka, dan Joyce.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-perhatian-lebih-untuk-sd-prailangina-dari-sylvia/feed/ 0
Ekspedisi Sumba 2015: Guido Pertanyakan Penerapan Energi Terbarukan https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-guido-pertanyakan-penerapan-energi-terbarukan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ekspedisi-sumba-2015-guido-pertanyakan-penerapan-energi-terbarukan https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-guido-pertanyakan-penerapan-energi-terbarukan/#respond Sun, 13 Sep 2015 01:53:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11096 Kamanggih (Greeners) – Keberadaan teknologi energi terbarukan di beberapa desa yang didatangi oleh tim Ekspedisi Sumba 2015, diakui oleh Guido van Zurk masih kurang dimaksimalkan penggunaannya oleh masyarakat. Ayah dari […]]]>

Kamanggih (Greeners) – Keberadaan teknologi energi terbarukan di beberapa desa yang didatangi oleh tim Ekspedisi Sumba 2015, diakui oleh Guido van Zurk masih kurang dimaksimalkan penggunaannya oleh masyarakat. Ayah dari dua orang anak ini memberi contoh seperti keberadaan Solar Water Pump (Pompa Air Tenaga Surya) yang ada di Desa Dikira.

Menurutnya, meskipun Solar Water Pump tersebut dianggap cukup membantu masyarakat Desa Dikira untuk mendapatkan akses air bersih, namun dalam pelaksanaannya masyarakat masih harus mengambil air tersebut dari kolam tampungan yang jaraknya cukup jauh dari ladang masyarakat.

“Seharusnya selain membuat irigasi, masyarakat bisa menggunakan pipa-pipa panjang untuk mengaliri air dari Solar Water Pump itu. Sehingga masyarakat tidak perlu lagi mengambil air dengan ember-ember besar. Itu jelas akan mempermudah karena kami di Belanda melakukan hal itu,” jelas Guido menceritakan pengalamannya, Kamanggih, Selasa (08/09).

Selain agar lebih efisien, kata Guido, pengenalan beberapa teknologi sederhana seperti penggunaan springkle (keran air memutar yang digunakan untuk menyiram tanaman) juga bisa diterapkan di beberapa ladang yang memang memiliki akses air bersih cukup jauh dari penampungan.

Sedangkan untuk mengubah kebiasaan, diakui pria 45 tahun ini, juga tidaklah mudah. Masyarakat desa telah memiliki tradisi tersendiri yang telah dilakukan secara turun-temurun. Oleh karena itu, ia merasa masih perlu dilakukan pendekatan secara persuasif agar pendidikan dan pengembangan kemampuan diri masyarakt bisa berjalan dengan baik.

Seperti misalnya penggunaan teknologi biogas. Alih-alih kagum pada penggunaan biogas untuk memasak, Guido malah merasa bingung karena masyarakat masih saja menggunakan kayu yang diambil dari hutan untuk memasak kebutuhan sehari-hari.

Guido van Zurk, salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Guido van Zurk, salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Padahal, keberadaan biogas yang sudah dibangun bukanlah hal yang mudah dan pasti memberikan dampak yang baik secara efisiensi. Namun ternyata, masyarakat masih tunduk pada kebiasaan adat yang mengharuskan mereka untuk memasak dengan kayu bakar.

“Hal-hal seperti ini tentu akan menjadi sulit karena percuma jika alat sudah terpasang tapi tidak dimanfaatkan dengan baik,” katanya lagi.

Oleh karena itu, menurutnya, masyarakat masih butuh waktu yang cukup panjang untuk bisa memahami dan mempelajari betapa bermanfaatnya teknologi dari energi terbarukan yang telah memiliki. Hal itu dibutuhkan agar mereka benar-benar merasa memiliki teknologi tersebut dan setelah ada rasa memiliki, tentunya mereka akan menjaga, merawat dan memanfaatkan teknologi dengan baik.

Sebagai informasi, Guido adalah salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal kota Dordrecht, Belanda. Bersama tujuh orang peserta lainnya, Guido melakukan perjalanan untuk mempelajari dan merasakan bagaimana suasana dan keadaan hidup masyarakat Sumba sembari mengkampanyekan perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional.

Tujuh peserta yang dimaksud adalah Dea Sihotang dari Cibubur, Novianus Efrat dari Jakarta, Saepul Hamdi dari Sukabumi dan Griksa Gunadarma dari Jakarta. Selain Guido, tim dari Belanda yaitu Franka, Joyce dan Sylvia.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-guido-pertanyakan-penerapan-energi-terbarukan/feed/ 0
Ekspedisi Sumba 2015: Efrat Terenyuh Kondisi Desa Dikira https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-efrat-terenyuh-kondisi-desa-dikira/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ekspedisi-sumba-2015-efrat-terenyuh-kondisi-desa-dikira https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-efrat-terenyuh-kondisi-desa-dikira/#respond Tue, 08 Sep 2015 09:15:11 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11054 Dikira (Greeners) – Pentingnya akses listrik serta air bersih untuk Desa Dikira di Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya sangat dirasakan oleh salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 […]]]>

Dikira (Greeners) – Pentingnya akses listrik serta air bersih untuk Desa Dikira di Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya sangat dirasakan oleh salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal Jakarta, Indonesia, Novianus Efrat.

Pemuda 27 tahun ini menyatakan, setelah adanya Solar Water Pump (Pompa Air Tenaga Surya) dan teknologi biogas yang dibangun oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional yang bekerjasama dengan mitra lokal di sana, sedikit banyak telah membantu kehidupan masyarakat khususnya dalam melakukan aktifitas pertanian dan perkebunan.

Namun, menurutnya, warga setempat masih membutuhkan banyak sekali bantuan khususnya untuk alat, dana dan tenaga ahli untuk lebih mengoptimalkan penggunaan Solar Water Pump dan biogas di Desa Dikira.

“Saya merasakan betul bagaimana susahnya hidup tanpa aliran listrik di sini (Desa Dikira) karena sebelumnya saya juga pernah melakukan perjalanan seperti ini di wilayah timur Indonesia yang masalahnya sama,” cerita pria yang sempat aktif di beberapa organisasi pendidikan alternatif ini, Dikira, Jumat (04/09) lalu.

Pemuda yang akrab disapa Efrat ini menyatakan diterimanya ia dalam tim Ekspedisi Sumba 2015 sejalan dengan ketertarikannya akan energi terbarukan (renewable energi) dan kecintaannya pada anak-anak.

Novianus Efrat, salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal Jakarta. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Novianus Efrat, salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal Jakarta. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Menurut Efrat, kebutuhan akan irigasi air untuk persawahan dan akses listrik untuk sekolah dan hidup sehari-hari di Desa Dikira masih sangat jauh dari kata cukup. Oleh karena itu, pengalamannya melihat dan mengalami langsung kehidupan warga Desa Dikira, membuat Efrat berencana untuk menyebarluaskan informasi terkait Desa Dikira tersebut sekembali dirinya ke Jakarta.

“Ini harus diinformasikan. Mereka jelas butuh banyak bantuan dari masyarakat yang cukup mampu di kota-kota besar,” tambahnya.

Di luar kondisi tersebut, Efrat mengaku tersentuh oleh keramahtamahan masyarakat Desa Dikira. Hal ini dikarenakan ia telah merasakan tulusnya masyarakat setempat menerima dan menjamu mereka layaknya keluarga.

“Apalagi waktu kami disambut oleh mereka. Kalau mau jujur, itu sebenarnya saya terharu sekali dengan segala keramahan mereka. Lalu ketika meninggalkan desa, saya langsung merasa harus menginformasikan tentang hal ini kepada masyarakat luas,” ujarnya.

Sebagai informasi, Desa Dikira adalah salah satu desa yang menjadi tujuan tim Ekspedisi Sumba 2015. Desa ini berada di Sumba Barat Daya dengan 325 Kepala Keluarga yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani sayur dan peternak.

Efrat sendiri adalah salah satu peserta asal Kota Jakarta yang tergabung dalam Ekspedisi Sumba 2015. Bersama tujuh orang peserta lainnya, Efrat melakukan perjalanan untuk mempelajari dan merasakan bagaimana suasana dan keadaan hidup masyarakat sumba sembari mengkampanyekan perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional.

Tujuh peserta lainnya adalah Dea Sihotang dari Cibubur, Saepul Hamdi dari Sukabumi dan Griksa Gunadarma dari Jakarta. Sedangkan tim dari Belanda yaitu Guido, Franka, Joyce dan Sylvia.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-efrat-terenyuh-kondisi-desa-dikira/feed/ 0
Perjalanan Tim Ekspedisi Sumba 2015 Dimulai https://www.greeners.co/aksi/perjalanan-tim-ekspedisi-sumba-2015-dimulai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perjalanan-tim-ekspedisi-sumba-2015-dimulai https://www.greeners.co/aksi/perjalanan-tim-ekspedisi-sumba-2015-dimulai/#respond Tue, 01 Sep 2015 08:40:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=10975 Bali (Greeners) – Delapan orang yang tergabung dalam Ekspedisi Sumba 2015 baru saja memulai perjalanan menuju Pulau Sumba yang menjadi bagian dari kampanye perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan […]]]>

Bali (Greeners) – Delapan orang yang tergabung dalam Ekspedisi Sumba 2015 baru saja memulai perjalanan menuju Pulau Sumba yang menjadi bagian dari kampanye perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional.

Pada Senin (31/08), ke delapan peserta ekspedisi tiba di Bali untuk saling bertemu. Delapan orang ini terdiri atas empat orang tim Indonesia dan empat orang tim dari Belanda. Mereka bertemu guna menyusun perencanaan tentang apa saja yang akan mereka lakukan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur selama sembilan hari ekspedisi yang dijadwalkan.

Salah satu peserta dari Indonesia, Novianus Efrat (28), atau yang akrab disapa Efrat, mengungkapkan antusiasmenya terhadap rencana proyek percontohan Pulau Sumba sebagai pulau ikonik untuk energi terbarukan tersebut.

Secara fisik, ia mengaku membutuhkan banyak istirahat karena aktifitas yang padat. Namun, baginya hal tersebut tidak menjadi masalah mengingat ekspedisi yang mereka lakukan adalah untuk menjadikan Sumba sebagai pulau percontohan. “Untuk mental, saya sudah sangat siap sejak awal dimulainya pendaftaran ya,” katanya.

Senada dengan Efrat, Guido (45), salah satu peserta dari Belanda, menuturkan hal serupa. Bahkan, ia mengaku senang karena akhirnya bisa bertemu dengan tim Indonesia yang selama ini hanya ia ketahui lewat sosial media.

“Sangat senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan tim Indonesia. Mereka sangat ramah dan terbuka. Kami sungguh tidak sabar untuk memulai ekspedisi ini,” ujar Guido.

Tim Ekspedisi Sumba mempersiapkan alat tulis, buku, dan tas sekolah sumbangan dari para donatur untuk anak-anak sekolah di Sumba. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Tim Ekspedisi Sumba mempersiapkan alat tulis, buku, dan tas sekolah sumbangan dari para donatur untuk anak-anak sekolah di Sumba. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Sebagai informasi, Ekspedisi Sumba 2015 direncanakan akan memakan waktu selama sembilan hari. Delapan orang peserta tim ekspedisi yang terdiri dari empat orang dari Indonesia dan empat orang dari Belanda, akan mengunjungi tiga desa di Pulau Sumba. Desa ini akan diteliti oleh para peserta sebagai wilayah yang berpotensi untuk membuat proyek energi terbarukan.

Tim ekspedisi akan menjelajahi Pulau Sumba sekaligus berinteraksi dan bekerjasama dengan masyarakat setempat untuk mencari solusi penerapan energi terbarukan di pulau dengan jumlah populasi kurang dari 700 ribu orang ini.

Kedelapan peserta tersebut adalah Dea Sihotang dari Cibubur, Novianus Efrat dari Jakarta, Saepul Hamdi dari Sukabumi dan Griksa Gunadarma dari Jakarta. Sedangkan tim dari Belanda, yaitu Guido, Franka, Joyce dan Sylvia.

Sandra Winarsa selaku Project Manager Green Energy (Sumba), Hivos Southeast Asia, pada konferensi persnya beberapa waktu lalu menyatakan pada Ekspedisi Sumba tahun 2015 ini, Hivos bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Sumba, PLN Sumba, komunitas dan LSM setempat untuk bersama-sama dengan merealisasikan energi terbarukan di Sumba.

“Walaupun awalnya pemerintah setempat skeptis dengan apa yang akan kita lakukan, namun seiring berjalannya waktu dan pembuktian nyata, mereka mendukung dan membantu program ini,” katanya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/perjalanan-tim-ekspedisi-sumba-2015-dimulai/feed/ 0
Hivos Kembali Adakan Ekspedisi Sumba 2015 https://www.greeners.co/aksi/hivos-kembali-adakan-ekspedisi-sumba-2015/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hivos-kembali-adakan-ekspedisi-sumba-2015 https://www.greeners.co/aksi/hivos-kembali-adakan-ekspedisi-sumba-2015/#comments Mon, 29 Jun 2015 07:16:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=10042 Jakarta (Greeners) – Organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah, Hivos, kembali mengadakan “Ekspedisi Sumba” pada tanggal 29 Agustus hingga 12 September 2015 mendatang. Ekspedisi yang diadakan untuk keempat kalinya ini merupakan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah, Hivos, kembali mengadakan “Ekspedisi Sumba” pada tanggal 29 Agustus hingga 12 September 2015 mendatang. Ekspedisi yang diadakan untuk keempat kalinya ini merupakan bagian dari kampanye perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos. Empat orang perwakilan dari Indonesia dan empat orang perwakilan dari Belanda akan mengikuti kegiatan yang berlangsung selama dua minggu tersebut.

Programme Manager for Indonesia Biogas Programme dari Hivos, Robert De Groot, mengatakan, melalui kegiatan Ekspedisi Sumba ini warga lokal mendapatkan pendapatan lebih karena memanfaatkan energi terbarukan yang belum tersentuh. Menurut De Groot, Sumba merupakan iconic island untuk energi terbarukan.

“Kami memilih Sumba sebagai iconic island dan kami berani mengklaim bahwa energi terbarukan seratus persen dapat berhasil,” ujarnya saat konferensi pers di gedung Jakarta Design Center, Minggu (28/6).

Pada Ekspedisi Sumba tahun 2015 ini, Hivos bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Sumba, PLN Sumba, komunitas dan LSM setempat untuk bersama-sama dengan merealisasikan energi terbarukan di Sumba.

“Walaupun awalnya pemerintah setempat skeptis dengan apa yang akan kita lakukan, namun seiring berjalannya waktu dan pembuktian nyata, mereka mendukung dan membantu program ini,” ujarnya.

Sandra Winarsa selaku Project Manager Green Energy (Sumba) Hivos Southeast Asia menekankan bahwa kegiatan ini bukanlah sekadar mencari anak muda untuk jalan-jalan gratis melainkan mencari anak muda yang berkomitmen untuk membantu masyarakat Sumba dalam pemanfaatan energi terbarukan ini.

“Para peserta akan tinggal bersama masyarakat Sumba selama satu minggu untuk menyelami permasalahan lokal dan bersama-sama mencari solusi,” imbuhnya.

Sheila Kartika peserta Ekspedisi Sumba tahun 2013 dan Adra peserta Ekspedisi Sumba di tahun 2014 yang turut hadir dalam acara ini juga turut berbagi cerita tentang pengalaman mereka saat mengikuti ekspedisi. Mereka juga mengajak kaum muda yang senang traveling untuk tidak sekadar memotret pemandangan dan mengunggahnya di media sosial, melainkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal.

Pendaftaran program Ekspedisi Sumba 2015 sudah dibuka tanggal 1-31 Juli 2015. Informasi lengkap mengenai kegiatan ini dapat mengakses situs www.supportsumba.org.

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/aksi/hivos-kembali-adakan-ekspedisi-sumba-2015/feed/ 2
Jakarta Akan Ikut Padamkan Listrik Dalam Earth Hour 2015 https://www.greeners.co/berita/jakarta-akan-ikut-padamkan-listrik-dalam-earth-hour-2015/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jakarta-akan-ikut-padamkan-listrik-dalam-earth-hour-2015 https://www.greeners.co/berita/jakarta-akan-ikut-padamkan-listrik-dalam-earth-hour-2015/#respond Fri, 27 Mar 2015 05:10:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8317 Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kembali akan melaksanakan kampanye Earth Hour dengan memadamkan listrik selama satu jam pada hari Sabtu, tanggal 28 Maret 2015 mendatang yang akan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kembali akan melaksanakan kampanye Earth Hour dengan memadamkan listrik selama satu jam pada hari Sabtu, tanggal 28 Maret 2015 mendatang yang akan dimulai sejak pukul 20.30-21.30 WIB.

Hal ini disampaikan Direktur Komunikasi dan Advokasi World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, Nyoman Iswarayoga usai konferensi pers “Earth Hour Indonesia 2015: Hijaukan Hutan, Birukan Laut” yang berlangsung di hotel Kempinski, Jakarta, Kamis (26/03) kemarin. Sehari sebelumnya, Nyoman mengaku bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Dalam pertemuan tersebut diputuskan bahwa Pemprov DKI akan kembali melaksanakan kampanye penghematan energi tersebut.

Menurut Nyoman, Pemprov DKI harus bisa memberi contoh dan imbauan bagi pemerintah kota dan masyarakatnya untuk merubah perilaku agar sadar akan penghematan energi.

“Kampanye ini kan kalau dilakukan secara bersama-sama dan ada banyak pihak yang terlibat tentu akan berdampak besar. Nah, sekarang pertanyaannya masyarakat mau enggak mengikuti kampanye atau aksi penghematan energi ini?” katanya.

Direktur Komunikasi dan Advokasi World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, Nyoman Iswarayoga. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Direktur Komunikasi dan Advokasi World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, Nyoman Iswarayoga. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Nyoman juga menjelaskan,sebanyak delapan titik telah dipastikan akan memadamkan lampu pada waktu pelaksanaan Earth Hour, antara lain Gedung Balai Kota, Monumen Nasional (Monas) dan air mancurnya, Bundaran Hotel Indonesia dan air mancurnya, air mancur Arjuna Wiwaha, patung Pemuda, lampu di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman-Jalan MH Thamrin, lampu di sepanjang Jalan Gatot Subroto-Jalan HR Rasuna Said, serta lampu papan reklame milik Pemprov DKI Jakarta.

Selain itu, lanjutnya, Pemprov DKI juga telah mengeluarkan surat imbauan kepada para pemilik atau pengelola gedung-gedung di sepanjang Jalan MH Thamrin, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Gatot Subroto, dan Jalan HR Rasuna Said untuk berpartisipasi dan menjadikan Earth Hour sebagai kebijakan yang berpihak pada efisiensi energi.

Pada pelaksanaan Earth Hour 2015 yang ketujuh kalinya ini, WWF Indonesia juga melakukan kampanye #IniAksiku dengan melakukan kegiatan konservasi lokal melalui aksi-aksi di sektor laut dan pesisir, deforestasi, keanekaragaman hayati, sampah, sungai dan air, transportasi publik dan energi.

Tahun ini WWF Indonesia juga mendukung kolaborasi antara komunitas Earth Hour di 11 kota dengan melibatkan komunitas Indorunners dengan mengusung tema “7 K, 7 Regions, 7 Causes.” Acara yang akan berlangsung pada 28 Maret pukul 20.30 -21.30 waktu setempat akan diisi dengan lari maraton malam di setidaknya 7 kawasan di Indonesia. Para pelari akan menempuh rute 7 kilometer selama satu jam untuk mendukung 7 program konservasi yang fokus pada upaya konservasi mangrove, terumbu karang, dan penyu.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/jakarta-akan-ikut-padamkan-listrik-dalam-earth-hour-2015/feed/ 0
350 Sosialisasikan Pawai dan Aksi Massal Untuk Perubahan Iklim https://www.greeners.co/berita/350-sosialisasikan-pawai-dan-aksi-massal-untuk-perubahan-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=350-sosialisasikan-pawai-dan-aksi-massal-untuk-perubahan-iklim https://www.greeners.co/berita/350-sosialisasikan-pawai-dan-aksi-massal-untuk-perubahan-iklim/#respond Sun, 14 Sep 2014 10:16:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5803 Jakarta (Greeners) – Komunitas 350 Indonesia yang merupakan bagian dari gerakan global 350 (350.org) kembali melakukan sosialisasi untuk mengajak masyarakat terlibat aktif pada pawai dan aksi massal untuk perubahan iklim […]]]>

Jakarta (Greeners) – Komunitas 350 Indonesia yang merupakan bagian dari gerakan global 350 (350.org) kembali melakukan sosialisasi untuk mengajak masyarakat terlibat aktif pada pawai dan aksi massal untuk perubahan iklim yang akan dilakukan pada tanggal 21 September 2014 mendatang.

Dari riuhnya kerumunan orang yang sedang berolahraga di Bundaran Hotel Indonesia pada saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (Car Free Day), terlihat beberapa orang laki-laki dan perempuan tengah berkampanye mengenai kerusakan iklim di dunia yang semakin memprihatinkan.

Koordinator lapangan dari 350 Indonesia, Soeratno Kurniawan mengatakan, sosialisasi ini dilakukan untuk mengajak mereka yang senang berolahraga dan merindukan udara yang bersih untuk ikut mendukung pada pawai dan aksi massal untuk perubahan iklim tanggal 21 September nanti.

“Di Car Free Day ini kami mensosialisasikan kepada masyarakat tentang pawai dan aksi massal tanggal 21 nanti. Kami sudah start dari jam tujuh dan ada sekitar sepuluh orang yang ikut terlibat,” ujar pria yang akrab disapa Bejo ini, Jakarta, Minggu (14/09).

Sebagai informasi, pada bulan ini, beberapa pemimpin negara dunia akan menghadiri sebuah konferensi mengenai perubahan iklim di New York. Beberapa pawai dan aksi dikoordinasikan secara massif oleh 350.org untuk mengawal konferensi ini.

Pawai dan aksi massal juga akan melibatkan dan memobilisasi komunitas lokal di negara-negara, seperti Filipina, China, Vietnam, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura untuk mengingatkan pada pemimpin dunia bahwa perubahan iklim bukan hanya kata-kata.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/350-sosialisasikan-pawai-dan-aksi-massal-untuk-perubahan-iklim/feed/ 0