Karbon - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/karbon/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 21 Jun 2022 06:50:38 +0000 id hourly 1 Indonesia Bakal Terapkan Pajak Karbon Juli 2022 di Pembangkit Listrik https://www.greeners.co/berita/indonesia-bakal-terapkan-pajak-karbon-juli-2022-di-pembangkit-listrik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-bakal-terapkan-pajak-karbon-juli-2022-di-pembangkit-listrik https://www.greeners.co/berita/indonesia-bakal-terapkan-pajak-karbon-juli-2022-di-pembangkit-listrik/#respond Tue, 21 Jun 2022 06:50:38 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36508 Jakarta (Greeners) – Indonesia berencana menerapkan pajak karbon mulai Juli 2022. Sebagai permulaan, sektor energi listrik akan dikenakan pajak karbon tersebut. Sementara itu, sektor lain yang juga berpotensi masuk jejaring […]]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia berencana menerapkan pajak karbon mulai Juli 2022. Sebagai permulaan, sektor energi listrik akan dikenakan pajak karbon tersebut.

Sementara itu, sektor lain yang juga berpotensi masuk jejaring pajak karbon adalah sektor kehutanan. Pajak karbon sektor ini targetnya akan terimplementasi pada tahun 2025 mendatang.

sektor kehutanan merupakan kunci pengendalian emisi gas rumah kaca. Upaya restorasi dan rehabilitasi yang diwujudkan dalam optimalisasi pengenaan tarif pajak karbon krusial mengingat besarnya potensi sektor ini.

Guna mencapai target penurunan emisi pada Paris Agreement, pemerintah Indonesia berupaya melalui kebijakan regulasi serta inovasi mekanisme pendanaan. Salah satu mekanisme pendanaannya yang akan diterapkan Juli mendatang yaitu pajak karbon dengan skema cap-trade-tax di sektor pembangkit tenaga listrik.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, pajak karbon merupakan salah satu instrumen nilai ekonomi karbon (NEK). Tujuannya untuk mengubah perilaku masyarakat untuk beralih kepada aktivitas ekonomi hijau yang rendah karbon.

Pajak Karbon Juli 2022 dari Emisi yang Bisa Merusak Lingkungan

Pajak karbon adalah pajak yang dikenakan atas emisi karbon yang memberi dampak negatif bagi lingkungan hidup. Mengacu Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan, pemerintah telah menyepakati besaran tarif pajak karbon paling rendah Rp 30 per kilogram.

Peneliti Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi Haruni Krisnawati menyatakan, pajak karbon tidak hanya menambah APBN semata. Tetapi sebagai instrumen pengendalian iklim dalam mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sesuai prinsip pencemar membayar (polluter pays principle).

Sektor kehutanan merupakan salah satu kunci dalam mengendalikan emisi gas rumah kaca demi mendukung pencapaian Nationally Determined Contribution (NDC) 2030 nanti. Sektor ini menjadi target terbesar, yakni 60 persen dari target nasional atau sebesar 17,2 persen dari 29 persen target NDC.

Itulah kenapa, sambung dia, kenapa sektor kehutanan menjadi sentral kehutanan menjadi aksi-aksi mitigasi penurunan gas rumah kaca (GRK). 

Haruni menyebut, hutan mampu menyimpan karbon sekitar 1.000 ton per hektare. Sementara itu pembiayaan hutan terdegradasi biayanya tidak sedikit. Ia menilai nilai pajak tersebut terlalu rendah dan tak sebanding dengan nilai restorasi dan rehabilitasi hutan.

“Terlebih untuk restorasi yang membutuhkan biaya besar. Karena tak semua tanaman dan jenis tanaman berhasil, misalnya untuk hutan mangrove atau gambut,” imbuhnya.

Ia menyebut, berdasarkan studi rata-rata biaya restorasi dengan skenario pengeluaran terendah mencapai U$$ 1.866 per hektare. Ia mendorong agar pemerintah membedakan melalui optimalisasi pengenaan tarif pajak karbon khususnya untuk sektor kehutanan.

Indonesia Harus Berkomitmen Mengendalikan dan Menekan Emisi

Kepala Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup  Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Nugroho Adi Sasongko mengatakan, Indonesia tidak termasuk sebagai negara penyumbang emisi karbon terbesar. Indonesia menyumbang 2 persen emisi karbon di dunia. Adapun penghasil emisi terbesar yaitu China sebesar 29 persen dan Amerika Serikat 15 persen.

Kendati demikian, Indonesia harus berkomitmen untuk mengendalikan dan menekan emisi melalui penerapan pajak karbon. Ia menyebut implementasi pajak karbon awal Juli nanti hanya prioritas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berskala besar.

Sementara untuk PLTU berskala kecil atau kapasitas di bawah 25 MW tak dikenakan pajak mengingat kontribusi emisinya yang tak signifikan.

Ia menambahkan, PLTU skala kecil rata-rata ada di luar Pulau Jawa untuk kebutuhan elektrifikasi di daerah terdepan, terluar dan terpencil. Oleh sebab itu perlu mempertimbangkan agar tidak membebankan pajak karbon kepada PLTU tersebut.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-bakal-terapkan-pajak-karbon-juli-2022-di-pembangkit-listrik/feed/ 0
Bagaimana Cara Menerapkan Diet Emisi Karbon? Yuk, Ikuti Langkah Ini! https://www.greeners.co/gaya-hidup/diet-emisi-karbon/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=diet-emisi-karbon https://www.greeners.co/gaya-hidup/diet-emisi-karbon/#respond Sun, 20 Dec 2020 10:00:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_community_act&p=4810 Kini sudah saatnya mengubah gaya hidup untuk mengurangi emisi karbon hingga kembali ke ambang batas normal, bahkan di bawah itu. Jika tidak, kita akan mencapai satu titik di mana emisi karbon di atmosfer tidak dapat berkurang lagi sehingga dampak dari perubahan iklim tidak dapat kita cegah. Berikut beberapa tips gaya hidup rendah emisi karbon yang dapat kita terapkan dalam keseharian kita.]]>

Diet emisi karbon merupakan salah satu langkah ramah lingkungan yang urgen untuk kita lakukan. Kita sering tidak sadar atau bahkan tidak peduli dengan peninggalan kita akan karbon. Jejak karbon adalah jumlah total emisi gas rumah kaca yang berasal dari produksi, penggunaan, dan akhir masa pakai suatu produk atau layanan. Ini termasuk karbon dioksida – gas yang paling sering manusia keluarkan – dan lainnya, termasuk metana, dinitrogen oksida, dan gas berfluorinasi, yang memerangkap panas di atmosfer, menyebabkan pemanasan global.

Biasanya, sebagian besar jejak karbon individu berasal dari transportasi, perumahan, dan makanan. Ambang batas emisi karbon di atmosfer adalah 350 parts per million (ppm). Namun, saat ini emisi karbon di atmosfer sudah melewati ambang batas dengan kadar 400 ppm, dan terus meningkat 2 ppm per tahun seiring dengan gaya hidup boros karbon yang belum berubah.

Kini sudah saatnya mengubah gaya hidup untuk mengurangi emisi karbon hingga kembali ke ambang batas normal, bahkan di bawah itu. Jika tidak, kita akan mencapai satu titik di mana emisi karbon di atmosfer tidak dapat berkurang lagi sehingga dampak dari perubahan iklim tidak dapat kita cegah. Berikut beberapa tips gaya hidup rendah emisi karbon yang dapat kita terapkan dalam keseharian kita.

Cara Lengkap untuk Diet Emisi Karbon 

Diet Emisi Karbon dengan Konsumsi Makanan Lokal

Konsumsi makanan lokal yang terbuat dari bahan-bahan produksi lokal. Makanan impor berarti memerlukan transportasi yang menggunakan bahan bakar. Tentu saja, bahan bakar yang digunakan menghasilkan emisi karbon. Jarak makanan yang lebih sedikit berarti lebih sedikit emisi.

Makan makanan yang ditanam secara lokal selama satu tahun akan menghemat gas rumah kaca yang setara dengan mengemudi 1.000 mil, tetapi makan hidangan vegetarian satu kali seminggu selama setahun menghemat 1160 mil, menurut studi dari para peneliti di Carnegie Mellon.

Kurangi Konsumsi Daging Merah

Mengurangi konsumsi daging merah seperti daging sapi dan kambing. Kotoran hewan ternak ini menghasilkan metana yang berdampak 72 kali lebih besar daripada karbon dioksida, yang mana kotoran ini masih belum terolah dengan tepat oleh para peternak.

Semakin tinggi permintaan daging merah, semakin banyak peternakan sapi dan kambing, akan semakin besar pula produksi metana dari kotoran hewan ternak ini. Selain itu, produksi daging merah juga banyak membutuhkan pakan, air dan lahan.

Maka dari itu mulai banyak orang yang beralih menjadi vegan. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2017 di jurnal Environmental Research Letters, daging merah memiliki berdampak 100 kali lebih buruk untuk lingkungan daripada makanan nabati.

Menurut beberapa perkiraan, daging sapi mengeluarkan lebih dari enam pon karbon dioksida per sajian; jumlah emisi beras, wortel, apel, atau kentang per sajian kurang dari setengah pon.

Mengikuti pedoman kesehatan nasional, dengan pengurangan lebih lanjut dalam konsumsi daging, ikan dan susu juga merupakan pilihan yang baik, kata Dr. Marco Springmann, peneliti senior kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat di Universitas Oxford. Ini juga bermanfaat bagi kesehatan.

Diet Emisi Karbon dengan Berjalan Kaki, Bersepeda, atau Gunakan Transportasi Umum

Pada November 2017, emisi karbon dioksida dari transportasi melampaui emisi dari pembangkit listrik sebagai sumber utama gas rumah kaca.  Ini karena pembangkit listrik beralih dari penggunaan batu bara ke sumber yang lebih terbarukan dan gas alam. 

Bepergian tanpa kendaraan bermotor pribadi selama setahun dapat menghemat sekitar 2,6 ton karbon dioksida. Bagaimana Anda bisa berhenti menggunakan mobil atau motor? Cobalah naik kereta, MRT, bus, atau opsi yang lebih baik lagi, naik sepeda.

Jika Anda memang harus menggunakan kendaraan pribadi, maka ada beberapa tips untuk membuat perjalanan Anda lebih ‘ramah lingkungan’.

Tips mengurangi emisi saat berkendara pribadi:

  • Hemat gas dan rem: mengemudi secara efisien dapat membantu mengurangi emisi. Berkendara “seolah-olah ada telur di bawah kaki Anda”, saran Brian West, pakar bahan bakar dan penelitian mesin dari Laboratorium Nasional Oak Ridge, yang meneliti penggunaan dan solusi energi di Amerika Serikat.
  • Servis mobil Anda secara teratur.
  • Periksa ban: “Tekanan ban yang rendah akan merusak penghematan bahan bakar Anda,” kata Mr. West.
  • Pendingin udara (AC) dan berkendara di kota yang padat dapat membuat emisi meningkat. Kurangi ini sesering mungkin.
  • Gunakan cruise control pada perjalanan panjang
  • Jangan membebani mobil Anda dengan barang-barang ekstra yang tidak Anda perlukan.
  • Berbagi ruang mobil Anda dengan orang lain, sehingga Anda membagi emisi dengan jumlah orang yang ada di dalam mobil.
diet emisi karbon

Menggunakan bahan makanan yang tumbuh lokal juga memangkas emisi karbon ketimbang membeli dari tempat yang jauh. Foto: Shutterstock.

Minum Air Putih dari Tumbler Sendiri

Air minum dalam kemasan melalui proses yang panjang di pabrik yang menghasilkan emisi karbon. Belum lagi bahan baku air minum dalam kemasan produsen ambil dari sumber yang jauh sehingga menambah emisi karbon melalui transportasinya.

Matikan Lampu dan Cabut Semua Listrik Ketika Tidak Terpakai

Konsumsi listrik menghasilkan emisi karbon karena saat ini listrik sebagian besar dihasilkan dari bahan bakar fosil, seperti batu bara dan solar. Di rumah tangga Amerika Serikat, rata-rata 25 persen energi untuk memanaskan ruang, 13 persen untuk memanaskan air, 11 persen  untuk pendinginan dan sisanya untuk peralatan. Menurut perkiraan dari Natural Resources Defense Council.

“Membuat perubahan kecil pada hal ini dapat membuat perbedaan besar,” kata Noah Horowitz, ilmuwan senior dan direktur NRDC’s Center for Energy Efficiency.

Berikut adalah cara yang dapat membantu Anda untuk mengurangi penggunaan energi:

  • Suhu penghangat jangan terlalu tinggi. Tutup tirai untuk membantu menjaga suhu tetap stabil di dalam ruangan.
  • Matikan pemanas air Anda, 120 derajat fahrenheit sudah cukup.
  • Matikan lampu dan peralatan saat Anda tidak menggunakannya. Perangkat elektronik yang tidak sedang dipakai tetap akan mengonsumsi listrik jika listrik tetap tersambung.
  • Streaming film melalui smart TV Anda, bukan konsol game Anda. Smart TV dan pluginnya hanya menggunakan beberapa watt untuk streaming film, kata Horowitz, tetapi jika Anda menggunakan konsol game Anda, penggunaan energi sekitar 10 kali lebih tinggi, karena mereka tidak dioptimalkan untuk memutar film.
  • Pakailah laptop, bukan komputer desktop. Laptop membutuhkan lebih sedikit energi untuk mengisi daya dan bekerja.
  • Ganti lampu. Lampu LED menggunakan energi hingga 85 persen lebih sedikit, bertahan hingga 25 kali lebih lama dan lebih murah untuk dijalankan daripada lampu pijar.
  • Jangan mengatur suhu lemari es dan freezer lebih rendah dari yang diperlukan. Departemen Energi Amerika Serikat merekomendasikan sekitar 35 hingga 38 derajat Fahrenheit untuk kompartemen makanan segar dan 0 derajat untuk freezer.
  • Tanam semak dan pohon di sekitar rumah Anda agar suasana sejuk, sehingga Anda tidak perlu menggunakan pendingin ruangan setiap waktu.
Empat Langkah Awal Mendaur Ulang

Diet emisi karbon dengan mengurangi limbah. Foto: Shutterstock.

Diet Emisi Karbon dengan Mengurangi Limbah

Rata-rata orang Amerika menyia-nyiakan sekitar 40 persen makanan yang mereka beli. Sedangkan Indonesia menghasilkan sampah makanan hingga 13 juta ton per tahunnya.

Berikut adalah tips mengurangi limbah makanan:

  • Atur lemari es Anda untuk memeriksa apa saja yang Anda miliki, dan buat daftar belanjaan sebelum Anda pergi ke toko untuk mencegah membeli barang-barang yang tidak Anda butuhkan.
  • Makanan dengan potongan harga mungkin penawaran yang bagus, tapi Anda harus berpikir apakah Anda benar-benar akan mengonsumsinya.
  • Jangan memasak makanan lebih banyak dari yang bisa Anda makan. Perhitungkan jumlah yang tepat untuk jumlah orang yang makan dan sesuaikan resep dengan kebutuhan Anda.
  • Gunakan kembali sisa makanan daripada membuangnya.
  • Perpanjang umur makanan Anda dengan memasukkannya ke kulkas.
  • Bawa pulang porsi restoran yang terlalu banyak untuk Anda.

Hindari penggunaan wadah atau kemasan sekali pakai. Jika memang perlu menggunakan piring, mangkuk, atau peralatan sekali pakai, ada banyak opsi saat ini yang ramah lingkungan. Misalnya membuatnya sebagai bahan kompos atau membiarkannya terurai secara hayati.

Diet Emisi Karbon dengan Mendaur Ulang

Warga Amerika Serikat menghasilkan sekitar 258 juta ton sampah setahun. 169 juta ton di antaranya berakhir di tempat pembuangan sampah dan incinerator. Menurut laporan EPA tahun 2014, warga AS mendaur ulang dan membuat kompos dari 89 juta ton sampah kota. Ini menyelamatkan jumlah energi yang sama seperti yang dihasilkan oleh 25 juta rumah. Namun sebagian besar sampah yang bisa didaur ulang masih berakhir di tempat pembuangan akhir. 

Beberapa panduan untuk mendaur ulang sampah Anda:

  • Temukan angka dalam segitiga di bagian bawah wadah plastik, ini menunjukkan jenis resin yang digunakan.
  • Kosongkan dan bilas wadah makanan sebelum memasukkannya ke tempat sampah daur ulang.
  • Daur ulang kertas, baja, dan kaleng.
  • Donasikan peralatan elektronik yang masih berfungsi. Daur ulang barang elektronik yang sudah rusak.
  • Hubungi dealer mobil setempat untuk mendaur ulang aki mobil.

Baca juga: 15 Manfaat Kesehatan Pepaya: Bantu Kurangi Mual dan Inflamasi

Gunakan Pakaian yang Berkelanjutan

Menurut World Resources Institute, setiap tahunnya ada produksi 20 pakaian per orang. Hal ini karena adanya fast fashion, produksi pakaian yang cepat, murah, namun tidak berkelanjutan. Anda perlu mempertimbangkan merek-merek yang mulai mengusung keberlanjutan. Bisa juga belanja barang-barang vintage.

Selain itu Anda perlu mempertimbangkan kain dari pakaiannya, bagaimana dampak bahannya pada lingkungan. Anda juga sebaiknya mendonasikan pakaian lama Anda. Setiap membeli barang, Anda harus selalu menggaungkan ini pada pikiran Anda, ‘berapa kali Anda akan memakainya?’.

Diet Emisi Karbon dengan Berbelanja Secara Sirkular

Ketika membeli apapun, bawalah tas yang dapat Anda gunakan kembali. Hindari penggunaan kemasan plastik. Berinvestasilah pada produk berkualitas yang tahan lama.

Anda bisa mencari tahu perkumpulan pecinta lingkungan di daerah Anda supaya bisa saling berdiskusi cara lainnya dalam mengurangi emisi karbon. Selain itu, menyuarakan kebijakan-kebijakan peduli lingkungan sehingga bumi jadi lestari, tubuh lebih sehat, dan pengeluaran pun lebih hemat.

Penulis: Agnes Marpaung

Editor: Ixora Devi

Sumber:

New York Times

DBS

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/diet-emisi-karbon/feed/ 0
Paus Menyerap Lebih Banyak Karbon Dibanding Pohon https://www.greeners.co/berita/paus-menyerap-lebih-banyak-karbon-dibanding-pohon/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=paus-menyerap-lebih-banyak-karbon-dibanding-pohon https://www.greeners.co/berita/paus-menyerap-lebih-banyak-karbon-dibanding-pohon/#respond Tue, 08 Sep 2020 05:03:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=28472 Jika dibandingkan dengan pohon, paus menangkap emisi karbon lebih banyak karena pohon memiliki bagian yang gugur dan terdekomposisi.]]>

Jakarta (Greeners) – Seekor paus diketahui memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida lebih banyak dibanding sebatang pohon. Laporan penelitian ilmiah International Monetary Fund (IMF) menyebut bahwa setiap paus besar rata-rata menyerap 33 ribu kilogram CO2. Sedangkan sebuah pohon dapat menyerap hingga 22 kilogram karbon dioksida setahun. Konservasi paus juga memiliki potensi penangkapan karbon yang besar.

Salah satu hewan laut terbesar ini juga memainkan peran penting karena membantu menyuburkan tanaman mikroskopis yang dapat menyerap 40 persen CO2. Paus juga menangkap karbon dalam jumlah besar di tubuh mereka sebelum tenggelam ke dasar laut saat mereka mati. Karbon tersebut dapat bertahan selama berabad-abad.

Baca juga: Akademisi: RUU Cipta Kerja Mengerdilkan Makna Pembangunan

Tahun lalu, IMF menaksir peran paus dan fungsinya dalam penyerapan karbon serta kondisi laut yang sehat senilai lebih dari USD 1 triliun. Satu ekor paus besar diperkirakan berharga lebih dari USD 2 juta karena berkontribusi terhadap penangkapan karbon, peningkatan perikanan, dan pariwisata.

Peneliti mamalia laut di Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sekar Mira mengatakan bahwa pada dasarnya setiap makhluk hidup umumnya mengandung karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen.“Semakin banyak biomassa suatu spesies, stok karbon yang disimpannya juga makin banyak,” ujar Mira, ketika dihubungi Greeners, Senin (07/09/2020).

Paus

Siklus penyerapan oksigen dan karbon pada paus. Sumber: www.imf.org

Seekor paus mengumpulkan karbon melalui makanan dan menyimpannya di dalam tubuh selama masa hidup yang panjang. Paus rata-rata memiliki berat 200 ton dengan umur rata-rata 70 tahun. Satu spesies seperti paus kepala busur, misalnya, diperkirakan memiliki umur 268 tahun. Ketika seekor paus mati, ia tenggelam ke dasar lautan dan karbon di dalam tubuhnya tinggal.

Menurut Mira, bangkai paus yang tenggelam membutuhkan waktu puluhan tahun untuk membusuk dan menyatu dengan ekosistem. Selain itu keberadaannya juga menjadi sumber makanan yang sangat besar bagi spesies laut dalam dari pemakan bangkai besar hingga bakteri mikroskopis. “Makin tua paus, berarti ia menjadi stok yang baik untuk menyimpan karbon. Jadi, usia itu memengaruhi penyimpanan karbon,” ujarnya.

Baca juga: Implementasi Standar Emisi Euro IV Masih Tertunda

Jika dibandingkan dengan pohon, kata dia, paus menangkap emisi karbon lebih banyak karena tanaman memiliki bagian yang gugur dan terdekomposisi. Selain itu, tumbuhan juga biasanya mengeluarkan karbon dioksida dari hasil respirasinya (proses oksidasi).

Feses paus juga dinilai dapat menyuburkan fitoplankton untuk membantu menyerap emisi. Ketika kotorannya jatuh ke laut dalam, hal tersebut akan membantu proses penangkapan atau pemindahan karbon dari atmosfer ke suatu tempat. Sistem ini disebut juga dengan sekuestrasi karbon.

Sumber: www.imf.org

Kandungan yang terdapat di dalam feses paus terdiri dari sejumlah besar nutrisi seperti fosfor, besi, dan nitrogen yang penting untuk pertumbuhan fitoplankton. IMF menghitung bahwa fitoplankton bertanggung jawab untuk menangkap sekitar 37 miliar ton CO2 yang setara dengan 1,7 triliun pohon atau empat kali hutan hujan Amazon.

“Hanya tumbuhan termasuk fitoplankton di laut yang langsung dapat menyerap emisi karbon dioksida. Jadi, tidak semua dapat menyerap emisi, tapi semua terlibat dalam siklus karbon,”ujar Mira.

Populasi Paus Terus Berkurang

Populasi paus di laut dunia telah berkurang dalam dua abad terakhir. Jumlahnya turun dari 5 juta menjadi 1,5 juta saat ini. Lebih dari 30 tahun praktik penangkapan ikan paus terjadi untuk keperluan komersial. Kini sebagian besar telah dilarang untuk melindungi mamalia laut itu. Spesies paus mengalami berbagai dampak akibat perilaku manusia, misalnya, polusi plastik dan suara, tabrakan kapal, alat tangkap, dan pemanasan global.

Akhir-akhir ini banyak paus yang mati terdampar di lautan Indonesia dan penyebabnya belum diketahui. Dokter Hewan World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, Dwi Suprapti memaparkan bahwa setiap kejadian mamalia laut terdampar membawa pesan yang cukup banyak. Menurutnya peristiwa tersebut mengindikasikan pencemaran laut, aktivitas yang tinggi di laut, atau kondisi alam, seperti cuaca buruk dan gempa.

“Peran dokter hewan adalah melakukan nekropsi (pembedahan) pada mamalia laut yang terdampar. Namun kegiatan itu tetap tidak bisa dilakukan sendiri, dibutuhkan peran dari berbagai pihak dengan porsinya masing-masing untuk mengungkap kejadian terdampar,” ujar Dwi pada Webinar Kejadian Mamalia Laut Terdampar Perspektif Dokter Hewan dan Peneliti Oseanografi, Kamis lalu.

Baca juga: Pemakaian Ekstrak Ganja Dinilai Redakan Stres pada Gajah

Dwi menyebut terdapat sebelas penyebab kejadian mamalia laut terdampar, yaitu terjebak di air surut, penyakit, predasi atau serangan, kebisingan, aktivitas perikanan, tertabrak kapal, pencemaran laut, gempa dasar laut, cuaca ekstrem, ledakan alga (blooming), dan badai matahari.

“Dari 304 kasus kejadian mamalia laut terdampar yang terjadi selama periode 2015-2019, lebih dari 80 persen tidak terjawab penyebabnya karena keterbatasan SDM, biaya, dan informasi yang diperoleh. Dari 20 persen yang terjawab, hasil tertinggi karena by catch (penangkapan), cuaca, tertabrak kapal, dan predator,” ucapnya.

Dari perspektif oseanografi, Dosen Ilmu Teknologi Kelautan IPB University Agus Saleh Atmadipoera menyampaikan, Wilayah Indonesia Timur dengan topografi yang kompleks berperan terhadap kejadian mamalia laut terdampar. Menurutnya, propagasi gelombang pasang surut internal berpotensi menghempaskan mamalia laut dari kedalaman termoklin ke dekat permukaan. Hal ini dapat menyebabkan dekompresi mamalia laut akibat perubahan yang mendadak.

“Ada kecenderungan peningkatan yang terdampar pada periode transisi dan musim Timur. Hal tersebut didapatkan dari analisis data kejadian dengan pola meteo dan oseano,” kata Agus.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/paus-menyerap-lebih-banyak-karbon-dibanding-pohon/feed/ 0
Amazon Lakukan Pengiriman Nihil Karbon dengan Shipment Zero https://www.greeners.co/ide-inovasi/amazon-lakukan-pengiriman-nihil-karbon-dengan-shipment-zero/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=amazon-lakukan-pengiriman-nihil-karbon-dengan-shipment-zero https://www.greeners.co/ide-inovasi/amazon-lakukan-pengiriman-nihil-karbon-dengan-shipment-zero/#respond Thu, 13 Feb 2020 03:50:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=26111 Perusahaan teknologi multinasional Amazon mengerahkan usaha berbasis ramah bumi (ecofriendly) melalui sistem pengiriman barang nol emisi (Shipment Zero).]]>

Perusahaan teknologi multinasional Amerika Amazon sedang mengerahkan usaha berbasis ramah bumi (ecofriendly) melalui sistem pengiriman barang nol emisi. Perusahaan niaga elektronik asal Seattle, Washington ini dalam rilisnya menyatakan akan melakukan pengiriman nihil karbon ke pelanggan dengan memanfaatkan energi terbarukan, kendaraan listrik, bahan bakar penerbangan yang ramah lingkungan (biofuel), dan memakai kemasan yang dapat digunakan kembali.

Inisiatif ini oleh Amazon disebut “Shipment Zero“. Mereka memasang target ambisius 50 persen dari semua pengiriman agar bersih dari karbon pada 2030. Amazon memiliki tujuan jangka panjang menjalankan infrastruktur global menggunakan energi terbarukan 100 persen. Mengutip laman resminya, mereka membuat kemajuan yang solid dalam inisiatif ramah lingkungan tersebut.

“Tidak mudah untuk mencapai tujuan ini, melainkan perlunya fokus dan keras kepala menjalani visi ini dan kami berkomitmen untuk mewujudkannya,” ujar perwakilan Amazon dikutip dari blog.aboutamazon.com.

Baca juga: Solar Foods Ciptakan Makanan Dari Karbon Dioksida

Amazon memiliki sejarah komitmen terhadap keberlanjutan melalui program inovatif seperti Frustration Free Packaging, Ship in Own Container, Our Network of Solar and Wind Farms, Solar On Our Fulfillment Center Rooftops, Investments in The Circular Economy, dan banyak inisiatif lainn. Dalam operasinya, Amazon memiliki lebih dari 200 ilmuwan, insinyur, dan desainer produk yang didedikasikan khusus untuk menciptakan cara baru untuk meningkatkan kepedulian kepada pelanggan dan planet Bumi.

“Kami tidak akan melakukannya sendirian. Kami akan terus menggunakan kemampuan kami dan umpan balik yang diberikan pelanggan kepada kami agar memungkinkan dan mendorong supplier baik yang di atas dan bawah dari rantai pasok dalam mengurangi dampak lingkungan mereka sendiri. Seperti yang sudah kami lakukan dengan program-program seperti Ship in Own Container dan Frustration Free Packaging,” kata perwakilan Amazon.

Shipment Zero

Shipment Zero. Foto: blog.aboutamazon.com

Amazon menuturkan akan memonitor komitmen perusahaannya menuju keberlanjutan. Mereka berencana membagikan jejak karbon seluruh perusahaan bersamaan dengan programnya di akhir 2019. Amazon juga mengikuti proyek ekstensif selama dua tahun terakhir untuk memetakan jejak karbon. Tujuannya agar dapat memberikan informasi rinci kepada tim dan mengidentifikasi cara mengurangi pemakaian karbon.

“Pelanggan akan selalu menginginkan lebih banyak pilihan, kecepatan pengiriman yang lebih cepat, dan biaya yang lebih rendah. Kami percaya bahwa biaya yang lebih rendah termasuk menurunkan biaya lingkungan di mana kita tinggal dan bekerja setiap hari. Kami akan terus menginformasikan upaya kami mencapai Shipment Zero,” ucap mereka.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/amazon-lakukan-pengiriman-nihil-karbon-dengan-shipment-zero/feed/ 0
Once, Berharap Udara Kembali Segar https://www.greeners.co/gaya-hidup/once-berharap-udara-kembali-segar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=once-berharap-udara-kembali-segar https://www.greeners.co/gaya-hidup/once-berharap-udara-kembali-segar/#respond Wed, 06 Jan 2016 07:11:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12447 Penyanyi Once Mekel berharap udara kembali segar. Menurutnya, asap karbon yang telah mencemari udara di beberapa kota besar di Indonesia sudah mulai mengkhawatirkan.]]>

Jakarta (Greeners) – Penyanyi Once Mekel meminta agar pengecekan emisi gas buang kendaraan bermotor agar lebih ketat diterapkan. Menurutnya, asap karbon yang telah mencemari udara di beberapa kota besar di Indonesia sudah mulai mengkhawatirkan.

“Pengecekan emisi gas buang harus lebih keras lah, soalnya sudah mendesak banget,” ujar Once kepada Greeners di sebuah acara di Jakarta pada akhir Desember lalu.

Pria yang sempat menjadi vokalis grup band Dewa 19 menyatakan bahwa dirinya memang tidak mempelajari permasalahan lingkungan hidup di sekolah formal, namun saat ini tidak perlu belajar di sekolah untuk mengetahui buruknya kualitas lingkungan. Dengan membandingkan kualitas udara di sekitar rumah dalam rentang waktu lima atau sepuluh tahun yang lalu, Once menarik kesimpulan bahwa kualitas udara telah mengalami penurunan.

“Saya enggak pernah menduga kalau udara di Jakarta Selatan jadi sama seperti di daerah yang lain, kayak daerah pabrik di Sunter atau daerah lain di Jakarta Utara, ” imbuhnya.

Kondisi demikian membuat pria bernama lengkap Elfonda Mekel ini khawatir akan perkembangan fisik dan psikis generasi muda Indonesia. Menurutnya, perkembangan generasi muda dapat terganggu dengan adanya udara yang sarat akan polusi.

“Saya khawatir anak saya dan anak-anak yang lain terlalu banyak menghirup karbon sehingga punya efek buruk nantinya,” ujar Ayah dari Manuel Mekel ini.

Once juga berharap pemerintah lebih memperhatikan permasalahan tersebut. Masyarakat disebutnya, tidak akan berubah jika tidak ada tindakan politik yang dapat merangsang perubahan.

“Pemerintah atau negara enggak boleh ngebiarin aja. Kalau dibiarkan terus, ya, 100 tahun ke depan bakal kayak begini saja. Kebijakan harus top-down, harus dari atas,” katanya.

Pemerintah, lanjut Once, setidaknya harus merangsang terciptanya kota atau negara yang layak huni bagi rakyatnya. Baginya, udara yang segar dan tiadanya sampah yang berserakan adalah dua hal utama yang harus dipenuhi agar terciptanya lingkungan yang layak huni.

“Kota kalau enggak enak dilihat, orangnya jadi stress, jadi enggak sehat semua, malah menimbulkan hasrat buat kekerasan dan lain sebagainya,” jelasnya.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/once-berharap-udara-kembali-segar/feed/ 0