karbondioksida - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/karbondioksida/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 18 May 2021 07:15:15 +0000 id hourly 1 Carbfix Sulap Karbon Dioksida Menjadi Batu https://www.greeners.co/ide-inovasi/carbfix-sulap-karbon-dioksida-menjadi-batu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=carbfix-sulap-karbon-dioksida-menjadi-batu https://www.greeners.co/ide-inovasi/carbfix-sulap-karbon-dioksida-menjadi-batu/#respond Sat, 15 May 2021 01:05:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=32636 Kita semua tahu bahwa emisi karbon merupakan salah satu faktor utama dari terjadinya krisis iklim saat ini. Emisi ini telah menyumbang lebih dari 60 persen permasalahan lingkungan yang berkaitan dengan […]]]>

Kita semua tahu bahwa emisi karbon merupakan salah satu faktor utama dari terjadinya krisis iklim saat ini. Emisi ini telah menyumbang lebih dari 60 persen permasalahan lingkungan yang berkaitan dengan perubahan iklim, seperti gangguan pola cuaca hingga pengasaman laut. Guna mencegah terjadinya kerusakan alam yang lebih lanjut, sebuah perusahaan startup asal Islandia, Carbfix, berinovasi untuk “menyulap” karbon dioksida menjadi batu!

“Carbfix sendiri bermula sebagai sebuah proyek yang terbentuk pada tahun 2006. Proyek ini mendapatkan bantuan dari Reykjavik Energy, The University of Iceland, CNRS, dan Columbia University. Adapun tujuan awal dari terciptanya startup ini yaitu untuk menekan laju produksi emisi karbon dengan cara mengubah karbon dioksida dari kawasan industri menjadi bebatuan,” tulis Carbfix dalam situs resmi mereka.

Lantas, mengapa Carbfix memilih batu sebagai hasil akhir dari pengolahan karbon dioksida? Mengutip dari situs resmi mereka, karbon dalam jumlah besar secara alami akan tersimpan di bebatuan. Terinspirasi akan hal tersebut, perusahaan milik Edda Sif Pind Aradottir ini memutuskan untuk menciptakan batu buatan yang dapat menyimpan karbon dioksida dalam jumlah yang cukup besar.

“Ini merupakan teknologi yang murah, ekonomis, ramah lingkungan, dan dapat terus berkembang. Pada dasarnya, kami hanya melakukan apa yang telah alam lakukan selama jutaan tahun lamanya. Kami membantu alam untuk membantu dirinya sendiri,” ujar Edda, seperti dilansir dari Eco Watch.

Sampel Karbonat yang diambil di lokasi injeksi Carbfix. Foto : Carbfix.com

Lewati Beragam Proses

Untuk menciptakan batu yang terbuat dari karbon dioksida, Carbfix bekerja sama dengan perusahaan asal Swiss, Climeworks. Berkolaborasi dengan Climeworks, Carbfix melakukan proses yang bernama “penangkapan” karbon. Ini merupakan langkah awal dari proses pembuatan batu berbahan karbon dioksida.

Gas karbon dioksida yang kebanyakan bersumber dari fasilitas industri akan “ditangkap” oleh Carbfix sebelum gas tersebut memasuki lapisan atmosfer. Hal ini tentu saja dapat mengurangi produksi jejak karbon dan dapat meniadakan emisi karbon yang sebelumnya tidak tertangani. Setelah gas karbon dioksida berhasil terkumpul, gas tersebut akan melewati proses pelarutan. Carbfix melarutkan gas karbon dioksida tersebut dengan menggunakan air.

Setelah gas tersebut larut sepenuhnya, mereka akan menyuntikkan larutan karbon dioksida pada suatu cetakan yang berbentuk seperti iglo dan terletak di bawah tanah. Larutan tersebut akan melalui proses injeksi ke dalam cetakan dengan menggunakan kecepatan tinggi. Setelah itu, proses pemadatan batu pun akan berlangsung. Butuh waktu sekitar dua tahun untuk mengubah larutan karbon dioksida menjadi batuan yang padat.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Eco Watch

 

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/carbfix-sulap-karbon-dioksida-menjadi-batu/feed/ 0
Fasilitas Penyedot Karbon di Zurich https://www.greeners.co/ide-inovasi/fasilitas-penyedot-karbon-zurich/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=fasilitas-penyedot-karbon-zurich https://www.greeners.co/ide-inovasi/fasilitas-penyedot-karbon-zurich/#respond Fri, 30 Jun 2017 12:30:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=17505 Climeworks, perusahaan yang berbasis di Swiss, menciptakan Direct Air Capture (DAC), sebuah teknologi untuk menyedot karbondioksida dari udara. Fasilitas komersial ini dipasang di atas fasilitas pengolahan limbah di kota Zurich.]]>

Menangkap karbon di udara adalah salah satu perjuangan utama dalam konteks perubahan iklim, termasuk juga menjaga temperatur agar tidak meningkat lebih dari 2 derajat Celcius. Begitu data yang dipaparkan Climeworks. Perusahaan yang berbasis di Swiss ini telah melakukan penelitian beberapa tahun belakangan untuk menciptakan sebuah teknologi untuk menyedot karbondioksida dari udara dan menjual hasilnya untuk industri pertanian atau industri energi untuk dipakai ulang.

Belakangan ini mereka berhasil menciptakan produk yang siap masuk pasar. Produk bernama Direct Air Capture (DAC) ini adalah fasilitas komersial yang dipasang di atas fasilitas pengolahan limbah di Zurich, Swiss.

zurich

Foto: Climeworks via Facebook

Diletakkan di atas insenerator milk pemerintah, DAC buatan Climeworks merupakan sebuah alat setinggi tiga tumpukan kontainer dengan enam mesin kolektor karbon. Kipas angin berukuran besar akan menyedot udara di sekitarnya dan kemudian disalurkan melalui filter untuk menangkap CO2. Panas yang dihasilkan sampah akan memberikan daya kepada mesin DAC.

Climeworks berkata bahwa karbondioksida yang dihasilkan akan dikirim ke rumah-rumah kaca dengan hasil sebanyak 900 metrik ton per tahun dan akan dikirimkan ke rumah-rumah kaca melalui pipa di bawah tanah. CO2 yang dihasilkan juga bisa digunakan untuk industri minuman berkarbonasi atau bahan bakar hidrokarbon. Dengan cara ini alat DAC akan memberikan manfaat juga terhadap industri otomotif dan industri makanan minuman.

zurich

Foto: Youtube

Tujuan utama pemasangan alat ini adalah menangkap sebanyak 1% dari seluruh emisi karbon di dunia pada tahun 2025. Untuk melakukannya, Jan Wurzbacher, salah satu pendiri dan direktur Climeworks mengestimasikan bahwa mereka harus memasang sebanyak 750.000 kontainer yang dilengkapi dengan alat pengumpul CO2 buatan mereka.

Jumlah itu sama dengan jumlah kontainer yang masuk melalui pelabuhan di Shanghai dalam jangka waktu dua minggu, jadi sebenarnya data tersebut adalah sebuah target yang bisa dicapai oleh ekonomi global saat ini. Selain itu, terdapat jenis pengumpul CO2 yang bersifat modular dan dapat dipasang dimana saja.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/fasilitas-penyedot-karbon-zurich/feed/ 0
Plastik Berbahan Dasar Udara https://www.greeners.co/ide-inovasi/plastik-berbahan-dasar-udara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=plastik-berbahan-dasar-udara https://www.greeners.co/ide-inovasi/plastik-berbahan-dasar-udara/#respond Thu, 16 Feb 2017 07:37:56 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=15915 Sampai saat ini industri plastik mengambil alih 8 persen produksi minyak bumi, dan diramalkan melonjak naik hingga 20 persen pada 2050. Namun, NewLight Technologies, baru-baru ini mengklaim telah menciptakan penemuan baru yaitu plastik berbahan dasar CO.]]>

Limbah plastik merupakan salah satu isu lingkungan yang paling penting. Joss Bleriot, pemimpin eksekutif Ellen MacArthur Foundation mengatakan, “sampai saat ini industri plastik mengambil alih 8 persen produksi minyak bumi, dan diramalkan melonjak naik hingga 20 persen pada 2050. Itu artinya kita akan menghadapi melonjaknya beban plastik dan itu adalah kerugian,” ujarnya seperti dikutip The Guardian.

Dilansir dari GreenIdeas, Perusahaan AS, NewLight Technologies, baru-baru ini mengklaim telah menciptakan penemuan baru yaitu plastik berbahan dasar CO. Untuk memproduksi 1 kilogram plastik bernama AirCarbon ini, dibutuhkan 1 kilogram CO. Tidak hanya itu, plastik tersebut didesain mampu terurai atau bisa didaur ulang sesuai dengan kebutuhan.

Jika plastik berbahan tanaman membutuhkan lahan yang seharusnya bisa digunakan untuk memproduksi makanan – juga air, pupuk dan pestisida; plastik AirCarbon tidak membutuhkan lahan, sebagai gantinya ia mengombinasikan gas metana dan CO yang dikumpulkan dari limbah kota dan industri.

Menurut laman NewLight Technologies, material plastik AirCarbon berisi 40 persen oksigen dari udara dan 60 persen karbon dan hidrogen dari emisi metana yang ditangkap. Dengan mengganti minyak menjadi AirCarbon, NewLight Technologies yakin mampu meningkatkan mutu lingkungan – mengurangi penggunaan minyak bumi, mengurangi biaya, dan memotong jumlah karbon di udara.

Dibentuk oleh insinyur dan ilmuwan dari Universitas Princeton dan Northwestern, NewLight menyatakan jika misi mereka adalah “mengganti plastik berbahan dasar minyak dengan plastik berbahan dasar udara, sehingga mampu menangkap cukup karbon untuk menstabilkan dan menghentikan perubahan iklim.”

Penulis: MFA/G41

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/plastik-berbahan-dasar-udara/feed/ 0
BMKG: Kadar Konsentrasi Methana dan Karbondioksida di Indonesia Meningkat https://www.greeners.co/berita/bmkg-kadar-konsentrasi-methana-dan-karbondioksida-di-indonesia-meningkat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-kadar-konsentrasi-methana-dan-karbondioksida-di-indonesia-meningkat https://www.greeners.co/berita/bmkg-kadar-konsentrasi-methana-dan-karbondioksida-di-indonesia-meningkat/#respond Sat, 05 Sep 2015 10:46:44 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11021 Jakarta (Greeners) – Gas rumah kaca yang berlebihan dampaknya semakin mengkhawatirkan bagi manusia dewasa ini. Tidak hanya pada kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya, gas rumah kaca yang berlebihan juga […]]]>

Jakarta (Greeners) – Gas rumah kaca yang berlebihan dampaknya semakin mengkhawatirkan bagi manusia dewasa ini. Tidak hanya pada kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya, gas rumah kaca yang berlebihan juga berdampak pada berbagai hal yang langsung berkaitan dengan keseharian kita. Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geologi, Dr. Ir. Dodo Gunawan, DEA, kepada Greeners di Jakarta, Kamis (3/9).

“Ada tren atau kecenderungan kadar gas rumah kaca seperti methana dan karbondioksida meningkat dalam satu dekade terakhir,” jelas Dodo.

Methana dan karbondioksida merupakan dua gas yang menjadi ukuran BMKG dalam mengamati gas rumah kaca. Dari data resmi yang dilansir BMKG, terjadi tren peningkatan kadar methana dan karbondioksida di Indonesia dalam rentang 10 tahun terakhir, yaitu antara tahun 2004 hingga 2014.

Dari data tersebut, kadar konsentrasi methana (CH4) pada April 2014 lebih dari 1910 part per billion (ppb). Sementara, pada April 2004 hanya berkisar pada 1770 ppb. Sementara itu, konsentrasi karbondioksida pada 2014 menyentuh 400 part per million (ppm). Lebih tinggi dari tahun 2004 yang hanya berkisar di antara 365 sampai 380 ppm.

Dengan kadar gas rumah kaca yang menunjukkan tren peningkatan, Dodo menyatakan bahwa kondisi alam saat ini tidaklah sama dengan kondisi masa lalu. Namun, naiknya suhu dunia secara signifikan menghasilkan dampak buruk dan tidak bisa dibiarkan.

“Sekarang adalah masa transisi bagi manusia dalam menghadapi perubahan iklim yang signifikan dalam beberapa waktu ini,” ujarnya.

Salah satu dampak dari perubahan iklim, lanjutnya, adalah berubahnya masa tanam dan masa panen bagi petani. Masa tanam petani yang berubah dibandingkan beberapa dekade lalu, berdampak pula pada pasokan pangan. Selain itu, intensitas cuaca ekstrem pun cenderung semakin tinggi.

Menurut Dodo, daerah yang memiliki curah hujan tinggi akan sering dilalui hujan deras dan angin kencang. Sebaliknya, daerah yang kering dapat mengalami musim kekeringan yang panjang.

“Seperti saat ini, bulan Juni sampai Agustus musim kering panjang. Ada beberapa daerah yang kekurangan air bersih,” jelas Dodo.

Dengan kondisi seperti saat ini, menurut Dodo, masyarakat harus lebih menyadari dan memperhatikan mengenai kenaikan suhu dunia yang diakibatkan oleh gas rumah kaca. “Karena kita tidak tahu efek apalagi yang akan menyerang,” tegas Dodo.

Ia juga menyatakan bahwa BMKG telah berkordinasi dengan berbagai instansi terkait mengenai fenomena alam yang berkaitan langsung dengan gas rumah kaca dan perubahan iklim.

Sebagai informasi, dari data yang dilansir oleh BMKG, selama tahun 2015 ini tercatat tiga kali konsentrasi ozon permukaan mendekati ambang batasnya, yaitu pada bulan Februari, April dan Juli. Dalam ke tiga bulan tersebut, tercatat konsentrasi ozon permukaan melebihi 100 part per billion (ppb). Angka ini berada sedikit di bawah ambang batas “aman” untuk ozon permukaan, yaitu 120 ppb.

Di Indonesia sendiri terdapat dua tempat yang dijadikan area pengukuran ozon permukaan. Dua tempat tersebut adalah Kemayoran di Jakarta Utara dan Kototabang di Sumatera Barat. Jakarta sendiri adalah kota yang memiliki kadar ozon permukaan tertinggi di Indonesia.

Penulis: TW

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-kadar-konsentrasi-methana-dan-karbondioksida-di-indonesia-meningkat/feed/ 0
Peringatan Dari Pesisir Untuk Habitat Penting Atlantik https://www.greeners.co/berita/peringatan-dari-pesisir-untuk-habitat-penting-atlantik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peringatan-dari-pesisir-untuk-habitat-penting-atlantik https://www.greeners.co/berita/peringatan-dari-pesisir-untuk-habitat-penting-atlantik/#respond Mon, 30 Jun 2014 10:25:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5049 Via climate news network London (Greeners) – Beberapa habitat laut produktif yang paling penting di Bumi terancam. Para ilmuwan mengatakan bahwa perubahan akibat emisi karbondioksida dan aktivitas manusia berpotensi besar merusak […]]]>

Via climate news network

London (Greeners) – Beberapa habitat laut produktif yang paling penting di Bumi terancam. Para ilmuwan mengatakan bahwa perubahan akibat emisi karbondioksida dan aktivitas manusia berpotensi besar merusak hamparan rumput laut dan terumbu karang di kawasan perairan dan pesisir timur laut Atlantik.

Kenaikan suhu bumi, peningkatan kadar asam di laut dan pengrusakan yang dilakukan manusia secara drastis akan mengubah kealamian laut pesisir timur laut Atlantik dalam beberapa abad kedepan, para ilmuwan memprediksi.

Berdasarkan riset terbaru dalam jurnal Ecology & Evolution, hal-hal tersebut akan seutuhnya mengubah hamparan rumput laut dan coralline algae yang selama ini menjadi tempat bagi bayi ikan kod dan kerang muda. Ini adalah beberapa habitat laut yang paling produktif di Bumi – habitat yang juga mampu menyerap karbon dari atmosfer dan menjadi produsen primer yang mendukung kehidupan biota laut.

Juliet Brodie, Kepala Riset Departemen Botani di Museum Natural History, London, bersama rekan-rekannya melaporkan bahwa riset mereka mencakup kandungan kimia dalam air, kenaikan suhu air, dan pola kerusakan di perairan utara – oleh nelayan, kapal keruk dan polutan. Hasil riset tersebut kemudian dikalkulasi untuk memperkirakan dampak yang mungkin terjadi.

Spesies Invasif

“Kami memperkirakan bahwa pada tahun 2100, pemanasan akan membunuh semua hamparan rumput laut di perairan selatan, pengasaman laut akan menghilangkan hamparan terumbu karang di perairan utara, dan spesies invasif akan berkembang,” laporan tersebut memperingatkan.

Rumput laut hanya akan bertahan jika terlindung dari pengerukan dan dampak aktivitas manusia lainnya. Seiring dengan menghilangnya habitat, spesies-spesies aslipun akan binasa dan spesies invasif akan berkembang.

Jason Hall-Spencer, salah seorang anggota tim riset dan profesor biologi kelautan di Plymouth University, UK, mengatakan “Hal yang paling mengejutkan yang kita temukan adalah begitu cepatnya proses pemanasan dan penyebaran air korosif yang akan mengubah kehidupan bawah laut di perairan sekitar pantai. Pantai-pantai kita akan terlihat sangat berbeda dalam beberapa tahun mendatang, memberi dampak pada masyarakat yang hidupnya sangat bergantung pada laut.”

Para ilmuwan membuat sebuah gambar proyeksi masa depan berdasarkan hasil riset, dan mereka berkonsentrasi pada produsen primer: tumbuh-tumbuhan yang membuat jaringan dari karbon yang diserap dari atmosfer, dan menyediakan makanan dan perlindungan bagi spesies lainnya.

Peran Signifikan

Hamparan rumput laut adalah salah satu habitat paling produktif di lautan. Hasil riset menunjukan bahwa rumput laut yang menakjubkan ini dapat menyerap lebih dari satu kilogram karbon per meter persegi pertahun, sehingga perannya sangatlah penting dalam siklus karbon, dan membantu mencegah perubahan iklim.

Ganggang dan spesies rumput laut lainnya beradaptasi dengan baik pada air yang dingin, sehingga peningkatan suhu air di lautan diperkirakan dapat menyebabkan tumbuhan laut jenis ini menjadi stress. Seiring dengan melemahnya spesies-spesies ini, mereka akan perlahan digantikan oleh spesies invasif. Para ilmuwan sudah mengidentifikasi 44 spesies asing jenis alga di timur laut Atlantik.

“Emisi karbondioksida adalah penyebab dari pemanasan global dan pengasaman laut yang akan berdampak pada seluruh tumbuhan laut di muka bumi ini,” para ilmuwan menyimpulkan.

Dan mereka memperingatkan bahwa masyarakat akan “berjalan dalam tidur saat mengalami perubahan ekologi yang radikal” dari kehidupan tumbuhan laut di pesisir Eropa, kecuali ada aksi nyata yang dilakukan untuk mencegahnya.

(G33)

]]>
https://www.greeners.co/berita/peringatan-dari-pesisir-untuk-habitat-penting-atlantik/feed/ 0
Pemanasan Global Membuat Laut Semakin Asam https://www.greeners.co/berita/pemanasan-global-membuat-laut-semakin-asam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemanasan-global-membuat-laut-semakin-asam https://www.greeners.co/berita/pemanasan-global-membuat-laut-semakin-asam/#comments Wed, 28 Aug 2013 02:57:28 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3884 Oleh Alex Kirby via Climate News Network LONDON, 26 Agustus 2013 – Para peneliti di Jerman menyatakan karbon dioksida yang terserap laut ini menambah tingkat keasaman. Dan saat CO2 terserap […]]]>

Oleh Alex Kirby via Climate News Network

LONDON, 26 Agustus 2013 – Para peneliti di Jerman menyatakan karbon dioksida yang terserap laut ini menambah tingkat keasaman. Dan saat CO2 terserap lautan, gas ini akan merusak baik laut itu sendiri maupun atmosfer bumi.

Para peneliti menyatakan, hal ini terjadi karena saat CO2 terserap laut, maka gas rumah kaca itu akan menyebabkan pengurangan kemampuan lautan memproduksi gas dimethylsuphide (DMS). DMS adalah gas yang selama ini diproduksi laut untuk membantu mendinginkan bumi. Gas DMS membantu memadatkan awan dan memantulkan kembali sinar matahari ke luar angkasa sehingga membantu mengurangi pemanasan global.

Dengan terserapnya CO2 ke dalam laut, maka kemampuan laut memproduksi gas pendingin bumi ini pun menjadi berkurang.

Para ilmuwan khawatir tingkat CO2 di lautan akan berdampak ganda, yaitu meningkatkan keasaman laut dan memanaskan atmosfer bumi. Bertambahnya tingkat keasaman laut berarti kabar buruk bagi berbagai bentuk kehidupan di dalamnya. Sementara pemanasan global sendiri juga telah mengancam kehidupan laut itu.

Kenaikan tingkat keasaman laut selain mengancam kehidupan di dalamnya, juga akan mengurangi produksi DMS. Pembentukan DMS di laut tergantung pada temperatur dan tingkat keasaman laut, sehingga kenaikan temperatur maupun tingkat keasaman akibat CO2 akan langsung berdampak kepada produksi DMS.

Tim ilmuwan internasional dari Institut Meteorologi Max Planck (MPI-M) mempublikasikan penelitian ini dalam jurnal Nature Climate Change. Mereka menyatakan : “Kesimpulan kami adalah adanya indikasi pengasaman lautan berpotensi memperburuk polusi yang menyebabkan pemanasan bumi, melalui mekanisme yang selama ini belum diperhitungkan dalam perkiraan perubahan iklim di masa depan.”

Penggunaan bahan bakar fosil menghasilkan lebih dari 6 miliar ton CO2 ke atmosfer setiap tahunnya dan membuat temperatur atmosfer naik. Namun para ilmuwan ini menyatakan pemanasan global bukanlah satu-satunya ancaman yang dapat ditimbulkan oleh naiknya kadar CO2 di atmosfer.

Pengasaman atau asidifikasi, timbul ketika CO2 di atmosfer bereaksi dengan air laut dan menciptakan karbon asid, yang sebenarnya telah meningkat 30 persen di lautan sejak terjadinya Revolusi Industri.

 

Perkiraan Peningkatan

Tergantung kepada berapa besar kenaikan emisi CO2 dan faktor lainnya, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memperkirakan tingkat keasaman laut akan naik 150 persen pada 2100, dari kadar sebelumnya pada 2007.

Kenaikan konsentrasi CO2 ini mulai dari tingkat pasca industrial yaitu dari 280 bagian per juta hingga 400 ppm pada 2013, dan ini berarti tingkat karbon di lautan juga akan meningkat bertahap dan cepat.

Data global dalam beberapa dekade terakhir menyatakan lautan menyerap setidaknya setengah dari CO2 yang berada di atmosfer sejak tahun 1750.

Ketika DMS memasuki atmosfer, gas pendingin ini akan membentuk partikel gas yang membuat awan mampu memantulkan kembali sinar matahari ke luar angkasa, dan mendinginkan permukaan bumi. Jika produksi DMS dari lautan berkurang, maka tentu saja, kemampuan awan mendinginkan bumi juga akan menurun.

Dalam skenario sederhana oleh IPCC, di mana kita beranggapan tidak akan ada pengurangan jumlah emisi rumah kaca, maka temperatur bumi diperkirakan akan naik antara 2.1 hingga 4.4 derajat celcius pada 2100.

Namun jika kita menambahkan efek asifidikasi terhadap DMS, maka kemungkinan naiknya suhu bumi ini akan lebih panas 0.23 hingga 0.48 derajat celcius dari pertambahan suhu semula.

Para peneliti menyatakan, penemuan mereka ini membuktikan asidifkasi lautan berpotensi mempercepat terjadinya pemanasan global secara signifikan. *G04

]]>
https://www.greeners.co/berita/pemanasan-global-membuat-laut-semakin-asam/feed/ 1