karya daur ulang - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/karya-daur-ulang/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 18 Jan 2018 06:47:54 +0000 id hourly 1 Dianggap Tidak Berharga, Sampah Laut Bisa Menjadi Furnitur https://www.greeners.co/ide-inovasi/dianggap-tidak-berharga-sampah-laut-menjadi-furnitur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dianggap-tidak-berharga-sampah-laut-menjadi-furnitur https://www.greeners.co/ide-inovasi/dianggap-tidak-berharga-sampah-laut-menjadi-furnitur/#respond Wed, 10 Jan 2018 13:00:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=19788 Desainer asal London, Alexander Groves dan Azusa Murakami berhasil menciptakan sebuah metode untuk membuat perabotan unik untuk mengolah sampah plastik di laut.]]>

Tingkat daya tarik keindahan wisata pantai dan kekayaan laut seringkali tidak seimbang dengan kesadaran wisatawan dan nelayan akan kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan disekitarnya. Nyatanya kita masih saja bisa menemukan sampah-sampah plastik seperti botol bekas minuman berserakan di area pantai dan laut. Hal ini jelas merupakan masalah yang serius bagi keberlangsungan ekosistem pantai dan laut. Pasalnya, sampah-sampah plastik yang seringkali dibuang secara sembarangan tersebut lambat laun akan terbawa oleh arus ombak dan terkumpul di gyre (pusaran besar arus laut).

Adanya fenomena tersebut membuat sepasang desainer asal London, Alexander Groves dan Azusa Murakami menciptakan sebuah metode untuk membuat perabotan unik untuk mengolah sampah plastik di laut. Melalui Studio Swine yang didirikannya, mereka berhasil membuat alat pengikat plastik portabel yang disebut Nurdler yang mampu mengubah sampah laut menjadi furnitur.

furnitur

Foto: eluxemagazine.com

Seperti yang dilansir pada Eluxe Magazine, awalnya Grove dan Murakami memulai proyek Sea Chair atau kursi laut ini melalui kampanye Kickstarter di awal musim gugur. Kampanye tersebut berhasil membawa mereka berlayar dan mengumpulkan sampah di kawasan Samudra Atlantik Utara. Mereka menggunakan jaring ikan untuk mengumpulkan sampah-sampah yang berhasil mereka temukan di laut.

Proyek kursi laut menerima penghargaan emas di Biennale Design Slovenia 2013, dan sebuah film mengenai proyek tersebut memenangkan hadiah kedua di Cannes. Selain itu, seperti yang dilansir pada situs Studio Swine, mereka juga berhasil memberikan fakta-fakta yang menarik dalam upaya pengumpulan sampah plastik yang ada di laut selama beberapa dekade.

furnitur

Foto: eluxemagazine.com

Studio Swine menawarkan aneka pernak-pernik dan furnitur yang terbuat dari sampah plastik di laut. Seperti yang dikatakan Groves dan Murakami, semakin banyak benda-benda yang dijual di Studio Swine, semakin banyak pula plastik yang harus mereka ekstrak dari lautan.

Grove dan Marukami berharap dengan Nurdler dan printer 3D buatannya bisa memberi kan inspirasi kepada semua orang di seluruh dunia agar bisa membangun dan menggunakannya untuk membersihkan plastik dari pantai dan perairan setempat. Semakin banyak orang yang peduli terhadap lingkungan akan membantu mereka dalam upaya membersihkan lautan.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/dianggap-tidak-berharga-sampah-laut-menjadi-furnitur/feed/ 0
Dedaunan Kering Ternyata Bisa Menjadi Kursi https://www.greeners.co/ide-inovasi/dedaunan-kering-ternyata-menjadi-kursi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dedaunan-kering-ternyata-menjadi-kursi https://www.greeners.co/ide-inovasi/dedaunan-kering-ternyata-menjadi-kursi/#respond Wed, 17 May 2017 14:44:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=17030 Mendaur ulang dedaunan yang berjatuhan dan mengering paling maksimal dibuat jadi kompos. Seorang seniman asal Slovakia membawa level daur ulang daun kering ke tingkat yang berbeda.]]>

Mendaur ulang dedaunan yang berjatuhan dan mengering paling maksimal dibuat jadi kompos. Seorang seniman asal Slovakia membawa level daur ulang daun kering ke tingkat yang berbeda. Ia menciptakan kursi berbahan daun kering.

Seniman bernama Simon Kern menemukan sebuah cara untuk berkreasi dengan daun-daun kering. Kursi yang ia buat ini dinamakannya Beleaf.

beleaf

Foto: Simon Kern via Inhabitat.com

Simon Kern membuat kursi dari bahan yang bisa didaur ulang secara biologis karena terbuat dari daun-daun kering ditambah dengan bio-resin. Sebagai rangka kursinya ia menggunakan baja. Kursi ini dikembangkan saat Simon Kern belajar di Jan Evangelista Prukyne University dan merupakan alternatif yang ramah lingkungan dibandingkan dengan kursi plastik biasa.

Dalam proses pembuatannya, Simon mencampurkan daun-daun kering dengan bahan bio-resin. Bio-resin yang digunakan bahan utamanya adalah minyak goreng bekas pakai. Campuran itu kemudian dimasukkan ke dalam mesin bertekanan sehingga dapat dibentuk sesuai keinginan. Setelah mengeras dan dihaluskan, kursi ini dipasangkan pada dudukan dari baja. Rangka baja yang bulat dan kuat merupakan simbolisasi dari batang dan dahan pohon tempat daun menempel.

beleaf

Simon Kern mengerjakan kursi Beleaf. Foto: Simon Kern via Inhabitat.com

Bila suatu hari kursinya rusak maka masih bisa digunakan sebagai kompos. Dari pohon yang diberi pupuk kompos tersebut, kita bisa mengambil lagi daun untuk dibuat kursi baru. Proyek ini memfokuskan diri pada kegunaan praktis sampah dedaunan di perkotaan untuk industri furnitur.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/dedaunan-kering-ternyata-menjadi-kursi/feed/ 0
Trashion Fashion Show, Ketika Sampah Menjadi Wearable Art https://www.greeners.co/gaya-hidup/trashion-fashion-show-ketika-sampah-menjadi-wearable-art/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=trashion-fashion-show-ketika-sampah-menjadi-wearable-art https://www.greeners.co/gaya-hidup/trashion-fashion-show-ketika-sampah-menjadi-wearable-art/#respond Wed, 26 Apr 2017 10:36:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16840 Mengubah sampah menjadi produk fesyen yang berkualitas memang tidak mudah namun bukan hal yang tidak mungkin dilakukan. Amy Merli melakukannya dengan cara yang unik: menggagas Trashion Fashion Show.]]>

Mengubah sampah menjadi produk fesyen yang berkualitas memang tidak mudah namun bukan hal yang tidak mungkin dilakukan. Amy Merli, seorang penghobi daur ulang sampah asal Amerika Serikat, melakukannya dengan cara yang unik.

Dengan menggandeng desainer-desainer yang peduli dengan lingkungan, Amy menyelenggarakan Trashion Fashion Show. Trashion merupakan singkatan dari trash fashion. Trashion Fashion Show bisa dikatakan sebuah peragaan busana berbahan dasar sampah yang memamerkan karya seni yang bisa dipakai (wearable art).

Setelah debutnya pada tahun 2011, Trashion Fashion Show telah berkontribusi dalam pembuatan lebih dari 400 desain dan menjadi agenda tahunan di Hartford, Amerika. Tahun ini, Trashion Fashion Show akan diadakan pada tanggal 30 April nanti di Hartford, Amerika Serikat. Selain desainer busana, Trashion Fashion Show juga mengajak pelajar, mahasiswa dan komunitas untuk memperlihatkan karyanya.

Berikut ini 3 perancang yang ikut mempertunjukkan karya busana mereka dalam runway Trashion Fashion Show:

trashion fashion show

Foto: Trashion Fashion Show via Instagram

1. Zoe Ilana Grinfeld

Desainer busana asal Rhodes Islands, AS ini telah membuat pakaian dengan mendaur ulang sampah sejak usia 11 tahun. Saat berumur 15 tahun, Zoe memenangkan kompetisi desain di kalangan remaja, Project Runway: Threads. Pada Trashion Fashion Show 2015, Zoe memamerkan 4 busana. Dua di antaranya adalah desain pribadinya.

Busana pertama Zoe adalah atasan yang dipadukan dengan bawahan yang menyerupai sisik. Pakaian yang dikenakan oleh Rachana Talati (kiri) ini dibuat dari lembaran majalah, dan diberi warna dengan cat akrilik dan semprot. Sementara busana keduanya berupa terusan dengan kerah rumit besar yang dikenakan oleh Alexa Pagnani (kanan). Gaun ini terbuat dari bahan-bahan pembungkus paket kiriman dan pewarnaannya juga menggunakan cat semprot.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/trashion-fashion-show-ketika-sampah-menjadi-wearable-art/feed/ 0
Promo Film, Emma Watson Kenakan Eco-Friendly Fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/promo-film-emma-watson-kenakan-eco-friendly-fashion/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=promo-film-emma-watson-kenakan-eco-friendly-fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/promo-film-emma-watson-kenakan-eco-friendly-fashion/#respond Mon, 13 Mar 2017 13:00:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16195 Emma Watson kembali menunjukkan dukungannya pada produk-produk fesyen "hijau". Sepanjang tur promosi film terbarunya "Beauty and The Beast", ia tampil chic dan fashionable dalam balutan busana yang diklaim ramah lingkungan.]]>

Setelah menjawab tantangan #GreenCarpetChallenge dalam acara MET Gala 2016 lalu, Emma Watson kembali menunjukkan dukungannya pada produk-produk fesyen “hijau”. Sepanjang tur promosi film terbarunya “Beauty and The Beast”, Emma tampil chic dan fashionable dalam balutan busana yang diklaim ramah lingkungan.

Untuk berbagi pengalaman selama tur kepada para penggemarnya, aktris berusia 26 tahun ini membuat akun Instagram khusus, @the_press_tour. Di kanal media sosialnya itu, ia tidak hanya mengisahkan tentang agenda promosinya, namun juga memperkenalkan eco-fashion karya beberapa desainer ternama.

Berikut ini eco-friendly fashion ala Emma Watson selama tur:

emma watson

Foto: The Press Tour/Instagram

Kota Paris, Perancis, menjadi kota pertama yang disinggahi oleh para pemain film Beauty and The Beast. Di kota yang dijuluki sebagai pusat mode dunia itu, Emma tampak mengenakan setelan monokrom dengan jas yang dipadu dengan sweter, jins dan sneakers. Baju bergaya santai yang dipakai Emma saat itu adalah kombinasi dari karya beberapa perancang.

Sebagai luaran, jas kebesaran Emma dibuat oleh Stella McCartney (@stellamccartney). Stella merupakan desainer yang berkomitmen untuk membuat produk fesyen tanpa menggunakan kulit ataupun bulu hewan. Untuk menepati janjinya itu, Stella menghabiskan beberapa tahun untuk mendaur ulang kain perca, memperbaiki bahan kasmir rusak, membuat katun dari kapas organik hingga mengembangkan bahan tekstil yang forest-friendly.

Di balik luaran hitam putih, Emma mengenakan sweter putih karya Filippa K (@filippa_k). Di Swedia, Filippa K dikenal sebagai perancang baju yang menerapkan prinsip 4R (reduce, reuse, recycle, repair) dalam setiap desainnya. Perancangan ini juga menyediakan jasa penyewaan baju dan mengumpulkan produk dari labelnya yang sudah tidak lagi digunakan. Produk bekas ini nantinya akan dijual ke toko barang bekas atau disumbangkan ke beberapa organisasi sosial.

Dibalik sweternya, Emma mengenakan kaus putih produksi Boody North America (@boodywear). Sebagai bahan dasar, Boodywear tidak menggunakan benang dari kapas, melainkan tanaman bambu yang dibudidayakan secara organik. Tanaman bambu yang memenuhi kriteria dipanen, dipintal menjadi untaian benang, kemudian dirajut menjadi potongan baju dengan teknologi 3D.

Sneakers putih yang melengkapi penampilan Emma merupakan karya Good Guys(@goodguysdontwearleather). Memiliki prinsip yang sama dengan Stella, Good Guys tidak menggunakan kulit hewan pada produknya. Label eco-fashion ini memproduksi busana kulitnya dari vegan leather, yaitu bahan kulit buatan pabrik yang disusun dari beberapa material penyusun garmen.

(berikutnya)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/promo-film-emma-watson-kenakan-eco-friendly-fashion/feed/ 0
Pohon Natal dari 24.000 Botol Bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/pohon-natal-24000-botol-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pohon-natal-24000-botol-bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/pohon-natal-24000-botol-bekas/#respond Wed, 18 Jan 2017 14:51:52 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=15705 Ada yang tidak biasa terpajang di sudut altar gereja GPIB Paulus, Menteng, Jakarta Pusat. Di sana menjulang dengan indah sebuah pohon natal yang terbuat dari puluhan ribu botol plastik bekas.]]>

Jakarta (Greeners) – Ada yang tidak biasa terpajang di sudut altar gereja GPIB Paulus, Menteng, Jakarta Pusat. Di sana menjulang dengan indah sebuah pohon natal yang nampak transparan dan mengilap terkena cahaya. Pohon natal yang tingginya melebihi lantai dua gereja itu buatan salah seorang jemaat yang juga aktivis lingkungan, Yeni Mulyani Hidayat.

Mendaur ulang barang bekas bukan hal baru bagi Yeni (46) yang juga pendiri Bank Sampah My Darling (Masyarakat Sadar Lingkungan). Berbagai kriya dari barang-barang bekas (upcycle) sudah dibuatnya. Salah satu karyanya adalah pohon natal setinggi 6,5 meter yang terbuat dari puluhan ribu botol plastik bekas.

Yeni berkisah, tahun 2015 lalu, GPIB menjalankan tema tahunan yang berkaitan dengan lingkungan. Terkait tema tersebut, salah seorang pendeta yang mengenal Yeni dan karya-karyanya menantang Yeni untuk membuat pohon natal menggunakan material daur ulang. “Saya ditantangin, “Ayo ada ide gak bikin pohon natal?” Saya belum kepikiran karena sedang ada di Singapura untuk mengajar daur ulang untuk staf-staf KBRI dan TKI di sana,” kata Yeni mengenang.

Ia menerima tantangan tersebut dan mulai mencari referensi ke beberapa gereja yang juga membuat pohon natal dari barang bekas. “Akhirnya saya punya ide, botol plastik saya iris kecil-kecil lalu di solder. Jadi pohonnya terdiri dari gumpalan-gumpalan botol. Satu gumpalan itu memakan 7 botol,” katanya.

pohon natal

Yeni Mulyani Hidayat berpose di depan pohon natal karyanya. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Semua jenis botol plastik, kecuali botol plastik ukuran gelas, ia gunakan untuk membentuk daun pohon. Yeni yang mengaku nilai matematikanya tidak jauh dari angka 5, justru nekat merancang dan turut mengelas rangka pohon natal yang ia bagi menjadi tiga bagian. Akhirnya, pohon natal setinggi 6,5 meter dengan lebar diameter 1,75 meter tersebut selesai dibuat.

Dibutuhkan 160 kilogram botol plastik bekas untuk membuat “daun” pohonnya, yang mana satu kilo botol plastik terdiri dari 150 botol. Jika ditotal, sebanyak 24.000 botol plastik dikumpulkan Yeni dari berbagai tempat dan lapak untuk proyek pohon natal ini.

“Pohon ini sedikit unik bagi jemaat gereja Paulus karena sepanjang gereja ini berdiri selalu menggunakan pohon hidup yang memakan biaya sampai 15 juta. Kalau pohon bikinan saya ini cuma habis Rp 6,5 juta dengan ongkos saya. Biayanya sempat membengkak Rp 1,5 juta untuk biaya las doang. Sempat bersitegang tapi begitu jadi, semuanya puas,” ujarnya.

Jerih payah Yeni yang sanggup menyelesaikan proyek ini dalam waktu yang terbilang singkat, hanya 15 hari, berbuah manis. Di hari perayaan Natal tahun itu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama melakukan kunjungan ke beberapa gereja di wilayah Jakarta, termasuk salah satunya adalah GPIB Paulus. Pendeta yang memimpin ibadah Natal hari itu memperkenalkan Yeni kepada Gubernur dan seluruh jemaat sebagai perancang sekaligus pembuat pohon natal botol plastik yang menghiasi altar gereja. “Aduh, sampai gemetaran waktu itu. Malu saya,” katanya sambil tertawa.

pohon natal

Berbagai kriya dari barang bekas hasil karya Yeni dan anggota Bank Sampah My Darling. Hasil penjualan kriya ini turut membantu meningkatkan perekonomian anggota bank sampah tersebut. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Satu minggu menjelang Natal 2016 lalu, pohon natal upcycle buatan Yeni kembali dipasang. Yeni yang tidak puas dengan bentuk bintang yang dipasang di pucuk pohon, memutuskan untuk membuat kembali bintang yang baru dengan tambahan lampu LED didalamnya. Ia juga memperbaiki “daun” pohon yang hilang diambil pengunjung gereja. Sebagian dari yang mengambil, kata Yeni, membawanya untuk dijadikan contoh.

Selain pohon natal dari botol plastik bekas, ada banyak karya upcycle yang diciptakan oleh Yeni bersama dengan anggota Bank Sampah My Darling. Tas tangan wanita, topi, aksesoris wanita, hiasan meja, bingkai kaca, kap lampu, hingga karpet semuanya dibuat Yeni dengan memanfaatkan barang bekas.

“Hasil karya Bank Sampah My Darling sepanjang empat tahun belakangan yang paling spektakuler menurut saya pohon natal itu. Kalau kreasi yang lain-lain semua bank sampah punya. Bahkan saya ditantangin, kalau tahun depan pohon natal ini masih terpajang, saya ditantang untuk membuat yang lebih spektakuler dari ini,” ujarnya.

Jika dulu Yeni harus mengalami penolakan dan cibiran dari orang-orang terdekatnya, kini ia mendapat dukungan, terlebih dari sang suami. “Indah rasanya,” kata Yeni yang bertekad untuk tetap semangat menularkan virus cinta lingkungan kepada lebih banyak orang.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/pohon-natal-24000-botol-bekas/feed/ 0
Membangun Kembali Simon untuk Anine https://www.greeners.co/ide-inovasi/membangun-kembali-simon-untuk-anine/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=membangun-kembali-simon-untuk-anine https://www.greeners.co/ide-inovasi/membangun-kembali-simon-untuk-anine/#respond Sat, 07 May 2016 12:48:13 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=13616 Kisah inspiratif bisa dialami oleh siapa saja. Thomas Dambo, seorang seniman asal Denmark, rela membangun kembali patung dari kayu bekas demi seorang gadis kecil yang sangat mengapresiasi karyanya.]]>

Kisah inspiratif bisa dialami oleh siapa saja. Thomas Dambo, seorang seniman yang mengubah kayu-kayu bekas menjadi karya patung yang unik dan dapat menghibur masyarakat di sekitarnya. Tahun lalu, Dambo membuat sebuah patung berjudul Simon Selfmade di Tilst, Denmark, menggunakan kayu yang disumbangkan sebuah toko bangunan dekat tempat tinggalnya. Karya ini berbentuk manusia yang sedang membuat tubuhnya sendiri dengan kayu dan palu.

Sampai kemudian badai menerjang kota Tilst dan menghancurkan patung tersebut. Kondisi itu membuat masyarakat di sekitar patung bersedih. Namun seorang gadis berusia 14 tahun mencoba menyelesaikan masalah ini.

Gadis bernama Anine itu membuat sebuah laman di Facebook meminta masyarakat untuk mendonasikan uangnya untuk membuat kembali Simon Selfmade. Respon yang dihasilkan ternyata sangat bagus dan ia menerima bantuan yang sangat berlimpah dari publik. Dia berhasil mengumpulkan dana yang dibutuhkan hanya dalam dua hari saja.

"Simon and Anine" karya Thomas Dambo. Foto: Thomas Dambo/inhabitat.com

“Simon and Anine” karya Thomas Dambo. Foto: Thomas Dambo/inhabitat.com

Dambo kemudian kembali ke kota Tilst untuk membuat kembali karya patungnya. Namun dia memutuskan untuk membuat beberapa perubahan. Sebagai seorang seniman, dia berkata bahwa dia tidak tertarik untuk mengulang kembali karyanya. Karya yang baru ini menunjukkan beberapa perubahan pada tokoh Simon. Tokoh ini sekarang sudah selesai dibuat dan sekarang tokoh ini sedang membuat sebuah tokoh lain yang namanya, tentu saja, Anine.

Nama dari karya Dambo ini sekarang menjadi Simon and Anine. Sekali lagi karya ini dibangun menggunakan kayu bekas dari toko bangunan. Anine dan beberapa temannya membantu Dambo dan timnya pada waktu proses produksi.

"Simon and Anine" karya Thomas Dambo. Foto: Thomas Dambo/inhabitat.com

“Simon and Anine” karya Thomas Dambo. Foto: Thomas Dambo/inhabitat.com

Keberlanjutan adalah tujuan utama karya seni Thomas Dambo. Seperti dikutip pada Inhabitat.com, Dambo mengatakan, “Saya ingin menunjukkan hal-hal luar biasa yang bisa dibuat dari sampah. Kita harus mulai mencari di tong sampah kita dan membuatnya menjadi karya-karya yang bagus sebelum kita membuangnya ke tempat pembakaran sampah, karena bisa jadi ada sebuah mimpi atau cerita yang indah seperti karya ini.”

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/membangun-kembali-simon-untuk-anine/feed/ 0