karya instalasi - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/karya-instalasi/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 18 Jul 2017 11:00:26 +0000 id hourly 1 Tembok ‘Pohon’ Penyerap Polusi Kota https://www.greeners.co/ide-inovasi/tembok-pohon-penyerap-polusi-kota/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tembok-pohon-penyerap-polusi-kota https://www.greeners.co/ide-inovasi/tembok-pohon-penyerap-polusi-kota/#respond Tue, 18 Jul 2017 10:54:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=17749 Ide menempatkan "CityTree" di tengah kota nampaknya bisa menjadi solusi untuk menyelesaikan masalah polusi udara. Tembok hijau berteknologi tinggi ini akan menyaring udara dengan kemampuan setara 275 pohon.]]>

Permasalahan kota salah satunya adalah terbatasnya ruang terbuka hijau. Selain sebagai tempat berkumpul, ruang terbuka hijau merupakan paru-paru kota yang dapat membersihkan polusi udara. Namun akibat deru peradaban, seringkali ruang terbuka hijau digantikan oleh tempat pemukiman dan perbelanjaan, menjadikan bahaya polusi makin menghantui masyarakat kota.

CityTree bisa menjadi solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Seperti dilansir Inhabitat.com, tembok hijau berteknologi tinggi ini akan menyaring udara dari partikel berbahaya, dengan kemampuan setara 275 pohon. Co-founder Green City Solutions, Zhengliang Wu menjelaskan jika CityTree bukanlah pohon, tetapi merupakan rangkaian lumut.

“Rangkaian lumut memiliki permukaan daun lebih luas dari tumbuhan lainnya. Artinya ia bisa menangkap lebih banyak polutan,” ujar Wu.

polusi

Foto: Green City Solutions via Inhabitat.com

CityTree berbentuk balok dengan ukuran tinggi 4 meter, lebar 3 meter, dan panjang 2,19 meter. Tersedia dua versi, dengan atau tanpa bangku, dengan tampilan layar untuk informasi atau iklan. Tembok ini tidak akan memerlukan ruang terbuka hijau yang luas dan bisa berpadu dengan infrastruktur kota lainnya.

“Kami juga memiliki sensor polusi di dalam instalasi CityTree yang membantu untuk mengawasi kualitas udara dengan terus melaporkan seberapa efisien kerja instalasi tersebut,” lanjut Wu.

Sejauh ini, 20 CityTrees telah sukses dibangun di kota-kota besar seluruh dunia, termasuk Oslo, Paris, Brussels dan Hong Kong. Satu tembok CityTrees dihargai 25.000 dolar AS.

Penulis: MFA/G41

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/tembok-pohon-penyerap-polusi-kota/feed/ 0
Karya Instalasi Botol Plastik Tandai Kampung Seniman Chiang Mai https://www.greeners.co/ide-inovasi/karya-instalasi-botol-plastik-tandai-kampung-seniman-chiang-mai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=karya-instalasi-botol-plastik-tandai-kampung-seniman-chiang-mai https://www.greeners.co/ide-inovasi/karya-instalasi-botol-plastik-tandai-kampung-seniman-chiang-mai/#respond Fri, 24 Mar 2017 12:56:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=16428 Sampah plastik telah menjadi masalah besar di kota Chiang Mai yang indah. Namun kota di Thailand tersebut telah menemukan solusinya dengan menjadikan sampah plastik menjadi karya seni.]]>

Sampah plastik telah menjadi masalah besar di kota Chiang Mai yang indah. Namun kota di Thailand tersebut telah menemukan solusi baru untuk mengatasinya dengan bantuan satu tim perancang yang mencari cara kreatif untuk memanfaatkan sampah plastik tersebut. Hasilnya adalah sebuah karya instalasi rancangan Vinn Patararin dan Fahpav.

Patararin dan Fahpav menggabungkan rancangan tangan dengan pemodelan tiga dimensi untuk menciptakan karya bernama Self-Ornamentalize. Karya ini dibuat dari 850 botol plastik yang didaur ulang dan sekarang dipajang sebagai bagian dari Compeung, sebuah program residensi untuk seniman yang diselenggarakan di Doi Saket, sebuah wilayah di kota Chiang Mai.

karya instalasi

Foto: Vinn Patararin via Inhabitat.com

Tim yang berasal dari multidisiplin ini membangun karya tersebut setelah menemukan bahwa semakin hari karya kerajinan tangan lokal dan penggunaan bahan alami semakin berkurang seiring dengan modernisasi yang terjadi di kampung-kampung.

Semakin bertambahnya jumlah plastik meyakinkan anggota tim bahwa material lokal saat ini adalah plastik, sehingga mereka memilih botol plastik bekas sebagai bahan utama untuk karya ini.

karya instalasi

Foto: Vinn Patararin via Inhabitat.com

Botol-botol plastik bekas itu dihancurkan dengan tangan sehingga menciptakan tekstur yang mirip kain. Dengan bantuan pemodelan tiga dimensi di komputer, mereka merancang bentuk lengkung yang berukuran 9×4 meter.

Karya ini dipasang di jalur pejalan kaki di tengah sebuah danau besar untuk memastikan banyak orang yang melihat karya tersebut. Self-Ornamentalize kini menjadi penanda utama di kampung tersebut.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/karya-instalasi-botol-plastik-tandai-kampung-seniman-chiang-mai/feed/ 0
Pohon Natal dari 24.000 Botol Bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/pohon-natal-24000-botol-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pohon-natal-24000-botol-bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/pohon-natal-24000-botol-bekas/#respond Wed, 18 Jan 2017 14:51:52 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=15705 Ada yang tidak biasa terpajang di sudut altar gereja GPIB Paulus, Menteng, Jakarta Pusat. Di sana menjulang dengan indah sebuah pohon natal yang terbuat dari puluhan ribu botol plastik bekas.]]>

Jakarta (Greeners) – Ada yang tidak biasa terpajang di sudut altar gereja GPIB Paulus, Menteng, Jakarta Pusat. Di sana menjulang dengan indah sebuah pohon natal yang nampak transparan dan mengilap terkena cahaya. Pohon natal yang tingginya melebihi lantai dua gereja itu buatan salah seorang jemaat yang juga aktivis lingkungan, Yeni Mulyani Hidayat.

Mendaur ulang barang bekas bukan hal baru bagi Yeni (46) yang juga pendiri Bank Sampah My Darling (Masyarakat Sadar Lingkungan). Berbagai kriya dari barang-barang bekas (upcycle) sudah dibuatnya. Salah satu karyanya adalah pohon natal setinggi 6,5 meter yang terbuat dari puluhan ribu botol plastik bekas.

Yeni berkisah, tahun 2015 lalu, GPIB menjalankan tema tahunan yang berkaitan dengan lingkungan. Terkait tema tersebut, salah seorang pendeta yang mengenal Yeni dan karya-karyanya menantang Yeni untuk membuat pohon natal menggunakan material daur ulang. “Saya ditantangin, “Ayo ada ide gak bikin pohon natal?” Saya belum kepikiran karena sedang ada di Singapura untuk mengajar daur ulang untuk staf-staf KBRI dan TKI di sana,” kata Yeni mengenang.

Ia menerima tantangan tersebut dan mulai mencari referensi ke beberapa gereja yang juga membuat pohon natal dari barang bekas. “Akhirnya saya punya ide, botol plastik saya iris kecil-kecil lalu di solder. Jadi pohonnya terdiri dari gumpalan-gumpalan botol. Satu gumpalan itu memakan 7 botol,” katanya.

pohon natal

Yeni Mulyani Hidayat berpose di depan pohon natal karyanya. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Semua jenis botol plastik, kecuali botol plastik ukuran gelas, ia gunakan untuk membentuk daun pohon. Yeni yang mengaku nilai matematikanya tidak jauh dari angka 5, justru nekat merancang dan turut mengelas rangka pohon natal yang ia bagi menjadi tiga bagian. Akhirnya, pohon natal setinggi 6,5 meter dengan lebar diameter 1,75 meter tersebut selesai dibuat.

Dibutuhkan 160 kilogram botol plastik bekas untuk membuat “daun” pohonnya, yang mana satu kilo botol plastik terdiri dari 150 botol. Jika ditotal, sebanyak 24.000 botol plastik dikumpulkan Yeni dari berbagai tempat dan lapak untuk proyek pohon natal ini.

“Pohon ini sedikit unik bagi jemaat gereja Paulus karena sepanjang gereja ini berdiri selalu menggunakan pohon hidup yang memakan biaya sampai 15 juta. Kalau pohon bikinan saya ini cuma habis Rp 6,5 juta dengan ongkos saya. Biayanya sempat membengkak Rp 1,5 juta untuk biaya las doang. Sempat bersitegang tapi begitu jadi, semuanya puas,” ujarnya.

Jerih payah Yeni yang sanggup menyelesaikan proyek ini dalam waktu yang terbilang singkat, hanya 15 hari, berbuah manis. Di hari perayaan Natal tahun itu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama melakukan kunjungan ke beberapa gereja di wilayah Jakarta, termasuk salah satunya adalah GPIB Paulus. Pendeta yang memimpin ibadah Natal hari itu memperkenalkan Yeni kepada Gubernur dan seluruh jemaat sebagai perancang sekaligus pembuat pohon natal botol plastik yang menghiasi altar gereja. “Aduh, sampai gemetaran waktu itu. Malu saya,” katanya sambil tertawa.

pohon natal

Berbagai kriya dari barang bekas hasil karya Yeni dan anggota Bank Sampah My Darling. Hasil penjualan kriya ini turut membantu meningkatkan perekonomian anggota bank sampah tersebut. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Satu minggu menjelang Natal 2016 lalu, pohon natal upcycle buatan Yeni kembali dipasang. Yeni yang tidak puas dengan bentuk bintang yang dipasang di pucuk pohon, memutuskan untuk membuat kembali bintang yang baru dengan tambahan lampu LED didalamnya. Ia juga memperbaiki “daun” pohon yang hilang diambil pengunjung gereja. Sebagian dari yang mengambil, kata Yeni, membawanya untuk dijadikan contoh.

Selain pohon natal dari botol plastik bekas, ada banyak karya upcycle yang diciptakan oleh Yeni bersama dengan anggota Bank Sampah My Darling. Tas tangan wanita, topi, aksesoris wanita, hiasan meja, bingkai kaca, kap lampu, hingga karpet semuanya dibuat Yeni dengan memanfaatkan barang bekas.

“Hasil karya Bank Sampah My Darling sepanjang empat tahun belakangan yang paling spektakuler menurut saya pohon natal itu. Kalau kreasi yang lain-lain semua bank sampah punya. Bahkan saya ditantangin, kalau tahun depan pohon natal ini masih terpajang, saya ditantang untuk membuat yang lebih spektakuler dari ini,” ujarnya.

Jika dulu Yeni harus mengalami penolakan dan cibiran dari orang-orang terdekatnya, kini ia mendapat dukungan, terlebih dari sang suami. “Indah rasanya,” kata Yeni yang bertekad untuk tetap semangat menularkan virus cinta lingkungan kepada lebih banyak orang.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/pohon-natal-24000-botol-bekas/feed/ 0
Membangun Kembali Simon untuk Anine https://www.greeners.co/ide-inovasi/membangun-kembali-simon-untuk-anine/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=membangun-kembali-simon-untuk-anine https://www.greeners.co/ide-inovasi/membangun-kembali-simon-untuk-anine/#respond Sat, 07 May 2016 12:48:13 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=13616 Kisah inspiratif bisa dialami oleh siapa saja. Thomas Dambo, seorang seniman asal Denmark, rela membangun kembali patung dari kayu bekas demi seorang gadis kecil yang sangat mengapresiasi karyanya.]]>

Kisah inspiratif bisa dialami oleh siapa saja. Thomas Dambo, seorang seniman yang mengubah kayu-kayu bekas menjadi karya patung yang unik dan dapat menghibur masyarakat di sekitarnya. Tahun lalu, Dambo membuat sebuah patung berjudul Simon Selfmade di Tilst, Denmark, menggunakan kayu yang disumbangkan sebuah toko bangunan dekat tempat tinggalnya. Karya ini berbentuk manusia yang sedang membuat tubuhnya sendiri dengan kayu dan palu.

Sampai kemudian badai menerjang kota Tilst dan menghancurkan patung tersebut. Kondisi itu membuat masyarakat di sekitar patung bersedih. Namun seorang gadis berusia 14 tahun mencoba menyelesaikan masalah ini.

Gadis bernama Anine itu membuat sebuah laman di Facebook meminta masyarakat untuk mendonasikan uangnya untuk membuat kembali Simon Selfmade. Respon yang dihasilkan ternyata sangat bagus dan ia menerima bantuan yang sangat berlimpah dari publik. Dia berhasil mengumpulkan dana yang dibutuhkan hanya dalam dua hari saja.

"Simon and Anine" karya Thomas Dambo. Foto: Thomas Dambo/inhabitat.com

“Simon and Anine” karya Thomas Dambo. Foto: Thomas Dambo/inhabitat.com

Dambo kemudian kembali ke kota Tilst untuk membuat kembali karya patungnya. Namun dia memutuskan untuk membuat beberapa perubahan. Sebagai seorang seniman, dia berkata bahwa dia tidak tertarik untuk mengulang kembali karyanya. Karya yang baru ini menunjukkan beberapa perubahan pada tokoh Simon. Tokoh ini sekarang sudah selesai dibuat dan sekarang tokoh ini sedang membuat sebuah tokoh lain yang namanya, tentu saja, Anine.

Nama dari karya Dambo ini sekarang menjadi Simon and Anine. Sekali lagi karya ini dibangun menggunakan kayu bekas dari toko bangunan. Anine dan beberapa temannya membantu Dambo dan timnya pada waktu proses produksi.

"Simon and Anine" karya Thomas Dambo. Foto: Thomas Dambo/inhabitat.com

“Simon and Anine” karya Thomas Dambo. Foto: Thomas Dambo/inhabitat.com

Keberlanjutan adalah tujuan utama karya seni Thomas Dambo. Seperti dikutip pada Inhabitat.com, Dambo mengatakan, “Saya ingin menunjukkan hal-hal luar biasa yang bisa dibuat dari sampah. Kita harus mulai mencari di tong sampah kita dan membuatnya menjadi karya-karya yang bagus sebelum kita membuangnya ke tempat pembakaran sampah, karena bisa jadi ada sebuah mimpi atau cerita yang indah seperti karya ini.”

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/membangun-kembali-simon-untuk-anine/feed/ 0
Warna-Warni Kandang Burung dari Kayu Bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/warna-warni-kandang-burung-dari-kayu-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=warna-warni-kandang-burung-dari-kayu-bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/warna-warni-kandang-burung-dari-kayu-bekas/#respond Wed, 06 Apr 2016 12:25:30 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=13387 Seniman Thomas Dambo menyediakan tempat bagi burung-burung sehingga mereka menempati kembali berbagai daerah di perkotaan.]]>

Seniman Thomas Dambo menyediakan tempat bagi burung-burung sehingga mereka menempati kembali berbagai daerah di perkotaan. Dengan membuat kandang burung dari kayu-kayu bekas, dia menciptakan rumah untuk burung-burung tersebut. Tukang kayu yang beralih profesi menjadi seniman ini berharap kotak-kotak kayu berwarna cerah ciptaannya tersebut akan mengundang burung untuk kembali ke kota dan berkembang biak.

Seniman asal Denmark ini tadinya mengembangkan bisnisnya di sekitar Kopenhagen. Proyeknya yang bertajuk Happy City Birds berupa kandang burung yang indah dan fungsional dan terpasang di banyak hotel dan perpustakaan umum. Proyek perpustakaan Hvalso bahkan mengikutsertakan anak-anak di sekitar lokasi tersebut untuk ikut mewarnai sendiri rumah burung tersebut yang kemudian dipasang di fasad bangunan yang menyerupai pohon.

Thomas Dambo membuat kandang burung dari kayu bekas untuk melestarikan burung-burung di daerah urban. Foto: Thomas Dambo/inhabitat.com

Thomas Dambo membuat kandang burung dari kayu bekas untuk melestarikan burung-burung di daerah urban. Foto: Thomas Dambo/inhabitat.com

Thomas menggunakan kayu bekas pakai untuk membuat rumah burung ini. Biasanya kayu tersebut berasal dari lokasi konstruksi yang biasanya membuang kayu bekas.

Saat ini Thomas sudah membuat 3000 kandang burung. Beberapa hasil kreasinya bahkan dibentuk seperti beberapa spesies burung. Ia berkata bahwa proyeknya mengingatkan akan pentingnya menyisakan ruang untuk burung di perkotaan.

Rumah burung yang dicetuskan Thomas Dambo dalam proyek bertajuk "Happy City Birds" sudah terpasang di banyak hotel dan perpustakaan umum. Foto: Thomas Dambo/inhabitat.com

Rumah burung yang dicetuskan Thomas Dambo dalam proyek bertajuk “Happy City Birds” sudah terpasang di banyak hotel dan perpustakaan umum. Foto: Thomas Dambo/inhabitat.com

Thomas melaporkan bahwa beberapa keluarga burung sudah mulai memakai kandang buatannya dan saat ini dia hanya membuat kandang burung di lokasi yang jauh dari jalanan yang padat agar burung-burung tersebut tertarik untuk tinggal di kandangnya.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/warna-warni-kandang-burung-dari-kayu-bekas/feed/ 0
Cincin Cahaya Mengapung di Trafalgar Square https://www.greeners.co/ide-inovasi/cincin-cahaya-mengapung-di-trafalgar-square/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cincin-cahaya-mengapung-di-trafalgar-square https://www.greeners.co/ide-inovasi/cincin-cahaya-mengapung-di-trafalgar-square/#respond Fri, 18 Mar 2016 07:14:02 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=13217 Tampak cincin cahaya melingkari kolam air mancur di Trafalgar Square di London terlihat sangat indah. Jika mengamatinya lebih dekat maka akan terlihat bahwa cahaya berpendar dari cincin tersebut berasal dari ribuan plastik botol bekas.]]>

Pemandangan sebuah kolam air mancur di Trafalgar Square di London terlihat sangat indah. Tampak cincin cahaya yang menawan melingkari air mancur tersebut. Orang-orang terkecoh. Rupanya cincin berpendar itu bukanlah terbuat dari material emas atau zat lainnya yang kita kira. Jika mengamatinya lebih dekat maka akan terlihat bahwa cahaya berpendar dari cincin tersebut berasal dari ribuan plastik botol bekas.

Air mancur bercincin tersebut merupakan bagian dari Festival Cahaya Lumiere London 2016. Penciptanya adalah Luzinterruptus. Ia memenuhi air mancur tersebut dengan 13.000 botol plastik bekas dengan maksud meningkatkan kesadaran manusia tentang isu global mengenai sampah plastik.

"Pulau Plastik" yang mengapung di kolam air mancur Trafalgar Square tersusun dari 13.000 botol plastik bekas. Foto: Lola Martinez/Inhabitat.com

“Pulau Plastik” yang mengapung di kolam air mancur Trafalgar Square tersusun dari 13.000 botol plastik bekas. Foto: Lola Martinez/Inhabitat.com

“Pulau Plastik” yang mengeluarkan cahaya di Trafalgar Square tersebut menyatukan ribuan botol plastik dalam bentuk donat dan memakai sistem pencahayaan sendiri sehingga saat menyala seperti satu kesatuan cahaya yang utuh. Karya instalasi ini terdiri dari dua cincin. Cincin pertama diisi oleh 13.000 botol plastik bekas yang diambil dari tong sampah, dibersihkan dengan susah payah dan diberi tutup botol sebelum dipakai.

Luzinterruptus pada awalnya bermaksud untuk mengumpulkan botol plastik bekas dari pengunjung untuk digunakan di cincin yang kedua, namun ternyata mereka tidak bisa mendapatkan cukup banyak tutup botol jadi mereka memilih untuk meninggalkan struktur yang kedua tercahayai tanpa memakai botol plastik.

Foto: Lola Martinez/Inhabitat.com

Foto: Lola Martinez/Inhabitat.com

Selama empat malam di bulan Januari 2016, beberapa titik di London bertabur cahaya dengan seni instalasi yang indah sebagai bagian dari festival cahaya tersebut. Karya Luzinterruptus di Trafalgar Square terlahir berkat inspirasi dari karya mereka sebelumnya: Plastic Island atau Pulau Plastik.

Karya tersebut merupakan instalasi mengapung yang terbuat dari botol plastik yang menyimbolkan benua ke enam yang terbuat dari sampah dan mulai mengambil tempat di Samudera Pasifik. Instalasi ini dipajang pada tanggal 14 Januari sampai 17 Januari 2016 dan setelah selesai, botol-botol plastiknya diserahkan ke tempat daur ulang sampah.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/cincin-cahaya-mengapung-di-trafalgar-square/feed/ 0
Pameran Seni Hadirkan Sampah Plastik dari Lautan https://www.greeners.co/ide-inovasi/pameran-seni-hadirkan-sampah-plastik-dari-lautan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pameran-seni-hadirkan-sampah-plastik-dari-lautan https://www.greeners.co/ide-inovasi/pameran-seni-hadirkan-sampah-plastik-dari-lautan/#respond Thu, 26 Nov 2015 07:31:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=12037 Setiap benda terlihat begitu kecil dibanding luasnya lautan, tidak ada ancaman yang bisa ditimbulkan oleh sampah kita pada lautan atau kehidupan di dalamnya. Begitulah anggapan kita selama ini. Padahal, milyaran […]]]>

Setiap benda terlihat begitu kecil dibanding luasnya lautan, tidak ada ancaman yang bisa ditimbulkan oleh sampah kita pada lautan atau kehidupan di dalamnya. Begitulah anggapan kita selama ini. Padahal, milyaran manusia berkontribusi terhadap sampah yang menciptakan ancaman terhadap stabilitas kehidupan di dalam laut.

Gambaran tersebut terlihat dalam pameran keliling, “Gyre : The Plastic Ocean.” Pameran ini diselenggarakan oleh Museum Anchorage dan sekarang dipamerkan di USC Fisher Museum di Los Angeles. Para seniman terlihat mengumpulkan materi sampah dan mengumpulkannya dalam bentuk yang monumental: segunung sendal jepit bekas, setumpuk cincin plastik bekas, dan sebuah struktur yang dibuat dari botol yang ditemukan terdampar di pantai.

Kiri: "Ghost Dog" (Sue Ray). Kanan: "SOUP Refused" (Mandy Barker). Sumber: www.huffingtonpost.com

Kiri: “Ghost Dog” (Sue Ray). Kanan: “SOUP Refused” (Mandy Barker). Sumber: www.huffingtonpost.com

Kurator USC Fisher Museum, Ariadni Liokatis, mengatakan, “semua karya seni ini adalah sebuah pembuktian terhadap dampak negatif terhadap perilaku konsumtif dan pengingat terhadap penghancuran yang sedang berlangsung terhadap lingkungan kita,” seperti dikutip dari The Huffington Post.

Liokatis menyatakan bahwa setiap karya berdiri sendiri dan saling mendukung terhadap karya lain. “Sebagai museum kampus, kami menampilkan seni, ilmu pengetahuan dan disiplin ilmu lain secara bersama-sama. Kekuatan seni diharapkan menimbulkan kebangkita kesadaran terhadap isu yang sangat penting yaitu polusi plastik di laut kita,” ujarnya.

Kiri: "Cabinet of Marine Debris" (Mark Dion). Kanan atas: "Falcon" (Cynthia Minet). Kanan bawah: "Elephant" (Cynthia Minet). Sumber: www.huffingtonpost.com

Kiri: “Cabinet of Marine Debris” (Mark Dion). Kanan atas: “Falcon” (Cynthia Minet). Kanan bawah: “Elephant” (Cynthia Minet). Sumber: www.huffingtonpost.com

Keindahan karya-karya ini, yang kebanyakan berupa potongan sampah yang diatur secara artistik dan terlihat indah. Namun, implikasi dari menggunakan tampilan estetis tersebut dianggap sebagai hal yang dapat menangkap perhatian publik dan semoga pula dapat menggugah masyarakat.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/pameran-seni-hadirkan-sampah-plastik-dari-lautan/feed/ 0
Patung Dinosaurus dari Limbah Padi https://www.greeners.co/ide-inovasi/patung-dinosaurus-dari-limbah-padi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=patung-dinosaurus-dari-limbah-padi https://www.greeners.co/ide-inovasi/patung-dinosaurus-dari-limbah-padi/#respond Wed, 23 Sep 2015 07:19:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=11213 Dinosaurus terbuat dari jerami, memangnya ada? Para petani di Jepang memanfaatkan limbah jerami dari panen padinya dan mengubahnya menjadi patung. Patung dinosaurus yang tersusun dari jerami tersebut terpajang di Wara Art […]]]>

Dinosaurus terbuat dari jerami, memangnya ada? Para petani di Jepang memanfaatkan limbah jerami dari panen padinya dan mengubahnya menjadi patung.

Patung dinosaurus yang tersusun dari jerami tersebut terpajang di Wara Art Festival. Berlokasi di Prefektur Niigata, Jepang, festival tahunan tersebut dilangsungkan pada akhir bulan Agustus lalu.

Setiap tahun di Niigata berkumpul para seniman, pelajar dan pekerja sukarela untuk merayakan berakhirnya masa panen raya padi. Bersama-sama mereka membangun patung-patung raksasa yang terbuat dari jerami sisa panen padi dan mengumpulkannya dalam sebuah pameran seni rupa temporer.

Sebelum membuat patung jemari, diperlukan rangka kayu untuk membentuk patung dan untuk mengikat batang jerami. Foto: Wara Art Festival facebook/inhabitat.com

Sebelum membuat patung jemari, diperlukan rangka kayu untuk membentuk patung dan untuk mengikat batang jerami. Foto: Wara Art Festival facebook/inhabitat.com

Niigata sendiri merupakan sebuah wilayah di Jepang yang terkenal akan hasil padinya yang berkualitas. Nasi yang terbuat dari padi Niigata terkenal lezatnya. Tidak hanya itu, Niigata juga menjadi magnet untuk banyak turis pada musim gugur. Mereka berkunjung untuk menyaksikan Festival Wara Art yang sangat populer itu.

Untuk perayaan Festival Wara Art tahun ini, patung jerami yang dibuat antara lain T-Rex yang sedang mengaum, Triceratops, belalang sembah, bahkan bebek yang sedang berenang. Sedangkan pada tahun sebelumnya, para seniman di sana membuat karya-karya seperti gorila, pegulat sumo, hingga monster mirip yeti dengan mulut sebesar gua yang bisa dimasuki orang.

Foto: amymauscd/inhabitat.com

Foto: amymauscd/inhabitat.com

Setiap karya dimulai dengan membuat rangka kayu. Kemudian para seniman menempelkan jerami ke rangka kayu tersebut dengan memakai teknik yang sama seperti membuat atap rumah. Patung-patung ini berlokasi di taman Uwasekigata dan akan tetap berada di sana sampai awal bulan November 2015.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/patung-dinosaurus-dari-limbah-padi/feed/ 0
Domus Lungus untuk Selamatkan Ikan dan Terumbu Karang Wakatobi https://www.greeners.co/berita/domus-lungus-untuk-selamatkan-ikan-dan-terumbu-karang-wakatobi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=domus-lungus-untuk-selamatkan-ikan-dan-terumbu-karang-wakatobi https://www.greeners.co/berita/domus-lungus-untuk-selamatkan-ikan-dan-terumbu-karang-wakatobi/#respond Mon, 17 Aug 2015 02:30:11 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=10811 Jakarta (Greeners) – Guna menyelamatkan “harta karun” bawah laut di wilayah yang menjadi destinasi utama wisata bahari di Wakatobi, maka Yayasan Terumbu Rupa yang bekerjsama dengan gerakan Coral Day akan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Guna menyelamatkan “harta karun” bawah laut di wilayah yang menjadi destinasi utama wisata bahari di Wakatobi, maka Yayasan Terumbu Rupa yang bekerjsama dengan gerakan Coral Day akan melakukan transplantasi karang dengan menenggelamkan “rumah ikan raksasa” berbentuk sebuah instalasi seni yang terbuat dari besi berukuran 6 x 8 x 5meter dengan berat 1,5 ton.

Instalasi seni yang diberi nama Domus Lungus oleh sang pengrajin, Teguh Ostenrik ini akan menjadi rumah ikan dan pertumbuhan terumbu karang di bawah laut. Pemasangannya sendiri akan dilakukan di perairan Pantai Waha, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Teguh menceritakan kepada Greeners bahwa hampir dari keseluruhan besi yang menjadi bahan baku instalasi seni ini dibeli dari pemulung yang artinya, mayoritas bahan baku menggunakan besi-besi bekas.

Domus Lungus ini dilengkapi dengan replika longnose butterfly fish yang merupakan maskot Taman Nasional Wakatobi,” jelasnya saat ditemui di Jakarta, Jumat (14/08).

Sedangkan pembuatannya sendiri, terang Teguh, menggunakan teknologi biorock, yaitu menggunakan energi listrik yang didapat dari panel surya. Listrik ini bisa mempercepat pertumbuhan karang hingga delapan kali lipat. Lalu, spora akan muncul disebarkan oleh arus dan ombak, dan kemudian menempel di karang lain.

“Sumber listriknya itu berasal dari panel surya yang dipasang diatas instalasi dan akan mengapung di permukaan laut mengikuti gerak instalasi tersebut,” tambahnya.

Teguh Ostenrik. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Teguh Ostenrik. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Asrul Hanif Arifin, Ketua Yayasan Terumbu Rupa mengatakan bahwa Yayasan Terumbu Rupa menamakan instalasi tersebut sebagai ARTificial Reef, karya seni sekaligus transplantasi terumbu karang. Instalasi itu sendiri saat ini telah dikirim ke Wakatobi dari Jakarta dan siap untuk dirakit pada akhir Agustus nanti.

“Pada tanggal 1 atau 2 September akan dibawa ke laut dan ditempatkan di laguna sekitar Pantai Waha,” tutur Asrul.

Menurut Asrul, pemasangan Domus Lungus tersebut sebagai sarana edukasi bagi masyarakat untuk ikut menyelamatkan terumbu karang. Selain itu, Domus Lungus dipasang sebagai simbol bahwa kepedulian dengan terumbu karang dan pengingat bagi penduduk setempat agar turut menjaga terumbu karangnya.

Koordinator Coral Day Indonesia, Ery Damayanti juga menambahkan, acara puncak Coral Day pada 5 September 2015 nanti akan bertepatan dengan konferensi internasional pertemuan kepala bupati Local Government Voices toward HABITAT III on a New Urban Agenda.

“Diharapkan dengan adanya kampanye ini, wisata alam bawah laut Wakatobi akan terus terjaga dan berkembang lebih baik,” tutupnya.

Sebagai informasi, tanggal 8 Mei didaulat sebagai Coral Day untuk menghargai inisiatif rehabilitasi terumbu karang di seluruh Indonesia. Tanggal ini dipilih karena sejarah restorasi terumbu karang yang dimulai oleh nelayan Desa Les, Buleleng, Bali, pada tahun 2005. Pada hari itu diturunkan blok beton bertuliskan LES yang menandakan bersihnya Desa Les dari penggunaan potasium sianida dan mulainya restorasi terumbu karang. Coral Day juga diadakan sebagai pengingat pentingnya terumbu karang bagi kehidupan manusia.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/domus-lungus-untuk-selamatkan-ikan-dan-terumbu-karang-wakatobi/feed/ 0
Jembatan Kertas Tanpa Lem https://www.greeners.co/ide-inovasi/jembatan-kertas-tanpa-lem/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jembatan-kertas-tanpa-lem https://www.greeners.co/ide-inovasi/jembatan-kertas-tanpa-lem/#respond Sat, 23 May 2015 09:26:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=9205 Jembatan dari kertas rasa-rasanya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Apalagi jika jembatan kertas tersebut sanggup menahan beban manusia untuk berjalan di atas. Steve Messam membuktikan sebaliknya. Seniman ini membuat jembatan […]]]>

Jembatan dari kertas rasa-rasanya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Apalagi jika jembatan kertas tersebut sanggup menahan beban manusia untuk berjalan di atas. Steve Messam membuktikan sebaliknya. Seniman ini membuat jembatan dari kertas tanpa bantuan benda perekat semacam lem.

PaperBridge adalah jembatan kertas yang dibuat di daerah Inggris bagian barat laut, tepatnya di Distrik Lakes. Meski dibuat tanpa bantuan lem, PaperBridge cukup kokoh untuk menahan berat pejalan kaki yang melintasi jembatan tersebut.

PaperBridge karya Steve Messam. Foto: inhabitat.com

PaperBridge karya Steve Messam. Foto: inhabitat.com

PaperBrigde melintasi sungai kecil dan berbentuk melengkung. Jembatan ini berwarna merah terang dan ditopang dengan struktur bebatuan pada masing-masing ujungnya. Messam membuat jembatan dari bahan kertas dengan teknik tradisional membangun jembatan yang biasanya diterapkan di daerah tersebut.

Teknik membangun benda melengkung macam PaperBridge pertama kali diterapkan oleh orang Romawi kuno untuk berbagai proyek bangunan. Jembatan yang juga merupakan instalasi seni ini memiliki ketinggian 1,9 meter dengan bentang jembatan sebesar 4 meter saja. PaperBridge berada di Distrik Lakes, tepatnya di kaki pegunungan Helvellyn. Warna merah cerah pada PaperBridge secara dramatis memberi kontras terhadap latar belakang alamnya.

PaperBridge ditempatkan di Distrik Lakes sampai 18 Mei 2015. Setelah itu jembatan kertas ini akan dibongkar dan diangkut ke tempat pengolahan kertas untuk didaur ulang.

PaperBridge karya Steve Messam. Foto: inhabitat.com

PaperBridge karya Steve Messam. Foto: inhabitat.com

Tujuan dibuatnya PaperBridge ini sebagai atraksi bagi para turis yang mengunjungi Distrik Lakes. Lembaga Lakes Culture meminta Messam membuat sesuatu yang unik di kawasan tersebut yang dapat mengangkat daerah tersebut menjadi sorotan media dan mendatangkan lebih banyak lagi wisatawan.

Tujuan besar dari perhatian yang didapat dari PaperBridge ini adalah Distrik Lakes mendapatkan status World Heritage Site. Dalam mengonsepkan idenya, Messam menghabiskan waktu empat tahun. Sementara itu, dalam pembuatannya seniman ini menggunakan 22.000 lembar kertas yang saling menempel tanpa lem atau baut.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/jembatan-kertas-tanpa-lem/feed/ 0
Kolaborasi Elemen Alam Karya Sylvain Meyer https://www.greeners.co/ide-inovasi/kolaborasi-elemen-alam-dalam-land-art-karya-sylvain-meyer/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kolaborasi-elemen-alam-dalam-land-art-karya-sylvain-meyer https://www.greeners.co/ide-inovasi/kolaborasi-elemen-alam-dalam-land-art-karya-sylvain-meyer/#respond Sat, 05 Jul 2014 00:30:06 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_art_design&p=4954 Seorang seniman asal Perancis, Sylvain Meyer, meneruskan tradisi Land Art yang populer pada tahun 1970an. Dengan menggunakan material ramah lingkungan, sang seniman menciptakan instalasi-instalasinya di hutan, sungai dan jeram, kemudian […]]]>

Seorang seniman asal Perancis, Sylvain Meyer, meneruskan tradisi Land Art yang populer pada tahun 1970an. Dengan menggunakan material ramah lingkungan, sang seniman menciptakan instalasi-instalasinya di hutan, sungai dan jeram, kemudian mengabadikannya dalam foto. Meyer mentransformasi material dari bagian dasar hutan, dan membuat instalasi menakjubkan yang menambah keindahan alam di sekitarnya.

Meyer mengumpulkan tanah, berbagai jenis dan ukuran batu, bunga dan dedaunan dan menggunakannya dalam proses penciptaan instalasi-instalasi yang inovatif namun tidak permanen. Bentuk melingkar dedaunan berwarna kuning bersama dengan kontrasnya dedaunan berwana merah, menciptakan sebuah permainan paduan dua warna. Rupa surealis akar pepohonan bersanding dengan dahan-dahan pohon yang telah jatuh menciptakan bentuk tentakel seperti lengan yang menjulur dari batang pohon.

 

Land_Art_Karya_Sylvain_Meyer_1_Greeners

Batu, bunga, dedaunan, dan berbagai elemen alam dipakai seniman Sylvain Meyer untuk menciptakan instalasi Land Art. Foto: Sylvain Meyer

Meyer ‘menanam’ bantaran sungai yang hijau dengan berbagai warna. Ia ‘menganyam’ selembar selimut menggunakan bunga-bunga berwarna merah yang berbaring di atas batu besar berlapis lumut. Lumut ini kemudian digunakannya sebagai media, sebagai dasar dari bentuk laba-laba yang telah ia buat sebelumnya. Karya Meyer bahkan bisa sesederhana susunan bunga-bunga berbentuk geometris, yang merepresentasikan elemen alam dari hutan.

 

Land_Art_Karya_Sylvain_Meyer_2_Greeners

‘Araignee’. Foto: Sylvain Meyer

Beberapa karya-karya seni ini spektakular karena Meyer menggunakan elemen alam untuk merepresentasikan keindahan alam dan bahkan membuatnya menjadi tampak lebih indah. Setiap bagiannya sangat alami, mengkombinasikan elemen organik yang ditemukan di sekitar lokasi pembuatan instalasi. Jenis aliran seni ini, Land Art, memang tetap menjaga keseimbangan alam.

Seniman-seniman lainnya seperti Robert Smithson dan Walter de Maria memopulerkan gerakan Land Art di tahun 1970an melalui karya-karyanya seperti ‘Spiral Jetty’, yang masih melegenda hingga saat ini. Meyer terus ‘meninggalkan jejaknya’ di alam dengan menciptakan karya-karya instalasi sebagai bentuk selebrasi dari keindahan alam di sekitar kita.

(G33)

Sumber: inhabitat.com

 

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/kolaborasi-elemen-alam-dalam-land-art-karya-sylvain-meyer/feed/ 0