karya seni dari sampah - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/karya-seni-dari-sampah/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 08 Jul 2023 09:02:28 +0000 id hourly 1 Patung dan Bunga Objek Wisata Bojong Asri dari Sampah Plastik https://www.greeners.co/aksi/patung-dan-bunga-objek-wisata-bojong-asri-dari-sampah-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=patung-dan-bunga-objek-wisata-bojong-asri-dari-sampah-plastik https://www.greeners.co/aksi/patung-dan-bunga-objek-wisata-bojong-asri-dari-sampah-plastik/#respond Sun, 09 Jul 2023 04:00:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=40708 Jakarta (Greeners) – Sampah plastik bisa menjadi karya seni yang memukau. Pengelola objek wisata Bojong Asri, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta membuktikan hal itu. Mereka membuat patung, bunga […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sampah plastik bisa menjadi karya seni yang memukau. Pengelola objek wisata Bojong Asri, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta membuktikan hal itu. Mereka membuat patung, bunga dari sampah plastik dengan berbagai bentuk yang unik.

Sebanyak 7.000 bunga dari botol plastik tersebar di objek wisata Bojong Asri seluas 1,6 hektare. Bunga yang beraneka warna tersebut merupakan ide dari tim pengelola wisata Bojong Asri yang memanfaatkan sampah botol plastik menjadi karya seni.

Bentuk karya seni yang terbuat dari plastik tidak hanya berupa bunga. Namun, tim pengelola menciptakan berbagai macam patung hewan seperti kura-kura, gurita, dan hiu. Wisatawan lokal maupun luar kota pun kini telah banyak berkunjung ke sana. Mereka menggunakan tempat wisata yang resmi dibuka sejak Juli 2023 sebagai objek foto.

Ketua Tempat Wisata Bojong Asri, Suharyanto mengatakan, tempat wisata ini didirikan berkat inisiatif dari tim pengelola wisata Bojong Asri. Mereka awalnya ingin menciptakan tempat wisata yang sebelumnya belum pernah ada di Kota Yogyakarta. Hingga akhirnya terciptalah wisata dengan ikon dari bahan rongsokan pertama di Kota Seniman ini.

“Jadi kita cari apa yang kira-kira di Yogyakarta itu belum ada. Kemudian kita ciptakan wisata seperti itu. Kita memang pertama kali menggunakan barang bekas di Yogyakarta ini secara besar-besaran,” kata Yanto kepada Greeners baru-baru ini.

Tim pengelola wisata Bojong Asri tidak berjalan sendirian menciptakan objek wisata yang menarik ini. Pengepul di sekitar wilayah Bantul telah mereka libatkan demi mendapatkan sampah plastik untuk membuat patung dan hiasan yang telah mereka rancang.

Objek Wisata Bojong Sari Libatkan Kelompok PKK

Ribuan bunga yang dipasang di kawasan wisata Bojong Asri merupakan karya kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kapanewon Pundong. Anggota PKK yang sebagian besar ibu rumah tangga ini telah menghabiskan waktu selama dua bulan membuat kreasi bunga plastik tersebut.

Kolaborasi ini juga menjadi wadah bagi pengelola dan warga setempat untuk saling berkreasi bersama untuk menghasilkan tempat wisata yang menarik. Mereka juga terlebih dahulu mendapat pelatihan dari tim pengelola wisata Bojong Asri demi menghasilkan kreasi bunga yang cantik.

Selain bentuk bunga, tim pengelola wisata Bojong Asri pun ikut membantu merangkai plastik menjadi berbagai macam patung hewan. Dua minggu lamanya telah mereka habiskan dalam membuat karya seni ini.

Lokasi permainan anak. Foto: Tim Pengelola Bojong Asri

Wadah Edukasi Anak Usia Dini

Wisata Bojong Asri tak sekadar memberikan objek wisata menarik. Tim pengelola berharap tempat ini bisa mengedukasi wisatawan tentang pemanfaatan sampah. Terutama bagi anak-anai usia dini yang baru saja mengenal lingkungan.

Suharyanto menambahkan, pemanfaatan barang bekas yang menjadi objek foto di tempat wisata ini juga bertujuan untuk menunjukkan bahwa sampah yang dikelola dengan baik, bisa memiliki nilai seni dan daya jual yang tinggi.

Saat ini, pengelola pun aktif mengajak kelompok anak-anak usia dini di kalangan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Menariknya lagi, tim pengelola telah menyediakan 100 permainan dari barang bekas yang bisa anak-anak mainkan.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/patung-dan-bunga-objek-wisata-bojong-asri-dari-sampah-plastik/feed/ 0
Attero, Cara Seniman Jalanan Kota Lisbon ‘Bicara’ Soal Sampah https://www.greeners.co/ide-inovasi/attero-cara-seniman-jalanan-kota-lisbon-bicara-soal-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=attero-cara-seniman-jalanan-kota-lisbon-bicara-soal-sampah https://www.greeners.co/ide-inovasi/attero-cara-seniman-jalanan-kota-lisbon-bicara-soal-sampah/#respond Thu, 04 Jan 2018 06:30:08 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=19757 Seniman jalanan asal Portugis, Artur Bordalo, mengkritik ketidakpedulian orang-orang terhadap sampah. Ia melakukannya melalui 'Attero'.]]>

Lingkungan yang bebas dari sampah tentu saja didambakan oleh semua orang. Selain menyehatkan, lingkungan yang bebas dari sampah juga membuat orang betah menempatinya. Namun sebagian besar orang hanya peduli terhadap lingkungan di sekitar rumahnya saja. Padahal kebersihan lingkungan publik seperti jalan raya dan kawasan bekas bangunan-bangunan kosong di kota juga perlu mendapat perhatian yang serius dari semua pihak.

Minimnya perhatian orang-orang terhadap lingkungan publik membuat seniman jalanan asal Portugis, Artur Bordalo, mendapatkan ide untuk menciptakan hiasan kota yang berasal dari sampah atau limbah. Seperti yang dilansir dari Colossal, Bordalo atau lebih dikenal dengan sebutan Bordalo II, menciptakan hiasan berbentuk hewan berukuran besar dari plastik bekas, bagian mobil dan sampah lainnya untuk mengkritik ketidakpedulian orang-orang terhadap lingkungan tersebut.

Bordalo II memamerkan beberapa karya seni jalanan yang berani di sebuah gudang kosong yang ditinggalkan di kota Lisbon. Di pameran tunggal Bordalo II, Attero – dalam bahasa Latin berarti ‘limbah’, sampah diberi kehidupan baru sebagai hiasan hewan yang berwarna-warni.

attero

Foto: Bordalo II via www.thisiscolossal.com

Bordalo II sering mengubah partikel organik hasil dari proses penguraian sampah (detritus) menjadi hiasan hewan karena ia beranggapan bahwa orang-orang yang sering membuang sampah sembarangan dan mencemari lingkungan secara tidak langsung telah membuat hewan sangat rentan terhadap bahayanya.

Lara Seixo Rodrigues, pendiri organisasi seni nirlaba Mistaker Maker dan pengurus Attero, mengatakan bahwa Attero memanggil kita untuk merenungkan apa yang kita konsumsi. Dia mengatakan kepada Colossal, “Entah dalam skala besar atau kecil, kreasi pahatannya yang tidak biasa mengharuskan kita untuk mempertanyakan dan memikirkan kembali peran kita sendiri sebagai aktor dalam masyarakat yang statis, konsumeris, dan merusak diri sendiri, yang mengeksploitasi, seringkali dengan cara yang kasar, sumber daya yang ditawarkan alam kepada kita.”

attero

Foto: Bordalo II via www.thisiscolossal.com

Bordalo II menggemakan gagasan ini dalam biografinya di Facebook. Dia mengatakan bahwa dia termasuk “generasi yang sangat konservatif, materialis, dan serakah.” Seniman yang lahir pada tahun 1987 ini merevitalisasi benda-benda bekas pakai yang dibuang oleh orang lain untuk menciptakan karyanya.

Patung hiasan Bordalo II seringkali dibuat dalam skala besar, terbentang di dinding bangunan. Meski demikian, dalam pameran ini juga ditampilkan hiasan-hiasan kecil di pintu tua, kaca jendela, atau dinding.

Sekitar 8.000 orang telah mengunjungi pameran tersebut selama minggu pertama. Pameran Attero diadakan pada bulan November 2017 lalu di Rua de Xabregas 49, 1900-439 Beato, Lisbon. Selain itu tiket masuk ke pameran ini gratis. Jika Anda tidak sempat berkunjung ke Lisbon, anda bisa lihat lebih banyak karya-karya Bordalo II di Facebook dan Instagram-nya.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/attero-cara-seniman-jalanan-kota-lisbon-bicara-soal-sampah/feed/ 0
Menara dari Botol Plastik Bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/menara-botol-plastik-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menara-botol-plastik-bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/menara-botol-plastik-bekas/#respond Sat, 30 Sep 2017 06:38:38 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=18833 Untuk membangkitkan kesadaran akan masalah yang ditimbulkan oleh botol plastik bekas dan polusi yang dihasilkannya, seorang seniman dengan nama "r1" membuat sebuah proyek untuk mengubah 7.000 botol plastik bekas menjadi sebuah benda monumental.]]>

Jutaan botol plastik beredar di dunia ini tiap menit. Angka konsumsinya akan menyentuh jumlah sebanyak setengah triliun botol di tahun 2021 nanti.

Untuk membangkitkan kesadaran akan masalah yang ditimbulkan oleh botol plastik bekas dan polusi yang dihasilkannya, seorang seniman dengan nama “r1” membuat sebuah proyek untuk mengubah 7.000 botol plastik bekas menjadi sebuah benda monumental: patung setinggi 20 meter.

botol plastik bekas

Foto: r1 via Inhabitat.com

Karya yang lahir dari kolaborasi bersama komunitas lokal dan diberi nama iThemba Tower ini didirikan di Troyeville- Johannesburg. Simbol harapan dan inspirasi adalah pesan yang ingin disampaikan para kreator iThemba Tower. Berasal dari bahasa Zulu, iThemba artinya harapan atau kepercayaan.

Seniman “r1” menggunakan menara komunikasi yang sudah tidak terpakai sebagai rangka untuk menara iThemba. Komunitas lokal yang beragam ikut serta dalam semua aspek proses desainnya, dimulai dari mengumpulkan botol plastik sampai ke konstruksi. Komunitas lokal tersebut juga diundang untuk mengisi setiap botol dengan sebuah harapan, sehingga menara komunikasi itu menjadi simbol yang memancarkan harapan dan mimpi komunitas tersebut.

botol plastik bekas

Foto: r1 via Inhabitat.com

Dalam video tentang iThemba Tower, narator meyampaikan bahwa saat ini di Afrika saja terdapat sekitar 250.000 botol plastik yang dibuang ke lingkungan kita tiap jamnya. Sebuah botol plastik akan membutuhkan waktu 700 tahun untuk habis terurai di dalam tanah. Proyek iThemba Tower ini berusaha meningkatkan kesadaran akan pentingnya daur ulang yang bisa dilakukan di berbagai tempat di sekitar komunitas kita.

Di dalam botol bekas yang dipasang di menara iThemba, dimasukkan juga lampu LED sehingga saat dinyalakan menara tersebut berubah menjadi “cahaya harapan”. Cahaya dari lampu tersebut membuat menaranya menjadi hidup di malam hari dan menciptakan efek berkedip-kedip yang magis.

Menara iThemba merupakan benda seni permanen di Spaza Art Garden, sebuah tempat aman untuk karya seni di Johannesburg.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/menara-botol-plastik-bekas/feed/ 0
Patung Satwa Warna-Warni Bantu Kurangi Limbah Sandal Bekas dari Lautan https://www.greeners.co/ide-inovasi/patung-satwa-warna-warni-bantu-kurangi-limbah-sandal-bekas-lautan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=patung-satwa-warna-warni-bantu-kurangi-limbah-sandal-bekas-lautan https://www.greeners.co/ide-inovasi/patung-satwa-warna-warni-bantu-kurangi-limbah-sandal-bekas-lautan/#respond Mon, 23 May 2016 04:36:23 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=13745 Prihatin dengan timbunan sampah di sepanjang pantai dan sungai di Kenya, sebuah tim yang peduli terhadap laut, Ocean Sole, memberi solusi terhadap masalah tersebut dengan cara yang unik.]]>

Bicara lautan berarti juga membicarakan ekosistem di dalamnya. Prihatin dengan timbunan sampah di sepanjang pantai dan sungai di Kenya, sebuah tim yang peduli terhadap laut, Ocean Sole, memberi solusi terhadap masalah tersebut dengan cara yang unik.

Mereka memungut sampah dan mendaur ulangnya. Sandal bekas merupakan salah satu sampah terbanyak yang dapat mereka temui dan daur ulang. Ocean Sole membuat setiap produknya dengan cara manual dengan tujuan melindungi laut dan mengajarkan pada dunia tentang ancaman sampah di lautan.

Foto: Ocean Sole/inhabitat.com

Foto: Ocean Sole/inhabitat.com

Fenomena yang aneh tapi hal ini nyata bahwa ribuan sandal bekas terbawa arus laut ke pantai-pantai di Afrika Timur. Namun, sandal-sandal itu telah menciptakan bencana lingkungan. Tidak hanya merusak pemandangan alam yang indah di laut dan pantai, sandal karet tersebut dimakan oleh hewan laut dan meracuni banyak ikan dan hewan lainnya.

Sandal-sandal tersebut bahkan menghalangi anak penyu yang baru menetas untuk masuk ke laut dan ini merupakan perwujudan kehancuran yang dibuat oleh manusia pada ekosistem yang rapuh.

Tim kreatif Ocean Sole menciptakan berbagai bentuk dari sandal bekas ini, seperti gajah, jerapah, singa, badak, lumba-lumba, ikan hiu, penyu dan lain-lain. Karya-karya yang penuh warna ini merupakan sebuah pesan penting tentang konservasi laut dan bisa membangkitkan senyum pada orang di seluruh dunia.

Jadilah bagian dari solusi melawan polusi dan bergabung bersama mereka dalam safari sandal.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/patung-satwa-warna-warni-bantu-kurangi-limbah-sandal-bekas-lautan/feed/ 0
Membangun Kembali Simon untuk Anine https://www.greeners.co/ide-inovasi/membangun-kembali-simon-untuk-anine/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=membangun-kembali-simon-untuk-anine https://www.greeners.co/ide-inovasi/membangun-kembali-simon-untuk-anine/#respond Sat, 07 May 2016 12:48:13 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=13616 Kisah inspiratif bisa dialami oleh siapa saja. Thomas Dambo, seorang seniman asal Denmark, rela membangun kembali patung dari kayu bekas demi seorang gadis kecil yang sangat mengapresiasi karyanya.]]>

Kisah inspiratif bisa dialami oleh siapa saja. Thomas Dambo, seorang seniman yang mengubah kayu-kayu bekas menjadi karya patung yang unik dan dapat menghibur masyarakat di sekitarnya. Tahun lalu, Dambo membuat sebuah patung berjudul Simon Selfmade di Tilst, Denmark, menggunakan kayu yang disumbangkan sebuah toko bangunan dekat tempat tinggalnya. Karya ini berbentuk manusia yang sedang membuat tubuhnya sendiri dengan kayu dan palu.

Sampai kemudian badai menerjang kota Tilst dan menghancurkan patung tersebut. Kondisi itu membuat masyarakat di sekitar patung bersedih. Namun seorang gadis berusia 14 tahun mencoba menyelesaikan masalah ini.

Gadis bernama Anine itu membuat sebuah laman di Facebook meminta masyarakat untuk mendonasikan uangnya untuk membuat kembali Simon Selfmade. Respon yang dihasilkan ternyata sangat bagus dan ia menerima bantuan yang sangat berlimpah dari publik. Dia berhasil mengumpulkan dana yang dibutuhkan hanya dalam dua hari saja.

"Simon and Anine" karya Thomas Dambo. Foto: Thomas Dambo/inhabitat.com

“Simon and Anine” karya Thomas Dambo. Foto: Thomas Dambo/inhabitat.com

Dambo kemudian kembali ke kota Tilst untuk membuat kembali karya patungnya. Namun dia memutuskan untuk membuat beberapa perubahan. Sebagai seorang seniman, dia berkata bahwa dia tidak tertarik untuk mengulang kembali karyanya. Karya yang baru ini menunjukkan beberapa perubahan pada tokoh Simon. Tokoh ini sekarang sudah selesai dibuat dan sekarang tokoh ini sedang membuat sebuah tokoh lain yang namanya, tentu saja, Anine.

Nama dari karya Dambo ini sekarang menjadi Simon and Anine. Sekali lagi karya ini dibangun menggunakan kayu bekas dari toko bangunan. Anine dan beberapa temannya membantu Dambo dan timnya pada waktu proses produksi.

"Simon and Anine" karya Thomas Dambo. Foto: Thomas Dambo/inhabitat.com

“Simon and Anine” karya Thomas Dambo. Foto: Thomas Dambo/inhabitat.com

Keberlanjutan adalah tujuan utama karya seni Thomas Dambo. Seperti dikutip pada Inhabitat.com, Dambo mengatakan, “Saya ingin menunjukkan hal-hal luar biasa yang bisa dibuat dari sampah. Kita harus mulai mencari di tong sampah kita dan membuatnya menjadi karya-karya yang bagus sebelum kita membuangnya ke tempat pembakaran sampah, karena bisa jadi ada sebuah mimpi atau cerita yang indah seperti karya ini.”

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/membangun-kembali-simon-untuk-anine/feed/ 0
Inspirasi Recycle dari Tuts Laptop https://www.greeners.co/ide-inovasi/inspirasi-recycle-dari-tuts-laptop/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=inspirasi-recycle-dari-tuts-laptop https://www.greeners.co/ide-inovasi/inspirasi-recycle-dari-tuts-laptop/#respond Wed, 20 Apr 2016 08:09:09 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=13499 Apple terkenal di dunia karena produk laptopnya yang mumpuni. Namun, bila laptop tersebut rusak dan tidak dapat digunakan lagi, bagaimana kelanjutan produk tersebut?]]>

Apple terkenal di dunia karena produk laptopnya yang mumpuni. Namun, bila laptop tersebut rusak dan tidak dapat digunakan lagi, bagaimana kelanjutan produk tersebut?

Sebuah studio desain di Bologna, Italia, VicoloPagliaCorta membuat produk furnitur dan dekorasi di mana salah satu bahannya berasal dari produk Apple. Menggunakan tuts dari laptop Apple yang tidak terpakai lagi, mereka membuat desain untuk meja, rak, jam dinding, perhiasan dan banyak lagi. Serupa dengan desain komputer Apple pada umumnya, kreasi ini juga mempunyai gaya yang sama: minimalis, penuh gaya dan sangat fungsional.

Aksesori dari tuts bekas laptop Apple. Foto: VicoloPagliaCorta/inhabitat.com

Aksesori dari tuts bekas laptop Apple. Foto: VicoloPagliaCorta/inhabitat.com

Produk rancangan VicoloPagliaCorta tampil di Milan Design Fair 2016. Meja dengan tuts huruf tersebut diletakkan berpasangan dengan meja yang terbuat dari mainan LEGO. Kedua karya tersebut memberikan alternatif rancangan yang penuh warna dari bahan-bahan bekas.

Gaya desain VicoloPagliaCorta yang unik tersebut merupakan bagian dari proyek menggunakan 10 ribu tuts huruf bekas dari komputer Apple. Setiap tuts dicopot, dirapikan dan dibersihkan sebelum dipasang menjadi mosaik dalam 20 baris dan 19 kolom.

Foto: VicoloPagliaCorta/inhabitat.com

Foto: VicoloPagliaCorta/inhabitat.com

Mosaik tuts bekas ini dipasang di atas kayu pohon ek yang kuat. Rancangannya memberikan kehangatan secara visual, kontras dengan warna tuts yang putih. Mosaiknya diatur dengan pola yang berbeda dengan tiga tema, yaitu huruf, nomor dan simbol. VicoloPagliaCorta juga membuat produk lain dari bekas komputer Apple dan menangani sendiri semua proses desain dan produksi sampai ke pembuatan kemasan dan distribusinya.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/inspirasi-recycle-dari-tuts-laptop/feed/ 0
Cincin Cahaya Mengapung di Trafalgar Square https://www.greeners.co/ide-inovasi/cincin-cahaya-mengapung-di-trafalgar-square/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cincin-cahaya-mengapung-di-trafalgar-square https://www.greeners.co/ide-inovasi/cincin-cahaya-mengapung-di-trafalgar-square/#respond Fri, 18 Mar 2016 07:14:02 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=13217 Tampak cincin cahaya melingkari kolam air mancur di Trafalgar Square di London terlihat sangat indah. Jika mengamatinya lebih dekat maka akan terlihat bahwa cahaya berpendar dari cincin tersebut berasal dari ribuan plastik botol bekas.]]>

Pemandangan sebuah kolam air mancur di Trafalgar Square di London terlihat sangat indah. Tampak cincin cahaya yang menawan melingkari air mancur tersebut. Orang-orang terkecoh. Rupanya cincin berpendar itu bukanlah terbuat dari material emas atau zat lainnya yang kita kira. Jika mengamatinya lebih dekat maka akan terlihat bahwa cahaya berpendar dari cincin tersebut berasal dari ribuan plastik botol bekas.

Air mancur bercincin tersebut merupakan bagian dari Festival Cahaya Lumiere London 2016. Penciptanya adalah Luzinterruptus. Ia memenuhi air mancur tersebut dengan 13.000 botol plastik bekas dengan maksud meningkatkan kesadaran manusia tentang isu global mengenai sampah plastik.

"Pulau Plastik" yang mengapung di kolam air mancur Trafalgar Square tersusun dari 13.000 botol plastik bekas. Foto: Lola Martinez/Inhabitat.com

“Pulau Plastik” yang mengapung di kolam air mancur Trafalgar Square tersusun dari 13.000 botol plastik bekas. Foto: Lola Martinez/Inhabitat.com

“Pulau Plastik” yang mengeluarkan cahaya di Trafalgar Square tersebut menyatukan ribuan botol plastik dalam bentuk donat dan memakai sistem pencahayaan sendiri sehingga saat menyala seperti satu kesatuan cahaya yang utuh. Karya instalasi ini terdiri dari dua cincin. Cincin pertama diisi oleh 13.000 botol plastik bekas yang diambil dari tong sampah, dibersihkan dengan susah payah dan diberi tutup botol sebelum dipakai.

Luzinterruptus pada awalnya bermaksud untuk mengumpulkan botol plastik bekas dari pengunjung untuk digunakan di cincin yang kedua, namun ternyata mereka tidak bisa mendapatkan cukup banyak tutup botol jadi mereka memilih untuk meninggalkan struktur yang kedua tercahayai tanpa memakai botol plastik.

Foto: Lola Martinez/Inhabitat.com

Foto: Lola Martinez/Inhabitat.com

Selama empat malam di bulan Januari 2016, beberapa titik di London bertabur cahaya dengan seni instalasi yang indah sebagai bagian dari festival cahaya tersebut. Karya Luzinterruptus di Trafalgar Square terlahir berkat inspirasi dari karya mereka sebelumnya: Plastic Island atau Pulau Plastik.

Karya tersebut merupakan instalasi mengapung yang terbuat dari botol plastik yang menyimbolkan benua ke enam yang terbuat dari sampah dan mulai mengambil tempat di Samudera Pasifik. Instalasi ini dipajang pada tanggal 14 Januari sampai 17 Januari 2016 dan setelah selesai, botol-botol plastiknya diserahkan ke tempat daur ulang sampah.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/cincin-cahaya-mengapung-di-trafalgar-square/feed/ 0
Sound of Light, Mengubah CD Bekas Menjadi Karya Seni https://www.greeners.co/ide-inovasi/sound-of-light-mengubah-cd-bekas-menjadi-karya-seni/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sound-of-light-mengubah-cd-bekas-menjadi-karya-seni https://www.greeners.co/ide-inovasi/sound-of-light-mengubah-cd-bekas-menjadi-karya-seni/#respond Tue, 09 Feb 2016 08:16:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=12784 Terletak di pinggiran Randfontein, Afrika Selatan, r1 menutup bangunan tersebut dengan CD bekas dan memberinya judul "Sound of Light", sebuah seni instalasi yang membiaskan cahaya matahari dan menciptakan pola warna pelangi yang indah.]]>

Ada banyak cara memakai ulang CD (compact disc) yang tidak terpakai. Seperti yang diberitakan di situs Inhabitat, seorang seniman dari Afrika Selatan baru-baru ini menyelesaikan karya instalasinya yang terdiri dari kepingan-kepingan CD bekas. Berlokasi di Johannesburg, Afrika Selatan, r1 adalah nama seniman yang memasang kepingan CD bekas pada dinding sebuah rumah ladang.

Terletak di pinggiran Randfontein, Afrika Selatan, r1 menutup bangunan tersebut dengan CD bekas dan memberinya judul “Sound of Light“, sebuah seni instalasi yang membiaskan cahaya matahari dan menciptakan pola warna pelangi yang indah.

"Sound of Light" disusun dari seribu keping CD bekas. Foto: r1/inhabitat.com

“Sound of Light” disusun dari seribu keping CD bekas. Foto: r1/inhabitat.com

Seperti kebanyakan karyanya yang lain, r1 membuat karya “Sound of Light” dari bahan daur ulang yang dipasang dalam pola yang berulang. Seribu keping CD bekas yang ditempelkan dengan tangan ke permukaan bangunan ini terdiri dari 7 baris yang membujur dari dinding sebelah barat ke bangunan sebelah utara. CD- CD tersebut kebanyakan menghadap ke arah Barat, menghadap ke arah tenggelamnya matahari.

Kepingan CD bekas memantulkan cahaya matahari dan menghasilkan spektrum warna yang indah. Foto: r1/inhabitat.com

Kepingan CD bekas memantulkan cahaya matahari dan menghasilkan spektrum warna yang indah. Foto: r1/inhabitat.com

Instalasi ini terlihat sangat indah saat fajar, ketika sinar matahari terpantul dari kepingan CD dan menghasilkan warna-warna pelangi. Saat permukaan CD memantulkan cahaya matahari, mereka menghasilkan spektrum warna yang dinamis dengan warna-warna neon yang berubah sesuai dengan posisi pengamat. Kepingan CD bekas tersebut memantulkan kembali “suara” cahaya yang mengagumkan.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/sound-of-light-mengubah-cd-bekas-menjadi-karya-seni/feed/ 0
Taman Seni Instalasi Kreasikan Sampah Jadi Karya Seni https://www.greeners.co/ide-inovasi/taman-seni-instalasi-kreasikan-sampah-jadi-karya-seni/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=taman-seni-instalasi-kreasikan-sampah-jadi-karya-seni https://www.greeners.co/ide-inovasi/taman-seni-instalasi-kreasikan-sampah-jadi-karya-seni/#respond Thu, 10 Dec 2015 13:22:56 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=12195 Olayami Dabls bersama dengan kurator museum dan ahli sejarah mendirikan Dabls' African Bead Museum. Di sana, karyanya instalasinya semua terbuat dari material daur ulang hasil donasi masyarakat.]]>

Olayami Dabls adalah legenda lokal dari Detroit. Ia merupakan seniman yang biasa membuat seni instalasi yang masif dari limbah sampah. Bersama dengan kurator museum dan ahli sejarah, 14 tahun lalu dia mendirikan Dabls’ African Bead Museum. Sejak saat itu, karyanya berkembang dengan banyak instalasi yang semuanya terbuat dari material daur ulang hasil donasi masyarakat.

Seperti dilansir inhabitat.com, taman seni instalasi buatan Dabls berada di area terbuka dan dengan banyak karya yang tersebar. Semua karyanya bercerita tentang kolonialisme dan tekanan. Karya seni abstrak ini terbuat dari benda-benda seperti pecahan kaca, potongan logam, beton dan sampah sisa konstruksi serta material lain. Taman ini terbuka untuk umum dan bisa dikunjungi kapan saja.

Foto: Lori Zimmer/inhabitat.com

Foto: Lori Zimmer/inhabitat.com

Lokasi taman ini sebelumnya adalah tempat pembuangan sampah ilegal. Dabls melihat banyak potensi yang bisa digunakan dari ruang yang tidak digunakan ini dan memutuskan untuk membuat sebuah seni instalasi.

Ia mendedikasikan karyanya untuk sejarah orang Afrika-Amerika. Menggunakan material sumbangan masyarakat atau sampah yang dibuang orang, dia mulai membangun taman instalasi terbuka yang secara bersamaan membentuk sebuah cerita, sebuah metafora terhadap sejarah sosial politik dari masyarakat Afrika-Amerika.

Foto: Lori Zimmer/inhabitat.com

Foto: Lori Zimmer/inhabitat.com

Sebuah karya berjudul “Iron Teaching Rocks How to Rust” adalah sebuah penanda yang tidak diinginkan terhadap ras dan perampasan budaya. Lewat blok semen, potongan logam, lemari tua, pecahan kaca dan kayu bekas, Dabls menggambarkan sebuah metafora terhadap sebuah kelompok sosial yang mencoba untuk memaksakan kepercayaan dalam sebuah budaya terhadap budaya lain.

Narasinya mungkin terdengar cukup berat, namun cara Olayami bercerita dan dengan penggunaan barang bekas pada karyanya, membuat cerita gejolak ras selama puluhan tahun menjadi lebih mudah dicerna pengunjung. Kebenaran yang keras, ditampilkan dalam penggunaan kembali material bekas, menjadi cerita tentang janji dan kelahiran kembali. Dabls mempersilakan setiap orang untuk mampir, mendengarkan sebuah cerita dan menikmati instalasinya yang unik.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/taman-seni-instalasi-kreasikan-sampah-jadi-karya-seni/feed/ 0
Pameran Seni Hadirkan Sampah Plastik dari Lautan https://www.greeners.co/ide-inovasi/pameran-seni-hadirkan-sampah-plastik-dari-lautan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pameran-seni-hadirkan-sampah-plastik-dari-lautan https://www.greeners.co/ide-inovasi/pameran-seni-hadirkan-sampah-plastik-dari-lautan/#respond Thu, 26 Nov 2015 07:31:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=12037 Setiap benda terlihat begitu kecil dibanding luasnya lautan, tidak ada ancaman yang bisa ditimbulkan oleh sampah kita pada lautan atau kehidupan di dalamnya. Begitulah anggapan kita selama ini. Padahal, milyaran […]]]>

Setiap benda terlihat begitu kecil dibanding luasnya lautan, tidak ada ancaman yang bisa ditimbulkan oleh sampah kita pada lautan atau kehidupan di dalamnya. Begitulah anggapan kita selama ini. Padahal, milyaran manusia berkontribusi terhadap sampah yang menciptakan ancaman terhadap stabilitas kehidupan di dalam laut.

Gambaran tersebut terlihat dalam pameran keliling, “Gyre : The Plastic Ocean.” Pameran ini diselenggarakan oleh Museum Anchorage dan sekarang dipamerkan di USC Fisher Museum di Los Angeles. Para seniman terlihat mengumpulkan materi sampah dan mengumpulkannya dalam bentuk yang monumental: segunung sendal jepit bekas, setumpuk cincin plastik bekas, dan sebuah struktur yang dibuat dari botol yang ditemukan terdampar di pantai.

Kiri: "Ghost Dog" (Sue Ray). Kanan: "SOUP Refused" (Mandy Barker). Sumber: www.huffingtonpost.com

Kiri: “Ghost Dog” (Sue Ray). Kanan: “SOUP Refused” (Mandy Barker). Sumber: www.huffingtonpost.com

Kurator USC Fisher Museum, Ariadni Liokatis, mengatakan, “semua karya seni ini adalah sebuah pembuktian terhadap dampak negatif terhadap perilaku konsumtif dan pengingat terhadap penghancuran yang sedang berlangsung terhadap lingkungan kita,” seperti dikutip dari The Huffington Post.

Liokatis menyatakan bahwa setiap karya berdiri sendiri dan saling mendukung terhadap karya lain. “Sebagai museum kampus, kami menampilkan seni, ilmu pengetahuan dan disiplin ilmu lain secara bersama-sama. Kekuatan seni diharapkan menimbulkan kebangkita kesadaran terhadap isu yang sangat penting yaitu polusi plastik di laut kita,” ujarnya.

Kiri: "Cabinet of Marine Debris" (Mark Dion). Kanan atas: "Falcon" (Cynthia Minet). Kanan bawah: "Elephant" (Cynthia Minet). Sumber: www.huffingtonpost.com

Kiri: “Cabinet of Marine Debris” (Mark Dion). Kanan atas: “Falcon” (Cynthia Minet). Kanan bawah: “Elephant” (Cynthia Minet). Sumber: www.huffingtonpost.com

Keindahan karya-karya ini, yang kebanyakan berupa potongan sampah yang diatur secara artistik dan terlihat indah. Namun, implikasi dari menggunakan tampilan estetis tersebut dianggap sebagai hal yang dapat menangkap perhatian publik dan semoga pula dapat menggugah masyarakat.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/pameran-seni-hadirkan-sampah-plastik-dari-lautan/feed/ 0
Patung Dinosaurus dari Limbah Padi https://www.greeners.co/ide-inovasi/patung-dinosaurus-dari-limbah-padi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=patung-dinosaurus-dari-limbah-padi https://www.greeners.co/ide-inovasi/patung-dinosaurus-dari-limbah-padi/#respond Wed, 23 Sep 2015 07:19:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=11213 Dinosaurus terbuat dari jerami, memangnya ada? Para petani di Jepang memanfaatkan limbah jerami dari panen padinya dan mengubahnya menjadi patung. Patung dinosaurus yang tersusun dari jerami tersebut terpajang di Wara Art […]]]>

Dinosaurus terbuat dari jerami, memangnya ada? Para petani di Jepang memanfaatkan limbah jerami dari panen padinya dan mengubahnya menjadi patung.

Patung dinosaurus yang tersusun dari jerami tersebut terpajang di Wara Art Festival. Berlokasi di Prefektur Niigata, Jepang, festival tahunan tersebut dilangsungkan pada akhir bulan Agustus lalu.

Setiap tahun di Niigata berkumpul para seniman, pelajar dan pekerja sukarela untuk merayakan berakhirnya masa panen raya padi. Bersama-sama mereka membangun patung-patung raksasa yang terbuat dari jerami sisa panen padi dan mengumpulkannya dalam sebuah pameran seni rupa temporer.

Sebelum membuat patung jemari, diperlukan rangka kayu untuk membentuk patung dan untuk mengikat batang jerami. Foto: Wara Art Festival facebook/inhabitat.com

Sebelum membuat patung jemari, diperlukan rangka kayu untuk membentuk patung dan untuk mengikat batang jerami. Foto: Wara Art Festival facebook/inhabitat.com

Niigata sendiri merupakan sebuah wilayah di Jepang yang terkenal akan hasil padinya yang berkualitas. Nasi yang terbuat dari padi Niigata terkenal lezatnya. Tidak hanya itu, Niigata juga menjadi magnet untuk banyak turis pada musim gugur. Mereka berkunjung untuk menyaksikan Festival Wara Art yang sangat populer itu.

Untuk perayaan Festival Wara Art tahun ini, patung jerami yang dibuat antara lain T-Rex yang sedang mengaum, Triceratops, belalang sembah, bahkan bebek yang sedang berenang. Sedangkan pada tahun sebelumnya, para seniman di sana membuat karya-karya seperti gorila, pegulat sumo, hingga monster mirip yeti dengan mulut sebesar gua yang bisa dimasuki orang.

Foto: amymauscd/inhabitat.com

Foto: amymauscd/inhabitat.com

Setiap karya dimulai dengan membuat rangka kayu. Kemudian para seniman menempelkan jerami ke rangka kayu tersebut dengan memakai teknik yang sama seperti membuat atap rumah. Patung-patung ini berlokasi di taman Uwasekigata dan akan tetap berada di sana sampai awal bulan November 2015.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/patung-dinosaurus-dari-limbah-padi/feed/ 0
Elsewhere, Mural dari Kayu Bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/elsewhere-mural-dari-kayu-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=elsewhere-mural-dari-kayu-bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/elsewhere-mural-dari-kayu-bekas/#respond Tue, 21 Jul 2015 13:01:35 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=10420 Seniman asal Belgia, Stefaan de Crook membuat karya seni yang indah dengan memanfaatkan kayu bekas, pintu dan furnitur. Dia mengumpulkan bahan-bahan tersebut dan menggunakannya untuk membuat wajah geometris raksasa yang dipasang di […]]]>

Seniman asal Belgia, Stefaan de Crook membuat karya seni yang indah dengan memanfaatkan kayu bekas, pintu dan furnitur. Dia mengumpulkan bahan-bahan tersebut dan menggunakannya untuk membuat wajah geometris raksasa yang dipasang di dinding bangunan. Karyanya yang terbaru berjudul Elsewhere dipasang di sisi sebuah pabrik furnitur tua di Mechelen, Belgia.

"Elsewhere" karya Stefaan de Crook. Foto: inhabitat.com

“Elsewhere” karya Stefaan de Crook. Foto: inhabitat.com

De Crook memulainya dengan menggambar wajah yang dia inginkan kemudian memperbesar gambar tersebut dengan menggunakan bahan-bahan yang dia temukan. Bahan tersebut adalah pintu yang sudah tidak terpakai, jendela, dan papan.

"Elsewhere" karya Stefaan de Crook. Foto: inhabitat.com

“Elsewhere” karya Stefaan de Crook. Foto: inhabitat.com

Elsewhere adalah sebuah contoh sempurna cita rasa seniman ini. Karyanya figuratif, abstrak dan menampilkan perspektif baru terhadap siluet manusia. Setiap bagian lukisan ini punya cerita sendiri. Seperti potongan puzzle, tekstur dan warna yang digunakan berasal dari benda itu sendiri dan bukan karena dicat.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/elsewhere-mural-dari-kayu-bekas/feed/ 0
Vanishing Point, Perhiasan Perlambang Perlawanan Sampah Plastik di Laut https://www.greeners.co/gaya-hidup/vanishing-point-perhiasan-perlambang-perlawanan-sampah-plastik-di-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=vanishing-point-perhiasan-perlambang-perlawanan-sampah-plastik-di-laut https://www.greeners.co/gaya-hidup/vanishing-point-perhiasan-perlambang-perlawanan-sampah-plastik-di-laut/#respond Mon, 13 Jul 2015 08:41:49 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10310 Perhiasan yang elegan dan cantik selalu diidentikan dengan emas, tembaga, mutiara dan berlian. Padahal, banyak material di luar emas, tembaga, mutiara dan berlian yang dapat dibuat menjadi perhiasan yang tak […]]]>

Perhiasan yang elegan dan cantik selalu diidentikan dengan emas, tembaga, mutiara dan berlian. Padahal, banyak material di luar emas, tembaga, mutiara dan berlian yang dapat dibuat menjadi perhiasan yang tak kalah cantiknya, salah satunya adalah dari pengolahan sampah plastik yang berserakan di pantai.

Untuk memanfaatkan sampah plastik ini, Institut Studi Kelautan dan Antartika di University of Tasmania di Australia bekerjasama dengan para seniman yang memiliki minat yang sama untuk membuat bencana lingkungan “melebihi konteks laboratorium dan jurnal akademi pada umumnya.” Kolaborasi ini menghasilkan Vanishing Point, sebuah bentuk interdisipliner baru yang disampaikan melalui perpaduan ilmu dan seni.

Karya Sophie Carnell. Carnell mengolah sampah plastik yang berserak di pantai menjadi perhiasan yang indah. Hasil karyanya ini merupakan bagian dari proyek "Vanishing Point." Foto: www.ecouterre.com

Karya Sophie Carnell. Carnell mengolah sampah plastik yang berserak di pantai menjadi perhiasan yang indah. Hasil karyanya ini merupakan bagian dari proyek “Vanishing Point.” Foto: www.ecouterre.com

Sophie Carnell, seorang pematung lokal yang turut serta dalam proyek ini, mengombinasikan serpihan pesisir pantai dengan perak daur ulang dan menggunakan batu permata Australia untuk menciptakan perhiasan yang unik. Beberapa perhiasan olahan Carnell menyerupai hewan dan tumbuhan. Ini merupakan cara Carnell menyuarakan nasib hewan laut, mulai dari burung laut hingga kerang, yang mengira sampah plastik sebagai makanan.

“Memasukkan sampah ini ke dalam benda berharga menegaskan apa yang kita anggap sebagai barang berharga dan apa yang kita anggap sebagai barang konsumsi,” ujar Carnell seperti dikutip dari laman ecouterre.com. “Jika kita menghargai barang-barang yang kita gunakan setiap hari dan menyadari apa yang terjadi setelah kita tidak lagi menggunakan barang-barang tersebut, mungkin kita akan lebih menghargai barang tersebut dan lebih menghargai lingkungan yang kita tinggali,” imbuhnya.

Foto: www.ecouterre.com

Foto: www.ecouterre.com

Carnell mengakui bahwa proyek yang ia deskripsikan sebagai “pembuka mata” ini, membantunya mengenali jenis plastik. Ia mempelajari bahwa plastik tidak dapat terurai secara alami namun akan menjadi “remah-remah sintetis” yang sangat kecil dan akan masuk ke dalam air sebelum akhirnya dimakan oleh spesies dalam jaring rantai makan yang paling dasar.

“Sangatlah mudah untuk bersedih atas kerusakan yang kita timbulkan pada planet dan diri kita sendiri. Tapi, jika kita mengenali masalahnya, menyadari dan mengkomunikasikan bagaimana kita menggunakan dan menyalahgunakan plastik, mungkin kita dapat memperbaikinya,” katanya berharap.

Vanishing Point terbuka untuk umum dan dapat dilihat di Castray Esplanade, Tasmania, Australia hingga pertengahan Juli.

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/vanishing-point-perhiasan-perlambang-perlawanan-sampah-plastik-di-laut/feed/ 0
“Membentuk” Alam dari Sampah Tepi Pantai https://www.greeners.co/ide-inovasi/membentuk-alam-dari-sampah-tepi-pantai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=membentuk-alam-dari-sampah-tepi-pantai https://www.greeners.co/ide-inovasi/membentuk-alam-dari-sampah-tepi-pantai/#respond Thu, 02 Jul 2015 05:14:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=10086 Sama halnya dengan kondisi garis pantai wisata di Indonesia, sampah juga memenuhi tepi pantai di Cancun, Meksiko. Jika kita melihatnya sekilas, kondisi pantai terlihat baik-baik saja. Pantai-pantai di Cancun memang […]]]>

Sama halnya dengan kondisi garis pantai wisata di Indonesia, sampah juga memenuhi tepi pantai di Cancun, Meksiko. Jika kita melihatnya sekilas, kondisi pantai terlihat baik-baik saja. Pantai-pantai di Cancun memang dalam kondisi yang masih baik, tapi hal itu tidak terjadi secara alami. Para pekerja resor di sana harus sering menyisir pantai untuk membuang sampah-sampah yang ada. Tapi silahkan kunjungi beberapa tempat di dekat hotel-hotel yang gemerlap tersebut dan kita bisa temukan garis pantai yang penuh dengan sampah.

Seniman Alejandro Duran mengumpulkan sampah-sampah tersebut dan menciptakan karya seni yang ia namakan Washed Up. Botol sampo, lampu dan bahkan kulkas serta bagian-bagian kapal merupakan pemandangan yang tidak menarik bila kita menemukannya di pantai. Namun, saat sampah itu disatukan ternyata bisa menghasilkan karya seni yang indah.

"Washed Up" karya seni Alejandro Duran. Foto: www.alejandroduran.com

“Washed Up” karya seni Alejandro Duran. Foto: www.alejandroduran.com

Seniman ini memulai pekerjaannya di pantai Sian Ka’an, sebuah kawasan konservasi yang letaknya beberapa jam di Selatan Cancun. Selama lima tahun, Duran mengumpulkan ribuan sampah-sampah kecil yang mencemari kawasan tersebut.

“Idenya datang saat saya mengunjungi Sian Ka’an dan melihat langsung situasi disana,” kata Alejandro Duran seperti dikutip dari laman wired.com. “Saya melihatnya sebagai sesuatu yang menjijikkan. Kemudian saya mencari warna dan cara tertentu untuk membuat sesuatu dari sampah-sampah ini,” jelasnya lagi.

Dibutuhkan waktu sepuluh hari untuk membangun karya seni ini. Kemasan plastik warna hitam, putih dan biru sangatlah mudah ditemukan. Berbeda dengan warna-warna lainnya yang lebih sulit ada. Salah satunya sampah kemasan berwarna ungu. Warna tersebut adalah warna yang sangat langka. “Dapat menemukan kemasan berwarna ungu bagi saya bagaikan menemukan emas!,” ungkap Duran.

"Washed Up" karya seni Alejandro Duran. Foto: www.alejandroduran.com

“Washed Up” karya seni Alejandro Duran. Foto: www.alejandroduran.com

Karya seninya terkadang meniru bentuk-bentuk alami di sekitarnya. Misalnya saja pelangi dari tutup botol ia ciptakan di dekat karang di pantai dan lusinan sikat gigi mencuat dari tanah seperti tanaman. Duran menyukai warna kontras yang ia buat dalam karyanya: sampah yang menyerupai sungai, buah-buahan, dan lain-lain serta berharap hal tersebut dapat menarik para pengunjung untuk melihat lebih dekat.

Duran mengatakan, “Dengan menciptakan bentuk-bentuk yang menyerupai alam, saya menampilkan realitas dari sebuah bencana lingkungan. Plastik benar-benar sudah masuk ekosistem kita.”

Duran berusaha mendaur ulang sebisa mungkin sampah-sampah tersebut. Sayangnya, banyak yang dia temukan di garis pantai tersebut tidak bisa ia gunakan kembali. Untuk itu, Duran menyimpannya untuk proyek seni yang akan datang sehingga sampah tersebut tidak berakhir di pembuangan.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/membentuk-alam-dari-sampah-tepi-pantai/feed/ 0
Furnitur Modern dari Drum Minyak Bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/furnitur-modern-dari-drum-minyak-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=furnitur-modern-dari-drum-minyak-bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/furnitur-modern-dari-drum-minyak-bekas/#respond Sun, 28 Jun 2015 04:38:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=10033 Setiap hari, jutaan barel minyak diproduksi dan drumnya dibuang di seluruh dunia. Karena drum minyak ini nilai (ekonomi) sampahnya kecil, sebagian besar berakhir di tempat pembuangan. Pada akhirnya limbah tersebut […]]]>

Setiap hari, jutaan barel minyak diproduksi dan drumnya dibuang di seluruh dunia. Karena drum minyak ini nilai (ekonomi) sampahnya kecil, sebagian besar berakhir di tempat pembuangan. Pada akhirnya limbah tersebut berkontribusi besar dalam polusi global dan berbahaya untuk kesehatan dan lingkungan.

Salah satu cara mencegah terjadinya lebih banyak limbah adalah dengan mendaur ulang. Beberapa produk inovatif yang berasal dari drum minyak bekas tersebut adalah lemari, patung dan dekorasi rumah. Namun, salah satu rupa drum bekas yang terbaik berasal dari The Urbanite Home.

Untuk membuat meja, kursi makan dan kursi goyang, desainer The Urbanite Home memotong, mengelas dan menyatukan drum minyak dengan tangan. Lapisan laminasi melindungi furnitur ini terhadap karat dalam jangka panjang, sehingga bisa dipakai di dalam maupun di luar ruangan.

Berbagai rupa furnitur buatan The Urbanite Home. Foto: inhabitat.com

Berbagai rupa furnitur buatan The Urbanite Home. Foto: inhabitat.com

Setiap drum seolah-olah dapat bercerita dan memiliki sejarahnya sendiri. Meskipun demikian, drum ini tetap menampilkan permukaan yang kasar sebagai pertanda fungsi dan keberadaan sebelumnya. Semacam sebagai sebuah pengingat akan masa lalu mereka. Desainernya secara sengaja mengambil langkah tersebut sebagai cara untuk meningkatkan kepedulian masyarakat tentang konsep pemaknaan ulang dan guna ulang (recycling).

The Urbanite Home tampil dalam International Contemporary Furniture Fair yang berbarengan dengan acara New York Design Week. Menariknya lagi, The Urbanite Home adalah anggota ACID (Anti Copying in Design), jadi kita tidak akan menemukan desain yang sama di tempat lain.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/furnitur-modern-dari-drum-minyak-bekas/feed/ 0
Serangga Hasil Transformasi Limbah Elektronik https://www.greeners.co/ide-inovasi/serangga-hasil-transformasi-limbah-elektronik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=serangga-hasil-transformasi-limbah-elektronik https://www.greeners.co/ide-inovasi/serangga-hasil-transformasi-limbah-elektronik/#respond Tue, 12 May 2015 13:22:45 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=8991 Sedang mencari ide untuk mengolah sampah elektronik? Berikut ini adalah salah satu cara untuk membuat karya cantik dari limbah elektronik. Julie Alice Chappell mengeluarkan seri produk terbarunya “Computer Component Bugs”. […]]]>

Sedang mencari ide untuk mengolah sampah elektronik? Berikut ini adalah salah satu cara untuk membuat karya cantik dari limbah elektronik.

Julie Alice Chappell mengeluarkan seri produk terbarunya “Computer Component Bugs”. Melalui karyanya tersebut Chappell berusaha membangunkan kesadaran kita mengenai sampah elektronik.

Foto: Julie Alice Chappell/www.inhabitat.com

Foto: Julie Alice Chappell/www.inhabitat.com

Chappel membuat miniatur satwa berbahan dasar limbah elektronik yang berasal dari komputer. Gabungan antara bahan elektronik dan sentuhan seni yang apik dan sangat detail menciptakan produk yang unik. Imajinasi Chappel benar-benar luar biasa, ia menciptakan kupu-kupu sampai dengan jangkrik dari chip-chip komputer.

Foto: Julie Alice Chappell/www.inhabitat.com

Foto: Julie Alice Chappell/www.inhabitat.com

Dalam waktu kurang dari satu tahun sudah banyak orang yang mengapresiasi produk buatan Chappel ini. Produknya laku di pasaran sehingga Chappel membuka toko daring dalam sebuah situs khusus produk buatan tangan, Etsy.com.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/serangga-hasil-transformasi-limbah-elektronik/feed/ 0
Seni “Pahat” Botol Plastik PET Persembahan Veronika Richterová https://www.greeners.co/ide-inovasi/seni-pahat-botol-plastik-pet-persembahan-veronika-richterova/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=seni-pahat-botol-plastik-pet-persembahan-veronika-richterova https://www.greeners.co/ide-inovasi/seni-pahat-botol-plastik-pet-persembahan-veronika-richterova/#respond Thu, 16 Apr 2015 09:54:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=8578 Dalam kehidupan sehari-hari kita bertemu dengan banyak plastik. Jenis plastik yang paling umum digunakan adalah PET (Polyethylene Teraphthalate). Plastik jenis PET yang paling sering kita lihat adalah plastik botol minuman, […]]]>

Dalam kehidupan sehari-hari kita bertemu dengan banyak plastik. Jenis plastik yang paling umum digunakan adalah PET (Polyethylene Teraphthalate). Plastik jenis PET yang paling sering kita lihat adalah plastik botol minuman, botol minyak goreng, kemasan selai, termasuk juga wadah minuman di restoran dan kafe. Tercatat, di Amerika konsumsi minuman botol plastik sebanyak 60 milyar!

Bukan hanya dalam bentuk kemasan makanan dan minuman, PET juga dapat kita temui dalam bentuk karpet, kain, sepatu, koper, hingga lemari buku. Tidak heran karena tingkat penggunannya yang tinggi diikuti kampanye lingkungan yang terus-menerus, PET termasuk jenis plastik yang paling banyak didaur ulang. Daur ulang plastik PET bentuknya macam-macam. Terkadang menjadi barang yang fungsional tapi ada juga yang mengubahnya menjadi barang bernilai seni.

Foto: www.veronikarichterova.com/en/

Foto: www.veronikarichterova.com/en/

Veronika Richterová mendaur ulang plastik PET menjadi patung berbentuk binatang dan bunga. Seniman dari Ceko ini memilih bahan plastik PET karena bahan tersebut mudah dibentuk sedemikian rupa sesuai keinginannya. Dalam sepuluh tahun, Veronika berhasil mengumpulkan 3.000 benda warna-warni terbuat dari plastik PET dari 76 negara dan telah membuat ratusan patung dari botol plastik.

Koleksi yang ia ciptakan bernama PET-ART. Patung-patung plastik ini memperlihatkan aneka flora dan fauna seperti patung pohon kaktus, jamur, kalajengking, katak, dan kelelawar. Hasil karya Veronika sangat detail dan indah.

Jamur dari botol plastik PET karya Veronika Richterová. Foto: www.veronikarichterova.com/en/

Jamur dari botol plastik PET karya Veronika Richterová. Foto: www.veronikarichterova.com/en/

Tidak hanya beragam hewan dan tumbuhan, Veronika Richterová juga telah membuat koleksi lampu yang indah dan menciptakannya seolah-olah mereka dibuat dari kaca. Tidak berhenti sampai di situ, Veronika yang memulai proyek karya PET ini menulis sebuah artikel berjudul “A Tribute to PET Bottles“. Artikel tersebut menjelaskan sejarah, pengunaan, tren, dan fakta menarik lainnya yang berkaitan dengan botol plastik PET.

Penggunaan plastik PET dalam aktivitas sehari-hari tidak terhindarkan. Proses daur ulang yang bisa kita lakukan paling tidak memakai ulang botol-botol bekas tersebut. Veronika Richterová membawa proses daur ulang ke level yang lebih tinggi, yakni menjadi barang seni.

Penulis: NW/G15
Sumber: dari berbagai sumber.

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/seni-pahat-botol-plastik-pet-persembahan-veronika-richterova/feed/ 0
Dari Sampah ke Museum Seni Di Seluruh Dunia https://www.greeners.co/ide-inovasi/dari-tpa-ke-museum-seni-di-seluruh-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dari-tpa-ke-museum-seni-di-seluruh-dunia https://www.greeners.co/ide-inovasi/dari-tpa-ke-museum-seni-di-seluruh-dunia/#respond Sat, 23 Aug 2014 01:10:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_art_design&p=5501 Foto-foto seni inovatif dari sampah karya Vik Muniz bisa ditemukan di museum seni kontemporer di seluruh dunia. Ide menggunakan sampah sebagai material karya seninya telah menghasilkan foto-foto berskala besar yang […]]]>

Foto-foto seni inovatif dari sampah karya Vik Muniz bisa ditemukan di museum seni kontemporer di seluruh dunia. Ide menggunakan sampah sebagai material karya seninya telah menghasilkan foto-foto berskala besar yang sangat indah sekaligus juga membingungkan karena detailnya yang sangat rumit.

Bermula dari Brasil, Muniz merupakan subjek dari film dokumenter WASTE LAND; sebuah karya yang menceritakan tentang instalasi seninya di tempat pembuangan akhir sampah terbesar di Rio de Janeiro.

Di tangan Vik Muniz tumpukan sampah diubah menjadi karya seni bernilai tinggi. Foto: inhabitat.com/Vik Muniz

Pada awalnya, Muniz menciptakan karya instalasi dan lukisannya menggunakan material seperti gula, selai kacang, dan sampah. Ia kemudian mengambil gambar potongan karyanya hingga menjadi sebuah karya seni yang utuh.

Foto-foto ini sekilas tampak seperti foto biasa atau kolase, namun bila dilihat lebih dekat dan seksama, akan tampak beberapa elemen sampah, seperti drum minyak, ember, mesin cuci, tutup toilet dan botol. Seluruh potongan-potongan ini diletakan pada lantai – sesuatu yang tidak dapat terlihat hanya dengan sekilas melihatnya. Objek ini baru akan terlihat dalam sebuah tumpukan komposisi dengan skala yang semakin jelas.

Tidak hanya menciptakan rangkaian foto, Muniz juga menciptakan ulang karya seni terkenal seperti Death of Marat, Medusa the Gorgon, Andy Warhol, dan bahkan The Last Supper. Dengan material sampah, sebuah ember dapat berubah menjadi telinga, sebuah lengan, atau bahkan rambut.

Foto: inhabitat.com/Vik Muniz

Karya seni Muniz ini menarik perhatian publik mengenai masalah sampah melalui cara yang tajam dan menyayat hati seperti yang terekam dalam film dokumenter WASTE LAND. Di dalam film ini, sang seniman menciptakan beberapa potongan skala besar dengan bantuan para pemulung yang merupakan warga asli Brasil yang menjalani profesinya sehari-hari di tempat pembuangan sampah raksasa Jardim Gramacho.

Film ini bukan hanya mengisahkan tentang keindahan seni daur ulang karya Muniz, melainkan juga membangun kesadaran mengenai tempat pembuangan sampah yang terus tumbuh membesar, dan orang-orang yang menghabiskan hidup mereka disana untuk memilah sampah.

Karya-karya terbaru dari Vik Muniz dan biografinya dapat diakses pada situs seni Artsy.net.

(G33)

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/dari-tpa-ke-museum-seni-di-seluruh-dunia/feed/ 0
Tidak Selalu Sampah Didaur Ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/tidak-selalu-sampah-didaur-ulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tidak-selalu-sampah-didaur-ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/tidak-selalu-sampah-didaur-ulang/#respond Tue, 05 Aug 2014 01:00:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_art_design&p=5354 Beberapa jenis sampah, seperti plastik dan kertas, dapat didaur ulang. Namun, kenyataannya sampah jenis ini berakhir di tempat pembuangan sampah. Keengganan untuk memilah sampah membuat plastik dan kertas bekas langsung […]]]>

Beberapa jenis sampah, seperti plastik dan kertas, dapat didaur ulang. Namun, kenyataannya sampah jenis ini berakhir di tempat pembuangan sampah. Keengganan untuk memilah sampah membuat plastik dan kertas bekas langsung berakhir menjadi sampah.

Hal inilah yang menjadi pemandangan sehari-hari di lingkungan tempat tinggal Adam Long, seorang seniman asal Missouri, Amerika Serikat. Setiap hari, Adam berjalan dan melihat banyak sekali sampah yang seharusnya dapat didaur ulang namun justru berakhir di tempat pembuangan sampah. Bahkan banyak juga sampah yang masuk ke saluran air, sungai dan berakhir di laut.

Foto: theartofecology.org

Adam Long berfoto menunjukkan karyanya “Meadow” (dalam genggaman Adam) dan “Mourning Moss” (kanan). Mourning Moss terbuat dari campuran kertas sedangkan Meadow terbuat dari kelopak bunga yang dipres. Foto: theartofecology.org

Instalasi patung karya Adam terinspirasi dari permasalahan sampah yang ia lihat setiap hari. Salah satu karyanya yang berjudul “Recyclable Is Not Always Recycled“, seluruhnya menggunakan material sampah kertas. Prosesnya terbilang cukup sederhana. Adam mengolah sampah kertas ini menjadi pulp lalu kemudian dicetak menjadi berbagai bentuk kemasan berbahan plastik. Uniknya, Adam menggunakan sampah kemasan plastik asli, seperti botol minuman soda, sebagai cetakan.

“Sampah-sampah ini sebenarnya material yang dapat didaur ulang, namun kenyataannya tidak didaur ulang, khususnya oleh warga di sekitar tempat tinggal saya”, kata Adam. “Mungkin mereka tidak tahu bahwa sebenarnya sampah-sampah ini dapat didaur ulang.”

Foto: theartofecology.org

Recyclable Is Not Always Recycled“. Foto: theartofecology.org

Sampah-sampah kemasan ini berasal dari rumah tangga, seperti bekas kemasan sikat gigi, baterai, peralatan sekolah, botol minuman soda, dan masih banyak lainnya. Khususnya, sampah-sampah kertas ini berasal dari banyak sekali sumber.

Sebagian besar material kertas yang digunakan pada karya instalasi patung ini berasal dari campuran banyak jenis sampah kertas. Namun, beberapa bagian tertentu dibuat hanya dengan menggunakan satu jenis sampah kertas, seperti katalog produk, tagihan dan bukti pembayaran, amplop, dan lain sebagainya. Warna-warna yang muncul dalam karya ini bersumber dari warna asli dari material kertas yang digunakan.

Keunikan lain dari karya ini adalah desain dan bentuk yang selalu berubah setiap kali karya ini ditampilkan. Adam membayangkan mungkin suatu saat karya ini akan ditampilkan memenuhi seluruh sudut kota sebagai representasi dari jumlah sampah yang terus bertambah.

(G33)

 

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/tidak-selalu-sampah-didaur-ulang/feed/ 0
Sampah, Sumber Keindahan Untuk Seni Kolaboratif https://www.greeners.co/ide-inovasi/sampah-sumber-keindahan-untuk-seni-kolaboratif/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sampah-sumber-keindahan-untuk-seni-kolaboratif https://www.greeners.co/ide-inovasi/sampah-sumber-keindahan-untuk-seni-kolaboratif/#respond Thu, 05 Jun 2014 12:08:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_art_design&p=4787 “Seni mengubah orang dan orang mengubah dunia,” ini yang diyakini oleh Char Evans, seorang seniman Inggris yang tergabung dalam Eco Art Installations. Karya terbarunya dalam instalasi seni kolaboratif di Auroville, […]]]>

“Seni mengubah orang dan orang mengubah dunia,” ini yang diyakini oleh Char Evans, seorang seniman Inggris yang tergabung dalam Eco Art Installations. Karya terbarunya dalam instalasi seni kolaboratif di Auroville, India menjadi bukti dari keyakinannya tersebut bahwa seni mampu menginspirasi orang untuk mengubah dunia.

Sebuah instalasi kubah geodesik yang terbuat dari bambu, tarian mandala anak-anak, dan beberapa bagian lainnya menjadi sebuah paduan seni kolaborasi yang diciptakan dari material daur ulang (ban, sepatu bekas, telepon, jam dan kaleng) dan material alami seperti bunga, dedaunan, kulit kerang, dan rempah-rempah.

Lebih dari 100 orang berkontribusi dalam instalasi ini, termasuk warga lokal, seniman dan bahkan seniman internasional. Karena instalasi ini tidak dibuat permanen, sebuah video dibuat untuk mendokumentasikan dan menjadikan karya ini abadi, dengan sentuhan music dari Moby dan Zilverzurf.

Ide di balik karya seni kolaboratif ini adalah untuk memberikan penyadaran mengenai isu daur ulang dan pengelolaan sampah; sebagai pengingat untuk perusahaan di seluruh dunia mengenai sampah yang mereka hasilkan, dan apa yang bisa dilakukan dengan sampah yang sudah diabaikan –bahwa sampah bisa menjadi sumber keindahan.

India dan beberapa Negara di dunia memiliki masalah serius mengenai pengelolaan sampah. Bahkan Negara maju pun hanya menimbun sampahnya di tempat pembuangan akhir. Banyak Negara tidak memiliki infrastruktur untuk mengelola sampah dengan tepat, sehingga sampah terserak dimana-mana karena tidak didaur ulang. Banyak perusahaan besar menawarkan produk dalam kemasan tetapi mereka tidak bertanggung jawab untuk pengolahan sampah bekas kemasannya.

Kita lebih dari sekedar konsumen, kita semua seniman, pencipta realita. Di Eco Art Installations, kami memilih untuk bergabung dan menggali potensi kreatif, menumbuhkan kesadaran mengenai isu lingkungan, dan mempresentasikan visi keindahan melalui kolaborasi, salah satunya melalui instalasi seni kolaboratif yang diadakan di Auroville, India Maret 2014 lalu. Evans berharap akan ada lagi pertunjukan seni serupa di hutan hujan Amazon tahun depan.

(G33)

Sumber : bit.ly/1kEgHMV

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/sampah-sumber-keindahan-untuk-seni-kolaboratif/feed/ 0