karya seni ramah lingkungan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/karya-seni-ramah-lingkungan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 22 May 2026 05:33:20 +0000 id hourly 1 Desainer Asal Korea Buat Lampu dari Rumput Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-asal-korea-buat-lampu-dari-rumput-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=desainer-asal-korea-buat-lampu-dari-rumput-laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-asal-korea-buat-lampu-dari-rumput-laut/#respond Fri, 22 May 2026 05:33:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48502 Desainer Korea Selatan Su Yang Choi menghadirkan inovasi desain ramah lingkungan melalui karya instalasi lampu bertajuk Slow2 yang terbuat dari rumput laut. Karya ini ia pamerkan dalam ajang Salone Satellite […]]]>

Desainer Korea Selatan Su Yang Choi menghadirkan inovasi desain ramah lingkungan melalui karya instalasi lampu bertajuk Slow2 yang terbuat dari rumput laut. Karya ini ia pamerkan dalam ajang Salone Satellite 2026 di Milan, Italia, dan menjadi bagian dari seri Slow Project.

Berbeda dari pendekatan desain berkelanjutan yang umumnya hanya menempatkan material alami sebagai pengganti bahan konvensional, Choi mencoba menunjukkan bahwa material ramah lingkungan juga dapat memiliki identitas visual dan nilai estetika yang kuat.

Slow2 terbuat dari agar rumput laut, biopolimer biodegradable yang diformulasikan tanpa tambahan sintetis. Material tersebut dilapisi pada struktur tubular berbahan baja dan dipadukan dengan strip LED di bagian dalamnya. Hasilnya adalah instalasi bercahaya dengan efek semi-transparan yang menciptakan tampilan futuristis sekaligus organik.

Desain karya ini terinspirasi dari konsep baramgil dalam arsitektur hanok tradisional Korea, yaitu prinsip ruang yang menciptakan kesan kedalaman melalui susunan bidang dan perspektif. Choi menerjemahkan ide tersebut menjadi dua bentuk lingkaran tubular yang saling terhubung secara vertikal.

Saat digantung dari langit-langit, instalasi memproyeksikan bayangan lingkaran bertumpuk ke dinding sehingga menghadirkan dimensi visual tambahan. Dari sudut tertentu, karya tampak seperti satu bentuk utuh, sementara dari sudut lain terlihat lapisan ruang yang lebih dalam.

Warna dari Pigmen Alami

Warna dalam karya ini juga berasal dari pigmen alami, khususnya gardenia dan paprika. Keduanya menghasilkan gradien dari kuning keemasan dan kuning hangat di bawah hingga merah yang pekat di bagian atas.

Pergeseran warnanya pun tidak diterapkan dalam pita datar tetapi bergerak secara bertahap di seluruh bentuk. Kemudian, terdapat cahaya LED memperkuat variasi tersebut secara berbeda melalui setiap lapisan agar, sehingga pewarnaan berubah tergantung dari mana pengunjung melihatnya. 

Tidak hanya menonjolkan bentuk, Choi juga mempertahankan tekstur alami material agar pada permukaan lampu. Detail tersebut memperkuat karakter organik sekaligus menunjukkan potensi estetika material berbasis alam.

Melalui Slow2, Choi ingin memperlihatkan bahwa material berkelanjutan tidak sekadar menjadi alternatif ramah lingkungan, tetapi juga mampu melahirkan pendekatan baru dalam desain modern.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-asal-korea-buat-lampu-dari-rumput-laut/feed/ 0
Mulyakarya Kurangi Penderitaan Bumi Melalui Karya Seni https://www.greeners.co/aksi/mulyakarya-kurangi-penderitaan-bumi-melalui-karya-seni/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mulyakarya-kurangi-penderitaan-bumi-melalui-karya-seni https://www.greeners.co/aksi/mulyakarya-kurangi-penderitaan-bumi-melalui-karya-seni/#respond Sun, 08 Dec 2019 05:14:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=24920 Mulyakarya dibuat oleh Danang Catur dan Yudha Sandy pada 2007 di Yogyakarta. Mereka menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan dengan karya seni visual.]]>

Jakarta (Greeners) – Banyak cara mengampanyekan isu lingkungan dengan menarik. Salah satunya seperti yang dilakukan seniman asal Yogyakarta melalui Mulyakarya. Mereka menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan dengan karya seni visual.

Mulyakarya merupakan media independen yang dibuat oleh Danang Catur dan Yudha Sandy pada tahun 2007 di Yogyakarta. Nama Mulyakarya terinspirasi dari gabungan dua nama yaitu, Mulyo Diharjo dan Karyadi. Keduanya merupakan pemilik rumah kontrakan yang menjadi basecamp pertama Mulyakarya.

Seiring perkembangan, Mulyakarya menjadi sebuah komunitas yang terdiri dari komikus dan perupa. Mereka aktif melakukan workshop, menggarap proyek publik, hingga pameran. Jumlah anggota aktif sampai saat ini sebanyak 5 orang di antaranya, Erwan Hersi Susanto atau Iwank, Antonius Ipur, Upit Dyoni, Danang Catur, dan Yudha Sandy.

Baca juga: Love Life Studio Bali Beri Sentuhan Artistik pada Botol Bekas

Berbagai tema karya seni mereka terinspirasi dari kegiatan sosial, lingkungan, maupun kesejahteraan masyarakat. Rata-rata terangkum dalam lukisan, daur ulang seni tiga dimensi, atau komik dengan cerita jenaka. Tujuannya agar informasi yang ingin disampaikan mudah diterima oleh masyarakat.

Seniman asal kota budaya ini menampung dan mempublikasikan karya-karya seni rupa alternatif dari para perupa independen. Embrio Mulyakarya adalah komik katalog yang berisi ulasan komik hasil publikasi mandiri (self publish) di Yogyakarta.

Yudha Sandy, pendiri komunitas Mulyakarya.

Yudha Sandy, pendiri komunitas Mulyakarya. Komunitas ini terdiri dari para komikus dan perupa. Foto: www.greeners.co/Ridho Pambudi

Karya terbaru Mulyakarya ialah cerita komik “Boli” yang ditulis oleh Yudha Shandy. Komik tersebut tercipta setelah Yudha melakukan perjalanan wisata ke Labuan Bajo NTT. Ia mengatakan Mulyakarya memang telah lama mengangkat tema-tema lingkungan, misalnya, cerita fiksi berupa komik dengan tema sampah. Yudha dan teman-teman juga memanfaatkan barang bekas plastik yang diubah menjadi kostum untuk dipamerkan di Yogyakarta.

Baca juga: Pameran Seni Hadirkan Sampah Plastik dari Lautan

“Mulyakarya juga pernah membuat kostum dari sampah plastik atau kemasan kopi. Ketertarikan kami adalah bisa menggunakan seni sebagai alat kampanye untuk menjaga lingkungan,” ucap Yudha

Menurut Yudha masalah sampah plastik yang terdapat di seluruh nusantara jika terus dibiarkan nantinya akan bermigrasi kepulau-pulau lain. “Mengerikan jika sampah plastik dimakan oleh ikan, partikelnya juga bahaya. Sebenarnya yang ingin kita kampanyekan sangat luas untuk masalah lingkungan,” kata dia.

Melalui karya seni, informasi yang akan diterima masyarakat lebih cepat dipahami. Sedangkan dengan visual dan ringkasan kata-kata ringan membuat pembaca memahami permasalahan lingkungan yang ada di Indonesia.

“Karya seni ini dapat menginspirasi orang lain ataupun menginspirasi diri kita sendiri. Lama atau tidak harusnya dimulai dari sekarang karena kalau tidak dilaksanakan ya akan menumpuk,” ujar Yudha

Mulyakarya berharap jangan menambahkan penderitaan bumi dengan masalah yang ditimbulkan manusia. “Ini cuma sekadar harapan karena saya tidak bisa memantau dan juga tidak bisa menyuruh orang untuk bertindak apa yang kita mau. Bumi kita cuma satu dan ini ditinggali bersama, tidak bisa 100 persen jadi orang baik karena terkadang kita lupa. Sebisa mungkin aku mengurangi plastik dengan membawa totebag dan tumbler,” ucap Yudha.

Penulis: Ridho Pambudi

]]>
https://www.greeners.co/aksi/mulyakarya-kurangi-penderitaan-bumi-melalui-karya-seni/feed/ 0
Mebel yang Tumbuh Alami https://www.greeners.co/ide-inovasi/mebel-tumbuh-alami/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mebel-tumbuh-alami https://www.greeners.co/ide-inovasi/mebel-tumbuh-alami/#respond Wed, 20 Sep 2017 11:55:13 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=18747 Pohon adalah salah satu bahan dasar yang paling banyak digunakan untuk membuat mebel. Namun bagaimana jika kita tidak perlu memotongnya dan membiarkan pohon tumbuh menjadi mebel dengan sendirinya?]]>

Pohon adalah salah satu bahan dasar yang paling banyak digunakan untuk membuat mebel. Namun bagaimana jika kita tidak perlu memotongnya dan membiarkan pohon tumbuh menjadi mebel dengan sendirinya?

Arbortektur adalah nama lain dari seni membentuk pohon. Seni tersebut telah dipraktikkan selama berabad-abad. Bahkan beberapa masyarakat di timur laut India telah memakai jembatan dari akar hidup yang telah diciptakan beratus-ratus tahun silam.

Salah satu yang serius menekuni seni arbortektur adalah Peter Cook dan Becky Northey dari Australia, mereka akhirnya membentuk Pooktree Tree Shapers pada 1995. Ketika pertama kali dibuat, Peter dan Becky lebih fokus membentuk pohon sebagai karya seni. Kini produk mereka lebih beragam, salah satunya menjadi mebel seperti bangku yang bisa dipakai.

mebel

Foto: Jody McCutcheon/eluxemagazine.com

Dilansir Eluxemagazine, pohon yang dibentuk menjadi barang-barang kecil membutuhkan waktu tiga sampai enam bulan untuk tumbuh mengering, sedangkan yang besar membutuhkan waktu bertahun-tahun. Beberapa pohon, yang berbentuk manusia dibiarkan hidup dan tidak dipotong, ada juga pohon yang dipanen dan dimanipulasi kedalam bentuk-bentuk tertentu.

Pembengkokkan mendadak bisa membebani pohon tersebut, terlebih jika ia dibengkokkan dan dimanipulasi jauh dari tingkat fleksibilitas batang. Pooktree memiliki metode yang lebih halus, termasuk didalam inoskulasi, menggabungkan dua pohon menjadi satu dan proses pembentukan yang bertahap.

mebel

Foto: Jody McCutcheon/eluxemagazine.com

Pohon tumbuh mengikuti desain akhir yang telah ditentukan. Dengan memfokuskan diri pada bagian-bagian yang dimanipulasi, proses pembengkokkan bisa terjadi tanpa harus merusak batang pohon. Metode ramah ini bisa berhasil karena Pooktree memakai pohon khusus yang mereka sebut sebagai pohon ‘otot’, pohon yang mampu beradaptasi dan mengganti orientasi batang dan cabangnya.

Seni arbortektur; salah satunya mebel ini mampu membuka kemungkinan produk-produk hijau dan lebih ramah lingkungan. Selain itu, mebel ini juga mengonsumsi karbon dioksida lebih rendah dari mebel pada umumnya dan sebagai pohon, mebel ini mampu mengurangi emisi gas buang.

Penulis: MFA/G41

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mebel-tumbuh-alami/feed/ 0
Karya Instalasi Botol Plastik Tandai Kampung Seniman Chiang Mai https://www.greeners.co/ide-inovasi/karya-instalasi-botol-plastik-tandai-kampung-seniman-chiang-mai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=karya-instalasi-botol-plastik-tandai-kampung-seniman-chiang-mai https://www.greeners.co/ide-inovasi/karya-instalasi-botol-plastik-tandai-kampung-seniman-chiang-mai/#respond Fri, 24 Mar 2017 12:56:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=16428 Sampah plastik telah menjadi masalah besar di kota Chiang Mai yang indah. Namun kota di Thailand tersebut telah menemukan solusinya dengan menjadikan sampah plastik menjadi karya seni.]]>

Sampah plastik telah menjadi masalah besar di kota Chiang Mai yang indah. Namun kota di Thailand tersebut telah menemukan solusi baru untuk mengatasinya dengan bantuan satu tim perancang yang mencari cara kreatif untuk memanfaatkan sampah plastik tersebut. Hasilnya adalah sebuah karya instalasi rancangan Vinn Patararin dan Fahpav.

Patararin dan Fahpav menggabungkan rancangan tangan dengan pemodelan tiga dimensi untuk menciptakan karya bernama Self-Ornamentalize. Karya ini dibuat dari 850 botol plastik yang didaur ulang dan sekarang dipajang sebagai bagian dari Compeung, sebuah program residensi untuk seniman yang diselenggarakan di Doi Saket, sebuah wilayah di kota Chiang Mai.

karya instalasi

Foto: Vinn Patararin via Inhabitat.com

Tim yang berasal dari multidisiplin ini membangun karya tersebut setelah menemukan bahwa semakin hari karya kerajinan tangan lokal dan penggunaan bahan alami semakin berkurang seiring dengan modernisasi yang terjadi di kampung-kampung.

Semakin bertambahnya jumlah plastik meyakinkan anggota tim bahwa material lokal saat ini adalah plastik, sehingga mereka memilih botol plastik bekas sebagai bahan utama untuk karya ini.

karya instalasi

Foto: Vinn Patararin via Inhabitat.com

Botol-botol plastik bekas itu dihancurkan dengan tangan sehingga menciptakan tekstur yang mirip kain. Dengan bantuan pemodelan tiga dimensi di komputer, mereka merancang bentuk lengkung yang berukuran 9×4 meter.

Karya ini dipasang di jalur pejalan kaki di tengah sebuah danau besar untuk memastikan banyak orang yang melihat karya tersebut. Self-Ornamentalize kini menjadi penanda utama di kampung tersebut.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/karya-instalasi-botol-plastik-tandai-kampung-seniman-chiang-mai/feed/ 0
Dari Ribuan Buku Mewujud Bangunan https://www.greeners.co/ide-inovasi/ribuan-buku-mewujud-bangunan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ribuan-buku-mewujud-bangunan https://www.greeners.co/ide-inovasi/ribuan-buku-mewujud-bangunan/#respond Tue, 22 Nov 2016 05:55:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=15233 Kebanyakan orang dibesarkan untuk memperlakukan buku sebagai buku, namun Matej Kren berhasil menginspirasi kita untuk menghormati literasi dengan menggunakan buku sebagai bahan bangunan.]]>

Sebuah karya instalasi buatan seniman Matej Kren berjudul Scanner merupakan sebuah karya yang menakjubkan. Saat ini, karya tersebut bisa dilihat di Museum of Modern Art di Bologna, Italia.

Wujud karya ini berupa sebuah terowongan raksasa yang terbuat dari buku dan merupakan sebuah karya yang menginspirasi penikmatnya untuk melakukan refleksi, merasakan kebesaran dan mengalami kebingungan perspektif. Dilengkapi dengan cermin-cermin dan puluhan ribu buku, karya berjudul Scanner ini adalah sebuah cara baru dalam menikmati ruang.

Matej Kren menciptakan karya ini khusus dalam rangka kolaborasi museum tersebut dengan Slovakian Centre for Information on Literature. Instalasi ini berkaitan erat dengan acara pameran buku anak-anak.

bangunan

“Scanner” karya Matej Kren. Foto: MAMbo/inhabitat.com

Kebanyakan orang dibesarkan untuk memperlakukan buku sebagai buku dan hanya sebagai buku saja, namun Matej berhasil menginspirasi kita untuk menghormati literasi dengan menggunakan buku sebagai bahan bangunan. Walaupun terdengar seperti metafora intelektual namun karya ini mewujud secara fisik.

Ruang-ruang sempit di dalam instalasi ini diperbanyak dan menjadi rumit dengan pemakaian cermin, menciptakan sebuah sensasi teror yang indah. sebuah perubahan yang berkaitan dengan teka-teki tak terbatas yang diciptakan untuk menciptakan ketidakstabilan pada kebiasaan ruang yang konvensional. Cermin menjadi alat untuk menciptakan ilusi dan di saat yang sama untuk membongkar ilusi tersebut.

Penikmat karya ini bisa dengan mudah melihat dirinya sendiri dalam pantulan cermin yang tidak terbatas namun palsu sehingga bisa menemukan ilusinya, permasalahannya menjadi persepsi yang tertunda antara stimulus dengan responnya.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/ribuan-buku-mewujud-bangunan/feed/ 0
Lukisan Dinding yang Menghubungkan Kembali Manusia dengan Alam https://www.greeners.co/ide-inovasi/lukisan-dinding-menghubungkan-kembali-manusia-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lukisan-dinding-menghubungkan-kembali-manusia-alam https://www.greeners.co/ide-inovasi/lukisan-dinding-menghubungkan-kembali-manusia-alam/#respond Sun, 11 Sep 2016 16:07:45 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=14706 Alexis Diaz adalah salah satu dari beberapa seniman yang mampu menyalurkan kesadaran tentang kembali terhubung kepada alam dan menghasilkan karya yang menginspirasi seperti lukisan dinding.]]>

Menyelamatkan bumi dari perubahan iklim, kepunahan massal dan konsumerisme yang menghasilkan sampah bukanlah semata tentang kehancuran. Namun juga tentang kembali terhubung kepada alam dan menikmati bangkitnya keterpesonaan terhadap alam sehingga menimbulkan rasa peduli terhadap sekitar kita. Seni adalah salah satu cara untuk menjembatani jurang perbedaan kesadaran tersebut sehingga kesadaran yang lebih besar timbul tidak hanya terhadap sekeliling kita tapi juga ke dalam diri kita sendiri.

Seniman seperti Alexis Diaz adalah salah satu dari beberapa seniman yang mampu menyalurkan kesadaran tersebut dengan sangat baik dan menghasilkan karya yang menginspirasi seperti lukisan dinding.

lukisan dinding

Foto: Alexis Diaz/treehugger.com

Alexis Diaz berasal dari Puerto Rico. Hasil karyanya memiliki ciri sapuan kuas kecil dengan tinta hitam dengan warna dasar putih. Berbeda dengan seniman lukisan dinding yang biasanya menggunakan cat semprot, lukisan Alexis Diaz seperti memiliki ketelitian seorang dokter bedah dalam penggunaan tintanya.

Sejak kecil, Alexis tertarik terhadap seni jalanan dan dia merasakan bahwa seni tradisional tidak akan cukup untuk menyalurkan ekspresi yang dia rasakan. Yang menarik adalah Diaz menggambar hampir seluruh karyanya dengan tangan, sedikit demi sedikit, garis demi garis.

Seringkali karyanya menggambarkan figur yang bertransformasi, berupa mahluk hidup yang berada di sekitar tempat karyanya dibuat, sehingga karyanya memiliki keterikatan dengan ekosistem wilayah tersebut. Namun di saat yang sama mengekspresikan simbolisme yang magis dengan penggunaan citra metamorfosis yang bergabung dengan sempurna antara binatang dengan bagian tubuh manusia sehingga menghasilkan sebuah karya yang universal dengan transformasi yang terus-menerus.

lukisan dinding

Foto: Alexis Diaz/treehugger.com

Sejauh ini, sejak mulai berkarya di tahun 2009, seniman yang berbasis di Florida ini sudah menciptakan lebih dari 40 lukisan dinding di kota-kota di Amerika dan Eropa. Dia melakukannya dengan perjudian dengan hidup, keluar dari pekerjaannya dan memutuskan untuk hidup hanya dengan melukis dinding.

Karya kreatifnya ini kaya makna dan menampilkan sebuah pandangan terhadap manusia sebagai bagian dari alam dan bukan terpisah dari alam sekitarnya.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/lukisan-dinding-menghubungkan-kembali-manusia-alam/feed/ 0
Cincin Cahaya Mengapung di Trafalgar Square https://www.greeners.co/ide-inovasi/cincin-cahaya-mengapung-di-trafalgar-square/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cincin-cahaya-mengapung-di-trafalgar-square https://www.greeners.co/ide-inovasi/cincin-cahaya-mengapung-di-trafalgar-square/#respond Fri, 18 Mar 2016 07:14:02 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=13217 Tampak cincin cahaya melingkari kolam air mancur di Trafalgar Square di London terlihat sangat indah. Jika mengamatinya lebih dekat maka akan terlihat bahwa cahaya berpendar dari cincin tersebut berasal dari ribuan plastik botol bekas.]]>

Pemandangan sebuah kolam air mancur di Trafalgar Square di London terlihat sangat indah. Tampak cincin cahaya yang menawan melingkari air mancur tersebut. Orang-orang terkecoh. Rupanya cincin berpendar itu bukanlah terbuat dari material emas atau zat lainnya yang kita kira. Jika mengamatinya lebih dekat maka akan terlihat bahwa cahaya berpendar dari cincin tersebut berasal dari ribuan plastik botol bekas.

Air mancur bercincin tersebut merupakan bagian dari Festival Cahaya Lumiere London 2016. Penciptanya adalah Luzinterruptus. Ia memenuhi air mancur tersebut dengan 13.000 botol plastik bekas dengan maksud meningkatkan kesadaran manusia tentang isu global mengenai sampah plastik.

"Pulau Plastik" yang mengapung di kolam air mancur Trafalgar Square tersusun dari 13.000 botol plastik bekas. Foto: Lola Martinez/Inhabitat.com

“Pulau Plastik” yang mengapung di kolam air mancur Trafalgar Square tersusun dari 13.000 botol plastik bekas. Foto: Lola Martinez/Inhabitat.com

“Pulau Plastik” yang mengeluarkan cahaya di Trafalgar Square tersebut menyatukan ribuan botol plastik dalam bentuk donat dan memakai sistem pencahayaan sendiri sehingga saat menyala seperti satu kesatuan cahaya yang utuh. Karya instalasi ini terdiri dari dua cincin. Cincin pertama diisi oleh 13.000 botol plastik bekas yang diambil dari tong sampah, dibersihkan dengan susah payah dan diberi tutup botol sebelum dipakai.

Luzinterruptus pada awalnya bermaksud untuk mengumpulkan botol plastik bekas dari pengunjung untuk digunakan di cincin yang kedua, namun ternyata mereka tidak bisa mendapatkan cukup banyak tutup botol jadi mereka memilih untuk meninggalkan struktur yang kedua tercahayai tanpa memakai botol plastik.

Foto: Lola Martinez/Inhabitat.com

Foto: Lola Martinez/Inhabitat.com

Selama empat malam di bulan Januari 2016, beberapa titik di London bertabur cahaya dengan seni instalasi yang indah sebagai bagian dari festival cahaya tersebut. Karya Luzinterruptus di Trafalgar Square terlahir berkat inspirasi dari karya mereka sebelumnya: Plastic Island atau Pulau Plastik.

Karya tersebut merupakan instalasi mengapung yang terbuat dari botol plastik yang menyimbolkan benua ke enam yang terbuat dari sampah dan mulai mengambil tempat di Samudera Pasifik. Instalasi ini dipajang pada tanggal 14 Januari sampai 17 Januari 2016 dan setelah selesai, botol-botol plastiknya diserahkan ke tempat daur ulang sampah.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/cincin-cahaya-mengapung-di-trafalgar-square/feed/ 0
“Jamur” dari Kayu Bekas dan Lampu LED https://www.greeners.co/ide-inovasi/jamur-dari-kayu-bekas-dan-lampu-led/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jamur-dari-kayu-bekas-dan-lampu-led https://www.greeners.co/ide-inovasi/jamur-dari-kayu-bekas-dan-lampu-led/#respond Mon, 15 Feb 2016 06:27:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=12845 Alam memang tidak ada habisnya memberi inspirasi bagi para perancang produk. Great Mushrooming adalah "jamur" yang mengeluarkan cahaya, sebuah produk yang mampu memukau mata.]]>

Pernah berpikir jamur dapat menjadi lampu tidur? Produk yang satu ini sangat unik. Bentuknya mungil dan cantik. Memiliki lampu seperti ini dan menyimpannya di salah satu sudut rumah akan menambah suasana yang manis dan berkesan.

Lampu jamur ini bernama Great Mushrooming. Lampu ini adalah sebuah perpaduan yang indah dan ramah lingkungan dari batang kayu bekas dan lampu LED. Alam memang tidak ada habisnya memberi inspirasi bagi para perancang produk. Great Mushrooming adalah “jamur” yang mengeluarkan cahaya, sebuah produk yang mampu memukau mata.

Great Mushrooming karya Yukio Takano. Foto: geocities.jp/inhabitat.com

Great Mushrooming karya Yukio Takano. Foto: geocities.jp/inhabitat.com

Yukio Takano merupakan orang dibalik kejeniusan produk ini. Proyek Great Mushrooming ini bisa dengan mudah diklasifikasikan sebagai seni. Dibuat dengan penuh kehati-hatian dari bahan kaca, kayu bekas dan lampu LED, jamur yang berubah fungsi ini dibuat dengan tingkat detail yang sangat tinggi.

Great Mushrooming karya Yukio Takano. Foto: geocities.jp/inhabitat.com

Great Mushrooming karya Yukio Takano. Foto: geocities.jp/inhabitat.com

Namun tampilannya yang alami dihadapkan langsung kepada sebuah kontras, saklar yang terbuat dari plastik yang disimpan di sisi lampu. Namun kontras yang cukup aneh ini ternyata menghasilkan produk yang secara visual terlihat alami.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/jamur-dari-kayu-bekas-dan-lampu-led/feed/ 0
Sound of Light, Mengubah CD Bekas Menjadi Karya Seni https://www.greeners.co/ide-inovasi/sound-of-light-mengubah-cd-bekas-menjadi-karya-seni/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sound-of-light-mengubah-cd-bekas-menjadi-karya-seni https://www.greeners.co/ide-inovasi/sound-of-light-mengubah-cd-bekas-menjadi-karya-seni/#respond Tue, 09 Feb 2016 08:16:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=12784 Terletak di pinggiran Randfontein, Afrika Selatan, r1 menutup bangunan tersebut dengan CD bekas dan memberinya judul "Sound of Light", sebuah seni instalasi yang membiaskan cahaya matahari dan menciptakan pola warna pelangi yang indah.]]>

Ada banyak cara memakai ulang CD (compact disc) yang tidak terpakai. Seperti yang diberitakan di situs Inhabitat, seorang seniman dari Afrika Selatan baru-baru ini menyelesaikan karya instalasinya yang terdiri dari kepingan-kepingan CD bekas. Berlokasi di Johannesburg, Afrika Selatan, r1 adalah nama seniman yang memasang kepingan CD bekas pada dinding sebuah rumah ladang.

Terletak di pinggiran Randfontein, Afrika Selatan, r1 menutup bangunan tersebut dengan CD bekas dan memberinya judul “Sound of Light“, sebuah seni instalasi yang membiaskan cahaya matahari dan menciptakan pola warna pelangi yang indah.

"Sound of Light" disusun dari seribu keping CD bekas. Foto: r1/inhabitat.com

“Sound of Light” disusun dari seribu keping CD bekas. Foto: r1/inhabitat.com

Seperti kebanyakan karyanya yang lain, r1 membuat karya “Sound of Light” dari bahan daur ulang yang dipasang dalam pola yang berulang. Seribu keping CD bekas yang ditempelkan dengan tangan ke permukaan bangunan ini terdiri dari 7 baris yang membujur dari dinding sebelah barat ke bangunan sebelah utara. CD- CD tersebut kebanyakan menghadap ke arah Barat, menghadap ke arah tenggelamnya matahari.

Kepingan CD bekas memantulkan cahaya matahari dan menghasilkan spektrum warna yang indah. Foto: r1/inhabitat.com

Kepingan CD bekas memantulkan cahaya matahari dan menghasilkan spektrum warna yang indah. Foto: r1/inhabitat.com

Instalasi ini terlihat sangat indah saat fajar, ketika sinar matahari terpantul dari kepingan CD dan menghasilkan warna-warna pelangi. Saat permukaan CD memantulkan cahaya matahari, mereka menghasilkan spektrum warna yang dinamis dengan warna-warna neon yang berubah sesuai dengan posisi pengamat. Kepingan CD bekas tersebut memantulkan kembali “suara” cahaya yang mengagumkan.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/sound-of-light-mengubah-cd-bekas-menjadi-karya-seni/feed/ 0
Cegah Erosi dengan Pola Geometris https://www.greeners.co/ide-inovasi/cegah-erosi-dengan-pola-geometris/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cegah-erosi-dengan-pola-geometris https://www.greeners.co/ide-inovasi/cegah-erosi-dengan-pola-geometris/#respond Fri, 05 Feb 2016 07:09:58 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=12760 Seorang petani di Australia Selatan membuat pola geometris di atas ladang miliknya yang pernah terbakar. Pola geometris yang ia buat disebut-sebut seni sekaligus upaya penyelamatan lingkungan yang cerdas.]]>

Seorang petani di Australia Selatan sedang berjuang menghadapi erosi tanah. Dengan cerdik ia menggunakan pola-pola geometris pada tanah garapannya. Brian Fischer adalah petani yang tanah garapannya berada sekitar 60 kilometer di utara Adelaide, Australia. Pria tersebut mendapat ide kreatif yang secara visual sangat mengagumkan. Pola geometris yang ia buat disebut-sebut seni sekaligus upaya penyelamatan lingkungan yang cerdas.

Brian membuat pola geometris ini sebagai cara untuk melindungi lapisan tanah yang paling atas di ladangnya setelah kebakaran. Hasilnya adalah sebuah jaringan yang begitu hati-hati dirancang berputar meliuk-liuk dan menciptakan pematang-pematang kecil. Pematang kecil tersebut berhasil melindungi lapisan tanah paling atas.

Brian mengakui bahwa metode tersebut bukanlah hal baru. Desain yang ia pakai berasal dari teknik yang ayahnya gunakan di ladang pada tahun 1944. Petani ini mengakui saat wawancara di radio lokal, bahwa dia tidak tahu siapa yang pertama kali membuat konsep ini karena sangat mungkin ayahnya mempelajarinya dari petani yang lebih senior.

Pola geometris yang dibuat Brian Fischer disebut-sebut sebagai seni sekaligus upaya penyelamatan lingkungan yang cerdas. Foto: Brian Fischer/inhabitat.com

Pola geometris yang dibuat Brian Fischer disebut-sebut sebagai seni sekaligus upaya penyelamatan lingkungan yang cerdas. Foto: Brian Fischer/inhabitat.com

Pola-pola geometris yang rumit itu memerlukan waktu berhari-hari untuk dibuat dan menciptakan pematang yang cukup tinggi untuk menahan angin. Berkat ketinggiannya itu lah lapisan tanah paling atas yang sangat berharga tidak terbawa angin. Seni dalam memerangi erosi ini berhasil menyelamatkan hampir 15 cm lapisan tanah bagian atas.

Sebagai tambahan, Brian juga berperan ganda sebagai fotografer. Dia pertama kali menangkap gambar dari karya seni di ladangnya ini dengan menggunakan pesawat terbang milik anak sulungnya. Karena kesuksesannya dalam konservasi lapisan tanah atas dengan cara yang unik, petani ini mulai diliput oleh media di wilayahnya dan mungkin menginspirasi petani lain untuk membuat pola seni geometris lain untuk melindungi ladang mereka.

Seperti yang diceritakan kepada radio 3AW, cara ini benar-benar berhasil menghentikan erosi. Sayang sekali teknik ini hanya dapat dilakukan dalam satu kali kesempatan. Jika pada saat membuatnya tidak berhasil, kita tidak bisa mengulanginya lagi.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/cegah-erosi-dengan-pola-geometris/feed/ 0
Taman Seni Instalasi Kreasikan Sampah Jadi Karya Seni https://www.greeners.co/ide-inovasi/taman-seni-instalasi-kreasikan-sampah-jadi-karya-seni/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=taman-seni-instalasi-kreasikan-sampah-jadi-karya-seni https://www.greeners.co/ide-inovasi/taman-seni-instalasi-kreasikan-sampah-jadi-karya-seni/#respond Thu, 10 Dec 2015 13:22:56 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=12195 Olayami Dabls bersama dengan kurator museum dan ahli sejarah mendirikan Dabls' African Bead Museum. Di sana, karyanya instalasinya semua terbuat dari material daur ulang hasil donasi masyarakat.]]>

Olayami Dabls adalah legenda lokal dari Detroit. Ia merupakan seniman yang biasa membuat seni instalasi yang masif dari limbah sampah. Bersama dengan kurator museum dan ahli sejarah, 14 tahun lalu dia mendirikan Dabls’ African Bead Museum. Sejak saat itu, karyanya berkembang dengan banyak instalasi yang semuanya terbuat dari material daur ulang hasil donasi masyarakat.

Seperti dilansir inhabitat.com, taman seni instalasi buatan Dabls berada di area terbuka dan dengan banyak karya yang tersebar. Semua karyanya bercerita tentang kolonialisme dan tekanan. Karya seni abstrak ini terbuat dari benda-benda seperti pecahan kaca, potongan logam, beton dan sampah sisa konstruksi serta material lain. Taman ini terbuka untuk umum dan bisa dikunjungi kapan saja.

Foto: Lori Zimmer/inhabitat.com

Foto: Lori Zimmer/inhabitat.com

Lokasi taman ini sebelumnya adalah tempat pembuangan sampah ilegal. Dabls melihat banyak potensi yang bisa digunakan dari ruang yang tidak digunakan ini dan memutuskan untuk membuat sebuah seni instalasi.

Ia mendedikasikan karyanya untuk sejarah orang Afrika-Amerika. Menggunakan material sumbangan masyarakat atau sampah yang dibuang orang, dia mulai membangun taman instalasi terbuka yang secara bersamaan membentuk sebuah cerita, sebuah metafora terhadap sejarah sosial politik dari masyarakat Afrika-Amerika.

Foto: Lori Zimmer/inhabitat.com

Foto: Lori Zimmer/inhabitat.com

Sebuah karya berjudul “Iron Teaching Rocks How to Rust” adalah sebuah penanda yang tidak diinginkan terhadap ras dan perampasan budaya. Lewat blok semen, potongan logam, lemari tua, pecahan kaca dan kayu bekas, Dabls menggambarkan sebuah metafora terhadap sebuah kelompok sosial yang mencoba untuk memaksakan kepercayaan dalam sebuah budaya terhadap budaya lain.

Narasinya mungkin terdengar cukup berat, namun cara Olayami bercerita dan dengan penggunaan barang bekas pada karyanya, membuat cerita gejolak ras selama puluhan tahun menjadi lebih mudah dicerna pengunjung. Kebenaran yang keras, ditampilkan dalam penggunaan kembali material bekas, menjadi cerita tentang janji dan kelahiran kembali. Dabls mempersilakan setiap orang untuk mampir, mendengarkan sebuah cerita dan menikmati instalasinya yang unik.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/taman-seni-instalasi-kreasikan-sampah-jadi-karya-seni/feed/ 0
Pameran Seni Hadirkan Sampah Plastik dari Lautan https://www.greeners.co/ide-inovasi/pameran-seni-hadirkan-sampah-plastik-dari-lautan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pameran-seni-hadirkan-sampah-plastik-dari-lautan https://www.greeners.co/ide-inovasi/pameran-seni-hadirkan-sampah-plastik-dari-lautan/#respond Thu, 26 Nov 2015 07:31:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=12037 Setiap benda terlihat begitu kecil dibanding luasnya lautan, tidak ada ancaman yang bisa ditimbulkan oleh sampah kita pada lautan atau kehidupan di dalamnya. Begitulah anggapan kita selama ini. Padahal, milyaran […]]]>

Setiap benda terlihat begitu kecil dibanding luasnya lautan, tidak ada ancaman yang bisa ditimbulkan oleh sampah kita pada lautan atau kehidupan di dalamnya. Begitulah anggapan kita selama ini. Padahal, milyaran manusia berkontribusi terhadap sampah yang menciptakan ancaman terhadap stabilitas kehidupan di dalam laut.

Gambaran tersebut terlihat dalam pameran keliling, “Gyre : The Plastic Ocean.” Pameran ini diselenggarakan oleh Museum Anchorage dan sekarang dipamerkan di USC Fisher Museum di Los Angeles. Para seniman terlihat mengumpulkan materi sampah dan mengumpulkannya dalam bentuk yang monumental: segunung sendal jepit bekas, setumpuk cincin plastik bekas, dan sebuah struktur yang dibuat dari botol yang ditemukan terdampar di pantai.

Kiri: "Ghost Dog" (Sue Ray). Kanan: "SOUP Refused" (Mandy Barker). Sumber: www.huffingtonpost.com

Kiri: “Ghost Dog” (Sue Ray). Kanan: “SOUP Refused” (Mandy Barker). Sumber: www.huffingtonpost.com

Kurator USC Fisher Museum, Ariadni Liokatis, mengatakan, “semua karya seni ini adalah sebuah pembuktian terhadap dampak negatif terhadap perilaku konsumtif dan pengingat terhadap penghancuran yang sedang berlangsung terhadap lingkungan kita,” seperti dikutip dari The Huffington Post.

Liokatis menyatakan bahwa setiap karya berdiri sendiri dan saling mendukung terhadap karya lain. “Sebagai museum kampus, kami menampilkan seni, ilmu pengetahuan dan disiplin ilmu lain secara bersama-sama. Kekuatan seni diharapkan menimbulkan kebangkita kesadaran terhadap isu yang sangat penting yaitu polusi plastik di laut kita,” ujarnya.

Kiri: "Cabinet of Marine Debris" (Mark Dion). Kanan atas: "Falcon" (Cynthia Minet). Kanan bawah: "Elephant" (Cynthia Minet). Sumber: www.huffingtonpost.com

Kiri: “Cabinet of Marine Debris” (Mark Dion). Kanan atas: “Falcon” (Cynthia Minet). Kanan bawah: “Elephant” (Cynthia Minet). Sumber: www.huffingtonpost.com

Keindahan karya-karya ini, yang kebanyakan berupa potongan sampah yang diatur secara artistik dan terlihat indah. Namun, implikasi dari menggunakan tampilan estetis tersebut dianggap sebagai hal yang dapat menangkap perhatian publik dan semoga pula dapat menggugah masyarakat.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/pameran-seni-hadirkan-sampah-plastik-dari-lautan/feed/ 0
Peringatan Pemanasan Global dalam Karya Instalasi Pedro Marzorati https://www.greeners.co/ide-inovasi/peringatan-pemanasan-global-dalam-karya-instalasi-pedro-marzorati/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peringatan-pemanasan-global-dalam-karya-instalasi-pedro-marzorati https://www.greeners.co/ide-inovasi/peringatan-pemanasan-global-dalam-karya-instalasi-pedro-marzorati/#respond Fri, 30 Oct 2015 07:41:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=11714 Seniman dari Argentina, Pedro Marzorati, meningkatkan kesadaran kita tentang pemanasan global melalui pameran patungnya. Marzorati mengamati bahwa perubahan iklim mengakibatkan permukaan air meninggi. Oleh karenanya, ia mencoba menyampaikan pesan lingkungan dengan […]]]>

Seniman dari Argentina, Pedro Marzorati, meningkatkan kesadaran kita tentang pemanasan global melalui pameran patungnya. Marzorati mengamati bahwa perubahan iklim mengakibatkan permukaan air meninggi. Oleh karenanya, ia mencoba menyampaikan pesan lingkungan dengan cara yang indah dan puitis.

Seperti dilansir inhabitat.com, dalam karya instalasi berjudul “Where the Tides Ebb and Flow”, Marzorati menenggelamkan patung berbentuk manusia berwarna biru elektrik ke dalam air. Terlihat sedikit demi sedikit patung-patung tersebut naik dan tenggelam dalam sebuah formasi yang melengkung.

Instalasi seni "Where the Tides Ebb and Flow" karya Pedro Marzorati. Foto: Pedro Marzorati/inhabitat.com

Instalasi seni “Where the Tides Ebb and Flow” karya Pedro Marzorati. Foto: Pedro Marzorati/inhabitat.com

Patung berwarna perak kebiruan ini terbuat dari cetakan silikon dan resin, menempel ke dasar air dengan pengikat dari logam. Instalasi khusus di Montsouris Park terdiri dari 25 patung yang diatur dalam bentuk melengkung. Karya ini akan dipajang di taman tersebut dari tanggal 10 Oktober sampai 15 Desember 2015.

Karya seni ini berada di Paris di Montsouris Park dan ditampilkan bertepatan dengan Konferensi Perubahan Iklim Paris 2015 (COP21). “Where the Tides Ebb and Flow” pertama kali dipertunjukkan pada tahun 2008 sebagai bagian dari Kielzog Land Art Festival di Belanda. Sejak saat itu patung Marzorati telah berkeliling ke berbagai negara di dunia.

Instalasi seni "Where the Tides Ebb and Flow" karya Pedro Marzorati. Foto: Pedro Marzorati/inhabitat.com

Instalasi seni “Where the Tides Ebb and Flow” karya Pedro Marzorati. Foto: Pedro Marzorati/inhabitat.com

Karya ini merupakan karya Pedro Marzorati yang pertama bertema perubahan iklim. Terhitung semenjak “Where the Tides Ebb and Flow” lahir, Marzoti membuat banyak karya lain dengan tema yang sama.

“Patung-patung yang tenggelam ini mewakili orang-orang di seluruh dunia yang telah mengalami efeknya akibat tingginya permukaan air laut yang mulai menenggelamkan mereka dan mengancam banyak kehidupan lain,” kata Pedro Marzorati.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/peringatan-pemanasan-global-dalam-karya-instalasi-pedro-marzorati/feed/ 0
Kritik Penanganan Perubahan Iklim Lewat Patung Kuda https://www.greeners.co/ide-inovasi/kritik-penanganan-perubahan-iklim-lewat-patung-kuda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kritik-penanganan-perubahan-iklim-lewat-patung-kuda https://www.greeners.co/ide-inovasi/kritik-penanganan-perubahan-iklim-lewat-patung-kuda/#respond Tue, 15 Sep 2015 07:20:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=11112 Jason deCaires Taylor memasang karya seni instalasi terbarunya berjudul Rising Tide atau (Gelombang Pasang). Karya seni berbentuk patung yang berada di pinggiran Sungai Thames di London tersebut menarik perhatian khalayak ramai. […]]]>

Jason deCaires Taylor memasang karya seni instalasi terbarunya berjudul Rising Tide atau (Gelombang Pasang). Karya seni berbentuk patung yang berada di pinggiran Sungai Thames di London tersebut menarik perhatian khalayak ramai.

Keunikan karya Taylor ini adalah patung dengan empat penunggang kuda tersebut muncul ke permukaan setiap air sungainya surut. Terinspirasi dari kitab Injil yang menyinggung tentang kelaparan dan lingkungan, Rising Tide diharapkan akan memicu diskusi mengenai kekuatan-kekuatan di dunia yang tidak memperhatikan usaha-usaha penyelamatan lingkungan.

Secara detail patung tersebut memperlihatkan empat pengendara kuda berpakaian resmi duduk di atas kuda dengan ekspresi seperti tidak peduli. Kepala kuda terbuat dari kepala pompa minyak dan menyimbolkan masa depan. Patung kudanya sendiri berukuran seperti aslinya dan menggambarkan masa awal dari zaman industrialisasi.

Taylor menjelaskan bahwa patung manusia berpakaian jas resmi merupakan gambaran terhadap perasaan yang bercampur aduk terhadap situasi yang ada saat ini. Citra yang ingin digambarkan adalah seorang politisi dari Rumah Parlemen yang tidak memedulikan dunia sekitarnya saat pemanasan global dan mengakibatkan naiknya tingkat permukaan air di seluruh dunia.

Karya seni instalasi berjudul Rising Tide atau (Gelombang Pasang) karya Jason deCaires Taylor. Foto: Jason deCaires Taylor/inhabitat.com

Karya seni instalasi berjudul Rising Tide atau (Gelombang Pasang) karya Jason deCaires Taylor. Foto: Jason deCaires Taylor/inhabitat.com

Bukan sebuah kebetulan bahwa Rising Tide lokasinya tidak sampai berjarak dua kilometer dari Rumah Parlemen Inggris. Taylor sengaja ingin menarik perhatian para anggota parlemen. Ia juga berharap karyanya dapat menginpirasi para pengambil keputusan untuk tidak lagi merugikan usaha penyelamatan lingkungan.

Rising Tide bukanlah karya Taylor yang pertama. Pria asal Inggris tersebut juga bukan pertama kalinya menggabungkan bakat seninya dengan hasratnya sebagai aktivis. Tahun lalu dia menciptakan museum bawah air pertama berjudul Silent Evolution di Cancun, Mexico. Sebuah karya yang dimaksudkan untuk menginspirasi para penyelam disana dan berfungsi sebagai tempat berkembangnya karang dan biota laut lainnya. Saat ini dia sedang mengerjakan sebuah museum bawah air lainnya di Lazarote, Kepulauan Canary dan berencana untuk membawa bakatnya ke Bali.

Taylor menjelaskan bahwa motivasinya untuk mengarahkan karya seninya menjadi sebuah gerakan adalah sebuah keniscayaan. “Saya menciptakan tidak hanya sebuah karya seni. Saya ingin menciptakan karya seni yang memberikan kebaikan,” ujarnya seperti dilansir dalam laman inhabitat.com.

Ia menambahkan, “Dengan Rising Tide terpajang di London selama lebih dari sebulan, semoga ada yang mulai memperhatikan dan mulai berbuat sesuatu untuk mengatasi perubahan iklim.”

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/kritik-penanganan-perubahan-iklim-lewat-patung-kuda/feed/ 0
Patung Gajah dari Tabung Kertas Bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/patung-gajah-dari-tabung-kertas-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=patung-gajah-dari-tabung-kertas-bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/patung-gajah-dari-tabung-kertas-bekas/#respond Sat, 05 Sep 2015 04:45:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=11017 Bentuk sederhana dari sebuah paper tube dalam kehidupan sehari-hari adalah tabung kertas yang biasanya kita jumpai jika tisu gulung habis. Paper tube juga dapat kita temukan dari gulungan benang dan […]]]>

Bentuk sederhana dari sebuah paper tube dalam kehidupan sehari-hari adalah tabung kertas yang biasanya kita jumpai jika tisu gulung habis. Paper tube juga dapat kita temukan dari gulungan benang dan kain.

Di Spanyol terdapat patung gajah yang tersusun dari paper tube bekas yang diberi nama Somnis de Pes. Patung tersebut disukai warga sekitar. Hal ini terlihat dari banyaknya warga yang berbondong-bodong datang untuk melihat dan berfoto bersama patung gajah yang unik ini.

Studio Nituniyo menyusun lebih dari 6.000 tabung kertas bekas untuk membuat patung gajah. Tabung kertas bekas tersebut mereka kumpulkan dan disusun menjadi sebuah patung untuk mengikuti Festival Valencia Fallas yang diselenggarakan pada bulan Maret 2015 lalu. Festival Valencia Fallas sendiri adalah festival tahunan yang mempertontonkan pesta kembang api, aneka macam pesta, dan banyak pameran instalasi temporer.

Patung gajah dari tabung kertas bekas karya Studio Nituniyo. Foto: Studio Nituniyo/inhabitat.com

Patung gajah dari tabung kertas bekas karya Studio Nituniyo. Foto: Studio Nituniyo/inhabitat.com

Saat memulai proyek patungnya, Studio Nituniyo memulainya dengan membuat pola. Tiap tabung kertas dimasukkan ke pola tersebut. Tempat di mana patung gajah tersebut berdiri diletakkan pasir pantai. Hal ini dilakukan untuk menambah suasana bermain di sekitar patung gajah.

Selain itu, orang-orang yang melewati patung tersebut, jika mereka bersedia, dapat menuliskan mimpi dan cita-citanya pada sepotong kertas berwarna-warni dan menyimpannya di tiap tabung kertas pada badan patung gajah. Potongan kertas warna-warni tersebut menambah semarak pada warna patung gajah.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/patung-gajah-dari-tabung-kertas-bekas/feed/ 0
5CUBE, Instalasi Dampak Ketergantungan Bahan Bakar https://www.greeners.co/ide-inovasi/5cube-instalasi-dampak-ketergantungan-bahan-bakar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=5cube-instalasi-dampak-ketergantungan-bahan-bakar https://www.greeners.co/ide-inovasi/5cube-instalasi-dampak-ketergantungan-bahan-bakar/#respond Mon, 03 Aug 2015 07:29:40 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=10584 Irlandia mengonsumsi 473 barrel minyak tiap 5 menitnya. Merasa warga Irlandia perlu disadarkan akan hal tersebut, sebuah gerakan untuk energi terbarukan bernama Ace for Energy meminta perusahaan desain De Siun Scullion […]]]>

Irlandia mengonsumsi 473 barrel minyak tiap 5 menitnya. Merasa warga Irlandia perlu disadarkan akan hal tersebut, sebuah gerakan untuk energi terbarukan bernama Ace for Energy meminta perusahaan desain De Siun Scullion Architects untuk mendesain 5CUBE.

5CUBE adalah sebuah paviliun semi permanen besar untuk dibuat di Hanover Quay, Dublin, Irlandia. 5CUBE yang menggunakan tenaga matahari ini juga akan berbicara tentang target energi terbarukan di Irlandia.

Desain ini terpilih sebagai pemenang lomba Imagine Energy yang diadakan tahun 2013 oleh Ace for Energy. Peserta lomba diminta untuk membuat ide instalasi yang dapat membuat angka konsumsi energi di Irlandia menjadi bentuk fisik dan bisa dirasakan oleh penduduk Dublin.

Instalasi dampak ketergantungan bahan bakar 5CUBE buatan De Siun Scullion Architects. Foto: inhabitat.com

Instalasi dampak ketergantungan bahan bakar 5CUBE buatan De Siun Scullion Architects. Foto: inhabitat.com

5CUBE terbuat dari kaca hitam yang kuat dengan atap dari panel surya yang memberikan daya listrik untuk lampu LED dan layar berisi informasi. Lampu LED memberi cahaya pada interior cermin di dalam kubus kaca sehingga membuat kubus ini seperti berpendar dari dalam.

Ukuran kubus melambangkan konsumsi minyak. Rangkaian cermin di dalamnya melambangkan energi terbarukan. Cermin di sebelah timur melambangkan jumlah energi terbarukan yang saat ini digunakan oleh Irlandia, sementara cermin bagian barat melambangkan target energi terbarukan di tahun 2020.

Instalasi dampak ketergantungan bahan bakar 5CUBE buatan De Siun Scullion Architects. Foto: inhabitat.com

Instalasi dampak ketergantungan bahan bakar 5CUBE buatan De Siun Scullion Architects. Foto: inhabitat.com

Sebuah periskop ditanam di kubus ini sehingga kita bisa melihat langit dan cuacanya yang sering berubah, yang berpengaruh terhadap kelangsungan energi terbarukan yang selama ini kita pakai, dari energi matahari sampai ke gelombang pasang-surut.

“Kami ingin menampilkan kepada masyarakat berapa banyak bahan bakar minyak yang kita pakai sehari-hari dan seberapa cepat bahan bakar itu dipakai,” jelas arsitek Declan Scullion. “Pertama, kami hitung volume minyak yang dipakai Irlandia per hari, kemudian menghitungnya sampai ke hitungan per 5 menit. Ini menghasilkan angka 473 barrel atau dalam volume sebesar 4,2 meter kubik.”

Warga Irlandia tidak memahami data dalam bentuk statistik. Tidak ada efek dramatis yang muncul karena angka berupa data. Oleh karena itu lah 5CUBE dibuat, agar dapat memperlihatkan secara visual dampak dan skala dari konsumsi minyak yang orang Irlandia konsumsi.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/5cube-instalasi-dampak-ketergantungan-bahan-bakar/feed/ 0
Elsewhere, Mural dari Kayu Bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/elsewhere-mural-dari-kayu-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=elsewhere-mural-dari-kayu-bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/elsewhere-mural-dari-kayu-bekas/#respond Tue, 21 Jul 2015 13:01:35 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=10420 Seniman asal Belgia, Stefaan de Crook membuat karya seni yang indah dengan memanfaatkan kayu bekas, pintu dan furnitur. Dia mengumpulkan bahan-bahan tersebut dan menggunakannya untuk membuat wajah geometris raksasa yang dipasang di […]]]>

Seniman asal Belgia, Stefaan de Crook membuat karya seni yang indah dengan memanfaatkan kayu bekas, pintu dan furnitur. Dia mengumpulkan bahan-bahan tersebut dan menggunakannya untuk membuat wajah geometris raksasa yang dipasang di dinding bangunan. Karyanya yang terbaru berjudul Elsewhere dipasang di sisi sebuah pabrik furnitur tua di Mechelen, Belgia.

"Elsewhere" karya Stefaan de Crook. Foto: inhabitat.com

“Elsewhere” karya Stefaan de Crook. Foto: inhabitat.com

De Crook memulainya dengan menggambar wajah yang dia inginkan kemudian memperbesar gambar tersebut dengan menggunakan bahan-bahan yang dia temukan. Bahan tersebut adalah pintu yang sudah tidak terpakai, jendela, dan papan.

"Elsewhere" karya Stefaan de Crook. Foto: inhabitat.com

“Elsewhere” karya Stefaan de Crook. Foto: inhabitat.com

Elsewhere adalah sebuah contoh sempurna cita rasa seniman ini. Karyanya figuratif, abstrak dan menampilkan perspektif baru terhadap siluet manusia. Setiap bagian lukisan ini punya cerita sendiri. Seperti potongan puzzle, tekstur dan warna yang digunakan berasal dari benda itu sendiri dan bukan karena dicat.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/elsewhere-mural-dari-kayu-bekas/feed/ 0
Vanishing Point, Perhiasan Perlambang Perlawanan Sampah Plastik di Laut https://www.greeners.co/gaya-hidup/vanishing-point-perhiasan-perlambang-perlawanan-sampah-plastik-di-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=vanishing-point-perhiasan-perlambang-perlawanan-sampah-plastik-di-laut https://www.greeners.co/gaya-hidup/vanishing-point-perhiasan-perlambang-perlawanan-sampah-plastik-di-laut/#respond Mon, 13 Jul 2015 08:41:49 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10310 Perhiasan yang elegan dan cantik selalu diidentikan dengan emas, tembaga, mutiara dan berlian. Padahal, banyak material di luar emas, tembaga, mutiara dan berlian yang dapat dibuat menjadi perhiasan yang tak […]]]>

Perhiasan yang elegan dan cantik selalu diidentikan dengan emas, tembaga, mutiara dan berlian. Padahal, banyak material di luar emas, tembaga, mutiara dan berlian yang dapat dibuat menjadi perhiasan yang tak kalah cantiknya, salah satunya adalah dari pengolahan sampah plastik yang berserakan di pantai.

Untuk memanfaatkan sampah plastik ini, Institut Studi Kelautan dan Antartika di University of Tasmania di Australia bekerjasama dengan para seniman yang memiliki minat yang sama untuk membuat bencana lingkungan “melebihi konteks laboratorium dan jurnal akademi pada umumnya.” Kolaborasi ini menghasilkan Vanishing Point, sebuah bentuk interdisipliner baru yang disampaikan melalui perpaduan ilmu dan seni.

Karya Sophie Carnell. Carnell mengolah sampah plastik yang berserak di pantai menjadi perhiasan yang indah. Hasil karyanya ini merupakan bagian dari proyek "Vanishing Point." Foto: www.ecouterre.com

Karya Sophie Carnell. Carnell mengolah sampah plastik yang berserak di pantai menjadi perhiasan yang indah. Hasil karyanya ini merupakan bagian dari proyek “Vanishing Point.” Foto: www.ecouterre.com

Sophie Carnell, seorang pematung lokal yang turut serta dalam proyek ini, mengombinasikan serpihan pesisir pantai dengan perak daur ulang dan menggunakan batu permata Australia untuk menciptakan perhiasan yang unik. Beberapa perhiasan olahan Carnell menyerupai hewan dan tumbuhan. Ini merupakan cara Carnell menyuarakan nasib hewan laut, mulai dari burung laut hingga kerang, yang mengira sampah plastik sebagai makanan.

“Memasukkan sampah ini ke dalam benda berharga menegaskan apa yang kita anggap sebagai barang berharga dan apa yang kita anggap sebagai barang konsumsi,” ujar Carnell seperti dikutip dari laman ecouterre.com. “Jika kita menghargai barang-barang yang kita gunakan setiap hari dan menyadari apa yang terjadi setelah kita tidak lagi menggunakan barang-barang tersebut, mungkin kita akan lebih menghargai barang tersebut dan lebih menghargai lingkungan yang kita tinggali,” imbuhnya.

Foto: www.ecouterre.com

Foto: www.ecouterre.com

Carnell mengakui bahwa proyek yang ia deskripsikan sebagai “pembuka mata” ini, membantunya mengenali jenis plastik. Ia mempelajari bahwa plastik tidak dapat terurai secara alami namun akan menjadi “remah-remah sintetis” yang sangat kecil dan akan masuk ke dalam air sebelum akhirnya dimakan oleh spesies dalam jaring rantai makan yang paling dasar.

“Sangatlah mudah untuk bersedih atas kerusakan yang kita timbulkan pada planet dan diri kita sendiri. Tapi, jika kita mengenali masalahnya, menyadari dan mengkomunikasikan bagaimana kita menggunakan dan menyalahgunakan plastik, mungkin kita dapat memperbaikinya,” katanya berharap.

Vanishing Point terbuka untuk umum dan dapat dilihat di Castray Esplanade, Tasmania, Australia hingga pertengahan Juli.

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/vanishing-point-perhiasan-perlambang-perlawanan-sampah-plastik-di-laut/feed/ 0
“Membentuk” Alam dari Sampah Tepi Pantai https://www.greeners.co/ide-inovasi/membentuk-alam-dari-sampah-tepi-pantai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=membentuk-alam-dari-sampah-tepi-pantai https://www.greeners.co/ide-inovasi/membentuk-alam-dari-sampah-tepi-pantai/#respond Thu, 02 Jul 2015 05:14:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=10086 Sama halnya dengan kondisi garis pantai wisata di Indonesia, sampah juga memenuhi tepi pantai di Cancun, Meksiko. Jika kita melihatnya sekilas, kondisi pantai terlihat baik-baik saja. Pantai-pantai di Cancun memang […]]]>

Sama halnya dengan kondisi garis pantai wisata di Indonesia, sampah juga memenuhi tepi pantai di Cancun, Meksiko. Jika kita melihatnya sekilas, kondisi pantai terlihat baik-baik saja. Pantai-pantai di Cancun memang dalam kondisi yang masih baik, tapi hal itu tidak terjadi secara alami. Para pekerja resor di sana harus sering menyisir pantai untuk membuang sampah-sampah yang ada. Tapi silahkan kunjungi beberapa tempat di dekat hotel-hotel yang gemerlap tersebut dan kita bisa temukan garis pantai yang penuh dengan sampah.

Seniman Alejandro Duran mengumpulkan sampah-sampah tersebut dan menciptakan karya seni yang ia namakan Washed Up. Botol sampo, lampu dan bahkan kulkas serta bagian-bagian kapal merupakan pemandangan yang tidak menarik bila kita menemukannya di pantai. Namun, saat sampah itu disatukan ternyata bisa menghasilkan karya seni yang indah.

"Washed Up" karya seni Alejandro Duran. Foto: www.alejandroduran.com

“Washed Up” karya seni Alejandro Duran. Foto: www.alejandroduran.com

Seniman ini memulai pekerjaannya di pantai Sian Ka’an, sebuah kawasan konservasi yang letaknya beberapa jam di Selatan Cancun. Selama lima tahun, Duran mengumpulkan ribuan sampah-sampah kecil yang mencemari kawasan tersebut.

“Idenya datang saat saya mengunjungi Sian Ka’an dan melihat langsung situasi disana,” kata Alejandro Duran seperti dikutip dari laman wired.com. “Saya melihatnya sebagai sesuatu yang menjijikkan. Kemudian saya mencari warna dan cara tertentu untuk membuat sesuatu dari sampah-sampah ini,” jelasnya lagi.

Dibutuhkan waktu sepuluh hari untuk membangun karya seni ini. Kemasan plastik warna hitam, putih dan biru sangatlah mudah ditemukan. Berbeda dengan warna-warna lainnya yang lebih sulit ada. Salah satunya sampah kemasan berwarna ungu. Warna tersebut adalah warna yang sangat langka. “Dapat menemukan kemasan berwarna ungu bagi saya bagaikan menemukan emas!,” ungkap Duran.

"Washed Up" karya seni Alejandro Duran. Foto: www.alejandroduran.com

“Washed Up” karya seni Alejandro Duran. Foto: www.alejandroduran.com

Karya seninya terkadang meniru bentuk-bentuk alami di sekitarnya. Misalnya saja pelangi dari tutup botol ia ciptakan di dekat karang di pantai dan lusinan sikat gigi mencuat dari tanah seperti tanaman. Duran menyukai warna kontras yang ia buat dalam karyanya: sampah yang menyerupai sungai, buah-buahan, dan lain-lain serta berharap hal tersebut dapat menarik para pengunjung untuk melihat lebih dekat.

Duran mengatakan, “Dengan menciptakan bentuk-bentuk yang menyerupai alam, saya menampilkan realitas dari sebuah bencana lingkungan. Plastik benar-benar sudah masuk ekosistem kita.”

Duran berusaha mendaur ulang sebisa mungkin sampah-sampah tersebut. Sayangnya, banyak yang dia temukan di garis pantai tersebut tidak bisa ia gunakan kembali. Untuk itu, Duran menyimpannya untuk proyek seni yang akan datang sehingga sampah tersebut tidak berakhir di pembuangan.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/membentuk-alam-dari-sampah-tepi-pantai/feed/ 0
Furnitur Modern dari Drum Minyak Bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/furnitur-modern-dari-drum-minyak-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=furnitur-modern-dari-drum-minyak-bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/furnitur-modern-dari-drum-minyak-bekas/#respond Sun, 28 Jun 2015 04:38:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=10033 Setiap hari, jutaan barel minyak diproduksi dan drumnya dibuang di seluruh dunia. Karena drum minyak ini nilai (ekonomi) sampahnya kecil, sebagian besar berakhir di tempat pembuangan. Pada akhirnya limbah tersebut […]]]>

Setiap hari, jutaan barel minyak diproduksi dan drumnya dibuang di seluruh dunia. Karena drum minyak ini nilai (ekonomi) sampahnya kecil, sebagian besar berakhir di tempat pembuangan. Pada akhirnya limbah tersebut berkontribusi besar dalam polusi global dan berbahaya untuk kesehatan dan lingkungan.

Salah satu cara mencegah terjadinya lebih banyak limbah adalah dengan mendaur ulang. Beberapa produk inovatif yang berasal dari drum minyak bekas tersebut adalah lemari, patung dan dekorasi rumah. Namun, salah satu rupa drum bekas yang terbaik berasal dari The Urbanite Home.

Untuk membuat meja, kursi makan dan kursi goyang, desainer The Urbanite Home memotong, mengelas dan menyatukan drum minyak dengan tangan. Lapisan laminasi melindungi furnitur ini terhadap karat dalam jangka panjang, sehingga bisa dipakai di dalam maupun di luar ruangan.

Berbagai rupa furnitur buatan The Urbanite Home. Foto: inhabitat.com

Berbagai rupa furnitur buatan The Urbanite Home. Foto: inhabitat.com

Setiap drum seolah-olah dapat bercerita dan memiliki sejarahnya sendiri. Meskipun demikian, drum ini tetap menampilkan permukaan yang kasar sebagai pertanda fungsi dan keberadaan sebelumnya. Semacam sebagai sebuah pengingat akan masa lalu mereka. Desainernya secara sengaja mengambil langkah tersebut sebagai cara untuk meningkatkan kepedulian masyarakat tentang konsep pemaknaan ulang dan guna ulang (recycling).

The Urbanite Home tampil dalam International Contemporary Furniture Fair yang berbarengan dengan acara New York Design Week. Menariknya lagi, The Urbanite Home adalah anggota ACID (Anti Copying in Design), jadi kita tidak akan menemukan desain yang sama di tempat lain.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/furnitur-modern-dari-drum-minyak-bekas/feed/ 0