kasus pencemaran sungai - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/kasus-pencemaran-sungai/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 10 Apr 2023 06:50:50 +0000 id hourly 1 Ribuan Ikan Mati di Sungai Cileungsi Diduga Keracunan Limbah https://www.greeners.co/berita/ribuan-ikan-mati-di-sungai-cileungsi-diduga-keracunan-limbah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ribuan-ikan-mati-di-sungai-cileungsi-diduga-keracunan-limbah https://www.greeners.co/berita/ribuan-ikan-mati-di-sungai-cileungsi-diduga-keracunan-limbah/#respond Mon, 10 Apr 2023 06:50:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39652 Jakarta (Greeners) – Ribuan ikan mati di Sungai Cileungsi diduga terimbas pencemaran limbah bahan berbahaya beracun (B3). Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C) menyebut kepekatan pencemaran sungai cukup tinggi terjadi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ribuan ikan mati di Sungai Cileungsi diduga terimbas pencemaran limbah bahan berbahaya beracun (B3). Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C) menyebut kepekatan pencemaran sungai cukup tinggi terjadi sejak Kamis (6/4) lalu.

“Sungai Cileungsi tercemar berat sejak Kamis hingga Sabtu lalu,” kata Ketua KP2C Puarman kepada Greeners, Senin (10/4).

Ribuan ikan mati berada dari hulu ke hilir aliran sungai sepanjang 30 kilometer. Ia menambahkan, beberapa ikan mati berjenis ikan sapu-sapu, mujaer, hingga ikan patin.

Berdasarkan pantauan tim KP2C di beberapa titik yakni di Jembatan Leuwikaret, Kecamatan Klapanunggal sebelumnya, kondisi air Sungai Cileungsi cenderung normal. Demikian pula di titik lokasi Jembatan Cikuda, Wanaherang, Kabupaten Bogor.

Namun, pada Kamis dini hari mereka menemukan banyak ikan dalam keadaan mati. Temuan ikan-ikan mati ini berada di beberapa lokasi mulai dari Curug Parigi, Cikiwul hingga Bantargebang, Kota Bekasi.

Ia menduga penyebab utama matinya ribuan ikan ini karena limbah B3. “Dugaan sementara penyebabnya terjadinya pencemaran limbah dari daerah Desa Bantarjati, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor,” ungkapnya.

Senada dengannya, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat, Meiki W Paendong menyatakan, matinya ribuan ikan dan biota ini mengindikasikan pencemaran sungai.

“Karena kalau sudah tercemar maka air sungai tak dapat menangkap oksigen. Imbasnya ikan dan biota air sungai mati,” imbuhnya.

Foto: KP2C

Pencemaran Bisa Sebabkan Ikan Mati

Selain itu lanjut Meiki, pencemaran ini berimbas pada biota seperti benthos yang merupakan sumber pakan ikan di sungai. Jika benthos mati maka menyebabkan putusnya rantai makanan ikan.

Setidaknya terdapat beberapa parameter mutu kualitas air sungai, di antaranya Biological Oxygen Demand (BOD), kandungan oksigen di dalam perairan, Chemical Oxygen Demand (COD), hingga Total Suspended Solid (TSS). Pencemaran terjadi bila parameter tersebut melebihi baku mutu.

“Parameter TSS yang tinggi misalnya menyebabkan air sungai menjadi keruh. Demikian pula dengan BOD yang menunjukkan kandungan oksigen dalam air,” paparnya.

Ia mendorong agar pihak Dinas Lingkungan Hidup setempat segera melakukan uji laboratorium dan investigasi untuk mengetahui penyebab matinya ribuan ikan ini.

“Terlebih jika memang terbukti pencemaran akibat limbah B3 secara sengaja oleh industri. Pemerintah harus menegakkan hukum, bukan hanya sekadar pembinaan,” tandas Meiki.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/ribuan-ikan-mati-di-sungai-cileungsi-diduga-keracunan-limbah/feed/ 0
Kali Dadap Kembali Jadi Lautan Sampah Berbau Tak Sedap https://www.greeners.co/berita/kali-dadap-kembali-jadi-lautan-sampah-berbau-tak-sedap/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kali-dadap-kembali-jadi-lautan-sampah-berbau-tak-sedap https://www.greeners.co/berita/kali-dadap-kembali-jadi-lautan-sampah-berbau-tak-sedap/#respond Mon, 26 Sep 2022 06:17:47 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37452 Jakarta (Greeners) – Setelah mengalami kondisi serupa di tahun 2021, baru-baru ini Kali Dadap kembali menjadi lautan sampah berbau tak sedap. Menumpuknya sampah di Kali Dadap, Kosambi, Kabupaten Tangerang menjadi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Setelah mengalami kondisi serupa di tahun 2021, baru-baru ini Kali Dadap kembali menjadi lautan sampah berbau tak sedap.

Menumpuknya sampah di Kali Dadap, Kosambi, Kabupaten Tangerang menjadi indikator pencemaran air sungai.

“Bau dari sampah akibat hasil proses degradasi. Terutama oleh mikroorganisme sehingga hasilnya selain bau, ada bahan sampah yang terlarut di sana,” kata Pakar sampah dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Enri Damanhuri kepada Greeners, Senin (26/9).

Berbagai bahan sampah di Kali Dadap tersebut di antaranya bahan organik hingga logam berat dan berpotensi terdapat bakteri patogen. Enri juga mengingatkan, pencemaran air tersebut berdampak buruk pada biota yang hidup di dalamnya.

“Biasanya air sungai menjadi berwarna hitam dan biota yang hidup di sana menjadi kekurangan oksigen,” imbuhnya.

Dampak buruk lainnya, air sungai yang tercemar tersebut bisa masuk ke dalam air tanah. Kondisi ini akan mencemari air sumur masyarakat sekitar.

Menurutnya, pemerintah daerah tak cukup dengan mengurangi sampah yang ada di Kali Dadap itu mengingat telah terjadi berulang kali. Ia mendorong agar Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang memastikan agar masyarakat tak lagi membuang sampah ke lingkungan, termasuk sungai.

Ia juga mendorong agar pemerintah daerah segera tanggap dengan memantau kualitas air di Kali Dadap secara rutin. “Ambil sampel dan diukur nilai parameter kualitas airnya, seperti BOD dan CODnya,” ujarnya.

Cegah Kali Dadap Kembali Jadi Lautan Sampah

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Tangerang Achmad Taufik mengaku, Kali Dadap memang sudah menjadi langganan tumpukan sampah ketika bencana air rob terjadi. Ia memastikan pengangkutan tumpukan sampah-sampah tersebut dengan memanfaatkan alat berat.

Ia berharap, permasalahan tumpukan sampah ini bisa tuntas jika masyarakat taat dan membuang sampah pada tempatnya. Hal ini untuk mencegah kejadian serupa terjadi lagi.

Kasus menumpuknya sampah bak lautan sampah di Kali Dadap bukan kali pertama terjadi. Setidaknya, telah terjadi tiga kali penumpukan sampah dalam satu tahun. Terakhir pada tahun 2021, tumpukan sampah hingga mencapai 70 ton dan menjadi sorotan publik.

Pameran Sampah Plastik Ecoton

Selain bermuara ke sungai, sampah plastik tanpa kelola bermuara ke laut dan ancam biota perairan. Foto: Greeners

Pengurangan Sampah oleh Masyarakat

Direktur Pengurangan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Sinta Saptarina menyatakan, sampah yang membusuk dan menimbulkan bau tak sedap berbahaya bagi kesehatan.

Dalam hal ini, pengurangan sampah bisa melibatkan pihak masyarakat. “Khusus untuk upaya pengurangan dengan masyarakat bisa dilakukan sejak berada di rumah masing-masing. Karena mereka merupakan salah satu penghasil sampah,” ucap Sinta.

Ia juga mengingatkan, pentingnya masyarakat memilah dan mengolah sampah organiknya menjadi kompos. Selain mengurangi lautan sampah di Kali Dadap, turut berkontribusi dalam mengurangi produksi gas metana.

“Gas ini dapat dihasilkan dari timbulan sampah yang mengalami pembusukan, terutama dalam jumlah besar,” imbuhnya.

Selain masyarakat, sampah juga menjadi tanggung jawab produsen. Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Nomor 75 Tahun 2019. “Perusahaan-perusahaan harus mengurangi kemasannya, produknya, desainnya sehingga bisa mengurangi sampah sampai 30 persen,” kata Sinta.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/kali-dadap-kembali-jadi-lautan-sampah-berbau-tak-sedap/feed/ 0
Tim ESN Kembali Temukan Mikroplastik di Sungai Kapuas https://www.greeners.co/aksi/tim-esn-kembali-temukan-mikroplastik-di-sungai-kapuas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tim-esn-kembali-temukan-mikroplastik-di-sungai-kapuas https://www.greeners.co/aksi/tim-esn-kembali-temukan-mikroplastik-di-sungai-kapuas/#respond Fri, 26 Aug 2022 05:12:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=37152 Jakarta (Greeners) – Tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) kembali menemukan kandungan mikroplastik di Sungai Kapuas. Tepatnya pada parit putat sebesar 54 partikel mikroplastik (PM) dalam 100 liter air yang bermuara […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) kembali menemukan kandungan mikroplastik di Sungai Kapuas. Tepatnya pada parit putat sebesar 54 partikel mikroplastik (PM) dalam 100 liter air yang bermuara ke sungai tersebut.

Sebelumnya pada studi awal tahun Januari 2022 tim ESN telah menemukan cemaran mikroplastik sebesar 57,55 PM dalam 100 liter air.

“Kadar mikroplastik tertinggi ditemukan di Sungai Landak Ambawang di Jl Kemuning 129 partikel mikroplastik dalam 100 liter air. Sedangkan kandungan mikroplastik paling sedikit sebesar 27 partikel mikroplastik di Batu Ampar,” ungkap peneliti mikroplastik, Eka Chlara Budiarti dalam keterangannya, baru-baru ini.

Mikroplastik adalah serpihan atau pecahan plastik dengan ukuran di bawah 0,5 cm atau setengah mm. Chlara juga menjelaskan, keberadaan mikroplastik di Sungai Kapuas berasal dari lima sumber, yaitu limbah domestik (air cucian, air kamar mandi dan air dapur) warga Pontianak yang mereka buang ke dalam parit tanpa pengelohan.

Sumber lainnya yaitu sampah plastik (tas kresek, styrofoam, sachet, botol plastik, popok dan pembungkus makanan minuman dan produk rumah tangga). Selanjutnya, industri manufaktur berupa limbah cair industri yang tak terolah.

Udara panas seperti ban roda mobil atau motor, pembakaran sampah plastik juga menghasilkan serpihan mikroplastik. Terakhir, sektor pertanian atau perkebunan yang menggunakan campuran senyawa sintetis dan peralatan selama proses produksi.

Suasana permukiman di tepi Sungai Kapuas. Foto: Tim ESN

Temuan Jenis Mikroplastik di Sungai Kapuas

Terdapat dua jenis mikroplastik yang ada di sungai, yaitu jenis mikroplastik primer yang diproduksi untuk bahan kosmetik seperti pemutih, lulur dan produk personal care lainnya. Jenis kedua yaitu mikroplastik sekunder yang pembentukannya berasal dari proses fisik atau pelapukan oleh sinar matahari.

Direktur Eksekutif Ecoton, Prigi Arisandi menjelaskan, jenis mikroplastik sekunder berawal dari plastik ukuran besar seperti tas kresek, styrofoam, tali rafia, botol dan produk plastik lainnya.

“Kemudian karena panas matahari dan tempaan air, plastik ini akan lapuk kemudian terfragmentasi atau terpecah menjadi serpihan plastik kecil yang disebut mikroplastik,” ungkapnya.

Pada awal 2022 tim ESN telah melakukan penelitian kandungan mikroplastik di 9 lokasi yaitu di muara pertemuan sungai Landak dan sungai Kapuas (Kapuas 1), Sungai Malaya (Kapuas 2). Kemudian di Parit Lengkong (Kapuas 3), Mega Timur (Kapuas 4), Sungai Tempayan Laut (Kapuas 5), Ambawang Jl. Kemuning (Kapuas 6), Batu Ampar dan Pandan Tikar.

Prigi mengungkap, semua lokasi penelitian menunjukkan adanya kandungan mikroplastik. “Jenis mikroplastik yang mendominasi adalah jenis fiber. Jenis ini umumnya berasal dari benang penyusun tekstil yang terlepas dalam proses pencucian atau laundry,” tuturnya.

Mikroplastik lainnya adalah fragmen atau cuilan yang berasal dari peralatan rumah tangga terbuat dari plastik, botol, sachet dan personal care.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/tim-esn-kembali-temukan-mikroplastik-di-sungai-kapuas/feed/ 0
Limbah Domestik Diduga Kuat Sebabkan Kematian Massal Ikan https://www.greeners.co/berita/limbah-domestik-diduga-kuat-sebabkan-kematian-massal-ikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=limbah-domestik-diduga-kuat-sebabkan-kematian-massal-ikan https://www.greeners.co/berita/limbah-domestik-diduga-kuat-sebabkan-kematian-massal-ikan/#respond Sat, 30 Jul 2022 05:50:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36886 Jakarta (Greeners) – Meski sudah hampir dua pekan, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengaku masih perlu waktu menelusuri penyebab pasti kematian banyak ikan sapu-sapu di Kalibaru, Kramat Jati, Jakarta Timur. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Meski sudah hampir dua pekan, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengaku masih perlu waktu menelusuri penyebab pasti kematian banyak ikan sapu-sapu di Kalibaru, Kramat Jati, Jakarta Timur. Kuat dugaan banyak ikan sapu-sapu mati karena limbah domestik.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta Asep Kuswanto menyatakan, akan menelusuri lebih lanjut sumber penyebab kematian massal ikan sapu-sapu pada 11 Juli lalu. Dugaan kuat berasal dari kejadian tak biasa pembuangan limbah domestik.

“Terdapat kemungkinan adanya kejadian tidak biasa. Yakni berupa pembuangan limbah dengan debit sangat besar atau konsentrasi limbah sangat tinggi,” katanya dalam keterangannya, Jumat (29/7).

Menurutnya, limbah tersebut hanya terjadi pada skala lokal di salah satu ruas Sungai Kalibaru Timur. Lalu tersebar langsung ke dalam ruas sungai dan menyebabkan perubahan drastis kualitas air sehingga menjadi penyebab kematian massal ikan.

Berdasarkan kajian DLH DKI Jakarta bersama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Institut Pertanian Bogor (PPLH IPB), terjadi peningkatan nilai cukup tajam pada hari kejadian untuk beberapa parameter kualitas air. Peningkatan nilai parameter lebih tinggi dibanding data kisaran hasil pemantauan rutin maupun baku mutu.

“Di antaranya BOD yang pada saat kejadian bernilai 68 mg/L (baku mutu 3 mg/L), COD 309 mg/L (baku mutu 25 mg/L) dan Fecal Coliform 1.400.000 MPN/100ml (baku mutu 1.000 MPN/100ml),” paparnya.

DLH Rutin Pantau Kualitas Air Sungai

DLH, kata Asep setiap tahun secara rutin melakukan pemantauan kualitas air sungai pada empat periode. Tepatnya saat musim hujan, kemarau dan peralihan antarmusim di 120 titik pemantauan di seluruh Jakarta.

Pernyataan Asep tersebut sekaligus mengkonfirmasi bahwa penyebab matinya banyak ikan sapu-sapu di Kalibaru tersebut bukan karena sampah jeroan pasca Iduladha.

“Apabila penyebab kematian diduga akibat pembuangan limbah kurban, maka hal ini dapat saja terjadi pada banyak ruas sungai yang ada di DKI Jakarta,” tandasnya.

Ia menegaskan, DLH Jakarta akan melakukan penelusuran lebih lanjut dengan melakukan inventarisasi sumber pencemaran domestik. Seperti berasal dari pemukiman, perkantoran, industri skala kecil-menengah, industri skala besar dan aktivitas lainnya di ruas sungai tersebut.

Dia juga mengimbau kepada masyarakat sekitar bantaran sungai agar bijak dalam pengelolaan limbah domestik. “Apabila teridentifikasi penyebab lebih dominan dari aktivitas rumah tangga, maka lokasi tersebut dapat menjadi prioritas pembuatan IPAL Komunal atau ekoriparian. Berkolaborasi dengan Dinas Sumber Daya Air (SDA) dan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (DPHK),” ungkapnya.

Kondisi sampah plastik di Sungai Krueng Aceh. Foto: Tim ESN

Pencemaran Sungai Berat, Ikan dan Biota Lainnya Mati

Sebelumnya, pada peringatan hari sungai 27 Juli lalu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut, hampir 51 % sumber pencemar sungai-sungai besar di Indonesia berasal dari limbah dan sampah.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (KLHK) Sigit Reliantoro menyebut, sungai tercemar berat tahun 2021 mengalami penurunan signifikan. Sementara itu pencemaran sungai berat di tahun 2019 sebesar 53,28 %. Lalu pada tahun 2020 sungai tercemar berat 59,05 %.

Ia menyebut, kondisi sungai tercemar berat tahun 2021 sebesar 2,78 %, sungai tercemar sedang yaitu 17,59 %, kondisi sungai tercemar ringan sebesar 59,81 % dan memenuhi sebesar 20,12%.

“Kondisi ini karena masih minimnya fasilitas pengelolaan air limbah domestik dan cakupan layanan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) belum merata dapat masyarakat akses,” katanya.

Sigit menyatakan, air limbah dan sampah dapat menyebabkan biota-biota aliran sungai tak dapat hidup karena kekurangan oksigen.

“Kalau sungainya tercemar bahkan hingga tercemar berat maka kandungan oksigen di dalamnya turut menurun. Ini akan mempengaruhi kehidupan biota di dalamnya,” ujarnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/limbah-domestik-diduga-kuat-sebabkan-kematian-massal-ikan/feed/ 0
51 % Sumber Pencemar Sungai Indonesia dari Limbah dan Sampah https://www.greeners.co/berita/51-sumber-pencemar-sungai-indonesia-dari-limbah-dan-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=51-sumber-pencemar-sungai-indonesia-dari-limbah-dan-sampah https://www.greeners.co/berita/51-sumber-pencemar-sungai-indonesia-dari-limbah-dan-sampah/#respond Wed, 27 Jul 2022 05:57:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36860 Jakarta (Greeners) – Hampir 51 % sumber pencemar sungai-sungai besar di Indonesia berasal dari limbah dan sampah. Status mutu sungai tahun 2021 menyebut, kondisi sungai tercemar berat 2,78 %, sungai […]]]>

Jakarta (Greeners) – Hampir 51 % sumber pencemar sungai-sungai besar di Indonesia berasal dari limbah dan sampah. Status mutu sungai tahun 2021 menyebut, kondisi sungai tercemar berat 2,78 %, sungai tercemar sedang yaitu 17,59 %, kondisi sungai tercemar ringan sebesar 59,81 % dan memenuhi sebesar 20,12 %.

Berkaca dari kondisi itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (KLHK) Sigit Reliantoro menyebut, sungai tercemar berat mengalami penurunan signifikan jika dibandingkan tahun 2019 sebesar 53,28 %. Lalu pada tahun 2020 sungai tercemar berat 59,05 %.

“Kondisi ini disebabkan masih minimnya fasilitas pengelolaan air limbah domestik dan cakupan layanan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) belum merata masyarakat akses,” katanya kepada Greeners, Rabu (27/7).

Fakta kondisi sungai ini menjadi refleksi bersama bertepatan dengan peringatan Hari Sungai Sedunia setiap 27 Juli. Sigit menyatakan, air limbah dan sampah dapat menyebabkan biota-biota aliran sungai mati karena kekurangan oksigen. Padahal sungai memiliki peran vital bagi kehidupan biota di dalamnya.

“Kalau sungainya tercemar bahkan hingga tercemar berat maka kandungan oksigen di dalamnya turut menurun. Ini akan mempengaruhi kehidupan biota di dalamnya,” ujarnya.

Saat ini di 15 Daerah Aliran Sungai (DAS) prioritas di Indonesia, yakni Sungai Ciliwung, Sungai Cisadane, Sungai Citarum, Sungai Bengawan Solo, Sungai Brantas. Juga di Sungai Kapuas, Sungai Siak, Sungai Asahan, Sungai Sekampung, Sungai Serayu, Sungai Saddang, Sungai Musi, Sungai Moyo, serta Sungai Jeneberang pencemaran domestik masih terjadi. Kontribusi pencemaran sektor domestik 51 %, sektor non-point source yaitu 20 %, industri sebesar 15 % dan peternakan 14 %.

Sigit menilai, sungai memiliki peran utamanya sebagai peradaban penting di dunia. Misalnya, peradaban Mesopotamia yang para sejarawan anggap merupakan peradaban tertua di muka bumi sejak evolusi manusia.

Timbulan sampah ilegal ini mencemari tiga sungai di Bengkulu. Foto: Ecoton

Perbaikan Kualitas Air Sungai dari Limbah dan Sampah

Sementara itu, terkait peringatan hari sungai, kondisi sungai-sungai di Indonesia menunjukkan perbaikan kualitas air yang signifikan.

Tahun 2015 kondisi sungai tercemar berat yaitu 79,49 %, lalu pada tahun 2016 yaitu 67,94 %. Selanjutnya pada tahun 2017 yaitu 73,24 % dan tahun 2018 yaitu 58,82%.

“Lalu pada tahun 2019 yaitu 53,28 %. Pada tahun 2020 yaitu 59,05 % dan tahun 2021 hanya 2,78 %. Ini artinya telah terjadi perbaikan kualitas air di Indonesia,” ucapnya.

Sigit menyebut, peningkatan kualitas air karena pemerintah daerah sudah menyadari pencegahan masuknya sampah ke sungai. “Karena sumber pencemar terbesar rata-rata domestik yaitu sampah dan mereka sudah lebih peduli,” imbuhnya.

Berbagai upaya telah KLHK lakukan untuk menjaga dan memastikan agar air sungai tetap dalam kondisi baik. Misalnya, mengendalikan jumlah limbah yang berasal dari sumber pencemar. Termasuk dari pemukiman rumah tangga hingga usaha skala kecil (industri kecil, peternakan, rumah potong hewan).

Selain itu KLHK juga memastikan kestabilan debit air agar tidak terjadi ketimpangan air saat musim hujan dan kemarau. Saat musim hujan, sambung dia kerap terjadi banjir sedangkan saat musim kemarau sering kali terjadi kekeringan.

Ribuan pohon di sepanjang Sungai Ciliwung terlilit sampah plastik. Foto: Ecoton

Sungai-Sungai di Indonesia Tercemar Mikroplastik

Sementara itu, Direktur Eksekutif Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) Prigi Arisandi menegaskan, ancaman utama sungai-sungai di Indonesia adalah mikroplastik.

Berdasarkan temuan Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) sungai tercemar partikel mikroplastik paling berat di Jawa yaitu Sungai Brantas, Ciliwung, Bengawan Solo dan Citarum.

Di samping itu, berdasarkan riset Ecoton kelimpahan rata-rata mikroplastik pada ikan sebesar 20 partikel per ikan (sampel Bengawan Solo), 42 partikel per ikan (sampel Brantas), 68 partikel per ikan (sampel Citarum) dan 167 partikel per ikan (sampel Kepulauan Seribu).

Ecoton menguji 102 sampel tinja manusia dan menemukan mikroplastik dalam 100 % sampel tinja masyarakat dan pemimpin daerah di Jawa dan Bali. Jumlah partikel mikroplastik dalam lambung ikan sangat mengkhawatirkan karena kandungan beracun aditif plasticizer.

Ancam Rantai Makanan di Pulau Jawa

Selain Itu, mikroplastik juga mengikat polutan-polutan dan patogen yang ada dalam media air yang akan ikut terserap masuk ke dalam tubuh ikan yang menelan mikroplastik. Bahan aditif plastik seperti Ftalat, BPA, BPS, PFAS dan Acrylate dalam berbagai produk plastik rumah tangga, terindikasi dapat mengganggu fungsi hormon dan memicu kanker.

“Kontaminasi mikroplastik sudah masuk ke dalam tubuh manusia. Mikroplastik ditemukan ada di dalam tinja manusia, plasenta ibu hamil, paru-paru dan di dalam darah,” ungkapnya.

Prigi juga mengatakan, sumber mikroplastik di sungai berasal dari point source limbah industri tekstil serta industri daur ulang plastik dan kertas. Selain itu, dari non point source yaitu dari timbunan sampah plastik yang tidak terkelola di daratan akhirnya masyarakat buang ke sempadan sungai dan membanjiri sungai.

Sungai Brantas, Bengawan Solo, Citarum dan Ciliwung adalah sungai nasional yang memiliki peran vital bagi Indonesia karena selain sebagai air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Empat sungai tersebut juga sebagai sumber irigasi area pertanian yang menyuplai lebih dari 50 persen stok pangan nasional. “Jadi saat ini ada ancaman serius berupa mikroplastik yang mencemari sungai-sungai dan rantai makanan di Pulau Jawa,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/51-sumber-pencemar-sungai-indonesia-dari-limbah-dan-sampah/feed/ 0
Tercemar Mikroplastik, Masyarakat Sulit Cari Ikan di Sungai Musi https://www.greeners.co/aksi/tercemar-mikroplastik-masyarakat-sulit-cari-ikan-di-sungai-musi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tercemar-mikroplastik-masyarakat-sulit-cari-ikan-di-sungai-musi https://www.greeners.co/aksi/tercemar-mikroplastik-masyarakat-sulit-cari-ikan-di-sungai-musi/#respond Tue, 19 Jul 2022 04:15:38 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=36771 Jakarta (Greeners) – Tim Ekspedisi sungai Nusantara (ESN), Perkumpulan Telapak Sumatra Selatan dan Spora Institut Palembang menemukan fakta semakin sulitnya mencari ikan di Sungai Musi. Tim menduga pencemaran mikroplastik berdampak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tim Ekspedisi sungai Nusantara (ESN), Perkumpulan Telapak Sumatra Selatan dan Spora Institut Palembang menemukan fakta semakin sulitnya mencari ikan di Sungai Musi. Tim menduga pencemaran mikroplastik berdampak pada turunnya populasi ikan di sungai tersebut.

Berdasarkan susur sungai yang mereka lakukan, salah satu pemicunya adalah pencemaran mikroplastik.
Direktur Eksekutif Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) Prigi Arisandi mengatakan, tingginya tingkat pencemaran bahan-bahan kimia pengganggu hormon memicu gangguan reproduksi ikan.

“Kondisi ini menurunkan populasi ikan dan punahnya ikan-ikan yang tidak toleran terhadap kadar polutan yang meningkat,” kata Prigi dalam keterangan resminya, Senin (18/7).

Beberapa jenis ikan di Sungai Musi yang semakin sulit masyarakat temukan seperti Baung Pisang, Kapiat, Patin, Tapah dan Belida.

Mikroplastik, phospat, logam berat dan klorin termasuk dalam kategori senyawa pengganggu hormon. Keberadaanya di sungai akan mengganggu proses pembentukan kelamin ikan.

Mikroplastik Picu Hormon Pengganggu Kelamin Ikan

Dari yang tim ESN ketahui, senyawa pengganggu hormon seperti mikroplastik ikan anggap sebagai hormon esterogenik. Hal ini menyebabkan lebih banyak ikan dengan jenis kelamin betina dibandingkan jantan.

“Sayangnya jantan inipun tidak bisa membuahi telur ikan bentina akibatnya terjadi penurunan populasi ikan,” ungkap Prigi.

Prigi menjelaskan, Tim ESN menemukan di dalam 100 liter air Sungai Musi terdapat 355 partikel mikroplastik” ungkap alumni Biologi Universitas Airlangga Surabaya ini.

Alumni biologi Universitas Airlangga Surabaya ini menyebut, jenis mikroplastik yang paling mendominasi adalah jenis fiber atau benang-benang jumlahnya mencapai 80 persen. Sedangkan jenis mikroplastik lainnya adalah granula, fragmen dan filamen.

Selain itu, tim juga meneliti uji kualitas air yang menunjukkan tingginya kadar logam berat Mangan dan Tembaga. Adapun Mangan mencapai 0,2 ppm dan Tembaga yaitu 0.06 ppm (standar tidak boleh lebih dari 0,03 ppm).

“Kadar klorin dan phospat cukup tinggi yaitu untuk klorin 0,16 mg/liter seharusnya tidak boleh lebih dari 0,03 mg/liter. Sementara phospat juga tinggi mencapai 0.59 mg/L. Tingginya kadar klorin dan phospat sangat mempengaruhi sistem pernafasan ikan dan mempengaruhi pembentukan telur ikan,” paparnya.

Prigi Arisandi dari Ecoton memperlihatkan kondisi ikan tangkap dari Sungai Musi. Foto: Tim ESN

Sampah Plastik Sekali Pakai Penuhi Permukaan Sungai Musi

Selain itu, Tim ESN juga menemukan permukaan Sungai Musi dipenuhi sampah plastik sekali pakai. Sementara para nelayan dan penjual ikan mulai mengeluhkan merosotnya jumlah tangkapan ikan dan ukuran ikan yang semakin mengecil.

Koordinator Telapak Sumatra Selatan Hariansyah Usman menyatakan, air Sungai Musi menjadi muara dari puluhan anak-anak sungai di Sumatra Selatan. Tingginya aktivitas alih fungsi lahan di hulu, aktivitas tambang tanpa ijin, perkebunan sawit dan pencemaran industri menimbulkan pencemaran di Sungai Musi. Padahal, air Sungai Musi masih dimanfaatkan sebagai bahan baku air minum masyarakat sekitar.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/tercemar-mikroplastik-masyarakat-sulit-cari-ikan-di-sungai-musi/feed/ 0
Banyak Ikan Sapu-Sapu di Kali Baru Mati, Perlu 12 Hari Ketahui Sebabnya https://www.greeners.co/berita/banyak-ikan-sapu-sapu-di-kali-baru-mati-perlu-12-hari-ketahui-sebabnya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=banyak-ikan-sapu-sapu-di-kali-baru-mati-perlu-12-hari-ketahui-sebabnya https://www.greeners.co/berita/banyak-ikan-sapu-sapu-di-kali-baru-mati-perlu-12-hari-ketahui-sebabnya/#respond Wed, 13 Jul 2022 06:36:40 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36711 Jakarta (Greeners) – Penyebab temuan ikan sapu-sapu yang mati di aliran Kali Baru, Kramat Jati, Jakarta Timur pada Senin (11/7) lalu masih belum terungkap. Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta […]]]>

Jakarta (Greeners) – Penyebab temuan ikan sapu-sapu yang mati di aliran Kali Baru, Kramat Jati, Jakarta Timur pada Senin (11/7) lalu masih belum terungkap. Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta kini tengah melakukan uji laboratorium. Hasil uji laboratorium membutuhkan waktu sekitar 12 hari.

Humas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Yogi Ichwan mengatakan, pihaknya telah mengirimkan petugas untuk mengambil sampel air di Kali Baru. Sampel ini kemudian mereka bawa ke Laboratorium Lingkungan Hidup Daerah (LLHD) DKI Jakarta.

“Kemudian dilakukan analisa sehingga dapat kita ketahui dari mana sumber pencemarnya,” katanya kepada Greeners, Rabu (13/7).

Dari pengamatan, ikan-ikan tersebut mati sehari pasca hari Raya Iduladha Minggu (10/7) lalu. Muncul dugaan kuat bahwa ikan-ikan tersebut mati karena sampah jeroan hewan kurban yang dibuang ke sungai.

Merespon hal ini, Yogi juga belum bisa memastikan dan menunggu dari hasil laboratorium. Hanya saja, ia menyatakan bahwa temuan ikan-ikan mati ini baru pertama kali terjadi.

“Kalau untuk Iduladha sebelumnya ini tidak pernah terjadi. Kami baru mendapatkan laporan ini kemarin Senin bertepatan dengan sehari setelah Iduladha,” imbuhnya.

Ikan Sapu-Sapu Miliki Peran Penting di Perairan

Yogi menambahkan, ikan sapu-sapu memiliki peranan yang penting di perairan. Selain efektif membersihkan perairan, ikan jenis ini turut mendekomposisi dan memakan sisa-sisa makanan biota air lainnya.

Tak hanya itu, bahkan ikan sapu-sapu menjadi indikasi pencemaran. Adapun salah satu parameter dalam uji laboratorium yaitu Biological Oxygen Demand (BOD), kandungan oksigen di dalam perairan. Ikan sapu-sapu, sambung Yogi merupakan ikan yang tahan dengan kadar oksigen rendah.

“Ketika ikan sapu-sapu mati bisa dipastikan kadar oksigennya sangat rendah sehingga memang dipastikan terjadi pencemaran,” ucapnya.

Selain melakukan pengujian sampel ikan sapu-sapu yang mati uji sampel pada air di Kali Baru tersebut juga DLH DKI Jakarta lakukan. Salah satu tujuannya yaitu untuk pengujian BOD atau oksigen dalam air tersebut.

DLH DKI Jakarta menyebut butuh 12 hari uji sampel di laboratorium untuk mengetahui penyebab atau sumber pencemar di Kali Baru, Kramat Jati. Foto: DLH DKI Jakarta

Pencemaran Sungai Bisa Sebabkan Ikan Mati

Sementara itu, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Suci Fitria Tanjung menyatakan, berkaca dari kondisi pencemaran sungai karena limbah ternah, imbasnya hampir pasti ikan mati.

Kandungan di dalam limbah ternak, lanjutnya berkontribusi pada penurunan kadar oksigen dalam air.
Padahal ikan sapu-sapu merupakan salah satu ikan invasif dengan karakteristik yang paling toleran terhadap pencemaran. “Kalau kadar oksigen turun drastis, apapun jenis ikannya akan sulit beradaptasi,” tandasnya.

Menurut Suci, kondisi eksisting 13 sungai di Jakarta saat ini memang sudah tercemar pada tingkat sedang hingga berat. Rata-rata, sambung dia sungai di Jakarta tercemar bakteri E.Coli dan unsur logam.

“Dalam Indeks Kualitas Lingkungan Hidup tahun 2021 yang DLH DKI Jakarta rilis, air sungai kita sudah berPH masam. Artinya kandungan logamnya sudah sangat tinggi. Ini dapat menghambat perkembangbiakan ikan dan berbahaya bagi manusia,” tuturnya.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Ekologi Observasi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton), Prigi Arisandi menyebut, matinya ikan sapu-sapu sangat mungkin karena sampah jeroan bersamaan dengan Hari Raya Iduladha.

Jeroan hewan kurban menyebabkan tingkat kekeruhan yang tinggi. Selain itu juga menimbulkan tingginya bakteri pengurai yang terlepas bersama dengan jeroan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/banyak-ikan-sapu-sapu-di-kali-baru-mati-perlu-12-hari-ketahui-sebabnya/feed/ 0
Presiden dan 2 Gubernur Disomasi atas Pencemaran Ciliwung https://www.greeners.co/aksi/presiden-dan-2-gubernur-disomasi-atas-pencemaran-ciliwung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=presiden-dan-2-gubernur-disomasi-atas-pencemaran-ciliwung https://www.greeners.co/aksi/presiden-dan-2-gubernur-disomasi-atas-pencemaran-ciliwung/#respond Thu, 26 May 2022 04:50:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=36272 Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) akhirnya resmi melayangkan somasi atas pencemaran Sungai Ciliwung, Selasa (24/5). Somasi tersebut mereka layangkan kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Gubernur […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) akhirnya resmi melayangkan somasi atas pencemaran Sungai Ciliwung, Selasa (24/5). Somasi tersebut mereka layangkan kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Direktur Eksekutif Ecoton Prigi Arisandi meminta Jokowi untuk memprioritaskan pemulihan Sungai Ciliwung sebagai sungai nasional yang mengalir di ibu kota.

“Pak Jokowi Sungai Ciliwung adalah sungai ibu kota, sungai nasional yang mengalir di ibu kota. Sungguh abai dan lalainya kita jika kita biarkan Ciliwung menjadi tempat sampah dan tempat buangan tinja,” katanya baru-baru ini.

Dalam keterangannya itu, ia juga menyebut sungai-sungai di Indonesia harus menanggung beban sampah dari kerja-kerja semua orang. Kini, saatnya untuk membersihkan sampah.

Selain itu, Prigi juga minta Jokowi bertanggung jawab pula pada kondisi sungai-sungai nasional lain yang bernasib sama dengan Ciliwung. Sungai tersebut antara lain Sungai Brantas, Bengawan Solo, Citarum yang berubah menjadi tempat sampah dan tempat buang tinja.

“Pak Jokowi tolong jaga dan bersihkan Sungai Ciliwung dan sungai-sungai di Indonesia karena sungai-sungai kita bukan tempat sampah. Sungai kita sumber kehidupan dan sumber peradaban. Pak Jokowi prioritaskan sungai-sungai di Indonesia,” ungkapnya.

Pencemaran Sungai Ciliwung Timbulkan Kerugian Lingkungan Hidup

Adapun alasan Ecoton melakukan somasi ini yaitu tak lain karena pencemaran Sungai Ciliwung telah menimbulkan kerugian lingkungan hidup. Utamanya, terhadap Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung itu sendiri.

“Ecoton mengajukan somasi terhadap Presiden Republik Indonesia, Gubernur DKI Jakarta dan Gubernur Jawa Barat melalui pertanggungjawaban perdata perbuatan melawan hukum. Sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 jo Pasal 1366 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,” paparnya.

Ecoton mengklaim Jokowi, Anies Baswedan dan Ridwan Kamil tidak pernah melakukan tindakan hukum dalam menangani pencemaran sungai. Yang terjadi hanya pembiaran pencemaran sampah di Sungai Ciliwung.

“Dalam hal ini secara jelas telah mengabaikan tugas, tanggung jawab dan kewenangannya,” imbuhnya.
Bahkan berdasarkan temuan Ecoton dalam kegiatan susur Sungai Ciliwung pada (15/5) lalu terdapat 1.332 pohon terlilit oleh sampah plastik dan kandungan mikroplastik. Saat mengambil sampel dari sejumlah titik untuk mengecek kandungan mikroplastik di laboratorium, banyak temuan yang memprihatinkan.

Ecoton layangkan somasi. Foto: Ecoton

Somasi karena Pemerintah Daerah Gagal Mengelola Lingkungan Hidup

Berdasarkan temuan itu pula, Ecoton menilai, kegagalan mengelola dan meningkatkan kesadaran atas pencemaran yang terjadi di Ciliwung juga tak hanya pada dua gubernur. Mereka menyebut presiden juga harus ikut bertanggung jawab. Menurutnya, potret dan kinerja pengelolaan sampah masih buruk.

Dalam tuntutannya Ecoton meminta Presiden RI untuk melakukan koordinasi, pembinaan dan pengawasan pada Gubernur DKI Jakarta dan Gubernur Jawa Barat. Selanjutnya peningkatan layanan pengelolaan sampah di Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat dan pembersihan sampah plastik di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung.

Di samping itu juga harus menyediakan sarana pengelolaan sampah dan TPST 3R di setiap wilayah yang berbatasan dengan bantaran sungai.

Apabila tidak ada tindakan nyata atas tuntutan somasi tersebut, Ecoton akan mengajukan gugatan kepada Presiden Republik Indonesia, Gubernur DKI Jakarta dan Gubernur Jawa Barat ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/presiden-dan-2-gubernur-disomasi-atas-pencemaran-ciliwung/feed/ 0
Gagal Tangani Pencemaran Sungai, Tiga Gubernur Disomasi https://www.greeners.co/berita/gagal-tangani-pencemaran-sungai-tiga-gubernur-disomasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gagal-tangani-pencemaran-sungai-tiga-gubernur-disomasi https://www.greeners.co/berita/gagal-tangani-pencemaran-sungai-tiga-gubernur-disomasi/#respond Wed, 13 Apr 2022 05:49:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35869 Jakarta (Greeners) – Sejumlah organisasi penggiat lingkungan hidup melayangkan somasi ke tiga gubernur di Pulau Jawa. Tiga gubernur dinilai gagal menekan dan menangani pencemaran sungai di wilayahnya masing-masing. Tiga gubernur […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sejumlah organisasi penggiat lingkungan hidup melayangkan somasi ke tiga gubernur di Pulau Jawa. Tiga gubernur dinilai gagal menekan dan menangani pencemaran sungai di wilayahnya masing-masing.

Tiga gubernur itu yakni Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Pencemaran dengan indikasi ditemukannya kontaminasi mikroplastik tak sekadar mengancam kesehatan dan lingkungan. Akan tetapi, ancaman serius terhadap rantai pangan di Pulau Jawa.

Direktur Eksekutif Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) Prigi Arisandi mengatakan, somasi ini berdasarkan ekspedisi 3 sungai, yaitu Sungai Brantas, Bengawan Solo dan Citarum. Salah urus pengelolaan sampah hingga buruknya tata kelola sungai telah menyebabkan pencemaran hingga kontaminasi mikroplastik di sungai Pulau Jawa.

“Para gubernur telah gagal dalam memenuhi tanggung jawab atas pemenuhan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat bagi warganya. Atas pertimbangan tersebut, kami melayangkan somasi atau teguran kepada para gubernur di Jawa agar segera merespon krisis kualitas air sungai dan sampah di wilayah administratif masing-masing,” katanya dalam jumpa pers Somasi untuk Para Gubernur sebagai Tanggung Jawab Atas Krisis Air Sungai dan Sampah di Pulau Jawa, di Jakarta, Selasa (12/4).

Tiga sungai besar tersebut merupakan sungai nasional di bawah pemerintah pusat. Akan tetapi, sambung Prigi, somasi tersebut mereka layangkan pada gubernur selaku koordinator pemerintah kabupaten kota sebagai pelaksana teknis terkait pencemaran di sungai. Pemerintah kota kabupaten lebih tahu secara teknis termasuk lokasi dan pelaku pencemaran.

“Itu melekat tanggung jawab mereka mengacu pada Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 bahwa tanggung jawab infrastruktur pengelolaan sampah ada di kabupaten kota. Termasuk izin pembuangan limbah cair industri ke sungai itu kabupaten kota yang memberikannya,” ucap Prigi.

Kandungan Mikroplastik di Sungai yang Tercemar

Organisasi penggiat lingkungan ini juga mengindikasikan pencemaran tinggi sungai dengan adanya mikroplastik di Sungai Brantas, Bengawan Solo, Citarum dan Ciliwung. Mikroplastik ditemukan di dalam tinja manusia, plasenta ibu hamil, paru paru dan di dalam darah.

Hal ini berdasarkan pengujian Ecoton terhadap 102 sampel tinja manusia. Ecoton menemukan mikroplastik di dalam 100 % sampel tinja masyarakat dan pemimpin daerah di Jawa dan Bali.
“Sampel kotorannya masing-masing 10 gram. Kita menemukan rata-rata sekitar 17-20 partikel mikroplastik dalam feses manusia itu,” imbuhnya.

Selain itu, kandungan phthalate dalam mikroplastik menyebabkan gangguan sistem hormon, di antaranya menstruasi dini, kualitas dan kuantitas sperma menurun, serta menopause dini.

Banyaknya jumlah partikel mikroplastik dalam lambung ikan juga sangat mengkhawatirkan. Sebab setiap mikroplastik mengandung bahan beracun aditif plasticizer yang bersifat pengganggu hormon atau endocrine disrupting chemicals (EDC).

Kondisi pencemaran di Sungai Brantas. Foto: The Brantas Review

Ecoton Temukan Kandungan Mikroplastik pada Ikan

Berdasarkan riset Ecoton di empat lokasi perairan meliputi sungai dan laut, hasilnya ada kelimpahan rata-rata mikroplastik pada ikan sebesar 20 partikel per ikan (sampel Bengawan Solo), 42 partikel per ikan (sampel Brantas), 68 partikel per ikan (sampel Citarum) dan 167 partikel per ikan (sampel Kepulauan Seribu).

Prigi menyebut, sumber mikroplastik di sungai berasal aktivitas pengelolaan limbah industri tekstil, daur ulang plastik dan kertas. Selain itu juga berasal dari non point source dari timbunan sampah plastik yang tidak terkelola di daratan hingga dibuang ke sempadan sungai dan membanjiri sungai.

Sungai Brantas, Bengawan Solo, Citarum dan Ciliwung merupakan sungai nasional yang memiliki peran vital bagi Indonesia karena selain sebagai air baku PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum). Air sungai ini juga sebagai sumber irigasi pertanian yang menyuplai lebih dari 50 % stok pangan nasional. Itu artinya, ini ancaman serius berupa mikroplastik terhadap rantai pangan di Pulau Jawa.

Prigi menyatakan, Pemerintah provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah telah menanggapi somasi tersebut. Setelah ini, pihaknya juga tengah menyiapkan somasi bagi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terkait pencemaran parah Sungai Ciliwung.

“Kita tunggu, ini nanti kan ada masa tenggang antara jawaban dan kenyataannya. Kalau tidak ada tindakan ya kita laporkan gugatan,” ujar dia.

Pembuangan Limbah Industri Perburuk Kerusakan Sungai di Jawa

Sementara itu, Pendiri Ecoton Daru Setyorini menyebut, kerusakan sungai di Jawa karena ketidakseriusan pengawasan pembuangan limbah cair industri di sungai. Imbasnya, industri tetap saja membuang limbah dengan pengolahan ala kadarnya.

“Sementara institusi yang memiliki kewenangan pengelolaan sungai dan pengendalian pencemaran seperti Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) hingga kepala daerah masih saling lempar tanggung jawab atas situasi krisis kualitas air sungai dan sampah,” tegasnya.

Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) himpun, timbulan sampah harian Jakarta dari tahun 2015 sampai tahun 2020 mengalami peningkatan. Dari tahun 2015 yang hanya sekitar 7.000 ton menjadi 8 300 ton per hari pada tahun 2020. Peningkatan tersebut diperparah dengan rendahnya jumlah sampah yang berhasil terkelola guna mengurangi beban TPA Bantargebang.

Walhi Jakarta mencatat pencemaran sungai di wilayah daratan Jakarta berasal dari sampah plastik sekali pakai seperti kantong plastik, styrofoam, sachet dan sedotan. Berbagai jenis sampah ini telah merusak ekosistem pesisir dan pulau kecil. Khususnya di wilayah Kepulauan Seribu seperti di Pulau Pari dan Pulau Rambut.

Direktur Eksekutif Walhi DKI Jakarta Suci Fitriah Tanjung menyatakan, DKI Jakarta sudah memiliki cukup banyak produk hukum yang mengatur soal sampah. Akan tetapi produk hukum tersebut belum maksimal terlaksana.

“Situasi ini mengakibatkan kondisi eksisting Sungai Ciliwung yang tercemar sampah sulit dibenahi dan bahkan semakin mengkhawatirkan,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/gagal-tangani-pencemaran-sungai-tiga-gubernur-disomasi/feed/ 0
Ekspedisi Tiga Sungai Nusantara Temukan Pencemaran Mikroplastik https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-tiga-sungai-nusantara-temukan-pencemaran-mikroplastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ekspedisi-tiga-sungai-nusantara-temukan-pencemaran-mikroplastik https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-tiga-sungai-nusantara-temukan-pencemaran-mikroplastik/#respond Sun, 13 Mar 2022 03:53:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=35563 Jakarta (Greeners) – Tiga sungai besar di Pulau Jawa dan biota serta ikan di dalamnya telah tercemar mikroplastik. Padahal, ikan merupakan sumber protein yang sangat manusia butuhkan untuk memenuhi kebutuhan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tiga sungai besar di Pulau Jawa dan biota serta ikan di dalamnya telah tercemar mikroplastik. Padahal, ikan merupakan sumber protein yang sangat manusia butuhkan untuk memenuhi kebutuhan gizi. Tiga sungai besar tersebut yaitu Sungai Brantas, Sungai Bengawan Solo serta Sungai Citarum.

Kajian tersebut Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah atau Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) lakukan pada Januari hingga Maret 2021. Dalam ekspedisi itu Ecoton mendapati tiga sungai tersebut telah terkontaminasi pencemaran mikroplastik.

Mikroplastik merupakan plastik dengan ukuran yang tak bisa manusia lihat dengan mata telanjang atau berukuran mikroskopis. Mikroplastik berasal dari sampah sachet yang sudah banyak tersebar di lingkungan hingga badan air sungai.

Koordinator Advokasi dan Litigasi Ecoton Kholid Basyaiban mengatakan, sampah plastik yang telah terpapar sinar matahari akan langsung terfragmentasi. Sampah plastik itu menjadi remahan plastik atau mikroplastik. Keberadaan mikroplastik sangat mengganggu ekosistem sungai. Pasalnya, sambung Kholid terdapat rantai yang berkesinambungan dan berdampak buruk pada lingkungan dan manusia.

“Ikan-ikan di sungai sangat bergantung pada plankton dan mikroba. Dan ketika digantikan dengan mikroplastik, otomatis akan termakan oleh ikan dan berimbas pada kita sebagai manusia karena ikan tak layak konsumsi,” katanya dalam program SABI bersama Greeners, Sabtu (12/3).

Pencemaran Mikroplastik Bisa Terbawa Di Saluran Pipa Air

Selain itu, mikroplastik yang berukuran <5 mm lolos dalam screening PDAM, sehingga terbawa ke saluran pipa distribusi dan turut masyarakat secara luas konsumsi. “Itu artinya, air minum berasal dari PDAM yang kita konsumsi turut terkontaminasi mikroplastik dan menyebar ke tubuh,” ungkapnya.

Lebih parahnya lagi, sambung Kholid ikan-ikan yang termakan oleh manusia juga berdampak pada kesehatan. Ikan tak layak yang manusia makan akan berpengaruh terhadap fungsi hormon, hingga mengganggu sistem reproduksi. “Misalnya, bisa berpengaruh pada menopause dini untuk perempuan dan bagi lelaki akan berpengaruh fungsi reproduksinya,” ungkapnya.

Penelitian ini berangkat dari kecurigaan para peneliti Ecoton yang menemukan kandungan mikroplastik pada tiga sungai besar tersebut. Dengan identifikasi awal tersebut, para peneliti meyakini bahwa mikroplastik akan berdampak pada biota, serta ikan-ikan yang ada dalam tiga sungai tersebut.

Hasil penelitian Ecoton menunjukkan ternyata memang banyak temuan jenis mikroplastik, seperti fragmen, granula, filamen, hingga fiber. Adapun untuk mikroplastik jenis fragmen banyak Ecoton temui dalam pecahan atau remah-remahan plastik yang keras. Misalnya pada botol air minum sekali pakai hingga kotak makan.

Sementara jenis mikroplastik fiber berasal dari limbah pascacuci baju. Limbah rumah tangga tersebut turut berkontribusi menyumbang mikroplastik. Sedangkan, jenis mikroplastik filamen banyak berasal dari plastik kemasan yang lebih tipis, dari kantong kresek.

Granula merupakan jenis mikroplastik yang sering terdapat pada produk-produk perawatan tubuh. Misalnya, produk scrub yang juga memiliki kandungan granula.

Cemaran mikroplastik yang Ecoton temukan membahayakan biota sungai dan juga manusia. Foto: Ecoton

Tiga Sungai Telah Tercemar

Berdasarkan penelitian Ecoton, tiga sungai besar teridentifikasi ada pencemaran mikroplastik yaitu Sungai Brantas sebanyak 42 partikel mikroplastik per ikan. Lalu Sungai Bengawan Solo, 20 partikel mikroplastik per ikan dan Sungai Citarum 68 partikel mikroplastik per ikan.

Tak hanya itu, berdasarkan riset tersebut Ecoton juga menemukan indikasi bahwa ikan menjadi interseksual atau memiliki jenis kelamin tak menentu. Ini karena akibat adanya Endrocine-Disrupting Chemicals (EDC) yang mengganggu sistem hormon ikan.

Ketentuan tanggung jawab sampah kemasan yang produsen hasilkan telah ada dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor 75 Tahun 2019 Tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.

Kholid merekomendasikan kepada para produsen untuk melakukan redesain terhadap kemasan sachet atau yang mengandung mikroplastik menjadi kemasan yang lebih ramah lingkungan.

“Kami harap produsen akan melakukan redesain dengan menggunakan kemasan yang ramah lingkungan, bukan malah memperbanyak sachet,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-tiga-sungai-nusantara-temukan-pencemaran-mikroplastik/feed/ 0
Tiga Sungai Besar di Jawa Barat Tercemar Berat https://www.greeners.co/berita/tiga-sungai-besar-di-jawa-barat-tercemar-berat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tiga-sungai-besar-di-jawa-barat-tercemar-berat https://www.greeners.co/berita/tiga-sungai-besar-di-jawa-barat-tercemar-berat/#respond Sun, 27 Dec 2015 12:00:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12373 KLHK) memasukkan tiga sungai besar di Jawa Barat ke dalam tiga sungai prioritas pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 dengan target menjadikan ketiga sungai tersebut untuk masuk ke dalam kategori kelas dua.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memasukkan tiga sungai besar di Jawa Barat ke dalam tiga sungai prioritas pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 dengan target menjadikan ketiga sungai tersebut untuk masuk ke dalam kategori kelas dua.

Direktur Pengendalian Pencemaran Air KLHK, SPM Budi Susanti, mengatakan bahwa ketiga sungai tersebut, yaitu sungai Ciliwung, Citarum dan Cisadane, dipilih karena pencemaran yang dialami telah melewati batas dari empat kategori pencemaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pencemaran Air.

“Jadi, ketiga sungai besar yang tidak berkelas tadi statusnya sudah tercemar berat. Dalam RPJMN kita targetkan harus jadi kelas dua. Ini pekerjaan rumah yang tidak mudah,” katanya kepada Greeners, Jakarta, Minggu (27/12).

Budi Susanti menyatakan, pencemaran ketiga sungai ini didominasi oleh limbah domestik yang dihasilkan dari pola perilaku masyarakat yang tidak disiplin dalam menggunakan dan mengelola air limbah serta sanitasi yang benar.

Sungai Ciliwung, lanjutnya, 90 persen limbahnya berasal dari limbah domestik masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, dimana tempat Mandi Cuci Kakus (MCK) langsung dilakukan di sungai.

“Kalau Citarum dan Cisadane pencemarannya sudah sampai sekitar 75 hingga 80 persen dari penyumbang limbah domestik. Apalagi ada 11 sungai juga dari lintas provinsi lain yang masuk ke DKI Jakarta seperti Pesanggrahan, Cipinang, Sunter yang menyebabkan pencemaran terus bertambah,” ujarnya.

Direktur Pengendalian Pencemaran Air KLHK, SPM Budi Susanti. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Direktur Pengendalian Pencemaran Air KLHK, SPM Budi Susanti. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Selain ketiga sungai tersebut, Budi Susanti mengungkapkan bahwa ada sungai lainnya yang juga masuk dalam RPJMN untuk dilakukan perbaikan. Diantaranya sungai Brantas, Bengawan Solo, Serayu, Kapuas, Siak, Asahan, Musi, Wai Seputih, Wai Sekampung, Jeniberang, Moyo, Sadang, dan juga Danau Limboto.

“Dari keseluruhan sungai itu, ternyata ada yang masih memenuhi baku mutu kelas dua yaitu Sungai Musi. Itu harus dilakukan pencegahan biar tidak mengikuti yang lainnya. Selebihnya banyak yang sudah tercemar,” lanjutnya.

Menurut Budi Susanti, tahun 2017 alokasi beban 15 sungai tersebut harus sudah ada. “Silahkan tiap kabupaten kota menetapkan kebijakan internalnya sehingga bisa memenuhi beban itu. Kalau alokasi beban itu tidak dipenuhi maka akan berat untuk mengejar kelas dua,” ujarnya.

Untuk membenahi hal tersebut, tahun 2015 ini KLHK telah menetapkan daya tampung beban pencemaran di tiga sungai tersebut dan akan menetapkan alokasi beban limbah yang boleh masuk ke tiga sungai itu setiap tahunnya untuk mengejar target kategori kelas dua pada tahun 2019.

“Dalam kita mengejar kelas itu, kita harus menurunkan beban pencemaran. Apabila dalam kondisi yang harus dilakukan pemulihan, maka dilakukan. Menetapkan alokasi beban pencemaran sehingga tahu berapa beban yang harus diturunkan setiap kabupaten kotanya dan alokasi beban yang sudah ditetapkan. Itu menjadi tanggungjawab Pemda, Kabupaten kota, pada setiap sekmen sungainya yang dilewati dari hulu sampai hilir,” pungkasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pencemaran Air, klasifikasi mutu air ditetapkan menjadi empat kelas, yaitu:

Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang memper-syaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;

Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;

Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;

Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/tiga-sungai-besar-di-jawa-barat-tercemar-berat/feed/ 0