kemarau basah - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/kemarau-basah/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 08 Jul 2025 07:24:06 +0000 id hourly 1 BMKG Prediksi Kemarau Basah Berlangsung hingga Oktober https://www.greeners.co/berita/bmkg-prediksi-kemarau-basah-berlangsung-hingga-oktober/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-prediksi-kemarau-basah-berlangsung-hingga-oktober https://www.greeners.co/berita/bmkg-prediksi-kemarau-basah-berlangsung-hingga-oktober/#respond Tue, 08 Jul 2025 07:24:06 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=46946 Jakarta (Greeners) – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyatakan bahwa hujan diprediksi terus turun selama musim kemarau akibat anomali cuaca. BMKG menyebut sebagian besar wilayah Indonesia […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyatakan bahwa hujan diprediksi terus turun selama musim kemarau akibat anomali cuaca. BMKG menyebut sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami kemarau basah hingga Oktober 2025. Oleh sebab itu, ia meminta masyarakat waspada potensi bencana hidrometeorologi.

“Melemahnya Monsun Australia yang berasosiasi dengan musim kemarau turut menyebabkan suhu muka laut di selatan Indonesia tetap hangat. Hal ini berkontribusi terhadap terjadinya anomali curah hujan tersebut,” kata Dwikorita dalam Konferensi Pers bertajuk ‘Perkembangan Cuaca dan Iklim’ secara daring, Senin (7/7).

Selain itu, gelombang Kelvin aktif yang terpantau melintas di pesisir utara Jawa, serta pelambatan dan belokan angin di Jawa bagian barat dan selatan memicu penumpukan massa udara. Kemudian, konvergensi angin dan labilitas atmosfer lokal juga tepantau kuat. Hal itu mempercepat pertumbuhan awan hujan.

BACA JUGA: Hadapi La Nina, Indonesia Harus Belajar Dari Dampak Musim Kemarau

Berdasarkan iklim global, BMKG dan beberapa pusat iklim dunia memprediksi ENSO (suhu muka air laut di Samudra Pasifik) dan IOD (suhu muka air laut di Samudra Hindia), akan tetap berada di fase netral pada semester kedua tahun 2025.

Dwikorita menegaskan bahwa sebagian wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan di atas normal dari yang seharusnya terjadi di musim kemarau (kemarau basah).

Musim Kemarau Alami Kemunduran

Di sisi lain, kondisi ini juga sejalan dengan prediksi BMKG pada Maret 2025 bahwa kemarau tahun ini akan mengalami kemunduran pada sekitar 29 persen Zona Musim (ZOM). Terutama di wilayah Lampung, sebagian besar Pulau Jawam Bali, NTB, dan NTT.

Pemantauan hingga akhir Juni 2025 menunjukkan bahwa baru sekitar 30 persen Zona Musim yang telah memasuki musim kemarau. Angka ini hanya setengah dari kondisi normal, di mana secara klimatologis sekitar 64 persen Zona Musim biasanya telah mengalami musim kemarau pada akhir Juni.

Dwikorita menyoroti cuaca ekstrem yang mengintai sejumlah wilayah destinasi wisata, padat penduduk, dan aktivitas transportasi tinggi. Oleh karena itu, peringatan dini telah BMKG keluarkan sejak 28 Juni agar aktivitas libur sekolah dapat termitigasi.

Beberapa wilayah yang perlu masyarakat waspadai adalah sebagian Pulau Jawa bagian barat dan tengah, terutama Jabodetabek. Wilayah lainnya seperti Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Maluku, dan Papua juga perlu masyarakat waspadai. Wilayah tersebut sudah terkonfirmasi terjadi hujan intensitas lebat, sangat lebat, hingga ekstrem pada beberapa hari terakhir.

Kemudian, pada 5 Juli 2025, hujan intensitas lebih dari 100 mm per hari (lebat hingga sangat lebat) di wilayah Bogor. Bahkan, Mataram, dan sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan juga terguyur hujan.

“Hujan ekstrem tersebut berdampak kepada banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan pohon tumbang. Hujan lebat juga terjadi di wilayah Tangerang dan Jakarta Timur yang mengakibatkan genangan, kerusakan infrastruktur, dan gangguan aktivitas masyarakat,” paparnya.

Begitu pula pada 6 Juli 2025, hujan kembali terjadi secara luas di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Terutama Tengerang yang menyebabkan genangan air, antrean lalu lintas, serta peningkatan potensi bencana hidrometeorologi. Intensitas hujan lebat tercatat lebih dari 100 mm per hari. Bahkan mencapai 150 mm per hari di daerah Puncak, Jawa Barat.

Laksanakan Operasi Modifikasi Cuaca

Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca Tri Handoko Seto menjelaskan saat ini BMKG terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD, operator transportasi, dan pihak lain sebagai tindak lanjut atas kondisi ini.

Demikian pula bersama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC). Operasi yang berlangsung di DKI Jakarta dan Jawa Barat akan berlangsung pada Senin 7 Juli – Jumat 11 Juli 2025.

“Tentu nanti kami akan lihat perkembangan cuacanya. Kami terus berkoordinasi dengan pemda dan BNPB sebagai pihak yang menyediakan anggaran,” jelasnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-prediksi-kemarau-basah-berlangsung-hingga-oktober/feed/ 0
Musim Kemarau 2022 Lebih Kering, BMKG Ingatkan Potensi Karhutla https://www.greeners.co/berita/musim-kemarau-2022-lebih-kering-bmkg-ingatkan-potensi-karhutla/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=musim-kemarau-2022-lebih-kering-bmkg-ingatkan-potensi-karhutla https://www.greeners.co/berita/musim-kemarau-2022-lebih-kering-bmkg-ingatkan-potensi-karhutla/#respond Sun, 20 Mar 2022 05:00:07 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35644 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau pada tahun 2022 akan di bawah normal atau lebih kering. Oleh sebab itu perlu peningkatan kewaspadaan terhadap bahaya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau pada tahun 2022 akan di bawah normal atau lebih kering. Oleh sebab itu perlu peningkatan kewaspadaan terhadap bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Kita tahu tahun lalu kemarau itu bersifat di atas normal atau cenderung basah. Jadi jika dibandingkan dengan tahun 2021 maka potensi karhutla di tahun 2022 akan lebih besar,” kata Plt Deputi Klimatologi BMKG Urip Haryoko dalam jumpa Pers virtual: Prakiraan Musim Kemarau 2022, baru-baru ini.

Tak hanya itu, Urip juga menyebut, saat ini sudah terdapat 18 titik hotspot karhutla yang ada di Indonesia. Hotspot terpantau di Aceh, Riau, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Kepulauan Bangka Belitung dan Kalimantan Barat.

“Sehingga jika melihat kecenderungan musim kemarau tahun ini, kita perlu waspada potensi kebakaran hutan dan lahan,” imbuhnya.

Selain itu, Urip menyebut pentingnya pemanfaatan wilayah zona musim yang kemaraunya mundur untuk menampung hujan. Pasalnya, di beberapa wilayah terjadi kemunduran musim kemarau sekitar 47,7 % zona musim (ZOM). Hal ini akan memberikan keuntungan terkait ketersediaan air untuk kebutuhan tanaman pada musim tanam kedua.

“Ini juga memberikan kesempatan pada para stakeholder untuk menampung air atau memanen air hujan dalam mengantisipasi musim kemarau,” ucap Urip.

Waspada Puncak Musim Hujan di Sulawesi dan Ambon

Sementara itu, peningkatan kewaspadaan juga harus masyarakat tingkatkan. Khususnya menghadapi potensi banjir. Sebab di sebagian kecil wilayah masih ada yang memasuki musim hujan saat wilayah lain masuk musim kemarau. Puncaknya, sambung Urip yaitu pada pertengahan tahun 2022 misalnya di wilayah Sulawesi dan Ambon.

“Seperti pada tahun 2020 misalnya terjadi banjir besar di Luwu pada bulan Juli di mana sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Namun ada beberapa daerah yang justru terjadi banjir,” paparnya.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2022. Akan tetapi, ia menyebut, awal kemarau pada 163 dari 343 ZOM di Indonesia akan mundur. Pemicunya, yakni fenomena La Nina yang masih ada hingga pertengahan 2022.

“La Nina masih bertahan. Artinya potensi peningkatan curah hujan masih dapat terjadi hingga pertengahan 2022,” kata Dwikorita.

BMKG Bandingkan Musim Kemarau 2022 dengan Periode 1991-2020

Lebih jauh, ia menyebut ada beberapa kecenderungan perbedaan rerata klimatologis mulai dari tahun 1991 hingga 2020 terkait dengan awal musim kemarau. “Awal musim kemarau tahun 2022 di Indonesia diperkirakan mundur pada 163 zona musim atau 47,7 % zona musim mengalami awal musim kemarau mundur,” ungkap dia.

Sementara pada 90 zona musim atau 26,6 % zona musim mengalami musim kemarau yang sama dengan rerata musim kemarau pada tahun 1991 hingga 2020. Sebanyak 89 zona musim atau 26 % zona musim sudah memasuki musim kemarau.

Dwikorita menyatakan, dibanding rerata klimatologis, berdasar akumulasi curah hujan musim kemarau periode 1991 hingga 2020 maka sifat hujan pada musim kemarau tahun ini perkiraannya normal. Atau sama dengan rerata dengan klimatologisnya pada 197 zona musim atau 57,6 % normal.

Akan tetapi, sejumlah 104 zona musim atau 30,4 % akan mengalami kondisi kemarau di atas normal atau musim kemarau lebih basah dari rerata klimatologisnya. Ia menyebut turunnya hujan di musim kemarau lebih tinggi dari rerata klimatologisnya. Sebanyak 41 zona musim atau 12 % zona musim akan mengalami musim kemarau di bawah normal atau lebih kering yaitu curah hujan lebih rendah dari reratanya.

Dwikorita menyatakan, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau tahun ini pada bulan Agustus, yakni sebanyak 52,9 % zona musim. “Kemudian kami simpulkan musim kemarau pada tahun ini akan datang lebih lambat dibandingkan normalnya. Dengan intensitas yang mirip dengan kondisi musim kemarau biasanya,” ungkapnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/musim-kemarau-2022-lebih-kering-bmkg-ingatkan-potensi-karhutla/feed/ 0
Hadapi La Nina, Indonesia Harus Belajar Dari Dampak Musim Kemarau https://www.greeners.co/berita/hadapi-la-nina-indonesia-harus-belajar-dari-dampak-musim-kemarau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hadapi-la-nina-indonesia-harus-belajar-dari-dampak-musim-kemarau https://www.greeners.co/berita/hadapi-la-nina-indonesia-harus-belajar-dari-dampak-musim-kemarau/#respond Mon, 12 Oct 2015 09:43:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11468 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisikia (BMKG) memprediksikan musim kemarau akan berakhir pada akhir November mendatang. Selain itu, pengaruh El Nino juga diprediksikan akan berakhir dan berganti dengan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisikia (BMKG) memprediksikan musim kemarau akan berakhir pada akhir November mendatang. Selain itu, pengaruh El Nino juga diprediksikan akan berakhir dan berganti dengan fenomena La Nina yang diperkirakan akan datang pada bulan Mei 2016 saat masuk musim kering.

Kepala BMKG, Andi Eka Sakya menyatakan bahwa apa yang terjadi pada masa datangnya EL Nino yang melanda Indonesia beberapa waktu belakangan harus menjadi peringatan dan proses pembelajaran untuk lebih pintar mengetahui kebutuhan air saat musim kemarau.

Untuk itu, sebelum datangnya fenomena La Nina, ia mengatakan harus ada proses manajemen perencanaan yang baik pada musim kering untuk mengantisipasi datangnya La Nina agar tidak menjadi bencana.

“Saat musim kemarau ini kita sudah coba siapkan sumur-sumur resapan, embung-embung penampung air, membersihkan bantaran sungai, menguruk endapannya dan banyak lagi. Sehingga nantinya dampak negatif dari kelebihan air yang dihasilkan oleh La Nina dapat diredam dan dimanfaatkan sehingga tidak menjadi bencana seperti banjir dan longsor,” terang Andi saat dihubungi oleh Greeners melalui sambungan telepon,” Jakarta, Senin (12/10).

Menurut Andi, kejadian kekeringan yang terjadi belakangan ini seharusnya bisa diatasi dengan tendon-tendon air yang sudah dibuat. Artinya, ketika musim hujan datang seharusnya tendon-tendon air dapat menampung limpahan air yang berlebihan sehingga saat kemarau kembali datang, simpanan air tesebut dapat digunakan untuk mengatasi kekeringan.

“Tanpa ingin menyalahkan berbagai pihak, kita ini kan punya dua siklus musim. Hujan dan kemarau. Kalau tata cara berpikir kita itu adalah proses manajemen perencanaan, maka dengan sendirinya ketika musim hujan kita mempersiapkan musim kemarau dan sebaliknya,” ujarnya.

La Nina sendiri terjadi setelah El Nino berakhir dan berlangsung cukup panjang. Menurut Andi, El Nino hanya berlangsung selama tiga sampai empat bulan, sementara La Nina bisa terjadi hingga tujuh atau delapan bulan. Di Indonesia, La Nina datang saat musim kemarau oleh karena itu sering disebut kemarau basah.

“Maksudnya, kemarau tapi hujan terus. Nah, itu yang dimaksud dengan kemarau basah. Ini juga bisa jadi potensi masalah terhadap petani,” pungkasnya.

Sebagai informasi, fenomena La Nina yang dalam bahasa latin berarti “gadis cilik” adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan suhu muka laut di kawasan Timur equator di Lautan Pasifik. La Nina tidak dapat dilihat secara fisik dan periodenya pun tidak tetap.

Fenomena La Nina menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia bertambah dan berpotensi menyebabkan banjir. Namun karena posisi geografis Indonesia yang dikenal sebagai benua maritim, maka tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena La Nina.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/hadapi-la-nina-indonesia-harus-belajar-dari-dampak-musim-kemarau/feed/ 0