kenaikan suhu - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/kenaikan-suhu/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 22 Dec 2022 05:53:12 +0000 id hourly 1 Suhu Tahun 2023 Diprediksi Bakal Lebih Panas https://www.greeners.co/berita/suhu-tahun-2023-diprediksi-bakal-lebih-panas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=suhu-tahun-2023-diprediksi-bakal-lebih-panas https://www.greeners.co/berita/suhu-tahun-2023-diprediksi-bakal-lebih-panas/#respond Thu, 22 Dec 2022 05:53:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=38358 Jakarta (Greeners) – Met Office Inggris memprediksi tahun 2023 akan menjadi tahun terpanas. Suhu rata-rata global bakal naik sekitar 1,2 derajat Celcius. Jika benar, suhu panas di tahun 2023 mengalahkan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Met Office Inggris memprediksi tahun 2023 akan menjadi tahun terpanas. Suhu rata-rata global bakal naik sekitar 1,2 derajat Celcius. Jika benar, suhu panas di tahun 2023 mengalahkan rekor suhu serupa di tahun 2016.

Kenaikan suhu tersebut akan menambah deretan rekam jejak suhu rata-rata global yang naik 1 derajat Celcius di atas suhu praindustri tahun 1850-1900.

Sebelumnya, rekor tahun panas saat ini terjadi pada tahun 2016. Di tahun itu, pola iklim El Nino di Pasifik telah mendorong suhu global di atas tren pemanasan global.

“Tanpa El Nino sebelumnya untuk meningkatkan suhu global, 2023 mungkin bukan tahun yang memecahkan rekor. Tetapi dengan latar belakang peningkatan emisi gas rumah kaca global yang terus berlanjut, kemungkinan tahun depan akan menjadi tahun penting lainnya dalam seri ini,” kata Kepala Prediksi Jarak Jauh di Met Office Adam Scaife, seperti dilansir The Guardian, Rabu (21/12).

La Nina Meluruh

Dr Nick Dunstone yang telah memimpin perkiraan suhu global 2023 mengatakan, suhu global dalam tiga tahun terakhir dapat pengaruh dari La Nina yang berkepanjangan. Suhu permukaan laut menjadi lebih dingin dari rata-rata yang terjadi di Pasifik tropis. La Nina memiliki efek pendinginan sementara pada suhu rata-rata global.

Namun untuk tahun depan, model iklim menunjukkan berakhirnya La Nina yang terjadi tiga tahun berturut-turut. Kondisi akan kembali relatif lebih hangat di beberapa bagian Pasifik tropis.

Tahun lalu, Met Office memperkirakan kenaikan suhu global tahun 2022 akan berada antara 0,97 derajat Celcius dan 1,21 derajat Celcius di atas tingkat praindustri. Sementara itu data hingga Oktober menunjukkan suhu sekitar 1,16 derajat Celcius di atas era praindustri.

Kenaikan suhu 1,5 derajat Celcius dalam kurun waktu 20 tahun menandai perubahan iklim. Foto: Shutterstock

Kenaikan Suhu Panas Terus Terjadi

Koordinator Bidang Analisis Perubahan Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kadarsah memperkirakan kenaikan suhu bumi tahun 2023 bisa saja mengalahkan rekor terpanas tahun 2016.

Mengacu data BMKG, tahun terpanas di Indonesia pada tahun 2016, mengalami kenaikan 0,8 derajat Celcius. Lalu pada tahun 2019 naik 0,6 derajat Celcius, dan tahun 2020 naik 0,7 derajat Celcius.

Untuk suhu normal udara tahun 1981-2010 di Indonesia rata-rata 26,6 derajat Celcius. Sementara angka rata-rata pada tahun 2020 meningkat menjadi 27,3 derajat Celcius.

“Peningkatan suhu pada tahun 2023 bisa saja terjadi mengalahkan rekor tahun 2016. Penyebabnya yaitu peningkatan gas rumah kaca khususnya CO2 dari aktivitas manusia yang semakin meningkat memicu perubahan iklim,” kata dia kepada Greeners, Kamis (22/12).

Selain itu, Kadarsah menyebut semakin maraknya penggundulan hutan, penggunaan energi fosil (batu bara) serta jumlah kendaraan bermotor berkontribusi signifikan terhadap emisi karbon.

Kadarsah menyebut, perubahan iklim secara langsung dan tidak langsung akan memengaruhi intensitas maupun kekuatan bencana alam, seperti bencana hidrometeorologi di Indonesia.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/suhu-tahun-2023-diprediksi-bakal-lebih-panas/feed/ 0
Emisi Cetak Rekor Tertinggi saat Pelonggaran di Masa Covid-19 https://www.greeners.co/berita/emisi-cetak-rekor-tertinggi-saat-pelonggaran-di-masa-covid-19/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=emisi-cetak-rekor-tertinggi-saat-pelonggaran-di-masa-covid-19 https://www.greeners.co/berita/emisi-cetak-rekor-tertinggi-saat-pelonggaran-di-masa-covid-19/#respond Tue, 15 Nov 2022 05:48:27 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37983 Jakarta (Greeners) – Para ilmuwan dari Global Carbon Project pada COP27 mengungkap, pemberlakukan pembatasan selama pandemi Covid-19 berdampak para penurunan emisi pada tahun 2020 sebesar -5,2 %. Namun tren itu […]]]>

Jakarta (Greeners) – Para ilmuwan dari Global Carbon Project pada COP27 mengungkap, pemberlakukan pembatasan selama pandemi Covid-19 berdampak para penurunan emisi pada tahun 2020 sebesar -5,2 %. Namun tren itu tak bertahan lama seiring peningkatan emisi 5,6 % pada tahun 2021, saat ada pelonggaran pembatasan aktivitas masyarakat.

Ilmuwan iklim memperingatkan, emisi karbon dioksida berbahaya dari bahan fosil akan naik 1 % lebih banyak tahun ini. Angka tersebut mendorong emisi karbon naik ke titik tertinggi sepanjang masa.

Merespon hal itu, pengamat lingkungan dari Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa menyatakan, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan laporan sebelum COP27 berjudul “The Closing Window”.

Dalam laporan menyebut, ada tanda-tanda kenaikan kondisi tersebut tahun 2021. Setelah pengurangan emisi saat pandemi tahun 2020, kondisi tahun 2021 mengarah pada kenaikan suhu permukaan bumi di atas 1,5 derajat Celcius. “Ini yang dikhawatirkan para pihak,” katanya kepada Greeners, Selasa (15/11).

Para ilmuwan telah menyatakan, peluang menjaga 1,5 derajat Celcius telah tertutup dengan kenaikan suhu bumi yang sekarang terjadi. Dalam laporan PBB tersebut juga menyebut emisi global tidak boleh lebih dari 33 giga ton di tahun 2030.

“Tapi dengan kenaikan yang terus terjadi, PBB memprediksi di tahun 2030 emisinya akan mencapai 58 giga ton,” imbuhnya.

Lonjakan Emisi Sulitkan Tekan Kenaikan Suhu

Peningkatan emisi karbon ini memperburuk dampak perubahan iklim. Kondisi ini memicu banyak bencana, seperti gelombang panas, banjir, tanah longsor, hingga puting beliung. Di Indonesia, bencana-bencana hidrometeorologis tersebut meningkat dan berimbas pada sektor pertanian, nelayan hingga kehidupan di perkotaan dan memperburuk ekonomi.

“Sedangkan, jika hanya mengimplementasikan Paris Agreement maka hanya mengoreksi tiga hingga enam giga ton. Jadi sama sekali jauh dari cukup. Para ilmuwan mengatakan say goodbye dengan 1,5 derajat Celcius,” jelas dia.

Sementara itu, pembatasan pandemi yang merupakan bagian dari protokol Covid-19 di satu sisi berdampak positif terhadap penurunan emisi. Tapi berdampak buruk pada kondisi perekonomian. Mahawan menyebut, budaya gaya hidup digital dengan minim pertemuan fisik turut berkontribusi penurunan emisi sektor transportasi.

“Ini tentu harus diikuti dengan meningkatkan gaya hidup rendah emisi, seperti hemat konsumsi energi, dan memilih tak menggunakan transportasi BBM,” imbuhnya.

Mahawan juga mendorong pentingnya transisi listrik dari energi kotor ke energi terbarukan. Hal ini seiring dengan komitmen net zero emission Indonesia tahun 2060 atau lebih cepat.

Transportasi menyumbang faktor yang meningkatkan perubahan iklim. Foto: Freepik

Efektivitas Pembatasan Aktivitas

Ketua Kebijakan Keenergian dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Retno Gumilang Dewi berpendapat, pembatasan selama pandemi Covid-19 berdampak signifikan terhadap pengurangan emisi karena minimnya mobilitas transportasi masyarakat.

“Nanti bisa juga dipikirkan pentingnya work from home itu bisa mendukung untuk penurunan emisi. Karena begitu dilakukan pembatasan semua kerja dari rumah,” kata dia.

Namun, ia juga mendorong agar PLN yang saat ini memanfaatkan energi fosil batu bara transisi ke renewable energy secara menyeluruh. “Komitmen PLN menuju 2030 nanti akan perlahan-lahan menurunkan penggunaan fosil hingga tahun 2030, dan menuju tahun 2060 nanti akan nol,” ungkapnya.

Dalam konteks wilayah DKI Jakarta berdasarkan kajian, jenis energi paling banyak masyarakat konsumsi dari sektor energi yakni BBM sekitar 52 %. Sementara pascapembatasan, terjadi peningkatan energi sebesar 9 %.

Hingga saat ini emisi karbon global bahan bakar fosil telah tumbuh 0,6 % per tahun selama 10 tahun terakhir. Emisi batu bara berpotensi capai titik tertinggi baru. Studi Global Carbon Project dan temuan lainnya tersebut terbit dalam laporan pada, Jumat (11/11) lalu. Para peneliti Pusat Penelitian Iklim Internasional (CICERO) yang berbasis di Norwegia menerbitkan laporan tersebut.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/emisi-cetak-rekor-tertinggi-saat-pelonggaran-di-masa-covid-19/feed/ 0
Anomali Suhu Agustus 2022 Tertinggi Ke-5, 2016 Tetap Tahun Terpanas https://www.greeners.co/berita/anomali-suhu-agustus-2022-tertinggi-ke-5-2016-tetap-tahun-terpanas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=anomali-suhu-agustus-2022-tertinggi-ke-5-2016-tetap-tahun-terpanas https://www.greeners.co/berita/anomali-suhu-agustus-2022-tertinggi-ke-5-2016-tetap-tahun-terpanas/#respond Sat, 10 Sep 2022 06:06:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37293 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkap anomali suhu udara di Indonesia pada Agustus 2022 memiliki nilai anomali tertinggi ke-5 sepanjang periode pengamatan sejak tahun 1981. Suhu […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkap anomali suhu udara di Indonesia pada Agustus 2022 memiliki nilai anomali tertinggi ke-5 sepanjang periode pengamatan sejak tahun 1981.

Suhu udara Indonesia rata-rata pada bulan Agustus 2022 menunjukkan anomali positif dengan nilai sebesar 0,35 derajat Celcius.

Koordinator Bidang Analisis Perubahan Iklim BMKG Kadarsah menyatakan, berdasarkan data dari 87 stasiun pengamatan BMKG, normal suhu udara bulan Agustus periode 1991- 2000 Indonesia yaitu sebesar 26,46 derajat Celcius. Dalam range normal 20,9 derajat Celcius – 28,3 derajat Celcius. Sementara suhu rata-rata Agustus 2022 sebesar 26,81 derajat Celcius.

“Anomali suhu udara Indonesia pada bulan Agustus 2022 ini merupakan nilai anomali tertinggi kelima sepanjang periode data pengamatan sejak tahun 1981,” katanya kepada Greeners, Jumat (9/9).

Lebih jauh, ia menyebut penyebab tingginya suhu udara ini yaitu pengaruh global berupa pemanasan global. Selain itu, ada pula pengaruh lokal yang salah satunya yaitu anomali suhu muka laut di wilayah Indonesia. Umumnya menunjukkan kondisi hangat hingga netral (-0,25 hingga +2,0) derajat Celcius.

“Indikasi kenaikan tersebut menunjukkan pengaruh perubahan iklim terus terjadi,” ucapnya.

Secara kewilayahan, anomali suhu udara rata-rata per stasiun pada bulan Agustus 2022 umumnya menunjukkan nilai anomali positif (lebih tinggi dari rata-rata klimatologisnya) di seluruh wilayah Indonesia.

Anomali Suhu Tertinggi Terpantau di Pulau Jawa dan Indonesia Timur

Anomali maksimum tercatat di Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Kaharuddin, Sumbawa dan Stasiun Meteorologi Umbu Mehang Kunda, Sumba Timur, sebesar 1,2 derajat Celcius. Sementara, anomali minimum tercatat di Stasiun Meteorologi Mutiara Sis-Al Jufri, Palu (sebesar -0,7 derajat Celcius).

Perbedaan (selisih) suhu udara rata-rata bulan Agustus 2022 dengan bulan Juli 2022 yang diperoleh dari 85 stasiun pengamatan BMKG di Indonesia umumnya menunjukkan penurunan suhu (nilai negatif) di wilayah Pulau Sumatra dan sebagian barat pulau Kalimantan. Sementara peningkatan suhu (nilai positif) terjadi di wilayah Pulau Jawa sampai ke Indonesia Timur.

Peningkatan suhu terbesar tercatat di Stasiun Meteorologi Eltari – Kupang (sebesar 1,3 derajat Celcius), sedangkan penurunan suhu terbesar tercatat di Stasiun Meteorologi Kualanamu – Deli Serdang (sebesar -0,6 derajat Celcius).

Kenaikan suhu peneliti sebut dampak dari perubahan iklim. Foto: Shutterstock

Tahun 2016 Terpanas

Meski begitu, BMKG menyebut, tahun 2016 merupakan tahun terpanas. Nilai anomalinya sebesar 0,8 derajat Celcius sepanjang periode pengamatan tahun 1981 hingga 2020. Sementara, tahun 2021 sendiri menempati urutan ke-8 tahun terpanas dengan nilai anomali sebesar 0,4 derajat Celcius.

Pada tahun 2020 dan 2019 berada di peringkat kedua dan ketiga. Nilai anomalinya sebesar 0,7 derajat Celcius dan 0,6 derajat Celcius.

Sebagai perbandingan, informasi suhu rata-rata global yang World Meteorological Organization (WMO) rilis di laporan terakhirnya pada awal Desember 2020 juga menempatkan tahun 2016 sebagai tahun terpanas (peringkat pertama).

Anomali suhu udara rata-rata perstasiun pada tahun 2021 dari 89 stasiun pengamatan BMKG di Indonesia hampir seluruhnya menunjukkan nilai anomali positif. Hanya sebagian kecil yang memiliki nilai anomali negatif.

Anomali maksimum tercatat di Stasiun Meteorologi Sentani, Jayapura (sebesar 1,4 derajat Celcius). Sedangkan anomali minimum tercatat di Stasiun Meteorologi Dumatubun Tual, Maluku Tenggara (sebesar -0,3 derajat Celcius).

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/anomali-suhu-agustus-2022-tertinggi-ke-5-2016-tetap-tahun-terpanas/feed/ 0
Suhu Naik, Perubahan Iklim Bisa Perparah Potensi Penularan Penyakit https://www.greeners.co/berita/suhu-naik-perubahan-iklim-bisa-perparah-potensi-penularan-penyakit/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=suhu-naik-perubahan-iklim-bisa-perparah-potensi-penularan-penyakit https://www.greeners.co/berita/suhu-naik-perubahan-iklim-bisa-perparah-potensi-penularan-penyakit/#respond Thu, 01 Sep 2022 06:09:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37211 Jakarta (Greeners) – Perubahan iklim tak sekadar membuat panasnya bumi karena kenaikan suhu. Tetapi, turut memperparah dampak potensi penularan penyakit antarmanusia. Diperkirakan 5 hingga 10 tahun ke depan perubahan iklim […]]]>

Jakarta (Greeners) – Perubahan iklim tak sekadar membuat panasnya bumi karena kenaikan suhu. Tetapi, turut memperparah dampak potensi penularan penyakit antarmanusia. Diperkirakan 5 hingga 10 tahun ke depan perubahan iklim menyebabkan kematian sebanyak 250 ribu orang per tahun.

Ahli kesehatan lingkungan Dicky Budiman mengatakan, perubahan iklim yang dapat memicu efek gas rumah kaca menyebabkan bumi semakin panas. “Ini berujung pada peningkatan penularan penyakit, terbatasnya kebutuhan manusia hingga akses kesehatan,” katanya kepada Greeners, Rabu (31/8).

Ia memperkirakan hal ini bisa menyebabkan kematian hingga 250 ribu orang per tahun pada 5 hingga 10 tahun mendatang. Selain itu, perubahan iklim berimbas pada beban biaya kesehatan hingga US$ 4 miliar per tahun pada tahun 2030 nanti.

Pakar epidemiolog ini menyatakan, panasnya bumi karena kenaikan suhu, turut meningkatkan penyebaran vektor ke berbagai wilayah. Misalnya, nyamuk yang dapat meningkatkan penyakit. Pada era sebelum tahun 1980-an penyakit karena vektor nyamuk hanya ada di kurang dari 10 negara di dunia.

Namun saat ini penyakit-penyakit vektor nyamuk menjadi endemik seiring luasnya jangkauan geografis mereka. Nyamuk tak hanya menyebabkan demam berdarah, tapi juga chikungunya hingga penularan virus zika.

“Vektor ini membawa penyakit ke wilayah yang sebelumnya tak ada risiko, seperti di Nepal. Padahal dataran tinggi tapi sekarang nyamuk sudah ada di sana,” imbuhnya.

Suhu Naik 1,5 Derajat Celcius Kurun Waktu 20 Tahun Tandai Perubahan Iklim

Perubahan iklim terjadi bila suhu rata-rata telah melewati ambang batas pemanasan hingga 1,5 derajat Celsius dalam kurun waktu 20 tahun. Peningkatan emisi menghangatkan atmosfer menyebabkan kenaikan permukaan laut, memicu kekeringan, kebakaran hutan dan lahan.

“Kondisi ini mendorong hewan, seperti nyamuk, kelelawar mencari habitat baru seperti mendekati manusia dan menyebabkan penyakit zoonosis,” tuturnya.

Tak hanya itu, perubahan iklim juga mengancam penyakit dan akses kesehatan menyusul tingginya bencana hidrometeorologi, seperti banjir, dan tanah longsor.

Dicky menyebut, secara jangka panjang bencana ini tak hanya memperparah penyakit kulit, diare, hingga tifus tapi juga terganggunya pelayanan kesehatan. “Indonesia merupakan negara berkembang, bila terdampak bencana hidrometeorologi terus menerus maka akses seperti vaksinasi, imunisasi untuk pencegahan penyakit akan sangat terdampak,” ungkapnya.

Selain itu, perubahan iklim juga berdampak pada peningkatan penyakit tak menular. Mulai dari hipertensi, penyakit kardiovaskuler, hingga kematian lansia yang berbanding lurus dengan panasnya suhu bumi.

Ia mengingatkan, pentingnya semua elemen masyarakat memastikan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Hal yang tak kalah penting yakni memastikan infrastruktur pada pembangunan kesehatan. Terlebih, Indonesia merupakan negara rawan bencana yang belum siap untuk menghadapi perubahan iklim.

“Selain mitigasi dalam aspek lingkungan, tapi juga infrastruktur. Misalnya rumah sakit harus ada program siap bencana dan pencegahan perubahan iklim dengan memastikan pengurangan emisi, dan transportasi yang berwawasan lingkungan,” ucapnya.

Banjir menjadi salah satu bencana hidrometeorologi yang dominan terjadi. Foto: Shutterstock

Bencana Hidrometeorologi Mendominasi

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, 95 persen bencana di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi dalam lima tahun terakhir. Sebelumnya, Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menyatakan, kejadian bencana tersebut, di antaranya banjir tanah, longsor, cuaca ekstrem, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Lebih jauh, ia menyebut, dalam lima tahun terakhir, pada tahun 2020 dan 2021 merupakan tahun dengan kejadian bencana terbanyak. Hal ini karena pengaruh fenomena La Nina yang berimbas pada peningkatan frekuensi kejadian hujan, baik itu curah hujannya maupun seberapa sering hujan terjadi di wilayah Indonesia.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/suhu-naik-perubahan-iklim-bisa-perparah-potensi-penularan-penyakit/feed/ 0
Gelombang Panas Landa Sejumlah Negara Dunia, Bagaimana Indonesia? https://www.greeners.co/berita/gelombang-panas-landa-sejumlah-negara-dunia-bagaimana-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gelombang-panas-landa-sejumlah-negara-dunia-bagaimana-indonesia https://www.greeners.co/berita/gelombang-panas-landa-sejumlah-negara-dunia-bagaimana-indonesia/#respond Fri, 22 Jul 2022 06:05:53 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36808 Jakarta (Greeners) – Gelombang panas (heatwave) telah melanda sejumlah negara dunia. Bahkan kecenderungannya negara yang merasakan gelombang panas bertambah. Kenaikan suhu udara ekstrem ini terjadi di beberapa negara, seperti di […]]]>

Jakarta (Greeners) – Gelombang panas (heatwave) telah melanda sejumlah negara dunia. Bahkan kecenderungannya negara yang merasakan gelombang panas bertambah. Kenaikan suhu udara ekstrem ini terjadi di beberapa negara, seperti di Benua Eropa hingga China.

Negara Portugal misalnya, pada minggu lalu, Rabu (13/7) tercatat sebagai negara dengan suhu paling tinggi. Suhu tersebut terjadi di Kota Pinhao yaitu mencapai 47 derajat Celsius. Akibatnya, kekeringan hingga kebakaran hutan terjadi. Bahkan di negara ini terjadi sekitar 1.000 kematian.

Gelombang panas juga melanda Spanyol dengan suhu mencapai 42 derajat Celsius. Akibatnya, sekitar 500 orang meninggal dunia. Selain itu terjadi kebakaran hutan dan lahan di 30 lokasi.

Kenaikan suhu imbas gelombang panas juga terjadi di negara Prancis, tepatnya di Kota Cazaux dengan suhu mencapai 42,4 derajat Celsius. Selain itu, sekitar 32.000 orang terpaksa mengungsi.

Di China, gelombang panas terjadi di beberapa kota, seperti Shanghai. Setidaknya 86 kota telah mengeluarkan peringatan waspada karena suhu udara telah lebih dari 40 derajat Celsius.

Imbasnya, beberapa jalan di China retak hingga genteng bangunan meleleh. Pusat Meteorologi Nasional Negara Tirai Bambu tersebut memperkirakan gelombang panas akan terjadi hingga 15 Agustus 2022 nanti.

Sama halnya dengan China, di negara Inggris gelombang panas mampu melelehkan landasan pacu Angkatan Udara Inggris Royal Air Force. Kegiatan penerbangan terpaksa harus berhenti sementara.

Akibat suhu di Inggris maksimum mencapai 40 derajat Celsius ini, Badan Keamanan Inggris mengumumkan keadaan darurat nasional.

Sebelumnya, gelombang panas telah menerjang wilayah di barat laut India dan Pakistan pada Mei 2022 lalu. Bahkan, tercatat rekor tertinggi yaitu suhu lebih dari 49 derajat Celsius. Hal yang sama terjadi di Pakistan, dengan suhu terpanas mencapai 51 derajat Celsius. Gelombang panas dunia yang terjadi di India bahkan menyebabkan penduduk gagal panen hingga pemadaman air dan listrik.

Gelombang Panas Dunia Picu Krisis Pangan Hingga Kematian

Menanggapi fenomena gelombang panas dunia tersebut, Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dodo Gunawan punya penjelasan tersendiri.

Menurutnya, gelombang panas yang terjadi di India terjadi karena daratan atau benua beriklim gurun, tanahnya gersang sehingga bersuhu tinggi secara permanen saat musim panas.

“Sementara di wilayah yang berupa daratan seperti Benua Eropa saat musim panas dapat terjadi peristiwa gelombang panas. Sebabnya karena diikuti dengan tingkat kelembapan yang tinggi,” katanya kepada Greeners, Jumat (22/7).

Gelombang panas merupakan kondisi cuaca yang melonjak diikuti kenaikan suhu ekstrem di suatu wilayah. Gelombang panas juga menyebabkan ancaman seperti kekeringan, masalah kesehatan karena krisis pangan, kebakaran hutan hingga kematian.

Lebih jauh Dodo menyebut, utamanya gelombang panas terjadi di wilayah mana saja ketika ada udara bertekanan tinggi sekitar 3.000 hingga 7.600 meter. Ia memastikan gelombang panas tak akan terjadi di Indonesia karena Indonesia merupakan negara maritim. “Kalaupun ada sumber panas dari darat akan didinginkan oleh masa udara dari lain,” imbuhnya,

Sepanjang catatan BMKG, Indonesia belum pernah mengalami gelombang panas. Ia menyebut hawa panas bisa mungkin terjadi akibat cuaca ekstrem. Misalnya, siklon tropis Dahlia, Cempaka dan Seroja.

“Kalau siklon tropis lebih mungkin terjadi dibanding gelombang panas di Indonesia,” ujar dia.

Melanda Lebih Cepat dari Proyeksi

Sementara itu, pakar lingkungan Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa menyatakan, banyak ilmuwan yang menyatakan bahwa gelombang panas di Inggris seharusnya terjadi tahun 2050 nanti.

“Kejadian gelombang panas yang terjadi saat ini menjadi bukti bahwa kita tidak bisa meremehkan dampak dari perubahan iklim. Makanya kita harus hati-hati,” katanya.

Dampak gelombang panas bukan saja bisa melelehkan jalan raya, melengkungnya rel kereta api, kebakaran hutan, hingga kekeringan. Akan tetapi gelombang panas yang terjadi dalam jangka panjang dapat mengancam keberlanjutan ekosistem wilayah sekitar.

“Ekosistem di satu wilayah memang sesuai dengan iklim yang ada di sana. Dikhawatirkan meningkatnya suhu karena gelombang panas dapat mengancam baik ekosistem mikro dan makro, seperti pertanian,” ujar dia.

Ancaman gelombang panas pada ekosistem akan berimbas pada produktivitas pertanian. Fenomena gagal panen di India telah menjadi bukti nyata bahwa gelombang panas turut memengaruhi keberlanjutan ekosistem lingkungan.

Mahawan juga menyorot bahwa meski Indonesia tak berpotensi terjadi gelombang panas, tapi harus tetap meningkatkan kewaspadaan. Ini seiring dengan peningkatan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.

Dalam kurun waktu 30 tahun terakhir hingga 2020 Indonesia mengalami kenaikan suhu kurang dari 1 derajat Celsius. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim atau IPCC memperingatkan Indonesia akan mengalami kenaikan suhu terutama di pulau- pulau utama pada tahun 2100 yaitu hingga dua derajat Celsius.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/gelombang-panas-landa-sejumlah-negara-dunia-bagaimana-indonesia/feed/ 0
Perubahan Iklim Ancam 18.000 Km Garis Pantai Indonesia https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-ancam-18-000-km-garis-pantai-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perubahan-iklim-ancam-18-000-km-garis-pantai-indonesia https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-ancam-18-000-km-garis-pantai-indonesia/#respond Fri, 08 Jul 2022 06:30:52 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36668 Jakarta (Greeners) – Wilayah pesisir berkontribusi besar terhadap industri perikanan dan penyimpan karbon. Namun, saat ini dampak perubahan iklim semakin nyata, wilayah pesisir menjadi sektor yang paling terdampak. Ancaman rob, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Wilayah pesisir berkontribusi besar terhadap industri perikanan dan penyimpan karbon. Namun, saat ini dampak perubahan iklim semakin nyata, wilayah pesisir menjadi sektor yang paling terdampak. Ancaman rob, gelombang pasang mengancam 18.000 kilometer (km) garis pantai Indonesia.

Berdasarkan kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), sektor laut dan pesisir mengalami kerugian 75 % dari dampak perubahan iklim dalam rentang waktu tahun 2020-2024. Bappenas menyebut, Indonesia bakal rugi hampir Rp 544 triliun. Dari jumlah itu, sektor laut mengalami kerugian paling besar mencapai Rp 408 triliun.

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Medrilzam mengatakan, berdasarkan proyeksi perubahan iklim, peristiwa iklim ekstrem akan lebih sering terjadi. Iklim yang ekstrem, gelombang tinggi di terestrial dan wilayah lautan akan sering terjadi.

Parahnya lagi, 18.000 km garis pantai Indonesia akan rentan terdampak rob, gelombang pasang tinggi dan kenaikan muka air laut.

“Terlebih di bagian Pulau Jawa bagian utara, telah terjadi land subsidence. Ini akan memperparah fenomena banjir rob yang notabene juga menjadi pusat kegiatan ekonomi di Indonesia,” katanya kepada Greeners, Kamis (7/7).

Dari segi ekonomi karena gelombang tinggi lanjutnya, para nelayan dengan kapal kurang dari 10 GT akan sulit melaut untuk menangkap ikan. Hal ini akan merugikan para nelayan yang menggantungkan diri pada laut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kenaikan Suhu, Tandai Dampak Perubahan Iklim

Sementara itu Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut, kenaikan suhu di Indonesia telah nyata dirasakan. Berdasarkan analisis hasil pengukuran suhu permukaan dari 92 Stasiun BMKG dalam 40 tahun terakhir, kenaikan suhu permukaan terjadi di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.

“Di Pulau Sumatra bagian timur, Pulau Jawa bagian utara, Kalimantan dan Sulawesi bagian utara mengalami tren kenaikan > 0,3℃ per dekade,” kata dia.

Dalam keterangannya itu, ia mengungkap, laju peningkatan suhu permukaan tertinggi tercatat terjadi di Stasiun Meteorologi Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Kota Samarinda. Laju kenaikan 0,5℃ per dekade. Sementara itu wilayah Jakarta dan sekitarnya suhu udara permukaan meningkat dengan laju 0,40 – 0,47℃ per dekade.

“Secara rata-rata nasional, untuk wilayah Indonesia, tahun terpanas adalah tahun 2016 yaitu sebesar 0,8 °C dibandingkan periode normal 1981-2010 mengikuti tahun terpanas global,” ucapnya.

Sementara tahun terpanas kedua dan ketiga adalah tahun 2020 dan tahun 2019 dengan anomali sebesar 0,7 °C dan 0,6 °C.

Analisis BMKG tersebut, serupa dengan laporan Status Iklim 2021 (State of the Climate 2021) yang Badan Meteorologi Dunia (WMO) rilis Mei 2022.

Suhu Udara Global Naik 1,11 Derajat Celcius

WMO menyatakan, hingga akhir 2021, suhu udara permukaan global telah memanas sebesar 1,11 °C dari baseline suhu global periode praindustri (1850-1900). Di mana tahun 2021 adalah tahun terpanas ketiga setelah tahun 2016 dan 2020.

WMO menyebutkan dekade terakhir 2011-2020, adalah rekor dekade terpanas suhu di permukaan bumi. Lonjakan suhu pada tahun 2016 karena variabilitas iklim yaitu fenomena El Nino kuat. Sementara itu terus meningkatnya suhu permukaan pada dekade-dekade terakhir yang berurutan merupakan perwujudan dari pemanasan global.

Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan, Ardhasena Sopaheluwakan menambahkan, kajian Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyebutkan, pemanasan global tersebut tidak akan terjadi tanpa pengaruh faktor kegiatan manusia atau antropogenik.

Ia menambahkan, WMO menyebut ada peluang 20 persen kenaikan suhu udara permukaan global dalam waktu 5 tahun mendatang. Kondisi ini akan melebihi nilai ambang batas komitmen Kesepakatan Paris 1,5 ℃.

“Sangat urgent negara-negara untuk meningkatkan aksi mitigasi gas rumah kaca untuk menekan laju kenaikan pemanasan global,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-ancam-18-000-km-garis-pantai-indonesia/feed/ 0
Kerugian dari Dampak Perubahan Iklim Capai Rp 544 Triliun https://www.greeners.co/berita/kerugian-dari-dampak-perubahan-iklim-capai-rp-544-triliun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kerugian-dari-dampak-perubahan-iklim-capai-rp-544-triliun https://www.greeners.co/berita/kerugian-dari-dampak-perubahan-iklim-capai-rp-544-triliun/#respond Wed, 06 Jul 2022 05:36:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36649 Jakarta (Greeners) – Perubahan Iklim tidak hanya membawa dampak buruk terhadap lingkungan. Tetapi juga menjadi tantangan pembangunan di masa depan. Bahkan tanpa aksi nyata membangun ketahanan iklim kerugian dari dampak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Perubahan Iklim tidak hanya membawa dampak buruk terhadap lingkungan. Tetapi juga menjadi tantangan pembangunan di masa depan. Bahkan tanpa aksi nyata membangun ketahanan iklim kerugian dari dampak perubahan iklim mencapai Rp 544 triliun di tahun 2020-2024.

Estimasi ini adalah kajian dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Perencana Ahli Pertama Bappenas Anggi Pertiwi Putri menyatakan, perubahan iklim sangat berdampak signifikan dalam berbagai sektor kehidupan.

“Jika tak ada intervensi berupa aksi pembangunan berketahanan iklim, kita akan mengalami kerugian. Proyeksi kerugian itu sudah kami hitung hingga 2024,” katanya dalam acara bertajuk “Peningkatan Kapasitas dalam Rangka Implementasi Pengendalian Dampak Bencana Iklim Kota-kota di Indonesia”, Selasa (5/7).

Kerugian Rp 544 triliun itu, berasal dari empat sektor prioritas. Sektor pesisir dan laut Rp 408 triliun, sektor air Rp 28 triliun, pertanian Rp 78 triliun serta kesehatan Rp 31 triliun. Tetapi, bila pemerintah mampu mengintervensi maka potensi kerugian ekonomi dapat ditekan hingga Rp 248 triliun.

“Potensi kerugian ekonomi imbas perubahan iklim sangat nyata. Mulai dari penurunan ketersediaan air, penurunan produksi beras hingga dalam sektor kesehatan yaitu peningkatan kasus demam berdarah,” paparnya.

Dampak Perubahan Iklim Telah Nyata 

Anggi menyebut, Bappenas telah bekerja sama dengan berbagai kementerian dan lembaga memproyeksikan perubahan iklim di Indonesia. Dalam catatannya, perubahan iklim telah nyata dampaknya.

Misalnya, peningkatan suhu berdampak ke berbagai hal. Termasuk gelombang tinggi di lautan, kerentanan wilayah pesisir, hingga ancaman cuaca ekstrem. Bahkan, perubahan iklim telah dirasakan dalam lima tahun terakhir, seperti adanya fenomena La Nina dan El Nino.

“Ini dikuatkan melalui catatan BNPB pada tahun 2021, 99 persen bencana alam di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir dan tanah longsor,” imbuhnya.

Lebih jauh, Anggi menekankan pentingnya pemerintah mengarustamakan pembangunan berketahanan iklim dalam perencanaan pembangunan nasional maupun daerah.

Anies Baswedan Dorong Kota Berkelanjutan di Indonesia

Sementara itu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengajak seluruh pemimpin kota di Indonesia bekerja sama mewujudkan kota layak huni dan berkelanjutan. Saat ini, semua kota tengah menghadapi tantangan global untuk bergeser ke arah masa depan yang inklusif dan berkelanjutan.

Anies menuturkan, menghadapi tantangan global tersebut perlu mengembangkan kota yang tangguh, maju dalam aspek digital, serta menjadi kota yang berkelanjutan dan layak huni.

Rencana aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim telah DKI Jakarta siapkan melalui Peraturan Gubernur Nomor 90 Tahun 2021, terkait rencana pembangunan rendah karbon.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengungkapkan, 30 kota di Indonesia sudah berkumpul berdiskusi membahas aksi dalam menanggulangi perubahan iklim global.

Tiga puluh perwakilan kota di Indonesia tersebut merupakan anggota Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI). APEKSI terdiri dari perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

Asep berharap, dengan adanya forum ini, akan mampu menjadi wadah untuk menyamakan persepsi dan pemahaman terkait dampak perubahan iklim. Selain itu, ke depan setiap daerah akan dapat berkolaborasi dan mengimplementasikan aksi-aksi perubahan iklim di daerahnya masing-masing.

“Kita berharap ke depannya kota-kota di Indonesia bisa menangani masalah iklim. Seperti di Jakarta yang sudah mulai konsentrasi terhadap masalah iklim, polusi udara dan sebagainya,” katanya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/kerugian-dari-dampak-perubahan-iklim-capai-rp-544-triliun/feed/ 0
Jika Suhu Naik 4 Derajat Celcius di 2100, Malaria dan DBD Bakal Merebak https://www.greeners.co/berita/jika-suhu-naik-4-derajat-celcius-di-2100-malaria-dan-dbd-bakal-merebak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jika-suhu-naik-4-derajat-celcius-di-2100-malaria-dan-dbd-bakal-merebak https://www.greeners.co/berita/jika-suhu-naik-4-derajat-celcius-di-2100-malaria-dan-dbd-bakal-merebak/#respond Wed, 22 Jun 2022 06:26:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36518 Jakarta (Greeners) – Apabila tidak ada aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, skenario terburuk tahun 2100 suhu bakal meningkat 4 derajat Celcius. Jika hal itu terjadi penularan penyakit karena vektor […]]]>

Jakarta (Greeners) – Apabila tidak ada aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, skenario terburuk tahun 2100 suhu bakal meningkat 4 derajat Celcius. Jika hal itu terjadi penularan penyakit karena vektor nyamuk seperti malaria dan demam berdarah dengue (DBD) bakal meningkat.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Panji Wibawa Dewantara menyebut, kondisi itu karena dampak buruk perubahan iklim.

“Kita akan mendapatkan risiko yang jauh lebih tinggi terhadap penularan penyakit. Karena pada peningkatan 4 derajat Celcius ini akan menentukan sebaran atau kelimpahan dan penularan penyakit dari vektor nyamuk seperti malaria dan demam berdarah,” katanya dalam Webinar Dampak Perubahan Iklim terhadap Penyakit dan Kesehatan, Rabu (22/6).

Hal itu mengacu pada skenario Shared Socioeconomic Pathways (SSPs). Peningkatan suhu bumi dapat terjadi dengan rentang 2,4 derajat Celcius hingga 6,4 derajat Celcius.

Kondisi ini mempengaruhi vektor, yaitu nyamuk dan patogen yang menentukan sebaran, kelimpahan dan penularan penyakit. Alhasil, beragam penyakit seperti malaria, DBD, chikungunya, hingga filariasis dapat semakin merebak.

Dampak perubahan iklim di antaranya dapat memengaruhi peningkatan suhu udara, curah hujan, muka air laut, peningkatan Karbon dioksida di atmosfer.

Antisipasi Peningkatan Suhu

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan curah hujan turun 20-25 persen pada Juli hingga September di Jawa, Bali, Sumatera Selatan, Sulawesi Kalimantan dan Maluku.
Sementara itu di daerah Utara Sumatera Utara, Kalimantan, Sulawesi Utara dan Papua justru meningkat 10-25 persen.

Sementara suhu tahunan rata-rata meningkat 0,8 hingga 1 derajat Celcius pada tahun 2020-2050 dibanding tahun 1961 hingga 1990. Suhu tersebut mereka proyeksikan meningkat 2-3 derajat Celcius di Jawa dan Bali. Peningkatan tertinggi terjadi di Sumatera 4 derajat Celcius.

Tak berhenti di situ, Panji juga menekankan perilaku manusia, utamanya terkait dengan pembukaan lahan atau habitat alam yang berdampak buruk pada ekologi.

“Pembukaan habitat alami itu akan meningkatkan eksposur kontak antara manusia dengan lingkungan. Sehingga ada potongan siklus ekologi yang mempercepat kontak antara virus yang dibawa oleh vektor terhadap manusia. Itu menyebabkan risiko tular vektor meningkat,” paparnya.

Oleh karena itu, ia mendorong pentingnya untuk memperkuat kapasitas diagnosis dan surveilans penyakit. Termasuk di dalamnya pencatatan data epidemiologi dan tools untuk mendeteksi, merespon dan mencegah penyakit.

Tingkatkan Riset Penyakit Dari Vektor Nyamuk Penyebab DBD dan Malaria

Dalam bidang riset, sambungnya harus memperkuat riset dampak perubahan iklim terhadap kesehatan dari daya tular vektor.

“Misalnya, pemanfaatan big data iklim, vektor, lingkungan, sosial dan berbagai sumber (data, satelit, survei). Hal ini untuk menghasilkan evidence dan inovasi early warning system health risk personal apps,” imbuhnya.

Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Indi Dharmayanti menyebut, perubahan iklim berdampak pada transmisi penyakit infeksius melalui human pathogen, human vektor dan human host.

“Beberapa patogen, terutama memengaruhi secara langsung termasuk memengaruhi tingkat survival, reproduksi dan life cycle patogen. Secara tidak langsung dapat memengaruhi habitat lingkungan atau kompetisi dari patogen,” katanya.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi riset lintas disiplin dan lintas sektor dengan konsep one health-planetary health.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/jika-suhu-naik-4-derajat-celcius-di-2100-malaria-dan-dbd-bakal-merebak/feed/ 0
Siap-Siap, September Suhu Panas Bisa Kembali Terjadi di Indonesia https://www.greeners.co/aksi/siap-siap-september-suhu-panas-bisa-kembali-terjadi-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=siap-siap-september-suhu-panas-bisa-kembali-terjadi-di-indonesia https://www.greeners.co/aksi/siap-siap-september-suhu-panas-bisa-kembali-terjadi-di-indonesia/#respond Thu, 19 May 2022 04:00:14 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=36210 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut, suhu panas terik yang terjadi di Indonesia bukan merupakan gelombang panas seperti di India. Menurut BMKG April, Mei dan September […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut, suhu panas terik yang terjadi di Indonesia bukan merupakan gelombang panas seperti di India. Menurut BMKG April, Mei dan September adalah puncak suhu maksimum di Indonesia.

Masyarakat terutama yang berada di Sumatra dan di Indonesia bagian selatan mengeluhkan suhu panas pada Mei 2022. Fenomena panas ini sempat menimbulkan kepanikan masyarakat karena mengaitkannya dengan gelombang panas di India.

Gelombang panas terjadi ketika adanya anomali suhu yang lebih panas, yakni lima derajat Celcius dari rerata klimatologis suhu maksimum di suatu lokasi dan setidaknya sudah berlangsung dalam lima hari.

Plt Deputi Klimatologi BMKG Urip Haryoko menyebut, kondisi ini bukan merupakan gelombang panas. Suhu panas di Indonesia tidak memenuhi definisi kejadian ekstrem meteorologis oleh Badan Meteorologi Dunia (WMO).

“Gelombang panas umumnya juga terjadi dalam cakupan yang luas karena sirkulasi cuaca tertentu. Sehingga menimbulkan penumpukan massa udara panas,” kata Urip dalam keterangannya baru-baru ini.

Berdasarkan catatan BMKG, setidaknya dua hingga delapan stasiun cuaca BMKG melaporkan suhu udara maksimum lebih dari 35 derajat Celcius. Stasiun cuaca Kalimaru (Kaltim) dan Ciputat (Banten) bahkan mencatat suhu maksimum sekitar 36 derajat Celcius dalam beberapa hari.

Posisi Gerak Semu Matahari Pengaruhi Suhu Panas

Peningkatan suhu pada bulan Mei ini, sambung Haryoko merupakan hal wajar. Dalam analisis klimatologi, sebagian besar lokasi-lokasi pengamatan suhu udara di Indonesia menunjukkan dua puncak suhu maksimum, yaitu pada bulan April, Mei dan September.

“Hal itu memang terdapat pengaruh dari posisi gerak semu matahari. Dominasi cuaca cerah awal atau puncak musim kemarau,” imbuhnya.

Adapun suhu maksimum sekitar 36 derajat Celcius bukan merupakan suhu tertinggi yang pernah terjadi di Indonesia. Rekor suhu tertinggi yang pernah terjadi adalah 40 derajat Celcius di Larantuka (NTT) pada 5 September 2012 lalu.

“Kondisi udara yang terasa panas dan tidak nyaman dapat disebabkan oleh suhu udara yang tinggi. Suhu udara tinggi terjadi pada udara yang kelembapannya tinggi maka akan terkesan ‘sumuk’. Sedangkan bila udaranya kering (kelembaban rendah) maka akan terasa ‘terik’ dan membakar,” ungkapnya.

Kejadian suhu udara panas kali ini, sambung dia memang dapat pengaruh dari faktor klimatologis, dinamika atmosfer skala regional dan skala meso. Hal ini menjadi penyebab udara terkesan menjadi ‘lebih sumuk’ dan menimbulkan pertanyaan bahkan keresahan (selain kegerahan) publik.

“Namun, BMKG sekali lagi meyakinkan kondisi ini bukanlah termasuk kondisi ekstrem yang membahayakan seperti gelombang panas. Masyarakat perlu menghindari kondisi dehidrasi dan tetap menjaga kesehatan,” tuturnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/siap-siap-september-suhu-panas-bisa-kembali-terjadi-di-indonesia/feed/ 0
Gelombang Panas Landa India dan Pakistan, Bagaimana Indonesia? https://www.greeners.co/berita/gelombang-panas-landa-india-dan-pakistan-bagaimana-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gelombang-panas-landa-india-dan-pakistan-bagaimana-indonesia https://www.greeners.co/berita/gelombang-panas-landa-india-dan-pakistan-bagaimana-indonesia/#respond Wed, 11 May 2022 05:38:14 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36135 Jakarta (Greeners) – Dampak perubahan iklim terasa nyata menyusul cuaca ekstrem berupa gelombang panas terparah dalam 100 tahun yang terjadi di India. Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Metereologi Klimatologi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dampak perubahan iklim terasa nyata menyusul cuaca ekstrem berupa gelombang panas terparah dalam 100 tahun yang terjadi di India. Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dodo Gunawan menyatakan, perubahan iklim yang semakin meningkat ini merupakan ancaman global termasuk Indonesia.

“Dampak perubahan iklim ini menyebabkan menjadi lebih kerap terjadi dan semakin ekstrem seperti gelombang panas di India. Padahal secara hukum alam atau fisika berupa gaya rotasi bumi, siklon tropis tak akan memasuki wilayah Indonesia,” katanya kepada Greeners, Rabu (11/5).

Siklon tropis merupakan badai dengan skala kekuatan yang besar. Radius rata-rata siklon tropis mencapai 150 hingga 200 km. Siklon tropis terbentuk di atas lautan luas yang umumnya mempunyai suhu permukaan air laut hangat, lebih dari 26,5 derajat Celcius. Siklon tropis yang merangsek masuk ke Indonesia di antaranya siklon tropis Dahlia, Cempaka, hingga Seroja.

Demikian pula dengan fenomena gelombang panas yang melanda di India sejak Maret 2022 lalu. Badan Meteorologi India menyebut, suhu pada bulan Maret tercatat sebagai rekor tertinggi dalam kurun waktu 122 tahun.

Rata-rata semua wilayah India mengalami kenaikan sebesar 1,86 derajat Celcius di atas normal. Adapun di wilayah utara, barat dan timur India mengalami lonjakan suhu melewati 40 derajat Celcius. Akibatnya, 26 korban berjatuhan.

Ilmuwan telah menghubungkan awal musim panas yang sangat terik saat ini di India dengan perubahan iklim. Lebih dari satu miliar orang di India diperkirakan rentan terhadap panas yang ekstrem ini.

Selain itu, gelombang panas juga terjadi di Pakistan. Kawasan Turbat, Balochistan, Pakistan bahkan suhu mencapai 50 Celcius. Penduduk diungsikan dari rumah-rumah. Mereka tidak dapat bekerja kecuali pada jam-jam malam yang lebih dingin. Kini di Turbat listrik juga kerap tidak menyala.

Gelombang Panas Telah Terjadi di Beberapa Negara

Menurut World Meteorological Organization (WMO) gelombang panas atau heatwave merupakan fenomena kondisi udara panas yang berkepanjangan selama lima hari atau lebih secara berturut-turut. Dalam kondisi itu, suhu maksimum harian lebih tinggi dari suhu maksimum rata-rata hingga 5 derajat Celcius atau lebih.

Fenomena ini biasanya terjadi di wilayah lintang menengah hingga tinggi seperti wilayah Eropa dan Amerika. Pemicunya kondisi dinamika atmosfer di lintang menengah.

Dodo menyatakan, fenomena gelombang panas di India dan Pakistan terjadi karena wilayahnya yang bersifat daratan masif. Beberapa negara rentan lainnya yaitu wilayah Timur Tengah hingga Afrika.
Ia menyebut, Indonesia tak termasuk di dalamnya karena merupakan wilayah maritim dengan lebih banyak air. “Kalaupun ada sumber panas dari darat, akan didinginkan oleh masa udara dari laut,” imbuhnya.

Indonesia Alami Panas Terik

Indonesia hari-hari ini juga mengalami kenaikan suhu di berbagai kota. Deputi Bidang Meteorologi Guswanto melalui keterangan tertulisnya menyatakan, berdasarkan data hasil pengamatan BMKG, suhu maksimum terukur selama periode 1-7 Mei 2022 berkisar antara 33 – 36,1 derajat Celcius. Suhu maksimum tertinggi hingga 36,1 derajat Celcius terjadi di wilayah Tangerang, Banten dan Kalimarau, Kalimantan Utara.

Suhu maksimum tertinggi di Indonesia pada bulan April selama 4-5 tahun terakhir sekitar 38,8 derajat Celcius di Palembang pada tahun 2019. Sedangkan di bulan Mei sekitar 38,8 derajat Celcius di Temindung Samarinda pada tahun 2018.

“Sedangkan yang terjadi di wilayah Indonesia adalah fenomena kondisi suhu panas atau terik dalam skala variabilitas harian,” kata Guswanto.

Guswanto mengungkapkan, fenomena suhu udara terik yang terjadi pada siang hari tersebut karena posisi semu matahari saat ini sudah berada di wilayah utara ekuator. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau.

Adapun tingkat pertumbuhan awan dan fenomena hujannya akan sangat berkurang. Sehingga cuaca cerah pada pagi menjelang siang hari akan cukup mendominasi.

Kemudian dominasi cuaca yang cerah dan tingkat perawanan yang rendah tersebut dapat mengoptimumkan penerimaan sinar matahari di permukaan bumi. Hal ini menyebabkan masyarakat merasakan cuaca cukup terik pada siang hari.

“Kewaspadaan kondisi suhu panas atau terik pada siang hari masih harus masyarakat waspadai hingga pertengahan Mei,” imbuhnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/gelombang-panas-landa-india-dan-pakistan-bagaimana-indonesia/feed/ 0
BMKG : Waspadai Panas Terik Hingga Pertengahan Mei https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspadai-panas-terik-hingga-pertengahan-mei/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-waspadai-panas-terik-hingga-pertengahan-mei https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspadai-panas-terik-hingga-pertengahan-mei/#respond Tue, 10 May 2022 05:56:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36124 Jakarta (Greeners) – Panas terik karena suhu yang lebih panas dari biasanya dialami sebagian besar wilayah di Indonesia belakangan ini. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan panas tersebut bukan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Panas terik karena suhu yang lebih panas dari biasanya dialami sebagian besar wilayah di Indonesia belakangan ini. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan panas tersebut bukan fenomena gelombang panas atau heatwave.

Namun BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kondisi ini akan berlangsung hingga pertengahan Mei 2022.

Mengutip @infoBMKG, suhu maksimum harian di Indonesia periode 9-10 Mei 2022 yang tercatat Stasiun Meteorologi Sanggu, Barito Selatan, Kalimantan Tengah mencapai 36 derajat Celcius, Stasiun Meteorologi Kertajati 35,8 derajat Celcius, Balai Besar Wilayah 2 Ciputat 35 derajat Celcius. Selanjutnya Stasiun Meteorologi Kemayoran 34 derajat Celcius dan suhu terendah 33 derajat Celcius terpantau Stasiun Meteorologi Radin Inten II Lampung.

Deputi Bidang Meteorologi Guswanto melalui keterangan tertulisnya menyatakan, berdasarkan data hasil pengamatan BMKG, suhu maksimum terukur selama periode 1-7 Mei 2022 berkisar antara 33 – 36,1 derajat Celcius. Suhu maksimum tertinggi hingga 36,1 derajat Celcius terjadi di wilayah Tangerang-Banten dan Kalimarau-Kalimantan Utara.

Suhu maksimum tertinggi di Indonesia pada bulan April selama 4-5 tahun terakhir sekitar 38,8 derajat Celcius di Palembang pada tahun 2019. Sedangkan di bulan Mei sekitar 38,8 derajat Celcius di Temindung Samarinda pada tahun 2018.

Bukan Termasuk Gelombang Panas

Sementara itu, menurut World Meteorological Organization (WMO), heatwave merupakan fenomena kondisi udara panas yang berkepanjangan selama 5 hari atau lebih secara berturut-turut. Saat kondisi tersebut, suhu maksimum harian lebih tinggi dari suhu maksimum rata-rata hingga 5 derajat Celcius atau lebih.

Fenomena gelombang panas ini biasanya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi seperti wilayah Eropa dan Amerika. Kondisi ini dipicu oleh kondisi dinamika atmosfer di lintang menengah.

“Sedangkan yang terjadi di wilayah Indonesia adalah fenomena kondisi suhu panas atau terik dalam skala variabilitas harian,” katanya, Senin (9/5).

Guswanto mengungkapkan, fenomena suhu udara terik yang terjadi pada siang hari tersebut dipicu oleh beberapa hal. Misalnya, posisi semu matahari saat ini sudah berada di wilayah utara ekuator. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau.

Adapun tingkat pertumbuhan awan dan fenomena hujannya akan sangat berkurang. Sehingga cuaca cerah pada pagi menjelang siang hari akan cukup mendominasi.

Kemudian dominasi cuaca yang cerah dan tingkat perawanan yang rendah tersebut dapat mengoptimumkan penerimaan sinar matahari di permukaan bumi. Hal ini menyebabkan masyarakat merasakan cuaca cukup terik pada siang hari.

“Kewaspadaan kondisi suhu panas atau terik pada siang hari masih harus masyarakat waspadai hingga pertengahan Mei,” imbuhnya.

Dalam Jangka Panjang Pemanasan Global Pengaruhi Kondisi Panas Terik

Sementara itu Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan menyebut, panas terik untuk variasi yang sifatnya keseharian lebih disebabkan fluktuasi radiasi matahari dan kondisi cuaca. Akan tetapi secara jangka panjang terdapat kontribusi pemanasan global yang memengaruhinya.

“Secara jangka panjang, gas rumah kaca yang mengendalikan atau memfilter radiasi matahari turut mempengaruhi kenaikan suhu global,” ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, BMKG mengimbau kepada masyarakat untuk senantiasa menjaga kondisi stamina tubuh dan cairan tubuh. Utamanya bagi warga yang beraktifitas di luar ruangan pada siang hari dan juga warga dalam perjalanan mudik arus balik supaya tidak terjadi dehidrasi hingga kelelahan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspadai-panas-terik-hingga-pertengahan-mei/feed/ 0
Pemanasan Global Picu Penemuan Pulau Baru https://www.greeners.co/berita/pemanasan-global-picu-penemuan-pulau-baru/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemanasan-global-picu-penemuan-pulau-baru https://www.greeners.co/berita/pemanasan-global-picu-penemuan-pulau-baru/#respond Fri, 06 May 2022 05:00:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36093 Jakarta (Greeners) – Dampak pemanasan global terus mempengaruhi kehidupan di planet bumi. Mencairnya lapisan es di Antartika telah mengungkap temuan baru, terkait dugaan kemunculan pulau baru. Pulau baru itu terindentifikasi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dampak pemanasan global terus mempengaruhi kehidupan di planet bumi. Mencairnya lapisan es di Antartika telah mengungkap temuan baru, terkait dugaan kemunculan pulau baru. Pulau baru itu terindentifikasi oleh Satelit NASA ICESat-2. Unnamed Island sebagai pulau “baru” itu berada di dekat Glencer-Conger Ice Shelf dan Bowman Island di Kutub Selatan.

Bentuk pulau tersebut tetaplah sama meskipun es di sekitarnya telah mencair, bergeser dan menghilang. Melalui pengamatan satelit, diperkirakan ketinggian pulau ini antara 30-35 meter di atas permukaan laut.

Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Klimatologi dan Kualitas Udara, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Donaldi Sukma Permana menyatakan, penemuan pulau baru tersebut bukan kali pertama terjadi.

Sebelumnya, turut ada temuan Pulau Sif di Kutub Selatan. Pulau ini teridentifikasi di balik lapisan es Kutub Selatan yang mencair di dekat gletser Thwaites dan Teluk Pulau Pine di Antartika.

Ia menyatakan konfirmasi temuan pulau baru tersebut masih dalam penelitian dan perlu pengamatan lebih intensif. Ini terkait dengan struktur untuk memastikan pulau tersebut.

“Untuk memastikan apabila bedrock atau dasar batuan pulau tersebut di bawah permukaan laut maka es yang ada di atas pulau tersebut hanya seperti “ice cream” di atas “cone”. Es itu suatu saat akan terlepas dan mengapung menjadi iceberg kemudian mencair pada akhirnya,” katanya kepada Greeners baru-baru ini.

Mencairnya Es Imbas Pemanasan Global

Lebih jauh, ia menyebut penemuan pulau baru bisa terus terjadi seiring dengan mencairnya gletser di Kutub Utara dan Selatan imbas pemanasan global. “Ini akan terus terjadi pada beberapa tahun mendatang sejalan dengan mencairnya gletser dan sea ice di Kutub Selatan dan Utara sebagai dampak dari pemanasan global baik suhu udara maupun suhu muka laut,” papar dia.

Sementara itu pemanasan global juga berdampak di Indonesia. Justru pencairan gletser di Puncak Jaya, Papua lebih terasa karena ketinggian Puncak Jaya lebih rendah daripada gunung-gunung lain dengan gletser tropis. Dengan begitu perkiraannya gletser di Puncak Jaya akan cepat hilang.

Gletser di Puncak Jaya mencair dan ada perkiraan akan hilang tidak lama lagi. Adapun dua gletser besar yang tersisa di Puncak Jaya terus mencair sejak pengamatan tahun 2002 hingga 2018. “Hilangnya salju abadi Papua diperkirakan antara tahun 2024-2026. Kontribusi pencairan es ini yaitu terhadap kenaikan tinggi muka laut,” imbuhnya.

Ketebalan Es di Puncak Jaya Terus Berkurang

Berdasarkan data BMKG, pada Juni 2010, ketebalan es di sana mencapai 31,49 meter. Tebal es kemudian berkurang 5,26 meter dari tahun 2010-2015 dengan rata-rata 1,05 meter per tahun.
Tebal es berkurang 5,7 meter dari November 2015-November 2016 (tahun El Nino kuat). Per Februari 2021 susut es di Puncak Jaya Wijaya telah mencapai 23,46 meter.

Pengamat lingkungan dari Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa menilai, mencairnya gletser di Puncak Jaya akan berimplikasi terhadap ekosistem yang ada. Misalnya, penambangan dan pengurangan volume air sebagai sumber kehidupan ekosistem di daerah Puncak Jaya.

Catatan The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebut, bahwa perubahan iklim imbas pemanasan global berdampak pada seluruh ekosistem di daratan (pegunungan hingga daratan sebelum pantai) maupun lautan.

“Ini akan berimplikasi pada perilaku alam seiring hilangnya salju di sana. Mulai dari perilaku flora dan fauna dan jika sampai proses jangka panjang maka juga bisa memicu kepunahan,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/pemanasan-global-picu-penemuan-pulau-baru/feed/ 0
Hati-Hati! Suhu Udara Jakarta Bisa Semakin Panas https://www.greeners.co/berita/hati-hati-suhu-udara-jakarta-bisa-semakin-panas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hati-hati-suhu-udara-jakarta-bisa-semakin-panas https://www.greeners.co/berita/hati-hati-suhu-udara-jakarta-bisa-semakin-panas/#respond Wed, 30 Mar 2022 05:31:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35738 Jakarta (Greeners) – Baru-baru ini Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut, suhu udara di Jakarta meningkat 1,5 derajat Celcius dalam waktu 100 tahun terakhir. Padahal, kenaikan suhu udara ini […]]]>

Jakarta (Greeners) – Baru-baru ini Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut, suhu udara di Jakarta meningkat 1,5 derajat Celcius dalam waktu 100 tahun terakhir. Padahal, kenaikan suhu udara ini seharusnya terjadi pada tahun 2030 nanti.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) DKI Jakarta Suci Fitriah menilai, kenaikan suhu 1,5 derajat Celcius di Jakarta menjadi indikasi bahwa aksi-aksi mitigasi iklim selama ini belum efektif.

Hal ini berbanding terbalik dengan target penurunan emisi yang cukup ambisius. Padahal, sambung dia tahun ini Jakarta mempunyai target penurunan emisi sebesar 30 % atau setara dengan 35 juta ton CO2e.

“Komitmen yang ambisius dari pemerintah tak dibarengi dengan aksi yang ambisius pula,” katanya kepada Greeners, di Jakarta, Selasa (30/3).

Bahkan, ia juga menyebut bila tak ada perubahan komitmen aksi dalam menurunkan emisi, kenaikan suhu berpeluang bisa menembus angka 2,7 derajat Celcius.

Suci menyatakan, pemerintah masih sekadar memberi solusi palsu yang sama sekali tak menyelesaikan permasalahan penurunan emisi. Sementara kontribusi terbesar peningkatan emisi dari Jakarta sebagai kawasan industri kerap terabaikan.

Misalnya, klaim pemenuhan target pembangunan RTH sebesar 30 % yang pemerintah akui sulit diwujudkan karena keterbatasan lahan di Jakarta. Di sisi lain, sambung Suci pemerintah justru memberikan izin seluas-luasnya bagi pembangunan industri.

“Pemprov Jakarta bahkan sempat merencanakan untuk ‘menitipkan’ RTH-nya ke wilayah lain, tapi justru memberikan izin pembangunan industri besar,” imbuhnya.

Polusi Udara Perburuk Kondisi Udara

Suci juga menyorot Jakarta berada di irisan wilayah yang memiliki kawasan industri dan PLTU. Hal ini turut memperburuk kondisi kualitas udara. Misalnya wilayah Tangerang yang turut berkontribusi terhadap polusi udara. Ia mendorong agar pemerintah provinsi DKI Jakarta berkoordinasi dengan daerah-daerah tersebut untuk mengatasi penurunan emisi.

Selain itu, Suci juga mendorong agar pemerintah memastikan transparansi dari inventarisasi gas rumah kaca sehingga dapat diketahui tren penurunan emisinya. Inventarisasi gas rumah kaca hendaknya pemerintah publikasikan setiap dua tahun sekali. Hal ini penting sebagai bagian evaluasi dari aksi-aksi perubahan iklim yang ada.

Aksi-aksi perubahan iklim lanjutnya, harus menjadi agenda prioritas pemerintah yang melibatkan partisipasi masyarakat luas hingga pelaku industri. “Sehingga masyarakat tak sekadar menjadi objek, tapi subjek yang terlibat aktif dalam aksi perubahan iklim,” imbuhnya.

Suhu Udara Jakarta Meningkat 1,5 Derajat Celcius

Sebelumnya Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyatakan, suhu udara di Jakarta meningkat 1,5 derajat Celcius dalam waktu 100 tahun terakhir.

Padahal, suhu udara ini seharusnya terjadi pada tahun 2030 nanti. “Jakarta dalam periode 100 tahun suhu udaranya sudah meningkat 1,5 derajat Celcius. Padahal seharusnya kenaikan suhu sebesar itu terjadi pada 2030,” katanya baru-baru ini.

Selain suhu udara, intensitas hujan imbas cuaca ekstrem di Jakarta juga BMKG prediksi terus meningkat. Waspadai curah hujan tinggi di Jakarta yang memicu banjir. Selain itu banjir di Jakarta meningkat pada dekade terakhir bersamaan dengan curah hujan ekstrem.

“Hujan yang terjadi 700 tahunan menjadi hujan 100 tahunan atau ada peningkatan tujuh kali lipat. Air hujan yang turun juga semakin asam PH-nya,” imbuhnya.

Cuaca Ekstrem Sering Muncul

Sementara itu, Kepala Pusat Layanan Informasi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengungkapkan, banyak penelitian telah mengindikasikan peningkatan kejadian ekstrem dan bencana hidrometeorologis sebagai pengaruh perubahan iklim akibat pemanasan global.

Lebih dari dua per tiga dari data cuaca secara global menunjukkan sinyal peningkatan kejadian ekstrem berkaitan dengan peningkatan suhu udara permukaan. Penelitian menunjukkan bahwa curah hujan ekstrem pada waktu sore, malam atau pagi hari lebih sensitif terhadap perubahan suhu atmosfer lokal.

“Di Jakarta sendiri, hujan dengan curah tertinggi yang biasanya menjadi pemicu banjir besar juga menunjukkan tren yang meningkat. Terutama pada periode musim hujan. Hujan-hujan ekstrem ini pada kondisi iklim zaman sekarang peluang kemunculannya meningkat menjadi sekitar 2,4 kali lebih sering dibandingkan dengan kondisi iklim 100 tahun yang lalu,” paparnya.

Gubernur Anies Baswedan sebelumnya telah menargetkan Jakarta nol emisi karbon atau bebas gas rumah kaca pada tahun 2050. Dalam jangka pendek yakni tahun 2022 ini Jakarta berkomitmen mengurangi emisi sebesar 30 %. Salah satu langkah yang pemerintah provinsi upayakan melalui pembuatan transportasi umum berbasis tenaga listrik yang tak sekadar ramah lingkungan tapi juga  mengurangi kemacetan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/hati-hati-suhu-udara-jakarta-bisa-semakin-panas/feed/ 0
BMKG Prediksi Suhu di Tahun 2022 Lebih Hangat https://www.greeners.co/berita/bmkg-prediksi-suhu-di-tahun-2022-lebih-hangat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-prediksi-suhu-di-tahun-2022-lebih-hangat https://www.greeners.co/berita/bmkg-prediksi-suhu-di-tahun-2022-lebih-hangat/#respond Fri, 14 Jan 2022 10:15:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34994 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi suhu di tahun 2022 memiliki kecenderungan lebih hangat dibanding tahun 2021. Namun BMKG memonitor La Nina (kondisi peningkatan curah hujan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi suhu di tahun 2022 memiliki kecenderungan lebih hangat dibanding tahun 2021.

Namun BMKG memonitor La Nina (kondisi peningkatan curah hujan di musim hujan) masih akan terjadi hingga pertengahan tahun 2022.

“Meskipun demikian, hasil ini tentunya akan sangat bergantung pada kondisi dinamika atmosfer-laut terkini. Kondisi ini akan sangat bervariasi antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Serta antara waktu atau bulan yang satu dengan yang lain,” kata Sub Koordinator Bidang Analisis dan Informasi Iklim BMKG Amsari M Setiawan kepada Greeners di Jakarta, Jumat (14/1).

Menurutnya, berdasarkan hasil prediksi BMKG terkini (awal Januari 2022) dan beberapa institusi internasional lainnya, La Nina masih akan terus berlanjut hingga pertengahan tahun. Kemudian berangsur-angsur menuju kondisi netral.

Berdasarkan data dari 89 stasiun pengamatan BMKG, suhu udara rata-rata tahun 2021 sebesar 27,0 °C. Tahun 2021 menempati urutan ke-8 tahun terpanas dengan nilai anomali sebesar 0,4 °C. Sementara tahun 2020 dan 2019 berada di peringkat kedua dan ketiga dengan nilai anomali sebesar 0,7 °C dan 0,6 °C.

Anomali Iklim dan Kecenderungan Suhu 2022 Lebih Hangat

Adapun perbedaan atau selisih suhu udara rata-rata tahun 2021 dengan tahun 2020 menunjukkan nilai perbedaan negatif (lebih dingin dibanding tahun sebelumnya). Kondisi ini dominan terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

Sementara itu untuk perbedaan positif (lebih hangat) terbesar tercatat di Stasiun Meteorologi Sentani – Jayapura (sebesar 0,4 °C). Sedangkan perbedaan negatif (lebih dingin) terbesar tercatat di Stasiun Meteorologi Syukuran Aminudin Amir, Sulawesi Tengah (sebesar -0,6 °C).

“Ini dapat diartikan bahwa suhu udara rata-rata tahun 2021 cenderung lebih dingin dari tahun 2020,” kata Plt. Deputi Klimatologi BMKG Urip Haryoko kepada Greeners.

Namun, karena La Nina BMKG prediksi hanya berlangsung pada semester I, suhu udara Indonesia tahun 2022 memiliki peluang relatif lebih hangat dari pada tahun 2021. Suhu tahun 2022 akan jauh lebih tinggi dari rata-rata normalnya (sebesar 26,6 °C). Tren kenaikan suhu juga terjadi secara terus-menerus di Indonesia.

“Ada variasi (kenaikan suhu) antara satu wilayah dengan wilayah lain. Kita harapkan secara umum kurang dari 0,5 derajat,” ungkapnya.

Anomali iklim El Nino Southern Oscillation (ENSO) di Samudera Pasifik masih akan berada pada fase La Nina dengan intensitas moderate dan akan kembali netral pada semester II. Sementara, anomali iklim Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudera Hindia akan berada pada kondisi netral pada periode tersebut. “Di wilayah Indonesia, suhu muka laut di bagian timur prediksinya hangat,” imbuhnya.

Waspada Bencana Hidrometeorologi

BMKG memprediksi bahwa curah hujan sepanjang bulan Januari hingga Oktober secara umum akan sedikit lebih tinggi dari normalnya. Sedangkan pada bulan November dan Desember curah hujan akan sedikit lebih rendah dari normalnya. Curah hujan tahun 2022 prediksinya akan lebih rendah dari tahun 2021. Khususnya di bulan Januari, Maret, Mei, September, Oktober dan November 2022.

Sebelumnya, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini terkait adanya fenomena La Nina akan berdampak pada kenaikan intensitas hujan dan potensi bencana hidrometeorologi basah. Misalnya, banjir, tanah longsor hingga banjir bandang.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menyatakan, wilayah-wilayah yang memperoleh curah hujan bulanan di atas normal pada Januari 2022 di antaranya Sumatra bagian tengah dan utara, Kalimantan bagian timur dan utara, Jawa bagian barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua hingga sebagian Sulawesi.

Pada Februari, wilayah sebagian Sumatra, sebagian Jawa, Sulawesi, Maluku bagian Utara dan Papua harus mewaspadai curah hujan di atas normal. Selanjutnya, Sumatra bagian utara, Jawa, Kalimantan bagian utara, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara dan sebagian Papua pada bulan Maret.

“Kondisi curah hujan di atas normal dapat dimanfaatkan untuk kecukupan kebutuhan sumber daya air, sektor pertanian dan sektor kehutanan,” ungkap Dwikorita.

Penulis : Ari Rikin & Ramadani Wahyu

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-prediksi-suhu-di-tahun-2022-lebih-hangat/feed/ 0
Perubahan Iklim Nyata, Kenaikan Suhu Picu Badai Tropis dan Bencana https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-nyata-kenaikan-suhu-picu-badai-tropis-dan-bencana/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perubahan-iklim-nyata-kenaikan-suhu-picu-badai-tropis-dan-bencana https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-nyata-kenaikan-suhu-picu-badai-tropis-dan-bencana/#respond Fri, 10 Dec 2021 08:22:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34661 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan dalam 10 tahun ke depan suhu udara semakin meningkat. BMKG melihat adanya tren kenaikan suhu udara di Indonesia. Peningkatan suhu […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan dalam 10 tahun ke depan suhu udara semakin meningkat. BMKG melihat adanya tren kenaikan suhu udara di Indonesia. Peningkatan suhu ini akan memicu seringnya kejadian badai tropis dan bencana.

“Karena ada tren dari monitoring BMKG sejak tahun 1960 hingga 2021 kenaikan suhu udara di wilayah Indonesia rata-rata mencapai 0,9 derajat Celcius dan tertinggi mencapai 1,4 derajat Celcius. Jadi ada tren kenaikan yang signifikan,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Jakarta, baru-baru ini.

Dwikorita menyebut, terjadinya kenaikan suhu udara di wilayah Indonesia tersebut merupakan penyebab sering terjadinya badai tropis, cuaca ekstrem hingga El Nino.

“Dengan adanya tren kenaikan suhu sebagai tanda adanya perubahan iklim baik global maupun di wilayah Indonesia tampaknya semakin korelatif dengan semakin seringnya terjadi badai tropis, cuaca ekstrem, La Nina, El Nino. Di tahun 1950 sampai 1970 berkisar periode kejadian ulangnya 5-7 tahun,” jelasnya.

Lalu periode tahun 1980-2021, kejadian-kejadian tersebut semakin sering terjadi seperti La Nina yang terjadi dalam waktu dua tahun berturut-turut.

“Tetapi setelah 1980 sampai saat ini kejadian periode ulangnya 2 sampai 3 tahun. Bahkan untuk kali ini setiap tahun itu terjadi seperti pada tahun lalu dan tahun ini terjadi La Nina,” ungkapnya.

Kenaikan Muka Air Laut dan Bencana Rob

Tanda lain yang menjadi dampak perubahan iklim adalah kenaikan muka air laut. Hal ini akan berdampak buruk ketika pasang laut saat purnama terjadi. Akibatnya banjir rob semakin meluas.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang tahun 2020 telah terjadi 35 banjir rob. Sebanyak 32.413 rumah terendam dan sebanyak 181.454 warga terdampak. Banjir rob ini terjadi di sebanyak 27 wilayah di Indonesia.

Sementara pada tahun 2021 terjadi peningkatan banjir rob. BNPB mencatat ada 51 kejadian dan mengakibatkan sebanyak 136.998 rumah terendam. Sebanyak 582.294 warga terdampak. Banjir rob pada tahun ini juga semakin meluas hingga ke 43 wilayah di Indonesia.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan, banjir rob yang terjadi di beberapa wilayah khususnya yang terjadi belakangan ini karena terjadi kondisi perigee yaitu ketika posisi bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi. Hal ini mengakibatkan tinggi muka air saat pasang lebih tinggi dari kondisi biasa.

Hal ini kemudian terakumulasi oleh faktor cuaca ekstrem dengan adanya 3 pusaran badai yang sedang berkembang di sekitar wilayah perairan Indonesia. Akumulasi curah hujan dan angin kencang berpengaruh pada pembentukan gelombang laut ekstrem dan berdampak pada wilayah pesisir.

“Perubahan iklim lebih ke arah dampak dalam mempertinggi frekuensi dari climate related disaster seperti banjir, banjir bandang, longsor karena perubahan pola hujan ekstrem terkait fenomena regional seperti La Nina dan El Nino,” kata Abdul kepada Greeners di Jakarta, Jumat (10/12).

Kenaikan muka air laut mengancam kawasan pesisir. Foto: Shutterstock

Tren Kenaikan Muka Air Laut Hingga 2030

Di samping itu, BMKG juga telah mengeluarkan peringatan kewaspadaan atas terdeteksinya anomali iklim global yaitu suhu muka air laut di Samudra Pasifik di bagian ekuator tengah sampai timur semakin mendingin. Sementara suhu muka air laut di Indonesia semakin menghangat.

Menanggapi hal tersebut, Pakar oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Zainal Arifin mengatakan, tren kenaikan muka air tersebut masih akan terus terjadi hingga tahun 2030.

“Memang demikian, tren kenaikan muka air laut akan terus terjadi. Perkiraannya sampai dengan tahun 2030 akibat perubahan iklim. Intensitasnya juga akan meluas terutama saat purnama dan bulan baru,” kata Zainal kepada Greeners.

Sementara itu, Bank Indonesia dalam sebuah kesempatan menyebut kerugian akibat cuaca ekstrem yang Indonesia alami bisa mencapai Rp 100 triliun per tahun. Bahkan kerugian akibat cuaca ekstrem ini pada tahun 2050 diprediksi dapat mencapai 40 % dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Penulis : Fitri Annisa

]]>
https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-nyata-kenaikan-suhu-picu-badai-tropis-dan-bencana/feed/ 0
BMKG : Gelombang Panas Tidak Terjadi di Indonesia https://www.greeners.co/berita/bmkg-gelombang-panas-tidak-terjadi-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-gelombang-panas-tidak-terjadi-di-indonesia https://www.greeners.co/berita/bmkg-gelombang-panas-tidak-terjadi-di-indonesia/#respond Sat, 16 Oct 2021 05:36:28 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34102 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan informasi terkait gelombang panas melanda Indonesia yang ramai beredar di berbagai media sosial tidak benar. Kondisi suhu panas dan terik […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan informasi terkait gelombang panas melanda Indonesia yang ramai beredar di berbagai media sosial tidak benar. Kondisi suhu panas dan terik saat ini tidak bisa bukan kategori gelombang panas.

Informasi yang menyebar di media sosial dan Whatapps menyebut kini cuaca sangat panas, suhu pada siang hari bisa mencapai 40 derajat Celcius. Masyarakat dalam pesan itu, harus menghindari minum es atau air dingin.

Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengatakan, gelombang panas terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah dan tinggi. Sementara wilayah Indonesia terletak di wilayah ekuator yang secara sistem dinamika cuaca tidak memungkinkan terjadinya gelombang panas.

“Gelombang panas dalam ilmu cuaca dan iklim didefinisikan sebagai periode cuaca (suhu) panas yang tidak biasa yang biasanya berlangsung setidaknya lima hari berturut-turut atau lebih,” kata Urip dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (16/10).

Hal tersebut mengacu pada kriteria Badan Meteorologi Dunia (WMO). Selain itu kelembapan udara yang tinggi menyertai terjadinya gelombang panas. Lalu suatu lokasi yang mengalami gelombang panas harus mencatat suhu maksimum harian melebihi ambang batas statistik.

“Misalnya 5 derajat celcius lebih panas, dari rata-rata klimatologis suhu maksimum dan setidaknya telah berlangsung dalam lima hari berturut-turut,” imbuhnya.

Urip menambahkan, apabila suhu maksimum tersebut terjadi dalam rentang rata-ratanya dan tidak berlangsung lama maka tidak bukan sebagai gelombang panas.

Hidrasikan tubuh

Hidrasikan tubuh saat cuaca terik. Foto: Shutterstock

Hanya Gerak Semu Matahari

Lebih lanjut Urip menjelaskan, gelombang panas umumnya terjadi berkaitan dengan berkembangnya pola cuaca sistem tekanan atmosfer tinggi di suatu area secara persisten dalam beberapa hari.

Dalam sistem tekanan tinggi tersebut, terjadi pergerakan udara dari atmosfer bagian atas menuju permukaan (subsidensi) sehingga termampatkan dan suhunya meningkat. Pusat tekanan atmosfer tinggi ini menyulitkan aliran udara dari daerah lain masuk ke area tersebut. Semakin lama sistem tekanan tinggi ini berkembang di suatu area, semakin meningkat panas di area tersebut dan semakin sulit awan tumbuh di wilayah tersebut.

“Suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya gerak semu matahari,” tegasnya.

Fenomena ini merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun. Akibatnya potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

Saat ini, berdasarkan pantauan BMKG terhadap suhu maksimum di wilayah Indonesia, memang suhu tertinggi siang hari ini mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Tercatat suhu > 36 °C terjadi di Medan, Deli Serdang, Jatiwangi dan Semarang pada catatan meteorologis tanggal 14 Oktober 2021. Suhu tertinggi pada hari itu tercatat di Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah I, Medan yaitu 37,0 °C.

Namun kata Urip, catatan suhu ini bukan merupakan penyimpangan besar dari rata-rata iklim suhu maksimum pada wilayah ini. Atau masih berada dalam rentang variabilitasnya di bulan Oktober. Setidaknya suhu maksimum yang meningkat dalam beberapa hari ini dapat disebabkan oleh beberapa hal.

Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Tak Alami Gelombang Panas

BMKG melihat pada bulan Oktober, kedudukan semu gerak matahari tepat di atas Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Gerakan ini dalam perjalanan menuju posisi 23 lintang selatan setelah meninggalkan ekuator.

Posisi semu matahari di atas Pulau Jawa akan terjadi 2 kali yaitu di bulan September atau Oktober serta Februari atau Maret. Oleh sebab itu, puncak suhu maksimum terasa di wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara Timur akan terjadi di seputar bulan-bulan tersebut.

Di samping itu, cuaca cerah juga menyebabkan penyinaran langsung sinar matahari ke permukaan lebih optimal sehingga terjadi pemanasan suhu permukaan. Kondisi tersebut berkaitan dengan adanya siklon tropis KOMPASU di Laut Cina Selatan bagian utara yang menarik masa udara dan pertumbuhan awan-awan hujan serta menjauhi wilayah Indonesia. Akibatnya cuaca di wilayah Jawa cenderung menjadi lebih cerah, berawan dalam beberapa hari terakhir.

Penulis : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-gelombang-panas-tidak-terjadi-di-indonesia/feed/ 0
Bencana di Depan Mata, Perkuat Daya Dukung Lingkungan https://www.greeners.co/berita/bencana-di-depan-mata-perkuat-daya-dukung-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bencana-di-depan-mata-perkuat-daya-dukung-lingkungan https://www.greeners.co/berita/bencana-di-depan-mata-perkuat-daya-dukung-lingkungan/#respond Wed, 13 Oct 2021 12:15:53 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34063 Jakarta (Greeners) – Lima tahun terakhir tren bencana hidrometeorologi mendominasi kejadian bencana. Terjadinya bencana ini tidak terlepas dari campur tangan manusia yang membebani alam. Mempertahankan daya dukung dan daya tampung […]]]>

Jakarta (Greeners) – Lima tahun terakhir tren bencana hidrometeorologi mendominasi kejadian bencana. Terjadinya bencana ini tidak terlepas dari campur tangan manusia yang membebani alam. Mempertahankan daya dukung dan daya tampung lingkungan sangat perlu untuk mengurangi risiko bencana yang kerugiannya bisa mencapai puluhan triliun per tahunnya.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan, selain menimbulkan kerusakan, korban jiwa, dampak bencana tidak langsung cukup memberi kerugian material.

“Mengutip pernyataan Menteri Keuangan setidaknya kerugian bencana per tahunnya mencapai Rp 20 triliun,” katanya kepada Greeners di Jakarta, Rabu (13/10).

Setiap 13 Oktober dunia memperingati hari pengurangan bencana alam. Momentum ini menurut Abdul menjadi waktu tepat untuk membangkitkan kesadaran dan kesiapsiagaan seluruh komponen masyarakat di Indonesia.

Data BNPB menyebut, lima tahun terakhir periode tahun 2016-2020 telah terjadi 17.032 kali kejadian bencana. “Di mana 16.833 (98,8%) di antaranya adalah climate related disasters atau bencana hidrometeorologi. Bencana hidrometeorologi ini dari tahun ke tahun meningkat jumlah kejadiannya,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, iklim dan cuaca memiliki siklus. Namun ketika ada upaya memperbaiki dan mempertahankan daya dukung dan tampung lingkungan dapat meminimalisir risiko bencana hidrometeorologi.

“Kita tidak bisa membuat zero bencana, hanya bisa meminimalisir. Berbicara climate, berbicara lingkungan. Kita harus jaga alam dan alam akan jaga kita,” tegasnya.

Kejadian bencana 2016-2020. Sumber: BNPB

Daya Tampung Lingkungan Baik Kurangi Risiko Bencana

Terkait bencana hidrometeorologi, Abdul menjelaskan, ada hidrometeorologi basah seperti banjir, banjir bandang, longsor, cuaca ekstrem, gelombang pasang dan abrasi. Sedangkan hidrometeorologi kering meliputi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

“Terlihat bahwa kejadian bencana hidrometeorologi ini sangat kuat hubungannya dengan faktor manusia,” imbuhnya.

Banjir, banjir bandang, longsor erat kaitannya dengan perubahan fungsi guna lahan sepanjang daerah aliran sungai (DAS), kawasan lereng dan daerah tangkapan air (catchment area). Alih fungsi ini menyebabkan berkurangnya daya tampung dan daya dukung lingkungan.

Sementara itu lanjutnya, kebakaran hutan dan lahan lekat dengan aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan. “Ini bukan masalah fenomena climate changenya, tapi what we can do restore the nature is matter,” ucapnya.

Terkait bencana hidrometeorologi yang selalu berulang, perlu solusi permanen yang berbasis ekosistem untuk penanggulangan berkelanjutan. Menurutnya, solusi jangka pendek berupa kesiapsiagaan sambil menyusun solusi jangka panjang berbasis ekosistem.

“Artinya avoiding risk. Jika ada prakiraan cuaca hujan ekstrem dari BMKG, maka masyarakat yang berada di sepanjang DAS, kawasan kelerengan curam harus bisa melakukan evakuasi mandiri jika kondisinya memang mengharuskan demikian,” paparnya.

Ia pun memberi petunjuk antisipasi atau evakuasi jika ada potensi bencana hidrometeorologi karena hujan ekstrem. Masyarakat di sepanjang DAS dan lereng curam perlu memerhatikan kondisi di luar rumah atau bangunan. Saat tidak bisa melihat objek berjarak 30 meter karena intensitas hujan sangat lebat dan berlangsung hingga 1 jam, segera lakukan evakuasi sementara hingga hujan reda.

Jika kondisi hujan lebat tersebut terjadi di hulu, maka masyarakat di hulu harus bisa memberikan peringatan dini potensi banjir (dengan melihat tinggi muka air di hulu) kepada masyarakat di hilir.

“Jejaring komunikasi sepanjang DAS ini sudah banyak yang terjalin baik di kawasan-kawasan yang pernah mengalami banjir,” imbuhnya.

Bencana banjir menyebabkan kerugian besar. Foto: Shutterstock

Alami Suhu Terpanas

Sebelumnya Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan, pemerintah kabupaten/ kota harus mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan terburuk dari bencana alam serta dampak perubahan iklim.

BMKG memprediksi kejadian badai tropis, banjir, banjir bandang, longsor, angin kencang dan kekeringan akan lebih sering terjadi dengan intensitas kuat. Begitu pun prediksi es di puncak Jaya Wijaya Papua akan punah tahun 2025 dan naiknya muka air laut.

“Mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim sudah mendesak untuk mencegah risiko dan kerugian yang lebih besar,” kata Dwikorita dalam keterangannya.

Ia membeberkan fakta rilisan World Meteorological Organization bahwa suhu tahun 2020 menjadi salah satu dari tiga tahun terpanas yang pernah tercatat. Selain itu temperature rata-rata global mencapai 1,2 derajat Celcius lebih tinggi dari pada tahun 1850an.

Berdasarkan pengamatan BMKG, tahun 2020 menjadi tahun terpanas kedua dalam catatannya. Pengamatan pada 91 stasiun BMKG menunjukkan suhu rata-rata permukaan tahun 2020 lebih tinggi 0,7 derajat Celcius dari rata-rata periode referensi tahun 1981-2010.

“Situasi ini memicu pergeseran pola musim dan suhu udara yang mengakibatkan frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi,” ucapnya.

Kejadian kebakaran hutan dan lahan tidak hanya karena kondisi kekeringan yang ekstrem, tetapi juga menyebabkan peningkatan emisi karbon dan partikulat ke udara.

Penulis : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/bencana-di-depan-mata-perkuat-daya-dukung-lingkungan/feed/ 0
Generasi Muda, Ayo Ikut Kurangi Dampak Perubahan Iklim! https://www.greeners.co/aksi/generasi-muda-ayo-ikut-kurangi-dampak-perubahan-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=generasi-muda-ayo-ikut-kurangi-dampak-perubahan-iklim https://www.greeners.co/aksi/generasi-muda-ayo-ikut-kurangi-dampak-perubahan-iklim/#respond Sat, 09 Oct 2021 03:30:21 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=34012 Jakarta (Greeners) – Saat ini generasi muda punya tantangan baru untuk ikut mengendalikan dampak perubahan iklim. Caranya dengan menggunakan energi terbarukan (EBT) ramah lingkungan dan membatasi penggunaan kendaraan berbahan bakar […]]]>

Jakarta (Greeners) – Saat ini generasi muda punya tantangan baru untuk ikut mengendalikan dampak perubahan iklim. Caranya dengan menggunakan energi terbarukan (EBT) ramah lingkungan dan membatasi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil.

Oleh sebab itu, generasi muda harus menjadi aktor aktif menekan emisi gas rumah kaca (GRK) penyebab perubahan iklim. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pun mendorong generasi muda ikut mengurangi dampak perubahan iklim dengan memanfaatkan energi bersih.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mendorong hal itu dalam acara Indonesia Youth’s Determination to Reinforce Clean Energy and Climate Action di Jakarta, baru-baru ini.

“Generasi muda akan menjadi angkatan kerja di era transisi energi menuju net zero emission 2060. Mereka akan menjadi penentu dalam mempercepat transformasi dari penggunaan bahan bakar yang berbasis fosil menjadi berbasis EBT,” kata Menteri Siti.

Selain menggunakan energi bersih, generasi muda dapat melakukan penanaman pohon skala besar. Para generasi muda ini tambahnya, menjadi salah satu penentu keberhasilan mencegah kenaikan suhu bumi tidak lebih dari 1,5 derajat Celcius.

Kejar Target Penurunan Emisi

Menteri Siti menjelaskan, agenda perubahan iklim sangat penting bagi Indonesia. Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 28H menyatakan, bahwa negara harus menjamin kehidupan dan lingkungan yang layak bagi warga negaranya. Inilah alasan utama yang mendasari komitmen Indonesia untuk menekan dampak perubahan iklim.

Sementara itu, merujuk dokumen Updated NDC (UNDC) Indonesia yang telah sampai ke sekretariat The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) menyebut komitmen peningkatan ambisi pengurangan emisi GRK di Indonesia pada tahun 2030. Indonesia menargetkan 60 % penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor forestry and other land use (FoLU) 

“Dokumen Updated NDC menunjukkan peningkatan komitmen Indonesia untuk periode jangka panjang dan mencapai keseimbangan antara pengurangan emisi GRK di masa depan dan pembangunan ekonomi,” ungkapnya.

Tanam pohon peduli perubahan iklim

Tanam pohon salah satu upaya mengurangi dampak perubahan iklim. Foto: Shutterstock

Perubahan Iklim Naikkan Suhu Bumi

Dalam kesempatan itu, Menteri Siti mengungkapkan, perubahan iklim bisa berdampak pada kenaikan suhu bumi. Terkait  hal itu The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebut, tahun 2011 – 2020, suhu permukaan global sudah meningkat rata-rata 1,09 derajat Celcius.

Kenaikan suhu tersebut terjadi di permukaan daratan sebesar 1,5 derajat Celcius dan di permukaan lautan sebesar 0,89 derajat Celcius. Oleh karena itu, tanpa upaya menurunkan emisi besar pada tahun 2020-2050, suhu akan meningkat mencapai 2,1 derajat sampai 3,5 derajat Celcius pada skenario intermediate.

Berkaca pada kondisi itu, KLHK mendorong generasi muda ikut peduli mengendalikan perubahan iklim lewat aksi-aksi iklim dan energi bersih.

KLHK juga menantikan peran aktif generasi muda. Menteri Siti menilai, generasi memiliki ciri berani berpendapat, menyerap nilai dan gagasan baru dengan cepat serta inovatif. Generasi muda pun tambahnya, dinamis, bermobilitas tinggi, memiliki kesetiakawanan dan kepedulian sosial tinggi. Oleh sebab itu generasi muda sangat penting menyukseskan berbagai agenda pengendalian perubahan iklim.

Generasi Muda di Perguruan Tinggi Galang Aksi

Saat ini, KLHK menggandeng Society of Renewable Energy (SRE) dalam menggalang aksi generasi muda menekan dampak perubahan iklim. Organisasi ini merupakan wadah bagi generasi muda untuk ikut berkontribusi dalam aksi-aksi perubahan iklim dan transisi energi di Indonesia.

Pendiri Society of Renewable Energy (SRE) Zagy Yakana Berian berharap, gagasan generasi muda dalam acara tersebut dapat berkontribusi menjadikan Indonesia sebagai negara yang lebih hijau dan bersih.

SRE berdiri berkat inisiasi Institut Teknologi Bandung (ITB). Sebanyak 37 perguruan tinggi seIndonesia bergabung dalam SRE. Perguruan tinggi yang terlibat antara lain Universitas Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Gadjah Mada dan Institut Pertanian Bogor.

“Harapan kami semua gagasan, pandangan, ide-ide yang lahir dari forum ini menjadi bagian dari kontribusi anak-anak muda. Gagasan untuk menjadikan Indonesia yang menjadi jauh dan lebih hijau dan lebih bersih,” kata Zagy.

Penulis : Fitri Annisa

]]>
https://www.greeners.co/aksi/generasi-muda-ayo-ikut-kurangi-dampak-perubahan-iklim/feed/ 0
Masa ‘Hiatus’ Pemanasan Global Sudah Berakhir https://www.greeners.co/berita/masa-hiatus-pemanasan-global-sudah-berakhir/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=masa-hiatus-pemanasan-global-sudah-berakhir https://www.greeners.co/berita/masa-hiatus-pemanasan-global-sudah-berakhir/#respond Tue, 07 Nov 2017 07:47:21 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19207 Lautan Pasifik memasuki fase tidak-begitu-panas lagi, sebagai bagian dari siklus alami jangka panjang, namun kini sudah hampir mencapai akhir. Hal ini menjelaskan adanya penurunan nyata pada laju perubahan iklim.]]>

LONDON, 2 Oktober 2017 – Sudah resmi. Dunia menghangat berdasarkan prediksi. Masa yang paling banyak diperdebatkan, ‘masa jeda’ perubahan iklim sudah resmi berakhir. Dan, siapa yang bertanggung jawab terhadap mendinginnya planet meski kadar karbon dioksida semakin meningkat di atmosfer?

Salahkan Lautan Pasifik. Lautan Pasifik memasuki fase tidak-begitu-panas lagi, sebagai bagian dari siklus alami jangka panjang, namun kini sudah hampir mencapai akhir. Hal ini menjelaskan adanya penurunan nyata pada laju perubahan iklim. Keputusan ini dibuat oleh Met Office di Inggris, yang menyimpan data suhu tertua di dunia, sekaligus pionir ilmu cuaca.

“Setelah periode pada awal tahun 2000an ketika kenaikan suhu global berarti ada perlambatan, nilai pada tahun 2015 dan 2016 memecahkan rekor dan telah melampaui 1°C di atas level pra-industri,” jelas Profesor Stephen Belcher, kepala ilmuwan di Met Office. “Data dari Met Office menunjukkan bahwa laju perubahan iklim jangka panjang kini telah kembali kepada level pada pertengahan kedua di abad 20.”

Masa hiatus pada perubahan iklim yang terjadi antara tahun 1999 dan 2014 merupakan fenomena yang digembor-gemborkan oleh para ilmuwan penyangkal perubahan iklim sebagai bukti bahwa pemanasan global tidak ada atau bahkan sudah berhenti. Tetapi, hal tersebut juga memberikan teka-teki baru bagi pada ilmuwan iklim, ahli kelautan, ahli gunung es, dan prediksi cuaca: bagaimana suhu atmosferik tidak berjalan sesuai dengan ekspetasi?

Hal yang selanjutnya terjadi memberikan para akademisi sebuah kasus studi bagaimana ilmu pengetahuan dilakukan bahwa para peneliti di seluruh dunia melihat persoalan dari berbagai cara dan memberikan lusinan jawaban yang masih belum pasti.

Rekor pemanasan global

Rekor pertama, untuk pertengahan kedua pada abad 20, dunia menghangat secara tetap dan konsisten sesuai dengan prediksi berdasarkan efek rumah kaca. Artinya, karbon dioksida yang dilepaskan ke dalam atmosfer melalui pembakaran bahan bakar fosil sejak Revolusi Industri telah menangkap radiasi infra merah dan menghangatkan planet.

Namun, untuk dekade pertama dan setengah dari abad ini, laju pemanasan melambat. Beberapa peneliti berargumen bahwa efek tersebut hanya temporer, sementara yang lain mempertimbangkan bukti yang ada dan membayangkan apakah bisa dikatakan ada pelambatan sama sekali bahwa bukti tersebut, antara ilusi atau hanya melihat pelambatan pada jangka pendek. Peneliti lainnya berargumen bahwa sekalipun rata-rata laju kenaikan suhu telah menurun, jumlah panas ekstrim telah meningkat atau kenaikan jumlah erupsi volkanik mungkin menutupi radiasi matahari dan menurunkan suhu.

Peran lautan

Meski demikian, grup lainnya mengesankan bahwa lautan telah memegang peran yang tidak terduga atau penurunan yang terjadi tidak membuat perubahan sama sekali, dengan kata lain pemanasan akan terjadi seperti biasa.

Selama tiga tahun, rekor suhu global telah dipecahkan, setiap tahun bertambah panas dari tahun sebelumnya dan pada tahun 2016, suhu rata-rata global bertahan pada 1°C di atas rata-rata tahun industri jangka panjang.

Bagian dari penjelasan adalah suhu global meningkat akibat fenomena alami di Lautan Pasifik, yaitu El Niño. Namun, selama satu dekade atau awal abad, bagian lautan Pasifik lainnya mulai terungkap: Pacific Decadal Oscillation, yang menghembuskan hangat dan dingin beradasarkan pola putaran. Dan saat ini, jelas para ilmuwan Met Office, telah meredam laju pemanasan global.

Tahun ini akan mustahil untuk memecahkan seluruh rekor. Namun, para kepala ilmuwan di Met Office mengatakan, laju pemanasan telah meningkat. Dunia akan menjadi lebih panas.

“Akhir dari pelambatan pemanasan global diakibatkan oleh adanya perputaran suhu permukaan air laut di Pasifik, jelas Adam Scaife, yang memimpin prediksi bulanan-hingga-dekaden di Met Office. “Hal ini disebabkan adanya perubahan pada Pacific Decadal Oscillation yang memasuki fase positif, memanaskan daerah tropis, pantai barat Amerika Utara dan global secara keseluruhan.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/masa-hiatus-pemanasan-global-sudah-berakhir/feed/ 0
Delri di UNFCCC Perlu Menimbang Batas Aman Kenaikan Suhu Global https://www.greeners.co/berita/12158/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=12158 https://www.greeners.co/berita/12158/#respond Mon, 07 Dec 2015 06:33:06 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12158 WWF Indonesia menyatakan bahwa dalam minggu kedua pelaksanaan COP 21 UNFCCC, diharapkan Delegasi Indonesia (Delri) dapat mempertimbangkan batas aman kenaikan suhu global.]]>

Jakarta (Greeners) – Menuju minggu kedua pelaksanaan Conference of the Parties (COP) 21 UNFCCC pada Senin (07/12) di Paris, Perancis, para negosiator dunia akan memasuki fase penting dengan dimulainya sesi tingkat Menteri (Ministrial Segment).

Dr. Efransjah, CEO WWF Indonesia, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa dalam sesi ini, diharapkan Delegasi Indonesia (Delri) dapat mempertimbangkan batas aman kenaikan suhu global dengan tegas agar batas kenaikan suhu global yang disepakati nantinya berada di bawah dua derajat Celcius untuk menghindari dampak perubahan iklim yang parah, khususnya bagi negara-negara kepulauan yang sangat rentan.

“Masih terjadi perdebatan dalam mengakomodasi prinsip ‘responsibility’ (tanggung jawab) dan ‘capability’ (kemampuan) yang dapat diterima oleh semua pihak. Juga mengenai debat tentang batas kenaikan suhu global antara 2 derajat Celcius dan 1,5 derajat Celcius,” terang Efransjah saat menyikapi perkembangan terkini hingga hari Sabtu (05/12) kemarin.

Sementara itu, salah satu sesi di Pavilion Indonesia pada hari terakhir di minggu pertama membahas inisiatif lintas batas (transboundary initiative) antara Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia di Pulau Kalimantan yang dikenal dengan The Heart of Borneo (HoB).

Saat mengantar diskusi yang dihadiri perwakilan tiga negara, Dr. Lukita Dinarsyah Tuwo, Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, menyatakan bahwa The Heart of Borneo merupakan salah satu upaya kontribusi dari Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca global dengan menjaga 22 juta hektare tutupan hutan di Pulau Kalimantan.

“Usaha ini juga menyelamatkan kekayaan keanekaragaman hayati dan memberi manfaat bagi masyarakat setempat,” kata Lukita.

Dalam kesempatan itu, Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu turut memaparkan skenario ekonomi hijau yang akan dijalankan kabupatennya, yang mana 90 persen luasannya masih merupakan hutan. Seluruh wilayah Kabupaten Mahakam Ulu , Kalimantan Timur berada dalam bentang alam HoB.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/12158/feed/ 0