komunitas - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/komunitas/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 23 Jul 2023 04:45:52 +0000 id hourly 1 Bicara Udara Kawal Perbaikan Kualitas Udara https://www.greeners.co/sosok-komunitas/bicara-udara-kawal-perbaikan-kualitas-udara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bicara-udara-kawal-perbaikan-kualitas-udara https://www.greeners.co/sosok-komunitas/bicara-udara-kawal-perbaikan-kualitas-udara/#respond Sun, 23 Jul 2023 04:45:52 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=40893 Jakarta (Greeners) – Polusi udara masih menjadi permasalahan yang belum tuntas terselesaikan. Bicara Udara muncul untuk membawa harapan baru membantu memenuhi hak masyarakat atas udara bersih. Bicara Udara merupakan sebuah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Polusi udara masih menjadi permasalahan yang belum tuntas terselesaikan. Bicara Udara muncul untuk membawa harapan baru membantu memenuhi hak masyarakat atas udara bersih.

Bicara Udara merupakan sebuah komunitas yang sekelompok orang prakarsai karena merasakan pentingnya menyuarakan kepedulian terhadap kualitas udara di tempat mereka beraktivitas. Kehadirannya di tengah polusi udara membuka jalan untuk mencapai hidup bebas dari polusi.

Terbentuknya Bicara Udara, berawal dari kecemasan tiga orang ibu terhadap masalah lingkungan salah satunya polusi udara yang membahayakan anaknya. Novita Natalia sekaligus Co Founder Bicara Udara menjadi salah satu yang merasakan kecemasan tersebut.

“Pertama kali Bicara Udara ada yaitu karena kita masuk ke isu yang paling dekat dahulu yaitu orang yang membakar sampah, hal ini relate di kehidupan sehari-hari,” kata Novita kepada Greeners baru-baru ini.

Berasal dari kegelisahan tersebut, akhirnya Novita bersama komunitasnya mengadakan petisi yang berhasil mengumpulkan 78.000 tanda tangan tentang pentingnya udara bersih. Novita berpendapat, masalah pencemaran udara tidak hanya berasal dari pembakaran sampah, melainkan ada penyebab yang jauh lebih besar sehingga masyarakat harus teredukasi.

Bicara Udara berharap dengan adanya petisi seperti ini bisa membentuk tekanan publik yang bisa mereka ajukan kepada pemerintah. Sebab, pemerintah memiliki andil dalam mengatasi polusi udara melalui kebijakan demi mencapai hak hidup atas udara bersih di Indonesia.

Bicara Udara Gandeng Pemerintah

Setelah tiga tahun giat memerangi polusi udara, Bicara Udara telah mengantongi keberhasilan dari serangkaian upayanya. Mereka berhasil mendapat perhatian dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mengambil langkah lebih serius dalam mengatasi persoalan polusi udara.

“Kalau dari sisi kebijakan itu yang goal yaitu ke Kementerian Kesehatan, kita berhasil meeting tiga kali bersama menteri kesehatan. Awalnya kita launching film dokumenter Sengal. Kemudian menteri kesehatan melihat ada masalah kesehatan masyarakat dari hal ini,” ungkap Novita.

Tidak lama berselang, Bicara Udara diajak bekerja sama oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bersama dengan Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan untuk membentuk komite penyakit respirasi dan dampak polusi udara. Sejauh ini, gagasan tersebut masih dalam tahap proses.

Novita berharap, melalui kerja sama ini, pemerintah dapat mendorong sensor kualitas udara yang berperan sebagai peringatan dini, sehingga masyarakat bisa melakukan antisipasi ketika polusi udara meningkat. Bicara Udara juga berupaya menjadikan polusi udara sebagai isu perbincangan pada pemilu tahun 2024.

Foto: Bicara Udara

Wadah Aspirasi dan Edukasi

Dalam menjalankan komitmennya, edukasi polusi udara menjadi satu hal yang mereka pegang teguh. Komunitas ini ingin terus menjadi wadah aspirasi dan edukasi bagi masyarakat untuk terlibat dalam pemecahan solusi.

Dilema polusi udara bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga berperan penting dalam melakukan upaya menjaga kualitas udara. Oleh karena itu, Bicara Udara ingin memengaruhi kesadaran publik tentang masalah ini melalui campaign atau kampanye offline maupun online secara rutin.

Melalui campaign mereka kerap mengangkat isu-isu terkini seputar polusi udara dari berbagai sudut pandang. Misalnya, dari segi kesehatan dan ekonomi. Saat ini mereka pun sedang fokus membahas transisi energi. Hal ini terus mereka lakukan untuk membantu masyarakat memahami kondisi polusi udara terkini.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/bicara-udara-kawal-perbaikan-kualitas-udara/feed/ 0
Nuansa Pulau Selamatkan Terumbu Karang dari Kerusakan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/nuansa-pulau-selamatkan-terumbu-karang-dari-kerusakan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nuansa-pulau-selamatkan-terumbu-karang-dari-kerusakan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/nuansa-pulau-selamatkan-terumbu-karang-dari-kerusakan/#respond Fri, 30 Jun 2023 04:58:53 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=40616 Klungkung (Greeners) – Perairan Nusa Penida terkenal dengan terumbu karangnya yang indah. Berdekatan dengan kawasan konservasi terumbu karang tersebut, kaum muda di Desa Ped, Nusa Penida pun tergerak membentuk komunitas […]]]>

Klungkung (Greeners) – Perairan Nusa Penida terkenal dengan terumbu karangnya yang indah. Berdekatan dengan kawasan konservasi terumbu karang tersebut, kaum muda di Desa Ped, Nusa Penida pun tergerak membentuk komunitas Nuansa Pulau untuk melindungi terumbu karang di wilayah mereka.

Sejak pandemi Covid-19 tahun 2020, Komunitas Nuansa Pulau terbentuk. I Nyoman Karyawan menjadi komandan gerakan ini dan mengajak anak muda setempat berpartisipasi aktif dalam kegiatan perlindungan terumbu karang.

Sejauh ini, sebanyak 25 anggota telah bergabung dengan Nuansa Pulau. Semua anggota komunitas pun sudah memiliki keahlian menyelam karena sebagian besar aktivitas mereka berada di laut, sehingga terlatih untuk bisa ikut mengawasi terumbu karang.

Anggota Nuansa Pulau, I Gede Ranta Widya mengatakan sebagai anak pulau, ia termotivasi untuk bergabung dengan komunitas ini karena hidupnya hanya bergantung pada laut dan sektor pariwisata.

“Motivasinya kan kita anak pulau, jadi bergantung sama ini dan pariwisata juga. Jadi ngapain sih kita kayak enggak peduli sama laut-laut kita. Karena kita juga kan nyari makan di sana,” katanya saat Greeners temui di lokasi Komunitas Nuansa Pulau, di Klungkung, Bali.

Kegiatan mereka fokus pada terumbu karang. Mereka membersihkan karang dari patok dan mengganti karang-karang yang rusak.

Metode Reef Star untuk Penyelamatan Terumbu Karang

Selama tiga tahun, Komunitas Nuansa Pulau aktif bekerja melindungi terumbu karang dan menerapkan metode reef star dalam merawatnya. Metode tersebut merupakan metode restorasi dengan material berbentuk kerangka baja yang dilapisi pasir.

Luas wilayah konservasi terumbu karang ini cukup luas, mencapai 1 kilometer dan tercatat telah ditanam sebanyak 30.000 bibit karang. Bibit tidak disemai sembarangan, anggota Nuansa Pulau sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan mengimplementasikan penanaman karang.

Beberapa NGO lingkungan juga mengajarkan metode dan pengetahuan ini. Ranta menambahkan, dia sudah lama diberi edukasi bagaimana cara membuat metode perawatan terumbu karang di sini.

Anggota komunitas Nuansa Pulau. Foto: Greeners/Dini Jembar Wardani

Sigap Hadapi Tantangan

Terumbu karang seringkali mati akibat terjadinya bleaching atau pemutihan. Dalam mengatasinya, Nuansa Pulau pun bertindak cepat dengan mengambil karang-karang tersebut.

“Dari karang yang bleaching itu, kita ambil. Kemudian habis bleaching tunggu dulu, kalau dia bisa tumbuh, tidak diambil. Kalau cukup besar pemutihannya, karang ini akan mati kemudian kita potong, buang, lalu tanam yang baru,” kata Ranta.

Pengawasan terumbu karang komunitas lakukan satu kali setiap minggu. Mereka merawat dan menanam terumbu karang pada kedalaman 10-15 meter.

Sebagai pecinta karang yang giat mencegah kerusakan karang, komunitas ini menghadapi berbagai tantangan. Ranta menambahkan, tantangan terbesar saat ini adalah aktivitas masyarakat dan wisatawan yang berpotensi merusak karang.

Dalam mengatasinya, komunitas ini mengedukasi perusahaan diving dan snorkeling bahwa di kedalaman 10 meter banyak karang yang perlu dilindungi. Harapannya, setelah ada edukasi wisatawan lebih berhati-hati supaya tidak merusak terumbu karang.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/nuansa-pulau-selamatkan-terumbu-karang-dari-kerusakan/feed/ 0
Komunitas Sepeda Onthel Eksis di Zaman Modern https://www.greeners.co/sosok-komunitas/komunitas-sepeda-onthel-eksis-di-zaman-modern/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=komunitas-sepeda-onthel-eksis-di-zaman-modern https://www.greeners.co/sosok-komunitas/komunitas-sepeda-onthel-eksis-di-zaman-modern/#respond Sun, 06 Nov 2022 04:18:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=37884 Bandung (Greeners) – Paguyuban Sapedah Baheula Bandoeng (PSBB) merupakan salah satu komunitas yang turut memeriahkan gelaran Hello Bike Festival di Summarecon Bandung. Tampak terlihat sepeda onthel yang antik berjejer memenuhi […]]]>

Bandung (Greeners) – Paguyuban Sapedah Baheula Bandoeng (PSBB) merupakan salah satu komunitas yang turut memeriahkan gelaran Hello Bike Festival di Summarecon Bandung. Tampak terlihat sepeda onthel yang antik berjejer memenuhi stand PSBB. Komunitas ini tampak mencolok dibanding komunitas sepeda lainnya.

Ketua Bidang Kegiatan PSBB Firmansyah mengatakan, di tengah gempuran sepeda kekinian, eksistensi sepeda onthel masih ada, bahkan tak punah. Ini terbukti komunitas ini telah berusia 13 tahun dengan anggota kurang lebih 1300 orang.

“Mungkin di awal-awal kemunculan kita kerap dianggap aneh karena terlihat ketinggalan zaman. Tapi kita bisa membuktikan di antara komunitas sepeda lain hingga mereka menerima kita, bahkan menghargai kita,” katanya kepada Greeners, Sabtu (5/11).

Awalnya, komunitas PSBB berdiri 31 Januari 2005 berlandaskan atas kesamaan hobi sepeda dan motor tua. Akan tetapi, seiring pertumbuhannya, komunitas ini lebih concern pada koleksi sepeda tua. Selain sekaligus mengusung misi ramah lingkungan, mereka juga ingin mengedukasi masyarakat tentang sepeda tua dan sejarah perkembangannya.

Firman menyebut, sepeda tua masih sangat relevan dengan perkembangan zaman saat ini. Bagaimana tidak, moda transportasi ini tak sekadar untuk keperluan transportasi ke suatu tempat. Namun juga sebagai koleksi bagian dari investasi.

“Harganya bervariasi, mulai dari Rp 300.000 hingga ratusan juta. Ini dilihat dari orisinalitas, keaslian dari umur sepeda tersebut. Semakin tua maka semakin mahal,” ungkapnya.

Ciri Khas Sepeda Onthel

Ia melanjutkan, semua negara pada dasarnya memproduksi sepeda. Akan tetapi ciri khas sepeda onthel identik dengan negara Inggris dan Belanda. “Termasuk dari detailnya, jika semakin detail maka semakin mahal. Karena pabriknya sudah tak memproduksi maka aksesoris akan lebih susah didapatkan,” imbuhnya.

Firman merupakan salah satu pecinta sepeda onthel yang pernah melalang buana ke Ceko. Di negara tersebut, para kolektor sepeda onthel tak sekadar memiliki banyak koleksi sepeda, tapi juga memiliki museum sendiri. “Sementara kolektor di Indonesia belum mempunyai museum sendiri, lebih ke pameran koleksi,” ucapnya.

Tak hanya memamerkan koleksi, komunitas PSBB juga melakukan touring ke berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari Bandung-Jawa Tengah, Bandung-Bali, hingga Bandung-Cirebon.

Menariknya, pesepeda lanjut usia yang mendominasi komunitas ini masih kuat menempuh jarak sepeda yang cukup jauh. “Ini menunjukkan komitmen kita bahwa kita tak hanya mempunyai koleksi sepeda atau aksesorisnya, tapi juga kita touring seperti halnya komunitas sepeda yang lain,” kata dia.

Salah satu sepeda antik milik komunitas sepeda onthel. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Bakal Gelar Bandung Lautan Onthel

Saat melakukan touring, komunitas ini mempersiapkan berbagai macam kebutuhan mulai dari alat transportasi, kotak P3K sebagai antisipasi jika pesepeda mengalami cedera hingga kecelakaan.

PSBB juga kerap kali melakukan kegiatan bersepeda dengan mengenakan kostum khusus sesuai tema acara. Misalnya, saat hari perayaan yang berkaitan dengan perjuangan Indonesia maka mengenakan atribut busana baju perjuangan. Demikian pula saat acara-acara tradisional maka anggota komunitas ini mengenakan pakaian pangsi hingga pakaian adat Jawa berupa lurik.

Komunitas PSBB memiliki agenda rutin bernama Bandung Lautan Onthel setiap tiga tahun sekali. Agenda selanjutnya akan berlangsung di tahun 2023 nanti dengan target 10.000 peserta.

“Acara ini menjadi kiblatnya acara sepeda tua di Indonesia. Tahun 2019 kemarin ada kita tunda karena pandemi. Kita berharap agenda nanti berjalan lancar,” pungkasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/komunitas-sepeda-onthel-eksis-di-zaman-modern/feed/ 0
Komunitas Bring Your Tumbler: Belanja dan Gunakan dengan Bijak https://www.greeners.co/sosok-komunitas/komunitas-bring-your-tumbler-belanja-dan-gunakan-dengan-bijak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=komunitas-bring-your-tumbler-belanja-dan-gunakan-dengan-bijak https://www.greeners.co/sosok-komunitas/komunitas-bring-your-tumbler-belanja-dan-gunakan-dengan-bijak/#respond Wed, 24 Jun 2020 23:56:32 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=27653 Komunitas Bring Your Tumbler ingin mengaktualisasikan penggunaan tumbler dalam kehidupan sehingga menjadi tren di kalangan anak muda.]]>

Masyarakat Indonesia masih terus bergantung kepada plastik karena dianggap praktis dan mudah didapatkan. Meskipun begitu, para aktivis lingkungan menilai sampah plastik khususnya botol menjadi salah satu faktor penyebab pencemaran di lingkungan. Hal ini dibuktikan dengan lamanya proses penguraian plastik yang membutuhkan waktu hingga 450 tahun.

Berbagai gerakan lingkungan mulai mencari solusi alternatif untuk menggantikan botol plastik yang banyak beredar di pasaran. Salah satu komunitas yang terus berkontribusi untuk memberikan edukasi kepada masyarakat ialah Bring Your Tumbler.

Baca juga: Rampok Plastik, Gaya Komunitas ASEAN RBC Mengedukasi Masyarakat

Tirtha Kusuma Wardhani selaku Project Leader Bring Your Tumbler, mengatakan bahwa komunitas ini lahir dari sebuah proyek kompetisi pendanaan di 2015. Rencana tersebut berupaya menyelamatkan bumi dari dampak pemanasan global.

Ia menambahkan, tujuan dari BYT ialah untuk mengaktualisasikan penggunaan tumbler dalam kehidupan sehingga menjadi tren di kalangan anak muda. Salah satu cara yang efektif untuk mencapai hal tersebut adalah dengan menyebarkan ‘virus tumbler’ pada anak muda di Bali khususnya.

Selain Bring Your Tumbler Goes to School, program rutin yang dilaksanakan BYT, yaitu Environment Talkshow, Kampanye Gerakan Indonesia Membawa Tumbler, dan One Day Eco Camp. “Awalnya kami turun ke sekolah dasar,” ucapnya saat di hubungi oleh Greeners, Minggu, 7 Juni 2020.

Komunitas Bring Your Tumbler

Komunitas Bring Your Tumbler. Foto: Intsgaram Komunitas Bring Your Tumblera

Membawa tumbler dinilai menjadi salah satu solusi untuk mengurangi timbulan sampah botol plastik sekali pakai. Namun, di lain sisi keberadaan tumbler juga menuai pro dan kontra di masyarakat. Dalam pembuatannya, tumbler membutuhkan energi yang lebih besar daripada plastik.

Tirtha membenarkan bahwa penggunaan barang-barang alternatif juga akan berdampak negatif terutama karena industri kerap melalui proses yang tidak ramah lingkungan. Menurutnya, setiap produk buatan pasti meninggalkan jejak karbon bagi ekosistem.

“Yang terpenting itu bagaimana cara mengurangi sikap konsumtif. Jangan beli barang apa pun hanya sekadar untuk koleksi, sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Belanja dengan bijak dan gunakan dengan bijak,” ujarnya.

Baca juga: Rampok Plastik, Gaya Komunitas ASEAN RBC Mengedukasi Masyarakat

Ia juga mengedukasi masyarakat bahwa tiap individu bertanggung jawab akan setiap sampah yang dihasilkan. “Dengan begitu masyarakat akan semakin bijak dalam menentukan  pilihan.”

Hingga saat ini, komunitas Bring Your Tumbler memiliki kurang lebih 30 relawan dan lebih dari 500 Eco Warrior di seluruh Indonesia. Mereka sudah diberikan sosialisasi untuk membantu kampanye.

Ia berharap agar masyarakat lebih peduli lagi dengan lingkungan karena perubahan apa pun mencerminkan individu-individu yang menghuninya. Kepada generasi penerus, ia berpesan untuk menggunakan tumbler. Meski sederhana, tetapi hal tersebut dapat membawa dampak yang luar biasa untuk Bumi. “Sehingga dapat mewariskan lingkungan lestari ini kepada anak cucu kita nantinya. Dimulai dari sayangi Bumi dan dimulai dari kita,” ucapnya.

Penulis: Ridho Pambudi

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/komunitas-bring-your-tumbler-belanja-dan-gunakan-dengan-bijak/feed/ 0
KUN Humanity System+, Sosialisasikan Sistem Penyelamatan di Gunung https://www.greeners.co/sosok-komunitas/kun-humanity-system-sosialisasikan-sistem-penyelamatan-gunung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kun-humanity-system-sosialisasikan-sistem-penyelamatan-gunung https://www.greeners.co/sosok-komunitas/kun-humanity-system-sosialisasikan-sistem-penyelamatan-gunung/#respond Thu, 13 Apr 2017 12:04:07 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=16696 Buruknya sistem penyelamatan dan minimnya tenaga medis di wilayah pegunungan Indonesia masih menjadi masalah. Hal inilah yang menjadi misi komunitas KUN Humanity System+, menekan angka kematian di gunung Indonesia.]]>

Jakarta (Greeners) – Mendaki gunung bagi para pecinta alam menjadi kegiatan yang tidak boleh dilewatkan. Selain pemandangan nan indah dari puncak gunung, banyak manfaat yang diperoleh dari kegiatan mendaki. Salah satunya membentuk fisik yang sehat seperti alasan sang aktivis muda pecinta alam, Soe Hok Gie sebelum wafat di Gunung Semeru, 18 Desember 1969.

Angka kematian para pendaki gunung di Indonesia memang masih relatif tinggi. Hal ini dikarenakan buruknya sistem rescue atau penyelamatan dan minimnya tenaga medis di wilayah pegunungan. Miris dengan keadaan tersebut, Anggi Frisca bersama teman-temannya mendirikan KUN Humanity System+. Berkolaborasi dengan seorang dokter yang memiliki keahlian sebagai Wilderness Medical Doctor, komunitas KUN memiliki visi untuk menekan angka kematian di gunung Indonesia.

“Kita membuat sebuah kolaborasi atau gerakan bagaimana masyarakat aware terhadap sistem itu, meskipun hanya hal kecil seperti membawa first aid kit (kotak P3K) agar bisa cepat tanggap jika terjadi sesuatu di gunung,” ujar Frisca saat ditemui oleh Greeners di acara festival outdoor di Jakarta.

kun humanity system

Foto: KUN Humanity System

KUN berasal dari kosa kata Jawa Kuno yang bermakna harapan, impian, idaman, atau cita. KUN sendiri memiliki arti Aku yang besar, dan kita sendiri adalah aku yang kecil. “Aku ini bukan saya tapi aku di antara besar jadi kajiannya besar ke aku yang paling dalam, dan diharapkan semua orang punya pemaknaan aku yang lain,” ujar Frisca.

Humanity System sendiri memiliki arti sistem kemanusiaan yang saling tolong-menolong dan saling membantu satu sama lain. Sedangkan, tanda + (plus) merupakan simbol dari first aid. “Bukan hanya sekadar bahasa medis, tapi bagaimana cara agar dapat cepat tanggap dalam situasi dengan masalah apapun,” imbuh Frisca.

Komunitas yang lahir pada 7 November 2016 ini sering melakukan pelatihan rutin kepada masyarakat sekitar gunung tentang pertolongan pertama di alam liar. Pelatihan ini diberikan secara gratis oleh KUN dan bekerjasama dengan pihak taman nasional. Hal ini dikarenakan masyarakat sekitar merupakan orang pertama yang akan turun ke lapangan jika terjadi suatu masalah terhadap para pendaki.

Pelatihan tersebut dibagi menjadi dua jenis, yakni pelatihan tentang medical first aid dan psikologis first aid. “Pada dasarnya orang cuma lihat itu sebagai situasi fisik, padahal setelah kejadian yang menimpa korban juga bisa terkena trauma,” katanya.

Karena baru terbentuk pada tahun 2016, KUN Humanity System+ belum membuka pendaftaran bagi relawan yang ingin bergabung. “Kita masih membuat sistemnya dulu untuk pergerakan ini dan beberapa riset produk untuk fasilitas penunjang penyelamatan,” ujar Frisca.

Meski demikian, masyarakat umum dapat mengikuti kegiatan KUN melalui fanspage mereka di Facebook dengan nama akun: KUN humanitysystem. “Misalnya mau daftar (KUN) mungkin setelah Mei. Kita pengin buka banyak banget peluang volunteering untuk berkegiatan bersama dan berkontribusi,” tutup Firsca.

Penulis: Thorvy Qolbi

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/kun-humanity-system-sosialisasikan-sistem-penyelamatan-gunung/feed/ 0
Jamnas Federal III, Lebih Dari Sekedar Silaturahmi dan “Kopdar” https://www.greeners.co/aksi/jamnas-federal-iii-lebih-sekedar-silaturrahmi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jamnas-federal-iii-lebih-sekedar-silaturrahmi https://www.greeners.co/aksi/jamnas-federal-iii-lebih-sekedar-silaturrahmi/#respond Sun, 22 May 2016 08:25:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=13731 Kediri (Greeners) – Jambore nasional komunitas pecinta sepeda Federal yang dilaksanakan di Kota Kediri dan Kabupaten Kediri telah memasuki hari terakhir pelaksanaannya. Kegiatan yang telah dilaksanakan sejak 20 Mei ini […]]]>

Kediri (Greeners) – Jambore nasional komunitas pecinta sepeda Federal yang dilaksanakan di Kota Kediri dan Kabupaten Kediri telah memasuki hari terakhir pelaksanaannya. Kegiatan yang telah dilaksanakan sejak 20 Mei ini ditutup secara resmi pada hari Minggu 22 Mei 2016 di kawasan wisata Besuki Dolo Kabupaten Kediri.

Selain dimanfaatkan sebagai ajang pertemuan (kopdar) serta silaturahmi diantara anggotanya, Jamnas kali ini juga dimanfaatkan sebagai ajang pelatihan dan pembentukan karakter bagi generasi muda. Setidaknya, itu yang dilakukan oleh Fino Benson (57) dan Vita (52), pasangan Federalis dari Bekasi.

Pasangan kakek nenek ini datang ke Kediri dengan mengajak serta Mikhaela, cucu lelakinya yang baru berusia 1,4 tahun. Selama ajang Jamnas, sang cucu juga diajak berkeliling menggunakan sepeda Federal.

Fino memasang kursi pada boncengan sepedanya. Kursi tersebut memang didesain khusus untuk tempat duduk anak di boncengan sepeda. Sisi keamanan, juga menjadi bagian dari perhatiannya, yaitu adanya sabuk pengaman untuk sang cucu.

Mikhaela bersama sang Kakek / Foto : M. Agus Fauzul Hakim

Mikhaela bersama sang Kakek / Foto : M. Agus Fauzul Hakim

Pasangan ini juga senantiasa memperhatikan kebutuhan bagi sang bayi. Beberapa waktu tertentu, mereka mengganti popok dan memberinya susu yang disiapkan.

Fino mengaku kerap mengajak Mika bersepeda. Kebiasaan itu telah diterapkan sejak Mika masih berusia 6 bulan. Harapannya, sang anak mengenal alam dan mempunyai karakter cinta lingkungan.

“Saya enggak mau nanti cucu saya hidupnya ngemall saja. Itu kebiasaan buruk!. Makanya saya ajak agar tahu alam,” ujar kakek yang bernaung pada Federal Nusantara Bekasi ini.

Mika sendiri nampak ceria dan bersemangat. Tidak ada kesan rewel. Penampilannya yang lucu dan menggemaskan kerap membuat Federalis lainnya menghampiri sekedar mengajaknya bermain dan memancing tawa.

Selain kelucuan dan kebahagiaan bersama Mika, ada hal unik lain yang terlihat di lokasi kegiatan. Yaitu kehadiran seekor kucing bernama Marta.

Kucing jenis Persia ini senantiasa aktif mengikuti beberapa kegiatan yang ada di Jamnas, bahkan saat gowes bareng keliling kota digelar.

Aziz, pemiliknya, memfasilitasi kucing warna kombinasi putih dan hitam itu dengan sebuah kandang portabel. Kandang itu ditempatkan di boncengan sepedanya. Dengan demikian, Aziz dapat leluasa mengajak kucing kesayangannya itu menjelajah.

Gowes, bukanlah hal yang asing bagi kucing yang berusia hampir 5 tahun itu. Aziz memang kerap mengajaknya bersepeda. Bahkan Marta juga acapkali hadir dalam gelaran Jamnas yang berlangsung 2 tahunan itu.

“Jamnas yang lalu juga sudah ikut,” ujar Aziz, Federalis asal Jogja itu.

Aziz dan boncengan kandang kucingnya / Foto : M. Agus Fauzul Hakim

Aziz dan boncengan kandang kucingnya / Foto : M. Agus Fauzul Hakim

Jamnas Federal memang menjadi magnet bagi Federalis. Ratusan orang datang dari berbagai penjuru wilayah. Bahkan tidak sedikit yang datang dengan mengayuh sepedanya secara langsung, ada yang dari Jakarta bahkan Bali. Mereka menganggapnya sebagai media mencari kepuasan hati dan membangun keakraban sesama Federalis.

Jamnas yang telah berlangsung di Yogyakarta, Bandung, dan Kediri ini tidak terlepas dari ide sekelompok orang pecinta sepeda Federal. Mereka ingin bernostalgia masa kecil ketika sepeda ini sempat populer dan menjadi tumpangan hariannya. Kini sepeda Federal tidak diproduksi lagi karena pabriknya telah ditutup.

Salah satu pencetus ide lahirnya komunitas Federal adalah Bagas Triaji (29). Sebagai salah satu “Komandan Federalis”, Bagas menuturkan, komunitas ini lahir pada tahun 2009 lalu. Kelahirannya diawali dengan diskusi terbatas beberapa orang yang ada di grup sosial media Facebook. Seiring perkembangan, grup tersebut semakin ramai dan banyak anggotanya. Hingga saat ini grup Facebook tersebut sudah beranggotakan 9.000 orang.

Bagas Triaji / Foto : Greeners

Bagas Triaji / Foto : Greeners

Setelah ramai di dunia maya, ada keinginan untuk kopi darat agar bisa bertatap muka langsung antar sesama Federalis. Hingga kemudian digelar Jamnas pertama di Yogyakarta dan Jamnas kedua di kota Bandung.

Namun perhelatan di dua kali Jamnas sebelumnya tidak menyerap peserta sebanyak jumlah anggota grup sosial media yang menunjukkan angka ribuan. Yang hadir hanya 200 hingga 300 an. Meski demikian mereka optimis jumlah peserta akan semakin banyak kedepannya. Setidaknya dari hasil jamnas di Kediri ini, ada peserta hingga 500 orang.

“Kekurangan kami, tidak punya data dan belum ada upaya melakukan pendataan tentang berapa chapter (daerah) dan anggotanya,” ujar Bagas Triaji.

Sebagai informasi, Jamnas di Kediri menggunakan dua lokasi yang cukup berjauhan, yaitu di tengah kota Kediri dan area Kabupaten Kediri tepatnya Wisata Air Terjun Dolo di pegunungan Wilis pada ketinggian 1800 mdpl. Akan tetapi seluruh peserta tampak sangat menikmati alur kegiatan yang telah disusun dengan cermat oleh panitia pelaksananya.

Penulis : M. Agus Fauzul Hakim

]]>
https://www.greeners.co/aksi/jamnas-federal-iii-lebih-sekedar-silaturrahmi/feed/ 0
Bersepeda, Berkemah dan Berbagi Ilmu dalam Bikeventure https://www.greeners.co/aksi/bersepeda-berkemah-dan-berbagi-ilmu-dalam-bikeventure/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bersepeda-berkemah-dan-berbagi-ilmu-dalam-bikeventure https://www.greeners.co/aksi/bersepeda-berkemah-dan-berbagi-ilmu-dalam-bikeventure/#respond Tue, 09 Feb 2016 13:37:56 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=12791 Untuk pertama kalinya produsen perlengkapan outdoor Eiger mengadakan kegiatan Bikeventure, bersepeda, berkemah atau camping di alam terbuka, sekaligus berbagi ilmu.]]>

Bandung (Greeners) – Untuk pertama kalinya produsen perlengkapan outdoor Eiger mengadakan kegiatan Bikeventure, bersepeda, berkemah atau camping di alam terbuka, sekaligus berbagi ilmu. Acara bertajuk Bikeventure ini diselenggarakan pada tanggal 6 dan 7 Februari 2016 di Cikole Jayagiri Resort, Lembang, Bandung dan diikuti hingga seratus orang pesepeda.

Marketing Communications Eiger, Yandes Albarsyah, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan ide dari para pesepeda yang tergabung dalam komunitas #YukGowes yang diinisiasi oleh Eiger dan komunitas Bike to Campus Bandung.

“Ide atau gagasan awalnya dari komunitas #YukGowes yang diselenggarakan oleh Bike to Campus Bandung di store Eiger Setiabudi setiap dua minggu sekali. Karena mereka sering gowes (bersepeda, Red.), mereka punya ide untuk camping. Tapi kalau hanya sekadar camping mungkin sudah biasa, makanya kami membikin acara seperti ini. Sekalian kasih materi ilmu untuk bekal pengetahuan teman-teman,” ujarnya saat ditemui oleh Greeners di lokasi acara, Bandung, Minggu (07/02).

Bikeventure 2016. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Bikeventure 2016. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Dijelaskan Yandes, hampir seratus orang pesepeda mengikuti acara sejak hari pertama hingga hari kedua kegiatan Bikeventure. Mengenai jumlah peserta ini, Yandes mengaku membatasi hingga 100 pesepeda agar semua peserta dapat mengikuti kegiatan dengan maksimal.

“Awalnya peserta mengeluh. Mereka berpikir hanya bersepeda dan camping, tapi ternyata disini ada pembekalannya dan games juga. Kegiatannya padat lah. Tapi akhirnya mereka suka dan banyak informasi yang mereka tidak tahu dan mereka enjoy,” imbuhnya.

Bangun Setyo Nugroho selaku Ketua Bike to Campus Bandung yang turut hadir dalam kegiatan ini menyatakan bahwa dirinya mendukung acara kegiatan bersepeda di alam terbuka. “Kegiatan ini sangat unik dan jarang karena kuota peserta yang terbatas dan tersedianya fasilitas. Terimakasih sudah memercayakan Bike to Campus untuk terlibat dalam kegiatan ini,” ujarnya.

Bikeventure 2016. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Bikeventure 2016. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Dalam Bikeventure, berbagai kegiatan dan permainan sekaligus hiburan diadakan bergantian mengisi dua hari pelaksanaannya. Pesepeda memulai perjalanan mereka dari toko Eiger Setiabudi, Kota Bandung dan berakhir di bumi perkemahan Cikole Jayagiri Resort, Lembang. Di sepanjang rute yang dilewati, para pesepeda diminta untuk memotret berbagai objek di tempat tertentu dan hasil foto terbaik mendapatkan hadiah menarik dari panitia.

Selain itu, para peserta diberikan informasi dan tips seputar ular yang disampaikan oleh Sioux (yayasan studi ular Indonesia), sementara komunitas slackline memperkenalkan olahraga ekstrim yang memanfaatkan seutas tali. Berbagai games menarik digelar EHC (Eiger Hiking Community) untuk menghidupkan suasana dan membangun keakraban para peserta. Media lingkungan dan gaya hidup hijau Greeners.co juga turut berpartisipasi memberikan edukasi seputar pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan kelestarian alam.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/aksi/bersepeda-berkemah-dan-berbagi-ilmu-dalam-bikeventure/feed/ 0
Menyelamatkan Hewan Terlantar Bersama Animal Defenders https://www.greeners.co/sosok-komunitas/menyelamatkan-hewan-terlantar-bersama-animal-defenders/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menyelamatkan-hewan-terlantar-bersama-animal-defenders https://www.greeners.co/sosok-komunitas/menyelamatkan-hewan-terlantar-bersama-animal-defenders/#comments Thu, 28 Jan 2016 11:58:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=12668 Mereka yang tergabung dalam Animal Defenders punya satu kesamaan, niat tulus untuk menyelamatkan hewan terlantar. Kembalinya kehidupan normal hewan terlantar bagi mereka merupakan hal yang tidak ternilai.]]>

Jakarta (Greeners) – Bagi sebagian pecinta binatang, anjing dan kucing merupakan dua hewan peliharaan favorit. Namun, tidak jarang ditemukan anjing dan kucing yang menderita cedera, baik cedera ringan maupun berat, meski masih dalam pemeliharaan orang.

Hewan dengan cedera ini banyak ditemui di Batujajar, Cimanggis, Kota Depok. Beberapa orang yang peduli terhadap kondisi hewan ini menginisiasi gerakan penyelamatan anjing dan kucing di wilayah tersebut.

Berawal dari aksi yang dilakukan secara individu, orang-orang ini justru bersatu dengan adanya kasus keracunan massal anjing di Yogyakarta pada 2011 lalu. Pada tahun itulah lahir komunitas yang bergerak pada penyelamatan anjing dan kucing yang bernama Animal Defenders.

“Ada satu kasus yang membuat kita harus bersatu. Jadi, ada satu alasan untuk memantapkan kita dalam satu wadah agar kita bisa berbuat lebih dibanding kalau kita sendirian,” ungkap salah satu pendiri Animal Defenders, Doni Herdaru Tona, kepada Greeners pada akhir Desember lalu di bilangan Ciledug, Kota Tangerang, Banten.

Meski menjadi hewan yang paling banyak dipelihara masyarakat, ironisnya penyiksaan kucing dan anjing justru menjadi kasus dengan penanganan paling minim. Menurut Doni, tingginya kasus penyiksaan anjing dan kucing belum dapat diimbangi oleh sumber daya yang ada. Belum lagi dengan laporan masyarakat yang kadang berlebihan dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Hal ini membuat Animal Defenders harus selektif dalam menangani kasus.

“Sampai sekarang akhirnya kami memilih mana yang urgent sebab tenaga, waktu dan biaya itu terbatas,” ucap Doni dengan wajah serius.

Animal Defenders. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Animal Defenders. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Dalam menangani kasus penyiksaan atau penelantaran hewan, Animal Defenders melakukan beberapa tahapan. Tahap pertama adalah rescue atau aksi penyelamatan hewan yang tersiksa ataupun terlantar dari lokasi tertentu.

Setelah penyelamatan dilakukan, tahap selanjutnya adalah rehabilitasi. Pada tahap ini, kucing dan anjing akan menjalani proses penyembuhan, baik secara fisik maupun psikis dalam satu tempat. Animal Defenders sendiri memiliki dua tempat yang berbeda untuk merehabilitasi anjing dan kucing.

Menurut Doni, penanganan pada tahap ini tidak dilakukan secara merata melainkan tergantung dari tingkat cedera yang diderita anjing dan kucing tersebut. “Mentalnya juga direhab dari yang galak, takut, trauma dan insecure kami ajarkan di sini tidur bareng, main bareng sama orang dan anjing lain tanpa galak lagi,” ujarnya menjelaskan.

Tahap yang terakhir adalah re-home. Pada tahap ini, hewan yang dinilai telah sembuh secara fisik dan psikis akan dicarikan pengadopsi. Meski demikian, Animal Defenders tidak menyerahkan hewan yang sembuh kepada sembarang orang. Orang yang ingin mengadopsi kucing dan anjing harus memenuhi beberapa syarat yang diajukan.

Komitmen dan tanggung jawab dalam mengurus hewan adalah syarat utama yang harus dipenuhi calon pengadopsi. Calon pengadopsi harus rutin melaporkan perkembangan hewan yang diadopsi dalam jangka waktu tertentu. Hal ini, menurut Doni, mutlak harus dilakukan untuk menghindari penelantaran yang dialami hewan-hewan asuhnya.

Adopter harus melaporkan hingga 3-5 bulan, kadang juga ada sidak ke rumah. Karena bertanggung jawab, mengurusnya itu lebih penting dari pada cuma gaya-gayaan doang,” ujar pria yang juga vokalis band metal Funeral Inception ini.

Menurut Doni, para pengurus Animal Defenders tidak mengharapkan keuntungan materi atau finansial dalam melakukan kegiatan mereka. Bagi Doni dan rekan-rekannya, kembalinya kehidupan normal anjing dan kucing asuhannya adalah suatu hal yang tidak ternilai.

“Buat kami, itu satu kepuasan tersendiri yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, tidak bisa dinilai dengan materi,” pungkasnya.

Aktifitas dan informasi mengenai komunitas ini dapat dilihat dalam situs animaldefenders.co.id, facebook dengan akun Animal Defenders Indonesia, dan twitter @ADefenders.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/menyelamatkan-hewan-terlantar-bersama-animal-defenders/feed/ 1
#YukGowes Gowestory, Bersepeda Sambil Belajar Sejarah Museum https://www.greeners.co/aksi/yukgowes-gowestory-bersepeda-sambil-belajar-sejarah-museum/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yukgowes-gowestory-bersepeda-sambil-belajar-sejarah-museum https://www.greeners.co/aksi/yukgowes-gowestory-bersepeda-sambil-belajar-sejarah-museum/#respond Sat, 12 Dec 2015 12:24:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=12218 #YukGowes Eiger kali ini diadakan dalam rangka mendukung Konferensi Perubahan Iklim (COP 21) di Paris, Perancis. Para pesepeda juga singgah di beberapa museum untuk belajar sejarah.]]>

Bandung (Greeners) – Produsen perlengkapan outdoor Eiger dan Bike To Campus Bandung kembali mengadakan #YukGowes Eiger. Kali ini dengan tujuan menyambangi beberapa museum yang ada di kota Bandung, Sabtu, (5/12).

Kegiatan bersepeda dengan tema Gowestory ini diadakan dalam rangka mendukung Konferensi Perubahan Iklim (COP 21) di Paris, Perancis. Aksi ini mengajak seluruh pesepeda yang tergabung dalam berbagai komunitas seperti Earth Hour Bandung, Aleut, U-Green ITB, Ganesha Bicycler, dan Home Schooling Taman Sekar Bandung.

Sekitar 70 pesepeda yang mayoritas berusia muda berkumpul di dua titik berbeda, yakni halaman toko Eiger Setiabudi dan Shelter Bike.Bdg di Dago. Mereka kemudian berkeliling kota Bandung dan mengunjungi serta mempelajari sejarah beberapa museum yang ada di kota Bandung, yaitu Museum Geologi, Museum Pos Indonesia, dan Museum Konperensi Asia Afrika.

Dalam kegiatan ini, komunitas Aleut memandu para pesepeda dengan menjelaskan beberapa informasi dan pengetahuan mengenai sejarah museum hingga koleksi di setiap museum yang dikunjungi.

Kafin Sulthan, Duta Earth Hour Bandung yang juga merupakan musisi “Di Atas Rata-rata 2” besutan komposer Edwin Gutawa, turut meramaikan aksi bersama dalam mensosialisasikan bersepeda sebagai gaya hidup ramah lingkungan dan upaya pengurangan dampak emisi karbon.

Foto: Arman Chaniago dan Earth Hour Bandung

Foto: Arman Chaniago dan Earth Hour Bandung

Usai berkeliling kota, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama dan sharing kegiatan antar komunitas serta berfoto bersama sambil membentangkan beberapa poster dan spanduk sosialisasi bersepeda, hemat energi dan COP 21.

Rachmanda, wakil dari Earth Hour Bandung, mengaku tidak menyangka peserta yang hadir melebihi batas yang ditentukan. Sebagai penyedia sepeda sewa untuk peserta yang meminjam di shelter sepeda, ia mengaku kewalahan karena shelter Bike.Bdg Cikapayang dan Ganesha Bicycler hanya bisa menyediakan 40 sepeda. Sementara, pendaftar sudah mencapai 56 orang pada H-2 acara.

Meski demikian, Nindya, mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Padjajaran semester 7, salah satu peserta yang hadir mengaku senang telah mengikuti kegiatan ini. “Enggak terasa capek, soalnya seru sepedahan ramai-ramai sambil keliling museum di kota Bandung. Asiklah, bikin ketagihan,” ujar.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/aksi/yukgowes-gowestory-bersepeda-sambil-belajar-sejarah-museum/feed/ 0
Peduli Terumbu Karang Bersama Komunitas Terangi 48 https://www.greeners.co/sosok-komunitas/peduli-terumbu-karang-bersama-komunitas-terangi-48/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peduli-terumbu-karang-bersama-komunitas-terangi-48 https://www.greeners.co/sosok-komunitas/peduli-terumbu-karang-bersama-komunitas-terangi-48/#respond Fri, 11 Dec 2015 13:30:35 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=12202 Komunitas Terangi 48 dibentuk untuk mewadahi anak-anak muda yang peduli akan permasalahan terumbu karang di Indonesia.]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia merupakan negara maritim yang menyimpan keanekaragaman hayati laut yang sangat besar. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang termasuk dalam kawasan Segitiga Terumbu Karang (coral triangle), dimana lebih dari 2000 jenis ikan karang dan 600 spesies karang hidup ada di wilayah ini. Namun, kekayaan alam tersebut diperkirakan mengalami kerusakan yang cukup cepat akibat berbagai faktor, salah satunya adalah faktor manusia.

Prihatin dengan permasalahan ini, komunitas Terumbu Karang Indonesia (Terangi) 48 terbentuk. Syifa Fauzyah (20), salah satu “senior” di komunitas Terangi 48, sempat ditemui Greeners di markas mereka di daerah Citayam, Depok pada akhir bulan November lalu.

Menurut Syifa, komunitas Terangi 48 sengaja dibentuk sebagai wadah bagi anak-anak muda yang peduli akan permasalahan terumbu karang di Indonesia. Nama komunitas ini pun dipilih mengikuti nama salah satu grup vokal yang tengah digandrungi anak muda.

“Waktu itu yang lagi booming kan JKT48, jadi dinamain aja Terangi 48,” ujar Syifa sembari tertawa.

Foto: dok. Terangi 48

Foto: dok. Terangi 48

Komunitas yang didirikan pada tahun 2013 ini, kini beranggotakan lebih dari 50 orang. Menurut Syifa, tidak semua anggota dalam komunitas mereka memiliki latar belakang kelautan. Meski demikian, ia menyatakan bahwa hal inilah yang justru membuat komunitas mereka menjadi lebih menarik. “Kami pasti ada sharing pengalaman, yang pasti beda-beda,” katanya.

Terangi 48 sendiri mencoba fokus pada kegiatan yang berbasis pada pendidikan lingkungan. Hal ini, menurut Syifa, menjadi fokus utama karena masih banyak masyarakat yang kurang mengetahui mengenai terumbu karang.

Syifa pun menceritakan pengalamannya ketika melakukan sosialisasi di Maratua, Kalimantan Timur. Anak-anak yang tinggal di pulau tersebut justru tidak dapat menjawab dengan benar ketika ditanyai mengenai terumbu karang.

“Kebanyakan dari mereka justru jawab batu atau tumbuhan. Mereka enggak tahu kalau terumbu karang itu adalah hewan,” ungkap mahasiswa jurusan Pariwisata UNJ ini.

Komunitas Terangi 48 mengemas sosialisasi mengenai laut dan terumbu karang dalam berbagai bentuk permainan menarik agar tidak membosankan. Foto: dok. Terangi 48

Komunitas Terangi 48 mengemas sosialisasi mengenai laut dan terumbu karang dalam berbagai bentuk permainan menarik agar tidak membosankan. Foto: dok. Terangi 48

Untuk melakukan sosialisasi terumbu karang, Terangi 48 mengadakan Edugames. Dalam Edugames, sosialisasi tentang terumbu karang dikemas kreatif dalam bentuk permainan agar tidak menjemukan dan dapat diterima oleh masyarakat. “Kami ingin lebih banyak orang tahu supaya mereka bisa lebih mencintai terumbu karang,” imbuhnya.

Dalam dua tahun belakangan, komunitas Terangi 48 rutin melakukan berbagai kegiatan bersama komunitas dan lembaga lainnya dalam rangka memperingati Hari Terumbu Karang (Coral Day) setiap tanggal 8 Mei. Pada momen itu, mereka melakukan kegiatan seperti restorasi terumbu karang dan sosialisasi mengenai terumbu karang dan laut.

Di luar aktivitas sosialisasi, Syifa mengatakan bahwa komunitas ini juga sangat memperhatikan hal-hal yang dapat bermanfaat bagi anggotanya. Salah satunya adalah memfasilitasi sertifikasi menyelam (diving) dengan gratis.

“Jadi di sini enggak cuma kegiatan volunter saja, tapi banyak benefit-nya,” ujar Syifa sedikit berpromosi.

Berbagai informasi seputar laut dan terumbu karang serta aktivitas komunitas Terangi 48 dapat dilihat dalam situs www.terangi.or.id dan akun twitter @TERANGI_

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/peduli-terumbu-karang-bersama-komunitas-terangi-48/feed/ 0
Transformasi Hijau, “Energi Hijau” Relawan Muda Jakarta https://www.greeners.co/sosok-komunitas/transformasi-hijau-energi-hijau-relawan-muda-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=transformasi-hijau-energi-hijau-relawan-muda-jakarta https://www.greeners.co/sosok-komunitas/transformasi-hijau-energi-hijau-relawan-muda-jakarta/#respond Wed, 25 Nov 2015 13:33:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=12025 Jakarta (Greeners) – Padatnya hutan beton dan perumahan di wilayah Jakarta pada akhirnya membuat kota ini kerap kali diserang Banjir karena minimnya ruang terbuka hijau dan tanah serapan. Hal ini […]]]>

Jakarta (Greeners) – Padatnya hutan beton dan perumahan di wilayah Jakarta pada akhirnya membuat kota ini kerap kali diserang Banjir karena minimnya ruang terbuka hijau dan tanah serapan. Hal ini diperburuk dengan kealpaan masyarakat ibu kota terhadap masalah lingkungan mereka sendiri.

Berangkat dari kondisi tersebut beberapa orang pemuda yang memiliki kepedulian yang sama mendirikan suatu wadah bernama Transformasi Hijau. Berdiri sejak lima tahun lalu, tepatnya pada 30 Mei 2010, Transformasi Hijau lahir untuk mengisi kealpaan aktivitas lingkungan hidup di Jakarta.

“Kegiatan lingkungan itu kan sebenarnya bisa dilakukan di Jakarta tanpa harus jauh-jauh keluar kota,” ujar Direktur Transformasi Hijau, Hendra Michael Aquan, kepada Greeners pada Selasa (10/11) lalu di Jakarta.

Menurut Hendra, selain kurangnya ruang publik yang sehat, ketiadaan ruang hijau di Jakarta juga membuat Jakarta sepi akan jenis flora dan fauna. Hal ini, lanjut Hendra, berakibat pada miskinnya pengetahuan dan pengalaman masyarakat Jakarta akan jenis flora dan fauna.

Padahal menurut Hendra, pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan akan terbangun dengan adanya keberagaman mahluk hidup di sekitarnya. Oleh karenanya sangat penting membangun pola pikir masyarakat akan pentingnya ruang hijau di Jakarta.

“Karena fungsinya selain sebagi tempat istirahat, tempat rekreasi dan refreshing, (ruang hijau) juga bisa sebagai tempat burung-burung atau satwa liar perkotaan itu tinggal,” jelas Hendra.

Oleh karena itu, Transformasi Hijau lebih mengarahkan aktifitasnya pada kegiatan-kegiatan yang bersifat edukasi di ranah lingkungan. Hendra beranggapan bahwa kegiatan yang bersifat edukasi lebih cocok untuk masyarakat Jakarta karena sangat jarang bersentuhan dengan alam liar.

Foto: dok. Transformasi Hijau (TRASHI)

Foto: dok. Transformasi Hijau (TRASHI)

Proses kegiatan lingkungan di Jakarta yang dilakukan Hendra dan beberapa pendiri Transformasi Hijau sendiri sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari sebelum komunitas ini berdiri. Hendra sedikit bercerita bahwa ia dan enam orang lainnya telah melakukan berbagai kegiatan lingkungan di Jakarta sejak 2006.

Embrio Transformasi Hijau ditelurkan melalui kegiatan-kegiatan di hari peringatan lingkungan, seperti Hari Lahan Basah dunia yang jatuh pada 2 Februari dan Hari Lingkungan Nasional pada 5 Juni.

Salah seorang pendiri lainnya, Sarie Wahyuni, mengaku bahwa awalnya tidak terlintas di pikiran mereka untuk mendirikan sebuah komunitas. Kebutuhan akan mendirikan sebuah komunitas, baru tercetus setelah empat tahun mereka melakukan kegiatan lingkungan.

Sarie pun menambahkan bahwa ide pembentukan komunitas ini bukanlah untuk eksistensi para pendirinya. Ia justru menyebut relawan sebagai faktor terpenting di balik berdirinya Transformasi Hijau.

“Karakteristik anak muda urban di Jakarta kan gitu ya, selalu membutuhkan identitas di setiap kegiatan mereka,” ujar Sarie sembari tertawa kecil.

Sarie memang tidak menampik bahwa anak muda adalah sasaran mereka untuk dijadikan relawan. Anak muda, menurutnya mempunyai waktu yang masih relatif panjang untuk belajar, selain juga energi berlebih yang dimilikinya.

Baik Sarie maupun Hendra sama-sama mengakui bahwa keberadaan anak muda sebagai relawan membuat Transformasi Hijau senantiasa memiliki energi berlebih untuk tetap memberikan edukasi lingkungan kepada masyarakat.

Anak-anak muda yang menjadi relawan Transformasi Hijau juga kerap menjadi jembatan penghubung antara permasalahan lingkungan dan anak muda lainnya agar lebih peduli terhadap lingkungan.

Core kita memang pemuda, dari dulu sampai sekarang,” ujar Hendra setengah memuji relawan Transformasi Hijau.

Saat ini Transformasi Hijau beralamat di Jl. M.Kahfi 1 No.8A Cilandak Jakarta Selatan. Aktifitas mereka juga dapat dipantau melalui akun media sosial twitter @trashicool.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/transformasi-hijau-energi-hijau-relawan-muda-jakarta/feed/ 0
Hello Nature 2015 Mengembalikan Interaksi dalam Keluarga https://www.greeners.co/berita/hello-nature-2015-mengembalikan-interaksi-dalam-keluarga/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hello-nature-2015-mengembalikan-interaksi-dalam-keluarga https://www.greeners.co/berita/hello-nature-2015-mengembalikan-interaksi-dalam-keluarga/#respond Sun, 15 Nov 2015 16:06:05 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11906 Jakarta (Greeners) – Perhelatan Hello Nature 2015 yang berlangsung pada tanggal 13-15 November 2015 kemarin dinilai cukup menarik minat pengunjung. Assyifa (35), ibu dari seorang putra yang turut berpartisipasi dalam […]]]>

Jakarta (Greeners) – Perhelatan Hello Nature 2015 yang berlangsung pada tanggal 13-15 November 2015 kemarin dinilai cukup menarik minat pengunjung. Assyifa (35), ibu dari seorang putra yang turut berpartisipasi dalam permainan yang diadakan oleh Eduarga di Hall Piazza, Gandaria City mengaku tertarik untuk datang ke acara ini. Menurutnya, Hello Nature 2015 telah memberikan ruang dan waktu bagi dirinya beserta anak-anaknya untuk berinteraksi melalui sebuah permainan.

“Kita yang biasanya sibuk dengan gawai masing-masing, di sini tuh seakan kita malah enggak punya gawai. Karena fokus kita sudah terfokus memerhatikan anak-anak kita bermain dan secara enggak langsung kita jadi ikut terlibat,” tuturnya kepada Greeners saat tengah bermain bersama dengan keluarga lainnya di lokasi penyelenggaraan Hello Nature 2015 di Gandaria City, Jakarta, Minggu (15/11).

Eduarga adalah salah satu permainan yang dihadirkan dalam pelaksanaan Hello Nature 2015. Permainan ini, dikatakan oleh Baldwin Husin selaku founder dari Eduarga, adalah jenis permainan kelompok yang sengaja dibuat untuk mengembalikan aktivitas dan interaksi di dalam sebuah keluarga.

“Eduarga ini mencoba memberikan sebuah permainan edukatif bagi keluarga untuk mengembalikan peran dari setiap anggota keluarga, khususnya dalam hal berkomunikasi dan berinteraksi. Saat ini kan banyak keluarga yang sebenarnya duduk satu meja tapi terlihat sibuk masing-masing dengan gawainya. Dengan permainan ini, kita ingin mencoba mengembalikan suasana kehangatan bersama keluarga tersebut,” terang Baldwin pada kesempatan yang sama.

Mengenai acara Hello Nature 2015 sendiri, Baldwin mengaku cukup anstusias untuk terlibat karena menurutnya acara ini bisa memperkenalkan kembali jenis-jenis satwa dan tumbuhan yang ada di sekitar kita dengan cara yang unik dan tidak biasa. Sehingga, anak-anak mampu belajar dan bermain dalam saat yang bersamaan.

Pony ride. Foto: greeners.co

Pony ride. Foto: greeners.co

Selain Eduarga, pengunjung yang mayoritas terdiri dari anak-anak dan orang tua juga bisa mengikuti kegiatan Kutakatik. Dalam kegiatan ini pengunjung diajak untuk belajar memanfaatkan barang yang tidak terpakai menjadi sebuah mainan unik dan lucu dengan ciri khas si pembuatnya masing-masing.

Adapula arena pony ride untuk pengunjung yang ingin merasakan menunggangi kuda poni. Selain itu ada pula area petting zoo yang memberikan kesempatan pada pengunjung untuk memberi makan hewan-hewan domestik seperti ayam, sapi, kambing dan lainnya.

Tidak lupa jajaran pameran dari berbagai komunitas lingkungan pun turut meramaikan acara ini. Diantaranya ada komunitas Bekasi Berkebun yang memberikan pengunjung kesempatan untuk mempelajari bagaimana melakukan aktivitas berkebun di wilayah perkotaan. Selain itu, ada pula komunitas Bike2 Work Indonesia, komunitas Sapu Gunung, Biodiversity Warrior, dan banyak lainnya.

Syaiful Rochman selaku Penanggung Jawab Hello Nature 2015 menyatakan sebagai sebuah gelaran perdana, Hello Nature 2015 mendapat respon yang cukup besar dari kalangan masyarakat.

“Secara keseluruhan acara berjalan dengan lancar di Hello Nature 2015. Banyak keluarga yang tertarik mengajak anak-anaknya mengenal satwa secara langsung. Ini menandakan banyak keluarga di Jakarta masih menganggap berinteraksi dengan hidupan liar terutama satwa sangat penting bagi perkembangan anak-anaknya,” pungkasnya.

Sebagai informasi, dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2015, Greeners.co bersama dengan Fakultas Biologi Universitas Nasional yang didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengadakan kegiatan bertajuk “Hello Nature 2015”. Acara ini diselenggarakan di Mall Gandaria City, Jakarta, pada tanggal 13-15 November 2015.

Dalam acara ini ada banyak kegiatan menarik, seperti berinteraksi dan memberi makan satwa, seminar ilmiah, komunitas-komunitas peduli lingkungan dan fun activity lainnya guna kembali mengenalkan dan mendekatkan masyarakat kepada alam dan keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan sekitar.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/hello-nature-2015-mengembalikan-interaksi-dalam-keluarga/feed/ 0
Komunitas Hysteria, Berkarya untuk Semarang https://www.greeners.co/sosok-komunitas/komunitas-hysteria-berkarya-untuk-semarang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=komunitas-hysteria-berkarya-untuk-semarang https://www.greeners.co/sosok-komunitas/komunitas-hysteria-berkarya-untuk-semarang/#respond Thu, 29 Oct 2015 13:01:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=11705 Jakarta (Greeners) – Barisan kendaraan bermotor memenuhi jalanan Gatot Soebroto. Dalam kepul asap dan bising suara kendaraan bermotor, seseorang memesan makanan kepada pedagang yang berdagang di atas trotoar. “Pecel lele […]]]>

Jakarta (Greeners) – Barisan kendaraan bermotor memenuhi jalanan Gatot Soebroto. Dalam kepul asap dan bising suara kendaraan bermotor, seseorang memesan makanan kepada pedagang yang berdagang di atas trotoar. “Pecel lele satu ya, Bu,” ucapnya dengan logat Jawa yang kental.

Pria yang bernama Bagus itu sedang menginap di Hotel Crown, Jakarta. Beberapa hari ini, komunitas tempatnya bernaung, komunitas Hysteria, didaulat menjadi salah satu pengisi materi dalam acara Climate Week yang diselenggarakan di hotel tersebut. Pada Kamis (08/10) malam, Greeners bertemu dengan Bagus dalam obrolan santai.

Komunitas Hysteria adalah sebuah komunitas asal Semarang. Bagus menceritakan bahwa komunitas ini adalah komunitas yang bergerak di akar rumput. Dalam artian, Hysteria terjun langsung dalam menangani permasalahan yang ada di masyarakat, khususnya masyarakat Semarang. Menurut Bagus, Hysteria bukanlah komunitas yang turun pada masyarakat setelah adanya masalah, namun lebih pada tindakan preventif yang bertujuan menyadarkan masyarakat.

“Kita datang ke kampung-kampung, terus kita tanyakan apa kebutuhan mereka. Lalu kita bikin program sesuai dengan kebutuhan mereka,” jelas lelaki berusia 34 tahun ini.

Sama halnya dengan kota besar yang lain, Semarang menurut Bagus juga memiliki permasalahan-permasalahan sosial yang sering kali menjadikan rakyat kecil sebagai korban. Bagus menyebutkan lima kampung tua di Semarang yang diubah menjadi hotel atau pusat perbelanjaan. Padahal, kampung-kampung tersebut memiliki nilai historis tersendiri karena menjadi saksi bisu kehidupan di Semarang. Warga yang sebelumnya menempati kampung-kampung tersebut harus pindah karenanya.

Bagus juga menyebutkan bahwa perhatian pemerintah kota terhadap situs-situs bersejarah di Semarang sangatlah kurang. Program pemerintah kota yang memusatkan pembangunan tanpa melihat konteks budaya dan historis, sebut Bagus, hanya akan menjadikan Semarang menjadi kota ahistoris. Menurutnya, jika pemerintah kota saja telah melupakan jati dirinya, masyarakat pun akan semakin terpuruk dengan keadaan tersebut.

“Enggak masalah kita bodoh, tapi kita harus peka dan sadar terhadap hal vital di sekitar kita,” tegas lelaki bernama lengkap Oktavianto Bagus Prakoso ini.

Dengan keadaan demikian, Hysteria pun terjun langsung pada masyarakat. Program yang dibuat pun berdasar pada kebutuhan masyarakat tersebut. Ia mencontohkan adanya program pengajaran bahasa Inggris dan bahasa Jawa pada anak-anak di beberapa daerah perkampungan Semarang. Menurutnya, dengan mengajarkan bahasa Inggris, anak-anak secara tidak langsung dipersiapkan untuk menghadapi perdagangan bebas. Bahasa Jawa yang menjadi identitas anak-anak Semarang diajarkan dengan harapan agar mereka tetap mengingat akar budayanya, di mana pun mereka berada kelak.

“Kita tidak dapat terus melawan pembuat kebijakan, tapi lebih menguatkan masyarakat agar nantinya dapat memenuhi dan mengurus kebutuhannya sendiri,” ujarnya.

Komunitas Hysteria. Foto: dok. Hysteria

Komunitas Hysteria. Foto: dok. Hysteria

Tiga Pengurus

Bagus mengisahkan bahwa Hysteria adalah sebuah komunitas yang didirikan oleh sekelompok mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Diponegoro (Undip) di Semarang. Berdiri pada 11 September 2004, awalnya Hysteria adalah sebuah komunitas yang mengkritisi keadaan kampus. Nama Hysteria sendiri dipilih karena istilah tersebut dapat diartikan sebuah teriakan yang menjadi lambang perlawanan.

Meskipun didirikan oleh para mahasiswa, Hysteria mampu membuka diri terhadap semua golongan, dari mahasiswa, seniman hingga orang biasa. Bagus sendiri adalah seorang yang tidak merasakan pendidikan tinggi . “Saya keluar sekolah waktu kelas dua SMP, mas,” ujarnya.

Setelah 11 tahun berdiri, lanjut Bagus, Hysteria masih belum dapat dikatakan sebuah komunitas yang besar. Pasalnya kepengurusan inti hanya dipegang oleh tiga orang saja. Menurut Bagus, turun langsung menangani masyarakat memang tidak dapat dilakukan oleh semua orang. Ia pun menganggap wajar ketika beberapa kawannya di Hysteria lebih memilih untuk menjadi ‘orang normal’. Dua orang lagi yang menjadi pengurus inti dari Hysteria adalah Akhmad Khairudin dan Purna Cipta Nugraha. Keduanya menjabat sebagai Direktur dan Manager Progam dari hysteria.

Dengan kepengurusan yang hanya tiga orang, tak jarang pengurus Hysteria harus merangkap tugas ganda. Bahkan terkadang mereka meminta kawan-kawannya untuk membantu acara atau program yang akan dilakukan. “Kita kan masing-masing punya jaringan personal,” tutur Bagus.

Bukan hanya terhambat oleh kuantitas anggota, sering kali Hysteria juga memiliki hambatan dalam masalah keuangan. Bahkan pernah suatu kali Hysteria mengadakan program hanya dengan bekal uang Rp 15 ribu saja. Meskipun demikian, program berupa bedah dan diskusi buku itu akhirnya tetap terlaksana. “Karena enggak ada air minum, jadi kita belikan semangka,” kisah Bagus sambil tertawa.

Ketika diminta untuk mendeskripsikan secara singkat mengenai komunitas Hysteria, Bagus pun menjawab,”Kami adalah pemuda yang terus ingin berkarya untuk Semarang,” katanya.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/komunitas-hysteria-berkarya-untuk-semarang/feed/ 0
Ratusan Pesepeda dari Berbagai Daerah Silaturahmi di Cianjur https://www.greeners.co/aksi/ratusan-pesepeda-dari-berbagai-daerah-silaturahmi-di-cianjur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ratusan-pesepeda-dari-berbagai-daerah-silaturahmi-di-cianjur https://www.greeners.co/aksi/ratusan-pesepeda-dari-berbagai-daerah-silaturahmi-di-cianjur/#respond Wed, 28 Oct 2015 12:55:29 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11690 Jakarta (Greeners) – Ratusan pesepeda yang berasal dari berbagai daerah berkumpul di Cianjur untuk menghadiri gathering yang diadakan oleh komunitas sepeda Kompi 7s. Ratusan pesepeda yang tergabung dalam belasan komunitas […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ratusan pesepeda yang berasal dari berbagai daerah berkumpul di Cianjur untuk menghadiri gathering yang diadakan oleh komunitas sepeda Kompi 7s. Ratusan pesepeda yang tergabung dalam belasan komunitas itu berkumpul dalam sebuah acara yang bertajuk “Cibodas Bike Camping” di Cibodas, Cianjur pada tanggal 23-25 Oktober lalu.

Pihak penyelenggara, Feri Soemantri, menyatakan bahwa gathering ini diadakan untuk mempererat silaturahmi di antara komunitas pesepeda yang berasal dari beberapa daerah. “Supaya saling mengenal, lebih banyak dan lebih dekat,” ujar Feri kepada Greeners pada Sabtu (24/10) lalu di Lapangan Golf Cibodas, Cianjur.

Selain silaturahmi, Feri menyatakan sosialisasi sepeda kepada masyarakat adalah hal lain yang ingin dilakukan dalam gathering ini. Feri mengatakan bahwa meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang berbanding lurus dengan polusi udara haruslah diperhatikan dan dicari solusinya.

Bagi Feri, bersepeda dapat menjadi solusi untuk mengurangi polusi udara dan juga dapat menghemat penggunaan energi berbahan bakar fosil. “Kita berharap orang bersepeda itu bukan cuma senang-senang saja, tapi mungkin bisa bike to work atau bike to campus. Jadi bisa mengurangi polusi udara,” jelas pria berusia 51 tahun ini.

(kiri ke kanan) Dadang Mardiyanto dan Feri. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

(kiri ke kanan) Dadang Mardiyanto dan Feri. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Feri mengisahkan bahwa awalnya acara ini adalah pertemuan rutin tiga bulan untuk komunitas sepeda yang ada di Bandung dan Jakarta. Namun, menurut Feri, jika dibandingkan dengan pertemuan tiga bulan lalu yang diadakan di Sukabumi, acara kali ini lebih ramai. Sekitar dua ratus pesepeda asal 14 komunitas sepeda yang tersebar dari berbagai daerah mengikuti acara ini. Selain komunitas sepeda asal Bandung dan Jakarta, hadir pula komunitas sepeda asal Tangerang, Bogor, Tasikmalaya, Ciamis dan Banjarsari.

“Alhamdulillah, limit pesertanya ternyata di luar prediksi,” ucap Feri sambil tertawa.

Dalam pantauan Greeners, peserta yang mengikuti “Cibodas Bike Camping” tidak hanya anak muda yang berkisar antara 20 hingga 30 tahunan. Peserta berusia diatas 50 tahun pun tampak turut serta dalam, acara ini.

Dadang Mardiyanto, pesepeda yang usianya telah menginjak 72 tahun ini mengaku telah melakukan aktivitas sepeda sejak kecil. Lelaki yang biasa disapa Pak Guru ini menjelaskan bahwa bedanya, ketika kecil sepeda hanya sekedar menjadi alat transportasi saja. Rutinitas bersepeda sebagai olah raga baru dilakoninya dalam 10 tahun terakhir.

Untuk tiba di Cianjur, Pak Guru harus menempuh jarak sekitar 89 km dari Bandung. Jarak ini menurut Pak Guru belumlah seberapa jika dibandingkan dengan jarak yang ia tempuh saat menjelajahi Pulau Sulawesi pada September lalu.

“Alhamdulillah saya sehat, jarak 1.900 km ditempuh selama 17 hari,” cerita Pak Guru tentang penjelajahan Manado-Makassar yang ia jalani bersama tiga orang lainnnya.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ratusan-pesepeda-dari-berbagai-daerah-silaturahmi-di-cianjur/feed/ 0
Komunitas Ciliwung Depok, Piket dan Berbenah untuk Ciliwung https://www.greeners.co/sosok-komunitas/komunitas-ciliwung-depok-piket-dan-berbenah-untuk-ciliwung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=komunitas-ciliwung-depok-piket-dan-berbenah-untuk-ciliwung https://www.greeners.co/sosok-komunitas/komunitas-ciliwung-depok-piket-dan-berbenah-untuk-ciliwung/#respond Thu, 15 Oct 2015 07:59:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=11513 Peduli terhadap masalah Sungai Ciliwung, Komunitas Ciliwung Depok melakukan Piket Ciliwung dan Berbenah Ciliwung.]]>

Depok (Greeners) – Sungai Ciliwung terlanjur identik dengan sampah dan penyusutan aliran sungai. Kedua hal tersebut tidak hanya terjadi di satu dua titik saja, namun telah merata dari hulu hingga hilir sungai yang berujung pada banjir di Ibu Kota Jakarta.

Berawal dari kondisi itulah, Taufik DS bersama beberapa orang mendirikan Komunitas Ciliwung Depok (KCD). Menurut Sang Pendiri, komunitas ini berdiri dengan semangat untuk memperbaiki Sungai Ciliwung yang ada di area tengah atau daerah aliran sungai (DAS) yang mengaliri Kota Depok.

“Ciliwung itu cantik, tapi juga ganas kalau banjir,” ujar Taufik ketika pertama kali berjumpa dengan Greeners di sela-sela perhelatan Runforiver: UI Half Marathon di Universitas Indonesia September lalu.

Ditemui ketika sedang meresmikan Saung Pustaka Air (SPA) Cikambangan, Taufik bercerita bahwa KCD baru enam tahun berdiri. Proses pendiriannya, sebut Taufik, berawal saat ia dan beberapa tetangga menggugat rencana pembangunan kompleks perumahan yang ada di dekat kompleks perumahan Taufik.

Pembangunan kompleks tersebut, dilakukan dengan mengurug sempadan dua hingga tiga meter. Sempadan itu sendiri adalah lahan kosong yang biasa menjadi tempat limpahan air ketika Sungai Ciliwung meluap.

“Saat itu saya mulai mainkan facebook untuk menarik perhatian masyarakat,” ungkap pria yang tinggal di Komplek Wartawan di Depok ini kepada Greeners pada Minggu (11/10) lalu.

Aksi membersihkan sampah di sepanjang bantaran kali Ciliwung oleh KCD. Foto: dok. KCD

Aksi membersihkan sampah di sepanjang bantaran kali Ciliwung oleh KCD. Foto: dok. KCD

Meskipun upaya yang dilakukannya gagal, Taufik mengaku saat itu banyak simpati yang didapatnya dari berbagai elemen masyarakat. Banyaknya dukungan yang diraih membuatnya berpikir untuk mendirikan komunitas ini. “Itulah cikal bakal pendirian Komunitas Ciliwung Depok pada 2009,” kata Taufik.

Sebagai organisasi yang “cair”, Taufik mengaku jika KCD memang tidak memiliki anggota tetap yang dalam jumlah yang besar. Namun, dukungan masyarakat dan para relawan membuat KCD bisa tetap berdedikasi untuk melestarikan Sungai CIliwung.

Selain relawan, KCD juga mencoba melakukan upaya pemitraan dalam kegiatannya. Saat ini, KCD melakukan mitra kerja dengan Program Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (P3M) Universitas Indonesia.

KCD sendiri memiliki dua kegiatan rutin, yaitu Piket Ciliwung dan Berbenah Ciliwung. Piket Ciliwung merupakan kegiatan non periodik yang dilakukan dengan mengarungi Sungai Ciliwung yang mengaliri Kota Depok. Kegiatan bukanlah untuk berwisata. Piket Ciliwung ini merupakan kegiatan yang ditujukan untuk mengontrol Sungai Ciliwung seperti membersihkan sampah atau mengecek hal-hal yang bisa merusak DAS Ciliwung di sepanjang Kota Depok.

Sementara itu, kegiatan ‘Berbenah Ciliwung’ merupakan kegiatan periodik yang dilakukan setiap akhir pekan. Taufik mengatakan bahwa ‘Berbenah Ciliwung’ selalu mengikut sertakan partisipasi masyarakat di dalamnya. “Minggu kemarin kita angkat batang pohon besar yang tertanam di dasar Ciliwung,” imbuhnya.

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/komunitas-ciliwung-depok-piket-dan-berbenah-untuk-ciliwung/feed/ 0
Memaksimalkan Penggunaan Kendaraan Bersama Nebengers Bandung https://www.greeners.co/sosok-komunitas/memaksimalkan-penggunaan-kendaraan-bersama-nebengers-bandung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=memaksimalkan-penggunaan-kendaraan-bersama-nebengers-bandung https://www.greeners.co/sosok-komunitas/memaksimalkan-penggunaan-kendaraan-bersama-nebengers-bandung/#respond Thu, 01 Oct 2015 11:47:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=11335 Bandung (Greeners) – Kehidupan perkotaan tak pernah lepas dari masalah kemacetan jalan. Volume kendaraan yang semakin bertambah setiap tahunnya menimbulkan berbagai masalah baik secara individu maupun kelompok, mulai dari konsumsi […]]]>

Bandung (Greeners) – Kehidupan perkotaan tak pernah lepas dari masalah kemacetan jalan. Volume kendaraan yang semakin bertambah setiap tahunnya menimbulkan berbagai masalah baik secara individu maupun kelompok, mulai dari konsumsi bahan bakar yang percuma, terbuangnya waktu, hingga polusi udara dan suara.

Dengan latar belakang masalah tersebut, muncul sekelompok masyarakat yang berinisiasi untuk mengurangi volume kendaraan sekaligus meminimalisir kemacetan, yakni Nebengers. Komunitas ini dikenal dengan aksi nebeng atau menumpang kendaraan yang searah untuk mengisi kapasitas kursi penumpang pada kendaraan tersebut.

“Nebengers diinisiasi sebagai sarana pengurang kemacetan dengan menjadi media untuk mempertemukan pemberi dan pencari tebengan,” ujar Reza Fatahilah, Lurah Nebengers wilayah Bandung saat ditemui Greeners di kawasan Gelap Nyawang, Bandung, awal bulan lalu.

Menurut pria yang kerap disapa Erfat, komunitas yang dibentuk pada 7 Desember 2011 oleh Andreas Aditya, dibantu Putri Sentanu dan Maria Stefany ini bermula dari kepadatan para pengguna angkutan umum dan banyaknya ruang kendaraan pribadi yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

Melihat hal tersebut, Nebengers wilayah Bandung didirikan 10 Februari 2012 untuk mewadahi masyarakat di kota Bandung dengan saling berbagi kursi kosong pada kendaraan pribadinya seperti mobil dan sepeda motor.

Untuk meminta tumpangan, para Nebengers terlebih dahulu mention di twitter @nebengers. Apabila ada anggota yang searah maka dilanjutkan dengan kesepakatan, baik itu share uang bensin, tol, atau makanan.

“Nebengers wajib berbagi cerita di twitter, facebook dengan hashtag #ceritanebeng atau aplikasi Nebengers setelah nebeng untuk mengetahui kredibilitas pemberi tebengan. Ini jadi tolak ukur keamanan bagi anggota lainnya,” ungkapnya.

Foto: nebengers

Foto: nebengers

Beranggotakan 300 orang dari berbagai latar belakang seperti mahasiswa, wirausaha, dan karyawan, Nebengers secara aktif melakukan kopi darat setiap seminggu sekali. Kegiatan kopdar sendiri tidak hanya membicarakan nebengers saja, obrolan seputar sehari-hari kerap menjadi bahan cerita setiap anggotanya sambil menyantap jajanan.

“Tujuannya sebagai sarana verifikasi setelah follow menjadi anggota Nebengers, jadi antara pemberi tebengan dan pencari tebengan dapat saling kenal satu sama lain,” ungkap Erfat.

Eksistensi Nebengers tidak diragukan lagi, komunitas ini secara aktif berbagi pengalaman dan bersosialisasi di kampus, sekolah, kantor, dan Car Free Day kepada masyarakat untuk saling berbagi kursi kosong pada kendaraannya sebagai sarana pengurai kemacetan.

Selain itu, Nebengers juga bekerja sama dengan kepolisian untuk menyelenggarakan pelatihan safety first saat berkendara, mudik nebeng, serta temu wicara dengan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dalam mengampanyekan nebeng.

“Sosialisasi penting dibagikan kepada masyarakat akan nebeng, kalau tata cara nebeng dilakukan dengan baik, nebeng akan memberikan rasa nyaman dan aman pada pemberi dan pencari tebengan,” ucapnya.

Di tengah inovasi transportasi umum yang semakin berkembang akhir-akhir ini, Erfat mengharapkan semakin banyak orang yang mau berbagi kursi untuk mengurangi kemacetan.

“Banyak inovasi dalam transportasi saat ini, seperti Go-jek, Grab Bike, Taksi Uber yang lebih berfokus kepada profit. Dengan mengutamakan kepercayaan, kita bisa saling menguntungkan satu sama lain tanpa mengedepankan bisnis dan secara tidak langsung kita bisa mengurangi kemacetan dengan cara nebeng,” harap Erfat.

Nebengers berbagi informasi melalui akun twitter @nebengers, facebook nebengers, instagram nebengers. Tak kenal maka tak nebeng.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/memaksimalkan-penggunaan-kendaraan-bersama-nebengers-bandung/feed/ 0
G10 Runners, Berlari Bersama Alumni ITB https://www.greeners.co/sosok-komunitas/g10-runners-berlari-bersama-alumni-itb/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=g10-runners-berlari-bersama-alumni-itb https://www.greeners.co/sosok-komunitas/g10-runners-berlari-bersama-alumni-itb/#respond Sun, 06 Sep 2015 11:23:09 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=11032 Bandung (Greeners) – Jika Anda pecinta lari, renang, atau bersepeda dan Anda adalah alumni dari Institut Teknologi Bandung (ITB), maka bergabung dengan komunitas Ganesha10 Runners dapat menjadi alternatif wadah untuk […]]]>

Bandung (Greeners) – Jika Anda pecinta lari, renang, atau bersepeda dan Anda adalah alumni dari Institut Teknologi Bandung (ITB), maka bergabung dengan komunitas Ganesha10 Runners dapat menjadi alternatif wadah untuk menyalurkan hobi sekaligus mempeluas pertemanan.

Komunitas G10 Runners merupakan komunitas yang baru di bentuk pada bulan November tahun 2014 lalu. Para alumni ITB yang berjaya di kompetisi lari turut menjadi pelopor dibentuknya G10 Runners. Menurut Agriansyah Ramadhan, Kordinator G10 Runners, komunitas ini tidak lama diadakannya SBM Fun Run, sebuah acara internal kampus yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Atlas ITB.

“Anggota kami saat ini sekitar 100 hingga 200 orang. Mereka semua mahasiswa dan alumni ITB yang masih aktif berlari,” katanya saat ditemui Greeners di Taman Film Bandung, beberapa waktu lalu.

Mahasiswa magister jurusan STEI yang akrab disapa Agri ini menyatakan semua anggota G10 Runners rutin berlari setiap hari dengan jarak yang bervariasi, mulai dari empat kilometer hingga puluhan kilometer.

G10 Runners. Foto: dok. G10 Runners.

G10 Runners. Foto: dok. G10 Runners.

Kekompakkan anggota komunitas ini pun mempelopori komunitas lari yang lainnya, yaitu BTG Campus atau College Runners. BTG Campus ini diikuti oleh delapan komunitas lari dari berbagai universitas negeri maupun swasta dan komunitas ini pun aktif melakukan kegiatan lari bersama.

“Kami sering kumpul bareng enggak hanya lari saja, hangout bareng juga kami lakukan untuk memperat hubungan antar mahasiswa ITB,” imbuhnya.

Beberapa anggota G10 Runners juga aktif mengikuti berbagai perlombaan marathon, diantaranya Boston Marathon, Gold Coast Marathon, Tokyo Marathon, Mount Rinjani Ultra Marathon, Nusantararun, Nike We Run Kuala Lumpur hingga Jakarta Marathon.

Agri sangat berharap banyak orang yang menyadari bahwa olahraga lari bukanlah olahraga musiman yang mahal, karena berlari merupakan kegiatan yang menyehatkan dan mudah untuk dilakukan.

“Lari mendapatkan animo yang sangat besar dari banyak orang. Orang-orang ramai beli gear up branded dengan harga selangit tapi enggak tahu menu dan cara lari yang baik, hal ini membuat orang rentan terkena cedera. Intinya, reduce your ego, dibikin enak, jaga porsi kemampuan tubuh, jaga attitude dan harus mengerti pada kemampuan diri,” katanya.

Anggota G10 Runners berkumpul setiap hari Sabtu pagi di sekitar area kampus ITB untuk berlari bersama dengan tajuk trick track. Selain itu, night run juga dilakukan anggota di sekitar kota Bandung. G10 Runners berbagi informasi melalui akun twitter @ITBerlari dan akun instagram: G10Runner.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/g10-runners-berlari-bersama-alumni-itb/feed/ 0
Melestarikan Budaya Lokal Bersama Sobat Budaya https://www.greeners.co/sosok-komunitas/melestarikan-budaya-lokal-bersama-sobat-budaya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=melestarikan-budaya-lokal-bersama-sobat-budaya https://www.greeners.co/sosok-komunitas/melestarikan-budaya-lokal-bersama-sobat-budaya/#respond Wed, 26 Aug 2015 08:54:08 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=10897 Bandung (Greeners) – Keanekaragaman budaya di Indonesia menyimpan banyak hal menarik yang bisa ditelusuri. Mulai dari peninggalan sejarah berupa artefak, makanan, hingga kearifan lokal. Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas […]]]>

Bandung (Greeners) – Keanekaragaman budaya di Indonesia menyimpan banyak hal menarik yang bisa ditelusuri. Mulai dari peninggalan sejarah berupa artefak, makanan, hingga kearifan lokal. Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Sobat Budaya pun tidak ingin ketinggalan untuk mengenal lebih dekat berbagai kebudayaan yang ada di Tanah Air.

Komunitas Sobat Budaya muncul setelah dideklarasikannya Gerakan Sejuta Data Budaya pada tahun 2009 silam. Untuk mendukung secara penuh gerakan tersebut, beberapa penggiat aktif di dalamnya mendirikan komunitas Sobat Budaya pada 2 Juli 2014.

“Anggota yang resmi tercatat sekarang ada 63 orang, kebanyakan mahasiswa, itu belum termasuk anggota kami di daerah lain,” ungkap Agung Graha Nur Adha, Ketua Sobat Budaya kepada Greeners di Taman Film Bandung beberapa waktu lalu.

Dalam kegiatannya, Sobat Budaya secara rutin melakukan ekspedisi budaya ke berbagai daerah di Indonesia. Ekspedisi dilakukan untuk pendataan terhadap budaya setempat melalui tokoh adat sekitar. Pendataan meliputi berbagai hal, seperti kesenian, perilaku, hingga kuliner. Hasil pendataan tersebut nantinya akan ditampilkan dalam laman www.budaya-indonesia.org.

“Ekspedisi ini kami lakukan untuk pendataan budaya, terutama yang berhubungan dengan alam. Nanti hasilnya bisa diakses di website secara gratis. Bisa membantu siapa saja yang tertarik dengan budaya Indonesia,” ujar Agung.

Foto: dok. Sobat Budaya

Foto: dok. Sobat Budaya

Selain ekspedisi budaya, roadshow budaya di universitas dan sekolah maupun sosialisasi di panti asuhan dan panti jompo dilakukan komunitas Sobat Budaya secara berkala. Menurut Agung, hal tersebut dilakukan untuk memperkenalkan suatu budaya dengan lebih detail namun menyenangkan, terutama budaya yang sudah lama ditinggalkan oleh masyarakat saat ini.

“Dua kegiatan ini jadi cara untuk memperkenalkan apa saja budaya yang ada di sekitar kita, terutama yang sudah lama ditinggalkan orang saat ini. Contohnya, saat kami memperkenalkan kembali dongeng zaman dulu. Yang mendongeng dari panti jompo, terus dongengnya didengerin sama anak-anak dari panti asuhan,” katanya.

Dari penuturan Agung, komunitas yang akan menginjak usia satu tahun ini menerapkan empat pilar utama untuk mendukung Gerakan Sejuta Data Budaya. Empat pilar tersebut adalah perlindungan hukum, ekonomi kreatif, perpustakaan data, dan pendataan terhadap budaya.

“Dalam satu tahun, UNESCO hanya menerima dua budaya dari satu negara dalam pendataannya. Jadi, empat pilar tersebut nantinya akan mendukung, memberdayakan, melestarikan dan melindungi budaya tersebut hingga mendapat pengakuan resmi,” imbuhnya.

Meski masih “berusia” muda, namun Komunitas Sobat Budaya sudah dipercaya untuk ambil bagian dalam acara Franfurt Book Fair yang akan dilangsungkan pada bulan Oktober 2015 di Jerman.

“Kami ambil bagian sebagai data corner berkerjasama dengan Tikar dan PSN. Nantinya kami menampilkan search engine khusus yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk mengetahui budaya yang ada di Indonesia,” ungkap Agung.

Menurut Agung, pendataan budaya penting dilakukan untuk mengetahui perkembangan budaya secara rinci dan membantu meminimalisir klaim budaya. Melestarikan budaya dan kearifan lokal, lanjut Agung, adalah upaya yang patut diapresiasi karena budaya di masa lalu sangat menghargai alam di sekitarnya.

“Masyarakat harus sadar akan pendataan budaya, minimal dengan foto atau video. Walaupun hari ini hasil budaya tersebut enggak penting, 10 hingga 20 tahun ke depan akan sangat penting dengan melihat perkembangannya melalui foto dan video itu,” katanya.

Sobat Budaya berbagi informasi melalui akun twitter @Sobatbudaya, facebook Budaya Indonesia, instagram Sobatbudaya dan website www.sobatbudaya.or.id

Penulis: ANP/G32

Foto: dok. Sobat Budaya

[See image gallery at www.greeners.co]

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/melestarikan-budaya-lokal-bersama-sobat-budaya/feed/ 0
Tunners, Mencari “Keluarga” dengan Olahraga Lari https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tunners-mencari-keluarga-dengan-olahraga-lari/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tunners-mencari-keluarga-dengan-olahraga-lari https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tunners-mencari-keluarga-dengan-olahraga-lari/#respond Sun, 26 Jul 2015 05:58:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=10475 Bandung (Greeners) – Banyak pilihan olahraga yang dapat dilakukan disela-sela kegiatan sehari-hari, seperti sepak bola, basket, hingga bersepeda. Selain membuat badan sehat, olahraga juga dapat membentuk kepribadian yang suportif. Sekelompok […]]]>

Bandung (Greeners) – Banyak pilihan olahraga yang dapat dilakukan disela-sela kegiatan sehari-hari, seperti sepak bola, basket, hingga bersepeda. Selain membuat badan sehat, olahraga juga dapat membentuk kepribadian yang suportif.

Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Telkom University Runners atau disingkat Tunners, melakukan olahraga lari disela-sela padatnya aktivitas sebagai mahasiswa. Bagi anggota Tunners, lari merupakan olahraga yang tidak memerlukan biaya dan dapat dilakukan kapan saja.

Ketua Tunners, Yaka Ridho Kurniawan Alwys Sembiring, kepada Greeners menjelaskan bahwa semua anggota Tunners rutin berlari setiap hari dengan jarak yang bervariasi, mulai dari empat kilometer hingga puluhan kilometer. Meski demikian, “Saat ini Telkom University Runners masih komunitas yang belum resmi menjadi bagian dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) kampus,” ungkapnya melalui surat elektronik, Jumat (3/7) lalu.

Mahasiswa jurusan Manajemen yang biasa disapa Eduy ini menyatakan bahwa dalam komunitas mereka, anggota Tunners tidak hanya membahas mengenai olahraga lari. “Tunners juga sebenarnya sebuah komunitas yang sifatnya kekeluargaan, selain kita sharing tentang lari, kita juga selalu terbuka tentang kegiatan masing-masing anggota di luar lari,” imbuhnya.

Dari penuturan Eduy, komunitas lari yang akan menginjak usia 2 tahun pada November nanti ini muncul atas tujuan mencari teman dan keluarga di lingkungan kampus. Tunners ingin menjadi sarana untuk menghubungkan setiap fakultas dengan kegiatan lari.

Telkom University Runners atau Tunners. Foto: dok. Tunners

Telkom University Runners atau Tunners. Foto: dok. Tunners

Eksistensi komunitas Tunners di kota Bandung tidak diragukan lagi. Tidak jarang komunitas ini diminta menjadi marshal (pendamping atau pengatur pelari) dalam acara fun run. Bahkan, komunitas ini kerap bergabung dalam BTG Campus atau College Runners dalam setiap kegiatan lari. Beberapa anggota Tunners juga aktif mengikuti berbagai perlombaan marathon, diantaranya Jakarta Marathon, Bali MayBank Marathon, Nike Bajak Jakarta, dan OSIM Sundown Marathon di Singapura.

Eduy sangat berharap semakin banyak orang yang memilih olahraga lari karena berlari bisa membuat tubuh sehat.

“Masyarakat bisa lebih aware bahwa lari itu olahraga yang menyenangkan, menyehatkan, dan gak selelah yang mereka pikirkan. Pesan dari saya, kalau pertama kali kamu lari rasanya capek, coba lari dua kali. Kalau kedua kalinya lari masih capek dan enggak enak, coba lari tiga kali, begitu terus hingga akhirnya badan kamu terbiasa, karena lari itu sama seperti kita suka ke cewek, butuh niat, butuh usaha. Jangan takut capek, takut itu kalau kamu enggak sehat!” katanya.

Anggota Tunners berkumpul setiap hari Selasa dan Kamis sore di skitar area kampus untuk berlari bersama. Selain itu, night run dilakukan di sekitar kota Bandung setiap dua minggu sekali di Jumat malam.

Tunners berbagi informasi melalui akun twitter @wearetunners , akun instagram: wearetunners, akun path: wearetunners, akun line: eduyrks dan nomor telepon 082219154044.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tunners-mencari-keluarga-dengan-olahraga-lari/feed/ 0
Unpad Berkebun, Berkebun Sebagai Gaya Hidup https://www.greeners.co/sosok-komunitas/unpad-berkebun-berkebun-sebagai-gaya-hidup/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=unpad-berkebun-berkebun-sebagai-gaya-hidup https://www.greeners.co/sosok-komunitas/unpad-berkebun-berkebun-sebagai-gaya-hidup/#respond Sat, 11 Jul 2015 08:13:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=10283 Bandung (Greeners) – Hingga saat ini, Indonesia masih bergantung pada impor beberapa komoditas pangan seperti beras, buah, dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kualitas yang sama namun dengan harga […]]]>

Bandung (Greeners) – Hingga saat ini, Indonesia masih bergantung pada impor beberapa komoditas pangan seperti beras, buah, dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kualitas yang sama namun dengan harga yang berbeda tentu membuat terjadinya persaingan yang timpang.

Di tengah permasalahan pangan ini, sekelompok anak muda yang tergabung dalam Unpad Berkebun justru melirik kegiatan berkebun. Komunitas yang beranggotakan mahasiswa Universitas Padjajaran ini secara aktif melakukan kegiatan berkebun di tengah aktivitas mereka sebagai mahasiswa.

“Anggota yang resmi tercatat sekarang ada 20 orang, mereka berasal dari berbagai jurusan yang ada di Unpad,” ungkap Muhammad Rizky Triatama Nugraha, Ketua sekaligus salah satu penggagas Unpad Berkebun saat ditemui Greeners di Taman Film Bandung, Sabtu (4/7) lalu.

Rizky menjelaskan bahwa Unpad Berkebun muncul atas inisiatif lima orang anggota yang sebelumnya aktif di komunitas Bandung Berkebun, binaan wali kota Bandung, Ridwan Kamil. Karena latar belakang universitas dan minat yang sama, akhirnya kelima orang tadi membentuk Unpad Berkebun pada tanggal 15 Desember 2013.

Komunitas Unpad Berkebun. Foto: dok. Unpad Berkebun

Komunitas Unpad Berkebun. Foto: dok. Unpad Berkebun

Mahasiswa jurusan Teknologi Industri Pertanian semester 7 ini menuturkan, komunitas Unpad Berkebun aktif melakukan berbagai pelatihan dan sosialisasi mengenai pengetahuan berkebun kepada masyarakat, terutama masyarakat di sekitar kampus di Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Mereka menanam berbagai komoditas pangan sayuran organik, pengembangan pupuk kompos, pengembangan urban farming, dan menjual hasil tanam mereka kepada umum.

“Kami mengajarkan kepada masyarakat akan pentingnya kegiatan berkebun dengan konsep 3E (Ekologi, Edukasi, dan Ekonomi). Kami juga mengembangkan komoditas pangan sayuran organik, menanam padi organik dan pengembangan pupuk kompos cair,” imbuhnya.

Meski komunitas ini belum genap dua tahun, namun Unpad Berkebun mempelopori penanaman holtikultura dan persawahan secara organik dalam satu lahan di Amboretum Unpad seluas 200 meter persegi. “Kami juga mencoba untuk menanam holtikultura dan persawahan dalam satu lahan. Lahan kami bagi dua dan sama sekali tidak menggunakan pestisida kimia. Komunitas berkebun yang lain belum ada yang melakukannya,” katanya.

Komunitas Unpad Berkebun. Foto: dok. Unpad Berkebun

Komunitas Unpad Berkebun. Foto: dok. Unpad Berkebun

Melihat fenomena impor komoditas pangan yang semakin gencar di Indonesia, Rizky sangat berharap semakin banyak orang yang melakukan kegiatan berkebun. Menurutnya, dengan kondisi ketahanan pangan Indonesia yang semakin kritis, akan lebih baik bila berkebun dijadikan sebagai gaya hidup.

“Dengan niat yang tulus, passion yang tinggi dan rasa tanggung jawab penuh, kita mampu menerapkan kegiatan berkebun sebagai gaya hidup. Sehingga kita bisa meningkatkan ketahanan pangan negara,” katanya berharap.

Unpad Berkebun berbagi informasi melalui akun twitter @Unpadberkebun, Instagram Unpadberkebun dan blog www.unpadberkebun.tumblr.com.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/unpad-berkebun-berkebun-sebagai-gaya-hidup/feed/ 0