konferensi santa marta - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/konferensi-santa-marta/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 20 Apr 2026 10:42:35 +0000 id hourly 1 Indonesia Perlu Ikut Konferensi Santa Marta untuk Keluar dari Krisis Energi https://www.greeners.co/berita/indonesia-perlu-ikut-konferensi-santa-marta-untuk-keluar-dari-krisis-energi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-perlu-ikut-konferensi-santa-marta-untuk-keluar-dari-krisis-energi https://www.greeners.co/berita/indonesia-perlu-ikut-konferensi-santa-marta-untuk-keluar-dari-krisis-energi/#respond Mon, 20 Apr 2026 10:42:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=48383 Jakarta (Greeners) – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat pasar energi global kian tidak stabil. Sistem energi nasional rentan karena masih didominasi bahan bakar fosil. Pemerintah didorong untuk mengikuti Konferensi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat pasar energi global kian tidak stabil. Sistem energi nasional rentan karena masih didominasi bahan bakar fosil. Pemerintah didorong untuk mengikuti Konferensi Santa Marta dan menerjemahkan hasilnya ke dalam kebijakan energi yang konkret.

Konferensi Santa Marta merupakan konferensi dunia pertama tentang transisi dari bahan bakar fosil (transition away from fossil fuel/TAFF). Konferensi akan digelar pada 24-29 April di Santa Marta, Kolombia.

Pertemuan yang dipimpin Kolombia dan Belanda ini bertujuan menginisiasi proses nyata di mana koalisi negara-negara, pemerintah daerah, dan pihak terkait lainnya, dapat mengidentifikasi dan menciptakan jalur transisi progresif dari bahan bakar fosil. Pertemuan ini juga menjadi pelengkap konferensi global lain, seperti Conference of Parties (COP) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Menurut Direktur Kolaborasi Internasional Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Imaduddin Abdullah, Konferensi Santa Marta sangat krusial dan penting. Apalagi, Indonesia saat ini yang tengah menghadapi gejolak global yang akan berimplikasi terhadap pasokan energi nasional hingga fiskal ekonomi. Sebab, Indonesia masih bergantung pada bahan bakar fosil.

“Fluktuasi harga energi global menimbulkan lonjakan beban fiskal, lantaran subsidi energi kini nyaris sama besar dengan anggaran sektor prioritas, yakni mencapai 93% dari alokasi untuk kesehatan, 51% dari porsi infrastruktur, dan 28% anggaran pendidikan,” ujar Imaduddin dalam keterangan tertulisnya, Jumat (17/4).

Meski harga tinggi, penerimaan sektor energi fosil tidak cukup stabil untuk menutup lonjakan subsidi dan kompensasi energi dalam dua tahun terakhir. Bahkan, pengeluaran energi telah melampaui penerimaannya, dengan defisit Rp135 triliun pada 2022 dan tetap negatif pada 2024-2025. Data ini menunjukkan bahwa energi fosil menjadi beban bersih bagi APBN.

Akibatnya, lanjut dia, belanja prioritas seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur tergerus, defisit fiskal melebar, utang, dan ruang fiskal menyempit. Ketergantungan pada energi fosil ini juga menyebabkan daya saing nasional melemah dan investasi tertahan. Sebab, di level global semua sudah bergerak ke transisi hijau.

Terjebak Krisis Energi

Sementara itu, Direktur Fiscal Justice Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Media Wahyudi Askar menilai kondisi terkini menyiratkan bahwa perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran belum akan selesai. Di sisi lain, ketergantungan pada energi fosil akan menjebak Indonesia dalam krisis energi. Kondisi ini seharusnya menjadi cukup alasan bagi Indonesia untuk mendukung Konferensi Santa Marta.

Ia berharap peran Konferensi Santa Marta bisa mengganti dari shock menjadi kebijakan yang jelas. Sebab, menurutnya COP tidak menawarkan banyak hal, lambat dan konsensusnya tidak kunjung tercapai.

“Santa Marta harapannya bisa menjadi aksi cepat memecah kebutuhan global saat ini. Bisa mempercepat transisi energi dengan mengunci komitmen fossil fuel phase out, agar negara mempunyai komitmen yang lebih kuat untuk melakukan transisi energi,” ujar Media.

Momentum ini juga dapat menjadi katalis yang tepat bagi Indonesia untuk menunjukkan kepemimpinan sebagai negara berkembang (Global South). Apalagi, Presiden Prabowo Subianto juga tengah menyatakan komitmen transisi energi.

Namun, menurut Program and Policy Manager CERAH Wicaksono Gitawan, komitmen-komitmen tersebut harus diterjemahkan dalam kebijakan konkret. Sebab, kebijakan yang berlaku saat ini masih berpihak pada energi fosil.

Menurutnya, Konferensi Santa Marta dan TAFF bisa menjadi external pressure untuk mendorong reformasi sistem energi domestik. Contohnya mengintegrasikan target 100 GW PLTS ke dalam RUPTL, mengkaji ulang kontrak take-or-pay dalam perjanjian jual beli listrik PLTU, serta mempercepat pensiun dini PLTU.

“Ini adalah momentum pembuktian keseriusan Indonesia dari komitmen Presiden Prabowo Subianto menuju aksi nyata di forum internasional, termasuk COP31 nanti,” kata Wicaksono.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-perlu-ikut-konferensi-santa-marta-untuk-keluar-dari-krisis-energi/feed/ 0