konferensi - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/konferensi/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 12 Aug 2015 09:14:24 +0000 id hourly 1 RISE, Konferensi Teknologi untuk Kehidupan yang Lebih Baik https://www.greeners.co/aksi/rise-konferensi-teknologi-untuk-kehidupan-yang-lebih-baik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rise-konferensi-teknologi-untuk-kehidupan-yang-lebih-baik https://www.greeners.co/aksi/rise-konferensi-teknologi-untuk-kehidupan-yang-lebih-baik/#respond Wed, 12 Aug 2015 09:06:06 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=10753 Hong Kong (Greeners) – Rise, sebuah konferensi teknologi tingkat Asia digelar perdana pada 31 Juli sampai dengan 1 Agustus 2015 lalu. Rise merupakan versi Asia dari gelaran Web Summit yang […]]]>

Hong Kong (Greeners) – Rise, sebuah konferensi teknologi tingkat Asia digelar perdana pada 31 Juli sampai dengan 1 Agustus 2015 lalu. Rise merupakan versi Asia dari gelaran Web Summit yang selama empat tahun sebelumnya sukses sebagai ikon konferensi teknologi sedunia. Pertemuan yang dihadiri oleh pegiat teknologi terbaru ini sukses dilaksanakan selama dua hari di Hong Kong Convention Centre, Hong Kong.

Paddy Cosgrave, sang pendiri Web Summit, menyatakan bahwa saat ini negara-negara di Asia (termasuk Indonesia) sangat berpotensi mengembangkan bisnis berbasis teknologi yang berkembang sangat pesat di dunia.

Pertemuan ini dihadiri oleh 5.000 tamu yang berasal dari 72 negara di dunia. Pertemuan ini juga sekaligus sebagai ajang bagi para pebisnis start-up (perusahaan baru) yang berbasis teknologi untuk memamerkan konsep dan karyanya serta menunjukkan bagaimana kegiatan bisnisnya bisa memberikan kontribusi terhadap perubahan kehidupan manusia yang lebih baik.

Mike Harvey, Head of Strategic Communications Web Summit, menyampaikan kepada Greeners bahwa Hong Kong dipilih sebagai lokasi konferensi Rise karena posisinya yang strategis di wilayah Asia.

Sekitar 5.000 orang dari berbagai negara menghadiri Konferensi RISE 2015 yang berlangsung pada tanggal 31 Juli-1 Agustus 2015 di Hong Kong. Foto: greeners.co/Jolene Tan

Sekitar 5.000 orang dari berbagai negara menghadiri Konferensi RISE 2015 yang berlangsung pada tanggal 31 Juli-1 Agustus 2015 di Hong Kong. Foto: greeners.co/Jolene Tan

Konferensi Rise terbagi dalam beberapa kategori utama, yaitu Centre, Builder, EnterpRise, Machine & Marketing, serta menghadirkan lebih dari 140 pembicara terkemuka dibidangnya seperti Matt Mullenweg dari Automattic, Verner Vogels dari Amazon, Jenny Lee dari GGV Capital dan Neil Shen dari Sequoia Capital China. Rise juga mengadakan kompetisi menawarkan peluang bisnis atau ide ide baru, workshop serta peluang membuka jejaring bisnis sepanjang kegiatan berlangsung.

Rise menghadirkan 525 pebisnis start-up dari seluruh dunia yang sebagian besar berasal dari wilayah Asia untuk mempresentasikan ide dan peluang bisnis yang mereka bawa. Beberapa bisnis perusahaan baru ini pun ada yang memanfaatkan teknologi untuk memberikan kontribusi terhadap pelestarian lingkungan hidup. Seperti salah satu pemenang kompetisi business pitch Ambi Climate, sebuah fitur Artificial Intelligence yang membuat konsumen bisa memonitor dan mengontrol penggunaan AC (air-conditioner) via telepon genggam yang secara efektif bisa memangkas 30% penggunaan listriknya.

Salah satu peserta menarik lainnya adalah ETEAQ. Mereka membawa produk TreeTracker sebuah aplikasi online yang bisa melacak lokasi penanaman pohon yang dikembangkan menggunakan Google Earth. ETEAQ bekerjasama dengan sebuah organisasi non-profit dari Indonesia, Trees4Trees, melakukan penanaman di wilayah Indonesia dengan tujuan meningkatkan kuantitas sebaran hutan Indonesia sebagai wilayah penyerapan karbondioksida yang akan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas lingkungan.

Tim dari Nanoleaf memamerkan lampu hasil inovasi mereka. Foto: greeners.co/Jolene Tan

Tim dari Nanoleaf memamerkan lampu hasil inovasi mereka. Foto: greeners.co/Jolene Tan

Masih banyak produk teknologi lain yang membawa tujuan untuk kebaikan lingkungan hidup seperti Agrimap yang menawarkan konsep praktis manajemen pertanian, Sinergized perusahaan yang memproduksi lampu biodegradable dari limbah jagung dan Nanoleaf yang mempromosikan lampu LED efisien yang hanya membutuhkan 10 Watt energi listrik untuk menyala.

Rise merupakan gelaran yang sangat membuka mata kita akan perkembangan teknologi terbaru yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus ajang yang mempertemukan inovator dengan investor. Keterangan lebih lengkap mengenai gelaran ini bisa dilihat di riseconf.com. Rise 2016 tahun depan akan digelar pada 31 Mei – 2 Juni 2016.

Penulis : Jolene Tan (Kontributor Greeners)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/rise-konferensi-teknologi-untuk-kehidupan-yang-lebih-baik/feed/ 0
PLN Pastikan Pasokan Listrik Selama Konferensi Asia Afrika Aman https://www.greeners.co/berita/pln-pastikan-pasokan-listrik-selama-konferensi-asia-afrika-aman/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pln-pastikan-pasokan-listrik-selama-konferensi-asia-afrika-aman https://www.greeners.co/berita/pln-pastikan-pasokan-listrik-selama-konferensi-asia-afrika-aman/#respond Sun, 19 Apr 2015 11:39:21 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8622 Jakarta (Greeners) – PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memastikan bahwa pasokan listrik selama pelaksanaan Konferensi Asia Afrika ke-60 di Kota Jakarta dan Bandung akan berjalan aman. Manajer Senior Komunikasi Korporate […]]]>

Jakarta (Greeners) – PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memastikan bahwa pasokan listrik selama pelaksanaan Konferensi Asia Afrika ke-60 di Kota Jakarta dan Bandung akan berjalan aman. Manajer Senior Komunikasi Korporate PT PLN, Bambang Dwiyanto pun mengaku telah menyiagakan sedikitnya 244 petugas untuk menjaga pasokan listrik agar tetap lancar selama digelarnya acara pada tanggal 19 hingga 24 April 2015.

Untuk di Jakarta, lanjut Bambang, terdapat kurang lebih 144 petugas pelayanan teknis akan disiagakan di beberapa tempat yang menjadi prioritas. Tempat-tempat tersebut, antara lain Bandar Udara Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma, Jakarta Convention Center, Parkir Timur Senayan, serta hotel-hotel tempat di mana para delegasi menginap.

“Khusus untuk JCC, PLN akan menyiapkan pasokan listrik dari gas-insulated switchgear (GIS) Senayan dengan pasokan cadangan dari Gardu Induk (GI) Karet Baru ditambah dengan genset dan uninterrupted power supply (UPS),” jelasnya melalui keterangan tertulis yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Minggu (19/04).

Selain area utama tempat acara, pasokan listrik ke area lain, seperti kompleks Istana Presiden, kedutaan besar, dan kantor-kantor kementerian juga mendapat prioritas utama PLN.

“Sedangkan untuk di Bandung, kita akan mengerahkan sekitar seratus petugas dari bagian jaringan transmisi hingga jaringan distribusi,” katanya.

Bambang menyatakan, pasokan listrik untuk venue utama di Bandung, yaitu Gedung Merdeka, akan dipasok dari Gardu Induk (GI) Bandung Selatan dengan bantuan cadangan dari Subsistem Cirata. Selain Gedung Merdeka, beberapa tempat yang juga akan mendapat perhatian khusus antara lain Hotel Savoy Homann, Masjid Raya Bandung, Gedung Pakuan, Bandara Husein Sastranegara, serta Stasiun Kereta Api Bandung.

“Ada dua unit genset dengan kapasitas 150 kVA di Gedung Merdeka dan 135 kVA untuk Masjid Raya yang telah kami siapkan,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pln-pastikan-pasokan-listrik-selama-konferensi-asia-afrika-aman/feed/ 0
Presiden Inspeksi Langsung Persiapan Konferensi Asia Afrika di Bandung https://www.greeners.co/berita/presiden-inspeksi-langsung-persiapan-konferensi-asia-afrika-di-bandung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=presiden-inspeksi-langsung-persiapan-konferensi-asia-afrika-di-bandung https://www.greeners.co/berita/presiden-inspeksi-langsung-persiapan-konferensi-asia-afrika-di-bandung/#respond Fri, 17 Apr 2015 05:21:07 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8589 Bandung (Greeners) – Persiapan Kota Bandung sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika yang ke 60 hampir rampung seluruhnya. Hal ini disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo saat mengadakan […]]]>

Bandung (Greeners) – Persiapan Kota Bandung sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika yang ke 60 hampir rampung seluruhnya. Hal ini disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo saat mengadakan inspeksi mendadak ke Kota Bandung, Jawa Barat kemarin siang.

Kepada wartawan, Presiden mengatakan bahwa dirinya telah mengecek beberapa tempat, termasuk Hotel Savoy Homan, hotel yang akan digunakan oleh delegasi KAA untuk menginap. “Tadi turun di Bandara Husein, kita cek semuanya, kemudian masuk hotel dan ke tempat acara. Saya lihat tadi kanan-kiri kota (Bandung) secara umum 95 persen sudah siap,” ujar Presiden di halaman Gedung Merdeka, Bandung, Kamis (16/04).

Mengenai materi yang akan dibahas pada pertemuan KAA nanti, Presiden menyatakan akan fokus pada berbagai isu yang berkembang di kawasan Asia-Afrika demi terwujudnya keseimbangan global.

“Saya kira persoalan-persoalan kawasan, persoalan-persoalan di Asia-Afrika, akhir-akhir ini memang memerlukan perhatian khusus karena kita menginginkan keseimbangan global dan keadilan global yang perlu kita suarakan dalam pertemuan tersebut,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa 79 negara telah mengonfirmasi akan hadir dalam konferensi yang diadakan setiap 10 tahun tersebut, yang mana 28 negara diantaranya akan diwakili langsung oleh kepala negara atau kepala pemerintahan.

Dalam kunjungan tersebut, Presiden Jokowi ditemani oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan dan Kebudayaan Puan Maharani, Panglima TNI Jenderal Moeldoko, dan Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Pandjaitan. Ikut pula mendampingi rombongan, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Usai memeriksa Gedung Merdeka, Presiden beserta rombongan melakukan sholat dzuhur bersama di Mesjid Raya dan melanjutkan inspeksi ke Gedung Pakuan, tempat dimana para delegasi KAA akan makan siang bersama.

Personil Penyapu Jalan Ditambah

Di tengah Kota Bandung yang sedang bersolek menghadapi KAA ke-60, Enur Hayati, salah satu penyapu jalan di sepanjang Jalan Asia Afrika dan kawasan Alun-alun Kota Bandung, mengaku senang karena kali ini ia bekerja untuk acara besar. ” Sejak pembangunan KAA ya ngerasa senang soalnya saya nyapu jalan buat acara gede (besar, Red.),” ujarnya.

Perempuan yang sudah enam bulan menjadi penyapu jalan tersebut juga mengatakan bahwa ia akan mendapat bantuan personil penyapu jalan untuk membersihkan jalan Asia-Afrika dan kawasan Alun-alun Bandung. “Di sini awalnya cuma berlima, tapi sudah dapat kabar katanya mau ditambah. Jadi, orang yang di lokasi lain mau dipindah ke sini buat bantu bersih-bersih,” katanya.

Penulis: RA/G11

]]>
https://www.greeners.co/berita/presiden-inspeksi-langsung-persiapan-konferensi-asia-afrika-di-bandung/feed/ 0
121 Negara Tanda Tangani Konvensi Minamata https://www.greeners.co/berita/121-negara-tanda-tangani-konvensi-minamata/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=121-negara-tanda-tangani-konvensi-minamata https://www.greeners.co/berita/121-negara-tanda-tangani-konvensi-minamata/#comments Fri, 11 Oct 2013 09:29:01 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=4002 Kumamoto, Jepang (Greeners) – Dalam Konferensi Diplomatik (Plenipotentiaries Conference) untuk merkuri yang dihadiri oleh Kepala Pemerintahan, Menteri Luar Negeri, dan Menteri Lingkungan Hidup pada Kamis (10/10) kemarin, delegasi dari 121 […]]]>

Kumamoto, Jepang (Greeners) – Dalam Konferensi Diplomatik (Plenipotentiaries Conference) untuk merkuri yang dihadiri oleh Kepala Pemerintahan, Menteri Luar Negeri, dan Menteri Lingkungan Hidup pada Kamis (10/10) kemarin, delegasi dari 121 negara menandatangani konvensi tentang merkuri yang dinamakan Konvensi Minamata.

Penandatanganan Konvensi ini dilakukan setelah empat tahun proses negosisasi Perjanjian Internasional (Konvensi) merkuri yang dimulai dengan persetujuan Menteri-menteri Lingkungan sedunia di Nairobi pada 2009 untuk mengurangi dampak merkuri sebagai pencemar global. Setelah ditandatangani konvensi ini, akan dilakukan berlaku atau entry into force pada tahun 2017.

Konvensi Minamata ini mengatur tentang perdagangan, produk dan prosesnya, pertambangan emas skala kecil, pengelolaan limbah merkuri, pendanaan, dan transfer teknologi.

Merkuri pada saat ini masih digunakan oleh berbagai industri seperti lampu, alat ukur (termometer,sphygnometer), pertambangan emas skala kecil, dan amalgam tambal gigi.

Penamaaan konvensi mencerminkan semangat bersama untuk tidak mengulangi tragedi kemanusian akibat pencemaran merkuri di Teluk Minamata. Merkuri atau yang dikenal dengan air raksa merupakan logam yang berbentuk cair dalam suhu kamar, mudah menguap dan persisten.

Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar Bambuaya yang memimpin delegasi Indonesia, dalam pembukaan konferensi menyampaikan duka cita yang mendalam terhadap para korban yang kehilangan nyawa dan juga menyampaikan simpati kepada para korban yang menderita akibat penyakit Minamata (minamata disease) serta keluarganya.

“Penyakit Minamata dapat terjadi dimana saja termasuk di Indonesia akibat kecerobohan kita,” katanya.

Untuk itu, Indonesia harus segera mengurangi bahkan menghilangkan penggunaan merkuri pada kegiatan industri di Indonesia, termasuk yang digunakan pada pertambangan emas skala kecil”.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rawan terhadap perdagangan merkuri yang ilegal. Setelah mendengar pengalaman langsung dari korban penyakit Minamata, yaitu Masami Ogata dan berbagai film tentang penyakit Minamata, MenLH menyatakan, “penyakit akibat pencemaran merkuri nyata adanya dan apabila tidak dicegah, maka tidak mustahil penyakit Minamata akan terjadi di Indonesia 10-15 tahun ke depan”.

Apalagi sejak beberapa tahun ini pertambangan emas skala kecil yang menggunakan merkuri marak terjadi di beberapa daerah di Indonesia seperti Solok (Sumatera barat), Pongkor (Jawa Barat), Sekotong (NTB), Katingan (Kalteng).

MenLH juga menambahkan bahwa saat ini mungkin belum terlihat dampaknya merkuri pada kesehatan manusia, namun mengingat seriusnya dampak akibat merkuri kepada kesehatan manusia maka diharapkan tragedi Minamata tidak terulang lagi. “Kita tidak boleh main-main dengan bahaya merkuri”, tegas MenLH.

Kehadiran Indonesia untuk menandatangani Konvensi Minamata untuk merkuri ini adalah bentuk tanggung jawab Pemerintah untuk melindungi masyarakatnya, tidak hanya untuk generasi sekarang akan tetapi generasi yang akan datang.

Sedangkan Menteri Lingkungan Jepang yang memimpin konferensi, Nobuteru Ishihara menyampaikan bahwa dahulu sebelum tragedi terjadi, Minamata merupakan perairan yang sangat indah, akan tetapi ketika laut dicemarkan oleh merkuri dari pabrik kimia petaka penyakit minamata terjadi.

Tragedi Minamata yang terjadi di Teluk Minamata merupakan pelajaran yang berharga bagi pengelolaan lingkungan dan kesehatan manusia akibat ketidakhati-hatian industri dan pemerintah. Pencemaran metil merkuri akibat air limbah dari pabrik kimia PT Chisso telah merubah kehidupan di Teluk Minamata, Kumamoto Jepang.

Tragedi ini terjadi akibat masyarakat yang mengkonsumsi hasil laut (ikan dan kerang) yang mengandung metil merkuri yang dapat menyebabkan Penyakit Minamata akibat akumulasi metil merkuri di dalam tubuh. Penyakit Minamata menyerang sistem syaraf yang tidak hanya menyebabkan penderitaan dan kematian korban penyakit Minamata, akan tetapi mewariskan dampak kepada anak-anak yang dilahirkan menjadi cacat.

Belajar dari tragedi Pencemaran Merkuri di Minamata, saatnya bangsa Indonesia menaruh perhatian yang sangat serius terhadap penggunaan merkuri di Indonesia. (G02)

]]>
https://www.greeners.co/berita/121-negara-tanda-tangani-konvensi-minamata/feed/ 2
Pemerintah dan Kadin Bicarakan Insentif Bagi Industri Sawit Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/berita/pemerintah-dan-kadin-bicarakan-insentif-bagi-industri-sawit-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemerintah-dan-kadin-bicarakan-insentif-bagi-industri-sawit-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/berita/pemerintah-dan-kadin-bicarakan-insentif-bagi-industri-sawit-ramah-lingkungan/#respond Thu, 01 Mar 2012 03:00:14 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2259 Jakarta (Greeners) – Pemerintah dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) sedang dalam tahap pembicaraan membahas mengenai proposan insentif oleh komunitas pengusaha tersebut terhadap industri minyak sawit yang ramah lingkungan. Hal […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintah dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) sedang dalam tahap pembicaraan membahas mengenai proposan insentif oleh komunitas pengusaha tersebut terhadap industri minyak sawit yang ramah lingkungan. Hal tersebut terungkap dalam Konferensi internasional bertema “Incentives for Sustainability in Agri-Business” yang berlangsung di Hotel Sultan, Jakarta pada Rabu (29/02) kemarin.

Dalam konferensi pers acara tersebut, Wakil Ketua Umum Bidang Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Kadin Indonesia Shinta Widjaja Kamdani mengatakan pihaknya sedang mempersiapkan peta jalan (road map) industry pengembangan berkelanjutan termasuk proposal insentif bagi industri sawit ramah lingkungan.

Shinta mengatakan proposal insentif harus ada data sehingga memberikan gambaran mengenai best practice dari beberapa negara . Proposal insentif mencakup beberapa sektor seperti agribisnis, energi dan energi terbarukan, manufaktur untuk transportasi khusus seperti mobil listrik.

“Proposan insentif sedang dalam pembicaraan bersama Kementeri Keuangan,” katanya. Dia menambahkan insentif yang di inginkan oleh Kadin berupa pengurangan biaya ekspor sawit ke negara tujuan.

Dalam konferensi pers tersebut, Wakil Menteri Pertanian, Rusman Hariawan mengatakan pemerintah bakal menerapkan reward and punishment bagi pelaku industri sawit. “Ada reward dan punishment . Reward berupa insentif yang akan dibicarakan dengan Kemenkeu. Punishment dilakukan dengan menutup perusahaan yang tidak mematuhi aturan.

Rusman mengatakan merupakan kewajiban bagi perusahaan sawit untuk masuk dalam ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil). “ISPO resmi diangkat berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian 11/2011. Intinya ISPO bukan menawarkan kepada perusahaan untuk masuk ke ISPO, tetapi ini merupakan kewajiban dari setiap perusahaan untuk dievaluasi,” katanya.

Pada kesempatan yang sama Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Julian Wilson mengatakan pihaknya membantu Indonesia untuk mencapai industri sawit yang ramah lingkungan karena berkeinginan agar produk sawit Indonesia tetap diekspor ke Uni Eropa.

Pada tahun 2015, diperkirakan bahwa permintaan dunia atas minyak kelapa sawit akan meningkat dari hanya 45 juta ton pada 2010 menjadi 62 juta sampai dengan 64 juta ton pada tahun 2015. Sebagian besar kebutuhan akan terus dipasok oleh industri minyak sawit Indonesia yang sedang tumbuh.

Banyak perusahaan Indonesia yang berjuang untuk meningkatkan praktek-praktek keberlanjutan mereka. Praktek-praktek yang baik oleh berbagai perusahaan tersebut telah membantu mempromosikan perubahan di seluruh sektor industri ini. Namun pada saat yang sama, semakin banyak kritik terhadap minyak sawit Indonesia dalam kaitan dengan kerusakan lingkungan yang disebabkannya.

Praktek baik yang diadopsi oleh beberapa perusahaan terkemuka terbukti baik untuk bisnis. Baik dalam hal pencitraan dan kepercayaan konsumen, dan tentunya, akses ke pasar, seperti komitmen terhadap penanaman dengan emisi karbon rendah atau dalam penghematan biaya operasional. (G02)

]]>
https://www.greeners.co/berita/pemerintah-dan-kadin-bicarakan-insentif-bagi-industri-sawit-ramah-lingkungan/feed/ 0
Semangat Tanpa Batas South to South Film Festival https://www.greeners.co/berita/semangat-tanpa-batas-south-to-south-film-festival/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=semangat-tanpa-batas-south-to-south-film-festival https://www.greeners.co/berita/semangat-tanpa-batas-south-to-south-film-festival/#respond Fri, 17 Feb 2012 03:00:10 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2194 Jakarta (Greeners) – Pada Kamis 16 Februari kemarin di sebuah kedai makan di daerah Cikini Jakarta, panitia South to South Film Festival (StoS) mengadakan konfrensi pers terkait pelaksanaan StoS tahun […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pada Kamis 16 Februari kemarin di sebuah kedai makan di daerah Cikini Jakarta, panitia South to South Film Festival (StoS) mengadakan konfrensi pers terkait pelaksanaan StoS tahun 2012. South to South Festival (StoS) merupakan festival film lingkungan dua tahunan yang dilaksanakan oleh sebuah konsorsium sejak tahun 2006. Tema yang dipilih untuk StoS tahun 2012 ini adalah “Semangat Tanpa Batas”.

Festival film lingkungan yang memiliki visi awal menjadi gudang film lingkungan hidup di Indonesia ini mencoba menampilkan cerita keseharian tokoh-tokoh perubahan di masyarakat. Seperti perjuangan yang luar biasa sebuah kelompok masyarakat yang dikepung “keserakahan” atas nama pembangunan di beberapa wilayah negara “Selatan” oleh negara-negara “Utara”. Istilah Negara “Selatan” dan “Utara” sendiri digunakan untuk membedakan negara berkembang/miskin dan negara maju.

Permasalahan sosial, politik dan lingkungan di negeri ini sepertinya tiada akhir. Konflik agraria yang meminggirkan petani dan nelayan, pengrusakan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan pertambangan, perkebunan skala besar, reklamasi pantai, konversi hutan mangrove, dan pencemaran laut oleh perusahaan perikanan, menjadi pemandangan yang biasa, tanpa penindakan hukum yang tegas di negeri ini. Kini beban mereka bertambah dengan cuaca tak menentu akibat dampak perubahan iklim.

Indonesia yang dikenal sebagai negara maritim sekaligus negara agraris, justru mengimpor kebutuhan pangannya. Mulai dari garam, ikan, beras, hingga bawang merah.

Direktur festival film StoS Ferdinand Ismail menyampaikan kepada Greeners bahwa festival ini bukan sekedar mengadu skill teknis penggarapan sebuah film semata, tetapi lebih kepada bagaimana masyarakat bisa menangkap permasalahan yang dirasa perlu untuk disampaikan kepada publik dan menyampaikan permasalahan tersebut secara lebih kreatif.

“Tahun 2012 ini kita mempunyai beberapa kategori diantaranya dokumenter, fiksi dan non kompetisi. Total lebih dari 70 judul film yang telah masuk ke meja panitia dan akan diseleksi oleh tim yang terdiri dari perwakilan praktisi perfilman, LSM dan Media” jelas Ferdinand.

Festival Film StoS akan dilaksanakan pada tanggal 22 – 26 Februari 2012 bertempat di Goethe Institut, Kine Forum dan Institut Français d’Indonésie dan pada malam penutupan akan dipilih 5 pemenang utama dari 30 karya esai “Semangat Tanpa Batas” yang telah diseleksi tim juri.

Selama pelaksanan StoS juga akan digelar Pameran tentang Masyarakat Mollo yang berhasil memperjuangkan kearifan lokalnya dan memilih mempertahankan lingkungan, pangan lokal dan tenunnya, dari kegiatan yang merusak lingkungan. (G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/semangat-tanpa-batas-south-to-south-film-festival/feed/ 0