konser musik - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/konser-musik/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 02 Nov 2022 06:44:45 +0000 id hourly 1 Konser Tak Ramah Lingkungan Tingkatkan Emisi dan Sampah https://www.greeners.co/berita/konser-tak-ramah-lingkungan-tingkatkan-emisi-dan-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=konser-tak-ramah-lingkungan-tingkatkan-emisi-dan-sampah https://www.greeners.co/berita/konser-tak-ramah-lingkungan-tingkatkan-emisi-dan-sampah/#respond Wed, 02 Nov 2022 06:44:45 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37850 Jakarta (Greeners) – Dua tahun senyap imbas pandemi Covid-19, gelaran konser musik bergeliat lagi. Sayangnya konser yang tidak ramah lingkungan hanya akan meningkatkan timbulan sampah dan emisi karbon. Direktur Eksekutif […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dua tahun senyap imbas pandemi Covid-19, gelaran konser musik bergeliat lagi. Sayangnya konser yang tidak ramah lingkungan hanya akan meningkatkan timbulan sampah dan emisi karbon.

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safruddin menyatakan, pentingnya konser berkonsep ramah lingkungan untuk menekan dampak lingkungan. Ia menyebut, jumlah emisi (CO2) dan pencemaran udara dari konser sangat besar.

Terutama berasal dari arus lalu lintas pengunjung konser dan penggunaan genset Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) pemasok listrik. “Hingga saat ini tidak ada kesadaran event organizer maupun pemrakarsa penyelenggaraan konser rendah emisi,” katanya kepada Greeners, Selasa (1/11).

Misalnya, melarang pengunjung membawa mobil dan sepeda motor dan menyediakan alternatif penyediaan shuttle bus. Alternatif lain yakni memanfaatkan fasilitas umum dan berjalan kaki serta bersepeda menuju lokasi. Selain itu, penyelenggaraan konser sebaiknya tidak memakai genset, tapi listrik PLN yang berasal dari renewable energy.

Tak hanya soal energi, lelaki yang akrab disapa Puput ini menambahkan, saat ini tidak ada kesadaran event organizer atau pemrakarsa konser maupun pengunjung untuk menjaga kedisiplinan penempatan sampah. Padahal harusnya, event besar seperti konser harus menjadi gerakan konser ramah lingkungan dan menyadarkan banyak lapisan masyarakat.

“Berharap low emission concert, zero emission concert, zero waste concert adalah impossible saat ini. Gerakan konser ramah lingkungan hanya bermakna sebagai ajang kampanye kepedulian lingkungan,” ucap Puput.

Sulit Konser di Indonesia Terapkan

Pandangan senada datang dari pengamat persampahan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Enri Damanhuri. Menurutnya, saat ini banyak kegiatan yang ada di Indonesia yang sudah menerapkan tertib tidak menghasilkan sampah. Seperti misalnya membawa tumbler dan melarang penyediaan air mineral dengan kemasan.

“Akan tetapi hal ini sulit kalau diterapkan dalam konser di Indonesia. Terlebih disertai penonton yang berjubel melebihi kapasitas,” imbuhnya.

Java Jazz Festival (JJF) 2022 yang berlangsung 27-29 Mei 2022 lalu merupakan salah satu konser yang menerapkan konsep less waste. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah. Dalam UU itu mengatur harus adanya pengelolaan sampah dalam sebuah kegiatan acara.

Tim less waste merampungkan pemilahan sampah dari tempat sampah terpilah di event Java Jazz. Foto: Greeners

Kampanyekan ke Generasi Muda

Menanggapi hal ini, Direktur Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar mengatakan, acara-acara besar kerap kali mengundang pengunjung dan memiliki potensi besar menghasilkan sampah. Bila sampah tak terkelola dengan baik maka berdampak serius pada lingkungan.

“Oleh karena itu, langkah menyuarakan upaya minim sampah dalam masyarakat penting kita lakukan secara konsisten. Misalnya, mendorong belanja tanpa kemasan dan diganti dengan tempat belanja, menghabiskan makanan, serta mengurangi penggunaan barang-barang sekali pakai,” paparnya.

Kedua, persoalan sampah merupakan persoalan serius yang berkaitan dengan kesadaran perilaku publik. KLHK, mewakili pemerintah sambung Novrizal akan terus berkontribusi mendorong kesadaran perilaku minim sampah melalui berbagai acara-acara. Seperti Java Jazz yang lekat dengan generasi milenial.

“Saya berharap apa yang kami kampanyekan, khususnya pada generasi muda di sini akan berdampak luas ke masyarakat,” imbuhnya.

Berdasarkan data Greeners Java Jazz Festival tahun 2020 menghasilkan sampah plastik 1,1 ton dan 3,1 ton untuk jenis sampah daur ulang. Sementara jumlah total JJF 2022 sebanyak 6.250 kg atau hampir 6,25 ton. Sampah tim pilah dan daur ulang.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/konser-tak-ramah-lingkungan-tingkatkan-emisi-dan-sampah/feed/ 0
Konser Musik Suarakan Perlindungan Terhadap Orang Utan https://www.greeners.co/aksi/konser-musik-suarakan-perlindungan-terhadap-orang-utan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=konser-musik-suarakan-perlindungan-terhadap-orang-utan https://www.greeners.co/aksi/konser-musik-suarakan-perlindungan-terhadap-orang-utan/#respond Mon, 16 Dec 2019 22:30:46 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=25036 Center fo Orang utan Protection menggelar konser amal tahunan Sound for Orang utan untuk menyebarluaskan informasi perlindungan orang utan dan habitatnya.]]>

Jakarta (Greeners) – Center for Orang utan Protection (COP) atau Orang utan Friends menggelar konser amal tahunan Sound for Orang utan (SFO) di Rossi Musik Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu, (14/12/19). Acara tersebut bertujuan menyebarluaskan informasi mengenai perlindungan orang utan dan habitatnya. Pengisi acara terdiri berbagai aliran musik, tetapi memiliki satu tujuan mendukung perlindungan satwa liar yang mulai terancam.

Ketua Acara Sound For Orang utan Aulia Rahma Fadilla mengatakan konser amal terinspirasi dari wacana perpindahan ibu kota ke Kalimantan. Menurutnya, rencana tersebut menjadi titik acuan untuk lebih gencar menyuarakan hak hidup orang utan. Karena selama ini pembangunan tidak pernah mempertimbangkan kehidupan satwa liar khususnya orang utan. Misalnya, pembangunan jalan tol yang mulai melintasi area konservasi mereka.

“Dalam acara ini kita mengangkat tema “Orang utan Dream” yang mempresentasikan mimpi-mimpi orang utan untuk hidup bebas sesuai keinginan mereka, bukan keinginan manusia semata,” ujar Aulia.

Baca juga: Orangutan Sumatera Ditemukan Kritis dengan 74 Butir Peluru Bersarang di Tubuhnya

Ia menuturkan konser musik merupakan momen tepat untuk membuat generasi milenial peduli terhadap isu orang utan. Sebab saat ini mereka lebih banyak mengetahui persoalan gaya hidup ramah lingkungan saja. Sedangkan untuk informasi perlindungan orang utan masih minim.

“Saat ini orangutan makin kritis, apalagi di Sumatera, sudah sangat kritis. Karena dalam jarak 1 kilometer hanya ditemui 2 hingga 4 individu orangutan,” kata Aulia.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat upaya konservasi orangutan terus dilakukan dalam kurun waktu 2012 sampai 2017. Lebih dari 250 orang utan Kalimantan telah dievakuasi ke pusat penyelamatan maupun dipindahkan ke habitat yang lebih aman.

Konser musik sebarkan kepedulian terhadap orang utan

Pengunjung melihat pameran foto dalam acara Sound for Orang utan, di Jakarta Selatan, Sabtu, 14 Desember 2019. Foto: www.greeners.co/Dewi Purningsih

Sampai Desember 2017, jumlah orang utan yang sudah dilepaskan sebanyak 726 individu. Sementara, yang ada di pusat rehabilitasi sebanyak 1.059 individu. Sedangkan 267 orang utan diketahui telah ditranslokasi dan sisanya berada di pusat rehabilitasi dengan jumlah 54 individu.

Baca juga: Perlindungan Orangutan, KLHK Sediakan “Call Center Quick Response”

Direktur COP, Daniek Hendarto mengatakan regulasi atas semua permasalahan orang utan sudah selesai. Mulai dari peraturan, upaya penegakan hukum, rehabilitasi, hingga aturan pelepasliaran. Namun, implementasi itu tidak berjalan dengan baik di lapangan, sebab, kasus kekerasan masih terus berlangsung.

“Seperti kasus senapan angin, masih marak  terjadi dan sangat sulit terlacak oleh aparat. Dari tahun 2016-2019 terdapat 53 kasus orang utan dengan senapan angin. Dan angka-angka ini masih terus bertambah ketika tidak ada pengawasan dari pemegang otoritas,” ujar Daniek.

Tahun depan, COP tetap berkomitmen pada pelepasliaran dan penegakan hukum terhadap orang utan. Upaya yang paling penting ialah pencegahan penggunaan senapan angin liar. Karena ancamannya belum berdampak terhadap kelestarian dan publikasinya masih terbatas.

Hasil penjualan tiket maupun merchandise dari Sound for Orang utan, 100 persen akan digunakan untuk rehabilitasi di Borneo, Kalimantan Timur. Di tahun 2018, hasil dari penjualan tiket dibelikan kapal untuk transportasi pengangkutan orang utan.

Penulis: Dewi Purningsih dan Krisda Tiofani

]]>
https://www.greeners.co/aksi/konser-musik-suarakan-perlindungan-terhadap-orang-utan/feed/ 0
Bon Jovi Konser di Jakarta, Promotor Janji Jaga Rumput GBK https://www.greeners.co/aksi/bon-jovi-konser-di-jakarta-promotor-janji-jaga-rumput-gbk/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bon-jovi-konser-di-jakarta-promotor-janji-jaga-rumput-gbk https://www.greeners.co/aksi/bon-jovi-konser-di-jakarta-promotor-janji-jaga-rumput-gbk/#respond Sun, 21 Jun 2015 00:30:27 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=9875 Jakarta (Greeners) – Setelah melangsungkan konser 25 tahun lalu di Taman Impian Jaya Ancol, band rock lagendaris Bon Jovi akan kembali menggebrak Jakarta. Konser yang diselenggarakan oleh Live Nation Indonesia […]]]>

Jakarta (Greeners) – Setelah melangsungkan konser 25 tahun lalu di Taman Impian Jaya Ancol, band rock lagendaris Bon Jovi akan kembali menggebrak Jakarta. Konser yang diselenggarakan oleh Live Nation Indonesia yang bekerjasama dengan Java Jazz Promotions ini akan berlangsung pada tanggal 11 September 2015 mendatang di Gelora Bung Karno, Jakarta.

Kimberley Fraser selaku Managing Director Live Nation Indonesia menyatakan berani memboyong Bon Jovi ke Jakarta mengingat penggemar band rock ini masih memiliki jumlah yang mengagumkan di Indonesia.

“Kami bangga dapat mempersembahkan Bon Jovi Live di Jakarta dan bersemangat untuk berbagi pengalaman musik rock yang menakjubkan ini dengan para penggemar di Indonesia,” ujarnya dalam konferensi pers Bon Jovi Live! di Fairmont Hotels & Resorts, Jakarta (18/06/2015).

Mengenai pemilihan lokasi konser, Dewi Gontha selaku President Director Java Festival Production menyatakan pihak penyelenggara acara akan mengikuti segala peraturan yang ditetapkan oleh pihak pengelola Gelora Bung Karno (GBK).

“Kami akan menutup rumput, tidak mematikan rumputnya dan kami akan vancing ulang untuk lubang-lubang yang terdapat di GBK serta menjaga pagar-pagar yang kondisinya sudah tidak seratus persen sempurna. Sebagai pihak penyelenggara, kami sudah menyampaikan bahwa kebersihan adalah hal yang diutamakan,” ujar Dewi.

Terkait rider dari pihak Bon Jovi, lanjutnya, band ini hanya meminta untuk disediakan dokter tenggorokan serta kopi dengan jumlah lebih. Pasalnya, saat ini Bon Jovi lebih menikmati minum kopi ketimbang minuman beralkohol.

Bon Jovi telah menorehkan sejarah dalam belantika musik dunia dengan kesuksesan selama lebih dari 30 tahun. Band yang telah menjadi ikon musik rock and roll Amerika ini menghasilkan lagu-lagu yang mejadi hits di seluruh dunia, diantaranya Livin’ On A Prayer, You Give Love A Bad Name, It’s My Life, Have A Nice Day, serta Who Says You Can’t Go Home. Deretan lagu tersebut merupakan lagu yang berhasil meraih piala Grammy.

Informasi terkait harga tiket masih belum diumumkan oleh pihak penyelenggara, namun mereka mengatakan bahwa tiket akan mulai dijual pada tanggal 29 Juni mendatang. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut dapat melihat di situs www.bonjovijakarta.com.

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/aksi/bon-jovi-konser-di-jakarta-promotor-janji-jaga-rumput-gbk/feed/ 0
Dimana Ada Rock Gunung, Disitu Ada Kegiatan Peduli Hutan https://www.greeners.co/aksi/dimana-ada-rock-gunung-disitu-ada-kegiatan-peduli-hutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dimana-ada-rock-gunung-disitu-ada-kegiatan-peduli-hutan https://www.greeners.co/aksi/dimana-ada-rock-gunung-disitu-ada-kegiatan-peduli-hutan/#respond Wed, 10 Jun 2015 00:30:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=9552 Malang (Greeners) – Konser Rock Gunung yang menghadirkan grup rock legendaris God Bless sukses diselenggarakan di kawasan hutan Coban Talun, Kota Batu, Jawa Timur, Minggu (7/6/2015) malam. Tidak seperti konser […]]]>

Malang (Greeners) – Konser Rock Gunung yang menghadirkan grup rock legendaris God Bless sukses diselenggarakan di kawasan hutan Coban Talun, Kota Batu, Jawa Timur, Minggu (7/6/2015) malam.

Tidak seperti konser musik rock pada umumnya, Rock Gunung ini dikemas dalam kegiatan aksi peduli hutan dan lingkungan. Ahmad Albar dan Ian Antono juga terlibat dalam aksi tanam pohon mahoni di kawasan hutan yang menjadi habitat lutung jawa ini.

“Kegiatan tanam pohon ini bagus untuk menyelamatkan hutan di Indonesia, mudah-mudahan bisa digelar di kota-kota lainnya,” kata Ahmad Albar sebelum menanam pohon pada Minggu sore, beberapa jam sebelum konser dimulai.

Gitaris band rock God Bless, Ian Antono menyiramkan air ke atas tanaman yang baru ia tanam. Ian turut menanam pohon mahoni di kawasan hutan Coban Talun. Foto: greeners.co

Gitaris band rock God Bless, Ian Antono menyiramkan air ke atas tanaman yang baru ia tanam. Ian turut menanam pohon mahoni di kawasan hutan Coban Talun. Foto: greeners.co

Sebelum menanam pohon, berbagai komunitas seperti Karang Taruna Desa Tulungrejo, Impala UB, dan komunitas mobil offroad dan trail, dan Pramuka Kwartir Kota Batu juga turut serta dalam aksi bersih sampah di kawasan wisata Coban Talun. Mereka yang mendapatkan sampah paling banyak mendapat hadiah dari panitia.

Anak-anak sekolah dasar yang tengah berlibur pun tak mau ketinggalan, seperti Satriyo yang masih duduk di kelas 6 sekolah dasar. Dengan kresek hitam di tangan kirinya, sampah-sampah plastik di tepi sungai dan jalur diambilnya tanpa rasa jijik. “Dapat satu kresek,” katanya.

Anggota Karang Taruna Desa Tulungrejo, Budi Santoso mengaku prihatin atas banyaknya sampah wisatawan di kawasan wisata Coban Talun. “Sekarang cepat kotor dibanding dulu, petugas kebersihan tidak ada. Pengunjung seharusnya buang sampah pada tempatnya,” kata Santoso berpesan.

Pramuka Kwartir Kota Batu, Karang Taruna Desa Tulungrejo, Impala UB, dan warga sekitar hutan Coban Talun turut membersihkan kawasan hutan sebelum menyaksikan konser Rock Gunung. Foto: greeners.co

Pramuka Kwartir Kota Batu, Karang Taruna Desa Tulungrejo, Impala UB, dan warga sekitar hutan Coban Talun turut membersihkan kawasan hutan sebelum menyaksikan konser Rock Gunung. Foto: greeners.co

Rachmad Santoso, selaku event organizer acara ini berharap gelaran Rock Gunung bukan hanya sekedar tontonan musik rock di hutan saja, tapi bisa menjadi sebuah gerakan peduli hutan dan mengenalkan kawasan wisata serta mengingatkan pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan di tempat-tempat wisata.

Ia mengaku akan digelar acara serupa di beberapa wilayah di Jawa Timur. “Musik rock di hutan hanya sebagai salah satu media agar menarik masyarakat untuk datang. Di situ kita libatkan aktifitas peduli lingkungan, dimana ada rock gunung disitu ada kegiatan peduli hutan,” pungkasnya.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/aksi/dimana-ada-rock-gunung-disitu-ada-kegiatan-peduli-hutan/feed/ 0
Dua Ratus Petugas Kebersihan Siaga Selama Java Jazz 2015 https://www.greeners.co/berita/dua-ratus-petugas-kebersihan-siaga-selama-java-jazz-2015/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dua-ratus-petugas-kebersihan-siaga-selama-java-jazz-2015 https://www.greeners.co/berita/dua-ratus-petugas-kebersihan-siaga-selama-java-jazz-2015/#respond Sun, 08 Mar 2015 07:49:30 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8068 Jakarta (Greeners) – Perhelatan musik jazz terbesar di Indonesia, Jakarta International Java Jazz Festival 2015 yang dilaksanakan di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran telah berkomitmen untuk menjaga area konser tetap […]]]>

Jakarta (Greeners) – Perhelatan musik jazz terbesar di Indonesia, Jakarta International Java Jazz Festival 2015 yang dilaksanakan di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran telah berkomitmen untuk menjaga area konser tetap bersih selama acara berlangsung.

Josef Sukur, Koordinator Kebersihan untuk Gedung Pusat Niaga (GPN) JIExpo, Kemayoran, kepada Greeners mengatakan bahwa pihaknya telah menyebar setidaknya ada dua ratus petugas kebersihan. Petugas kebersihan tersebut di tempatkan di banyak titik selama tiga hari penyelenggaraan festival berlangsung, termasuk dengan penyediaan petugas di kawasan indoor maupun outdoor.

“Kita menyediakan dua ratus petugas kebersihan di banyak titik dan itu semuanya mobile (keliling). Sedangkan untuk di GPN, ada enam puluh petugas yang disediakan,” ungkapnya, Jakarta, Sabtu, (07/03).

Dua petugas mengganti kantong plastik sampah yang telah penuh dengan sampah. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Dua petugas mengganti kantong plastik sampah yang telah penuh dengan sampah. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Saat dikonfirmasi perihal jumlah sampah yang terkumpul sejak pelaksanaan acara hari pertama kemarin, Jumat (06/03), pria yang akrab dipanggil Josef ini mengaku tidak menghitung keseluruhan jumlah sampah yang dihasilkan. Namun, ia mengatakan bahwa dari GPN saja, petugas kebersihan mengumpulkan hingga empat mobil pick up yang dibuang langsung ke tempat pembuangan sampah di wilayah Kemayoran.

“Kita enggak hitung semuanya, tapi untuk GPN saja itu sampai empat truk pick up sampahnya,” jelasnya.

Seperti diketahui, pada pelaksanaan yang kesebelas kalinya ini, Jakarta International Java Jazz Festival 2015 bekerjasama dengan Greeners.co dan Yayasan Unilever Indonesia telah berkomitmen untuk tetap menjaga kebersihan dan mengedukasi para pengunjung tentang bagaimana memilah limbah makanan dan minuman yang dihasilkan oleh para pengunjung.

Pada hari kedua Java Jazz 2015, Sabtu (07/03), para musisi memberikan aksi terbaiknya untuk menghibur para pengunjung. Diantaranya, Hendrik Meurkens, Tesla Manaf, Ron King Big Band, Alain Caron, Bobby McFerrin, dan Varela Aartsen Cappuccini feat Allulli & Romero. Musisi langganan Java Jazz, Cakra Khan juga tampil khusus bersama dengan Incognito. Tidak ketinggalan, musisi dalam negeri seperti Reza Artamevia, Tulus, Tohpati, Mocca, Kahitna, Gerald Situmorang Trio dan Afgan juga turut menghibur ratusan penonton yang hadir malam itu.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/dua-ratus-petugas-kebersihan-siaga-selama-java-jazz-2015/feed/ 0
Pertama Kalinya Edukasi Sampah di Java Jazz Festival 2015 https://www.greeners.co/berita/pertama-kalinya-edukasi-sampah-di-java-jazz-festival-2015/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pertama-kalinya-edukasi-sampah-di-java-jazz-festival-2015 https://www.greeners.co/berita/pertama-kalinya-edukasi-sampah-di-java-jazz-festival-2015/#respond Sat, 07 Mar 2015 12:16:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8064 Jakarta (Greeners) – Tahun ini, ada yang berbeda dari Jakarta International Java Jazz Festival atau sering disingkat Java Jazz Festival. Kali ini, edukasi pengunjung untuk menjaga kebersihan dan memilah sampah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tahun ini, ada yang berbeda dari Jakarta International Java Jazz Festival atau sering disingkat Java Jazz Festival. Kali ini, edukasi pengunjung untuk menjaga kebersihan dan memilah sampah di area pagelaran musik menjadi perhatian penting bagi perhelatan musik jazz terbesar di dunia ini.

Ressanda Tamaputra, Head of Promotion Java Jazz Festival 2015, mengatakan, sangat sulit mengendalikan puluhan ribu orang mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya, khususnya dalam lokasi konser musik yang cukup besar seperti Java Jazz. Oleh karena itu, Ressa menyatakan perlu adanya satu himbauan berupa ajakan dan kampanye terhadap para pengunjung untuk tidak membuang sampah sembarangan selama acara berlangsung.

“Ini project yang diadakan untuk pertama kalinya di Java Jazz. Kami sangat berharap imbauan ini mampu mengedukasi para pengunjung dan meminimalisir sampah-sampah yang berserakan selama acara Java Jazz 2015 ini berlangsung,” katanya saat melakukan jumpa pers “Less Waste More Jazz” yang bekerjasama dengan Yayasan Unilever Indonesia dan Jakarta International Java Jazz Festival 2015, Jakarta, Jumat (06/03).

Project "Less Waste More Jazz" untuk pertama kalinya diadakan dalam penyelenggaraan Java Jazz Festival. Edukasi tentang sampah ini diadakan oleh Java Jazz Festival 2015 dengan Greeners.co dan didukung oleh Yayasan Unilever Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Project “Less Waste More Jazz” untuk pertama kalinya diadakan dalam penyelenggaraan Java Jazz Festival. Edukasi tentang sampah ini diadakan oleh Java Jazz Festival 2015 dengan Greeners.co dan didukung oleh Yayasan Unilever Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Syaiful Rochman, Chief Editor Greeners.co yang juga selaku penanggung jawab program “Less Waste More Jazz” menjelaskan bahwa “Less Waste More Jazz” merupakan sebuah project pengelolaan sampah yang terintegrasi selama penyelenggaraan Java Jazz Festival 2015 berlangsung. Menurutnya, dengan jumlah pengunjung harian yang mencapai puluhan ribu, tentu festival musik sebesar ini akan memiliki potensi timbulan sampah yang cukup besar.

“Kami menyambut positif penerapan project ‘Less Waste More Jazz’ di Java Jazz Festival 2015 ini. Kami juga berharap agar pengunjung bisa terlibat aktif dalam memperhatikan bagaimana mereka harus membuang sampah,” jelasnya.

Selain itu, “Less Waste More Jazz”, tambahnya, juga menyediakan beberapa wadah sampah tambahan dari yang sudah disediakan oleh pihak JIExpo Kemayoran, dengan desain yang menarik. Pada wadah sampah tersebut, katanya, pengunjung diajak untuk memilah antara sampah sisa makanan (Food Waste), sampah kemasan makanan (Food Packaging Waste) dan sampah untuk kertas (Paper Waste).

Perwakilan dari Yayasan Unilever Indonesia, Maya Tamimi menuturkan kalau seluruh sampah yang dikelola melalui wadah “Less Waste More Jazz” tersebut telah dijamin agar tidak mencemari lingkungan atau bahkan disalurkan ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA).

“Sampah-sampah itu nantinya akan disalurkan kepada pihak-pihak yang akan memproses sampah tersebut dengan benar dan akan disalurkan juga ke bank sampah yang telah disediakan,” jelasnya.

Less Waste More Jazz di Java Jazz Festival 2015. Acara yang menampilkan puluhan musisi  jazz ini berlangsung selama tiga hari, tanggal 06-08 Maret 2015. Foto: greeners.co/Rifky Fadzri

Less Waste More Jazz di Java Jazz Festival 2015. Acara yang menampilkan puluhan musisi jazz ini berlangsung selama tiga hari, tanggal 06-08 Maret 2015. Foto: greeners.co/Rifky Fadzri

Lebih lanjut, Maya menyatakan bahwa program Unilever Green and Clean yang bekerjasama dengan proyek Less Waste More Jazz juga ingin memberikan edukasi pada masyarakat tentang bagaimana memilah sampah yang benar dan kemana sampah yang masyarakat hasilkan akan berakhir di mana. Karena menurutnya, menangani masalah sampah tidak hanya dengan membangun sebuah sistem namun juga harus memperhatikan aspek manusianya.

“Untuk masalah sampah ini perlu juga ada kesadaran dari masyarakat untuk turut ambil peran dan project ‘Less Waste More Jazz’ ini diharapkan dapat menjadi pelopor dan inspirasi bagi penyelenggaraan event kelas International dengan manajemen sampah yang lebih ramah lingkungan,” katanya berharap.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/pertama-kalinya-edukasi-sampah-di-java-jazz-festival-2015/feed/ 0