konservasi dugong - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/konservasi-dugong/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 18 Jan 2021 18:59:02 +0000 id hourly 1 Dugong, Hewan Laut Legendaris yang Terancam Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/dugong/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dugong https://www.greeners.co/flora-fauna/dugong/#respond Mon, 28 Dec 2020 00:00:23 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=16062 Dugong (Dugong dugon), merupakan satu-satunya spesies yang masih eksis di bawah famili Dugongidae dan sering digambarkan sebagai jelmaan putri duyung pada legenda dan cerita rakyat. ]]>

Nama hewan Dugong (Dugong dugon) tentu sudah tidak asing lagi kita dengar. Mamalia laut yang satu ini terkenal juga sebagai ‘Duyung’ karena cara berenangnya yang anggun serta mirip dengan manusia.

Bahkan, ada pula yang meyakini jika hewan tersebut adalah jelmaan dari putri duyung. Meski erat dengan mitos, namun fauna ini nyatanya memiliki segudang kisah unik lain yang sayang jika terlewatkan.

Duyung merupakan satu-satunya spesies mamalia laut herbivor yang masih eksis di famili Dugongidae. Hewan ini banyak hidup di sekitar Indo-Pasifik, Afrika Timur, hingga Kepulauan Solomon.

Sayangnya, populasi ikan bertubuh buntal tersebut terus menurun setiap tahunnya. Maka dari itu, langkah pelestarian dugong sangat kita butuhkan untuk menjaga habitatnya di laut lepas.

Morfologi dan Ciri-Ciri Dugong

Dugong memiliki kemiripan dengan spesies manatee, hewan ini berbentuk seperti ikan yang tambun dengan bobot sekitar 300-500 kg dan panjang mencapai 3 meter.

Dari segi morfologinya, fauna laut ini memiliki ekor yang pipih, horizontal dengan bentuk yang bercabang – seperti paus dan lumba-lumba. Namun, ia tidak mempunyai sirip punggung.

Selayaknya kelompok mamalia laut pada umumnya, satwa yang dikenal sebagai ‘Lembu Laut’ oleh masyarakat Melayu ini juga berkomunikasi dengan menggunakan suara.

Uniknya dugong bisa menyelam selama 3-5 menit ke dalam air, lalu naik lagi ke permukaan laut untuk bernapas. Hewan ini memiliki puting susu di bagian ketiak yang berfungsi untuk menyusui anaknya.

Mata dugong berukuran kecil, apabila ia keluar dari air bagian tersebut akan mengeluarkan cairan yang mirip dengan air mata. Cairan tersebutlah yang dikenal masyarakat sebagai “air mata duyung.”

Kebiasaan dan Manfaat Ikan Duyung untuk Biota Laut

Salah satu kebiasaan yang paling terlihat dari duyung atau dugong adalah cara ia mencari makan. Biasanya, ia akan menggunakan sirip tebalnya untuk menopang tubuh dan merayap ke dasar laut.

Adapun perilaku makan dugong secara merangkak dan mencabut seluruh tumbuhan lamun sampai ke akar-akarnya. Cara ia makan meninggalkan jejak memanjang di dasar laut atau feeding trail.

Namun, tahukah Anda jika hewan ini termasuk sangat pemilih dalam urusan makanan? Ya, satwa laut ini lebih tertarik pada tanaman lamun yang lembut dan mudah ia cerna ketimbang tumbuhan lainnya.

Oleh sebab itu, jangan heran jika hubungan tumbuhan lamun dan dugong sangat berkaitan. Hewan ini dapat melancarkan siklus nutrisi dan energi untuk pelestarian padang lamun.

Apabila tanaman tersebut tumbuh subur di lautan, maka ekosistem perairan di bumi akan semakin sehat. Jika semakin sehat, maka populasi satwa laut lainnya akan semakin terjaga dan meningkat.

dugong

Hewan ini diketahui dapat melancarkan siklus nutrisi dan energi untuk pelestarian padang lamun. Foto: Shutterstock.

Dugong yang Terancam Punah

Berdasarkan hasil Simposium Nasional Dugong dan Habitat Lamun yang diselenggerakan KKP, LIPI, IPB dan WWF Indonesia, para pakar sepakat keberadaan duyung di Indonesia terus mengalami penurunan.

Hal ini terlihat dari beberapa kasus yang ada di berbagai wilayah di tanah air. Menurunnya populasi ikan ini akibat ancaman dan pemanfaatan ilegal oleh manusia

Kasus-kasus tersebut di antaranya praktik perburuan, konsumsi daging, pemanfaatan tulang, kulit, taring dan air mata secara masif dan turun-temurun oleh masyarakat.

Bahkan, sebagai warga menganggap jika air mata duyung sangat ampuh sebagai bahan obat-obatan, serta dapat berfungsi untuk berbagai aktivitas klenik dan juga magis.

Itu sebabnya, dugong masuk dalam daftar merah IUCN (International Union for The Conservation of Nature) sebagai hewan dilindungi dan harus dijaga kelestarian di alam liar.

Ditambah lagi, hewan ini juga terdaftar pada Lampiran I CITES (Convention on the International Trade in Endangered Species of Fauna and Flora), serta dilindungi oleh negara melalui PP N0. 7/1999.

Baca juga: Udang Windu, Komoditi Unggulan yang Terancam Punah

Cerita Rakyat dan Upaya Pelestarian Dugong

Di sisi lain, ada sebuah tradisi unik dalam masyarakat Kepulauan Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara berhubungan dengan ikan duyung yakni tula-tulana “Wa Ndiu-ndiu”.

Tula-tulana merupakan tradisi lisan dari orang-orang zaman dulu, yang di dalamnya berisi tentang nasihat berbentuk legenda ataupun kisah nyata yang kadang dibaca sambil dilagukan.

Menurut penelitian ahli, dari sekian banyak tula-tulana yang masih eksis hingga saat ini, terdapat “Wa Ndiu-ndiu” yang dalam bahasa setempat bermakna puteri duyung (dugong).

Wa Ndiu-ndiu bercerita tentang putri duyung yang adalah sesosok perempuan (ibu) pengasih. Suatu hari, ia pergi ke laut untuk mencari ikan untuk kedua anaknya sebagai bahan makanan.

Namun, dalam pencariannya ia tidak kunjung kembali dan berubah menjadi seekor ikan duyung. Dari situlah, masyarakat Buton percaya jika menyakiti dugong sama saja dengan menyakiti seorang ibu.

Dampaknya, ketimbang di daerah lain populasi hewan tersebut di Buton terbilang masih cukup banyak. Hingga saat ini, sangat minim laporan bahwa hewan pendiam tersebut terganggu oleh ulah manusia.

Penghormatan masyarakat Buton terhadap mamalia ini dapat menjadi contoh dari upaya pelestarian dan perlindungan populasi dugong yang berdasarkan kearifan lokal.

Referensi:

duyung

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/dugong/feed/ 0
Konservasi Dugong, DSCP Indonesia Sosialisasikan Pentingnya Habitat Lamun https://www.greeners.co/berita/konservasi-dugong-dscp-indonesia-sosialisasikan-pentingnya-habitat-lamun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=konservasi-dugong-dscp-indonesia-sosialisasikan-pentingnya-habitat-lamun https://www.greeners.co/berita/konservasi-dugong-dscp-indonesia-sosialisasikan-pentingnya-habitat-lamun/#respond Sun, 11 Mar 2018 05:56:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20182 Dugong membutuhkan tanaman lamun sebagai pangan utamanya. Namun, habitat lamun terus berkurang dan berdampak pada populasi dugong.]]>

Jakarta (Greeners) – Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP) Indonesia merupakan kerjasama antara Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut KKP dengan World Wildlife Fund (WWF), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Institut Pertanian Bogor. Kerjasama ini dibentuk untuk menyelamatkan duyung atau dugong (Dugong dugon) dan habitat lamun di Indonesia. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui mengenai dugong dan habitat lamun.

Peneliti dari Pusat Penelitian Oceanografi LIPI Sekar Mira menjelaskan bahwa tumbuhan lamun merupakan makanan utama dugong. Pasalnya, lamun semakin susah dicari akibat adanya alih fungsi lahan, penurunan kualitas air laut karena polutan-polutan yang mencemari laut, dan praktik perikanan yang merusak. Data yang disampaikan oleh LIPI, dari 1.507 km2 luas padang lamun di Indonesia, hanya 5 persen yang tergolong sehat, 80 persen dinyatakan kurang sehat, dan 15 persen tidak sehat.

“Masih banyak lamun (di Indonesia) walaupun hanya 5 persen yang bisa dikategorikan dalam keadaaan baik atau sehat. Tapi menurut saya ada beberapa ada ancaman lamun di Indonesia, termasuk alih guna lahan, terutama kalau ada reklamasi pantai yang menimbun ekosistem lamun. Polutan-polutan yang kita buang ke laut juga mencemari lamun tersebut,” kata Mira dalam Diskusi Konservasi dengan topik “Lamun: Untuk Duyung, Untuk Kita” pada Pameran Deep and Extreme Indonesia 2018 di Jakarta Convention Center Senayan, Jakarta, Sabtu (10/03/18).

BACA JUGA: Sambut HCPSN 2017, KKP Suarakan Pentingnya Konservasi Dugong dan Padang Lamun

Diketahui tanpa adanya lamun di dalam ekosistem maka akan berdampak pada duyung dan juga rantai kehidupan manusia.“Kita ada di zaman antroposen di mana keberadaaan manusia mempengaruhi semua yang terjadi di bumi dan planet kita. Jadi kita harus berhati-hati dengan diri kita sendiri, apakah kita sudah menjadi pemimpin terbaik di muka bumi, apakah kita sudah bijak dalam hal bertindak apalagi untuk kehidupan biota laut kita,” ujar Mira.

Organisasi internasional untuk upaya konservasi dumber daya alam IUCN telah menetapkan dugong sebagai hewan yang rentan punah. Indonesia pun sudah mengeluarkan PP Nomor 7 Tahun 1999 untuk melindungi mamalia laut, termasuk dugong. Meski demikian, sosialisasi mengenai perlindungan dugong masih terbilang minim.

“Indonesia sebenarnya sudah melindungi seluruh jenis mamalia laut, tapi karena Indonesia merupakan negara yang besar butuh sosialisasi yang sangat gencar agar masyarakat benar-benar paham kalau mamalia laut dugong dilindungi,” kata Mira.

BACA JUGA: Duyung Ditemukan Mati Terdampar di Pantai Pasuruan

Populasi dugong yang ada saat ini pun masih belum bisa dipastikan karena adanya keterbatasan penelitian dan data. Rahmat, yang juga peneliti dari Pusat Penelitian Oceanografi LIPI, mengatakan bahwa ada 313 rekaman kejadian yang masuk ke dalam database LIPI.

“Saat ini belum bisa dikatakan berapa populasi dugong yang ada di Indonesia, tapi jika dilihat dari record yang kami dapatkan itu bisa saja menentukan populasi dugong di Indonesia. Daerah yang paling banyak ada di Kepulauan Riau sebanyak 52 record, Maluku 48 record, dan Papua 42 record. Untuk menentukan populasi butuh pengkajian dan cross check lagi,” terang Rahmat.

Mengenai acara diskusi konservasi ini sendiri, Peneliti dari Pusat Penelitian Oceanografi LIPI Udhi Eka Hernawan mengatakan, acara ini diselenggarakan untuk menyadartahukan masyarakat tentang konservasi duyung atau biasa disebut dugong, dan habitatnya.

“Banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang dugong dan lamun. Tugas kami saat ini yaitu mensosialisasikan bahwa dugong harus dilindungi karena banyak kasus dugong terdampar itu karena ketidaktahuan masyarakat. Misalnya karena terjaring oleh jaring nelayan, pergerakan dugong itu lambat dan adanya di permukaan kemudian habitatnya di daerah dangkal jadi mudah kena jaring nelayan. Hal-hal seperti itu yang harus disadari masyarakat,” pungkas Udhi.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/konservasi-dugong-dscp-indonesia-sosialisasikan-pentingnya-habitat-lamun/feed/ 0
Duyung Ditemukan Mati Terdampar di Pantai Pasuruan https://www.greeners.co/berita/duyung-ditemukan-mati-terdampar-pantai-pasuruan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=duyung-ditemukan-mati-terdampar-pantai-pasuruan https://www.greeners.co/berita/duyung-ditemukan-mati-terdampar-pantai-pasuruan/#respond Thu, 05 Jan 2017 12:16:21 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15601 Seekor Duyung (Dugong dugon) sepanjang dua meter ditemukan mati terdampar di Perairan Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.]]>

Pasuruan (Greeners) – Seekor Duyung (Dugong dugon) sepanjang dua meter terdampar di Perairan Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, tepat di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Grati. Duyung yang sudah mati saat ditemukan warga tersebut langsung dikubur di sekitar lokasi.

“Duyung ditemukan sudah mati di pantai. Kemudian oleh nelayan digeser ke daratan. Hanya ditemukan satu ekor,” kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur, Ayu Dewi Utari, dalam rilis yang diterima greeners.co, Kamis (05/01/2017).

BACA JUGA: Dugong dan Habitatnya Butuh Upaya Konservasi Terpadu

Menurut Ayu, mamalia dilindungi tersebut ditemukan nelayan pada Rabu (04/01) siang. Saat ditemukan kondisinya sudah membusuk dan kulit mudah terkelupas serta mengeluarkan bau tidak sedap. Pihak BKSDA yang terjun ke lokasi kemudian melakukan pemeriksaan dan memastikan satwa tersebut adalah duyung.

“Penyebab kematiannya karena terdampar saat air surut dan tidak mampu kembali ke laut lepas. Setelah dipastikan jenisnya, ikan tersebut kemudian dikuburkan di dekat pantai sekitar lokasi penemuan,” jelas Ayu.

duyung

Duyung yang ditemukan mati di pinggir Pantai Pasuruan sempat dikubur kemudian dibongkar lagi untuk memastikan penyebab kematiannya. Foto: BKSDA Jatim

Mantan Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ini mengungkapkan dari hasil penelitian, diperkirakan satwa herbivora pemakan dedaunan dan rumput laut tersebut mati lima hari sebelum ditemukan.

“Sempat dikubur kemudian dibongkar lagi untuk memastikan penyebab kematiannya. Setelah itu dikubur lagi,” jelas Ayu.

BACA JUGA: KKP Masukkan 20 Spesies Laut Terancam Punah dalam Rencana Aksi Nasional

Duyung merupakan salah satu anggota Sirenia atau lembu laut yang masih bertahan hidup selain manatee. Duyung bukanlah ikan karena menyusui anaknya dan masih merupakan kerabat evolusi dari gajah. Satwa ini merupakan satu-satunya lembu laut yang bisa ditemukan di kawasan perairan sekurang-kurangnya di 37 negara di wilayah Indo-Pasifik.

Duyung sangat bergantung pada rumput laut sebagai sumber makanan, sehingga penyebaran hewan ini terbatas pada kawasan pantai tempat ia dilahirkan. Hewan ini membutuhkan kawasan jelajah yang luas dan perairan dangkal yang tenang, seperti di kawasan teluk dan hutan bakau.

Penulis: MA/G12

]]>
https://www.greeners.co/berita/duyung-ditemukan-mati-terdampar-pantai-pasuruan/feed/ 0
KKP Masukkan 20 Spesies Laut Terancam Punah dalam Rencana Aksi Nasional https://www.greeners.co/berita/kkp-masukkan-20-spesies-laut-terancam-punah-rencana-aksi-nasional/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kkp-masukkan-20-spesies-laut-terancam-punah-rencana-aksi-nasional https://www.greeners.co/berita/kkp-masukkan-20-spesies-laut-terancam-punah-rencana-aksi-nasional/#comments Fri, 24 Jun 2016 03:00:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=14070 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) untuk pelestarian 20 spesies laut prioritas terancam punah sebagai indikator kinerja lima tahun ke depan.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) untuk pelestarian 20 spesies laut prioritas terancam punah sebagai indikator kinerja lima tahun ke depan. Dari 20 spesies laut ini, KKP telah menyiapkan RAN untuk masing-masing spesies tersebut.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP Agus Darmawan, kepada Greeners mengatakan, di dalam RAN tersebut sudah dijelaskan dan digambarkan bagaimana upaya-upaya yang akan dilakukan dalam penyelamatan dan pelestarian spesies laut terancam punah.

Namun, meskipun RAN ini dikeluarkan oleh KKP melalui Direktorat Jendral Pengelolaan Ruang laut, dasar penyusunannya disusun secara terintegrasi bersama kementerian terkait seperti Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Koordinator Kemaritiman serta mitra-mitra lembaga lainnya.

“Dalam beberapa diskusi dan kajiannya, RAN ini disusun dalam bentuk tim. Ada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan lembaga penelitian lainnya. Harapan ke depannya, rencana aksi ini akan menjadi rencana aksi bersama sekalipun yang membuat rencana aksi ini difasilitasi oleh KKP,” katanya, Jakarta, Kamis (23/06).

BACA JUGA: Dugong dan Habitatnya Butuh Upaya Konservasi Terpadu

Sebelas spesies yang telah dipetakan dalam RAN tersebut, kata Agus, antara lain paus, penyu, lumba-lumba dan dugong. Sampai saat ini, KKP mengaku masih belum tahu berapa jumlah dugong di Indonesia. Agus menyatakan, selama 10 tahun belakangan, Indonesia diperkirakan masih memiliki 1.000 ekor dugong.

Agus menegaskan, sebagai biota laut yang dilindungi, pemanfaatan secara langsung, daging atau pun air matanya, dilindungi oleh undang-undang. Biota yang dikenal masyarakat sebagai ikan duyung ini dikhawatirkan terus mengalami eksploitasi yang tidak berimbang dengan proses reproduksinya. Wilayah yang dipetakan dan diindikasikan terdapat dugong antara lain Bintan, Kabupaten Toli-Toli, Kabupaten Morowali, Alor, Sulawesi Utara dan Kotawaringin Barat.

Peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Wawan Kiswara mengungkapkan, di Eropa populasi dugong punah tahun 1917. Tiga belas tahun kemudian datang penyakit lamun dan lamun pun punah, dan tidak pernah tumbuh lagi hingga saat ini.

“Seandainya duyung ini punah dari negeri kita, maka habitat lamun pun habis dan ekosistem juga akan habis. Jika padang lamun hancur, tripang, ranjungan juga hancur,” ujarnya.

BACA JUGA: Indonesia Akan Miliki Dua Management Authority CITES

Menurutnya, laju kerusakan lamun di Indonesia berkontribusi terhadap meningkatnya ancaman kepunahan dugong. Luas padang lamun di Indonesia diperkirakan mencapai 31.000 km persegi. Namun data Pusat Penelitian Oseanografi LIPI menyatakan, sejauh ini baru 25.752 hektare padang lamun yang tervalidasi dari 29 lokasi di Indonesia. Data terkini besaran, sebaran dan populasi dugong belum ada.

Agus menyatakan perlu ada tindak lanjut yang jelas dan tidak berhenti sampai menyusun rencana aksi saja. Road map pelaksanaan rencana aksi ini juga perlu menjadi fokus konsentrasi.

Road map ini sebagai dasar kerja kita sebagai kementrian lembaga dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Ini sebagai kertas kerja kita. Ini juga yang saya pikir perlu kesepakatan semua pihak terkait agar rencana aksi ini berjalan dengan baik,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/kkp-masukkan-20-spesies-laut-terancam-punah-rencana-aksi-nasional/feed/ 1
Dugong dan Habitatnya Butuh Upaya Konservasi Terpadu https://www.greeners.co/berita/dugong-dan-habitatnya-butuh-upaya-konservasi-terpadu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dugong-dan-habitatnya-butuh-upaya-konservasi-terpadu https://www.greeners.co/berita/dugong-dan-habitatnya-butuh-upaya-konservasi-terpadu/#respond Thu, 21 Apr 2016 08:00:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13507 Gerakan konservasi penyelamatan dugong membutuhkan perhatian mendesak dari banyak pihak agar upaya penyelamatan terpadu antar lembaga bisa mendekatkan model konservasi dugong yang benar-benar sesuai.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Kelautan dan Perikanan mengakui bahwa saat ini ancaman terhadap populasi dugong terus meningkat. Untuk itu, gerakan konservasi penyelamatan dugong membutuhkan perhatian mendesak dari banyak pihak agar upaya penyelamatan terpadu antar lembaga bisa mendekatkan model konservasi dugong yang benar-benar sesuai.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Brahmantya Setyamurti Poerwadi, S.T, menyatakan, untuk menetapkan arah kebijakan jangka panjang serta merumuskan pengelolaan dugong dan habitatnya di Indonesia, dibutuhkan data dan sejumlah informasi pendukung sebagai bentuk landasan ilmiah yang kuat.

“Maka dari itu, upaya konservasi dugong dan habitatnya di Indonesia tidak hanya bisa dilakukan oleh pemerintah saja tetapi juga didukung oleh sejumlah lembaga internasional, seperti United Nation Environment Programme-Conservation Migratory Species (UNEP-CMS) yang bekerjasama dengan Mohamed bin Zayed Species Conservation Fund (MbZ) melalui program Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP),” katanya seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Kamis (21/04).

Selain konservasi dugong, Kementerian Kelautan dan Perikanan juga mendorong daerah agar menginisiasi ekosistem padang lamun sebagai habitat kunci dugong untuk menjadi Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD). Dirhamsyah, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI) mengatakan bahwa kondisi habitat lamun sangat mempengaruhi keberadaan dugong, sehingga penyebaran hewan ini terbatas pada kawasan pantai tempat tumbuhan lamun dapat berkembang.

Laju kerusakan lamun di Indonesia, lanjutnya, khususnya padang lamun, juga berkontribusi terhadap meningkatnya ancaman terhadap kepunahan dugong. Luas padang lamun di Indonesia hingga saat ini diperkirakan mencapai 31.000 km2. Namun data dari Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI) menyatakan, sejauh ini baru 25.752 hektare padang lamun yang tervalidasi dari 29 lokasi di Indonesia.

“Habitat dugong sangat perlu dijaga agar populasi mamalia laut ini tidak terancam. Kelestarian dugong sangat terkait erat dengan keberadaan padang lamun. Oleh karena itu sangat diperlukan pertukaran data dan hasil kajian yang terkait dengan dugong dan habitatnya. Selain itu, pertemuan antara perumus kebijakan, akademisi, peneliti dan praktisi yang memahami dugong dan habitat lamun sangat perlu dilakukan agar dapat menyusun rekomendasi penyelamatan populasi dugong dan habitat lamun,” tutupnya.

Sebagai informasi, dugong (Dugong dugon) merupakan jenis mamalia laut yang dilindungi dan merupakan salah satu spesies dari 20 spesies prioritas yang menjadi target penting Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dugong memiliki ancaman kehidupan yang tinggi. Secara alami dugong memiliki reproduksi yang lambat. Dibutuhkan waktu 10 tahun untuk menjadi dewasa dan 14 bulan untuk melahirkan satu individu baru pada interval 2,5 – 5 tahun.

Ancaman lainnya yaitu tertangkapnya dugong secara tidak sengaja oleh alat tangkap perikanan (bycatch), perburuan masif untuk pemanfaatan daging, dan taring serta air mata dugong yang disinyalir memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

Secara Nasional, dugong dilindungi melalui UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya serta UU Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Sedangkan secara internasional, dugong telah terdaftar di dalam ‘Global Red List of IUCN’ sebagai ‘Vulnerable to extinction’ atau rentan terhadap kepunahan dan juga telah masuk dalam Appendix I CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) yang berarti bagian tubuh dugong tidak dapat diperdagangkan dalam bentuk apapun.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/dugong-dan-habitatnya-butuh-upaya-konservasi-terpadu/feed/ 0